TIDAK LAGI SEPERTI KATAK DALAM TEMPURUNG
Gola Gong | Warta Banten | January 19th, 2010 | No Comments »
Ketika saya diberi tahu pencanangan “Change with Reading’ pada Sabtu, 9 Januari 2010 di Rumah Dunia, saya jadi ingat kampung sendiri, yang bernama Bojong Sukadalem, Waringinkurung, yang kini telah rusak oleh tebasan buldozer dan limbah kompleks. Ketika masih kecil, kampung saya sangatlah eksotis. Tak ada deru kendaran yang meraung-raung mengganggu gendang telinga, tak ada penggusuran tanah, tak ada limbah yang menyebabkan badan gatal-gatal ketika mandi di sungai. Bahkan dulu ibuk pernah bercerita setiap hari sehabis ngangon kambing kalau pulang merasa haus, saya tinggal mencengkukkan kedua telapak tangan ke dalam air. Air sungai masih jernih sampai-sampai bisa langsung diminum.
KAMPUNG GUSUR
Tapi, sekitar tahun 1998 ketika Suharto runtuh dari jabatanya sebagai Presiden RI kedua, kampung saya jadi amburadul. Ladang, sawah, kebun semuanya hilang ditebas buldozer. Cerita dari ayah pada masa itu, masa ketika tanah, sawah, kebun ditebas buldozer gara-gara penguasa yang memaksa menyuruh menjual ladang, sawah, kebun milik masyarakat kampung Bojong. Waktu itu penjualan tanah tidak dengan harga yang semestinya diterima pemilik tanah. Sawah, ladang, kebun dibeli dengan harga yang cukup murah.
Bapak adalah salah satu orang yang tidak mau menjual ladang, sawahnya. Tapi, keadaan yang dihadapi Bapak memang dilematis. Kalau tak dijual tanah Bapak akan tergusur oleh penggusuran atau tanah di sekeliling tanah Bapak akan dikeruk dan tanah Bapak menjadi moncir (tinggi) sehinga lama-lama akan habis, longsor. Akhirnya, Bapak menjualnya dengan harga yang cukup murah meriah!
Dari situ, kampung yang eksotis dengan air sungai jernih dan sawah ladang yang membentang, kini menjadi kompleks perumahan. Sungai, kini menjadi hitam bertabur sampah non organik mengambang dipermukaanya. Air sungai yang tadinya bisa langsung diminum, kini malah menimbulkan bencana penyakit gatal-gatal, kudis, dan koreng. Selamat tinggal kampung halaman. Kampung yang menampung kelahiran dan masa kanak-kana saya. Saya teringat sebuah sajak penyair Toto ST Radik yang berjudul “Elegi Serang” (Ode Kampung, 1994); selamat pagi, cintaku/tanah sebelah mana lagikah/bakal kautanam pabrikpabrik/dan mimpi buruk?
SANTRI
Lulus dari sekolah dasar (SD) tahun 2004, saya mondok di pesantern Al-Irsyad, Waringinkurung. Waktu itu, resmilah saya menjadi seorang santri. Setip hari saya sekolah di SMP Al-Irsayd. Pulang sekolah, istrirahat sebentar lalu mengaji. Setelah mengaji sekitar setengah atau satu jam, berangkat lagi mengikuti ekskul di sekolah dari pukul 2 siang sampai 5 sore. Setelah eskul langsung beres-beres, mandi, makan dan berangkat lagi ke mushola; mengaji, sholawatan sambil menunggu beduk azan magrib. Setelah magrib, mengaji lagi. Santri-santri junior dibebaskan memilih tutor (kakak santri) yang sudah disepakati. Kegiatan malam, selain mengaji, juga belajar bahasa Inggris, bahasa Arab, kaligrafi, berceramah, dan fiqih. Setiap malam, kegiatan belajar seperti ini tak pernah libur. Dan santri yang tak mengikuti kegiatan belajar malam akan dihukum. Sangsinya beragam, mulai dari menghafal Juz Amma, membersihkan halaman, mencuci kamar mandi, dll.
Selama menjadi santri (tiga tahun) di Al-Irsyad, banyak kemajuan yang saya alami, salah satunya kulit saya agak menguning. Padahal, kata ibuku dan tetangga di rumah, dulu kulit saya hitam mirip silit kekenceng alias pantat wajan karena setiap hari ngangon kambing. Hal yang tak kalah penting – masih menurut ibu – saya sudah tak rajin menarik-narik kutang ibu lagi untuk meminta uang. Hanya tiga tahun saya mondok. Padahal ada yang bilang kalau mondok tiga tahun belum bisa dikatakan mondok. Syarat mondok itu harus enam tahun. Wih suwe amat!
Sayangnya, di tempat saya mondok tidak ada perpustakaan buku umum; novel misalnya. Atau buku-buku filsafat, sosiologi, sejarah, dan diiplin ilmu lainnya, sehingga saya kurang wawasan.
RUMAH DUNIA
Selesai Ujian Nasional, Bapak mengusulkan untuk pindah sekolah. Terus berdiam di satu tempat tak akan berkembang, baik pengalaman dan wawasan. Itu seperti katak dalam tempurung. Kakak saya, Rahmat Heldy membawa saya ke Rumah Dunia. Dia dulu pernah di Rumah Dunia.
Alhamdulillah saya dipertemukan langsung dengan pendiri Rumah Dunia, Gol A Gong. Obrolan kecil terjadi antara kakakku dengan Gol A Gong. Setelah Gol A Gong mengobrol dengan kakakku, Gol A Gong bertanya ini-itu. Pertanyaan yang diajukan seputar profilku. Obrolan pun terputus saat tamu dari majalah Annida datang. Mungkinkah Gol A Gong mengizinkan?
Ketika Gol A Gong pergi, kakaku mengobrol dengan Relawan Rumah Dunia; Roy Goozly, yang waktu itu masih pelajar di SMA PGRI 2 Serang. Kakakku menyakan kualitas SMA PGRI 2. Roy mnyarankan saya masuk ke SMA PGRI 1 saja. Kata Roy, kualitas dan disiplin SMA PGRI 1 lebih baik dari PGRI 2. Akhirnya, saya mendaftar di SMA PGRI 1.
Satu minggu kemudian, saya dan kakakku datang lagi ke Rumah Dunia. “Setelah saya sepakati dengan kawan-kawan yang ada disini, adikmu boleh tinggal di sini,” kata Gol A Gong. “Karena mengingat relawan disini juga sudah pada bekerja, seperti Aji Setiakarya, Langlang Randahawa, Rimba Alang-alang, dan Ibnu Adam Aviciena. Tapi, jangan malas karena disini selalu ada kegiatan setiap harinya,” lanjut Gong.
Saya seperti berada di sorga. Inilah mungkin yang dinamakan “Change with Reading”. Setiap hari saya berkubang dengan buku, diskusi, latihan pidato, menonton pertunjukkan puisi, berorganisasi, bertemu dengan pengarang-pengarang terkenal seperti Habiburahman El-shiraz, Asma Nadia, pejbat-pejbat pnting di Banten, dan masih banyak lagi orang-orang hebat yang saya lihast.
Sudah satu tahun enam bulan saya bergabung di Rumah Dunia. Alhamdulillah sudah banyak ilmu yang saya dapat baik ilmu berbicara, ilmu menulis, ilmu menerima tamu, dll. Saya yang tadinya minder menghadapi perempuan, kini gara-gar buku, tidak lagi. Saya bahkan sudah pandai mnulis puisi dan cerpen. Tulisan saya sudah dimuat di Radar Banten, www.kompas.com, dan www.rumhdunia.com. Bahkan saya dipercaya jdi wartawan di www.rumahdunia.com. Begitulah buku, sudah mngubah hidupku, yangn tadinya seperti katak dalam tempurung, kini tidak lagi. (*)
*) Abdul Salam HS, Pelajar SMA kelas dua di PGRI 1 Kota Serang.














