Ada ungkapan istimewa untuk guru sebagai seseorang yang mesti “digugu dan ditiru”. Apa pun yang dilakukan dan dikatakan guru adalah baik. Sedemikian mulia posisi guru dalam ungkapan ini. Mungkin, di jaman dahulu, guru memang orang-orang yang mumpuni dalam keilmuan dan arif dalam berkelakuan. Maka, lahirlah ungkapan di atas.
Lalu bagaimana dengan guru-guru masa kini? Mungkin jangan terlalu berharap para murid akan dengan nurut menerima perlakuan dari guru apalagi jika perlakuan yang dilakukan adalah perlakuan kekerasan dan melewati batas. Karena bisa jadi akan dilaporkan oleh murid.
Ini juga yang terjadi pada kepala sekolah SMA PGRI 2 Kota Serang yang dilaporkan oleh murid-muridnya (kelas 11 dan 12) pada Minggu, (22/11) karena dinilai melakukan kekerasan kepada beberapa muridnya. Belasan pelajar SMA PGRI 2 Kota Serang mengadu ke Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia Hak Asasi Manusia (LPSDM HAM) di kawasan Ciceri Kota Serang.
Para siswa ini mengaku diperlakukan tidak manusiawi hari Jumat sebelumnya. Mereka ditampar dan dicukur dengan paksa oleh Kepala Sekolah mereka. Malah, ada seorang pelajar putri yang masih terbaring di rumah akibat perlakuan kasar sang Kepala Sekolah. Karena perlakuan kasar itulah para pelajar ini meminta perlindungan dan bantuan kepada LPSDM HAM.
Diungkapkan para pelajar, bahwa perlakuan kasar Kepala Sekolah mereka secara tiba-tiba. Saat mereka memauki gerbang, Kepala Sekolah langsung menampar dan mencukur rambut mereka secara paksa. Dan ternyata, tindakan kasar seperti ini tidak hanya terjadi saat ini. Beberapa kali sang Kepala Sekolah sering melampiaskan kekesalan dan amarah kepada para siswa. Mereka juga mengaku orang tua mereka tidak terima anaknya diperlakukan demikian.
Direktur LPSDM HAM Agus Sutisna menilai perlakuan yang dilakukan Kepala Sekolah tersebut adalah salah dan dia berjanji akan terus memantau perkembangan kasus ini. Dia juga berjanji akan melaporkan hal tersebut ke Polres Serang, Kepala Dinas Pendidikan, dan Yayasan PGRI setempat. (Gading Tirta)
SERANG –Dalam rangka meningkatkan kemampuan apresiasi siswa terhadap sastra, maka, pada hari sabtu (7/11) kemarin, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Kabupaten Serang, mengadakan lomba baca puisi tingkat SMP Se- Kabupaten Serang, bertempat di Gedung Dinas Pendidikan Kabupaten Serang di Penancangan. Pada perlombaan tersebut, yang diadakan sejak pukul ; 08.-01 siang, dan diikuti oleh 32 peserta dari seluruh sekolah SMP Se- Kabupaten Serang. Bertindak sebagai dewan juri; Toto St. Radik (Penyair nasional), Firman Venayaksa (Dosen Untirta dan Presiden Rumah Dunia) dan Rahmat Heldy HS (Penyair Muda Banten dan Guru Bahasa dan Sastra di SMP-SMA Al Irsyad Banten).
Toto St. Radik, dalam sambutannya sebagai perwakilan dewan juri, menyampaikan ihwal penilaian, “Dalam hal penilaian ada tiga aspek yang menjadi penilaian dewan juri; yaitu vocal, penghayatan dan penampilan,” katanya. Lebih lanjut Toto menjelaskan “Selain tiga aspek tadi yang dianggap penting, maka penting pula para peserta untuk menjaga emosi dalam bacaan, sebab, ketika seseorang sudah pada taraf bacaan yang tinggi, maka kesalahan bisa sering terjadi, seperti; kesalahan bacaan, hilangnya baris dalam bacaan. Dan juga keceletot lidah,”imbuhnya.
Dari perlombaan menyambut Bulan Bahasa tersebut, dengan sangat alot dan penuh kehati-hatian, akhirnya ketiga dewan juri, memutuskan pemenang dalam lomba baca puisi tersebut, diantaranya; juara I diraih oleh Yeti Hildian dengan nilai 679 pesetra nomor urut 4 perwakilan dari SMPN 2 Waringinkurung, Juara II diraih oleh Istiqomah dengan nilai 677 peserta nomor 16 perwakilan dari SMPN I Mancak dan juara III diraih oleh Lia Nujulia dengan total nilai 676 perwakilan dari SMPN I Kramatwatu. Setelah para pemenang dibacakan dan diberi piala, atas desakan para guru selaku pembimbing, akhirnya, para dewan juri diminta untuk membacakan puisi. Rahmat Heldy HS, membacakan puisi “Kerawang-Bekasi” karya: Taufik Ismail, Firman Venayaksa memabaca puisi WS Rendra dengan judul “Terbunuhnya Atmokarpo” dan Toto ST Radik membaca puisi Taufik Ismail “Tukang Rambutan” dengan membacanya ketiga dewan juri diharapkan apresisai baca puisi tingkat SMP Se-Kabupaten Serang terus dapat ditingkatkan*** (Rahel)
SERANG—Untuk membekali ilmu pengetahuan guru Bahasa Indonesia tentang sastra, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Serang menggelar Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia, yang dilaksanakan di Aula Gedung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang, komplek P dan K, Penancangan, Kota Serang pada Jumat (6/11).
Acara seminar tersebut diadakan terkait perlunya pengetahuan dan pembelajaran sastra untuk melatih kepekaan sosial terhadap prilaku dan budi pekerti anak didik. Pembekalan ilmu sastra bagi para guru sebagai penerapan pembelajaran bagi siswa di sekolah. Dalam Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia tersebut, menghadirkan pembicara seorang budayawan dan sastrawan Banten, bernama Gola Gong.
Menurut panitia penyelenggara bahwa ilmu sastra yang ada dalam penerapan kegiatan belajar dan mengajar tidak disampaikan secara khusus. Sementara keberadaan sastra dirasa sangat penting. Disamping itu, seminar ini dapat memperkaya ilmu bidang sastra. Bagi seseorang yang mendalami dan mengaplikasikan ilmu sastra tersebut diakui dapat menumbuhkan sikap kepekaan dan berbudi pekerti terhadap masyarakat dan alam.
Eroh Suneroh, salah satu orang dari MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Serang menegaskan, “Hasil dari seminar ini diharapkan para guru yang menjadi peserta dapat menerapkan ilmu sastra bagi anak didiknya secvara maksimal, sehingga dapat meredam prilaku negatif yang mengancam generasi muda karena pengaruh budaya asing.”[ND]
Oleh Gol A Gong
Beberapa kali saya kedatangan tamu yang selalu minta diajari membuat proposal pembuatan taman bacaan masyarakat. Mereka adalah para mahasiswa. Mereka menduga, bahwa saya mendirikan taman bacaan masyarakat bernama Rumah Dunia dengan membuat proposal. Saya katakan kepada mereka, bahwa Rumah Dunia tidak dibangun dengan proposal, tapi dengan kata-kata. Juga Rumah Dunia tidak dibangun [...]
LEBAK – Selain mimpi jadi kota pelajar, Lebak yang belum lama berusia 181 tahun ini juga rupanya menyimpan banyak keindahan alam. Saya belum lama ini sempat coba-coba menelisik, mengunjungi dan menikmati bahkan tadinya ingin menjamah semua tempat-tempat wisata yang ada di Kabupaten Lebak, baru sebagian saja sih, mengingat beberapa tujuan wisata masih cukup jauh dan [...]
Cerpen Langlang Randhawa*
Alkisah, Banten punya taman budaya yang megah. Gedung berlantai lima yang berdiri di atas tanah bekas gedung kegubernuran Banten itu ramai dengan diskusi mengalahkan hiruk-pikuk mall-mall. Selain berada di jantung kota dan mewah, fasilitasnya pun mengalahkan Gedung Putih Amerika; kenyamanan, keamanan, pelayanan, dan kebersihan sangatlah terjaga dan tertata. [...]
Nantikan di bulan Februari 2010, cerita bersambung “Tembang Kampung Halaman” karya Gol A Gong – dulu Gola Gong. Cerita ini pernah dimuat di majalah HAI tahun 1990-an dan diterbitkan jadi buku mungil oleh Gramedia. Menceritakan anak-anak kampung dari kampung yang agraris di wilayah pesisir utara, lalu mengalami perubahan sosial. Mimpi-mimpi dilontarkan setinggi bintang dan ada [...]
airmatamu mengalir
sampai jauh
pelan pelan menghampir kesunyianku.
***
BLUES BUAT PEREMPUAN R
di kotaku. di kotaku yang jauh ini
selalu kutemukan kilau senyummu
pada lampu lampu jalan, pada bau malam yang khas
juga pada dingin angin pelabuhan.
padahal hidup
hanya menunda kekalahan
seperti payung
yang perlahan lahan sobek
dikoyak moyak angin kencang jelek.
di kotaku.
di kotaku yang jauh ini
aku selalu mengingat senyummu
meski hidup hanya serupa
payung [...]