
SERANG—Ratusan siswa dan siswi berseragam olahraga biru-putih bertuliskan Madrasah Tsanawiyah Negeri Cilegon di samping celana panjangnya, Sabtu (6/2) sekitar pukul 09.00 WIB berdatangan ke Rumah Dunia. Ratusan siswa-siswi MTs Negeri Cilegon itu sedang melaksanakan program sekolah Study Orientasi Lapangan (SOL) yang terdiri dari kelas VIII A, B, C, D, dan E. Sebelumnya, Rabu (27/1) yang lalu, dari MTs Negeri Cilegon kelas VII D dan F juga pernah melaksanakan program SOL-nya di Rumah Dunia dengan tema Mendongeng. Tapi, untuk kali ini program SOL MTs Negeri Cilegon untuk kelas VIII mengambil tema Belajar Puisi.
Untuk SOL sendiri, menurut Niken Puji Suharti, S.Pd.I selaku ketua panitia mengatakan bahwa program SOL sudah diadakan setiap tahunnya. “Program SOL ini disesuaikan dengan materi pelajaran. Kebetulan tema kali ini tentang Puisi maka sesuai dengan materi pelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra,” terang Niken, yang di sekolah menjabat sebagai guru Bimbingan Konseling, “Untuk pengadaan SOL sendiri dilaksanakan setiap semester 2 atau semester 3. Saat ini jumlah siswa ada 198 orang,” sambungnya.
Sebelum acara pemaparan materi Puisi di mulai. Terlebih dahulu, Muhzen Den salah satu relawan Rumah Dunia yang bertanggungjawab dalam acara kunjungan ini menyapa siswa-siswi dan para guru dari MTs Negeri Cilegon sambil mengenalkan beberapa relawan dan menjelaskan tentang Rumah Dunia. “Nanti materi puisi akan disampaikan oleh Mas Toto ST Radik selaku penasehat RD dan penyair nasional serta Rahmat Heldy HS selaku guru SMA Al Irsyad dari Waringin Kurung,” Deden biasa dipanggil membuka acara. “Baik, untuk selanjutnya, mari kita sama-sama menonton film dokumenter tentang RD,” katanya sambil tersenyum ramah. Sekitar 15 menit siswa MTs Negeri Cilegon diperkenalkan tentang Rumah Dunia dan menonton film dokumenternya, barulah acara inti tentang pembelajaran puisi di mulai.
Tips Menulis Puisi “Acak Kata”
Pada awal pemaparan materi tentang puisi, Toto ST Radik tidak langsung ke inti melainkan mengenalkan apa itu puisi? Lalu setelah itu, ia menyampaikan bagaimana menulis puisi? “Menulis puisi itu gampang-gampang susah atau bisa saja susah-susah gampang. Kenapa bisa begitu? Karena menulis puisi butuh perenungan dan kata yang di tulis tidak asal, kata-katanya terpilih,” terang Toto sambil menunjukkan puisi karya siswa MTs yang di tulis di selembar kertas setelah di awal dibacakan oleh siswa tersebut. “Contohnya seperti puisi berjudul Bunda karya Mila ini. Kata-katanya terpilih, dan tidak biasa,” tambah Toto. Di sela-sela memaparkan materi tentang puisi, Toto ST Radik juga memanggil kang Rahel panggilan akrab Rahmat Heldy HS untuk membacakan puisi-puisinya.
Setelah itu, Toto juga menerangkan untuk membuat puisi kita harus mempunyai bendahara kata yang banyak dalam otak kita. Oleh karena dengan begitu kita mampu memilih kata yang bagus. “Jika bendahara kita sedikit, pasti kata-kata dalam puisi kita hanya akan ada kata-kata itu-itu saja,” kata Toto. Toto juga menjelaskan dengan metode acak kata, yang setiap kata-katanya di pilih oleh siswa dan ditulis di papan tulis. Masing-masing siswa menyumbang satu kata yang menurutnya menarik dan favorit. Lalu dari kata itu dibuat satu paragraf puisi, dengan cara disambung-sambungkan menjadi sebuah kalimat. Begitulah cara Toto ST Radik menerangkan cara pembelajaran puisi. “Bagaimana adik-adik, mudah tidak membuat puisinya!” tegas Toto memberi pemahaman kepada 198 siswa yang hadir saat itu. Namun siswa tak ada yang berani mengatakan mudah dalam membuat puisi itu. “Susah-susah gampang!” dan “Gampang-gampang susah!” begitu jawaban siswa MTs Negeri cilegon secara serempak dengan nada malu-malu ketika saat sesi tanya-jawab.
Tips Menulis Puisi Copy The Master
Setelah Mas Toto ST Radik selesai memaparkan tentang materi puisinya dengan metode yang ia gunakan. Kali ini, Rahel mendapat giliran untuk menyampaikan materi yang sama tapi dengan metode yang berbeda. Rahel dalam penyampaian materinya itu lebih kepada bagaimana membuat puisi itu dengan cara copy the master atau dengan menuliskan kembali puisi orang lain, lalu tiap larik di ganti dengan kata-kata dari kita. “Jika sudah diubah, puisi punya orang tadi kita ganti dengan kata-kata yang kita punya,” kata Rahel. “Tapi, jangan sampai ada yang sama. Itu namanya plagiat atau meniru,” sambungnya.
Dalam pemaparan materi puisinya, Rahel lebih banyak mencontohkan bagaimana membaca puisi yang baik. Dia membaca beberapa contoh puisi karyanya sendiri yang terkumpul di buku puisi Kampung Ular, dan beberapa puisi karya penyair lainnya seperti Chairil Anwar dan Sutardji Calsoum Bachri. “Kalau mau membacakan puisi jangan dengan gaya tahun 70-an. Masa baca puisi dengan gaya lemes tanpa ekspresi. Harus dengan gaya baru. Dengan gaya 2010-an yang penuh semangat di tambah dengan gestur tubuh serta ekspresi, agar pembacaan puisinya tampak berani dan percaya diri,” ujar Rahel penuh semangat menggebu-gebu yang membuat para siswa yang hadir terantusias dan bersemangat. “Biasa saja ya, melihat Bapak baca puisi. Jangan sampai ada yang melamun. Nanti takut kesurupan,” masih Rahel. Terlebih saat Rahel, di tengah-tengah pembacaan puisi Air Mata Kami karya Sutardji sampai ‘muncrat’ saking semangatnya. “Itu, tenaga dalam saya. Saya kadang menggunakan tenaga dalam saya, jika sedang membaca puisi,” kilah Rahel yang langsung di sambut suara tawa dari para siswa.
Diakui juga oleh Mila Ulfah salah satu siswa MTs Negeri saat di tanya oleh wartawan www.rumahdunia.com mengenai cara pembuatan puisi. “Puisi berjudul Bunda itu adalah puisi pertama saya,” kata siswi kelas VIII B ini menjelaskan. “Membuat puisi gampang-gampang susah. Tapi ketika menyaksikan pemaparan tadi membuat saya bersemangat dan tertantang,” masih Ulfah.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul 01.30 WIB, acara pembelajaran puisi itupun usai dengan pemberian cideramata dari MTs Negeri Cilegon pada Rumah Dunia. “Semoga dengan pembelajaran puisi ini, anak-anak bisa lebih berkembang dan bisa menjadi penerus penyair di Banten nantinya,” kata Zakiya S.Pd., berharap.[Ahmad Wayang]