MENGOPTIMALKAN POTENSI TAMAN BACAAN MASYARAKAT

Oleh Gol A Gong

Beberapa kali saya kedatangan tamu yang selalu minta diajari membuat proposal pembuatan taman bacaan masyarakat. Mereka adalah para mahasiswa. Mereka menduga, bahwa saya mendirikan taman bacaan masyarakat bernama Rumah Dunia dengan membuat proposal. Saya katakan kepada mereka, bahwa Rumah Dunia tidak dibangun dengan proposal, tapi dengan kata-kata. Juga Rumah Dunia tidak dibangun dalam waktu satu malam. Saya memberi resep yang tentu mudah mereka lakukan, yaitu membangun taman bacaan masyarakat dengan penuh rasa cinta, bukan dengan proposal.

DIRI SENDIRI

Saya mulai memimpikan membangun Rumah Dunia sejak sekolah di SMA (1980-an). Saya seolah gerilyawan; menyebarkan virus literasi dengan modal sendiri. Bersama beberapa sahabat, Toto ST Radik (penyair) dan (Alm) Rys Revolta, Si Uzi (Direktur BR TV), Andi Trisnahadi (percetakan Suhud Mediapromo-Serang), terus mengetuki pintu-pintu sekolah; ini literasi, ini literasi, siapa ingin maju! Ada yang menyambut, ada yang tidak peduli. Padahal tak ada sepeserpun kami minta ganti. Kami maklumi, karena di Banten masa itu lebih mementingkan otot ketimbang otak.

Kami juga mencoba mengetuki para pembuat keputusan untuk meminta dana pembinaan bagi pemuda, tapi nihil. Mengurusi pemuda tidak popular. Apalagi membuat perpustakaan. Kami dicap seniman tanpa tahu aturan, karena tidak bisa jualan proposal dengan produk serindang beringin dan dengan cara berdasi. Lalu, kami bermarkas di trotoar, di kamar, di alun-alun, hingga lapangan parkir gedung olahraga. Lelah juga. Staregi perangnya, mimpi harus ditunda.

Akhirnya saya membuat keputusan, idealisme harus diongkosi sendiri. Maka bekerjalah saya di Jakarta sejak 1989 hingga 2008; menjadi wartawan, menulis novel, dan menulis scenario TV di televisi. Kemudian pada tahun 2000 bersama istri tercinta – Tias Tatanka – meniatkan diri, bahwa membuat taman bacaan masyarakat adalah bagian dari ibadah, tidak sekedar menyisihkan kewajiban sebagai warga negara yang diamanatkan di UUD 45 atau zakat sebesar 2,5%. Ini semua karena rasa cinta kepada anak-anak, yang juga berhak mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan setinggi mungkin.

Itu sebabnya kami mengukir sebuah kalimat di prasasti garasi rumah: Rumahku Rumah Dunia, kubangun dengan kata-kata! Itu artinya, Rumah Dunia memang dibiayai dari honorarium novel-novel saya. Dari profesi saya sebagai penulis. Lantas, alhamdulillah, kami berhasil membeli tanah seluas 1000 M2 dari royalty novel Balada Si Roy, Al Bahri, dan Pada-Mu Aku Bersimpuh. Juga dari beberapa skenario film atau sinetron yang saya tulis.

Selain rasa cinta, begitulah idealisme harus diwujudkan: dengan uang. Dan itu harus diri sendiri yang memulai, bukan orang lain. Mengeluarkan uang dari dompet sendiri untuk membangun taman bacaan masyarakat, memang dibutuhkan keberanian. Bukan berarti ini keharusan. Tapi, ini memang pilihan hidup. Jangan pernah berpikir, bahwa membangun atau mendirikan taman bacaan masyarakat itu untuk kepentingan atau keuntungan pribadi. Apalagi untuk kepentingan politik sesaat. Jika itu tujuannya, insya Allah, TBM kita hanya akan hidup ketika block grant datang, lalu hilang  bulan mendatang.

PROMOSI

Kami santai saja menggerakkan Rumah Dunia. Kami hanya memikirkan program atau kegiatan Rumah Dunia, bukan sibuk mengikuti pelatihan pembuatan proposal yang baik untuk mendapatkan block grant. Kami tidak pernah takut, kalau mengeluarkan uang dari kocek sendiri akan membuat kami miskin. Saya menerapkan sebuah aturan kepada para relawan, yaitu jika tidak punya uang, maka mari bersedekah pikiran (ilmu dan relasi), tenaga, atau bahkan do’a saja itu lebih dari cukup.

Tapi saya tidak tinggal diam. Saya menyadari, tidak selamanya saya mampu membiayai Rumah Dunia. Saya mulai membangun jaringan ke 1001buku, Forum Indonesia Membaca, perusahaan-perusahaan, serta peresorangan. Setiap minggu saya rutin menulis “Jurnal Rumah Dunia” di Koran Radar Banten dan Banten Raya Pos, diposting di milis-milis. Jurnal itu tidak pernah terputus. Juga mencetak brosur, liflet, baner, baliho di Suhud Media promo dengan cara barter logo.

Hingga pada Desember 2004, Andre Birowo dan Noval Y. Ramsis menyatakan diri jadi relawan dengan membuatkan situs www.rumhdunia.net. Bertempat di senayan@library, Depdiknas Jakarta, www.rumhdunia.net pun diluncurkan. Maka, Rumah Dunia semakin leluasa mempublikasikan kegiatannya. Setiap prusahaan atau lembaga yang memndukung Rumah Dunia, logonya ditampilkan di www.rumahdunia.net.

KARAKTER TBM

Rumah Dunia memiliki kekhasan, yaitu kemampuan para pengelolanya di dunia sastra, jurnalistik, teater, menggambar dan film. Saya mengajar di Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD), yang bergulir pada Januari 2002. Setelah 2 tahun, pada 2004 mulai menampakkan hasilnya. Kami menulis sekitar 5 buku kumpulan cerpen dan 50% honor penulisnya disumbangkan ke Rumah Dunia. Para lulusan KMRD pun bekerja menjadi wartawan dan mulai daftar sebagai donatur tetap, mulai dari angka Rp. 50.000,-

Berkat situs www.rumahdunia.net, akhirnya banyak televisi swasta meliput Rumah Dunia. Lembaga atau yayasan seperti Yayasan Tunas Cendekia, Yayasan Nurani Dunia datang menyumbang buku dan computer. Orang per-orangpun berdatangan dan siap menjadi donatur tetap. Walaupun belum maksimal tapi sungguh sangat membantu. Terutama bagi saya dan sekeluaga menjadi lebih ringan membiayai kegiatan Rumah Dunia.

Karakter atau kompetensi menulis dijadikan sebagai potensi Rumah Dunia. Kami memproduksi kata-kata. Terbukti kami banyak melakukan kerjasama dengan penerbit; Gramedia, Gagas Media, Eles Media, Mizan, Zikrul Hakim, Senayan Abadi, KPG, Salamadani, Bentang, Tiga Serangkai, dan GIP. Beberapa relawan Rumah Dunia ada yang sudah menerbitkan novel. Bahkan Gagas Media dan Mizan jadi donatur rutin perbulan. Memang belum maksimal, tapi kami sudah merasakanm, bahwa kemampuan menulis kami ini bia dimanfaatkan untuk penggalangan dana operasional Rumah Dunia. Terjadi simbiosis-mutualisme di antara kami dan penerbit.

JEJARING

Semua pengelola TBM pasti merasakan, betapa sulit menghidupi TBM. Saya juga yakin, semua pengelola TBM pasti memlainya dari kocek sendiri. Kadang kita berharap, bahwa ada lampu Aladin nyasar ke TBM kita dan kita diberi kesempatan 3 permintaan. Tentu saya akan meminta; pertama block grant, kedua block grant, ketiga juga block grant!

Tapi, jika kita hanya berharap kepada Jin Aladin bernama block grant, saya tidak yakin TBM yang kita kelola akan berumur panjang. Menerima block grant sah-sah saja, itu sudah jadi hak kita. Tapi, coba bayangkan, jika semua pembiayaan TBM di Indonesia yang ditaksir berjumlah lebih dari 5000 TBM harus ditanggung oleh pemerintah! Saya tahu setiap tahun ada 3 jenis block grant yang disalurkan ke TBM-TBM, yaitu tipe A (Rp. 50 jt), tipe B (25 jt), dan TBM perintis (Rp. 15 jt).  Berapa bulankah dana itu sanggup menyambung nafas TBM?

Rumah Dunia juga pernah mendapatkan block grant dari Depdiknas 2 kali, tipe B (Rp. 25 jt) pada 2006 dan 2007. Itu jelas tidak cukup. Inginnya kami setiap tahun mendapatkan dana block grant, karena setiap bulan kami harus mengongkosi operasional sebesar antara Rp. 5 jt hingga Rp. 6 jt. Berarti setiap tahun sekitar Rp. 72 jt. Itu belum termasuk kegiatan besar berskala nasional seperti “Ode Kampung”, “Pesta Anak”, “Pesta Rumah Dunia”, dan “Keranda Merah Putih”, yang bisa menelan biaya puluhan juta. Tapi, juga tidak bijaksana jika tangan kita menadahkan terus ke Depdiknas atau Dindik, berharap block grant datang.

Lntas bagaimana caranya? Ini gampang-gampang susah atau susah-susah gampang.  Harus bersabar. Kami di Rumah Dunia terus saja berkegiatan (ikhtiar) smbil terus berdo’a, semoga ada orang “gila” seperti John Wood (mantan karyawan Microsoft) atau Sampoerna Foundation atau Eka Tjipta Foundations atau Djarum atau siapa saja yang banyak duitnya datagn ke Rumah Dunia dan menggelontorkan CSR (corporate Social Responsibility)-nya!

Tapi bermimpi terus juga tidak baik. Maka sebagai pengelola TBM haruslah putar otak. Kita harus mau dan rajin menulis jurnal TBM kita di internet, menyebar brosur, atau menghadiri pameran-pameran komunitas literasi (World Book Day versi Forum Indonesia Membaca). Dari situlah kita bisa membangun jaringan dan menjadi tahu, bahwa sebetulnya ada peluang mencari dana untuk menghidupi TBM. Ada banyak dana CSR di perusahaan-perusahaan, walaupun Rumah Dunia belum maksimal mendapatkannya. Rumah Dunia pernah mendapatkan dana CSR dari RCTI Peduli sebesar Rp. 14 jt (2004), XL Care berupa bajay library dan uang Rp. 10 jt (2007), Tupperware sejumlah Rp. 50 jt (2009), Bellsoap dan Marqueen untuk pembebasan tanah Rumah Dunia sebesar Rp. 100 jt (2009). Yang paling heboh ketika Rumah Dunia menggalang dana pembebasan tanah di jejaring social facebook; terkumpul Rp. 300 jt lebih. Tanah seluas 970 m2 dan 225m2 berhasil kami bebaskan berkat bantuan para facebooker!

Kami betul-betul membuka diri kepada siapa saja yang mau membantu Rumah Dunia; tidak peduli pandangan politik atau warna seragamnya. Bahkan mereka langsung kami tawari posisi penasehat. Kami sudah sebarkan pengumuman, bahwa Rumah Dunia adalah rumah bersama bagi yang ingin belajar berbagi rasa, cinta, dan ilmu. Hingga hari tercatat 25 penasehat Rumah Dunia. Tentu saja semakin banyak penasehat, semakin banyak relasi, banyak kesempatan, banyak donatur. Tercatat di antaranya DR. Zulkieflimansyah, SE, MSc (anggota DPR RI), Dodi Nandika (Sekjen Depdiknas). Ahmad Mukhlis Yusuf (Direktur Antara Nesw), dan Wien Muldian (Direktur Forum Indonesia Membaca),

MERCHANDISE

Selain jejaring (networking), kami juga mengoptimalkan kemampuan para relawan Rumah Dunia yang rata-rata di sastra, teater, dan film. Maka mulailah kami menyebar; ada yang menulis novel, mengadakan pelatihan menulis, bekerja di koran dan televisi local. Ketika gajian, mereka memberikan infaq-sodaqahnya sekitar Rp. 50.000,-/orang. Juga membuat merchandise Rumah Dunia; pin, stiker, gelas mug. Merchandise ini memang belum maksimal, tapi terus kami upayakan.

Membuka lini unit usaha juga kami lakukan, yaitu membuat penerbitan GONG Publishing.  Kami berharap, lini penerbitan ini bisa berhasil. Langkah pertama adalah menerbitkan ulang buku-buku karya saya; Balada Si Roy. Dengan system print on demand, diharapkan proyek pertama ini memperoleh keuntungan. Sekitar 25% dari lba akan disumbangkan ke Rumah Dunia.

Pada periode Firman Venayaksa sebagai Presiden Rumah Dunia, kami sangat lentur dan menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Rumash Dunia yang segalanya serba gratis, mulai berbenah. Program beasiswa harus tetap berjalan dan butuh dana, wisata gambar, dongeng, mengarang, study tour bgi anak-anak juga harus tetap bergulir. Itu semua butuh dana.

Kami berencana mulai Agustus 2010 memberlakukan system subsidi silang. Ini adalah bagian dari mengoptimalkan dana dari masyarakat dengan cara elegan atau win-win solutions. Mislnya, Kelas Menulis Rumah Dunia yang diasuh Gol A Gong mulai angkatan ke-16 (Agustus 2010) tidak lagi gratis, tapi infaq Rp. 50.000,-/orang/bulan. Peserta dibatasi antara 25 – 50 orang. Ini setahap menuju fase professional, tapi tetap berlandaskan social. Begitu juga dengan internet, yang selama ini gratis akan kami ubah jadi warnet Rumah Dunia. Dengan cara ini, selain dari para donatur yang belum maksimal, Rumah Dunia juga  - insya Allah – akan memiliki unit usaha yang bisa membantu menggulirkan kegiatan Rumah Dunia.

Tahun 2010 ini, tema besar kegiatan Rumah Dnia adalah “Change With Reading”. Kami membutuhkan dana sebesar Rp. 300 juta lebih! Agenda januari dan Februari berhasil kami lewati. Kas kami sekitar Rp. 20 jt lagi, sisa dari penggalangan dana pembebasan tanah Rumah Dunia tahap kedua di facebook.

Inilah pengalaman yang pernah saya alami dalam memaksimalkan potensi dana masyarakat. Selanjutnya, kita saling berbagi pengalaman saja, karena saya yakin di antara para pembaca ada yang lebih profesional dibandingkan saya dalam menggali potensi dana masyarakat untuk kemajuan Taman Bacaan Masyarakat! Hidup literasi! (*)

*) Penulis adalah pendiri Rumah Dunia, novelis, wartawan, dan Pemipin Umum www.rumahdunia.com dan www.rumahdunia.net , terpilih sebagai Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat di Munas  Temu Konsolidasi Forum TBM, dengan tema “Kiat Menggerakkan Dana Masyarakat Untuk Peningkatan Budaya Baca Tulis”,  LPP Hotel, Demangan, Yogyakarta, 22 – 24 Feb 2010

DARI CIPANAS MENUJU LEBAK MEMBACA

Relevansi menjadikan Rangkasbitung sebagai Kota pelajar, sejumlah warga Cipanas menggagas tempat belajar warga dalam mengembangkan sumber daya manusia. Melalui gerakan membaca, dari sebuah kampung bernama Cipanas akan di buka Rumah Kosala, Komunitas Sastra Lebak.

Dibentuk atas pertemuan dikediaman H Agus Sutisna bersama Heri Hendrayana alias Gol A Gong dan Saroh Jarmin, gagasan Lebak membaca dapat dimulai dari Kecamatan Cipanas, Selasa (9/2) malam. Menurut pencetus ide kreatif Gol A Gong, filosofi air panas yang meluber ke daratan tanah Lebak dapat berawal dari pemandian Cipanas, dan semangat gerakan membaca juga diawali dari orang-orang Cipanas, baru kemudian menuju gerakan Lebak Membaca.

“Orang-orang Cipanas akan seperti air panas yang meluber ke jalan-jalan Lebak di Banten selatan. Mereka siap mengalirkan kehangatan bagi warganya,” ucap pendiri Rumah Dunia, Gol A Gong, yang langsung diiyakan penasehat KOSALA lainnya, Agus Sutisna, di jalan Rangkasbitung-Bogor KM 36, Kampung Lurah Desa Sipayung, Cipanas.

Menurut ketua komunitas Saroh Jarmin, SPd, Kosala adalah bagian dari angan-angan warga Cipanas, karenanya bersama rekan-rekan Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas (IKMC), Kosala akan berusaha mewujudkan kota pelajar melalui budaya literasi.

“Konsep belajar, adalah membaca dan berhitung. Dengan berdirinya KOSALA, Dari Cipanas Menuju Lebak Membaca ini akan menjadi tempat seperti surga bagi mereka yang ingin berekspresi di dunia literasi,” ucap Saroh yang baru terpilih sebagai ketua Kosala dan sudah menentukan komposisi Kosala hasil urung rembuk dengan yang lainnya.

Dengan ketua Saroh Jarmin, sekretaris Ahmad Arif, bendahara Pipit Fiharsih, dan voluntir Sholeh, Yayan, Akhelbri, Toni, Ade Is, Iyoh, Neneng, dan Harir Balda, Kosala siap menggelar program awal yakni kelas Menulis per Maret-Agustus, dengan kelas sore setiap hari Selasa, dan kelas pagi di Rabu dan Kamis. Pengajarnya Gol A Gong.

Kegiatan lainnya, lanjut Saroh adalah kegiatan yang membawa pesan bahwa dengan membaca kita bisa mengubah dunia, yaitu Pojok Leuit, sebuah ruang untuk menyimpan sumber makanan bergizi bagi para agent of change, yakni buku-buku. “bukunya untuk permulaan disupport Rumah Dunia,” kata Saroh. Sanggar Dongeng diberikan bagi anak-anak Cipanas setiap Minggu, dan diskusi yang rutin digelar bulanan dengan tema yang disesuaikan dengan kekinian, dan hangat diperbincangkan menghadirkan tokoh-tokoh dari Cipanas, Banten, dan Indonesia.

Untuk mengenalkan Kosala Library, IKMC yang menaunginya akan membuat gebtrakan dengan merancang CIPANAS IQRA pada Sabtu, 27 February 2010. “Selain launching ‘Kosala’, kegiatan utamanya adalah wakaf buku,” Ahmad Arif, Ketua IKMC menjelaskan. Seperti biasa akan dimeriah degnan pertunjukan seni marawis dari La Tansa dan Nurul Madaany, pembacaan puisi, orasi budaya H. Agus Sutisna, dan musik KPJ, (*)

*) Tulisan ini oleh Ali Sobri – Dimuat di koran Radar Banten, Kamis 11 Februari 2010

ANDAKAH SERIBU PEMESAN BUKU BALADA SI ROY EDISI KHUSUS BUNDEL 1 BUKU?

‘Lelaki harus pergi, tetapi juga harus pulang, karena ada yang mengasihi dan dikasihi.” (Roy, 17 tahun, Balada Si Roy)

***

Begitulah remaja Roy pernah merasuki pembaca negeri ini di era 80-an. Pernyataan atau pendapatnya tentang bagaimana seharusnya mnejadi lelaki; jujur, berani, mencintai lingkungaan, sayang kepada ibu, menghargai perempuan, ternyata menjadi ideology berseberangan dengan remaja mapan pada umumnya di Jakarta. Roy menjadi representasi remaja Indonesia kebanyakan pada masa itu. Farhan, presenter “Tatap Muka” di TV One menyatakan, “Roy itu antitesa dari ‘Catatan Si Boy’. Roy melabrak kemapanan yang diwakili tokoh Boy!” lanjutkan membaca »

SEGERA “TEMBANG KAMPUNG HALAMAN” KARYA GOL A GONG

Nantikan di bulan Februari 2010, cerita bersambung “Tembang Kampung Halaman”  karya Gol A Gong – dulu Gola Gong. Cerita ini pernah dimuat di majalah HAI  tahun 1990-an dan diterbitkan jadi buku mungil oleh Gramedia. Menceritakan anak-anak kampung dari kampung yang agraris di wilayah pesisir utara, lalu mengalami perubahan sosial.  Mimpi-mimpi dilontarkan setinggi bintang dan ada yang berhasil menjangkau, tapi ada yang terhempas.

Kata Gong, ‘Ini tentang sisi kelabu manusia! Tunggu saja!” Sekarang Gol A Gong sedang menulis novel anak-anak dibantu Tias Tatanka, istrinya. “Bahkan dalam penulisanya, saya dibantu para relawan Rumah Dunia!” terang Gong. “Makl;um, tangan saya sering kesemutan, mesti dibantuin!”

*) Foto: Gol A Gong (dulu penulisanya Gola Gong) berfoto bersama saat launching buku ‘The Journey” di stand Salamadi

DARI “GOLA GONG” KE “GOL A GONG”

Gol A GongRUMAH DUNIA – Diumumkan kepada segenap khalayak. Kepada para pembaca buku-buku Gola Gong, juga kepada para penerbit, terhitung ketika press release ini disebarkan, penulis serial “Balada Si Roy” akan mengembalikan nama asli penanya, yaitu “GOL A GONG”. Huruf “A” yang selama ini digabung ke “Gola”, kini dipisah jadi “Gol A”.

Selama ini pendiri Rumah Dunia di Serang, Banten selalu memakai nama pena “Gola Gong” dimana huruf “a’ disatukan ke “Gol’ jadi “Gola”. Sekarang dipisah, huruf “a’ berdiri sendiri dan ajeg ditulis kapital “A”. Pada 2010, akan terbit novel seri anak-anak “Aku Ingin Sekolah” (Penerbit Zikrul Hakim) bersama Tias Tatanka.  Nama pena “Gol A Gong” sudah resmi dipakai.

Ini juga atas saran Teguh Esha, pengarang idolanya yang menulis “Ali Topan Anak Jalanan’. Kata Teguh, “Kamu harus kembali ke nama awal. Nama itu pemberian emakmu. Nama penamu itu amanah dari emakmu!”

Bahkan, Sunardian Wirodono, penulis “Anonim My Hero” meledek lucu, “Huruf  ‘A’ itu plat nomor mobil Banten! ‘A’! Jadi, ‘Gol A Gong’ lebih bagus. Mencirikan dari Banten”.

Selama ini tidak banyak yang tahu makna “Gol A Gong”. Padahal filosofis.  Gol berarti masuk, A itu artinya Allah, dan Gong sejenis alat musik. Itu dimaksudkan agar tulisan-tulisan Gola Gong, eh, Gol A Gong masuk dan menggema ke hati pembaca. Itu semua tentu karena peran serta Allah SWT. Emaknya berpesan, “Kesuksesan yang kelak akan kamu raih, itu semua karena Allah!” (Jang RuDun)

advert

Tags Kata

Gonjlengan

MENGOPTIMALKAN POTENSI TAMAN BACAAN MASYARAKAT

Oleh Gol A Gong
Beberapa kali saya kedatangan tamu yang selalu minta diajari membuat proposal pembuatan taman bacaan masyarakat. Mereka adalah para mahasiswa. Mereka menduga, bahwa saya mendirikan taman bacaan masyarakat bernama Rumah Dunia dengan membuat proposal. Saya katakan kepada mereka, bahwa Rumah Dunia tidak dibangun dengan proposal, tapi dengan kata-kata. Juga Rumah Dunia tidak dibangun [...]

Full Story | February 21st, 2010

Banten Kuliner

MAKANAN TRADISIONAL SERABI GURIH DAN ALAMI

SERABI GURIH DAN ALAMI

Oleh: Rama
Di pinggir jalan Bayangkara Sumampir Cilegon, atau tepatnya di depan Lapangan Bola Sumampir,

Full Story | February 8th, 2010

advert

Wisata Banten

PEMANDIAN CIPANAS SEHAT DAN SEGAR

LEBAK – Selain mimpi jadi kota pelajar, Lebak yang belum lama berusia 181 tahun ini juga rupanya menyimpan banyak keindahan alam. Saya belum lama ini sempat coba-coba menelisik, mengunjungi dan menikmati bahkan tadinya ingin menjamah semua tempat-tempat wisata yang ada di Kabupaten Lebak, baru sebagian saja sih, mengingat beberapa tujuan wisata masih cukup jauh dan [...]

Full Story | December 27th, 2009

advert

Cerpen

BABI NGEPET BUKU

Cerpen Langlang Randhawa*
Alkisah, Banten punya taman budaya yang megah. Gedung berlantai lima yang berdiri di atas tanah bekas gedung kegubernuran Banten itu ramai dengan diskusi mengalahkan hiruk-pikuk mall-mall. Selain berada di jantung kota dan mewah, fasilitasnya pun mengalahkan Gedung Putih Amerika; kenyamanan, keamanan, pelayanan, dan kebersihan sangatlah terjaga dan tertata. [...]

Full Story | March 9th, 2010

Novel

SEGERA “TEMBANG KAMPUNG HALAMAN” KARYA GOL A GONG

Nantikan di bulan Februari 2010, cerita bersambung “Tembang Kampung Halaman”  karya Gol A Gong – dulu Gola Gong. Cerita ini pernah dimuat di majalah HAI  tahun 1990-an dan diterbitkan jadi buku mungil oleh Gramedia. Menceritakan anak-anak kampung dari kampung yang agraris di wilayah pesisir utara, lalu mengalami perubahan sosial.  Mimpi-mimpi dilontarkan setinggi bintang dan ada [...]

Full Story | January 21st, 2010

Puisi

PUISI-PUISI DEA ANUGRAH

KEPADA PISAU

airmatamu mengalir
sampai jauh
pelan pelan menghampir kesunyianku.
***

BLUES BUAT PEREMPUAN R
di kotaku. di kotaku yang jauh ini
selalu kutemukan kilau senyummu
pada lampu lampu jalan, pada bau malam yang khas
juga pada dingin angin pelabuhan.
padahal hidup
hanya menunda kekalahan
seperti payung
yang perlahan lahan sobek
dikoyak moyak angin kencang jelek.
di kotaku.
di kotaku yang jauh ini
aku selalu mengingat senyummu
meski hidup hanya serupa
payung [...]

Full Story | March 9th, 2010