ASMA NADIA DAN KECEMBURUAN KITA
Gola Gong | Laporan Utama | November 15th, 2009 | 1 Comment »
Oleh Gading Tirta
Sabtu, 14 November 2009, Asmarani Rosalba alias Asma Nadia kembali memberikan ilmu seputar proses kreatif saat menulis buku terbarunya “Emak Ingin Naik Haji” (selanjutnya dibaca EINH) dan “Muhasabah Cinta Seorang Istri” saat acara launching kedua bukunya itu di Rumah Dunia. Ini kunjungannya yang ketiga tahun ini. Sebelumnya, pada Maret lalu, Rumah Dunia juga pernah mendiskusikan bukunya “Jilbab Traveler”. Kami memang beruntung. Kalau di tempa lain Asma Nadia diburu-buru, pada kami justru semangatnya ingin berbagi. Kata Gol A Gong, “Asma pernah mengatakn, visinya sama dengan Rumah Dunia. Jadi, Asma sebetulnya relawan Rumah Dunia juga.”
REVISI
Asma seakan tak lelah memberikan “virus” untuk menulis kepada mereka yang haus akan ilmu menulis. Generasi muda di Banten hars bersyukur untuk kebaikan Asma. Dan saat Asma mengatakan, “Saya ingin menjadikan menulis sebagai profesi” seakan menegaskan bahwa menulis bisa menjadi “lahan” yang cukup “basah” dan bisa menghasilkan uang. Siapa yang tidak tertarik.
Asma mengaku berkali-kali merevisi cerpen EINH. Saat draf cerpen EINH pertama selesai ia mengaku tidak puas karena ceritanya kurang menarik. Saat ceritanya sudah menarik, tidak ada “ruh”nya. Ia revisi lagi. Kurang puas, revisi lagi. Lantaran berkali-kali revisi itulah Asma meminta mundur dari deadline yang ditentukan oleh redaksi majalah Nur. Tapi harga yang mesti dibayar Asma untuk cerpen itu memang setimpal. Cerpen itu merupakan salah satu cerpen terbaik yang dilahirkannya. Dan saat ini telah difilmkan oleh Aditya Gumay dengan judul yang sama.
Begitu panjang waktu dan tenaga yang dikeluarkan oleh Asma dalam melahirkan sebuah karya bermutu. Begitu melelahkan., karna melibatkan pikiran dan perasaan.
PRESTASI
Siapa yang tidak kenal Asma? Bagi pecinta buku mungkin tidak ada yang tidak mengenalnya. Namanya sering kali muncul sebagai penulis muda berbakat. Apalagi saat organisasi kepenulisan Forum Lingkar Pena muncul, dimana ia sebagai salah seorang yang ikut membidani kelahiran organisasi kepenulisan itu. Karya-karyanya sekan tak pernah lelah menjejali penerbit-penerbit besar di Indonesia; Asy zSyaamil, Mixan, Penerbit Lingkar Pena, dan Gramedia. Kini Asma mendirikan penerbitan sendiri; Asma Nadia Publishing House..
Siapa yang tidak tahu buku-bukunya baik non fiksi, novel maupun kumpulan cerpen. Berpuluh-puluh buku pun mengalir deras darinya. Memang ada anggapan bahwa karya-karyanya yang muncul di Penerbit Lingkar Pena adalah karena Asma adalah salah satu pendiri FLP. Tapi ternyata karya-karyanya tidak hanya diterbitkan disitu. Penerbit Mizan juga mempublikasikan buku-bukunya yang banyak menyabet prestasi. Derai Sunyi mendapat penghargaan Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA), Rembulan di Mata Ibu memenangkan penghargaan Adikarya IKAPI 2001 sebagai buku remaja terbaik nasional, Dialog Dua Layar, memenangkan penghargaan Adikarya IKAPI, 2002, Dating meraih penghargaan Adikarya IKAPI, 2005, dan masih banyak lagi. Dan ini semakin meneguhkan bahwa Asma memang berbakat dalam dunia sastra.
Siapa yang tidak mengenal Asma? Namanya semakin berkibar di dunia penulisan kreatif dan diperhitungkan saja sampai ke level internasional. Berkali-kali ia diundang sebagai pembicara di forum internasional.
PROSES
Ya, Asma memang terkenal. Ia beken karena menulis. Ia juga sempat naik haji dari menulis. Tapi apakah banyak yang tahu bahwa Asma memulai semua itu dengan merangkak? Ia mulai dari nol! Seperti yang sering diungkapkan Gol A Gong, bahwa kesuskesan para penulis itu dimulai dari jauh-jauh hari. Kadang proses yang ditempuh begitu melelahkan. Namun karena konsisten, tekun, terus belajar, membaca, dan menulis akhirnya mereka menuai hasilnya.
Begitu juga yang dilakukan Asma. Ia berkali-kali menulis, menulis dan menulis. Tanpa lelah. Tak pernah berhenti. Dan seperti kebanyakan penulis, karya awal-awalnya banyak yang dianggap jelek. Tapi ia terus mencoba. Berjuang membuat tulisan yang memikat sampai akhirnya ia menjadi “selebritis” di dunia perbukuan.
Mungkin karena kesuksesan yang diraihnya pula banyak orang yang ingin mengikuti jejak Asma. Seperti yang diungkapkan oleh Halian, pelajar SMA Al-Fahmi (16). “Saya mempunyai tekad untuk terus maju. Aku ingin jadi penulis,” katanya bersemangat. Atau juga keinginan seorang Siti Rukmini, pelajar kelas 12 SMA Leuwidamar, Lebak yang sengaja datang karena ingin tahu Asma Nadia. “Mbak Asma memberikan motivasi saya untuk menulis,” akunya.
Mungkin ada sedikit keinginan atau rasa “iri” saat melihat para penulis yang hidup enak karena setiap kali melahirkan buku selalu saja ada penerbit yang tertarik menjualnya. Bahkan ada penerbit yang meminta sang penulis membuat sebuah naskah untuk diterbitkan di perusahaannya. Tapi apakah pernah terlintas dalam pikiran bahwa apa yang didapatkan para penulis itu adalah hasil dari kerja keras. Dan mendapatkan itu tidak semudah membalik telapak kaki gajah!
Rasanya sudah sering Asma datang ke Rumah Dunia. Sudah banyak juga pelajar, mahasiswa, bahkan masyarakat umum yang mendengar proses kreatifnya saat menjadi pembicara. Tapi apakah ada yang kemudian cemburu padanya? Mencari tahu bagaimana Asma mendapatkan semua kesuksesan dalam menulis. Setelah itu bertekad dalam hati, “Saya suatu saat akan duduk di depan panggung Rumah Dunia sebagai pembicara seperti Asma.” Atau “Suatu saat saya akan duduk bersama Asma disana.” Seraya belajar menulis, membaca, menulis lagi. Terus menerus menulis sehingga akan lahir penulis-penulis generasi setelah Asma. (Laporan: AS Kelanaraya, Harir Baldan)
RUMAH DUNIA – Ratusan pelajar dan mahasiswa memadati Rumah Dunia pada Sabtu (14/11) dalam acara bedah buku “Emak Ingin Naik Haji” karya penulis novel ternama, Asma Nadia. Kebanyakan dari mereka adalah para penggemar seni sastra, yang mengagumi sosok pengarang yang karirnya dapat dijadikan tauladan bagi generasi muda Indonesia, khususnya di Banen yang tertinggal dalam hal kesustteraan.


