<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; Ahmad Mukhlis Yusuf</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/tag/ahmad-mukhlis-yusuf/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Sep 2011 14:25:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>EMYE MEMOTIVASI PESERTA KELAS MENULIS</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/11/emye-memotivasi-peserta-kelas-menulis/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/11/emye-memotivasi-peserta-kelas-menulis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 00:42:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Album]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmad Mukhlis Yusuf]]></category>
		<category><![CDATA[Antara news]]></category>
		<category><![CDATA[Banten Bangkit]]></category>
		<category><![CDATA[Kelas Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Provinsi Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Spirit Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Bacaan Masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2747</guid>
		<description><![CDATA[Ahmad mukhlis Yusuf (direktur Antara) sedang memotivasi peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan ke-15. Kata Mukhlis, &#8216;Kita harus menemukan perbedaan karya kita dengan penulis lainnya.&#8221; Pada saat pencanangan Change with Reading, Sabtu 9 Jan 2010, diselipkan teknikal meeting KMRD ke-15. Sekitar 31 peserta bergabung; ada dari Bandung, Jakarta, Rangkasbitung, Pandeglang, Serang dan Cilegon. KMRD diharapkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/CwR-KMRD-com.jpg"><img class="size-full wp-image-2746  alignleft" title="CwR KMRD com" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/CwR-KMRD-com.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a>Ahmad mukhlis Yusuf (direktur Antara) sedang memotivasi peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan ke-15. Kata Mukhlis, &#8216;Kita harus menemukan perbedaan karya kita dengan penulis lainnya.&#8221; Pada saat pencanangan Change with Reading, Sabtu 9 Jan 2010, diselipkan teknikal meeting KMRD ke-15. Sekitar 31 peserta bergabung; ada dari Bandung, Jakarta, Rangkasbitung, Pandeglang, Serang dan Cilegon. KMRD diharapkan bisa mempercepat gerakan Banten Membaca. Mereka adalah para calon duta CwR masa depan, yang menggelorakan Spirit Banten untuk dunia. Kelak di tempat asalnya, mereka menggairahkan keberadaan taman-taman bacaan masyarakat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/11/emye-memotivasi-peserta-kelas-menulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AJAKAN BERBAGI, KHUTBAH JUM&#8217;AT YANG MENGGETARKAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/28/ajakan-berbagi-khutbah-jumat-yang-menggetarkan/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/28/ajakan-berbagi-khutbah-jumat-yang-menggetarkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 22:32:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jeda]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmad Mukhlis Yusuf]]></category>
		<category><![CDATA[Bebagi]]></category>
		<category><![CDATA[Jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[Khutbah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1774</guid>
		<description><![CDATA[AJAKAN BERBAGI, KHUTBAH JUM&#8217;AT YANG MENGGETARKAN Oleh: Ahmad Mukhlis Yusuf Pada hari Jumat (27/11) di Bandung yang udaranya sejuk itu, aku merasakan isi khutbah Jumat yang menggetarkan hatiku di Masjid Al Azhar, daerah Kelurahan Sederhana. Masjid itu terletak sekitar 150 meter dari rumah mertuaku. Aku berada di Bandung merayakan Hari Raya Iedul Adha. Tahun ini, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1779" title="Emye 3" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Emye-3.jpg" alt="Emye 3" width="159" height="204" />AJAKAN BERBAGI, KHUTBAH JUM&#8217;AT YANG MENGGETARKAN<br />
Oleh: Ahmad Mukhlis Yusuf</p>
<p>Pada hari Jumat (27/11) di Bandung yang udaranya sejuk itu, aku merasakan isi khutbah Jumat yang menggetarkan hatiku di <span id="lw_1259360979_1">Masjid</span> <span id="lw_1259360979_2" style="background: transparent none repeat scroll 0% 0%; cursor: pointer;">Al Azhar</span>, daerah Kelurahan Sederhana. Masjid itu terletak sekitar 150 meter dari rumah mertuaku. Aku berada di Bandung merayakan Hari Raya Iedul Adha. Tahun ini, kami sekeluarga Sholat Ied di Bandung.<span id="more-1774"></span></p>
<p>Penyampai khutbah adalah seorang tuna netra. Beliau menyampaikan uraian tentang makna Ibadah Qurban dengan sangat menarik, terutama tentang komitmen kita untuk ikhlas berqurban demi tujuan hidup yang lebih besar dan sejati.</p>
<p>Beliau menyampaikan ajakan untuk meraih kebahagiaan spiritual sebagai kebahagiaan tertinggi, bila kita lebih banyak memberi dan berbagi, ketimbang mengharap menerima. Ada kebahagiaan pada nurani kita bilamana kita lebih banyak memberi, demikian katanya.</p>
<p>Aku merasakan getaran kuat karena kata-katanya meluncur penuh makna dengan artikulasi sekelas dengan salah satu komunikator terbaik di negeri ini yang aku kagumi, Jalaludin <span id="lw_1259360979_3">Rahmat</span>. Ajakannya untuk berbagi kepada sesama manusia membuat jamaah yang hadir, yang umumnya tidak ada yang tuna netra, terdiam menyimak khusyu.</p>
<p>Teman, seorang tuna netra mengajak kita berbagi, padahal boleh jadi sebagian dari kita sering iba melihat mereka. Padahal, dalam perbincanganku dengan para tuna netra sebelumnya, mereka tidak ingin dikasihani. Mereka hanya berharap mendapat kesempatan.</p>
<p>Setelah shalat Jumat selesai, aku menghampirinya dan mengajaknya berkenalan. Nama beliau adalah H. Aan Zuhana, tinggal di Cibeber, Cimahi, Bandung. Beliau menyapaku dengan ramah, alhamdulillah harapanku berkenalan disambutnya dengan baik.</p>
<p>Aku mendapat nomor selular dan kartu namanya, karena aku tidak membawa handphone aku berjanji akan mengirimkan nomor selularku. Kukatakan, suatu waktu aku ingin berkunjung. Aku yakin, dari menyimak isi khutbahnya, beliau seorang yang amat berilmu.</p>
<p>Beliau mengajakku untuk mampir siang itu, selepas sholat Jumat. Beliau bilang di rumahnya ada acara bersama teman-teman tuna netranya. Aku memohon maaf tidak dapat mampir siang itu karena sudah ada janji lain. Dalam hati, aku mau mencari teman wartawan yang luang untuk mampir kesana.</p>
<p><span id="lw_1259360979_4">Alhamdulillah</span>, ternyata teman wartawan ANTARA ada yang luang. Namanya Ajat. Ajat meluncur kesana. Menurut Ajat, ada lebih dari 400 tuna netra berkumpul di kediaman Pak Aan dan memperoleh ceramah motivasi sekaligus makan siang dari Pak Aan. Para tuna netra tersebut berasal dari berbagai wilayah di Bandung dengan ragam profesi; guru, PNS, wiraswasta, karyawan swasta dan mengelola usaha pijat tradisional.</p>
<p>Menurut Ajat, banyak diantara tuna netra datang dengan pasangan masing-masing. Banyak diantara mereka juga mendapat pasangan yang tidak tuna netra. Subhanallah. Ya Allah, Engkau Maha Berkehendak.</p>
<p>Ternyata betul keyakinan saya saat menyimak khutbah Pak Aan bila beliau orang yang berilmu dan <span id="lw_1259360979_5" style="border-bottom: 1px dashed #0066cc; cursor: pointer;">luar biasa</span>. Menurut Ajat, Pak Aan adalah Ketua DPP Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia (ITMI) yang amat dihormati lingkungan dan teman-temannya.</p>
<p>Temanku, banyak orang-orang luar biasa di sekeliling kita. Tidak semua dikenal publik, karena tidak tersentuh media dan publikasi. Mereka bukan pejabat publik atau selebritis yang menarik buat media. Namun, banyak tindakan mereka sungguh luar biasa, <span id="lw_1259360979_6">seperti yang dilakukan</span> Pak Aan ini. Mereka tetap berkarya.</p>
<p>Semoga Allah SWT meridhai ikhtiar kebaikan yang dilakukan Pak Aan dan orang-orang lain yang memiliki ikhtiar sejenis, amien.</p>
<p>Salam,<br />
Emye</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/28/ajakan-berbagi-khutbah-jumat-yang-menggetarkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JALAN (LEBIH) TERJAL PADA KEBAIKAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/12/jalan-lebih-terjal-pada-kebaikan/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/12/jalan-lebih-terjal-pada-kebaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 00:30:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novalramsis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jeda]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmad Mukhlis Yusuf]]></category>
		<category><![CDATA[Antara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=940</guid>
		<description><![CDATA[JALAN (LEBIH) TERJAL PADA KEBAIKAN *) oleh Ahmad Mukhlis Yusuf Pernahkah Anda mengalami masa-masa sulit saat sedang berikhtiar melakukan kebaikan? Boleh jadi, kita semua pernah mengalaminya. Sementara, begitu mudahnya bila hal sebaliknya, keburukan, kita lakukan. Teman, ajaran agama tentang prinsip-prinsip kebaikan yang biasanya disertai dengan ujian-ujian pasti telah kita yakini. Sebagai muslim, saya juga meyakini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-930" title="Emye" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Emye.jpg" alt="Emye" width="150" height="225" /> JALAN (LEBIH) TERJAL PADA KEBAIKAN</p>
<p>*) oleh Ahmad Mukhlis Yusuf</p>
<p>Pernahkah Anda mengalami masa-masa sulit saat sedang berikhtiar melakukan kebaikan? Boleh jadi, kita semua pernah mengalaminya. Sementara, begitu mudahnya bila hal sebaliknya, keburukan, kita lakukan.<span id="more-940"></span></p>
<p>Teman, ajaran agama tentang prinsip-prinsip kebaikan yang biasanya disertai dengan ujian-ujian pasti telah kita yakini. Sebagai muslim, saya juga meyakini kebenaran akan janji Allah SWT dalam Al Qur&#8217;an yang menyatakan, &#8220;Sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan&#8221;. Dia nyatakan itu sampai diulang dalam QS 94:5-6.</p>
<p>Menafsirkan pernyataan Tuhan di atas menuntut kemampuan akal untuk menjangkaunya, dan disertai hati yang akan merasakan getaran ilahiah. Tapi, sering kali tidak mudah untuk menerapkan keyakinan itu, apalagi pada saat kita sedang dirundung masalah terus-menerus.</p>
<p>Manusia diberikan kebebasan untuk memilih sikap atas semua kejadian yang menimpanya, baik menghadapi kesulitan maupun kemudahan. Lezatnya kemudahan, manakala kita mampu mengatasi kesulitan dengan segala anugerah akal dan hati pada jiwa yang dekat dengan penciptanya. Keduanya dapat saling mengisi untuk dapat menaklukkan setiap ujian agar dapat meningkatkan kualitas keimanan seseorang.</p>
<p>Dulu, kita pernah menghadapi ulangan-ulangan di sekolah dan berbagai ujian, termasuk ujian masuk SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Apakah semuanya kita lalui dengan mudah? Tentu tidak, bukan? Saat itu kita merasakannya sebagai kesulitan. Tak terbayangkan apa yang akan keluar menjadi soal ujian, apalagi membayangkan akan ada ujian apa lagi setelahnya. Tetapi, saat kita telah sanggup melintasinya, telah usai melaksanakan ujian-ujian tersebut, bukankah semuanya terasa nikmat saja?</p>
<p>Di sisi lain, ada pula peristiwa-peristiwa yang kita merasa kurang berhasil melintasinya dengan memuaskan. Tetapi, manakala kita belajar dari pengalaman itu, bukankah kita bisa memaknainya sebagai jalan lain yang juga tak kalah indahnya?</p>
<p>Ada kisah nyata beberapa tahun lalu tentang ujian semacam itu. Saya dan beberapa tetangga menjadi panitia pembangunan rumah ibadah di kompleks perumahan kami. Mulai dari membentuk kepanitiaan, proses perencanaan pembangunan, pencarian dana, pelaporan penggunaan dana, sampai pelaksanaannya  memakan waktu kurang lebih 8 bulan. Alhamdulillah, berkat kerja bersama, rumah ibadah itu selesai.</p>
<p>Nah, selama proses pembangunan, kami melalui berbagai ujian dan ketegangan yang kerap muncul diantara panitia. Rupanya, tanpa kami sadari kami ingin menyelesaikan rumah ibadah tersebut dengan sudut pandang, pengalaman dan persepsi masing-masing. Tentu ini menjadi kendala yang berarti dalam suatu kepanitiaan.</p>
<p>Untunglah, dalam kondisi emosi yang memuncak, seorang tokoh panutan di kompleks perumahan kami, Pak Hobol Siregar, urun suara. Beliau dengan bijak mengingatkan kami semua agar <em>jembar</em> atau <em>cool</em> dalam menghadapi berbagai masalah saat itu. &#8220;Untuk kebaikan, ujiannya pasti lebih besar,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Ia juga mengatakan, semua yang terlibat pasti berniat baik dan tinggal bersabar menyelesaikan setiap permasalahan satu-persatu. Menyelesaikan masalah dengan &#8220;sumbu pendek&#8221;, ibarat petasan, akan mudah meledak dan mencelakakan siapa saja didekatnya.</p>
<p>Teman, saya yakin Anda pernah mengalami berbagai pengalaman sejenis. Pengalaman pada tingkat kepemimpinan diri, keluarga, organisasi, bahkan bangsa sekalipun. Selalu ada jalan, bila kita mampu menempatkan masalah pada tempatnya.</p>
<p>Mata dan sudut pandang kita, merupakan fungsi atau perpanjangan visi hidup kita. Ia sejatinya mampu menjangkau tujuan dan gambar besar di sana, yang tidak boleh ditutupi oleh masalah di depan mata saat ini.</p>
<p>Semua masalah yang kita hadapi di depan mata harus dapat diurai. Bila dilakukan dengan kepala dingin berfokus pada jalan keluar paling baik untuk kepentingan bersama, pasti ada jalan keluarnya.</p>
<p>Terkadang kita bisa sepakat untuk tidak sepakat. Itulah realitas kehidupan, sebab kita masih bisa berteman dengan siapa pun, saat mengalami perbedaan sikap dan pandangan. Bahkan, saat perbedaan keyakinan sekalipun.</p>
<p><em>&#8220;Man Jadda, wa jada&#8221;</em>; siapa yang tekun pasti berhasil, demikian salah satu peribahasa Arab yang kita dengar sejak kecil. Tekun atau persisten berarti kita sejatinya harus mampu memaksimalkan semua potensi dan kemampuan yang dimiliki untuk mengatasi segala rintangan dengan kerja keras dan kerja cerdas secara optimal terus-menerus.</p>
<p>Sunatullah yang boleh jadi sering kita alami. Semakin kita tekun, semakin banyak kemudahan dan energi positif yang menyebar pada lingkungan. Orang awam seperti saya, sering menyederhanakannya sebagai &#8220;keberuntungan&#8221;.</p>
<p>Jadi, mari senantiasa bercermin pada suara hati, karena dia yang paling jujur.</p>
<p>Bukanlah saat kita melakukan semua tindakan kebaikan dengan persisten dan sepenuh hati, termasuk mengatasi berbagai ujian yang merintanginya, segalanya begitu nikmat dan indah, bukan?</p>
<p>Dan, sebaliknya saat kita melakukan berbagai tindakan keburukan, ada suara hati yang sesungguhnya menolak, bukan?</p>
<p>Hasrat jiwa yang menggelora untuk menggunakan anugerah akal dan hati secara maksimal demi kebaikan akan terasa menggetarkan diri, demikian pesan seorang ahli tasawuf.</p>
<p>Getaran ini bakal mampu menggerakkan berbagai tindakan nyata dalam kehidupan, terlebih lagi saat kita mampu menaklukkan segala yang merintanginya.<br />
Wallahu&#8217;alam. (***)</p>
<p><em>*) Praktisi Manajemen dan Pemerhati Kepemimpinan, tinggal di Bogor</em></p>
<p>COPYRIGHT © 2009</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/12/jalan-lebih-terjal-pada-kebaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

