MANUSIA JANGAN KALAH DENGAN MONYET
rumahdunia | Warta Banten | February 21st, 2010 | No Comments »
SERANG – Tidak seperti biasanya, Rumah Dunia kali ini mengadakan acara bedah buku pagi hari sekitar Pukul 08.00 WIB. Jika yang sudah-sudah rumah dunia menyelenggarakan acara diskusi pada Pukul 14.00 WIB. Dan seperti pada kesempatan kali ini Sabtu (20/2), Rumah Dunia menyelenggarakan bedah buku ‘Monyet Aja Bisa cari Duit’ karya Zainal Abidin atau akrab disapa Jay. Meski acara diskusi dihadiri oleh 32 peserta dari kalangan pedagang, home industry, mahasiswa, perpustakaan kota Serang, dan BPAD Prov Banten. Namun acara bedah buku Monyet Aja Bisa Cari Duit, akhirnya berjalan dengan lancar dan suasana diskusi terasa ramai, hingga membuat suasana jadi ‘hidup’. Selain Jay, sang penulis buku, hadir pula Anis Fuad, Dosen Untirta jurusan Fisip ekonomi (pembedah) dan saya sendiri, selaku mantan penjual roti dan wartawan rumah dunia.com.
Membaca judul bukunya saja: ‘Monyet Aja Bisa Cari Duit’, Jay mengemas bukunya dengan gaya bercerita atau mengobrol. Jay benar-benar dengan lugas dan komunikatif mengemas buku terbitan “de britz” (2008) dengan cara ceplas-ceplos dan terasa tidak menggurui.
Diskusi Jay
“Di Padang, ada yang namanya sekolah monyet. Monyet-monyet itu diajarkan untuk mengambil buah kelapa. Cukup dengan dilatih selama tiga bulan, monyet itu sudah mahir memetik buah kelapa,dan dari monyet itu bisa menghasilkan uang. Jadi seandainya kita tidak bisa mancari uang, ya… berarti kita kalah dengan monyet,” kata Jay dalam diskusinya. Masih menurutnya, Jay mengaku, memang dengan sengaja dia memilih judul itu untuk menyindir para pengangguran yang ada di Indonesia ini. “Padahal bekerja itu apa saja. Pemulung itu juga pekerjaan. Tinggal dari kita-nya, mau melakuakannya atau tidak. Itu tidak butuh modal, dan jangan salah seorang pemulung di Bantar Gebang, Jakarta dalam sebulan bisa mendapatkan jutaan rupiah dari hasil mulung saja,” kata Jay dengan enerjik.
Sementra Anis Fuad, menceritakan proses suka-dukanya dalam menjalani jualan Bontot. “Sebelum menjual bontot, saya sudah cukup banyak gagal dalam berjualan. Mulai dari berjualan tas, asesoris wanita dan masih banyak lagi. Jual bontot baru sekitar sembilan bulan lalu.” Kata Anis yang mengaku semakin pokus berjualan Bontot. Karena memang dengan pokuslah, kata Anis, kita yang sedang merintis usaha kecil-kecilan inssa Allah akan berhasil. “Saya masih ingat, waktu itu saya masih kuliah sambil jualan. Saya disuruh oleh dosen saya untuk milih kuliah atau jualan. Saya bingung. Tapi, akhirnya saya pilih kuliah dan meninggalkan usaha. Karena tidak pokus usaha saya jadi terbengkalai.” Cerita Anis.
Lebih jauh Jay memberi saran. Untuk memulai usaha harus membuang jauh-jauh yang namanya ‘gengsi’ dalam diri kita . “Sebagaian orang menetapkan gengsi di urutan depan. Ok, jika begitu, terima konsekuensinya. Contoh, banyak orang korupisi, tapi dia tidak mau di penjara. Ini kan lucu? Kalau kita mau berhasil (dalam usaha) taruh gengsi di urutan nomor seribu. Setelah itu kerja keraslah.” Kata Jay yang sudah menghasilkan 94 judul buku, yang kebanyakan komik. Jadi intinya, jika ingin menjadi pengusaha sukses, kuncinya cuma dua: Bisa jualan/berdagang dan bisa mengurus uang/pemasukan maupun pengeluaran. Karena memang dengan dua cara itulah seseorang bisa berhasil jika sungguh-sungguh.
Membaca itu sukses
Tapi, adakah berkaitan persoalan rendahnya minat baca dengan pengangguran? Coba simak tanggapan Jay tentang ini. “Ya, biarkan saja itu terjadi. Orang akan melihat, pentingnya akan membaca. Terima saja keadaan ini. Jadi orang yang tidak suka membaca, pengetahuannya pasti bakal sedikit. Iya, kan? Itu saja.” kata Jay menanggapi dengan santai. Jay sebenarnya merasa prihatin dengan banyaknya pengangguran di negeri ini. Dan dari itu, Jay tetap mempertahankan judul buknya ‘Monyet Aja Bisa Cari Duit’ meski buku itu (sebelum diterbitkan “de britz” miliknya) selalu ditolak oleh 20 penerbit, karena judulnya terlalu serius.
Kenapa Jay milih judul bukunya ‘monyet’? “Karena monyet itu adalah strata paling bawah. Juga untuk mengejek para penganguran.” katanya. Jadi intinya, atau yang ingin dikatakan Jay dalam bukunya? “Monyet aja bisa cari duit! Masa kita sebagai manusai kalah dengan monyet?” tandasnya.
Acara diskusi berakhir Pukul 12.00 WIB dan giliran para pembeli buku Jay, meminta tanda tanganya. Jay pun menyumbangkan hasil penjualan bukunya pada RD dari jumblah 25 buku yangdibwanya disumbangkan untuk Rumah Dunia. [Ahmad Wayang]














