INDONESIA MEMBACA DI JAWA TIMUR
rumahdunia | Warta Banten | April 2nd, 2011 | No Comments »
Awalnya kami di undang ke “Pekan Membaca” Perpustakaan Daerah Bojonegoro, Jawa Timur, bekerja sama dengan Yayasan Peran dan Mobil Cepu Limited, 24 – 26 Februari lalu. Sebagai Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat dan Dewan Pembina Forum Lingkar Pena, saya memiliki tanggung jawab moral dalam “Gerakan Indonesia Membaca” di tingkat lokal. Maka dari kota Bojonegoro, saya menyebarkan informasi pada komunitas-komunitas baca di Jawa Timur. Dari Ngawi, Surabaya, Madiun, dan Solo merespon dengan cepat.
BACKPACKER ALA PENULIS
Inilah backpacker kedua bersama istri setelah Jambi dan Palembang pada November 2010 lalu. Tentu ini adalah cara mudah mengajari Tias Tatanka menulis catatan perjalanan atau cerita serial. Tias sejak November 2009 hingga sekarang menulis cerita serial “Backpacker Surprise” di tabloid Gaul. Saya mengajarinya mengeksplorasi ide dari realitas ke fiksi. Terutama unsur setting lokasi atau tempat yang sangat beragam. Di episode “Backpacker Surprise” Januari 2011 lalu, setting lokasi Jambi dan Palembang sudah mewarnai.
Kami berangkat Rabu (23/2). Sekitar pukul 16.00 WIB, kami tiba di Stasiun Gambir, Jakarta. Kereta Sembrani meluncur pukul 20.00. WIB. Masih ada waktu 4 jam lagi. Kami “menyepi” dipojokan lantai 2 Gambir. Saya tiduran dengan matras, Tias menyelesaikan “Backpacker Surprise” edisi Kamis, 3 Maret 2011. Giliran Tias tiduran, saya melanjutkan penulisan skenario “Balada Si Roy”. Saya teringat saat backpacker sendirian mengelilingi Nusantara (1985 – 87) dan Asia (1990 – 1992). Jika ingin menulis, saya mencari tempat kursus mengetik. Saya menyewa mesin tik dan bisa memakan waktu hingga tengah malam.
Kereta Sembrani tepat waktu. Pukul 20.00 WIB merangkak menembus malam menuju Jawa Timur. Tiket Jakarta-Bojonegoro Rp. 280.000,- untuk kelas eksekutif. Pukul 06.00 WIB, kereta tiba di Bojonegoro. Di Stasiun, aroma “Boromania”, supporter sepakbola Persibo yang bermain di Liga Primer Indonesia terasa.
PEKAN MEMBACA
Di Bojonegoro, kami menghadiri “Pekan Membaca” di SMKN 2 Bojonegoro. Kami disambut Kepala Kantor Arsip dan Perpustakaan, Direktur Program Yayasan Peran Indonesia, wakil dari Asia Foundation, dan wakil Mobil Cepu Limited. Bersama Bupati, kami berkeliling areal SMKN 2, melihat kegiatan lomba melukis anak-anak, mobil perpustakaan dan bedah buku “Menuju Syukses Al-Fatihah” karya Drs. Suyoto, M.Si. alias Kang Yoto, Bupati Bojonegoro. Ini luar biasa. Bupati menulis buku, hal yang patut di contoh oleh bupati-bupati lain. Saat Bupati orasi, saya merasakan semangat perubahan. “Saya akan mencari tanah yang luas. Nanti perpustakaan Bojonegoro kita bangun lebih besar, lebih luas, dan fasilitasnya komplet.”
Saat saya orasi “Indonesia Membaca”, saya katakan kepada para pelajar bahwa kegiatan membaca buku bisa membuat lupa siapa diri kita sebenarnya; apakah kita anak orang kaya, miskin, berwajah ganteng atau jelek. “Ketika umur 11 tahun, tangan kiri saya harus diamputasi, Bapak membekali saya dengan buku. Hasilnya, saya tumbuh menjadi anak yang percaya diri dan lupa kalau sebetulnya saya ini cacat!” Usai orasi, saya membagi-bagikan door prize buku karya saya; Tiga Ombak dan Ledakkan Idemu, agar Kepalamu Tidak Meledak.
Menggelorakan “Gerakan Indonesia Membaca” di tingkat lokal terus saya gulirkan di “Pekan Membaca”. Setelah dinner bersama Teh Yati Kamil dan Mister Em dari Yayasan Peran di Joglo, alun-alun Bojonegoro, lalu kami diculik oleh Prawoto dari Society Education Centre (SEC). Saya membagi-bagikan pengalaman cara menulis yang mudah dan bernilai ekonomi kepada peserta kelas menulis SEC angkatan kedua. Ruangan perpustakaan seluas 8 x 5 m dengan koleksi 600 buku fiksi dan non-fiksi terasa sempit dijejali 40-an orang. Selain membuka kelas menulis secara gratis, kegiatan utama SEC adalah MOLI (mobil layanan informasi). Pertemuan sekitar 2 jam ini sangat menyenangkan, karena spirit Rumah Dunia yang kami kelola di Serang sampai juga di sini.
NONTON BOLA
Hari kedua, Jum’at (25/2), ada surprise buat kami. Wisma Jaya, tempat kami menginap, juga dijadikan base camp para pemain Bali Devata FC, yang akan bertanding melawan Persibo Sabtu (26/2). Saya dan Tias berpotret ria bersama pemain dan pelatihnya. Kami menitipkan pesan, bahwa sepak bola Indonesia harus kita perbaiki sama-sama. Saya di sisi penonton dan mereka di bagian permainan.
Pukul 13.30 WIB, pelatihan menulis fiksi di mulai. Bertempat di ruang baca Perpusda Bojonegoro, 50 pelajar dan mahasiwa tekun mengikuti tips yang saya paparkan. Sekitar 12.000 judul buku yang berjejer di rak-rak “menghasut” para peserta agar lebih termotivasi menulis. Tapi persoalan tetap sama. Ide banyak mereka temukan, tapi sulit menuangkannya. “Kok, mau mulai nulis itu, mentok terus! Macet!” begitu kata mereka. Saya mempersilahkan mereka membaca SMS di inbox HP. Saya katakan kepada mereka, “Menulis SMS juga bagian dari cara berlatih menuangkan gagasan. Mulailah menulis seperti sedang menulis SMS.”
Menyebarkan virus membaca terus berlanjut. Pada Jum’at malam (25/2) giliran komunitas “Sindikat Baca” di Kampung Baru, kami kunjungi. Anas AG, sang komandan, memotong tumpeng selamatan. Malam itu peluncuran “Sindikat Baca” di base camp yang baru. “Ngontrak. Dapat bantuan dari teman-teman anggota dewan,” tambah Anas lagi, yang juga terinspirasi Rumah Dunia. Ada sekitar 50 warga memadati rumah tipe 36 itu. Mereka terdiri dari pegawai negeri, mahasiswa, guru, bahkan buruh pabrik. Mereka ingin meningkatkan kualitas hidup dengan menulis. Saya menjelaskan, bahwa menulis selain kegiatan intelektual, juga nilai ekonominya tinggi. Mereka tercengang, ketika saya sebutkan nilai nominal yang saya peroleh dari menulis.
Hal itu pun saya sampaikan di komunitas “Writing Revolutions” (WR) pada Sabtu (26/2), pukul 13.00 – 21.00 WIB. Saya katakan, “Profesi menulis sangat prospektif. Tabloid Gaul dan Majalah Story memberi kesempatan luas kepada para penulis daerah. Honornya lumayan.” Di komunitas WR pimpinan Phunix ini, saya memberikan writing clinic. Cerpen-cerpen mereka saya baca dan saya beri masukan. Rata-rata masalahnya sama; ejaaan (tanda baca) dan belum memahami unsur intrinsik; tema, amanat, sinopsis, tokoh, karakter, alur, plot, latar tempat dan wakitu, konflik, dialog, point of view, dan ending.
Sekitar pukul 15.00 WIB, writing clinic istirahat dulu. Saya dan Tias bergegas menonton pertandingan LPI antara Persibo Bojonegro melawan Bali Devata. Anas GP dari “Sindikat Baca” sudah membelikan kami tiket VIP dan menunggu di Stadion H. Sudirman. Ketika berada di tribun VIP, belasan ribu penonton yang menyebut “Boromania” dengan seragam oranye menyebarkan aroma perubahan. Saat jeda, perwakilan dari mereka berjalan mengelilingi lapangan dengan spanduk bertuliskan “Revolusi PSSI”. Selepas Magrib, writing clinic dilanjutkan. Saya dikejutkan oleh pengakuan seorang peserta, bahwa ayahnya tidak menyetujui aktivitasnya di dunia sastra. “Kalau ayah tahu, kuliah saya akan di stop!”
Sabtu (26/2) adalah malam terakhir kami di Bojonegro. Hari-hari yang menyenangkan. Sebagai perpisahan, Prawoto dan Phunix mengajak kongkow di alun-alun Bojonegoro. Usai dinner, sekitar pukul 22.30 WIB, kami berkunjung ke rumah Yonathan Rahardjo, penulis novel “Lanang” asli Bojonegoro. Saya meminta tolong kepada Yonathan, agar tetap memelihara spirit “Dari Kampung untuk Indonesia Membaca”.
Minggu pagi (27/2), kami naik travel ke Ngawi. Sekitar 2 jam perjalana. Pukul 09.30 WIB sampai di hotel Sukowati, Ngawi. Kami langsung dijemput dan memberikan writing cilinic kepada para calon penulis yang tergabung di Forum Lingkar Pena. Acara selesai pukul 15.00 WIB. Selepas Ashar mampir ke rumah Kusprihyanto Namma, pegiat sastra yang pernah menggelorakan “Revitalisasi Sastra Pedalaman” bersama Beno Siang Pamuncak. Malamnya jalan-jalan ke alun-alun Ngawi. Ya ampun, pukul 20.00 WIB sudah sepi. Tidak ada angkutan kota. Kami jalan kaki sampai alun-alun. Makan nasi rawon. Untung pulangnya ketemu becak motor. Kami meminta keliling kota dulu. Benar-benar kota kecil, sepi pula.
WISATA LIBRARY
Senin (28/2) pagi dengan menggunakan jasa travel kami berangkat lagi menuju Surabaya, sekitar 5 jam sampai ke Surabaya. Ongkosnya dari Ngawi ke Surabaya Rp. 8.500,-. Rehat sebentar di hotel Sahid berkat support XL dan Marvin Sitorus dari www.hargahotel. Menjelang Ashar, ketemuan dengan Nungki Prameswari, dokter gigi dan pendukung Rumah Dunia. Nungki bermaksud mengajak kami keliling kota, tapi hujan. Kami memilih dinner nasi goreng merah di stasiun Gubeng. Tadinya mau mencicipi es krim tempo dulu di Zangrandi, dekat Garden hotel, tapi gerimis, dingin lagi.
Kami pulang ke hotel. Belum lama, pintu kamar hotel ada yang mengetuk. Trini Haryanti dan Em dari Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI) yang datang, dan mereka membawa kami mengelilingi Surabaya, melewati gang Dolly yang menyeramkan dan makan menjelang tengah malam di Mak Yeye, di Gang Jagir. Yang khas dari Mak Yeye ini adalah selalu buka mulai jam sepuluh malam, lauknya sederhana, cuma nasi, tempe goreng, telur dadar dan ikan pari goreng. Tapi saat itu, ikan pari kesukaan Tias tidak ada. Nah, menurut orang-orang, menu istimewa adalah sambelnya yang disiapkan sepanci besar. Jika kurang manis, bisa di tambah gula. Tapi harus antri? Boo, desek-desekan. Kehadiran Mak Yeye ini direspons positif oleh warga. Mereka membuka warung-warung minuman. Mak Yeye hanya menjual nasi. Jadi, para penyuka kuliner Mak Yeye, makannya menyebar di warung-warung minuman.
Selasa (1/3) pagi, Trini mengajak kami “wisata library”. Ini menyenangkan. Tujuan pertama ke perpustakaan Mawar, Sampoerna Foundation. Terus, ke kantor YPPI di Rungkut Permai. Akhir perjalanan, mampir ke perpustakaan milik Oei Hiem Hwie di Medayu Regency. Ya, ampuuun…, ngiler melihat koleksi buku tentang Bung Karno dan Pramoedya Ananta Tour. Saya melihat buku-buku tentang sejarah Indonesia ada di sini. Pemiliknya dulu adalah teman Pram yang di penjara Pulau Buru. Oei pendokumentasi yang hebat. Buku-buku langka ada di sini. Ah, andai ada sejuta orang seperti Oei di negeri ini, pasti negeri ini akan maju dan sejahtera. Saya meyakini, buku bisa mengubah kualitas hidup seseorang. Change with reading. Di Rumah Dunia, kami sudah membuktikannya.
Kami bergegas menuju hotel disupiri Dimas dari YPPI. Sebelum ke hotel, kami mendapat kabar duka, walikota Serang, H. Bunyamin wafat di RS. Sutomo. Kami menyempatkan melayat dulu. Tapi, nama Bunyamin tidak terdaftar. Setelah sampai di stasiun Gubeng, info terbaru masuk, ternyata Bunyamin wafat di RS Siloam, Surabaya. Pukul 16.00 WIB, kami meluncur ke Madiun dengan kereta Taksaka. Ongkosnya Rp. 70 ribu.
KULINER
Kami bermalam di Widya Nugraha, hotel Melati. Lokasinya sekitar 300 meter sebelah selatan stasiun. Banyak hotel melati di sini. Kami melewatkan malam bersama saudara Tias; Mas Budu dan istrinya. Kami di ajak makan malam di restoran Mbah Jingkrak. Hampir sama dengan rumah makan Ampera di Bandung yang mulai merambah ke kota-kota lain. Ala prasmanan. Tapi di Mbah Jingkrak ini menunya heboh-heboh. Selera makan saya, walaupun di larang keras makan yang bersantan, bangkit dengan menggebu-gebu. Nasi, tempe bacem, tahu bacem, terong balado, sop tandas dengan sukses. Wisata kuliner bagi saya adalah keharusan. Hanya saja bagi saya sekarang tidak bisa sebebas dulu; santan, daging merah adalah pantangan. Itu cukup. Yang tidak terbeli tentu adalah merasakan atmosfirnya.
Keesokan harinya, Rabu (2/3), di SMA 2 Madiun, sekitar 30 pelajar dan 10 guru bergabung di pelatihan “Be a Writer”. Mereka sangat antusias. Pelatihan di mulai pukul 09.00 dan berakhir pukul 16.00 WIB. Para peserta bersemangat mengikuti praktik menulis. Di mulai dengan menulis nama pena, menuangkan ide, menyusun sinopsis cerita pendek, dan mencoba memulai menulis cerpen dengan kalimat pembuka yang jelek (kalau ada). Paling heboh ketika saya meminta volunteer 2 murid untuk menerjemahkan alur cerita “Astuti meminta bantuan Toni untuk memfitnah Sidiq, karena sudah menolak cintanya”. Kedua pelajar itu bergaya seperti artis sinetron, mengembangkan imajinasi mereka dengan dialog-dialog lucu. Itu adalah cara atau simulasi memulai menulis cerita dengan dialog.
Pukul 18.00 WIB dengan kereta Taksaka kami menuju Solo. Perhentian terakhir. Pelatihan “Be a Writer” bersama para mahasiswa di Pondok Mahasiswa Ar-Royyan, Ngoresan. Di atas kereta, saya bertanya kepada Tias. “Berapa buku ‘Tiga Ombak’ yang terjual?” Tias menjawab, sekitar 100 buku. Alhamdulillah, berarti kami bisa menambah lagi kas Rumah Dunia sebesar Rp. 1 juta untuk pembebasan tanah Taman Budaya Rumah Dunia.
Uh, saya sudah tidak sabar tiba di Solo; nongkrong nge-wedang jahe dan makan di angkringan di Ngarsopuro! Galago, sholat Jum’at di mesjid Keraton, menyusuri jalan Slamet Riyadi, menghirup aroma nasi liwet dan mengunyah tunggir ayamnya. Solo adalah rumah istri saya. Itu sebabnya kami memilih setting lokasi Solo untuk serial “Backpacker Surprise” di tabloid Gaul.(*)









