TIDAK LAGI SEPERTI KATAK DALAM TEMPURUNG

Ketika saya diberi tahu pencanangan “Change with Reading’ pada Sabtu, 9 Januari 2010 di Rumah Dunia, saya jadi ingat kampung sendiri, yang bernama Bojong Sukadalem, Waringinkurung, yang kini telah rusak oleh tebasan buldozer dan limbah kompleks. Ketika masih kecil, kampung saya sangatlah eksotis. Tak ada deru kendaran yang meraung-raung mengganggu gendang telinga, tak ada penggusuran tanah, tak ada limbah yang menyebabkan badan gatal-gatal ketika mandi di sungai. Bahkan dulu ibuk pernah bercerita setiap hari sehabis ngangon kambing kalau pulang merasa haus, saya tinggal mencengkukkan kedua telapak tangan ke dalam air. Air sungai masih jernih sampai-sampai bisa langsung diminum.

KAMPUNG GUSUR

Tapi, sekitar tahun 1998 ketika Suharto runtuh dari jabatanya sebagai Presiden RI kedua, kampung saya jadi amburadul. Ladang, sawah, kebun semuanya hilang ditebas buldozer. Cerita dari ayah pada masa itu, masa ketika tanah, sawah, kebun ditebas buldozer gara-gara penguasa yang memaksa menyuruh menjual ladang, sawah, kebun milik masyarakat kampung Bojong. Waktu itu penjualan tanah tidak dengan harga yang semestinya diterima pemilik tanah. Sawah, ladang, kebun dibeli dengan harga yang cukup murah.

Bapak adalah salah satu orang yang tidak mau menjual ladang, sawahnya. Tapi, keadaan yang dihadapi Bapak memang dilematis. Kalau tak dijual tanah Bapak akan tergusur oleh penggusuran atau tanah di sekeliling tanah Bapak akan dikeruk dan tanah Bapak menjadi moncir (tinggi) sehinga lama-lama akan habis, longsor. Akhirnya, Bapak menjualnya dengan harga yang cukup murah meriah!

Dari situ, kampung yang eksotis dengan air sungai jernih  dan sawah ladang yang membentang, kini menjadi kompleks perumahan. Sungai, kini menjadi hitam bertabur sampah non organik mengambang dipermukaanya. Air sungai yang tadinya bisa langsung diminum, kini malah menimbulkan bencana penyakit gatal-gatal, kudis, dan koreng. Selamat tinggal kampung halaman. Kampung yang menampung kelahiran dan masa kanak-kana saya. Saya teringat sebuah sajak  penyair Toto ST Radik yang berjudul “Elegi Serang” (Ode Kampung, 1994); selamat pagi, cintaku/tanah sebelah mana lagikah/bakal kautanam pabrikpabrik/dan mimpi buruk?

SANTRI

Lulus dari sekolah dasar (SD) tahun 2004, saya mondok di pesantern Al-Irsyad, Waringinkurung. Waktu itu, resmilah saya menjadi seorang santri. Setip hari saya sekolah di SMP Al-Irsayd. Pulang sekolah, istrirahat sebentar lalu mengaji. Setelah mengaji sekitar setengah atau satu jam, berangkat lagi mengikuti ekskul di sekolah dari pukul  2 siang sampai 5 sore. Setelah eskul langsung beres-beres, mandi, makan dan berangkat lagi ke mushola; mengaji, sholawatan sambil menunggu beduk azan magrib. Setelah magrib, mengaji lagi. Santri-santri junior dibebaskan memilih tutor (kakak santri) yang sudah disepakati. Kegiatan malam, selain mengaji, juga belajar bahasa Inggris, bahasa Arab, kaligrafi, berceramah, dan fiqih. Setiap malam, kegiatan belajar seperti ini tak pernah libur. Dan santri yang tak mengikuti kegiatan belajar malam akan dihukum. Sangsinya beragam, mulai dari menghafal Juz Amma, membersihkan halaman, mencuci kamar mandi, dll.

Selama menjadi santri (tiga tahun) di Al-Irsyad, banyak kemajuan yang saya alami, salah satunya kulit saya agak menguning. Padahal, kata ibuku dan tetangga di rumah, dulu kulit saya hitam mirip silit kekenceng alias pantat wajan karena setiap hari ngangon kambing. Hal yang tak kalah penting – masih menurut ibu – saya sudah tak rajin menarik-narik kutang ibu lagi untuk meminta uang. Hanya tiga tahun saya mondok. Padahal ada yang bilang kalau mondok tiga tahun belum bisa dikatakan mondok. Syarat mondok itu harus enam tahun. Wih suwe amat!

Sayangnya, di tempat saya mondok tidak ada perpustakaan buku umum; novel misalnya. Atau buku-buku filsafat, sosiologi, sejarah, dan diiplin ilmu lainnya, sehingga saya kurang wawasan.

RUMAH DUNIA

Selesai Ujian Nasional, Bapak mengusulkan untuk pindah sekolah. Terus berdiam di satu tempat tak akan berkembang, baik pengalaman dan wawasan. Itu seperti katak dalam tempurung. Kakak saya, Rahmat Heldy membawa saya ke Rumah Dunia. Dia dulu pernah di Rumah Dunia.

Alhamdulillah saya dipertemukan langsung dengan pendiri Rumah Dunia, Gol A Gong. Obrolan kecil terjadi antara kakakku dengan Gol A Gong. Setelah Gol A Gong mengobrol dengan kakakku, Gol A Gong bertanya ini-itu. Pertanyaan yang diajukan seputar profilku. Obrolan pun terputus saat tamu dari majalah Annida datang. Mungkinkah Gol A Gong mengizinkan?

Ketika Gol A Gong pergi, kakaku mengobrol dengan Relawan Rumah Dunia; Roy Goozly, yang waktu itu masih pelajar di SMA PGRI 2 Serang. Kakakku menyakan kualitas SMA PGRI 2. Roy mnyarankan saya masuk ke SMA PGRI 1 saja. Kata Roy, kualitas dan disiplin SMA PGRI 1 lebih baik dari PGRI 2. Akhirnya, saya mendaftar di SMA PGRI 1.

Satu minggu kemudian, saya dan kakakku datang lagi ke Rumah Dunia. “Setelah saya sepakati dengan kawan-kawan yang ada disini, adikmu boleh tinggal di sini,” kata Gol A Gong. “Karena mengingat relawan disini juga sudah pada bekerja, seperti Aji Setiakarya, Langlang Randahawa, Rimba Alang-alang, dan Ibnu Adam Aviciena. Tapi, jangan malas karena disini selalu ada kegiatan setiap harinya,” lanjut Gong.

Saya seperti berada di sorga. Inilah mungkin yang dinamakan “Change with Reading”. Setiap hari saya berkubang dengan buku, diskusi, latihan pidato, menonton pertunjukkan puisi, berorganisasi, bertemu dengan pengarang-pengarang terkenal seperti Habiburahman El-shiraz, Asma Nadia, pejbat-pejbat pnting di Banten, dan masih banyak lagi orang-orang hebat yang saya lihast.

Sudah satu tahun enam bulan saya bergabung di Rumah Dunia. Alhamdulillah sudah banyak ilmu yang saya dapat baik ilmu berbicara, ilmu menulis, ilmu menerima tamu, dll. Saya yang tadinya minder menghadapi perempuan, kini gara-gar buku, tidak lagi. Saya bahkan sudah pandai mnulis puisi dan cerpen. Tulisan saya sudah dimuat di Radar Banten, www.kompas.com, dan www.rumhdunia.com. Bahkan saya dipercaya jdi wartawan di www.rumahdunia.com. Begitulah buku, sudah mngubah hidupku, yangn tadinya seperti katak dalam tempurung, kini tidak lagi. (*)

*) Abdul Salam HS, Pelajar SMA kelas dua di PGRI 1 Kota Serang.

CHANGE WITH READING MENUJU BANTEN MEMBACA

Setelah pada Kamis, 31 Desember 2009, Rumah Dunia yang identik dengan taman bacaan masyarakat di Banten, menutup kegiatan selama 2009 dengan diskusi “Komunitas Sastra di Banten” dalam acara rutin “Detik Akhir, Detik Awal”, maka seminggu kemudian pada Sabtu 9 Januari 2010, Rumah Dunia memulai kegiatan sepanjang 2010 dengan pencanangan “Change with Reading” (CwR) oleh HM Masduki, Wakil Gubernur Banten. Kegiatannya berupa lomba menggambar untuk SD dan poster tingkat SMP, serta lomba pidato untuk SMA dan perguruan tinggi se-Banten. Juga pertunjukan seni marawis dari Ponpes Nurul Fallah dan rampak bedug UKM Pandawa Untirta Serang.

LOMBA GAMBAR

“Mulai sekarang tidak ada waktu santai lagi,” kata Langlang Randhawa, Secretary General Rumah Dunia, yang ditemui di sela-sela pencanangan CwR. “Agenda Januari saja padat. Sabtu 16 Januari  diskusi ‘Lebak Membara’, mendatangkan nara sumber Amir Hamzah, wakil bupati Lebak. Sabtu 23 Januari festifal qasidah se-Banten,” tambah Langlang yang kebagian jadi Ketua Pelaksana CwR.

Pencanangan CwR dibuka oleh Nursalim, Kepala Bidang Pendidikan Non Formal Dinas Pendidikan Kota Serang, pukul 10.00 WIB dalam keadaan langit mendung. “Banten harus kembali jaya dengan kegiatan ini, karena buta aksara sudah berhasil kita berantas. Sekarang fasenya ‘Banten Membaca’, membaca seluruh isi alam semesta,’ kata Nursalim dalam sambutannya. “Kita sudah harus mengisi rumah dengan buku!”

Peserta menggambar tingkat SD sejumlah 40-an anak dan lomba poster tingkat SMP dengan tema CwR digelar. Hujan pun turun. Mereka yang tadinya menyebar di tenda Taman Rumah Dunia seluas 969 m2 hadiah dari facebooker, mengungsi ke panggung. Tapi, untung hujan hanya sekejap. Lomba pun diteruskan. Tawa ceria anak-anak saat menggoreskan warna mengangkasa. “Yang penting anak-anak gembira,” kata Indra Kesuma, Ketua Juri menggambar. “Kalau hati mereka senang, insya Allah, minat membaca mereka terhadap buku akna meningkat.” Pemenangnya mendapatkan piala, sertifikat, uang Rp. 100.000,- dan paket buku. Juara I lomba lukis disabet Adelia Rahma Putri (SDN 20 Serang), kedua M. Anas (SDIT Ibadurahman), dan ketiga Kholifah (SDN Cipocok Jaya). Lomba poster digondol Kania Asri Liany (SMPN 4 Kota Serang, kedua M Sabihis (SMPN 3 Serang), terakhir Asep D (SMPN 3 Kota Serang).

Nursalim, Kabid PNF Kota Serang memberi sambutan

DUTA

Sedangkan di panggung Rumah Dunia diadakan lomba pidato “Duta CwR” tingkat SMA dan mahasiswa. Diikuti 20 SMA dan perguruan tinggi se-Banten. Duta-duta tingkat SMA dari SMAN 1 Ciruas, MAN 2 Serang, SMAN 2 Kota Serang, SMA El- Daar Qolam, SMA Al- Irsyad, SMAN 3 Rangkas, MAN Cilegon, SMAN 1 Serang, SMAN 5 Kota Serang dan SMAN 1 Pandeglang. Sedangkan tingkat mahasiswa,  yaitu STIE Bina Bangsa Serang, STIT Al-Khaeriyah Cilegon, UNMA Pandeglang, Untirta Serang dan IAIB Serang. Masing-masing peserta diwajibkan mengirimkan karya tulis berupa essay tentang CwR. “Kami kaget menerima tulisan mereka. Awalnya tidak percaya. Mereka sudah hebat menulis!” aku Firman Venayaksa, Presiden Rumah Dunia sekaligus juri.

Pemilihan duta CwR ini awalnya panitia mengirimkan surat permohonan kepada sekolah-sekolah dan PT untuk mengirimkan Duta pada acara CWR, berdasar rekomendasi dari Dinas Pendidikan Provinsi Banten. Duta yang dikirim harus  mengumpulkan karya tulis bertema “Mengubah Hidup dengan Membaca”. Berdasar karya tulis inilah akan dipilih siapa yang terbaik. Untuk membuktikan orisinalitas gagasan, para duta itu di audisi dan diwawancarai . “Kami meniru ‘Indonesian Idol’!” kata Gol A Gong, pendiri Rumah Dunia. “Supaya ‘gaya’ dan mudah diterima anak muda sekarang. Duta baca itu harus ‘gaul’! Jangan lagi istilah kutu buku itu identik dengan kaca mata dan wajah jutek!” Tambah Gong, mestinya para duta baca itu wajahnya ganteng seperti “Rangga dan Cinta” di film “Ada Apa dengan Cinta”.

Pada acara tersebut para peserta diuji dengan cara mempresentasikan tulisannya di depan peserta yang hadir. Dari kedua kategori tersebut nanti akan dipilih duta CwR SMA dan perguruan tinggi. Kedua Duta yang terpilih itu adalah orang yang terbaik dari segi tulisan dan lisan serta sikap. Mereka  nanti menjadi kordinator di kampus dan di sekolahnya, agar bisa mengajak teman-temannya supaya gemar membaca. Ketiga juri; Toto, Firman, dan Ibnu Adam Aviciena memilih dua orang duta yaitu, Sayuti Zakaria dari kampus STIT Al-Khaeriyah Cilegon dan Nastity dari pelajar SMA 1 Pandeglang. Mereka mendapatkan hadiah uang Rp. 200.000,- piala, sertifikat, dan paket buku. Kepada duta-duta yang tidak menang, mereka diberi sertifikat.

“Saya merasa senang sekali terpilih menjadi duta CwR ini. Tadinya saya mengira bukan saya yang akan mendapat kesempatan baik ini,” kata Sayuti Zakaria. Masih diakuinya, tulisan yang dipresentasikan olehnya itu isinya berdasarkan pengalaman pribadi yang terjadi di lapangan dan juga mengutip dari buku yang berjudul “Rahasia Sukses Orang Besar” karangan Dr. Aed Al- Qorni. Sayuti akan membetuk kelompok diskusi bersama teman-temannya di kampus dimana dia belajar. Kelompok diskusi itu bertujuan menyebarkan semangat betapa pentingnya membaca kepada para teman yang lain.  Kini Sayuti menjadi peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan ke-15.

Ubahlah dirimu dengan membaca!Hal serupa dijelaskan oleh Nursalim dalam  sambutannya, “Kita juga harus gemar membaca! Kita sebagai umat Islam harus merasa malu jika tidak gemar membaca,” tegasnya. Nursalim juga menghimbau kepada orang yang hadir khususnya kepada Rumah Dunia, supaya kegiatan ini terus berlangsung. “ Insya Allah akan menjadi dontur terhadap kegiatan ini,” tambahnya lagi. CwR diharapkan menjadi gerakan menuju Banten Membaca.

MOTIVASI

Usai lomba pidato, predikat duta CwR tidak berhenti dari sekedar menerima hadiah dan tepuk tangan. Rumah Dunia berencana menjadikan mereka sebagai Duta CwR. Tugas mereka memotivasi teman dan masyarakat di sekitar agar aktif membaca, dan secara terus-menerus  menyebarkan spirit bahwa dengan membaca bisa mengubah hidup kita menuju ke arah yang lebih baik.

Menurut Toto ST Radik, Ketua Juri CwR, “Wewenang seluruh Duta CwR adalah mengadakan acara dengan tujuan membuka wawasan teman dan masyarakat sekitar, misalnya dengan memulai dari kegiatan membaca dan berdiskusi. Duta CwR diperkenankan melakukan koordinasi dengan kami sebagai pencetus CwR, dengan sepengetahuan Kepala Sekolah dan guru pendamping.” Kelak, para duta ini yang menggerakkan taman bacaan masyarakat di kampungnya. Dan buta aksara di Banten tidak ada lagi.

Hal ini dilakukan berkelanjutan, agar  155.305 warga di Banten yang buta aksara dientaskan. Menurut Kompas edisi Senin (11/1), hingga akhir tahun 2009, jumlah warga usia 13 tahun ke atas yang masih buta aksara di Provinsi Banten tercatat 155.305 orang. Pada tahun 2010 pemerintah daerah setempat menargetkan penurunan jumlah warga buta aksara ini minimal 40.000 orang.

Sayuti dan Nastity, para duta CwRSaat menjadi pembicara di sesi diskusi CwR, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten Eko Endang Koswara di Serang, Provinsi Banten mengatakan, “”Penyebab buta aksara ini antara lain karena faktor keterjangkauan akses, rendahnya minat belajar, dan juga faktor ekonomi.”

DUKUNG

Sekitar pukul 14.00 WIB, HM Masduki, Wagub Banten tiba beserta istrinya. Ruang tunggu VIP pun penuh. Selain HM Masduki, juga ada Ahmad Mukhlis Yusuf (direktur Antara), Endang Eko Koswara, Hafidzi (Kadisdik Kota Serang), Amriti (Perpusda Kota Serang, Nenny (Sekrtetaris Umum Yayasan Kesetiakawan dan Kepedulian Sosial Jakarta), Ella Yulaelawati, M.A., Ph.D, Wien Muldian (Forum Indonesia Membaca), dan Sudiyati (Kepala Perpusda Banten).

Pertunjukan seni marawis dai SMPIT Darul Fallah dan rampak beduk UKM Pandawa Untirta Serang unjuk kabisa. Para peserta CwR, tamu dan undangan merasa terhibur. “Luar biasa, ya!” kata Wina dari TBM Zakiyah Bandung, peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan ke-15, yang sedang technikal meeting. Wina jauh-jauh dari Bandung, karma tertarik dengan kemasan Rumah Dunia dalam upayanya meningkatkan minat baca masyarakat.

Pameran komunitas literasiKemudian HM Masduki memberi sambutan, bahwa pencanangan gerakan membaca ini untuk meningkatkan kualitas hidup. “Persoalan gerakan membaca ini bukan hnya urusan pemerintah, tapi kita semua. Rumah Dunia harus kita dukung.” Usai itu, HM Masduki mencanangkan CwR dengan pemecahan kendi berisi kartu-kartu bertuliskan huruf alphabet.

Diskusi CwR saat hujanDISKUSI

Acara puncaknya adalah diskusi. Tapi sebelum diskusi ada penyerahan sumbangan. Alhamdulillah, saat CwR, Rumah Dunia kebanjiran hadiah. Pemprov Banten menyumbang voucher mebuler dan buku, Perpusda Banten se-dus besar buku, Aneka Swalayan 20 dus minuman mineral gelas, Universitas Serang Raya memberi beasiswa kepada Roy Goozly, relawan Rumah Dunia dan Untirta Serang juga memberi beasiswa kepada Muhzen Den. SUHUD Media Promo tak mau ketinggalan, urusan cetak-mencetak; standing banner, liflet, dan backdrop ditanggungnya.Yang kolosal sumbangan dari Yayasan Kepedulian dan Kesetiakawanan Sosial Jakarta berupa 2 komputer dan mejanya, 1 wireless, 100 kursi plastik, 50 meja gambar, dan printer. Bahkan Nenny Sri Utami (Sekretaris Umum YKDK) menambahkan, “Nanti menyusul tenda, buku, dan alat-alat kesenian marawis!”

Saat diskusi CwR dengan narasumber Endang Eko Koswara, Wien Muldian, Ella, hujan mengguyur. Tapi peserta tetap bertahan. Eko memberi informasi, bahwa upaya penuntasan buta aksara bagi ratusan ribu warga di Banten itu tidak mampu dilakukan sendirian oleh dinas pendidikan tanpa melibatkan sektor lain. ”Tanpa ada pendekatan budaya, misalnya, tidak mungkin bisa menuntaskan buta aksara di Baduy,” katanya. Demikian pula untuk menuntaskan buta aksara di kalangan anak jalanan, dinas pendidikan membutuhkan kerja sama dengan satuan polisi pamong praja dan dinas sosial.

Tias and his gank di stand CwRKepala Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Banten Sudiyati mengatakan, pihaknya berupaya mendekatkan akses masyarakat kepada buku dengan membangun taman bacaan, perpustakaan desa, juga mengirim mobil perpustakaan keliling. ”Saat ini di Banten ada sekitar 200 taman bacaan dan 143 perpustakaan desa. Tahun ini ada rencana penambahan 44 perpustakaan desa,” kata Sudiyati.

Menurut Gol A Gong, pihaknya selama ini juga ikut berusaha menurunkan angka buta aksara, yakni dengan mengajari baca tulis bagi anak sekolah dasar—termasuk pemulung—yang belum bisa membaca. Terkait gerakan CwR, Gong mengatakan bahwa kegiatan itu dimaksudkan untuk menggelorakan ke seluruh warga Banten, bahwa dengan membaca bisa mengubah kualitas hidup warga. Hal laionnya, Banen akan kembali jaya seperti pada abad ke-16.

Sedangkan  menurut Ella Yulaelawati, M.A., Ph.D, anak-anak yang  lebih memiliki minat baca akan mempunyai kinerja akademis yang lebih baik.  Laporan studi  PISA (2006) menunjukkan remaja dari berbagai kalangan termasuk dari latar belakang ekonomi yang paling kurang mampu dapat lebih cemerlang dari teman-teman sebaya mereka yang lebih kaya jika mereka secara teratur membaca buku-buku, surat kabar dan komik di luar sekolah.

Menurut laporan studi “Membaca untuk Perubahan” (2007) ditemukan secara signifikan  bahwa mendorong membaca untuk kesenangan bisa menjadi salah satu cara yang paling efektif untuk mewujudkan perubahan sosial. Remaja usia lima belas tahun  dengan status  pekerjaan orangtua yang rendah terbukti  mencapai nilai rata-rata membaca (540) bila sangat terlibat dalam kegiatan membaca. Skor ini sangat  signifikan lebih tinggi dari pencapaian remaja yang orangtuanya memiliki status pekerjaan tinggi, tetapi yang kurang terlibat dalam membaca.

Semua siswa yang sangat terlibat dalam membaca membaca terbukti secara signifikan dapat mencapai nilai di atas skor rata-rata  internasional, terlepas dari apa pun latar belakang keluarga mereka. Hal ini membuktikan bahwa, walaupun latar belakang sosio-ekonomi sangat berperan, bukan berarti dapat menjadi  faktor dominan dalam memprediksi keterlibatan  membaca bahan bacaan yang beragam.  Tetapi penelitian juga menemukan bahwa ketersediaan bahan bacaan di rumah sangat berperan dalam mengembangkan kemampuan membaca anak. Anak-anak yang memiliki akses ke sejumlah besar buku cenderung  untuk lebih tertarik membaca secara meluas. Sementara keterkaitan latar belakang  sosio-ekonomi dengan profil membaca lemah, keterkaitan akses ke banyak buku di rumah berperan lebih tinggi. (Jang RuDun/Laporan Lanang Sejagat, harir Baldan, Kompas dot com)

MARAWIS DI CHANGE WITH READING

Rumah Dunia tidak pernah melupakan memberikan ruang dan waktu untuk anak-anak muda Banten berekspresi. Di Change with Reading selain rampak beduk UKM Pandawa Untirta unjuk kabisa, juga group marawis dari SMP Darul Fallah tampil menghibur peserta dan tamu.

DUTA CHANGE WITH READING

Change with Reading (CwR) ini bertujuan supaya masyarakat sadar betapa pentingnya membaca. Di acara ini juga diadakan lomba menggambar untuk SD, lomba poster untuk SMP se-Banten. Lalu ada pemilihan Duta CwR. Di pemilihan Duta CwR ini di ikuti oleh sejumlah perwakilan pelajar dari SMA se-Banten dan mahasiswa perguruan tinggi se-Banten.

PENCANANGAN CHANGE WITH READING RUMAH DUNIA

RUMAH DUNIA – Sabtu 9 Januari 2010 ini, Rumah Dunia mencanangkan “Change With Reading” (CwR), yaitu sebuah gerakan kebudayaan untuk meningkatkan kualitas hidup warga Banten dari sekedar bisa mengeja huruf ke memaknai kata. “Kita harus meyakini, bahwa dengan membaca bisa memperbaiki nasib,” jelas Gol A Gong, pendiri Rumah Dunia. Misalnya dari bodoh ke pintar. Dari miskin ke kaya. Harus yakin, membaca adalah bagian penting untuk mengubah nasib.  Membaca adalah bekal mencari pekerjaan. Membaca menjadikan kita kreatif. Membaca adalah alat pancing mencari pekrjaan. Gong juga menambahkan, CwR adalah tema besar kegiatan Rumah Dunia sepanjang tahun 2010.

Serangkaian acara akan digelar berupa lomba menggambar bagi anak SD dan poster untuk SMP pukul 09.00 – 12.00. “Temanya mengajak orang gemar membaca,” Langlang Randhawa selaku Ketua Pelaksana CwR. “Siapa saja boleh ikut serta, tidak ada uang pendaftaran! Alat menggambar bawa sendiri!”

Pada waktu yang sama sekitar 20 perwakilan pelajar dan mahasiswa se-Banten saling adu gagasan tentang CwR. Mereka mengirimkan tulisan terlebih daulu dan mempresentasikanya “Ini bagian dari empat ketrampilan berbahasa; mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Jika itu dilakukan dengan baik, insya Allahakan muncul pemimpin Banten di masa depan yang handal!” harap Firman Venayaksa, Presiden Rumah Dunia sekaligus juri.

Selepas Dzuhur digelar diskusi dengan pembicara Endang Eko Koswara (Kadisdik Banten), Ella Yulaelawati M.A., PhD (Direktur Penmas Depdiknas), Wien Muldian (Forum Indonesia Membaca, dan Ahmad Wayang (relawan Rumah Dunia).

Paling unik adalah Ahmad Wayang. “Saya grogi,” kata Ahmad. “Saya ini mantan penjual roti dan nasi uduk,” ceritanya lagi. “Baru sekitar 4 bulan jadi relawan sudah jadi pembicara di kegiatan besar. Apa saya sanggup?” Menurut Gol A Gong, penunjukkan  Ahmad Wayang tidak sembarangan. Ahmad adalah pelaku CwR.

Selain diskusi akan ada inspiring speech dari Ahmad Mukhlis Yusuf (Direktur LKBN Antara), parade testimony para relawan tentang kegemaran membaca yang sudah mengubah hidup mereka, pameran buku dan komunitas literasi, serta pencanangan CwR oleh HM.Masduki (Wakil gubernur Banten).  Juga ada penyerahan sumbangan dari Pemprov Banten berupa voucher pembangunan gedung Taman Bacaan Masyarakat dan dari Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian Soial Jakarta berupa 2 unit computer plus mejanya, 2 kipa angin, 100 kursi plasti, megaphone wireless, 1 printer, 50 meja lipat untuk menggambar. (Jang RuDun)

advert

Tags Kata

Gonjlengan

BE A WRITER: DARI YANG REGULER HINGGA EXCLUSIVE”

Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat.

Full Story | May 20th, 2010

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa*
Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong
MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak mengganggu [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK
I.
“ora et labora”
di pertigaan jalan menuju rumah
beberapa tukang becak menyemadikan nasib
: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha
- memejam di tempat duduk
masingmasing-
II.
“nrimo ing pandum”
kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan
begitu saja kepada puingan matahari dan purnama
mereka mengabadikannya sebagai penanda becak
yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa
lapar dan haus adalah
foto-doa
III.
“kerja adalah ibadah”
di sisi adzan,
kretek [...]

Full Story | July 18th, 2010