<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; Gol A Gong</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/tag/gol-a-gong/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 14:19:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>BANTEN BANGKIT DI LENTERA QOLBU PANDEGLANG</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/30/banten-bangkit-di-lentera-qolbu-pandeglang/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/30/banten-bangkit-di-lentera-qolbu-pandeglang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 23:58:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Banten Bangkit]]></category>
		<category><![CDATA[Bedah Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Gol A Gong]]></category>
		<category><![CDATA[Rumash Dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4187</guid>
		<description><![CDATA[
Ternyata keinginan Banten Bangkit dari ketertinggalan dalam segala hal, infrastruktur seperti jalan, gedung sekolah, dan taman budaya Banten seperti yang dituntut para seniman sudah tersaring di buku “Banten Bangkit #1: Saatnya Otak, Bukan Otot”. 
Kini “Banten Bangkit” menjadi spirit wong Banten yang menginginkan perubahan. Apalagi ketika rencana pembangunan rumah dinas gubernur Banten sebesar Rp. 126 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/RD-Com-Resensi-lg1.jpg"><img class="size-full wp-image-4186 alignnone" title="RD Com-Resensi lg" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/RD-Com-Resensi-lg1.jpg" alt="" width="500" height="334" /></a></p>
<p>Ternyata keinginan Banten Bangkit dari ketertinggalan dalam segala hal, infrastruktur seperti jalan, gedung sekolah, dan taman budaya Banten seperti yang dituntut para seniman sudah tersaring di buku “Banten Bangkit #1: Saatnya Otak, Bukan Otot”. <span id="more-4187"></span></p>
<p>Kini “Banten Bangkit” menjadi spirit wong Banten yang menginginkan perubahan. Apalagi ketika rencana pembangunan rumah dinas gubernur Banten sebesar Rp. 126 Milyar, yang akan merobohkan gedung Setda di belakang Gedong Negara, menuai protes dari berbagai kalangan. Tak ada satupun warga Banten yang menginginkan rumah dinas gubernur dibangun sekarang. Skala prioritas harus diberlakukan. Lebih baik gedung sekolah, jalanan, gedung kesenian, dan gedung perpustakaan yang dibagnun. Setelah itu, barulah rumah dinas gubernur. Kepentingan orang banyak harus didahulukan.&lt;p&gt;</p>
<p>Kondisi itu ternyata membuat komunitas baca “Lentera Qolbu” Pandeglang dan Kumandang Banten menyikapinya dengan menggelar bedah buku ”BANTEN BANGKIT #1: SAATNYA OTAK, BUKAN OTOT”, Minggu 8 Agustus 2010, pukul 14.00-16.00 WIB. Tempatnya di Lentera Qolbu, Jl.Raya Labuan KM 2, Ciekek Melati No.2 (depan pertigaan Kadomas) Pandeglang. ”Siapa saja boleh datang,” jelas Fitri Suciawati, yang bergabung menulis di buku ”Banten Bangkit #2: Membangun Peradaban Baru” yang diterbitkan Gong Publishing. ”Jangan lewatkan. Sebelum puasa, kita diskusi dulu. Nara sumbernya mumpuni, yaitu Embay Mulya Syarief, Gandung Ismanto, dan Gol A Gong,” tambah Fitri. (Jang RuDun)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/30/banten-bangkit-di-lentera-qolbu-pandeglang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LOMBA RESENSI BERHADIAH RP. 1 JT DARI GONG PUBLISHING</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/23/lomba-resensi-berhadiah-rp-1-jt-dari-gong-publishing/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/23/lomba-resensi-berhadiah-rp-1-jt-dari-gong-publishing/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 00:42:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laporan Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Gol A Gong]]></category>
		<category><![CDATA[GONG PUBLISHING]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi buku]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Bacaan Masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4123</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, sejak Januari 2010 digulirkan, Gong Publishing yang diniatkan membantu penulis local (Banten) menembus pasar nasional, berjalan sukses. Hingga Juli 2008, tujuh buku diterbitkan, yaitu Balada Si Roy (Gol A Gong), Gilalova (25 penulis FLP Banten), Be a Writer (Gol A Gong), Tamasya ke Masjid (Jaya Komarudin Cholic), Melihat Tanpa Mata (Abdul Latief), Gadis Bukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4124" class="wp-caption alignleft" style="width: 393px"><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/RD-Com-Resensi.jpg"><img class="size-full wp-image-4124" title="RD Com-Resensi" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/RD-Com-Resensi.jpg" alt="" width="383" height="500" /></a><p class="wp-caption-text">Buku-buku terbitan Gong pub</p></div>
<p>Alhamdulillah, sejak Januari 2010 digulirkan, Gong Publishing yang diniatkan membantu penulis local (Banten) menembus pasar nasional, berjalan sukses. Hingga Juli 2008, tujuh buku diterbitkan, yaitu Balada Si Roy (Gol A Gong), Gilalova (25 penulis FLP Banten), Be a Writer (Gol A Gong), Tamasya ke Masjid (Jaya Komarudin Cholic), Melihat Tanpa Mata (Abdul Latief), Gadis Bukan Perawan (Jenny Ervina), dan Banten Bangkit (27 penulis Banten). Ketujuh buku itu diluncurkan di Pesta Buku Jakarta 2010. Ketujuh buku tersebut bisa didapat di TB. Gramedia, Tisera dan <a href="http://www.tokorumahdunia.com/">www.tokorumahdunia.com</a>.<span id="more-4123"></span></p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/RD-com-Resensi-buku.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4125" title="RD com-Resensi buku" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/RD-com-Resensi-buku.jpg" alt="Gol A Gong nongkrong menggelar buku-buku Gong pub di Pesta Buku Jakarta" width="500" height="334" /></a>Untuk mewarnai gerakan literasi di Indonesia, maka Gong Publishing berencana menyulut sumbunya agar terjadi terus gempa literasi di Banten khususnya dan Indonesia umumnya, yaitu dengan mengadakan kegiatan ”Lomba Menulis Resensi” buku-buku terbitan Gong Publishing. Silahkan memilih salah satu dari 5 judul buku yang ditawarkan; 1. Melihat Tanpa Mata, 2. Gadis Bukan Perawan, 3. Gilalova, 4. Tamasya ke Masjid, dan 5. Banten Bangkit</p>
<p>Persyaratan dan ketentuan lomba sebagai berikut:</p>
<p>1. Lomba terbuka untuk warga negara Indonesia.</p>
<p>2. Resensi berupa karya asli, bukan terjemahan atau saduran.</p>
<p>3. Resensi diutamakan harus muncul di surat kabar nasional atau lokal dan majalah. Boleh juga resensi di  media on line (blog / Website) di Indonesia atau blog pribadi.</p>
<p>4. Peserta boleh mengirim lebih dari satu resensi.</p>
<p>5. Kirimkan bukti pemuatan resensi, berupa fotokopinya untuk koran atau print out untuk media on line. Bukti resensi kami tunggu hingga 30 Agustus 2010 (cap pos)</p>
<p>6. Sertakan biodata peresensi, nomor yang mudah dihubungi, nomor rekening bank, plus foto, serta fotokopi tanda pengenal peresensi (KTP/Kartu Pelajar) ke:</p>
<div id="attachment_4126" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/RD-Com-Resensi-lg.jpg"><img class="size-full wp-image-4126" title="RD Com-Resensi lg" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/RD-Com-Resensi-lg.jpg" alt="" width="500" height="334" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana bedah buku Banten Bangkit di Pesta Buku Jakarta 2010</p></div>
<p>PANITIA LOMBA RESENSI BUKU-BUKU GONG PUBLISHING ke:<br />
Redaksi GONG Publishing<br />
Komunitas Baca Rumah Dunia<br />
Komplek Hegar Alam 40</p>
<p>Serang 42118</p>
<p>Cantumkan &#8220;LOMBA RESENSI BUKU-BUKU GONG PUBLISHING &#8220;di pojok kiri atas amplop.</p>
<p>Hadiah:<br />
Juara 1: Rp  500.000,-<br />
Juara 2: Rp. 300.000,-<br />
Juara 3: Rp  200.000,-<br />
10 pemenang hiburan mendapatkan paket buku GONG Publishing seharga Rp.100.000,-<br />
Pemenang akan diumumkan pada bulan September 2010 di <a href="http://www.rumahdunia.com/">www.rumahdunia.com</a> dan <a href="http://www.rumahdunia.net/">www.rumahdunia.net</a> (*)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/23/lomba-resensi-berhadiah-rp-1-jt-dari-gong-publishing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BE A WRITER: DARI YANG REGULER HINGGA EXCLUSIVE”</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/20/be-a-writer-dari-yang-reguler-hingga-exclusive%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/20/be-a-writer-dari-yang-reguler-hingga-exclusive%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 03:27:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gonjlengan]]></category>
		<category><![CDATA[Be a Writer]]></category>
		<category><![CDATA[Gol A Gong]]></category>
		<category><![CDATA[Novelist]]></category>
		<category><![CDATA[Pelatihan]]></category>
		<category><![CDATA[Pengarang]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Bacaan Masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3987</guid>
		<description><![CDATA[Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat.
REGULER
Ada paket murah-meriah di Taman Bacaan Masyarakat &#8220;Rumah Dunia&#8221;. Paket Kelas Menulis &#8220;Be a Writer&#8221; reguler di Rumah Dunia. Kalo mau jadi novelist dan penulis skenario, gabung di sini. Biaya Rp. 150.000,-. Gratis buku &#8220;Be a Writer&#8221; karya Gol [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/05/Iklan-BaW-Baraya-Post.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3988" title="Iklan BaW-Baraya Post" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/05/Iklan-BaW-Baraya-Post.jpg" alt="" width="571" height="787" /></a>Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat.<span id="more-3987"></span></p>
<p>REGULER</p>
<p>Ada paket murah-meriah di Taman Bacaan Masyarakat &#8220;Rumah Dunia&#8221;. Paket Kelas Menulis &#8220;Be a Writer&#8221; reguler di Rumah Dunia. Kalo mau jadi novelist dan penulis skenario, gabung di sini. Biaya Rp. 150.000,-. Gratis buku &#8220;Be a Writer&#8221; karya Gol A Gong dan sertifikat. Untuk 4 x pertemuan. Bisa milih hari. Hati Minggu dan Selasa = kelas novel. Hari Selasa = kelas skenario. Kelas berlangsung setiap pukul 13.30 &#8211; 17.00 WIB. Interaktif klas. Kelas novel pertama berlangsung Minggu 6 Juni 2010. Kelas skenario 8 Juni 2010. Di sini kamu bisa diajarin cara menemukan dan menggali ide, membuat karakter tokoh seperti hidup di dunia nyata, alu dan plot yang kuat, latar tempat yang memukau, dan ending yang  memikat. Juga diajarkan bagaimana membuat cerita serial yang terus hidup seperti novel serial “Balada Si Roy” karya Gol A Gong.</p>
<p>SERANG</p>
<p>Nah, untuk yang &#8220;Be a Writer&#8221; Exclusive biaya Rp. 1,5 jt. Hanya 50 peserta. Kegiatan berlangsung 26 Juni 2010, pukul 08 &#8211; 17.00 di Hotel Sari Kuring Indah, Cilegon. Setiap peserta wajib menyerahkan cerpen (diserahkan saat daftar atau sesudahnya). Cerpen peserta akan diterbitkan jadi buku. Jika ada peserta yang sanggup menyerahkan naskah novel, silahkan. Naskah novel terbaik, akan diterbitkan jadi novel. Tidak akan dipungut biaya apa pun untuk penerbitan buku, Dan buku2 akan didisplay di TB Gramedia dan Tisera. Silahkan kontak ke Tias 0815 13310 132. Pokoknya, pelatihan ini bisa mewujudkan kamu jadi pengarang dan punya buku sendiri. Pernah nggak bermimpi, tiba-tiba novelmu diterbitkan? Nah, mimpu bakal jadi kenyataan di sini!</p>
<p>JAKARTA</p>
<p>Untuk wilayah  Jakarta di Hotel Sofyan, 4 Juli 2010, biaya Rp. 2 jt. Gratis buku &#8220;Be a Writer&#8221; karya Gol A Gong dan sertifikat. Persyaratanya sama. menyerahkan cerpen (diserahkan saat daftar atau sesudahnya). Cerpen peserta akan diterbitkan jadi buku. Jika ada peserta yang sanggup menyerahkan naskah novel, silahkan. Naskah novel terbaik, akan diterbitkan jadi novel. Tidak akan dipungut biaya apa pun untuk penerbitan buku, Dan buku2 akan didisplay di TB Gramedia dan Tisera. Kontak Helmy di 0813 811 72601. Pokoknya, pelatihan ini nggak akan berkedok penipuan. Ini beneran. Hanya dengan Rp. 2 jt, kamu bisa sah mneyndang sebagai pengarang! Buktikan saja!</p>
<p>Jangan khawatir. Uang kamu-kamu idak akan hilang percuma. Pasti bermanfaat, karena uang kamu-kamu juga akan disumbangkan untuk kegiatan pendidikan bagi orang-orang tidak mampu di Rumah Dunia.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>GONG Publishing – Anda Jadi Pengarang, Kami Tentu Senang!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/20/be-a-writer-dari-yang-reguler-hingga-exclusive%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BUNDEL BALADA SI ROY TERBIT</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/01/bundel-balada-si-roy-terbit/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/01/bundel-balada-si-roy-terbit/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 23:20:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Cover Final Balada Si Roy]]></category>
		<category><![CDATA[Gol A Gong]]></category>
		<category><![CDATA[Macho]]></category>
		<category><![CDATA[Majalah HAI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3908</guid>
		<description><![CDATA[GONG Publishing dengan bangga mempersemahkan:
Novel fenomenal. BUNDEL 10 BUKU BEST SELLER INDONESIA
“BALADA SI ROY” Karya Gol A Gong. Novel yang sudah menginspirasi jutaan pembacanya. Cermin remaja Indonesia yang selalu bagkit setiap kali jatuh.
Dan bersemangat mencari jati dirinya.
Cover ini dibuat oleh Andi Trisnahadi Suhud. Foto Noval Y. Ramsis (www.studiofotografi.com). Insya Allah terbit Mei 2010. Datang ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/05/Fa-Cover-final.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3910" title="Fa Cover final" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/05/Fa-Cover-final.jpg" alt="" width="600" height="443" /></a>GONG Publishing dengan bangga mempersemahkan:<br />
Novel fenomenal. BUNDEL 10 BUKU BEST SELLER INDONESIA<br />
“BALADA SI ROY” Karya Gol A Gong. Novel yang sudah menginspirasi jutaan pembacanya. Cermin remaja Indonesia yang selalu bagkit setiap kali jatuh.<br />
Dan bersemangat mencari jati dirinya.</p>
<p>Cover ini dibuat oleh Andi Trisnahadi Suhud. Foto Noval Y. Ramsis (www.studiofotografi.com). Insya Allah terbit Mei 2010. Datang ke launchingnya di HARI KEBANGKITAN BUKU, 15 Mei 2010, pukul 13.00 di Rumah Dunia. Kalau anda berminat memesan bundel “Balada Si Roy” harga untuk Jawa Rp. 115.000,- dan luar Jawa Rp. 125.000,- .Sudah termasuk ongkos kirim dan tanda tangan serta senyum pengarangnya. Nanti di TB Gramedia dan Tisera harganya Rp. 150 ribu. Spesifikasi; hard cover, 680 hlm, ukuran 15 cm x 23 cm, kertas HVS 70 gram. Keuntungan royalti pengarang 25% disumbangkan ke Rumah Dunia. Pesan harus transfer ke BCA Serang, norek 245 1790 121 an Heri Hendrayana Harris. Ke Bank Mandiri Serang norek 155 000 21 469 03, an Asih Purwaningtyas C. Confirm ke email balada.siroy@yahoo.com . Tulis nama, bukti transfer, no ID (KTP/passport), alamat rumah, no hp. Thanks supportnya ke Rumah Dunia!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/01/bundel-balada-si-roy-terbit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TBM@MALL TUNGGU KESIAPAN CARREFOUR</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/10/tbmmall-tunggu-kesiapan-carrefour/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/10/tbmmall-tunggu-kesiapan-carrefour/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 23:22:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>
		<category><![CDATA[Gol A Gong]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Serang]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Bacaan Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[TBM@mall]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3765</guid>
		<description><![CDATA[
Radar banten, 8 april 2010
SERANG – Pelaksanaan program taman bacaan masyarakat di pusat perbelanjaan modern atau lebih dikenal dengan istilah TBM@ Mall yang diluncurkan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) di Provinsi Banten, tinggal menunggu kesiapan Carrefour selaku mal yang ditunjuk Pemprov Banten sebagai tempat pelaksanaan program tersebut.
Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Nasional Gol A Gong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/CF-FB.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3763" title="CF FB" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/CF-FB.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Radar banten, 8 april 2010</p>
<p>SERANG – Pelaksanaan program taman bacaan masyarakat di pusat perbelanjaan modern atau lebih dikenal dengan istilah TBM@ Mall yang diluncurkan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) di Provinsi Banten, tinggal menunggu kesiapan Carrefour selaku mal yang ditunjuk Pemprov Banten sebagai tempat pelaksanaan program tersebut.<br />
Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Nasional Gol A Gong mengungkapkan, hingga saat ini manajemen Carrefour belum memberikan kepastian bisa dijadikan tempat TBM@Mall. “Mereka (Carrefour-red) beralasan belum menyampaikan program ini ke manajemen pusat Carrefour di Jakarta,” ungkap Gol A Gong, yang juga pendiri Taman Bacaan Masyarakat Rumah Dunia di Serang, terkait progress pelaksanaan program TBM@ Mall di Kota Serang, Rabu (7/4).<br />
Gol A Gong berharap, Carrefour sebagai mall pilihan pertama bisa segera memberi kepastian terkait kesiapannya mendukung program nasional yang bertujuan menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap budaya membaca ini. “Hal ini terkait dengan fungsi CSR (corporate social responsibility) Carrefour sebagai salah satu perusahaan yang berusaha di Banten,” katanya.<br />
Terkait dukungan Pemprov, dalam hal ini Dinas Pendidikan (Dindik), Gol A Gong menyatakan mendukung penuh. “Selain siap memberi dukungan berupa sarana prasarana taman bacaan, seperti buku, Dindik Banten juga siap mengarahkan Dindik kabupaten/kota untuk memberi dukungan serupa,” ujarnya.<br />
<a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/CF-RDcom.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3764" title="CF RDcom" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/CF-RDcom.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a>Ditemui terpisah, Kepala Dindik Provinsi Banten Eko E Koswara memaparkan, pelaksanaan program TBM@Mall di Kota Serang merupakan percontohan bagi daerah lainnya di Indonesia mengenai model taman bacaan masyarakat di pusat perbelanjaan. “Selain Kota Serang, ada dua daerah lain yang ditunjuk Kemendiknas sebagai program percontohan yakni Jakarta dan Makassar. Untuk tahun ini memang hanya tiga provinsi yang dijadikan model percontohan program TBM@ Mall yaitu Banten, DKI Jakarta, dan Sulawesi Selatan,” paparnya, seraya menambahkan, program TBM@ Mall akan dilaunching pada 2 Mei 2010, bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional. (ila)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/10/tbmmall-tunggu-kesiapan-carrefour/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/08/tembang-kampung-halaman-1/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/08/tembang-kampung-halaman-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 18:25:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Gol A Gong]]></category>
		<category><![CDATA[Tembang Kampung Halaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/2010/04/08/tembang-kampung-halaman-1/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong
MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak mengganggu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/GG-Denpra.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3743" title="GG-Denpra" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/GG-Denpra.jpg" alt="" width="518" height="691" /></a>Oleh Gol A Gong</p>
<p>MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak mengganggu orang-orang yang berkumpul di stasiun. Buat mereka, kedatangan kereta adalah rezki; sesuatu yang harus disambut dengan sukacita.</p>
<p>Pedagang asongan yang mengais rezki dari setiap gerbong dan harus turun–naik di stasiun, yang sudah berjaga-jaga sejak bunyi kereta dibunyikan, mulai mengeliat-geliat bagai ular terjaga dari tidurnya. <em>Ada</em><em> gula ada semut</em>. Sebagian pedagang asongan yang datang dari stasiun sebelumnya dengan tubuh berkeringat turun dari gerbong dan diganti dengan yang baru. Orang-orang kecil itu tak pernah rakus dalam memburu rezki. Mereka saling berbagi; memberi kesempatan yang sama untuk sesuap nasi. Begitu terus silih berganti di setiap stasiun. Mereka meneriakan jenis dagangan dan mimpi serta harapan-harapan yang sama. Hidup bagi mereka memangnyata. Apa yang mereka dapatkan hari ini, keuntungan dari dagangannya, itulah hidup.</p>
<p>Beberapa penumpang berlompatan turun. Walaupun tubuh kotor dan bau segala rupa, tapi mereka tampak gembira karena sudah sampai di tempat tujuan, kampung halaman tercinta. Tempat merka lahir, menangis, besar, gembira, dan bermimpi. Mereka saling melemparkan tawa dan senyum. Lalu beberapa penumpang baru naik, tapi tidak untuk kota yang jauh. Mereka cuma menumpang ke beberapa stasiun kecil sambil bersahabat dengan kondektur plus salam tempel ala kadarnya.</p>
<p>Seorang pemuda memisahkan diri. Dia berusaha untuk tidak menarik perhatian atau beramah-ramah dengan orang-orang. Paling-paling dia tersenyum, atau menganguk kepada yang menyapanya. Itu sekedar tradisi penduduk pada kaum pendatang yang dianggap sebagi tamu.</p>
<p>Dia menyeret ransel hijaunya seperti sedang berusaha menyeret kembali sepenggal hidupnya yang tertinggal di sini. Dia melihat sekeliling stasiun seperti melihat sesuatu yang sudah teramat lama di diam-diamkan. <em>Tak ada yang berubah dengan tempa ini, </em>bisiknya gembira. Bangku-bangku dari kayu jati, yang kini sudah kehitam-hitaman, masih tetap jadi bagian stasiun. <em>Aku sering tidur di bangku itu jika hari sedang panas,</em> dia tertawa mengingatnya. Tiang-tiang penyangga masih kokoh. Tapi kios kecil di ujung barat stasiun itu kini jadi sebuah toko kecil. Dagangannya bertambah banyak. Koran dan majalahnya pun berjejer dan bergantungan.</p>
<p>Dia berjalan ke toko kecil itu. Berusaha melihat penjaganya dengan hati-hati. Tampaknya, dia tak ingin kehadirannya diketahui. Seorang lelaki bertopi sedang melayani pembeli. Dia tak mengenalnya. Dia membeli tisu penyegar badan.</p>
<p>“Ke mana Pak kumis, Mas?” tanyanya, merasa harus tahu nasib orang tua pemilik kios kecil ini dulu, yang tak pernah berhasil memergokinya jika mencuri roti. Pak Kumis yang selalu mengusirnya tiap kali ia mondar-mandir di depan kiosnya, daripada nanti ada roti atau kuenya yang hilang.</p>
<p>“Pak Kumis sudah mati,” si penjual enteng saja bicara.</p>
<p>“Kapan, Mas?” Pemuda ini tersentak.</p>
<p>Sambil membereskan tumpukan rokok, si penjual meneliti pemuda yang ada di depannya. “lima tahun yang lalu,” katanya.</p>
<p>Tadinya dia berharap bisa bernostalgia dengan Pak Kumis, sambil meminta maaf atas kelakuannya sepuluh tahun yang lewat. <em>Beliau pasti akan pangling melihatku</em>, pikirnya. Tapi keinginannya cuma tinggal di hatinya. <em>Selamat jalan, Pak Kumis,</em> batinnya penuh sesal.</p>
<p>“meninggal karena apa Pak Kumis, Mas? Sakit tua?”</p>
<p>“Mati karena duit!” pemilik kios itu tertawa.</p>
<p>Pemuda ini mengerutkan keningnya. “Jangan main-main dengan orang yang sudah meninggal, Mas,” katanya mengingatkan.</p>
<p>Tawa si pemilik baru terhenti. “Dia memang mati karena duit. Kiosnya ludes buat main judi.” Mimiknya berubah serius. “Kenapa kamu tanyakan itu? Kamu siapa?” pengganti Pak Kumis ini menyelidik.</p>
<p>“Oh, nggak apa-apa,” jawab pemuda ini agak gugup. “Saya hanya pembeli setianya.” Dia tersenyum kikuk dan balik meninggalkan toko kecil itu.</p>
<p>Dia membawa kenangannya tentang Pak Kumis, yang kue-kue dagangannya sering dicurinya untuk mengganjal lapar dengan perasaan berduka. <em>Pak Kumis mati karena duit. Karena judi.</em> Kalimat itu membekas di pikirannya. Sepengetahuannya, Pak Kumis tidak pernah berjudi.</p>
<p>Dia mengitari stasiun lagi. Pengemis buta itu masih menadahkan tangannya ke setiap gerbong dengan doa-doa. Wajahnya semakin berkeriput dan jalannya mulai tertatih-tatih dimakan waktu. Malah ada dua pengemis baru, dengan kondisi yang sebetulnya masih sehat. Mungkin cuma manusia pemalas. Juga anak kecil tanpa pendidikan, yang semakin berkeliaran tanpa arah hidup yang jelas, membawa kotak semir yang cuma jadi hiasan kalung raksasa saja daripada berpungsi sebagai penjaring rezki. <em>Tak berbeda dengan aku dulu, </em>hatinya mengenang.</p>
<p>Menurut penilaiannya, stasiun ini tak berubah. Kehidupan yang sederhana sejak dulu tak tampak lebih maju; walupun roda ekonomi menggelinding dengan cepat dengan pabrik-pabrik yang melahap tanah produktif di timur-barat kota dan menyerap banyak tenaga kerja. Kota kecil yang cuma disinggahi kereta ekonomi. Kota yang berpanorama indah dan pernah jaya dengan pabrik gulanya dalam buku sejarah. Kota yang lebih banyak ditinggalkan pemudanya ke kota lain untuk mencari penghidupan yang lebih layak.</p>
<p>Cuma warna tembok stasiun ini saja yang agak bersinar menyegarkan sepasang matanya yang cerdik. Mungkin baru dicat. Dia ingat, setiap hari peringatan kemerdekaan, tembok dan pagar stasiun ini dipercantik lagi dengan cat baru. Bahkan dihiasi dengan umbul-umbul dan dihiasi dengan kertas warna merah dan putih, lambang kebanggaan tanah air bumi kita.</p>
<p>Padahal keadaan kota kecil ini dua tahun terakhir berubah drastis, begitu yang sering dibacanya di koran-koran. Tadi saja di gerbong kereta api, sebelum memasuki kota, dia bisa melihat di tanah-tanah subur di luar kota, pabrik-pabrik yang menggantikan batang-batang padi dan tebu yang dulu pada musim panen seperti lukisan surgawi dan menyebarkan aroma wewangian. Juga nasib generasi mudanya, yang praktis saja memilih jadi buruh di pabrik selepas sekolah rendah dan lanjutan, karena sebagian orang tua mereka pun berpikiran sama, lebih enak menjual tanah garapannya daripada berkubang lumpur. Berpeluh keringat menanaminya dengan padi atau tebu!</p>
<p>Yang lebih tragis lagi dia baca tentang kota ini, adalah munculnya orang kaya baru pergeseran nilai dari pola pikir agraris ke industri. Pola pikir tradisional kaum mudanya ke kejutan budaya baru. Kini gaya hidup kota-kota besar, yang notabene diimpor dari Barat, dilahap habis oleh mereka. <strong><em>3F</em></strong> <strong><em>Revolutions</em></strong><em>—Film, Food, </em>dan<em> Fashion </em>bagai musim penghujan terjadi di sini.</p>
<p>Mereka merengek-rengek meminta dibelikan ini-itu pada orangtuanya, selama persediaan uang dari hasil penjualan tanah itu masih ada. Dan mereka tidak segan-segan melancong ke kota-kota besar cuma untuk terperangkap kenikmatan sesaat. Dan para orangtuanya itu pun tak jauh berbeda. Mereka berpiknik ke kota-kota atau pulau wisata. Bahkan ada bapak-bapak yang kawin lagi dengan gadis muda belia, yang dicomot dari kampung-kampung, sehingga banyak keluarga yang tadinya bagai permukaan kolam perawan, kini banyak riak gelombang. Lantas warung-warung pojok pun menjamur di  kiri -kanan jalan di luar kota, di sepanjang jalan ke arah pabrik, menawarkan alkohol wanita bergicu tebal.</p>
<p>Kemudian ketika bencana itu datang, saat persediaan uang menyusut dan habis, mulai mereka kebingungan dan panik. Untuk kembali menggarap tanah, jelas tak mungkin. Untuk membuka usaha, sejak mereka dilahirkan, bahkan sejak jaman nenek moyang, mereka tak pernah diajarkan bagaimana caranya berdagang. Sehingga jalan pintas yang terbaik menjual apa saja yang tersisa. Untuk menyuap yang punya kuasa agar anak-anak mereka bisa bekerja di pabrik-pabrik, walaupun dengan gaji di bawah kebutuhan fisik minimum.</p>
<p>Itulah yang dibacanya tentang kota ini di koran-koran, dua tahun terakhir.</p>
<p>Dia duduk di bangku panjang kayu jati itu. Berusaha merasakan getaran-getarannya yang telah lalu. Ada keinginan untuk menyusuri jejak-jejak masa kecilnya di sini. Dia yakin dengan penampilannya kali ini, sebagai anak muda produk kota besar, tidak akan ada yang mengenalinya. Siapa akan menyangka kalau sebenarnya dia adalah bocah hitam nakal yang pernah malang melintang di kota ini? [Bersambung ke bagian 2]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/08/tembang-kampung-halaman-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HARI KEBANGKITAN BUKU #3 DAN LAUNCHING BALADA SI ROY</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/08/hari-kebangkitan-buku-3-dan-launching-balada-si-roy/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/08/hari-kebangkitan-buku-3-dan-launching-balada-si-roy/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 18:18:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Balada Si Roy]]></category>
		<category><![CDATA[Gol A Gong]]></category>
		<category><![CDATA[HAI]]></category>
		<category><![CDATA[Novel Best Seller]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3739</guid>
		<description><![CDATA[

SERANG &#8211; Siapa yang tak kenal dengan novel serial Balada Si Roy (BSR) karya Gol A Gong? Buku yang fenomenal di era 1990-an ini menjadi best seller. Label best seller yang ada pada buku BSR bukan hanya pada era (90-an) saja, tapi sampai sekarang pun buku BSR masih menjadi buku terlaris. Itu terbukuti dengan banyaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/Bundel-BSR-RD-com.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3738" title="Bundel BSR-RD com" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/Bundel-BSR-RD-com.jpg" alt="" width="500" height="346" /></a><br />
</em></p>
<p>SERANG &#8211; Siapa yang tak kenal dengan novel serial Balada Si Roy (BSR) karya Gol A Gong? Buku yang fenomenal di era 1990-an ini menjadi best seller. Label best seller yang ada pada buku BSR bukan hanya pada era (90-an) saja, tapi sampai sekarang pun buku BSR masih menjadi buku terlaris. Itu terbukuti dengan banyaknya peminat BSR dan pembaca BSR di eranya yang masih setia sampai sekarang. BSR yang dulu berjumblah 10 judul buku itu kini telah diterbitkan Gong Publishing dalam satu bundel buku BSR, sampul hardcover, kertas hvs 70 gram, dan ukuran 15 x 23 cm.</p>
<p>Launching satu bundel BSR itu akan dilangsungkan di Rumah Dunia, Komp. Hegar Alam No. 40 Ciloang, Serang-Banten, pada Sabtu, 15 Mei 2010, Pukul 13.00 WIB mendatang. Peluncuran BSR satu bundel itu dalam rangka “Hari Kebangkitan Buku ke-3 ala Rumah Dunia,” kata Gol A Gong, pada Rabu lalu.</p>
<p>Pada launching nanti, pihak Rumah Dunia akan mengundang 125 lembaga, 50 SMA/MA, 25 Perguruan Tinggi, 25 Taman Bacaan Masyarakat serta 25 Komunitas Baca se-Banten. “Masing-masing dari lembaga itu, nanti akan diberikan satu buku Balada Si Roy secara gratis.” tutur Gong. “Itu sumbangan dari XL dan Yayasan Tunas Cendekia.</p>
<p>“Hari Kebangkitan Buku” juga akan dimeriahkan penampilan musikalisai puisi Ki Amuk dan pembacaan puisi BSR oleh penyair Banten; Toto ST Radik dan Rahmat Heldy HS. “Ada menu tambahannya juga,” selang Gong. Maksud menu tambahan itu adalah soft launching buku karya Abdul Latief, yang berjudul “Melihat Tanpa Mata: Penghargaan Pada Inspirsai” (Gong Publishing) serta kumpulan 15 cerpen terbaik dari Forum Lingkar Pena (FLP) Banten dengan judul “Gila Lova: Segila-gilanya Cinta“ (Gong Publising). Pokoknya, di “Hari Kebangkitan Buku” ini, Gong Publishing akan memunculkan penulis Banten ke kancah Nasional.   Selain itu, para relawan akan meluncurkan buku kumcer, essay, serta puisi. “Ini ajang pamer buku,” kata Muhzen Den, relawan senior. “</p>
<p>Bagi teman-teman yang ingin ikut memeriahkan “Hari Kebangkitan Buku” atau ingin membeli buku BSR, bisa langsung datang ke RD. Akan ada diskon yang menarik dalam peluncuran BSR nanti. BSR satu bundel juga akan ada di toko buku Gramedia dan Tiga Serangkai se-Banten. Harganya Rp. 150.000,- Tapi jika datang di “Hari Kebangkitan buku”, harganya Rp. 100.000,- Malah aka nada merchandise berupa kaos Balada Si Roy; dengan gambar cover BSR buatan Wedha dan penggalan sajak. (*)</p>
<p>*) Penulis Ahmad Wayang:  adalah relawan dan wartawan majalan Online www.rumahdunia.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/08/hari-kebangkitan-buku-3-dan-launching-balada-si-roy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGOPTIMALKAN POTENSI TAMAN BACAAN MASYARAKAT</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/21/mengoptimalkan-potensi-tbm/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/21/mengoptimalkan-potensi-tbm/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 20:42:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gonjlengan]]></category>
		<category><![CDATA[CSR]]></category>
		<category><![CDATA[Gol A Gong]]></category>
		<category><![CDATA[Merchandise]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Bacaan Masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3399</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong
Beberapa kali saya kedatangan tamu yang selalu minta diajari membuat proposal pembuatan taman bacaan masyarakat. Mereka adalah para mahasiswa. Mereka menduga, bahwa saya mendirikan taman bacaan masyarakat bernama Rumah Dunia dengan membuat proposal. Saya katakan kepada mereka, bahwa Rumah Dunia tidak dibangun dengan proposal, tapi dengan kata-kata. Juga Rumah Dunia tidak dibangun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Emak-Kiamuk4.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3400" title="Emak-Kiamuk4" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Emak-Kiamuk4.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a>Oleh Gol A Gong</p>
<p>Beberapa kali saya kedatangan tamu yang selalu minta diajari membuat proposal pembuatan taman bacaan masyarakat. Mereka adalah para mahasiswa. Mereka menduga, bahwa saya mendirikan taman bacaan masyarakat bernama Rumah Dunia dengan membuat proposal. Saya katakan kepada mereka, bahwa Rumah Dunia tidak dibangun dengan proposal, tapi dengan kata-kata. Juga Rumah Dunia tidak dibangun dalam waktu satu malam. Saya memberi resep yang tentu mudah mereka lakukan, yaitu membangun taman bacaan masyarakat dengan penuh rasa cinta, bukan dengan proposal.</p>
<p>DIRI SENDIRI</p>
<p>Saya mulai memimpikan membangun Rumah Dunia sejak sekolah di SMA (1980-an). Saya seolah gerilyawan; menyebarkan virus literasi dengan modal sendiri. Bersama beberapa sahabat, Toto ST Radik (penyair) dan (Alm) Rys Revolta, Si Uzi (Direktur BR TV), Andi Trisnahadi (percetakan Suhud Mediapromo-Serang), terus mengetuki pintu-pintu sekolah; ini literasi, ini literasi, siapa ingin maju! Ada yang menyambut, ada yang tidak peduli. Padahal tak ada sepeserpun kami minta ganti. Kami maklumi, karena di Banten masa itu lebih mementingkan otot ketimbang otak.</p>
<p>Kami juga mencoba mengetuki para pembuat keputusan untuk meminta dana pembinaan bagi pemuda, tapi nihil. Mengurusi pemuda tidak popular. Apalagi membuat perpustakaan. Kami dicap seniman tanpa tahu aturan, karena tidak bisa jualan proposal dengan produk serindang beringin dan dengan cara berdasi. Lalu, kami bermarkas di trotoar, di kamar, di alun-alun, hingga lapangan parkir gedung olahraga. Lelah juga. Staregi perangnya, mimpi harus ditunda.</p>
<p>Akhirnya saya membuat keputusan, idealisme harus diongkosi sendiri. Maka bekerjalah saya di Jakarta sejak 1989 hingga 2008; menjadi wartawan, menulis novel, dan menulis scenario TV di televisi. Kemudian pada tahun 2000 bersama istri tercinta – Tias Tatanka – meniatkan diri, bahwa membuat taman bacaan masyarakat adalah bagian dari ibadah, tidak sekedar menyisihkan kewajiban sebagai warga negara yang diamanatkan di UUD 45 atau zakat sebesar 2,5%. Ini semua karena rasa cinta kepada anak-anak, yang juga berhak mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan setinggi mungkin.</p>
<p>Itu sebabnya kami mengukir sebuah kalimat di prasasti garasi rumah: <em>Rumahku Rumah Dunia, kubangun dengan kata-kata</em>! Itu artinya, Rumah Dunia memang dibiayai dari honorarium novel-novel saya. Dari profesi saya sebagai penulis. Lantas, alhamdulillah, kami berhasil membeli tanah seluas 1000 M2 dari royalty novel <em>Balada Si Roy</em>, <em>Al Bahri</em>, dan <em>Pada-Mu Aku Bersimpuh</em>. Juga dari beberapa skenario film atau sinetron yang saya tulis.</p>
<p>Selain rasa cinta, begitulah idealisme harus diwujudkan: dengan uang. Dan itu harus diri sendiri yang memulai, bukan orang lain. Mengeluarkan uang dari dompet sendiri untuk membangun taman bacaan masyarakat, memang dibutuhkan keberanian. Bukan berarti ini keharusan. Tapi, ini memang pilihan hidup. Jangan pernah berpikir, bahwa membangun atau mendirikan taman bacaan masyarakat itu untuk kepentingan atau keuntungan pribadi. Apalagi untuk kepentingan politik sesaat. Jika itu tujuannya, insya Allah, TBM kita hanya akan hidup ketika <em>block grant </em>datang, lalu hilang  bulan mendatang.</p>
<p>PROMOSI</p>
<p>Kami santai saja menggerakkan Rumah Dunia. Kami hanya memikirkan program atau kegiatan Rumah Dunia, bukan sibuk mengikuti pelatihan pembuatan proposal yang baik untuk mendapatkan block grant. Kami tidak pernah takut, kalau mengeluarkan uang dari kocek sendiri akan membuat kami miskin. Saya menerapkan sebuah aturan kepada para relawan, yaitu jika tidak punya uang, maka mari bersedekah pikiran (ilmu dan relasi), tenaga, atau bahkan do’a saja itu lebih dari cukup.</p>
<p>Tapi saya tidak tinggal diam. Saya menyadari, tidak selamanya saya mampu membiayai Rumah Dunia. Saya mulai membangun jaringan ke 1001buku, Forum Indonesia Membaca, perusahaan-perusahaan, serta peresorangan. Setiap minggu saya rutin menulis “Jurnal Rumah Dunia” di Koran Radar Banten dan Banten Raya Pos, diposting di milis-milis. Jurnal itu tidak pernah terputus. Juga mencetak brosur, liflet, baner, baliho di Suhud Media promo dengan cara barter logo.</p>
<p>Hingga pada Desember 2004, Andre Birowo dan Noval Y. Ramsis menyatakan diri jadi relawan dengan membuatkan situs <a href="http://www.rumhdunia.net/">www.rumhdunia.net</a>. Bertempat di senayan@library, Depdiknas Jakarta, <a href="http://www.rumhdunia.net/">www.rumhdunia.net</a> pun diluncurkan. Maka, Rumah Dunia semakin leluasa mempublikasikan kegiatannya. Setiap prusahaan atau lembaga yang memndukung Rumah Dunia, logonya ditampilkan di <a href="http://www.rumahdunia.net/">www.rumahdunia.net</a>.</p>
<p>KARAKTER TBM</p>
<p>Rumah Dunia memiliki kekhasan, yaitu kemampuan para pengelolanya di dunia sastra, jurnalistik, teater, menggambar dan film. Saya mengajar di Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD), yang bergulir pada Januari 2002. Setelah 2 tahun, pada 2004 mulai menampakkan hasilnya. Kami menulis sekitar 5 buku kumpulan cerpen dan 50% honor penulisnya disumbangkan ke Rumah Dunia. Para lulusan KMRD pun bekerja menjadi wartawan dan mulai daftar sebagai donatur tetap, mulai dari angka Rp. 50.000,-</p>
<p>Berkat situs <a href="http://www.rumahdunia.net/">www.rumahdunia.net</a>, akhirnya banyak televisi swasta meliput Rumah Dunia. Lembaga atau yayasan seperti Yayasan Tunas Cendekia, Yayasan Nurani Dunia datang menyumbang buku dan computer. Orang per-orangpun berdatangan dan siap menjadi donatur tetap. Walaupun belum maksimal tapi sungguh sangat membantu. Terutama bagi saya dan sekeluaga menjadi lebih ringan membiayai kegiatan Rumah Dunia.</p>
<p>Karakter atau kompetensi menulis dijadikan sebagai potensi Rumah Dunia. Kami memproduksi kata-kata. Terbukti kami banyak melakukan kerjasama dengan penerbit; Gramedia, Gagas Media, Eles Media, Mizan, Zikrul Hakim, Senayan Abadi, KPG, Salamadani, Bentang, Tiga Serangkai, dan GIP. Beberapa relawan Rumah Dunia ada yang sudah menerbitkan novel. Bahkan Gagas Media dan Mizan jadi donatur rutin perbulan. Memang belum maksimal, tapi kami sudah merasakanm, bahwa kemampuan menulis kami ini bia dimanfaatkan untuk penggalangan dana operasional Rumah Dunia. Terjadi simbiosis-mutualisme di antara kami dan penerbit.</p>
<p>JEJARING</p>
<p>Semua pengelola TBM pasti merasakan, betapa sulit menghidupi TBM. Saya juga yakin, semua pengelola TBM pasti memlainya dari kocek sendiri. Kadang kita berharap, bahwa ada lampu Aladin nyasar ke TBM kita dan kita diberi kesempatan 3 permintaan. Tentu saya akan meminta; pertama <em>block grant</em>, kedua <em>block grant</em>, ketiga juga <em>block grant</em>!</p>
<p>Tapi, jika kita hanya berharap kepada Jin Aladin bernama <em>block grant</em>, saya tidak yakin TBM yang kita kelola akan berumur panjang. Menerima <em>block grant</em> sah-sah saja, itu sudah jadi hak kita. Tapi, coba bayangkan, jika semua pembiayaan TBM di Indonesia yang ditaksir berjumlah lebih dari 5000 TBM harus ditanggung oleh pemerintah! Saya tahu setiap tahun ada 3 jenis block grant yang disalurkan ke TBM-TBM, yaitu tipe A (Rp. 50 jt), tipe B (25 jt), dan TBM perintis (Rp. 15 jt).  Berapa bulankah dana itu sanggup menyambung nafas TBM?</p>
<p>Rumah Dunia juga pernah mendapatkan <em>block grant</em> dari Depdiknas 2 kali, tipe B (Rp. 25 jt) pada 2006 dan 2007. Itu jelas tidak cukup. Inginnya kami setiap tahun mendapatkan dana <em>block grant</em>, karena setiap bulan kami harus mengongkosi operasional sebesar antara Rp. 5 jt hingga Rp. 6 jt. Berarti setiap tahun sekitar Rp. 72 jt. Itu belum termasuk kegiatan besar berskala nasional seperti “Ode Kampung”, “Pesta Anak”, “Pesta Rumah Dunia”, dan “Keranda Merah Putih”, yang bisa menelan biaya puluhan juta. Tapi, juga tidak bijaksana jika tangan kita menadahkan terus ke Depdiknas atau Dindik, berharap block grant datang.</p>
<p>Lntas bagaimana caranya? Ini gampang-gampang susah atau susah-susah gampang.  Harus bersabar. Kami di Rumah Dunia terus saja berkegiatan (ikhtiar) smbil terus berdo’a, semoga ada orang “gila” seperti John Wood (mantan karyawan Microsoft) atau Sampoerna Foundation atau Eka Tjipta Foundations atau Djarum atau siapa saja yang banyak duitnya datagn ke Rumah Dunia dan menggelontorkan CSR (corporate Social Responsibility)-nya!</p>
<p>Tapi bermimpi terus juga tidak baik. Maka sebagai pengelola TBM haruslah putar otak. Kita harus mau dan rajin menulis jurnal TBM kita di internet, menyebar brosur, atau menghadiri pameran-pameran komunitas literasi (World Book Day versi Forum Indonesia Membaca). Dari situlah kita bisa membangun jaringan dan menjadi tahu, bahwa sebetulnya ada peluang mencari dana untuk menghidupi TBM. Ada banyak dana CSR di perusahaan-perusahaan, walaupun Rumah Dunia belum maksimal mendapatkannya. Rumah Dunia pernah mendapatkan dana CSR dari RCTI Peduli sebesar Rp. 14 jt (2004), XL Care berupa bajay library dan uang Rp. 10 jt (2007), Tupperware sejumlah Rp. 50 jt (2009), Bellsoap dan Marqueen untuk pembebasan tanah Rumah Dunia sebesar Rp. 100 jt (2009). Yang paling heboh ketika Rumah Dunia menggalang dana pembebasan tanah di jejaring social facebook; terkumpul Rp. 300 jt lebih. Tanah seluas 970 m2 dan 225m2 berhasil kami bebaskan berkat bantuan para facebooker!</p>
<p>Kami betul-betul membuka diri kepada siapa saja yang mau membantu Rumah Dunia; tidak peduli pandangan politik atau warna seragamnya. Bahkan mereka langsung kami tawari posisi penasehat. Kami sudah sebarkan pengumuman, bahwa Rumah Dunia adalah rumah bersama bagi yang ingin belajar berbagi rasa, cinta, dan ilmu. Hingga hari tercatat 25 penasehat Rumah Dunia. Tentu saja semakin banyak penasehat, semakin banyak relasi, banyak kesempatan, banyak donatur. Tercatat di antaranya DR. Zulkieflimansyah, SE, MSc (anggota DPR RI), Dodi Nandika (Sekjen Depdiknas). Ahmad Mukhlis Yusuf (Direktur Antara Nesw), dan Wien Muldian (Direktur Forum Indonesia Membaca),</p>
<p>MERCHANDISE</p>
<p>Selain jejaring (networking), kami juga mengoptimalkan kemampuan para relawan Rumah Dunia yang rata-rata di sastra, teater, dan film. Maka mulailah kami menyebar; ada yang menulis novel, mengadakan pelatihan menulis, bekerja di koran dan televisi local. Ketika gajian, mereka memberikan infaq-sodaqahnya sekitar Rp. 50.000,-/orang. Juga membuat merchandise Rumah Dunia; pin, stiker, gelas mug. Merchandise ini memang belum maksimal, tapi terus kami upayakan.</p>
<p>Membuka lini unit usaha juga kami lakukan, yaitu membuat penerbitan GONG Publishing.  Kami berharap, lini penerbitan ini bisa berhasil. Langkah pertama adalah menerbitkan ulang buku-buku karya saya; <em>Balada Si Roy</em>. Dengan <em>system print on demand</em>, diharapkan proyek pertama ini memperoleh keuntungan. Sekitar 25% dari lba akan disumbangkan ke Rumah Dunia.</p>
<p>Pada periode Firman Venayaksa sebagai Presiden Rumah Dunia, kami sangat lentur dan menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Rumash Dunia yang segalanya serba gratis, mulai berbenah. Program beasiswa harus tetap berjalan dan butuh dana, wisata gambar, dongeng, mengarang, study tour bgi anak-anak juga harus tetap bergulir. Itu semua butuh dana.</p>
<p>Kami berencana mulai Agustus 2010 memberlakukan system subsidi silang. Ini adalah bagian dari mengoptimalkan dana dari masyarakat dengan cara elegan atau win-win solutions. Mislnya, Kelas Menulis Rumah Dunia yang diasuh Gol A Gong mulai angkatan ke-16 (Agustus 2010) tidak lagi gratis, tapi infaq Rp. 50.000,-/orang/bulan. Peserta dibatasi antara 25 – 50 orang. Ini setahap menuju fase professional, tapi tetap berlandaskan social. Begitu juga dengan internet, yang selama ini gratis akan kami ubah jadi warnet Rumah Dunia. Dengan cara ini, selain dari para donatur yang belum maksimal, Rumah Dunia juga  - insya Allah – akan memiliki unit usaha yang bisa membantu menggulirkan kegiatan Rumah Dunia.</p>
<p>Tahun 2010 ini, tema besar kegiatan Rumah Dnia adalah “Change With Reading”. Kami membutuhkan dana sebesar Rp. 300 juta lebih! Agenda januari dan Februari berhasil kami lewati. Kas kami sekitar Rp. 20 jt lagi, sisa dari penggalangan dana pembebasan tanah Rumah Dunia tahap kedua di facebook.</p>
<p>Inilah pengalaman yang pernah saya alami dalam memaksimalkan potensi dana masyarakat. Selanjutnya, kita saling berbagi pengalaman saja, karena saya yakin di antara para pembaca ada yang lebih profesional dibandingkan saya dalam menggali potensi dana masyarakat untuk kemajuan Taman Bacaan Masyarakat! Hidup literasi! (*)</p>
<p>*) Penulis adalah pendiri Rumah Dunia, novelis, wartawan, dan Pemipin Umum <a href="http://www.rumahdunia.com/">www.rumahdunia.com</a> dan <a href="http://www.rumahdunia.net/">www.rumahdunia.net</a> , terpilih sebagai Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat di Munas  Temu Konsolidasi Forum TBM, dengan tema &#8220;Kiat Menggerakkan Dana Masyarakat Untuk Peningkatan Budaya Baca Tulis&#8221;,  LPP Hotel, Demangan, Yogyakarta, 22 &#8211; 24 Feb 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/21/mengoptimalkan-potensi-tbm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DARI CIPANAS MENUJU LEBAK MEMBACA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/15/dari-cipanas-menuju-lebak-membaca/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/15/dari-cipanas-menuju-lebak-membaca/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 23:56:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laporan Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Banten Membaca]]></category>
		<category><![CDATA[Cipanas]]></category>
		<category><![CDATA[Gol A Gong]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Membaca]]></category>
		<category><![CDATA[Lebak Kota pelajar]]></category>
		<category><![CDATA[Lebak Membaca]]></category>
		<category><![CDATA[Provinsi Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Bacaan Masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3324</guid>
		<description><![CDATA[ Relevansi menjadikan Rangkasbitung sebagai Kota pelajar, sejumlah warga Cipanas menggagas tempat belajar warga dalam mengembangkan sumber daya manusia. Melalui gerakan membaca, dari sebuah kampung bernama Cipanas akan di buka Rumah Kosala, Komunitas Sastra Lebak.
Dibentuk atas pertemuan dikediaman H Agus Sutisna bersama Heri Hendrayana alias Gol A Gong dan Saroh Jarmin, gagasan Lebak membaca dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Kosala-Meeting-com.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3325" title="Kosala Meeting com" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Kosala-Meeting-com.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a> Relevansi menjadikan Rangkasbitung sebagai Kota pelajar, sejumlah warga Cipanas menggagas tempat belajar warga dalam mengembangkan sumber daya manusia. Melalui gerakan membaca, dari sebuah kampung bernama Cipanas akan di buka Rumah Kosala, Komunitas Sastra Lebak.</p>
<p>Dibentuk atas pertemuan dikediaman H Agus Sutisna bersama Heri Hendrayana alias Gol A Gong dan Saroh Jarmin, gagasan Lebak membaca dapat dimulai dari Kecamatan Cipanas, Selasa (9/2) malam. Menurut pencetus ide kreatif Gol A Gong, filosofi air panas yang meluber ke daratan tanah Lebak dapat berawal dari pemandian Cipanas, dan semangat gerakan membaca juga diawali dari orang-orang Cipanas, baru kemudian menuju gerakan Lebak Membaca.</p>
<p>“Orang-orang Cipanas akan seperti air panas yang meluber ke jalan-jalan Lebak di Banten selatan. Mereka siap mengalirkan kehangatan bagi warganya,” ucap pendiri Rumah Dunia, Gol A Gong, yang langsung diiyakan penasehat KOSALA lainnya, Agus Sutisna, di jalan Rangkasbitung-Bogor KM 36, Kampung Lurah Desa Sipayung, Cipanas.</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Kosala-Ceria-com.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3326" title="Kosala Ceria com" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Kosala-Ceria-com.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a>Menurut ketua komunitas Saroh Jarmin, SPd, Kosala adalah bagian dari angan-angan warga Cipanas, karenanya bersama rekan-rekan Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas (IKMC), Kosala akan berusaha mewujudkan kota pelajar melalui budaya literasi.</p>
<p>“Konsep belajar, adalah membaca dan berhitung. Dengan berdirinya KOSALA, Dari Cipanas Menuju Lebak Membaca ini akan menjadi tempat seperti surga bagi mereka yang ingin berekspresi di dunia literasi,” ucap Saroh yang baru terpilih sebagai ketua Kosala dan sudah menentukan komposisi Kosala hasil urung rembuk dengan yang lainnya.</p>
<p>Dengan ketua Saroh Jarmin, sekretaris Ahmad Arif, bendahara Pipit Fiharsih, dan voluntir Sholeh, Yayan, Akhelbri, Toni, Ade Is, Iyoh, Neneng, dan Harir Balda, Kosala siap menggelar program awal yakni kelas Menulis per Maret-Agustus, dengan kelas sore setiap hari Selasa, dan kelas pagi di Rabu dan Kamis. Pengajarnya Gol A Gong.</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/FB-Kosala-Banner-com.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3327" title="FB-Kosala Banner com" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/FB-Kosala-Banner-com.jpg" alt="" width="500" height="250" /></a>Kegiatan lainnya, lanjut Saroh adalah kegiatan yang membawa pesan bahwa dengan membaca kita bisa mengubah dunia, yaitu Pojok Leuit, sebuah ruang untuk menyimpan sumber makanan bergizi bagi para agent of change, yakni buku-buku. “bukunya untuk permulaan disupport Rumah Dunia,” kata Saroh. Sanggar Dongeng diberikan bagi anak-anak Cipanas setiap Minggu, dan diskusi yang rutin digelar bulanan dengan tema yang disesuaikan dengan kekinian, dan hangat diperbincangkan menghadirkan tokoh-tokoh dari Cipanas, Banten, dan Indonesia.</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Kosala-Memanas-com.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3328" title="Kosala Memanas com" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Kosala-Memanas-com.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a>Untuk mengenalkan Kosala Library, IKMC yang menaunginya akan membuat gebtrakan dengan merancang CIPANAS IQRA pada Sabtu, 27 February 2010. “Selain launching ‘Kosala’, kegiatan utamanya adalah wakaf buku,” Ahmad Arif, Ketua IKMC menjelaskan. Seperti biasa akan dimeriah degnan pertunjukan seni marawis dari La Tansa dan Nurul Madaany, pembacaan puisi, orasi budaya H. Agus Sutisna, dan musik KPJ, (*)</p>
<p>*) Tulisan ini oleh Ali Sobri – Dimuat di koran Radar Banten, Kamis 11 Februari 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/15/dari-cipanas-menuju-lebak-membaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ANDAKAH SERIBU PEMESAN BUKU BALADA SI ROY EDISI KHUSUS BUNDEL 1 BUKU?</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/06/andakah-seribu-pemesan-buku-balada-si-roy-edisi-khusus-bundel-1-buku/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/06/andakah-seribu-pemesan-buku-balada-si-roy-edisi-khusus-bundel-1-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 23:47:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Balada Si Roy]]></category>
		<category><![CDATA[Gol A Gong]]></category>
		<category><![CDATA[Gramedia]]></category>
		<category><![CDATA[HAI]]></category>
		<category><![CDATA[Novel Serial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3209</guid>
		<description><![CDATA[‘Lelaki harus pergi, tetapi juga harus pulang, karena ada yang mengasihi dan dikasihi.” (Roy, 17 tahun, Balada Si Roy)
***
Begitulah remaja Roy pernah merasuki pembaca negeri ini di era 80-an. Pernyataan atau pendapatnya tentang bagaimana seharusnya mnejadi lelaki; jujur, berani, mencintai lingkungaan, sayang kepada ibu, menghargai perempuan, ternyata menjadi ideology berseberangan dengan remaja mapan pada umumnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Roy-bundel.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3212" title="Roy bundel" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Roy-bundel.jpg" alt="" width="500" height="235" /></a>‘Lelaki harus pergi, tetapi juga harus pulang, karena ada yang mengasihi dan dikasihi.” (Roy, 17 tahun, Balada Si Roy)</p>
<p>***</p>
<p>Begitulah remaja Roy pernah merasuki pembaca negeri ini di era 80-an. Pernyataan atau pendapatnya tentang bagaimana seharusnya mnejadi lelaki; jujur, berani, mencintai lingkungaan, sayang kepada ibu, menghargai perempuan, ternyata menjadi ideology berseberangan dengan remaja mapan pada umumnya di Jakarta. Roy menjadi representasi remaja Indonesia kebanyakan pada masa itu. Farhan, presenter “Tatap Muka” di TV One menyatakan, “Roy itu antitesa dari ‘Catatan Si Boy’. Roy melabrak kemapanan yang diwakili tokoh Boy!”<span id="more-3209"></span></p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/bule-ransel-3.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3213" title="bule ransel-3" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/bule-ransel-3.jpg" alt="" width="217" height="350" /></a>PEMBACA DILIBATKAN</p>
<p>Kalau kamu termasuk pembaca novel serial “Balada Si Roy” karya Gol A Gong dan ingin kembali mengoleksi atau untuk diwariskan ke anak, adik, dan orang yang dikasihi, “Balada Si Roy” yang awalnya muncul bersambung di majalah pria HAI dan diterbitkan sepuluh buku oleh Gramedia Pustaka Utama (1988 – 94), kini akan dibukukan dalam bentuk bundel 1 buku seperti Musashi. Tebal (estimasi) 450 hlm, ukuran buku : 15 x 23 cm, Kertas : HVS 70 gram, hard cover dan warna cetak isi hitam-putih.</p>
<p>Apakah ada yang baru di buku “Balada Si Roy” edisi bundel ini? “Ya,” kata Gol A Gong. Yaitu, tentang bagaimana proses kreatif “Balada Si Roy” tercipta. Gong menceritakan bagaimana ide awal muncul, juga siapa sebetulnya para tokoh di “Balada Si Roy” seperti Andi, Dewi Venus, Toni, dan Dullah. Juga ada bonus stiker dan pin.</p>
<p>Selain itu Gong juga akan memuat 10 essay atau tulisan terbaik dari para pembaca “Balada Si Roy”.  Siapa saja boleh mengirimkan pendapatnya tentang tokoh “Si Roy” ke email <a href="mailto:balada.siroy@yahoo.com">balada.siroy@yahoo.com</a>. Juga untuk cover, jika ada pembaca yang ingin menyumbangkan kepiawaiannya melukis, silahkan saja. “Dulu Mas Wedha. Tapi, saya mau mencoba mengajak pembaca terlibat, karena ini atas desakan pembaca juga.” Maka, silahkan kirim gambar/ilustrasinya. Sedangkan gambar-gambar Mas Wedha akan disertakan di dalam untuk cover masing-masing episode, sebagai pembatas. Tapi, jika tidak ada yang bagus, cover ttap diisi Mas Wedha.</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/bad-days-3.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3214" title="bad days-3" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/bad-days-3.jpg" alt="" width="215" height="350" /></a>HARGA TERJANGKAU</p>
<p>Kalau dulu harga satuan “Balada Si Roy” berkisar dari Rp. 3500,- (1988) hingga Rp. 15.000,- (1994), kini harga bundelnya Rp. 115.000,- sudah termasuk ongkos kirim untuk Jawa. Untuk luar Jawa Rp. 125.000,- sudah termasuk ongkos kirim. Keuntungan 25% akan disumbangkan ke Rumah Dunia, komunitas baca yang didikan Gol A Gong (<a href="http://www.rumhadunia.com/">www.rumhadunia.com</a> dan <a href="http://www.rumahdunia.net/">www.rumahdunia.net</a>). Buku akan dicetak (print on demand) setelah minimal terkumpul 1000 pemesan. Gong merasa kurang yakin, apakah akan ada minimal 1000 pemesan.</p>
<p>Tapi Noval Y. Ramsis, web master <a href="http://www.rumahdunia.com/">www.rumahdunia.com</a> dan <a href="http://www.rumahdunia.net/">www.rumahdunia.net</a> menyemangati, “Bismillah, Mas! Banyak yang bisa diambil manfaatnya dari buku ‘Balada Si Roy’.” Noval termsuk pembaca berat “Balada Si Roy”. Setelah 2 hari digulirkan sudah ada 10 pemesan yang transfer. Beberapa lagi menyatakan siap memesan dan dan mntransfer. Rata-rata menyambut baik ggasan membundel “Balada Si Roy” ini. Di facebook juga sudah banyak yang menanti edisi khusus ini. Mereka semua menginginkan mengkoleksi buku “Balada Si Roy” dalam bundel 1 buku, karena koleksi mereka sudah berceceran.</p>
<p>Apakah mahal harga tersebut di atas? Beberapa pembaca menyatakan tidak. Anggit Wicaksono dari Karanganyar Solo berpendapat, “Siap, Mas! Nggak rugi!” Begitu juga Ochan dari Makasar, “Saya pesen, Mas! Harga segitu kejangkau!” Anggit yang berumur 19 tahun membaca “Balada Si Roy” pada tahun 2007. “BSR cocok untuk remaja di luar Jakarta! Membumi! Sampai kapan pun BSR ttap relevan dengan sikon remaja Indonesia pada umumnya!” bahkan Anggit pada Desember 2009 nekat datng ke Rumah dunia menemui Gol A Gong.</p>
<p>Bagi yang berminat langsung transfer ke BCA  Serang, norek 245 1790 121 atas nama Heri Hendrayana Harris. Jawa Rp. 115.000,- dan luar Jawa Rp. 125.000,-, sudah termasuk ongkos kirim. Confirm setelah transfer ke email <a href="mailto:balada.siroy@yahoo.com">balada.siroy@yahoo.com</a> . Tulis nama lengkap, alamat, no hp. Terima kasih atas supportnya. Tetap semangat membeli buku sambil menyumbang ke Rumah Dunia! (Jang RuDun)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/06/andakah-seribu-pemesan-buku-balada-si-roy-edisi-khusus-bundel-1-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
