INDONESIA MEMBACA DI JAWA TIMUR

Oleh Gol A Gong

Awalnya kami di undang ke “Pekan Membaca” Perpustakaan Daerah Bojonegoro, Jawa Timur, bekerja sama dengan Yayasan Peran dan Mobil Cepu Limited, 24 – 26 Februari lalu. Sebagai Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat dan Dewan Pembina Forum Lingkar Pena, saya memiliki tanggung jawab moral dalam “Gerakan Indonesia Membaca” di tingkat lokal. Maka dari kota Bojonegoro, saya menyebarkan informasi pada komunitas-komunitas baca di Jawa Timur. Dari Ngawi, Surabaya, Madiun, dan Solo merespon dengan cepat.

BACKPACKER ALA PENULIS

Inilah backpacker kedua bersama istri setelah Jambi dan Palembang pada November 2010 lalu. Tentu ini adalah cara mudah mengajari Tias Tatanka menulis catatan perjalanan atau cerita serial. Tias sejak November 2009 hingga sekarang menulis cerita serial “Backpacker Surprise” di tabloid Gaul. Saya mengajarinya mengeksplorasi ide dari realitas ke fiksi. Terutama unsur setting lokasi atau tempat yang sangat beragam. Di episode “Backpacker Surprise” Januari 2011 lalu, setting lokasi Jambi dan Palembang sudah mewarnai.

Kami berangkat Rabu (23/2). Sekitar pukul 16.00 WIB, kami tiba di Stasiun Gambir, Jakarta. Kereta Sembrani meluncur pukul 20.00. WIB. Masih ada waktu 4 jam lagi. Kami “menyepi” dipojokan lantai 2 Gambir. Saya tiduran dengan matras, Tias menyelesaikan “Backpacker Surprise” edisi Kamis, 3 Maret 2011. Giliran Tias tiduran, saya melanjutkan penulisan skenario “Balada Si Roy”. Saya teringat saat backpacker sendirian mengelilingi Nusantara (1985 – 87) dan Asia (1990 – 1992). Jika ingin menulis, saya mencari tempat kursus mengetik. Saya menyewa mesin tik dan bisa memakan waktu hingga tengah malam.

Kereta Sembrani tepat waktu. Pukul 20.00 WIB merangkak menembus malam menuju Jawa Timur. Tiket Jakarta-Bojonegoro Rp. 280.000,- untuk kelas eksekutif. Pukul 06.00 WIB, kereta tiba di Bojonegoro. Di Stasiun, aroma “Boromania”, supporter sepakbola Persibo yang bermain di Liga Primer Indonesia terasa.

PEKAN MEMBACA

Di Bojonegoro, kami menghadiri “Pekan Membaca” di SMKN 2 Bojonegoro. Kami  disambut Kepala Kantor Arsip dan Perpustakaan, Direktur Program Yayasan Peran Indonesia, wakil dari Asia Foundation, dan wakil Mobil Cepu Limited. Bersama Bupati, kami berkeliling areal SMKN 2, melihat kegiatan lomba melukis anak-anak, mobil perpustakaan dan bedah buku “Menuju Syukses Al-Fatihah” karya Drs. Suyoto, M.Si. alias Kang Yoto, Bupati Bojonegoro. Ini luar biasa. Bupati menulis buku, hal yang patut di contoh oleh bupati-bupati lain. Saat Bupati orasi, saya merasakan semangat perubahan. “Saya akan mencari tanah yang luas. Nanti perpustakaan Bojonegoro kita bangun lebih besar, lebih luas, dan fasilitasnya komplet.”

Saat saya orasi “Indonesia Membaca”, saya katakan kepada para pelajar bahwa kegiatan membaca buku bisa membuat lupa siapa diri kita sebenarnya; apakah kita anak orang kaya, miskin, berwajah ganteng atau jelek. “Ketika umur 11 tahun, tangan kiri saya harus diamputasi, Bapak membekali saya dengan buku. Hasilnya, saya tumbuh menjadi anak yang percaya diri dan lupa kalau sebetulnya saya ini cacat!” Usai orasi, saya membagi-bagikan door prize buku karya saya; Tiga Ombak dan Ledakkan Idemu, agar Kepalamu Tidak Meledak.

Menggelorakan “Gerakan Indonesia Membaca” di tingkat lokal terus saya gulirkan di “Pekan Membaca”. Setelah dinner bersama Teh Yati Kamil dan Mister Em dari Yayasan Peran di Joglo, alun-alun Bojonegoro, lalu kami diculik oleh Prawoto dari Society Education Centre (SEC). Saya membagi-bagikan pengalaman cara menulis yang mudah dan bernilai ekonomi kepada peserta kelas menulis SEC angkatan kedua. Ruangan perpustakaan seluas 8 x 5 m dengan koleksi 600 buku fiksi dan non-fiksi terasa sempit dijejali 40-an orang. Selain membuka kelas menulis secara gratis, kegiatan utama SEC adalah MOLI (mobil layanan informasi). Pertemuan sekitar 2 jam ini sangat menyenangkan, karena spirit Rumah Dunia yang kami kelola di Serang sampai juga di sini.

NONTON BOLA

Hari kedua, Jum’at (25/2), ada surprise buat kami. Wisma Jaya, tempat kami menginap, juga dijadikan base camp para pemain Bali Devata FC, yang akan bertanding melawan Persibo  Sabtu (26/2). Saya dan Tias berpotret ria bersama pemain dan pelatihnya. Kami menitipkan pesan, bahwa sepak bola Indonesia harus kita perbaiki sama-sama. Saya di sisi penonton dan mereka di bagian permainan.

Pukul 13.30 WIB, pelatihan menulis fiksi di mulai. Bertempat di ruang baca Perpusda Bojonegoro, 50 pelajar dan mahasiwa tekun mengikuti tips yang saya paparkan. Sekitar 12.000 judul buku yang berjejer di rak-rak “menghasut” para peserta agar lebih termotivasi menulis. Tapi persoalan tetap sama. Ide banyak mereka temukan, tapi sulit menuangkannya. “Kok, mau mulai nulis itu, mentok terus! Macet!” begitu kata mereka. Saya mempersilahkan mereka membaca SMS di inbox HP. Saya katakan kepada mereka, “Menulis SMS juga bagian dari cara berlatih menuangkan gagasan. Mulailah menulis seperti sedang menulis SMS.”

Menyebarkan virus membaca terus berlanjut. Pada Jum’at malam (25/2) giliran komunitas “Sindikat Baca” di Kampung Baru, kami kunjungi. Anas AG, sang komandan, memotong tumpeng selamatan. Malam itu peluncuran “Sindikat Baca” di base camp yang baru. “Ngontrak. Dapat bantuan dari teman-teman anggota dewan,” tambah Anas lagi, yang juga terinspirasi Rumah Dunia. Ada sekitar 50 warga memadati rumah tipe 36 itu. Mereka terdiri dari pegawai negeri, mahasiswa, guru, bahkan buruh pabrik. Mereka ingin meningkatkan kualitas hidup dengan menulis. Saya menjelaskan, bahwa menulis selain kegiatan intelektual, juga nilai ekonominya tinggi. Mereka tercengang, ketika saya sebutkan nilai nominal yang saya peroleh dari menulis.

Hal itu pun saya sampaikan di komunitas “Writing Revolutions” (WR) pada Sabtu (26/2), pukul 13.00 – 21.00 WIB. Saya katakan, “Profesi menulis sangat prospektif. Tabloid Gaul dan Majalah Story memberi kesempatan luas kepada para penulis daerah. Honornya lumayan.” Di komunitas WR pimpinan Phunix ini, saya memberikan writing clinic. Cerpen-cerpen mereka saya baca dan saya beri masukan. Rata-rata masalahnya sama; ejaaan (tanda baca) dan belum memahami unsur intrinsik; tema, amanat, sinopsis, tokoh, karakter, alur, plot, latar tempat dan wakitu, konflik, dialog, point of view, dan ending.

Sekitar pukul 15.00 WIB, writing clinic istirahat dulu. Saya dan Tias bergegas menonton pertandingan LPI antara Persibo Bojonegro melawan Bali Devata. Anas GP dari “Sindikat Baca” sudah membelikan kami tiket VIP dan menunggu di Stadion H. Sudirman. Ketika berada di tribun VIP, belasan ribu penonton yang menyebut “Boromania” dengan seragam oranye menyebarkan aroma perubahan. Saat jeda, perwakilan dari mereka berjalan mengelilingi lapangan dengan spanduk bertuliskan “Revolusi PSSI”. Selepas Magrib, writing clinic dilanjutkan. Saya dikejutkan oleh pengakuan seorang peserta, bahwa ayahnya tidak menyetujui aktivitasnya di dunia sastra. “Kalau ayah tahu, kuliah saya akan di stop!”

Sabtu (26/2) adalah malam terakhir kami di Bojonegro. Hari-hari yang menyenangkan. Sebagai perpisahan, Prawoto dan Phunix mengajak kongkow di alun-alun Bojonegoro. Usai dinner, sekitar pukul 22.30 WIB, kami  berkunjung ke rumah Yonathan Rahardjo, penulis novel “Lanang” asli Bojonegoro. Saya meminta tolong kepada Yonathan, agar tetap memelihara spirit “Dari Kampung untuk Indonesia Membaca”.

Minggu pagi (27/2), kami naik travel ke Ngawi. Sekitar 2 jam perjalana. Pukul 09.30 WIB sampai di hotel Sukowati, Ngawi. Kami langsung dijemput dan memberikan writing cilinic kepada para calon penulis yang tergabung di Forum Lingkar Pena. Acara selesai pukul 15.00 WIB. Selepas Ashar mampir ke rumah Kusprihyanto Namma, pegiat sastra yang pernah menggelorakan “Revitalisasi Sastra Pedalaman” bersama Beno Siang Pamuncak. Malamnya jalan-jalan ke alun-alun Ngawi. Ya ampun, pukul 20.00 WIB sudah sepi. Tidak ada angkutan kota. Kami jalan kaki sampai alun-alun. Makan nasi rawon. Untung pulangnya ketemu becak motor. Kami meminta keliling kota dulu. Benar-benar kota kecil, sepi pula.

WISATA LIBRARY

Senin (28/2) pagi dengan menggunakan jasa travel kami berangkat lagi menuju Surabaya, sekitar 5 jam sampai ke Surabaya. Ongkosnya dari Ngawi ke Surabaya Rp. 8.500,-. Rehat sebentar di hotel Sahid berkat support XL dan Marvin Sitorus dari www.hargahotel. Menjelang Ashar, ketemuan dengan Nungki Prameswari, dokter gigi dan pendukung Rumah Dunia. Nungki bermaksud mengajak kami keliling kota, tapi hujan. Kami memilih dinner nasi goreng merah di stasiun Gubeng.  Tadinya mau mencicipi es krim tempo dulu di Zangrandi, dekat Garden hotel, tapi gerimis, dingin lagi.

Kami pulang ke hotel. Belum lama, pintu kamar hotel ada yang mengetuk. Trini Haryanti dan Em dari Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI) yang datang, dan mereka membawa kami mengelilingi Surabaya, melewati gang Dolly yang menyeramkan dan makan menjelang tengah malam di Mak Yeye, di Gang Jagir. Yang khas dari Mak Yeye ini adalah selalu buka mulai jam sepuluh malam, lauknya sederhana, cuma nasi, tempe goreng, telur dadar dan ikan pari goreng. Tapi saat itu, ikan pari kesukaan Tias tidak ada. Nah, menurut orang-orang, menu istimewa adalah sambelnya yang disiapkan sepanci besar. Jika kurang manis, bisa di tambah gula. Tapi harus antri? Boo, desek-desekan. Kehadiran Mak Yeye ini direspons positif oleh warga. Mereka membuka warung-warung minuman. Mak Yeye hanya menjual nasi. Jadi, para penyuka kuliner Mak Yeye, makannya menyebar di warung-warung minuman.

Selasa (1/3) pagi, Trini mengajak kami “wisata library”. Ini menyenangkan. Tujuan pertama ke perpustakaan Mawar, Sampoerna Foundation. Terus, ke kantor YPPI di Rungkut Permai. Akhir perjalanan, mampir ke perpustakaan milik Oei Hiem Hwie di Medayu Regency. Ya, ampuuun…, ngiler melihat koleksi buku tentang Bung Karno dan Pramoedya Ananta Tour. Saya melihat buku-buku tentang sejarah Indonesia ada di sini. Pemiliknya dulu adalah teman Pram yang di penjara Pulau Buru. Oei pendokumentasi yang hebat. Buku-buku langka ada di sini. Ah, andai ada sejuta orang seperti Oei di negeri ini, pasti negeri ini akan maju dan sejahtera. Saya meyakini, buku bisa mengubah kualitas hidup seseorang. Change with reading. Di Rumah Dunia, kami sudah membuktikannya.

Kami bergegas menuju hotel disupiri Dimas dari YPPI. Sebelum ke hotel, kami mendapat kabar duka, walikota Serang, H. Bunyamin wafat di RS. Sutomo. Kami menyempatkan melayat dulu. Tapi, nama Bunyamin tidak terdaftar. Setelah sampai di stasiun Gubeng, info terbaru masuk, ternyata Bunyamin wafat di RS Siloam, Surabaya. Pukul 16.00 WIB, kami meluncur ke Madiun dengan kereta Taksaka. Ongkosnya Rp. 70 ribu.

KULINER

Kami bermalam di Widya Nugraha, hotel Melati. Lokasinya sekitar 300 meter sebelah selatan stasiun. Banyak hotel melati di sini. Kami melewatkan malam bersama saudara Tias; Mas Budu dan istrinya. Kami di ajak makan malam di restoran Mbah Jingkrak. Hampir sama dengan rumah makan Ampera di Bandung yang mulai merambah ke kota-kota lain. Ala prasmanan. Tapi di Mbah Jingkrak ini menunya heboh-heboh. Selera makan saya, walaupun di larang keras makan yang bersantan, bangkit dengan menggebu-gebu. Nasi, tempe bacem, tahu bacem, terong balado, sop tandas dengan sukses. Wisata kuliner bagi saya adalah keharusan. Hanya saja bagi saya sekarang tidak bisa sebebas dulu; santan, daging merah adalah pantangan. Itu cukup. Yang tidak terbeli tentu adalah merasakan atmosfirnya.

Keesokan harinya, Rabu (2/3), di SMA 2 Madiun, sekitar 30 pelajar dan 10 guru bergabung di pelatihan “Be a Writer”. Mereka sangat antusias. Pelatihan di mulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 16.00 WIB. Para peserta bersemangat mengikuti praktik menulis. Di mulai dengan menulis nama pena, menuangkan ide, menyusun sinopsis cerita pendek, dan mencoba memulai menulis cerpen dengan kalimat pembuka yang jelek (kalau ada). Paling heboh ketika saya meminta volunteer 2 murid untuk menerjemahkan alur cerita “Astuti meminta bantuan Toni untuk memfitnah Sidiq, karena sudah menolak cintanya”. Kedua pelajar itu bergaya seperti artis sinetron, mengembangkan imajinasi mereka dengan dialog-dialog lucu. Itu adalah cara atau simulasi memulai menulis cerita dengan dialog.

Pukul 18.00 WIB dengan kereta Taksaka kami menuju Solo. Perhentian terakhir. Pelatihan “Be a Writer” bersama para mahasiswa di Pondok Mahasiswa Ar-Royyan, Ngoresan. Di atas kereta, saya bertanya kepada Tias. “Berapa buku ‘Tiga Ombak’ yang terjual?” Tias menjawab, sekitar 100 buku. Alhamdulillah, berarti kami bisa menambah lagi kas Rumah Dunia sebesar Rp. 1 juta untuk pembebasan tanah Taman Budaya Rumah Dunia.

Uh, saya sudah tidak sabar tiba di Solo; nongkrong nge-wedang jahe dan makan di angkringan di Ngarsopuro! Galago, sholat Jum’at di mesjid Keraton, menyusuri jalan Slamet Riyadi, menghirup aroma nasi liwet dan mengunyah tunggir ayamnya. Solo adalah rumah istri saya. Itu sebabnya kami memilih setting lokasi Solo untuk serial “Backpacker Surprise” di tabloid Gaul.(*)

GERAKAN JAMBI MEMBACA

JAMBI—Kedatangan Gol A Gong ke Jambi selaku Majelis Penulis FLP adalah sebuah anugerah bagi flpers (FLP) Wilayah Jambi. Mengapa? Sebab melalui perantaran ‘tangan’ orang lain, yakni Bang Firdaus yang menghadirkan Gol A Gong ke Jambi, dan tentunya FLP Jambi ketiban ‘pulung’, ikut dapat jatah satu hari penuh belajar bersama Gol A Gong.

Tepatnya tanggal 24 Oktober 2010, FLP Wilayah Jambi mengadakan Workshop Menulis Novel & Cerpen bersama Gol A Gong fullday dari jam 09.30-17.30 WIB. Gol A Gong penulis 70 buku dengan salah satu buku novel serial yang fenomenanya “Balada Si Roy” mampu menyalurkan energi positifnya ke para peserta workshop penulis muda Jambi.

Sejatinya memang workshop ini adalah program khusus internal FLP, namun kami juga memberi kesempatan kepada personal lain yang bersedia ikut dalam kelas ini. Ada seorang penulis cilik yang kini berdomisili di kota Jambi, Yola namanya. Murid kelas 6 SDI Alfalah Jambi ini, adalah satu-satunya peserta terkecil yang antusias mengikuti setiap sesi materi yang diberi GG. Bahkan sepertinya yang paling heboh dan antusias justru bundanya Yola.

Yola sendiri bakal mengeluarkan buku yang akan diterbitkan oleh Mizan Pustaka dengan tema Kecil-kecil Punya Karya (saya lupa judulnya), insya Allah bulan depan (cover buku Yola diperlihatkan ke kami saat di kelas). Yola hamper sama seperti Bella, nama lain Nabila putri sulung GG yang juga menghasilkan banyak karya di usia dini.

Program workshop menulis ini disamakan dengan program Be A Writer, yang sudah lama digagasa oleh Gol A Gong. Kami rasakan, p[rogram ini adalah program perubahan mindset kembali (re-charge) tentang dunia kepenulisan yang selama ini justru tidak disadari baik oleh kami yang sudah menulis (bahkan sudah ada yang menembus media lokal dan nasional ataupun pemula). Ini menjadikan pembelajaran yang bagus untuk pengembangan seorang penulis kedepan. Upgrading kepenulisan penting bagi kami penulis lokal yang berusaha mengangkat budaya melayu Jambi ke tingkat nasional melalui dunia literasi & kepenulisan.

Di Be A Writers kami mendapat asupan tambahan yang setidaknya menambah kekayaan wacana dan wawasan bagi penulis untuk selalu up to date terhadap pola pikir sebagai seorang penulis yang menginginkan karyanya bisa tembus ke media bahkan nantinya ke bentuk buku.

Ada wacana serius yang digelontorkan kepada rekan-rekan yang ikut kelas menulis ini, adalah keinginan yang kuat untuk mengumpulkan naskah yang bercerita seputar Jambi baik budaya melayunya, adat istiadat dan masyarakat Jambi dengan sungai Batanghari yang cukup dikenal masyarakat di daerah lain.

Buku 25 cerpenis keren Banten yang sudah diterbitkan oleh Gong Publishing tersebut memacu diri Flpers Jambi untuk bisa membuktikan karya terbaiknya bisa di terbitkan menjadi buku juga, yang tentunya dengan kualitas yang bagus dan marketable.

Selama di Jambi dari tanggal 23-27 Oktober 2010, Gol A Gong selain memberikan ilmu dan wawasan menulisnya kepada FLP, juga mengisi di berbagai tempat dalam hal dunia literasi, pembuatan film dan pelatihan cerpen & novel yakni di komunitas Tebo Art Center, kota Tebo dan SMA Attaufiq Jambi.

Menariknya, Gol A Gong pendiri Rumah Dunia Serang, Banten tersebut juga mendapat amanah sebagai ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia. Hal ini semakin memperkuat peran seorang penulis sebagus Gol A Gong untuk bergerak di tingkat bawah yang mungkin belum terjangkau oleh dinas terkait dan pemerintah dalam menginisiasi masyarakat Indonesia gemar membaca.

Misinya untuk menjadikan Indonesia Membaca juga digaungkan dan disosialisasikan ke kami, FLP Jambi, tentang inisiasi dini gerakan membaca di tingkat masyarakat. Pribadi Gol A Gong yang bisa masuk kebanyak kantong-kantong komunitas, lembaga dan pribadi merupakan langkah dan keputusan positif yang harus didukung. Sebab justru hal inilah yang perlu dilakukan agar gerakan ini bukan hanya sebagai ‘basa-basi’ program pemerintah saja.

Kami justeru salut ketika GG meresmikan Biro Taman Bacaan Masyarakat di Kaltim (kalau tidak salah menurutnya) setelah usai acara bukannya pulang ke Jakarta namun justeru melakukan konsolidasi ke kantong-kantong baca di berbagai pelosok di Kaltim. Padahal ini belum dilakukan oleh pendahulunya. Sudah sepatutnya yang terjun dan bergerak dalam inisasi ini adalah orang-orang yang mengerti di dunianya (GG dengan rumah bacanya 10 tahun cukup punya pengalaman) bukan diserahkan kepada birokrat yang kaku dalam hal pelaksanaan program di masyarakatnya.

Pentingnya Gerakan Indonesia Membaca salah satunya adalah agar kita tidak mudah dilecehkan negara tetangga ( Malaysia ), ungkapnya berseloroh. Namun dari pesan tersirat itu adalah bahwa gerakan membaca ini betul-betul penting untuk membangun generasi Indonesia yang berkarakter. Sehingga implikasinya adalah kembali kepada kualitas individu itu yang akan berhimpun menjadi kualitas masyarakat yang ‘melek’ terhadap permasalahan sosial masyarakatnya yang majemuk.

FLP Wilayah Jambi sebagai salah satu komunitas penulis sudah barang tentu tidak terlepas dengan individu yang pembaca (bahkan kalau perlu “Gila Baca” ala Muhamad Faudzil Adhim) perlu mengambil peran yang intens dan berkesinambungan sehingga gerakan ini betul-betul dijaga dan dapat berkembang dengan baik, bukan hanya sebagai wacana saja namun aplikasinya jelas.

Hingga apa yang diharapkan Gol A Gong (dan kita semua masyarakat Jambi) bakal tercipta “Gerakan Jambi Membaca Menuju Generasi Berkarakter” betul-betul terwujud. One man one book (satu orang satu buku) bisa diupayakan dengan berbagai cara agar masyarakat terstimulus untuk ikut menyumbang ke kantong-kantong baca masyarakat di berbagai tempat.

Gol A Gong mengusulkan dan mengajak kepada pegiat dunia literasi untuk ‘menghadang’ potensi penyumbang buku bekas layak pakai agar bisa menempatkan ‘tong sampah’ yang akan diisi buku oleh para penyumbang yang datang ke mal atau supermarket dan tempat-tempat umum lainnya.

Stimulus ini penting agar masyarakat ikut andil dalam gerakan cinta buku dan cinta baca (syukur-syukur cinta menulis) yang dihimpun dari kekuatan masyarakat. Ditengah mahalnya harga kertas dan buku, setiap orang sebenarnya bisa dirangsang kepeduliannya hingga memiliki kemampuan sebagi donatur bagi bangkitnya generasi berkarakter menuju Jambi yang berkualitas. Semoga. (Berlian Santosa, Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Jambi)

CIPANAS IQRA, GEMPA LITERASI MENUJU INDONESIA MEMBACA

LEBAK–Kegiatan “Gempa Literasi: Cipanas Iqra”  di Kampung Cipanas, Desa Cipanas, Kecamatan Cipanas-Lebak, Sabtu (27/2) pukul 09.00 WIB sukses dibuka oleh Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah. Wakaf buku terkumpul 150 buku dari Rumah Dunia, 50 buku dari warga Cipanas, uang tunai Rp. 3.000.000 dari Wakil Bupati Lebak dan Rp. 150.000 dari Bela Adikarya, anggota DPRD Lebak. Gempa literasi pun terasa menggoncang Lebak hingga kekuatan skala 26 HA (huruf alphabet).

FORUM TBM

Sejak pukul 09.00 WIB Kampung Cipanas yang berada di jalur Rangkasbitung–Jasinga, Bogor, terasa hangat dengan nyanyian dan gerak tubuh para santri dari Ponpes Nurul Madaany, dari Babakan Pedes, Sipayung-Cipanas. “Kampung Cipanas akan dicatat dalam sejarah perpustakaan yang dikelola masyarakat atau jadi pelopor dalam gerakan taman bacaan masyarakat Indonesia, dengan mengawali gempa literasi ini,” Gol A Gong, Ketua Umum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia, pada saat memberi sambutan.

Kata Gong, “Cipanas Iqra bagian dari program besar Taman Bacaan Masyarakat Indonesia, yaitu ‘gempa literasi’. Dan Cipanas adalah titik gempa literasi pertama. Ini bukan gempa yang menghancurkan, tapi gempa yang akan membangun, menuju Cipanas membaca terus ke Banten mambaca, dan meluber ke Indonesia Membaca.”

AGEN

Selain wakaf buku, di Cipanas Iqra juga diadakan peresmian sekretariat Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas (IKMC) sekaligus launching taman bacaan masyarakat “Kosala Library”. Untuk peresmian sekretariat IKMC dan Peluncuran Kosala Library sendiri dilakukan oleh Wakil Bupati Lebak Ir. H. Amir Hamzah. Dalam sambutannya, Amir  berharap, “Kosala Library harus menjadi tempat mencari ilmu. Dan IKMC bisa menjadi agen perubahan.”  Amir mengingatkan, bahwa Jasinga yang menjadi tetangga Cipanas sudah diagendakan jadi Kabupaten Bogor Barat. “Jadi, kehadiran ‘Kosala Library’ sangat tepat, karena melengkapi potensi Cipanas yang sudah ada, yaitu arena motor cross, off road, arung jeram sungai Ciberang, dan pemandian air panas.”

Ditemui usai acara, Ahmad Arif, selaku ketua IKMC menjelaskan, “Kosala Library  membuka kursus menulis cerpen, novel, sekenario film bersama Gol A Gong.  Setiap Selasa, Rabu dan Kamis. Juga diskusi mingguan, kajian bulanan, dan sanggar dongeng anak,” kata Arif menginginkan keberadaan “Kosala Library” bisa diterima masyarakat Cipanas dan memacu kreativitas anak-anak.

Dalam acara itu hadir pula camat  Cipanas, H. Sukandi Mangku Alam, DPRD Lebak, Bela Adikarya, Asep Sukmara selaku Ketua (UPTD) Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan, Ade Mujhaerimi dari Komisi Transparasi dan Partisipasi, perwakilan Ponpes Daur El-Irfan, Tokoh masyarakat Cipanas, Kepala Sekolah SD dan SMA  Cipanas, serta mahasiswa IKMC.  Gempa Literasi Cipanas Iqra ini terselenggara berkat support Rumah Dunia, Suhud Media Promo, Banten Raya Post, IKMC, Nurul Madaany, Himpunan Keluarga Muda-mudi Kampung Lurah, dan Forum Lingkar Pena Lebak.( Ahmad Wayang)

TBM PERMADANI: HIDUP SUKSES DENGAN MEMBACA

Taman bacaan masyarakat (TBM) Permadani, yang dalam akronimnya Perempuan Maju dan Mandiri, menggelar Talkshow dan Launching Bulan Membaca TBM Permadani di aula Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Minggu (21/2) sekitar pukul 08.00 WIB.

Karena pendiri TBM Permadani seorang perempuan, Erna Yuliawati, S.Pdi, beserta 17 anggotanya yang semuanya adalah para kaum perempuan, maka tak aneh TBM Permadani mempunyai visi: ingin mewujudkan perempuan cerdas, maju dan mandiri dalam menjalankan kehidupan, dan misinya: untuk meningkatkan kompetensi perempuan, membela dan menegakkan hak-hak perempuan, dan mendukung pemberdayaan serta pencerdasan perempuan. Acara itu juga di hadiri oleh peserta yang didominasi  ibu-ibu atau permpuan. “Sebenarnya kita sudah mengundang dari Ormas-ormas di Serang, kepala Desa, sekolah-sekolah, TBM dan Kaporles,” kata Iin Indasari, S.Pdi, selaku koordinator TBM Permadani.

Acara launching di buka oleh Kepala Dindik Kota Serang, Drs. H. Hafidi ZA. M.M, yang kali ini diwakili oleh kepala seksi bidang Keaksaraan dan Kesetaraan, Oman Solihin, S.Sos., MM., yang sangat mendukung gerakan yang diselenggarakan TBM Permadani ini. Acara berlanjut pada diskusi yang bertemakan “Hidup Sukses Dengan Membaca”. Dengan tiga pembicara. H. Embay Mulya Syarif selaku pengusaha sukses, Tuti Alawiyah, aktivis perempuan dan Firman Venayaksa sebagai wakil dari Forum TBM pusat.

Dalam diskusinya, Firman menerangkan perihal TBM bahwa dalam menumbuhkan minat baca, harus diawali dengan kebiasaan membaca, kemampuan membaca sampai akhirnya membudayakan membaca. Tahun 2010 ini, kata Firman, buta aksara di Serang mencapai 2.150-an yang kebanyakan dari usia 45 ke atas. Dia juga menerangkan bahwa pentingnya keberadaan TBM itu. “Jangan sampai setelah mengadakan launching semacam ini, besoknya atau beberapa bulan kemudian TBM Permadani menghilang, atau tidak ada kabarnya lagi. Karena itu yang sering terjadi pada TBM-TBM yang ada di Indonesia saat ini mencapai tujuh ribuan lebih TBM. Hanya mengadakan launching saja, tapi tidak ada kelanjutannya. Semoga TBM Permadani tidak seperti itu, ya,” kata Firman menghimbau.

Tuti Alawiyah, mengatakan membaca bagi seorang ibu itu sangat penting agar tidak ketinggalan zaman. “Ibu-ibu itu harus lebih pintar dari bapak. Karena ibu yang mengurus anak dan mengatur sistem uang keluarga harus mempunyai pengetahuan yang lebih. Kan bisa repot jika kita tidak bisa mengurus rumah tangga dan anak.” Terang Tuti. Lanjatnya, kata Tuti meski seorang ibu selalu sibuk dengan di dapur, tapi tidak mesti meninggalkan aktivitas membaca. Membaca dari mana saja. “Bisa dari bungkus koran belanjaan atau resep-resep masakan di majalah. Jangan ada alasan membaca tidak ada waktu. Repot. Tidak keburu dan sebagainya. Tapi, giliran nonton sinetron paling depan dan lama. Boleh nonton tivi, tapi kita harus bisa menimbangnya. Mana yang baik dan mana yang membuang-buang waktu. Kita itu harus pintar memilih tontonan yang bagus dan bermanfaat,” katanya penuh semangat dan lantang.

Masuk pada pemateri ketiga, H. Embay yang memang pengusaha sukses menjelaskan atau berbagi pengalaman tentang ilmu wirausaha yang dimilikinya. “Ibu mau sukses?” kata Embay. Dengan serempak ibu-ibu pun menjawab “Mau!”. “Kalau mau sukses belajar dan banyak membaca,” katanya kemudian. Embay lalu mengutip hadist Nabi yang berbunyi, ‘Barang siapa yang ingin sukses di dunia harus dengan ilmu, barang siapa yang ingin sukses di akhirat harus dengan ilmu, dan barang siapa yang ingin sukses dunia dan akhirat harus dengan ilmu’. Lebih jauh, Embay mengatakan jika ingin sukses, tiru saja orang-orang sukses. Tiru Nabi Muhammad, bagaimana cara Nabi berdagang. “Modal awalnya cuma jujur, Al-Amin (yang dapat dipercaya). Teladani Rosul kita, keuletannya, keteladanannya, serta kasih sayangnya pada umatm” katanya panjang lebar. Dan sukses itu tidak hanya di dunia, tapi harus dunia dan akhirat. “Tidak ada jalan lain menuju kesuksasan kecuali dengan ilmu, membaca dan terus belajar.” Tandasnya.

Setelah acara diskusi Talkshow dan Launching Bulan Membaca TBM Permadani: Hidup Sukses Dengan Membaca berakhir, sekitar pukul 13.00 WIB. Menurut Erna, acara diskusi semacam ini akan terus diselenggarakan setiap bulannya. “Intinya, Permadani ingin memajukan kaum perempuan. Karena buta aksara terbesar di dominasi oleh perempuan. Karena perempuan adalah tiangnnya negara,” kata Erna ditemui saat acara usai.[Ahmad Wayang]

MTsN CILEGON WORKSHOP DONGENG

RG. Kedung Kaban saat mendongeng

SERANG- Salah satu manfaat mendongeng adalah penyampaian pesan moral. Selain itu jika dalam keluarga terbiasa mendongeng, maka anak dan orang tua akan menjadi akrab. Hal itu diungkapkan RG. Kedung Kaban, pendongeng Rumah Dunia, di hadapan sekitar 239 siswa-siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Cilegon yang berkunjung ke Rumah Dunia (RD) pada Rabu (27/1) dalam rangka Studi Observasi Lapangan (SOL). Pada kesempatan itu, pihak MTsN meminta diadakan pembelajaran mendongeng sekaligus praktek mendongeng dari Rumah Dunia yang akan dibawakan oleh RG. Kedung Kaban, salah satu relawan Rumah Dunia yang sudah empat tahunan menggeluti dunia dongeng.

Dalam sambutannya,  Utar Sunandar, S.Pd, guru pembimbing SOL, lembaga pendidikan itu ada yang formal ada juga yang non formal. Salah satu lembaga pendidikan non formal adalah Rumah Dunia.  “Ilmu itu tidak hanya ada di dalam Sekolah saja, tapi di dunia luar juga ada, seperti Rumah Dunia ini,” ujarnya. Utar juga mengatakan, kunjungannya ke RD, selain sebagai target kurikulum SOL, juga ingin mengenal apa itu Rumah Dunia dan apa saja kegiatan di dalamnya.

Pada kesempatan itu, Presiden Rumah Dunia Firman Venayaksa, memberikan sambutannya di depan siswa-siswi. Ia menjelaskan awal berdiri Rumah Dunia dengan gaya mendongeng, “Pada suatu hari kala.. ada seorang pemuda yang gelisah memikirkan Banten. Pemuda itu bernama Gol A Gong. Maka dia pun bersama sang istri dan sahabatnya mendirikan Rumah Dunia hingga sekarang,” ujar Firman yang sontak membuat anak-anak serius mendengarkannya. Selain mendapatkan materi dongeng, mereka juga disuguhkan film documenter Rumah Dunia.

Terkait dengan banyak jumlah peserta, maka Rumah Dunia membagi mereka ke dalam dua kelompok yang juga diamini pihak MTsN Cilegon. Seperti yang diungkapkan Muhzen Den, penanggung jawab acara dari Rumah Dunia. “Dari jumblah 239 siswa dan siswi MTsN Cilegon itu tidak semuanya di tamping bersamaan. Mereka dibagi dua kelompok. Kelompok satu dari Pukul 08.00 sampai Pukul 09.30, terus disambung kelompok dua dari Pukul 11.00 sampai Pukul 13.00,” ujar Muhzen Den.

Peserta serius menyimak dongeng

Malu dan Seru

Tidak hanya RG, panggilan akrab RG. Kedung Kaban, yang becerita atau menjelaskan tentang materi dongeng, pelajar juga diminta untuk aktif bertanya. Nova Sridamayanti (14), siswi kelas VII terlihat ragu-ragu dan malu saat dipanggil RG untuk maju membacakan ceritanya. Saat ditanya selepas membacakan atau mendongeng, Nova yang tinggal di Kampung Martaputra Kecamatan Jombang Kota Cilegon ini mengaku deg-deng-an. “Gerogi. Malu,” katanya kemudian. Berbeda dengan M. Firman, siswa kelas VII ini terlihat aktif bertanya dan tidak malu. Firman dengan semangatnya membacakan karya cerita yang dibacakannya. Menurut Firman, dongeng itu suatu kesenangan. “Kita bisa punya banyak teman dengan mendongeng, dan bisa kenal sama Kakak relawan (RG-red) yang pinter mendongeng,” kata Firman yang mengaku hobi membaca komik Naruto.

Menyikapi suasana seperti ini, Firman mengaku sangat senang sekali. Lokasi Rumah Dunia membuat suasana belajar jadi berbeda dan bertambah semangat. “Belajar di sini seru. Bisa ketawa-ketawa. Seneng rasanya. Rumah Dunia kaya bioskop. Sangat bagus,” kata pelajar yang baru berumur 12 tahun ini mantap. [Ahmad Wayang]

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010