<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; Nelayan</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/tag/nelayan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 14:19:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>NELAYAN BOJONEGARA ENGGAN MELAUT</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/25/nelayan-bojonegoro-enggan-melaut/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/25/nelayan-bojonegoro-enggan-melaut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 22:35:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampong]]></category>
		<category><![CDATA[BOJONEGARA]]></category>
		<category><![CDATA[ikan]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[mahal]]></category>
		<category><![CDATA[Melaut]]></category>
		<category><![CDATA[Nelayan]]></category>
		<category><![CDATA[Ombak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1614</guid>
		<description><![CDATA[NELAYAN BOJONEGARA ENGGAN MELAUT
Oleh Rama Rahmat
Nelayan Wadas, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang enggan melaut akibat cuaca buruk yang merupakan dampak dari angin barat daya. Seminggu terakhir angin bertiup kencang membuat arus gelombang tinggi dilautan. Para nelayan enggan melaut karena takut. Selain itu ikan dilautan pun susah ditangkap. Menurut pantauan wartawan www.rumahdunia.com pada Sabtu (20/11) suasana di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1615" title="nelayan wadas" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/nelayan-wadas.jpg" alt="nelayan wadas" width="480" height="320" />NELAYAN BOJONEGARA ENGGAN MELAUT</p>
<p>Oleh Rama Rahmat</p>
<p>Nelayan Wadas, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang enggan melaut akibat cuaca buruk yang merupakan dampak dari angin barat daya. Seminggu terakhir angin bertiup kencang membuat arus gelombang tinggi dilautan. Para nelayan enggan melaut karena takut. Selain itu ikan dilautan pun susah ditangkap. <span id="more-1614"></span>Menurut pantauan wartawan <a href="http://www.rumahdunia.com/">www.rumahdunia.com</a> pada Sabtu (20/11) suasana di dermaga dan tempat Pelelangan Ikan Wadas terlihat sepi. Ratusan perahu nelayan bertepi di dermaga.</p>
<p>Fandi (18 th) seorang nelayan yang baru saja kembali dari melaut mengaku, sangat susah menangkap ikan. “Gelombang di tengah laut sangat tinggi, kita cuma bisa berlayar di pinggiran laut saja.” katanya sambil melepas lelah di dermaga Wadas. Pemuda asal kampung Teluk Bako ini terlihat kecewa. Kepergiannya ke laut bersama keenam rekannya sebenarnya memaksakan diri. Berangkat dari jam 5 pagi hingga pulang jam 3 sore. “Biasanya kalau lagi normal bisa membawa pulang 100 kilo ikan. Sekarang mungkin sekitar 20 kilo,” tandasnya.</p>
<p>Lain halnya dengan Rohman (40 th) yang lebih memilih tidak pergi melaut. Rohman bersama teman-temannya tengah mengecat perahu miliknya. Bapak dari 3 orang anak ini mengaku dirinya tidak bisa berbuat apa-apa hingga angin kembali rendah. Disinggung mengenai pendapatan selain nelayan Rohman hanya bisa bilang, “Kalo gak mayang (melaut-red) pasti tidak ada duit. Cari kerja di darat susah. Ya kalau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bisa ngutang dulu ke warung atau temen.”</p>
<p>Karena para nelayan enggan melaut otomatis persediaan ikan pun sangat minim. Di tempat Pelelangan Ikan Wadas terlihat tak banyak aktifitas. Seluruh box penyimpanan ikan kosong. Tempat pelelangan ikan yang biasanya rame kini tak banyak aktifitas seperti biasanya. “Ya, gimana mau melaut, angin kencang gini. Akibatnya ya, pasokan ikan kurang,” kata Fauzi, seorang pengepul ikan. Menurut Fauzi, jika ada ikan, itupun berasal dari nelayan Karangantu atau Pulau Kele. “Saya juga gak bisa masok ikan ke Pasar Cilegon karena gak ada ikan,” tandasnya.</p>
<p>Jika ada ikan pun pasti harganya lebih tinggi. Naik hingga lebih dari 50%. Para pedagang ikan keliling enggan beli ikan laut karena harganya mahal dan susah balik modal. Seperti yang diungkapkan oleh Samin, pedagang ikan yang berkeliling dengan motornya mengaku merugi jika memaksakan diri untuk dagang. “Beli di pelelangan aja sudah mahal. Saya pusing pasang harga mahal kepelanggan. Karena biasanya para ibu ngeluh harga ikan mahal,” katanya, yang sengaja datang ke tempat pelelangan untuk melihat perkembangan.</p>
<p>Benar saja, di rumah emak tidak masak ikan. Hanya ada rabeg tempe dan sayur kulit tangkil saja. (*)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/25/nelayan-bojonegoro-enggan-melaut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HARGA IKAN LAUT MELAMBUNG</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/21/harga-ikan-laut-melambung/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/21/harga-ikan-laut-melambung/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 16:34:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampong]]></category>
		<category><![CDATA[ikan]]></category>
		<category><![CDATA[Nelayan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1530</guid>
		<description><![CDATA[CILEGON – Oleh Gading Tirta &#8211; Musim hujan telah datang. Banyak konsekwensi yang akan didapat. Bagi petani mungkin berkah karena tanaman yang ada akan mendapatkan air yang berlimpah. Namun hal yang menguntungkan di satu sisi biasanya merugikan di sisi yang lain. Dan musim hujan merugikan nelayan yang akan melaut.
Dengan kondisi angin kencang dan gelombang air [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1531" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/PICT8316.jpg" alt="PICT8316" width="500" height="375" />CILEGON – Oleh Gading Tirta &#8211; Musim hujan telah datang. Banyak konsekwensi yang akan didapat. Bagi petani mungkin berkah karena tanaman yang ada akan mendapatkan air yang berlimpah. Namun hal yang menguntungkan di satu sisi biasanya merugikan di sisi yang lain. Dan musim hujan merugikan nelayan yang akan melaut.</p>
<p>Dengan kondisi angin kencang dan gelombang air laut tinggi itu puluhan nelayan tidak bisa melaut. Selain membahayakan, ini juga berdampak pada mengurangnya jumlah ikan di lautan. Untuk mengisi kekosongan, para nelayan memilih menjadi pekerja srabutan dan berharap cuaca kembali cerah.</p>
<p>Karena tidak banyak yang melaut itulah maka harga ikan di pasaran menjadi mahal. Sesuai hukum dagang, barang yang sedikit dan banyak peminat maka akan mengalami harga yang relative mahal.</p>
<p>Seperti yang terjadi di pasar-pasar tradisional di Kota Cilegon. Di pasar-pasar ini, harga ikan naik di kisaran Rp 5 ribu sampai Rp 7 ribu dari harga biasa. Hampir semua ikan laut seperti cumi-cumi, kakap, udang dan ikan lainnya mengalami kenaikan.</p>
<p>Salah seorang pedagang ikan di Pasar Baru Kranggot Kota Cilegon, Tamrin, menuturkan harga ikan cumi yang awalnya Rp 15 ribu kini naik menjadi Rp 20 ribu, harga ikan kakap yang biasanya Rp 32 ribu kini naik menjadi Rp 37 ribu, dan harga udang laut yang biasanya Rp 16 ribu kini melonjak menjadi Rp 20 ribu. Supardi, pedagang ikan, juga mengamini hal yang sama.</p>
<p>Jika nelayan masih menggantungkan hidupnya pada cuaca baik, ada baiknya pemerintah membantu dengan memberikan pekerjaan sementara pada para nelayan saat cuaca buruk begini. Ini dimaksudkan agar istri dan anak mereka tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari sekalipun suami tidak bisa melaut. (*)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/21/harga-ikan-laut-melambung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SIMUS DAN SIRAJUDIN DI KARANGHANTU</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/16/simus-dan-sirajudin-di-karanghantu/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/16/simus-dan-sirajudin-di-karanghantu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 17:33:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca]]></category>
		<category><![CDATA[Karanghantu]]></category>
		<category><![CDATA[Mancing]]></category>
		<category><![CDATA[Melaut]]></category>
		<category><![CDATA[Nelayan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1219</guid>
		<description><![CDATA[KARANGHANTU &#8211; Di atas sebuah perahu yang terapung dan tertambat, dua lelaki sedang asyik berbincang. Saya ragu-ragu saat akan menghampiri dan menginjakkan kaki di atas perahu untuk ikut ngobrol. “Naek aja (ke perahu &#8211; pen), nggak apa-apa,” ujar salah seorang dari mereka sambil tersenyum. Gigi-gigi depannya yang sudah tanggal terlihat. Tapi senyumnya yang tulus membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1220" title="Karanghantu Gading" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Karanghantu-Gading.jpg" alt="Karanghantu Gading" width="500" height="340" />KARANGHANTU &#8211; Di atas sebuah perahu yang terapung dan tertambat, dua lelaki sedang asyik berbincang. Saya ragu-ragu saat akan menghampiri dan menginjakkan kaki di atas perahu untuk ikut ngobrol. “Naek aja (ke perahu &#8211; pen), <em>nggak</em> apa-apa,” ujar salah seorang dari mereka sambil tersenyum. Gigi-gigi depannya yang sudah tanggal terlihat. Tapi senyumnya yang tulus membuat nyaman.</p>
<p>CUACA</p>
<p>Kedua lelaki itu adalah Simus (39) dan Sirajudin (80), nelayan di Karanghantu, Banten. Awalnya, saya agak ragu ketika akan mengajak mereka ngobrol—saat melihat perawakan Simus yang hitam dan besar. Apalagi saat melihat sebuah tato di lengan sebelah kanannya. Tapi ternyata kesan itu segera hilang saat ia menawarkan saya dengan ramah untuk tidak ragu-ragu naik ke perahu itu.</p>
<p>Hari itu, Minggu (15/11) Simus dan Sirajudin tidak melaut. Mereka memilih ngobrol di perahu yang bergerak-gerak kecil di atas air dekat jembatan Karangantu. “Cuacanya kurang bagus,” kata Sirajudin menjelaskan.</p>
<p>Selama beberapa minggu ini cuaca memang tidak mendukung mereka untuk berlayar. Cuaca yang berubah-ubah dari cerah ke hujan membuat mereka tidak berani melaut. Bukan karena takut, tapi karena mereka tidak mau merugi karena cuaca yang tidak pasti. Lagipula jumlah ikan hanya sedikit saat turun hujan.</p>
<p>“Sekarang memang cerah,” kata Sirajudin sambil menunjuk ke arah langit, “tapi nanti juga berubah mendung,” lanjut lelaki asli Bone, Sulawesi Selatan yang sudah sepuluh tahun menjadi nelayan ini. Sudah setengah bulan mereka tak melaut. Jika mereka memaksakan melaut dalam cuaca yang buruk, maka tentu saja kerugian yang akan diterima.</p>
<p>Untuk berlayar satu kali, yang biasanya memakan waktu satu hari, mereka membutuhkan banyak uang. Paling tidak mereka mesti mengeluarkan uang Rp 150 ribu untuk membeli solar, membayar karcis berlayar di polisi air, termasuk untuk bekal makanan, minuman, dan rokok selama berlayar. Belum lagi kalau saat melaut mengajak beberapa kawan untuk membantu.</p>
<p>Sirajudin mengaku jika mendapatkan Rp 300 ribu dari hasil menangkap ikan, maka untuk membayar semua keperluan makan, solar, dan yang lainnya hanya akan menyisakan unang bersih sekitar Rp 50 ribu! Apalagi jika pendapatan yang dia dapat kurang dari itu. Tapi pekerjaan yang mereka miliki hanya mencari ikan, melaut. Dan mereka mesti betah dengan profesi itu.</p>
<p>MANCING SEWA</p>
<p>Untungnya, selain mencari ikan, mereka juga memberikan jasa mengantar siapa saja yang ingin memancing. Orang-orang dari luar Karangantu seperti Rau, Ciceri, yang hobi memancing sering mempergunakan jasa mereka. Bahkan ada juga yang sampai menjadi pelanggan perahunya. Dari sinilah tambahan masukan untuk menghidupi keluarga didapat. “Kalau lagi rame bisa sampe satu juta sebulan penghasilannya,” cerita Simus semangat. Tapi setiap uang yang ia dapat mesti ia setorkan setengahnya kepada Agus, pemilik perahu. Istilahnya, Simus hanya sebagai “supir” di perahu Agus yang mesti setor tiap kali “narik”.</p>
<p>Karena mereka yang suka memancing itu sering datang, beberapa nelayan memiliki langganannya dari orang-orang pecinta mancing itu. Jadi kalau para pemancing itu sudah datang biasanya mereka langsung menaiki perahu langganannya dan melaju menuju tujuan. Tapi para pemancing itu biasanya hanya datang saat hari Sabtu atau Minggu di saat <em>weekend</em>. Hanya sebagai pengobat setres saja mungkin dari pekerjaan selama lima harinya.</p>
<p>Hari sudah siang. Simus masih belum melaut padahal hari Minggu. Sirajudin sudah lebih dulu pulang dan meninggalkan kami. Saat saya pamit pulang, Simus masih duduk-duduk di tepi perahu dan menggoyang-goyangkan kakinya yang tergantung di atas air. Entah apa yang ia pikirkan. (Gading Tirta)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/16/simus-dan-sirajudin-di-karanghantu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
