rumahdunia | Warta Banten | July 4th, 2011 | No Comments »
CIPANAS—Bagi Dede Halim Kurnia (40), Kepala Desa Talagahiang, mengenyam pendidikan bukan sekadar menambah ilmu pengetahuan tapi, merupakan proses pembentukan kepribadian dan pola pikir. Oleh karena itu, kendati dirinya sudah menyandang gelar sarjana ekonomi, saat ini ia tengah menempuh pendidikan strata satu (S1) untuk program studi (Prodi) ilmu pemerintahan di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Rangkasbitung. “Bagi saya pendidikan itu merupakan tuntutan agama. Sebagi bekal hidup di dunia dan di akhirat,” kata Dede saat ditemui di kediamannya, Sabtu (2/7). lanjutkan membaca »
rumahdunia | Warta Banten | January 12th, 2011 | 1 Comment »
CIPANAS—Dedi ‘Miing’ Gumelar anggota DPR RI mengatakan, beribadah tidak melulu dengan materi atau barang, tapi bisa dilakukan dengan kebijakan. Kekuasaaan bisa dimanfaatkan untuk medium beribadah, salah satunya dengan ikut membangun masjid.
“Orang ibadah tidak harus dilakukan dengan uang tapi bisa dengan kebijakan. Asalkan kekuasaan itu dimanfaatkan sesuai amanah,” kata Miing, dalam acara peletakan batu pertama pembangunan masjid Baytul Maqdis di Ponpes Nurul Madaany, Sabtu (8/1).
Miing menuturkan, fungsi masjid bukan hanya sebagai pusat keagaman melainkan sebagai wahana sosial juga. Karena, diharapkan nanti pembangunan masjid Baytul Maqdis harus dijadikan sebagai sarana universal. “Jaman Rasullah SAW masjid tidak hanya dimanfaatkan sebagai tempat silaturahim, akan tetapi bisa difungsikan sebagai tempat berdagang bahkan menyusun strategi perang,” cerita Miing.
Anggota dewan komisi X ini menambahkan, untuk membangun manusia yang beradab dan berakhlak hanya bisa dilakukan dengan pendidikan. Pesantren sebagai pendidikan berbasis kompetensi harus dijadikan sebagai agent of change (agen perubahan-red). “Mari kita ubah watak anak-anak kita dari pragmatisme, mutualisme, dan jadikan anak-anak kita sebagai agent of change,” tandasnya.
Sekretaris Panitia pembangunan masjid Baytul Maqdis Oman Rohman menyatakan, pembangunan masjid tersebut diperkirakan membutuhkan dana sebesar Rp 500.000.000, dengan luas tanah 16 x 21 meter persegi, milik Yayasan Ponpes Nurul Madaany yang akan dibangun 2 lantai. Dana yang terkumpul sampai saat ini dihasilkan dari Bazda Kabupaten Lebak Rp 15 juta, Wabup Lebak H Amir Hamzah Rp 5 juta, Dedi ‘Miing’ Gumelar Rp 5 juta, wali santri dan kaum muslimin Rp 1 juta.
“Kami juga membuka kesempatan kepada masyaraka atau instansi yang berniat membagi rizkinya kirim ke rekening BRI: 4835-01-007006-53-5,” tutur Oman menginformasikan. (Harir Baldan)
langlang | Warta Banten | July 29th, 2010 | No Comments »
LEBAK- Bagi masyarakat yang ingin membangun taman baca haruslah melihat kondisi masyarakat sekitar. Jangan asal mendirikan begitu saja demi mendapatkan bantuan dari pemerintah. Hal dimaksudkan agar kehadiran taman baca memang dibutuhkan warga di sekitar taman baca tersebut. Jika masyarakat sudah merasa membutuhkan akan keberadaan taman baca, maka keberlangsungan taman baca akan awet dan tidak ditinggal para pembacanya. Ada atau tidak ada bantuan, maka taman bacaan itu akan terus hidup karena memang dibutuhkan. Hal itu dipaparkan pendiri Rumah Dunia sekaligus Ketua Taman Baca Nasional Gol A Gong pada acara Dialog Publik sebagai salah satu rangkaian acara temu kangen alumni serta peresmian Taman Baca Qi Falah yang berada di areal Pondok Pesantren Qothrotul Falah, Cikulur, Lebak, pada Selasa (27/7) dengan tema Eksistensi Taman Baca Dalam Mendukung Lebak Sebagai Kota Pendidikan. ”Jika taman baca sudah dibutuhkan, selanjutnya si pemilik taman baca harus rela jika tempatnya bakal didatangi banyak orang dan buku-bukunya berantakan,” ujar Gong. ”Di Rumah Dunia, buku bisa robek oleh anak-anak. Mereka jangan dimarahi. Tinggal diberi pengertian bahwa buku itu berharga. Terus dan terus sehingga mereka sendiri sadar bahwa buku itu sangatlah berharga,” imbuh Direktur Gong Publishing ini.
Hal senada juga diungkapkan wakil ketua komisi B DPRD Kabupaten Lebak A. Erwin Komara Sukma. Erwin menjelaskan bahwa buku adalah gudangnya ilmu. Meski demikian gudang tersebut akan didatangi orang jika minat mereka sendiri sudah tumbuh. Meski demikian, Erwin menambahkan, minat baca harus ditumbuhkan secara perlahan-lahan karena tanpa sadar manfaat membaca itu sangatlah banyak. Erwin mengakui, bahwa kebiasaannya membaca selama ini membawa manfaat baginya. ”Jika saya dulu tak banyak membaca, mungkin saya tidak bisa duduk di kursi dewan hingga seperti saat ini,” Ujar Erwin. Sementara itu keberadaan Taman Baca Qi Falah sendiri sebenarnya sudah berjalan setahun lalu. Setelah dirasa efektif berjalan karena menggandeng dinas-dinas terkait serta taman bacaan yang lebih dulu berkiprah semisal Rumah Dunia, maka Taman Baca Qi Falah pun diresmikan. Setidaknya itulah yang diungkapkan Ido Nardallah selaku ketua panitia. ”Keberadaan taman baca Qi Falah ini diharapkan bisa merangsang minat baca siswa. Baik di lingkungan pesantren atau juga warga sekitar,” Ujar Ido. Terkait dengan wacana Lebak sebagai Kota Pendidikan, di sela-sela kedatangannya saat berakhirnya acara, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak Ade Nur Hikmat mengungkapkan, keberadaan taman baca di Lebak selayaknya mendapatkan dukungan dari pemerintah karena sebenarnya mereka sudah melakukan kontribusi membantu pemerintah. Sementara itu soal kontribusi yang akan diberikan Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak sendiri, Ade menuturkan, bahwa yang disebut dengan kontribusi tidak semata berupa uang melainkan juga dukungan dalam hal program yang sesuai dengan cita-cita meningkatkan minat baca. “Bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional kemarin, kami sudah mencanagkan Lebak Membaca,” ujar Ade. “Nantilah, Dinas Pendidikan akan ikut menyumbangkan buku,” imbuh Ade. [Langlang Randhawa, Wakil Presiden Rumah Dunia]
rumahdunia | Warta Banten | May 27th, 2010 | No Comments »
CIPANAS—Kepala UPT Puskesmas Cipanas Suripto mengatakan, ketidaktahuan pengertian yang detail dan ketertutupan remaja untuk konsultasi terkait sex menjadi salah satu penyebab sex pranikah yang mengakibatkan aborsi atau menggugurkan kandungan. “Atas dasar itulah pendidikan sex buat kalangan remaja saat ini sangat penting,” papar Suripto pada diskuis Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas (IKMC), Selasa (25/5), di Kosala Library, Cipanas.
Dijelaskan, sex pranikah selain mengakibatkan remaja tidak perjaka juga membuat trauma atau depresi. Dalam hal ini yang sangat dirugikan adalah perempuan.Karena remaja putri terancam kehamilan terlalu dini (KTD)tidak diinginkan terjadi. “Apalagi sering gonta-ganti pasangan bisa mengakibatkan penyakit HIV Aids, Clamidia, spilis, kencing nanah, raja singa dan lainnya,” terang Suripto.
Kata Suripto, ada tiga tahapan usia Sex pranikah yang sering terjadi. Usia itu terhitung mulai dari 10 tahun sampai 12 tahun, 13 tahun sampai 15 tahun dan 16 tahun sampai 19 tahun.”Di Cipanas sendiri sebanyak 12 pasangan melakukan sex pranikah dan bahkan ada 2 yang positif menghidap penyakit HIV Aids dan satunya lagi meninggal dunia,” katanya.
Ditambahkannya, untuk mengindari sex pranikah, Suripto mengingatkan jauhi pergaulan bebas dan jangan mencoba-coba beragam jenis narkoba. “Penangulangannya perbaiki pola hidup yang sehat, promosi prilaku sex yang aman, promosi dan distribusi kondom dan pencegahan serta pengobatan IMS,” pungkasnya.
Sementara itu, Muhammad Karna (15) siswa kelas 2 SMPN 2 Cipanas mengaku pendidikan sex sangat bermanfaat dan menambah wawasan. “Karena dengan begitu kita jadi tahu sex pranikah itu sangat berbahaya,” kata Karna.
Senada dikatakan Azahra siswi dari SMPN 1 Cipanas ini mengatakan, sex pranikah dan pengguna narkoba sangat berbahaya dan mendekatkan pada kematian. “Kasihan kalau istri dan anaknya sampai tertular,” ujar siswi kelas 2 ini. (Harir Baldan)
rumahdunia | Warta Banten | April 19th, 2010 | 1 Comment »
SERANG—“Berbagi kasih dengan sesama”, itulah kalimat yang meluncur dari bibir Martha Sinaga (51) Pendiri Yayasan Kalpataru ketika dikonfirmasi www.rumahdunia.com, Minggu (18/4) kemarin, di Rumah Dunia. Kalimat tadi sekaligus merupakan salah satu program kerja Yayasan Kalpataru yang beralamat di jalan Villa Nusa Indah blok G 1 Bekasi.
Kedatangan 6 relawan Yayasan Kalpataru ke Rumah Dunia dalam rangka berbagi dengan sesama. Acara tersebut turut dimeriahkan dengan lomba menggambar tingkat SD, baca puisi, dan penampilan musik anak jalanan. Seusai acara, puluhan anak dari lingkungan Ciloang dan Kubil Kota Serang itu mendapat bingkisan berupa buku dan alat tulis.
Menurut Martha Sinaga disela-sela acara, selain berbagi kasih dengan anak-anak, pihaknya juga peduli terhadap pendidikan. “Kami sangat tersentuh melihat kemiskinan yang melanda negeri ini (Indonesia: red). Ternyata masih banyak anak-anak yang belum mendapat pendidikan yang layak,” kata Martha.
Melihat kondisi itulah Yayasan Kalpataru didirikan pada tahun 1990, dengan jumlah 12 relawan yang rata-rata dosen. Meskipun hanya berjumlah 12 relawan, program kegiatan Yayasan Kalpataru terus bergulir selain bakti sosial juga peduli terhadap lingkungan. Kepedulian itu dipraktikkan dengan mendaur ulang barang-barang bekas menjadi barang berharga. “Sebagian perajinnya kami rekrut dari masyarakat setempat,” kata wanita berkaca mata ini. (Harir baldan)