HUJAN BAHAGIA DI PESTA ANAK RUMAH DUNIA

Peserta lomba tusuk balon siap beraksi!

Gadis cilik itu bernama Fia. Usianya barulah menginjak 9 tahun dan duduk di kelas 4 sekolah dasar. Seperti teman-teman lainnya, ia gelisah menanti namanya dipanggil. Sambil melihat teman-temannya yang lebih dahulu unjuk kemampuan pada lomba baca puisi, Fia sesekali melirik kembali majalah anak-anak di dekapannya. Sambil hilir mudik tak betah duduk di kursi, Fia kembali melirik larik-larik puisi anak yang ada di dalam salah satu majalah tersebut. Ia berharap ia hafal teksnya, meski nantinya Fia akan membacanya dan bukan menghafal. Hingga tiba saat yang dinanti, Fia harus naik panggung karena namanya sudah disebut oleh sang MC. Tiba-tiba Fia tak langsung menaiki panggung. Ia merasa ragu karena di depannya sekitar 100-an anak peserta lain yang siap menyaksikan aksinya, mungkin, terlihat menyeramkan di bayangannya. Hingga beberapa saat Fia masih tetap ragu. Hal ini membuat panitia merasa perlu mendekati Fia dan membujuknya agar berani naik panggung. Akhirnya, tak lama kemudian dengan senyum kikuk, Fia meminta waktu sebentar untuk menenangkan diri. ”Tunggu sebentar ya, Kak. Fia mau berdo’a dulu,” ujar Fia sambil menarik napas dan mulutnya komat-kamit membaca do’a. Fia mengusap wajah, ”Sudah, Kak. Bismillah!” Fia naik panggung dan langsung disambut tepuk tangan para peserta Pesta Anak Rumah Dunia.

Daftar Buat Adik

Pesta Anak adalah tradisi tahunan Rumah Dunia dalam rangka memeriahkan Hari Anak Nasional yang biasa diperingati setiap tanggal 23 Juli. Tak hanya lomba baca puisi, menggambar, dan mengarang yang memang mengandung unsur budaya literasi sejak dini, Pesta Anak Rumah Dunia ke-9 yang dilaksanakan pada Sabtu (24/7) hingga Minggu (25/7) juga dimeriahkan aneka lomba hiburan lainnya semisal lomba balap makan kerupuk, tusuk balon, permen di tempayan putih, joget jeruk, memasukkan paku ke dalam botol, dan balap sarung (bukan karung).

Ahmad Wayang memberi sambutan dan semangat.

Ahmad Wayang selaku ketua panitia memaparkan, lomba ini merupakan bentuk kepedulian Rumah Dunia pada anak-anak dengan cara mempestakan mereka. Anak-anak dibiarkan tertawa dan diberi kesempatan unjuk kebolehan mereka.”Kami ingin dari Pesta Anak ini anak-anak lebih bahagia dari hari-hari biasanya,” ujar mantan penjual roti yang dua bulan lalu cerpennya tergabung dalam antologi penulis muda Banten berjudul Gilalova yang diterbitkan Gong Publishing. ”Kami juga memberi kesempatan kepada adik-adik saya di Rumah Dunia dengan memberi kesempatan mengikuti dua jenis lomba. Kami ingin mereka mendapat kesempatan untuk terus bersenang-senang hingga menang. Dan tentunya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada para donatur yang telah mendukung kegiatan ini,” imbuh relawan asal Kibin, Serang, yang baru saja lolos tes pendaftaran mahasiswa baru di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten, setelah sempat tak meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi selama tiga tahun karena persoalan biaya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Pesta Anak Rumah Dunia ini selalu diminati anak-anak. Bahkan seminggu sebelum pesta digelar anak-anak kampung Ciloang, Kubil, Tegal Duren, Kesuren, dan Kemang, yang memang berada di sekitar Rumah Dunia, langsung berbondong-bondong mendaftarkan diri. Panitia yang sebagian besar merupakan anak-anak generasi awal Rumah Dunia didirikan yang kini sudah menjadi remaja, sibuk menangani adik-adiknya yang antusias mengikuti Pesta Anak ini. Hal ini pula yang ditunjukkan bocah bernama Agwan (10). Ia sengaja datang untuk mendaftarkan adiknya juga. ”Saya pesan  buat adik saya ya, Kak.”

Anak-anak mengantri saat mendaftar

Mereka Hebat!

Setelah berhelat selama dua hari, akhirnya satu persatu lomba pun terselesaikan dengan wajah anak-anak yang riang. Para dewan juri sibuk memilih karya terbaik dari peserta. Untuk lomba menggambar, Indra Kesuma, tutor wisata menggambar di Rumah Dunia yang juga guru kesenian di SMA Al-Azhar 3 Kota Serang, memilih tiga juara untuk kategori Taman Kanak-Kanak (TK). Mereka adalah Odri (juara I), Silviyana Dewi (juara II), dan Akilah (juara III). Sementara tiga juara lomba menggambar untuk kategori peserta Sekolah Dasar (SD), Indra memilih karya Ahmad S (juara I), Astin M (juara II), dan Sulis (juara III). ”Karya anak-anak memang rata-rata seragam karena mereka terjebak di tema yakni kembali ke sekolah. Tapi jujur, mereka sudah berani menggoreskan pensil lalu memberi warna untuk mengeluarkan ide-ide kecil mereka pun sudah hebat. Itulah modal bagi masa depan mereka,” ujar Indra.

Untuk lomba puisi, salah satu dewan juri Ahmad Salam H.S yang puisi-puisinya sudah memeriahkan media lokal dan nasional memilih aksi pembacaan puisi Indah (juara I), Irma (juara II), dan Iyah (juara III). ”Meski masih ada yang malu-malu membacakan puisi, saya cukup salut dengan keberanian mereka untuk menguasai diri di panggung. Apalagi ada yang lantang membacakan puisinya,” ujar relawan asal Waringin Kurung ini. “Ini sangat menarik!” imbuhnya dengan sangat antusias.

Peserta lomba balap karung sedang bersaing!

Sementara itu Langlang Randhawa, relawan yang juga penulis novel Slonong Boy Millionaire (B-First Mizan Group: 2009), akhirnya memilih karangan karya Febiola Martina (juara I), Fia (juara II) yang sempat gagal di lomba baca puisi, dan Hamim (juara III). ”Mayoritas karya adik-adik di Rumah Dunia bisa dibaca mengalir, meski terkadang mereka manabrak-nabrak ejaan yang disempurnakan. Tapi untuk sebuah karya yang langsung ditulis di tempat perlombaan dan waktu terbatas, mereka layak diacungi jempol dan tidak boleh dipandang remeh. Mereka anak-anak kampung yang hebat!” ujar relawan asal Tangerang yang novel keduanya berjudul Merah Putih di Old Trafford (Kaifa Mizan Group) sedang dalam proses cetak dan akan segera terbit akhir bulan Juli ini.

Kami Senang, Kak.

Akhirnya para pemenang aneka lomba Pesta Anak berbahagia menggondol hadiah berupa paket peralatan sekolah; buku, alat tulis, kaos kaki, dan tas sekolah. Kebahagian ini juga dirasakan Fia. Bocah berkulit sawo matang ini memang terjegal di perlombaan baca puisi meski ia sudah berdoa dan berusaha semampunya, namun bersama pemenang lomba hiburan lainnya, Fia mengaku senang bisa menjadi juara kedua pada lomba mengarang. ”Untung kakak-kakak di Rumah Dunia memberi kesempatan dua jenis lomba, sehingga Fia akhirnya bisa menang,” ujar Fia. Hal senada juga diungkapkan bocah bernama Hamim (10). Pasalnya meski hanya menyabet juara tiga pada lomba mengarang, Hamim akhirnya berhasil meraih juara pertama pada lomba joget buah jeruk bersama rekannya, Anan. ”Kami sangat senang, Kak. Terima kasih atas pestanya. Mudah-mudahan tahun depan masih ada lagi,” ujar Hamim.

Peserta lomba joged jeruk sedang bergoyang. Aha!

Sementara itu Erwin yang gagal menyabet juara dalam aneka lomba Pesta Anak ini, awalnya merasa sedih juga. Namun karena melihat teman-temannya bahagia, ia pun ikut terabawa senang.  Apalagi Erwin sempat diwawancara Fery Setiawan, relawan Rumah Dunia yang kini menjadi wartawan televisi lokal BRTV selaku media partner Rumah Dunia selama ini. ”Kalah juga enggak apa-apa, yang penting bisa masuk tipi!” ujar Erwin polos. Akhirnya, meski cuaca tiba-tiba panas selama Pesta Anak digelar, diguyur hujan bahagia. Sampai jumpa di Pesta Anak tahun depan. Seluruh pengurus Rumah Dunia mangucapkan banyak terima kasih kepada para relawan yang telah berjibaku, adik-adik yang sudah ikut memeriahkan, serta para donatur yang telah menyumbangkan sebagian hartanya. Semoga semuanya bisa menjadi amal nan barakah. Sampai jumpa di Pesta Anak ke-10 tahun depan. Semoga kita semua diberi panjang umur dan barakah. Salam. Semangat! [LR]

MARTHA SINAGA: DENGAN PUISI HIDUP ITU INDAH

RUMAH DUNIA—Berragam cara orang mengungkapkan isi hatinya baik dengan menangis, bernyanyi, atau berdiam diri. Tapi tak sedikit juga orang yang meluapkannya, curahan isi hatinya dengan tulisan, seperti menulis catatan harian, puisi atau menulis cerita. Nah, metode ini yang dipraktikkan oleh Martha Sinaga, wanita kelahiran 18 Maret 1960 ini, gemar menulis puisi sejak kelas 3 SD. Hobi menulis puisi Martha Sinaga terus terasa sampai tingkat SMA di Tanjungpinang, Kepulauan Riau dan Perguruan Tinggi di Jogjakarta. Kendati sejak tahun 1985 ibu dari Edwin Yehezkiel dan Mario Ikada ini menekuni profesi sebagai jurnalis, namun tak membatasi diri untuk berkarya dalam menulis puisi. “Karena dengan menulis puisi hidup menjadi indah. Selain itu puisi itu lahir dari perasaan yang paling dalam,” kata Martha Sinaga seusai membahas tips-tips menulis puisi itu indah pada acara Ulang Tahun Rumah Dunia ke-8, Minggu (14/3).

Dalam rentang 24 tahun sebagai jurnalis, wanita berdarah batak ini sudah menghasilkan 38 buku. Buku tersebut antara lain: Cantik di Bentuk Alam tahun 2001, Selamat Pagi Kekasih tahun 2002, buku berjudul Anak-anakku di Jalan tahun 2003, Samudera Kehidupan (Otobiografi Dr. Chandra Motik SH, Smc yang ditulis dengan rekan wartawan) disusul dengan judul Karya dan Apresiasi tahun 2004, Habit Profesional di tahun 2006 bahkan sampai cetakan ke-2, pada tahun 2006 Apa yang Kau Beri?, Ketika Cinta Kembali pada tahun 2008, tahun 2009 diisi dengan beragam judul Rembulan di Tanah Melayu, Puisi Pujian Mezbah, Cahaya Dari Ufuk Bangka, Kumpulan Puisi dan Pantun Perumpuan dalam Makna (Yang ditulis bersama dengan Walikota Tanjungpinang Kepulauan Riau, Suryatati. A. Manan), Kumpulan Puisi Cinta-Cinta dan Cinta dan yang terakhir Kumpulan puisi Rohani Kidung Mezbah pada tahun 2010.

Selain itu karya sastra baik puisi, esai, artikel dan cerpen pernah dimuat di beberapa media cetak, seperti Harian Suara Pembaruan, Harian Sore Harapan, Harian Bisnis Indonesia, Harian Media Indonesia, Batam Post, Tribun Batam, Tabloid Nova, Tabloid Citra, Tabloid Cek & Ricek, Majalah Kartika, Majalah Pesona, Tanjung Pinang Post, Majalah serta Koran Tempo. Sekarang masih aktif sebagai penulis dan jurnali di sebuah media nasional dan mengelola Yayasan Kalpataru yang ia dirikan.[Harir Baldan]

SAHROJI; BACA PUISI SUDAH JADI HOBI


Sahroji atau akrab dipanggil Oji, ternyata selain sebagai tukang ojek, ia juga adalah ketua Rukun Tetangga (RT) di kampungnya, di Makambata Rt 12/06 Desa Sukadalem, Kecamatan Waringin Kurung, Serang. Ia mengaku mempunyai hobi membuat puisi sekaligus membacakan puisinya. Pasalnya, semenjak mengikuti lomba Baca Puisi Wong Cilik pertama (tahun 2008) yang diselenggarakan Rumah Dunia, Oji yang saat itu tidak tahu apa itu puisi dan bagaimana bentuknya, atas permintaan temanya, Rahmat Heldy HS, guru SMA Al-Irsyad Waringin Kurung, Oji pun memberanikan diri untuk ikut lomba. Tanpa di sangka, ternyata Oji mendapatkan juara satu pada saat itu. “Waktu itu, saya membacakan puisi yang berjudul Dibalik Tukang Ojek,” kenang Oji saat menghadiri lomba Baca Puisi Wong Cilik jilid 3 di Rumah Dunia, Minggu (14/2). Bapak dari dua anak ini mengaku menjadi tukang ojek sejak 2004 lalu. “Kadang saya jadi kuli bangunan jika ada proyek pembuatan rumah. Jadi petukang,” kenang Oji. Boleh di bilang semenjak ia menjadi juara satu dalam lomba Baca Wong Cilik pertama, Oji mengaku, sekarang sudah hobi buat puisi dan membaca puisi.

Lalu apa puisi bagi Oji sendiri? “Puisi bagi saya adalah sebuah ungkapan perasaan pribadi seseorang,” kata Oji. Oleh karena itu, puisi-puisi yang lahir dari tangan Oji, semuanya bercerita tentang kehidupan sehari-harinya. Seperti pada puisi ’Di Balik Tukang Ojek’ yang menceritakan pengalamannya menunggu penumpang di pangkalan ojek saat terik mentari menyengat tubuh dan debu-debu yang menempel di wajahnya, serta doa kegetiran seorang tukang ojek yang mempunyai keluarga berjuang mencari nafkah demi sesuap nasi. Begitulah kiranya isi dari puisi ’Di Balik Tukang Ojek’ yang memang belakangan Oji mengaku puisi itu bukan murni dari buah pikiranya, melainkan ada sebagian masukan kata dari sahabatnya, Rahmat Heldi HS, penyair Kampung Ular dan relawan RD. “Puisi Dibalik Tukang Ojek itu sebagian saya yang tulis dan sebagian lagi di tulis Pak Rahmat,” kata Oji mengaku. “Tapi, ide awalnya dari saya,” sambungnya kemudian.

Seperti orang kebanyakan, Oji pun mengaku gemetaran saat menunggu giliran maju untuk tampil baca puisi di atas panggug. “Dulu sempat gemeteran. Deg-degan. Tapi, setelah maju (diatas panggung) nggak gemetaran lagi,” kata laki-laki yang berumur 32 tahun ini.

Tapi, pada kesempatan kali ini, Oji tidak sedang ikut lagi dalam Lomba Wong Cilik Jilid 3. Melainkan Oji di minta oleh RD menjadi tamu sekaligus membacakan puisinya di depan. Hitung-hitung sebagai hiburan dan mengisi waktu kosong menunggu dewan juri menilai para peserta Wong Cilik jilid 3, yang sudah di mulai sekitar pukul 08.00 WIB.

Jika arti puisi menurut Oji adalah sebuah ungkapan perasaan pribadi seseorang. Apakah puisi Di Balik Tukang Ojek juga bagian dari perasaan pribadinya dan warna dalam kehidupannya? Lalu apa arti hidup bagi Oji? “Hidup ini terlalu keras. Dari mancari nafkah, zaman sekarang cari duit susah.” Kata Oji yang masih tetap bersemangat mencari uang lebih banyak lagi. “Karena saya sebagai tulang punggung keluarga. Jadi saya harus bertanggung jawab menghidupi anak dan istri saya,” katanya dengan mantap.[Ahmad Wayang]

BACA PUISI WONG CILIK #3 DI RUMAH DUNIA

Inilah aksi tukang ojek saat baca puisi

RUMAH DUNIA – Siapa pun bisa berpuisi. Mengekspresikan segala unek-unek dalam hati dalam curah kata-kata. Puisi tak hanya milik para penyair, karena puisi adalah milik manusia. Tak terkecuali adalah wong cilik; tukang ojek, tukang cendol, tukang dodol, tukang somay, pemulung, tukang gali sumur, atau profesi sejenisnya. Yah. Kini tiba lagi saatnya wong cilik di Serang dan sekitarnya berpuisi.

Nah. Setelah sukses pada tahun-tahun sebelumnya, untuk ketiga kalinya, Rumah Dunia yang identik dengan taman bacaan masyarakat, akan menggelar kegiatan bertajuk Lomba Tulis Dan Baca Puisi Wong Cilik Jilid#3 yang akan digelar pada Minggu (14/2) pukul 08:00 WIB s/d selesai. Ada pun terkait syarat apa saja bagi peserta yang akan ikut, Lanang Sejagat, ketua pelaksana mengatakan, syaratnya cukup mudah. “Sama seperti tahun lalu, syarat mengikuti lomba tersebut adalah tentunya mereka yang berporfesi sebagai petani, tukang becak, pedagang asongan, tukang parkir, tukang kuli panggul, dan sejenis profesi lainnya. Dan ini gratis!” ujar Lanang penuh semangat.  “Terkecuali tukang mencuri, atau tukang rampok dan tukang-tukang korupsi. Mereka tidak boleh ikut,” imbuh mahasiswa IAIN Banten ini.

Ada pun syarat lainnya adalah membuat atau menulis satu buah puisi karya sendiri yang akan dibacakan, menyertakan foto kopi KTP. Selain itu juga menurut Lanang, peserta dibatasi hanya 100 orang. Bagi mereka yang bisa memenangkan lomba ini, maka panitia akan menyiapkan hadiah total sebesar Rp 1.300.000 plus sekeranjang buku. “Nah, jika ada rekan-rekan yang mau daftar silahkan datang saja ke Rumah Dunia dengan alamat Komplek Hegar Alam No. 40, Ciloang. Atau telpon langsung ke panitia di 0254-224955,” jelas Lanang.

Selain pembacaan puisi, acara juga akan menghadirkan para pemenang dan finalis Wong Cilik Baca Puisi tahun-tahun sebelumnya. “Mereka akan melakukan mementaskan bagaimana cara baca puisi yang menarik,” ujar Lanang. Selain sebagai pengisi acara, mereka juga akan dilibatkan sebagai dewan juri.

Selanjutnya, bagi rekan-rekan yang ingin berpartisipasi baik menyumbang moril dan materil demi kelancaran acara ini, silakan saja kirim ke alamat Rumah Dunia ke transfer ke rekening Rumah Dunia. Bank BCA Cab. Serang. No. 245-118-5733 atas nama Asih Purwaningtyas Chasanah. Atau juga Bank Muamalat Cab. Serang No. 9085999799 atas nama Asih Purwaningtyas Chasanah. Ditunggu kehadirannya, ya! [Jang Rudun]

AYAT PEREMPUAN

Oleh Toto ST Radik

Sesungguhnya saya tak pernah ingin menceritakan kejadian ini. Saya telah berjanji kepada diri sendiri untuk menyimpannya rapat-rapat dalam ingatan saya, semacam kenangan pribadi. Tapi entah mengapa, ketika pada suatu malam saya bertemu tukang cerita itu, saya tak mampu menahan diri untuk tidak bercerita kepadanya. Padahal sembilan tahun sudah kejadian itu saya simpan dalam-dalam. Mungkin karena sikapnya yang begitu baik dan lembut. Sepanjang malam itu dia benar-benar mendengarkan dengan sepenuh hati, tak pernah menyela, tak berkomentar apa pun. Padahal saya sendiri sering merasa cerita saya ngelantur dan melompat-lompat tidak beraturan. Dia, tukang cerita itu, hanya sesekali bertanya. Itu pun jika saya terdiam karena kehilangan kata-kata. Sehingga saya pun terus menceritakan kejadian itu hingga jauh malam. Kira-kira tiga bulan kemudian tukang cerita itu mengirimi saya sebuah majalah. “Saya menulis sebuah cerita berdasarkan ceritamu. Bukalah halaman 25 dan seterusnya,” tulisnya di selembar kertas. Saya pun segera membuka halaman 25 itu dan membacanya.

***

Lelaki itu datang tidak dengan menunggang kuda seperti dalam dongeng-dongeng kerajaan. Dia datang berjalan kaki, menghampiriku, dan duduk di sebelahku. Begitu saja. Sore itu, sebagaimana sore-sore sebelumnya, aku duduk di bangku taman, menikmati sesudut pemandangan di kota kecilku yang kian ramai. Lelaki itu kemudian mengulurkan tangannya kepadaku seraya tersenyum tipis. “Sabda,” katanya memperkenalkan diri. Aku diam saja. Tangannya terus terulur, begitu pula senyum tipisnya. Seperti tak akan pernah berakhir sebelum aku menyambutnya.

Lelaki itu menggenggam tanganku erat. Mantap dan kukuh. Kulitnya cokelat mengilap. Dia Tersenyum tipis sekali lagi. Dan menunggu.

“Mawar,” jawabku ringkas.

“Sabda Mawar. Nama yang indah dan unik,” katanya seraya terus menggenggam.

“Maksudmu?”

“Nama anak kita.”

“Anak kita?”

“Ya. Kita akan segera menikah.”

Aku menarik tanganku. Melengos. Lelaki sinting! batinku. Baru bertemu sudah bicara soal pernikahan. Tapi aku melirik juga dengan hati berdebar. Lelaki itu tersenyum lagi.

“Kita ditakdirkan menikah dan melahirkan seorang anak bernama Sabda Mawar karena aku bernama Sabda dan engkau Mawar.”

“Dari mana kamu tahu kita ditakdirkan menikah? Memangnya kamu malaikat atau nabi?”

Lelaki itu lagi-lagi tersenyum. Kemudian sedikit tergelak. “Pasti kamu menganggapku gila atau konyol, “ katanya. “Tidak. Aku tidak konyol, apalagi gila. Mungkin aku agak berlebihan. Aku hanya merasa yakin. Itu saja. Bukankah kita harus yakin pada keyakinan kita? Jika tidak, lantas buat apa kita melakoni hidup di dunia yang sebentar ini. Jadi kamu juga harus yakin.”

“Yakin pada apa? Pada keyakinanmu?” Aku mulai sengit. Tidak suka pada sikapnya yang menekan.

“Tentu saja pada keyakinanmu,” tukasnya cepat. “Ayo katakan dengan yakin.

Aku ingin tahu.”

Aku tak segera menjawab. Aku benar-benar tidak suka kepadanya, cara bicaranya, sikap yakinnya, juga senyum tipisnya yang enggan hilang itu. “Maaf, aku ingin sendiri di sini.”

“Itulah! Berhari-hari kulihat kamu selalu sendiri di sini setiap senja. Dari sikap dudukmu, aku tahu kamu sedang menunggu seseorang atau sesuatu. Dan aku datang memenuhi do’amu.”

Aku semakin tidak suka kepadanya, justru karena kebenaran kata-katanya. Jadi dia telah mengamatiku berhari-hari, barangkali mengendap-endap di balik rumpun melati atau di balik gerumbul soka? Siapakah sebenarnya lelaki tengik ini? Hm, mungkin cuma lelaki iseng yang mengira aku perempuan…

“Tak baik berprasangka buruk. Aku menghormatimu,” katanya seolah dapat membaca jalan pikiranku. “Sekali lagi, aku datang dari jauh memenuhi do’amu. Aku Sabda engkau Mawar. Kita akan menikah dan menimang seorang anak yang kau idam-idamkan. Sabda Mawar, nama yang indah, bukan?”

“Pergilah. Aku tak suka ocehan gilamu!”

“Kamu mengusirku?”

Aku tak menjawab. Aku telah muak.

“Baiklah.” Lelaki itu bangkit perlahan. “Tapi sebelum aku pergi, katakan apakah kamu yakin aku harus pergi.”

Kutatap lelaki itu dengan keras, pernyataan perseteruanku kepadanya. Lagi-lagi dia tersenyum tipis. Tapi sesaat kemudian cahaya matanya tampak meredup dan murung, seperti matahari senja yang diringkus gulungan awan kelabu.

“Ya,” kataku ringkas.

Lelaki itu menatapku tak percaya. Sinar matanya seakan memintaku untuk merubah keputusan itu. Tapi mataku telah membelalak galak. Lelaki itu kemudian mengangguk lemah dan pergi tanpa sepatah kata pun.

Di gerbang taman, lelaki itu menghentikan langkah dan menoleh ke arahku. Aku cepat berpaling. Aku tak ingin melihat sinar matanya lagi karena khawatir aku menjadi luluh karenanya. Aku tidak tahu apakah lelaki itu tersenyum tipis sekali lagi, sebab manakala aku mengarahkan pandang kepadanya lelaki itu sudah tidak ada. Aneh, seketika saja aku merasa kehilangan. Semacam rasa kangen yang menghentak. Sontak aku berdiri, meninjau ke kejauhan, mengedarkan pandang. Tapi lelaki itu tak tampak lagi. Aku mengejarnya. Tapi lelaki itu benar-benar tiada, seolah hilang ditelan udara.

Berhari-hari aku terus merasa kehilangan. Apakah karena aku merasa iba? Atau sejak mula aku mendustai perasaanku sendiri?

Sabda. Sabda Mawar. Sabda. Nama itu terus terngiang-ngiang di telingaku. Tapi tak ada lagi Sabda. Lelaki itu tak pernah datang lagi. Setiap senja aku pergi ke taman, duduk di bangku taman yang sama, menunggu Sabda. Tapi tak ada lagi Sabda. Lelaki itu tak pernah datang lagi.

Suatu ketika, sekira sepertiga tahun setelah pertemuan itu, aku merasa hamil. Seperti ada mahluk hidup yang bergerak-gerak dalam perutku. Seperti berenang kian kemari. Perutku pun terasa bergetar-getar dan membesar. Sungguh aneh. Benar-benar ganjil. Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah kehamilan hanya mungkin jika aku bersebadan? Padahal aku tak pernah bercinta dengan siapa pun. Aku hanya berbincang dengan seorang lelaki yang mengaku bernama Sabda, itu pun berakhir dengan rasa muak sebelum akhirnya aku mengusir lelaki sinting itu. Aku memang merasa kehilangan dan merindukan kehadirannya. Tapi kerinduan tak akan pernah dapat menyebabkan kehamilan, bukan?

Aku sungguh-sungguh benci terhadap binatang yang mendiami perutku ini. Tapi usahaku merontokkannya berkali-kali tak pernah berhasil. Binatang itu sungguh liat dan likat. Tak mau luruh. Tak mau lepas. Jahanam! Hidupku jadi tambah sengsara karenanya. Dari hari ke hari orang-orang mengolok-olokku tanpa ampun. Beberapa di antaranya bahkan mencoba memperkosaku. Benar-benar jahanam! Aku geram dan marah, sekaligus merasa kasihan terhadap para lelaki munafik itu. Mereka mencibir dan menistakan aku sebagai perempuan penuh dosa, tapi juga menginginkan tubuhku. Dan manakala nafsu itu tak kesampaian, mereka mengumpati aku dengan kata-kata kasar: dasar jobong![1] Wadon sédéng![2] Sudah jemblung[3] berlagak suci!

Perutku terus membesar. Binatang di dalam perutku semakin kerap berjumpalitan. Menghisap. Meninju. Menendang. Bahkan mencakar-cakar dengan kejam. Pernah suatu malam kurasakan binatang itu seperti hendak menjebol dinding perutku. Aku memekik-mekik kesakitan. Kupukul dia berkali-kali tapi dia malah semakin liar, berputar-putar bagai mata bor hendak melubangi perutku. Aku pun menyerah, membiarkan dia berbuat sesukanya. Aku raba-raba kepalanya. Aku elus-elus pantatnya. Dan binatang itu pun diam. Mendengkur halus. Tiba-tiba aku terkenang Sabda, lelaki aneh itu.

Ya, Sabda. Kini aku ingat dia pernah menemuiku kembali pada suatu malam ketika aku sedang tidur-tiduran di bangku taman, memandang luas langit yang benderang oleh purnama.

“Mawar,” bisiknya.

“Sabda?” Aku bangkit mencari arah suara. Sesosok bayangan mengambang di hadapanku. “Sabda?”

Namun bayangan itu memudar. Menghilang begitu lekas. Sebelum sempat mengitarkan pandang, tiba-tiba kurasakan tangan kukuh mendekapku dari belakang. “Mawar,” bisiknya lagi. Nafasnya hangat dan wangi. Jemarinya lembut menyusuri wajahku. Aku pun terpejam. Mendesah. Seketika melayang. Melesat. Meluncur. Menukik. Memburu. Menderu. “Sabda!” Aku memekik setiba di puncak. Tapi aku hanya mendapati diriku seorang diri di bangku taman yang sepi. Tidak ada Sabda. Tidak ada siapa pun. Semua itu hanya bayanganku sendiri, khayal yang menipu.

Binatang itu lagi-lagi meninju dinding perutku, seakan hendak menyatakan bahwa dia benar-benar ada. Apakah perempuan yang bercinta dengan bayangan bisa hamil? Aku perawan. Tak ada lelaki pernah menyentuhku. Bagaimana akan ada bagiku seorang anak, sedang aku tak bersuami dan aku bukan pula seorang pezina?[4]

Aku merangkak menuju pohon asam di pojok taman. Ketuban telah pecah. Seluruh tubuhku nyeri. Aduhai, alangkah baiknya aku  mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.[5]

Binatang itu pun lahir menerobos rahimku. Alangkah terpananya aku melihat bayi laki-laki dengan wajah tampan bercahaya dan rambut hitam tebal bergelombang. Bibir mungilnya yang merah menyunggingkan senyum tipis sesaat setelah dia menangis dengan keras. Seketika aku pun jatuh cinta seperti ketika pertama kali bertemu Sabda. Ya, senyumnya sungguh senyum Sabda. Bayi itu aku dekap sepenuh perasaan, kucium bertubi-tubi, dan kuberikan air susu pertama. “Aduhai, anakku sayang, kuberi nama engkau Sabda Mawar. Nama yang diciptakan bapakmu sebelum engkau tiba, sebelum engkau ada,” bisikku.

Keesokan paginya, orang-orang berdatangan. Berdesakkan mengitariku. Mereka bukan hanya menghamburkan serapah, tapi juga melempari kami dengan kerikil, batu, ranting, pecahan botol, telur busuk, bahkan kotoran anjing dan kotoran mereka sendiri. Beberapa di antaranya kukenali sebagai orang yang hendak memperkosaku.

“Hai, jobong! Saya do’akan kamu masuk neraka!”

“Perempuan sundal!”

“Pergi dari sini, pendosa!

Sebatang kayu menderas ke arah kami. Kudekap anakku. Kulindungi wajahnya dengan telapak tanganku. Batang kayu itu menghantam keningku. Darah menetes!

“Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar!”

Sebongkah batu menghajar pelipisku. Darah mengucur!

“Pezina! Matilah kamu!”

Sepotong besi menghajar batang hidungku. Darah menderas!

“Biar mampus perempuan sesat dan anak haram jadah ini!”

“Najis!”

Pateni bae![6]

Lagi, sebongkah batu menghajar belakang kepalaku. Aku terhuyung. Darah membanjiri sekujur tubuhku. “Tuhan, di manakah Engkau?” Aku menjerit. Tanganku menggapai-gapai mencari pegangan. Anakku terlepas dari dekapanku. Aku mencoba meraihnya, tapi aku telah tersungkur membentur tanah. Aku mencoba merangkak menyelamatkan anakku, tapi berpasang kaki telah menendangnya kian-kemari disertai tawa dan tempik sorak. “Tuhan, di manakah Engkau?”

Aku hanya bisa menangis dan meratap ketika kulihat mereka mengikat anakku dengan seutas tali rafia merah di ujung galah dan mengaraknya berkeliling sebelum ditancapkan di tengah taman. Kulihat anakku terkulai layu. Aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati.

Sepasang tangan kekar menyeretku, melemparkanku ke dalam got seraya menghamburkan seribu serapah dan meludahiku berkali-kali. Aku ingin melolong, menyeru anakku. Tapi lidahku telah kelu. Masih kudengar tempik sorak itu dan seruan-seruan kemahabesaran Tuhan ketika gelap begitu sigap menyergap. Kemudian segala lesap. Senyap.

Aku siuman ketika kurasakan panas matahari begitu menyengat. Aku mencoba merangkak naik ke bibir got. “Gustiii….” Aku merintih menahan nyeri. Sekujur tubuhku ngilu. Tulang-tulang berderak-derak seperti mau patah. Tapi aku terus merangkak. “Anakku, anakku!” Aku merangkak dan terus merangkak.

Di kejauhan, kulihat galah itu terpancang menjulang. Hanya galah. Di ujungnya seutas tali rafia merah menari-nari dipermainkan angin. “Sabda Mawar, anakku, di manakah engkau?”

Sejak itu aku mengembara bersama seluruh geram seluruh lebam seluruh pedih seluruh perih mencari dua lelakiku yang hilang. Sembilan tahun sudah.

***

======================

Toto ST Radik lahir di desa Singarajan, Serang, Banten, 30 Juni 1965. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Kumpulan puisi tunggalnya Mencari dan Kehilangan (1996), Indonesia Setengah Tiang (1999), Jus Tomat Rasa Pedas (2003), dan Pangeran [Lelaki yang Tak menginginkan Sorga] (2005). Sedangkan cerpennya terdapat dalam Dongeng Sebelum Tidur (Gramedia Pustaka Utama, 2005), dan lain-lain. Bergiat di Sanggar Sastra Serang (s3) dan Rumah Dunia. Tinggal di Penancangan, Kota Serang. Alamat: Kompleks P&K Blok-A, Jalan Kenanga 99, Penancangan, Serang, Banten  42118, mobile: 0818 415 287, No. Rek 1152328 Bank BNI Cabang Serang.


[1] Bahasa Jawa Banten: Pelacur.

[2] Bahasa Jawa Banten: Perempuan sinting.

[3] Bahasa Jawa Banten: Hamil.

[4] QS Maryam: 20

[5] QS Maryam: 23

[6] Bahasa Jawa Banten: Bunuh saja

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010