PUISI-PUISI HUSEN ARIFIN

Ketika Hujan Menulis Usiaku

ketika hujan menulis usiaku

mengecup mimpiku dan memberi lentera

aku tak melihat apa-apa

kecuali bunga merekahkan bau cinta

di antara rintik-rintik yang tak terbaca

aku adalah nama yang terlahir dari ribuan cerita

seperti doa yang diucapkan setiap malam oleh pujangga

sebuah cita-cita di koridor kehidupanku pernah menghilang

hingga aku terjungkal dan bimbang mengasah masa depan

semua yang kusampaikan kepada Tuhan hanya berpucuk di ubun-ubun

sementara kerisauan menoleh ke bayangan milikku

seolah menutup sekat bahagia di sekeliling rumah

memberi garis hitam di ruang-ruang, membonsai dinding keruh

tapi separuh hidup ini telah mengurai usiaku lebih indah

meski aku takkan tahu arah segala sesuatu di balik senandung lagu

bahkan aku menjalani hidup sederhana

tentang keutuhanku menunggu takdir

dan badai sesekali menyelubung ke sudut jendela

Malang, 2010

***

Di Altar Suraumu

di altar suraumu

garis usiaku nampak berbaris

memanjang jadi urutan

menunggu kematian

yang tertuliskan di arsymu

aku minta pulang

dengan cara yang jarang

dibuatkan alif-alif keberkahan

dan jadikan aku malaikatmu

yang mencatat jarak hidup di dunia

untuk sampai ke surga

Malang, 2010

***

Perjalanan yang Indah

kami dekap azan subuh sambil meminum sebotol kopi

dan memerahkan kayu-kayu yang hampir rubuh

kami seduh doa-doa dengan sendok kecil,

selimut kami hanya serpihan daun-daun

kami kuatkan dalam seribu lantun zikir

kami juga berteduh kepada embun-embun

dari ceracau beburung di pepohonan

kami buka mimpi kami dengan nafas yang bergemuruhan

seputih angsa-angsa yang berbaris di taman

kami kekalkan usia kami dengan cinta

bila luka mengikis kami

maka airmata kami membuncah bukan karena kami lemah

tapi kami lelah merendam duka sampai rebah ke altar rumah

dan kami lukis arus hidup kami yang panjang seperti sajadah

lalu kami duduk di samping sungai

melihat ikan-ikan meneruskan perjalanannya yang indah

malang, 2009

***

Kota Seribu Matahari

dari kota keroncong kupahat kolong-kolong langit

menjadi tembang keraton yang mengagungkan keluhuran

di nuansa gemerlapan aku tegaskan

kepada ibu kedamaian tentang musik kehidupan

adalah denting kecapi dan tetabuhan

mendawai bersama gamelan

sebagai pewakil kesunanan budaya

petik-petiklah irama dalam keramaian

dan perempuan bertalu menyanyikan sinden kenangan

sampai malam sanggul rembulan

ke pucuk kesungguhan berdiam di singgasana

dan di tengah-tengah pesonanya pepujaan

para penari senandungkan kata-kata imaji

para pemimpi kota seribu matahari

agar tetamu tetangga sendiri mafhum kekekalan malam ini

malang, 2009

***

Kisah Hujan

yang mengisahkan maut dan kabut adalah hujan

di antara rintik-rintiknya nafasmu dipetik sekejap saja

sedalam-dalamnya tanpa henti

ketika gerimis semakin tipis kau dicium tanpa jeda

lalu dengan jala yang melintang

perahumu dicubitnya berlabuh ke karang

malang, 2009

***

Husen Arifin, lahir di Sumberkerang, Probolinggo 28 Januari 1989. Aktif menulis sejak di MTs Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura. Mahasiswa Fakultas Ekonomi UIN Maliki Malang, bergiat di Komunitas Sastra Parkir Malang Raya. Puisi-puisinya terangkum dalam antologi puisi Pemenang&Nominator Lomba Cipta Puisi Tingkat Mahasiswa Se-Indonesia “Menolak Lupa” (2010).

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

***

PUISI-PUISI DEA ANUGRAH

KEPADA PISAU

airmatamu mengalir

sampai jauh

pelan pelan menghampir kesunyianku.

***

BLUES BUAT PEREMPUAN R

di kotaku. di kotaku yang jauh ini

selalu kutemukan kilau senyummu

pada lampu lampu jalan, pada bau malam yang khas

juga pada dingin angin pelabuhan.

padahal hidup

hanya menunda kekalahan

seperti payung

yang perlahan lahan sobek

dikoyak moyak angin kencang jelek.

di kotaku.

di kotaku yang jauh ini

aku selalu mengingat senyummu

meski hidup hanya serupa

payung sobek!

(2008-2009)

***

NYANYIAN DIRI SENDIRI

di antara bulan sekarat

dan tiang tiang penuh ukiran

seorang penyair sedang birahi

memandangi malam

dibayangkannya malam itu

dibayangkannya bintang bintang pengecut itu

sebagai wajah kekasih

yang pergi meninggalkannya

o penyair yang sejenak lupa akan sajak sajak!

perlahan dihitung hitungnya kenangan

diketuk ketuknya lagi boks ingatan

tentang kulit pipi

dan nafas kekasih yang harum

serupa asap gaharu

di pemakaman.

(2009-2010)

***

SERIBU TAHUN CHAIRIL ANWAR

seribu tahun, chairil. seribu tahun

adalah revolver verlaine dan tangisan rimbaud

yang meriuh seperti cip cip cip

dalam meditasi ginsberg di pegunungan rocky

atau jemari jilan yang mungil

belajar menggenggam dalam kepala afrizal.

seribu tahun, chairil.

seribu tahun angin lalu menghela deru dingin

seperti puisi dalam rangkulan euphrosyne

dan cintanya yang ganjil kepada penyair

seribu tahunmu, chairil

seribu tahunmu itulah

yang membuatku betah menemui malam

dan berteriak teriak

menantang rembulan

–terus menuliskan sajak sajak

dari dunia yang tak kupahami sedikitpun

lalu membikin sekerat janji

untuk  hidup abadi.

Desember 2009

***

Dea Anugrah lahir di Pangkalpinang, Bangka Belitung, 27 Juni 1991. Aktif menulis puisi, sesekali menulis cerpen dan artikel. Karya-karyanya dipublikasikan di berbagai media lokal dan nasional serta beberapa antologi bersama. Kuliah di Fakultas Filsafat UGM. Penyair (itu) Bodoh (Greentea Publishing, 2009) adalah buku kumpulan puisi tunggalnya yang pertama. Menghabiskan waktunya untuk membaca, menulis, naik bis Trans Jogja, bersepeda dan menemani ikan-ikan hias di kamar kosnya yang kecil dan berdebu. Email: sorrow_still_sad@yahoo.co.id, HP: 085273131839.

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

MENU MAKAN MALAM

Cuaca akhir-akhir ini kadang tak tentu, ditambah lagi suhu udara malam yang cukup dingin. Tak ada pilihan lain ketika aku dan Gol A Gong mencari makan malam yang masih hangat. Terpaksa makannya mampir di warung tenda Ahmad Iwan (22) asal Lamongan, Jawa Timur, di jalan raya Cipanas, Lebak, Banten. Menurut lelaki yang masih jomblo ini semalam dia menghabiskan 3 kilogram lele dumbo, 5 kilogram ayam, dan 5 tahu dan 1 buah tempe. Dan omset yang diraih warung yang baru satu setengah bulan ini mengeruk keuntungan Rp. 300 ribu/malam. Jika anda malas ke tendanya cukup menghubunginya di nomor (081910915411). Nah, jika perut anda masih terasa dingin. Tak jauh dari waung pecel lele, berdiri gerobak Supriyanto yang melayani martabak manis Rp. 4.000,-/loyang, dan martabak telor Rp. 6.000,-/buah. Menurut lelaki asal Solo ini, penghasilannya tak nentu. Namun semalam dia bisa menghabiskan 6 kilogram adonan martabak manis dan 50 biji adonan martabak telur. Dan dia pun siap melayani pelanggannya dari jam 4 sore sampai jam 12 malam. Lelaki yang sudah berjualan 4 tahun ini siap melayani pesanan dan bisa menghubungi di (081319434334).[Teks&Foto: Harir Baldan]

JAJANAN MALAM HARI

Kantin di Cipanas hanya buka sampai sore hari. Lalu bagaimana jika Anda pengen jajan atau makan di malam hari? Tenang. Jangan khawatir. Karena sekitar 50 meter dari areal Cipanas, warung-warung tenda siap melayani Anda dengan menu-menu malam hari. Maknyoeess, deh! [Teks: Langlang/ Foto: Harir Baldan]

PUISI-PUISI TATANG ADE CHANDRA

KEPASTIAN TENTANG KERAGUAN

Seperti kau tak menerima pendapatku, aku juga tak begitu saja menerima pendapatmu.

Hingga akhirnya aku terantukantuk sesuatu yang tak bisa aku ketuk. Segala resah, keluh dan kesah. Entah, sepertinya mau sirna dan berubah.

mungkin itu dirimu

di balik jeruji yang sudah terbuka

apakah itu bayangmu

yang bisa keluar masuk terali jiwa

Tak mungkin angin membawa kabar, mustahil nyanyian dari rumput yang bergoyang. Mulutmu pembawa kabar yang memuntahkan kata. Nyanyian itu di jiwamu mendesahkan senandung.

adalah suatu kepastian yang aku inginkan darimu

dasar harapan tentang

keraguan yang ingin kusingkirkan darimu

***

1/3 MALAM

Malam ini kita melukis apa?

Bintang atau gelap?

Berbincang dengan pekat

Senda tanpa sendawa

Melihat dengan picingan mata dan

sedikit kerutan dahi

Sudah menambahkah pengetahuan kita

hari ini?

***

KOSONG

laparku sudah mengendap

terjejali kosongnya waktu

kukembangkan kematian jadi dahaga

aku bingung dengan langkah

aku kehilangan hari-hariku

sesak, sesaak!

aku tak bisa menjawab pertanyaan

“bagaimana selanjutnya?”

***

Tatang Ade Chandra, kelahiran Ciomas Banten, buruh pabrik lulusan Teknik Kimia Untirta. Pernah mengikuti Kelas Menulis di Rumah Dunia, Serang, Banten.

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010