Oleh Gol A Gong
Anton tampak kaget melihat aku bicara begitu. “Ngomongmu ngawur, Tina! Bisa kualat kamu!” dia memperingatkan.
“Aku nggak peduli!”
“Gara-gara kamu berkawan sama ‘anak kampung’ itu, hubungan kita jadi kacau!” dia memaki dengan tidak sopan. Aku merasa tersinggung mendengar makiannya waktu itu. “Kamu anggap Nana seperti itu? Jadi kamu ini ‘anak kota’, Anton?! Lebih beradab ketimbang Nana, begitu?!” otot leherku tertarik saking marahnya.
Anton wajahnya merah padam dibentak-bentak oleh aku.
“Baik, baik, Anton! Kalau modernisasi atau istilahmu ‘anak kota’ itu diukur oleh yang namanya cineplex, fast food, mall, rally mobil, disco, dan tetek bengek lainnya, berarti selamat tinggal modernisasi!
Aku akan siap disebut sebagai ‘anak kampung’ oleh kamu, karena semua merek modernisasi itu aku tinggalkan! Ternyata nggak buruk jadi ‘anak kampung’ seperti Nana, yang begitu peduli terhadap lingkungan!” aku membentak-bentak lagi. “Ketimbang jadi ‘anakkota’ sepertimu, yangcuma hura-hura!” aku masih belum puas.
“Tina!”Anton memegang bahuku.
“Apa pun yang kamu katakan, aku tetap akan pergi dengan Nana!”
“Walaupun taruhannya hubungan kita, Tina?” ancamnya.
“Ya, hubungan kita!”
Aku sebetulnya berharap untuk tidak kehilangan dia. Anton memang pacarku yang kesekian, tapi kali ini aku berusaha untuk menjadikan dia sebagai yang terakhir. Tapi, apa boleh buat. Sebuah hubungan yang menjalin dua perasaan, aku kira, kalau sudah ada usaha untuk memaksakan kehendak yang satu pada yang lainnya, itu tidak akan jadi baik. Bukankah semua harus bermula dari rasa saling pengertian dan bermuara pada kesamaan sikap?
Anton meninggalkan aku dengan amarah yang terpancar dari sorot mata dan wajahnya. Dia tampaknya serius dengan ucapannya. Terbukti setelah pertengkaran itu, aku tidak pernah melihatnya lagi.
“Anton ngambek?” Nana merasa tidak enak ketika aku tidur-tiduran di kamar kosnya.
Aku menutup wajah dengan majalah.
“Ajak saja Anton berlibur.”
Aku lempar majalah. “No, no way!” kataku tegas. “Liburan kita bisa runyam kalau Anton ikut!”
“Aku nggak ingin hubungan kalian…”
“Lupakan hubunganku dengan Anton!” aku memotong.
“Maksudmu?” Nana merasa tidak enak.
“Aku memilih pergi dengan kamu, Nana, daripada diatur oleh Anton!”
“Oh, ajakanku kali ini ternyata memakan korban!” Nana membenturkan telapak tangannya ke dahi. “Maatkan aku, Tina.”
“Sekarang, bawalah aku ke kotamu, Nana! Akan aku buktikan, apakah betul segala cerita di majalah atau omongan orang-orang itu!”
“Cuma sekedar itu, Tina?”
“Aku ingin jadi diri sendiri, Nana, seperti halnya kamu selama ini. Yang tak pernah takut melakukan segala hal yang kamu sukai,” aku memang iri padanya.
Nana tersenyum tipis, “Rasa ‘takut’ itu tentu ada, Tina. Pada semua orang. Aku juga. Dengan adanya rasa ‘takut’ itu, kita jadi bisa menghargai apa arti hidup ini.”
Aku sering mendapat ‘pelajaran’ berharga dari setiap omongannya. Betapa luas pandangannya tentang ‘apa itu hidup’. Dia seolah-olah tahu apa yang akan diperbuat dan tahu bagaimana menemukan jalan keluar yang terbaik ketika dalam kesulitan. Mungkin ini tejadi pada semua orang yang merantau. Aku kira, “Iya”.
Kini keputusanku untuk ikut berlibur bersama Nana semakin kuat. Aku rasa ini terdorong oleh ‘ingin membuktikan sesuatu’, yang selama ini tidak pemah aku peroleh atau rasa ’solidaritas perempuan’, yang selalu identik dengan ketergantungan pada orang lain. Pada lelaki.
“Sudah, pergi saja, Tina. Jangan kamu gubris omongan Mamamu dan si Robby!” Papa merangkul bahuku ketika nonton TV di malam yang hangat. “Juga lupakan itu si Anton!”
Papa, Mama, dan Robby mengantarkan aku ke tempat bus malam. Sebelum aku naik ke bus, Mama berulang-ulang mencium pipi dan memelukku. Saat itu aku merasa jadi boneka tontonan yang aneh bagi penumpang bus. Bahkan mereka masih saja membuntuti bus yang aku tumpangi sampai batas kota. Aku tahu itu atas suruhan Mama.
Nana cuma tertawa saja melihat kejadian yang aku alami. Menjadi anak yang terlahir di atas kehormatan dan kekayaan tidak melulu enak. Setidak-tidaknya itulah yang aku alami. Ada yang terasa kurang dalam kehidupanku. Mungkin aku bisa mendapatkannya dari Nana nanti.
Bus malam Yogya-Merak terus meluncur menyambut pagi yang basah. [bersambung ke bag. 4]