<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; banten</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/tag/banten/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 14:19:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>BARAKAH</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/08/06/barakah/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/08/06/barakah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Aug 2010 12:19:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[fokus]]></category>
		<category><![CDATA[Kiai]]></category>
		<category><![CDATA[penting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4205</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Langlang Randhawa*
Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen Langlang Randhawa*</p>
<p>Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung seksi elpiji yang larisnya minta ampun dan minta korban itu. Lupakanlah. Apalagi orang-orang pajak yang belakangan sibuk beriklan besar-besaran agar kamu taat pajak setelah pesta gede-gedean mereka sendiri dipromosikan media secara paksa. Mereka tidak penting. Semua itu hanya candaan. Goyunan saja. Aku. Aku ini yang penting buat kamu. Penting buat masa depan kamu dan keluargamu. Aku ini bermanfaat bagimu. Garansinya dunia akhirat, lho! Dengarkan baik-baik. Gawat kalau kamu tidak menyimak, apalagi tertidur.</p>
<p>”Baiklah. Aku akan simak.”</p>
<p>Nah begitu, dong. Tapi aku ingin kamu serius. Apakah kamu benar-benar?</p>
<p>“Insya Allah aku serius.”</p>
<p>Jangan pakai Insya Allah. Aku ragu dengan Insya Allah yang keluar dari mulutmu. Lha wong Insya Allah yang keluar dari bapakku juga aku masih tak percaya. Dia selalu berkata Insya Allah kalau diajak bersepakat, tapi dia selalu melupakan begitu saja.</p>
<p>”Ya, itu bukan salah Insya Allah-nya. Bapak kamu saja yang pikun!”</p>
<p>Eh, jaga mulutmu itu. Apakah kamu lupa, ayahku itu seorang kiai. Kiai besar. Tahukah kau, di mana? Di Banten! Banten. Semua orang tahu nama itu. Banten! Jangan gegabah kamu kalau bicara. Jika ayahku marah, maka seucap kata sekilat nyata! Wih!</p>
<p>”Iya.. Kiai juga manusia, bos! Dia bisa lupa. Khilaf. Seperti mereka juga.”</p>
<p>Siapa? Perasaan dari tadi di sini tak ada siapa-siapa, selain penjaga itu.</p>
<p>”Sudahlah. Sudah malam. Suaramu lebih berisik dari nyamuk broiler di sini! Kalau bukan karena ilmu barakah yang saya dapat waktu di pesantren, sudah aku sungsang kepalamu sampe isi kepalamu jadi koplak! Sudah! Aku mau tidur saja..”</p>
<p>Ah, jangan begitu kamu. Jangan dulu tidur. Ini sudah sepertiga malam. Segala pinta kita akan diijabah karena malaikat langsung yang turun melakukan checklist para manusia yang terjaga untuk beribadah. Apakah kau tidak pernah mendengar hal itu selama ini?</p>
<p>”Iya. Aku pernah mendengarnya. Tapi kita ini kan tidak sedang beribadah tahajjud atau bermunajat pada Allah. Kita ini hanya mengobrol ngalur ngidul nggak karuan lalu tidur saat bedug subuh menjelegur!”</p>
<p>Ha ha! Menjelegur? Apa itu menjelegur? Bahasamu berantakan. Sangat nampak lisanmu tidak tersentuh pelajaran balaghah, apalagi nahwu dan sharaf.</p>
<p>”Sudahlah.. jangan banyak cingcong! Aku mau tidur.”</p>
<p>Jangan dulu tidur. Apakah kau tidak tahu siapa aku?</p>
<p>”Tahu!”</p>
<p>Tahu dari mana kamu? Bukankah aku baru hari ini berada di sini?</p>
<p>”Bapakmu!”</p>
<p>Maksudmu apa?</p>
<p>”Bapakmu itu yang kiai adalah guru ngaji aku! Dia menitipkan dirimu padaku.”</p>
<p>Lha.. berarti kamu sudah tahu siapa aku?</p>
<p>”Ya iyalah.. kamu anaknya Kiai. Pasti mau ngomong, jika taik ayam kesayangan anak kiai saja harus dihormati dan dielus-elus, apalagi anaknya. Harus dihormati seperti buapak moyangnya juga. Supaya ilmuku manfaat dan masa depanku kelak penuh barakah! Betul?”</p>
<p>Ho-oh! Ya, betul. Itu betul; Insya Allah kamu barakah!</p>
<p>”Preeet!”</p>
<p>Hey, apa maksud bunyi dari mulutmu itu?</p>
<p>”Iseng saja. Sudah, aku mau tidur anak Pak Kiai! Cape, deh!”</p>
<p>Sstt…mudah-mudahan dia sudah tidur. Dasar mulut durhaka!</p>
<p>***</p>
<p>Eh, kau. Sudah bangun ternyata. Santai sekali kau. Bibirmu sudah basah dan perutmu nampak tambah menggembung. Ingin sekali aku pun demikian. Semoga kau paham. Eh, apakah aku boleh tahu, sudah jam berapakah ini? Nampaknya hari sudah siang. Aku harus shalat duha, supaya rizki ayahku melimpah di rumah. Tapi bisakah kau ambilkan sarapan dan minumanku. Insya Allah barakah..</p>
<p>”Iya, nanti diambilkan. Bukankah ayahmu sudah kaya di kampung. Buat apalagi kau mendo’akan ayahmu mendapatkan rizki melimpah?”</p>
<p>Oh, soal itu hanya Ayah saya yang tahu. Saya kurang paham soal itu. Nanti dia akan cerita kalau dia ke sini. Dia lebih ahli. Konon sih buat urusan aku di sini juga.</p>
<p>”Kan kamu anak kiai? Masa’ kamu tidak bisa menjelaskan.”</p>
<p>Iya, sih. Tapi kan kamu tahu, jika sesuatu perkara ditangani oleh bukan ahlinya, maka tunggulah saja kehancurannya. Sudah, ya. Aku mau shalat dulu..</p>
<p>”Shalat apa?”</p>
<p>Kan aku sudah bilang. Shalat duha. Gawat kamu ini! Pasti jarang baca Al-Qur’an sehingga kau cepat pelupa. Cepat pikun! Bacalah Al- Qur’an maka daya ingatmu kuat.</p>
<p>”Tapi kamu kan tidak shalat subuh tadi. Apa kamu tidak malu sama Allah.”</p>
<p>Kenapa harus malu dalam beribadah? Makanya ngajinya diselesaikan.</p>
<p>”Aneh. Kamu ini&#8230; yang wajib ditinggal, yang sunah dikejar.”</p>
<p>Yah, aku hanya ngalap barakah datangnya waktu duha saja. Lagian kalau tidak salah, ada satu ulama madzhab yang memberikan fasilitas qodho solat jika kesiangan. Kamu sih di sini saja. Tidak pernah mengaji. Agama menyediakan banyak fasilitas ibadah yang bisa dinikmati, lho. Agama itu memudahkan, tidak menyulitkan. Percayalah. Aku ini anak kiai.</p>
<p>”Huh! Anak kiai bongkrek! Ibadah kok buat main-main.”</p>
<p>Sudahlah. Ambilkan aku sarapan! Ilmumu belum sampai pada level sekelas aku. Kau hanya akan merasa emosi dan kesal padaku. Tapi percayalah itu hanya godaan. Semoga kau bersabar. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang sabar. Ambil sana. Insya Allah barakah.</p>
<p>“Preettt!”</p>
<p>Meledek lagi kamu? Cobalah… yang ikhlas kalau mau membantu anak kiai. Insya Allah barakah dunia dan akhirat. Sudah, ambil sarapan sana, aku mau shalat dulu.</p>
<p>”Lho nggak wudhu dulu?”</p>
<p>Tayamum di sini saja.</p>
<p>”Lho.. kan ada air di sana.”</p>
<p>Jauh. Kalau saya ke sana, bisa-bisa waktu afdhol shalat duha keburu habis. Sudahlah. Sekali lagi, banyak fasilitas ibadah yang belum kita cicipi. Asal kita yakin dan tau ilmunya saja. Bukan begitu? Ayo cepat, ambilkan aku sarapan.. Insya Allah kamu barakah!</p>
<p>”Preeett!”</p>
<p>Hih! Dasar mulut durhaka!</p>
<p>***</p>
<p>Innalillahi! Lama sekali kamu ini. Ditunggu dari tadi baru nongol! Ambil sarapan saja kayak santri gali sumur. Sini sarapannya. Aku sudah lapar. Kamu merusak segalanya!</p>
<p>”Maaf.. selain di sana ngantri, aku tadi jalannya santai. Aku pikir karena kamu akan shalat duha dulu. Setahuku, shalat duha itu rakaatnya banyak.”</p>
<p>Ah, kamu ini. Dasar santri tanggung. Pasti kamu mondoknya tidak selesai. Baru bisa pakai sarung dan masak jangan dulu pindah. Bahaya. Orang sepertimu membahayakan. Ilmumu melangit tidak, membumi juga nggak. Ibarat pohon, kamu ini bakal jadi tidak jelas pohon apa. Ke atas tak berbuah, ke bawah tak berumbi. Hanya diombang-ambing angin.</p>
<p>“Meski halus, tapi sebenarnya kasar sekali bahasamu! Apa salahku? Sudah diambilkan sarapan, masih saja ngotot. Dasar anak kiai jeblug! Balo, kamu!”</p>
<p>Hei! Hei! Hati-hati kalau bicara. Baca kembali adab lidah dalam kitab-kitab! Ingat, kamu ini sebenarnya sedang diuji kesabaran. Kalau pun aku marah padamu, itu karena aku gagal berkonsentrasi dalam menangkap waktu afdhol shalat duha. Kamu tahu kenapa?</p>
<p>“Nggak. Dan aku sudah malas mendengarnya.”</p>
<p>Astagfirullah, kamu ini! Aku tidak bisa khusyuk shalat duha lantaran aku lapar. Makanya aku tidak dulu shalat, dan menungguimu sejak tadi. Bukankah kamu pernah mendengar orang-orang berkata, lebih baik saat makan memikirkan shalat dari pada shalat malah memikirkan makan. Ini jelas sekali. Ini soal kekhusyukan. Penting sekali soal itu. Astagfirullah, ya kariiiiiimm! Sabar.. sabar, ya Allah. Kamu ini telah membuat aku rugi.</p>
<p>”Kamu yang membuat aku rugi!!”</p>
<p>Apa maksud kamu? Kamu sudah berani membantah anak kiai rupanya. Bisa tidak barakah hidup kamu nanti. Istighfar kamu segera. Baru diuji seperti ini saja sudah kalah.</p>
<p>”Aku rugi karena beberapa hari mubadzir mendengarkan ocehanmu yang kebelinger itu. Pemahaman agamamu semrawut dan nyeleneh. Gara-gara kamu aku jadi kehilangan jatah rokok dan kopi yang biasa aku ambil dari blok sebelah! Kamu ini tidak pantas jadi anak kiai!”</p>
<p>Lha! Kalau aku tidak pantas jadi anak kiai, lantas aku cocoknya jadi anak apa?</p>
<p>”Anak Dajjal!! Puass!!”</p>
<p>Hey, tunggu. Mau ke mana kamu!?</p>
<p>”Pindah blok! Meski aku penjahat, muak aku sama kamu!”</p>
<p>Lalu aku sama siapa di sini?</p>
<p>”Ada penghuni baru. Kayaknya kamu bakal cocok sama dia!”</p>
<p>Siapa dia? Di mana?</p>
<p>”Sebentar lagi juga datang. Kamu pasti kenal sama dia.”</p>
<p>Tapi kamu jangan meninggalkan amanat begitu saja. Kamu sudah diperintah bapakku untuk menemaniku. Kalau terjadi apa-apa denganku bagaimana. Bersabarlah. Maafkan jika aku tadi sedikit kasar. Biasalah anak muda. Oke? Insya Allah barakah jika kau tetap bersabar.</p>
<p>”Makan tuh barakah! Barakah dari mulutmu bobrok!!”</p>
<p>Pikirlah masak-masak sebelum memutuskan sesuatu.</p>
<p>”Ini sudah aku pikirkan. Tugasku sudah habis.”</p>
<p>Apa maksudmu berkata demikian. Ingatlah agama mengajarkan, sampaikanlah pesan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tuturkata yang lembut agar orang bersimpati.</p>
<p>”Baiklah.. wahai anak kiai yang baik, lihatlah itu. Penghuni baru sudah datang. Sambutlah dia dengan bahagia. Insya Allah kalian di sini bakal penuh barakah. Rizki mengalir meski hanya tidur-tiduran saja seharian. Soal makan, minum, dan rokok-mah gratis! Barakah! Itu dia, di belakangmu. Sambutlah teman barumu! Kata penjaga sih, demi membebaskan anaknya di penjara ini, dia menggelapkan dana honor tenaga pengajar madrasah yang diamanahkan padanya! Ngakunya sih, dia khilaf dan sudah memanfaatkan fasilitas agama bernama istighfar, tapi nampaknya enggak mempan, tuh. Lihatlah! Kau pasti mengenalnya. Selamat menikmati. Insya Allah barakah!”</p>
<p>Lho, Bapak!?</p>
<p><em>* Penulis adalah wakil presiden Rumah Dunia. Menulis novel Slonong Boy Millionaire (B-First Mizan Group: 2009) dan Merah Putih di Old Trafford (Kaifa Mizan Group: 2010). </em></p>
<p><em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/08/06/barakah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JANGAN JADI GILA KALO UDAH BELI &#8220;GILALOVA&#8221;</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/12/jangan-jadi-gila-kalo-udah-beli-gilalova/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/12/jangan-jadi-gila-kalo-udah-beli-gilalova/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 May 2010 00:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>
		<category><![CDATA[Forum Lingkar Pena]]></category>
		<category><![CDATA[GONG PUBLISHING]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3966</guid>
		<description><![CDATA[Nih, dia. 25 cerpenis keren anak muda Banten, yang akan membangkitkan  lagi tradisi menulis di Banten. Mereka siap mewarnai pasar novel remaja  nasional. Mereka adalah lulusan ‘Be A Writer” Kelas Menulis  Rumah Dunia  dan anggota Forum Lingkar Pena Banten.
Juni 2010 GONG PUBLISHING dengan bangga menerbitkan novel:
GILALOVA
Segila-gilanya Cinta
Kata Pengantar:
ENDANG RUKMANA
Calon BEST SELLER, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/05/cover-gilalova-RD-Com.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3967" title="cover gilalova RD Com" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/05/cover-gilalova-RD-Com.jpg" alt="" width="325" height="500" /></a>Nih, dia. 25 cerpenis keren anak muda Banten, yang akan membangkitkan  lagi tradisi menulis di Banten. <span id="more-3966"></span>Mereka siap mewarnai pasar novel remaja  nasional. Mereka adalah lulusan ‘Be A Writer” Kelas Menulis  Rumah Dunia  dan anggota Forum Lingkar Pena Banten.</p>
<p>Juni 2010 GONG PUBLISHING dengan bangga menerbitkan novel:</p>
<p>GILALOVA<br />
Segila-gilanya Cinta</p>
<p>Kata Pengantar:<br />
ENDANG RUKMANA</p>
<p>Calon BEST SELLER, deh!<br />
(tolong ini dilingkari kayak bintang boleh)<br />
“Cinta ibu buta, kita udah tahu. Tapi segila-gilanya cinta, apa seh?  Hanya ada di buku ini! Apa bener Gilalova bisa bikin kita gila? Cinta  sama temen, ortu, motherland, of course Sang Pencipta. Selain itu,  cerpen-cerpennya kenal dengan budaya Banten yang kuat. Ada pelet,  santet, jawara, tradisi muludan! Awas, jangan nggak baca, ntar malah  kamu jadi gila beneran, lho! Sueeeeer! (Gol A Gong, pendiri Rumah Dunia)<br />
GILA LOVA [Segilagilanya cinta] adalah 25 cerpenis muda keren asal  Banten,  hadir dengan kisah menarik yang berlatar belakang budaya dan  kondisi Banten. Ada pelet, santet, tradisi muludan. Dikemas dengan  cerita remaja, renyah, crispy, dan bikin ketagihan. Bertabur makna dalam  setiap detil alur yang diungkap dalam gaya bahasa beragam. Ini adalah  kumpulan cerpen pertama yang ditulis anak muda Banten tentang Banten.  Semakin seru. Ditulis oleh cerpenis yang karyanya banyak tersebar di  media nasional.</p>
<p>Keduapuluhlima cerpnis itu adalah :Akhelbri, Alia Husni, Ahmad Wayang,  Chenda Annain, Destyka Putri, Dinichi el Falasyi, Gayuh Permadi, Haula  Bilqis, Hilal Ahmad, Itara Senja, L Nurwaazzahra, Lala Sari Endah,  Mentari Senja, Muhzen Den, Naufal RM, Nabil Al Karim, Pipit Fiharsi,  Rama S Rachmat, Sam&#8217;un Husain, Sabrina Mumtaz, Swistien Kustantyana,  Tulip Agustin, Wanja Almunawar, dan Yuwi Manisa.</p>
<p>Tunggu Huni! Beredar di toko buku Gramedia dan Tisera. Beli! Kalo nggak  bila, kamu bakalna jadi gila, hehehee…</p>
<p>***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/12/jangan-jadi-gila-kalo-udah-beli-gilalova/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TBM@MALL TUNGGU KESIAPAN CARREFOUR</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/10/tbmmall-tunggu-kesiapan-carrefour/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/10/tbmmall-tunggu-kesiapan-carrefour/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 23:22:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>
		<category><![CDATA[Gol A Gong]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Serang]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Bacaan Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[TBM@mall]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3765</guid>
		<description><![CDATA[
Radar banten, 8 april 2010
SERANG – Pelaksanaan program taman bacaan masyarakat di pusat perbelanjaan modern atau lebih dikenal dengan istilah TBM@ Mall yang diluncurkan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) di Provinsi Banten, tinggal menunggu kesiapan Carrefour selaku mal yang ditunjuk Pemprov Banten sebagai tempat pelaksanaan program tersebut.
Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Nasional Gol A Gong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/CF-FB.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3763" title="CF FB" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/CF-FB.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Radar banten, 8 april 2010</p>
<p>SERANG – Pelaksanaan program taman bacaan masyarakat di pusat perbelanjaan modern atau lebih dikenal dengan istilah TBM@ Mall yang diluncurkan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) di Provinsi Banten, tinggal menunggu kesiapan Carrefour selaku mal yang ditunjuk Pemprov Banten sebagai tempat pelaksanaan program tersebut.<br />
Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Nasional Gol A Gong mengungkapkan, hingga saat ini manajemen Carrefour belum memberikan kepastian bisa dijadikan tempat TBM@Mall. “Mereka (Carrefour-red) beralasan belum menyampaikan program ini ke manajemen pusat Carrefour di Jakarta,” ungkap Gol A Gong, yang juga pendiri Taman Bacaan Masyarakat Rumah Dunia di Serang, terkait progress pelaksanaan program TBM@ Mall di Kota Serang, Rabu (7/4).<br />
Gol A Gong berharap, Carrefour sebagai mall pilihan pertama bisa segera memberi kepastian terkait kesiapannya mendukung program nasional yang bertujuan menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap budaya membaca ini. “Hal ini terkait dengan fungsi CSR (corporate social responsibility) Carrefour sebagai salah satu perusahaan yang berusaha di Banten,” katanya.<br />
Terkait dukungan Pemprov, dalam hal ini Dinas Pendidikan (Dindik), Gol A Gong menyatakan mendukung penuh. “Selain siap memberi dukungan berupa sarana prasarana taman bacaan, seperti buku, Dindik Banten juga siap mengarahkan Dindik kabupaten/kota untuk memberi dukungan serupa,” ujarnya.<br />
<a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/CF-RDcom.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3764" title="CF RDcom" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/CF-RDcom.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a>Ditemui terpisah, Kepala Dindik Provinsi Banten Eko E Koswara memaparkan, pelaksanaan program TBM@Mall di Kota Serang merupakan percontohan bagi daerah lainnya di Indonesia mengenai model taman bacaan masyarakat di pusat perbelanjaan. “Selain Kota Serang, ada dua daerah lain yang ditunjuk Kemendiknas sebagai program percontohan yakni Jakarta dan Makassar. Untuk tahun ini memang hanya tiga provinsi yang dijadikan model percontohan program TBM@ Mall yaitu Banten, DKI Jakarta, dan Sulawesi Selatan,” paparnya, seraya menambahkan, program TBM@ Mall akan dilaunching pada 2 Mei 2010, bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional. (ila)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/10/tbmmall-tunggu-kesiapan-carrefour/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KELOMPOK PANDEGLANG</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/14/kelompok-pandeglang/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/14/kelompok-pandeglang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 23:13:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>
		<category><![CDATA[Kelompok intelektual Pandeglang]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/2010/03/14/kelompok-pandeglang/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Machsus  Thamrin*
Ada yang hilang dari genggaman tangan, dan meluncur lewat sela-sela jari (Taufik Ismail)
AKSI  tembak-tembakan ala koboi yang  diperagakan polisi di Pamulang Selasa lalu dan di Aceh Besar beberapa hari terakhir, mengusik  hati saya.Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, mengatakan  latihan yang dilakukan kelompok yang diduga teroris itu tak dilakukan oleh mantan gerakan Aceh Merdeka. Irwandi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Machsus  Thamrin*</p>
<p><em>Ada yang hilang dari genggaman tangan, dan meluncur lewat sela-sela jari (Taufik Ismail)</em></p>
<p>AKSI  tembak-tembakan ala koboi yang  diperagakan polisi di Pamulang Selasa lalu dan di Aceh Besar beberapa hari terakhir, mengusik  hati saya.Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, mengatakan  latihan yang dilakukan kelompok yang diduga teroris itu tak dilakukan oleh mantan gerakan Aceh Merdeka. Irwandi menuding, latihan itu dilakukan teroris, yang merupakan poros baru kelompok teroris Banten-Jawa  Barat dan Jawa Tengah. Lebih spesifiknya mereka yang dari Banten itu berasal dari Pandeglang. Di Harian Kompas Rabu kemarin, Herman RN, salah seorang mahasiswa pasca sarjana Universitas Syah kuala Bandaaceh menulis, anggota Jamaah Islamiyah yang berada di Aceh berasal dari Pandeglang. Saat ini mereka masih melakukan latihan di Pegunungan Jantho Aceh.</p>
<p>Selain kasus suap dan korupsi berjamaah, kelompok teroris,belakangan nama kelompok Pandeglang juga dikaitkan dengan kelompok pencuri kendaraan bermotor di berbagai kota.</p>
<p>Lantas apa yang terjadi di Pandeglang hingga cerita-cerita  buruk ini yang kemudian muncul? Salah apa Pandeglang, sehingga stigma buruk ini ditimpakan kepadanya? Kemana perginya tradisi religius dan semangat pantang menyerah orang –orang Pandeglang? Kemana perginya tradisi intelektual yang dipelopori Prof Bachtiar Rifai, Prof Herman Haeruman, Muchtar Mandala dan Kang Eki Sjahrudin?</p>
<p>Saya menghibur diri, dengan mengatakan masih banyak yang memiliki semangat dan tradisi itu.  Saya beruntung menjadi saksi pada pengukuhan seorang saudara dan sahabat saya Dr Ibnu Hamad, dalam sebuah forum yang amat terhormat, menjadi seorang gurubesar di Universitas Indonesia, salah sebuah universitas yang membanggakan bagi<br />
bangsa ini akhir Februari 2010 lalu. Momen itu jadi penghibur, ditengah kegalauan saya beberapa hari terakhir ini.</p>
<p>Lama mengenalnya. Dengan demikian, saya tahu persis, betapa kehormatan itu tak diperolehnya dengan mudah. Sebagai orang yang lahir di kabupaten yang sama, Pandeglang, saya tahu persis betapa Ibnu harus merebut dan mewujudkan cita-citanya dengan segala perjuangan. Berbagai keterbatasannya, mulai dari lingkungan , ekonomi, fasilitas belajar di sekolah  hingga komitmen pemerintah daerah mendorong putra-putra terbaiknya untuk bisa sekolah di perguruan tinggi terbaik di negeri ini, menjadi sebuah contraint bagi berkembangnya bibit-bibit unggul seperti Ibnu ini.</p>
<p>Waktu itu, tak banyak lulusan SMA di kota kami yang mampu melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Keterbatasan ekonomi, fasitas, membuat kami tak mempu bersaing dengan rekan-rekan kami yang berasal dari kota-kota lain.</p>
<p>Namun saya menyaksikan beberapa diantara rekan kami, seperti ini Ibnu  ini mampu keluar dari jebakan keterbatasan struktural. Ia tak pernah mempedulikan apakah pemerintah kabupaten mengalokasikan dana yang cukup bagi sekolah-sekolah menengah agar mengejar ketertinggalannya.</p>
<p>Yang dia lakukan adalah berangkat ke Depok dan berjuang disana. Ibnu tak sendirian, ada beberapa diantaranya punya potensi dan kemauan yang keras sepertinya, dan menuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi dan mereka kita menjadi “landmark”  angkatan kami. Sebut saja  Dr Mukhlis Yusuf, yang kini Dirut LKBN Antara dan  Presiden Asosiasi Kantor Berita Asia Pasific (Oana), atau U Saefuddin Nur, Head of Syariah Banking CIMB Niaga yang sebelumnya sukses memimpin Bank Muamalat sebagi direktur. Rekan kami yang lain  Agus M Tauchid (Kepala Dinas<br />
Distanak Banten) dan Agus Mulyadi Randil  (Kepala Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Banten) memilih mengabdikan diri sebagai birokrat di kampung halaman.</p>
<p>Saat mendengar pidato itu, pikiran saya menerawang. Saya bayangkan, kalau saja uang Rp 1,5 miliar yang digunakan untuk menyuap anggota DPRD itu digunakan untuk bea siswa anak-anak berbakat, betapa banyak  anak-anak yang punya potensi bisa menyelesaikan sekolahnya. Katakannya untuk mencetak seorang sarjana diperlukan dana Rp 30 juta per orang, untuk membayar SPP dan biaya hidup. Maka selama 4 tahun ada 50  orang anak-anak muda berbakat, yang bisa diluluskan dan punya komitmen yang kuat untuk membangun daerahnya, dan pasti akan punya rasa malu, untuk korupsi jika dia bekerja, karena selama dia belajar dibiayai penuh oleh rakyatnya. Dan kalau setiap tahun pemerintah daerah mengalokasikan jumlah yang sama, berarti selama masa kepemimpinan seorang bupati atau kepala daerah ini, bisa melahirkan 250 anak berbakat menjadi sarjana, yang suatu waktu kelak akan menjadi bupati, anggota DPRD atau profesor seperti Ibnu Hamad.</p>
<p>Berkeliling ke pelosok Pandeglang dalam dua tahun terakhir ini, saya jadi memahami betapa banyaknya faktor pendorong yang menjadikan anak-anak muda itu bertekad keluar Pandeglang. Tak perlu terlalu jauh, di sepanjang jalur pariwisata utama poros Labuan-Tanjung Lesung-Sumur saja, infrastruktur jalan kian parah. Ditengah fragmentasi dan alih fungsi  lahan yang terjadi begitu masih saat ini, sektor pertanian menjadi kian tak menarik banyak anak muda belakangan ini.</p>
<p>Berharap mengabdikan diri menjadi pegawai negeri. Ini juga tak mudah, hanya mereka yang beruntung bisa kuliah yang saat ini bisa jadi PNS.Itupun harus menyiapkan dana puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk  menyuap agar bisa jadi PNS.</p>
<p>Terlalu utopis jika saya berharap, makin banyak anak-anak muda Pandeglang yang mampu keluar dari berbagai jeratan dan keterbatasan struktural, seperti yang dilakukan Ibnu, atau banyak juga anak-anak muda Pandeglang yang tergabung dalam kelompok aktivis Pandeglang  yang  muncul, dan tetap memilihara semangat berjuangnya  macam Yogi, Tb Nuruljaman, Heru Fahrudin  dan Uday Syuhada .</p>
<p>Maka dengan sedih hati saya katakan, mereka yang tersesat menjadi teroris atau menjadi kelompok pencuri kendaraan bermotor yang terkenal dengan nama kelompok Pandeglang, adalah mereka yang frustrasi, akan semua keterbatasan dan kemiskinan  yang membelenggunya. Sementara mereka tahu persis, janji manis calon wakil rakyat yang kini duduk manis, dan calon pemimpin daerah yang kini bersiap membujuk mereka, yang berjanji memperbaiki kehidupan rakyat Pandeglang, hanya manis saat kampanye.Begitu terpilih nanti, mereka itu  bakal sibuk melakukan pengumpulan<br />
sumberdaya ekonomi, dan memperkuat jaringan kekuasaan untuk bersiap melanggengkan kekuasaan menuju pemilihan berikutnya. (*)</p>
<p>*Penulis adalah pekerja televisi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/14/kelompok-pandeglang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BABI NGEPET BUKU</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/09/babi-ngepet-buku/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/09/babi-ngepet-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 13:41:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>
		<category><![CDATA[iqro]]></category>
		<category><![CDATA[perpus]]></category>
		<category><![CDATA[plato]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3492</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Langlang Randhawa*
Alkisah, Banten punya taman budaya yang megah. Gedung berlantai lima  yang berdiri di atas tanah bekas gedung kegubernuran Banten itu ramai  dengan diskusi mengalahkan hiruk-pikuk mall-mall. Selain berada di  jantung kota dan mewah, fasilitasnya pun mengalahkan Gedung Putih  Amerika; kenyamanan, keamanan, pelayanan, dan kebersihan sangatlah  terjaga dan tertata. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen Langlang Randhawa*</p>
<p>Alkisah, Banten punya taman budaya yang megah. Gedung berlantai lima  yang berdiri di atas tanah bekas gedung kegubernuran Banten itu ramai  dengan diskusi mengalahkan hiruk-pikuk mall-mall. Selain berada di  jantung kota dan mewah, fasilitasnya pun mengalahkan Gedung Putih  Amerika; kenyamanan, keamanan, pelayanan, dan kebersihan sangatlah  terjaga dan tertata. Ada perpustakaan di setiap sudut-sudut ruangan. Pun  di toilet. Akses internet gratis dan loadingnya secepat kilat  tergesa-gesa. Gedung itu sudah mencerdaskan warga Banten. Anak-anaknya  sehat dan cerdas. Pemudanya kritis dan santun. Pejabatnya bijak dan  berwibawa. Ekonomi rakyatnya sejehtera. Jalanan licin dan infastruktur  tertata rapih. Wisatanya menggeliat pesat. Tak ada lagi cottage yang  memagari pantai. Panorama lepas pandang pantai dan nelayan yang melaut  di samudra biru ternyata kunci sukses wisata bahari Banten. Investor  mengantri. Korupsi, kolusi, dan nepotisme sudah mati. Banten pun  diprediksi selamat dunia akhirat oleh para pengamat kehidupan dan  kematian. Sungguh prestasi yang didamba umat bangsa. Banten pun segera  menjadi kiblat peradaban dunia.</p>
<p>Suksesi ini hasil kerja sampingan. Tidak capek, dan sangat menyenangkan.  Kerja sambilan seorang pemuda tampan dan cerdas. Pemuda yang selalu  bermimpi. Pemuda yang bertahun-tahun bermimpi mendamba gedung kesenian  dan taman budaya. Baginya, setelah ada gedung kesenian dan taman budaya  yang mewah dan Islami, masyarakat akan cerdas sendiri. Cerdas Islami  berarti menuju sejahtera. Dia tidak harus memantau. Tidak repot. Tidak  ribet. Hidup pun bergairah. Penuh semangat. Semuanya aman. Polisi  tinggal santai karena warga tertib lalu-lintas. Hakim dan jaksa  menikmati hidup saja karena tak ada kasus di persidangan. Tak ada  maling, pengemis, anak jalanan. Semuanya sudah sejahtera. Kini pekerjaan  pemuda itu belajar dan belajar. Memimpin Banten adalah side job. Pemuda  itu memang fenomenal. Kiprahnya menggegerkan dunia. Entah dari mana,  buku-buku terbaru dari dalam dan luar negeri sudah ia koleksi dengan  cepat. Sebagian buat pribadi dan lainnya untuk perpustakaan. Maka  jadilah Banten jadi rujukan referensi pelajar, mahasiswa, dan kaum  intelektual dunia. Perpustakaan Leiden, Belanda, terancam tutup! Pemuda  ini benar-benar fantastic dan fenomenal. Sangat menggemparkan jagat raya  sesuai namanya yang dahsyat; Gel Egar! Yah, pemuda itu bernama Gel  Egar. Tapi di sini Anda cukup panggil saja dia Egar. Si Egar!</p>
<p>***</p>
<p>Gel Egar dulunya bernama Gel Isah. Sejak kecil ia selalu gelisah.  Gelisah jika ada sesuatu yang berantakan. Gelisahi apa saja. Gelisah  tentang masa depan anak-anak Banten. Gelisah jalan berantakan. Gelisah  sulit mencari buku. Gelisah masyarakat yang bodoh. Ia juga gelisah jika  teman-temannya hendak datang sementara rumahnya berantakan. Gelisah  membuatnya sibuk sendiri. Gelisah menjadikannya menyelesaikan segala hal  yang tidak beres sendirian. Gelisah membuatnya perfeksionis. Gelisah  pun membuatnya jadi anak laki-laki yang sedikit girly. Hingga remaja, ia  tidak gelisah saat temannya memanggilnya Neng Isah. Ia hanya  menggelisahi orang lain bukan dirinya sendiri. Gelisah pada cita-cita  Banten pun mengakibatkannya datang kepada seorang dukun intelektual  bernama Ki Cendiki Awan.</p>
<p>“Apa yang kau inginkan, Isah?”<br />
“Sesuatu yang bisa membuatku tidak gelisah dan membuat kotaku jaya, Ki.”<br />
“Itu gampang, Isah. Syaratnya cuma satu.”<br />
“Apa itu, Ki Cendik?”<br />
“Sebelum saya jawab, apakah kamu tidak gelisah dengan namamu, Isah?”<br />
“Tidak, Ki. Namaku memang Gel Isah sejak dulu.”<br />
“Baiklah. Syaratnya cuma satu. Kamu harus mengganti nama, Isah.”<br />
“Ganti nama? Tidak apa. Apa itu, Ki?”<br />
“Ganti namamu dengan Gel Egar!”<br />
“Gel Egar? Baiklah. Aku permisi kalau begitu.”<br />
“Tunggu Egar! Bawa benda ini!”<br />
“Apa ini?”<br />
“Itu lilin pintar dan buku cerdas dari Cina, Egar. Ilmu babi ngepet  buku!”<br />
“Babi ngepet buku? Caranya bagaimana?”<br />
“Nyalakan lilin itu tengah malam. Dirikan di atas buku.”<br />
“Lalu aku yang jadi babi? Aku tidak tertarik.”<br />
“Tidak. Kau akan jadi Egar saja. Biarkan babi biru yang bekerja. Babi  ini akan menarik buku-buku yang kau inginkan. Kapan dan di mana pun. Kau  akan jadi terkenal karena cerdas. Cerdaskan dirimu, lalu cerdaskan  orang lain! Maka dengan sendirinya kotamu akan jaya. Kau akan sukses.  Sukses itu, pemerintahannya jalan, pemimpinya jalan-jalan.”<br />
“Menarik. Lalu apa aku harus cari tumbal?”<br />
“Tidak perlu. Babi ini sudah saya gajih. Dia tidak akan minta apa-apa.”<br />
“Baguslah kalau ia sadar posisi dan professional.”<br />
“Tapi ada satu syarat lagi, Egar!”<br />
“Apa itu, Ki?”<br />
“Jika sudah dapat bukunya, baca!”<br />
“Okeleh kalo begitu.”</p>
<p>***</p>
<p>Membaca membuat Egar cerdas. Cerdas membuatnya menjadi macho. Keren dan  kekar. Wajahnya bersih berseri. Jalannya berwibawa penuh senyum  berpesona. Egar Jadi buruan wartawan oleh ketenarannya. Kebanggan kepala  sekolah oleh prestasinya. Impian rektor karena kritis dan vokal. Idola  gadis jelita oleh lenjang dan ranggi tubuhnya. Idaman calon mertua oleh  budi dan dayanya. Tapi Egar tetap tegar. Ia biasa saja. Tidak sombong  dan tidak tergesa-gesa untuk menikah. Egar masih haus belajar. Egar  ingin lebih menggelegar. Ia asyik menarik buku-buku dengan babi bukunya.  Egar kaya dengan buku. Egar aman, karena tak ada satu pun orang yang  curiga. Tak banyak yang merasa kehilangan buku. Hanya beberapa gelintir  saja. Selebihnya orang-orang masa bodoh pada buku. Mereka hanya senang  mengkoleksi. Tidak ada lemari buku di rumah pada masa ini adalah sebuah  aib besar. Seperti aib dan cacat intelektual bagi Egar yang ditanya  wartawan filsafat, lalu tak bisa menjawabnya.</p>
<p>“Egar, Anda sebagai orang cerdas, saya mau konfirmasi sebentar. Bisa?”<br />
“Bisa. Soal apa?”<br />
“Ada beberapa pertanyaan.”<br />
“Apa saja?”<br />
“Di mana adanya Tuhan menurutmu?”<br />
“Lalu?”<br />
“Takdir itu apa, Egar?”<br />
“Yang lain?”<br />
“Soal setan dan nereka. Setan terbuat dari api. Neraka penuh bara.  Bagaimana Anda menyikapi kebijakan Tuhan yang hendak menghukum setan di  neraka. Secara logika, setan tidak akan menderita. Seharusnya api  dihukum di surga yang konon penuh air mengalir dan danau yang mempesona  supaya kobarannya padam. Ada komentar?”<br />
“Tidak ada.”<br />
“Kenapa, Egar?”<br />
“Untuk urusan ini kalianlah yang lebih tahu.”<br />
“Dari mana Anda berkesimpulan demikian?”<br />
“Kerena tugas filsafat bukan hanya bertanya, tapi juga menjawab dengan  benar.”<br />
“Oke. Saya sepakat. Tapi untuk tiga pertanyaan tadi kami tidak bisa.”<br />
“Kalai begitu bubarkan filsafat. Mubadzir otak kalian. Permisi!”<br />
“Okelah kalo begitu.”</p>
<p>***</p>
<p>Banten kian makmur, Egar pun sibuk kembali belajar. Ada pertanyaan yang  selama ini belum terjawab dalam hidupnya. Gara-gara wartawas filsafat.  Meski Egar terlihat cuek, tepi ia tetap saja memikirkannya. Soal takdir  manusia. Soal setan dan neraka. Hingga soal keberadaan Tuhan. Buku-buku  Egar tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Tokoh ulama dan  cendikia terlalu bertele-tele dan gagasanya berloncat-loncatan  memaparkan. Tidak jelas siapa ngomong apa. Egar tidak pernah puas. Meski  demikian, ia sendiri tidak pernah menyerah berusaha bersama si babi  biru. Ia terus membaca buku-buku terbaru hasil gesekan babi biru.  Buku-buku best seller. Mega best seller. Nasional dan internasional best  seller. Jika tidak didapat, maka ia akan mencari buku yang lain. Jika  Indonesia dan negara-negara asia tidak bisa menjawab, maka ia akan lari  ke negeri timur tengah. Gagal di timur tengah, meski tidak yakin, ia  akan lari ke negeri eropa untuk menemukan jawabannya. Egar tetap tidak  bisa mencari jawabannya.</p>
<p>Malam ini Egar sangat gelisah. Hari-harinya menjadi kian sibuk dan  semakin jauh dari Banten. Semakin lama meninggalkan rumah dan ibunya  sendirian. Ia khawatir umurnya akan habis, sementara jawaban itu belum  juga ditemukan. Egar pun kalah. Ia ingin curhat pada si babi biru doyan  buku. Segera ia nyalakan lilin yang sudah pendek. Diletakkannnya lilin  yang sudah menyala di atas buku tebal bergambar cover babi biru.  Seketika gambar babi biru itu meloncat keluar dari buku. Menjelma jadi  babi yang cute imut namun penuh wibawa.</p>
<p>“Pengen buku apa lagi, Tuan Egar?”<br />
“Tidak. Aku hanya minta saran.”<br />
“Saran?”<br />
“Ya. Karena kamu suka baca. Aku pikir kamu lebih cerdas dari manusia.”<br />
“Tidak sepenuhnya betul. Tapi bisa juga.”<br />
“Sudahlah. Aku anggap kamu cerdas. Aku pusing, Biru.”<br />
“Pusing tiga pertanyaan itu?”<br />
“Ya. Kau memang cerdas.”<br />
“Saran saya pulanglah ke Banten.”<br />
“Tidak. Banten sudah jaya. Ia bisa jalan sendiri.”<br />
“Bukan itu maksdukku, Tuan Egar. Temui ibumu.”<br />
“Ibu?”<br />
“Ibumu akan menyelesaikan masalahmu.”<br />
“Tidak. Aku tidak mau membebani dia. Ibu sudah tua. Tidak juga bisa  membaca.”<br />
“Tapi dia cerdas. Cerdas tidak harus rajin membaca. Dia cerdas  mengamati.”<br />
“Sudahlah. Aku minta saran lain.”<br />
“Tidak ada.”<br />
“Kenapa?”<br />
“Hari ini terakhir saya terakhir menemanimu, Tuan Egar.”<br />
“Oh iya. Cepet sekali. Tak terasa kerjasama kita akan berakhir.”<br />
“Begitulah. Jika tidak percaya, silahkan cek di MoU.”<br />
“Tidak usah. Aku percaya.”<br />
Egar diam sejenak. Pusing rupanya dia. Gara-gara wartawan filsafat  sialan.<br />
“Tuan Egar, karena kerja sama kita tanpa cacat. Saya akan kasih bonus.”<br />
“Apa itu, Biru?”<br />
“Sebenernya limit alokasi gesekanmu sudah habis. Tapi saya akan beri  kamu gesekan bonus yang juga berlaku buat menarik apa saja. Termasuk  menarik ibumu ke sini.”<br />
“Benarkah?”<br />
“Ya. Kamu mau.”<br />
“Ya. Aku mau.”<br />
Babi biru doyan buku segera menggesek-gesekkan badannya di tembok. Tak  butuh waktu lama, tiba-tiba Gele Pokh, ibunya Gel Egar menjelma bersama  cahaya putih.<br />
“Ibu!”<br />
“Lha! Egar? Ini di mana?”<br />
“Ini di rumah Egar, Bu. Di kawasan Real Madrid.”<br />
“Lha! Kenapa bisa begini. Bukannya tadi ibu masih di stasiun  Rangkasbitung!?”<br />
“Ibu sedang apa sampe ke Rangkas segala? Egar yang bawa ibu ke sini.”<br />
“Yah!”<br />
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi  refleks.<br />
“Yah! Padahal ibu lagi transaksi jual tikar! Batal, deh. Uangnya hilang.  Cape, deh!”<br />
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi  refleks.<br />
“Buat apa kamu bawa ibu ke sini, Egar?”<br />
“Mau tanya sesuatu. Tentang di mana Tuhan? Apa itu takdir? Kenapa setan  dimasukan ke neraka, padahal ia juga terbuat dari api? Tidak sakit dong  setan.”<br />
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi  refleks.<br />
“Lha kok ditampar lagi?”<br />
“Egar. Gitu aja tidak bisa. Mubadzir otak kamu itu. Buat apa kuliah  jauh-jauh!”<br />
“Emang ibu tau?”<br />
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi  refleks.<br />
“Kak ditampar lagi?”<br />
“Itu jawabannya. Sakitkan?”<br />
“Iya.”<br />
“Sakit itu seperti apa. Itulah Tuhan. Terasa namun tidak nampak.”<br />
“Pernah berfikir kamu akan ditampar ibu seperti ini?”<br />
“Tidak.”<br />
“Itulah takdir.”<br />
“Tangan ibu kulit. Pipimu juga kulit. Tapi sakit kan?”<br />
“Iya. Setan. Api dan api bisa menyakitkan. Seperti kulit dan kulit tadi.  Puas?”<br />
“Okelah kalo begitu.”<br />
Alkisah, Egar dan ibunya pulang kampung ke Banten. Ia terpesona melihat  Banten. Di negerinya banyak orang berdiskusi dan mengaji. Betapa  kagetnya Egar melihat Socrates dan Plato sedang belajar Iqro pada ustadz  Sanusi. Sastrawan-sastrawan sudah menjadi ulama.<br />
“Manteplah kalau begini!”</p>
<p>======<br />
*Warga Tangerang, penulis novel Slonong Boy Millionaire.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/09/babi-ngepet-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ANTARA RABEG BANTEN DAN ARAB SAUDI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/20/antara-rabeg-banten-dan-arab-saudi/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/20/antara-rabeg-banten-dan-arab-saudi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 14:07:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Artis]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3001</guid>
		<description><![CDATA[RABEG BANTEN DAN ARAB
Oleh Harir Baldan
Bicara Arab Saudi dengan Indonesia bukan hanya soal ibadah haji saja. Lebih dari itu, persoalan makanan pun masih ada kaitannya. Konon  di daerah Arab ada sebuah kota yang bernama Rabeg. Sebagaimana kita tahu, Rabeg adalah makanan khas Banten. Hal ini diungkapkan oleh H. Naswi (55), pemilik rumah makan Rabeg di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/X.jpg"><img class="size-medium wp-image-3002 alignleft" title="X" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/X-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>RABEG BANTEN DAN ARAB</p>
<p>Oleh Harir Baldan</p>
<p>Bicara Arab Saudi dengan Indonesia bukan hanya soal ibadah haji saja. Lebih dari itu, <span id="more-3001"></span>persoalan makanan pun masih ada kaitannya. Konon  di daerah Arab ada sebuah kota yang bernama Rabeg. Sebagaimana kita tahu, Rabeg adalah makanan khas Banten. Hal ini diungkapkan oleh H. Naswi (55), pemilik rumah makan Rabeg di jalan Mayor Syafe’I No.30, kampung Magersari, Serang. “Tepatnya antara Mekkah dan Madinah ada satu kota bernama Rabeg,” kata H. Naswi mantap. Menurut ceritanya lagi, di kota itu tersedia makanan khas dari daging kambing. Namun dikenalnya bukan Rabeg. Sedangkan di kota Serang Rabeg merupakan salah satu panganan khas Banten. “Mungkin nama Rabeg sebagai makanan khas Banten itu diambil dari sana (Kota Rabeg-red),” ujarnya lagi. Rabeg hanya bisa ditemukan di Kota Serang, salah satunya Rabeg H. Naswi.</p>
<p>SEJAK MASA SULTAN</p>
<p>Bicara sejerah Rebeg sendiri di Banten. Konon, menurut H. Naswi Rabeg sudah ada sejak jaman pemerintahan Sultan Hasanudin Banten. Hingga saat ini makanan yang terbuat dari daging kambing itu masih dipertahankan. Bahkan setiap kali ada acara pernikahan, khitanan, dan acara lainnya selalu dijadikan menu utamanya.</p>
<p>Karena sudah jadi tradisi warga Serang, maka kakek dan orangtua H. Naswi pun berjualan Rabeg. Saat itu, panganan khas ini dijual kala ada acara tontonan tradsional warga seperti: Ubrug, wayang, dan jaipongan. “Dahulu jualannya di Tegal Lembau yang kini jadi Komplek Titan Arum, Legok, Serang,” terang suami Hj. Sumiati ini.</p>
<p>Kata orang bijak, mewariskan harta kepada anak-cucu lama-lama akan habis juga, apalagi jika tak mampu menjalankannya. Tapi jika anak-cucunya diwariskan ilmu dan pengalaman maka sampai tujuh turunan pun tak akan habis. Hal itu pun dialami H. Naswi dengan ilmu dan pengalaman yang didapatkan dari orangtuanya yang kemudian dipraktekkan sendiri dengan membuka usaha Rabeg. “Tahun 1975 saya sudah fokus jualan sendiri,” akunya. Saat itu perputaran roda usaha H. Naswi masih dalam tahap penjajakan. Untuk memasarkannya dia mesti berpindah-pindah tempat; di Kota Cilegon dari tahun 1975-1976, lalu pindah ke Pasar Lama 1977-1982, Pasar Induk Rau 1982-1997, Kantin di Pengadilan Negeri Serang pada 1997-2006 dan di Jalan Mayor Safe’I, Margersari, Serang dari tahun 2006 sampai sekarang. Kendati penjual rabeg banyak ditemukan di Kota Serang, Lelaki bercucu empat ini tak takut dengan persaingan tersebut. Menurutnya, setiap olahan punya cita rasa khas masing-masing. Dia pun tak ragu-ragu memberitahukan soal resep bahan dan cara pembuatannya. Adapun bahan-bahan Rabeg khas H. Naswi adalah daging kambing, merica, bawang merah, bawang putih, jahe, laos, kayu manis, pala, kecap, garam, minyak sayur, dan cuka. Cara pembuatannya sendiri tidak terlalu rumit. Daging kambing direbus sekitar 30 menit, diangkat lalu ditiriskan.  Iris-iris daging kambing seukuran dadu. Lalu tumis semua bahan bumbu, kecuali garam, merica, kecap, dan cuka, yang sudah disisir. Setelah itu masukkan daging yang sudah diiris tadi. Tuangkan air sisa rebusan. Lalu diberi kecap, merica, cuka, garam secukupnya sampai daging benar-benar empuk.</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Y.jpg"><img class="size-medium wp-image-3003 alignleft" title="Y" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Y-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>DIKUNJUNGI ARTIS</p>
<p>Warung makan Rabeg H. Naswi buka dari pukul 08.00 s/d 21.00 WIB. Buat Anda yang belum sarapan, atau makan siang bisa mampir ke tempatnya. Cukup mengeluarkan uang Rp 13.ribu maka Anda sudah bisa menikmati seporsi Nasi Rabeg. Namun jika kamu ingin makan Rabegnya saja tanpa nasi, justru lebih murah hanya merogoh kocek Rp 10 ribu. Aroma khasnya juga lebih berasa.</p>
<p>Selain Rabeg, di sini juga juga tersedia nasi uduk, nasi putih, empal, sate kambing dan sapi, sop kambing dan sapi, soto kambing dan sapi, dan ayam bakar. untuk menambah kenikmatan tersaji juga jus alpukat, jus jeruk, air mineral, dan soft drink sprite, coca cola, dan fanta, yang bisa menyegarkan tenggorokan.</p>
<p>Menurut H. Naswi sehari warung Rabegnya bisa menghabiskan sepuluh kilogram daging. Soalnya pengunjungnya aja dari beragam kalangan. “Selain masyarakat biasa, rumah makan saya juga pernah dikunjungi artis seperti, William Wongso, Didin Bagito, Beno Bolue, Dorce Gamalama, dan Pak Hutama (Cinta Fitri),” ujarnya.</p>
<p>Menurut pengakuan salah satu pengunjung, Rabeg H. Naswi ini beda dengan yang lain. “Rasanya enak, sih. Rasanya beda apalagi kuahnya,” kata Eris, pegawai Kanwil Kota Serang, yang sering berkunjung ke warung nasi Rabeg. Saking enaknya jadi sering mampir lagi. Kebanyakan tempat-tempat makan atau restoran tetap buka dihari libur namun rumah makan Rabeg, H. Naswi malah tutup. “Karena tiga karyawan saya masih muda-muda jadi saya liburkan saja. Biar menikmati hiburan,” jelasnya.</p>
<p>MALAYSIA</p>
<p>Tidak stabilnya harga sembako dan daging menjadi kendala dan keluhan para pedagang, terutama pedagang kecil. Dampak ini sudah pasti berpengaruh pada mutu dan kualitas makanan tersebut. Apalagi untuk saat ini harga kambing Rp 45.ribu perkilogram. “Kalau harga beli naik, jual pun kami naikkan,” tutur bapak dari Aulia ini. Selain khas Serang, katanya lagi, tetap tak mengurangi bahan sedikitpun. Karena jika sampai dikurangi maka rasa dan aroma khasnya akan sedikit hilang. Karena olahannya memberikan rasa yang istimewa, H. Naswi pernah ditawari rekannya untuk buka cabang di Tangerang, Bandung, Malaysia, Singapura. Namun, dia menolak karena alasan usia. Luar biasa. Ternyata Rabeg Serang dilamar untuk buka cabang di Malaysia dan Singapura juga. Tapi awas, nanti diklaim lagi. Salam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/20/antara-rabeg-banten-dan-arab-saudi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SAYUTI: MEMBACA ITU KEBUTUHAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/18/sayuti-membaca-itu-kebutuhan/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/18/sayuti-membaca-itu-kebutuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 13:50:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Banten Star]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>
		<category><![CDATA[juara]]></category>
		<category><![CDATA[Membaca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2963</guid>
		<description><![CDATA[MEMBACA ITU KEBUTUHAN
Oleh: Harir Baldan
Perkenalkan namaku Sayuti Zakariya (27). Aku anak semata wayang dari pasangan Zakariya dan Fatmawati. Sejak kecil aku sudah terbiasa hidup mandiri. Kemandirianku semakin terasa ketika bapakku meninggalkan ibu dan aku tanpa ada kejelasan. Otomatis semua kebutuhan keluarga dan sekolah aku yang menanggungnya sendiri. Peristiwa itu tepatnya  waktu SMP, aku nyambi kerja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MEMBACA ITU KEBUTUHAN</p>
<p>Oleh: Harir Baldan</p>
<div id="attachment_2964" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/21.jpg"><img class="size-medium wp-image-2964" title="21" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/21-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Sayuti sang Duta Change With Reading</p></div>
<p>Perkenalkan namaku Sayuti Zakariya (27). Aku anak semata wayang dari pasangan Zakariya dan Fatmawati. Sejak kecil aku sudah terbiasa hidup mandiri. <span id="more-2963"></span>Kemandirianku semakin terasa ketika bapakku meninggalkan ibu dan aku tanpa ada kejelasan. Otomatis semua kebutuhan keluarga dan sekolah aku yang menanggungnya sendiri. Peristiwa itu tepatnya  waktu SMP, aku nyambi kerja di pencucian mobil hingga berlanjut ke SMA. Ternyata kesibukanku ini banyak menyita waktu dan pikiran. Bahkan untuk belajar saja aku jarang apalagi membaca paling sekedar hanya saja.</p>
<p><strong>Penjual Klontong</strong></p>
<p>Pada tahun 2004 aku melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAISMAN) Cabang Pandeglang di Cilegon. Namun lagi-lagi soal ekonomi yang membuatku terhalang. Dalam kurun waktu dua tahun lebih, rutinitas kuhabiskan untuk berkerja. Salah satunya berjualan barang-barang klontong; gayung, sikat, celengen, penggilesan, ember, bak, baskom, dan lain-lain selama tiga bulan. Akhirnya pada tahun 2007 aku kembali menduduki kursi kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Citangkil, Cilegon. Karena kompetisi di kampus sangat dasyat, alhasil, membaca bukan lagi sekedar hobi tapi karena tuntutan kebutuhan. Apalagi kini aku menggeluti dua profesi; Kuliah sambil mengajar di Madrasah Diniyah Kubang Sari 1 Cilegon.</p>
<p>Sehari aku bisa meraup satu buku bacaan ukuran kecil. Aku lebih suka buku-buku fiksi, motivasi, ilmiah dan Islami. Karena gemar membaca, maka hobiku bertambah yaitu nulis artikel dan puisi. Aku menulis artikel terinspirasi dari buku karya Totok Djuroto, M. Si, dan Bambang Supriyadi, M. Si, tentang penulisan artikel dan karya ilmiah. Sedangkan puisi aku curahkan apa yang ada dalam pikiran saja. Berawal dari hal inilah aku kenal dengan Pak Saiful Bahri, tetanggaku, yang kini menjabat sebagai ketua KPU Cilegon.</p>
<p><strong>Menjadi Duta CwR</strong></p>
<p>Aku kenal Rumah Dunia lewat cerita Pak Saiful. Nah, ketika Rumah Dunia mengadakan lomba duta “Change With Reading”, Sabtu (9/1) lalu, aku tertarik untuk mengikuti kompetisi tersebut, kendati di dunia tulis menulis karyaku belum pernah “nyantol” alias belum pernah diterbitkan sama sekali. Dan luar biasanya, aku terpilih sebagai pemenang duta CWR untuk tingkat perguruan tinggi. Harapanku semoga melalui Rumah Dunia Change With Reading bisa dilaksanakan kembali. Sedangkan visiku adalah membuat komunitas baca Mahasiswa di Cilegon dan mengembangkannya. Rumah Dunia sudah membuktikannya kini semoga Pemerintah Provinsi serius membasmi buta aksara di Banten ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/18/sayuti-membaca-itu-kebutuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGUPAS SEJARAH DENGAN BAHASA YANG RENYAH</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/04/mengupas-sejarah-dengan-bahasa-yang-renyah/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/04/mengupas-sejarah-dengan-bahasa-yang-renyah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 13:07:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>
		<category><![CDATA[IAIN SMH Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Misionaris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2641</guid>
		<description><![CDATA[Judul Buku     : Misionarisme di Banten
Penulis            : Mufti Ali Ph.D
Tebal Buku     : 183
Penerbit          : Bantenology
Membaca buku sejarah, apalagi dengan tebal menyamai bantal, tak pelak membuat pembaca jenuh. Namun tak ada salahnya menyimak buku karya Mufti Ali, yang mengupas tentang Misionarisme di Banten.
Buku setebal 183 halaman terbitan Bantenology ini mengupas tuntas proses awal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2642" title="Kristen buku" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Kristen-buku.jpg" alt="Kristen buku" width="499" height="375" />Judul Buku     : Misionarisme di Banten</p>
<p>Penulis            : Mufti Ali Ph.D</p>
<p>Tebal Buku     : 183</p>
<p>Penerbit          : Bantenology</p>
<p>Membaca buku sejarah, apalagi dengan tebal menyamai bantal, tak pelak membuat pembaca jenuh. Namun tak ada salahnya menyimak buku karya Mufti Ali, yang mengupas tentang Misionarisme di Banten.</p>
<p>Buku setebal 183 halaman terbitan Bantenology ini mengupas tuntas proses awal mula Kristenisasi yang lebih lanjut dalam buku ini disebut dengan penginjilan atau misionaris. Tahun penginjilan yang dipaparkan dalam buku ini hanya dalam rentang 1854 sampai 1945. dijelaskan penulis, dimulai pada 1854 karena merupakan point if departure dari misionarisme institusional Belanda, karena untuk pertama kalinya ‘sekolah agama Kristen’ dibangun di Jengkol, Cikuya (Tigaraksa, Tangeranf) oleh dua orang Belanda. Kedua orang itu dijelaskan lebih lanjut bernama Reesink, seorang landlord (tuan tanah) di Cikuya dan Adolf Muhlnikel, seorang mandor yang beberapa tahun kemudian berhasil mengkristenkan beberapa penduduk di Jengkol.</p>
<p>Dijelaskan juga, Kristenisasi pun dilakukan kepada pribumi oleh pribumi, yang dianggap cara paling tepat. Anggapan bahwa orang Timur, agama, hubungan hidup masyarakat, kebangsaan, adapt, norma merupakan suatu kesatuan yang utuh dan kokoh. Berbekal anggapan inilah, penginjilan dilakukan oleh penduduk pribumi dan disampaikan dengan bentuk dan metode secara pribumi pula.</p>
<p>Tidak seperti buku sejarah lain, apalagi buku mata pelajaran sejarah yang dipelajari sekolah, buku terbitan tahun 2009 ini dikemas dengan bahasa yang komunikatif dan renyah. Sehingga mudah dicerna. Pembaca diajak berpetualang dengan alur dan kronologis yang sistematis. Tapi tidak menybebakan efek samping menguap lalu mengantuk.</p>
<p>Kata misionaris yang dipakai pada judul buku, mencoba menggambarkan penyebaran agama Kristen di bumi Banten, yang waktu itu masih menyatu dengan Jawa Barat. Banten yang dikenal sebagai bumi para wali, rupanya tak pelak menjadi incaran Kristenisasi. Terlebih lagi didukung proses kolonialisasi Belanda yang bercokol cukup lama. Kebijakan Belanda dalam memerintah Banten pun berpengaruh besar terhadap kristenisasi, karena kerap menomorduakan Islam sebagai agama yang mayoritas.</p>
<p>Kristenisasi pun dalam buku ini dijelaskan, dengan istilah ‘upaya’ karena proyek kristenisasi ini dianggap lebih banyak menemui kegagalan daripada berhasil karena resistensi dan penolakan dari warga Banten muslim. Sepanjang sejarah Banten, penolakan dilakukan beragam seperti penjatuhan hukuman mati oleh Sultan Banten terhadap salah seorang kerabatnya yang masuk Kristen pada 1704, pengisolasian suatu komunitas Kristen, peracunan misionaris Belanda, dan vandalisme terhadap kuburan dan makam misionaris.</p>
<p>Meskipun memaparkan tentang misionarisme yang selama ini berkonotasi negatif, yang secara lugas bermakna penyebaran agama Kristenisasi dengan beragam cara, namun penulis terlihat netral dalam memaparkan Kristenisasi. Penulis lebih menitikberatkan pada fakta dan realita, bertujuan membuka mata pembaca mengenali dan memahami awal mula pengembangangn Kristen di Banten.</p>
<p>Pembaca dilibatkan dalam memverifikasi (kebenaran) narasi sejarah dengan melihat catatan kaki yang berisi sumber bacaan dan informasi referensial argument yang didiskusikan. Pernyataan-pernyataan yang dianggap sangat penting dan ‘sensitif’ diungkap secar verbatim atau kata demi kata.</p>
<p>Secara garis besar, buku yang membagi titik permasalahan dalam 6 bagian ini, memfokuskan pada 5 permasalahan pokok yang dikupas. Seperti mengetahui siapa saja tokoh misionarisme di Banten, seberapa banyak masyarakat asli Banten yang memilih menjadi Kristen, lembaga misionaris apa saja yang beroperasi di Banten, apakah Alkitab diterjemahkan ke dalama bahasa setempat yakni Jawa atau Sunda (Banten), dan sejak kapan gereja didirikan di Banten.</p>
<p>Bagi pembaca sejarah pemula, buku ini tidak terlalu berat untuk diikuti. Begitupun bagi yang penasaran mengenai tata letak Kota Serang pada jaman penjajahan Belanda, seperti keberadaan gereja yang berada di lokasi pusat Kota Serang, kawasan Alun-alun dan Kegubernuran. Diceritakan, pada 1846, didirikanlah ‘gereja negara’ di dekat Alun-alun Kota Serang. Pembangunan gereja ini bukan tanpa alasan, sebab lebih dari 200 penduduk Eropa terutama Belanda, saat itu tinggal di ibukota. Sebagian besar penganut Protestan, yang memiliki hak mendapatkan pelayanan rohaniah dari pemerintah colonial. Operasional ‘gereja negara’ tersebut, dipaparkan dikelola langsung pemerintah dengan menggaji dan mendatangkan pastur dari negara Eropa.</p>
<p>Di luar itu, buku sayang untuk dilewatkan ini, masih kurang greget dalam tampilan sampul muka dan bentuk dan lebar buku. Sehingga terkesan angker, layaknya buku srius yang hanya cocok dikonsumsi kalangan tertentu. Tapi buku ini bukan diktat perkuliahan. Kalaupun dikelompokkan sebagai diktat dan menjadi referensi wajib buku perkuliahan, setidaknya akan menjadi diktat yang renyah dan tetap asyik untuk dibaca.</p>
<p>Namun demikian, buku ini belum tersebar luas. Hanya di toko buku tertentu dan di markas Bantenology yang berada di gedung rektorat lantai 3 IAIN SMH Banten.(*)</p>
<p>*) Penulis adalah Reporter Radar Banten, alumni Kelas Menulis Rumah Dunia, yang saat ini menjabat sebagai Ketua FLP Serang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/04/mengupas-sejarah-dengan-bahasa-yang-renyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WARGA TEMUKAN BOM 40 KILOGRAM</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/06/warga-temukan-bom-40-kilogram/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/06/warga-temukan-bom-40-kilogram/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 08:06:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>
		<category><![CDATA[bom]]></category>
		<category><![CDATA[ciberang]]></category>
		<category><![CDATA[polda]]></category>
		<category><![CDATA[Polisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=493</guid>
		<description><![CDATA[LEBAK-Bom aktif seberat 40 kilogram ditemukan Komarudin, seorang pencari kayu di dasar sungai Ci Berang pada hari rabu (4/11) pukul 11 siang kemarin. Penemuan ini bermula saat ia tengah mencari kayu di pinggir sungai Ciberang. Tanpa sengaja menginjak sesuatu di dasarnya.
Komarudin juga menjelaskan jika awalnya ia mengira bom itu tiang listrik. Makanya ia sempat memukulnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>LEBAK-Bom aktif seberat 40 kilogram ditemukan Komarudin, seorang pencari kayu di dasar sungai Ci Berang pada hari rabu (4/11) pukul 11 siang kemarin. Penemuan ini bermula saat ia tengah mencari kayu di pinggir sungai Ciberang. Tanpa sengaja menginjak sesuatu di dasarnya.</p>
<p>Komarudin juga menjelaskan jika awalnya ia mengira bom itu tiang listrik. Makanya ia sempat memukulnya dengan linggis yang dibawanya. Namun karena penasaran Komarudin mengangkatnya ke rakit. Karena belum mengetahui kalo benda yang ditemukannya itu adalah bom, ia membiarkan benda tersebut teronggok begitu saja sampai sore di rakitnya. Saat hari hampir malam, ia meminta kedua tetangganya untuk membantu membawa bom tersebut ke kampungnya. Setelah diamati dengan seksama dua tetangga Komarudin pun curiga kalau benda tersebut adalah bom. Kemudian mereka pun segera mengabarkannya ke aparat desa setempat.</p>
<p>“Atas inisiatif beberapa warga, kami segera melaporkan penemuan bom tersebut ke kantor polisi terdekat,” cerita Komarudin.</p>
<p>Beberapa saat kemudian polisi pun berdatangan ke lokasi yang kemudian disusul dengan kedatangan tim Gegana Brimob Polda Banten. Menurut hasil penelitian sementara, Brimob Polda Banten, Kompol Murbadja mengatakan bom aktif seberat 40 kilo gram tersebut diperkirakan peninggalan masa perang dunia kedua. Jenis bom ini adalah bom pesawat.</p>
<p>“Untuk pengamanan, Tim Gegana Brimob Polda Banten membawa bom tersebut ke markas brimob Polda banten di Serang,” jelasnya. (Rudi Gunawan)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/06/warga-temukan-bom-40-kilogram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
