<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; Nelayan</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/tag/nelayan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 13:56:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>DUNIA IKAN DAN NELAYAN ALA GOL A GONG</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2011/06/10/dunia-ikan-dan-nelayan-ala-gol-a-gong/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2011/06/10/dunia-ikan-dan-nelayan-ala-gol-a-gong/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 02:58:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laporan Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[ikan]]></category>
		<category><![CDATA[Nelayan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4694</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Jang RuDun Meminjam kalimat sakti Julius Cesar, “Roma dibangun tidak dalam semalam”, maka Rumah Dunia, pusat belajar yang dibangun Gol A Gong, Tias Tatanka, Toto ST Radik, Firman Venayaksa, Ibnu Adam Aviciena, Muhzen Den, Langlang Randhawa dan para relawan lainnya,  juga tidak dalam satu malam. Digulirkan jauh sebelum Gol A Gong berkeluarga di era [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/06/COVER-Dunia-Ikan-OK-flat-copy.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4699" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/06/COVER-Dunia-Ikan-OK-flat-copy.jpg" alt="" width="300" height="221" /></a>Oleh Jang RuDun<br />
Meminjam kalimat sakti Julius Cesar, “Roma dibangun tidak dalam semalam”, maka Rumah Dunia, pusat belajar yang dibangun Gol A Gong, Tias Tatanka, Toto ST Radik, Firman Venayaksa, Ibnu Adam Aviciena, Muhzen Den, Langlang Randhawa dan para relawan lainnya,  juga tidak dalam satu malam. <span id="more-4694"></span>Digulirkan jauh sebelum Gol A Gong  berkeluarga di era 90-an, bersama Toto, (alm) Rys Revolta, Andi Trisnahadi, Maulana Wahid Fauzi, Taufiq Rohman, dan Mhaex Rangkuti, cikal bakal Rumah Dunia dimulai di jalanan. Kini Rumah Dunia merayap dan merangkak, menjadi seperti sekarang ini. Ya, tidak dalam satu malam.</p>
<p>Sejak 2008, Rumah Dunia menggulirkan penggalangan dana untuk membebasakan 3 lokasi tanah dengan kepemilikan yang berbeda. Tahap pertama, berkat honor-honor para relawan Rumah Dunia menjadi co-writer Gol A Gong dalam penulisan scenario, novel, dan menjadi pembicara, juga support  milis wongbanten  serta milis-milis tetangga, areal seluas 970 m2 dan areal 225 m2 berhasil dibebaskan.</p>
<p>Kini sejak 2010, tahap kedua membebaskan tanah seluas 1870-an meter persegi digulirkan lagi. Harga permeternya Rp. 200.000,-. Pembayaran pertama berupa uang muka sebesar Rp. 75 jutaan sudah dibayarkan pada Februari 2011. Pembayaran kedua 1<br />
Agustus 2011 sebesar Rp. 150 juta.  Jika tidak, maka uang muka akan hangus Rp. 30 jt. Pembayaran terakhir 1 Januari 2012 sebesar Rp. 150 jt.Solidaritas penulis pun dibangun. Banyak penulis yang menyumbangkan utuh royalti  buku-bukunya.</p>
<p>Penerbitan buku “Dunia Ikan” termasuk satu cara penggalangan dana untuk pembebasan tanah Rumah Dunia. Selain itu juga ikut merayakan &#8220;Hari Laut se-Dunia&#8221; yang jatuh pada 8 Juni. Untuk menarik minat penyumbang, Rumah Dunia merayakannya pada 11 Juni 2011 dalam bentuk acara peluncuran dan bedah buku, pelatihan puisi, pameran lukisan batik ikan karya Q&#8217;bro Pandam dan pameran lukisan foto-foto nelayan, ikan dan laut karya Muhammad Arif Kirdiat.  Menu tambahan pembacaan puisi oleh penyair dan nelayan Banten serta monolog kucing oleh para kucing.</p>
<p>&#8220;Monolog kucing ini unik. Nanti di areal Rumah Dunia akan ada banyak ikan mentah digantungkan, untuk memancing kucing datang berdiskusi. Nah, saat peserta mendapat nasi bungkus plus ikan goreng, saya harap kepala ikannya jangan dimakan. Tapi, nanti para peserta melemparkan kepala ikan goreng itu ke sebuah lingkaran. Semoga para kucing berebut kepala ikan itu dan kita nanti akan mendengarkan monolog mereka. Bukankah kita kadang seperti kucing? Sudah diberi jatah,tapi masih berebut?&#8221; kata Gol A Gong, tampak sudah tidak sabar.</p>
<p>Keunikan lain adalah kesediaan para relawan Rumah Dunia membacakan puisi-puisi<br />
&#8220;Dunia Ikan&#8221;. Harir Baldan, relawan RD mantan pedagang gorengan yang kini jadi wartawan Banten Raya Post, siap membacakan puisi berjudul &#8220;Kolam Ikan&#8221;. Harir alias Udin sudah berlatih keras. &#8220;Saya harus menghayati puisi ini.  Kata Mas Gong, puisi ini menceritakan rakyat Indonesia yang ingin memiliki rumah, tapi hanya mampu membeli tipe 21, yang seperti kandang kambing. Sempit. Padahal negeri ini luasnya minta ampun!&#8221; Harir membeberkan.</p>
<p>Abdul Salam HS, relawan RD yang baru lulus SMA dan sedang bingung mencari uang untuk meneruskan kuliah siap membacakan puisi, &#8220;Saya akan makan ikan mentah!&#8221; Salam juga siap ikut road show ke Bandung, Tasikmalaya, Cirebon dan Lampung. &#8220;Inilah moment yang saya tunggu-tunggu, membaca puisi seperti Sutardji Calzoum Bachri yang memakan daging saat membaca puisi. Tapi, saya tidak akan minum bir, nanti mabok. Naik bus saja saya masih suka mabok!&#8221;</p>
<p>Buku &#8220;Dunia Ikan&#8221; adalah respon Gol A Gong terhadap kondisi di Banten dan negeri<br />
ini. Ada persoalan sosial politik, mitos, cerita rakyat, pilkadal, dan kesenjangan sosial. &#8220;Puisi-puisinya, sih, biasa-biasa saja. Tapi, yang luar biasa adalah spirit literasinya! Puisi harus dikenalkan secara luas kepada warga kebanyakan,&#8221; Gong menjelaskan. &#8220;Terutama ke wong cilik,&#8221; tambah Gong. Itu dibuktikan dengan para nelayan dari komunitas “Tapak<br />
Bumi” pimpinan @dAs albantani, yang akan membacakan buku &#8220;Dunia Ikan&#8221;.</p>
<p>Tapi, Gong menulis “Dunia Ikan” tidak sekedar menulis. Seperti dikatakannya, “Saya sebetulnya menyisakan duri ikan setelah usai membaca buku ini. Ya, semoga pembaca merasakan ada duri ikan menancap di tenggorokan. Itulah sebetulnya filosofi ikan. Di balik kelezatan dagingnya, ada duri mengancam. Ketika kita tidak memaknai hidup, betapa bencana mengancam kita setiap saat!”</p>
<p>Maka, nikmati buku ini sambil makan nasi plus ikan, ditemani kucing-kucing. Sisakan kepala ikan untuk kucing-kucing.</p>
<p>Salam puisi. (*)</p>
<p>Insang Satu:<br />
Makan Nasi Ikan Ditemani Kucing<br />
Kutulis Alakadarnya Lewat Ikan<br />
Mencari Kebermaknaan Ikan-ikan<br />
Melihat Banten dengan Mata Ikan</p>
<p>Insang Dua:<br />
Aku Punya Cerita<br />
Sungai, dan Gunung<br />
Ode Nelayan<br />
Banten Lama<br />
Mencari Pelangi<br />
Belajarlah Pada Alam<br />
Banten 2020<br />
Sepanjang Tol Jakarta &#8211; Merak<br />
Di mana kau, Lio!<br />
Berkacalah, Bantenku! (Ikan Mati di Teluk Banten)</p>
<p>Insang Tiga:<br />
Asal Muasal Ikan<br />
Nelayan Serupa Tulang Ikan<br />
Kolam Ikan<br />
Ikan dalam Aquarium<br />
Kucing Sarapan Ikan<br />
Namaku Ikan<br />
Ikan Hias<br />
Putri Duyung<br />
Pepes Ikan<br />
Sate Bandeng.<br />
Nelayan, Mogoklah Melaut!<br />
Bandeng Lumpur<br />
Ikan dan Baliho<br />
Kucing Mencuri Ikan<br />
Deden, Pak Raden, dan Ikan Sarden<br />
Ikan, Kucing, dan Manusia<br />
Ikan Hiu, Putri Duyung dan Gurita<br />
Putri Duyung Melahirkan Gurita<br />
Pengakuan Nelayan<br />
Ikan di kampung Maling</p>
<p>Insang Empat<br />
Dinamo Gol A Gong<br />
Nyawa Ikan Pada Puisi Gong<br />
***</p>
<p>IKAN<br />
DAN<br />
BALIHO</p>
<p>Namaku<br />
: ikan tawar.<br />
Aku tinggal di kota,<br />
di kampung, di mana saja.<br />
Asal di negeri ini ada sungainya,<br />
tentu ada pabrik beserta limbahnya,<br />
di situlah aku tinggal. Setiap aku berenang<br />
melewati tikungan jalan, selalu banyak orang<br />
tersenyum sorga. Berjanji tak akan menangkapku,<br />
berjanji membersihkan sungai dari limbah.<br />
Kutatapi wajah-wajah polos tak berdosa itu.<br />
Banyak manusia belum mampu membacanya.<br />
Bagiku wajah-wajah itu bertaring, bermata merah,<br />
bertanduk, dan lidahnya berapi.<br />
Bagiku:<br />
mereka<br />
setan.</p>
<p>Rumah Dunia<br />
7 April 2011</p>
<p>***</p>
<p>APA KATA MEREKA:</p>
<p>”Ikan, seperti halnya kata lain yang mewakili wujud konkret, bukan abstrak, pun memiliki pesona yang berbeda pada satu dan orang lain. Ikan yang mengandung banyak protein itu, sedang disajikan dengan berbagai cara oleh Gol A Gong dalam bentuk puisi. Atas keberaniannya menyelenggarakan pesta ikan dengan atau tanpa pikir panjang, saya mendadak melupakan duri-durinya.  Saya lebih mengkhidmati niat dan perjuangannya yang (mungkin) membuat rasa ikan menari-nari di lidah pembacaan dan awet dalam sejarah kebudayaan yang sedang dibangun bersama teman-teman.” (Kurnia Effendi, penulis dan pencinta sastra)</p>
<p>Penutup:</p>
<p>Seluruh royalti buku “Dunia Ikan” ini didedikasikan untuk Rumah Dunia, sebuah<br />
komunitas belajar (jurnalistik, sastra, teater, rupa, swara, dan film) bagi masyarakat di Serang Banten, yang didirikan Gol A Gong dan Tias Tatanka, Toto ST Radik, dan Rys Revolta (alm).  Rumah Dunia kini tidak hanya untuk warga Banten, tapi juga untuk semua orang yang mencintai dunia literasi. Dia bisa berasal dari Sabang hingga Merauke, bahkan menyeberang ke Singapura, Malaysia, Timur Tengah, Arab Saudi, Mesir, Amerika, Korea, Australia, Perancis, Belanda, dan Jepang. Penerbitan buku ini adalah bagian dari solidaritas penulis untuk membebaskan tanah Rumah Dunia seluas 1873 meter persegi dengan harga @Rp. 200.000,-/m2. Kelak, di atas tanah itu akan dibangun gedung kesenian dan perpustakaan. Semoga Rumah Dunia bisa jadi buah hati kita dan warisan dari kita untuk menyiapkan pembaca dan penulis di masa depan. Terima kasih kepada para pembaca budiman, yang sudah membeli buku ini. Info selengkapnya bisa di<br />
klik di www.rumahdunia.net</p>
<p>Taman Bacaan Rumah Dunia di Serang Banten, yang didirikan Gol A Gong, akan<br />
membebaskan tanah seluas 1873 m2. Setelah uang muka pada Februari 2011sebesar Rp. 75 jt berhasil dibayarkan atas bantuan facebooker, milis-milis, dan tentu para relawan Rumah Dunia, kini pembayaran termin kedua sebesar Rp. 150 jt pada 1 Juli 2011. “Uang kas kami dihitung-hitung baru terkumpul Rp. 75 jt,” kata Tias Tatanka, pengelola<br />
Rumah Dunia.</p>
<p>Maka Gong Publishing, lini usaha Rumah Dunia menerbitkan buku terbaru Gol A Gong, yang berjudul “Dunia Ikan”. Harga Rp. 30.000 sudah termasuk ongkirim Jawa.. Untuk  Sumatra-Kalimantan Rp. 40.000,-</p>
<p>Silahkan transfer ke BCA Serang, atas nama Heri Hendrayana harris, norek: 245 1790 121. Jika sudah transfer, confirm ke 081906311007 (SMS only), tuliskan nama dan alamat pengiriman.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2011/06/10/dunia-ikan-dan-nelayan-ala-gol-a-gong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NELAYAN BOJONEGARA ENGGAN MELAUT</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/25/nelayan-bojonegoro-enggan-melaut/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/25/nelayan-bojonegoro-enggan-melaut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 22:35:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampong]]></category>
		<category><![CDATA[BOJONEGARA]]></category>
		<category><![CDATA[ikan]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[mahal]]></category>
		<category><![CDATA[Melaut]]></category>
		<category><![CDATA[Nelayan]]></category>
		<category><![CDATA[Ombak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1614</guid>
		<description><![CDATA[NELAYAN BOJONEGARA ENGGAN MELAUT Oleh Rama Rahmat Nelayan Wadas, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang enggan melaut akibat cuaca buruk yang merupakan dampak dari angin barat daya. Seminggu terakhir angin bertiup kencang membuat arus gelombang tinggi dilautan. Para nelayan enggan melaut karena takut. Selain itu ikan dilautan pun susah ditangkap. Menurut pantauan wartawan www.rumahdunia.com pada Sabtu (20/11) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1615" title="nelayan wadas" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/nelayan-wadas.jpg" alt="nelayan wadas" width="480" height="320" />NELAYAN BOJONEGARA ENGGAN MELAUT</p>
<p>Oleh Rama Rahmat</p>
<p>Nelayan Wadas, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang enggan melaut akibat cuaca buruk yang merupakan dampak dari angin barat daya. Seminggu terakhir angin bertiup kencang membuat arus gelombang tinggi dilautan. Para nelayan enggan melaut karena takut. Selain itu ikan dilautan pun susah ditangkap. <span id="more-1614"></span>Menurut pantauan wartawan <a href="http://www.rumahdunia.com/">www.rumahdunia.com</a> pada Sabtu (20/11) suasana di dermaga dan tempat Pelelangan Ikan Wadas terlihat sepi. Ratusan perahu nelayan bertepi di dermaga.</p>
<p>Fandi (18 th) seorang nelayan yang baru saja kembali dari melaut mengaku, sangat susah menangkap ikan. “Gelombang di tengah laut sangat tinggi, kita cuma bisa berlayar di pinggiran laut saja.” katanya sambil melepas lelah di dermaga Wadas. Pemuda asal kampung Teluk Bako ini terlihat kecewa. Kepergiannya ke laut bersama keenam rekannya sebenarnya memaksakan diri. Berangkat dari jam 5 pagi hingga pulang jam 3 sore. “Biasanya kalau lagi normal bisa membawa pulang 100 kilo ikan. Sekarang mungkin sekitar 20 kilo,” tandasnya.</p>
<p>Lain halnya dengan Rohman (40 th) yang lebih memilih tidak pergi melaut. Rohman bersama teman-temannya tengah mengecat perahu miliknya. Bapak dari 3 orang anak ini mengaku dirinya tidak bisa berbuat apa-apa hingga angin kembali rendah. Disinggung mengenai pendapatan selain nelayan Rohman hanya bisa bilang, “Kalo gak mayang (melaut-red) pasti tidak ada duit. Cari kerja di darat susah. Ya kalau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bisa ngutang dulu ke warung atau temen.”</p>
<p>Karena para nelayan enggan melaut otomatis persediaan ikan pun sangat minim. Di tempat Pelelangan Ikan Wadas terlihat tak banyak aktifitas. Seluruh box penyimpanan ikan kosong. Tempat pelelangan ikan yang biasanya rame kini tak banyak aktifitas seperti biasanya. “Ya, gimana mau melaut, angin kencang gini. Akibatnya ya, pasokan ikan kurang,” kata Fauzi, seorang pengepul ikan. Menurut Fauzi, jika ada ikan, itupun berasal dari nelayan Karangantu atau Pulau Kele. “Saya juga gak bisa masok ikan ke Pasar Cilegon karena gak ada ikan,” tandasnya.</p>
<p>Jika ada ikan pun pasti harganya lebih tinggi. Naik hingga lebih dari 50%. Para pedagang ikan keliling enggan beli ikan laut karena harganya mahal dan susah balik modal. Seperti yang diungkapkan oleh Samin, pedagang ikan yang berkeliling dengan motornya mengaku merugi jika memaksakan diri untuk dagang. “Beli di pelelangan aja sudah mahal. Saya pusing pasang harga mahal kepelanggan. Karena biasanya para ibu ngeluh harga ikan mahal,” katanya, yang sengaja datang ke tempat pelelangan untuk melihat perkembangan.</p>
<p>Benar saja, di rumah emak tidak masak ikan. Hanya ada rabeg tempe dan sayur kulit tangkil saja. (*)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/25/nelayan-bojonegoro-enggan-melaut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HARGA IKAN LAUT MELAMBUNG</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/21/harga-ikan-laut-melambung/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/21/harga-ikan-laut-melambung/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 16:34:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampong]]></category>
		<category><![CDATA[ikan]]></category>
		<category><![CDATA[Nelayan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1530</guid>
		<description><![CDATA[CILEGON – Oleh Gading Tirta &#8211; Musim hujan telah datang. Banyak konsekwensi yang akan didapat. Bagi petani mungkin berkah karena tanaman yang ada akan mendapatkan air yang berlimpah. Namun hal yang menguntungkan di satu sisi biasanya merugikan di sisi yang lain. Dan musim hujan merugikan nelayan yang akan melaut. Dengan kondisi angin kencang dan gelombang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1531" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/PICT8316.jpg" alt="PICT8316" width="500" height="375" />CILEGON – Oleh Gading Tirta &#8211; Musim hujan telah datang. Banyak konsekwensi yang akan didapat. Bagi petani mungkin berkah karena tanaman yang ada akan mendapatkan air yang berlimpah. Namun hal yang menguntungkan di satu sisi biasanya merugikan di sisi yang lain. Dan musim hujan merugikan nelayan yang akan melaut.</p>
<p>Dengan kondisi angin kencang dan gelombang air laut tinggi itu puluhan nelayan tidak bisa melaut. Selain membahayakan, ini juga berdampak pada mengurangnya jumlah ikan di lautan. Untuk mengisi kekosongan, para nelayan memilih menjadi pekerja srabutan dan berharap cuaca kembali cerah.</p>
<p>Karena tidak banyak yang melaut itulah maka harga ikan di pasaran menjadi mahal. Sesuai hukum dagang, barang yang sedikit dan banyak peminat maka akan mengalami harga yang relative mahal.</p>
<p>Seperti yang terjadi di pasar-pasar tradisional di Kota Cilegon. Di pasar-pasar ini, harga ikan naik di kisaran Rp 5 ribu sampai Rp 7 ribu dari harga biasa. Hampir semua ikan laut seperti cumi-cumi, kakap, udang dan ikan lainnya mengalami kenaikan.</p>
<p>Salah seorang pedagang ikan di Pasar Baru Kranggot Kota Cilegon, Tamrin, menuturkan harga ikan cumi yang awalnya Rp 15 ribu kini naik menjadi Rp 20 ribu, harga ikan kakap yang biasanya Rp 32 ribu kini naik menjadi Rp 37 ribu, dan harga udang laut yang biasanya Rp 16 ribu kini melonjak menjadi Rp 20 ribu. Supardi, pedagang ikan, juga mengamini hal yang sama.</p>
<p>Jika nelayan masih menggantungkan hidupnya pada cuaca baik, ada baiknya pemerintah membantu dengan memberikan pekerjaan sementara pada para nelayan saat cuaca buruk begini. Ini dimaksudkan agar istri dan anak mereka tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari sekalipun suami tidak bisa melaut. (*)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/21/harga-ikan-laut-melambung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SIMUS DAN SIRAJUDIN DI KARANGHANTU</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/16/simus-dan-sirajudin-di-karanghantu/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/16/simus-dan-sirajudin-di-karanghantu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 17:33:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Cuaca]]></category>
		<category><![CDATA[Karanghantu]]></category>
		<category><![CDATA[Mancing]]></category>
		<category><![CDATA[Melaut]]></category>
		<category><![CDATA[Nelayan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1219</guid>
		<description><![CDATA[KARANGHANTU &#8211; Di atas sebuah perahu yang terapung dan tertambat, dua lelaki sedang asyik berbincang. Saya ragu-ragu saat akan menghampiri dan menginjakkan kaki di atas perahu untuk ikut ngobrol. “Naek aja (ke perahu &#8211; pen), nggak apa-apa,” ujar salah seorang dari mereka sambil tersenyum. Gigi-gigi depannya yang sudah tanggal terlihat. Tapi senyumnya yang tulus membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1220" title="Karanghantu Gading" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Karanghantu-Gading.jpg" alt="Karanghantu Gading" width="500" height="340" />KARANGHANTU &#8211; Di atas sebuah perahu yang terapung dan tertambat, dua lelaki sedang asyik berbincang. Saya ragu-ragu saat akan menghampiri dan menginjakkan kaki di atas perahu untuk ikut ngobrol. “Naek aja (ke perahu &#8211; pen), <em>nggak</em> apa-apa,” ujar salah seorang dari mereka sambil tersenyum. Gigi-gigi depannya yang sudah tanggal terlihat. Tapi senyumnya yang tulus membuat nyaman.</p>
<p>CUACA</p>
<p>Kedua lelaki itu adalah Simus (39) dan Sirajudin (80), nelayan di Karanghantu, Banten. Awalnya, saya agak ragu ketika akan mengajak mereka ngobrol—saat melihat perawakan Simus yang hitam dan besar. Apalagi saat melihat sebuah tato di lengan sebelah kanannya. Tapi ternyata kesan itu segera hilang saat ia menawarkan saya dengan ramah untuk tidak ragu-ragu naik ke perahu itu.</p>
<p>Hari itu, Minggu (15/11) Simus dan Sirajudin tidak melaut. Mereka memilih ngobrol di perahu yang bergerak-gerak kecil di atas air dekat jembatan Karangantu. “Cuacanya kurang bagus,” kata Sirajudin menjelaskan.</p>
<p>Selama beberapa minggu ini cuaca memang tidak mendukung mereka untuk berlayar. Cuaca yang berubah-ubah dari cerah ke hujan membuat mereka tidak berani melaut. Bukan karena takut, tapi karena mereka tidak mau merugi karena cuaca yang tidak pasti. Lagipula jumlah ikan hanya sedikit saat turun hujan.</p>
<p>“Sekarang memang cerah,” kata Sirajudin sambil menunjuk ke arah langit, “tapi nanti juga berubah mendung,” lanjut lelaki asli Bone, Sulawesi Selatan yang sudah sepuluh tahun menjadi nelayan ini. Sudah setengah bulan mereka tak melaut. Jika mereka memaksakan melaut dalam cuaca yang buruk, maka tentu saja kerugian yang akan diterima.</p>
<p>Untuk berlayar satu kali, yang biasanya memakan waktu satu hari, mereka membutuhkan banyak uang. Paling tidak mereka mesti mengeluarkan uang Rp 150 ribu untuk membeli solar, membayar karcis berlayar di polisi air, termasuk untuk bekal makanan, minuman, dan rokok selama berlayar. Belum lagi kalau saat melaut mengajak beberapa kawan untuk membantu.</p>
<p>Sirajudin mengaku jika mendapatkan Rp 300 ribu dari hasil menangkap ikan, maka untuk membayar semua keperluan makan, solar, dan yang lainnya hanya akan menyisakan unang bersih sekitar Rp 50 ribu! Apalagi jika pendapatan yang dia dapat kurang dari itu. Tapi pekerjaan yang mereka miliki hanya mencari ikan, melaut. Dan mereka mesti betah dengan profesi itu.</p>
<p>MANCING SEWA</p>
<p>Untungnya, selain mencari ikan, mereka juga memberikan jasa mengantar siapa saja yang ingin memancing. Orang-orang dari luar Karangantu seperti Rau, Ciceri, yang hobi memancing sering mempergunakan jasa mereka. Bahkan ada juga yang sampai menjadi pelanggan perahunya. Dari sinilah tambahan masukan untuk menghidupi keluarga didapat. “Kalau lagi rame bisa sampe satu juta sebulan penghasilannya,” cerita Simus semangat. Tapi setiap uang yang ia dapat mesti ia setorkan setengahnya kepada Agus, pemilik perahu. Istilahnya, Simus hanya sebagai “supir” di perahu Agus yang mesti setor tiap kali “narik”.</p>
<p>Karena mereka yang suka memancing itu sering datang, beberapa nelayan memiliki langganannya dari orang-orang pecinta mancing itu. Jadi kalau para pemancing itu sudah datang biasanya mereka langsung menaiki perahu langganannya dan melaju menuju tujuan. Tapi para pemancing itu biasanya hanya datang saat hari Sabtu atau Minggu di saat <em>weekend</em>. Hanya sebagai pengobat setres saja mungkin dari pekerjaan selama lima harinya.</p>
<p>Hari sudah siang. Simus masih belum melaut padahal hari Minggu. Sirajudin sudah lebih dulu pulang dan meninggalkan kami. Saat saya pamit pulang, Simus masih duduk-duduk di tepi perahu dan menggoyang-goyangkan kakinya yang tergantung di atas air. Entah apa yang ia pikirkan. (Gading Tirta)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/16/simus-dan-sirajudin-di-karanghantu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

