AGUS KUNCORO SUMBANG BUKU KE RUMAH DUNIA

SERANG – Agus Kuncoro sumbang buku ke Rumah Dunia bersama komunitas sepeda Bikepacker Indonesia (Jum’at/26/2) sore tadi. Dalam rangka touring Jakarta – Banten dengan menggunakan sepeda, pemain film Kun Fayakun ini menyempatkan diri singgah sejenak di Rumah Dunia. “Kami berangkat jam 5 subuh dari Jakarta. Dan alhamdulilah, kami bisa sampai di sini (Rumah Dunia -red).” kata Agus.

Bikepacker Indonesia yang alamat di Jl. Veteran Kav.Iv No.1 Tanah Kusir-Bintaro Jakarta Selatan 12330, telah membawa rombongan sebanyak 22 orang. Namun di tengah perjalanan 4 orang teipisah dari rombongan. “Empat orang lagi masih di perjalanan.” ungkap Asep, salah satu rombongan saat memberi sambutan.

Di sela-sela para Bikepacker Indonesia istirahat, hadir pula sejumlah pelajar dari SMPN Cikesal yang akan belajar junalistik dan sastra di Rumah Dunia. Pada kesempatan itu, para pelajar SMPN Cikesal berebut tanda tangan dan photo bareng dengan suami Anggie ini sebelum pemberian materi dimulai.

Salah satu guru SMP Cikesal Lela, sekaligus ketua pelaksana pada acara kunjungan tersebut berharap anak didiknya nanti bisa membuat karya tulis usai mengikuti pelatihan jurnalistik dan sastra di Rumah Dunia. “Dengan belajar di luar kelas ini semoga kami terus mendapat banyak informasi dan inspirasi.” ucapnya, menambahkan.[Lanang Sejagat, Roy Goozly]

MANUSIA JANGAN KALAH DENGAN MONYET

SERANG – Tidak seperti biasanya, Rumah Dunia kali ini mengadakan acara bedah buku pagi hari sekitar Pukul 08.00  WIB. Jika yang sudah-sudah rumah dunia menyelenggarakan acara diskusi pada Pukul 14.00 WIB. Dan seperti pada kesempatan kali ini Sabtu (20/2), Rumah Dunia menyelenggarakan bedah buku ‘Monyet Aja Bisa cari Duit’ karya Zainal Abidin atau akrab disapa Jay. Meski acara diskusi dihadiri oleh 32 peserta dari kalangan pedagang, home industry, mahasiswa, perpustakaan kota Serang, dan BPAD Prov Banten. Namun acara bedah buku Monyet Aja Bisa Cari Duit, akhirnya berjalan dengan lancar dan suasana diskusi terasa ramai, hingga membuat suasana jadi ‘hidup’. Selain Jay, sang penulis buku, hadir pula Anis Fuad, Dosen Untirta jurusan Fisip ekonomi (pembedah) dan saya sendiri, selaku mantan penjual roti dan wartawan rumah dunia.com.

Membaca judul bukunya saja: ‘Monyet Aja Bisa Cari Duit’, Jay mengemas bukunya dengan gaya bercerita atau mengobrol. Jay benar-benar dengan lugas dan komunikatif mengemas buku terbitan “de britz” (2008) dengan cara ceplas-ceplos dan terasa tidak menggurui.

Diskusi Jay

“Di Padang, ada yang namanya sekolah monyet. Monyet-monyet itu diajarkan untuk mengambil buah kelapa. Cukup dengan dilatih selama tiga bulan, monyet itu sudah mahir memetik buah kelapa,dan dari monyet itu bisa menghasilkan uang. Jadi seandainya kita tidak bisa mancari uang, ya… berarti kita kalah dengan monyet,” kata Jay dalam diskusinya. Masih menurutnya, Jay mengaku, memang dengan sengaja dia memilih judul itu untuk menyindir para pengangguran yang ada di Indonesia ini. “Padahal bekerja itu apa saja. Pemulung itu juga pekerjaan. Tinggal dari kita-nya, mau melakuakannya atau tidak. Itu tidak butuh modal, dan jangan salah seorang pemulung di Bantar Gebang, Jakarta dalam sebulan bisa mendapatkan jutaan rupiah dari hasil mulung saja,” kata Jay dengan enerjik.

Sementra Anis Fuad, menceritakan proses suka-dukanya dalam menjalani jualan Bontot. “Sebelum menjual bontot, saya sudah cukup banyak gagal dalam berjualan. Mulai dari berjualan tas, asesoris wanita dan masih banyak lagi. Jual bontot baru sekitar sembilan bulan lalu.” Kata Anis yang mengaku semakin pokus berjualan Bontot. Karena memang dengan pokuslah, kata Anis, kita yang sedang merintis usaha kecil-kecilan inssa Allah akan berhasil. “Saya masih ingat, waktu itu saya masih kuliah sambil jualan. Saya disuruh oleh dosen saya untuk milih kuliah atau jualan. Saya bingung. Tapi, akhirnya saya pilih kuliah dan meninggalkan usaha. Karena tidak pokus usaha saya jadi terbengkalai.” Cerita Anis.

Lebih jauh Jay memberi saran. Untuk memulai usaha harus membuang jauh-jauh yang namanya ‘gengsi’ dalam diri kita . “Sebagaian orang menetapkan gengsi di urutan depan. Ok, jika begitu, terima konsekuensinya. Contoh, banyak orang korupisi, tapi dia tidak mau di penjara. Ini kan lucu? Kalau kita mau berhasil (dalam usaha) taruh gengsi di urutan nomor seribu. Setelah itu kerja keraslah.” Kata Jay yang sudah menghasilkan 94 judul buku, yang kebanyakan komik. Jadi intinya, jika ingin menjadi pengusaha sukses, kuncinya cuma dua: Bisa jualan/berdagang dan bisa mengurus uang/pemasukan maupun pengeluaran. Karena memang dengan dua cara itulah seseorang bisa berhasil jika sungguh-sungguh.

Membaca itu sukses

Tapi, adakah berkaitan persoalan rendahnya minat baca dengan pengangguran? Coba simak tanggapan Jay tentang ini. “Ya, biarkan saja itu terjadi. Orang akan melihat, pentingnya akan membaca. Terima saja keadaan ini. Jadi orang yang tidak suka membaca, pengetahuannya pasti bakal sedikit. Iya, kan? Itu saja.” kata Jay menanggapi dengan santai. Jay sebenarnya merasa prihatin dengan banyaknya pengangguran di negeri ini. Dan dari itu, Jay tetap mempertahankan judul buknya ‘Monyet Aja Bisa Cari Duit’ meski buku itu (sebelum diterbitkan “de britz” miliknya) selalu ditolak oleh 20 penerbit, karena judulnya terlalu serius.

Kenapa Jay milih judul bukunya ‘monyet’? “Karena monyet itu adalah strata paling bawah. Juga untuk mengejek para penganguran.” katanya. Jadi intinya, atau yang ingin dikatakan Jay dalam bukunya? “Monyet aja bisa cari duit! Masa kita sebagai manusai kalah dengan monyet?” tandasnya.

Acara diskusi berakhir Pukul 12.00 WIB dan giliran para pembeli buku Jay, meminta tanda tanganya. Jay pun menyumbangkan hasil penjualan bukunya pada RD dari jumblah 25 buku yangdibwanya disumbangkan untuk Rumah Dunia. [Ahmad Wayang]

DARI CIPANAS MENUJU LEBAK MEMBACA

Relevansi menjadikan Rangkasbitung sebagai Kota pelajar, sejumlah warga Cipanas menggagas tempat belajar warga dalam mengembangkan sumber daya manusia. Melalui gerakan membaca, dari sebuah kampung bernama Cipanas akan di buka Rumah Kosala, Komunitas Sastra Lebak.

Dibentuk atas pertemuan dikediaman H Agus Sutisna bersama Heri Hendrayana alias Gol A Gong dan Saroh Jarmin, gagasan Lebak membaca dapat dimulai dari Kecamatan Cipanas, Selasa (9/2) malam. Menurut pencetus ide kreatif Gol A Gong, filosofi air panas yang meluber ke daratan tanah Lebak dapat berawal dari pemandian Cipanas, dan semangat gerakan membaca juga diawali dari orang-orang Cipanas, baru kemudian menuju gerakan Lebak Membaca.

“Orang-orang Cipanas akan seperti air panas yang meluber ke jalan-jalan Lebak di Banten selatan. Mereka siap mengalirkan kehangatan bagi warganya,” ucap pendiri Rumah Dunia, Gol A Gong, yang langsung diiyakan penasehat KOSALA lainnya, Agus Sutisna, di jalan Rangkasbitung-Bogor KM 36, Kampung Lurah Desa Sipayung, Cipanas.

Menurut ketua komunitas Saroh Jarmin, SPd, Kosala adalah bagian dari angan-angan warga Cipanas, karenanya bersama rekan-rekan Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas (IKMC), Kosala akan berusaha mewujudkan kota pelajar melalui budaya literasi.

“Konsep belajar, adalah membaca dan berhitung. Dengan berdirinya KOSALA, Dari Cipanas Menuju Lebak Membaca ini akan menjadi tempat seperti surga bagi mereka yang ingin berekspresi di dunia literasi,” ucap Saroh yang baru terpilih sebagai ketua Kosala dan sudah menentukan komposisi Kosala hasil urung rembuk dengan yang lainnya.

Dengan ketua Saroh Jarmin, sekretaris Ahmad Arif, bendahara Pipit Fiharsih, dan voluntir Sholeh, Yayan, Akhelbri, Toni, Ade Is, Iyoh, Neneng, dan Harir Balda, Kosala siap menggelar program awal yakni kelas Menulis per Maret-Agustus, dengan kelas sore setiap hari Selasa, dan kelas pagi di Rabu dan Kamis. Pengajarnya Gol A Gong.

Kegiatan lainnya, lanjut Saroh adalah kegiatan yang membawa pesan bahwa dengan membaca kita bisa mengubah dunia, yaitu Pojok Leuit, sebuah ruang untuk menyimpan sumber makanan bergizi bagi para agent of change, yakni buku-buku. “bukunya untuk permulaan disupport Rumah Dunia,” kata Saroh. Sanggar Dongeng diberikan bagi anak-anak Cipanas setiap Minggu, dan diskusi yang rutin digelar bulanan dengan tema yang disesuaikan dengan kekinian, dan hangat diperbincangkan menghadirkan tokoh-tokoh dari Cipanas, Banten, dan Indonesia.

Untuk mengenalkan Kosala Library, IKMC yang menaunginya akan membuat gebtrakan dengan merancang CIPANAS IQRA pada Sabtu, 27 February 2010. “Selain launching ‘Kosala’, kegiatan utamanya adalah wakaf buku,” Ahmad Arif, Ketua IKMC menjelaskan. Seperti biasa akan dimeriah degnan pertunjukan seni marawis dari La Tansa dan Nurul Madaany, pembacaan puisi, orasi budaya H. Agus Sutisna, dan musik KPJ, (*)

*) Tulisan ini oleh Ali Sobri – Dimuat di koran Radar Banten, Kamis 11 Februari 2010

PENGHARGAAN ITU…

Dengan XL IBA 2008

Oleh Gol A Gong

Sekitar 2004, KNPI Banten mendatangi aku. Mereka berkehendak memberi anugrah pemuda pelopor kepadaku. Dengan segala hormat aku menolak. Tapi press release kadung menyebar. Pemberian penghargaan itu dilakukan di restoran Istana Nelayan, Tangerang. Aku sempat “dicemooh”, karena dianggap “menjilat ludah sendiri” oleh para aktivis mahasiswa di Banten. Apa pasal? Aku adalah termasuk orang yang gencar mengkritik kinerja KNPI Banten, bahkan pernah menyarankan KNPI Banten dibubarkan saja karena tidak transparan soal keuangan, jadi calo anggaran APBD yang mendistribusikannya kepada Organisasi Kepemudaan yang hanya tergabung di KNPI saja, dan tidak cocok lagi dengan semangat reformasi. Aku sengaja memprovokasi KNPI Banten, agar muncul sebuah wacana atau bahan diskusi. Aku ingin para pengurus dan anggota KNPI Banten inovatif, kreatif, tidak sekedar dijadikan jalan yang memudahkan mereka masuk ke kancah politik. Sudah jadi rahasia umum, kalau KNPI adalah underbouw penguasa dan selalu memuluskan mereka yang ingin jadi penguasa. Setelah aku jelaskan, bahwa aku menolak penghargaan itu, barulah orang-orang menarik lagi “makian” kepada aku.

Aku bertanding dengan pebulutangkis non-ccat

ATLET BADMINTON

Bagi aku, penghargaan hanya signifikan dengan olahraga. Aku muda (1980 – 1990) adalah seorang atlet badminton. Tujuan sejak awal sudah jelas, aku terjun ke kancah pertandingan badminton yang kompetitif dan penuh sportivitas untuk mengejar hadiah; bisa berupa piala, piagam, medali, serta sejumlah uang. Tapi, untuk urusan ibadah adalah moral. Tidak ada hubungannya dengan tujuan pengejaran hadiah; apakah itu award, piagam, sejumlah uang, atau hadiah.

Di cabang badminton, aku mengejar hadiah dengan bercucuran keringat dan berdarah-darah. Aku harus bangun pagi, lari bersama Bapak mengelilingi alun-alun kota, ke luar kota, bahkan saat kuliah di Bandung, aku terbiasa lari dari bukit Dago ke Maribaya. Prestasi yang aku peroleh lumayan juga. Di Serang, aku adalah atlet badminton berlengan satu dan mampu berada di ntim elit kabupaten sejajar dengan yang berlengan dua. Prestasi aku tidak main-main untuk atlet berlengan satu. Aku pernah juara kedua tingkat yunior di Serang, masuk 16 besar se-Jawa Barat, tim kampus UNPAD dan single pertama. Untuk sesama atlet berlengan satu, di level Indonesia, aku jawaranya untuk tunggal, beregu, dan double. Di level Asia Pasific juga.

Bapaklah yang menggembleng tubuhku dari seorang anak kecil berlengan satu yang sedang berada di puncak keputusasaan, hingga menjadi seorang atlet badminton berlengan satu yang penuh rasa percaya diri. Sedangkan Emak yang mengasah hati dan jiwaku, agar tetap berendah hati, tidak menyepelekan dan selalu menghargai lawan-lawanku.

Wien Muldian dari Forum Indonesia Membaca memberikan award kepadakuAKTIVIS PERBUKUAN

Waktu berdetak. Zaman berubah. Bapak dan Emak memfasilitasi aku dengan bacaan; mulai dari Koran, majalah, hingga buku-buku novel berkelas. Akhirnya aku yang hobi membaca menyadari, bahwa olahraga tidak bisa diandalkan untuk hidup, beralih profesilah aku ke dunia tulis-menulis. Apalagi aku tidak mempunyai pilihan lain untuk bekerja, karena di era orde baru, perlakuan pemerintah sangat diskriminatif terhadap orang cacat.

Aku menyakinkan Bapak dan Emak, tentu diawali dengan konflik pendapat, bahwa profesi menulis bagiku sangat menjanjikan dan tidak menuntut persyaratan apakah dia cacat atau bukan, bergelar sarjana atau tidak. Persyaratannya hanya satu, bisa menulis. Itu saja. Aku memang tidak bergelar sarjana, hanya lulusan SMA dan pernah kuliah di Fakultas Sastra UNPAD Bandung hingga semester V. Aku memiliki keinginan kuat untuk jadi penulis, wawasan, dan ide-ide menumpuk di kepala. Bagiku itu modal awal untuk jadi penulis.

Bapak awalnya menentang, karena menulis belum memberikan harapan untuk dijadikan sandaran hidup. Bapak menyaratkan kepadaku, menulis boleh saja digeluti asalkan memiliki pekerjaan tetap, sebagai apapun, bahkan walaupun gajinya kecil. “Yang penting punya penghasilan tetap!” Bapak menegaskan.

Tapi Emak memberikan toleransi. Emak memberiku peluang. Diberinya aku kesempatan untuk merantau ke Jakarta. Diberinya aku restu. Bapak tidak bisa berkata apa-apa, selain memberiku ijin pergi menaklukan Jakarta. Bismillah…, pada 1987 aku menuju Jakarta.

Alhamdulillah, Allah memudahkan jalan hidupku. Keinginanku menjadi penulis terbentang di depan mata. Karya pertamaku; serial Balada Si Roy dimuat bersambung di majalah HAI (1988). Bahkan Allah mengabulkan doaku, agar keinginan Bapak terpenuhi. Aku mendapatkan pekerjaan sebagai penulis berita (wartawan) di Gramedia Majalah pada 1990. Awalnya ditawari di majalah HAI, tapi Arswendo Atmowiloto membutuhkan aku di Tabloid Wartawa Pramuka. Gaji kotorku Rp. 500.000,- Tentu saja Bapak dan Emak senang. Gajiku melebihi gaji saudara-saudaraku yang sarjana. Kemudian aku pindah bekerja jadi penulis scenario TV (script writer) di Indosiar (1995) dan RCTI dari 1997 hingga 2008 dengan gaji berlipat-lipat. Kegiatan menulis tetap aku lakukan. Hingga kini sudah sekitar 65-an novel lahir dari buah pikiranku.

Aku bahkan masih sempat membuat komunitas buku bernama Rumah Dunia. Ini karena kecintaan aku terhadap buku adalah persoalan moral. Bukan perlombaan seperti halnya dalam berolahraga. Aku tidak mengejar imbalan apa-apa, selain menjalani kewajiban aku sebagai seorang muslim, yang diperintahkan Allah SWT untuk berbagi; apakah itu harta atau ilmu. Kita tahu, hanya 3 perkara yang akan tersisa setelah kita mati nanti; yaitu amal jariyah, ilmu yang diamalkan, dan anak yang soleh. Itulah bekal kita kelak.

Aku sering menemukan para tamu yang datang ke Rumah Dunia, bukan hanya untuk bertemu denganku, tapi ingin berkenalan dengan Bapak dan Emak. Memurut mereka, apa-apa yang aku lakukan di Rjmah Dunia, pasti tidak akan bisa terlepas dari peranan Bapak dan Emak. Ya, itu betul. Emak dan Bapak juga pernah melakukan hal sama ketika aku kecil. Ada sekitar 1 lemari buku-buku (novel dan komik) dan majalah mereka keluarkan di teras rumah untuk dibaca orang-orang. Hal itu tersimpan di pikiran dan hatiku. Rumah Bapak dan Emak setiap seusai sholat Isya terbuka untuk siapa saja. Pintu dan jendela dibuka lebar-lebar, tikar-tikar digelar dari ruang tengah hingga ke teras. Televisi hitam-putih pun dinyalakan. Para tetangga berdatangan menonton film-film seri yang ditayangkan TVRI.

Saat launching buku "Inspiring Stories" di IKAPI Book FairKOMPROMI

Setelah 5 tahun yang membangun Rumah Dunia bersama Tias Tatanka, dibantu para relawan, mulailah aku dihadapkan pada dilema pemberian hadiah. Pertama, aku ditawari olleh KNPI Banten. Aku tolak. Terlalu politis. Kedua, Pemkab Serang pada 2004 memberi aku penghargaan sebagai budayawan. Sulit aku tolak, karena terkait dengan keberadaan Rumah Dunia. Apalagi ketika Emak campur tangan, bahwa semua demi kepentingan Rumah Dunia, agar terus melaju dan dikenal banyak orang.

“Pengakuan dari Pemerintah Daerah sangat penting,” kata Emak. “Sebagai pemimpin, aku harus kompromi. Kamu harus memikirkan segala keputusan untuk orang banyak, bukan untuk kepentingan kamu.”

Tias Tatanka, istrikku tercinta, memberi kebebasan sepenuhnya kepadaku; apakah aku menolak atau menerima. Akhirnya aku terima. Terbukti, setelah itu Gubernur Banten, Djoko Munandar, melakukan kunjungan resmi. Dinas tertkait seperti Dindik dan Perpusda Banten pun mjlai melirik. Apalagi ketika di acarfa “Keranda Merah Putih” (2007), Gubernur Banten terpilih periode 2007 – 2012, Rt. Atut Chosiyah. SE meresmikan acara dan brdialog dengan para seniman Banten, Rumah Dunia semakin dikenal kalangan pejabat di Banten sebagai komunitas yang netral.

Yang paling menyenangkan hatiku, adalah ketika saat Gramedia Book Fair 2006. Tanpa memberi penghargaan kepada aku, panitia menyerahkan bantuan uang tunai Rp 10 juta (dari BNI Plus) dan buku-buku senilai Rp. 10 juta (dari Gramedia) pula. Lalu pada Islamic Book Fair 2007, ketika aku sakit, memberi aku penghargaan sebagai “Tokoh Perbukuan”. Aku menolak. Aku mengajukan nama almarhum Dauzan Faaruk sebagai orang yang layak menerima penghargaan itu. Tapi menurut paniita, Dauzan Faaruk sudah menerima itu tahun 2006. Panitia memberikan banyak argumentasi, bahwa – lagi-lagi – ini untuk kemajuan Rumah Dunia. Tidak ada pilihan lain. Kata Bapak dan Emak, “Kita harus memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbuat baik.”

Kompromi lagi-lagi aku lakukan.

Ny. Jusuf Kalla menyerahkan award dan uang Rp. 3 jt kepada aku,. Jujur saja, saat itu aku berpikir, “Aku sudah memenangkan kejuaran apa ini? Siapa yang berhasil aku kalahkan?”

Menyusul Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, memberi penghargaan “Nugra Jasadarma Pustaloka”, Mei 2007. Kala itu Jusuf Kalla yang menyalami aku. JK tersenyum sambil berpikir, “Siapa, sih, Gola Gong?” Udah gondrong, tangan satu lagi! Ada uang kadeudeuh sebesar Rp. 5 jt. Semua aku terima, dengan pertimbangan Rumah Dunia semakin dikenal orang. Biasanya pada saat resepsi, aku bersama Tias menyebarkan brosur Rumah Dunia kepada orang-orang yang hadir. Dan tentu, saat diwawancara, Rumah Dunia adalah topic utama.

Penghargaan XL itu..Masih ada lagi, yaitu penghargaan “Anugrah Literasi World Book Day 2008” dari Komunitas Literasi Indonesia, pada hari Buku Internasional, 3 April 2008 lalu. Ada hadiah uang sebesar Rp. 10 jt dari panitia World Book Day (Forum Indonesia Membaca, Forum Lingkar Pena, dan Portal Infaq), yang diperuntukan untuk membantu biaya pengobatan aku selama 2 bulan di RS Holistik, Purwakarta. Aku dirawat dari Maret – Mei 2008. hadiah itu sangat membantuku.

Paling gress, radio Elshinta menghubungiku. Tuti yang menelepon di Senin (25/1/2010) yang cerah. “Gol A Gong kami usulkan mendapatkan penhargaan dari Elshinta yang berulangtahun ke-42 dan ulang tahun program News and Talk yang ke-10  Penganugrahannya pada 17 Februari 2010 di Planet Hollywood,” begitu Tuti menjelaskan kepadaku. Aku tentu senang mendengarnya. Ini baik untuk Rumah Dunia. Aku katakana kepada Tuti, anggap saja ini penghargaan untuk para relawan Rumah Dunia yang sudah jungkirbalik menggerakkan Rumah Dunia dan aku mewakili mereka menerima hadiah itu! Aku mencandai Tuti, “Hadiahnya mobil pintar, ya! Supaya program perpustakaan keliling Rumah Dunia berjalan lagi!”

Sekarang, mari kita bahu membahu menuju Indonesia Membaca! Dan itu kita mulai dari rumah!

*) Penulis sekarang bekerja di rumah dan mengelola www.rmahdunia.com ***

LAKON KOLOSAL BAGIMU PERSADA BANTEN

SERANG – Pementasan lakon kolosal “Bagimu Persada Banten” karya DR. Tanty Manurung yang digarap sutradara kawakan Banten, Dadie Ruswandi Natadipura, berlangsung meriah dalam memperingati hari ulang tahun ke-24 Sanggar Bina Seni Tari Raksa Budaya Jumat (29/1) di Aula Institut Agama Islam Negeri Sultan Maulama Hasanudin (IAIN SMH) Banten.

Maya Rani Wulan, yang juga Kabag Kebudayaan Disporasenibud Kota Serang, pendiri Sanggar Bina Seni Tari Raksa Budaya sekaligus ketua pelaksana berharap, “Kepada seluruh masyarakat Banten, khususnya bagi para pemuda, agar sama-sama menjaga dan memelihara kebudayaan yang ada di bumi Banten tercinta ini, khususnya kebudayaan seni tari.” katanya, dalam memberikan sambutan.

Hingga sampai ke pemotongan kue secara simbolis yang dilakukan oleh Maya Rani dan dibantu dengan beberapa Kadis Provinsi Banten, para undangan yang terdiri dari komunitas budaya, budayawan, perwakilan pemerintah daerah, para orang tua murid di sanggar tari, mahasiswa dan beberapa pelajar sekolah menengah atas, menikmati acara tersebut.

Pagelaran kolosal pun dibuka dengan tembang Cokek, karya tari berkelompok kolaborasi dengan silat Patingtung, Tari Rageman, tari yang berpijak pada seni Islam Terbang Gede, Tari Bantu Inten, Tari Banten Katuran, Tari Genjring Dalil, Tari Mandane, Nandak Cokek, Rampak Nandak, Dalil Wajhun, Gitek Cokek, Bedug Warnane, Tari Grebeg Terbang Gede, Maler Bedug, Gitek Ganjen, Rentak Rebana, serta Tari Cecepon.

Sanggar Bina Seni Tari yang beralamatkan di Jl. Kenaga No 6, Komp. Bumi Mupti Indah Ciracas-Serang ini selama dalam sejarahnya sudah banyak menoreh prestasi, diantaranya juara 1 dan 2 karya cipta tari kreasi tradis Banten (2002), juara harapan tingkat Prov. Jawa Barat (1993), Festival tari melayu nusantara V di Palembang (2006), serta pernah penatas di Jerman. Sanggar ini mempunyai visi menjadi organisasi sanggar seni yang profesional, berkualitas dan terdepan. Serta menjadi pusat pengkajian seni budaya Banten.

Dalam pagelaran kolosal ini, menurut Maya Rani, melibatkan 148 penari dari orang dewasa, remaja juga anak-anak. “Itu belum dengan kru yang lain. Kurang lebih mencapai 170-an plus pemain musiknya,” katanya, saat ditemui setelah usai acara. Pagelaran kolosal ini juga bekerja sama dengan Teater 110, Musikalisasi puisi Tasbeh, Gesbica serta monolog oleh penyair Banten Toto ST Radik. “Kedepanya bisa lebih baik lagi, sehingga banyak orang yang mencintai budaya Banten, dengan seni tarinya.” Ungkap Maya. [ahmad wayang]

advert

Tags Kata

Gonjlengan

MENGOPTIMALKAN POTENSI TAMAN BACAAN MASYARAKAT

Oleh Gol A Gong
Beberapa kali saya kedatangan tamu yang selalu minta diajari membuat proposal pembuatan taman bacaan masyarakat. Mereka adalah para mahasiswa. Mereka menduga, bahwa saya mendirikan taman bacaan masyarakat bernama Rumah Dunia dengan membuat proposal. Saya katakan kepada mereka, bahwa Rumah Dunia tidak dibangun dengan proposal, tapi dengan kata-kata. Juga Rumah Dunia tidak dibangun [...]

Full Story | February 21st, 2010

Banten Kuliner

MAKANAN TRADISIONAL SERABI GURIH DAN ALAMI

SERABI GURIH DAN ALAMI

Oleh: Rama
Di pinggir jalan Bayangkara Sumampir Cilegon, atau tepatnya di depan Lapangan Bola Sumampir,

Full Story | February 8th, 2010

advert

Wisata Banten

PEMANDIAN CIPANAS SEHAT DAN SEGAR

LEBAK – Selain mimpi jadi kota pelajar, Lebak yang belum lama berusia 181 tahun ini juga rupanya menyimpan banyak keindahan alam. Saya belum lama ini sempat coba-coba menelisik, mengunjungi dan menikmati bahkan tadinya ingin menjamah semua tempat-tempat wisata yang ada di Kabupaten Lebak, baru sebagian saja sih, mengingat beberapa tujuan wisata masih cukup jauh dan [...]

Full Story | December 27th, 2009

advert

Cerpen

BABI NGEPET BUKU

Cerpen Langlang Randhawa*
Alkisah, Banten punya taman budaya yang megah. Gedung berlantai lima yang berdiri di atas tanah bekas gedung kegubernuran Banten itu ramai dengan diskusi mengalahkan hiruk-pikuk mall-mall. Selain berada di jantung kota dan mewah, fasilitasnya pun mengalahkan Gedung Putih Amerika; kenyamanan, keamanan, pelayanan, dan kebersihan sangatlah terjaga dan tertata. [...]

Full Story | March 9th, 2010

Novel

SEGERA “TEMBANG KAMPUNG HALAMAN” KARYA GOL A GONG

Nantikan di bulan Februari 2010, cerita bersambung “Tembang Kampung Halaman”  karya Gol A Gong – dulu Gola Gong. Cerita ini pernah dimuat di majalah HAI  tahun 1990-an dan diterbitkan jadi buku mungil oleh Gramedia. Menceritakan anak-anak kampung dari kampung yang agraris di wilayah pesisir utara, lalu mengalami perubahan sosial.  Mimpi-mimpi dilontarkan setinggi bintang dan ada [...]

Full Story | January 21st, 2010

Puisi

PUISI-PUISI DEA ANUGRAH

KEPADA PISAU

airmatamu mengalir
sampai jauh
pelan pelan menghampir kesunyianku.
***

BLUES BUAT PEREMPUAN R
di kotaku. di kotaku yang jauh ini
selalu kutemukan kilau senyummu
pada lampu lampu jalan, pada bau malam yang khas
juga pada dingin angin pelabuhan.
padahal hidup
hanya menunda kekalahan
seperti payung
yang perlahan lahan sobek
dikoyak moyak angin kencang jelek.
di kotaku.
di kotaku yang jauh ini
aku selalu mengingat senyummu
meski hidup hanya serupa
payung [...]

Full Story | March 9th, 2010