<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; Membaca</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/tag/membaca/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 14:19:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>CIPANAS IQRA, GEMPA LITERASI MENUJU INDONESIA MEMBACA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/28/cipanas-iqra-gempa-literasi-menuju-indonesia-membaca/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/28/cipanas-iqra-gempa-literasi-menuju-indonesia-membaca/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 18:16:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[iqra]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[Membaca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3446</guid>
		<description><![CDATA[LEBAK–Kegiatan “Gempa Literasi: Cipanas Iqra”  di Kampung Cipanas, Desa Cipanas, Kecamatan Cipanas-Lebak, Sabtu (27/2) pukul 09.00 WIB sukses dibuka oleh Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah. Wakaf buku terkumpul 150 buku dari Rumah Dunia, 50 buku dari warga Cipanas, uang tunai Rp. 3.000.000 dari Wakil Bupati Lebak dan Rp. 150.000 dari Bela Adikarya, anggota DPRD Lebak. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Panas.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3449" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Panas.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a>LEBAK–Kegiatan “Gempa Literasi: Cipanas Iqra”  di Kampung Cipanas, Desa Cipanas, Kecamatan Cipanas-Lebak, Sabtu (27/2) pukul 09.00 WIB sukses dibuka oleh Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah. Wakaf buku terkumpul 150 buku dari Rumah Dunia, 50 buku dari warga Cipanas, uang tunai Rp. 3.000.000 dari Wakil Bupati Lebak dan Rp. 150.000 dari Bela Adikarya, anggota DPRD Lebak. Gempa literasi pun terasa menggoncang Lebak hingga kekuatan skala 26 HA (huruf alphabet).</p>
<p><strong>FORUM TBM</strong><strong> </strong></p>
<p>Sejak pukul 09.00 WIB Kampung Cipanas yang berada di jalur Rangkasbitung–Jasinga, Bogor, terasa hangat dengan nyanyian dan gerak tubuh para santri dari Ponpes Nurul Madaany, dari Babakan Pedes, Sipayung-Cipanas. “Kampung Cipanas akan dicatat dalam sejarah perpustakaan yang dikelola masyarakat atau jadi pelopor dalam gerakan taman bacaan masyarakat Indonesia, dengan mengawali gempa literasi ini,” Gol A Gong, Ketua Umum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia, pada saat memberi sambutan.</p>
<p>Kata Gong, “Cipanas Iqra bagian dari program besar Taman Bacaan Masyarakat Indonesia, yaitu ‘gempa literasi’. Dan Cipanas adalah titik gempa literasi pertama. Ini bukan gempa yang menghancurkan, tapi gempa yang akan membangun, menuju Cipanas membaca terus ke Banten mambaca, dan meluber ke Indonesia Membaca.”</p>
<p><strong>AGEN</strong><strong></strong></p>
<p>Selain wakaf buku, di Cipanas Iqra juga diadakan peresmian sekretariat Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas (IKMC) sekaligus <em>launching</em> taman bacaan masyarakat “Kosala Library”. Untuk peresmian sekretariat IKMC dan Peluncuran Kosala Library sendiri dilakukan oleh Wakil Bupati Lebak Ir. H. Amir Hamzah. Dalam sambutannya, Amir  berharap, “Kosala Library harus menjadi tempat mencari ilmu. Dan IKMC bisa menjadi agen perubahan.”  Amir mengingatkan, bahwa Jasinga yang menjadi tetangga Cipanas sudah diagendakan jadi Kabupaten Bogor Barat. “Jadi, kehadiran ‘Kosala Library’ sangat tepat, karena melengkapi potensi Cipanas yang sudah ada, yaitu arena motor cross, off road, arung jeram sungai Ciberang, dan pemandian air panas.”</p>
<p>Ditemui usai acara, Ahmad Arif, selaku ketua IKMC menjelaskan, “Kosala Library  membuka kursus menulis cerpen, novel, sekenario film bersama Gol A Gong.  Setiap Selasa, Rabu dan Kamis. Juga diskusi mingguan, kajian bulanan, dan sanggar dongeng anak,” kata Arif menginginkan keberadaan “Kosala Library” bisa diterima masyarakat Cipanas dan memacu kreativitas anak-anak.</p>
<p>Dalam acara itu hadir pula camat  Cipanas, H. Sukandi Mangku Alam, DPRD Lebak, Bela Adikarya, Asep Sukmara selaku Ketua (UPTD) Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan, Ade Mujhaerimi dari Komisi Transparasi dan Partisipasi, perwakilan Ponpes Daur El-Irfan, Tokoh masyarakat Cipanas, Kepala Sekolah SD dan SMA  Cipanas, serta mahasiswa IKMC.  Gempa Literasi Cipanas Iqra ini terselenggara berkat support Rumah Dunia, Suhud Media Promo, Banten Raya Post, IKMC, Nurul Madaany, Himpunan Keluarga Muda-mudi Kampung Lurah, dan Forum Lingkar Pena Lebak.( Ahmad Wayang)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/28/cipanas-iqra-gempa-literasi-menuju-indonesia-membaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TBM PERMADANI: HIDUP SUKSES DENGAN MEMBACA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/22/tbm-permadani-hidup-sukses-dengan-membaca/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/22/tbm-permadani-hidup-sukses-dengan-membaca/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 03:40:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Membaca]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3428</guid>
		<description><![CDATA[ 

Taman bacaan masyarakat (TBM) Permadani, yang dalam akronimnya Perempuan Maju dan Mandiri, menggelar Talkshow dan Launching Bulan Membaca TBM Permadani di aula Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Minggu (21/2) sekitar pukul 08.00 WIB.
Karena pendiri TBM Permadani seorang perempuan, Erna Yuliawati, S.Pdi, beserta 17 anggotanya yang semuanya adalah para kaum perempuan, maka tak aneh TBM Permadani [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/TBM_3.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3429" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/TBM_3.jpg" alt="" width="500" height="354" /></a></p>
<p>Taman bacaan masyarakat (TBM) Permadani, yang dalam akronimnya Perempuan Maju dan Mandiri, menggelar Talkshow dan Launching Bulan Membaca TBM Permadani di aula Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Minggu (21/2) sekitar pukul 08.00 WIB.</p>
<p>Karena pendiri TBM Permadani seorang perempuan, Erna Yuliawati, S.Pdi, beserta 17 anggotanya yang semuanya adalah para kaum perempuan, maka tak aneh TBM Permadani mempunyai visi: ingin mewujudkan perempuan cerdas, maju dan mandiri dalam menjalankan kehidupan, dan misinya: untuk meningkatkan kompetensi perempuan, membela dan menegakkan hak-hak perempuan, dan mendukung pemberdayaan serta pencerdasan perempuan. Acara itu juga di hadiri oleh peserta yang didominasi  ibu-ibu atau permpuan. “Sebenarnya kita sudah mengundang dari Ormas-ormas di Serang, kepala Desa, sekolah-sekolah, TBM dan Kaporles,” kata Iin Indasari, S.Pdi, selaku koordinator TBM Permadani.</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/TBM_2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3430" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/TBM_2.jpg" alt="" width="300" height="209" /></a>Acara launching di buka oleh Kepala Dindik Kota Serang, Drs. H. Hafidi ZA. M.M, yang kali ini diwakili oleh kepala seksi bidang Keaksaraan dan Kesetaraan, Oman Solihin, S.Sos., MM., yang sangat mendukung gerakan yang diselenggarakan TBM Permadani ini. Acara berlanjut pada diskusi yang bertemakan “Hidup Sukses Dengan Membaca”. Dengan tiga pembicara. H. Embay Mulya Syarif selaku pengusaha sukses, Tuti Alawiyah, aktivis perempuan dan Firman Venayaksa sebagai wakil dari Forum TBM pusat.</p>
<p>Dalam diskusinya, Firman menerangkan perihal TBM bahwa dalam menumbuhkan minat baca, harus diawali dengan kebiasaan membaca, kemampuan membaca sampai akhirnya membudayakan membaca. Tahun 2010 ini, kata Firman, buta aksara di Serang mencapai 2.150-an yang kebanyakan dari usia 45 ke atas. Dia juga menerangkan bahwa pentingnya keberadaan TBM itu. “Jangan sampai setelah mengadakan launching semacam ini, besoknya atau beberapa bulan kemudian TBM Permadani menghilang, atau tidak ada kabarnya lagi. Karena itu yang sering terjadi pada TBM-TBM yang ada di Indonesia saat ini mencapai tujuh ribuan lebih TBM. Hanya mengadakan launching saja, tapi tidak ada kelanjutannya. Semoga TBM Permadani tidak seperti itu, ya,” kata Firman menghimbau.</p>
<p>Tuti Alawiyah, mengatakan membaca bagi seorang ibu itu sangat penting agar tidak ketinggalan zaman. “Ibu-ibu itu harus lebih pintar dari bapak. Karena ibu yang mengurus anak dan mengatur sistem uang keluarga harus mempunyai pengetahuan yang lebih. Kan bisa repot jika kita tidak bisa mengurus rumah tangga dan anak.” Terang Tuti. Lanjatnya, kata Tuti meski seorang ibu selalu sibuk dengan di dapur, tapi tidak mesti meninggalkan aktivitas membaca. Membaca dari mana saja. “Bisa dari bungkus koran belanjaan atau resep-resep masakan di majalah. Jangan ada alasan membaca tidak ada waktu. Repot. Tidak keburu dan sebagainya. Tapi, giliran nonton sinetron paling depan dan lama. Boleh nonton tivi, tapi kita harus bisa menimbangnya. Mana yang baik dan mana yang membuang-buang waktu. Kita itu harus pintar memilih tontonan yang bagus dan bermanfaat,” katanya penuh semangat dan lantang.</p>
<p>Masuk pada pemateri ketiga, H. Embay yang memang pengusaha sukses menjelaskan atau berbagi pengalaman tentang ilmu wirausaha yang dimilikinya. “Ibu mau sukses?” kata Embay. Dengan serempak ibu-ibu pun menjawab “Mau!”. “Kalau mau sukses belajar dan banyak membaca,” katanya kemudian. Embay lalu mengutip hadist Nabi yang berbunyi, <em>‘Barang siapa yang ingin sukses di dunia harus dengan ilmu, barang siapa yang ingin sukses di akhirat harus dengan ilmu, dan barang siapa yang ingin sukses dunia dan akhirat harus dengan ilmu’</em>. Lebih jauh, Embay mengatakan jika ingin sukses, tiru saja orang-orang sukses. Tiru Nabi Muhammad, bagaimana cara Nabi berdagang. “Modal awalnya cuma jujur, Al-Amin (yang dapat dipercaya). Teladani Rosul kita, keuletannya, keteladanannya, serta kasih sayangnya pada umatm” katanya panjang lebar. Dan sukses itu tidak hanya di dunia, tapi harus dunia dan akhirat. “Tidak ada jalan lain menuju kesuksasan kecuali dengan ilmu, membaca dan terus belajar.” Tandasnya.</p>
<p>Setelah acara diskusi Talkshow dan Launching Bulan Membaca TBM Permadani: Hidup Sukses Dengan Membaca berakhir, sekitar pukul 13.00 WIB. Menurut Erna, acara diskusi semacam ini akan terus diselenggarakan setiap bulannya. “Intinya, Permadani ingin memajukan kaum perempuan. Karena buta aksara terbesar di dominasi oleh perempuan. Karena perempuan adalah tiangnnya negara,” kata Erna ditemui saat acara usai.[Ahmad Wayang]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/22/tbm-permadani-hidup-sukses-dengan-membaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MTsN CILEGON WORKSHOP DONGENG</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/28/mtsn-cilegon-workshop-dongeng/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/28/mtsn-cilegon-workshop-dongeng/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 09:40:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[formal]]></category>
		<category><![CDATA[Membaca]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3105</guid>
		<description><![CDATA[SERANG- Salah satu manfaat mendongeng adalah penyampaian pesan moral. Selain itu jika dalam keluarga terbiasa mendongeng, maka anak dan orang tua akan menjadi akrab. Hal itu diungkapkan RG. Kedung Kaban, pendongeng Rumah Dunia, di hadapan sekitar 239 siswa-siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Cilegon yang berkunjung ke Rumah Dunia (RD) pada Rabu (27/1) dalam rangka Studi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3106" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/23.jpg"><img class="size-medium wp-image-3106" title="2" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/23-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">RG. Kedung Kaban saat mendongeng</p></div>
<p>SERANG- Salah satu manfaat mendongeng adalah penyampaian pesan moral. Selain itu jika dalam keluarga terbiasa mendongeng, maka anak dan orang tua akan menjadi akrab. Hal itu diungkapkan RG. Kedung Kaban, pendongeng Rumah Dunia, di hadapan sekitar 239 siswa-siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Cilegon yang berkunjung ke Rumah Dunia (RD) pada Rabu (27/1) dalam rangka Studi Observasi Lapangan (SOL). Pada kesempatan itu, pihak MTsN meminta diadakan pembelajaran mendongeng sekaligus praktek mendongeng dari Rumah Dunia yang akan dibawakan oleh RG. Kedung Kaban, salah satu relawan Rumah Dunia yang sudah empat tahunan menggeluti dunia dongeng.</p>
<p>Dalam sambutannya,  Utar Sunandar, S.Pd, guru pembimbing SOL, lembaga pendidikan itu ada yang formal ada juga yang non formal. Salah satu lembaga pendidikan non formal adalah Rumah Dunia.  “Ilmu itu tidak hanya ada di dalam Sekolah saja, tapi di dunia luar juga ada, seperti Rumah Dunia ini,” ujarnya. Utar juga mengatakan, kunjungannya ke RD, selain sebagai target kurikulum SOL, juga ingin mengenal apa itu Rumah Dunia dan apa saja kegiatan di dalamnya.</p>
<p>Pada kesempatan itu, Presiden Rumah Dunia Firman Venayaksa, memberikan sambutannya di depan siswa-siswi. Ia menjelaskan awal berdiri Rumah Dunia dengan gaya mendongeng, “Pada suatu hari kala.. ada seorang pemuda yang gelisah memikirkan Banten. Pemuda itu bernama Gol A Gong. Maka dia pun bersama sang istri dan sahabatnya mendirikan Rumah Dunia hingga sekarang,” ujar Firman yang sontak membuat anak-anak serius mendengarkannya. Selain mendapatkan materi dongeng, mereka juga disuguhkan film documenter Rumah Dunia.</p>
<p>Terkait dengan banyak jumlah peserta, maka Rumah Dunia membagi mereka ke dalam dua kelompok yang juga diamini pihak MTsN Cilegon. Seperti yang diungkapkan Muhzen Den, penanggung jawab acara dari Rumah Dunia. “Dari jumblah 239 siswa dan siswi MTsN Cilegon itu tidak semuanya di tamping bersamaan. Mereka dibagi dua kelompok. Kelompok satu dari Pukul 08.00 sampai Pukul 09.30, terus disambung kelompok dua dari Pukul 11.00 sampai Pukul 13.00,” ujar Muhzen Den.</p>
<p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_3107" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><strong><strong><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/31.jpg"><img class="size-medium wp-image-3107" title="3" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/31-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></strong></strong><p class="wp-caption-text">Peserta serius menyimak dongeng</p></div>
<p><strong>Malu dan Seru</strong></p>
<p>Tidak hanya RG, panggilan akrab RG. Kedung Kaban, yang becerita atau menjelaskan tentang materi dongeng, pelajar juga diminta untuk aktif bertanya. Nova Sridamayanti (14), siswi kelas VII terlihat ragu-ragu dan malu saat dipanggil RG untuk maju membacakan ceritanya. Saat ditanya selepas membacakan atau mendongeng, Nova yang tinggal di Kampung Martaputra Kecamatan Jombang Kota Cilegon ini mengaku deg-deng-an. “Gerogi. Malu,” katanya kemudian. Berbeda dengan M. Firman, siswa kelas VII ini terlihat aktif bertanya dan tidak malu. Firman dengan semangatnya membacakan karya cerita yang dibacakannya. Menurut Firman, dongeng itu suatu kesenangan. “Kita bisa punya banyak teman dengan mendongeng, dan bisa kenal sama Kakak relawan (RG-red) yang pinter mendongeng,” kata Firman yang mengaku hobi membaca komik Naruto.</p>
<p>Menyikapi suasana seperti ini, Firman mengaku sangat senang sekali. Lokasi Rumah Dunia membuat suasana belajar jadi berbeda dan bertambah semangat. “Belajar di sini seru. Bisa ketawa-ketawa. Seneng rasanya. Rumah Dunia kaya bioskop. Sangat bagus,” kata pelajar yang baru berumur 12 tahun ini mantap. [Ahmad Wayang]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/28/mtsn-cilegon-workshop-dongeng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ABDUL SALAM:  SABET BEASISWA BEBAS SPP 4 BULAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/20/abdul-salam-sabet-beasiswa-bebas-spp-4-bulan/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/20/abdul-salam-sabet-beasiswa-bebas-spp-4-bulan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 15:12:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Star]]></category>
		<category><![CDATA[beasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Membaca]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[telat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3011</guid>
		<description><![CDATA[SABET BEASISWA BEBAS SPP
Oleh Harir Baldan
Pernahkah kamu mendapat penghargaan di sekolahmu? Kalau belum tidak perlu cemas ataupun panik. Biasanya, beasiswa diberikan pada pelajar berprestasi atau tidak mampu. Tapi kini, penghargaan itu bisa diraih karena menulis berita, cerpen, dan puisi. Sperti yang dialami Abdul Salam. HS., siswa SMP PGRI 1 Serang. Ingin tahu ceritanya lebih lengkap? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/sal.jpg"><img class="size-medium wp-image-3012 alignleft" title="sal" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/sal-224x300.jpg" alt="" width="224" height="300" /></a>SABET BEASISWA BEBAS SPP</p>
<p>Oleh Harir Baldan</p>
<p>Pernahkah kamu mendapat penghargaan di sekolahmu? Kalau belum tidak perlu cemas ataupun panik. Biasanya, beasiswa diberikan pada pelajar berprestasi atau tidak mampu. Tapi kini, penghargaan itu bisa diraih karena menulis berita, cerpen, dan puisi. Sperti yang dialami Abdul Salam. HS., siswa SMP PGRI 1 Serang. Ingin tahu ceritanya lebih lengkap? Simak terus tulisan ini.</p>
<p>DITITIPKAN DI RUMAH DUNIA</p>
<p>Salam lahir dari pasangan H. Husni dan Hj Sherina. Ia adalah anak ke-5 dari enam bersaudara. Saat Salam lulus dari bangku SMP, keluarganya bimbang untuk mencarikan sekolah yang tepat untuknya. Kedua orangtuanya pun khawatir akan keselamatan Salam. “Dulu saya sempat mau dititipkan di masjid sebagai marbot (penjaga masjid-red). Tapi karena masih kecil, orangtua kuatir dengan kesehatan saya,” ujar Salam. Untungnya sang kakak, Rahmat Heldy H.S yang biasa disapa Rahel, kenal akrab dengan Gol A Gong pendiri Rumah Dunia. Akhirnya Salam yang kini berusia 17 tahun ini dititipkan di Rumah Dunia pada pertengahan Juni 2008.</p>
<p>Memilih sekolah pun sempat jadi perbincangan keluarga. Selain permasalahan biaya, waktu belajar pun jadi pilihan. “Awalnya mau ke MAN 2 Serang. Tapi karena jam belajarnya lama kakak saya (Rahel-red) lebih menganjurkan ke SMA PGRI 1 Serang. Alasannya lebih dekat, tidak memakan waktu di sekolah dan ada teman dari Rumah Dunia, “ pungkasnya.</p>
<p>ANAK PEMALU</p>
<p>Ketika awal-awal di Rumah Dunia, Salam mengaku sangat pemalu. Jangankan untuk bertanya saat diskusi, bertutur sapa dengan sesama relawan, atau tamu saja ia merasa malu. Apalagi tamunya perempuan. “Dulu saya pemalu banget saat disuruh bicara. Sekarang saya berani bahkan lebih banyak bicara,” kata remaja asal kampung Bojong, Waringin Kurung, Serang ini. Baru setahun setengah di Rumah Dunia, dampaknya sudah bisa dirasakan oleh lelaki kelahiran 16 Juni 1992 ini. Salam yang dulu dikenal kalem, pendiam, dan kuper, kini berubah 180 derajat. Di Rumah Dunia dia bisa mengakses buku-buku dengan gratis dan belajar apa saja terutama ilmu menulis: jurnalistik, cerpen, dan puisi.</p>
<p>Selain menulis, Salam bisa berteman dan berkenalan dengan siapa saja. Semakin banyak orang yang dia temui semakin banyak pula ilmu dan pengalaman yang dia dapatkan. Rasanya kurang lengkap bila bicara kemampuan tanpa dipadukan dengan bukti yang nyata<em>.</em> Ya, karya tulisnya pernah dimuat di media lokal: Essai-nya di Tabloid Kaibon, Puisi dan cerpen-nya di Radar Banten, Fajar Banten, dan Tribun Tangerang. Bahkan tulisannya dimuat media nasional; Annida online, Kompas.com, dan rumahdunia. com. Maka sangat wajar jika teman-teman sekelas dan gurunya membicarakan lelaki pemenang ke-2 Gebyar Bahasa Sastra Indonesia 2008 di Untirta, Serang ini. Dan klimaksnya, pada Sabtu (2/1/10) pekan lalu dia masuk sepuluh besar siswa yang meraih prestasi non akademik di kelasnya. Salam adalah salah satu siswa dari 80 murid SMA PGRI 1 Serang yang meraih Bantuan Keuangan Murid Miskin (BKMM) dari Dinas Pendidikan Provinsi Banten. “Uang itu dialokasikan untuk bayar SPP selama 4 bulan,” kata Salam. Profesinya bertambah sejak 1 November 2009 lalu, selain pelajar SMA PGRI 1 Serang, dia juga termasuk salah wartawan Rumah Dunia.com.</p>
<p>TERUS BERKARYA</p>
<p>Salam tumbuh dari keluarga yang sederhana. Kendati begitu, dia tidak mudah putus asa dalam berkarya. Kemampuannya dalam berbicara pun diakui oleh gurunya, Ida Faridah. “Meski terkadang ia jarang masuk kelas, Salam sebenarnya rajin dan saya mengakuinya dia punya kelebihan dalam berbicara,” terang guru PPKN ini.  Masih menurutnya, semoga dengan meraih Beasiswa Bantuan dari pemerintah ini bisa menambah semangat belajarnya.Apa yang dituturkan Ida Faridah semoga dipegang teguh Abdul Salam. “Tetap terus berkarya,” ujarnya singkat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/20/abdul-salam-sabet-beasiswa-bebas-spp-4-bulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SAYUTI: MEMBACA ITU KEBUTUHAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/18/sayuti-membaca-itu-kebutuhan/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/18/sayuti-membaca-itu-kebutuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 13:50:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Star]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>
		<category><![CDATA[juara]]></category>
		<category><![CDATA[Membaca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2963</guid>
		<description><![CDATA[MEMBACA ITU KEBUTUHAN
Oleh: Harir Baldan
Perkenalkan namaku Sayuti Zakariya (27). Aku anak semata wayang dari pasangan Zakariya dan Fatmawati. Sejak kecil aku sudah terbiasa hidup mandiri. Kemandirianku semakin terasa ketika bapakku meninggalkan ibu dan aku tanpa ada kejelasan. Otomatis semua kebutuhan keluarga dan sekolah aku yang menanggungnya sendiri. Peristiwa itu tepatnya  waktu SMP, aku nyambi kerja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MEMBACA ITU KEBUTUHAN</p>
<p>Oleh: Harir Baldan</p>
<div id="attachment_2964" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/21.jpg"><img class="size-medium wp-image-2964" title="21" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/21-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Sayuti sang Duta Change With Reading</p></div>
<p>Perkenalkan namaku Sayuti Zakariya (27). Aku anak semata wayang dari pasangan Zakariya dan Fatmawati. Sejak kecil aku sudah terbiasa hidup mandiri. <span id="more-2963"></span>Kemandirianku semakin terasa ketika bapakku meninggalkan ibu dan aku tanpa ada kejelasan. Otomatis semua kebutuhan keluarga dan sekolah aku yang menanggungnya sendiri. Peristiwa itu tepatnya  waktu SMP, aku nyambi kerja di pencucian mobil hingga berlanjut ke SMA. Ternyata kesibukanku ini banyak menyita waktu dan pikiran. Bahkan untuk belajar saja aku jarang apalagi membaca paling sekedar hanya saja.</p>
<p><strong>Penjual Klontong</strong></p>
<p>Pada tahun 2004 aku melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAISMAN) Cabang Pandeglang di Cilegon. Namun lagi-lagi soal ekonomi yang membuatku terhalang. Dalam kurun waktu dua tahun lebih, rutinitas kuhabiskan untuk berkerja. Salah satunya berjualan barang-barang klontong; gayung, sikat, celengen, penggilesan, ember, bak, baskom, dan lain-lain selama tiga bulan. Akhirnya pada tahun 2007 aku kembali menduduki kursi kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Citangkil, Cilegon. Karena kompetisi di kampus sangat dasyat, alhasil, membaca bukan lagi sekedar hobi tapi karena tuntutan kebutuhan. Apalagi kini aku menggeluti dua profesi; Kuliah sambil mengajar di Madrasah Diniyah Kubang Sari 1 Cilegon.</p>
<p>Sehari aku bisa meraup satu buku bacaan ukuran kecil. Aku lebih suka buku-buku fiksi, motivasi, ilmiah dan Islami. Karena gemar membaca, maka hobiku bertambah yaitu nulis artikel dan puisi. Aku menulis artikel terinspirasi dari buku karya Totok Djuroto, M. Si, dan Bambang Supriyadi, M. Si, tentang penulisan artikel dan karya ilmiah. Sedangkan puisi aku curahkan apa yang ada dalam pikiran saja. Berawal dari hal inilah aku kenal dengan Pak Saiful Bahri, tetanggaku, yang kini menjabat sebagai ketua KPU Cilegon.</p>
<p><strong>Menjadi Duta CwR</strong></p>
<p>Aku kenal Rumah Dunia lewat cerita Pak Saiful. Nah, ketika Rumah Dunia mengadakan lomba duta “Change With Reading”, Sabtu (9/1) lalu, aku tertarik untuk mengikuti kompetisi tersebut, kendati di dunia tulis menulis karyaku belum pernah “nyantol” alias belum pernah diterbitkan sama sekali. Dan luar biasanya, aku terpilih sebagai pemenang duta CWR untuk tingkat perguruan tinggi. Harapanku semoga melalui Rumah Dunia Change With Reading bisa dilaksanakan kembali. Sedangkan visiku adalah membuat komunitas baca Mahasiswa di Cilegon dan mengembangkannya. Rumah Dunia sudah membuktikannya kini semoga Pemerintah Provinsi serius membasmi buta aksara di Banten ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/18/sayuti-membaca-itu-kebutuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BACA MAKALAH SEBELUM DISKUSI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/17/baca-makalah-seblum-diskusi/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/17/baca-makalah-seblum-diskusi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 16:33:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Makalah]]></category>
		<category><![CDATA[Membaca]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2946</guid>
		<description><![CDATA[Membaca makalan dan menguasai apa yang didiskusikan adalah hal yang lumrah di Rumah Dunia agar diskusi hidup dan semarak. Hal ini juga berlaku saat diskusi Lebak Membara di Rumah Dunia pada Sabtu (11/1/10). Nampak peserta khusyuk membaca makalah milik Rahmat Heldy, HS., sang pembedah buku Lebak 181 Tahun Bara Menjadi Daya. [Teks: Langlang/ Foto: Muhzen]
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/lebak_10.jpg"><img class="size-medium wp-image-2947 alignleft" title="lebak_10" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/lebak_10-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Membaca makalan dan menguasai apa yang didiskusikan adalah hal yang lumrah di Rumah Dunia agar diskusi hidup dan semarak. Hal ini juga berlaku saat diskusi Lebak Membara di Rumah Dunia pada Sabtu (11/1/10). Nampak peserta khusyuk membaca makalah milik Rahmat Heldy, HS., sang pembedah buku Lebak 181 Tahun Bara Menjadi Daya. [Teks: Langlang/ Foto: Muhzen]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/17/baca-makalah-seblum-diskusi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>UDIN ANGKOT BACA PUISI LEBAK MEMBARA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/17/udin-angkot-baca-puisi-lebak-membara/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/17/udin-angkot-baca-puisi-lebak-membara/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 14:11:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Angkot]]></category>
		<category><![CDATA[Lebak]]></category>
		<category><![CDATA[Membaca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2899</guid>
		<description><![CDATA[Udin Angkot, pemenang lomba baca puisi wong cilik,  sebelum acara Lebak Membara, Sabtu (16/1/10) di Rumah Dunia. Udin sempat memukau hadirin kerana dia adalah bukan seorang penyair tetapi seorang supir angkot. Jika ingin bertemu dengan Udin, silahkan cari angkot Serang-Pandeglang bertuliskan &#8220;Gola Gong The Power Man&#8221;  [Foto: Langlang]
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Lebak_7.jpg"><img class="size-medium wp-image-2901 alignleft" title="Lebak_7" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Lebak_7-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Udin Angkot, pemenang lomba baca puisi wong cilik,  sebelum acara Lebak Membara, Sabtu (16/1/10) di Rumah Dunia. Udin sempat memukau hadirin kerana dia adalah bukan seorang penyair tetapi seorang supir angkot. Jika ingin bertemu dengan Udin, silahkan cari angkot Serang-Pandeglang bertuliskan &#8220;Gola Gong The Power Man&#8221;  [Foto: Langlang]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/17/udin-angkot-baca-puisi-lebak-membara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LEBAK MEMBARA DI RUMAH DUNIA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/17/lebak-membara-di-rumah-dunia/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/17/lebak-membara-di-rumah-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 10:37:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laporan Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Lebak]]></category>
		<category><![CDATA[Membaca]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Provinsi Banten]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2884</guid>
		<description><![CDATA[Berbicara Lebak di Banten adalah berbicara sejarah Indonesia dan juga dunia. Sejarah mencatat bahwa ada kisah-kisah heroik dan fenomenal di Lebak. Termasyhur adalah sosok Multatuli dan roman cinta Saija dan Adinda yang juga melegenda tak hanya di Indonesia melainkan juga di luar negeri. Perdebatan isi buku fiksi yang ditulis Multatuli; Max Havelaar, pun tak kalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2885" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/LE3.jpg"><img class="size-medium wp-image-2885" title="LE3" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/LE3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Udin Angkot membacakan puisi sebelum diskusi dimulai</p></div>
<p>Berbicara Lebak di Banten adalah berbicara sejarah Indonesia dan juga dunia. Sejarah mencatat bahwa ada kisah-kisah heroik dan fenomenal di Lebak. Termasyhur adalah sosok Multatuli dan roman cinta Saija dan Adinda yang juga melegenda tak hanya di Indonesia melainkan juga di luar negeri. Perdebatan isi buku fiksi yang ditulis Multatuli; Max Havelaar, pun tak kalah sengit hingga hari ini. Ibarat arena pertinjuan, di sudut merah, Multatuli dianggap pahlawan oleh sebagian masyarakat cerdik pandai karena telah menuliskan bahwa telah terjadi penindasan pribumi yang dilakukan Adipati Kertanegara pada masa penjajahan Belanda. Sementara di sudut biru, tetap saja Multatuli adalah penjajah yang telah menyengsarakan masyarakat Indonesia. Lebih sempit adalah masyarakat Lebak.</p>
<p>Selain hal itu, adalah sebuah fakta kebanggaan sejarah, manakala presiden RI pertama, Soekarno, pernah menginjakkan kakinya di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Belum lagi persoalan Jawara yang tentunya tetap menjadi ciri khas Banten juga tercatat dalam sejarah Lebak masa lalu. Lebak kian membara, kian juga mempesona.</p>
<p>Lalu sekitar tahun 1996, ban-ban kendaraan motor di Lebak masih harus dililit dengan rantai. Hal itu menampakkan bara semangat bekerja masyarakat Lebak tetap membara meski jalanan saat itu masihlah bertanah dan siap menggelincirkan pengguna jalan jika musim hujan tiba. Anak-anak kampung lebih tertarik menjadi kuli cangkul di sawah dengan bayaran Rp. 1500 perhari dari pada melanjutkan sekolah. Sementara segelintir mahasiswa harus bergelantungan di atas gerbong kereta api untuk menjemput cita-citanya sebagai satu-satunya akses yang paling murah dan tercepat demi cita-cita. Bagaimanakah kabar Lebak saat ini?</p>
<p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_2886" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><strong><strong><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/LE.jpg"><img class="size-medium wp-image-2886" title="LE" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/LE-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></strong></strong><p class="wp-caption-text">Para pembicara dalam Lebak Membara</p></div>
<p><strong>BEDAH BUKU</strong></p>
<p>Rumah Dunia mencoba menghadirkan semangat sejarah itu kembali dengan cara membedah sebuah buku berjudul Bara menjadi Daya dalam diskusi bertajuk Lebak Membara pada Sabtu (16/1) di Plaza Rumah Dunia. Buku yang di-editori oleh Firman Venayaksa dan Fitron Nur Ikhsan ini sejatinya adalah kado ulang tahun bagi pemerintah Kabupaten Lebak yang ke-181. Di dalamnya terdapat kumpulan tulisan warga Lebak, dan warga luar Lebak tetapi peduli pada Lebak, dari berbagai lapisan masyarakat mulai mahasiwa, aktivis, guru, ulama, dan juga pejabat, yang membicarakan dengan sudut pandangnya masing-masing.</p>
<p>Sebagaimana yang dikatakan oleh sang Editor Fitron, buku ini mencoba menyuguhkan kejujuran masyarakat Lebak. Jujur dalam menyingkap keburukan dan jujur dalam mengakui kemajuan Lebak saat ini. “Kami selaku editor merasa berat ketika diamanahi menggawangi buku ini. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana caranya persoalan data pembangunan bisa disulap menjadi buku yang enak dibaca,” ujar Fitron. “Meski demikian, kami berusaha agar buku ini hadir dengan objektiv sebagai wujud masyarakat Lebak yang merasa memiliki bukan sekedar menikmati,” imbuh alumni IAIN Banten ini.</p>
<p>Hadir dalam kesempatan itu pemuda Lebak Aminudin Hidayat, ketua Kubah Budaya Agus Iryana, penyair Banten Rahmat Heldy, HS., dan salah satu editor Fitron Nur Ikhsan. Selain itu juga, sebagai “Bintang Tamu” Rumah Dunia menghadirkan Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah selaku pengambil kebijakan pemerintah Kabupaten Lebak.</p>
<p>Sebagai pembicara paling muda, Agus Iryana diberi kesempatan lebih dulu menyampaikan curhat dan gagasannya terhadap Lebak yang juga merupakan kota kelahirannya. Bagi Agus, Lebak saat ini sudah mulai berbenah dan bersolek. Jalan-jalan sebagian licin oleh aspal, meski belum mereta hingga ke peloksok. Agus juga mengomentari persoalan sikap terbukanya pemerintah Lebak terhadap para Investor. “Saya hanya berharap kepada pemkab Lebak, saat pemerintah melakukan investasi pembangunan infrastruktur maka ada dua hal perlu diperhatikan,” ujar alumni Diksatrasia Untitra ini. “Pertama kondisi masyarakat dan kondisi lingkungan. Masyarakat harus cerdas dulu dan lingkungan pun mendukung. Jangan sampai penduduk sekitar hanya jadi penonton. Pendidikan itu yang lebih penting,” imbuh Agus.</p>
<p>Senada dengan apa yang dikatakan Agus, Rahmat Heldy yang saat ini merupakan guru di Kecamatan Waringin Kurung, Serang, memfokuskan pemaparannya juga pada wilayah pendidikan di Lebak. Hasil dari analisisnya dari sekian banyak tulisan yang ada di buku itu, Rehel, begitu ia akrab disapa, menyimpulan kegelisahan para penulis akan masalah pendidikan. “Jika saya cermati maka, 75% ketertinggalan Lebak ada pada masalah pendidikan,” ujarnya. “Hal ini sebenarnya ironis, mengingat Lembaga Peningkatan Mutu Pendidikan (LPMP) Banten berada di Lebak,” imbuhnya mantap.</p>
<div id="attachment_2887" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/LE2.jpg"><img class="size-medium wp-image-2887" title="LE2" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/LE2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Peserta antusias mengikuti lomba</p></div>
<p>Lebih tajam hal itu dipaparkan lebih detail oleh pemuda lebak Aminudin Hidayat yang sukses sebagai penguasaha di Jakarta. “Kita harus bergembira karena Lebak sudah memperhatikan infrastruktur, dan kalau bicara infrastruktur maka dibutuhkan orang yang bisa merawatnya. Untuk bisa merawat, maka dibutuhkan SDM unggul. Maka pendidikan menjadi sangat penting dalam hal ini,” ujar Amin yang mengaku pernah menjadi kondektor bus di Jakarta ini.</p>
<p><strong>KOTA</strong><strong> PENDIDIKAN</strong></p>
<p>Mengutip perkataan ‘Umar ibn Khattab, hidup itu harus terencana. Jika hidup tak punya rencana, maka kita harus malu kepada Allah Swt. Selanjutnya jika kita sudah berencana kemudian gagal, maka kita bangga kepada Allah Swt. Pemerintah yang mempunyai visi ke depan. Pemerintah yang mempunyai  rencana-rencana yang tak dipikirkan rakyat, itulah yang sedang dilakukan oleh pemkab Lebak. Berencana dan dilaksanakan. Hal itulah diungkapkan oleh Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah. Diakui Amir, kesejahteraan di Lebak memang belum merata. Meski demikian, pemerintah Lebak terus melakukan inovasi dan terobosan-terobosan guna Lebak yang lebih sejahtera. “Saat ini Pemkab Lebak sudah melakukan investasi kondusif berbasis pedesaan dengan cara memberdayakan SDM dan membangun infrastruktur masyarakat di pedesaan,” ujarnya. “Hal ini adalah pandangan ke depan Pemkab Lebak, jika masyarakat desa maju, maka kota pun akan ikut maju,” imbuhnya.</p>
<div id="attachment_2888" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/LE1.jpg"><img class="size-medium wp-image-2888" title="LE1" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/LE1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah memberikan cindera mata pada peserta</p></div>
<p>Terkait dengan masalah pendidikan yang disorot para pembicara lainnya, Amir Hamzah menjelaskan bahwa Lebak saat ini ingin menjadikan Lebak sebagai Kota Pendidikan dengan Rangkasbitung sebagai Kota Pelajar. “Jika kita cermat memperhatikan pendidikan di Lebak, terutama dalam pendidikan pesantren, sebenarnya Lebak sudah banyak dikunjungi sebagai daerah tujuan pendidikan oleh masyarakat luar,” jelasnya lagi. Amir menambahkan, hal ini diindikasikan menjamurnya pesantren-pesantren dan kampus modern di Lebak; La Tansa Mashiro, Manahijus Sa’adat, Al-Mizan, dan lain-lain.</p>
<p>Sementara itu, menyikapi wacana banyak warga Lebak yang sukses tetapi enggan pulang dan membangun Lebak, Amir tidak sepenuhnya sepakat. Ia mengatakan, ada manusia yang kapasitasnya hanya mampu memimpin di daerah ada juga yang harus berada di pusat. “Yang tidak bolah itu melupakan Lebak. Masak iya, orang sekredibel Pak Taufiqurrahman Ruqi harus jadi Camat,” ujarnya sambil diiring tawa peserta yang mayorita dari kalangan aktivis. [Langlang]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/17/lebak-membara-di-rumah-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LPM SIGMA GELAR PELATIHAN JURNALISTIK DAN BROADCASTING</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/24/membaca-mengubah-kualitas-hidup-menjdi-lebih-baik/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/24/membaca-mengubah-kualitas-hidup-menjdi-lebih-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 22:31:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal RumahDunia]]></category>
		<category><![CDATA[Change With Reading]]></category>
		<category><![CDATA[IAIN SMH Bnten]]></category>
		<category><![CDATA[Membaca]]></category>
		<category><![CDATA[Pelatinah]]></category>
		<category><![CDATA[Unma]]></category>
		<category><![CDATA[Unsera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2352</guid>
		<description><![CDATA[RUMAH DUNIA &#8211; Sekitar 50-an mahasiswa Banten dari berbagai perguruan tinggi seperti IAIN Sultan Maulana Hasanuddin, Universitas Serang Raya (Unsera), STIE Cilegon, Universitas Mathla&#8217;ul Anwar (UNMA) Pandeglang dan STAISMAN Pandeglang mengikuti Pelatihan Jurnalistik dan Broadcasting (PJB) yang diadakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SiGMA di Rumah Dunia pada Jum`at (18/12) lalu.
Peserta PJB dari lima perguruan tinggi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2355" title="change RD COM" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/change-RD-COM1.jpg" alt="change RD COM" width="500" height="243" />RUMAH DUNIA &#8211; Sekitar 50-an mahasiswa Banten dari berbagai perguruan tinggi seperti IAIN Sultan Maulana Hasanuddin, Universitas Serang Raya (Unsera), STIE Cilegon, Universitas Mathla&#8217;ul Anwar (UNMA) Pandeglang dan STAISMAN Pandeglang mengikuti Pelatihan Jurnalistik dan Broadcasting (PJB) yang diadakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SiGMA di Rumah Dunia pada Jum`at (18/12) lalu.</p>
<p>Peserta PJB dari lima perguruan tinggi itu mendapat materi langsung dari praktisi menulis seperti Gol A Gong dan  Ibnu Adam Aviciena, novelis yang dijuluki “filsuf Rumah Dunia”.Pelatihan nberlangsung dari pukul 09.00 &#8211; 13.00 WIB diselingi acara makan siang bersama relawan Rumah Dunia.</p>
<p>“Kegiatan ini sangat menarik dan mengisi ceruk ketidaktahuan saya tentang menulis, baik cerpen, novel, artikel, dan esai,” kata Iin Hajiah Faujiah, mahasiswa IAIN. Hal yang sama juga dialami Ipin. “Dengan adanya acara ini saya bisa paham jurnalistik,” tegas Ipin, mahasiswa IAIN pula.</p>
<p>Saat membuka pelatihan, Gol A Gong menanyakan siapa yang sudah pernah membaca novel. Dari 50-an peserta PJB, hanya satu orang saja yang mengacungkan tangan. Kita bisa melihat betapa rendahnya kualitas membaca mahasiswa Banten khususnya dan umumnya orang Indonesia. Dengan cepat, Gol A Gong memberikan novel &#8220;Bangkok Dalam Kenangan&#8221;, novel karangannya sendiri, sebagai penghargaan kepada mahasiswa yang mengacungkan tangan tadi.</p>
<p>“Rumah Dunia menampung orang-orang kampung yang mau maju,” tutur Gol A Gong. Lalu Gol A Gong mencontohkan tiga relawan Rumah Dunia seperti Ibnu, Harir, dan Wayang, yang berasal dari kampung dan sudah mengalami kemajuan. Ibnu Adam yang kini sudah menulis novel dan menyelesaikan kuliah di Laiden Universty, Belanda. Relawan lain, Harir Baldan, dari seorang penjual gorengan menjadi seorang wartawan di www.rumahdunia.com. Dan Ahmad Wayang dari penjual roti menjadi seorang penulis. Beberapa cerpen dan puisi Ahmad Wayang sudah dimuat di koran Radar Banten dan Fajar Banten.</p>
<p>Gong juga mengingatkan para peserta, bahwa di Indonesia itu kemiskinan bermula dari rendahnya kualitas pendidikan mereka. Misalnya, mengapa Ibu dan bapak kita yang bekerja, berdagang, bertani atau buruh begitu-begitu saja kualitas hidupnya? Tidak ada peningkatan. bahkan seorang petani yang tadinya memiliki sawah, kini hanya jadi penggarap saja, karena sawahnya sudah dijual. Sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi. Tapi yang lebih dominan adalah faktor membaca. Kalau ibu dan bapak kita mau membaca pasti akan menjadi pedagang dan petani yang mengerti tentang menejemen.</p>
<p>Gola A Gong lalu menceritakan kisah dua orang pemuda yang suka membaca dan tidak. Pemuda pertama berbadan besar tak membaca sedangkan yang satu kurus dan mau membaca. Setiap hari dua pemuda itu bekerja mengangkut air dari bukit ke kampung untuk dijual kepada warga. Satu pikul air dihargai Rp 1.000. Suatu hari, si kurus berpikir untuk membuat instalasi air. Uang yang dikumpulkan dari memikul air ia keluarkan untuk membeli pohon bambu dan mengupahi pekerja. Sedangkan si badan besar terus saja mengumpulkan uang hasil dari penjualan air. Pekerjaan si kurus membuat instalasi air sangat lama hampir satu tahun. Setelah  instalasi air jadi, si badan besar terus saja memikul air dengan  kondisi fisik yang semakin lemah dan akhirnya sakit. Akibatnya, uang yang dikumpukan si besar dari hasil perih memikul air habis untuk berobat. Sedangkan si kurus yang tadinya memikul air kini jadi menejer perusahaan air. Dia tinggal menyalurkan air ke rumah-rumah dan harga yang tadinya satu pikul Rp 1.000, menjadi Rp 500. Dengan begitu, si kurus bisa memperingan kantong warga yang membeli air. Dari keuntunganya, dia juga bisa membantu biaya pengobatan si besar dan mengajak si besar bergabung di perusahaannya.</p>
<p>Dari kisah di atas, kita bisa melihat kualitas antara orang yang membaca dan tidak. Allah pun bejanji akan mengangkat derajat manusia yang berilmu dan beriman dengan beberapa derajat dibandingkan orang yang tidak berilmu. Hal itu sejalan dengan tema besar kegiatan Rumah Dunia sepanjang 20010, yaitu &#8220;Change with Reading&#8221; (CwR). Gerakan Cwr itu sudah direspon dengan baik oleh warga Banten serta instansi terkait. Terbukti saat  pencanangan CwR  pada 9 Januari 2010 nanti akan dihadiri HM. Masduki, wakil gubernur Bnten dan Kepala Dinas Pendidikan Bnen, Drs. Eko Koswara. (AS. Kelanaraya)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/24/membaca-mengubah-kualitas-hidup-menjdi-lebih-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
