BABI NGEPET BUKU

Cerpen Langlang Randhawa*

Alkisah, Banten punya taman budaya yang megah. Gedung berlantai lima yang berdiri di atas tanah bekas gedung kegubernuran Banten itu ramai dengan diskusi mengalahkan hiruk-pikuk mall-mall. Selain berada di jantung kota dan mewah, fasilitasnya pun mengalahkan Gedung Putih Amerika; kenyamanan, keamanan, pelayanan, dan kebersihan sangatlah terjaga dan tertata. Ada perpustakaan di setiap sudut-sudut ruangan. Pun di toilet. Akses internet gratis dan loadingnya secepat kilat tergesa-gesa. Gedung itu sudah mencerdaskan warga Banten. Anak-anaknya sehat dan cerdas. Pemudanya kritis dan santun. Pejabatnya bijak dan berwibawa. Ekonomi rakyatnya sejehtera. Jalanan licin dan infastruktur tertata rapih. Wisatanya menggeliat pesat. Tak ada lagi cottage yang memagari pantai. Panorama lepas pandang pantai dan nelayan yang melaut di samudra biru ternyata kunci sukses wisata bahari Banten. Investor mengantri. Korupsi, kolusi, dan nepotisme sudah mati. Banten pun diprediksi selamat dunia akhirat oleh para pengamat kehidupan dan kematian. Sungguh prestasi yang didamba umat bangsa. Banten pun segera menjadi kiblat peradaban dunia.

Suksesi ini hasil kerja sampingan. Tidak capek, dan sangat menyenangkan. Kerja sambilan seorang pemuda tampan dan cerdas. Pemuda yang selalu bermimpi. Pemuda yang bertahun-tahun bermimpi mendamba gedung kesenian dan taman budaya. Baginya, setelah ada gedung kesenian dan taman budaya yang mewah dan Islami, masyarakat akan cerdas sendiri. Cerdas Islami berarti menuju sejahtera. Dia tidak harus memantau. Tidak repot. Tidak ribet. Hidup pun bergairah. Penuh semangat. Semuanya aman. Polisi tinggal santai karena warga tertib lalu-lintas. Hakim dan jaksa menikmati hidup saja karena tak ada kasus di persidangan. Tak ada maling, pengemis, anak jalanan. Semuanya sudah sejahtera. Kini pekerjaan pemuda itu belajar dan belajar. Memimpin Banten adalah side job. Pemuda itu memang fenomenal. Kiprahnya menggegerkan dunia. Entah dari mana, buku-buku terbaru dari dalam dan luar negeri sudah ia koleksi dengan cepat. Sebagian buat pribadi dan lainnya untuk perpustakaan. Maka jadilah Banten jadi rujukan referensi pelajar, mahasiswa, dan kaum intelektual dunia. Perpustakaan Leiden, Belanda, terancam tutup! Pemuda ini benar-benar fantastic dan fenomenal. Sangat menggemparkan jagat raya sesuai namanya yang dahsyat; Gel Egar! Yah, pemuda itu bernama Gel Egar. Tapi di sini Anda cukup panggil saja dia Egar. Si Egar!

***

Gel Egar dulunya bernama Gel Isah. Sejak kecil ia selalu gelisah. Gelisah jika ada sesuatu yang berantakan. Gelisahi apa saja. Gelisah tentang masa depan anak-anak Banten. Gelisah jalan berantakan. Gelisah sulit mencari buku. Gelisah masyarakat yang bodoh. Ia juga gelisah jika teman-temannya hendak datang sementara rumahnya berantakan. Gelisah membuatnya sibuk sendiri. Gelisah menjadikannya menyelesaikan segala hal yang tidak beres sendirian. Gelisah membuatnya perfeksionis. Gelisah pun membuatnya jadi anak laki-laki yang sedikit girly. Hingga remaja, ia tidak gelisah saat temannya memanggilnya Neng Isah. Ia hanya menggelisahi orang lain bukan dirinya sendiri. Gelisah pada cita-cita Banten pun mengakibatkannya datang kepada seorang dukun intelektual bernama Ki Cendiki Awan.

“Apa yang kau inginkan, Isah?”
“Sesuatu yang bisa membuatku tidak gelisah dan membuat kotaku jaya, Ki.”
“Itu gampang, Isah. Syaratnya cuma satu.”
“Apa itu, Ki Cendik?”
“Sebelum saya jawab, apakah kamu tidak gelisah dengan namamu, Isah?”
“Tidak, Ki. Namaku memang Gel Isah sejak dulu.”
“Baiklah. Syaratnya cuma satu. Kamu harus mengganti nama, Isah.”
“Ganti nama? Tidak apa. Apa itu, Ki?”
“Ganti namamu dengan Gel Egar!”
“Gel Egar? Baiklah. Aku permisi kalau begitu.”
“Tunggu Egar! Bawa benda ini!”
“Apa ini?”
“Itu lilin pintar dan buku cerdas dari Cina, Egar. Ilmu babi ngepet buku!”
“Babi ngepet buku? Caranya bagaimana?”
“Nyalakan lilin itu tengah malam. Dirikan di atas buku.”
“Lalu aku yang jadi babi? Aku tidak tertarik.”
“Tidak. Kau akan jadi Egar saja. Biarkan babi biru yang bekerja. Babi ini akan menarik buku-buku yang kau inginkan. Kapan dan di mana pun. Kau akan jadi terkenal karena cerdas. Cerdaskan dirimu, lalu cerdaskan orang lain! Maka dengan sendirinya kotamu akan jaya. Kau akan sukses. Sukses itu, pemerintahannya jalan, pemimpinya jalan-jalan.”
“Menarik. Lalu apa aku harus cari tumbal?”
“Tidak perlu. Babi ini sudah saya gajih. Dia tidak akan minta apa-apa.”
“Baguslah kalau ia sadar posisi dan professional.”
“Tapi ada satu syarat lagi, Egar!”
“Apa itu, Ki?”
“Jika sudah dapat bukunya, baca!”
“Okeleh kalo begitu.”

***

Membaca membuat Egar cerdas. Cerdas membuatnya menjadi macho. Keren dan kekar. Wajahnya bersih berseri. Jalannya berwibawa penuh senyum berpesona. Egar Jadi buruan wartawan oleh ketenarannya. Kebanggan kepala sekolah oleh prestasinya. Impian rektor karena kritis dan vokal. Idola gadis jelita oleh lenjang dan ranggi tubuhnya. Idaman calon mertua oleh budi dan dayanya. Tapi Egar tetap tegar. Ia biasa saja. Tidak sombong dan tidak tergesa-gesa untuk menikah. Egar masih haus belajar. Egar ingin lebih menggelegar. Ia asyik menarik buku-buku dengan babi bukunya. Egar kaya dengan buku. Egar aman, karena tak ada satu pun orang yang curiga. Tak banyak yang merasa kehilangan buku. Hanya beberapa gelintir saja. Selebihnya orang-orang masa bodoh pada buku. Mereka hanya senang mengkoleksi. Tidak ada lemari buku di rumah pada masa ini adalah sebuah aib besar. Seperti aib dan cacat intelektual bagi Egar yang ditanya wartawan filsafat, lalu tak bisa menjawabnya.

“Egar, Anda sebagai orang cerdas, saya mau konfirmasi sebentar. Bisa?”
“Bisa. Soal apa?”
“Ada beberapa pertanyaan.”
“Apa saja?”
“Di mana adanya Tuhan menurutmu?”
“Lalu?”
“Takdir itu apa, Egar?”
“Yang lain?”
“Soal setan dan nereka. Setan terbuat dari api. Neraka penuh bara. Bagaimana Anda menyikapi kebijakan Tuhan yang hendak menghukum setan di neraka. Secara logika, setan tidak akan menderita. Seharusnya api dihukum di surga yang konon penuh air mengalir dan danau yang mempesona supaya kobarannya padam. Ada komentar?”
“Tidak ada.”
“Kenapa, Egar?”
“Untuk urusan ini kalianlah yang lebih tahu.”
“Dari mana Anda berkesimpulan demikian?”
“Kerena tugas filsafat bukan hanya bertanya, tapi juga menjawab dengan benar.”
“Oke. Saya sepakat. Tapi untuk tiga pertanyaan tadi kami tidak bisa.”
“Kalai begitu bubarkan filsafat. Mubadzir otak kalian. Permisi!”
“Okelah kalo begitu.”

***

Banten kian makmur, Egar pun sibuk kembali belajar. Ada pertanyaan yang selama ini belum terjawab dalam hidupnya. Gara-gara wartawas filsafat. Meski Egar terlihat cuek, tepi ia tetap saja memikirkannya. Soal takdir manusia. Soal setan dan neraka. Hingga soal keberadaan Tuhan. Buku-buku Egar tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Tokoh ulama dan cendikia terlalu bertele-tele dan gagasanya berloncat-loncatan memaparkan. Tidak jelas siapa ngomong apa. Egar tidak pernah puas. Meski demikian, ia sendiri tidak pernah menyerah berusaha bersama si babi biru. Ia terus membaca buku-buku terbaru hasil gesekan babi biru. Buku-buku best seller. Mega best seller. Nasional dan internasional best seller. Jika tidak didapat, maka ia akan mencari buku yang lain. Jika Indonesia dan negara-negara asia tidak bisa menjawab, maka ia akan lari ke negeri timur tengah. Gagal di timur tengah, meski tidak yakin, ia akan lari ke negeri eropa untuk menemukan jawabannya. Egar tetap tidak bisa mencari jawabannya.

Malam ini Egar sangat gelisah. Hari-harinya menjadi kian sibuk dan semakin jauh dari Banten. Semakin lama meninggalkan rumah dan ibunya sendirian. Ia khawatir umurnya akan habis, sementara jawaban itu belum juga ditemukan. Egar pun kalah. Ia ingin curhat pada si babi biru doyan buku. Segera ia nyalakan lilin yang sudah pendek. Diletakkannnya lilin yang sudah menyala di atas buku tebal bergambar cover babi biru. Seketika gambar babi biru itu meloncat keluar dari buku. Menjelma jadi babi yang cute imut namun penuh wibawa.

“Pengen buku apa lagi, Tuan Egar?”
“Tidak. Aku hanya minta saran.”
“Saran?”
“Ya. Karena kamu suka baca. Aku pikir kamu lebih cerdas dari manusia.”
“Tidak sepenuhnya betul. Tapi bisa juga.”
“Sudahlah. Aku anggap kamu cerdas. Aku pusing, Biru.”
“Pusing tiga pertanyaan itu?”
“Ya. Kau memang cerdas.”
“Saran saya pulanglah ke Banten.”
“Tidak. Banten sudah jaya. Ia bisa jalan sendiri.”
“Bukan itu maksdukku, Tuan Egar. Temui ibumu.”
“Ibu?”
“Ibumu akan menyelesaikan masalahmu.”
“Tidak. Aku tidak mau membebani dia. Ibu sudah tua. Tidak juga bisa membaca.”
“Tapi dia cerdas. Cerdas tidak harus rajin membaca. Dia cerdas mengamati.”
“Sudahlah. Aku minta saran lain.”
“Tidak ada.”
“Kenapa?”
“Hari ini terakhir saya terakhir menemanimu, Tuan Egar.”
“Oh iya. Cepet sekali. Tak terasa kerjasama kita akan berakhir.”
“Begitulah. Jika tidak percaya, silahkan cek di MoU.”
“Tidak usah. Aku percaya.”
Egar diam sejenak. Pusing rupanya dia. Gara-gara wartawan filsafat sialan.
“Tuan Egar, karena kerja sama kita tanpa cacat. Saya akan kasih bonus.”
“Apa itu, Biru?”
“Sebenernya limit alokasi gesekanmu sudah habis. Tapi saya akan beri kamu gesekan bonus yang juga berlaku buat menarik apa saja. Termasuk menarik ibumu ke sini.”
“Benarkah?”
“Ya. Kamu mau.”
“Ya. Aku mau.”
Babi biru doyan buku segera menggesek-gesekkan badannya di tembok. Tak butuh waktu lama, tiba-tiba Gele Pokh, ibunya Gel Egar menjelma bersama cahaya putih.
“Ibu!”
“Lha! Egar? Ini di mana?”
“Ini di rumah Egar, Bu. Di kawasan Real Madrid.”
“Lha! Kenapa bisa begini. Bukannya tadi ibu masih di stasiun Rangkasbitung!?”
“Ibu sedang apa sampe ke Rangkas segala? Egar yang bawa ibu ke sini.”
“Yah!”
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi refleks.
“Yah! Padahal ibu lagi transaksi jual tikar! Batal, deh. Uangnya hilang. Cape, deh!”
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi refleks.
“Buat apa kamu bawa ibu ke sini, Egar?”
“Mau tanya sesuatu. Tentang di mana Tuhan? Apa itu takdir? Kenapa setan dimasukan ke neraka, padahal ia juga terbuat dari api? Tidak sakit dong setan.”
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi refleks.
“Lha kok ditampar lagi?”
“Egar. Gitu aja tidak bisa. Mubadzir otak kamu itu. Buat apa kuliah jauh-jauh!”
“Emang ibu tau?”
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi refleks.
“Kak ditampar lagi?”
“Itu jawabannya. Sakitkan?”
“Iya.”
“Sakit itu seperti apa. Itulah Tuhan. Terasa namun tidak nampak.”
“Pernah berfikir kamu akan ditampar ibu seperti ini?”
“Tidak.”
“Itulah takdir.”
“Tangan ibu kulit. Pipimu juga kulit. Tapi sakit kan?”
“Iya. Setan. Api dan api bisa menyakitkan. Seperti kulit dan kulit tadi. Puas?”
“Okelah kalo begitu.”
Alkisah, Egar dan ibunya pulang kampung ke Banten. Ia terpesona melihat Banten. Di negerinya banyak orang berdiskusi dan mengaji. Betapa kagetnya Egar melihat Socrates dan Plato sedang belajar Iqro pada ustadz Sanusi. Sastrawan-sastrawan sudah menjadi ulama.
“Manteplah kalau begini!”

======
*Warga Tangerang, penulis novel Slonong Boy Millionaire.

ANTARA RABEG BANTEN DAN ARAB SAUDI

RABEG BANTEN DAN ARAB

Oleh Harir Baldan

Bicara Arab Saudi dengan Indonesia bukan hanya soal ibadah haji saja. Lebih dari itu, lanjutkan membaca »

SAYUTI: MEMBACA ITU KEBUTUHAN

MEMBACA ITU KEBUTUHAN

Oleh: Harir Baldan

Sayuti sang Duta Change With Reading

Perkenalkan namaku Sayuti Zakariya (27). Aku anak semata wayang dari pasangan Zakariya dan Fatmawati. Sejak kecil aku sudah terbiasa hidup mandiri. lanjutkan membaca »

MENGUPAS SEJARAH DENGAN BAHASA YANG RENYAH

Kristen bukuJudul Buku     : Misionarisme di Banten

Penulis            : Mufti Ali Ph.D

Tebal Buku     : 183

Penerbit          : Bantenology

Membaca buku sejarah, apalagi dengan tebal menyamai bantal, tak pelak membuat pembaca jenuh. Namun tak ada salahnya menyimak buku karya Mufti Ali, yang mengupas tentang Misionarisme di Banten.

Buku setebal 183 halaman terbitan Bantenology ini mengupas tuntas proses awal mula Kristenisasi yang lebih lanjut dalam buku ini disebut dengan penginjilan atau misionaris. Tahun penginjilan yang dipaparkan dalam buku ini hanya dalam rentang 1854 sampai 1945. dijelaskan penulis, dimulai pada 1854 karena merupakan point if departure dari misionarisme institusional Belanda, karena untuk pertama kalinya ‘sekolah agama Kristen’ dibangun di Jengkol, Cikuya (Tigaraksa, Tangeranf) oleh dua orang Belanda. Kedua orang itu dijelaskan lebih lanjut bernama Reesink, seorang landlord (tuan tanah) di Cikuya dan Adolf Muhlnikel, seorang mandor yang beberapa tahun kemudian berhasil mengkristenkan beberapa penduduk di Jengkol.

Dijelaskan juga, Kristenisasi pun dilakukan kepada pribumi oleh pribumi, yang dianggap cara paling tepat. Anggapan bahwa orang Timur, agama, hubungan hidup masyarakat, kebangsaan, adapt, norma merupakan suatu kesatuan yang utuh dan kokoh. Berbekal anggapan inilah, penginjilan dilakukan oleh penduduk pribumi dan disampaikan dengan bentuk dan metode secara pribumi pula.

Tidak seperti buku sejarah lain, apalagi buku mata pelajaran sejarah yang dipelajari sekolah, buku terbitan tahun 2009 ini dikemas dengan bahasa yang komunikatif dan renyah. Sehingga mudah dicerna. Pembaca diajak berpetualang dengan alur dan kronologis yang sistematis. Tapi tidak menybebakan efek samping menguap lalu mengantuk.

Kata misionaris yang dipakai pada judul buku, mencoba menggambarkan penyebaran agama Kristen di bumi Banten, yang waktu itu masih menyatu dengan Jawa Barat. Banten yang dikenal sebagai bumi para wali, rupanya tak pelak menjadi incaran Kristenisasi. Terlebih lagi didukung proses kolonialisasi Belanda yang bercokol cukup lama. Kebijakan Belanda dalam memerintah Banten pun berpengaruh besar terhadap kristenisasi, karena kerap menomorduakan Islam sebagai agama yang mayoritas.

Kristenisasi pun dalam buku ini dijelaskan, dengan istilah ‘upaya’ karena proyek kristenisasi ini dianggap lebih banyak menemui kegagalan daripada berhasil karena resistensi dan penolakan dari warga Banten muslim. Sepanjang sejarah Banten, penolakan dilakukan beragam seperti penjatuhan hukuman mati oleh Sultan Banten terhadap salah seorang kerabatnya yang masuk Kristen pada 1704, pengisolasian suatu komunitas Kristen, peracunan misionaris Belanda, dan vandalisme terhadap kuburan dan makam misionaris.

Meskipun memaparkan tentang misionarisme yang selama ini berkonotasi negatif, yang secara lugas bermakna penyebaran agama Kristenisasi dengan beragam cara, namun penulis terlihat netral dalam memaparkan Kristenisasi. Penulis lebih menitikberatkan pada fakta dan realita, bertujuan membuka mata pembaca mengenali dan memahami awal mula pengembangangn Kristen di Banten.

Pembaca dilibatkan dalam memverifikasi (kebenaran) narasi sejarah dengan melihat catatan kaki yang berisi sumber bacaan dan informasi referensial argument yang didiskusikan. Pernyataan-pernyataan yang dianggap sangat penting dan ‘sensitif’ diungkap secar verbatim atau kata demi kata.

Secara garis besar, buku yang membagi titik permasalahan dalam 6 bagian ini, memfokuskan pada 5 permasalahan pokok yang dikupas. Seperti mengetahui siapa saja tokoh misionarisme di Banten, seberapa banyak masyarakat asli Banten yang memilih menjadi Kristen, lembaga misionaris apa saja yang beroperasi di Banten, apakah Alkitab diterjemahkan ke dalama bahasa setempat yakni Jawa atau Sunda (Banten), dan sejak kapan gereja didirikan di Banten.

Bagi pembaca sejarah pemula, buku ini tidak terlalu berat untuk diikuti. Begitupun bagi yang penasaran mengenai tata letak Kota Serang pada jaman penjajahan Belanda, seperti keberadaan gereja yang berada di lokasi pusat Kota Serang, kawasan Alun-alun dan Kegubernuran. Diceritakan, pada 1846, didirikanlah ‘gereja negara’ di dekat Alun-alun Kota Serang. Pembangunan gereja ini bukan tanpa alasan, sebab lebih dari 200 penduduk Eropa terutama Belanda, saat itu tinggal di ibukota. Sebagian besar penganut Protestan, yang memiliki hak mendapatkan pelayanan rohaniah dari pemerintah colonial. Operasional ‘gereja negara’ tersebut, dipaparkan dikelola langsung pemerintah dengan menggaji dan mendatangkan pastur dari negara Eropa.

Di luar itu, buku sayang untuk dilewatkan ini, masih kurang greget dalam tampilan sampul muka dan bentuk dan lebar buku. Sehingga terkesan angker, layaknya buku srius yang hanya cocok dikonsumsi kalangan tertentu. Tapi buku ini bukan diktat perkuliahan. Kalaupun dikelompokkan sebagai diktat dan menjadi referensi wajib buku perkuliahan, setidaknya akan menjadi diktat yang renyah dan tetap asyik untuk dibaca.

Namun demikian, buku ini belum tersebar luas. Hanya di toko buku tertentu dan di markas Bantenology yang berada di gedung rektorat lantai 3 IAIN SMH Banten.(*)

*) Penulis adalah Reporter Radar Banten, alumni Kelas Menulis Rumah Dunia, yang saat ini menjabat sebagai Ketua FLP Serang.

WARGA TEMUKAN BOM 40 KILOGRAM

LEBAK-Bom aktif seberat 40 kilogram ditemukan Komarudin, seorang pencari kayu di dasar sungai Ci Berang pada hari rabu (4/11) pukul 11 siang kemarin. Penemuan ini bermula saat ia tengah mencari kayu di pinggir sungai Ciberang. Tanpa sengaja menginjak sesuatu di dasarnya.

Komarudin juga menjelaskan jika awalnya ia mengira bom itu tiang listrik. Makanya ia sempat memukulnya dengan linggis yang dibawanya. Namun karena penasaran Komarudin mengangkatnya ke rakit. Karena belum mengetahui kalo benda yang ditemukannya itu adalah bom, ia membiarkan benda tersebut teronggok begitu saja sampai sore di rakitnya. Saat hari hampir malam, ia meminta kedua tetangganya untuk membantu membawa bom tersebut ke kampungnya. Setelah diamati dengan seksama dua tetangga Komarudin pun curiga kalau benda tersebut adalah bom. Kemudian mereka pun segera mengabarkannya ke aparat desa setempat.

“Atas inisiatif beberapa warga, kami segera melaporkan penemuan bom tersebut ke kantor polisi terdekat,” cerita Komarudin.

Beberapa saat kemudian polisi pun berdatangan ke lokasi yang kemudian disusul dengan kedatangan tim Gegana Brimob Polda Banten. Menurut hasil penelitian sementara, Brimob Polda Banten, Kompol Murbadja mengatakan bom aktif seberat 40 kilo gram tersebut diperkirakan peninggalan masa perang dunia kedua. Jenis bom ini adalah bom pesawat.

“Untuk pengamanan, Tim Gegana Brimob Polda Banten membawa bom tersebut ke markas brimob Polda banten di Serang,” jelasnya. (Rudi Gunawan)

advert

Tags Kata

Gonjlengan

MENGOPTIMALKAN POTENSI TAMAN BACAAN MASYARAKAT

Oleh Gol A Gong
Beberapa kali saya kedatangan tamu yang selalu minta diajari membuat proposal pembuatan taman bacaan masyarakat. Mereka adalah para mahasiswa. Mereka menduga, bahwa saya mendirikan taman bacaan masyarakat bernama Rumah Dunia dengan membuat proposal. Saya katakan kepada mereka, bahwa Rumah Dunia tidak dibangun dengan proposal, tapi dengan kata-kata. Juga Rumah Dunia tidak dibangun [...]

Full Story | February 21st, 2010

Banten Kuliner

MAKANAN TRADISIONAL SERABI GURIH DAN ALAMI

SERABI GURIH DAN ALAMI

Oleh: Rama
Di pinggir jalan Bayangkara Sumampir Cilegon, atau tepatnya di depan Lapangan Bola Sumampir,

Full Story | February 8th, 2010

advert

Wisata Banten

PEMANDIAN CIPANAS SEHAT DAN SEGAR

LEBAK – Selain mimpi jadi kota pelajar, Lebak yang belum lama berusia 181 tahun ini juga rupanya menyimpan banyak keindahan alam. Saya belum lama ini sempat coba-coba menelisik, mengunjungi dan menikmati bahkan tadinya ingin menjamah semua tempat-tempat wisata yang ada di Kabupaten Lebak, baru sebagian saja sih, mengingat beberapa tujuan wisata masih cukup jauh dan [...]

Full Story | December 27th, 2009

advert

Cerpen

BABI NGEPET BUKU

Cerpen Langlang Randhawa*
Alkisah, Banten punya taman budaya yang megah. Gedung berlantai lima yang berdiri di atas tanah bekas gedung kegubernuran Banten itu ramai dengan diskusi mengalahkan hiruk-pikuk mall-mall. Selain berada di jantung kota dan mewah, fasilitasnya pun mengalahkan Gedung Putih Amerika; kenyamanan, keamanan, pelayanan, dan kebersihan sangatlah terjaga dan tertata. [...]

Full Story | March 9th, 2010

Novel

SEGERA “TEMBANG KAMPUNG HALAMAN” KARYA GOL A GONG

Nantikan di bulan Februari 2010, cerita bersambung “Tembang Kampung Halaman”  karya Gol A Gong – dulu Gola Gong. Cerita ini pernah dimuat di majalah HAI  tahun 1990-an dan diterbitkan jadi buku mungil oleh Gramedia. Menceritakan anak-anak kampung dari kampung yang agraris di wilayah pesisir utara, lalu mengalami perubahan sosial.  Mimpi-mimpi dilontarkan setinggi bintang dan ada [...]

Full Story | January 21st, 2010

Puisi

PUISI-PUISI DEA ANUGRAH

KEPADA PISAU

airmatamu mengalir
sampai jauh
pelan pelan menghampir kesunyianku.
***

BLUES BUAT PEREMPUAN R
di kotaku. di kotaku yang jauh ini
selalu kutemukan kilau senyummu
pada lampu lampu jalan, pada bau malam yang khas
juga pada dingin angin pelabuhan.
padahal hidup
hanya menunda kekalahan
seperti payung
yang perlahan lahan sobek
dikoyak moyak angin kencang jelek.
di kotaku.
di kotaku yang jauh ini
aku selalu mengingat senyummu
meski hidup hanya serupa
payung [...]

Full Story | March 9th, 2010