PANDEGLANG HARUS BANGKIT

Bupati Pandeglang Erwan Kurtubi menyatakan dukungannya terkait Pandeglang Membaca yang digagas oleh Forum Pandeglang Bangkit. Menurutnya, hanya dengan gerakkan membaca Pandeglang bisa berkompetensi dengan daerah Kabupaten/Kota lain yang ada di Provinsi Banten. lanjutkan membaca »

IBUNDA CERPENIS BANTEN WAFAT

Najwa di depan komputernya

TANGERANG- Najwa Fadia, salah satu relawan Rumah Dunia dan cerpenis Banten yang sudah lama tak terdengar kiprahnya dalam kegiatan literasi dan tulis menulis beberapa tahun belakangan lantaran disibukkan membantu dan berjuang bersama Abdul Fatah, sang suami tercinta, di Kresek, Tangerang, kini sedang berduka cita. Pasalnya, pada Selasa (16/2) pukul 02.00 WIB, sang ibunda tercinta Awed Sukeanah Surachman Binti Dawa’in yang berada di Cigeulis, Pandeglang, Banten, meninggal dunia pada usianya yang ke 56 tahun.

Almarhumah dimakamkan di kampung halamannya di Cigeulis pada Pukul 10.00 WIB. Najwa yang juga ketua dan perintis FLP (Forum Lingkar Pena) Cabang Serang pada periodenya, tentu merasa sangat berduka, pasalnya Najwa saat ini sedang dalam masa hamil tua anak pertamanya. Meski sang ibunda tidak bisa menyaksikan kelahiran sang cucu, Najwa tetap berusaha tegar. Via SMS yang dikirim ke sesama relawan Rumah Dunia dan rekan-rekan di Forum Lingkar Pena se-Banten, Najwa mengaku dirinya memang sedang diuji oleh Allah. ”Aku tahu ya Allah, Kau tidak akan menguji hamba-Mu di luar kemampuannya. Selamat jalan Emak sayang, semoga Allah menempatkanmu di jannah-Nya. Amin,” ujar Najwa yang sudah menulis buku antologi cerpen duet bersama Ibnu Adam Aviciena berjudul Panggil Aku Bunga (Gema Insani Press), antologi cerpen Rumah Dunia Padi Memerah (pro3), antologi cerpen Rumah Dunia Kacamata Sidik (Senayan Abadi), antologi cerpen Rumah Dunia Harga Sebuah Hati, serta antologi cerpen Milad 8 tahun FLP bersama Helvy Tiana Rosa dan kawan-kawan berjudul Ketika Cinta Cinta Menemukanmu (Gema Insani Press).

Akhirnya segenap relawan Rumah Dunia dan aktivis Forum Lingkar Pena se-Banten mengucapkan, selamat jalan buat ibunda. Semoga Allah memberikan ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan. Mudah-mudahan amal ibadahnya diterima Allah SWT. Amin. [Langlang]

FLP PANDEGLANG GELAR WORKSHOP

Kiri ke kanan: Sakti Wibowo, Fatih Beeman, Langlang Randhawa, Lia

Kiri ke kanan: Sakti Wibowo, Fatih Beeman, Langlang Randhawa, Lia

PANDEGLANG- Selain menjadi ladang ibadah dengan dakwah bil-qolam, menulis juga profesi yang menjanjikan. Sudah banyak para penulis yang sukses dengan karya-karyanya. Di dunia barat, kita mengenal JK Rowling, penulis paling kaya dengan novel Harry Potter-nya yang fenomenal. Sementara di Indonesia belum lama ini, dunia perbukuan digegerkan oleh novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El-Syrazi, serta Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Baik Habib maupun Andrea, mereka telah menebarkan spirit baru bagi pembaca buku mereka, sekaligus juga meraup pundi-pundi hasil kerja kerasnya menulis.

Gambaran di ataslah yang kemudian membuat Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Pandeglang menggelar acara Lomba Menulis Cerpen dan Workshop Kepenulisan bertajuk Let’s to be Creator of Word by Reading and Writing, di Aula Pendopo Kabupaten Pandeglang pada Minggu (20/12). Acara yang dimulai pukul 09.00 s/d 16.30 ini diisi dengan beragam kegiatan. Kerena acara ini digagas oleh FLP, maka Imam Salimy selaku ketua FLP Wilayah Banten menjelaskan sesi mengenalkan lebih dekat FLP kepada peserta. Dengan dipandu Mbak Nenda dari FLP Pandeglang, Imam yang juga penulis skenario film Si Entong ini menjelaskan, FLP itu adalah organisasi kepenulisan yang mencerahkan. “Jika seseorang menjadi lebih baik dari sebelum membaca tulisan kita, maka tulisan itu disebut mencerahkan,” ujar Imam yang kini menjadi super visi naskah di Lunar Film.

Selain pengenalan FLP, acara ini juga diisi dengan dialog santai berjudul Buku Bikin Maju, Baca Bikin Tahu bersama Fitron Nur Ikhsan, akademisi dan Penulis dari Rangkas Bitung. Dalam pemaparannya, Fitron menjelaskan bagaimana pun juga membaca itu penting. Membaca apa saja yang kita lihat di jalanan. Ia juga menjelaskan, bagaimana kemudian dari zaman dulu nenek moyang kita sudah membaca hal-hal yang dijumpainya. “Sebelum menemukan singkong, mereka terlebih dahulu mengendus aroma harum dari dalam tanah yang dibakar. Kemudian setelah digali, maka ditemukanlah buah singkong dan memakannya. Mulailah dilakukan identifikasi dan analisis, maka buah ini adalah enak dimakan,” Ujar Fitron. “Sebaliknya jika ada buah-buahan yang dimakan lalu membuat mereka mati, maka yang hidup menyimpulkan bahwa buah ini beracun,” imbuh Fitron yang baru saja menerbitkan buku kumpulan tulisannya di media berjudul Mencurigai Kekuasaan.

Sebelum memasuki acara puncak, digelar acara Parade Penulis dari FLP yang menghadirkan Sakti Wibowo, Fatih Beeman, dan juga Langlang Randhawa. Ketiga penulis itu kemudian satu persatu berbagi pengalaman tentang bagaimana proses kreatif dalam menghasilkan sebuah tulisan dan menerbitkan buku. Beeman yang merupakan berasal dari Menes, Pandeglang, menuturkan dirinya adalah tukang koran dan majalah. “Dari sanalah saya suka membaca, dan mengenal bagaimana orang lain menulis,” Ujar Beeman yang kini kuliah di Universitas Padjajaran, Bandung. Sementara Langlang yang berasal dari Tangerang menuturkan, semua orang bisa menulis. “Yang membedakan teman-teman dengan Mas Sakti Wibowo yang sudah menulis banyak novel dan Fatih Beeman yang sudah menulis buku yang inspiratif adalah persoalan waktu. Mereka sudah lebih dulu banyak membaca, maka mereka pun jadi lebih dulu menjadi penulis. Hanya itu,” ujar relawan Rumah Dunia yang baru saja menerbitkan novel Slonong Boy Millioanire ini.

Mengingat acaranya yang padat, maka sebelum pengumuman pemenang lomba cerpen dan workshop kepenulisan yang disampaikan Sakti Wibowo, panitia menyelingi acara dengan hiburan. Di depan sekitar 50 peserta dari berbagai daerah di Pandeglang ini, alunan dari grup nasyid Annashr Voice. Peserta pun nampak semakin antusias mengikuti jalannya acara. [LR]

SENJA DI SELAT SUNDA [3]

MenaramuOleh Gol A Gong

Anton tampak kaget melihat aku bicara begitu. “Ngomongmu ngawur, Tina! Bisa kualat kamu!” dia memperingatkan.

“Aku nggak peduli!”

“Gara-gara kamu berkawan sama ‘anak kampung’ itu, hubungan kita jadi kacau!” dia memaki dengan tidak sopan. Aku merasa tersinggung mendengar makiannya waktu itu. “Kamu anggap Nana seperti itu? Jadi kamu ini ‘anak kota’, Anton?! Lebih beradab ketimbang Nana, begitu?!” otot leherku tertarik saking marahnya.

Anton wajahnya merah padam dibentak-bentak oleh aku.

“Baik, baik, Anton! Kalau modernisasi atau istilahmu ‘anak kota’ itu diukur oleh yang namanya cineplex, fast food, mall, rally mobil, disco, dan tetek bengek lainnya, berarti selamat tinggal modernisasi!

Aku akan siap disebut sebagai ‘anak kampung’ oleh kamu, karena semua merek modernisasi itu aku tinggalkan! Ternyata nggak buruk jadi ‘anak kampung’ seperti Nana, yang begitu peduli terhadap lingkungan!” aku membentak-bentak lagi. “Ketimbang jadi ‘anakkota’ sepertimu, yangcuma hura-hura!” aku masih belum puas.

“Tina!”Anton memegang bahuku.

“Apa pun yang kamu katakan, aku tetap akan pergi dengan Nana!”

“Walaupun taruhannya hubungan kita, Tina?” ancamnya.

“Ya, hubungan kita!”

Aku sebetulnya berharap untuk tidak kehilangan dia. Anton memang pacarku yang kesekian, tapi kali ini aku berusaha untuk menjadikan dia sebagai yang terakhir. Tapi, apa boleh buat. Sebuah hubungan yang menjalin dua perasaan, aku kira, kalau sudah ada usaha untuk memaksakan kehendak yang satu pada yang lainnya, itu tidak akan jadi baik. Bukankah semua harus bermula dari rasa saling pengertian dan bermuara pada kesamaan sikap?

Anton meninggalkan aku dengan amarah yang terpancar dari sorot mata dan wajahnya. Dia tampaknya serius dengan ucapannya. Terbukti setelah pertengkaran itu, aku tidak pernah melihatnya lagi.

“Anton ngambek?” Nana merasa tidak enak ketika aku tidur-tiduran di kamar kosnya.

Aku menutup wajah dengan majalah.

“Ajak saja Anton berlibur.”

Aku lempar majalah. “No, no way!” kataku tegas. “Liburan kita bisa runyam kalau Anton ikut!”

“Aku nggak ingin hubungan kalian…”

“Lupakan hubunganku dengan Anton!” aku memotong.

“Maksudmu?” Nana merasa tidak enak.

“Aku memilih pergi dengan kamu, Nana, daripada diatur oleh Anton!”

“Oh, ajakanku kali ini ternyata memakan korban!” Nana membenturkan telapak tangannya ke dahi. “Maatkan aku, Tina.”

“Sekarang, bawalah aku ke kotamu, Nana! Akan aku buktikan, apakah betul segala cerita di majalah atau omongan orang-orang itu!”

“Cuma sekedar itu, Tina?”

“Aku ingin jadi diri sendiri, Nana, seperti halnya kamu selama ini. Yang tak pernah takut melakukan segala hal yang kamu sukai,” aku memang iri padanya.

Nana tersenyum tipis, “Rasa ‘takut’ itu tentu ada, Tina. Pada semua orang. Aku juga. Dengan adanya rasa ‘takut’ itu, kita jadi bisa menghargai apa arti hidup ini.”

Aku sering mendapat ‘pelajaran’ berharga dari setiap omongannya. Betapa luas pandangannya tentang ‘apa itu hidup’. Dia seolah-olah tahu apa yang akan diperbuat dan tahu bagaimana menemukan jalan keluar yang terbaik ketika dalam kesulitan. Mungkin ini tejadi pada semua orang yang merantau. Aku kira, “Iya”.

Kini keputusanku untuk ikut berlibur bersama Nana semakin kuat. Aku rasa ini terdorong oleh ‘ingin membuktikan sesuatu’, yang selama ini tidak pemah aku peroleh atau rasa ’solidaritas perempuan’, yang selalu identik dengan ketergantungan pada orang lain. Pada lelaki.

“Sudah, pergi saja, Tina. Jangan kamu gubris omongan Mamamu dan si Robby!” Papa merangkul bahuku ketika nonton TV di malam yang hangat. “Juga lupakan itu si Anton!”

Papa, Mama, dan Robby mengantarkan aku ke tempat bus malam. Sebelum aku naik ke bus, Mama berulang-ulang mencium pipi dan memelukku. Saat itu aku merasa jadi boneka tontonan yang aneh bagi penumpang bus. Bahkan mereka masih saja membuntuti bus yang aku tumpangi sampai batas kota. Aku tahu itu atas suruhan Mama.

Nana cuma tertawa saja melihat kejadian yang aku alami. Menjadi anak yang terlahir di atas kehormatan dan kekayaan tidak melulu enak. Setidak-tidaknya itulah yang aku alami. Ada yang terasa kurang dalam kehidupanku. Mungkin aku bisa mendapatkannya dari Nana nanti.

Bus malam Yogya-Merak terus meluncur menyambut pagi yang basah. [bersambung ke bag. 4]

advert

Tags Kata

Gonjlengan

BE A WRITER: DARI YANG REGULER HINGGA EXCLUSIVE”

Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat.

Full Story | May 20th, 2010

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa*
Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong
MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak mengganggu [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK
I.
“ora et labora”
di pertigaan jalan menuju rumah
beberapa tukang becak menyemadikan nasib
: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha
- memejam di tempat duduk
masingmasing-
II.
“nrimo ing pandum”
kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan
begitu saja kepada puingan matahari dan purnama
mereka mengabadikannya sebagai penanda becak
yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa
lapar dan haus adalah
foto-doa
III.
“kerja adalah ibadah”
di sisi adzan,
kretek [...]

Full Story | July 18th, 2010