CIPANAS IQRA, GEMPA LITERASI MENUJU INDONESIA MEMBACA

LEBAK–Kegiatan “Gempa Literasi: Cipanas Iqra”  di Kampung Cipanas, Desa Cipanas, Kecamatan Cipanas-Lebak, Sabtu (27/2) pukul 09.00 WIB sukses dibuka oleh Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah. Wakaf buku terkumpul 150 buku dari Rumah Dunia, 50 buku dari warga Cipanas, uang tunai Rp. 3.000.000 dari Wakil Bupati Lebak dan Rp. 150.000 dari Bela Adikarya, anggota DPRD Lebak. Gempa literasi pun terasa menggoncang Lebak hingga kekuatan skala 26 HA (huruf alphabet).

FORUM TBM

Sejak pukul 09.00 WIB Kampung Cipanas yang berada di jalur Rangkasbitung–Jasinga, Bogor, terasa hangat dengan nyanyian dan gerak tubuh para santri dari Ponpes Nurul Madaany, dari Babakan Pedes, Sipayung-Cipanas. “Kampung Cipanas akan dicatat dalam sejarah perpustakaan yang dikelola masyarakat atau jadi pelopor dalam gerakan taman bacaan masyarakat Indonesia, dengan mengawali gempa literasi ini,” Gol A Gong, Ketua Umum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia, pada saat memberi sambutan.

Kata Gong, “Cipanas Iqra bagian dari program besar Taman Bacaan Masyarakat Indonesia, yaitu ‘gempa literasi’. Dan Cipanas adalah titik gempa literasi pertama. Ini bukan gempa yang menghancurkan, tapi gempa yang akan membangun, menuju Cipanas membaca terus ke Banten mambaca, dan meluber ke Indonesia Membaca.”

AGEN

Selain wakaf buku, di Cipanas Iqra juga diadakan peresmian sekretariat Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas (IKMC) sekaligus launching taman bacaan masyarakat “Kosala Library”. Untuk peresmian sekretariat IKMC dan Peluncuran Kosala Library sendiri dilakukan oleh Wakil Bupati Lebak Ir. H. Amir Hamzah. Dalam sambutannya, Amir  berharap, “Kosala Library harus menjadi tempat mencari ilmu. Dan IKMC bisa menjadi agen perubahan.”  Amir mengingatkan, bahwa Jasinga yang menjadi tetangga Cipanas sudah diagendakan jadi Kabupaten Bogor Barat. “Jadi, kehadiran ‘Kosala Library’ sangat tepat, karena melengkapi potensi Cipanas yang sudah ada, yaitu arena motor cross, off road, arung jeram sungai Ciberang, dan pemandian air panas.”

Ditemui usai acara, Ahmad Arif, selaku ketua IKMC menjelaskan, “Kosala Library  membuka kursus menulis cerpen, novel, sekenario film bersama Gol A Gong.  Setiap Selasa, Rabu dan Kamis. Juga diskusi mingguan, kajian bulanan, dan sanggar dongeng anak,” kata Arif menginginkan keberadaan “Kosala Library” bisa diterima masyarakat Cipanas dan memacu kreativitas anak-anak.

Dalam acara itu hadir pula camat  Cipanas, H. Sukandi Mangku Alam, DPRD Lebak, Bela Adikarya, Asep Sukmara selaku Ketua (UPTD) Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan, Ade Mujhaerimi dari Komisi Transparasi dan Partisipasi, perwakilan Ponpes Daur El-Irfan, Tokoh masyarakat Cipanas, Kepala Sekolah SD dan SMA  Cipanas, serta mahasiswa IKMC.  Gempa Literasi Cipanas Iqra ini terselenggara berkat support Rumah Dunia, Suhud Media Promo, Banten Raya Post, IKMC, Nurul Madaany, Himpunan Keluarga Muda-mudi Kampung Lurah, dan Forum Lingkar Pena Lebak.( Ahmad Wayang)

TBM PERMADANI: HIDUP SUKSES DENGAN MEMBACA

Taman bacaan masyarakat (TBM) Permadani, yang dalam akronimnya Perempuan Maju dan Mandiri, menggelar Talkshow dan Launching Bulan Membaca TBM Permadani di aula Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Minggu (21/2) sekitar pukul 08.00 WIB.

Karena pendiri TBM Permadani seorang perempuan, Erna Yuliawati, S.Pdi, beserta 17 anggotanya yang semuanya adalah para kaum perempuan, maka tak aneh TBM Permadani mempunyai visi: ingin mewujudkan perempuan cerdas, maju dan mandiri dalam menjalankan kehidupan, dan misinya: untuk meningkatkan kompetensi perempuan, membela dan menegakkan hak-hak perempuan, dan mendukung pemberdayaan serta pencerdasan perempuan. Acara itu juga di hadiri oleh peserta yang didominasi  ibu-ibu atau permpuan. “Sebenarnya kita sudah mengundang dari Ormas-ormas di Serang, kepala Desa, sekolah-sekolah, TBM dan Kaporles,” kata Iin Indasari, S.Pdi, selaku koordinator TBM Permadani.

Acara launching di buka oleh Kepala Dindik Kota Serang, Drs. H. Hafidi ZA. M.M, yang kali ini diwakili oleh kepala seksi bidang Keaksaraan dan Kesetaraan, Oman Solihin, S.Sos., MM., yang sangat mendukung gerakan yang diselenggarakan TBM Permadani ini. Acara berlanjut pada diskusi yang bertemakan “Hidup Sukses Dengan Membaca”. Dengan tiga pembicara. H. Embay Mulya Syarif selaku pengusaha sukses, Tuti Alawiyah, aktivis perempuan dan Firman Venayaksa sebagai wakil dari Forum TBM pusat.

Dalam diskusinya, Firman menerangkan perihal TBM bahwa dalam menumbuhkan minat baca, harus diawali dengan kebiasaan membaca, kemampuan membaca sampai akhirnya membudayakan membaca. Tahun 2010 ini, kata Firman, buta aksara di Serang mencapai 2.150-an yang kebanyakan dari usia 45 ke atas. Dia juga menerangkan bahwa pentingnya keberadaan TBM itu. “Jangan sampai setelah mengadakan launching semacam ini, besoknya atau beberapa bulan kemudian TBM Permadani menghilang, atau tidak ada kabarnya lagi. Karena itu yang sering terjadi pada TBM-TBM yang ada di Indonesia saat ini mencapai tujuh ribuan lebih TBM. Hanya mengadakan launching saja, tapi tidak ada kelanjutannya. Semoga TBM Permadani tidak seperti itu, ya,” kata Firman menghimbau.

Tuti Alawiyah, mengatakan membaca bagi seorang ibu itu sangat penting agar tidak ketinggalan zaman. “Ibu-ibu itu harus lebih pintar dari bapak. Karena ibu yang mengurus anak dan mengatur sistem uang keluarga harus mempunyai pengetahuan yang lebih. Kan bisa repot jika kita tidak bisa mengurus rumah tangga dan anak.” Terang Tuti. Lanjatnya, kata Tuti meski seorang ibu selalu sibuk dengan di dapur, tapi tidak mesti meninggalkan aktivitas membaca. Membaca dari mana saja. “Bisa dari bungkus koran belanjaan atau resep-resep masakan di majalah. Jangan ada alasan membaca tidak ada waktu. Repot. Tidak keburu dan sebagainya. Tapi, giliran nonton sinetron paling depan dan lama. Boleh nonton tivi, tapi kita harus bisa menimbangnya. Mana yang baik dan mana yang membuang-buang waktu. Kita itu harus pintar memilih tontonan yang bagus dan bermanfaat,” katanya penuh semangat dan lantang.

Masuk pada pemateri ketiga, H. Embay yang memang pengusaha sukses menjelaskan atau berbagi pengalaman tentang ilmu wirausaha yang dimilikinya. “Ibu mau sukses?” kata Embay. Dengan serempak ibu-ibu pun menjawab “Mau!”. “Kalau mau sukses belajar dan banyak membaca,” katanya kemudian. Embay lalu mengutip hadist Nabi yang berbunyi, ‘Barang siapa yang ingin sukses di dunia harus dengan ilmu, barang siapa yang ingin sukses di akhirat harus dengan ilmu, dan barang siapa yang ingin sukses dunia dan akhirat harus dengan ilmu’. Lebih jauh, Embay mengatakan jika ingin sukses, tiru saja orang-orang sukses. Tiru Nabi Muhammad, bagaimana cara Nabi berdagang. “Modal awalnya cuma jujur, Al-Amin (yang dapat dipercaya). Teladani Rosul kita, keuletannya, keteladanannya, serta kasih sayangnya pada umatm” katanya panjang lebar. Dan sukses itu tidak hanya di dunia, tapi harus dunia dan akhirat. “Tidak ada jalan lain menuju kesuksasan kecuali dengan ilmu, membaca dan terus belajar.” Tandasnya.

Setelah acara diskusi Talkshow dan Launching Bulan Membaca TBM Permadani: Hidup Sukses Dengan Membaca berakhir, sekitar pukul 13.00 WIB. Menurut Erna, acara diskusi semacam ini akan terus diselenggarakan setiap bulannya. “Intinya, Permadani ingin memajukan kaum perempuan. Karena buta aksara terbesar di dominasi oleh perempuan. Karena perempuan adalah tiangnnya negara,” kata Erna ditemui saat acara usai.[Ahmad Wayang]

MTsN CILEGON WORKSHOP DONGENG

RG. Kedung Kaban saat mendongeng

SERANG- Salah satu manfaat mendongeng adalah penyampaian pesan moral. Selain itu jika dalam keluarga terbiasa mendongeng, maka anak dan orang tua akan menjadi akrab. Hal itu diungkapkan RG. Kedung Kaban, pendongeng Rumah Dunia, di hadapan sekitar 239 siswa-siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Cilegon yang berkunjung ke Rumah Dunia (RD) pada Rabu (27/1) dalam rangka Studi Observasi Lapangan (SOL). Pada kesempatan itu, pihak MTsN meminta diadakan pembelajaran mendongeng sekaligus praktek mendongeng dari Rumah Dunia yang akan dibawakan oleh RG. Kedung Kaban, salah satu relawan Rumah Dunia yang sudah empat tahunan menggeluti dunia dongeng.

Dalam sambutannya,  Utar Sunandar, S.Pd, guru pembimbing SOL, lembaga pendidikan itu ada yang formal ada juga yang non formal. Salah satu lembaga pendidikan non formal adalah Rumah Dunia.  “Ilmu itu tidak hanya ada di dalam Sekolah saja, tapi di dunia luar juga ada, seperti Rumah Dunia ini,” ujarnya. Utar juga mengatakan, kunjungannya ke RD, selain sebagai target kurikulum SOL, juga ingin mengenal apa itu Rumah Dunia dan apa saja kegiatan di dalamnya.

Pada kesempatan itu, Presiden Rumah Dunia Firman Venayaksa, memberikan sambutannya di depan siswa-siswi. Ia menjelaskan awal berdiri Rumah Dunia dengan gaya mendongeng, “Pada suatu hari kala.. ada seorang pemuda yang gelisah memikirkan Banten. Pemuda itu bernama Gol A Gong. Maka dia pun bersama sang istri dan sahabatnya mendirikan Rumah Dunia hingga sekarang,” ujar Firman yang sontak membuat anak-anak serius mendengarkannya. Selain mendapatkan materi dongeng, mereka juga disuguhkan film documenter Rumah Dunia.

Terkait dengan banyak jumlah peserta, maka Rumah Dunia membagi mereka ke dalam dua kelompok yang juga diamini pihak MTsN Cilegon. Seperti yang diungkapkan Muhzen Den, penanggung jawab acara dari Rumah Dunia. “Dari jumblah 239 siswa dan siswi MTsN Cilegon itu tidak semuanya di tamping bersamaan. Mereka dibagi dua kelompok. Kelompok satu dari Pukul 08.00 sampai Pukul 09.30, terus disambung kelompok dua dari Pukul 11.00 sampai Pukul 13.00,” ujar Muhzen Den.

Peserta serius menyimak dongeng

Malu dan Seru

Tidak hanya RG, panggilan akrab RG. Kedung Kaban, yang becerita atau menjelaskan tentang materi dongeng, pelajar juga diminta untuk aktif bertanya. Nova Sridamayanti (14), siswi kelas VII terlihat ragu-ragu dan malu saat dipanggil RG untuk maju membacakan ceritanya. Saat ditanya selepas membacakan atau mendongeng, Nova yang tinggal di Kampung Martaputra Kecamatan Jombang Kota Cilegon ini mengaku deg-deng-an. “Gerogi. Malu,” katanya kemudian. Berbeda dengan M. Firman, siswa kelas VII ini terlihat aktif bertanya dan tidak malu. Firman dengan semangatnya membacakan karya cerita yang dibacakannya. Menurut Firman, dongeng itu suatu kesenangan. “Kita bisa punya banyak teman dengan mendongeng, dan bisa kenal sama Kakak relawan (RG-red) yang pinter mendongeng,” kata Firman yang mengaku hobi membaca komik Naruto.

Menyikapi suasana seperti ini, Firman mengaku sangat senang sekali. Lokasi Rumah Dunia membuat suasana belajar jadi berbeda dan bertambah semangat. “Belajar di sini seru. Bisa ketawa-ketawa. Seneng rasanya. Rumah Dunia kaya bioskop. Sangat bagus,” kata pelajar yang baru berumur 12 tahun ini mantap. [Ahmad Wayang]

ABDUL SALAM: SABET BEASISWA BEBAS SPP 4 BULAN

SABET BEASISWA BEBAS SPP

Oleh Harir Baldan

Pernahkah kamu mendapat penghargaan di sekolahmu? Kalau belum tidak perlu cemas ataupun panik. Biasanya, beasiswa diberikan pada pelajar berprestasi atau tidak mampu. Tapi kini, penghargaan itu bisa diraih karena menulis berita, cerpen, dan puisi. Sperti yang dialami Abdul Salam. HS., siswa SMP PGRI 1 Serang. Ingin tahu ceritanya lebih lengkap? Simak terus tulisan ini.

DITITIPKAN DI RUMAH DUNIA

Salam lahir dari pasangan H. Husni dan Hj Sherina. Ia adalah anak ke-5 dari enam bersaudara. Saat Salam lulus dari bangku SMP, keluarganya bimbang untuk mencarikan sekolah yang tepat untuknya. Kedua orangtuanya pun khawatir akan keselamatan Salam. “Dulu saya sempat mau dititipkan di masjid sebagai marbot (penjaga masjid-red). Tapi karena masih kecil, orangtua kuatir dengan kesehatan saya,” ujar Salam. Untungnya sang kakak, Rahmat Heldy H.S yang biasa disapa Rahel, kenal akrab dengan Gol A Gong pendiri Rumah Dunia. Akhirnya Salam yang kini berusia 17 tahun ini dititipkan di Rumah Dunia pada pertengahan Juni 2008.

Memilih sekolah pun sempat jadi perbincangan keluarga. Selain permasalahan biaya, waktu belajar pun jadi pilihan. “Awalnya mau ke MAN 2 Serang. Tapi karena jam belajarnya lama kakak saya (Rahel-red) lebih menganjurkan ke SMA PGRI 1 Serang. Alasannya lebih dekat, tidak memakan waktu di sekolah dan ada teman dari Rumah Dunia, “ pungkasnya.

ANAK PEMALU

Ketika awal-awal di Rumah Dunia, Salam mengaku sangat pemalu. Jangankan untuk bertanya saat diskusi, bertutur sapa dengan sesama relawan, atau tamu saja ia merasa malu. Apalagi tamunya perempuan. “Dulu saya pemalu banget saat disuruh bicara. Sekarang saya berani bahkan lebih banyak bicara,” kata remaja asal kampung Bojong, Waringin Kurung, Serang ini. Baru setahun setengah di Rumah Dunia, dampaknya sudah bisa dirasakan oleh lelaki kelahiran 16 Juni 1992 ini. Salam yang dulu dikenal kalem, pendiam, dan kuper, kini berubah 180 derajat. Di Rumah Dunia dia bisa mengakses buku-buku dengan gratis dan belajar apa saja terutama ilmu menulis: jurnalistik, cerpen, dan puisi.

Selain menulis, Salam bisa berteman dan berkenalan dengan siapa saja. Semakin banyak orang yang dia temui semakin banyak pula ilmu dan pengalaman yang dia dapatkan. Rasanya kurang lengkap bila bicara kemampuan tanpa dipadukan dengan bukti yang nyata. Ya, karya tulisnya pernah dimuat di media lokal: Essai-nya di Tabloid Kaibon, Puisi dan cerpen-nya di Radar Banten, Fajar Banten, dan Tribun Tangerang. Bahkan tulisannya dimuat media nasional; Annida online, Kompas.com, dan rumahdunia. com. Maka sangat wajar jika teman-teman sekelas dan gurunya membicarakan lelaki pemenang ke-2 Gebyar Bahasa Sastra Indonesia 2008 di Untirta, Serang ini. Dan klimaksnya, pada Sabtu (2/1/10) pekan lalu dia masuk sepuluh besar siswa yang meraih prestasi non akademik di kelasnya. Salam adalah salah satu siswa dari 80 murid SMA PGRI 1 Serang yang meraih Bantuan Keuangan Murid Miskin (BKMM) dari Dinas Pendidikan Provinsi Banten. “Uang itu dialokasikan untuk bayar SPP selama 4 bulan,” kata Salam. Profesinya bertambah sejak 1 November 2009 lalu, selain pelajar SMA PGRI 1 Serang, dia juga termasuk salah wartawan Rumah Dunia.com.

TERUS BERKARYA

Salam tumbuh dari keluarga yang sederhana. Kendati begitu, dia tidak mudah putus asa dalam berkarya. Kemampuannya dalam berbicara pun diakui oleh gurunya, Ida Faridah. “Meski terkadang ia jarang masuk kelas, Salam sebenarnya rajin dan saya mengakuinya dia punya kelebihan dalam berbicara,” terang guru PPKN ini.  Masih menurutnya, semoga dengan meraih Beasiswa Bantuan dari pemerintah ini bisa menambah semangat belajarnya.Apa yang dituturkan Ida Faridah semoga dipegang teguh Abdul Salam. “Tetap terus berkarya,” ujarnya singkat.

SAYUTI: MEMBACA ITU KEBUTUHAN

MEMBACA ITU KEBUTUHAN

Oleh: Harir Baldan

Sayuti sang Duta Change With Reading

Perkenalkan namaku Sayuti Zakariya (27). Aku anak semata wayang dari pasangan Zakariya dan Fatmawati. Sejak kecil aku sudah terbiasa hidup mandiri. lanjutkan membaca »

advert

Tags Kata

Gonjlengan

BE A WRITER: DARI YANG REGULER HINGGA EXCLUSIVE”

Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat.

Full Story | May 20th, 2010

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa*
Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong
MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak mengganggu [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK
I.
“ora et labora”
di pertigaan jalan menuju rumah
beberapa tukang becak menyemadikan nasib
: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha
- memejam di tempat duduk
masingmasing-
II.
“nrimo ing pandum”
kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan
begitu saja kepada puingan matahari dan purnama
mereka mengabadikannya sebagai penanda becak
yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa
lapar dan haus adalah
foto-doa
III.
“kerja adalah ibadah”
di sisi adzan,
kretek [...]

Full Story | July 18th, 2010