<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; haji</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/tag/haji/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 13:56:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>TIGA KLOTER JAMAAH HAJI DKI DAN JABAR TIBA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/03/tiga-kloter-jamaah-haji-dki-dan-jabar-tiba/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/03/tiga-kloter-jamaah-haji-dki-dan-jabar-tiba/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 14:13:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[Kloter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/2009/12/03/tiga-kloter-jamaah-haji-dki-dan-jabar-tiba/</guid>
		<description><![CDATA[TANGERANG- Sebanyak tiga kloter jemaah haji asal DKI Jakarta dan Jawa Barat tiba di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang pada Kamis (3/12). Dari sekian jemaah haji, masih banyak yang mengeluhkan permasalahan pemondokan yang kurang dilengkapi dengan fasilitas penunjang yang lengkap dan memadai. kedatangan kloter pertama dan kedua jemaah haji asal DKI Jakarta dan kloter pertama asal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1904" class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><img class="size-full wp-image-1904" title="haji" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/haji.jpg" alt="foto: kompas.com" width="400" height="275" /><p class="wp-caption-text">foto: kompas.com</p></div>
<p>TANGERANG- Sebanyak tiga kloter jemaah haji asal DKI Jakarta dan Jawa Barat tiba di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang pada Kamis (3/12). Dari sekian jemaah haji, masih banyak yang mengeluhkan permasalahan pemondokan yang kurang dilengkapi dengan fasilitas penunjang yang lengkap dan memadai. kedatangan kloter pertama dan kedua jemaah haji asal DKI Jakarta dan kloter pertama asal Jawa Barat ini disambut Menteri Agama Surya Dharma Ali di Terminal Haji Bandara Soekarno Hatta.<br />
Sebanyak 1350 jemaah haji tiba di hari pertama kedatangan jemaah haji asal Indonesia. Sejumlah jemaah haji masih mengeluhkan kondisi pemondokan yang kurang dilengkapi dengan fasilitas serta jarak pemondokan yang terbilang jauh dari Masjidil Haram yang tidak ditunjang dengan alat transportasi yang memadai. Meski demikian, secara keseluruhan pelaksanaan haji berlangsung sesuai dengan harapan. Berbeda dengan komentar jemaah haji, menteri Agama Surya Dharma Ali mengaku pemondokan dan transportasi sudah tidak ada masalah, dan telah sesuai dengan harapan dirinya.  Selanjutnya, para jemaah haji lainnya secara bergelombang, kelompok terbang jemaah haji akan tiba kembali ke tanah air dan berkumpul bersama keluarga masing-masing. Sejauh ini belum ada kendala terkait penerbangan. [ahmadi]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/03/tiga-kloter-jamaah-haji-dki-dan-jabar-tiba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WALIKOTA MELEPAS CALON HAJI CILEGON</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/16/walikota-melepas-calon-haji-cilegon/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/16/walikota-melepas-calon-haji-cilegon/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 17:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[Kloter]]></category>
		<category><![CDATA[Walikota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1208</guid>
		<description><![CDATA[CILEGON &#8211; Walikota Cilegon, H. Tb. Aat Syafaat,  S.Sos melepas Jamaah Calon Haji kloter 38 dan 39 Minggu pagi (15/11) di halaman gedung Pemkot Cilegon. Sebanyak 639 jamaah yang terdiri dari 306 jamaah pria dan 333 jamaah wanita, dengan kisaran umur rata-rata 40 tahun, sedangkan umur termuda 24 tahun dan umur paling tua 84 tahun. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1210" title="Kabah com" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Kabah-com.jpg" alt="Kabah com" width="500" height="333" />CILEGON &#8211; Walikota Cilegon, H. Tb. Aat Syafaat,  S.Sos melepas Jamaah Calon Haji kloter 38 dan 39 Minggu pagi (15/11) di halaman gedung Pemkot Cilegon. Sebanyak 639 jamaah yang terdiri dari 306 jamaah pria dan 333 jamaah wanita, dengan kisaran umur rata-rata 40 tahun, sedangkan umur termuda 24 tahun dan umur paling tua 84 tahun. Seremonial pelepasan jamaah calon haji dihadiri oleh jajaran DPRD Cilegon, unsur Muspida, Departemen Agama, MUI Cilegon, serta para Kiai dan alim Ulama. Sayangnya pada saat acara berlangsung, sebagian besar calon haji lebih memilih duduk di dalam bis ketimbang mengikuti acara pelepasan yang dihadiri langsung oleh Bapak Wali kota.</p>
<p>Ada tiga pesan yang disampaikan oleh Walikota Cilegon pada sambutannya, yaitu untuk menjaga kesehatan masing-masing dan saling menjaga solidaritas sesama calon haji, serta untuk para petugas medis dan pembimbing menjaga dengan baik para calon haji. Aat berharap, semoga sekembalinya nanti tetap utuh seperti pada saat keberangkatan.</p>
<p>Para calon haji dengan semangat berdatangan sejak pukul 5 pagi, diantar langsung oleh keluarga dan kerabat. Arman (68 th) calon haji asal BBS 2 Jombang merasa sudah siap berangkat ke tanah suci bersama istrinya. “Insya Allah, saya ikhlas menjalaninya demi mendapatkan ridho Allah,” tuturnya bersemangat. Arman mengaku, tidak ada persiapan khusus untuk keberangkatan, hanya mengikuti manasik haji yang diselenggarakan di lapangan Bapor Cilegon dan Pondok Gede Jakarta.</p>
<p>Sementara menurut calon haji lainnya, Ubay (40 th) asal Mancak mengaku tidak khawatir apa yang akan terjadi di tanah suci nanti. Dirinya sudah ikhlas dan pasrah untuk menjalani rukun islam yang ke-lima ini. Berharap semoga tidak ada masalah mengenai pemondokan ataupun kemungkinan lain yang terjadi.</p>
<p>Ribuan masyarakat yang ikut mengantar calon haji membuat keramain tersendiri. Jalan raya Jendral Sudirman di depan gedung Pemkot ditutup sementara waktu untuk tempat parkir mobil bis pengangkut calon haji dari simpang tiga hingga lampu merah. Sedanngkan untuk parkir mobil para pengantar ditempatkan di lapangan ADB, Lapangan bola Sumampir, dan tanah kosong di belakang gedung Paraja Mandiri. Untuk sementara waktu arus transportasi dialihkan. Jalur dari Cilegon melewati jalan raya Anyer dan masuk ke jalan ADB. Sedangkan dari arah Merak bisa melewati Propelat, masuk ke jalan Santani Komp KS hingga sampai ke jalan Sumampir.</p>
<p>Haru biru mewarnai keberangakatan para calon haji. Tepat pukul setengah delapan calon haji diberangkatkan dengan 14 armada bis dan dikawal langsung oleh iringan mobil polisis menuju pemondokan haji di Pondok Gede Jakarta. Lambayan tangan para pengantar senantiasa mengiringi keberangkatan calon haji. Cepat pulang lagi, ya, Emak, Abah! (Rama Rahmat)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/16/walikota-melepas-calon-haji-cilegon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PULANG DARI HAJI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/15/pulang-dari-haji/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/15/pulang-dari-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 02:02:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ka'bah]]></category>
		<category><![CDATA[Mekkah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1169</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong Akbar tersenyum lebar. Dia duduk di kursi singgasana, bersarung poleng, koko, kopiah, yang kesemuanya dia beli di Arab Saudi, negeri muslim dengan kekayaan melimpah ruah. Tasbeh dengan bulatan-bulatan terbuat dari kacang zaitun menggantung di tangan kirinya. Tangan kanannya untuk yang keseratus kali menerima uluran salam selamat dari tetangga di komplek guru. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1170" title="Uang Palsu com" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Uang-Palsu-com1.jpg" alt="Uang Palsu com" width="500" height="350" />Oleh Gol A Gong</p>
<p>Akbar tersenyum lebar. Dia duduk di kursi singgasana, bersarung poleng, koko, kopiah, yang kesemuanya dia beli di Arab Saudi, negeri muslim dengan kekayaan melimpah ruah. <span id="more-1169"></span>Tasbeh dengan bulatan-bulatan terbuat dari kacang zaitun menggantung di tangan kirinya. Tangan kanannya untuk yang keseratus kali menerima uluran salam selamat dari tetangga di komplek guru.</p>
<p>“Alhamdulillah, selamat datang kembali di rumah, Pak Haji…”.</p>
<p>Akbar semakin melebarkan senyumnya. “Silahkan, Pak Wawan, silahkan diambil oleh-olehnya. Itu korma asli dari Mekkah. Sedikit-sedikit, ya. Sajadah dan tasbehnya hanya untuk kepala-kepala sekolah saja. Tidak bisa saya kasih ke semua guru. Bisa tekor saya.”</p>
<p>“Tidak apa-apa, Pak Haji. Kurma saja sudah alhamdulillah,” sebagai guru bawahan, Wawan tahu diri.</p>
<p>“Istri saya sudah membagi-bagi dengan rata. Satu plastik berisi 5 kurma. Rata-rata di komplek  guru ini, anaknya dua ‘kan. Saya lebihkan satu.”</p>
<p>“Kebetulan anak ketiga kami baru lahir seminggu yang lalu…”</p>
<p>“Wah, alhamdulillah! Pasti akan jadi anak yang soleh, Pak Wawan. Lelaki?”</p>
<p>“Lelaki, Pak haji. Saya dan istri mohon ijin, memberi nama pada anak kami….”</p>
<p>“Namanya siapa?”</p>
<p>“Muhammad Akbar Mabruri….”</p>
<p>Akbar tertawa senang. Perutnya yang buncit terguncang-guncang. “Kamu ini! Bilang-bilang dulu, kek! Tapi, tidak apa-apa. Saya doakan, semoga jadi anak yang soleh, sehat, dan berhasil jadi orang terpandang seperti saya!” katanya mendoakan.</p>
<p>“Amien, Pak Haji….”</p>
<p>“Kalau saja saya dikabari saat di Mekkah, pasti saya doakan di depan Ka’bah!”</p>
<p>“Tidak apa-apa, Pak Haji. Belum jodoh…”</p>
<p>“Ya, sudah. Masih banyak yang antri mau salaman itu!”</p>
<p>“Iya, Pak Haji….”</p>
<p>“Sebentar!” Pak Haji mengeluarkan sebuah amplop dari saku kokonya. “Saudara-saudara!” suaranya keras kepada orang-orang yang sedang berkumpul di ruangan tengah rumahnya. “Jangan pada iri, ya! Walaupun Pak wawan ini guru paling muda di sekolah saya, tapi karena dia punya momongan lagi, yang ketiga, saya kasih amplop sama dia! Ini buat beli popok si bayi!”</p>
<p>“Wah, pilih kasih, Pak Haji!” protes Arifin.</p>
<p>Para warga komplek tertawa menangapi.</p>
<p>“Anak saya, yang di te ka, si Usi, ulang tahun, kasih kado, Pak haji!” usul Yasin, juga tertawa.</p>
<p>“Nanti saya kasih kado unta! Tapi tahun depan, kalo saya naik haji lagi!” Akbar juga tertawa.</p>
<p>“Hahaaaahaha…!” semua tertawa.</p>
<p>Warga kompolek guru yang bahagia, semua tertawa.</p>
<p>“Ini, ambil! Alakadarnya, ya,” Akbar menyusupkan amplop putih itu ke saku kemeja batik Wawan.  “Sebentar,  ya,” Akbar mencari-cari seseorang di antara keramaian rumahnya. “Santi!” panggilnya.</p>
<p>Santi yang sedang membagi-bagikan minuman ke para tamu menatap ke ayahnya. “Iya, Pak!”</p>
<p>“Ambilkan air zam-zam di kamar Bapak. Satu saja. Buat Pak Wawan!”</p>
<p>“Baik, Pak!”</p>
<p>“Silahkan, tunggu diluar, ya.”</p>
<p>“Terima kasih, Pak Haji,” Wawan mundur dan memberi kesempatan pada warga komplek guru lainnya untuk menjabat tangan Akbar, kepala sekolah di SMA Negeri ternama di kotanya.</p>
<p>Beberapa warga komplek guru masih antri menyalami Akbar dengan beragam tujuan. Ada yang murni memberi selamat, ada yang ingin kecipratan berkah: siapa tahu suatu saat bisa ke Mekkah, dan ada yang berharap bisa mendapatkan oleh-oleh kurma asli dari Arab atau air zam-zam.</p>
<p>“<em>Sape kien</em><a href="#_ftn1">[1]</a>?” Akbar menarik tangannya, ketika dirasakan permukaan telapak tangan orang yang menyalaminya terasa kasar.</p>
<p>“<em>Kule</em><a href="#_ftn2">[2]</a> Pendi, Pak Haji….”</p>
<p>“Oh, <em>sing ngebecak kuen? Sing umahe ning kampung Pasir</em><a href="#_ftn3">[3]</a>?”</p>
<p>“Nggih, Pak Haji…..”</p>
<p>“<em>Arep jaluk oleh-oleh ape sire</em><a href="#_ftn4">[4]</a>?”</p>
<p>“<em>Ape bae</em><a href="#_ftn5">[5]</a>, Pak haji….”</p>
<p>“<em>Korma bae, gih! Anak sire pire</em><a href="#_ftn6">[6]</a>?”</p>
<p>“<em>Papat</em><a href="#_ftn7">[7]</a>, Pak haji!”</p>
<p>“<em>Weh, akeh amat! </em><em>Keh, sebungkus bae. Ane lime isine. Sire karo rabi, sepotong-sepotong bae, gih</em><a href="#_ftn8">[8]</a>!”</p>
<p>“Iye, Pak Haji! <em>Nuhun saos</em><a href="#_ftn9">[9]</a>!”</p>
<p>Pendi meminggir, memberi kesempatan lain. Di genggaman tangannya ada sebungkus plastik berisi 5 korma.</p>
<p>Warga komplek guru terus mengalir menyambut kedatangan Akbar, yang sudah selamat pulang dari Mekkah. Saat walimatul hajj, Akbar pernah menjanjikan akan menyebut nama para warga di depan Ka’bah, agar kelak bisa berangkat mengikuti langkahnya menunaikain rukun Islam yang kelima.</p>
<p>Malam makin larut.  Yang tersisa kinbi adalah pengurus Dewan Kesejahteraan Mesjid. Mereka duduk bersila di lantai berkarpet, mendengarkan cerita Akbar, yang duduk di kursi ukiran Jepara.</p>
<p>Kedua tangan Akbar bergerak ke sana ke kemari, tasbeh di tangan kirinya berkelebatan di udara, seolah memuncratkan kalimat-kalimat thoyiban milik gusti Allah. Perutnya yang bulat besar berguncang-guncang jika sedang tertawa. “Pas di depan hajar aswad, ada orang dari Afrika. Tinggi, besar, dan hitam. Pokoknya, jeleklah. Mendorong-dorong tubuh saya! Di depan, istri saya hampir terjatuh. Saya berusaha terus menjagai istri saya. Waduh, saya bisa-bisa terjatuh. Bayangkan, bapak-bapak, ibu-ibu, jika saya terjaduh. Ribuan, bahkan jutaan jamaah haji, akan menginjak-injak tubuh saya. Wah, pulang-pulang, saya tinggal nama saja!”</p>
<p>Istrinya duduk di lantai berkarpet, menyenderkan punggungnya ke dinding. Beberapa kali dia menguap dan menggeser-geser tempat duduknya. Kedua bola matanya diam-diam mengitari pandang, memperhatikan wajah-wajah takjub warga komplek guru.</p>
<p>“Tidak ada jalan lain, saya bertahan saja. Saya membiarkan istri saya yang mencium hajar aswad. Saya sendiri terlempar ke samping. Entah ke mana. Yang penting nggak jatuh. Tapi, saya terpisah dengan istri saya. Ketemu-ketemunya diluar. Dia lagi nangis!” Akbar tertawa-tawa menunjuk istrinya.</p>
<p>Istri Akbar, tersenyum kikuk.</p>
<p>“Pak Akbar,” Cecep mengacungkan tangan.</p>
<p>Akbar tidak bereaksi.</p>
<p>“Pak Haji,” bisik Sofyan di telinga kiri Cecep.</p>
<p>“Maaf, Pak Haji,” Cecep tersenyum meralat.</p>
<p>“Ya, kenapa, Pak Cecep?”</p>
<p>“Maket mesjidnya sudah selesai saya buat, Pak Haji. Kapan kita bisa mendiskusikannya?”</p>
<p>“Sebaiknya jangan membicarakan soal mesjid sekarang,” kata Aris. “Pak Haji ‘kan masih banyak yang mau diceritakan. Iya ‘kan, Pak Haji?”</p>
<p>“Ya, ya, ya! Betul kata Pak Aris!” Akbar setuju. “Soal mesjid, kita bicarakan ba’da Jumatan saja. Bagaimana?”</p>
<p>“Setuju!”</p>
<p>“Tapi, tetep ya, saya dapat sepuluh persen dari setiap dana yang masuk ke mesjid. Karena tanpa lobi-lobi saya di pemerintahan, dana itu tidak akan cair!” Akbar membuka matanya lebar-lebar.</p>
<p>“Setuju, Pak Haji! Yang penting bagi kami, mesjid cepat selesai!”</p>
<p>Akbar tersenyum puas. Tangan kirinya terus menghitung bulatan-bulatan tasbeh. Sementara tangan kanannya mengelus-elus perutnya yang buncit. Kedua matanya tertutup perlahan. Punggungnya menyender ke kursi Jepara. Dari mulutnya terdengar suara keras.</p>
<p>“Maaf, Bapaknya kecapean,” istri Akbar melempar senyum.</p>
<p>Orang-orang memaklumi. Satu-persatu mereka beringsut pergi. Di tangan mereka ada bermacam oleh-oleh dari Mekkah; korma, air zam-zam, tasbeh, sajadah, mukena, dan kacang Arab. Mereka sebetulnya tahu, kalau pada suatu malam, Akbar dan istrinya bebelanja di Tanah Abang. Mereka juga memaklumi, ketika dimintai untuk membungkusi sajadah, kopiah, tasbeh, dan mukena. Mereka hanya bisa menghitung-hiutng, bahwa naik haji semakin hari semakin mahal saja harganya. Tidak hanya cukup sekedar ongkos pulang-pergi saja, tapi perlu juga menyediakan dana tambahan unutk walimatul hajj, syukuran, dan oleh-oleh. Jika tidak ada oleh-oleh, siap-siap saja dicap sebagai haji yang kikir.</p>
<p>Tiba-tiba mata Akbar memicing, “Sudah pulang semuanya?”</p>
<p>“Sudah,” jawab istrinya, menoleh ke susut ruangan. Di sana ada dua orang lelaki, duduk gelisah. Tangan mereka tidak henti-hnetinya menyeka wajah dengan sapu-tangan.</p>
<p>“Ibu, kipas anginnya arahkan ke mreeka, dong!”</p>
<p>Istri Akbar tanpa banyak bicara mengarahkan baling-baling kipas angina kea rah mereka. “Permisi, saya tinggal dulu,” dia bangkit dan masuk ke ruangan dalam.</p>
<p>Akbar masih memandangi punggung istrinya hingga hilang di balik gorden yang memisahkan ruangan tamu dengan ruangan tengah. Dia membeli dua rumah di komplek guru ini, sehingga ruangan tamu lumayan luas menampung orang-orang jika ada acara.</p>
<p>“Bagaimana, lancar semuanya?” Akbar tersenyum lebar kepada mereka. Dia tetap duduk di singgasananya, sehingga posisinya tetap lebih tinggi dari mereka. Bagi dia sangat penting menegaskan, bahwa posisinya sangatlah penting.</p>
<p>Kedua orang itu mengangguk. Salah seorang mengeluarkan amplop tebal dari dalam tas hitam. Amplop tebal itu disodorkan ke Akbar. “Ini bagian Pak Haji,” katanya. “Pak Kadis titip pesan, Pak Haji secepatnya membuat laporan, bahwa sekolah Bapak sudah direnovasi.”</p>
<p align="right">*) Rumah Dunia, Kampung Ciloang, Serang, Oktober 2005</p>
<p align="right">*) Pernah dimuat di koran Republika Minggu, juga cerpen ini termuat di kumcer &#8220;Musafir&#8221; (Salamadani, 2008)</p>
<p align="center">
<p align="center">***</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Sape kien = siapa ini</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Kule = saya</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> sing ngebecak kuen? Sing umahe ning kampung Pasir= yang ngebecak itu? Yang rumahnya di kampung Pasir?</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Arep jaluk oleh-oleh ape sire = mau minta oleh-oleh apa?</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Ape bae = apa aja</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Korma bae, gih! Anak sire pire = korma saja, ya. Anak kamu, berapa?</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Papat = empat</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Weh, akeh amat! Keh, sebungkus bae. Ane lime isine. Sire karo rabi, sepotong-sepotong bae, gih = Waduh, banyak amat! Nih, sebungkus saja. Isinya lima. Kamu samas istri setengah-setngah saja.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Nuhun saos = terima kasih</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>–REDAKSI menerima kiriman cerpen yang tidak menyinggung sara. Panjang cerpen 10.000 karakter. Kirimkan via E-mail berikut biodata ke <a href="mailto:cerpen@rumahdunia.com">cerpen@rumahdunia.com</a> . Cerpen yang dimuat akan mendapatkan honorarium sebesar Rp. 50.000.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/15/pulang-dari-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KLOTER PERTAMA CALHAJ BANTEN BERANGKAT</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/10/27/kloter-pertama-calhaj-banten-berangkat/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/10/27/kloter-pertama-calhaj-banten-berangkat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 04:52:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[bandara]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/2009/10/27/kloter-pertama-calhaj-banten-berangkat/</guid>
		<description><![CDATA[TANGERANG – Proses pemberangkatan calon haji asal Banten tidak mengalami kendala yang berarti. Tiga kloter jemaah haji diberangkatkan langsung pada Senin, (26/10) dari terminal haji Bandar Udara Soekarno Hatta oleh Wakil Gubernur H.M. Masduki. Sejumlah jemaah haji (dari total 4.610 jemaah) yang berangkat juga telah melengkapi seluruh kebutuhan di tanah suci Mekah. “Termasuk membawa obat-obatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TANGERANG – Proses pemberangkatan calon haji asal Banten tidak mengalami kendala yang berarti. Tiga kloter jemaah haji diberangkatkan langsung pada Senin, (26/10) dari terminal haji Bandar Udara Soekarno Hatta oleh Wakil Gubernur H.M. Masduki.<span id="more-96"></span></p>
<p>Sejumlah jemaah haji (dari total 4.610 jemaah) yang berangkat juga telah melengkapi seluruh kebutuhan di tanah suci Mekah. “Termasuk membawa obat-obatan dan masker,” begitu dikatakan H.M. Masduki.</p>
<p>Di hari yang sama, calon haji dari Jawa Barat juga berangkat ke tanah suci dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. (SA)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/10/27/kloter-pertama-calhaj-banten-berangkat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

