BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa*

Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung seksi elpiji yang larisnya minta ampun dan minta korban itu. Lupakanlah. Apalagi orang-orang pajak yang belakangan sibuk beriklan besar-besaran agar kamu taat pajak setelah pesta gede-gedean mereka sendiri dipromosikan media secara paksa. Mereka tidak penting. Semua itu hanya candaan. Goyunan saja. Aku. Aku ini yang penting buat kamu. Penting buat masa depan kamu dan keluargamu. Aku ini bermanfaat bagimu. Garansinya dunia akhirat, lho! Dengarkan baik-baik. Gawat kalau kamu tidak menyimak, apalagi tertidur.

”Baiklah. Aku akan simak.”

Nah begitu, dong. Tapi aku ingin kamu serius. Apakah kamu benar-benar?

“Insya Allah aku serius.”

Jangan pakai Insya Allah. Aku ragu dengan Insya Allah yang keluar dari mulutmu. Lha wong Insya Allah yang keluar dari bapakku juga aku masih tak percaya. Dia selalu berkata Insya Allah kalau diajak bersepakat, tapi dia selalu melupakan begitu saja.

”Ya, itu bukan salah Insya Allah-nya. Bapak kamu saja yang pikun!”

Eh, jaga mulutmu itu. Apakah kamu lupa, ayahku itu seorang kiai. Kiai besar. Tahukah kau, di mana? Di Banten! Banten. Semua orang tahu nama itu. Banten! Jangan gegabah kamu kalau bicara. Jika ayahku marah, maka seucap kata sekilat nyata! Wih!

”Iya.. Kiai juga manusia, bos! Dia bisa lupa. Khilaf. Seperti mereka juga.”

Siapa? Perasaan dari tadi di sini tak ada siapa-siapa, selain penjaga itu.

”Sudahlah. Sudah malam. Suaramu lebih berisik dari nyamuk broiler di sini! Kalau bukan karena ilmu barakah yang saya dapat waktu di pesantren, sudah aku sungsang kepalamu sampe isi kepalamu jadi koplak! Sudah! Aku mau tidur saja..”

Ah, jangan begitu kamu. Jangan dulu tidur. Ini sudah sepertiga malam. Segala pinta kita akan diijabah karena malaikat langsung yang turun melakukan checklist para manusia yang terjaga untuk beribadah. Apakah kau tidak pernah mendengar hal itu selama ini?

”Iya. Aku pernah mendengarnya. Tapi kita ini kan tidak sedang beribadah tahajjud atau bermunajat pada Allah. Kita ini hanya mengobrol ngalur ngidul nggak karuan lalu tidur saat bedug subuh menjelegur!”

Ha ha! Menjelegur? Apa itu menjelegur? Bahasamu berantakan. Sangat nampak lisanmu tidak tersentuh pelajaran balaghah, apalagi nahwu dan sharaf.

”Sudahlah.. jangan banyak cingcong! Aku mau tidur.”

Jangan dulu tidur. Apakah kau tidak tahu siapa aku?

”Tahu!”

Tahu dari mana kamu? Bukankah aku baru hari ini berada di sini?

”Bapakmu!”

Maksudmu apa?

”Bapakmu itu yang kiai adalah guru ngaji aku! Dia menitipkan dirimu padaku.”

Lha.. berarti kamu sudah tahu siapa aku?

”Ya iyalah.. kamu anaknya Kiai. Pasti mau ngomong, jika taik ayam kesayangan anak kiai saja harus dihormati dan dielus-elus, apalagi anaknya. Harus dihormati seperti buapak moyangnya juga. Supaya ilmuku manfaat dan masa depanku kelak penuh barakah! Betul?”

Ho-oh! Ya, betul. Itu betul; Insya Allah kamu barakah!

”Preeet!”

Hey, apa maksud bunyi dari mulutmu itu?

”Iseng saja. Sudah, aku mau tidur anak Pak Kiai! Cape, deh!”

Sstt…mudah-mudahan dia sudah tidur. Dasar mulut durhaka!

***

Eh, kau. Sudah bangun ternyata. Santai sekali kau. Bibirmu sudah basah dan perutmu nampak tambah menggembung. Ingin sekali aku pun demikian. Semoga kau paham. Eh, apakah aku boleh tahu, sudah jam berapakah ini? Nampaknya hari sudah siang. Aku harus shalat duha, supaya rizki ayahku melimpah di rumah. Tapi bisakah kau ambilkan sarapan dan minumanku. Insya Allah barakah..

”Iya, nanti diambilkan. Bukankah ayahmu sudah kaya di kampung. Buat apalagi kau mendo’akan ayahmu mendapatkan rizki melimpah?”

Oh, soal itu hanya Ayah saya yang tahu. Saya kurang paham soal itu. Nanti dia akan cerita kalau dia ke sini. Dia lebih ahli. Konon sih buat urusan aku di sini juga.

”Kan kamu anak kiai? Masa’ kamu tidak bisa menjelaskan.”

Iya, sih. Tapi kan kamu tahu, jika sesuatu perkara ditangani oleh bukan ahlinya, maka tunggulah saja kehancurannya. Sudah, ya. Aku mau shalat dulu..

”Shalat apa?”

Kan aku sudah bilang. Shalat duha. Gawat kamu ini! Pasti jarang baca Al-Qur’an sehingga kau cepat pelupa. Cepat pikun! Bacalah Al- Qur’an maka daya ingatmu kuat.

”Tapi kamu kan tidak shalat subuh tadi. Apa kamu tidak malu sama Allah.”

Kenapa harus malu dalam beribadah? Makanya ngajinya diselesaikan.

”Aneh. Kamu ini… yang wajib ditinggal, yang sunah dikejar.”

Yah, aku hanya ngalap barakah datangnya waktu duha saja. Lagian kalau tidak salah, ada satu ulama madzhab yang memberikan fasilitas qodho solat jika kesiangan. Kamu sih di sini saja. Tidak pernah mengaji. Agama menyediakan banyak fasilitas ibadah yang bisa dinikmati, lho. Agama itu memudahkan, tidak menyulitkan. Percayalah. Aku ini anak kiai.

”Huh! Anak kiai bongkrek! Ibadah kok buat main-main.”

Sudahlah. Ambilkan aku sarapan! Ilmumu belum sampai pada level sekelas aku. Kau hanya akan merasa emosi dan kesal padaku. Tapi percayalah itu hanya godaan. Semoga kau bersabar. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang sabar. Ambil sana. Insya Allah barakah.

“Preettt!”

Meledek lagi kamu? Cobalah… yang ikhlas kalau mau membantu anak kiai. Insya Allah barakah dunia dan akhirat. Sudah, ambil sarapan sana, aku mau shalat dulu.

”Lho nggak wudhu dulu?”

Tayamum di sini saja.

”Lho.. kan ada air di sana.”

Jauh. Kalau saya ke sana, bisa-bisa waktu afdhol shalat duha keburu habis. Sudahlah. Sekali lagi, banyak fasilitas ibadah yang belum kita cicipi. Asal kita yakin dan tau ilmunya saja. Bukan begitu? Ayo cepat, ambilkan aku sarapan.. Insya Allah kamu barakah!

”Preeett!”

Hih! Dasar mulut durhaka!

***

Innalillahi! Lama sekali kamu ini. Ditunggu dari tadi baru nongol! Ambil sarapan saja kayak santri gali sumur. Sini sarapannya. Aku sudah lapar. Kamu merusak segalanya!

”Maaf.. selain di sana ngantri, aku tadi jalannya santai. Aku pikir karena kamu akan shalat duha dulu. Setahuku, shalat duha itu rakaatnya banyak.”

Ah, kamu ini. Dasar santri tanggung. Pasti kamu mondoknya tidak selesai. Baru bisa pakai sarung dan masak jangan dulu pindah. Bahaya. Orang sepertimu membahayakan. Ilmumu melangit tidak, membumi juga nggak. Ibarat pohon, kamu ini bakal jadi tidak jelas pohon apa. Ke atas tak berbuah, ke bawah tak berumbi. Hanya diombang-ambing angin.

“Meski halus, tapi sebenarnya kasar sekali bahasamu! Apa salahku? Sudah diambilkan sarapan, masih saja ngotot. Dasar anak kiai jeblug! Balo, kamu!”

Hei! Hei! Hati-hati kalau bicara. Baca kembali adab lidah dalam kitab-kitab! Ingat, kamu ini sebenarnya sedang diuji kesabaran. Kalau pun aku marah padamu, itu karena aku gagal berkonsentrasi dalam menangkap waktu afdhol shalat duha. Kamu tahu kenapa?

“Nggak. Dan aku sudah malas mendengarnya.”

Astagfirullah, kamu ini! Aku tidak bisa khusyuk shalat duha lantaran aku lapar. Makanya aku tidak dulu shalat, dan menungguimu sejak tadi. Bukankah kamu pernah mendengar orang-orang berkata, lebih baik saat makan memikirkan shalat dari pada shalat malah memikirkan makan. Ini jelas sekali. Ini soal kekhusyukan. Penting sekali soal itu. Astagfirullah, ya kariiiiiimm! Sabar.. sabar, ya Allah. Kamu ini telah membuat aku rugi.

”Kamu yang membuat aku rugi!!”

Apa maksud kamu? Kamu sudah berani membantah anak kiai rupanya. Bisa tidak barakah hidup kamu nanti. Istighfar kamu segera. Baru diuji seperti ini saja sudah kalah.

”Aku rugi karena beberapa hari mubadzir mendengarkan ocehanmu yang kebelinger itu. Pemahaman agamamu semrawut dan nyeleneh. Gara-gara kamu aku jadi kehilangan jatah rokok dan kopi yang biasa aku ambil dari blok sebelah! Kamu ini tidak pantas jadi anak kiai!”

Lha! Kalau aku tidak pantas jadi anak kiai, lantas aku cocoknya jadi anak apa?

”Anak Dajjal!! Puass!!”

Hey, tunggu. Mau ke mana kamu!?

”Pindah blok! Meski aku penjahat, muak aku sama kamu!”

Lalu aku sama siapa di sini?

”Ada penghuni baru. Kayaknya kamu bakal cocok sama dia!”

Siapa dia? Di mana?

”Sebentar lagi juga datang. Kamu pasti kenal sama dia.”

Tapi kamu jangan meninggalkan amanat begitu saja. Kamu sudah diperintah bapakku untuk menemaniku. Kalau terjadi apa-apa denganku bagaimana. Bersabarlah. Maafkan jika aku tadi sedikit kasar. Biasalah anak muda. Oke? Insya Allah barakah jika kau tetap bersabar.

”Makan tuh barakah! Barakah dari mulutmu bobrok!!”

Pikirlah masak-masak sebelum memutuskan sesuatu.

”Ini sudah aku pikirkan. Tugasku sudah habis.”

Apa maksudmu berkata demikian. Ingatlah agama mengajarkan, sampaikanlah pesan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tuturkata yang lembut agar orang bersimpati.

”Baiklah.. wahai anak kiai yang baik, lihatlah itu. Penghuni baru sudah datang. Sambutlah dia dengan bahagia. Insya Allah kalian di sini bakal penuh barakah. Rizki mengalir meski hanya tidur-tiduran saja seharian. Soal makan, minum, dan rokok-mah gratis! Barakah! Itu dia, di belakangmu. Sambutlah teman barumu! Kata penjaga sih, demi membebaskan anaknya di penjara ini, dia menggelapkan dana honor tenaga pengajar madrasah yang diamanahkan padanya! Ngakunya sih, dia khilaf dan sudah memanfaatkan fasilitas agama bernama istighfar, tapi nampaknya enggak mempan, tuh. Lihatlah! Kau pasti mengenalnya. Selamat menikmati. Insya Allah barakah!”

Lho, Bapak!?

* Penulis adalah wakil presiden Rumah Dunia. Menulis novel Slonong Boy Millionaire (B-First Mizan Group: 2009) dan Merah Putih di Old Trafford (Kaifa Mizan Group: 2010).

JANGAN JADI GILA KALO UDAH BELI “GILALOVA”

Nih, dia. 25 cerpenis keren anak muda Banten, yang akan membangkitkan lagi tradisi menulis di Banten. lanjutkan membaca »

TBM@MALL TUNGGU KESIAPAN CARREFOUR

Radar banten, 8 april 2010

SERANG – Pelaksanaan program taman bacaan masyarakat di pusat perbelanjaan modern atau lebih dikenal dengan istilah TBM@ Mall yang diluncurkan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) di Provinsi Banten, tinggal menunggu kesiapan Carrefour selaku mal yang ditunjuk Pemprov Banten sebagai tempat pelaksanaan program tersebut.
Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Nasional Gol A Gong mengungkapkan, hingga saat ini manajemen Carrefour belum memberikan kepastian bisa dijadikan tempat TBM@Mall. “Mereka (Carrefour-red) beralasan belum menyampaikan program ini ke manajemen pusat Carrefour di Jakarta,” ungkap Gol A Gong, yang juga pendiri Taman Bacaan Masyarakat Rumah Dunia di Serang, terkait progress pelaksanaan program TBM@ Mall di Kota Serang, Rabu (7/4).
Gol A Gong berharap, Carrefour sebagai mall pilihan pertama bisa segera memberi kepastian terkait kesiapannya mendukung program nasional yang bertujuan menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap budaya membaca ini. “Hal ini terkait dengan fungsi CSR (corporate social responsibility) Carrefour sebagai salah satu perusahaan yang berusaha di Banten,” katanya.
Terkait dukungan Pemprov, dalam hal ini Dinas Pendidikan (Dindik), Gol A Gong menyatakan mendukung penuh. “Selain siap memberi dukungan berupa sarana prasarana taman bacaan, seperti buku, Dindik Banten juga siap mengarahkan Dindik kabupaten/kota untuk memberi dukungan serupa,” ujarnya.
Ditemui terpisah, Kepala Dindik Provinsi Banten Eko E Koswara memaparkan, pelaksanaan program TBM@Mall di Kota Serang merupakan percontohan bagi daerah lainnya di Indonesia mengenai model taman bacaan masyarakat di pusat perbelanjaan. “Selain Kota Serang, ada dua daerah lain yang ditunjuk Kemendiknas sebagai program percontohan yakni Jakarta dan Makassar. Untuk tahun ini memang hanya tiga provinsi yang dijadikan model percontohan program TBM@ Mall yaitu Banten, DKI Jakarta, dan Sulawesi Selatan,” paparnya, seraya menambahkan, program TBM@ Mall akan dilaunching pada 2 Mei 2010, bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional. (ila)

KELOMPOK PANDEGLANG

Oleh Machsus  Thamrin*

Ada yang hilang dari genggaman tangan, dan meluncur lewat sela-sela jari (Taufik Ismail)

AKSI  tembak-tembakan ala koboi yang  diperagakan polisi di Pamulang Selasa lalu dan di Aceh Besar beberapa hari terakhir, mengusik  hati saya.Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, mengatakan  latihan yang dilakukan kelompok yang diduga teroris itu tak dilakukan oleh mantan gerakan Aceh Merdeka. Irwandi menuding, latihan itu dilakukan teroris, yang merupakan poros baru kelompok teroris Banten-Jawa  Barat dan Jawa Tengah. Lebih spesifiknya mereka yang dari Banten itu berasal dari Pandeglang. Di Harian Kompas Rabu kemarin, Herman RN, salah seorang mahasiswa pasca sarjana Universitas Syah kuala Bandaaceh menulis, anggota Jamaah Islamiyah yang berada di Aceh berasal dari Pandeglang. Saat ini mereka masih melakukan latihan di Pegunungan Jantho Aceh.

Selain kasus suap dan korupsi berjamaah, kelompok teroris,belakangan nama kelompok Pandeglang juga dikaitkan dengan kelompok pencuri kendaraan bermotor di berbagai kota.

Lantas apa yang terjadi di Pandeglang hingga cerita-cerita  buruk ini yang kemudian muncul? Salah apa Pandeglang, sehingga stigma buruk ini ditimpakan kepadanya? Kemana perginya tradisi religius dan semangat pantang menyerah orang –orang Pandeglang? Kemana perginya tradisi intelektual yang dipelopori Prof Bachtiar Rifai, Prof Herman Haeruman, Muchtar Mandala dan Kang Eki Sjahrudin?

Saya menghibur diri, dengan mengatakan masih banyak yang memiliki semangat dan tradisi itu.  Saya beruntung menjadi saksi pada pengukuhan seorang saudara dan sahabat saya Dr Ibnu Hamad, dalam sebuah forum yang amat terhormat, menjadi seorang gurubesar di Universitas Indonesia, salah sebuah universitas yang membanggakan bagi
bangsa ini akhir Februari 2010 lalu. Momen itu jadi penghibur, ditengah kegalauan saya beberapa hari terakhir ini.

Lama mengenalnya. Dengan demikian, saya tahu persis, betapa kehormatan itu tak diperolehnya dengan mudah. Sebagai orang yang lahir di kabupaten yang sama, Pandeglang, saya tahu persis betapa Ibnu harus merebut dan mewujudkan cita-citanya dengan segala perjuangan. Berbagai keterbatasannya, mulai dari lingkungan , ekonomi, fasilitas belajar di sekolah  hingga komitmen pemerintah daerah mendorong putra-putra terbaiknya untuk bisa sekolah di perguruan tinggi terbaik di negeri ini, menjadi sebuah contraint bagi berkembangnya bibit-bibit unggul seperti Ibnu ini.

Waktu itu, tak banyak lulusan SMA di kota kami yang mampu melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Keterbatasan ekonomi, fasitas, membuat kami tak mempu bersaing dengan rekan-rekan kami yang berasal dari kota-kota lain.

Namun saya menyaksikan beberapa diantara rekan kami, seperti ini Ibnu  ini mampu keluar dari jebakan keterbatasan struktural. Ia tak pernah mempedulikan apakah pemerintah kabupaten mengalokasikan dana yang cukup bagi sekolah-sekolah menengah agar mengejar ketertinggalannya.

Yang dia lakukan adalah berangkat ke Depok dan berjuang disana. Ibnu tak sendirian, ada beberapa diantaranya punya potensi dan kemauan yang keras sepertinya, dan menuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi dan mereka kita menjadi “landmark”  angkatan kami. Sebut saja  Dr Mukhlis Yusuf, yang kini Dirut LKBN Antara dan  Presiden Asosiasi Kantor Berita Asia Pasific (Oana), atau U Saefuddin Nur, Head of Syariah Banking CIMB Niaga yang sebelumnya sukses memimpin Bank Muamalat sebagi direktur. Rekan kami yang lain  Agus M Tauchid (Kepala Dinas
Distanak Banten) dan Agus Mulyadi Randil  (Kepala Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Banten) memilih mengabdikan diri sebagai birokrat di kampung halaman.

Saat mendengar pidato itu, pikiran saya menerawang. Saya bayangkan, kalau saja uang Rp 1,5 miliar yang digunakan untuk menyuap anggota DPRD itu digunakan untuk bea siswa anak-anak berbakat, betapa banyak  anak-anak yang punya potensi bisa menyelesaikan sekolahnya. Katakannya untuk mencetak seorang sarjana diperlukan dana Rp 30 juta per orang, untuk membayar SPP dan biaya hidup. Maka selama 4 tahun ada 50  orang anak-anak muda berbakat, yang bisa diluluskan dan punya komitmen yang kuat untuk membangun daerahnya, dan pasti akan punya rasa malu, untuk korupsi jika dia bekerja, karena selama dia belajar dibiayai penuh oleh rakyatnya. Dan kalau setiap tahun pemerintah daerah mengalokasikan jumlah yang sama, berarti selama masa kepemimpinan seorang bupati atau kepala daerah ini, bisa melahirkan 250 anak berbakat menjadi sarjana, yang suatu waktu kelak akan menjadi bupati, anggota DPRD atau profesor seperti Ibnu Hamad.

Berkeliling ke pelosok Pandeglang dalam dua tahun terakhir ini, saya jadi memahami betapa banyaknya faktor pendorong yang menjadikan anak-anak muda itu bertekad keluar Pandeglang. Tak perlu terlalu jauh, di sepanjang jalur pariwisata utama poros Labuan-Tanjung Lesung-Sumur saja, infrastruktur jalan kian parah. Ditengah fragmentasi dan alih fungsi  lahan yang terjadi begitu masih saat ini, sektor pertanian menjadi kian tak menarik banyak anak muda belakangan ini.

Berharap mengabdikan diri menjadi pegawai negeri. Ini juga tak mudah, hanya mereka yang beruntung bisa kuliah yang saat ini bisa jadi PNS.Itupun harus menyiapkan dana puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk  menyuap agar bisa jadi PNS.

Terlalu utopis jika saya berharap, makin banyak anak-anak muda Pandeglang yang mampu keluar dari berbagai jeratan dan keterbatasan struktural, seperti yang dilakukan Ibnu, atau banyak juga anak-anak muda Pandeglang yang tergabung dalam kelompok aktivis Pandeglang  yang  muncul, dan tetap memilihara semangat berjuangnya  macam Yogi, Tb Nuruljaman, Heru Fahrudin  dan Uday Syuhada .

Maka dengan sedih hati saya katakan, mereka yang tersesat menjadi teroris atau menjadi kelompok pencuri kendaraan bermotor yang terkenal dengan nama kelompok Pandeglang, adalah mereka yang frustrasi, akan semua keterbatasan dan kemiskinan  yang membelenggunya. Sementara mereka tahu persis, janji manis calon wakil rakyat yang kini duduk manis, dan calon pemimpin daerah yang kini bersiap membujuk mereka, yang berjanji memperbaiki kehidupan rakyat Pandeglang, hanya manis saat kampanye.Begitu terpilih nanti, mereka itu  bakal sibuk melakukan pengumpulan
sumberdaya ekonomi, dan memperkuat jaringan kekuasaan untuk bersiap melanggengkan kekuasaan menuju pemilihan berikutnya. (*)

*Penulis adalah pekerja televisi

BABI NGEPET BUKU

Cerpen Langlang Randhawa*

Alkisah, Banten punya taman budaya yang megah. Gedung berlantai lima yang berdiri di atas tanah bekas gedung kegubernuran Banten itu ramai dengan diskusi mengalahkan hiruk-pikuk mall-mall. Selain berada di jantung kota dan mewah, fasilitasnya pun mengalahkan Gedung Putih Amerika; kenyamanan, keamanan, pelayanan, dan kebersihan sangatlah terjaga dan tertata. Ada perpustakaan di setiap sudut-sudut ruangan. Pun di toilet. Akses internet gratis dan loadingnya secepat kilat tergesa-gesa. Gedung itu sudah mencerdaskan warga Banten. Anak-anaknya sehat dan cerdas. Pemudanya kritis dan santun. Pejabatnya bijak dan berwibawa. Ekonomi rakyatnya sejehtera. Jalanan licin dan infastruktur tertata rapih. Wisatanya menggeliat pesat. Tak ada lagi cottage yang memagari pantai. Panorama lepas pandang pantai dan nelayan yang melaut di samudra biru ternyata kunci sukses wisata bahari Banten. Investor mengantri. Korupsi, kolusi, dan nepotisme sudah mati. Banten pun diprediksi selamat dunia akhirat oleh para pengamat kehidupan dan kematian. Sungguh prestasi yang didamba umat bangsa. Banten pun segera menjadi kiblat peradaban dunia.

Suksesi ini hasil kerja sampingan. Tidak capek, dan sangat menyenangkan. Kerja sambilan seorang pemuda tampan dan cerdas. Pemuda yang selalu bermimpi. Pemuda yang bertahun-tahun bermimpi mendamba gedung kesenian dan taman budaya. Baginya, setelah ada gedung kesenian dan taman budaya yang mewah dan Islami, masyarakat akan cerdas sendiri. Cerdas Islami berarti menuju sejahtera. Dia tidak harus memantau. Tidak repot. Tidak ribet. Hidup pun bergairah. Penuh semangat. Semuanya aman. Polisi tinggal santai karena warga tertib lalu-lintas. Hakim dan jaksa menikmati hidup saja karena tak ada kasus di persidangan. Tak ada maling, pengemis, anak jalanan. Semuanya sudah sejahtera. Kini pekerjaan pemuda itu belajar dan belajar. Memimpin Banten adalah side job. Pemuda itu memang fenomenal. Kiprahnya menggegerkan dunia. Entah dari mana, buku-buku terbaru dari dalam dan luar negeri sudah ia koleksi dengan cepat. Sebagian buat pribadi dan lainnya untuk perpustakaan. Maka jadilah Banten jadi rujukan referensi pelajar, mahasiswa, dan kaum intelektual dunia. Perpustakaan Leiden, Belanda, terancam tutup! Pemuda ini benar-benar fantastic dan fenomenal. Sangat menggemparkan jagat raya sesuai namanya yang dahsyat; Gel Egar! Yah, pemuda itu bernama Gel Egar. Tapi di sini Anda cukup panggil saja dia Egar. Si Egar!

***

Gel Egar dulunya bernama Gel Isah. Sejak kecil ia selalu gelisah. Gelisah jika ada sesuatu yang berantakan. Gelisahi apa saja. Gelisah tentang masa depan anak-anak Banten. Gelisah jalan berantakan. Gelisah sulit mencari buku. Gelisah masyarakat yang bodoh. Ia juga gelisah jika teman-temannya hendak datang sementara rumahnya berantakan. Gelisah membuatnya sibuk sendiri. Gelisah menjadikannya menyelesaikan segala hal yang tidak beres sendirian. Gelisah membuatnya perfeksionis. Gelisah pun membuatnya jadi anak laki-laki yang sedikit girly. Hingga remaja, ia tidak gelisah saat temannya memanggilnya Neng Isah. Ia hanya menggelisahi orang lain bukan dirinya sendiri. Gelisah pada cita-cita Banten pun mengakibatkannya datang kepada seorang dukun intelektual bernama Ki Cendiki Awan.

“Apa yang kau inginkan, Isah?”
“Sesuatu yang bisa membuatku tidak gelisah dan membuat kotaku jaya, Ki.”
“Itu gampang, Isah. Syaratnya cuma satu.”
“Apa itu, Ki Cendik?”
“Sebelum saya jawab, apakah kamu tidak gelisah dengan namamu, Isah?”
“Tidak, Ki. Namaku memang Gel Isah sejak dulu.”
“Baiklah. Syaratnya cuma satu. Kamu harus mengganti nama, Isah.”
“Ganti nama? Tidak apa. Apa itu, Ki?”
“Ganti namamu dengan Gel Egar!”
“Gel Egar? Baiklah. Aku permisi kalau begitu.”
“Tunggu Egar! Bawa benda ini!”
“Apa ini?”
“Itu lilin pintar dan buku cerdas dari Cina, Egar. Ilmu babi ngepet buku!”
“Babi ngepet buku? Caranya bagaimana?”
“Nyalakan lilin itu tengah malam. Dirikan di atas buku.”
“Lalu aku yang jadi babi? Aku tidak tertarik.”
“Tidak. Kau akan jadi Egar saja. Biarkan babi biru yang bekerja. Babi ini akan menarik buku-buku yang kau inginkan. Kapan dan di mana pun. Kau akan jadi terkenal karena cerdas. Cerdaskan dirimu, lalu cerdaskan orang lain! Maka dengan sendirinya kotamu akan jaya. Kau akan sukses. Sukses itu, pemerintahannya jalan, pemimpinya jalan-jalan.”
“Menarik. Lalu apa aku harus cari tumbal?”
“Tidak perlu. Babi ini sudah saya gajih. Dia tidak akan minta apa-apa.”
“Baguslah kalau ia sadar posisi dan professional.”
“Tapi ada satu syarat lagi, Egar!”
“Apa itu, Ki?”
“Jika sudah dapat bukunya, baca!”
“Okeleh kalo begitu.”

***

Membaca membuat Egar cerdas. Cerdas membuatnya menjadi macho. Keren dan kekar. Wajahnya bersih berseri. Jalannya berwibawa penuh senyum berpesona. Egar Jadi buruan wartawan oleh ketenarannya. Kebanggan kepala sekolah oleh prestasinya. Impian rektor karena kritis dan vokal. Idola gadis jelita oleh lenjang dan ranggi tubuhnya. Idaman calon mertua oleh budi dan dayanya. Tapi Egar tetap tegar. Ia biasa saja. Tidak sombong dan tidak tergesa-gesa untuk menikah. Egar masih haus belajar. Egar ingin lebih menggelegar. Ia asyik menarik buku-buku dengan babi bukunya. Egar kaya dengan buku. Egar aman, karena tak ada satu pun orang yang curiga. Tak banyak yang merasa kehilangan buku. Hanya beberapa gelintir saja. Selebihnya orang-orang masa bodoh pada buku. Mereka hanya senang mengkoleksi. Tidak ada lemari buku di rumah pada masa ini adalah sebuah aib besar. Seperti aib dan cacat intelektual bagi Egar yang ditanya wartawan filsafat, lalu tak bisa menjawabnya.

“Egar, Anda sebagai orang cerdas, saya mau konfirmasi sebentar. Bisa?”
“Bisa. Soal apa?”
“Ada beberapa pertanyaan.”
“Apa saja?”
“Di mana adanya Tuhan menurutmu?”
“Lalu?”
“Takdir itu apa, Egar?”
“Yang lain?”
“Soal setan dan nereka. Setan terbuat dari api. Neraka penuh bara. Bagaimana Anda menyikapi kebijakan Tuhan yang hendak menghukum setan di neraka. Secara logika, setan tidak akan menderita. Seharusnya api dihukum di surga yang konon penuh air mengalir dan danau yang mempesona supaya kobarannya padam. Ada komentar?”
“Tidak ada.”
“Kenapa, Egar?”
“Untuk urusan ini kalianlah yang lebih tahu.”
“Dari mana Anda berkesimpulan demikian?”
“Kerena tugas filsafat bukan hanya bertanya, tapi juga menjawab dengan benar.”
“Oke. Saya sepakat. Tapi untuk tiga pertanyaan tadi kami tidak bisa.”
“Kalai begitu bubarkan filsafat. Mubadzir otak kalian. Permisi!”
“Okelah kalo begitu.”

***

Banten kian makmur, Egar pun sibuk kembali belajar. Ada pertanyaan yang selama ini belum terjawab dalam hidupnya. Gara-gara wartawas filsafat. Meski Egar terlihat cuek, tepi ia tetap saja memikirkannya. Soal takdir manusia. Soal setan dan neraka. Hingga soal keberadaan Tuhan. Buku-buku Egar tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Tokoh ulama dan cendikia terlalu bertele-tele dan gagasanya berloncat-loncatan memaparkan. Tidak jelas siapa ngomong apa. Egar tidak pernah puas. Meski demikian, ia sendiri tidak pernah menyerah berusaha bersama si babi biru. Ia terus membaca buku-buku terbaru hasil gesekan babi biru. Buku-buku best seller. Mega best seller. Nasional dan internasional best seller. Jika tidak didapat, maka ia akan mencari buku yang lain. Jika Indonesia dan negara-negara asia tidak bisa menjawab, maka ia akan lari ke negeri timur tengah. Gagal di timur tengah, meski tidak yakin, ia akan lari ke negeri eropa untuk menemukan jawabannya. Egar tetap tidak bisa mencari jawabannya.

Malam ini Egar sangat gelisah. Hari-harinya menjadi kian sibuk dan semakin jauh dari Banten. Semakin lama meninggalkan rumah dan ibunya sendirian. Ia khawatir umurnya akan habis, sementara jawaban itu belum juga ditemukan. Egar pun kalah. Ia ingin curhat pada si babi biru doyan buku. Segera ia nyalakan lilin yang sudah pendek. Diletakkannnya lilin yang sudah menyala di atas buku tebal bergambar cover babi biru. Seketika gambar babi biru itu meloncat keluar dari buku. Menjelma jadi babi yang cute imut namun penuh wibawa.

“Pengen buku apa lagi, Tuan Egar?”
“Tidak. Aku hanya minta saran.”
“Saran?”
“Ya. Karena kamu suka baca. Aku pikir kamu lebih cerdas dari manusia.”
“Tidak sepenuhnya betul. Tapi bisa juga.”
“Sudahlah. Aku anggap kamu cerdas. Aku pusing, Biru.”
“Pusing tiga pertanyaan itu?”
“Ya. Kau memang cerdas.”
“Saran saya pulanglah ke Banten.”
“Tidak. Banten sudah jaya. Ia bisa jalan sendiri.”
“Bukan itu maksdukku, Tuan Egar. Temui ibumu.”
“Ibu?”
“Ibumu akan menyelesaikan masalahmu.”
“Tidak. Aku tidak mau membebani dia. Ibu sudah tua. Tidak juga bisa membaca.”
“Tapi dia cerdas. Cerdas tidak harus rajin membaca. Dia cerdas mengamati.”
“Sudahlah. Aku minta saran lain.”
“Tidak ada.”
“Kenapa?”
“Hari ini terakhir saya terakhir menemanimu, Tuan Egar.”
“Oh iya. Cepet sekali. Tak terasa kerjasama kita akan berakhir.”
“Begitulah. Jika tidak percaya, silahkan cek di MoU.”
“Tidak usah. Aku percaya.”
Egar diam sejenak. Pusing rupanya dia. Gara-gara wartawan filsafat sialan.
“Tuan Egar, karena kerja sama kita tanpa cacat. Saya akan kasih bonus.”
“Apa itu, Biru?”
“Sebenernya limit alokasi gesekanmu sudah habis. Tapi saya akan beri kamu gesekan bonus yang juga berlaku buat menarik apa saja. Termasuk menarik ibumu ke sini.”
“Benarkah?”
“Ya. Kamu mau.”
“Ya. Aku mau.”
Babi biru doyan buku segera menggesek-gesekkan badannya di tembok. Tak butuh waktu lama, tiba-tiba Gele Pokh, ibunya Gel Egar menjelma bersama cahaya putih.
“Ibu!”
“Lha! Egar? Ini di mana?”
“Ini di rumah Egar, Bu. Di kawasan Real Madrid.”
“Lha! Kenapa bisa begini. Bukannya tadi ibu masih di stasiun Rangkasbitung!?”
“Ibu sedang apa sampe ke Rangkas segala? Egar yang bawa ibu ke sini.”
“Yah!”
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi refleks.
“Yah! Padahal ibu lagi transaksi jual tikar! Batal, deh. Uangnya hilang. Cape, deh!”
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi refleks.
“Buat apa kamu bawa ibu ke sini, Egar?”
“Mau tanya sesuatu. Tentang di mana Tuhan? Apa itu takdir? Kenapa setan dimasukan ke neraka, padahal ia juga terbuat dari api? Tidak sakit dong setan.”
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi refleks.
“Lha kok ditampar lagi?”
“Egar. Gitu aja tidak bisa. Mubadzir otak kamu itu. Buat apa kuliah jauh-jauh!”
“Emang ibu tau?”
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi refleks.
“Kak ditampar lagi?”
“Itu jawabannya. Sakitkan?”
“Iya.”
“Sakit itu seperti apa. Itulah Tuhan. Terasa namun tidak nampak.”
“Pernah berfikir kamu akan ditampar ibu seperti ini?”
“Tidak.”
“Itulah takdir.”
“Tangan ibu kulit. Pipimu juga kulit. Tapi sakit kan?”
“Iya. Setan. Api dan api bisa menyakitkan. Seperti kulit dan kulit tadi. Puas?”
“Okelah kalo begitu.”
Alkisah, Egar dan ibunya pulang kampung ke Banten. Ia terpesona melihat Banten. Di negerinya banyak orang berdiskusi dan mengaji. Betapa kagetnya Egar melihat Socrates dan Plato sedang belajar Iqro pada ustadz Sanusi. Sastrawan-sastrawan sudah menjadi ulama.
“Manteplah kalau begini!”

======
*Warga Tangerang, penulis novel Slonong Boy Millionaire.

advert

Tags Kata

Gonjlengan

BE A WRITER: DARI YANG REGULER HINGGA EXCLUSIVE”

Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat.

Full Story | May 20th, 2010

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa*
Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong
MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak mengganggu [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK
I.
“ora et labora”
di pertigaan jalan menuju rumah
beberapa tukang becak menyemadikan nasib
: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha
- memejam di tempat duduk
masingmasing-
II.
“nrimo ing pandum”
kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan
begitu saja kepada puingan matahari dan purnama
mereka mengabadikannya sebagai penanda becak
yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa
lapar dan haus adalah
foto-doa
III.
“kerja adalah ibadah”
di sisi adzan,
kretek [...]

Full Story | July 18th, 2010