BIOGRAFI MATA
“mata lelaki selalu menyimpan kabut yang menyembunyikan
catatan kusam kekalahan kami”
begitulah, kamu pun mendedah kecemasan yang telah lama
kamu kemas dalam malammalam yang semakin menumpuk
dan setiap kali langit memucat
kamu berdiri di beranda rumah menghancurkan kerinduankerinduan
yang sama sekali belum kamu pahami benar.
“dan mataku, coba tatap mataku. apakah ada jejak kabut
apakah ada catatan kusam kekalahan kalian. bahkan mataku
sendiri telah tawar dari kekalahan maupun kemenangan”
kamu pun akhirnya letih. dan membenahi kembali kecemasan
kecemasan itu. menyimpannya kembali dalam lemari yang
terletak di belantara dadamu.
tapi matamu masih membangun jembatan ke arah mataku
tapi matamu seperti setangkup pertanyaan yang memberat
di mataku.
“baiklah kalau begitu, biarkan mataku dan matamu membaur
kemudian bersamasama mengupas apa yang memang perlu
untuk dikupas. mataku dan matamu biar hanyut dalam tengadah
tangan sejarah yang gerah”
Tanah Jogjakarta
***
HUJAN TURUN DI KULON PROGO
I
merapatlah biar kehangatan menggubah lagu paling bisu
dan menyematkannya pada kedua belah telinga
di atas kepala, langit menggenggam telapak malam
udara dingin seperti mata pisau yang tersenyum
menatap urat nadi
mimpi kami beberapa jam yang lalu
adalah tangisan bercampur bara yang kalian benamkan
dalam tiap gemuruh ombak dan kalian tiupkan
pada setiap butir pasir hitam
II
telah kami eja api yang tumbuh pada sulur syaraf kalian
telah kami tafsirkan suara gemeretak yang terdengar
setiap kali kabar buruk itu menghampiri butiran pasir
yang telah menjadi penyangga nyawa kalian
tapi kami hanya mampu membongkar dada
dan mengais puingpuing munajat. kemudian menitipkannya
pada bibir pantai: dimana usia kalian matang oleh tiupan anginnya
doa kami mengabadi merasuki hari yang menerus berlari
III
merapatlah, dan dinginpun kehilangan rumah untuk bersemayam
lalu kami menyebut nama kalian berkalikali. hingga kalian
menjelma petanda luka dalam rukuk dan sujud kami
Tanah Jogjakarta
***
MALAM LEMBANG DIBALUT HUJAN
dingin yang pecah dari pembuluh malam
belum mampu membekukan
remah perbincangan kita
langit menjulurkan hujan
menciptakan ceruk kecil kenangan
dan menambah perih setiap tikung ingatan
yang sejak dahulu perlahan kuhanguskan
dalam tiap kobaran doa.namun berkalikali
kuhanguskan
berkalikali juga ia lahir kembali sebagai
ingatan baru.
(di kantung riwayat sangkuriang melata
pada labirin doa.sedang sumbi kembali menjadi
rusuk yang melekat di iga waktu)
Tanah Bandung
***

Rozi Kembara, lahir 27 Juni 1990 di Tasikmalaya. Selama beberapa waktu pernah terdampar di Rumah Dunia, Serang-Banten. Kini sedang belajar di fakultas bahasa dan seni Universitas Negeri Yogyakarta.
***
REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.