SI PENJUAL GORENGAN JADI WARTAWAN

Catatan Harir Baldan

“Alhamdulillah…” itulah kata syukur yang terucap dari mulut saya usai menggelar rapat evaluasi Pesta Anak Rumah Dunia, Minggu (25/7) lalu. Ucapan rasa syukur dan terima kasih itu saya haturkan kepada para donatur Rumah Dunia yang sudah membantu berlangsungnya kegiatan di Rumah Dunia yang mengusung visi “mencerdaskan dan membentuk generasi baru di Banten” ini. Alhasil, bantuan tersebut juga dirasakan oleh saya sendiri. Saya adalah Miftah Udin alias Harir Baldan, salah satu relawan Rumah Dunia. Saya bergbung di Rumah Dunia tahun 2007. Saat itu saya berjualan gorengan dan sering dating ke Rumah Dunia untuk membaca tabloid “Bola”.

Saya bertemu Gol A Gong dan ditawari bergabung di tabloid “Kaibon” (sekarang almarhum) sebagai office boy. Saya terima. Lalu Mas Gong menyuruh saya ikut KelasMenulis pada 2009. Saya disuruhnya menulis tentang laporan sepakbola. Saya juga ditawri Mas Gong jadi kurir kaset berita ke Banten TV dari relawan Rumah Dunia sejak 2000 – 2010. Sat itu Mas Gong membentuk divisi film Gong Media Cakrawala. Para relawan Rumah Dunia yang tertarik ke jurnalisme TV menjadi VJ (video jurnalis)-nya.

Kemudian saya digembleng Mas Gong sejak awal 2010. Pada Februari 2010, saya diajak menemani Mas Gong terapi di Cipanas, perbatasan Jasinga, Bogor. Mas Gong mengidap penyakit pengapuran di tulang belakang, dari lumbar hingga ke leher. Mas Gong harus terapi berenang air panas. Mas Gong mengontrak sebuah rumah di pertigaan Cipanas, persis di depan pemandian Cipanas. Rumah itu diserahkah ke mahasiswa-mahasiswa yang tergabung di Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas.

Kesempatan itu tidak saya sia-siakan. Saya makan dan tidur bareng dengan Mas Gong. Ilmu-ilmu jurnalistiknya saya serap. Saya praktek langsung. Setiap laporan hard news saya langsung dikoreksi Mas Gong. Awalnya saya hendak menyerah, tak kuat dengan cara Mas Gong menggembleng saya. Tapi, Mas Gong terus  membimbing saya, hingga muncul rsa percaya diri saya. Jika mental kita tidak kuat, pasti akna runtuh saat dikritik Mas Gong. Terasa pedas kritikannya, tapi selalu memberi jawabannya. Inilah yang disebut kritik membangun.

Pada April 2010, saya ditinggal sendirian di Cipanas oleh Mas Gong. ”Kamu hijrah, ya!” kata Mas Gong. ”Ini motor inventaris Rumah Dunia dari para donatur dan kamera dari saya. Manfaatkan untuk pekerjaan kamu sebagai wartawan Banten Raya Post. Rawaty, agar para donatur mengalir pahalanya.”

Seperti mimpi. Saya jadi wartawan. Mas Gong memberi amanah kepada saya untuk menulis berita tentang Cipanas di Banten Raya Post. Namanya ”Pojok Cipanas”. Pesan lain dari Mas Gong, saya harus seperti agen minyak. ”Jika kita datang ke gaen minyak, beli minyaknya, pasti ada. Nah, sekarang kamu jadi ’agen perubahan’ di Cipanas. Mka, ktika orang-orang kampung Cipanas datang beli ’perubahan’, kamu harus sediakan.”

Maka terhitung Februari 2010 hingga sekarang, saya menggunakan motor inventaris Rumah Dunia (yang kreditannya didanai oleh para donatur) sebagai sarana untuk mencari berita di Cipanas dan kamera dari Mas Gong. Saya betul-betul dibantu Rumah Dunia. ”Kamu harus mendoakan para donatur Rumah Dunia, karena berkat mrekalah kamu bisa meningkatkan kualitas hidup,” Mas Gong setiap saat selalu mengingatkan itu.

Ya, seperti mimpi. Dari pedagang gorengan menjadi wartawan. Dari nama ”Miftah Udin” ke ”Harir Baldan”. Keberadaan saya di Cipanas, Lebak, Banten adalah buah dari rekomendasi Mas Gol A Gong, pendiri Rumah Dunia untuk menjadikan saya sebagai agen reportase harian Banten Raya Post (Baraya Post) di wilayah Kecamatan Cipanas. Saya malah disarankan untuk menetap di Cipanas. ”Cari perempuan di Cipanas untuk dijadikan istri,” kata Mas Gong. ”Kamu jangan ke Serang, saingannya terlalu berat!”

Selain itu, saya juga diamanatkan untuk melakukan pendampingan terhadap teman-teman Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas (IKMC). IKMC sudah mendirikan TBM Kosala Library yang berakronim Komunitas Sastra Lebak di rumah yang Mas Gong kontrak. Taman Bacaan Masyarakat Kosala Library diresmikan oleh Wabup Amir Hamzah pada 27 Februari 2010. Mas Gong yang saat itu terpilih jadi Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia di Yogya memulai program ’gempa literasi” di Kosala Library. Nama Cipanas mulai menggaung kemana-mana.

Beberapa kegiatan Rumah Dunia juga diadopsi oleh TBM Kosala Library, seperti kelas menulis Gol A Gong, diskusi 2 mingguan IKMC yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, wisata gambar, wisata dongeng, dan wisata baca dan berita seputar Pojok Cipanas di Baraya Post yang hadir setiap Senin, Rabu, dan Jum’at.

Keberadaan kolom Pojok Cipanas di Baraya Post merupakan relasi solid Mas Gong dengan pihak Baraya Post. Mas Gong bermaksud untuk memandirikan rekan-rekan IKMC dalam mencari dana operasional untuk menjalankan program kerjanya. Sebagai barternya IKMC mencari pelanggan untuk koran Baraya Post sebanyak mungkin. Dari sana saya juga dapat insentif sebesar Rp. 300 ribu/bulan. Bulan Juli ini pelanggan Barayapost sebanyak 41 orang.
Dalam sirkulasi atau penyebaran Baraya Post IKMC memperkerjakan jasa loper koran. Upah loper setiap bulannya Rp. 500 ribu. Mengapa upah loper intensifnya besar, lantaran tugas loper setiap hari dan jaraknya pun terbilang cukup jauh, bahkan ada satu pelanggan yang berada di kaki gunung Panggo, Luhur Jaya, Cipanas.

Sejak berita-berita Cipanas menghiasi Koran Baraya Post, yang menjadi loper koran adalah rekan-rekan dari IKMC: Ahmad Nurjani alis Obet dan Cucu Nuryadin. Tapi, mereka hanya bertahan selama dua bulan saja. Alasan mereka berhenti menjadi loper lantaran ingin fokus kuliah. Untuk sementara ini, posisi loper kosong.

Sekarang IKMC sedang mencari pengganti loper baru, yang mau bekerja keras, jujur, dan amanah. Tapi, Mas Gong menyarankan saya agar menggantikan posisi loper itu. Katanya, bila saya yang mengisi posisi itu kemungkinan motor inventaris yang sedang saya pakai, tidak akan ditarik lagi ke Rumah Dunia. Sebab, kata Mas Gong, jika saya menjadi loper, honornya bisa untuk menyicil kreditan motor Rumah Dunia (nopol A 6274 BD) sebesar Rp 450 ribu/bulan berikut cicilan DP Rp 5 juta dan tunggakan 7 bulan sebelumnya. Setelah saya pikir-pikir, kenapa tidak dicoba? Menjadi loper sekaligus mencari berita, kenapa tidak?  Subhanallah, saya punya motor  sendiri? Saya tidak percaya. Ini anugrah terindah!

Saya pun menyangupi tawaran dan tantangan dari Mas Gong ini. Meski biaya pelunasannya mencapai 36 bulan atau 3 tahun. Saya siap mencoba menjalankan dua amanah ini dengan baik. Saya pun akan selalu mengingat pesan dari Mas Gong, yang mengatakan, ”Jangan jadikan kreditan motor dan ngeloper ini menjadi beban kamu. Tapi, jadikan itu sebuah pengalaman untuk peningkatan kemandirian dan tantangan!” Kata Mas Gong lagi, “Yang terpenting tingkatkan kualitas menulismu, karena saya sudah merekomendasikan kamu ke Baraya Post tahun depan.”

Ya, Allah! Andai saya jadi wartawan betulan! Karena sekarang saya masih magang. Saya bersyukur dan senang mendengar ucapan Mas Gong ini. Sekali lagi, terima kasih para donatur Rumah Dunia, insya Allah, rezekinya melimpah-ruah, karena membuat orang lain seperti saya merasakan manfaatnya! Terima kasih Banten Raya Post! Juga Mas Gong serta keluarga besar Rumah Dunia. (*)

PUISI-PUISI SUMALA DJAJA

Kembali Padamu

: sayyidah rabiah el a dawiah, abu nawas

…… aku hanya ingin engkau.

biarlah aku tidak dapat

syurga atau neraka.

aku hanya ingin memamandangmu.

(rabiah el a dawiah).

duhai Tuhan, aku tak layak

ke surgamu namun ku  tak sanggup

ke nerakamu. terimalah taubatku

dan ampunilah dosa-dosaku.

sesungguhnya engkau pengampun

dosa-dosa besar. (abu nawas)

aku datang padamu

sebab tak pernah kau menutup pintu.

cintamu memenuhi ruang hatiku

tentu hari-hari tak akan pernah sekarat.

maafkan atas kedunguanku

mengabaikan cintamu

atau lupa mengenangmu.

Kp. Halaman, 10 Pebruari 2010

***

Rindu Aku Pulang

: na’ah

segugur daun di padang

hatiku kerontang membaca rindu

terangkai di bisu smsmu.

malam menjadi ganjil

muram hati tak terperi

kau tak kunjung datang

tuturmu.

serupa smsmu yang masuk tiba-tiba

senyummu menyembul

dari lanskap kamar.

aku berkata-kata tanpa kalam;

sabarlah, sayang.

malam-malam yang lain pasti datang

seperti engkau yang tak pernah silam.

Kp. Halaman, 02-2010

***

Senandung Kesia-siaan

kiranya tak ada sesuatu  mampu

bersembunyi darimu

tentu saja kau telah membaca madah ini

jauh-jauh sebelum aku menggubahnya

menjadi lagu atau sebuah risalah.

namun biarkanlah aku mencari

dan merangkai untaian isi hati

meski darinya makna tak pernah aku temukan.

Kp. Halaman, 14-02-2010

***

Cahaya di Atas Cahaya;

El-Ghazali

Selengking dawai biola

dan denting piano yang memiuh telinga

Ingin senantiasa aku dalam dekapanmu

Tiada satu pun sepertimu

Tiada pula seindah dirimu

Kemana pun aku melangkah

Di situlah engkau

Engkau tersembunyi pada semua yang nampak

dan hadir dalam hati.

Dengan kasih sayang yang kau berikan

aku berusaha mengenalmu

Tak akan pernah kurasakan panas cinta

jikalau aku tak pernah menyentuhnya

Leburlah aku dengan api cintamu

Jika aku berjalan dengan cahaya

Itu adalah cahaya yang kau titipkan

Karena engkau hakikat cahaya

Kaulah cahaya di atas cahaya

Kampung  Halaman, 14 Okt-17 Nov 2009

***

Sumala Djaya lahir 25 Maret 1985, adalah anak petani yang menjalani keseharian untuk membaca dan menulis. Tulisannya berupa puisi dan cerpen tercecer di Fajar Banten dan Banten Muda Magazine. Tinggal di Kragilan-Serang. E-mail: malla_dj@yahoo.com.

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

***

KAMPUNG IDEALIS PENUH PESONA KEHIDUPAN

KAMPUNG IDEALIS PENUH PESONA KEHIDUPAN

CIPANAS-LEBAK- Minggu (24/1), pagi yang cerah di kampung Lurah, Desa Sipayung Kecamatan Cipanas, terlihat cukup damai dan tentram masyarakatnya. Hari Minggu adalah hari untuk berkumpul keluarga, menikmati hari libur kerja selama satu Minggu kemarin. Anak-anak kecil berlarian mengejar temannya untuk main balap sepeda. Mungkin pernah tersimpan pertanyaan ada apa dengan nama sebuah kampung tersebut?

Kampung Lurah adalah sebuah kampung di Kecamatan  Cipanas yang letaknya tidak jauh dari kantor Camat Cipanas. Kantor Camat Cipanas letaknya ada di kampung Lurah. Sebagai pengingat saja untuk para generasi muda di kampung ini, konon nama kampung Lurah itu berasal dari orang-orang yang sudah jadi pemimpin banyak tinggal di kampung Lurah. Para pemimpin tersebut terdiri dari berbagai bidang kehidupan di masyarakat, seperti Camat, TNI, Polri, Guru, pegawai dinas di Kabupaten, unsur kepemudaan, dan lain-lain. Informasi ini saya dapatkan dari beberapa tokoh masyarakat yang tidak mau disebutkan namanya.Tidak ada yang istimewa dengan kampung Lurah. Namun kampung Lurah memiliki makna sebuah kampung yang dilingkupi oleh berbagai macam profesi kehidupan sampai sekarang.

Kampung Lurah, Desa Sipayung Kecamatan Cipanas, sebuah kampung yang mempunyai daya tarik tersendiri bagi para pendatang dari pelosok tanah air Indonesia. Boleh dikatakan kampung Lurah sudah lebih maju pesat bila dibandingkan dengan kampung-kampung lain yang ada di kecamatan Cipanas. Jumlah warga yang tinggal di kampung Lurah saat ini sudah mencapai 550 kepala keluarga, terdiri dari 14 rukun tetangga dan dua rukun warga. Gambaran jumlah  rukun tetengga di kampung Lurah seharusnya sudah ditambah lagi karena sudah memenuhi syarat menjadi sebuah rukun tetangga.

Kampung Lurah merupakan kampung pertama dari Desa Sipayung. Di Desa Sipayung ada dua kampung, yang satunya lagi adalah kampung Babakan Pedes. Letak kampung Lurah dengan kampung Babakan Pedes  saling berdampingan. Kedua kampung tersebut dipimpin oleh seorang Kepala Desa, namanya pak Ended (panggilan akrabnya ).

Kampung Lurah memiliki tanah garapan yang terdiri dari pesawahan dan kebun. Hasil komoditi pertanian di kampung Lurah adalah padi. Selebihnya hasil perkebunan, seperti kopi, cengkih, buah-buahan dan lain-lain. Kampung Lurah tidak akan lepas dari sejarah masa lalunya. Karena para pendahulu kampung Lurah sangat kesohor sampai tingkat nasional. Jadi, para generasi penerus yang ada di kampung Lurah ini tidak akan terlena dengan buaian zaman yang semakin menggoda. Salah satu bentuk perkembangan dalam mengisi pembangunan di kampung ini ialah adanya organisasi kepemudaan. Yang terhimpun dalam Himpunan Muda-mudi Kampung Lurah (Hikmah). Dimana terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar, Mahasiswa, guru, kepala KUA, TNI, Polri, pengusaha, petani, dan lain-lain. Tujuan Hikmah berdiri tiada lain untuk mengembangkan kepemimpinan para generasi muda dalam  mengisi kemerdekaan yang telah diwariskan kepada kita sebagai warga negara Indonesia. Bila tidak dipersiapkan dari sejak dini, maka kemerdekaan yang dicita-citakan kepada warga negara Indonesia khususnya yang ada di kampung Lurah, maka memungkinkan tidak akan tercapai cita-cita para pendahulu kita. (Solehudin)

TEGAL DUREN; KAMPUNGNYA PARA JAWARA

TEGAL DUREN; KAMPUNGNYA PARA JAWARA

SERANG – Pernahkah kamu berkunjung ke suatu kampung yang dulu pernah dihuni para jawara? Bisa dibayangkan dahulunya kampung itu pasti menyeramkan dan penuh aura jahat. Saya pernah. Tempatnya sangat serem. Tapi apa jadinya jika itu terjadi pada kampungmu? Bisa dipastikan generasinya pun pasti mengalir darah jawara. Tapi jangan curiga dulu. Apa benar itu? Yuk kita berkunjung ke kampung Tegal Duren, Cipocok Jaya, Kota Serang, dan kita korek keterangannya.

TEGAL REREN

Dahulu nama kampung Tegal Duren ini adalah Tegal Reren. Karena kebiasaan warga yang suka latah maka namanya berubah menjadi Tegal Duren. Tegal Duren bukan sebuah kampung pada umumnya yang banyak dihuni rumah padat panduduk. Tapi sebuah tegal lebat dan bersawah yang selalu dijadikan tempat peristirahatan para jawara. “Jawara dari mana-mana kumpul di sini,” ujar Ahmad Fatoni (47) warga Tegal Duren. Hal itu pun dibenarkan Ustadz Enting Ali Abdul Karim (40), menantu almarhum Haji Asmani, salah seorang Jawara Tegal Duren. “Sejarahnya Tegal Duren adalah tempat kumpul para jawara main judi, sabung ayam, dan minuman keras,” terang Enting.

Menurut Enting, kondisi inilah yang membuat hati Almarhum Kiyai H. Hasbullah, sesepuh kampung Selaur, tergerak untuk menyelamatkan Tegal Reren. Maka dia beserta warga Selaur lainnya- yang jaraknya sekira 200 meter dari Tegal Reren- segera hijrah ke Tegal Reren dan bermukim di sana. Namun ide Hasbullah tak direstui Kiai Dik Sudin, teman seperjuan Hasbullah. Bahkan Sudin menolak untuk pindah ke Tegal Reren dengan alasan tempat itu adalah gudang maksiat. Tapi, Hasbullah dan warga tetap teguh pada pilihannya.

Setelah kepindahan warga, Kiai Dik Sudin tetap tinggal di Selaur. Konon meninggalnya pun tak ada yang tahu. Menurut Enting, dulu di Selaur ada pohon Ambon. Pohon itu membesar dan bahkan tak mampu dipegang empat orang. “Seiring dengan kehilangan Kiai Dik Sudin pohon itu pun hilang begitu saja,” papar Enting yang kini pemilik Ponpes Al-Islam.

Salah satu upaya Hasbullah untuk mengubah Tegal Duren dibuktikan dengan mengirimkan pemuda-pemuda ke pondok pesantren. Dengan harapan agar bisa mendirikan pondok pesantren di Tegal Duren. Namun harapan itu tidak berhasil, sampai Kiai H. Hasbullah meninggal dunia.

PONDOK PESANTREN

Cita-cita Almarhum diteruskan oleh H. Asmani dan teman seperjuangan, H. Ahmad, dengan memugar masjid yang sebelumnya berukuran 4×6 m2. “Pada tahun 80-an Masjid Al-Mubarokah direhab dan diperbesar,” kata Enting.

Lalu pada tahun 1999 mimpi membangun pondok pesantren pun terealisasi dan mengusung nama Al-Islam. Sejak itulah pemuda-pemudi warga Tegal Duren sudah banyak yang memahami arti pentingnya belajar. “Pola pikirnya sudah berubah tidak lagi tradisional. Hal itu dampak dari pergeseran pemahaman,” terang Enting yang kini berusia 40 tahun.

Hingga saat ini, tercatat sekitar 50 orang anak yang melanjutkan kependidikan dan pesantren. Dari data ini, 17 orang anak Tegal Duren menetap di Pondok Pesantren Al-Islam, pesantren yang berada di kampung Tegal Duren. Sedangkan sisanya lebih banyak di luar seperti di Gontor Surabaya, Tangerang, dan di kampung-kampung lainnya.

Menurut Sobari (45) RT 01/03 kampung Tegal Duren, ia amat bersyukur dengan adanya Pesantren Al-Islam. “Adanya pesantren ini sangat membantu warga. Apalagi di sini banyak anak yang putus sekolah dan tidak mampu,” terang lelaki yang kini berusia 45 tahun ini. Masih dikatakannya, semoga bertambahnya anak-anak yang melanjutkan pendidikan dapat mengubah taraf hidup mereka. Pasalnya, sebagian besar warga yang berjumlah 85 kepala keluarga ini, penghasilannya didapat dari ngojek, kuli di pabrik, kuli di pasar lama dan Jakarta.

JALAN DAN PENDIDIKAN

Masih menurut Sobari, jumlah kepala keluarga kampung Tegal Duren 85, tapi semangat dan kerja sama antar warga sangat kompak. Itu ditandai ketika mengajukan perbaikan jalan. Hal ini dibenarkan oleh Enting saat hendak melakukan pengajuan pengaspalan jalan dari warga melalui pemkot Serang ke Provinsi Banten. Kini infrastruktur jalan di kampung yang sebelahan dengan Sumur Putat ini, termasuk berkembang. Tapi ketika wartawan www.rumahdunia.com memantau, ada yang aneh di jalan tersebut. Pengaspalannya hanya separuh. Saat dikonfirmasi, Sobari  mengatakan, jatah setiap kelurahan atau kecamatan  hanya 930 meter persegi. “Rencananya 2010 proyek ini akan diteruskan,” ujar RT yang berprofesi tukang tambal ban ini. Selain itu, semoga pemerintah setempat membantu warga yang tidak mampu dalam hal pendidikan. Karena pendidikan adalah cermin utama sebuah bangsa yang maju. Jika pendidikannya bagus maka SDM yang tercipta pun berkualitas. Wah, kalau begitu harus segera dibantu, nih. [Harir Baldan]

KETAN BINTUL KAMPUNG

Ketan bintul 2Ketan bintul, siapa tidak kenal? Di Banten kalau sedang puasa, jajanan khas Banten merajalela di sepanjang Pasar Lama. Sore hari, penjual ketan bintul keliling kampung. Harganya Rp. 500,-/buah. Ditaburi parutan kelapa yang sudah dicampur kacang, tiada dua lezatnya. Dicelupkan ke sambel, rasa kantuk di sore hari langsung sirna. Apalagi kalau sambil ngobrol ngalor-ngidul, ditemani teh manis panas, nge-jreng! (foto RDcom)

advert

Tags Kata

Gonjlengan

BE A WRITER: DARI YANG REGULER HINGGA EXCLUSIVE”

Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat.

Full Story | May 20th, 2010

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa*
Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong
MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak mengganggu [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK
I.
“ora et labora”
di pertigaan jalan menuju rumah
beberapa tukang becak menyemadikan nasib
: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha
- memejam di tempat duduk
masingmasing-
II.
“nrimo ing pandum”
kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan
begitu saja kepada puingan matahari dan purnama
mereka mengabadikannya sebagai penanda becak
yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa
lapar dan haus adalah
foto-doa
III.
“kerja adalah ibadah”
di sisi adzan,
kretek [...]

Full Story | July 18th, 2010