BANTEN BANGKIT DI LENTERA QOLBU PANDEGLANG

Ternyata keinginan Banten Bangkit dari ketertinggalan dalam segala hal, infrastruktur seperti jalan, gedung sekolah, dan taman budaya Banten seperti yang dituntut para seniman sudah tersaring di buku “Banten Bangkit #1: Saatnya Otak, Bukan Otot”. lanjutkan membaca »

RAMPAK BEDUG MERIAHKAN CHANGE WITH READING

SERANG – Rampak bedug merupakan kesenian traditional dan spirit Banten, yang kini berkembang di wilayah Banten sebagai bentuk kesenian hiburan serta daya tarik pariwisata. Berawal dari tradisi ngadu bedug yang sering dilakukan masyarakat pada malam takbiran Idul Fitri maupun Idul Adha. Dengan seiring zaman kini rampak bedug dikalaborasikan dengan gerak tari dan silat, serta bunyi-bunyi perkusi khas Banten lainnya yang membawa keceriaan. lanjutkan membaca »

CHANGE WITH READING MENUJU BANTEN MEMBACA

Setelah pada Kamis, 31 Desember 2009, Rumah Dunia yang identik dengan taman bacaan masyarakat di Banten, menutup kegiatan selama 2009 dengan diskusi “Komunitas Sastra di Banten” dalam acara rutin “Detik Akhir, Detik Awal”, maka seminggu kemudian pada Sabtu 9 Januari 2010, Rumah Dunia memulai kegiatan sepanjang 2010 dengan pencanangan “Change with Reading” (CwR) oleh HM Masduki, Wakil Gubernur Banten. Kegiatannya berupa lomba menggambar untuk SD dan poster tingkat SMP, serta lomba pidato untuk SMA dan perguruan tinggi se-Banten. Juga pertunjukan seni marawis dari Ponpes Nurul Fallah dan rampak bedug UKM Pandawa Untirta Serang.

LOMBA GAMBAR

“Mulai sekarang tidak ada waktu santai lagi,” kata Langlang Randhawa, Secretary General Rumah Dunia, yang ditemui di sela-sela pencanangan CwR. “Agenda Januari saja padat. Sabtu 16 Januari  diskusi ‘Lebak Membara’, mendatangkan nara sumber Amir Hamzah, wakil bupati Lebak. Sabtu 23 Januari festifal qasidah se-Banten,” tambah Langlang yang kebagian jadi Ketua Pelaksana CwR.

Pencanangan CwR dibuka oleh Nursalim, Kepala Bidang Pendidikan Non Formal Dinas Pendidikan Kota Serang, pukul 10.00 WIB dalam keadaan langit mendung. “Banten harus kembali jaya dengan kegiatan ini, karena buta aksara sudah berhasil kita berantas. Sekarang fasenya ‘Banten Membaca’, membaca seluruh isi alam semesta,’ kata Nursalim dalam sambutannya. “Kita sudah harus mengisi rumah dengan buku!”

Peserta menggambar tingkat SD sejumlah 40-an anak dan lomba poster tingkat SMP dengan tema CwR digelar. Hujan pun turun. Mereka yang tadinya menyebar di tenda Taman Rumah Dunia seluas 969 m2 hadiah dari facebooker, mengungsi ke panggung. Tapi, untung hujan hanya sekejap. Lomba pun diteruskan. Tawa ceria anak-anak saat menggoreskan warna mengangkasa. “Yang penting anak-anak gembira,” kata Indra Kesuma, Ketua Juri menggambar. “Kalau hati mereka senang, insya Allah, minat membaca mereka terhadap buku akna meningkat.” Pemenangnya mendapatkan piala, sertifikat, uang Rp. 100.000,- dan paket buku. Juara I lomba lukis disabet Adelia Rahma Putri (SDN 20 Serang), kedua M. Anas (SDIT Ibadurahman), dan ketiga Kholifah (SDN Cipocok Jaya). Lomba poster digondol Kania Asri Liany (SMPN 4 Kota Serang, kedua M Sabihis (SMPN 3 Serang), terakhir Asep D (SMPN 3 Kota Serang).

Nursalim, Kabid PNF Kota Serang memberi sambutan

DUTA

Sedangkan di panggung Rumah Dunia diadakan lomba pidato “Duta CwR” tingkat SMA dan mahasiswa. Diikuti 20 SMA dan perguruan tinggi se-Banten. Duta-duta tingkat SMA dari SMAN 1 Ciruas, MAN 2 Serang, SMAN 2 Kota Serang, SMA El- Daar Qolam, SMA Al- Irsyad, SMAN 3 Rangkas, MAN Cilegon, SMAN 1 Serang, SMAN 5 Kota Serang dan SMAN 1 Pandeglang. Sedangkan tingkat mahasiswa,  yaitu STIE Bina Bangsa Serang, STIT Al-Khaeriyah Cilegon, UNMA Pandeglang, Untirta Serang dan IAIB Serang. Masing-masing peserta diwajibkan mengirimkan karya tulis berupa essay tentang CwR. “Kami kaget menerima tulisan mereka. Awalnya tidak percaya. Mereka sudah hebat menulis!” aku Firman Venayaksa, Presiden Rumah Dunia sekaligus juri.

Pemilihan duta CwR ini awalnya panitia mengirimkan surat permohonan kepada sekolah-sekolah dan PT untuk mengirimkan Duta pada acara CWR, berdasar rekomendasi dari Dinas Pendidikan Provinsi Banten. Duta yang dikirim harus  mengumpulkan karya tulis bertema “Mengubah Hidup dengan Membaca”. Berdasar karya tulis inilah akan dipilih siapa yang terbaik. Untuk membuktikan orisinalitas gagasan, para duta itu di audisi dan diwawancarai . “Kami meniru ‘Indonesian Idol’!” kata Gol A Gong, pendiri Rumah Dunia. “Supaya ‘gaya’ dan mudah diterima anak muda sekarang. Duta baca itu harus ‘gaul’! Jangan lagi istilah kutu buku itu identik dengan kaca mata dan wajah jutek!” Tambah Gong, mestinya para duta baca itu wajahnya ganteng seperti “Rangga dan Cinta” di film “Ada Apa dengan Cinta”.

Pada acara tersebut para peserta diuji dengan cara mempresentasikan tulisannya di depan peserta yang hadir. Dari kedua kategori tersebut nanti akan dipilih duta CwR SMA dan perguruan tinggi. Kedua Duta yang terpilih itu adalah orang yang terbaik dari segi tulisan dan lisan serta sikap. Mereka  nanti menjadi kordinator di kampus dan di sekolahnya, agar bisa mengajak teman-temannya supaya gemar membaca. Ketiga juri; Toto, Firman, dan Ibnu Adam Aviciena memilih dua orang duta yaitu, Sayuti Zakaria dari kampus STIT Al-Khaeriyah Cilegon dan Nastity dari pelajar SMA 1 Pandeglang. Mereka mendapatkan hadiah uang Rp. 200.000,- piala, sertifikat, dan paket buku. Kepada duta-duta yang tidak menang, mereka diberi sertifikat.

“Saya merasa senang sekali terpilih menjadi duta CwR ini. Tadinya saya mengira bukan saya yang akan mendapat kesempatan baik ini,” kata Sayuti Zakaria. Masih diakuinya, tulisan yang dipresentasikan olehnya itu isinya berdasarkan pengalaman pribadi yang terjadi di lapangan dan juga mengutip dari buku yang berjudul “Rahasia Sukses Orang Besar” karangan Dr. Aed Al- Qorni. Sayuti akan membetuk kelompok diskusi bersama teman-temannya di kampus dimana dia belajar. Kelompok diskusi itu bertujuan menyebarkan semangat betapa pentingnya membaca kepada para teman yang lain.  Kini Sayuti menjadi peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan ke-15.

Ubahlah dirimu dengan membaca!Hal serupa dijelaskan oleh Nursalim dalam  sambutannya, “Kita juga harus gemar membaca! Kita sebagai umat Islam harus merasa malu jika tidak gemar membaca,” tegasnya. Nursalim juga menghimbau kepada orang yang hadir khususnya kepada Rumah Dunia, supaya kegiatan ini terus berlangsung. “ Insya Allah akan menjadi dontur terhadap kegiatan ini,” tambahnya lagi. CwR diharapkan menjadi gerakan menuju Banten Membaca.

MOTIVASI

Usai lomba pidato, predikat duta CwR tidak berhenti dari sekedar menerima hadiah dan tepuk tangan. Rumah Dunia berencana menjadikan mereka sebagai Duta CwR. Tugas mereka memotivasi teman dan masyarakat di sekitar agar aktif membaca, dan secara terus-menerus  menyebarkan spirit bahwa dengan membaca bisa mengubah hidup kita menuju ke arah yang lebih baik.

Menurut Toto ST Radik, Ketua Juri CwR, “Wewenang seluruh Duta CwR adalah mengadakan acara dengan tujuan membuka wawasan teman dan masyarakat sekitar, misalnya dengan memulai dari kegiatan membaca dan berdiskusi. Duta CwR diperkenankan melakukan koordinasi dengan kami sebagai pencetus CwR, dengan sepengetahuan Kepala Sekolah dan guru pendamping.” Kelak, para duta ini yang menggerakkan taman bacaan masyarakat di kampungnya. Dan buta aksara di Banten tidak ada lagi.

Hal ini dilakukan berkelanjutan, agar  155.305 warga di Banten yang buta aksara dientaskan. Menurut Kompas edisi Senin (11/1), hingga akhir tahun 2009, jumlah warga usia 13 tahun ke atas yang masih buta aksara di Provinsi Banten tercatat 155.305 orang. Pada tahun 2010 pemerintah daerah setempat menargetkan penurunan jumlah warga buta aksara ini minimal 40.000 orang.

Sayuti dan Nastity, para duta CwRSaat menjadi pembicara di sesi diskusi CwR, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten Eko Endang Koswara di Serang, Provinsi Banten mengatakan, “”Penyebab buta aksara ini antara lain karena faktor keterjangkauan akses, rendahnya minat belajar, dan juga faktor ekonomi.”

DUKUNG

Sekitar pukul 14.00 WIB, HM Masduki, Wagub Banten tiba beserta istrinya. Ruang tunggu VIP pun penuh. Selain HM Masduki, juga ada Ahmad Mukhlis Yusuf (direktur Antara), Endang Eko Koswara, Hafidzi (Kadisdik Kota Serang), Amriti (Perpusda Kota Serang, Nenny (Sekrtetaris Umum Yayasan Kesetiakawan dan Kepedulian Sosial Jakarta), Ella Yulaelawati, M.A., Ph.D, Wien Muldian (Forum Indonesia Membaca), dan Sudiyati (Kepala Perpusda Banten).

Pertunjukan seni marawis dai SMPIT Darul Fallah dan rampak beduk UKM Pandawa Untirta Serang unjuk kabisa. Para peserta CwR, tamu dan undangan merasa terhibur. “Luar biasa, ya!” kata Wina dari TBM Zakiyah Bandung, peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan ke-15, yang sedang technikal meeting. Wina jauh-jauh dari Bandung, karma tertarik dengan kemasan Rumah Dunia dalam upayanya meningkatkan minat baca masyarakat.

Pameran komunitas literasiKemudian HM Masduki memberi sambutan, bahwa pencanangan gerakan membaca ini untuk meningkatkan kualitas hidup. “Persoalan gerakan membaca ini bukan hnya urusan pemerintah, tapi kita semua. Rumah Dunia harus kita dukung.” Usai itu, HM Masduki mencanangkan CwR dengan pemecahan kendi berisi kartu-kartu bertuliskan huruf alphabet.

Diskusi CwR saat hujanDISKUSI

Acara puncaknya adalah diskusi. Tapi sebelum diskusi ada penyerahan sumbangan. Alhamdulillah, saat CwR, Rumah Dunia kebanjiran hadiah. Pemprov Banten menyumbang voucher mebuler dan buku, Perpusda Banten se-dus besar buku, Aneka Swalayan 20 dus minuman mineral gelas, Universitas Serang Raya memberi beasiswa kepada Roy Goozly, relawan Rumah Dunia dan Untirta Serang juga memberi beasiswa kepada Muhzen Den. SUHUD Media Promo tak mau ketinggalan, urusan cetak-mencetak; standing banner, liflet, dan backdrop ditanggungnya.Yang kolosal sumbangan dari Yayasan Kepedulian dan Kesetiakawanan Sosial Jakarta berupa 2 komputer dan mejanya, 1 wireless, 100 kursi plastik, 50 meja gambar, dan printer. Bahkan Nenny Sri Utami (Sekretaris Umum YKDK) menambahkan, “Nanti menyusul tenda, buku, dan alat-alat kesenian marawis!”

Saat diskusi CwR dengan narasumber Endang Eko Koswara, Wien Muldian, Ella, hujan mengguyur. Tapi peserta tetap bertahan. Eko memberi informasi, bahwa upaya penuntasan buta aksara bagi ratusan ribu warga di Banten itu tidak mampu dilakukan sendirian oleh dinas pendidikan tanpa melibatkan sektor lain. ”Tanpa ada pendekatan budaya, misalnya, tidak mungkin bisa menuntaskan buta aksara di Baduy,” katanya. Demikian pula untuk menuntaskan buta aksara di kalangan anak jalanan, dinas pendidikan membutuhkan kerja sama dengan satuan polisi pamong praja dan dinas sosial.

Tias and his gank di stand CwRKepala Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Banten Sudiyati mengatakan, pihaknya berupaya mendekatkan akses masyarakat kepada buku dengan membangun taman bacaan, perpustakaan desa, juga mengirim mobil perpustakaan keliling. ”Saat ini di Banten ada sekitar 200 taman bacaan dan 143 perpustakaan desa. Tahun ini ada rencana penambahan 44 perpustakaan desa,” kata Sudiyati.

Menurut Gol A Gong, pihaknya selama ini juga ikut berusaha menurunkan angka buta aksara, yakni dengan mengajari baca tulis bagi anak sekolah dasar—termasuk pemulung—yang belum bisa membaca. Terkait gerakan CwR, Gong mengatakan bahwa kegiatan itu dimaksudkan untuk menggelorakan ke seluruh warga Banten, bahwa dengan membaca bisa mengubah kualitas hidup warga. Hal laionnya, Banen akan kembali jaya seperti pada abad ke-16.

Sedangkan  menurut Ella Yulaelawati, M.A., Ph.D, anak-anak yang  lebih memiliki minat baca akan mempunyai kinerja akademis yang lebih baik.  Laporan studi  PISA (2006) menunjukkan remaja dari berbagai kalangan termasuk dari latar belakang ekonomi yang paling kurang mampu dapat lebih cemerlang dari teman-teman sebaya mereka yang lebih kaya jika mereka secara teratur membaca buku-buku, surat kabar dan komik di luar sekolah.

Menurut laporan studi “Membaca untuk Perubahan” (2007) ditemukan secara signifikan  bahwa mendorong membaca untuk kesenangan bisa menjadi salah satu cara yang paling efektif untuk mewujudkan perubahan sosial. Remaja usia lima belas tahun  dengan status  pekerjaan orangtua yang rendah terbukti  mencapai nilai rata-rata membaca (540) bila sangat terlibat dalam kegiatan membaca. Skor ini sangat  signifikan lebih tinggi dari pencapaian remaja yang orangtuanya memiliki status pekerjaan tinggi, tetapi yang kurang terlibat dalam membaca.

Semua siswa yang sangat terlibat dalam membaca membaca terbukti secara signifikan dapat mencapai nilai di atas skor rata-rata  internasional, terlepas dari apa pun latar belakang keluarga mereka. Hal ini membuktikan bahwa, walaupun latar belakang sosio-ekonomi sangat berperan, bukan berarti dapat menjadi  faktor dominan dalam memprediksi keterlibatan  membaca bahan bacaan yang beragam.  Tetapi penelitian juga menemukan bahwa ketersediaan bahan bacaan di rumah sangat berperan dalam mengembangkan kemampuan membaca anak. Anak-anak yang memiliki akses ke sejumlah besar buku cenderung  untuk lebih tertarik membaca secara meluas. Sementara keterkaitan latar belakang  sosio-ekonomi dengan profil membaca lemah, keterkaitan akses ke banyak buku di rumah berperan lebih tinggi. (Jang RuDun/Laporan Lanang Sejagat, harir Baldan, Kompas dot com)

TEGAL DUREN; KAMPUNGNYA PARA JAWARA

TEGAL DUREN; KAMPUNGNYA PARA JAWARA

SERANG – Pernahkah kamu berkunjung ke suatu kampung yang dulu pernah dihuni para jawara? Bisa dibayangkan dahulunya kampung itu pasti menyeramkan dan penuh aura jahat. Saya pernah. Tempatnya sangat serem. Tapi apa jadinya jika itu terjadi pada kampungmu? Bisa dipastikan generasinya pun pasti mengalir darah jawara. Tapi jangan curiga dulu. Apa benar itu? Yuk kita berkunjung ke kampung Tegal Duren, Cipocok Jaya, Kota Serang, dan kita korek keterangannya.

TEGAL REREN

Dahulu nama kampung Tegal Duren ini adalah Tegal Reren. Karena kebiasaan warga yang suka latah maka namanya berubah menjadi Tegal Duren. Tegal Duren bukan sebuah kampung pada umumnya yang banyak dihuni rumah padat panduduk. Tapi sebuah tegal lebat dan bersawah yang selalu dijadikan tempat peristirahatan para jawara. “Jawara dari mana-mana kumpul di sini,” ujar Ahmad Fatoni (47) warga Tegal Duren. Hal itu pun dibenarkan Ustadz Enting Ali Abdul Karim (40), menantu almarhum Haji Asmani, salah seorang Jawara Tegal Duren. “Sejarahnya Tegal Duren adalah tempat kumpul para jawara main judi, sabung ayam, dan minuman keras,” terang Enting.

Menurut Enting, kondisi inilah yang membuat hati Almarhum Kiyai H. Hasbullah, sesepuh kampung Selaur, tergerak untuk menyelamatkan Tegal Reren. Maka dia beserta warga Selaur lainnya- yang jaraknya sekira 200 meter dari Tegal Reren- segera hijrah ke Tegal Reren dan bermukim di sana. Namun ide Hasbullah tak direstui Kiai Dik Sudin, teman seperjuan Hasbullah. Bahkan Sudin menolak untuk pindah ke Tegal Reren dengan alasan tempat itu adalah gudang maksiat. Tapi, Hasbullah dan warga tetap teguh pada pilihannya.

Setelah kepindahan warga, Kiai Dik Sudin tetap tinggal di Selaur. Konon meninggalnya pun tak ada yang tahu. Menurut Enting, dulu di Selaur ada pohon Ambon. Pohon itu membesar dan bahkan tak mampu dipegang empat orang. “Seiring dengan kehilangan Kiai Dik Sudin pohon itu pun hilang begitu saja,” papar Enting yang kini pemilik Ponpes Al-Islam.

Salah satu upaya Hasbullah untuk mengubah Tegal Duren dibuktikan dengan mengirimkan pemuda-pemuda ke pondok pesantren. Dengan harapan agar bisa mendirikan pondok pesantren di Tegal Duren. Namun harapan itu tidak berhasil, sampai Kiai H. Hasbullah meninggal dunia.

PONDOK PESANTREN

Cita-cita Almarhum diteruskan oleh H. Asmani dan teman seperjuangan, H. Ahmad, dengan memugar masjid yang sebelumnya berukuran 4×6 m2. “Pada tahun 80-an Masjid Al-Mubarokah direhab dan diperbesar,” kata Enting.

Lalu pada tahun 1999 mimpi membangun pondok pesantren pun terealisasi dan mengusung nama Al-Islam. Sejak itulah pemuda-pemudi warga Tegal Duren sudah banyak yang memahami arti pentingnya belajar. “Pola pikirnya sudah berubah tidak lagi tradisional. Hal itu dampak dari pergeseran pemahaman,” terang Enting yang kini berusia 40 tahun.

Hingga saat ini, tercatat sekitar 50 orang anak yang melanjutkan kependidikan dan pesantren. Dari data ini, 17 orang anak Tegal Duren menetap di Pondok Pesantren Al-Islam, pesantren yang berada di kampung Tegal Duren. Sedangkan sisanya lebih banyak di luar seperti di Gontor Surabaya, Tangerang, dan di kampung-kampung lainnya.

Menurut Sobari (45) RT 01/03 kampung Tegal Duren, ia amat bersyukur dengan adanya Pesantren Al-Islam. “Adanya pesantren ini sangat membantu warga. Apalagi di sini banyak anak yang putus sekolah dan tidak mampu,” terang lelaki yang kini berusia 45 tahun ini. Masih dikatakannya, semoga bertambahnya anak-anak yang melanjutkan pendidikan dapat mengubah taraf hidup mereka. Pasalnya, sebagian besar warga yang berjumlah 85 kepala keluarga ini, penghasilannya didapat dari ngojek, kuli di pabrik, kuli di pasar lama dan Jakarta.

JALAN DAN PENDIDIKAN

Masih menurut Sobari, jumlah kepala keluarga kampung Tegal Duren 85, tapi semangat dan kerja sama antar warga sangat kompak. Itu ditandai ketika mengajukan perbaikan jalan. Hal ini dibenarkan oleh Enting saat hendak melakukan pengajuan pengaspalan jalan dari warga melalui pemkot Serang ke Provinsi Banten. Kini infrastruktur jalan di kampung yang sebelahan dengan Sumur Putat ini, termasuk berkembang. Tapi ketika wartawan www.rumahdunia.com memantau, ada yang aneh di jalan tersebut. Pengaspalannya hanya separuh. Saat dikonfirmasi, Sobari  mengatakan, jatah setiap kelurahan atau kecamatan  hanya 930 meter persegi. “Rencananya 2010 proyek ini akan diteruskan,” ujar RT yang berprofesi tukang tambal ban ini. Selain itu, semoga pemerintah setempat membantu warga yang tidak mampu dalam hal pendidikan. Karena pendidikan adalah cermin utama sebuah bangsa yang maju. Jika pendidikannya bagus maka SDM yang tercipta pun berkualitas. Wah, kalau begitu harus segera dibantu, nih. [Harir Baldan]

RUMAH KREATIF RAMAIKAN CHANGE WITH READING

SERANG – Apa yang kamu biasa hadiahkan untuk cewek atau temanmu di saat ulang tahun? Bunga, coklat, atau mungkin baju? Jika itu semua sudah terasa biasa, kamu bisa coba yang lain. Kalau perlu aneh, unik dan kreatif. Tapi apakah itu?

Nah, ngomongin soal kreatif kamu bisa berkunjung ke sebuah komunitas yang bernama Sanggar Rumah Kreatif yang berada di Jalan Raya Banten-Lopang, Serang. Di sana kalian akan banyak menemukan barang unik hasil dari oleh anak-anak kreatif. Ada celengan, pin atu bros, bingkai poto, kotak tisyu, tempat pensil, rumah Baduy, asbak dan lain-lainnya. Mereka menamakan diri dengan kreatif karena untuk membuat seni kriya mereka cukup menyediakan cat timbul, lem fox, selebihnya mengandalkan dari barang bekas; kardus, botol, kaca dan juga dari alam semisal pasir laut, daun pete, biji pete, biji sagu, alang-alang dan lain-lain. Nah, jika kamu berkunjung ke Rumah Kreatif, kamu bukan hanya dapat kado istimewa tapi juga dapat ilmu kreatifnya.

PROSES KREATIF

Awalnya Sanggar Rumah Kreatif dibuka hanya untuk siswa-siswi SMPN 3 Kota Serang, tepatnya pada tahun 2004-2005 dengan lokasi bertempat di sekolah tersebut.  Tapi karena di luar banyak anak-anak yang nongkrong, akhirnya kami buka untuk umum. “Di Kota Serang kan banyak anak-anak yang putus sekolah dan nganggur. Nah, dari pada waktunya tidak dimanfaatkan lebih baik ngumpul biar ada karya,” tutur Ahyadi (27) guru seni SMPN 3 Kota Serang. Lantas, bagaimanalkah awal proses kreatifnya?

Masih menurut Ahyadi, ide kreatif itu didapat ketika dirinya jalan-jalan ke pantai. Waktu itu dia diminta kado ulang tahun oleh teman SMP-nya. “Waktu itu saya tidak punya uang untuk membelikan kado. Karena rumah saya dekat pantai, lalu saya bereksperimen dengan membuat hiasan pasir laut,” kenangnya. Nah, dari sanalah teman-teman sekolahnya banyak memesan barang-barang hiasan itu pada Ahyadi. Seiring waktu berjalan kreatifitasnya ini ternyata mendatangkan rupiah. Alhasil biaya sekolahnya pun  terbantu dari keahliannya membuat kerajinan tangan.

PRESTASI

Rumah Kreatif Ahyadi tidak hanya diikuti siswa-siswinya saja, melainkan sudah dibuka untuk umum. Terhitung sampai tahun 2009 lalu, Rumah Kreatif yang didirikannya sudah memiliki 26 anggota yang terdiri dari pelajar SMPN 3 Kota Serang, SMA, anak-anak putus sekolah, dan umum. Fadly (17), salah satu peserta yang berasal dari Lopang mengatakan, dia sangat tertarik ketika diajak oleh temannya untuk bergabung dengan Sanggar Rumah Kreatif. “Senang sekali saya bisa bergabung dengan Rumah Kreatif karena di sini saya bisa banyak belajar membuat seni kriya,” ujar Fadly yang mengaku lulusan SD ini.

Fadly juga menambahkan, di Rumah Kreatif dirinya berharap semoga ia juga sukses dan suatu saat ingin buka usaha sendiri. “Mudah-mudahan kelak saya bisa mandiri,” imbuhnya.

Selain seni kriya, Rumah Kreatif juga mengajarkan les tari, les musik, seni lukis dan menggambar. Kendati anggotanya masih didominasi anak-anak pelajar tapi bicara prestasi tak perlu diragukan lagi. Contohnya Asep Bidin yang berhasil menyabet dua gelar sekaligus juara 1 se-Kota Serang lomba kriya dan seni lukis. Selain itu ada juga menjadi juara 1 lomba seni kriya se-Provinsi, juara 1 lomba lukis se-Provinsi dan yang prestasi terbaik diraih oleh Andri Yunas kelas 3 SMPN 3 Kota Serang dengan meraih gelar ke-4 tingkat nasional di Jogjakarta tahun 2009.

Untuk pemasarannya sendiri, selain buka stand di  Basecamp, Rumah Kreatif mendistribusikan hasil karya-karyanya di hotel, rumah makan di sepanjang Anyer, buka stand pameran dan terkadang gelar di Alun-alun Kota Serang. Perkembangan jaman yang semakin modern, membuat jarak tak berarti lagi. Hal itupun berpengaruh terhadap para peminat yang ingin memesan bisa menghubungi website-nya di www.aditiga.blogspot.com atau (087871466153: Adhie).

CHANGE WITH READING

Sebagai bentuk partisipasi remaja Banten dalam mendukung gerakan literasi, pada pencanangan Change With Reading yang dihelat Rumah Dunia pada Sabtu (9/1) kemarin, Rumah Kreatif pun turut meramaikan pameran komunitas literasi. Pada acara yang dihadiri oleh Wakil Gubernur Banten, HM. Masduki, Kadindik Banten Eko Endang Koswara, Kadisdik Kota Serang Hafidzi,MA dan perwakilan dari Yayasan kesetiakawanan Jakarta, Ahyadi berharap semoga di acara ini bisa mendorong semangat anak-anak muda lebih berkreatif lagi. “Selain membaca juga mesti kreatif, karena kalau kreatif tidak pernah bangkrut,” ujar warga asli Anyer ini. Terkait dengan pencangan Change With Reading ini, Ahyadi berharap semoga di tahun 2010 dan seterusnya warga Banten lebih kreatif dan buta aksaranya semakin berkurang. Karena sebagaimana kita tahu, semakin masyarakat buta aksara, maka pintu-pintu kreatif sulit ditemukan. [Harir Baldan]

advert

Tags Kata

Gonjlengan

BE A WRITER: DARI YANG REGULER HINGGA EXCLUSIVE”

Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat.

Full Story | May 20th, 2010

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa*
Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong
MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak mengganggu [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK
I.
“ora et labora”
di pertigaan jalan menuju rumah
beberapa tukang becak menyemadikan nasib
: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha
- memejam di tempat duduk
masingmasing-
II.
“nrimo ing pandum”
kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan
begitu saja kepada puingan matahari dan purnama
mereka mengabadikannya sebagai penanda becak
yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa
lapar dan haus adalah
foto-doa
III.
“kerja adalah ibadah”
di sisi adzan,
kretek [...]

Full Story | July 18th, 2010