<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Sep 2010 04:17:31 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>JADIKAN ALQURAN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/09/03/adikan-alquran-sebagai-pedoman-hidup/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/09/03/adikan-alquran-sebagai-pedoman-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 04:15:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[al quran]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[pedoman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4212</guid>
		<description><![CDATA[CIPANAS&#8212;Kita sepakat bahwa alquran turun ke bumi pada tanggal 17 Ramadhan. Salah satu mukjizat Allah yang ditujukan pada Nabi Muhammad SAW Sebagai kalifah di muka bumi ini untuk membimbing umatnya. Maka sudah semestinya kita sebagai umatnya memanfaatkan momen yang amat istimewah itu dengan memperbanyak pahala.
CIPANAS-Ratusan santri memadati masjid Al Jumhuri Ponpes Al Farhan, Selasa (31/8). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/09/Aq.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4214" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/09/Aq.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a>CIPANAS&#8212;Kita sepakat bahwa alquran turun ke bumi pada tanggal 17 Ramadhan. Salah satu mukjizat Allah yang ditujukan pada Nabi Muhammad SAW Sebagai kalifah di muka bumi ini untuk membimbing umatnya. Maka sudah semestinya kita sebagai umatnya memanfaatkan momen yang amat istimewah itu dengan memperbanyak pahala.</p>
<p>CIPANAS-Ratusan santri memadati masjid Al Jumhuri Ponpes Al Farhan, Selasa (31/8). Kegiatan itu dalam rangka refleksi nuzulul quran atau turunnya alquran yakni, tiap pada 17 Ramadhan. Santri yang terdiri dari SMA dan SMP itu tampak khusyu mendengarkan lantunan ayat-ayat suci alquran dan sholawat Nabi Muhammad SAW yang dikumandangkan oleh beberapa rekannya.</p>
<p>Pimpinan Ponpes Al Farhan KH. Holil Abdul Kholik dalam ceramahnya mengajak kepada kaum muslim untuk memperbanyak baca alquran di bulan Ramadhan. Karena, lanjutnya, alquran salah satu mukjizat Allah SWT yang hanya ada di bulan Ramadhan selain malam lailatul qadar. “Kalau amal ibadah dilipat gandakan itu sudah pasti. Tetapi yang utamanya adalah barokah bagi muslim yang rajin membaca alquran di bulan Ramadhan,” kata Holil.</p>
<p>Sebaliknya, tambah Holil, bagi muslim yang tidak pernah membaca alquran akan mendapat dosanya tiap waktu dan dilaknat Allah SWT. “Maka tak ada alasan apapun untuk tidak membaca alquran terlebih di bulan Ramadhan,” tambahnya.</p>
<p>Kendati begitu, Holil mengakui, untuk membaca alquran itu tidak mudah. Harus mengikuti sesuai aturan dan ketentuannya. “Solusinya ya mesti belajar. Karena, kalau tidak bisa membaca alquran sholat seseorang tidak akan diterima. Sedangkan sholat adalah salah satu rukun islam dan membaca alquran merupakan bagian rukun iman,” tegas Holil.</p>
<p>Pada kesempatan yang istimewah itu tampak hadir, Dirut Ponpes Al Farhan Deden Zaenul Farhan, Ketua DPRD Lebak Ade Sumardi, anggota DPRD Kota Serang Abdurohman, guru, ustad, toko masaryarakat, dan wali santri.</p>
<p>Ade Sumardi mengatakan, Ponpes Al Farhan terbilang muda tetapi soal kualitas, santri Al Farhan mampu bersaing dengan ponpes yang ada di Kabupaten Lebak. “Al Farhan satu-satunya Ponpes yang tidak diberi dan menerima sumbangan dari Pemda Lebak. Akan tetapi, potensi santrinya luar biasa berbagai turnamen yang sering diikuti selalu mendapatkan prestasi,” ungkap Ade seraya mengatakan, semoga lulusan Al Farhan menjadi penerus bangsa dan negara ini. (Harir Baldan)</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/09/03/adikan-alquran-sebagai-pedoman-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SI PENJUAL GORENGAN JADI WARTAWAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/08/07/si-penjual-gorengan-jadi-wartawan/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/08/07/si-penjual-gorengan-jadi-wartawan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Aug 2010 07:20:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Harir]]></category>
		<category><![CDATA[Kampungku]]></category>
		<category><![CDATA[Lebak]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[penjual kue]]></category>
		<category><![CDATA[Wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4207</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Harir Baldan
“Alhamdulillah&#8230;” itulah kata syukur yang terucap dari mulut saya usai menggelar rapat evaluasi Pesta Anak Rumah Dunia, Minggu (25/7) lalu. Ucapan rasa syukur dan terima kasih itu saya haturkan kepada para donatur Rumah Dunia yang sudah membantu berlangsungnya kegiatan di Rumah Dunia yang mengusung visi “mencerdaskan dan membentuk generasi baru di Banten” ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan Harir Baldan</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/08/din.bmp"><img class="size-full wp-image-4208 alignleft" title="din" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/08/din.bmp" alt="" /></a>“Alhamdulillah&#8230;” itulah kata syukur yang terucap dari mulut saya usai menggelar rapat evaluasi Pesta Anak Rumah Dunia, Minggu (25/7) lalu. Ucapan rasa syukur dan terima kasih itu saya haturkan kepada para donatur Rumah Dunia yang sudah membantu berlangsungnya kegiatan di Rumah Dunia yang mengusung visi “mencerdaskan dan membentuk generasi baru di Banten” ini. Alhasil, bantuan tersebut juga dirasakan oleh saya sendiri. Saya adalah Miftah Udin alias Harir Baldan, salah satu relawan Rumah Dunia. Saya bergbung di Rumah Dunia tahun 2007. Saat itu saya berjualan gorengan dan sering dating ke Rumah Dunia untuk membaca tabloid “Bola”.</p>
<p>Saya bertemu Gol A Gong dan ditawari bergabung di tabloid “Kaibon” (sekarang almarhum) sebagai office boy. Saya terima. Lalu Mas Gong menyuruh saya ikut KelasMenulis pada 2009. Saya disuruhnya menulis tentang laporan sepakbola. Saya juga ditawri Mas Gong jadi kurir kaset berita ke Banten TV dari relawan Rumah Dunia sejak 2000 – 2010. Sat itu Mas Gong membentuk divisi film Gong Media Cakrawala. Para relawan Rumah Dunia yang tertarik ke jurnalisme TV menjadi VJ (video jurnalis)-nya.</p>
<p>Kemudian saya digembleng Mas Gong sejak awal 2010. Pada Februari 2010, saya diajak menemani Mas Gong terapi di Cipanas, perbatasan Jasinga, Bogor. Mas Gong mengidap penyakit pengapuran di tulang belakang, dari lumbar hingga ke leher. Mas Gong harus terapi berenang air panas. Mas Gong mengontrak sebuah rumah di pertigaan Cipanas, persis di depan pemandian Cipanas. Rumah itu diserahkah ke mahasiswa-mahasiswa yang tergabung di Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas.</p>
<p>Kesempatan itu tidak saya sia-siakan. Saya makan dan tidur bareng dengan Mas Gong. Ilmu-ilmu jurnalistiknya saya serap. Saya praktek langsung. Setiap laporan hard news saya langsung dikoreksi Mas Gong. Awalnya saya hendak menyerah, tak kuat dengan cara Mas Gong menggembleng saya. Tapi, Mas Gong terus  membimbing saya, hingga muncul rsa percaya diri saya. Jika mental kita tidak kuat, pasti akna runtuh saat dikritik Mas Gong. Terasa pedas kritikannya, tapi selalu memberi jawabannya. Inilah yang disebut kritik membangun.</p>
<p>Pada April 2010, saya ditinggal sendirian di Cipanas oleh Mas Gong. ”Kamu hijrah, ya!” kata Mas Gong. ”Ini motor inventaris Rumah Dunia dari para donatur dan kamera dari saya. Manfaatkan untuk pekerjaan kamu sebagai wartawan Banten Raya Post. Rawaty, agar para donatur mengalir pahalanya.”</p>
<p>Seperti mimpi. Saya jadi wartawan. Mas Gong memberi amanah kepada saya untuk menulis berita tentang Cipanas di Banten Raya Post. Namanya ”Pojok Cipanas”. Pesan lain dari Mas Gong, saya harus seperti agen minyak. ”Jika kita datang ke gaen minyak, beli minyaknya, pasti ada. Nah, sekarang kamu jadi ’agen perubahan’ di Cipanas. Mka, ktika orang-orang kampung Cipanas datang beli ’perubahan’, kamu harus sediakan.”</p>
<p>Maka terhitung Februari 2010 hingga sekarang, saya menggunakan motor inventaris Rumah Dunia (yang kreditannya didanai oleh para donatur) sebagai sarana untuk mencari berita di Cipanas dan kamera dari Mas Gong. Saya betul-betul dibantu Rumah Dunia. ”Kamu harus mendoakan para donatur Rumah Dunia, karena berkat mrekalah kamu bisa meningkatkan kualitas hidup,” Mas Gong setiap saat selalu mengingatkan itu.</p>
<p>Ya, seperti mimpi. Dari pedagang gorengan menjadi wartawan. Dari nama ”Miftah Udin” ke ”Harir Baldan”. Keberadaan saya di Cipanas, Lebak, Banten adalah buah dari rekomendasi Mas Gol A Gong, pendiri Rumah Dunia untuk menjadikan saya sebagai agen reportase harian Banten Raya Post (Baraya Post) di wilayah Kecamatan Cipanas. Saya malah disarankan untuk menetap di Cipanas. ”Cari perempuan di Cipanas untuk dijadikan istri,” kata Mas Gong. ”Kamu jangan ke Serang, saingannya terlalu berat!”</p>
<p>Selain itu, saya juga diamanatkan untuk melakukan pendampingan terhadap teman-teman Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas (IKMC). IKMC sudah mendirikan TBM Kosala Library yang berakronim Komunitas Sastra Lebak di rumah yang Mas Gong kontrak. Taman Bacaan Masyarakat Kosala Library diresmikan oleh Wabup Amir Hamzah pada 27 Februari 2010. Mas Gong yang saat itu terpilih jadi Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia di Yogya memulai program ’gempa literasi” di Kosala Library. Nama Cipanas mulai menggaung kemana-mana.</p>
<p>Beberapa kegiatan Rumah Dunia juga diadopsi oleh TBM Kosala Library, seperti kelas menulis Gol A Gong, diskusi 2 mingguan IKMC yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, wisata gambar, wisata dongeng, dan wisata baca dan berita seputar Pojok Cipanas di Baraya Post yang hadir setiap Senin, Rabu, dan Jum’at.</p>
<p>Keberadaan kolom Pojok Cipanas di Baraya Post merupakan relasi solid Mas Gong dengan pihak Baraya Post. Mas Gong bermaksud untuk memandirikan rekan-rekan IKMC dalam mencari dana operasional untuk menjalankan program kerjanya. Sebagai barternya IKMC mencari pelanggan untuk koran Baraya Post sebanyak mungkin. Dari sana saya juga dapat insentif sebesar Rp. 300 ribu/bulan. Bulan Juli ini pelanggan Barayapost sebanyak 41 orang.<br />
Dalam sirkulasi atau penyebaran Baraya Post IKMC memperkerjakan jasa loper koran. Upah loper setiap bulannya Rp. 500 ribu. Mengapa upah loper intensifnya besar, lantaran tugas loper setiap hari dan jaraknya pun terbilang cukup jauh, bahkan ada satu pelanggan yang berada di kaki gunung Panggo, Luhur Jaya, Cipanas.</p>
<p>Sejak berita-berita Cipanas menghiasi Koran Baraya Post, yang menjadi loper koran adalah rekan-rekan dari IKMC: Ahmad Nurjani alis Obet dan Cucu Nuryadin. Tapi, mereka hanya bertahan selama dua bulan saja. Alasan mereka berhenti menjadi loper lantaran ingin fokus kuliah. Untuk sementara ini, posisi loper kosong.</p>
<p>Sekarang IKMC sedang mencari pengganti loper baru, yang mau bekerja keras, jujur, dan amanah. Tapi, Mas Gong menyarankan saya agar menggantikan posisi loper itu. Katanya, bila saya yang mengisi posisi itu kemungkinan motor inventaris yang sedang saya pakai, tidak akan ditarik lagi ke Rumah Dunia. Sebab, kata Mas Gong, jika saya menjadi loper, honornya bisa untuk menyicil kreditan motor Rumah Dunia (nopol A 6274 BD) sebesar Rp 450 ribu/bulan berikut cicilan DP Rp 5 juta dan tunggakan 7 bulan sebelumnya. Setelah saya pikir-pikir, kenapa tidak dicoba? Menjadi loper sekaligus mencari berita, kenapa tidak?  Subhanallah, saya punya motor  sendiri? Saya tidak percaya. Ini anugrah terindah!</p>
<p>Saya pun menyangupi tawaran dan tantangan dari Mas Gong ini. Meski biaya pelunasannya mencapai 36 bulan atau 3 tahun. Saya siap mencoba menjalankan dua amanah ini dengan baik. Saya pun akan selalu mengingat pesan dari Mas Gong, yang mengatakan, ”Jangan jadikan kreditan motor dan ngeloper ini menjadi beban kamu. Tapi, jadikan itu sebuah pengalaman untuk peningkatan kemandirian dan tantangan!” Kata Mas Gong lagi, “Yang terpenting tingkatkan kualitas menulismu, karena saya sudah merekomendasikan kamu ke Baraya Post tahun depan.”</p>
<p>Ya, Allah! Andai saya jadi wartawan betulan! Karena sekarang saya masih magang. Saya bersyukur dan senang mendengar ucapan Mas Gong ini. Sekali lagi, terima kasih para donatur Rumah Dunia, insya Allah, rezekinya melimpah-ruah, karena membuat orang lain seperti saya merasakan manfaatnya! Terima kasih Banten Raya Post! Juga Mas Gong serta keluarga besar Rumah Dunia. (*)</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/08/07/si-penjual-gorengan-jadi-wartawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BARAKAH</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/08/06/barakah/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/08/06/barakah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Aug 2010 12:19:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[fokus]]></category>
		<category><![CDATA[Kiai]]></category>
		<category><![CDATA[penting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4205</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Langlang Randhawa*
Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen Langlang Randhawa*</p>
<p>Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung seksi elpiji yang larisnya minta ampun dan minta korban itu. Lupakanlah. Apalagi orang-orang pajak yang belakangan sibuk beriklan besar-besaran agar kamu taat pajak setelah pesta gede-gedean mereka sendiri dipromosikan media secara paksa. Mereka tidak penting. Semua itu hanya candaan. Goyunan saja. Aku. Aku ini yang penting buat kamu. Penting buat masa depan kamu dan keluargamu. Aku ini bermanfaat bagimu. Garansinya dunia akhirat, lho! Dengarkan baik-baik. Gawat kalau kamu tidak menyimak, apalagi tertidur.</p>
<p>”Baiklah. Aku akan simak.”</p>
<p>Nah begitu, dong. Tapi aku ingin kamu serius. Apakah kamu benar-benar?</p>
<p>“Insya Allah aku serius.”</p>
<p>Jangan pakai Insya Allah. Aku ragu dengan Insya Allah yang keluar dari mulutmu. Lha wong Insya Allah yang keluar dari bapakku juga aku masih tak percaya. Dia selalu berkata Insya Allah kalau diajak bersepakat, tapi dia selalu melupakan begitu saja.</p>
<p>”Ya, itu bukan salah Insya Allah-nya. Bapak kamu saja yang pikun!”</p>
<p>Eh, jaga mulutmu itu. Apakah kamu lupa, ayahku itu seorang kiai. Kiai besar. Tahukah kau, di mana? Di Banten! Banten. Semua orang tahu nama itu. Banten! Jangan gegabah kamu kalau bicara. Jika ayahku marah, maka seucap kata sekilat nyata! Wih!</p>
<p>”Iya.. Kiai juga manusia, bos! Dia bisa lupa. Khilaf. Seperti mereka juga.”</p>
<p>Siapa? Perasaan dari tadi di sini tak ada siapa-siapa, selain penjaga itu.</p>
<p>”Sudahlah. Sudah malam. Suaramu lebih berisik dari nyamuk broiler di sini! Kalau bukan karena ilmu barakah yang saya dapat waktu di pesantren, sudah aku sungsang kepalamu sampe isi kepalamu jadi koplak! Sudah! Aku mau tidur saja..”</p>
<p>Ah, jangan begitu kamu. Jangan dulu tidur. Ini sudah sepertiga malam. Segala pinta kita akan diijabah karena malaikat langsung yang turun melakukan checklist para manusia yang terjaga untuk beribadah. Apakah kau tidak pernah mendengar hal itu selama ini?</p>
<p>”Iya. Aku pernah mendengarnya. Tapi kita ini kan tidak sedang beribadah tahajjud atau bermunajat pada Allah. Kita ini hanya mengobrol ngalur ngidul nggak karuan lalu tidur saat bedug subuh menjelegur!”</p>
<p>Ha ha! Menjelegur? Apa itu menjelegur? Bahasamu berantakan. Sangat nampak lisanmu tidak tersentuh pelajaran balaghah, apalagi nahwu dan sharaf.</p>
<p>”Sudahlah.. jangan banyak cingcong! Aku mau tidur.”</p>
<p>Jangan dulu tidur. Apakah kau tidak tahu siapa aku?</p>
<p>”Tahu!”</p>
<p>Tahu dari mana kamu? Bukankah aku baru hari ini berada di sini?</p>
<p>”Bapakmu!”</p>
<p>Maksudmu apa?</p>
<p>”Bapakmu itu yang kiai adalah guru ngaji aku! Dia menitipkan dirimu padaku.”</p>
<p>Lha.. berarti kamu sudah tahu siapa aku?</p>
<p>”Ya iyalah.. kamu anaknya Kiai. Pasti mau ngomong, jika taik ayam kesayangan anak kiai saja harus dihormati dan dielus-elus, apalagi anaknya. Harus dihormati seperti buapak moyangnya juga. Supaya ilmuku manfaat dan masa depanku kelak penuh barakah! Betul?”</p>
<p>Ho-oh! Ya, betul. Itu betul; Insya Allah kamu barakah!</p>
<p>”Preeet!”</p>
<p>Hey, apa maksud bunyi dari mulutmu itu?</p>
<p>”Iseng saja. Sudah, aku mau tidur anak Pak Kiai! Cape, deh!”</p>
<p>Sstt…mudah-mudahan dia sudah tidur. Dasar mulut durhaka!</p>
<p>***</p>
<p>Eh, kau. Sudah bangun ternyata. Santai sekali kau. Bibirmu sudah basah dan perutmu nampak tambah menggembung. Ingin sekali aku pun demikian. Semoga kau paham. Eh, apakah aku boleh tahu, sudah jam berapakah ini? Nampaknya hari sudah siang. Aku harus shalat duha, supaya rizki ayahku melimpah di rumah. Tapi bisakah kau ambilkan sarapan dan minumanku. Insya Allah barakah..</p>
<p>”Iya, nanti diambilkan. Bukankah ayahmu sudah kaya di kampung. Buat apalagi kau mendo’akan ayahmu mendapatkan rizki melimpah?”</p>
<p>Oh, soal itu hanya Ayah saya yang tahu. Saya kurang paham soal itu. Nanti dia akan cerita kalau dia ke sini. Dia lebih ahli. Konon sih buat urusan aku di sini juga.</p>
<p>”Kan kamu anak kiai? Masa’ kamu tidak bisa menjelaskan.”</p>
<p>Iya, sih. Tapi kan kamu tahu, jika sesuatu perkara ditangani oleh bukan ahlinya, maka tunggulah saja kehancurannya. Sudah, ya. Aku mau shalat dulu..</p>
<p>”Shalat apa?”</p>
<p>Kan aku sudah bilang. Shalat duha. Gawat kamu ini! Pasti jarang baca Al-Qur’an sehingga kau cepat pelupa. Cepat pikun! Bacalah Al- Qur’an maka daya ingatmu kuat.</p>
<p>”Tapi kamu kan tidak shalat subuh tadi. Apa kamu tidak malu sama Allah.”</p>
<p>Kenapa harus malu dalam beribadah? Makanya ngajinya diselesaikan.</p>
<p>”Aneh. Kamu ini&#8230; yang wajib ditinggal, yang sunah dikejar.”</p>
<p>Yah, aku hanya ngalap barakah datangnya waktu duha saja. Lagian kalau tidak salah, ada satu ulama madzhab yang memberikan fasilitas qodho solat jika kesiangan. Kamu sih di sini saja. Tidak pernah mengaji. Agama menyediakan banyak fasilitas ibadah yang bisa dinikmati, lho. Agama itu memudahkan, tidak menyulitkan. Percayalah. Aku ini anak kiai.</p>
<p>”Huh! Anak kiai bongkrek! Ibadah kok buat main-main.”</p>
<p>Sudahlah. Ambilkan aku sarapan! Ilmumu belum sampai pada level sekelas aku. Kau hanya akan merasa emosi dan kesal padaku. Tapi percayalah itu hanya godaan. Semoga kau bersabar. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang sabar. Ambil sana. Insya Allah barakah.</p>
<p>“Preettt!”</p>
<p>Meledek lagi kamu? Cobalah… yang ikhlas kalau mau membantu anak kiai. Insya Allah barakah dunia dan akhirat. Sudah, ambil sarapan sana, aku mau shalat dulu.</p>
<p>”Lho nggak wudhu dulu?”</p>
<p>Tayamum di sini saja.</p>
<p>”Lho.. kan ada air di sana.”</p>
<p>Jauh. Kalau saya ke sana, bisa-bisa waktu afdhol shalat duha keburu habis. Sudahlah. Sekali lagi, banyak fasilitas ibadah yang belum kita cicipi. Asal kita yakin dan tau ilmunya saja. Bukan begitu? Ayo cepat, ambilkan aku sarapan.. Insya Allah kamu barakah!</p>
<p>”Preeett!”</p>
<p>Hih! Dasar mulut durhaka!</p>
<p>***</p>
<p>Innalillahi! Lama sekali kamu ini. Ditunggu dari tadi baru nongol! Ambil sarapan saja kayak santri gali sumur. Sini sarapannya. Aku sudah lapar. Kamu merusak segalanya!</p>
<p>”Maaf.. selain di sana ngantri, aku tadi jalannya santai. Aku pikir karena kamu akan shalat duha dulu. Setahuku, shalat duha itu rakaatnya banyak.”</p>
<p>Ah, kamu ini. Dasar santri tanggung. Pasti kamu mondoknya tidak selesai. Baru bisa pakai sarung dan masak jangan dulu pindah. Bahaya. Orang sepertimu membahayakan. Ilmumu melangit tidak, membumi juga nggak. Ibarat pohon, kamu ini bakal jadi tidak jelas pohon apa. Ke atas tak berbuah, ke bawah tak berumbi. Hanya diombang-ambing angin.</p>
<p>“Meski halus, tapi sebenarnya kasar sekali bahasamu! Apa salahku? Sudah diambilkan sarapan, masih saja ngotot. Dasar anak kiai jeblug! Balo, kamu!”</p>
<p>Hei! Hei! Hati-hati kalau bicara. Baca kembali adab lidah dalam kitab-kitab! Ingat, kamu ini sebenarnya sedang diuji kesabaran. Kalau pun aku marah padamu, itu karena aku gagal berkonsentrasi dalam menangkap waktu afdhol shalat duha. Kamu tahu kenapa?</p>
<p>“Nggak. Dan aku sudah malas mendengarnya.”</p>
<p>Astagfirullah, kamu ini! Aku tidak bisa khusyuk shalat duha lantaran aku lapar. Makanya aku tidak dulu shalat, dan menungguimu sejak tadi. Bukankah kamu pernah mendengar orang-orang berkata, lebih baik saat makan memikirkan shalat dari pada shalat malah memikirkan makan. Ini jelas sekali. Ini soal kekhusyukan. Penting sekali soal itu. Astagfirullah, ya kariiiiiimm! Sabar.. sabar, ya Allah. Kamu ini telah membuat aku rugi.</p>
<p>”Kamu yang membuat aku rugi!!”</p>
<p>Apa maksud kamu? Kamu sudah berani membantah anak kiai rupanya. Bisa tidak barakah hidup kamu nanti. Istighfar kamu segera. Baru diuji seperti ini saja sudah kalah.</p>
<p>”Aku rugi karena beberapa hari mubadzir mendengarkan ocehanmu yang kebelinger itu. Pemahaman agamamu semrawut dan nyeleneh. Gara-gara kamu aku jadi kehilangan jatah rokok dan kopi yang biasa aku ambil dari blok sebelah! Kamu ini tidak pantas jadi anak kiai!”</p>
<p>Lha! Kalau aku tidak pantas jadi anak kiai, lantas aku cocoknya jadi anak apa?</p>
<p>”Anak Dajjal!! Puass!!”</p>
<p>Hey, tunggu. Mau ke mana kamu!?</p>
<p>”Pindah blok! Meski aku penjahat, muak aku sama kamu!”</p>
<p>Lalu aku sama siapa di sini?</p>
<p>”Ada penghuni baru. Kayaknya kamu bakal cocok sama dia!”</p>
<p>Siapa dia? Di mana?</p>
<p>”Sebentar lagi juga datang. Kamu pasti kenal sama dia.”</p>
<p>Tapi kamu jangan meninggalkan amanat begitu saja. Kamu sudah diperintah bapakku untuk menemaniku. Kalau terjadi apa-apa denganku bagaimana. Bersabarlah. Maafkan jika aku tadi sedikit kasar. Biasalah anak muda. Oke? Insya Allah barakah jika kau tetap bersabar.</p>
<p>”Makan tuh barakah! Barakah dari mulutmu bobrok!!”</p>
<p>Pikirlah masak-masak sebelum memutuskan sesuatu.</p>
<p>”Ini sudah aku pikirkan. Tugasku sudah habis.”</p>
<p>Apa maksudmu berkata demikian. Ingatlah agama mengajarkan, sampaikanlah pesan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tuturkata yang lembut agar orang bersimpati.</p>
<p>”Baiklah.. wahai anak kiai yang baik, lihatlah itu. Penghuni baru sudah datang. Sambutlah dia dengan bahagia. Insya Allah kalian di sini bakal penuh barakah. Rizki mengalir meski hanya tidur-tiduran saja seharian. Soal makan, minum, dan rokok-mah gratis! Barakah! Itu dia, di belakangmu. Sambutlah teman barumu! Kata penjaga sih, demi membebaskan anaknya di penjara ini, dia menggelapkan dana honor tenaga pengajar madrasah yang diamanahkan padanya! Ngakunya sih, dia khilaf dan sudah memanfaatkan fasilitas agama bernama istighfar, tapi nampaknya enggak mempan, tuh. Lihatlah! Kau pasti mengenalnya. Selamat menikmati. Insya Allah barakah!”</p>
<p>Lho, Bapak!?</p>
<p><em>* Penulis adalah wakil presiden Rumah Dunia. Menulis novel Slonong Boy Millionaire (B-First Mizan Group: 2009) dan Merah Putih di Old Trafford (Kaifa Mizan Group: 2010). </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/08/06/barakah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>GARIS SANTUNI DHUAFA DAN ANAK YATIM</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/08/06/garis-santuni-dhuafa-dan-anak-yatim/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/08/06/garis-santuni-dhuafa-dan-anak-yatim/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Aug 2010 12:04:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Baksos]]></category>
		<category><![CDATA[Garis]]></category>
		<category><![CDATA[Jompo]]></category>
		<category><![CDATA[pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Yatim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4200</guid>
		<description><![CDATA[LEBAK &#8211; Gabungan Remaja Islam Bekasi (Garis) menggelar bakti sosial (baksos) di Ponpes Al Aqsho di Kampung Hamberang, Luhur Jaya, Cipanas, pada Sabtu (31/7). Dalam aksinya, Garis memberikan bantuan berupa sembako, baju layak pakai, alat tulis sekolah, serta santunan kepada sekitar 100 jompo dan 100 anak yatim.  Ketua pelaksana kegiatan Garis Ustad Abdul Rosyid dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4201" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/08/1111.jpg"><img class="size-medium wp-image-4201" title="1111" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/08/1111-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Ketua Pelaksana Garis, Abdul Rosyid memberi bingkisan pada Pimpinan Ponpes Al-Aqsho KH. Ombik Sobri </p></div>
<p>LEBAK &#8211; Gabungan Remaja Islam Bekasi (Garis) menggelar bakti sosial (baksos) di Ponpes Al Aqsho di Kampung Hamberang, Luhur Jaya, Cipanas, pada Sabtu (31/7). Dalam aksinya, Garis memberikan bantuan berupa sembako, baju layak pakai, alat tulis sekolah, serta santunan kepada sekitar 100 jompo dan 100 anak yatim.  Ketua pelaksana kegiatan Garis Ustad Abdul Rosyid dalam sambutannya menyampaikan, maksud kunjungannya sebagai upaya mempererat tali silaturahmi sekaligus milad atau merayakan hari jadi Garis yang ke-6. “Karena Nabi (Muhammad Saw) mengajarkan kepada kita untuk saling berbagi bahagia,,” ujarnya. Dikatakan, baksos merupakan program tahunan yang biasa diselenggarakan dan selain kegiatan mingguan. “Kami lebih sering ke Bekasi dan juga lebih pernah ke Sukabumi,” terangnya.<br />
Sementara itu, Ketua Umum Garis Ustad Maulana Alhamdani mengungkapkan, komunitasnya tidak hanya bergerak dibidang sosial, ekonomi, tapi juga Pendidikan. “Selain santunan kami pun memberikan pengobatan ala Nabi atau tibunabawi dan ramuan Herbal,” imbuhnya.<br />
Ia juga berharap semoga baksos ini dapat membuka dan menggugah hati para tokoh masyarakat setempat peduli terhadap sesama. “Mungkin di Desa ini juga ada yang mampu secara ekonomi,” jelas Maulana seraya mengatakan, pihaknya juga memberikan sumbangan untuk pembangunan Ponpes Al Aqsho sebesar Rp. 500 ribu. Pimpinan ponpes Al-Aqsho KH. Ombik Sobri menyampaikan apresiasinya dan ucapan terimakasih atas kepedulian yang dilakukan Garis. “Semoga amal baik rekan-rekan Garis dibalas oleh Allah SWT,” ucap Ombik. [Harir Baldan]</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/08/06/garis-santuni-dhuafa-dan-anak-yatim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PETERNAK TELUH PUYUH BUTUH MODAL</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/31/peternak-teluh-puyuh-butuh-modal/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/31/peternak-teluh-puyuh-butuh-modal/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Jul 2010 10:38:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[ayam]]></category>
		<category><![CDATA[dana]]></category>
		<category><![CDATA[Lebak]]></category>
		<category><![CDATA[telur]]></category>
		<category><![CDATA[ternak]]></category>
		<category><![CDATA[vitamin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4194</guid>
		<description><![CDATA[LEBAK- Menggeluti usaha ternak bebek sudah dimulainya sejak tahun 1997, namun untuk ternak burung puyuh baru dilakoni Suherman lima bulan ini. Ide itu terbesit saat Herman, sapaan dari Suherman, pindah ke Kampung Hamberang, Cipanas. “Awalnya ternak bebek tapi lantaran tak berkembang saya jual dan beralih keternak burung puyuh,” katanya. Lelaki kelahiran Bandung, 5 Februari 1997 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4195" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/yuh.jpg"><img class="size-medium wp-image-4195" title="yuh" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/yuh-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Suherman sibuk mengurus ternaknya. </p></div>
<p>LEBAK- Menggeluti usaha ternak bebek sudah dimulainya sejak tahun 1997, namun untuk ternak burung puyuh baru dilakoni Suherman lima bulan ini. Ide itu terbesit saat Herman, sapaan dari Suherman, pindah ke Kampung Hamberang, Cipanas. “Awalnya ternak bebek tapi lantaran tak berkembang saya jual dan beralih keternak burung puyuh,” katanya. Lelaki kelahiran Bandung, 5 Februari 1997 itu mengatakan, modal awalnya sebesar lima juta rupiah. Dari modal itu ia mendapatakan 300 ekor burung puyuh yang ia pesan dari Solo, Jawa Tengah. Lantaran menguntungkan, akhirnya ia menambah burung puyuh lagi sebanyak 200 ekor. “Sebagian modalnya saya dapatkan dari pinjaman rekan-rekan istri saya,” kata Herman.<br />
Dikatakan, dalam sehari ia bisa memanen telur puyuh sebanyak 350 butir. Meski begitu, suherman masih tetap tidak mampu memenuhi kuota pesanan para pelanggannya. Karena setiap pemesan rata-rata meminta 400-500 butir telur. “Bahkan, saya sering kewalahan dengan permintaan yang tinggi itu,” ucap Herman seraya mengatakan pelanggannya tidak hanya dari Gajrug tapi, juga datang dari Jasinga dan Lewiliang-Bogor.<br />
Ketika ditanya terkait cara pemeliharaan, Herman menerangkan, mengurus burung puyuh tak bedanya dengan hewan ternak lain. Sehari 3 kali mesti rutin memberi pakan ayam pur alias pokpan, pemberian vitamin dengan ukuran 10 mm untuk 20 liter air dengan aturan 2 kali sehari. “Pemberian vitamin penting untuk produktifitas telur,” kata Herman seraya mengatakan, faktor cuaca juga memengaruhi hasil telur. Herman beranggapan peternakan puyuh yang dikelolanya itu terbilang langka di Kecamatan Cipanas. “Semoga Pemda Lebak dalam hal ini Dinas Peternakan mau memberikan bantuan modal karena ini amat berpotensi kemandirian masyarakat,” Herman menambahkan. [Harir Baldan]</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/31/peternak-teluh-puyuh-butuh-modal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DIALOG LIMA BELAS JUTA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/30/dialog-lima-belas-juta/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/30/dialog-lima-belas-juta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 08:54:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>
		<category><![CDATA[baca]]></category>
		<category><![CDATA[cepat]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[modal]]></category>
		<category><![CDATA[nganggur]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4189</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Didaytea.
“Lima belas juta rupiah?” Pekik temanku dengan mata yang terbelalak sebesar-besarnya sampai terlihat hampir meninggalkan tempatnya, ketika aku bilang bahwa itu adalah nilai semua ratusan buku yang berbaris dan bertebaran di sekeliling kamarku. Aku beli semua buku itu selama bekerja hampir tujuh tahun. “Sayang banget , uang sebanyak itu kamu habiskan hanya untuk membeli [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Didaytea.</p>
<div id="attachment_4190" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/12.jpg"><img class="size-medium wp-image-4190" title="Sign dollar and the books on scales. 3D image." src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/12-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Foto: Dok.Net</p></div>
<p>“Lima belas juta rupiah?” Pekik temanku dengan mata yang terbelalak sebesar-besarnya sampai terlihat hampir meninggalkan tempatnya, ketika aku bilang bahwa itu adalah nilai semua ratusan buku yang berbaris dan bertebaran di sekeliling kamarku. Aku beli semua buku itu selama bekerja hampir tujuh tahun. “Sayang banget , uang sebanyak itu kamu habiskan hanya untuk membeli buku- buku ini, buku kan tidak bisa dijual, dan kalau pun dijual nilainya ya seperti barang loakan!” Itu adalah komentar paling “lucu” menurutku sepanjang aku bekerja di sebuah kota industri. Dan mungkin, itu adalah pendapat sebagian besar orang yang memahami bahwa lebih baik membeli rumah, kendaraan, tanah, bahkan makanan daripada membeli buku.  MEMBACA LEBIH CEPAT=BERPIKIR LEBIH CEPAT Alhamdulillah, sebelum mendapatkan ijazah kelulusan dari sebuah SMK di Bandung, aku sudah resmi menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan petrokikia di Cilegon. Tidak sehari pun waku dalam hidupku yang berstatus pengangguran setelah lulus dari sekolah. Hari Sabtu aku diwisuda, Seninnya aku sudah bekerja. Impianku waktu itu, aku ingin membeli semua buku yang aku inginkan sewaktu aku masih bersekolah. Karena waktu itu aku hanya mampu meminjam ke perpustakaan daerah Jawa Barat. Kurang sreg rasanya jika hanya meminjam, aku ingin bisa memiliki buku-buku tersebut.</p>
<p>Incaran utamaku adalah Quantum Learning. Buku yang pernah kupinjam dari seorang adik kelas. Buku ini yang paling berkesan untukku karena memberi paradigma baru ke dalam diriku tentang proses pembelajaran. Lebih spesifik lagi, yang paling menarik minatku adalah Bab tentang Membaca Cepat. Itu Skill utama yang sampai sekarang aku miliki, yang dihasilkan dari membaca buku tersebut. Dan mimpi itu pun menjadi kenyataan.  Ketika mudik pertama, hal yang pertama lakukan adalah langsung meluncur ke Palasari,dan membeli buku itu. Dan makin jatuh cintalah aku kepada buku-buku dengan tema yang berkaitan dengan proses pembelajaran, atau “belajar bagaimana belajar”. Sejak itulah, aku rajin berburu buku-buku dengan tema sejenis Accelerated Learning, Otak Sejuta Giga Bite, Super Brain Power, Berpikir Ala Einstein, Revolusi Cara Belajar, The Sharper Mind, Imagine That, Master Your Memory, Use Both Side Of Your Brain, Use Your Brain, Beyond Teaching and Learning, dan buku-buku lainnya. Semua buku itu penuh dengan metode-metode untukmeningkatkan kecerdasan, untuk memudahkan proses belajar kita, dan segudang “how-to” lainnya. Tapi mungkin karena diriku kurang cerdas dan kurang pemahaman, yang benar- benar “menempel” sebagai sebuah kemampuan di dalam diriku hanya kemampuan membaca cepat.  Sebelum aku mempelajari buku-buku tersebut, kecepatan membacaku (dengan berusaha membaca secepat mungkin) maksimal hanya 200-300 kata per menit. Tapi setelahnya, kecepatanku meningkat tajam sampai hampir 1400 kata per menit! Alhamdulillah, kecepatan membacaku bisa menutupi kelemahanku di dalam memahami pelajaran di sekolah dan kampus. Dengan membaca lebih cepat, otomatis aku pun bisa berpikir lebih cepat. Sehingga di dalam jangka waktu yang sama, aku mempunyai waktu lebih lama untuk bisa lebih memahami pelajaran. Yang paling terasa ketika ujian datang. Kecuali Kalkulus, Fisika, dan statistik, mata kuliah yang tidak memerlukan kecepatan membaca (dan memang aku mentok di dua mata kuliah itu), aku selalu dapat menyelesaikan soal- soal ujian jauh lebih cepat dari siswa/mahasiswa lain. Wajar saja kan, dengan kecepatan rata- rata orang biasa 200-300 kata per menit, aku melaju kencang dengan 1300 kata per menit. Dengan “meluangkan waktu” untuk memeriksa, memastikan dan mencocokkan jawaban dua kali saja, aku dipastikan bisa selesai dalam waktu sepertiga kali lebih cepat dibanding orang lain.</p>
<p>Kemampuanku membaca cepat juga ternyata berpengaruh kepada kemampuan berbahasaku juga. Hobiku menonton film menjadi “penyumbang” terbesar kemampuan bahasa Inggrisku. Dulu, ketika masih membaca dengan “biasa” aku malas untuk mendengar percakapan para tokoh di film- film itu. Lebih baik fokus ke cerita dan menikmati serunya filem, cukup dilengkapi dengan teks bahasa Indonesia. Jika aku set teksnya ke Bahasa Inggris, pasti memerlukan waktu untuk membaca, menerjemahkah ke Bahasa Indonesia dan menghubungkan teks dengan cerita dalam filem tersebut. Ketika aku bisa membaca lebih cepat, ide cemerlang pun muncul. Proses “Membaca-Menerjemahkan-Menghubungkan” kini bisa berlangsung lebih cepat, karena aku bisa membaca teks jauh lebih cepat, menerjemahkan (berpikir) lebih cepat, dan menghubungkan teks dengan cerita di film tersebut jauh lebih cepat dan lebih cepat. Setelah itu proses menonton film pun menjadi sangat menyenangkan buatku, karena bisa mendapat hiburan sekaligus menambah kemampuan berbahasa Inggrisku.  Alhamdulillah, walaupun tidak sampai sekelas penerjemah “asli”, dan Tata Bahasa Inggris “resmi” tidak pernah aku kuasai, tapi aku bisa berkomunikasi dengan cukup lancar di bahasa yang sebagian besar siswa dan mahasiswa takuti ketika seklah dan kuliah dulu. Dan aku sempat dipercaya untuk menerjemahkan beberapa tulisan Gola Gong di blognya, walaupun sangat jauh dari dibilang bagus dan baik. Dan puncaknya, adalah momen di mana seorang temanku datang ke rumahku dan berlangsunglah “dialog lima belas juta”, seperti di awal paragraf tulisan ini.  BALIK MODAL PLUS UNTUNG BESAR Beberapa waktu setelah “dialog lima belas juta” itu berlangsung, aku mendapat panggilan untuk bekerja di luar negeri. Entah kenapa, ketika itu aku sangat yakin dan percaya untuk bisa diterima. Karena ketika itu aku sedang mengalami periode “puncak kesulitan finansial” di dalam hidupku. Hanya itu harapanku untuk bisa survive.  Sebelum test berlangsung, aku melakukan persiapan habis- habisan demi menghadapi test tersebut. Aku pergi ke warnet setiap hari untuk mengunduh materi- materi yang berhubungan dengan perusahaan yang memanggilku untuk test tulis di Jakarta. Ketika hari yang sangat mendebarkan di dalam hidupku itu tiba, aku pun meluncur ke TKP, eh, sebuah hotel di Jakarta.</p>
<p>Sepanjang perjalanan, terus kuyakinkan diriku untuk yakn dan percaya diri bahwa aku bisa menembus persaingan yang sangat ketat, karena bakal ada puluhan orang yang menjadi sainganku. Dan ternyata benar, beberapa sainganku bahkan adalah kakak kelasku yang tujuh angkatan di atasku! Ada juga yang sudah menjadi supervisor di perusahaannya. Wah, harapanku semakin kecil nih. Dan satu hal lagi, aku paling muda diantara delapan puluh tiga peserta test yang datang hari itu. Dan Alhamdulillah, Subhanaloh, Allaahu Akbar! Ketika soal test dibagikan, sama sekali tidak ada test tentang hal-hal yang aku unduh dari internet, sama sekali tidak ada pertanyaan mengenai produkk perusahaan tersebut. Yang ada hanya soal- soal yang sangat dasar tentang kimia. Dan subyek lainnya, ini yang paling utama menurut perwakilan dari perusahaan tersebut adalah “The Learning Ability”, test kemampuan belajar. Soal- soal yang lebih menyerupai Test IQ dibanding test masuk perusahaan, hanya ini diujikan dalam bahasa Inggris. Soal- soal yang memang bakal menjadi “makanan empuk” untuk kecepatan membaca dan kecepatan berpikirku. Dan benar saja, dari satu jam yang diberikan oleh penguji, aku bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu dua puluh menit! Alhamdulillah.  Setelah melalui proses wawancara dan test medis, akhirnya aku pun ditawari kontrak kerja melalui email. Ketika aku membuka file kontrak kerja dan jumlah yang tertera di kontrak itu seketika mulutku ternganga selebar-lebarnya, dan membuat jantungku berdegup kencang bukan main, dan aku pun langsung bersimpuh sujud syukur kepada Yang Maha Kaya. Bagaimana tidak, ketika hitungan “juta” pun sudah terasa sangat besar, karena aku baru bekerja enam setengah tahun,masa kerja yang jauh lebih singkat dari para sainganku itu, aku ditawari kontrak kerja dengan jumlah lebih dari lima belas kali dari jumlah yang biasa kuterima. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung menandatangani kontrak itu dan mengirimnya ke bagian rekrutment perusahaan tersebut.  Seminggu sebelum aku terbang menuju negeri impian, aku bertemu dengan temanku di “dialog lima belas juta” itu, dan berbicara dengan yakin: “Mas, lima belas juta uangku yang kuhabiskan untuk membeli buku, dan mas bilang sia- sia, ternyata sekarang sudah balik modal, plus untungnya dikali beberapa puluh kali!” (*)</p>
<p>Didaytea!</p>
<p>Yang Sedang Sangat Beryukur Tak Henti-henti Di tengah musim panas yang sangat sejuk. 2</p>
<p>60720101045</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/30/dialog-lima-belas-juta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BANTEN BANGKIT DI LENTERA QOLBU PANDEGLANG</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/30/banten-bangkit-di-lentera-qolbu-pandeglang/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/30/banten-bangkit-di-lentera-qolbu-pandeglang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 23:58:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Banten Bangkit]]></category>
		<category><![CDATA[Bedah Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Gol A Gong]]></category>
		<category><![CDATA[Rumash Dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4187</guid>
		<description><![CDATA[
Ternyata keinginan Banten Bangkit dari ketertinggalan dalam segala hal, infrastruktur seperti jalan, gedung sekolah, dan taman budaya Banten seperti yang dituntut para seniman sudah tersaring di buku “Banten Bangkit #1: Saatnya Otak, Bukan Otot”. 
Kini “Banten Bangkit” menjadi spirit wong Banten yang menginginkan perubahan. Apalagi ketika rencana pembangunan rumah dinas gubernur Banten sebesar Rp. 126 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/RD-Com-Resensi-lg1.jpg"><img class="size-full wp-image-4186 alignnone" title="RD Com-Resensi lg" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/RD-Com-Resensi-lg1.jpg" alt="" width="500" height="334" /></a></p>
<p>Ternyata keinginan Banten Bangkit dari ketertinggalan dalam segala hal, infrastruktur seperti jalan, gedung sekolah, dan taman budaya Banten seperti yang dituntut para seniman sudah tersaring di buku “Banten Bangkit #1: Saatnya Otak, Bukan Otot”. <span id="more-4187"></span></p>
<p>Kini “Banten Bangkit” menjadi spirit wong Banten yang menginginkan perubahan. Apalagi ketika rencana pembangunan rumah dinas gubernur Banten sebesar Rp. 126 Milyar, yang akan merobohkan gedung Setda di belakang Gedong Negara, menuai protes dari berbagai kalangan. Tak ada satupun warga Banten yang menginginkan rumah dinas gubernur dibangun sekarang. Skala prioritas harus diberlakukan. Lebih baik gedung sekolah, jalanan, gedung kesenian, dan gedung perpustakaan yang dibagnun. Setelah itu, barulah rumah dinas gubernur. Kepentingan orang banyak harus didahulukan.&lt;p&gt;</p>
<p>Kondisi itu ternyata membuat komunitas baca “Lentera Qolbu” Pandeglang dan Kumandang Banten menyikapinya dengan menggelar bedah buku ”BANTEN BANGKIT #1: SAATNYA OTAK, BUKAN OTOT”, Minggu 8 Agustus 2010, pukul 14.00-16.00 WIB. Tempatnya di Lentera Qolbu, Jl.Raya Labuan KM 2, Ciekek Melati No.2 (depan pertigaan Kadomas) Pandeglang. ”Siapa saja boleh datang,” jelas Fitri Suciawati, yang bergabung menulis di buku ”Banten Bangkit #2: Membangun Peradaban Baru” yang diterbitkan Gong Publishing. ”Jangan lewatkan. Sebelum puasa, kita diskusi dulu. Nara sumbernya mumpuni, yaitu Embay Mulya Syarief, Gandung Ismanto, dan Gol A Gong,” tambah Fitri. (Jang RuDun)</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/30/banten-bangkit-di-lentera-qolbu-pandeglang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RUMAH DUNIA SERBU MARKAS KUTUKUTUBUKU.COM</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/29/rumah-dunia-serbu-markas-kutukutubuku-com/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/29/rumah-dunia-serbu-markas-kutukutubuku-com/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 08:09:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kutukutubuku]]></category>
		<category><![CDATA[Ollie]]></category>
		<category><![CDATA[Tunas Cendekia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4181</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA- Bagi para pecinta belanja buku via online, siapa yang tak kenal dengan situs www.kutukutubuku.com. Sementara bagi para pembaca buku, khusunya novel teenlit dan buku-buku yang bersifat how to, rasanya nama Ollie sudah tak asing lagi. Maka adalah sebuah kesempatan berharga manakala kita bisa bisa langsung bertemu dengan kru www.kutukutubuku.com di kantornya, sekaligus juga bertemu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/kutu.jpg"><img class="size-full wp-image-4180 alignleft" title="kutu" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/kutu.jpg" alt="" width="290" height="218" /></a>JAKARTA- Bagi para pecinta belanja buku via online, siapa yang tak kenal dengan situs www.kutukutubuku.com. Sementara bagi para pembaca buku, khusunya novel teenlit dan buku-buku yang bersifat how to, rasanya nama Ollie sudah tak asing lagi. Maka adalah sebuah kesempatan berharga manakala kita bisa bisa langsung bertemu dengan kru www.kutukutubuku.com di kantornya, sekaligus juga bertemu dengan salah satu penggagasnya; Mbak Ollie.</p>
<p>Pengalaman penuh ilmu ini dirasakan tujuh relawan Rumah Dunia; Langlang Randhawa, Muhzen Den, Roy Gozly, Abdul Salam, Sauni, Aini serta saya sendiri, pada Rabu (28/7). Para relawan Rumah Dunia ini difasilitasi Yudhistira Juwono, pengelola Yayasan Tunas Cendekia yang selama ini sudah membantu Rumah Dunia, untuk menyerbu lalu berbagi pengalaman serta menimba ilmu pada Mbak Ollie dan rekan-rekan di www.kutukutubuku.com yang bermarkas di lantai tiga gedung International Language Program (ILP) di jalan raya Pasar Minggu, Pancoran, nomor 39A Jakarta Selatan. “Ada satu spirit yang sama antara Rumah Dunia dan kutukutubuku.com yang dikelola oleh Ollie, yaitu sama-sama bergerak di bidang buku meski cara kerjanya berbeda,” Ujar Yudis, begitu ia akrab disapa. “Kalau Rumah Dunia selama ini lebih cenderung ke arah pengelolaan taman baca dan buku yang sifatnya sosial, Ollie mahir dalam mengemas buku dalam sebuah bisnis yang menjanjikan,” Imbuh pemilik toko perlengkapan bayi Nenen ini.</p>
<div id="attachment_4182" class="wp-caption alignleft" style="width: 299px"><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/kutu-1.jpg"><img class="size-full wp-image-4182" title="kutu (1)" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/kutu-1.jpg" alt="" width="289" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Ketiga dari kiri; Ollie sedang berfoto bersama relawan.</p></div>
<p>Setelah menyambangi kantor Mbak Ollie dan masing-masing relawan dihadiahi buku dengan cara memilih sendiri, akhirnya para relawan diajak berbincang-bincang dengan Mbak Ollie untuk sharing ide dan gagasan, baik dia sebagai penulis atau juga penggiat toko buku online di Restoran Sate Pancoran 44 yang terletak tak jauh di samping ILP.</p>
<p>Dalam obrolan santai dan dipenuhi jamuan makan itu, Ollie mengungkapkan bahwa kutukutubuku.com berdiri pada 2006 bersama dengan partner timnya. Seperti perusahaan lainnya, kutukutubuku.com pun berproses dari sebuah tim kecil menjadi tim besar. “Menjalankan kutukutubuku.com saya tidak bisa sendiri. Harus ada tim sekecil apa pun,” ujar pemilik nama asli Aulia Halimatussadiyah yang sudah menulis 15 buku ini. Sementara itu Langlang selaku Wakil Presiden Rumah Dunia mengungkapkan rasa terimkasihnya kepada Yudis yang sudah mempertemukan dengan Mbak Ollie dan kru kutukutubuku.com. “Pengalaman ini sangatlah bermanfaat bagi Rumah Dunia ke depan,” ujar penulis novel komedi Slonong Boy Millionire ini. “Insya Allah kami akan undang Mbak Ollie ke Rumah Dunia untuk berbagi dengan para remaja di Banten,” imbuh Langlang yang sedang menunggu novel keduanya berjudul Merah Putih di Old Trafford (Kaifa Mizan Group) yang sedang dalam proses terbit. [Ahmad Wayang]</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/29/rumah-dunia-serbu-markas-kutukutubuku-com/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TAMAN BACA QI FALAH DIRESMIKAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/29/taman-baca-qi-falah-diresmikan/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/29/taman-baca-qi-falah-diresmikan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 07:51:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[baca]]></category>
		<category><![CDATA[Falah]]></category>
		<category><![CDATA[Lebak]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Taman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4174</guid>
		<description><![CDATA[LEBAK- Bagi masyarakat yang ingin membangun taman baca haruslah melihat kondisi masyarakat sekitar. Jangan asal mendirikan begitu saja demi mendapatkan bantuan dari pemerintah. Hal dimaksudkan agar kehadiran taman baca memang dibutuhkan warga di sekitar taman baca tersebut. Jika masyarakat sudah merasa membutuhkan akan keberadaan taman baca, maka keberlangsungan taman baca akan awet dan tidak ditinggal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/qi1.jpg"><img class="size-medium wp-image-4175 alignleft" title="qi1" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/qi1-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>LEBAK- Bagi masyarakat yang ingin membangun taman baca haruslah melihat kondisi masyarakat sekitar. Jangan asal mendirikan begitu saja demi mendapatkan bantuan dari pemerintah. Hal dimaksudkan agar kehadiran taman baca memang dibutuhkan warga di sekitar taman baca tersebut. Jika masyarakat sudah merasa membutuhkan akan keberadaan taman baca, maka keberlangsungan taman baca akan awet dan tidak ditinggal para pembacanya. Ada atau tidak ada bantuan, maka taman bacaan itu akan terus hidup karena memang dibutuhkan. Hal itu dipaparkan pendiri Rumah Dunia sekaligus Ketua Taman Baca Nasional Gol A Gong pada acara Dialog Publik sebagai salah satu rangkaian acara temu kangen alumni serta peresmian Taman Baca Qi Falah yang berada di areal Pondok Pesantren Qothrotul Falah, Cikulur, Lebak, pada Selasa (27/7) dengan tema Eksistensi Taman Baca Dalam Mendukung Lebak Sebagai Kota Pendidikan. ”Jika taman baca sudah dibutuhkan, selanjutnya si pemilik taman baca harus rela jika tempatnya bakal didatangi banyak orang dan buku-bukunya berantakan,” ujar Gong. ”Di Rumah Dunia, buku bisa robek oleh anak-anak. Mereka jangan dimarahi. Tinggal diberi pengertian bahwa buku itu berharga. Terus dan terus sehingga mereka sendiri sadar bahwa buku itu sangatlah berharga,” imbuh Direktur Gong Publishing ini.</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/qi2.jpg"><img class="size-medium wp-image-4176 alignleft" title="qi2" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/qi2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Hal senada juga diungkapkan wakil ketua komisi B DPRD Kabupaten Lebak A. Erwin Komara Sukma. Erwin menjelaskan bahwa buku adalah gudangnya ilmu. Meski demikian gudang tersebut akan didatangi orang jika minat mereka sendiri sudah tumbuh. Meski demikian, Erwin menambahkan, minat baca harus ditumbuhkan secara perlahan-lahan karena tanpa sadar manfaat membaca itu sangatlah banyak. Erwin mengakui, bahwa kebiasaannya membaca selama ini membawa manfaat baginya. ”Jika saya dulu tak banyak membaca, mungkin saya tidak bisa duduk di kursi dewan hingga seperti saat ini,” Ujar Erwin.  Sementara itu keberadaan Taman Baca Qi Falah sendiri sebenarnya sudah berjalan setahun lalu. Setelah dirasa efektif berjalan karena menggandeng dinas-dinas terkait serta taman bacaan yang lebih dulu berkiprah semisal Rumah Dunia, maka Taman Baca Qi Falah pun diresmikan. Setidaknya itulah yang diungkapkan Ido Nardallah selaku ketua panitia. ”Keberadaan taman baca Qi Falah ini diharapkan bisa merangsang minat baca siswa. Baik di lingkungan pesantren atau juga warga sekitar,” Ujar Ido.  Terkait dengan wacana Lebak sebagai Kota Pendidikan, di sela-sela kedatangannya saat berakhirnya acara, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak Ade Nur Hikmat mengungkapkan, keberadaan taman baca di Lebak selayaknya mendapatkan dukungan dari pemerintah karena sebenarnya mereka sudah melakukan kontribusi membantu pemerintah. Sementara itu soal kontribusi yang akan diberikan Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak sendiri, Ade menuturkan, bahwa yang disebut dengan kontribusi tidak semata berupa uang melainkan juga dukungan dalam hal program yang sesuai dengan cita-cita meningkatkan minat baca. “Bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional kemarin, kami sudah mencanagkan Lebak Membaca,” ujar Ade. “Nantilah, Dinas Pendidikan akan ikut menyumbangkan buku,” imbuh Ade. [Langlang Randhawa, Wakil Presiden Rumah Dunia]</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/29/taman-baca-qi-falah-diresmikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ANTRIAN PANJANG PESERTA PESTA ANAK</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/25/antrian-panjang-peserta-pesta-anak/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/25/antrian-panjang-peserta-pesta-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 14:20:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Album]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4149</guid>
		<description><![CDATA[Sejumlah anak-anak kampung mengikuti jalannya aneka lomba pada Pesta Anak Rumah Dunia yang digelar Sabtu (24/7) hingga Minggu (25/7) di halaman Rumah Dunia. Nampak para peserta sedang melakukan pendataran dengan cara mengantri. Meraka datang dari beberapa kampung yang berada di sekitar Rumah Dunia; Ciloang, Kubil, Kesuren, dan Kemang. Pesta yang ke-9 ini mengangkat tema &#8220;kembali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/19.jpg" mce_href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/19.jpg"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/19-300x225.jpg" mce_src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/19-300x225.jpg" alt="" title="19" class="size-medium wp-image-4150 alignleft" width="300" height="225"></a>Sejumlah anak-anak kampung mengikuti jalannya aneka lomba pada Pesta Anak Rumah Dunia yang digelar Sabtu (24/7) hingga Minggu (25/7) di halaman Rumah Dunia. Nampak para peserta sedang melakukan pendataran dengan cara mengantri. Meraka datang dari beberapa kampung yang berada di sekitar Rumah Dunia; Ciloang, Kubil, Kesuren, dan Kemang. Pesta yang ke-9 ini mengangkat tema &#8220;kembali ke sekolah&#8221;. Oleh karenanya Rumah Dunia menyediakan perlengkapan sekolah dari sumbangan para donatur; paket buku, alat tulis, kaos kaki, dan tas sekolah. <br mce_bogus="1"></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/25/antrian-panjang-peserta-pesta-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
