ROYALTI “GADIS BUKAN PERAWAN” DAN “MELIHAT TANPA MATA”

Sahabat, ini cerita tentang kampung lagi, Banten. Kampung kami tercinta, yang tidak memiliki estetika. Yang para pemimpinnya tidak merasa, bahwa perpustakaan itu harus dinomorsatukan. Jalan-jalan pada rusak, warga menanaminya dengan pohon pisang. Sekolah-sekolah dasar banyak yang mirip kandang kambing. Pejabatnya berjamaah masuk penjuara. Sementara  para tikus busuk tertawa di pinggir sawah. Inilah cerita tentang kami, yang mencoba menggerakkan warga, agar rajin membaca. Kami berkumpul di Rumah Dunia sejaktahun  2000 menggelorakan itu. lanjutkan membaca »

PUISI-PUISI ROZI KEMBARA

BIOGRAFI  MATA

“mata lelaki selalu menyimpan kabut yang menyembunyikan

catatan kusam kekalahan kami”

begitulah, kamu pun mendedah kecemasan yang telah lama

kamu kemas dalam malammalam yang semakin menumpuk

dan setiap kali langit memucat

kamu berdiri di beranda rumah menghancurkan kerinduankerinduan

yang sama sekali belum kamu pahami benar.

“dan mataku, coba tatap mataku. apakah ada jejak kabut

apakah ada catatan kusam kekalahan kalian. bahkan mataku

sendiri telah tawar dari kekalahan maupun kemenangan”

kamu pun akhirnya letih. dan membenahi kembali kecemasan

kecemasan itu. menyimpannya kembali dalam lemari yang

terletak di belantara  dadamu.

tapi matamu masih membangun jembatan ke arah mataku

tapi matamu seperti setangkup pertanyaan yang memberat

di mataku.

“baiklah kalau begitu, biarkan mataku dan matamu membaur

kemudian bersamasama mengupas apa yang memang perlu

untuk dikupas. mataku dan matamu biar hanyut dalam tengadah

tangan sejarah yang gerah”

Tanah Jogjakarta

***

HUJAN TURUN DI KULON PROGO

I

merapatlah biar kehangatan menggubah lagu paling bisu

dan menyematkannya pada kedua belah telinga

di atas kepala, langit menggenggam telapak malam

udara dingin seperti mata pisau yang tersenyum

menatap urat nadi

mimpi kami beberapa jam yang lalu

adalah tangisan bercampur bara yang kalian benamkan

dalam tiap gemuruh ombak dan kalian tiupkan

pada setiap butir pasir hitam

II

telah kami eja api yang tumbuh pada sulur syaraf kalian

telah kami tafsirkan suara gemeretak yang terdengar

setiap kali kabar buruk itu menghampiri butiran pasir

yang telah menjadi penyangga nyawa kalian

tapi kami hanya mampu membongkar dada

dan mengais puingpuing munajat. kemudian menitipkannya

pada bibir pantai: dimana usia kalian matang oleh tiupan anginnya

doa kami mengabadi merasuki hari yang menerus berlari

III

merapatlah, dan dinginpun kehilangan rumah untuk bersemayam

lalu kami menyebut nama kalian berkalikali. hingga  kalian

menjelma petanda luka dalam rukuk dan sujud kami

Tanah Jogjakarta

***

MALAM LEMBANG DIBALUT HUJAN

dingin yang pecah dari pembuluh malam

belum mampu membekukan

remah perbincangan kita

langit menjulurkan hujan

menciptakan ceruk kecil kenangan

dan menambah perih setiap tikung ingatan

yang sejak dahulu perlahan kuhanguskan

dalam tiap kobaran doa.namun berkalikali

kuhanguskan

berkalikali juga ia lahir kembali sebagai

ingatan baru.

(di kantung riwayat sangkuriang melata

pada labirin doa.sedang sumbi kembali menjadi

rusuk yang melekat di iga waktu)

Tanah Bandung

***

Rozi Kembara, lahir 27 Juni 1990 di Tasikmalaya. Selama beberapa waktu pernah terdampar di Rumah Dunia, Serang-Banten. Kini sedang belajar di fakultas bahasa dan seni Universitas Negeri Yogyakarta.

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

PUISI-PUISI AHMAD WAYANG

DETIK YANG MATI

:wardani

pagi sekali, suara dangdut

dari sudut beranda rumahmu

tergilas rodaroda waktu

yang terus bisu

sesekali lagu yang kau putar

mengusik hatiku

kenangan berterbangan

ingin menggapai rindu

yang masih dalam ikatan matamu

ah, selalu ada tanda tanya

dan akan selalu begitu

saat sepasang mata

melihat tenda merah di latar rumahmu

entah kenapa

keping kenangan kita

berserakan dalam kamar sempit ini

tak terasa malam selimuti jiwaku

begitu pun dengan sepi yang selalu menggantung

nafas ini. gigil tubuh ini tak ada arti

saat bibirku dan bibirmu bertemu kaku

sunyi lantunkan gumam; bahwa alis matamu

akan jadi lengkung esok nanti

seperti yang lainnya kau terlihat riang

dan sesekali berceloteh dengan sang Rama

diiringi wangi melati dan parfum kesukaanmu

inikah kali pertama detik yang mati?

empat belas bayangmu masih menggantung diri

mungkin gerimis januari haturan terahkir

ketika sepuluh butir beningnya

menempel di kaca jendela yang mati rasa

duh gusti, inikah  kali pertama detik yang mati?

Kepondoan, 14.01.10 (06.05)

***

HIJRAH CINTA

kutinggalkan semua kenangan

di bangku kecil

rumah dan bunga padi

melepas semua wangi tubuhmu

yang bermekaran dalam jantung batu

senja yang menyembul dari sudut bibirmu

telah kuhapus dengan gerimis

malam itu juga

kutinggalkan jejakmu

yang masih mengikat

biarlah angin selatan yang membawa duka

pada loronglorong cinta

ini hanya hijrah bagi

jiwa nestapa

yang masih menyulut api kesunyian

sebelum menghembuskan tawa yang panjang:

ucapkan selamat tinggal

Kepondoan, 14.01.10

***

WANGI SUBUH

adakah kata di ujung nafasmu

bersemilir angin dari waktu yang berbeda

jingga warnanya

atau hati yang kelabu

luka dan nestapa di tiap lekuk senyummu

ingin kureguk wangi subuh

sampai cahayamu jatuh

menetes di kalbu

masihkah nafasku memburu racunmu

atau perlahan mencuri

wangiwangi yang terselip di ujung matamu

jika begitu, sampaikan mimpi indahku;

tentang rembulan tua

di akhir kepulangan kita

Rumah Dunia, akhir 2009 awal 2010

***

ALAMATMU ADALAH WAKTU

malam masih duka padaku

subuh yang kurindu sapa laut biru

angin kini telah menipu

walau dulu telah manjakanku

karena ini adalah penghabisan waktu

untuk mencari alamatmu

kau mungkin tahu catatanku tempo dulu

secarik alamat menari dalam waktu

ya, menari

hanya menari

Rumah Dunia, akhir 2009 awal 2010

***

Ahmad Wayang, lahir 19 September 1987 di sebuah Kampung kecil Kepondoan, Serang-Kibin. Ia pernah mengikuti TRALIS 3 FLP dan Kelas Menulis angkatan VIII di Rumah Dunia. Juga mengikuti Majelis Puisi di Rumah Dunia. Beberapa karyanya berupa puisi dan cerpen sudah menghiasi koran lokal, seperti Fajar Banten dan Radar Banten. Ia juga relawan dan wartawan rumahdunia.com. Email:soby_rin@yahoo.co.id

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

TIRTA LEBAK BUANA BANTU PEMDA

Pada tahun 1982 tempat pemandian air panas sudah dikelola Memet Rahmat (63), namun lambat laun pengunjungnya semakin bertambah. Hal inilah yang akhirnya membuat mata Pemda Lebak (Disporaparbud) melek untuk memfasilitasi infrastruktur di area Tirta Lebak Buana. Dari tahun 2003 akhir objek wisata alam tersebut terus menyetorkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp. 35 juta. Jangan aneh jika dikarcisnya menemukan depan loketnya menemukan tulisan, “Dengan membeli tiket ini berarti anda telah membantu Pendapatan Asli Daerah Lebak. [Teks&Foto: Harir Baldan]

SEJARAH KAMPUNG CIPANAS

Kampung Cipanas dahulu bernama Kampung Dana ini digagas oleh Lurah H. Kardan dan rekannya, Ukik Sanukri. Di kampung ini terdapat sumber mata air panas lalu nama kampung ini diganti dengan Cipanas. [Teks&Foto: Harir Baldan]

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010