DARI CIPANAS MENUJU LEBAK MEMBACA

Relevansi menjadikan Rangkasbitung sebagai Kota pelajar, sejumlah warga Cipanas menggagas tempat belajar warga dalam mengembangkan sumber daya manusia. Melalui gerakan membaca, dari sebuah kampung bernama Cipanas akan di buka Rumah Kosala, Komunitas Sastra Lebak.

Dibentuk atas pertemuan dikediaman H Agus Sutisna bersama Heri Hendrayana alias Gol A Gong dan Saroh Jarmin, gagasan Lebak membaca dapat dimulai dari Kecamatan Cipanas, Selasa (9/2) malam. Menurut pencetus ide kreatif Gol A Gong, filosofi air panas yang meluber ke daratan tanah Lebak dapat berawal dari pemandian Cipanas, dan semangat gerakan membaca juga diawali dari orang-orang Cipanas, baru kemudian menuju gerakan Lebak Membaca.

“Orang-orang Cipanas akan seperti air panas yang meluber ke jalan-jalan Lebak di Banten selatan. Mereka siap mengalirkan kehangatan bagi warganya,” ucap pendiri Rumah Dunia, Gol A Gong, yang langsung diiyakan penasehat KOSALA lainnya, Agus Sutisna, di jalan Rangkasbitung-Bogor KM 36, Kampung Lurah Desa Sipayung, Cipanas.

Menurut ketua komunitas Saroh Jarmin, SPd, Kosala adalah bagian dari angan-angan warga Cipanas, karenanya bersama rekan-rekan Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas (IKMC), Kosala akan berusaha mewujudkan kota pelajar melalui budaya literasi.

“Konsep belajar, adalah membaca dan berhitung. Dengan berdirinya KOSALA, Dari Cipanas Menuju Lebak Membaca ini akan menjadi tempat seperti surga bagi mereka yang ingin berekspresi di dunia literasi,” ucap Saroh yang baru terpilih sebagai ketua Kosala dan sudah menentukan komposisi Kosala hasil urung rembuk dengan yang lainnya.

Dengan ketua Saroh Jarmin, sekretaris Ahmad Arif, bendahara Pipit Fiharsih, dan voluntir Sholeh, Yayan, Akhelbri, Toni, Ade Is, Iyoh, Neneng, dan Harir Balda, Kosala siap menggelar program awal yakni kelas Menulis per Maret-Agustus, dengan kelas sore setiap hari Selasa, dan kelas pagi di Rabu dan Kamis. Pengajarnya Gol A Gong.

Kegiatan lainnya, lanjut Saroh adalah kegiatan yang membawa pesan bahwa dengan membaca kita bisa mengubah dunia, yaitu Pojok Leuit, sebuah ruang untuk menyimpan sumber makanan bergizi bagi para agent of change, yakni buku-buku. “bukunya untuk permulaan disupport Rumah Dunia,” kata Saroh. Sanggar Dongeng diberikan bagi anak-anak Cipanas setiap Minggu, dan diskusi yang rutin digelar bulanan dengan tema yang disesuaikan dengan kekinian, dan hangat diperbincangkan menghadirkan tokoh-tokoh dari Cipanas, Banten, dan Indonesia.

Untuk mengenalkan Kosala Library, IKMC yang menaunginya akan membuat gebtrakan dengan merancang CIPANAS IQRA pada Sabtu, 27 February 2010. “Selain launching ‘Kosala’, kegiatan utamanya adalah wakaf buku,” Ahmad Arif, Ketua IKMC menjelaskan. Seperti biasa akan dimeriah degnan pertunjukan seni marawis dari La Tansa dan Nurul Madaany, pembacaan puisi, orasi budaya H. Agus Sutisna, dan musik KPJ, (*)

*) Tulisan ini oleh Ali Sobri – Dimuat di koran Radar Banten, Kamis 11 Februari 2010

AL ISLAM SUKSES SETELAH NYARIS TUTUP

SERANG – Ada paribahasa yang mengatakan, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Segala prilaku, sifat, dan karakter seseorang tak berbeda jauh dari orangtuanya. Memang betul fenomena itu kerap terjadi antara orangtua dan anaknya. Jika orangtuanya ulama, anaknya pun tak jarang jadi ulama.  Hal inilah yang dicita-citakan mantan jawara besar almarhum H. TB. Asmani Nidin.

Dengan dibantu dua rekannya yang juga sudah almarhum, yaitu H. Ahmad, Saudagar Pasar Rau Serang, dan Kiyai H. Yasin, Asmani bertaubat pada tahun 1970. Sifat relijiusnya ditampakkan dengan memberangkatkan putra-putrinya ke pesantren-pesantren yang tersebar di Banten, di antaranya Pondok Pesantren Nurul Huda Baros, Daar El Qolam Gintung Balaraja dan lainnya. Untuk memuluskan impian itu mendiang Asmani menikahkan putrinya, Yani Murlayani, yang merupakan angkatan 1992 dari Pondok Pesantren Daar El Qolam Gintung Balaraja dengan Ustadz Enting Ali Abdul Karim alumni Pondok Pesantren Gontor, Surabaya, Jawa Timur, pada tahun 1993. Ia berharap dari anak dan menantunya akan menjadi pasangan yang klop dalam menebarkan dakwah Islam.

Al Islam terus berkembang

NYARIS PUNAH

Sepasang suami-istri inilah yang mengawali berdirnya lembaga pendidikan non formal Tarbiyatun Nasyiin tahun 1993. Di awal berdirinya, Tarbiyatun Nasyiin masih sebatas mengajarkan Al Quran dengan metode Iqro dan dasar-dasar ilmu agama Islam. Keterbatasan Tarbiyatin Nasyiin bukan hanya dalam metode pembelajaran saja, tapi minimnya sarana dan fasilitas juga sangat mempengaruhi. “Waktu itu tempat belajarnya masih di rumah mertua saya,” kata Enting. Kendati begitu mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Itu terbukti dengan jumlah santrinya yang tercatat 160 orang dalam setahun. Namun sayang di lembaga pendidikan Tarbiyatun Nasyi’in mengalami masa suram sejak ditinggalkan pendirinya  pada tahun 1995, untuk tugas mengajar di Pondok Pesantren Daar El-Ilmi Cikulur Serang Banten. Meski sempat mengalami masa kelam, tak membuat semangat Ustadz Enting menyerah. Sepulang dari tugas mengajar, dia menyusun strategi kembali untuk membangun Pondok Pesantren yang hampir sirna ini. Ustadz Enting dibantu dua rekannya Ustadz Ulin Nuha, salah teman dari Demak, Ustadz H. Agus Karnadi dari Pontang Tirtayasa, Serang, Banten, dan dua tokoh masyarakat Tegal Duren, TB. H. Mahdi Khutbi dan Ibnu Nurmadaniyah. “Pada 29 Juni 1999 resmi dibuka kembali program pendidikan dan pengajaran Pesantren yang diberinama Pesantren Modern Al Islam,” tutur ayah Riska Auliani Rohana ini.

Pesantren yang jaraknya ke kota Serang hanya 7 Km ini, pun terdapat Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Pada tahun  angkatan pertama Madrasah Tsanawiyah memiliki 8 santri dan tahun kedua sebanyak 16 santri. Alhasil, kondisi ini berdampak pada keuangan Pesantren yang saat itu sedang menambah bangunan. Tak pelak  pembangunan fisik yang sedang berjalan pun terhambat. Namun berkat dukungan serta loyalitas dari pengurus dan dewan guru serta wali santri, Pesantren Modern Al Islam berangsur-angsur semakin berkembang. “Pernah dapat bantuan dari swadaya masyarakat Tegal Duren berupa tiga rumah yang kini dijadikan kantor, ruang kelas, mes santri dan bantuan dari Kabupaten Serang,” ujar lelaki berusia empat puluh tahun ini.

Aktivitas belajar di Al Islam

FASILITAS

Kini pondok Pesantren yang beralamat di jalan Bhayangkara II no. 04 Kampung Tegal Duren, Cipocok Jaya, Serang, Banten ini, memiliki 9 ruang kelas, 5 kelas Tsanawiyah, 4 kelas Aliyah, dan 5 fasilitas komputer yang sudah dilengkapi hotspot. Alhasil, kini sebanyak 368 santrinya bisa mengakses internet. Selain itu komunikasi dalam bahasa asing merupakan pengetahuan luas dan bagian dari materi pembelajaran kepada para santrinya seperti Bahasa Arab, Inggris, dan Jepang. Namun sayang, jarak Pondok Pesantren ke kantor Kecamatan dan Kelurahan Cipocok Jaya yang terbilang dekat hanya sekitar 1 kilometer, masih terbilang minim sarana atau fasilistas lainnya.

Menyikapi bantuan dari Pemerintah setempat, menurut Tb. H. Hariri. D, Lurah Cipocok Jaya, Pondok Pesantren Al Islam merupakan bagian dari tanggung jawabnya. “Sudah suatu kewajiban bagi saya untuk mendukung dan membantu pengembangan Pondok Pesantren Al Islam, karena ini bagian dari potensi wilayah di Cipocok Jaya, paling tidak perhatiannya,” tegas Hariri ketika bertamu ke Ponpes Al Islam, Selasa (2/1/10). Masih dikatakannya, Kelurahan Cipocok Jaya siap mendorong dan memfasilitasi dengan mengikutsertakan santriwan-santriwati Al Islam keberbagai ajang kegiatan pelajar baik itu tingkat Kabupaten, Kota, Provinsi, dan Nasional. “Keberadaan Ponpes Al Islam sudah jadi satu mitra. Saya menghargai komitmen Ustadz Enting meskipun bukan putra asli Tegal Duren,” tutupnya

Dari jumlah 386 santri itu Ponpes Al Islam menyediakan 32 tenaga pendidik untuk berbagai mata pelajaran dan tingkatan. Santriwan-santriwati yang asli dari Tegal Duren sendiri hanya sebanyak 16 santri. Sedangkan selebihnya dari Serang, Pandeglang, Tangerang, Bandung, Tasikmalaya, Garut, Bandar Lampung, dan Padang. Namun, pertambahan santri ini terbentur oleh minimnya sarana dan fasilitas yang ada di Pesantren Al Islam yang lama kelamaan tidak bisa menampung santri. “Pengembangan ke depan pasti ada. Bahkan kami merencanakan pembangunan Laboratorium Bahasa, IPA, Pertanian, penambahan ruang Asrama, Aula, dan Jalur Hijau,” ujar Enting yang bernama lengkap Enting Ali Abdul Karim Lc.

Sebagai Lembaga Pendidikan Pesantren yang mencetak generasi-generasi pemimpin umat, Ponpes Al Islam menjaga betul arti pada kedisiplinan. Salah satu kedisiplinan itu tercermin pada peraturan yang melarang santriwan-santriwatinya keluar dari lingkungan Pesantren. “Santri dilarang keluar terkecuali keperiluan penting seperti orangtua sakit, meninggal atau keperluan penting lainnya. Disamping itu, busana santriwan-santriwati mesti menutup aurat dan mesti ditemani baik itu dari pihak Pesantren atau wali santri,” pungkas Enting. Masih dikatakannya, untuk memberi sedikit kelulasaan, Ponpes Al Islam memberikan jatah libur bergilir setiap 2 bulan sekali selain hari Jum’at. “Soalnya hari jum’at adalah hari libur biasa di pesantren,” imbuhnya.

Santri wajib berbusana rapi

JADWAL

Jadwal kegiatan belajar santriwan-santriwati Ponpes Al Islam sama dengan sekolah umum lainnya yaitu dimulai hari Senin. Namun, hari liburnya saja yang berbeda yaitu Jum’at. Setiap ba’da subuh santriwan-santriwati sudah memulai aktifitasnya, khusus kelas 2 dan 3 Aliyah, membaca koran dengan diterjemahkan kedalam tiga bahasa asing yang diajarkan di Ponpes Al Islam. Koran yang biasa dikonsumsi santri dua kelas tersebut adalah Radar Banten dan Fajar Banten. “Kami pilih salah satu berita headline-nya saja,” ujar Enting. Sebelum kegiatan belajar dimulai para santri digiring menikmati sarapan pagi yang sudah disediakan. Pukul 07.00 pagi kegiatan belajar sekolah digelar, diselingi istirahat setengah jam pada pukul 09.30 dan 12.00 untuk sholat Dzuhur sampai dengan pukul 14.00 siang. Selesai sholat Ashar masing-masing kelas Tsanawiyah dan Aliyah mengisi jadwal ekstra kurikuler seperti pencak silat, marawis, jurnalistik, tilawatil Quran, pramuka danTahfid Quran. Ba’da maghrib para santri menikmati hidangan makan malam. Setelah sholat Isya dilanjutkan materi baca dan tulis Al Quran hingga pukul 20.00 dan diteruskan lagi belajar mandiri terbimbing. Kendati bebas, belajar mandiri terbimbing ini tetap dalam pengawasan guru sampai batas pukul 10 malam.

Pondok Pesantren Al Islam selain membekali ilmu agama kepada para santriwan-santriwatinya, juga menyediakan pelatihan atau disebut lifeskill seperti bengkel motor, menjahit, dan kursus komputer. “Selain untuk santri, untuk saat ini, pesantren juga khusus untuk warga Tegal Duren saja. Mudah-mudahan ke depan warga sekitar Tegal Duren pun bisa menikmati,” ujar Enting. Pelatihan ini mendapat bantuan dari Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) Serang dan Lembaga Pelatihan Bengkel Motor Anita, Serang. Kegiatan yang sudah dihelat sejak tahun 2005 ini, ada 2 orang yang sukses. Diantaranya adalah Khoirul Amri pemilik bengkel motor di Balaraja dan Supatra, mekanik di bengkel motor Sawah Luhur.

Enting (kiri) sedang berbincang dengan Lurah Cipocok

PRESTASI

Meski dalam keterbatasan, santriwan-santriwatinya Al Islam tetap mampu meraih prestasi. Tak tanggung-tanggung tingkat nasional berhasil diraih oleh Deden siswa Aliyah dengan menyabet juara ke-2 untuk Tahfid Al Quran pada tahun 2006. Disusul lagi juara 1 Tahfid Al Quran tingkat Kabupaten Serang, juara 1 tafsir Bahasa Inggris se-Kabupaten Serang, juara 1 tafsir Bahasa Arab, Juara jambore pramuka tingkat Kabupaten Serang, dan juara II tafsir Bahasa Inggris se-Provinsi Banten. Selain itu lulusan dari Pondok Pesantren Al Islam banyak yang melanjutkan keperguruan tinggi seperti IAIN, Untirta, UIN Syarif Hidayatullah, Akbid Faletehan Kramat Watu, dan Akbid di daerah Jakarta. Pada tahun 2007 dua santri lulusan Pondok Pesantren Al Islam melanjutkan kuliah di University Madinah, Mekkah. Intinya, meski segalanya terbatas, tetaplah semangat dan terus berkarya, berdikari, berkreasi dalam rangka menegakkan pendidikan Islam di Banten khusnya, umumnya di Indonesia.

PENGHARGAAN ITU…

Dengan XL IBA 2008

Oleh Gol A Gong

Sekitar 2004, KNPI Banten mendatangi aku. Mereka berkehendak memberi anugrah pemuda pelopor kepadaku. Dengan segala hormat aku menolak. Tapi press release kadung menyebar. Pemberian penghargaan itu dilakukan di restoran Istana Nelayan, Tangerang. Aku sempat “dicemooh”, karena dianggap “menjilat ludah sendiri” oleh para aktivis mahasiswa di Banten. Apa pasal? Aku adalah termasuk orang yang gencar mengkritik kinerja KNPI Banten, bahkan pernah menyarankan KNPI Banten dibubarkan saja karena tidak transparan soal keuangan, jadi calo anggaran APBD yang mendistribusikannya kepada Organisasi Kepemudaan yang hanya tergabung di KNPI saja, dan tidak cocok lagi dengan semangat reformasi. Aku sengaja memprovokasi KNPI Banten, agar muncul sebuah wacana atau bahan diskusi. Aku ingin para pengurus dan anggota KNPI Banten inovatif, kreatif, tidak sekedar dijadikan jalan yang memudahkan mereka masuk ke kancah politik. Sudah jadi rahasia umum, kalau KNPI adalah underbouw penguasa dan selalu memuluskan mereka yang ingin jadi penguasa. Setelah aku jelaskan, bahwa aku menolak penghargaan itu, barulah orang-orang menarik lagi “makian” kepada aku.

Aku bertanding dengan pebulutangkis non-ccat

ATLET BADMINTON

Bagi aku, penghargaan hanya signifikan dengan olahraga. Aku muda (1980 – 1990) adalah seorang atlet badminton. Tujuan sejak awal sudah jelas, aku terjun ke kancah pertandingan badminton yang kompetitif dan penuh sportivitas untuk mengejar hadiah; bisa berupa piala, piagam, medali, serta sejumlah uang. Tapi, untuk urusan ibadah adalah moral. Tidak ada hubungannya dengan tujuan pengejaran hadiah; apakah itu award, piagam, sejumlah uang, atau hadiah.

Di cabang badminton, aku mengejar hadiah dengan bercucuran keringat dan berdarah-darah. Aku harus bangun pagi, lari bersama Bapak mengelilingi alun-alun kota, ke luar kota, bahkan saat kuliah di Bandung, aku terbiasa lari dari bukit Dago ke Maribaya. Prestasi yang aku peroleh lumayan juga. Di Serang, aku adalah atlet badminton berlengan satu dan mampu berada di ntim elit kabupaten sejajar dengan yang berlengan dua. Prestasi aku tidak main-main untuk atlet berlengan satu. Aku pernah juara kedua tingkat yunior di Serang, masuk 16 besar se-Jawa Barat, tim kampus UNPAD dan single pertama. Untuk sesama atlet berlengan satu, di level Indonesia, aku jawaranya untuk tunggal, beregu, dan double. Di level Asia Pasific juga.

Bapaklah yang menggembleng tubuhku dari seorang anak kecil berlengan satu yang sedang berada di puncak keputusasaan, hingga menjadi seorang atlet badminton berlengan satu yang penuh rasa percaya diri. Sedangkan Emak yang mengasah hati dan jiwaku, agar tetap berendah hati, tidak menyepelekan dan selalu menghargai lawan-lawanku.

Wien Muldian dari Forum Indonesia Membaca memberikan award kepadakuAKTIVIS PERBUKUAN

Waktu berdetak. Zaman berubah. Bapak dan Emak memfasilitasi aku dengan bacaan; mulai dari Koran, majalah, hingga buku-buku novel berkelas. Akhirnya aku yang hobi membaca menyadari, bahwa olahraga tidak bisa diandalkan untuk hidup, beralih profesilah aku ke dunia tulis-menulis. Apalagi aku tidak mempunyai pilihan lain untuk bekerja, karena di era orde baru, perlakuan pemerintah sangat diskriminatif terhadap orang cacat.

Aku menyakinkan Bapak dan Emak, tentu diawali dengan konflik pendapat, bahwa profesi menulis bagiku sangat menjanjikan dan tidak menuntut persyaratan apakah dia cacat atau bukan, bergelar sarjana atau tidak. Persyaratannya hanya satu, bisa menulis. Itu saja. Aku memang tidak bergelar sarjana, hanya lulusan SMA dan pernah kuliah di Fakultas Sastra UNPAD Bandung hingga semester V. Aku memiliki keinginan kuat untuk jadi penulis, wawasan, dan ide-ide menumpuk di kepala. Bagiku itu modal awal untuk jadi penulis.

Bapak awalnya menentang, karena menulis belum memberikan harapan untuk dijadikan sandaran hidup. Bapak menyaratkan kepadaku, menulis boleh saja digeluti asalkan memiliki pekerjaan tetap, sebagai apapun, bahkan walaupun gajinya kecil. “Yang penting punya penghasilan tetap!” Bapak menegaskan.

Tapi Emak memberikan toleransi. Emak memberiku peluang. Diberinya aku kesempatan untuk merantau ke Jakarta. Diberinya aku restu. Bapak tidak bisa berkata apa-apa, selain memberiku ijin pergi menaklukan Jakarta. Bismillah…, pada 1987 aku menuju Jakarta.

Alhamdulillah, Allah memudahkan jalan hidupku. Keinginanku menjadi penulis terbentang di depan mata. Karya pertamaku; serial Balada Si Roy dimuat bersambung di majalah HAI (1988). Bahkan Allah mengabulkan doaku, agar keinginan Bapak terpenuhi. Aku mendapatkan pekerjaan sebagai penulis berita (wartawan) di Gramedia Majalah pada 1990. Awalnya ditawari di majalah HAI, tapi Arswendo Atmowiloto membutuhkan aku di Tabloid Wartawa Pramuka. Gaji kotorku Rp. 500.000,- Tentu saja Bapak dan Emak senang. Gajiku melebihi gaji saudara-saudaraku yang sarjana. Kemudian aku pindah bekerja jadi penulis scenario TV (script writer) di Indosiar (1995) dan RCTI dari 1997 hingga 2008 dengan gaji berlipat-lipat. Kegiatan menulis tetap aku lakukan. Hingga kini sudah sekitar 65-an novel lahir dari buah pikiranku.

Aku bahkan masih sempat membuat komunitas buku bernama Rumah Dunia. Ini karena kecintaan aku terhadap buku adalah persoalan moral. Bukan perlombaan seperti halnya dalam berolahraga. Aku tidak mengejar imbalan apa-apa, selain menjalani kewajiban aku sebagai seorang muslim, yang diperintahkan Allah SWT untuk berbagi; apakah itu harta atau ilmu. Kita tahu, hanya 3 perkara yang akan tersisa setelah kita mati nanti; yaitu amal jariyah, ilmu yang diamalkan, dan anak yang soleh. Itulah bekal kita kelak.

Aku sering menemukan para tamu yang datang ke Rumah Dunia, bukan hanya untuk bertemu denganku, tapi ingin berkenalan dengan Bapak dan Emak. Memurut mereka, apa-apa yang aku lakukan di Rjmah Dunia, pasti tidak akan bisa terlepas dari peranan Bapak dan Emak. Ya, itu betul. Emak dan Bapak juga pernah melakukan hal sama ketika aku kecil. Ada sekitar 1 lemari buku-buku (novel dan komik) dan majalah mereka keluarkan di teras rumah untuk dibaca orang-orang. Hal itu tersimpan di pikiran dan hatiku. Rumah Bapak dan Emak setiap seusai sholat Isya terbuka untuk siapa saja. Pintu dan jendela dibuka lebar-lebar, tikar-tikar digelar dari ruang tengah hingga ke teras. Televisi hitam-putih pun dinyalakan. Para tetangga berdatangan menonton film-film seri yang ditayangkan TVRI.

Saat launching buku "Inspiring Stories" di IKAPI Book FairKOMPROMI

Setelah 5 tahun yang membangun Rumah Dunia bersama Tias Tatanka, dibantu para relawan, mulailah aku dihadapkan pada dilema pemberian hadiah. Pertama, aku ditawari olleh KNPI Banten. Aku tolak. Terlalu politis. Kedua, Pemkab Serang pada 2004 memberi aku penghargaan sebagai budayawan. Sulit aku tolak, karena terkait dengan keberadaan Rumah Dunia. Apalagi ketika Emak campur tangan, bahwa semua demi kepentingan Rumah Dunia, agar terus melaju dan dikenal banyak orang.

“Pengakuan dari Pemerintah Daerah sangat penting,” kata Emak. “Sebagai pemimpin, aku harus kompromi. Kamu harus memikirkan segala keputusan untuk orang banyak, bukan untuk kepentingan kamu.”

Tias Tatanka, istrikku tercinta, memberi kebebasan sepenuhnya kepadaku; apakah aku menolak atau menerima. Akhirnya aku terima. Terbukti, setelah itu Gubernur Banten, Djoko Munandar, melakukan kunjungan resmi. Dinas tertkait seperti Dindik dan Perpusda Banten pun mjlai melirik. Apalagi ketika di acarfa “Keranda Merah Putih” (2007), Gubernur Banten terpilih periode 2007 – 2012, Rt. Atut Chosiyah. SE meresmikan acara dan brdialog dengan para seniman Banten, Rumah Dunia semakin dikenal kalangan pejabat di Banten sebagai komunitas yang netral.

Yang paling menyenangkan hatiku, adalah ketika saat Gramedia Book Fair 2006. Tanpa memberi penghargaan kepada aku, panitia menyerahkan bantuan uang tunai Rp 10 juta (dari BNI Plus) dan buku-buku senilai Rp. 10 juta (dari Gramedia) pula. Lalu pada Islamic Book Fair 2007, ketika aku sakit, memberi aku penghargaan sebagai “Tokoh Perbukuan”. Aku menolak. Aku mengajukan nama almarhum Dauzan Faaruk sebagai orang yang layak menerima penghargaan itu. Tapi menurut paniita, Dauzan Faaruk sudah menerima itu tahun 2006. Panitia memberikan banyak argumentasi, bahwa – lagi-lagi – ini untuk kemajuan Rumah Dunia. Tidak ada pilihan lain. Kata Bapak dan Emak, “Kita harus memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbuat baik.”

Kompromi lagi-lagi aku lakukan.

Ny. Jusuf Kalla menyerahkan award dan uang Rp. 3 jt kepada aku,. Jujur saja, saat itu aku berpikir, “Aku sudah memenangkan kejuaran apa ini? Siapa yang berhasil aku kalahkan?”

Menyusul Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, memberi penghargaan “Nugra Jasadarma Pustaloka”, Mei 2007. Kala itu Jusuf Kalla yang menyalami aku. JK tersenyum sambil berpikir, “Siapa, sih, Gola Gong?” Udah gondrong, tangan satu lagi! Ada uang kadeudeuh sebesar Rp. 5 jt. Semua aku terima, dengan pertimbangan Rumah Dunia semakin dikenal orang. Biasanya pada saat resepsi, aku bersama Tias menyebarkan brosur Rumah Dunia kepada orang-orang yang hadir. Dan tentu, saat diwawancara, Rumah Dunia adalah topic utama.

Penghargaan XL itu..Masih ada lagi, yaitu penghargaan “Anugrah Literasi World Book Day 2008” dari Komunitas Literasi Indonesia, pada hari Buku Internasional, 3 April 2008 lalu. Ada hadiah uang sebesar Rp. 10 jt dari panitia World Book Day (Forum Indonesia Membaca, Forum Lingkar Pena, dan Portal Infaq), yang diperuntukan untuk membantu biaya pengobatan aku selama 2 bulan di RS Holistik, Purwakarta. Aku dirawat dari Maret – Mei 2008. hadiah itu sangat membantuku.

Paling gress, radio Elshinta menghubungiku. Tuti yang menelepon di Senin (25/1/2010) yang cerah. “Gol A Gong kami usulkan mendapatkan penhargaan dari Elshinta yang berulangtahun ke-42 dan ulang tahun program News and Talk yang ke-10  Penganugrahannya pada 17 Februari 2010 di Planet Hollywood,” begitu Tuti menjelaskan kepadaku. Aku tentu senang mendengarnya. Ini baik untuk Rumah Dunia. Aku katakana kepada Tuti, anggap saja ini penghargaan untuk para relawan Rumah Dunia yang sudah jungkirbalik menggerakkan Rumah Dunia dan aku mewakili mereka menerima hadiah itu! Aku mencandai Tuti, “Hadiahnya mobil pintar, ya! Supaya program perpustakaan keliling Rumah Dunia berjalan lagi!”

Sekarang, mari kita bahu membahu menuju Indonesia Membaca! Dan itu kita mulai dari rumah!

*) Penulis sekarang bekerja di rumah dan mengelola www.rmahdunia.com ***

KAMPUNG IDEALIS PENUH PESONA KEHIDUPAN

KAMPUNG IDEALIS PENUH PESONA KEHIDUPAN

CIPANAS-LEBAK- Minggu (24/1), pagi yang cerah di kampung Lurah, Desa Sipayung Kecamatan Cipanas, terlihat cukup damai dan tentram masyarakatnya. Hari Minggu adalah hari untuk berkumpul keluarga, menikmati hari libur kerja selama satu Minggu kemarin. Anak-anak kecil berlarian mengejar temannya untuk main balap sepeda. Mungkin pernah tersimpan pertanyaan ada apa dengan nama sebuah kampung tersebut?

Kampung Lurah adalah sebuah kampung di Kecamatan  Cipanas yang letaknya tidak jauh dari kantor Camat Cipanas. Kantor Camat Cipanas letaknya ada di kampung Lurah. Sebagai pengingat saja untuk para generasi muda di kampung ini, konon nama kampung Lurah itu berasal dari orang-orang yang sudah jadi pemimpin banyak tinggal di kampung Lurah. Para pemimpin tersebut terdiri dari berbagai bidang kehidupan di masyarakat, seperti Camat, TNI, Polri, Guru, pegawai dinas di Kabupaten, unsur kepemudaan, dan lain-lain. Informasi ini saya dapatkan dari beberapa tokoh masyarakat yang tidak mau disebutkan namanya.Tidak ada yang istimewa dengan kampung Lurah. Namun kampung Lurah memiliki makna sebuah kampung yang dilingkupi oleh berbagai macam profesi kehidupan sampai sekarang.

Kampung Lurah, Desa Sipayung Kecamatan Cipanas, sebuah kampung yang mempunyai daya tarik tersendiri bagi para pendatang dari pelosok tanah air Indonesia. Boleh dikatakan kampung Lurah sudah lebih maju pesat bila dibandingkan dengan kampung-kampung lain yang ada di kecamatan Cipanas. Jumlah warga yang tinggal di kampung Lurah saat ini sudah mencapai 550 kepala keluarga, terdiri dari 14 rukun tetangga dan dua rukun warga. Gambaran jumlah  rukun tetengga di kampung Lurah seharusnya sudah ditambah lagi karena sudah memenuhi syarat menjadi sebuah rukun tetangga.

Kampung Lurah merupakan kampung pertama dari Desa Sipayung. Di Desa Sipayung ada dua kampung, yang satunya lagi adalah kampung Babakan Pedes. Letak kampung Lurah dengan kampung Babakan Pedes  saling berdampingan. Kedua kampung tersebut dipimpin oleh seorang Kepala Desa, namanya pak Ended (panggilan akrabnya ).

Kampung Lurah memiliki tanah garapan yang terdiri dari pesawahan dan kebun. Hasil komoditi pertanian di kampung Lurah adalah padi. Selebihnya hasil perkebunan, seperti kopi, cengkih, buah-buahan dan lain-lain. Kampung Lurah tidak akan lepas dari sejarah masa lalunya. Karena para pendahulu kampung Lurah sangat kesohor sampai tingkat nasional. Jadi, para generasi penerus yang ada di kampung Lurah ini tidak akan terlena dengan buaian zaman yang semakin menggoda. Salah satu bentuk perkembangan dalam mengisi pembangunan di kampung ini ialah adanya organisasi kepemudaan. Yang terhimpun dalam Himpunan Muda-mudi Kampung Lurah (Hikmah). Dimana terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar, Mahasiswa, guru, kepala KUA, TNI, Polri, pengusaha, petani, dan lain-lain. Tujuan Hikmah berdiri tiada lain untuk mengembangkan kepemimpinan para generasi muda dalam  mengisi kemerdekaan yang telah diwariskan kepada kita sebagai warga negara Indonesia. Bila tidak dipersiapkan dari sejak dini, maka kemerdekaan yang dicita-citakan kepada warga negara Indonesia khususnya yang ada di kampung Lurah, maka memungkinkan tidak akan tercapai cita-cita para pendahulu kita. (Solehudin)

TIDAK LAGI SEPERTI KATAK DALAM TEMPURUNG

Ketika saya diberi tahu pencanangan “Change with Reading’ pada Sabtu, 9 Januari 2010 di Rumah Dunia, saya jadi ingat kampung sendiri, yang bernama Bojong Sukadalem, Waringinkurung, yang kini telah rusak oleh tebasan buldozer dan limbah kompleks. Ketika masih kecil, kampung saya sangatlah eksotis. Tak ada deru kendaran yang meraung-raung mengganggu gendang telinga, tak ada penggusuran tanah, tak ada limbah yang menyebabkan badan gatal-gatal ketika mandi di sungai. Bahkan dulu ibuk pernah bercerita setiap hari sehabis ngangon kambing kalau pulang merasa haus, saya tinggal mencengkukkan kedua telapak tangan ke dalam air. Air sungai masih jernih sampai-sampai bisa langsung diminum.

KAMPUNG GUSUR

Tapi, sekitar tahun 1998 ketika Suharto runtuh dari jabatanya sebagai Presiden RI kedua, kampung saya jadi amburadul. Ladang, sawah, kebun semuanya hilang ditebas buldozer. Cerita dari ayah pada masa itu, masa ketika tanah, sawah, kebun ditebas buldozer gara-gara penguasa yang memaksa menyuruh menjual ladang, sawah, kebun milik masyarakat kampung Bojong. Waktu itu penjualan tanah tidak dengan harga yang semestinya diterima pemilik tanah. Sawah, ladang, kebun dibeli dengan harga yang cukup murah.

Bapak adalah salah satu orang yang tidak mau menjual ladang, sawahnya. Tapi, keadaan yang dihadapi Bapak memang dilematis. Kalau tak dijual tanah Bapak akan tergusur oleh penggusuran atau tanah di sekeliling tanah Bapak akan dikeruk dan tanah Bapak menjadi moncir (tinggi) sehinga lama-lama akan habis, longsor. Akhirnya, Bapak menjualnya dengan harga yang cukup murah meriah!

Dari situ, kampung yang eksotis dengan air sungai jernih  dan sawah ladang yang membentang, kini menjadi kompleks perumahan. Sungai, kini menjadi hitam bertabur sampah non organik mengambang dipermukaanya. Air sungai yang tadinya bisa langsung diminum, kini malah menimbulkan bencana penyakit gatal-gatal, kudis, dan koreng. Selamat tinggal kampung halaman. Kampung yang menampung kelahiran dan masa kanak-kana saya. Saya teringat sebuah sajak  penyair Toto ST Radik yang berjudul “Elegi Serang” (Ode Kampung, 1994); selamat pagi, cintaku/tanah sebelah mana lagikah/bakal kautanam pabrikpabrik/dan mimpi buruk?

SANTRI

Lulus dari sekolah dasar (SD) tahun 2004, saya mondok di pesantern Al-Irsyad, Waringinkurung. Waktu itu, resmilah saya menjadi seorang santri. Setip hari saya sekolah di SMP Al-Irsayd. Pulang sekolah, istrirahat sebentar lalu mengaji. Setelah mengaji sekitar setengah atau satu jam, berangkat lagi mengikuti ekskul di sekolah dari pukul  2 siang sampai 5 sore. Setelah eskul langsung beres-beres, mandi, makan dan berangkat lagi ke mushola; mengaji, sholawatan sambil menunggu beduk azan magrib. Setelah magrib, mengaji lagi. Santri-santri junior dibebaskan memilih tutor (kakak santri) yang sudah disepakati. Kegiatan malam, selain mengaji, juga belajar bahasa Inggris, bahasa Arab, kaligrafi, berceramah, dan fiqih. Setiap malam, kegiatan belajar seperti ini tak pernah libur. Dan santri yang tak mengikuti kegiatan belajar malam akan dihukum. Sangsinya beragam, mulai dari menghafal Juz Amma, membersihkan halaman, mencuci kamar mandi, dll.

Selama menjadi santri (tiga tahun) di Al-Irsyad, banyak kemajuan yang saya alami, salah satunya kulit saya agak menguning. Padahal, kata ibuku dan tetangga di rumah, dulu kulit saya hitam mirip silit kekenceng alias pantat wajan karena setiap hari ngangon kambing. Hal yang tak kalah penting – masih menurut ibu – saya sudah tak rajin menarik-narik kutang ibu lagi untuk meminta uang. Hanya tiga tahun saya mondok. Padahal ada yang bilang kalau mondok tiga tahun belum bisa dikatakan mondok. Syarat mondok itu harus enam tahun. Wih suwe amat!

Sayangnya, di tempat saya mondok tidak ada perpustakaan buku umum; novel misalnya. Atau buku-buku filsafat, sosiologi, sejarah, dan diiplin ilmu lainnya, sehingga saya kurang wawasan.

RUMAH DUNIA

Selesai Ujian Nasional, Bapak mengusulkan untuk pindah sekolah. Terus berdiam di satu tempat tak akan berkembang, baik pengalaman dan wawasan. Itu seperti katak dalam tempurung. Kakak saya, Rahmat Heldy membawa saya ke Rumah Dunia. Dia dulu pernah di Rumah Dunia.

Alhamdulillah saya dipertemukan langsung dengan pendiri Rumah Dunia, Gol A Gong. Obrolan kecil terjadi antara kakakku dengan Gol A Gong. Setelah Gol A Gong mengobrol dengan kakakku, Gol A Gong bertanya ini-itu. Pertanyaan yang diajukan seputar profilku. Obrolan pun terputus saat tamu dari majalah Annida datang. Mungkinkah Gol A Gong mengizinkan?

Ketika Gol A Gong pergi, kakaku mengobrol dengan Relawan Rumah Dunia; Roy Goozly, yang waktu itu masih pelajar di SMA PGRI 2 Serang. Kakakku menyakan kualitas SMA PGRI 2. Roy mnyarankan saya masuk ke SMA PGRI 1 saja. Kata Roy, kualitas dan disiplin SMA PGRI 1 lebih baik dari PGRI 2. Akhirnya, saya mendaftar di SMA PGRI 1.

Satu minggu kemudian, saya dan kakakku datang lagi ke Rumah Dunia. “Setelah saya sepakati dengan kawan-kawan yang ada disini, adikmu boleh tinggal di sini,” kata Gol A Gong. “Karena mengingat relawan disini juga sudah pada bekerja, seperti Aji Setiakarya, Langlang Randahawa, Rimba Alang-alang, dan Ibnu Adam Aviciena. Tapi, jangan malas karena disini selalu ada kegiatan setiap harinya,” lanjut Gong.

Saya seperti berada di sorga. Inilah mungkin yang dinamakan “Change with Reading”. Setiap hari saya berkubang dengan buku, diskusi, latihan pidato, menonton pertunjukkan puisi, berorganisasi, bertemu dengan pengarang-pengarang terkenal seperti Habiburahman El-shiraz, Asma Nadia, pejbat-pejbat pnting di Banten, dan masih banyak lagi orang-orang hebat yang saya lihast.

Sudah satu tahun enam bulan saya bergabung di Rumah Dunia. Alhamdulillah sudah banyak ilmu yang saya dapat baik ilmu berbicara, ilmu menulis, ilmu menerima tamu, dll. Saya yang tadinya minder menghadapi perempuan, kini gara-gar buku, tidak lagi. Saya bahkan sudah pandai mnulis puisi dan cerpen. Tulisan saya sudah dimuat di Radar Banten, www.kompas.com, dan www.rumhdunia.com. Bahkan saya dipercaya jdi wartawan di www.rumahdunia.com. Begitulah buku, sudah mngubah hidupku, yangn tadinya seperti katak dalam tempurung, kini tidak lagi. (*)

*) Abdul Salam HS, Pelajar SMA kelas dua di PGRI 1 Kota Serang.

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010