PARA RELAWAN RUMAH DUNIA KE PERGURUAN TINGGI

Oleh Gol A Gong

Aku baru saja menerima SMS dari Tias – istriku, “Pah, Aeni harus bayar kuliah Rp. 3,7 juta ke Untirta Kamis (14 Juli) besok. Jadi, Aeni harus buka rekening BTN dengan uang itu, nanti ditransfer ke rekening BTN Untirta. Gimana? Kalo besok gak bayar dianggap mundur. Aku sudah bilang, dia harus bayar dengan honor menjaga TBM@Mal di Carrefour dan mulai menulis. Aini menyanggupi itu.”

JAGA TBM@MALL

Aku yang sedang menulis buku “Gempa Literasi: Think Big, Act Small, Move Fast” terinterupsi. Aku menulis jawaban, bahwa talangin dulu saja dari tabungan kami, tapi saat mengirim, pending. Pulsa habis. Tak lama, Tias menelepon. Aku langsung instruksikan agar segera mengambil uang di ATM dan membayar kuliah Aeni. Jika urusan sekolah, aku selalu teringat pesan Bapak dan Emak, “Bantu orang yang ingin sekolah semampu kamu. Ajak teman-temanmu juga. Berdosa kita jika membiarkan mereka tak bersekolah atau kuliah, hanya gara-gara tak mampu membayar.”

Aeni sudah aktif di Rumah Dunia sejak awal. Dia adalah warga asli kampung Ciloang. Rumahnya persis di depan mulut jalan masuk ke Rumah Dunia. Kakak Aeni, Muhzen Den alias Muhamad Jaeni, yang juga sudah ikut dengan kami sejak awal, sudah lulus S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra FKIP Untirta Banten, Mei lalu. Aeni pernah menginspirasi kami menulis novel “Lukisan Aini” (2008). Dari royalty novel itu, kami bisa membantu Aeni meneruskan sekolah ke SMA. Kini Aeni lolos test ke Untirta Banten, mengikuti jejak kakaknya, Muhzen Den.

Ada dua lagi relawan Rumah Dunia yang masuk ke Untirta Banten, yaitu Abdul Salam HS dan Siti Sahauni. Mereka gagal masuk lewat test SNMPTN, tapi saat ini sedang mengambil jalur UMM. Biaya perorangnya Rp. 5,7 jt. Keduanya mengambil jurusan yang sama, yaitu Pendidikan Bahasa dan Sastra. Abdul Salam HS sebetulnya cukup berprestasi di dunia tulis-menulis. Salam satu-satunya pelajar SMA, yang essay dan puisinya menghiasi Koran lokal. Bahkan Salam lolos seleksi ke Pertemuan Penyair Nusantara 2011, pada 16 – 19 Juli mendatang di Palembang.

Ayah Salam  petani. Kakaknya, Rahmat Heldy HS, PJ. Sastra Rumah Dunia, yang sedang mengambil S2 di Untirta dan sudah jadi penulis level nasional, menyanggupi akan mencarikan biaya buat adiknya. Sedangkan Sahauni, ayahnya pengangguran dan ibunya membuka warung kecil-kecilan di teras rumah dan sesekali menerima panggilan mencuci.  Kedua relawan ini sudah bertekad meneruskan kuliah. Mereka menjaga TBM@Mal di Carrefour dan berharap dari honornya bisa membiayai kuliah. Dulu Siti Sahauni pernah pula menginspirasi kami menulis novel “Mimpi Sauni” (2005). Dari royalty novel itu, kami bisa membantu Sahauni meneruskan sekolah ke SMP.

HONOR MENULIS

Sejak minggu lalu, aku sudah mengingatkan Sahauni, Aeni, dan Salam untuk terus memaksimalkan kemampuan menulisnya. Honor dari menulis, jika konsisten, bisa membantu biaya pendidikan. Aku mulai mengaktifkan lagi kursus menulis essay di malam hari. Mereka memutuskan, kursus menulis essay pada Sabtu malam.  Mereka memilih mengisi malam Minggu bukan untuk wakuncar (waktu kunjung pacar) atau plesiran, tetapi belajar menulis. Salam sudah membuktikan, tulisan essay-nya di koran Banten Raya Post dihargai Rp. 75.000,- Aku juga menganjurkan mereka untuk bergabung lagi di Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan ke-18, yang akan aktif pada Minggu kedua Agustus 2011.

Beberapa relawan Rumah Dunia sudah membuktikan, bahwa honorarium menulis berhasil membantu biaya pendidikan mereka. Ibnu Adam Aviciena, Rimba Alangalang, Langlang Randhawa, Endang Rukmana, Lanang Sejagat, Aji Setiakarya, dan Muhzen Den. Tapi, jika ada pembaca yang ingin bergabung di program beasiswa pendidikan Rumah Dunia, silakan. Ini terbuka sejak dulu. Setiap ada anak-anak yang aktif di Rumah Dunia butuh support dana, Tias selalu mengirimkan SMS, mengajak yang lain ikut berpartisipasi. Jika kebaikan dilakukan secara berjamaah, indah sekali.

Sekarang pun sudah ada dua orang yang merespon, yaitu Boyke Pribadi Rp. 500.000,- dan teman-teman Siska Leonita di XL Rp. 400 ribu. Segerakan, jangan sungkan, jika ingin bergabung. Confirm ke Tias Tatanka di 081906311007 atau bisa langsung transfer ke:

BRI Serang 008-401-03-424-0505

An. Yayasan Pena Dunia

(Rumah Dunia lini sosial Yayasan Pena Dunia)

BCA Serang   245-188-5733

An. Asih Purwaningtyas C.

Bank Muamalat Serang  908-599-9799

An. Asih Purwaningtyas C. cq Rumah Dunia

Bank Mandiri Serang  155-00-021-46903

An. Asih Purwaningtyas C.

Terima kasih atas waktunya membaca tulisan saya ini.Mohon maaf, jika mengganggu kenysamanan. Semoga Allah SWT melimpahkan rezeki dan nikmat kepada kita semua. Amin. Insya Allah. (*)

CHANGE WITH READING, MENGUBAH HIDUPKU

Wayang

CHANGE WITH READING, MENGUBAH HIDUPKU

Di Rumah Dunia, tanggal 09 Januari 2010 nanti, bekerjasama dengan Banten Raya Post, akan ada pencanangan “Change With Reading” (CwR). lanjutkan membaca »

HARI AIDS SE-DUNIA, PMI GELAR AKSI SIMPATIK

PMIHari AIDS Sedunia yang jatuh pada hari ini (1/12), ramai diperingati oleh berbagai kalangan. Selain acara seminar, talkshow, dan berbagai lomba, PMI juga menggelar aksi simpatik dan  orasi ilmiah di berbagai daerah. Sebanyak 500 relawan PMI terlibat dalam peringatan Hari AIDS Sedunia yang mengusung tajuk “ Akses Universal dan Hak Asasi Manusia”.

Sejauh ini, PMI telah melaksanakan program penanggulangan HIV & AIDS di Indonesia. Berdasarkan sejarah perkembangannya, program mulai berjalan di PMI sejak 1994 hingga  sekarang.

Terkait program pencegahan HIV & AIDS yang dijalankan oleh PMI, Kepala Sub Divisi Program HIV & AIDS Markas Pusat PMI, Exkuwin Suharyanto menjelaskan, “Sejak digulirkannya kerja sama Aliansi Global, program HIV dan AIDS PMI terus dikembangkan. Hingga tahun 2009, program HIV & AIDS telah berjalan di 18 daerah di Indonesia dengan tetap konsisten menitikberatkan kalangan remaja sebagai sasaran program.”

Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada hari ini, Selasa (1/12) diperingati PMI dengan mengerahkan 500 relawannya dalam aksi-aksi simpatik dan orasi ilmiah. Hingga berita ini diturunkan, terdata beberapa aksi simpatik  PMI dan orasi ilmiah sedang berjalan di berbagai kota.

Beberapa PMI Cabang menggelar aksi simpatik peringatan Hari AIDS Sedunia. Termasuk di dalamnya, PMI Cabang Langkat (Sumatera Utara), PMI Cabang Kota Samarinda (Kalimantan Timur),  PMI Cabang  Kota Serang (Provinsi Banten), dan PMI Daerah Bali.

Aksi simpatik yang mengusung tema Hari AIDS Sedunia “Akses Universal dan Hak Asasi Manusia” dimulai pada pagi ini (1/12) di Kota Langkat, melibatkan 15 sekolah (SMA) se-kota Langkat dan 100 relawan PMI termasuk dari PMR Madya PMI Cabang Langkat. Mereka berjalan kaki berkeliling Kota Langkat sambil menyebarkan sticker dan brosur tentang kampanye cegah HIV & AIDS kepada masyarakat luas. Rute yang ditempuh dimulai dari Gedung Markas PMI Cabang Langkat, menyusuri jalan Imam Bonjol, jalan Proklamasi, pusat Kota Langkat, dan berakhir kembali di Markas PMI Cabang Langkat.

“Peserta aksi simpatik pada pagi ini, terbanyak dari kalangan pelajar. Masing-masing sekolah (SMA), mengerahkan 20 orang siswanya untuk ikut dalam acara ini. Hari ini adalah puncak dari rangkaian acara peringatan Hari AIDS Sedunia yang digelar oleh PMI Cabang Langkat,” ungkap Kepala Markas PMI Cabang Langkat, Heri Enjang Saputra saat acara aksi simpatik digelar di pusat kota Langkat (1/12).

PMI DONORBeralih ke kota Samarinda, aksi simpatik peringatan Hari AIDS Sedunia akan digelar siang ini (1/12) dan melibatkan 90 orang anggota PMR Madya PMI Cabang Kota Samarinda (Kalimantan Timur), serta sekitar 20 relawan PMI Cabang Kota Samarinda selaku panitia acara.

“Aksi simpatik ini melibatkan siswa SMA di Kota Samarinda, para mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman ditambah dengan beberapa anggota LSM. Dalam acara ini, PMI Cabang Kota Samarinda bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Samarinda. PMI juga menyampaikan hasil talkshow yang digelar pagi ini di Hotel Swissbelle Samarinda, dalam orasi ilmiah di pusat Kota Samarinda saat ini,” tutur Suntoro, selaku project officer program pencegahan HIV& AIDS PMI Cabang Kota Samarinda di tengah acara talkshow pagi ini (1/12) di Samarinda.

Para pelajar dan mahasiswa ini akan berjalan kaki dan menempuh rute sepanjang jalan Pramuka, Jalan Juanda, Jalan Pangeran Antasari, dan berakhir di bundaran Lembu Suana Kota Samarinda. Mereka juga akan menyebarkan brosur dan sticker kepada masyarakat Kota Samarinda.

Konvoi turun ke jalan ini juga dilakukan oleh PMI Daerah Bali mulai pagi hingga siang ini, berpusat di wilayah Renon, Denpasar, Bali.

“Sekitar 70 orang relawan PMI Daerah Bali sekarang sedang menyebarkan sekitar 1.000 pesan yang ditujukan kepada 1.000 pemuda di Bali. Pesan-pesan ini tercantum dalam setiap lembar pembatas buku yang dibagikan gratis. Kegiatan ini digelar di tiga titik lokasi di Renon. Selain itu, Unit Korps Relawan PMI di Denpasar juga sedang melakukan aksi simpatik berupa pembagian bunga mawar dan brosur pencegahan HIV&AIDS kepada masyarakat luas,” ucap Kepala Bidang Pelayanan Sosial dan Kesehatan Masyarakat PMI Daerah Bali, Eko Wardani (1/12).

Diperkirakan kegiatan peringatan Hari AIDS Sedunia di Bali kali ini melibatkan sekitar 300 orang relawan PMI Daerah Bali. Aksi simpatik yang serupa juga digelar di Provinsi Banten. Sejak pagi tadi hingga siang ini, sebanyak 200 peserta berjalan kaki menempuh rute yang dimulai di Alun-alun Kota Serang (Provinsi Banten), jalan Veteran, jalan Ahmad Yani, dan diakhiri dengan orasi ilmiah di bundaran Ciseri Kota Serang, Banten.

“Acara yang digelar oleh PMI Cabang Kota Serang ini, melibatkan sebanyak 136 siswa dari 23 SMA se-kota Serang, peserta dari tiga institusi perguruan tinggi di Serang, ditambah dengan 25 orang anggota PMR Wira dan Madya dan 30 relawan PMI Cabang Kota Serang selaku panitia acara. Sekitar 200 orang ikut aksi simpatik peringatan Hari AIDS Sedunia hari ini,” ungkap Staf Humas PMI Daerah Banten, Neni Hendrawati di Serang (1/12).

Konvoi jalan kaki menyusuri jalan-jalan  menuju pusat kota Serang ini, dilakukan sambil mengusung spanduk besar bertajuk “Stop HIV& AIDS, Keep a Promise Serious”. Acara diakhiri dengan gelar pentas seni hasil kreasi para anggota PMR Kota Serang.

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi: dr. Lita Sarana, Kepala Divisi Pelayanan Sosial dan Kesehatan Masyarakat Markas Pusat PMI, Tlp. 021-7992325 ext.224 atau Exkuwin Suharyanto, Kepala Sub Divisi Program HIV & AIDS, Markas Pusat PMI, Telp. 021-799 2325 Ext. 204. Email: pmi@pmi.or.id

KARENA PEDULI, GURU RELA ANTAR JEMPUT SISWA PAUD

LEBAK -  Karena sadar akan pentingnya pendidikan anak usia dini, beberapa warga rela menjadi relawan demi berdirinya sebuah kelompok bermain anak usia dini (KOBER-PAUD), yang di beri nama Bina Insani di Kampung Cimanggu Desa Rangkasbitung Timur. KOBER ini diperuntukan bagi pendidikan anak dengan rentang usia 0-6 tahun.

“Kelompok bermain ini dibentuk karena kepedulian yang tinggi terhadap minimnya tingkat pendidikan di kampung tersebut. Yang 90 persen warganya hanya lulusan SD,” kata Nurmanah, pengelola KOBER Bina Insani. Di jelaskannya pula bahwa untuk pendidikan setiap siswa KOBER Bina Insani tidak memungut biaya. Untuk biaya operasional mereka dibiayai oleh para donator di wilayah kota Rangkasbitung. Bahkan untuk menjaring  simpati warga serta memudahkan akses para siswanya yang bermukim cukup jauh, para relawan bersedia menjemput dan mengantarkan para siswa dari KOBER ke rumahnya.

Ketika ditanya, Risma (4 th) salah seorang siswa mengaku kalo dirinya merasa senang belajar bersama teman-temannya di KOBER Bina Insani.

Ironisnya, sejak berdiri tiga tahun silam, pemerintah kabupaten Lebak tetap saja masih memandang sebelah mata. Hal ini terasa karena perhatian dari Pemda tak juga dirasakan. Dengan kondisi bangunan yang masih mengontrak serta sarana prasarana yang masih minim, para relawan berharap pemerintah dapat memberikan bantuan. (RG)

PEMUDA KREATIF, RELAWAN, DAN WAKTU YANG DIMANFAATKAN

Oleh Gol A Gong

Ketika sedang asyik berbincang-bincang dengan Zoel, teman lama yang pernah jadi asisten sutradara Rano Karno di sinetron “Si Doel Anak Sekolahan”, Selasa (27/10) lalu, tiba-tiba istri saya menginterupsi, “Pah, ada orasi di IAIN, lho! Sekarang!”

KREATIF

Waduh! Sudah pukul 20.30. WIB. Saya bergegas. Zoel saya tinggalkan di Rumah Dunia. “Sana, dengerin ‘Ki Amuk’ saja!” kataku. Di panggung Rumah dunia, Ki Amuk, divisi musik Rumah Dunia pimpinan Firman Venayaksa, yang mengusung puisi jadi lagu, sedang berlatih untuk tampil di STKIP Setia Budhi Rangkasbitung. Urusan dengan Zoel, rencana berkolaborasi membuat sinetron untuk Indosiar ditunda dulu. Selintas tentang Zoel, dari perckapan yang setengah jm tadi, dia pulang kampong. Zoel ingin mengembangkan potensi local untuk diangkat ke layer kaca. “Setiap saya syuting di kota lain, saya memikirkan Banten. Kenapa tidak saya lakkan di Banten? Saya sudah menemukan produser. Orang itu siap investasi. Saya ingin anak-anak muda di Banten kreatif!” Saya mengangguk setuju.

Diantar Piter Tamba, relawan Rumah Dunia yang kini creative di Banten TV, kami meluncur ke IAIN Serang di pusat kota. Saya agak cemas, karena motor baru Piter belum memakai nomor polisi. Kalau ada polisi, urusannya panjang. Tapi Piter yang masuk kriteria pemuda karena berumur 25 tahun, tetap semangat memacu motornya. Bahkan rambu dilarang memutar balik arah, diterabas saja. Dengan carea memotong jalur di sebelahnya, memang lebih cepat sampai di gerbang IAIN ketimbang harus lurus mmeutar di SPBU. Ini juga termasuk cara berpikir kreatif, agar bisa cepat sampai ditujuan. Kadang sesekali kita harus mau berpikir keluar dari kotak (out of the box), asal siap menerima resiko!

RELAWAN

Lima menit kemudian, sampailah kami di “Saung Peradaban” IAIN Sultan Maulana Hasanudin (SMH) Banten, lokasi dimana orasi berlangsung. BEM IAIN SMH Banten malam itu menyelenggarakan kegiatan “Refleksi Soempah Pemoeda ke-81”. Saya, Mufti Ali, PhD, dan Ibnu Adam Aviciena didaulat untuk orasi. Mufti Ali kebagian orasi pertama.

Mufti Ali, cendekiawan muda Banten yang menimba ilmu sejarah dan teologi di Universitas Leiden menceritakan, “Setahun setelah sumpah pemuda dideklarasikan di Jakarta, pada 14 Oktober 1929, tepatnya di Ciruas, perkumpulan ‘Boedi Banten’ digulirkan. Mereka anak muda Banten yang ingin maju. Mereka membuat sekolah dasar, yang kini digusur karena mementingkan pembangunan pasar.” Mufti juga menggelorakan semangat perubahan di kampus IAIN yang terkenal jorok dan banyak sampahnya. Lewat lembaga riset dan penelitian Bantenologi yang dipimpinnya, Mufti mengumpulkan mahasiswa untuk jadi relawan. “Sudah terkumpul 65 relawan. Saya akan mengajak mereka menghijaukan kampus dan membersihkan sampah!” kata Mufti bersemangat.

Bicara soal relawan, saya teringat para relawan di Rumah Dunia, yang sepakat, bahwa apa-apa yang kita miliki ada hak untuk orang lain di dalamnya. Apakah itu pikiran, tenaga, dan harta. Hanya 2,5% saja hak orang lain itu. Sudah 7 tahun Rumah Dunia bergulir sejak 3 Maret 2002, para relawan datang silih-berganti. Mereka melayani dengan tekun setiap setiap orang yang datang ke Rumah Dunia. Mereka menyiapkan diskusi, membuat liflet, menyebarkan undangan, menata kursi dan meja, menyelenggarakna kegiatan, menghidangkan makanan dan minuman, memberi kursus bahasa dan computer, dan membuat pelatihan. Semua tidak ada kaitannya dengan uang. Mereka tidak dibayar. Orang-orang yang datang ke Rumah Dunia pun tidak membayar. Saya termasuk relawan di dalamnya. Sebagai relawan kami tidak dipanggil, tapi terpanggil.

WAKTU

Setelah diselingi group nasyid, saya mendapat giliran orasi. Di depan saya duduk lesehan sekitar seratusan anak muda. Saya melirik ke sisi kanan. Ada grafiti di tembok sekretriat BEM IAIN. Saya terkejut. Grafiti dengan pilok merah itu menohok mata saya, “BEM KORUPTOR. BEM HANYA DIKONTRAKKAN!”. Menurut mereka, sekretariat BEM hanya diisi pengurusnya dengan kegiatan molor alias tidur. Banyak kasur di secretariat BEM. Saya melirik ke sisi kiri, berjejer ruang-ruang UKM. Benak saya melayang jauh; banyak peristiwa baku-hantam di antara mereka. Mulai dari LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) SiGMA yang menulis tentang perilaku teman-temannya di Mahapeka (Mahasiswa Pencinta Alam Kampus) yang justru merusak lingkungan. Lalu si  wartawan kampus digebuki oleh para pencinta alam itu. Juga tentang sampah yang menumpuk di sekitar ruang-ruang UKM (unit kegiatan mahsaiswa).

Melihat siyuasi itu, saya memulai orasi dengan mengutip Bung Karno, “Beri saya 100 orang tua, maka saya akan memindahkan gunung Semeru. Tapi, beri saya 10 pemuda yang cerdas, berani, dan kuat, maka saya akan mengggerkan dunia!” Sengaja saya gelorakan itu, karena mahasiswa adalah anak muda, dimana segala harapan masa datang yang lebih baik terletak di pundak mereka. Tapi, yang terjadi di antara mahasiswa IAIN SMH Banten adalah baku hantam. Mereka menyelesaikan segala persoalan dengan otot, bukan otak. Sebetulnya, graffiti merah itu tidak perlu terjadi jika mereka egaliter di antara mereka sendiri. Budaya dialog mesti dikembangkan, karena mahasiwa adalah kaum intelektual. “Sekarang saatnya otak, bukan otot!” saya memprovokasi mereka. Bagimana bisa maju, jika mengurusi sampah di sekitar kampus saja tidak mampu! Bahkan dikritik saja tidak mau.

Saya melihat mahasiswa IAIN SMH Banten cerai-berai. Padahal di luar tembok kampus banyak kekisruhan terjadi. Saya menceritakan sebuah fenomena kehidupan, tentang penyapu jalanan. Perhatikanlah penyapu itu. Dia begitu tekun menyapu setiap jengkal wilayah di depannya; dia tidak akan membiarkan ada sampah yang terlewat. Perhatikan juga saat tangannya menggenggam gagang sapu; dia tidak akan rela setiap lidi sapunya terlepas. Dia akan menjaga agar semua lidi sapunya utuh dan kokoh. Dia sadar, jika lidi sapunya terlepas, maka pekerjaannya tidak akan beres. Begitulah juga mahasiswa. Jika mereka tercerai-berai alias tidak kompak, maka mereka hanya akan jadi komoditas politik, akan dijadikan proyek yang mengatasnamakan pendidikan.

Usai saya, Ibnu Adam Aviciena, mahasiswa IAIN yang juga relawan Rumah Dunia, mendapat jatah bicara. Ibnu dikategorikan mahasiswa berprestasi, karena baru saja lulus dari study perbandingan agama di Universitas Leiden. Untuk ukuran pemuda seusia dia, 25 tahun, cukup membanggakan. Sambil kuliah, dia sudah mampu mencari uang dengan menulis cerpen dan novel. Setelah lulus, sambil menunggu panggilan beasiswa di Leiden, Ibnu jadi wartawan di Radar Banten dan Indopos. Sebagai pemuda, waktu yang bergulir dimanfaatkannya dengan kegiatan positif. Kata Imam Ghazali, masa lalu adalah hal yang sangat jauh dan tidak akan pernah bisa kembali. Begitulah Ibnu, karena sadar waktu tidak akan pernah kembali dan akan menjadi jauh, maka waktu diisinya dengan hal-hal berguna; membaca buku, menulis, kursus bahasa, dan menghadiri diskusi.

Nah, di usia seperti Ibnu, saya juga melakukan hal sama. Mengisi waktu dengan hal-hal berguna. Begitulah ciri-ciri orang sukses. Waktu yang akan jadi masa lalu penuh diisi oleh hal-hal bermanfaat. Bung Karno mencontohkan itu kepada kita. Di usia 24 tahun, BK sudah melakukan perlawanan dan rela mendekam di penjara Sukamiskin. Waktu baginya sangat berkualitas.

Saya yang sudah berusia 46 tahun, tentu tidak layak lagi disebut sebagai pemuda kini. Menurut UU Kepemudaan, bahwa rentang umur pemuda adalah 16 – 30 tahun, maka saya adalah orang tua. Eten Hilman, Ketua KNPI Banten di Banten Raya Post (27/10) mengatakan, “Siap reposisi!” Sedangkan di sisi lain, Andi Malarangeng diankat jadi Menpora di usia 46 tahun!

Wah, bagaimana ini? (*)

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010