Oleh Machsus Thamrin*
Ada yang hilang dari genggaman tangan, dan meluncur lewat sela-sela jari (Taufik Ismail)
AKSI tembak-tembakan ala koboi yang diperagakan polisi di Pamulang Selasa lalu dan di Aceh Besar beberapa hari terakhir, mengusik hati saya.Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, mengatakan latihan yang dilakukan kelompok yang diduga teroris itu tak dilakukan oleh mantan gerakan Aceh Merdeka. Irwandi menuding, latihan itu dilakukan teroris, yang merupakan poros baru kelompok teroris Banten-Jawa Barat dan Jawa Tengah. Lebih spesifiknya mereka yang dari Banten itu berasal dari Pandeglang. Di Harian Kompas Rabu kemarin, Herman RN, salah seorang mahasiswa pasca sarjana Universitas Syah kuala Bandaaceh menulis, anggota Jamaah Islamiyah yang berada di Aceh berasal dari Pandeglang. Saat ini mereka masih melakukan latihan di Pegunungan Jantho Aceh.
Selain kasus suap dan korupsi berjamaah, kelompok teroris,belakangan nama kelompok Pandeglang juga dikaitkan dengan kelompok pencuri kendaraan bermotor di berbagai kota.
Lantas apa yang terjadi di Pandeglang hingga cerita-cerita buruk ini yang kemudian muncul? Salah apa Pandeglang, sehingga stigma buruk ini ditimpakan kepadanya? Kemana perginya tradisi religius dan semangat pantang menyerah orang –orang Pandeglang? Kemana perginya tradisi intelektual yang dipelopori Prof Bachtiar Rifai, Prof Herman Haeruman, Muchtar Mandala dan Kang Eki Sjahrudin?
Saya menghibur diri, dengan mengatakan masih banyak yang memiliki semangat dan tradisi itu. Saya beruntung menjadi saksi pada pengukuhan seorang saudara dan sahabat saya Dr Ibnu Hamad, dalam sebuah forum yang amat terhormat, menjadi seorang gurubesar di Universitas Indonesia, salah sebuah universitas yang membanggakan bagi
bangsa ini akhir Februari 2010 lalu. Momen itu jadi penghibur, ditengah kegalauan saya beberapa hari terakhir ini.
Lama mengenalnya. Dengan demikian, saya tahu persis, betapa kehormatan itu tak diperolehnya dengan mudah. Sebagai orang yang lahir di kabupaten yang sama, Pandeglang, saya tahu persis betapa Ibnu harus merebut dan mewujudkan cita-citanya dengan segala perjuangan. Berbagai keterbatasannya, mulai dari lingkungan , ekonomi, fasilitas belajar di sekolah hingga komitmen pemerintah daerah mendorong putra-putra terbaiknya untuk bisa sekolah di perguruan tinggi terbaik di negeri ini, menjadi sebuah contraint bagi berkembangnya bibit-bibit unggul seperti Ibnu ini.
Waktu itu, tak banyak lulusan SMA di kota kami yang mampu melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Keterbatasan ekonomi, fasitas, membuat kami tak mempu bersaing dengan rekan-rekan kami yang berasal dari kota-kota lain.
Namun saya menyaksikan beberapa diantara rekan kami, seperti ini Ibnu ini mampu keluar dari jebakan keterbatasan struktural. Ia tak pernah mempedulikan apakah pemerintah kabupaten mengalokasikan dana yang cukup bagi sekolah-sekolah menengah agar mengejar ketertinggalannya.
Yang dia lakukan adalah berangkat ke Depok dan berjuang disana. Ibnu tak sendirian, ada beberapa diantaranya punya potensi dan kemauan yang keras sepertinya, dan menuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi dan mereka kita menjadi “landmark” angkatan kami. Sebut saja Dr Mukhlis Yusuf, yang kini Dirut LKBN Antara dan Presiden Asosiasi Kantor Berita Asia Pasific (Oana), atau U Saefuddin Nur, Head of Syariah Banking CIMB Niaga yang sebelumnya sukses memimpin Bank Muamalat sebagi direktur. Rekan kami yang lain Agus M Tauchid (Kepala Dinas
Distanak Banten) dan Agus Mulyadi Randil (Kepala Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Banten) memilih mengabdikan diri sebagai birokrat di kampung halaman.
Saat mendengar pidato itu, pikiran saya menerawang. Saya bayangkan, kalau saja uang Rp 1,5 miliar yang digunakan untuk menyuap anggota DPRD itu digunakan untuk bea siswa anak-anak berbakat, betapa banyak anak-anak yang punya potensi bisa menyelesaikan sekolahnya. Katakannya untuk mencetak seorang sarjana diperlukan dana Rp 30 juta per orang, untuk membayar SPP dan biaya hidup. Maka selama 4 tahun ada 50 orang anak-anak muda berbakat, yang bisa diluluskan dan punya komitmen yang kuat untuk membangun daerahnya, dan pasti akan punya rasa malu, untuk korupsi jika dia bekerja, karena selama dia belajar dibiayai penuh oleh rakyatnya. Dan kalau setiap tahun pemerintah daerah mengalokasikan jumlah yang sama, berarti selama masa kepemimpinan seorang bupati atau kepala daerah ini, bisa melahirkan 250 anak berbakat menjadi sarjana, yang suatu waktu kelak akan menjadi bupati, anggota DPRD atau profesor seperti Ibnu Hamad.
Berkeliling ke pelosok Pandeglang dalam dua tahun terakhir ini, saya jadi memahami betapa banyaknya faktor pendorong yang menjadikan anak-anak muda itu bertekad keluar Pandeglang. Tak perlu terlalu jauh, di sepanjang jalur pariwisata utama poros Labuan-Tanjung Lesung-Sumur saja, infrastruktur jalan kian parah. Ditengah fragmentasi dan alih fungsi lahan yang terjadi begitu masih saat ini, sektor pertanian menjadi kian tak menarik banyak anak muda belakangan ini.
Berharap mengabdikan diri menjadi pegawai negeri. Ini juga tak mudah, hanya mereka yang beruntung bisa kuliah yang saat ini bisa jadi PNS.Itupun harus menyiapkan dana puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk menyuap agar bisa jadi PNS.
Terlalu utopis jika saya berharap, makin banyak anak-anak muda Pandeglang yang mampu keluar dari berbagai jeratan dan keterbatasan struktural, seperti yang dilakukan Ibnu, atau banyak juga anak-anak muda Pandeglang yang tergabung dalam kelompok aktivis Pandeglang yang muncul, dan tetap memilihara semangat berjuangnya macam Yogi, Tb Nuruljaman, Heru Fahrudin dan Uday Syuhada .
Maka dengan sedih hati saya katakan, mereka yang tersesat menjadi teroris atau menjadi kelompok pencuri kendaraan bermotor yang terkenal dengan nama kelompok Pandeglang, adalah mereka yang frustrasi, akan semua keterbatasan dan kemiskinan yang membelenggunya. Sementara mereka tahu persis, janji manis calon wakil rakyat yang kini duduk manis, dan calon pemimpin daerah yang kini bersiap membujuk mereka, yang berjanji memperbaiki kehidupan rakyat Pandeglang, hanya manis saat kampanye.Begitu terpilih nanti, mereka itu bakal sibuk melakukan pengumpulan
sumberdaya ekonomi, dan memperkuat jaringan kekuasaan untuk bersiap melanggengkan kekuasaan menuju pemilihan berikutnya. (*)
*Penulis adalah pekerja televisi