GEMPA LITERASI HINGGA KE TIMUR TENGAH

Oleh Jang RuDun

“Indonesia adalah salah satu dari tiga negara terbesar yang mengrimkan tenaga kerja wanita ke timur tengah untuk pangsa pasar ‘unskilled labour’ sekelas Eritrea dan Sudan!” Ujar Pak Wahid Supriyadi, Duta Besar RI untuk persatuan Emirat Arab pada saat memberikan pengantar “Peluncuran Buku Tamasya ke Masjid” yang ditulis oleh Jaya Komarudin Cholik, yang berprofesi sebagai pekerja migran di Abu Dhabi.

UBAH PARADIGMA
Ungkapan Pak Wahid, mantan Konjen Melbourne di depan para warga Indonesia yang tergabung dalam Komunitas Masyarakat Muslim Indonesia (KMMI) Abu Dhabi, ini memang terasa pahit. Bagi bangsa besar di Asia Tenggara dengan sumber daya interlektual manusianya yang tidak dapat dianggap remeh tetapi justru lewat kebijakan yang tidak populer dan memperburuk wajah bangsa, Indonesia menjadi tidak lebih dari negara pengekspor pembantu!. Padahal di negara yang mendapat julukan ‘Negara Duta Para Bangsa’ karena merekrut tenaga kerja lebih dari 130 warga negara. Bisa dibilang buruh Skandinavia hingga tentara bayaran yang dipungut dari pegunungan Himalaya ada di Persatuan Emirat Arab (PEA).

“Gerakannya gesit dan lincah alias kecil-kecil cabe rawit!” Begitu warga Indonesia di Abu Dhabi menyebut Dubesnya. Pak Wahid memang tidak main-main dan bertekad mengubah paradigma serta citra bangsa lewat lobi dan terobosannya dari berbagai aspek. Mulai dari meningkatkan kerjasama di bidang ekonomi, yang sebelumnya hanya bernilai 200 ribu US$ saja. “Itu pun ketika dicek hanya berupa ruko di Jakarta,” ungkap Pak Wahid. Kini usaha Pak Wahid dalam kurun 2 tahun saja sudah terbang ke angka jutaan dolar. “Indonesia negara besar di Asia tenggara tetapi dari segi kerjasama ekonomi masih jauh dari Malaysia dan Thailand. Saat semua negara membukukan nilai kerjasama ekonomi jutaan dollar dengan ‘kembangnya’ Timur Tengah, kita masih saja disibukkan dengan jasa pelayanan konsuler!’ Ungkap pak Wahid miris.

Maka peluncuran buku ”Tamasya ke Masjid” (Gong Publishing) pada 25 Juni, pukul 20-23:00, di aula serba guna kedubes RI untuk PEA dengan dihadiri lebih dari 30 orang, disambut dengan sukacita karena buku ini juga milik semua warga Indonesia di PEA. Setelah para pekerja migran di Hongkong yang tergabung di Forum Lingkar Pena melahirkan para penulis kemudian disusul Jenny Ervina, buruh migran di Taiwan asal Petir, Serang yangmenuils kumcer ”Gadis Bukan Perawan” (Gong Publishing, Mei 2010) maka Timur Tengah akhirnya menyusul. Peluncuran buku yang di PEA ini semoga menjadi awal perubahan paradigma baru seiring dengan bertambahnya jumlah para ‘skilled labour’ dan menggantikan porsi pekerja ‘unskilled labour’ yang menurut data sementara massih ada dikisaran 40 persen.

TAMASYA KE MASJID DAN GEMPA LITERASI
Buku Tamasya ke Masjid yang ditulis oleh Jaya Komarudin Cholik ini memang didukung penuh oleh dua komunitas warga Indonesia di PEA, yaitu KMMI-Abu Dhabi dan Indo-Emirat, sebuah komunitas warga Indonesia di Ruwais. Misi yang dibawa memang bukan sekedar menyajikan sebuah buku tetapi juga lebih pada menularkan budaya literasi, membaca dan menulis. Kedua komunitas tersebut menyambut baik peluncuran buku ini dan berharap ke depannya akan hadir forum pecinta literasi.

Tamasya ke Masjid yang menurut Joko Priatmoko, wakil ketua KMMI sebagai buku yang bukan hanya sekedar memoar belaka tetapi lebih dari itu menghadirkan sebuah wajah baru bagi setiap pembaca dalam memandang masjid. Masjid bukan hanya sebuah rangkaian bentuk fisik belaka tetapi di dalamnya menyimpan sebuah kekuatan dari setiap indivisu-individu yang berinteraksi di dalamnya. Sementara Pak Wahid justru mengomentari gaya bahasanya. Pengalaman beliau sudah 3 kali memberikan endorsement, dua diterbitkan sebelumnya di Australia. Menurut beliau, gaya penulis yang menghadirkan bahasa mengalir, sederhana, dan mudah dimengerti serta sarat informasi dan referensi mengingatkannya pada jargon koran Tempo “Enak dibaca dan Perlu”. Memoar ini bukan hanya sekedar berisi pengalaman pribadi tetapi justru memberikan pelajaran bahwa menulis memoar pun harus menggali dari berbagai sumber.” Pesan yang disampaikan pun tidak menggurui walaupun sepertinya tidak mempunyai keberanian untuk menyatakan secara tegas”, ujar Bambang-pengusaha resto Sari Rasa yang ikut hadir dan sudah membaca buku TKM. Namun beliau masih penasaran dengan kisah ‘Cinta dari Bilik Mihrab’ yang ada di bagian buku ini. “Kisah ini sangat berbanding terbalik dengan kenyataan para remaja sekarang”, ujarnya.

Rencananya setelah di Abu Dhabi, TKM akan diluncurkan di Ruwais, kota para ‘skilled labour’ untuk oil dan gas, kemudian di Jakarta pada saat Pesta Buku Jakarta dan selanjutnya di kota Serang Banten, sebagai bagian dari gerakan Banten Bangkit dengan ‘tag line’: “saatnya Otak, bukan Otot!” yang digaungkan oleh Gong Publishing. TKM sendiri buku ke-7 yang diproduksi Gong Publishing yang mewadahi para penulis di bumi para Jawara ini. Gempa literasi yang dihentakkan oleh Gol A Gong memang membawa semangat lokal pada perubahan kultur rakyat Banten. Dan Jaya Komarudi Cholic, penulis TKM yang kini bekerja di PEA ini dahulu juga relawan di Taman Bacaan Masyarakat Rumah Dunia, produk lokal Banten yang bekerja di salah satu pabrik Petrokimia di Cilegon.

Tanya jawab mengalir dengan hangat dan harapan dari peluncuran buku TKM ini adalah hadirnya komunitas menulis dan baca bagi semua kalangan di PEA agar ke depan akan lahir kembali buku-buku yang akan menambah dahsyat gempa literasi yang sudah terasa hingga ke timur tengah ini.

BE A WRITER: CARA MUDAH JADI PENGARANG

Taman Bacaan Rumah Dunia tidak sekedar sebuah taman, tapi juga pusat belajar. lanjutkan membaca »

HARI KEBANGKITAN BUKU RUMAH DUNIA

Oleh Gol A Gong

“HARI KEBANGKITAN BUKU #3” di Taman Bacaan Rumah Dunia pada 15 Mei 2010, pukul 13.00 – 17.00 WIB adalah gerakan kebudayaan yang tiada henti sejak tahun 2000, dimana batu-bata ditanamkan ke tanah untuk mendirikan Rumah Dunia, seperti halnya di Babad Banten, Pupuh XII, “Gawe Kuta baluwarti bata kalawan kawis”; membangun peradaban atau kota dengan batu dan karang. Begitulah Rumah Dunia, membangun peradaban baru di Banten yang melek aksara dan informasi. Lalu Gong Publishing hadir untuk Banten, yaitu membangkitkan lagi tradisi menulis yang sudah lama tenggelam, karena “menulis adalah membaca dua kali”..

UBAH STIGMA
Kini 10 tahun bergulir sejak Rumah Dunia didirikan. Fase ketertarikan membaca dan kebiasan membaca sudah merasuki warga di sekitar Rumah dunia; yaitu Kampung Ciloang, Kubil, tegal Duren, dn Kesuren. Anak-anaknya kini rajin ke sekolah. Setiap pagi, anak-nak kampung berseragam merh-putih berduyun-duyun ala warga Baduy ke sekolah. Ini sangat menggembirakan. Beberapa anak Kampung Ciloang pun sudah pandai menulis berita dan essay di koran, serta menulis cerpen dan novel.

Keberadaan Taman Bacaan Masyarakat Rumah Dunia di Kampung Ciloang memberi warna tersendiri bagi perkembangan keaksaraan di Banten, bahkan di Indonesia. Rumah dunia ibarat titik gempa literasi, sehingga getarannya terasa ke seluruh pelosok Banten, bahkan Indonesia. Di Banten kini bermunculan banyak komunitas baca dan taman bacaan masyarakat. Setiap akhir pekan, para aktivis buku berbondong-bondong menghadiri kegiatan literasi di Rumah Dunia. Seusai pesta literasi di Rumah dunia, mereka pulang ke kampungnya dan sepakat meneggelorakan visi ”Banten Membaca”. Di Cipanas, Ikatan Keluarga Mahasiwa Cipanas menyulut sumbu literasi ”Lebak Membaca” dengan mendirikan ’Kosala Library”. Di Pandeglang, Forum Pandeglang Bangkit bersiap menyulut dinamit ”Pandeglang Membaca”.

Melihat antusiasme masyarakat Banten selama 10 tahun usia Provinsi Banten cukup menggembirakan. Indikasinya di setiap mall di Banten sudah ada toko buku tiga Serangkai, pasar buku murah di terminal Pakupatan, Serang, Banten book Fair di Radar Banten, para mahasiswa mulai rajin ke toko buku dan mengadakan bedah buku serta jumpa penulis di kampus. Ini sangat menggembirakan. Taman-taman bacaan masyarakat bersaing dengan pembangunan real estate, rumah toko, atau rumah kantor. Koran-koran lokal bertumbuhan. Televisi lokal bertambah. Ini luar biasa. Banten memasuki peradaban baru; over load informations! Bnbjir informasi.

Eko Koswara, Kadisdik Provinsi Banten sumringah di setiap acara, ”Buta aksara di Banten berhasil diberantas!” Dan kejutan paling hangat ibarat sang mentari fajar, saat Disdik, Perpusda Banten, Disbudbar Banten dan Kota Serang bekerjasama dengan Forum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia menggagas TBM@Mall (baca: Taman Bacaan Masyarakat di mall) di Carrefour Serang. Keseriusan warga Banten yang ingin menghancurkan ”mitos” ketertinggalan di pendidikan dan stigma buram tentangteluh dan santet dibuktikan pada 2 Mei 2010, persis pada saat seluuruh anak negeri larut dalam suka-cita Hari Pendidikan nasional.

Pada 2 Mei itu, hanya 2 kota yang meluncurkan TBM@Mall; yaitu di Plaza Semanggi, Jakarta, yang diresmikan Mentri Pendidikan Nasional, Moh. Nuh, dan TBM@Mall Banten Membaca di Carrefour, Serang, oleh Gubernur, Banten, Rt. Atut Chosiyah. Peristiwa ini akan tercatat di gerakan “Indonesia Membaca”, bahwa Banten berada di garis depan! Kata Atut, “TBM@Mall adalah usaha dari ‘Banten untuk Indonesia Membaca’.nati harus ada di 8 tempat di Banten.”

TBM@Mall ibarat bom literasi di Banten. Ledakannya tidak akan menghancurkan, tapi membangunkan orang-orang untuk berpikir, bahwa membaca adalah pintu menuju ilmu pengetahuan. Para relawan di TBM Rumah Dunia, Permadani, Al-Ikhlas yang tergabungdi Forum TBM Kota Serang pimpinan Ratu Nizma Susanti, sudah siap tempur mengelola TBM@Mall. “Kami akan mengingatkan orang-orang yang berbelanja di Carrefour agar tetap ingat pada buku. Belanja boleh, tapi jangan melupakan buku!” kata Novi dari TBM Al-Ikhlas, Serang, yang kebagian jaga pagi di TBM@Mall Banten Membaca. Hal itu diamini Erna, pengelola TBM Permadani, Serang.

MENU KOLOSAL
Mengimbangi kecepatan “Banten Membaca” yang mulai masuk gigi tiga, Rumah Dunia membuka lini usaha, yaitu Gong Publishing. Dengan motto “warnai hidupmu dengan buku”.Gong Publishing ingin membantu para penulis Banten menembus pasar nasional. Ini adalah cara paling strategis mengubah citra atau stigma Banten yang identik dengan jawara plus kekerasan , santet, pelet, dan ketertinggalan. Dengan Gong Publishing, mencoba membangun citra baru; saatnya otak, bukan otot, yaitu interprestasi dari kredo Toto ST Radik, “simpan golokmu, asah penamu”.

Kerja keras pertama adalah menyelenggarakan “HARI KEBANGKITAN BUKU #3” (HKB) di Rumah Dunia. Pada HKB pertama (2008) peluncuran 6 novel terbaru Gol A Gong. Setahun berikutnya di HKB #2, memestakan penulis lokal; Iwan K. Hamdan dan Khatib Mansyur. Di HKB #3 kolosal. Beragam menu digodok, sehingga HKB #3 mewakili harapan warga Banten.

Menu utamanya, peluncuran dan book signing buku bundel BALADA SI ROY (BSR). Novel remaja fenomenal karya Gol A Gong,. yang sudah menginspirasi jutaan pembaca di Indonesia. Buku BSR awalnya dimuat bersambung di majalah HAI (1989 – 1994) dan diterbitkan Gramedia berupa 10 jilid. Kini Gong Publishing menerbitkan kembali dalam bentuk bundel, hard cover, 680 halaman, ukuran buku 15 x 23 cm, jenis kertas HVS 70 gram, harga di too buku Rp. 150.000,- . Tapi saat launching di HKB #3 harga promosi saat peluncuran Rp. 100.000,-

Menu tambahan yang sedap di hati, adalah deklarasi ”Klab Penulis Banten”. Mengusung visi ”Membangkitkan Kembali Tradisi Menulis”, para penulis Banten siap menyerbu pasar Jakarta. Itu dibuktikan dengan soft launching beberapa buku yang diterbitkan Gong Publishing, yaitu novel ”Gadis Bukan Perawan” karya Jenny Ervina, buku kumpulan tulisan pembangun jiwa ”Melihat Tanpa Mata [Penghargaan Pada Inspirasi]” karya Abdul Latief, buku sosial-politik ”Membaca Banten, Membaca Indonesia” karya Iwan K. Hamdan, buku kumpulan cerpen “Gilalova [Segila-gilanya Cinta] karya 25 penulis muda yang tergabung di Forum Lingkar Pena Banten, buku pencerahan spiritual “Tamasya ke Mesjid [catatan buruh migrant di Dubai] karya Jaya Komarudin Cholik, dan buku panduan menulis “Be a Writer” karya Gol A Gong.

Profesor Yoyo Mulyana, guru besar Untirta Serang, menulis di situs jejaring sosial Facebook, ’Acaran HKB #3 dahsyat banget tuh. Mari, use your brain and heart, not your muscle!” Profesor Yoyo siap melakukan orasi dengan tema “Membngkitkan Kembali Tradisi Menulis di Banten.”

Menu penyedap lainya akan ada perang bintang pembacaan Puisi-puisi ”Balada Si Roy” oleh penyair 2 geberasi; Toto ST Radik versus Rahmat Heldy HS. Toto dikenal sebagai penulis sajak pembuka di hampir semua episode Balada Si Roy. Juga ada musikalisasi Ki Amuk pimpinan Firman Venayaksa. Tidak ketinggalan testimoni pembaca ”Balada Si Roy”, yang sudah memberikan inspirasi kepada mereka.

Eit, satu lagi menu gurih! Penjualan kaos merchandise Balada Si Roy! Cover lawas yagn apik dari Mas Wedha dan penggalan puisi Balada Si Roy dari puisi karya Toto ST Radik! (*)

*) Penulis adalah Pendiri Taman Bacaan Rumah dunia dan Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia

WORKSHOP “BE A WRITER” GOL A GONG

Be a writer Gol A GongGONG PUBLISHING mempersembahkan Buku seri #1: BE A WRITER: LEDAKKN IDEMU, AGAR KEPALAMUNGGAK MELEDAK” karya Gol A Gong akn trbit Juni 2010.

Hanya dengan 5 jari tangan, sekitar 70 buku berhasil ditulisnya. Proses kreatifnya dituangkan dengan cara bercerita, sehingga menghanyutkan. Buku ini berisi panduan ringan berdasarkan pengalaman penulisnya, nggak teoritis, otak dijamin nggak usah mikir berat,  dan selesai baca dijamin semangat kepingin nulis. Nggak percaya? Buktikan saja!

Pelatihan “Be a Writer” diluncurkan pada 5-26 Maret di Pondok Pesantren La Tansa, Parakan Santri, Lebak Gedong, Lebak. Sekitar 200-an peserta mengikuti “Be Writer!” Menyusul Ponpes Nurul Madaany dan Kosala Library di Cipanas, Lebak!

“Be a Writer” pada April 2010 di Ponpes Daar El-Qolam Gintung, Tangerang. Pada 29 Mei di Islamic Centre, Kota Seni, Cikupa-Tangerang. Pada 7 – 13 Juni, “Be a Writer” menyeberang ke Palangkaraya, Kalteng.

Anda tertarik? Ayo, siapa mau? Kontak  ke 081513310132 dan 081906311007!

TBM@MALL TUNGGU KESIAPAN CARREFOUR

Radar banten, 8 april 2010

SERANG – Pelaksanaan program taman bacaan masyarakat di pusat perbelanjaan modern atau lebih dikenal dengan istilah TBM@ Mall yang diluncurkan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) di Provinsi Banten, tinggal menunggu kesiapan Carrefour selaku mal yang ditunjuk Pemprov Banten sebagai tempat pelaksanaan program tersebut.
Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Nasional Gol A Gong mengungkapkan, hingga saat ini manajemen Carrefour belum memberikan kepastian bisa dijadikan tempat TBM@Mall. “Mereka (Carrefour-red) beralasan belum menyampaikan program ini ke manajemen pusat Carrefour di Jakarta,” ungkap Gol A Gong, yang juga pendiri Taman Bacaan Masyarakat Rumah Dunia di Serang, terkait progress pelaksanaan program TBM@ Mall di Kota Serang, Rabu (7/4).
Gol A Gong berharap, Carrefour sebagai mall pilihan pertama bisa segera memberi kepastian terkait kesiapannya mendukung program nasional yang bertujuan menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap budaya membaca ini. “Hal ini terkait dengan fungsi CSR (corporate social responsibility) Carrefour sebagai salah satu perusahaan yang berusaha di Banten,” katanya.
Terkait dukungan Pemprov, dalam hal ini Dinas Pendidikan (Dindik), Gol A Gong menyatakan mendukung penuh. “Selain siap memberi dukungan berupa sarana prasarana taman bacaan, seperti buku, Dindik Banten juga siap mengarahkan Dindik kabupaten/kota untuk memberi dukungan serupa,” ujarnya.
Ditemui terpisah, Kepala Dindik Provinsi Banten Eko E Koswara memaparkan, pelaksanaan program TBM@Mall di Kota Serang merupakan percontohan bagi daerah lainnya di Indonesia mengenai model taman bacaan masyarakat di pusat perbelanjaan. “Selain Kota Serang, ada dua daerah lain yang ditunjuk Kemendiknas sebagai program percontohan yakni Jakarta dan Makassar. Untuk tahun ini memang hanya tiga provinsi yang dijadikan model percontohan program TBM@ Mall yaitu Banten, DKI Jakarta, dan Sulawesi Selatan,” paparnya, seraya menambahkan, program TBM@ Mall akan dilaunching pada 2 Mei 2010, bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional. (ila)

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010