SEMARAK CERIA SEMBILAN TAHUN RUMAH DUNIA

Oleh Langlang Randhawa*

Sembilan tahun sudah Rumah Dunia, lembaga nirlaba sebagai pusat belajar  masyarakat Banten, menggelinding bagai bola salju. Didirikan oleh pasangan penulis Gol A Gong dan Tias Tatanka dan didukung oleh para relawan, Rumah Dunia terus bergerak membesar membawa visi misinya Mencerdaskan dan Membentuk Generasi Baru. Lewat Jurnalistik, sastra, rupa, dan film, Rumah Dunia perlahan menghapus stigma Banten yang identik dengan mistik dan sifat jawara. Hingga kini, bagai jamur di musim hujan, para penulis muda Banten sudah bermunculan di kancah lokal dan nasional. Belakangan Rumah Dunia, mulai merambat pada fase selanjutnya; tidak hanya mencerdaskan otak tetapi juga menyehatkan fisik agar seimbang. Maka dibuatlah lapangan futsal umum di areal tanah Rumah Dunia yang masih dalam tahap usaha pembebasan hingga hari ini.

Sang Pelatih

Ma’rifat (45), seorang ibu-ibu rumah tangga, terpaksa meninggalkan cucian yang belum selesai di rumahnya. Ia teringat suatu pertandingan, dan ia harus hadir untuk memberikan arahan-arahan penting. Langkahnya yang lebar-lebar segera bergegas ke Rumah Dunia. Setibanya, ia langsung ke lapangan futsal berupa sebidang tanah bergelombang — yang saat ini oleh Rumah Dunia masih dalam proses penggalangan dana untuk dibebaskan — sudah dipadati para penonton dan supporter tim futsal yang sedang bertanding tanpa seragam dan sepatu alias nyeker. Sekali putar kepalanya, ia sudah menemukan anak didiknya yang tergabung dalam klub futsal anak asuhannya bernama Trens Soccer. Mereka sedang berkerumun menonton sesekali mendiskusikan strategi permainan dengan sesama teman. Ma’rifat segera mengangkat dan menepuk tangan sambil teriak memanggil pasukannya. Para pemain Trens Soccer segera menoleh dan menghambur mendekat. Ma’rifat nampaknya tidak mau strateginya didengarkan orang lain. “Kalian siap, ya. Sepuluh menit lagi kalian main. Kumpul di sini semua,” ujar Ma’rifat mulai memaparkan strategi, menganalisis kekuatan SD Sumber Agung FC yang akan menjadi lawannya sore itu. Dengan tegas Ma’rifat menunjuk pemain yang akan diturunkan di awal babak, sambil berkali-kali melirik stopwatch di tangannya.

Hingga giliran tanding tiba, Ma’rifat berkali-kali teriak-teriak mengarahkan pemainnya dari tepi lapangan. “Daud, tutup rapat belakang! Febi ayo maju serang lagi! Umpan ke teman! Ayo kerjasama!” Jika dinilainya pemainnya kalah head to head, ia segera menerjunkan pemain cadangan yang nampak sudah tidak sabar. Bongkar pasang pergantian pemain yang dilakukan Ma’rifat tak kalah cepat dengan ritme permainan dan tepuk tangan riuh. Usahahnya tidak sia-sia. Trens Soccer unggul dengan scors 5-2 menumbangkan tim SD Sumber Agung FC yang bertanding tanpa pelatih.

Semangat

Ma’rifat adalah salah satu ibu-ibu warga Ciloang yang antusias melatih dan setia mengikuti jalannya pertandingan Liga Futsal Bocah Kampung yang diikuti 14 tim dari kampung sekitar Rumah Dunia.

Acara ini adalah salah satu rangkaian acara HUT ke-9 Rumah Dunia yang akan dimeriahkan dengan aneka lomba; menggambar, mengarang, dan baca puisi, dan joget jeruk, sebagai acara puncak pada Sabtu (26/3). Anas, selaku ketua panitia memaparkan, meski meriah oleh Futsal Bocah Kampung yang digelar sejak tanggal 14 Maret, ulang tahun Rumah Dunia tahun ini ini memang tidak begitu banyak lomba seperti tahun-tahun sebelumnya, dimana Rumah Dunia biasa menggelar lomba balap karung, pukul balon, memasukkan belut dan paku ke dalam botol, makan kerupuk, dan lain-lain. “Saat ini kas Rumah Dunia terkuras karena tahun ini kami ingin fokus membebaskan tanah. Jadi, kami harus mengirit pengeluaran,” ujar relawan asal Menes, Pandeglang, ini.  Saat ditanya darimana saja penyumbang acara ini, Anas mengungkapkan jika Rumah Dunia mempunyai tradisi patungan atau gotong royong. Termasuk juga masalah keuangan. “Kebanyakan dari para relawan sendiri, meski dari luar juga ada yang memberi.” imbuh lelaki yang mahir membuat sketsa wajah ini.

Kerja Keras

Hingga Jum’at (25/30) sekitar pukul 20:30 Wib, ‘Aen,‘Aini, Dina, dan Tuti, yang tak lain adalah para relawan asal kampung Ciloang yang 10 tahun lalu menjadi peserta kini sudah menginjak remaja dan menjadi panitia HUT Rumah Dunia. Ditemani Ahmad Wayang, mantan penjual roti yang kini menjadi wartawan www.rumahdunia.com yang sibuk membuat tulisan latar panggung buat esok hari, mereka sibuk membungkus hadiah-hadiah yang akan dibagikan pada minggu nanti. Panitia juga merekap sekitar 200 nama anak-anak yang sudah mendaftarkan diri dan siap mengikuti aneka lomba pada puncak perayaan Dasawarsa Rumah Dunia. Meski tidak banyak dana yang diperoleh, namun panitia tetap antusias menggelar lomba ini karena ajang lomba ini secara tidak langsung mendidik anak untuk semangat dalam meraih kemenangan cita-cita dengan bekerja keras dan ditambah strategi mumpuni.

Batu di Jidat

Semangat juga terlihat dari aksi Kiki dan Bahrul, dua pasang bocah yang siap mengikuti lomba joget jeruk. Tidak tanggung-tanggung mereka berlatih berjoget menggunakan batu serpihan bangunan sebagai pengganti buah jeruk yang diletakkan di jidat masing-masing. Mulailah mereka berjoget di sudut Rumah Dunia, meski sesekali mereka mengaduh karena batu itu berkali-kali jatuh dan yang terakhir mengenai kaki Bahrul. Panitia yang memergoki aksi mereka langsung meminta penjelasan. “Kita lagi latihan, Kak,” ujar Kiki. “Iya, Kak. Supaya kita menang!” Bahrul menyambar penuh semangat.  Tak lama kemudian, aneka lomba segera digelar. Dari sekian banyak lomba, menggambar dan joget jeruk adalah lomba yang paling banyak diminati anak-anak yang masih duduk di bangkus SD. Sementara lomba baca puisi dan mengarang lebih banyak diikuti siswa-siswi SMP.

Bagi Hadiah

Pada puncak acara yang juga menjadi penutup anak-anak disuguhi film Alangkah Lucunya Negeri Ini. Mereka nampak sekali serius menonton, meski ada saja yang lari-lari ke sana kemari. Aksi anak-anak pencopet yang sedang dididik agar insyaf dalam film tersebut membuat anak-anak bergelak tawa. Hingga akhirnya, tawa mereka ditutup dengan rona bahagia saat pembagian hadiah siap diumumkan. Dan hasilnya, untuk lomba futsal Trens Soccer meraih juara dua setelah dikalahkan CKC Football Club. Sementara lomba baca puisi dimenangkan Iyah selaku juara pertama, Via juara kedua, dan Indah sang juara ketiga. Nida Amila terpilih sebagai juara pertama lomba menggambar, mengalahkan Syifa Fiqhiyah pada peringkat ke-dua dan Abdul Adim Wahid sebagai juara ketiga. Para calon pengarang masa depan dari Rumah Dunia pun yang memenangkan lomba mengarang adalah Vira Safitri selaku juara pertama, Elisah sebagai juara kedua, dan Toifatul sang juara ketiga. Sementara lomba Joget Jeruk yang mengundang decak tawa dan tarian anak-anak dimenangkan pasangan Imas dan Ida selaku juara pertama, Uja dan Ela sebagai juara kedua, Sementara Syifa dan Nafida didaulat menjadi juara ketiga. Akhirnya anak-anak pulang dengan riang! Salam.

**Penulis wakil presiden Rumah Dunia dan penulis novel Merah Putih di Old Trafford.

RINTISAN BALAI BELAJAR BERSAMA (RB3) RUMAH DUNIA DIRESMIKAN

kelas menulis Rumah Dunia gunakan gedung RB3Rumah Dunia yang memang lahir dengan semangat mengubah dan membentuk generasi baru di Banten lewat budaya literasi alhamdulillah hingga hari ini tetap ada. Kami percaya bahwa niat baik selalu menemukan jalan terbaik. Hingga tahun ini, meski ada atau pun tidak ada dana kami akan tetap berusaha berkegiatan dengan mengandalkan anugrah kreatifitas yang diberikan Allah Swt, karena dengan berkegiatanlah Rumah Dunia akan tetap bergerak menuju cita-cita yang didambakan. Tentunya kami sadar bahwa tidak mungkin rumah dunia bisa bergerak sendiri tanpa bantuan rekan-rekan di swasta atau pun instansi pemerintah. Semuanya yang didapat oleh Rumah Dunia adalah kerja keras seluruh warga Banten, besar kecil, tua muda, kaya miskin, semuanya berperan dalam memajukan Rumah Dunia khususnya umumnya Banten tercinta.

Selanjutnya, pada 2010 ini Rumah Dunia diamanahi menerima dana bantuan sosial Rintisan Balai Belajar Bersama (RB3) dari Direktorat Jendral Pendidikan Non Formal dan Informal Kementrian Pendidikan Nasional yang mempercayakan dana block grant sebesar Rp.200 juta kepada Rumah Dunia. Sekedar info, Rintisan Balai Belajar Bersama (RB3) ini merupakan kegiatan yang sifatnyta revitalisasi lembaga yang selama ini menggelar program-program pembangunan masyarakat yang  memberdayakan. Baik itu secara terpadu dan lintas sektor untuk kepentingan dan melayani kebutuhan belajar segenap lapisan masyarakat. Ada pun tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu dan taraf hidup.

Bertempat di taman budaya Rumah Dunia, gedung penunjang fasilitas Rintisan Balai Belajar Bersama (RB3) yang berkonsep pedesaan karena menggunakan alang-alang sebagai atapnya, diresmikan Kabid PNFI Dinas Pendidikan Kota Serang Nursalim pada Sabtu (16/10). Dalam sambutannya, Nursalim berharap Rumah Dunia menjadi model taman bacaan dan pusat kegiatan belajar masyarakat yang harus juga dicontoh oleh yang lain. “Program ini untuk masyarakat. Semua bisa mengakses gedung ini,” katanya. Salim menambahkan kenapa program RB3 ini diberikan pada Rumah Dunia, karena Rumah Dunia salah satu TBM yang masih konsen dan bisa dipercaya dalam membina Masyarakat. “Untuk itu saya harap Rumah Dunia semoga bisa kembali mendapatkan bantuan dana dari Dinas Pendidikan pusat, sebagai pengembangan dari programa ini meningat ini kan baru rintisan,” kata Nursalim. Pada kesempatan itu juga turut hadir Ibu Ida selaku perwakilan dari Dinas Pendidikan Nasional. Acara yang dimeriahkan dengan aksi marawis pesantren At-Thobroniyah, Rampak Bedug Ciwasiat, dan pembacaan puisi pemenang lomba baca puisi wong cilik Amaliah cukuplah semarak meski digelar pada saat matahari tengah memanas. Setelah ritual potong pita dan panandatanganan sketsa lukisan gedung balai belajar bersama oleh Nursalim, para tamu undangan pun diperkenankan memasuki gedung berkapasitas 50 orang tersebut. Selain itu, di areal balai tersebut juga sudah diisi dengan kafe baca sebagai wujud program aksara kewirasuahaan, serta panggung utama yang akan dipakai untuk diskusi-diskusi sebagai salah satu program pengembangan karakter dan budaya.

Sekali lagi ini adalah sebuah amanah yang cukup berat. Meski demikian dengan niat baik kami terus melakukan perbaikan-perbaikan di sana-sini terutama sekali dalam hal administrasi laporan dan lain-lain karena selama ini Rumah Dunia hidup dari sedekah dan zakat orang-orang seluruh Indonesia. Terima kasih kepada pemerintah Banten dan pemerintah pusat atas niat baik kalian. Semoga kita semua amanah dalam menjalankannya![JangRuDun]

TAMAN BUDAYA DAN INDUSTRI KREATIF

TAMAN BUDAYA DAN INDUSTRI KREATIF

Oleh Aji Setiakarya

Minggu (22/8) malam,  beberapa seniman dari lintas komunitas di Banten,  antara lain Teater Studio Indonesia (Nandang Aradea), Rumah Dunia (Gola Gong),  Toto St Radik (Budayawan),  Indra Kusuma (Perupa Banten), Sulaeman Djaya (Kumah Budaya), hadir juga Abah Dadi (Pejabat Disbudpar Provinsi Banten yang juga aktor) dan beberapa seniman lainnya. Pertemuan ini merupakan lanjutan dari pertemuan sebelumnya yang juga melibatkan banyak seniman.  Tema utama diskusi tersebut adalah persoalan pembangunan Taman Budaya Banten (TBB).  Mereka “gundah” atas berbagai isu tentang  pembangunan yang akan dilakukan oleh pemerintah provinsi  Banten.

Nandang  Aradea,  sutradara yang komunitasnya baru saja  pentas di  Polandia mengatakan bahwa TBB , yang akan didirikan nantinya  jangan hanya menjadi miniatur  kesenian Banten, namun juga menjadi tempat yang menarik bagi masyarakat luas.  Dia juga menyarankan agar Pemerintah Banten  tidak  mencontoh  taman budaya yang sudah ada di  beberapa daerah di Indonesia.  Agar  tidak mubadzir, Nandang menekankan pentingnya taman budaya Banten menjadi tempat seluas-luasnya  bagi para  seniman, tidak hanya tempat pentas saja. “Harus ada studio film, harus ada  tempat pementasan, ada cafe, dll.” Seide dengan Nandang Aradea,  Toto St Radik dan Gola Gong,   sepakat  agar   draft  atau desain yang menurut  Dadi RSN telah ada, dirombak kembali dan memulainya  agar uang masyarakat yang digunakan itu tidak sia-sia.

Industri Kreatif

Dari rekaman obrolan para seniman tersebut, saya memaknainya sebagai  gerakan industri kreatif.  Kesenian adalah bagian  Industri Kreatif yang bisa mendorong lajunya perekonomian masyarakat.  Selain sebagai tempat untuk mengapresiasi segala macam pagelaran seni, Taman Budaya juga akan merangsang munculnya beragam komunitas kreatif. Akan lahir komunitas film, komunitas rupa, komunitas kartun, fesyen, komunitas musik dan lain sebagainya. Dan mereka bisa  memamerkan karyanya di taman budaya ini. Dengan pertunjukan dan pagelaran akan menarik para pengunjung sehingga akan  tercipta sebuah ekonomi yang  berbasis kreativitas, atau banyak ahli ekonomi menyebutnya dengan ekonomi kreatif.  Saya memabayangkan kelak, Banten bisa menggelar  Festival Budaya Internasional yang bisa menarik wisatawan manca negara maupun wisatawan dalan negari. Di dalamnya bisa menampilkan beragam kesenian Banten dan ratusan karya kreatif anak-anak Banten, dari mulai film, teater, musik, fesyen dan lain sebagainya yang bisa dinikmati oleh masyarakat.

Peluang

Posisi  strategis Banten merupakan peluang bagi  kita untuk bisa menjadi magnet dalam industri kreatif.  Kondisi Jakarta yang sudah macet, sumpek memungkinkan Banten menjadi peralihan dari  berbagai kegiatan seni di Indonesia.  Seperti  yang diimpikan para seniman Banten, dalam  obrolan tempo hari, Taman Budaya itu kelak bisa menjadi pusat kesenian di Indonesia. Al-Faris, salah satu penggiat seni dari Kubah Budaya  menyebutnya dengan culture center. Hal itu tidak berlebihan, dengan keberagaman karya seni dan sumber daya alam yang tak kalah  dengan daerah lainnya, tidaklah sulit bagi Banten untuk  menjadi wilayah  yang menjadi pusat wisata dan pusat budaya di Indonesia. Pada Kamis (26/8), puluhan seniman  hadir dalam audiensi bersama Gubernur Banten untuk membahas realisasi pembangunan Taman Budaya Banten (Radar Banten, Edisi Jum’at 27 Agustus). Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah melalui Dinas Perairan dan Pemukiman ternyata sudah  menyiapkan dana 17 Miliar untuk pembangunan TBB. Tentu saja informasi yang menggembirakan, sebuah  niat yang penuh harapan. Namun ada beberapa hal perlu dipikirkan lebih lanjut, pertama adalah mengenai arsitektur TBB itu sendiri. Pemerintah Provinsi Banten harus mau melibatkan stakeholder, seniman, para ahli arsitektur yang betul-betul memahami dan menguasai dalam hal penataan TBB ini. Seperti saran Nandang Aradea dalam sebuah obrolan, tidak ada salahnya draft desain yang telah ada itu dirombak kembali dengan mendengarkan banyak masukan dari komunitas seniman di Banten. Jangan sampai pembangunan TBB ini adalah upaya untuk mencari proyek dari beberapa kelompok untuk meraup keuntungan.  Kedua adalah sumber daya manusia (SDM). Sejak dini harus dipikirkan tentang pengelolaan TBB ini. Bangunan itu tidak akan ada artinya jika tidak dikelola oleh tangan yang kreatif dan minat yang tinggi dalam pembangunan budaya dan kreativitas di Banten. Pemerintah harus berani keluar dari mainstream, menunjuk orang-orang yang betul -betul ahli agar TBB ini fungsional dan harapan seniman agar TBB ini menjadi pusat budaya terwujud. Jika tidak, TBB akan  menjadi  sarang “penyamun” yang mengganggu masyarakat dan seniman  itu sendiri.

Aji  Setiakarya

Direktur Sultan Film,  Pecinta Seni, dan Relawan Rumah Dunia.

?

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa*

Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung seksi elpiji yang larisnya minta ampun dan minta korban itu. Lupakanlah. Apalagi orang-orang pajak yang belakangan sibuk beriklan besar-besaran agar kamu taat pajak setelah pesta gede-gedean mereka sendiri dipromosikan media secara paksa. Mereka tidak penting. Semua itu hanya candaan. Goyunan saja. Aku. Aku ini yang penting buat kamu. Penting buat masa depan kamu dan keluargamu. Aku ini bermanfaat bagimu. Garansinya dunia akhirat, lho! Dengarkan baik-baik. Gawat kalau kamu tidak menyimak, apalagi tertidur.

”Baiklah. Aku akan simak.”

Nah begitu, dong. Tapi aku ingin kamu serius. Apakah kamu benar-benar?

“Insya Allah aku serius.”

Jangan pakai Insya Allah. Aku ragu dengan Insya Allah yang keluar dari mulutmu. Lha wong Insya Allah yang keluar dari bapakku juga aku masih tak percaya. Dia selalu berkata Insya Allah kalau diajak bersepakat, tapi dia selalu melupakan begitu saja.

”Ya, itu bukan salah Insya Allah-nya. Bapak kamu saja yang pikun!”

Eh, jaga mulutmu itu. Apakah kamu lupa, ayahku itu seorang kiai. Kiai besar. Tahukah kau, di mana? Di Banten! Banten. Semua orang tahu nama itu. Banten! Jangan gegabah kamu kalau bicara. Jika ayahku marah, maka seucap kata sekilat nyata! Wih!

”Iya.. Kiai juga manusia, bos! Dia bisa lupa. Khilaf. Seperti mereka juga.”

Siapa? Perasaan dari tadi di sini tak ada siapa-siapa, selain penjaga itu.

”Sudahlah. Sudah malam. Suaramu lebih berisik dari nyamuk broiler di sini! Kalau bukan karena ilmu barakah yang saya dapat waktu di pesantren, sudah aku sungsang kepalamu sampe isi kepalamu jadi koplak! Sudah! Aku mau tidur saja..”

Ah, jangan begitu kamu. Jangan dulu tidur. Ini sudah sepertiga malam. Segala pinta kita akan diijabah karena malaikat langsung yang turun melakukan checklist para manusia yang terjaga untuk beribadah. Apakah kau tidak pernah mendengar hal itu selama ini?

”Iya. Aku pernah mendengarnya. Tapi kita ini kan tidak sedang beribadah tahajjud atau bermunajat pada Allah. Kita ini hanya mengobrol ngalur ngidul nggak karuan lalu tidur saat bedug subuh menjelegur!”

Ha ha! Menjelegur? Apa itu menjelegur? Bahasamu berantakan. Sangat nampak lisanmu tidak tersentuh pelajaran balaghah, apalagi nahwu dan sharaf.

”Sudahlah.. jangan banyak cingcong! Aku mau tidur.”

Jangan dulu tidur. Apakah kau tidak tahu siapa aku?

”Tahu!”

Tahu dari mana kamu? Bukankah aku baru hari ini berada di sini?

”Bapakmu!”

Maksudmu apa?

”Bapakmu itu yang kiai adalah guru ngaji aku! Dia menitipkan dirimu padaku.”

Lha.. berarti kamu sudah tahu siapa aku?

”Ya iyalah.. kamu anaknya Kiai. Pasti mau ngomong, jika taik ayam kesayangan anak kiai saja harus dihormati dan dielus-elus, apalagi anaknya. Harus dihormati seperti buapak moyangnya juga. Supaya ilmuku manfaat dan masa depanku kelak penuh barakah! Betul?”

Ho-oh! Ya, betul. Itu betul; Insya Allah kamu barakah!

”Preeet!”

Hey, apa maksud bunyi dari mulutmu itu?

”Iseng saja. Sudah, aku mau tidur anak Pak Kiai! Cape, deh!”

Sstt…mudah-mudahan dia sudah tidur. Dasar mulut durhaka!

***

Eh, kau. Sudah bangun ternyata. Santai sekali kau. Bibirmu sudah basah dan perutmu nampak tambah menggembung. Ingin sekali aku pun demikian. Semoga kau paham. Eh, apakah aku boleh tahu, sudah jam berapakah ini? Nampaknya hari sudah siang. Aku harus shalat duha, supaya rizki ayahku melimpah di rumah. Tapi bisakah kau ambilkan sarapan dan minumanku. Insya Allah barakah..

”Iya, nanti diambilkan. Bukankah ayahmu sudah kaya di kampung. Buat apalagi kau mendo’akan ayahmu mendapatkan rizki melimpah?”

Oh, soal itu hanya Ayah saya yang tahu. Saya kurang paham soal itu. Nanti dia akan cerita kalau dia ke sini. Dia lebih ahli. Konon sih buat urusan aku di sini juga.

”Kan kamu anak kiai? Masa’ kamu tidak bisa menjelaskan.”

Iya, sih. Tapi kan kamu tahu, jika sesuatu perkara ditangani oleh bukan ahlinya, maka tunggulah saja kehancurannya. Sudah, ya. Aku mau shalat dulu..

”Shalat apa?”

Kan aku sudah bilang. Shalat duha. Gawat kamu ini! Pasti jarang baca Al-Qur’an sehingga kau cepat pelupa. Cepat pikun! Bacalah Al- Qur’an maka daya ingatmu kuat.

”Tapi kamu kan tidak shalat subuh tadi. Apa kamu tidak malu sama Allah.”

Kenapa harus malu dalam beribadah? Makanya ngajinya diselesaikan.

”Aneh. Kamu ini… yang wajib ditinggal, yang sunah dikejar.”

Yah, aku hanya ngalap barakah datangnya waktu duha saja. Lagian kalau tidak salah, ada satu ulama madzhab yang memberikan fasilitas qodho solat jika kesiangan. Kamu sih di sini saja. Tidak pernah mengaji. Agama menyediakan banyak fasilitas ibadah yang bisa dinikmati, lho. Agama itu memudahkan, tidak menyulitkan. Percayalah. Aku ini anak kiai.

”Huh! Anak kiai bongkrek! Ibadah kok buat main-main.”

Sudahlah. Ambilkan aku sarapan! Ilmumu belum sampai pada level sekelas aku. Kau hanya akan merasa emosi dan kesal padaku. Tapi percayalah itu hanya godaan. Semoga kau bersabar. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang sabar. Ambil sana. Insya Allah barakah.

“Preettt!”

Meledek lagi kamu? Cobalah… yang ikhlas kalau mau membantu anak kiai. Insya Allah barakah dunia dan akhirat. Sudah, ambil sarapan sana, aku mau shalat dulu.

”Lho nggak wudhu dulu?”

Tayamum di sini saja.

”Lho.. kan ada air di sana.”

Jauh. Kalau saya ke sana, bisa-bisa waktu afdhol shalat duha keburu habis. Sudahlah. Sekali lagi, banyak fasilitas ibadah yang belum kita cicipi. Asal kita yakin dan tau ilmunya saja. Bukan begitu? Ayo cepat, ambilkan aku sarapan.. Insya Allah kamu barakah!

”Preeett!”

Hih! Dasar mulut durhaka!

***

Innalillahi! Lama sekali kamu ini. Ditunggu dari tadi baru nongol! Ambil sarapan saja kayak santri gali sumur. Sini sarapannya. Aku sudah lapar. Kamu merusak segalanya!

”Maaf.. selain di sana ngantri, aku tadi jalannya santai. Aku pikir karena kamu akan shalat duha dulu. Setahuku, shalat duha itu rakaatnya banyak.”

Ah, kamu ini. Dasar santri tanggung. Pasti kamu mondoknya tidak selesai. Baru bisa pakai sarung dan masak jangan dulu pindah. Bahaya. Orang sepertimu membahayakan. Ilmumu melangit tidak, membumi juga nggak. Ibarat pohon, kamu ini bakal jadi tidak jelas pohon apa. Ke atas tak berbuah, ke bawah tak berumbi. Hanya diombang-ambing angin.

“Meski halus, tapi sebenarnya kasar sekali bahasamu! Apa salahku? Sudah diambilkan sarapan, masih saja ngotot. Dasar anak kiai jeblug! Balo, kamu!”

Hei! Hei! Hati-hati kalau bicara. Baca kembali adab lidah dalam kitab-kitab! Ingat, kamu ini sebenarnya sedang diuji kesabaran. Kalau pun aku marah padamu, itu karena aku gagal berkonsentrasi dalam menangkap waktu afdhol shalat duha. Kamu tahu kenapa?

“Nggak. Dan aku sudah malas mendengarnya.”

Astagfirullah, kamu ini! Aku tidak bisa khusyuk shalat duha lantaran aku lapar. Makanya aku tidak dulu shalat, dan menungguimu sejak tadi. Bukankah kamu pernah mendengar orang-orang berkata, lebih baik saat makan memikirkan shalat dari pada shalat malah memikirkan makan. Ini jelas sekali. Ini soal kekhusyukan. Penting sekali soal itu. Astagfirullah, ya kariiiiiimm! Sabar.. sabar, ya Allah. Kamu ini telah membuat aku rugi.

”Kamu yang membuat aku rugi!!”

Apa maksud kamu? Kamu sudah berani membantah anak kiai rupanya. Bisa tidak barakah hidup kamu nanti. Istighfar kamu segera. Baru diuji seperti ini saja sudah kalah.

”Aku rugi karena beberapa hari mubadzir mendengarkan ocehanmu yang kebelinger itu. Pemahaman agamamu semrawut dan nyeleneh. Gara-gara kamu aku jadi kehilangan jatah rokok dan kopi yang biasa aku ambil dari blok sebelah! Kamu ini tidak pantas jadi anak kiai!”

Lha! Kalau aku tidak pantas jadi anak kiai, lantas aku cocoknya jadi anak apa?

”Anak Dajjal!! Puass!!”

Hey, tunggu. Mau ke mana kamu!?

”Pindah blok! Meski aku penjahat, muak aku sama kamu!”

Lalu aku sama siapa di sini?

”Ada penghuni baru. Kayaknya kamu bakal cocok sama dia!”

Siapa dia? Di mana?

”Sebentar lagi juga datang. Kamu pasti kenal sama dia.”

Tapi kamu jangan meninggalkan amanat begitu saja. Kamu sudah diperintah bapakku untuk menemaniku. Kalau terjadi apa-apa denganku bagaimana. Bersabarlah. Maafkan jika aku tadi sedikit kasar. Biasalah anak muda. Oke? Insya Allah barakah jika kau tetap bersabar.

”Makan tuh barakah! Barakah dari mulutmu bobrok!!”

Pikirlah masak-masak sebelum memutuskan sesuatu.

”Ini sudah aku pikirkan. Tugasku sudah habis.”

Apa maksudmu berkata demikian. Ingatlah agama mengajarkan, sampaikanlah pesan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tuturkata yang lembut agar orang bersimpati.

”Baiklah.. wahai anak kiai yang baik, lihatlah itu. Penghuni baru sudah datang. Sambutlah dia dengan bahagia. Insya Allah kalian di sini bakal penuh barakah. Rizki mengalir meski hanya tidur-tiduran saja seharian. Soal makan, minum, dan rokok-mah gratis! Barakah! Itu dia, di belakangmu. Sambutlah teman barumu! Kata penjaga sih, demi membebaskan anaknya di penjara ini, dia menggelapkan dana honor tenaga pengajar madrasah yang diamanahkan padanya! Ngakunya sih, dia khilaf dan sudah memanfaatkan fasilitas agama bernama istighfar, tapi nampaknya enggak mempan, tuh. Lihatlah! Kau pasti mengenalnya. Selamat menikmati. Insya Allah barakah!”

Lho, Bapak!?

* Penulis adalah wakil presiden Rumah Dunia. Menulis novel Slonong Boy Millionaire (B-First Mizan Group: 2009) dan Merah Putih di Old Trafford (Kaifa Mizan Group: 2010).

JANGAN JADI GILA KALO UDAH BELI “GILALOVA”

Nih, dia. 25 cerpenis keren anak muda Banten, yang akan membangkitkan lagi tradisi menulis di Banten. lanjutkan membaca »

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010