ASMA NADIA DAN KECEMBURUAN KITA

Emak-AsmaOleh Gading Tirta

Sabtu, 14 November 2009, Asmarani Rosalba alias Asma Nadia kembali memberikan ilmu seputar proses kreatif saat menulis buku terbarunya “Emak Ingin Naik Haji” (selanjutnya dibaca EINH) dan “Muhasabah Cinta Seorang Istri” saat acara launching kedua bukunya itu di Rumah Dunia. Ini kunjungannya yang ketiga tahun ini. Sebelumnya, pada Maret lalu, Rumah Dunia juga pernah mendiskusikan bukunya “Jilbab Traveler”. Kami memang beruntung. Kalau di tempa lain Asma Nadia diburu-buru, pada kami justru semangatnya ingin berbagi. Kata Gol A Gong, “Asma pernah mengatakn, visinya sama dengan Rumah Dunia. Jadi, Asma sebetulnya relawan Rumah Dunia juga.”

REVISI

Asma seakan tak lelah memberikan “virus” untuk menulis kepada mereka yang haus akan ilmu menulis. Generasi muda di Banten hars bersyukur untuk kebaikan Asma. Dan saat Asma mengatakan, “Saya ingin menjadikan menulis sebagai profesi” seakan menegaskan bahwa menulis bisa menjadi “lahan” yang cukup “basah” dan bisa menghasilkan uang. Siapa yang tidak tertarik.

Asma mengaku berkali-kali merevisi cerpen EINH. Saat draf cerpen EINH pertama selesai ia mengaku tidak puas karena ceritanya kurang menarik. Saat ceritanya sudah menarik, tidak ada “ruh”nya. Ia revisi lagi. Kurang puas, revisi lagi. Lantaran berkali-kali revisi itulah Asma meminta mundur dari deadline yang ditentukan oleh redaksi majalah Nur. Tapi harga yang mesti dibayar Asma untuk cerpen itu memang setimpal. Cerpen itu merupakan salah satu cerpen terbaik yang dilahirkannya. Dan saat ini telah difilmkan oleh Aditya Gumay dengan judul yang sama.

Begitu panjang waktu dan tenaga yang dikeluarkan oleh Asma dalam melahirkan sebuah karya bermutu. Begitu melelahkan., karna melibatkan pikiran dan perasaan.

Emak-Audience3PRESTASI

Siapa yang tidak kenal Asma? Bagi pecinta buku mungkin tidak ada yang tidak mengenalnya. Namanya sering kali muncul sebagai penulis muda berbakat. Apalagi saat organisasi kepenulisan Forum Lingkar Pena muncul, dimana ia sebagai salah seorang yang ikut membidani kelahiran organisasi kepenulisan itu. Karya-karyanya sekan tak pernah lelah menjejali penerbit-penerbit besar di Indonesia; Asy zSyaamil, Mixan, Penerbit Lingkar Pena, dan Gramedia. Kini Asma mendirikan penerbitan sendiri; Asma Nadia Publishing House..

Siapa yang tidak tahu buku-bukunya baik non fiksi, novel maupun kumpulan cerpen. Berpuluh-puluh buku pun mengalir deras darinya. Memang ada anggapan bahwa karya-karyanya yang muncul di Penerbit Lingkar Pena adalah karena Asma adalah salah satu pendiri FLP. Tapi ternyata karya-karyanya tidak hanya diterbitkan disitu. Penerbit Mizan juga mempublikasikan buku-bukunya yang banyak menyabet prestasi. Derai Sunyi mendapat penghargaan Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA), Rembulan di Mata Ibu memenangkan penghargaan Adikarya IKAPI 2001 sebagai buku remaja terbaik nasional, Dialog Dua Layar, memenangkan penghargaan Adikarya IKAPI, 2002, Dating meraih penghargaan Adikarya IKAPI, 2005, dan masih banyak lagi. Dan ini semakin meneguhkan bahwa Asma memang berbakat dalam dunia sastra.

Siapa yang tidak mengenal Asma? Namanya semakin berkibar di dunia penulisan kreatif dan diperhitungkan saja sampai ke level internasional. Berkali-kali ia diundang sebagai pembicara di forum internasional.

PROSES

Ya, Asma memang terkenal. Ia beken karena menulis. Ia juga sempat naik haji dari menulis. Tapi apakah banyak yang tahu bahwa Asma memulai semua itu dengan merangkak? Ia mulai dari nol! Seperti yang sering diungkapkan Gol A Gong, bahwa kesuskesan para penulis itu dimulai dari jauh-jauh hari. Kadang proses yang ditempuh begitu melelahkan. Namun karena konsisten, tekun, terus belajar, membaca, dan menulis akhirnya mereka menuai hasilnya.

Begitu juga yang dilakukan Asma. Ia berkali-kali menulis, menulis dan menulis. Tanpa lelah. Tak pernah berhenti. Dan seperti kebanyakan penulis, karya awal-awalnya banyak yang dianggap jelek. Tapi ia terus mencoba. Berjuang membuat tulisan yang memikat sampai akhirnya ia menjadi “selebritis” di dunia perbukuan.

Mungkin karena kesuksesan yang diraihnya pula banyak orang yang ingin mengikuti jejak Asma. Seperti yang diungkapkan oleh Halian, pelajar SMA Al-Fahmi (16). “Saya mempunyai tekad untuk terus maju. Aku ingin jadi penulis,” katanya bersemangat. Atau juga keinginan seorang Siti Rukmini, pelajar kelas 12 SMA Leuwidamar, Lebak yang sengaja datang karena ingin tahu Asma Nadia. “Mbak Asma memberikan motivasi saya untuk menulis,” akunya.

Mungkin ada sedikit keinginan atau rasa “iri” saat melihat para penulis yang hidup enak karena setiap kali melahirkan buku selalu saja ada penerbit yang tertarik menjualnya. Bahkan ada penerbit yang meminta sang penulis membuat sebuah naskah untuk diterbitkan di perusahaannya. Tapi apakah pernah terlintas dalam pikiran bahwa apa yang didapatkan para penulis itu adalah hasil dari kerja keras. Dan mendapatkan itu tidak semudah membalik telapak kaki gajah!

Rasanya sudah sering Asma datang ke Rumah Dunia. Sudah banyak juga pelajar, mahasiswa, bahkan masyarakat umum yang mendengar proses kreatifnya saat menjadi pembicara. Tapi apakah ada yang kemudian cemburu padanya? Mencari tahu bagaimana Asma mendapatkan semua kesuksesan dalam menulis. Setelah itu bertekad dalam hati, “Saya suatu saat akan duduk di depan panggung Rumah Dunia sebagai pembicara seperti Asma.” Atau “Suatu saat saya akan duduk bersama Asma disana.” Seraya belajar menulis, membaca, menulis lagi. Terus menerus menulis sehingga akan lahir penulis-penulis generasi setelah Asma. (Laporan: AS Kelanaraya, Harir Baldan)

ASMA NADIA DIMINATI PELAJAR DAN MAHASISWA BANTEN

Emak haji comRUMAH DUNIA – Ratusan pelajar dan mahasiswa memadati Rumah Dunia pada Sabtu (14/11) dalam acara bedah buku “Emak Ingin Naik Haji” karya penulis novel ternama, Asma Nadia. Kebanyakan dari mereka adalah para penggemar seni sastra, yang mengagumi sosok pengarang yang karirnya dapat dijadikan tauladan bagi generasi muda Indonesia, khususnya di Banen yang tertinggal dalam hal kesustteraan.

Dikalangan pecinta novel dan sastra Indonesia, Asma Nadia dikenal sebagai sosok pengarang yang kerap menelurkan buku dan novel berkwalitas  serta best seller. Dalam acara bedah buku yang digelar di Rumah Dunia, Ciloang Serang,  panitia mengajak pengunjung untuk bersama sama mengupas isi novel “Emak Ingin Naik Haji”, karya terbaru Asma Nadia , yang juga telah di-film-kan di tanah air  oleh Aditya Gumay.
Antusias pelajar semakin tinggi saat ditampilkan pula seorang pengarang cilik, Putri dari Asma Nadia, yaittu Putri Salsa. Prestasi pengarang cilik yang baru berusia 13 tahun  dan masih duduk di bangku SMP kelas 2 tersebut sangat membanggakan . Selain sudah menulis 4 buah buku yang berisi kehidupan masa kanak kanak dan remaja, Putri Salsa juga sempat memperoleh juara pertama dalam lomba menulis surat untuk presiden SBY.

Menurut Ketua Panitia, Gading Tirta, “Bedah buku yang sekaligus menampilkan pengarangnya dapat menginspirasi pelajar dan mahasiswa untuk mencintai dunia menulis, yang juga dapat dijadikan profesi yang menjanjikan.”

Sementara seorang pelajar keas 3 SMA, Siti Rukmini, mengaku sangat mengagumi sosok penulis dan menyukai isi novel yang tengah dibahas. Menurutnya, “Novel Asma sangat bernuansa pendidikan, dimana seorang anak mencoba menyenangkan ibunya yang ingin pergi berhaji, meski kondisi ekonomi yang jauh dari berkecukupan .”

Diharapkan dari acara bedah buku tersebut dapat menumbuhkan rasa cinta generasi muda terhadap dunia menulis dan sastra . Setidaknya dengan menggemari dunia menulis dapat menghindarkan diri dari kegiatan negatif dan pergaulan yang menyesatkan dikalangan pelajar dan generasi muda. (ND)

ASMA NADIA LAUNCHING “EMAK INGIN NAIK HAJI”

cover buku Emak

cover buku Emak

RUMAH DUNIA -Ada yang Sudah nonton filem “Emak Ingin Naik Haji”? Atau pernah baca cerpennya? Sabtu 14 November 2009,pukul  13.30 WIB ada “Emak Ingin Naik haji” bersama Asma Nadia di Rumah Dunia. Juga bincang buku anak “Cool Skool” karya Putri Salsa. Datang, ya. Gratis. Kesempatan emas ketemu Asma Nadia, penulis perempuan mutakhir Indonesia.

“Emak Ingin Naik Haji” bercerita tentang Emak, seorang wanita paruh baya yang dengan gigih berusaha untuk dapat mewujudkan impiannya, yaitu pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan haji. Kehidupan Emak sehari-hari hanya bergantung pada hasil jualan kue yang dititipkan di warung atau pesanan orang. Kalau beruntung, ada juga sedikit tambahan uang dari Zein, anak Emak satu-satunya yang berjualan lukisan keliling hasil karyanya sendiri.

Walaupun Emak tahu bahwa naik haji adalah salah satu hal yang mungkin sulit diraih, tetapi Emak tidak putus asa. Dia tetap mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk disetorkan ke tabungan haji di bank. Zein yang melihat kegigihan Emak juga berusaha dengan berbagai cara untuk dapat mewujudkan keinginan Emak. Apakah ada jalan bagi Emak agar keinginannya terwujud?

Emak adalah representasi dari kelompok masyarakat yang sangat merindukan Mekah tetapi karena persoalan finansial, maka pergi haji menjadi sebuah hal yang sangat jauh di awang-awang. Sementara Juragan Haji, yang diperankan oleh Didi Petet, bersama keluarganya dengan penuh kemudahan dapat melakukan ibadah haji dan umroh kapan saja mereka inginkan. Adapula Pak Joko, yang memaksakan diri untuk pergi haji karena ingin memamerkan titel hajinya untuk meraup suara pada pemilihan umum.

Keunggulan “Emak Ingin Naik Haji’ adalah tema sosial yang mengangkat kehidupan sehari-hari masyarakat. Lebih khususnya, “Emak Ingin Naik Haji” menyentil fenomena sosial keluarga muslim yang hidup berkecukupan dan dapat berkali-kali naik haji sementara banyak keluarga muslim lain yang tak mampu menunaikan rukun Islam kelima tersebut atau harus bersusah payah menabung bertahun-tahun untuk mewujudkan impiannya pergi haji.(*)

advert

Tags Kata

Gonjlengan

MENGOPTIMALKAN POTENSI TAMAN BACAAN MASYARAKAT

Oleh Gol A Gong
Beberapa kali saya kedatangan tamu yang selalu minta diajari membuat proposal pembuatan taman bacaan masyarakat. Mereka adalah para mahasiswa. Mereka menduga, bahwa saya mendirikan taman bacaan masyarakat bernama Rumah Dunia dengan membuat proposal. Saya katakan kepada mereka, bahwa Rumah Dunia tidak dibangun dengan proposal, tapi dengan kata-kata. Juga Rumah Dunia tidak dibangun [...]

Full Story | February 21st, 2010

Banten Kuliner

MAKANAN TRADISIONAL SERABI GURIH DAN ALAMI

SERABI GURIH DAN ALAMI

Oleh: Rama
Di pinggir jalan Bayangkara Sumampir Cilegon, atau tepatnya di depan Lapangan Bola Sumampir,

Full Story | February 8th, 2010

advert

Wisata Banten

PEMANDIAN CIPANAS SEHAT DAN SEGAR

LEBAK – Selain mimpi jadi kota pelajar, Lebak yang belum lama berusia 181 tahun ini juga rupanya menyimpan banyak keindahan alam. Saya belum lama ini sempat coba-coba menelisik, mengunjungi dan menikmati bahkan tadinya ingin menjamah semua tempat-tempat wisata yang ada di Kabupaten Lebak, baru sebagian saja sih, mengingat beberapa tujuan wisata masih cukup jauh dan [...]

Full Story | December 27th, 2009

advert

Cerpen

BABI NGEPET BUKU

Cerpen Langlang Randhawa*
Alkisah, Banten punya taman budaya yang megah. Gedung berlantai lima yang berdiri di atas tanah bekas gedung kegubernuran Banten itu ramai dengan diskusi mengalahkan hiruk-pikuk mall-mall. Selain berada di jantung kota dan mewah, fasilitasnya pun mengalahkan Gedung Putih Amerika; kenyamanan, keamanan, pelayanan, dan kebersihan sangatlah terjaga dan tertata. [...]

Full Story | March 9th, 2010

Novel

SEGERA “TEMBANG KAMPUNG HALAMAN” KARYA GOL A GONG

Nantikan di bulan Februari 2010, cerita bersambung “Tembang Kampung Halaman”  karya Gol A Gong – dulu Gola Gong. Cerita ini pernah dimuat di majalah HAI  tahun 1990-an dan diterbitkan jadi buku mungil oleh Gramedia. Menceritakan anak-anak kampung dari kampung yang agraris di wilayah pesisir utara, lalu mengalami perubahan sosial.  Mimpi-mimpi dilontarkan setinggi bintang dan ada [...]

Full Story | January 21st, 2010

Puisi

PUISI-PUISI DEA ANUGRAH

KEPADA PISAU

airmatamu mengalir
sampai jauh
pelan pelan menghampir kesunyianku.
***

BLUES BUAT PEREMPUAN R
di kotaku. di kotaku yang jauh ini
selalu kutemukan kilau senyummu
pada lampu lampu jalan, pada bau malam yang khas
juga pada dingin angin pelabuhan.
padahal hidup
hanya menunda kekalahan
seperti payung
yang perlahan lahan sobek
dikoyak moyak angin kencang jelek.
di kotaku.
di kotaku yang jauh ini
aku selalu mengingat senyummu
meski hidup hanya serupa
payung [...]

Full Story | March 9th, 2010