DUNIA IKAN DAN NELAYAN ALA GOL A GONG

Oleh Jang RuDun
Meminjam kalimat sakti Julius Cesar, “Roma dibangun tidak dalam semalam”, maka Rumah Dunia, pusat belajar yang dibangun Gol A Gong, Tias Tatanka, Toto ST Radik, Firman Venayaksa, Ibnu Adam Aviciena, Muhzen Den, Langlang Randhawa dan para relawan lainnya,  juga tidak dalam satu malam. lanjutkan membaca »

NELAYAN BOJONEGARA ENGGAN MELAUT

nelayan wadasNELAYAN BOJONEGARA ENGGAN MELAUT

Oleh Rama Rahmat

Nelayan Wadas, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang enggan melaut akibat cuaca buruk yang merupakan dampak dari angin barat daya. Seminggu terakhir angin bertiup kencang membuat arus gelombang tinggi dilautan. Para nelayan enggan melaut karena takut. Selain itu ikan dilautan pun susah ditangkap. lanjutkan membaca »

HARGA IKAN LAUT MELAMBUNG

PICT8316CILEGON – Oleh Gading Tirta – Musim hujan telah datang. Banyak konsekwensi yang akan didapat. Bagi petani mungkin berkah karena tanaman yang ada akan mendapatkan air yang berlimpah. Namun hal yang menguntungkan di satu sisi biasanya merugikan di sisi yang lain. Dan musim hujan merugikan nelayan yang akan melaut.

Dengan kondisi angin kencang dan gelombang air laut tinggi itu puluhan nelayan tidak bisa melaut. Selain membahayakan, ini juga berdampak pada mengurangnya jumlah ikan di lautan. Untuk mengisi kekosongan, para nelayan memilih menjadi pekerja srabutan dan berharap cuaca kembali cerah.

Karena tidak banyak yang melaut itulah maka harga ikan di pasaran menjadi mahal. Sesuai hukum dagang, barang yang sedikit dan banyak peminat maka akan mengalami harga yang relative mahal.

Seperti yang terjadi di pasar-pasar tradisional di Kota Cilegon. Di pasar-pasar ini, harga ikan naik di kisaran Rp 5 ribu sampai Rp 7 ribu dari harga biasa. Hampir semua ikan laut seperti cumi-cumi, kakap, udang dan ikan lainnya mengalami kenaikan.

Salah seorang pedagang ikan di Pasar Baru Kranggot Kota Cilegon, Tamrin, menuturkan harga ikan cumi yang awalnya Rp 15 ribu kini naik menjadi Rp 20 ribu, harga ikan kakap yang biasanya Rp 32 ribu kini naik menjadi Rp 37 ribu, dan harga udang laut yang biasanya Rp 16 ribu kini melonjak menjadi Rp 20 ribu. Supardi, pedagang ikan, juga mengamini hal yang sama.

Jika nelayan masih menggantungkan hidupnya pada cuaca baik, ada baiknya pemerintah membantu dengan memberikan pekerjaan sementara pada para nelayan saat cuaca buruk begini. Ini dimaksudkan agar istri dan anak mereka tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari sekalipun suami tidak bisa melaut. (*)

SIMUS DAN SIRAJUDIN DI KARANGHANTU

Karanghantu GadingKARANGHANTU – Di atas sebuah perahu yang terapung dan tertambat, dua lelaki sedang asyik berbincang. Saya ragu-ragu saat akan menghampiri dan menginjakkan kaki di atas perahu untuk ikut ngobrol. “Naek aja (ke perahu – pen), nggak apa-apa,” ujar salah seorang dari mereka sambil tersenyum. Gigi-gigi depannya yang sudah tanggal terlihat. Tapi senyumnya yang tulus membuat nyaman.

CUACA

Kedua lelaki itu adalah Simus (39) dan Sirajudin (80), nelayan di Karanghantu, Banten. Awalnya, saya agak ragu ketika akan mengajak mereka ngobrol—saat melihat perawakan Simus yang hitam dan besar. Apalagi saat melihat sebuah tato di lengan sebelah kanannya. Tapi ternyata kesan itu segera hilang saat ia menawarkan saya dengan ramah untuk tidak ragu-ragu naik ke perahu itu.

Hari itu, Minggu (15/11) Simus dan Sirajudin tidak melaut. Mereka memilih ngobrol di perahu yang bergerak-gerak kecil di atas air dekat jembatan Karangantu. “Cuacanya kurang bagus,” kata Sirajudin menjelaskan.

Selama beberapa minggu ini cuaca memang tidak mendukung mereka untuk berlayar. Cuaca yang berubah-ubah dari cerah ke hujan membuat mereka tidak berani melaut. Bukan karena takut, tapi karena mereka tidak mau merugi karena cuaca yang tidak pasti. Lagipula jumlah ikan hanya sedikit saat turun hujan.

“Sekarang memang cerah,” kata Sirajudin sambil menunjuk ke arah langit, “tapi nanti juga berubah mendung,” lanjut lelaki asli Bone, Sulawesi Selatan yang sudah sepuluh tahun menjadi nelayan ini. Sudah setengah bulan mereka tak melaut. Jika mereka memaksakan melaut dalam cuaca yang buruk, maka tentu saja kerugian yang akan diterima.

Untuk berlayar satu kali, yang biasanya memakan waktu satu hari, mereka membutuhkan banyak uang. Paling tidak mereka mesti mengeluarkan uang Rp 150 ribu untuk membeli solar, membayar karcis berlayar di polisi air, termasuk untuk bekal makanan, minuman, dan rokok selama berlayar. Belum lagi kalau saat melaut mengajak beberapa kawan untuk membantu.

Sirajudin mengaku jika mendapatkan Rp 300 ribu dari hasil menangkap ikan, maka untuk membayar semua keperluan makan, solar, dan yang lainnya hanya akan menyisakan unang bersih sekitar Rp 50 ribu! Apalagi jika pendapatan yang dia dapat kurang dari itu. Tapi pekerjaan yang mereka miliki hanya mencari ikan, melaut. Dan mereka mesti betah dengan profesi itu.

MANCING SEWA

Untungnya, selain mencari ikan, mereka juga memberikan jasa mengantar siapa saja yang ingin memancing. Orang-orang dari luar Karangantu seperti Rau, Ciceri, yang hobi memancing sering mempergunakan jasa mereka. Bahkan ada juga yang sampai menjadi pelanggan perahunya. Dari sinilah tambahan masukan untuk menghidupi keluarga didapat. “Kalau lagi rame bisa sampe satu juta sebulan penghasilannya,” cerita Simus semangat. Tapi setiap uang yang ia dapat mesti ia setorkan setengahnya kepada Agus, pemilik perahu. Istilahnya, Simus hanya sebagai “supir” di perahu Agus yang mesti setor tiap kali “narik”.

Karena mereka yang suka memancing itu sering datang, beberapa nelayan memiliki langganannya dari orang-orang pecinta mancing itu. Jadi kalau para pemancing itu sudah datang biasanya mereka langsung menaiki perahu langganannya dan melaju menuju tujuan. Tapi para pemancing itu biasanya hanya datang saat hari Sabtu atau Minggu di saat weekend. Hanya sebagai pengobat setres saja mungkin dari pekerjaan selama lima harinya.

Hari sudah siang. Simus masih belum melaut padahal hari Minggu. Sirajudin sudah lebih dulu pulang dan meninggalkan kami. Saat saya pamit pulang, Simus masih duduk-duduk di tepi perahu dan menggoyang-goyangkan kakinya yang tergantung di atas air. Entah apa yang ia pikirkan. (Gading Tirta)

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010