Gunung Santri Dipadati Peziarah

advert
Xiarah di makan Syekh Muhammad Soleh

Xiarah di makan Syekh Muhammad Soleh

Oleh: Rama Rachmat

Ribuan peziarah dari berbagai daerah mendatangi gunung santri satu hari setelah hari raya idul adha, sabtu (28/11). Gunung santri merupakan salah satu objek wisata religi yang berada di kawasan perbukitan Desa Bojonegara, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang. Di atas puncak gunung Santri terdapat makam seorang Wali bernama Syekh Muhammad Sholeh.

RAMAI

Apabilah dilihat dari peta Kabupaten Serang, Gunung Santri terletak di sebelah barat laut daerah pantai utara. Gunung santri terletak di sebelah utara gugusan gunung-gunung memanjang, dimulai dari pantai hingga induk gunung, yaitu Gunung Gede. Tepatnya, Gunung Santri terletak di sebelah utara dari Gunung Lamaran hingga Gunung Gede, sebelah barat Gunung Berigil, dan sebelah timur Teluk Banten.

Jarak dari ibu Kota Serang kurang lebih 25 km. Sedangkan jarak dari Kota Cilegon kurang lebih 7 km. Akses jalan cukup mudah, jika berasal dari luar kota bisa ke luar pintu tol Cilegon Timur, lalu langsung belok ke kanan mengambil Jl. Raya Bojonegara.

Jalan mnuju makam di puncak berjubel

Jalan mnuju makam di puncak berjubel

Bagi pengunjung yang ingin ziarah ke puncak Gunung Santri bisa ditempuh dengan berjalan kaki, jarak dari bawah hingga puncak kurang lebih 500 meter. Kondisi jalan yang menanjak terbuat dari lapisan semen yang kondisinya kurang baik, karena banyak jalan yang retak-retak, serta pembangunan anak tangga tidak merata. Pagar besi pegangan tangan didirikan ditengah jalan, itu pun jarang dan tidak sepanjang jalan.

Jika pengunjung sedang ramai, para peziarah harus ekstara hati-hati, karena badan jalan selebar 2 meter dan jalur yang berliku-liku membuat sesak. Badan jalan pun harus berbagi dengan belasan kotak shodakoh yang diletakkan di tengah sepanjang jalan, dan selayaknya keramaian pasti selalu ada para pengemis di tepi jalan. Tapi, para peziarah tidak usah kawatir dengan panas matahari, karena sepanjang jalan tumbuh pohon-pohon yang rindang. Selain itu di sisi jalan berjejer puluhan warung yang bisa disinggahi untuk sejenak melepas lelah.

Menurut Agus, pengurus makam Syekh Muhammad Sholeh, sudah menjadi kebiasaan masyarak untuk datang berziarah pada saat hari-hari tertentu. ”Lebih ramai lagi setelah lebaran puasa sama lebaran haji. Selain itu juga pada bulan-bulan tertentu seperti bulan maulid, roah, muharam dan rajab,” kata Agus menambahkan. Bahkan pengunjung yang datang bukan hanya dari sekitar Serang dan Cilegon saja, melainkan dari berbagai daerah lain, seperti Tangerang, Pandeglang, Indramayu, Cirebon, Bandung, Majalengka, Tasikmalaya, Lampung, Medan, serta berbagai kota lainnya. Bukan hanya dari dalam negeri saja, beberapa turis dari luar negeri pun sempat mengunjungi Gunung Santri. ”Dari Malaysia berziarah kesini,” tandas Agus.

Gunung Santi kesohor di nusantara

Gunung Santi kesohor di nusantara

NADZAR

Kedatangan para peziarah umumnya memiliki niat tertentu sesuai dengan niat yang diinginkan. Seperti halnya Willy, peziarah asal Bogor yang datang jauh-jauh ke Gunung santri, berniat sebagai nazar syukur untuk kakaknya yang kini tengah menjalankan ibadah haji. ”Saya ajak semua anggota keluarga ziarah keliling, dari Banten lama, Gunung Santri, sampai Caringin di Labuan dan Batu Qur’an di Pandeglang,” kata Willy yang berprofesi sebagai PNS. Willy menambahkan, sudah menjadi rutinitas tiap tahun ziarah keliling ke berbagai daerah. Tujuan hanya satu, mengharapkan ridho Allah dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Lain halnya dengan Mumun, peziara asal Balaraja, Tangerang yang datang bersama rombongannya. Mumun tak ada niatan apa-apa, ia hanya jalan-jalan mengikuti rombongan mulai dari Banten Lama, Gunung Santri dan berakhir rekreasi di pantai Anyer.

BERKAH

Keberadaan makam di puncak bukit Gunung Santri membawa berkah kepada warga sekitar. Pasalnya dengan selalu ramainya peziarah yang datang, otomatis dimanfaatkan untuk menggelar tempat usaha. Warga bisa berdagang makanan dan minuman, menjadi tukang parkir, tukang pemikul air, dan menjual kenang-kenangan suovenir kepada pengunjung. Penghasilan para warga bisa dikatakan lumayan, karena diperkirakan peziarah mendatangi Gunung Santri berjumlah puluhan ribuh peziarah.

Ada makanan khas yang tak boleh terlupakan jika mendatangi Gunung Santri, yaitu pecel dan rempeyek kacang. Menurut Titin, sebenarnya bumbu dan sayuran pada pecel sama saja dengan pecel di daerah lainnya. ”Mungkin karena di sepanjang jalan dari bawah sampai atas panjang ada warung penjual pecel, jadi disebut pecel khas Gunung Santri,” kata Titin pedangang pecel sejak 4 tahun silam.

SYEKH SHOLEH

Berawal dari perjuangan Sunan Ampel yang pernah merencanakan berdirinya kerajaan islam, dengan dibuktikannya atas berdirinya negara baru di Demak, dan sekaligus berdirinya Masjid Agung Demak pada tahun 1479. Beliau juga mendirikan Pondok Pesantren sebagai sarana penggemblengan para kader yang kelak melanjutkan perjuangannya. Salah satu kader atau santri Sunan Ampel adalah Syekh Muhammad Sholeh.

Setelah Syekh Muhammad Sholeh selesai menimba ilmu pada Sunan Ampel, beliau melanjutkan perjuangan untuk menemui Sultan Syarif Hidayatullah di Cirebon. Atas perintah Sultan Syarif Hidayatullah,  Syekh Muhammad Sholeh berangkat ke Banten untuk mencari putra sang guru, yakni Sultan Maulana Hasanudin yang telah lama meninggalkan Cirebon tanpa sepengetahuan orangtuanya.

Syekh Muhammad Sholeh akhirnya bertemu dengan Sultan Maulana Hasanudin di Gunung lempuyang, dekat kampung Merapit, Desa Ukir Sari, Kecamatan Bojonegara dan kemudian memberitahukan maksud kedatangannya. Namun Sultan Maulana Hasanudin tidak mau dibujuk pulang ke Cirebon. Syekh Muhammad Sholeh lekas menghadap kepada Sultan Syarif Hidayatullah, kemudian mereka pun kembali menemui Sultan Maulana Hasanudin. Lagi-lagi Sultan Maulana Hasanudin menolak untuk pulang ke Cirebon. Setelah musibah badai yang dialami Sultan Syarif Hidayatullah saat pulang ke Cirebon dengan perjalanan laut dan kembali lagi menemui putranya, tercapailah kesepakatan bahwa Sultan Maulana Hasanudin bersedia pulang dengan menempuh perjalanan darat. Saat ditengah jalan Syekh Muhammad Sholeh mohon pamit untuk memisahkan diri, ia ingin menetap di Gunung Santri guna menyiarkan agama islam di Pantai Utara.

Syekh Muhammad Sholeh dikenal juga sebagai Cili Kored dan diangkat sebagai pengawal sekaligus penasehat Sultan Maulana Hasanudin sebagai Sultan pertama di Banten.

Penyiaran agama islam di Banten mendapatkan pertentangan dari kerajaan Sunda Pajajaran di bawah pimpinan Prabu Pucuk Umun yang menantang Sultan Maulana Hasanudin untuk bertarung dengan cara mengadu ayam jago dan sebagi taruhannya: yang kalah akan dipotong lehernya. Syekh Muhammad Sholeh atas karomah dan atas izin Allah SWT, berubah menyerupai ayam jago seperti layaknya ayam jago biasa. Pertarungan dua jago berakhir dengan kemenangan jago milik Sultan Maulana Hasanudin. Prabu Pucuk Umun mengingkari perjanjian awal, ia malah menyatakan perang. Lagi-lagi dalam peperangan Prabu Pucuk Umun mengalami kekalahan dan bersembunyi di Pulo Sari Rangkasbitung.

Syekh Muhammad Sholeh kemudian kembali ke Gunung Santri untuk menjadi Mubaligh dan menyiarkan agama islam.  Syekh Muhammad Sholeh dalam berdakwanya menggunakan pendekatan persuasif, sehingga orang yang didatanginya merasa puas dan bersedia memeluk islam. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya Syekh Muhammad Sholeh bekerja sebagai petani di sebuah petak sawah Blok Beji yang namanya Sawah Si Derup. Meskipun hanya menggunakan kored, Syekh Muhammad Sholeh cukup berhasil dalam bidang pertanian, hingga kemudian mendapat gelar “Cili Kored”.  Syekh Muhammad Sholeh mengajarkan kepada Santri dan masyarakat, sebelum mulai bercocok tanam sebaiknya membaca Basmalah dan Dua Kalimat Syahadat.

Keberhasilan Syekh Muhammad Sholeh dalam menyebarkan agama Islam di pantai utara Banten didasari dengan rasa ikhlas dan kejujuran dalam menanamkan Tauhid kepada para Santri. Semua itu patut diteladani oleh kita semua sebagai generasi pewaris dalam menegakan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Ia wafat pada usia sekitar 79 tahun. Sebelum wafat beliau berpesan untuk dikuburkan di Puncak Gunung Santri. (rama)

Share

3 Responses to “Gunung Santri Dipadati Peziarah”

  1. Purwadi Ibadi Says:

    Subahanallah puji syukur dengan kebesaran kekuasaanMU ya ALLAH

  2. Dhilan Djalani Kusumaputra Says:

    SubhanaALLOH.. Semoga pemerintah provinsi banten peduli untuk menjaga kelestarian alam di lingkungan gunung tersebut. Terimakasih (y)

  3. izoel Says:

    SYEKH MUHAMMAD SHOLEH BIN ABDUROHMAN yang saya pertanyakan dimana makam ABDUROHMAN. trimakasih atas bantuanya

Leave a Reply

advert

Gonjlengan

Kerja Literasi Anyer – Panarukan

“Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain,” kata Pramoedya Ananta Toer. Pada 1809 dimulailah pembangunan Jalan Raya Pos, atau Jalan Anyer-Panarukan yang berjarak sekitar 1.000 kilometer yang digagas oleh Daendels. Sebuah jalan yang pada masanya menjadi rekor dunia sebab setara dengan jalan antara Amsterdam-Paris (Pramoedya, Jalan Raya Pos, Jalan […]

Share

Full Story | October 14th, 2014

Kuliner

Kuliner Banten Berbumbu Kacang

Serang–Yang paling menarik dari Restoran H. Nasir adalah letaknya yang kurang lebih hanya 100 meter dari stasiun kereta api Kota Serang. Bagi teman-teman yang berasal dari luar kota Serang dan menempuh perjalanan menggunakan kereta api, keluar saja dari gerbang stasiun lalu belok ke arah kanan, selusuri sepanjang jalan Kitapa dan di nomor 118 itulah restoran […]

Share

Full Story | August 27th, 2014

advert

Traveling

Backpackeran di Kota Sendiri

Serang–Weekend ini saya habiskan untuk jalan bersama Yehan Minara. Jalan ala backpacker meski tempat yang dituju tidak jauh dan tidak menggondol tas backpack seperti para backpacker pada umumnya. Saya dan Yehan hanya mengelilingi tempat di dalam kota. Wisata Seni Rupa Sabtu (11/10/2014), saya janjian dengan Yehan untuk mengunjungi Pameran Seni Rupa yang diadakan di eks […]

Share

Full Story | October 14th, 2014

advert

Cerpen

Bebaritan

Oleh Ardian Je   Mata Rizal terus bergerak ke kanan-kiri, mengekori tubuh Mak yang mondar-mandir antara dapur dan pendaringan, tempat bersemayamnya gentong penampung beras dan membakar kemenyan di setiap Ahad dan Kamis malam, bakda salat magrib. Beribu pertanyaan berkelebatan di kepala kecilnya, seperti pendar kekunang di halaman belakang rumahnya saat gelap menjadi teman bumi. Namun […]

Share

Full Story | August 15th, 2014

Novel

Tembang Kampung Halaman [9]

BAB lll — DI KAMAR NOMOR SEMBILAN — IPULtergopoh-gopohturun dari becak sambil membopong tubuh perempuan. Dia disambut oleh Mardi dan Ramli dengan beribu pertanyaan. Antara keheranan dan menyudutkan. Tanpa menjawab dulu Ipul langsung membawa Maisaroh ke kamarnya, kamar nomor sembilan. “Cepat ambil air hangat!” Mardi memerintah Ramli. “kamu apakan dia, heh?!” bentaknya gusar pada Ipul. […]

Share

Full Story | July 20th, 2014

Puisi

Tiga Puisi Relijius Ahmad Solihin

Ahmad Solihin lahir 20 tahun yang lalu di kota kecil selatan Tangerang, tepatnya Ds.Ketapang, 4 Oktober 1993, dari pasangan Khotibul Umam dan Suhaeroh. Menempuh pendidikannya di SDN Ketapang ; MTs Darul Amal, Sumur Daon Rajeg; SMK N 5 Kab. Tangerang; dan Universitas Muhammadiyah Tangerang. Pernah di ponpes selama 2 tahun ketika di MTs. Serius menekuni […]

Share

Full Story | July 27th, 2014