KARANGHANTU – Di atas sebuah perahu yang terapung dan tertambat, dua lelaki sedang asyik berbincang. Saya ragu-ragu saat akan menghampiri dan menginjakkan kaki di atas perahu untuk ikut ngobrol. “Naek aja (ke perahu – pen), nggak apa-apa,” ujar salah seorang dari mereka sambil tersenyum. Gigi-gigi depannya yang sudah tanggal terlihat. Tapi senyumnya yang tulus membuat nyaman.
CUACA
Kedua lelaki itu adalah Simus (39) dan Sirajudin (80), nelayan di Karanghantu, Banten. Awalnya, saya agak ragu ketika akan mengajak mereka ngobrol—saat melihat perawakan Simus yang hitam dan besar. Apalagi saat melihat sebuah tato di lengan sebelah kanannya. Tapi ternyata kesan itu segera hilang saat ia menawarkan saya dengan ramah untuk tidak ragu-ragu naik ke perahu itu.
Hari itu, Minggu (15/11) Simus dan Sirajudin tidak melaut. Mereka memilih ngobrol di perahu yang bergerak-gerak kecil di atas air dekat jembatan Karangantu. “Cuacanya kurang bagus,” kata Sirajudin menjelaskan.
Selama beberapa minggu ini cuaca memang tidak mendukung mereka untuk berlayar. Cuaca yang berubah-ubah dari cerah ke hujan membuat mereka tidak berani melaut. Bukan karena takut, tapi karena mereka tidak mau merugi karena cuaca yang tidak pasti. Lagipula jumlah ikan hanya sedikit saat turun hujan.
“Sekarang memang cerah,” kata Sirajudin sambil menunjuk ke arah langit, “tapi nanti juga berubah mendung,” lanjut lelaki asli Bone, Sulawesi Selatan yang sudah sepuluh tahun menjadi nelayan ini. Sudah setengah bulan mereka tak melaut. Jika mereka memaksakan melaut dalam cuaca yang buruk, maka tentu saja kerugian yang akan diterima.
Untuk berlayar satu kali, yang biasanya memakan waktu satu hari, mereka membutuhkan banyak uang. Paling tidak mereka mesti mengeluarkan uang Rp 150 ribu untuk membeli solar, membayar karcis berlayar di polisi air, termasuk untuk bekal makanan, minuman, dan rokok selama berlayar. Belum lagi kalau saat melaut mengajak beberapa kawan untuk membantu.
Sirajudin mengaku jika mendapatkan Rp 300 ribu dari hasil menangkap ikan, maka untuk membayar semua keperluan makan, solar, dan yang lainnya hanya akan menyisakan unang bersih sekitar Rp 50 ribu! Apalagi jika pendapatan yang dia dapat kurang dari itu. Tapi pekerjaan yang mereka miliki hanya mencari ikan, melaut. Dan mereka mesti betah dengan profesi itu.
MANCING SEWA
Untungnya, selain mencari ikan, mereka juga memberikan jasa mengantar siapa saja yang ingin memancing. Orang-orang dari luar Karangantu seperti Rau, Ciceri, yang hobi memancing sering mempergunakan jasa mereka. Bahkan ada juga yang sampai menjadi pelanggan perahunya. Dari sinilah tambahan masukan untuk menghidupi keluarga didapat. “Kalau lagi rame bisa sampe satu juta sebulan penghasilannya,” cerita Simus semangat. Tapi setiap uang yang ia dapat mesti ia setorkan setengahnya kepada Agus, pemilik perahu. Istilahnya, Simus hanya sebagai “supir” di perahu Agus yang mesti setor tiap kali “narik”.
Karena mereka yang suka memancing itu sering datang, beberapa nelayan memiliki langganannya dari orang-orang pecinta mancing itu. Jadi kalau para pemancing itu sudah datang biasanya mereka langsung menaiki perahu langganannya dan melaju menuju tujuan. Tapi para pemancing itu biasanya hanya datang saat hari Sabtu atau Minggu di saat weekend. Hanya sebagai pengobat setres saja mungkin dari pekerjaan selama lima harinya.
Hari sudah siang. Simus masih belum melaut padahal hari Minggu. Sirajudin sudah lebih dulu pulang dan meninggalkan kami. Saat saya pamit pulang, Simus masih duduk-duduk di tepi perahu dan menggoyang-goyangkan kakinya yang tergantung di atas air. Entah apa yang ia pikirkan. (Gading Tirta)