<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; CPNS</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/tag/cpns/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 13:56:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>CUCU MIMPI JADI PNS</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/29/cucu-mimpi-jadi-pns/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/29/cucu-mimpi-jadi-pns/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 04:16:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmad Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[CPNS]]></category>
		<category><![CDATA[soal]]></category>
		<category><![CDATA[Test]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2447</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ahmad Wayang Cucu menggoreskan lipstick berwarna merah pada bibirnya yang tipis dengan sangat hati-hati sekali. Pipinya yang mulus makin mengkilap licin setelah bedak bermerek “Gadis” menyapu pipi indahnya. Tak seperti biasanya, pagi-pagi sekali Cucu sudah begitu siap dan rapih. Padahal, jika hari-hari biasa Cucu masih malas-malasan tidur di kasur kecilnya. Tapi, pagi ini lain. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left"><img class="alignleft size-full wp-image-2446" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/CPNS-Tes-Tertulis.jpg" alt="CPNS Tes Tertulis" width="500" height="289" />Oleh Ahmad Wayang</p>
<p>Cucu menggoreskan lipstick berwarna merah pada bibirnya yang tipis dengan sangat hati-hati sekali. Pipinya yang mulus makin mengkilap licin setelah bedak bermerek “Gadis” menyapu pipi indahnya.<span id="more-2447"></span></p>
<p>Tak seperti biasanya, pagi-pagi sekali Cucu sudah begitu siap dan rapih. Padahal, jika hari-hari biasa Cucu masih malas-malasan tidur di kasur kecilnya. Tapi, pagi ini lain. Cucu sudah berdandan. Baju kemeja putih yang sudah dikenakan Cucu begitu selaras dengan celana panjang hitamnya, yang mencekik lekuk pingulnya. Sepatu slop hitam murahan sudah membungkus kedua telapak kakinya. Dua tiga kali Cucu menyemprotkan parfum merek dalam negeri pada tubuhnya. Sementara tas hitam kesukaanya sudah dari tadi bertengger di ujung kasur yang masih berantakan.</p>
<p>Cucu gelisah saat <em>handphone</em>nya berbunyi. SMS itu ternyata dari Septi. Dandanannya terpaksa dipercepat. Cucu melangkah dengan sedikit terburu-buru. Cucu segera menyambar tas hitamnya sambil keluar dari kamar. Cucu menyampirkan tas ke bahu kirinya. Sementara map berwarana cokelat digepit di tangan kanannya. Di dalam hatinya Cucu berdoa, “Pokoknya saya harus lulus dan jadi PNS.”</p>
<p>Cucu sibuk membalas SMS Septi, agar bisa bersabar menunggu. Sementara tangan kirinya sibuk mengunci pintu kamarnya yang berada di tengah-tengah kamar yang lain, kamar petak yang berbaris dengan rapih dan berbentuk sama.</p>
<p>KLIIK!</p>
<p>Gembok berukuran sedang sudah mengunci pintu kamarnya.</p>
<p>Tanpa disadari Cucu, Pak Duto merayap dari belakang mendekatinya, lalu bersembunyi di balik pohon seri yang cukup tinggi. Tangan Duto jadi memanjang, lalu sedikit mencubit pinggul Cucu yang montok.</p>
<p>“Aaaawww&#8230;.,” Cucu menjerit kaget, tapi manja. “Ih, usil aja,” cemberut Cucu tak dihiraukan oleh Duto.</p>
<p>“Mau kemana kau?  Tumben pagi-pagi begini sudah rapi?” kata Duto yang lebih pantas jadi kakek Cucu.</p>
<p>“Mau tahu aja!” cucu cuek. Makin sibuk saat Septi menelponya. Cucu mengangkat telepon dengan terburu-buru sambil memasang muka bersalah. “Iya Pi, udah mau berangkat <em>nih</em>,” kata cucu tak enak jadinya.</p>
<p>“Buruan ya,” terdengar suara dari seberang. <em>Handphone</em> dimatikan. Cucu melangkah cepat-cepat.</p>
<p>“Kok, bawa-bawa map lamaran segala, kaya mau kerja, aja?” tanya Duto, bapak enam orang anak  ini terus nyerocos.</p>
<p>Cucu tak menanggangapi sapaan yang sudah jelas untuknya itu. Cucu pergi, tak memperdulikan Duto.</p>
<p>Sementara mata Duto tambah melebar melihat gaya berjalan Cucu yang mirip bebek air rawa, dari belakang. Duto menggeleng-gelengkan  kepalanya.</p>
<p>Cucu hilang di tikungan.</p>
<p>Tapi, saat Ramin, penghuni kosan nomor 7 yang paling unjung, melewati Duto, langsung ditegurnya. “Ah Min, kau juga mau kemana?” sergah Duto mencegat Ramin, yang juga hendak mengadu nasib lewat jalan jadi CPNS.</p>
<p>“Aku juga mau jadi CPNS lah. Sama seperti si ayu Cucu itu,” jawab Ramin seadanya juga dengan terburu-buru. “Sory nih Pak To, Aku harus cepat pergi, takut macet,” katanya memberi alasan.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Cucu duduk berbaris bersama ribuan orang dari berbagai pelosok daerah bahkan desa dari segala penjuru arah. Cucu masih tak habis pikir, ternyata banyak benar orang yang ingin jadi CPNS. Itu penomena yang menurutnya sangat luar biasa. Cucu lalu ingat ketika SMA dulu, pernah mengalami hal yang kurang lebih sama. Namun ketakutan yang dirasanya dulu tak sama seperti sekarang. Pasalnya Cucu sudah mendapatkan bocoran jawaban yang didapatnya dari seseorang yang bisa dipercaya. Tentu saja untuk mendapatkan jawaban bocoran itu, Cucu harus ikhlas menggadaikan tubuhnya sebagai pengganti uang pelicin. Tapi tak apa, karena sebentar lagi Cucu akan mendapatkan pekerjaan tetap, yang enak dan santai.</p>
<p>Dalam hatinya, Cucu megucapakan selamat tinggal dengan statusnya sebagai Sarjana pengangguran yang tak jelas. Selama bertahun-tahun lamanya jadi pengangguran, Cucu yakin dengan jadi CPNS dirinya bisa menjadi orang yang kaya raya, tanpa harus lagi menjual tubuhnya yang seksi.</p>
<p>Di lapangan, tak ada yang merasa gampang mengisi soal-soal tes untuk bisa jadi CPNS. Semua gelisah, walau ada beberapa peserta CPNS yang terlihat santai seperti Cucu. Bahkan Cucu merasa ‘ulangan’ itu berjalan begitu mudah dan lancar. Sampai-sampai dengan rasa percaya diri yang tinggi, Cucu mampu mengisi lembar jawaban dengan santai dan enteng.</p>
<p>Tak pernah Cucu melirik mencari contekan. Dengan hati-hati dan sedikit mengeluarkan jurus dan trik yang ia dapatkan sewaktu SMA dulu dimainkanya. Cucu berhasil memindahkan kunci soal jawaban tes dengan mulus. Tanpa diketahui pengawas. Cucu tak tanggung-tanggung, langsung mengisinya. Dengan gerakan tangan yang cepat, Cucu terus menyalin. Cucu mengisinya secepat kilat. Cucu menghapal jawabanya. Semua soal dijawabnya. Cucu menghembuskan nafas lega. Nafas kemenangan.</p>
<p align="center">***</p>
<p>“Gimana? Beres?” tanya Cucu pada Septi, di kantin luar.</p>
<p>Septi memasang wajah tegang. Mimiknya serius. “Jawaban kamu diisi semua? Dengan jawaban yang itu?” Septi menjelaskan pelan, sambil mengernyitkan dahinya.</p>
<p>“Emang kenapa?” tanya Cucu penasaran.</p>
<p>Septi menarik lengan Cucu ke belakang kantin yang sepi. Septi membisikan ke telinga Cucu dengan hati-hati. “Kita sudah ditipu. Jawaban yang kita anggap benar itu ternyata salah semua. Mampus! Kita bakalan <em>nggak</em> lulus,” bisik Septi makin gelisah.</p>
<p>“Terus?” tanya Cucu, <em>shock</em>.</p>
<p>“Ya, kita bakalan <em>nggak</em> lulus,” Septi mengulang dengan mantapnya.</p>
<p>Cucu tak tahu sudah berapa lama ia begong karena <em>shock</em>. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir tipis itu, hingga sampai di tempat kosannya, Cucu terlihat seperti orang yang linglung dalam kamrnya. Cucu masih betah melamun. Ia masih tak percaya dengan kenyataan pahit ini, padahal Cucu sudah membeli pertanyaan itu degan menggadaikan tubuhnya. Cucu terkenang dengan laki-laki brengsek itu. Cucu merasa ditipu. Pemberian servis gratis itu, dirasanya mubazhir.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Tiba-tiba pintu kamar Cucu ada yang mengetuk dengan pelan. Mata Cucu melirik pada jam dinding. Sudah jam 3 malam. Pasti si tua bangka! Batin Cucu masih dongkol, lalu menyeret langkahnya membuka pintu kamar.</p>
<p>“Lagi males nih. Lain kali aja,” kata Cucu dengan mimik masih dongkol.</p>
<p>Si tamu langsung masuk saja, tanpa disuruh. “tolong, malam ini saja,” rayu Duto.</p>
<p>“Males ah,” Cucu mendorong Duto keluar.</p>
<p>“Eh, tunggu dulu. Lihat nih,” Duto dengan bangga mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan.</p>
<p>Seketika wajah cantik Cucu berubah makin bersinar terang. Cucu menghitung uang itu. “Cuma lima ratus ribu? Tambah, dong?” pinta Cucu manja. Sejenak Cucu berpikir. “Ya udah, <em>nggak</em> apa-apa. Ayo,” kata Cucu kemudian, yang langsung menarik lengan Duto masuk ke dalam kamar.</p>
<p align="center">***</p>
<p>“Kamu ingin jadi PNS kan? Temui pak Gogon malam ini juga. Seratus persen kamu bakal dijamin lulus. Tanpa bayar. Soalnya dia sudah tahu seluk-beluk di pemerintahan. Dia orang dalam,” isi SMS Septi berbunyi aneh.</p>
<p>“Maksudnya?” Cucu masih tak mengerti.</p>
<p>“Pak Gogon itu, bisa bantu kamu buat dapetin kursi kerja di pemerintahan. Persyaratnya cuma satu. Bukan uang. Tapi, cukup berat syaratnya,” Septi menggantungkan kalimat pesannya.</p>
<p>Setelah mendapat penjelasan dari Septi lewat telephon, Cucu ahirnya mengerti. Ini taktik orang-orang gede, orang-orang dalam. Cucu sudah membulatkan niatnya. Itu pekerjaan mudah baginya. Walau syaratnya harus sampai tiga hari tiga malam, Cucu akan meladeni. Asalkan ia bisa jadi PNS.</p>
<p>Ia tak peduli dengan dosa atau cap ‘jalang’ jika seandainya perbuatanya diketahui orang.</p>
<p>Pokoknya Cucu ingin menjadi PNS.</p>
<p>Cucu akan memenuhi syarat itu. Jika memang itu adalah jalan satu-satunya menuju pintu masuk menjadi PNS, Cucu akan lakukan. Lagi pula syaratnya bukan sejumblah uang, melainkan hanya menemani makan malam sambil menggadaikan tubuhnya semalaman di hotel.</p>
<p>Cucu bersemangat lagi.</p>
<p>Matanya mulai menyala kemenagan.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Cucu seperti baru saja terbangun dari tidurnya beberapa menit yang lalu. Tapi ia kemudian segera sadar jika sudah lama berada dalam tempat yang berbeda. Sambil tiduran Cucu memandangi langit-langit hotel yang bersih, putih dan rapih. Di salah satu hotel berbintang, di kota ini. Lampu-lampu  yang terang dengan kasur yang empuk, beralaskan selimut tebal yang kini sedang digunakanya. Wangi parfum bunga membuat Cucu serasa berada di surga. Atau barangkali Cucu baru saja pergi ke taman surga bersama seorang lelaki setengah baya, yang baru dikenalnya.</p>
<p>“Pak Gogon, nanti saya jadi PNS kan?” tanya Cucu manja, sambil mengusap kumis Gogon yang tertata rapih.</p>
<p>Gogon mengeliat lincah. Bagai elang, geraknya cepat menerkam mangsanya. Birahi tak bisa lagi dibendungnya. Gogon kembali berlaku manja pada Cucu. “Urusan PNS itu ganpang bagi saya,” laki-laki itu membisikan pada Cucu.</p>
<p>Cucu makin tak sabar ingin jadi PNS. Di otaknya hanya ada kata PNS, yang harus didapatnya dalam waktu semalam. Cucu makin gerah dan tak sabar ingin segera jadi PNS. (*)</p>
<p><strong>Biodata singkat:</strong></p>
<p>Ahmad Wayang adalah relawan dan wartawan rumahdunia.com. Tulisan-tulisanya pernah dimuat di koran lokal Fajar Banten dan Radar Banten.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/29/cucu-mimpi-jadi-pns/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TITIK TERANG LULUSAN SYARIAH IAIN BANTEN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/10/titik-terang-lulusan-syariah-iain-banten/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/10/titik-terang-lulusan-syariah-iain-banten/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 13:48:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[CPNS]]></category>
		<category><![CDATA[Diskriminasi lulusan]]></category>
		<category><![CDATA[IAIN "Sultan Maulana Hasanuddin" Banten]]></category>
		<category><![CDATA[SHI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1999</guid>
		<description><![CDATA[SERANG – Tanda tanya serta prasangka buruk apakah ada diskriminasi terhadap lulusan Fakultas Syariah IAIN “Sultan Maulana Hassnuddin” Banten yang bergelar S.H.I. (Sarjana Hukum Islam) pada saat penerimaan pegawai negeri sipil beberapa waktu lalu terjawab sudah. Beberapa pejabat terkait dikumpulkan dalam dialog publik yang diadakan oleh Forum Mashasiswa Syariah se-Indonesia (Formasi) di aula kampus IAIN [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-2019" title="Iain Banten" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/Iain-Banten-300x169.jpg" alt="Iain Banten" width="300" height="169" /> SERANG – Tanda tanya serta prasangka buruk apakah ada diskriminasi terhadap lulusan Fakultas Syariah IAIN “Sultan Maulana Hassnuddin” Banten yang bergelar S.H.I. (Sarjana Hukum Islam) pada saat penerimaan pegawai negeri sipil beberapa waktu lalu terjawab sudah. Beberapa pejabat terkait dikumpulkan dalam dialog publik yang diadakan oleh Forum Mashasiswa Syariah se-Indonesia (Formasi) di aula kampus IAIN Banten hari ini (10/12) untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.</p>
<p>Hasil yang didapatkan adalah ada miskomunikasi antara pihak yang menetapkan formasi Calon Pegawai Sipil (CPNS) dan IAIN Banten. Selain itu, kurang adanya sosialisasi kepada publik tentang lulusan-lulusan IAIN sehingga tidak banyak diketahui orang.</p>
<p>Acit Syamsuri dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Banten yang mengajukan formasi CPNS kepada Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (menpan) mengaku penetapan formasi CPNS sebetulnya sudah berdasarkan prosedur dan peraturan yang berlaku. Dari 750 CPNS yang diajukan untuk kebutuhan pegawai tahun 2009 hanya 316 yang disetujui oleh Menpan. Namun ia mengakui tidak tahu jika kedudukan antara S.H.I. dan S.H. (sarjana hukum) adalah sama seperti diatur dalam undang-undang advokat no. 8 tahun 2003. “Kami tidak mendapat informasi adanya undang-undang nomor 18 bahwa S.H.I. dan S.H. adalah setara,” ujar Acit.</p>
<p>Ia baru tahu setelah ada surat dari rektor IAIN Banten yang dilayangkan kepada BKD yang menerangkan mengenai keberadaan lulusan S.H.I. ini. Meski demikian, ia menjelaskan bahwa sebetulnya banyak juga lulusan lain yang tidak memiliki formasi dalam penerimaan CPNS beberapa waktu lalu seperti dokter gigi, perawat (dengan pendidikan S1), dan sarjana teknik.</p>
<p>Acit lalu memberikan harapan kepada mahasiswa lulusan Syariah tahun depan dalam formasi CPNS. Ia berharap dengan adanya forum diskusi yang diadakan mahsiswa ini titik terang sarjana hukum islam akan nampak. Namun ia mengingatkan, “Gelar S.H.I. harus dapat dipertanggungjawabkan oleh sudara dengan kualitas dan profesionalitas,” katanya.</p>
<p>Lalu terdengar beberapa mahasiswa yang hadir diskusi menyerukan, “Siap.” sambil berteriak dan mengangkat tangan.</p>
<p>Pembantu rektor tiga bidang kemahasiswaan yang mewakili rektor IAIN Banten mengakui kurangnya publikasi dan sosialisasi lulusan IAIN itu kepada publik dan pejabat. “Kita belum mampu menunjukkan kepada birokrat bahwa kita mampu,” ujarnya.</p>
<p>Ketua Jurusan Jinayah Siyasah (hukum politik) IAIN Banten Nurdin mengatakan bahwa mahasiswa hukum di IAIN sebetulnya lebih unggul dari sarjana hukum umum. Alasannya, karena di IAIN mahasiswa tidak hanya diajarkan hukum perdata dan pidana tapi juga diajarkan hukum islam. Selain itu, ada keunggulan lain. “Setiap tahun mahasiswa IAIN selalu mengadakan praktikum profesi di lembaga bantuan hukum atau di pengadilan sedangkan mahasiwa Untirta, misalnya, tidak melakukan itu,” tandasnya.</p>
<p>Nurdin sangat menyayangkan kejadian tidak diakuinya S.H.I. ini terjadi kembali padahal tahun lalu kejadian yang sama juga terjadi. Nurdin berharap pihak IAIN dilibatkan dalam penetapan CPNS di tahun-tahun mendatang. Paling tidak agar ada yang mengingatkan bahwa ada lulusan IAIN juga mesti diperhatikan sebagai warga negara yang memiliki kedudukan yang sama dalam kesempatan, salah satunya berkompetisi dalam perekrutan CPNS. (Gading Tirta)</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/10/titik-terang-lulusan-syariah-iain-banten/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENYAIR NEGERI SIPIL DI BANTEN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/22/ketika-penyair-muda-banten-ingin-jadi-pegawai-negri-sipil/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/22/ketika-penyair-muda-banten-ingin-jadi-pegawai-negri-sipil/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 01:27:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampong]]></category>
		<category><![CDATA[CPNS]]></category>
		<category><![CDATA[Penyair]]></category>
		<category><![CDATA[PNS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1546</guid>
		<description><![CDATA[PENYAIR NEGERI SIPIL Oleh Rahmat Heldy HS Menjadi Penyair nampaknya masih belum jadi pilihan hidup. Profesi yang satu ini amat tidak disukai oleh banyak kalangan. Selain memang penyair tak memiliki penghasilan tetap, juga kehidupan penyair masih memprihatinkan. Maka kalau hidup hanya sekedar menghasilkan puisi dengan  honor tak seberapa dari koran dan majalah, pekerjaan menjadi seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1547" title="PNS penyair" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/PNS-penyair.jpg" alt="PNS penyair" width="500" height="292" />PENYAIR NEGERI SIPIL</p>
<p>Oleh Rahmat Heldy HS</p>
<p>Menjadi Penyair nampaknya masih belum jadi pilihan hidup. Profesi yang satu ini amat tidak disukai oleh banyak kalangan. Selain memang penyair tak memiliki penghasilan tetap, juga kehidupan penyair masih memprihatinkan. <span id="more-1546"></span>Maka kalau hidup hanya sekedar menghasilkan puisi dengan  honor tak seberapa dari koran dan majalah, pekerjaan menjadi seorang penyair atau pemahat kata-kata nampaknya hanya menjadi pekerjaan sampingan.</p>
<p>HONORER</p>
<p>Idealnya memang demikian, karena Banten belum bisa dilirik sebagai sebuah provinsi yang mampu menghidupi dunia kesenian dan kebudayaan, terlebih lagi para penyair. Asumsi ini cukup beralasan kuat, jangankan memperhitungkan kehidupan para penyair, seniman dan budayawan, sekedar untuk tempat berkesenian saja, nampaknya masih harus pinjam sana-pinjam sini alias nomaden. Ironis bukan?</p>
<p>Tidak adanya tempat untuk kegiatan kesenian dan kebudayaan, apalagi pembacaan puisi untuk penyair, menunjukkan bahwa Banten merupakan provinsi yang kurang memperhatikan nilai-nilai kesenian dan kebudayaan, serta artefak kata-kata. Padahal, sebagus dan semahal apapun gedung-gedung di Banten  dibangun, tetap saja akan ditinggalkan pemilik dan penghuninya, serta lapuk dimakan usia. Tetapi artefak kesenian, kebudayaan dan kata-kata sang penyair tak lekang dimakan jaman.</p>
<p>Dari keadaan yang kurang menguntungkan bagi kehidupan para penyair di Banten ini, untunglah para penyair muda Banten juga memiliki pekerjaan yang sedikit mampu memberikan kelonggaran dalam memberikan penghidupan  mereka. Sambil memperdalam karya-karya, mengkaji ulang, menyelami lebih intens tentang persoalan-persoalan sosial yang terjadi di Banten, mereka juga turut ambil bagian mencerdaskan siswa dan siswi Banten yang ada di sekolah dengan menjadi guru honorer.  Ada juga beberapa orang  yang nyambi jadi editor di dunia penerbitan.</p>
<p>CPNS</p>
<p>Sebuah keinginan dan harapan yang juga tidak bisa disalahkan, ketika sejumlah para penyair muda Banten turut pula menceburkan diri dalam perekrutkan Calon Pegawai Negri Sipil (CPNS) yang diadakan serentak di seluruh propinsi Banten pada hari Minggu (15/11). Memang harus kita akui, sejumlah penyair muda Banten umumnya mereka guru honorer di SMP/SMA, yang ingin mendapatkan perhatian pemerintah.</p>
<p>Nugraha Umur Kayu misalnya, penyair yang yang ikut meramaikan bursa calon Pegawai Negri Sipil di SMPN 12 Kota Serang menjelaskan “Menjadi pegawai negri itu agar nyaman saja di hari tua, bisa dibilang kentut saja dibayar ketika pensiun,” katanya sambil tertawa. Lebih lanjut Nunu berbicara, “Tidak perduli isu dengan persoalan sogok-menyogok yang berkembang dimasyarakat, yang mencapai 40-80 juta, yang penting maju terus! Ikut test, tanpa nyogok! Keterima bersyukur, tidak ya coba test lagi nanti!” tegasnya.</p>
<p>Di tempat terpisah Wahyu Arya Wiyata, penyair dan guru honorer di sebuah SMK di Kabupaten Serang mengomentari, “Saya ingin mengubah citra penyair. Untuk mendapat modal cultural perlu juga ditunjang dengan modal ekonomi. Menulis dalam ruang ber-AC tentu lebih nikmat di banding dengan menulis di tempat rental computer yang pengap, ya <em>toh</em>…?” Wahyu mnepis anggapan, bahwa penyair itu harus menderita, agar karya-karyanya bagus.  “Siapa bilang jika mapan penyair mandeg? Ya tidaklah! Justru semakin mapan, kita itu semakin semangat berkarya, karena didukung oleh fasilitas.”</p>
<p>Lain pernyataan Nunu dan Wahyu, lain pula pernyataan Umbu Kramat Watu, yang ikut test CPNS karena memiliki komitmen 3 M. Umbu memaparkan, “Maksudnya kalau diterima jadi PNS pertama menabung, kedua menikah dan ketiga menulis!”</p>
<p>Harus kita akui, kenyamanan di hari tua, semua orang pasti menginginkannya. Hidup digaji dengan tidak bekerja setelah selesai masa kerja, adalah harapan banyak orang, asalkan dengan tidak menghalalkan segala cara. <em>Toh, </em>pada kenyataannya banyak juga mereka yang jadi penyair, tetapi mereka juga menjadi Pegawai Negri Sipil. Mereka bekerja di kantor dinas, bahkan juga mereka bekerja jadi dosen di sejumlah kampus. Kalau di Serang ada Toot ST Radik, yang jadi Kasie Kesenian Diparsenibud Serang, Wan Anwar dan Firman Venayaksa dosen di Untirta Serang. Sah-sah saja, bukan?  Selamat berjuang kawan, moga lulus dan sukses!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center">Rumitnya Pelaksanaan UN SMA Tahun 2009</p>
<p><strong>Serang- </strong>Kegiatan Ujian Nasional (UN) SMA yang akan dilaksanakan pada Maret Minggu ke 3 tahun 2010, nampaknya akan banyak mengalami kendala. Sebab, sesuai dengan Peraturan Mentri Pendidikan nasional nomor 75 tahun 2009, pada pasal 14 ayat 1,2, dan 3 yang menyatakan bahwa: 1. Peserta UN SMA/MA mengikuti ujian di satuan pendidikan lain sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam POS.  2. Peseta ujian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam satu ruangan terdiri atas peserta ujian dari beberapa sekolah /madrasah dalam satu kecamatan dan/kabupaten /kota. 3. Peserta UN SMP/MTs, SMPLB, SMALB, dan SMK mengikuti ujian di satuan pendidikan  penyelenggaraan UN.</p>
<p>Melihat pasal 14 di atas nampaknya akan menjadi beban bagi sekolah dan murid. Selain biaya ongkos yang tinggi, juga terkendala dengan akses wilayah Kabupaten Serang yang jaraknya berjauhan dan kondisi jalan yang tidak memadai. Menanggapi Peraturan Mentri No. 14 di atas, pihak Kepala Sekolah dan Kesiswaan SMA Al Irsyad Waringinkurung langsung mengambil sikap guna mengantisipasi, jika peraturan itu benar-benar dijalankan. Di sela ruang rapat Alyadi, S.Pd.I Kepala Sekolah SMA Al Irsyad menyatakan, “Di SMA Kota Tangerang, 3 sekolah sudah melaksanakan, dan 2 sekolah di SMA Rangkasbitung juga dilaksankan tahun lalu, kemungkinannya tidak ada kendala sehingga peraturan ini dilanjutkan,” katanya. Masih menurut Alyadi, “Kesulitannya kalau yang tak punya kendaraan,  walaupun hal ini bisa diatur oleh siswa atau sekolah, cuma beban biaya yang tinggi. Mudah-mudahan itu tak akan terjadi, ditahun ini,” harapnya.</p>
<p>Hadari, S.Pd selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan menambahkan “Kalaupu tahun ini harapannya tidak terjadi, tetapi, bagaimanapun juga kita harus siapakan. Masalahnya ini sudah ada dalam bentuk Permen dan sudah ada sekolah yang melaksanakan, tegasnya. Rapat yang dilaksanakan pada Sabtu (21/11) dari pukul 10.00-12.00 Wib. di Musholla Al Irsyad itu, dihadiri oleh puluhan guru. Dan juga pihak kurikulum. <strong>(Rahel)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/22/ketika-penyair-muda-banten-ingin-jadi-pegawai-negri-sipil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

