WISATA BADUY: LINDUNGI ALAM DAN AMALKAN BUDAYA LELUHUR

advert

RANGKASBITUNG – Kabupaten Lebak memiliki beragam objek wisata. Wisata pantai tersebar di Lebak Selatan seperti Pantai Sawarna, Bagedur, Binuangen, dan Taraje. Sementara wisata pemandian air panas dan Arung Jeram Ciberang terletak di Kecamatan Cipanas dan Lebak Gedong. Untuk wisata ziarah bisa datang di pemakaman Wong Sagati di Kecamatan Sajira. Sedangkan wisata sejarah seperti rumah tua Multatuli di Kota Rangkasbitung, meski saat ini kondisinya tidak terawat. Situs Cibedug dan Kosala bisa dijempuai di Kecamatan Citeroek dan Lebak Gedong. Begitu pun wisata Curug atau air terjun, salah satunya Curug Cimayang yang terletak di Kecamatan Bojongmanik. Namun di antara objek wisata tersebut ada yang tak kalah menarik yaitu wisata Budaya Baduy. Wisata Budaya Baduy terletak di pedalaman Lebak, persisnya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar. Untuk sampai ke sana diperkirakan membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam, karena jarak tempuhnya sekira 125 kilometer dari Jakarta.

Jika menggunakan jasa transportasi kereta api dari Jakarta turun di Stasiun Kota Rangkasbitung. Rute selanjutnya menuju Terminal Aweh menggunakan jasa angkutan umum. Masih menggunakan jasa angkutan umum jenis elf turis menuju ke Ciboleger, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar. Sedangkan dengan angkutan umum dari Jakarta menuju Terminal Mandala, Rangkasbitung. Kemudian lanjut ke Terminal Aweh menggunakan angkut umum. Dari Terminal Aweh bisa menggunakan angkutan umum jenis elf untuk sampai di perbatasan Ciboleger, Desa Kanekes.

Wisata Baduy sangat potensial dan tak aneh jika objek wisata ini kerap dikunjungi turis wisatawan baik lokal ataupun mancanegara. Setiap tahun terus menunjukkan angka penambahan pengunjung. Berdasarkan data dari Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Lebak, pada tahun 2011 tercatat 6.469 pengunjung yang menyambangi Baduy.

“Dari 6.469 pengunjung itu sekira 120-an wisatawan mancanegara. Itu mengindikasikan daya tarik wisata Baduy masih diminati masyarakat,” ujar Kabid Pariwisata Disporabudpar Lebak Jujum Riyadi ditemui di kantornya, Senin (21/5).

Karena itu, lanjut Jujum, Pemerintah Daerah Lebak melalui Disporabudpar akan terus meningkatkan jumlah wisatawan untuk menggali Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor wisata adat Baduy. “Tahun kemarin, PAD dari Baduy Rp 5 juta. Tahun 2012 targetnya menjadi Rp 6 juta,” katanya.
Ia mengatakan, pemerintah daerah telah mengoptimalkan promosi-promosi budaya adat Baduy melalui pameran pembangunan baik ditingkat Lebak atau Provinsi Banten serta media poster dan website Disporabudpar Lebak. “Supaya kunjungan wisatawan di sektor Baduy meningkat dan imbasnya PAD pun turut meningkat,” ucapnya.

Jujum mengatakan, selama ini kunjungan wisatawan di pedalaman Baduy belum meningkat terutama wisatawan dari luar negeri. Kebanyakan, lanjut Jujum, wisatawan budaya melakukan penelitian kehidupan tatanan sosial warga Baduy sehingga didominasi oleh mahasiswa dari perguruan tinggi.

“Kendala sarana dan prasarana infrastruktur jalan menuju kawasan Baduy. Kurang lebih sekira 22 kilometer dari Kota Rangkasbitung. Saya yakin, kalau sarana dan prasarananya bagus pasti akan mendongkrak kunjungan wisatawan baik dalam maupun luar negeri,” ujarnya.

Kata Jujum, PAD dari sektor pariwisata tahun 2012 sebesar Rp 112.500.000. Sedangkan PAD tahun 2011 sebesar Rp 100 juta. Untuk itu pihaknya mengenakan retribusi sebesar Rp 2.500 per orang untuk pemasukan PAD.

“PAD tahun 2011 dari sektor wisata Budaya Baduy Rp 5 juta, tahun ini naik Rp 6 juta karena itu untuk pemasukan PAD, sebab tahun-tahun sebelumnya warga Baduy menolak dengan penarikan retribusi tersebut,” ujarnya.

Kepala Disporabudpar Lebak Saifullah Saleh mengatakan, wisata Baduy memiliki nilai tersendiri karena hingga kini masih mempertahankan budaya leluhur mereka. Mereka menolak hidup modernisasi seperti televisi, radio, naik kendaraan, jalan beraspal, rumah bertembok, dan pakai sepatu. Karena itu, lanjut Saifullah, masyarakat Baduy yang tinggal di kawasan pegunungan Kendeng tidak bisa dilalui berbagai jenis kendaraan. “Sebenarnya pemerintah ingin membantu seperti aliran jaringan listrik, tapi tidak bisa karena itu bertentangan dengan adat budaya mereka. Karena itu yang menjadi kendala bagi pemerintah daerah,” ujarnya.

Senda dikatakan H. Kasmin, tokoh masyarakat Baduy yang kini menjadi anggota DPRD Provinsi Banten. Kata Kasmin, warga Baduy sangat menjunjung tinggi nilai-nilai dan adat istiadat leluhurnya. Bahkan, kata Kasmin, ada pribahasa orang Baduy, “Panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh dipotong”. “Artinya yang benar katakan dengan sebenarnya, yang salah katakan salah. Pepatah tua itu sampai sekarang masih tetap dipertahankan. Meskipun sekarang ini ada sekelompok warga Baduy yang sudah memiliki alat elektronik seperti Hp, tetapi itu sebagian kecilnya,” kata Kasmin.

Mustofa, salah seorang backpacker asal Pontianak mengaku terpesona terhadap wisata budaya Baduy. “Suku adat Baduy merupakan salah satu potensi wisata alam di Indonesia yang potensial. Warga Baduy sangat menjaga ketentraman budaya leluhurnya yang masih tetap dilestarikan. Maka tidak salah bila saya atau turis baik dari domestik atau luar negeri ingin belajar tata cara hidup kerukunan di sini,” ujar Mustofa. (harir/zen)

Share

2 Responses to “WISATA BADUY: LINDUNGI ALAM DAN AMALKAN BUDAYA LELUHUR”

  1. abdul ghofur Says:

    bagaimana tanggapan masyarakat baduy yang secara pribadi mereka menolak dengan adanya penarikan retribusi? apa yang mereka dapatkan dari adanya retribusi tersebut sementara pengelolaan bukan dari masyarakat baduynya?

  2. elva trisye Says:

    wah mau dong kesana pasti asyik ya , bisa lebih mengenal budaya badui dan masyarakat nya

Leave a Reply

advert

Gonjlengan

Istana Komik

Saat saya merehabp dan merapihkan rak serta buku di “Rumah Dunia Library”, tiba-tiba saya menemukan beberapa komik. Itu yang tersisa. Ada komik “Mahabharata” yang sudah tidak komplit lagi. Dan beberapa komik ala Manga import dari Jepang. Tiba-tiba saya ingin sekali membangun gedung perpustakaan baru dan nanti saya namai: Istana Komik. Tapi darimana uangnya? Saya berandai-andai […]

Share

Full Story | December 10th, 2014

Kuliner

Kuliner Banten Berbumbu Kacang

Serang–Yang paling menarik dari Restoran H. Nasir adalah letaknya yang kurang lebih hanya 100 meter dari stasiun kereta api Kota Serang. Bagi teman-teman yang berasal dari luar kota Serang dan menempuh perjalanan menggunakan kereta api, keluar saja dari gerbang stasiun lalu belok ke arah kanan, selusuri sepanjang jalan Kitapa dan di nomor 118 itulah restoran […]

Share

Full Story | August 27th, 2014

advert

Traveling

Kenangan Bersama Gol A Gong

Sore itu, 18 Februari 2014, bersama Pahala Kencana, saya melaju ke Serang, Provinsi Banten. Seumur-umur, baru pertama kali, pergi jarak jauh dengan naik bus, karena dalam kesempatan yang berbeda, lebih nyaman naik kereta api. Barangkali saya termasuk sosok ‘jadul’, jarang bepergian yang berjarak lumayan jauh—keluar Jawa Tengah—, kalaupun “terpaksa” pergi, ya dengan naik kereta api, […]

Share

Full Story | November 28th, 2014

advert

Cerpen

Bebaritan

Oleh Ardian Je   Mata Rizal terus bergerak ke kanan-kiri, mengekori tubuh Mak yang mondar-mandir antara dapur dan pendaringan, tempat bersemayamnya gentong penampung beras dan membakar kemenyan di setiap Ahad dan Kamis malam, bakda salat magrib. Beribu pertanyaan berkelebatan di kepala kecilnya, seperti pendar kekunang di halaman belakang rumahnya saat gelap menjadi teman bumi. Namun […]

Share

Full Story | August 15th, 2014

Novel

Tembang Kampung Halaman [9]

BAB lll — DI KAMAR NOMOR SEMBILAN — IPULtergopoh-gopohturun dari becak sambil membopong tubuh perempuan. Dia disambut oleh Mardi dan Ramli dengan beribu pertanyaan. Antara keheranan dan menyudutkan. Tanpa menjawab dulu Ipul langsung membawa Maisaroh ke kamarnya, kamar nomor sembilan. “Cepat ambil air hangat!” Mardi memerintah Ramli. “kamu apakan dia, heh?!” bentaknya gusar pada Ipul. […]

Share

Full Story | July 20th, 2014

Puisi

Andai Aku Bisa Bicara

Proses kreatif menulis sajak ini, ketika sepulang dari bekerja di RCTI, aku berjalan-jalan menghirup udara segar di halaman belakang rumah, dimana Rumah Dunia berada. Saat itu sekitar tahun 2002. Aku kaget dan marah, begitu melihat buku-buku tua (album cerita bergambar) tergolek robek di antara batang-batang pohon pisang. Aku mencari istriku – Tias Tatanka. Aku katakan […]

Share

Full Story | December 18th, 2014