HUJAN BAHAGIA DI PESTA ANAK RUMAH DUNIA

Peserta lomba tusuk balon siap beraksi!

Gadis cilik itu bernama Fia. Usianya barulah menginjak 9 tahun dan duduk di kelas 4 sekolah dasar. Seperti teman-teman lainnya, ia gelisah menanti namanya dipanggil. Sambil melihat teman-temannya yang lebih dahulu unjuk kemampuan pada lomba baca puisi, Fia sesekali melirik kembali majalah anak-anak di dekapannya. Sambil hilir mudik tak betah duduk di kursi, Fia kembali melirik larik-larik puisi anak yang ada di dalam salah satu majalah tersebut. Ia berharap ia hafal teksnya, meski nantinya Fia akan membacanya dan bukan menghafal. Hingga tiba saat yang dinanti, Fia harus naik panggung karena namanya sudah disebut oleh sang MC. Tiba-tiba Fia tak langsung menaiki panggung. Ia merasa ragu karena di depannya sekitar 100-an anak peserta lain yang siap menyaksikan aksinya, mungkin, terlihat menyeramkan di bayangannya. Hingga beberapa saat Fia masih tetap ragu. Hal ini membuat panitia merasa perlu mendekati Fia dan membujuknya agar berani naik panggung. Akhirnya, tak lama kemudian dengan senyum kikuk, Fia meminta waktu sebentar untuk menenangkan diri. ”Tunggu sebentar ya, Kak. Fia mau berdo’a dulu,” ujar Fia sambil menarik napas dan mulutnya komat-kamit membaca do’a. Fia mengusap wajah, ”Sudah, Kak. Bismillah!” Fia naik panggung dan langsung disambut tepuk tangan para peserta Pesta Anak Rumah Dunia.

Daftar Buat Adik

Pesta Anak adalah tradisi tahunan Rumah Dunia dalam rangka memeriahkan Hari Anak Nasional yang biasa diperingati setiap tanggal 23 Juli. Tak hanya lomba baca puisi, menggambar, dan mengarang yang memang mengandung unsur budaya literasi sejak dini, Pesta Anak Rumah Dunia ke-9 yang dilaksanakan pada Sabtu (24/7) hingga Minggu (25/7) juga dimeriahkan aneka lomba hiburan lainnya semisal lomba balap makan kerupuk, tusuk balon, permen di tempayan putih, joget jeruk, memasukkan paku ke dalam botol, dan balap sarung (bukan karung).

Ahmad Wayang memberi sambutan dan semangat.

Ahmad Wayang selaku ketua panitia memaparkan, lomba ini merupakan bentuk kepedulian Rumah Dunia pada anak-anak dengan cara mempestakan mereka. Anak-anak dibiarkan tertawa dan diberi kesempatan unjuk kebolehan mereka.”Kami ingin dari Pesta Anak ini anak-anak lebih bahagia dari hari-hari biasanya,” ujar mantan penjual roti yang dua bulan lalu cerpennya tergabung dalam antologi penulis muda Banten berjudul Gilalova yang diterbitkan Gong Publishing. ”Kami juga memberi kesempatan kepada adik-adik saya di Rumah Dunia dengan memberi kesempatan mengikuti dua jenis lomba. Kami ingin mereka mendapat kesempatan untuk terus bersenang-senang hingga menang. Dan tentunya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada para donatur yang telah mendukung kegiatan ini,” imbuh relawan asal Kibin, Serang, yang baru saja lolos tes pendaftaran mahasiswa baru di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten, setelah sempat tak meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi selama tiga tahun karena persoalan biaya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Pesta Anak Rumah Dunia ini selalu diminati anak-anak. Bahkan seminggu sebelum pesta digelar anak-anak kampung Ciloang, Kubil, Tegal Duren, Kesuren, dan Kemang, yang memang berada di sekitar Rumah Dunia, langsung berbondong-bondong mendaftarkan diri. Panitia yang sebagian besar merupakan anak-anak generasi awal Rumah Dunia didirikan yang kini sudah menjadi remaja, sibuk menangani adik-adiknya yang antusias mengikuti Pesta Anak ini. Hal ini pula yang ditunjukkan bocah bernama Agwan (10). Ia sengaja datang untuk mendaftarkan adiknya juga. ”Saya pesan  buat adik saya ya, Kak.”

Anak-anak mengantri saat mendaftar

Mereka Hebat!

Setelah berhelat selama dua hari, akhirnya satu persatu lomba pun terselesaikan dengan wajah anak-anak yang riang. Para dewan juri sibuk memilih karya terbaik dari peserta. Untuk lomba menggambar, Indra Kesuma, tutor wisata menggambar di Rumah Dunia yang juga guru kesenian di SMA Al-Azhar 3 Kota Serang, memilih tiga juara untuk kategori Taman Kanak-Kanak (TK). Mereka adalah Odri (juara I), Silviyana Dewi (juara II), dan Akilah (juara III). Sementara tiga juara lomba menggambar untuk kategori peserta Sekolah Dasar (SD), Indra memilih karya Ahmad S (juara I), Astin M (juara II), dan Sulis (juara III). ”Karya anak-anak memang rata-rata seragam karena mereka terjebak di tema yakni kembali ke sekolah. Tapi jujur, mereka sudah berani menggoreskan pensil lalu memberi warna untuk mengeluarkan ide-ide kecil mereka pun sudah hebat. Itulah modal bagi masa depan mereka,” ujar Indra.

Untuk lomba puisi, salah satu dewan juri Ahmad Salam H.S yang puisi-puisinya sudah memeriahkan media lokal dan nasional memilih aksi pembacaan puisi Indah (juara I), Irma (juara II), dan Iyah (juara III). ”Meski masih ada yang malu-malu membacakan puisi, saya cukup salut dengan keberanian mereka untuk menguasai diri di panggung. Apalagi ada yang lantang membacakan puisinya,” ujar relawan asal Waringin Kurung ini. “Ini sangat menarik!” imbuhnya dengan sangat antusias.

Peserta lomba balap karung sedang bersaing!

Sementara itu Langlang Randhawa, relawan yang juga penulis novel Slonong Boy Millionaire (B-First Mizan Group: 2009), akhirnya memilih karangan karya Febiola Martina (juara I), Fia (juara II) yang sempat gagal di lomba baca puisi, dan Hamim (juara III). ”Mayoritas karya adik-adik di Rumah Dunia bisa dibaca mengalir, meski terkadang mereka manabrak-nabrak ejaan yang disempurnakan. Tapi untuk sebuah karya yang langsung ditulis di tempat perlombaan dan waktu terbatas, mereka layak diacungi jempol dan tidak boleh dipandang remeh. Mereka anak-anak kampung yang hebat!” ujar relawan asal Tangerang yang novel keduanya berjudul Merah Putih di Old Trafford (Kaifa Mizan Group) sedang dalam proses cetak dan akan segera terbit akhir bulan Juli ini.

Kami Senang, Kak.

Akhirnya para pemenang aneka lomba Pesta Anak berbahagia menggondol hadiah berupa paket peralatan sekolah; buku, alat tulis, kaos kaki, dan tas sekolah. Kebahagian ini juga dirasakan Fia. Bocah berkulit sawo matang ini memang terjegal di perlombaan baca puisi meski ia sudah berdoa dan berusaha semampunya, namun bersama pemenang lomba hiburan lainnya, Fia mengaku senang bisa menjadi juara kedua pada lomba mengarang. ”Untung kakak-kakak di Rumah Dunia memberi kesempatan dua jenis lomba, sehingga Fia akhirnya bisa menang,” ujar Fia. Hal senada juga diungkapkan bocah bernama Hamim (10). Pasalnya meski hanya menyabet juara tiga pada lomba mengarang, Hamim akhirnya berhasil meraih juara pertama pada lomba joget buah jeruk bersama rekannya, Anan. ”Kami sangat senang, Kak. Terima kasih atas pestanya. Mudah-mudahan tahun depan masih ada lagi,” ujar Hamim.

Peserta lomba joged jeruk sedang bergoyang. Aha!

Sementara itu Erwin yang gagal menyabet juara dalam aneka lomba Pesta Anak ini, awalnya merasa sedih juga. Namun karena melihat teman-temannya bahagia, ia pun ikut terabawa senang.  Apalagi Erwin sempat diwawancara Fery Setiawan, relawan Rumah Dunia yang kini menjadi wartawan televisi lokal BRTV selaku media partner Rumah Dunia selama ini. ”Kalah juga enggak apa-apa, yang penting bisa masuk tipi!” ujar Erwin polos. Akhirnya, meski cuaca tiba-tiba panas selama Pesta Anak digelar, diguyur hujan bahagia. Sampai jumpa di Pesta Anak tahun depan. Seluruh pengurus Rumah Dunia mangucapkan banyak terima kasih kepada para relawan yang telah berjibaku, adik-adik yang sudah ikut memeriahkan, serta para donatur yang telah menyumbangkan sebagian hartanya. Semoga semuanya bisa menjadi amal nan barakah. Sampai jumpa di Pesta Anak ke-10 tahun depan. Semoga kita semua diberi panjang umur dan barakah. Salam. Semangat! [LR]

PESTA ANAK KE-9 SIAP DIGELAR

Dalam rangka memeriahkan Hari Anak Nasional yang biasa diperingati pada 23 Juli, Rumah Dunia akan menggelar  Pesta Anak ke-9 Rumah Dunia. Acara yang biasa dihelat Rumah Dunia setiap tahun dan sudah yang ke-sembilan ini akan dilaksanakan pada Sabtu dan Minggu (24-25/7) dengan mengangkat tema “Kembali ke Sekolah.”

ANEKA LOMBA

Menurut Ahmad Wayang selaku Ketua Panitia, Pesta ini akan menghadirkan aneka lomba literasi seperti; mengarang, menulis dan membaca puisi, serta menggambar. Selain itu akan ada juga lomba yang sifatnya hiburan bagi anak-anak; lomba makan kerupuk, joget jeruk, balap sarung (bukan karung), dan lainnya. “Seperti tahun yang sudah-sudah, Rumah Dunia ingin membahagiakan anak-anak dengan membuat Pesta Anak ini,” ujar Wayang. “Hanya saja konsep kali ini adalah tentang pendidikan. Jadi kami juga menyediakan hadiah-hadiah yang nantinya akan bermanfaat saat anak-anak sudah aktif belajar di sekolah,” imbuh Wayang yang salah satu cerpennya dibukukan dalam antologi cerpen berjudul “Gilalova” yang diterbitkan Gong Publishing ini.

Untuk memotivasi anak-anak, Rumah Dunia akan menyiapkan hadiah-hadiah berupa ragam alat-alat sekolah semisal buku dan alat tulis, penggaris, tas, kaos kaki, dan lain-lain. Hal ini diakui Wayang agar hadiah tersebut dinilai akan lebih terasa manfaatnya saat anak-anak sudah aktif belajar di sekolah. Terkait pendanaan Pesta Anak ini, Rumah Dunia mengajak para donatur untuk berbagi dalam melengkapi kebahagiaan anak-anak. “Jika ada yang mau menyumbang hadiah, kami akan sangat berterimakasih sekali,” ujar Wayang.

AGENDA

Pesta Anak Rumah Dunia selalu berlangsung 2 hari. Sabtu untuk umum, siapa saja boleh ikut serta. Hari Minggu khusus untuk anak-anak yang aktif di Rumah Dunia secar reguler, walaupun pada pelaksanaannya ada saja peserta lomba yang nimbrung ikut serta.

Pada Sabtu, 24 Juli 2010, lomba literasi terbuka untuk umum, yaitu lomba menggambar, mengarang, dan menulis dan membaca puisi. Sedangkan pada  hari Minggu, 25 Juli 2010, lombanya khusus, yaitu lomba makan kerupuk, tusuk balon, tempayan, memasukan paku dalam botol, joget jeruk, dan balap sarung (bukan karung)

Hadiah bagi para pemenang buku, pulpen, dan tas.  Dibutuhkan sekitar  20 pak buku tulis seharga total Rp. 400.000,-, hadiah 20 pak crayon  seharga Rp. 300.000,- , 5 pak pulpen seharga Rp. 60.000,- dan hadiah 16 pasang kaos kaki seharga Rp. 75.000,- Hadiah lainnya yaitu tas, penghapus, dan penggaris. Kata Wayang, ”Total dana Rp. 2,5 juta!”

Jika ada donatur yang ingin iuran mendanai ”Pesta Anak Rumah Dunia” ini, langsung saja transfer ke BCA Serang, nomor rekening 245 188 5733, an: Asih Purwaningtyas C. Mari, kita bahagiakan anak-anak kita! (Jang RuDun)

SDN 1 CIPANAS

Guna meningkatkan wajib belajar sembilan tahun banyak anak-anak kampung Cipanas dan sekitarnya yang sudah mengikuti program pemerintah ini, dan sekolah terdekat adalah SDN 1 CIPANAS di jalan raya Cipanas sekitar 30 meter dari pertigaan. Apalagi Lebak bercita-cita ingin menjadi Kabupaten Pendidikan. Dan Menurut cerita warga diatas tanah tersebut dulu ada bangunan Sekolah Rakyat. Namun karena gedung itu dijadikan markas Belanda akhirnya dibakar warga setempat.[Teks&Foto: Harir Baldan]

MUSIK ALTERNATIF ANAK LANGIT

PICT8624RUMAH DUNIA – Sekelompok pengamen jalanan yang tergabung dalam komunitas Anak Langit Tangerang beratraksi sambil bernyanyi di acara Pelatihan Pendampingan Musik Anak Jalanan Se-Banten, yang diadakan di Rumah Dunia Sabtu (21/11). Kata Edi Bonetsky yang jadi komandan, “Namanya Sirkus Perkusi!”

Atraksi dan nyanyi yang diperagakan oleh kelompok pengamen jalanan (KPJ) dari  Anak Langit Tangerang tersebut, menjadikan pipa paralon bekas dari berbagai ukuran panjang dan pendek sebagai alat musik yang mengiringi. Dengan sangat sederhana, KPJ Anak Langit tersebut menikmati permainan itu dengan unik dan menarik tepuk tangan para peserta yang semuanya adalah para pengamen jalanan. Begitulah suasana keceriaan yang terjadi pada Sabtu (21/11) pagi itu. Sebanyak 50 peserta pelatihan yang tergabung dari anak jalanan atau kelompok pengamen jalanan hadir di halaman utama Rumah Dunia. Mereka sengaja dihadirkan untuk mengikuti pelatihan yang dipemrakarsi oleh Balai Pelayanan Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Provinsi Banten, berkerjasama dengan Rumah Dunia sebagai penyelenggara.

Sejak ditemukan permainan alat yang terbuat dari plastik paralon sekitar setahun yang lalu, para pengamen jalanan kerap memanfaatkan alat tersebut sebagai alat alternatif bermain musik selain gitar. Sehingga alat tersebut mudah di cari dan gampang dijadikan sebuah pengiring musik lainnya. ‘Sirkus perkusi ini membawa berkah. Banyak tawaran manggung. Alhamdulillah, kita bisa ngidupin temen-temen. bahkan modalin temen kawin segala,” cerita Edi.

Menurut salah seorang pemain dari kelompok pengamen jalanan (KPJ) Anak Langit Tangerang, Eris Ramadhan namnya, “Alat perkusi paralon digunakan untuk mengiringi permainan gitar. Meski alat ini terbilang sederhana. Namun, dari ide kreatif yang kami lakukan dapat dijadikan contoh bagi para pengamen lain khususnya dan umumnya masyarakat dalam melakukan kegiatan seni.”

Ujang Rafiudin, Kasi Pembinaan di Balai Pelayanan Pendidikan Khusus dinas Pendidikan Proinsi Banten menyambut baik kegiatan ini. “Supaya para pemusik jalanan mningkatkan kualitasnya. Kalau nyanyinya enak, orang-orang juga seneng,” kata Ujang saat memberi sambutan. Tambah Ujang, alat musik yang digunakan Anak Langit sangat kreatif.

Di Bandung malah sirkus perkusi ini ditiru. “Nggak ape-ape. Tiru aja,” Edi mempersilahkan. Justru di situlah berkahnya. Amin ya rabbal alamin…[den]

PENGEDAR UANG PALSU DIBEKUK POLISI

Ung palsu bikin sengsara rakyat

Ung palsu bikin sengsara rakyat

TANGERANG- Anak selalu menjadi korban. Dalam pertengkaran keluarga, anaklah yang akan memikul penderitaan. Jika kemiskinan mengepung, maka anak-anak akan turun membantu orangtua. Namun tak lagi memikirkan tindakannya itu benar atau salah. Oleh kepolosannya, terkadang mereka dimanfaatkan untuk tindak kriminal.

Empat tersangka pemilik dan pengedar dan uang palsu dibekuk aparat kepolisian Sektor Cipondoh, Kota Tangerang, Banten pada Sabtu (07/11). Diketahui, dua dari pelaku pengedar uang palsu ini ternyata masih di bawah umur dan berstatus pelajar.

Uang palsu sebanyak 152 lembar dalam bentuk pecahan 20 ribu rupiah berikut empat orang tersangka yakni Remon (14) Jamal (10), Dadang Suwandi dan Budi Santoso diamankan petugas. Dari empat tersangka yang berhasil diringkus, dua di antaranya masih berstatus Pelajar Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menangah Atas di daerah Ciledug, Kota Tangerang.

Modus yang digunakan para tersangka tergolong baru, yakni dengan memanfaatkan bocah di bawah umur untuk membelanjakan uang palsu dengan berpura-pura membeli rokok di warung-warung. Tujuannya agar warga tidak mencurigai aksi ini.

Kedua bocah juga mengaku diiming-imingi komisi sebesar 30 ribu rupiah setiap berhasil membelanjakan uang palsu senilai 100 ribu rupiah. Kedua bocah dibawah umur  ini tertarik dan mengedarkan uang palsu di daerah Cipete dan Pakojan.

Malang bagi bocah ini. Warga yang curiga dengan uang yang dibelanjakan tersangka langsung melaporkan kejadian ini ke polisi. Hingga kedua bocah itu pun diringkus.

Dalam keterangannya, kedua tersangka mengaku mau mengedarkan uang palsu tersebut lantaran untuk keperluan membayar biaya sekolah. Namun belum sempat menikmati komisi, mereka telah tertangkap petugas.

Sementara itu, dari hasil pengembangan petugas, dua pemilik uang palsu berhasil diringkus di rumah masing masing. Dalam penangkapan itu berhasil diamankan uang sebanyak 150 ribu rupiah yang diduga hasil dari pengedaran uang palsu.

Menurut tersangka salah satu tersangka, Budi Santoso, setiap anak yang mengedarkan uang sebesar 100 ribu rupiah maka anak tersebut menyetor sebesar 70 ribu rupiah kepadanya. Sementara untuk membeli uang palsu senilai 2,5 juta  dirinya membayar 1 juta rupiah.

Kapolsekta Cipondoh, AKP Sukarna, pengungkapan kasus ini berawal dari  penangkapan dua orang bocah yang membelanjakan uang palsu pecahan dua puluh ribu rupiah di warung rokok.  Para tersangka harus mempertanggung jawabkan perbuatannya dan di ancam dengan pasal 245 tentang pengedaran uang palsu dengan ancaman hukuman penjara minimal 5 tahun penjara.

Kepada warga juga dihimbau agar lebih berhati-hati dengan maraknya peredaran uang palsu di masyarakat, dengan memeriksa dengan teliti setiap bertransaksi menggunakan uang kertas. [ahmadi]

advert

Tags Kata

Gonjlengan

BE A WRITER: DARI YANG REGULER HINGGA EXCLUSIVE”

Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat.

Full Story | May 20th, 2010

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa*
Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong
MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak mengganggu [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK
I.
“ora et labora”
di pertigaan jalan menuju rumah
beberapa tukang becak menyemadikan nasib
: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha
- memejam di tempat duduk
masingmasing-
II.
“nrimo ing pandum”
kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan
begitu saja kepada puingan matahari dan purnama
mereka mengabadikannya sebagai penanda becak
yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa
lapar dan haus adalah
foto-doa
III.
“kerja adalah ibadah”
di sisi adzan,
kretek [...]

Full Story | July 18th, 2010