<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 May 2012 14:26:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>MENGGIATKAN LITERASI DARI LUAR NEGERI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2012/05/01/menggiatkan-literasi-dari-luar-negeri/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2012/05/01/menggiatkan-literasi-dari-luar-negeri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 May 2012 14:26:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etalase]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[giat]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[luar]]></category>
		<category><![CDATA[negeri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4900</guid>
		<description><![CDATA[Tidak ada yang berbeda pada sepasang remaja yang dikenalkan oleh temanku itu. Mereka terlihat seperti orang Indonesia pada umumnya yang berkulit sawo matang. Perbedaan yang sangat nyata baru kurasakan ketika beberapa saat kemudian bertengkar memperebutkan sesuatu. Gagap Berbahasa Indonesia Bahasa yang mereka gunakan bukan bahasa Indonesia, bahasa Sunda, atau bahasa daerah lainnya, tapi bahasa Inggris. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small"><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2012/05/2-Duber-Deddy1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4902" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2012/05/2-Duber-Deddy1.jpg" alt="" width="828" height="613" /></a>Tidak ada yang berbeda pada sepasang remaja yang dikenalkan oleh temanku itu. Mereka terlihat seperti orang Indonesia pada umumnya yang berkulit sawo matang. Perbedaan yang sangat nyata baru kurasakan ketika beberapa saat kemudian bertengkar memperebutkan sesuatu.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small"><strong>Gagap Berbahasa Indonesia</strong></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Bahasa yang mereka gunakan bukan bahasa Indonesia, bahasa Sunda, atau bahasa daerah lainnya, tapi bahasa Inggris. Dan bahasa Inggris yang tertumpah dari kedua mulut dua anak remaja tanggung itu bukan sekedar bahasa Inggris, tapi bahasa Inggris dengan aksen British yang sangat kental. Saya hanya bisa melongo dan mencoba menyimak sebentar pertengkaran mereka yang lumayan seru, walau pun pada akhirnya saya menyerah, ketika mereka sudah bicara terlalu cepat. Ayah mereka pun hanya bisa tersenyum simpul melihat saya yang berusaha keras memicingkan telinga untuk sekedar menangkap kata- kata yang berhamburan dari kedua anaknya.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Timbul pertanyaan pada diri saya, apakah jika suatu saat mereka kembali ke tanah air, mereka bisa berkomunikasi dengan baik dengan bahasa Ibunya?</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Berbicara bahasa Ibunya pun mereka sudah kepayahan, apalagi merambah jauh ke dalam dunia literasi yang memerlukan kemampuan berbahasa yang bukan sekedar seadanya dan “asal bisa nyambung”.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Mungkin saja orangtuanya memang mempunyai rencana jangka panjang agar anaknya kelak memang akan bekerja dan hidup di luar negeri seperti mereka. Dan sangat mungkin juga mereka memang berniat untuk berdiaspora di negeri orang, pergi tak kembali.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small"><strong>Jangan Melupakan Jati Diri</strong></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Biar bagaimana pun, dan selama apa pun, para ekspatriat Indonesia yang bekerja di luar negeri ini tetap adalah orang Indonesia, walau pun sudah tidak menjadi Warga Negara Indonesia lagi. Suatu saat, mereka akan ingat bahwa mereka lahir di Indonesia, atau hanya sekedar memiliki orang tua Indonesia, dan pernah menginjakkan kaki di Indonesia.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Mereka bisa sangat bangga ketika bisa mengajari anak- anaknya untuk mementaskan kesenian daerah, atau memakaikan pakaian adat di International Day sekolah anak- anaknya.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Mereka sangat bangga karena memiliki keragaman budaya yang luar biasa yang membuat warga negara lain terkagum- kagum dan terpesona.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Mereka sangat bangga ketika para karya para fotografer professional memajang  keindahan alam Indonesia yang luar biasa di sebuah galeri seni paling terkenal di Qatar.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Perasaan bangga yang luar biasa juga ketika kalimat “ from Indonesia” terdengar setelah salah seorang warga negara Indonesia memenangi sebuah penghargaan fotografi paling bergengsi di Qatar.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Akan ada perasaan rindu untuk pulang. Akan ada perasaan ingin membantu memperbaiki kondisi Indonesia ke arah yang lebih baik ketika membaca berita- berita buruk tentang tanah airnya di media online dan televisi.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small"><strong>Memulai Perubahan dari Luar Negeri</strong></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Tahun 2007, di tempat saya bekerja, orang Indonesia tidak lebih dari 25 orang. Tapi sekarang, sudah lebih dari seratus orang. Sejak itu pula, dimulailah “eksodus” kecil-kecilan tenaga kerja professional dari Indonesia. Walau pun tidak sebanyak orang India dan Filipina,<br />
tapi sejak saat itu keberadaan tenaga kerja professional asal Indonesia mulai diperhitungkan.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Berdasarkan data dari KBRI Doha, di Qatar ada 35.000 tenaga kerja Indonesia yang 6000 di antaranya adalah tenaga kerja profesional, yang menjabat level teknisi sampai level manajerial di perusahaan-perusahaan yang tersebar di Qatar.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Ini adalah potensi yang luar biasa besar.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Setelah KBRI Doha memfasilitasi kegiatan “Gempa Literasi Asia” bersama Gol A Gong dan Tias Tatanka, tiba-tiba muncul secercah harpan. Apalagi ketika pada Senin, 23 April 2012, Gong dan Tias menginisiasi Perayaan Hari Buku se-Dunia, di Aspire Park, Doha, dimana sekitar 100-an professional Indonesia mendeklarasikan 3 hal; harus mengusasai bahasa asing, jangan melupakan bahasa nasional dan daerah, serta menghapus stigma negeri pembantu, timbul gagasan besar di dalam pikiran saya.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Saya merasa bahwa ini adalah saatnya menggaungkan “Gerakan Literasi Dunia Menuju Indonesia Membaca”, yang digawangi oleh orang – orang Indonesia yang bekerja dan tersebar di seluruh dunia.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Dengan kekuatan finansial dan tidak ada lagi istilah “jatah buku berebut dengan jatah beras”, seharusnya para orang tua yang bekerja di luar negeri bisa mengenalkan dunia literasi kepada anak- anaknya.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Menyediakan perpustakaan pribadi yang berisi buku- buku karya penulis Indonesia, dari zaman Angkatan 45 sampai zaman Raditya Dika seharusnya tidak sulit. Agar anak- anak mereka tahu dan mengenal bangsanya lewat karya sastra, dan mungkin kelak akan memberi pengaruh besar untuk kemajuan bangsa Indonesia dengan perannya masing- masing.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Dengan kekuatan finansial ini juga, mereka seharusnya bisa berperan lebih besar dengan membuat taman bacaan gratis di lingkungan kampung halaman mereka.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Siapa yang tahu kalau ternyata perubahan Indonesia yang lebih baik malah dimulai dari gerakan- gerakan literasi dari orang- orang Indonesia yang tinggal di luar negeri.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Tidak hanya menambah devisa negara dengan mentransfer puluhan juta rupiah setiap bulan, tapi kita juga bisa menggiatkan dunia literasi di luar negeri untuk merubah bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik. (*)</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">*) Diday Tea, salah seorang tenaga kerja professional Indonesia di Qatar, dan ambassador Rumah Dunia.<br />
</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">26 April 2012</span></span></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2012/05/01/menggiatkan-literasi-dari-luar-negeri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>GELANGGANG REMAJA RUMAH DUNIA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2012/03/30/gelanggang-remaja-rumah-dunia/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2012/03/30/gelanggang-remaja-rumah-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Mar 2012 04:22:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laporan Utama]]></category>
		<category><![CDATA[gelanggang]]></category>
		<category><![CDATA[olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4892</guid>
		<description><![CDATA[Saat saya SMA, saya terkesan dengan Taman Ismail Marzuki (TIM), Gelanggang Remaja Bulungan (GRB) Jakarta, dan Gelanggang Remaja Merdeka (GRM) Bandung. Anak-anak remaja difasilitasi; antara olahraga dan seni. Ini sejalan dengan ungkapan “mens sana in corpore sano”, kalimat sakti pujangga Romawi, Decimus Iunius Iuvenalis, yang ditafsirkan “di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat”. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2012/03/Taman.jpg"><img class="alignleft  wp-image-4893" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2012/03/Taman.jpg" alt="" width="500" height="329" /></a></em></p>
<p>Saat saya SMA, saya terkesan dengan Taman Ismail Marzuki (TIM), Gelanggang Remaja Bulungan (GRB) Jakarta, dan Gelanggang Remaja Merdeka (GRM) Bandung. Anak-anak remaja difasilitasi; antara olahraga dan seni. Ini sejalan dengan ungkapan “mens sana in corpore sano”, kalimat sakti pujangga Romawi, Decimus Iunius Iuvenalis, yang ditafsirkan “di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat”. Saya ingin antara olahraga dan seni berdampingan. Para olahragawan memiliki cita rasa seni atau para seniman tubuhnya sehat.<span id="more-4892"></span></p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2012/03/nonton.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4896" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2012/03/nonton.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>BADMINTON<br />
Pada umur 11 tahun (1974) tangan saya diamputasi. Bapak dan Emak membekaliku buku, olahraga, dan nonton. Saya selalu senang menyebutnya dengan “BORN (buku, olahraga, dan nonton). Saya tumbuh jadi atlet badminton berlengan satu, bersaing dengan yang berlengan dua. Saat di SMPN 2 Serang (1976-1978), saya tim B untuk Porseni (Pekan Olahraga dan Seni). Ketika di SMAN 1 Serang (1980), di Banten bersaing dengan pebulutangkis berlengan dua, posisinya juara kedua di level junior. Ada peristiwa yang tak bisa kulupakan saat kejuaran junior se-Jawa Barat (1981) di Sukabumi. Saya main di awal kejuaran dan lawan saya dari Kuningan, Jawa Barat (Jabar). Saya menang rubber set. Gedung olahraga geger! Profil saya muncul di koran Pikiran Rakyat.  Di Serang (Banten) gonjang-ganjing. Saya memang hanya maju ke babak kedua, tapi kalah oleh pebulutangkis asal Kodya, Bogor. Tapi, saat iulah saya sudah jadi selebritis. Jarang-jarang orang kampung masuk koran. Saat kuliah (1984), saya tim kampus UNPAD Bandung, dan masuk 4 besar ketika pertandingan antar-kampus se-Bandung. Saya tunggal pertama.</p>
<p>Sekira tahun 1985, Iie Sumirat (pemain nasional 70-an) kaget melihat saya berhasil mengalahkan anak didiknya di PB Sarana Muda, Bandung. Lalu atas saran Iie Sumirat, saya mendaftar jadi atlet badminton di PON Penyandang Cacat (POR PENCA) pada 1986 di Solo. Untuk sesama atlet cacat, saya juara tunggal putra, double putra, dan beregu. Saya mewakili Jawa Barat. Hadiah jutaan rupiah dari Gubernur Jawa Barat waktu itu mengalir.</p>
<p>Lalu saya mewakili Indonesia di ajang FESPIC GAMES (<em>Far East and asia Pasific</em>) di Solo, 1988, dan saya juga memborong juara tunggal, double, dan beregu badminton. Tapi setelah jadi Gol A Gong (1989) yang menekuni dunia sastra dan jurnalistik di Gramedia Group, apalagi setelah “Balada Si Roy” lahir, prestasi badminton saya merosot. Pada 1990, saya berankat ke Kobe, Jepang, mengikuti Fespic Games. Saya hanya menyabet juara double dan beregu putra badminton. Saya mengibarkan bendera merah putih 2 kali sambil menitikkan air mata di negeri orang, walaupun tunggal putra melorot ke juara III. Pada waktu itu saya mendapat hadiah uang lumayan besar dan penghargaan dari Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Abdoel Gafur. Dari uang itu saya berhasil membeli rumah tipe 21 dengan kelebihan tanah sekira 100 meter persegi.</p>
<p>Setelah itu, saya gantung raket dan memilih serius di sastra, jurnalistik, dan film sambil terus bercita-cita ingin membangun gelanggang remaja di Banten. Untuk cita-cita saya ini, silakan membaca buku terbaru saya yang berjudul “Menggenggam Dunia” (Kepustakaan Populer Gramedia, September 2011).</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2012/03/Gerbang.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4895" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2012/03/Gerbang.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>SENI DAN OLAHRAGA</p>
<p>Saya termasuk orang yang cepat gelisah dan terburu-buru. Jika saya punya kehendak, segera ingin saya wujudkan. Oleh sebab itu, saya menulis cerita-cerita yang temanya disukai pembaca. Saya sebetulnya anak sastra dan lahir dari puisi. Saat SMA (1980), puisi saya dimuat di majalah HAI dimana rubrik puisinya sangat bergengsi, karena diasuh Arswendo Atmowiloto. Tetapi, honornya hanya Rp 3500, kalah dengan honor cerita pendek yang berkisar antara Rp 25.000  hingga Rp 100.000. Maka saya bekerja sebagai wartawan di HAI dan kemudian di Tabloid Warta Pramuka dan menulis novel popular “Balada Si Roy”. Dari novel “Balada Si Roy” saya bisa mendapatkan royalti banyak. Pada 1989 – 1990, cerpenku dihonori Rp 100.000 hingga Rp 150.000. Dalam sebulan, saya bisa mengumpulkan uang Rp 1 juta. Bahkan kadang lebih jika ada cerita bersambung saya dimuat di majalah Mode, Gadis, atau Anita Cemerlang. Gaji pokok saya sebagai wartawan (1990) Rp 500.000 per bulan. Untuk ukuran orang kampong, uang segitu cukup besar.</p>
<p>Penghasilan saya yang lumayan, saya subsidikan untuk mewujudkan cita-cita saya, yaitu membangun gelanggang remaja. Pada 1988, saya memulai membuat gelanggang remaja dengan nama orgnisasi “Cipta Muda Banten” bersama teman-teman semasa SMA; Roni Chaeroni, Reni Arifin, Edi Kuping, Toni Bule, dan Rhomli.</p>
<p>Sepulang dari Kobe, Jepang, Bupati Serang waktu itu (HM Sampoerna) bertanya kepada saya, “Ingin hadiah apa dari saya?”</p>
<p>Saya menjawab, “Beri saya secretariat!”</p>
<p>HM Sampoerna memberi saya hadiah atas prestasi badminton saya di level internasional, yaitu sebuah sekretariat di Gedong Joeang 45, persis di depan Alun-alun barat Kota Serang. Sayang disayang, ketika Banten jadi provinsi pada 2000, kami harus hengkang. Gedung Joeang 45 itu sekarang jadi TK dan dipenuhi gerobak dagangan. Pada tahun 2000 itulah, saya pindah markas ke halaman belakang rumah. Gajiku sebagai penulis kreatif di RCTI dan royaltiku menulis novel dan skenario sinetron mencukupi.</p>
<p>“Tak akan ada yang menggangguku lagi! Aku bebas mau bikin apa saja di rumahku!” begitulah yang saya katakan kepada istriku, Tias Tatanka.</p>
<p>Maka kami namakan <em>learning centre</em> itu “Rumah Dunia; rumahku rumah dunia, kubangun dengan kata-kata”. Tapi karena lahannya hanya 1000 meter persegi, sehingga olahraga belum bias saya gulirkan. Baru sebatas jurnalistik, sastra, teater, seni rupa, dan film yang bisa saya berikan.</p>
<p>Rumah Dunia memang saya niatkan seperti konsep Ali Sadikin itu; gelanggang remaja yang memadukan seni dan olahraga. Semua anak muda bisa belajar berorganisasi, kursus karate/silat, kursus jurnalistik, sastra (bedah/peluncuran buku), pertunjukkan seni, aneka lomba literasi, bermain sepakbola (futsal), dan memutar film (nonton bioskop/misbar).</p>
<p>Alhamdulillah, berkat bantuan para sahabat; Toto ST Radik (penyair), Rys Revolta (alm, 2004), Andi Suhud Trisnahdi (Direktur Suhud Media Promo), Maulana Wahid Fauzi (Direktur Baraya TV), Abdul Malik (dosen Universitas Serang Raya), Taufik Rohman (GM Baraya Post), dan Mhaex Maranoes (seniman), Rumah Dunia berhasil tumbuh pada tahun 2000. Koran “Harian Banten” (sekarang Radar Banten) pada masa itu sangat berjasa memunculkan Rumah Dunia setiap minggu di rubrik “Salam Rumah Dunia”, sehingga virus literasi mewabah di Banten. Kemudian bersama para relawan, sahabat-sahabat baru fesbuker, blogger, donatur, simpatisan, siapa saja, dan semuanya kini tanah seluas 3000 meter persegi berhasil dibebaskan.</p>
<p>Ya, pelan-pelan Rumah Dunia menggelinding tanpa batas sepanjang 2002 hinggga 2011 kini. Bagi saya, Rumah Dunia harus jadi tempat yang inspiratif, sehingga anak muda yang datang darahnya mendidih dan bersemangat ingin maju. Untuk terus menggelorakan semangat itu, saya pun menerima tawaran sebagai host di acara “Gong Smash (Langkah Kecil, ubah Dunia)” di TV lokal, Baraya TV, milik Jawa Pos Group. Saya berharap, antara Rumah Dunia dan program TV “Gong Smash” secara paralel menginspirasi anak pemuda untuk mengubah lingkungannya dulu sebelum mengubah dunia.</p>
<p>Kini, wujud gelanggang remaja itu mulai tampak; gedung perpustakaan, cafe baca, panggung, lapangan olahraga (futsal), bak lompat jauh, dan saung-saung untuk pameran buku atau lukisan. Tentu saya berharap setelah tanah Rumah Dunia ini lunas pada 1 Januari 2011, harus melunasi sejumlah Rp 150 juta lagi dan akan dibangun lapangan basket, ruang tertutup serba guna untuk pertunjukkan kesenian, seminar/diskusi, sekretariat bersama untuk oranisaswi literasi, WC umum, dan toko buku.</p>
<p>Dananya dari mana? Hmm, saya selalu mengtatakan, “Allah akan bekerja dengan caranya yang mistreius!” Aku yakin, dana itu akan datang lewat perantara orang-orang baik yang bertebaran di muka bumi ini.</p>
<p>Ah, itu mimpi! Saya yakin, itu bukan mimpi, tapi itulah gagasan yang mengkristal menjadi cita-cita. Allah sudah menjanjikan; jika kita memiliki cita-cita, maka berusaha dan berdoalah! Cita-cita saya ini adalah cita-cita semua orang, yang ingin melihat anak bangsa ini tumbuh sehat dan memiliki hati yang lembut, sehingga lahir generasi baru yang kuat, sehat, cerdas, berani, kritis, jujur, kreatif, inovatif, progresif, dan mandiri.</p>
<p>Kita sudah melakukannya bersama-sama sejak tahun 2000!</p>
<p>Itulah Rumah Dunia, rumah kita bersama. Warisan untuk masa depan! (*)</p>
<p>Gol A Gong  adalah pendiri Rumah Dunia sebuah <em>leraning centre</em> di Kampung Ciloang, Kota Serang, Banten. Juga pemimpin umum www.rumahdunia.net, <a href="http://www.rumahdunia.com/">www.rumahdunia.com</a>, dan <a href="http://www.rumahdunia.org/">www.rumahdunia.org</a>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2012/03/30/gelanggang-remaja-rumah-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Duta Satria Pecundangi Garuda</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2012/03/19/duta-satria-pecundangi-garuda/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2012/03/19/duta-satria-pecundangi-garuda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Mar 2012 08:25:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[duta]]></category>
		<category><![CDATA[pecundangi]]></category>
		<category><![CDATA[satria]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4887</guid>
		<description><![CDATA[Rangkasbitung &#8211; Tim basket Duta Satria berhasil mengalahkan tim basket Garuda dengan skor 39-26. Pertandingan final yang digelar di lapangan basket Alun-alun Kota Rangkasbitung, Minggu (18/3) sore, itu adalah turnamen Basket Open Competition (BOC) 2012. Jalannya pertandingan, kendati digelar di Rangkasbitung, namun tak membuat nyali para pemain basket Duta Satria ciut. Memang, di kuarter pertama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2012/03/basketball-pic-2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4888" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2012/03/basketball-pic-2.jpg" alt="" width="269" height="300" /></a>Rangkasbitung &#8211; </strong>Tim basket Duta Satria berhasil mengalahkan tim basket Garuda dengan skor 39-26. Pertandingan final yang digelar di lapangan basket Alun-alun Kota Rangkasbitung, Minggu (18/3) sore, itu adalah turnamen Basket Open Competition (BOC) 2012.</p>
<p>Jalannya pertandingan, kendati digelar di Rangkasbitung, namun tak membuat nyali para pemain basket Duta Satria ciut. Memang, di kuarter pertama dan kedua tim basket kebanggan masyarakat Rangkasbitung itu sempat memimpin hingga skor 11-16 untuk tim basket Garuda. Namun, di sisa kuarter tim basket asal Kota Serang membalikkan keadaaan dan mengubah skor yang kemudian berujung kemenangan untuk Duta Satria. <span id="more-4887"></span></p>
<p>Pelatih Duta Satria, Aan seusai laga mengatakan, kemenangan timnya tak lepas buah dari kerja keras seluruh pemain yang menerapkan counter attack yang cepat. “Dikuarter pertama dan kedua kami sempat kehilangan banyak poin, sehingga tim lawan berhasil merebut di dua kuarter tersebut. Namun, saya terus memotivasi para pemain meskipun lawan didukung penuh masyarakat Rangkasbitung,” kata Aan.</p>
<p>Sementara itu Bontang, pelatih tim basket Garuda mengatakan, kegagalan timnya meriah juara karena para pemainnya kurang sabar dalam penyelesaian akhir, sehingga banyak poin yang terbuang sia-sia. Selain itu, pemain lawan secara pengalaman di atas para pemain basket Garuda.<br />
“Walaupun kami hanya jadi finalis, namun kami cukup puas. Apalagi lawan yang kita hadapi adalah lawan yang memiliki jam terbang lebih banyak ketimbang tim kami. Semoga kegagalan ini tidak membuat putus asa para pemain kami, karena target kami adalah ingin memiliki tim basket di Kota Rangkasbitung yang mumpuni,” ujarnya.</p>
<p>Ketua panitia acara Hilda mengatakan, BOC 2012 merupakan turnamen kali pertama yang diselenggarakan Nida Production. Turnamen basket yang diikuti sebanyak 38 tim bola basket se-Banten ini bertujuan untuk memberikan motivasi dan kontribusi bagi para peminat olahraga basket, serta sebagai langkah untuk mengembangkan potensi dan prestasi, khususnya untuk para atlet di Lebak, dan umumnya Banten. “Diharpakan muncul atlet-atlet muda berbakat di Kabupaten Lebak dan sekitarnya,” kata Hilda.</p>
<p>Diungkapkan Hilda, ada tiga kategori yang dipertandingkan, yakni tingkat pelajar SMP, SMA dan open atau club. Untuk kategori SMP, tim basket SMPN 4 Rangkasbitung berhasil keluar sebagai juara pertama. Sementara finaslis diraih tim basket SMPN 2 Sajira. Untuk kategori SMA, tim basket putra SMKN 1 Rangkasbitung berhasil menjadi yang terbaik setelah mengandaskan tim basket putra SMA Darussaadah, Cimarga. Sedangkan untuk kategori putri SMA, karena lawan yang dihadapi tingkat SMP, sehingga SMKN 1 Rangkasbitung tak menemui kesulitan ketika melawan tim basket putri SMPN 2 Sajira. Sementara untuk tingkat club, tim basket Duta Satria asal Kota Serang berhasil mengandaskan tim basket tuan rumah Garuda dengan skor 39-26. “Bagi para pemenang akan mendapatkan tropi, sertifikat, dan uang pembinaan sesuai tingkatnya,” pungkas Hilda. (harir/zen)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2012/03/19/duta-satria-pecundangi-garuda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TBM KOSALA LIBRARY, DITUTUP</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2011/09/20/tbm-kosala-library-ditutup/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2011/09/20/tbm-kosala-library-ditutup/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Sep 2011 14:21:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laporan Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Kosala]]></category>
		<category><![CDATA[TBM]]></category>
		<category><![CDATA[tutup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4864</guid>
		<description><![CDATA[Di saat Pemerintah Provinsi Banten membagi-bagikan dana hibah sebesar Rp 340 miliar kepada sekira 220 lembaga seperti orgmas, LSM, dan lainnya. Di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, sebuah taman bacaan masyarakat (TBM) bernama TBM Kosala Library terpaksa harus tutup, karena ketidakmampuan membayar sewa rumah berdurasi setahun sebesar 4,5 juta yang diminta oleh pemilik rumah. Sangat ironis, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/09/TBM1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4865" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/09/TBM1.jpg" alt="" width="300" height="400" /></a>Di saat Pemerintah Provinsi Banten membagi-bagikan dana hibah sebesar Rp 340 miliar kepada sekira 220 lembaga seperti orgmas, LSM, dan lainnya. Di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, sebuah taman bacaan masyarakat (TBM) bernama TBM Kosala Library terpaksa harus tutup, karena ketidakmampuan membayar sewa rumah berdurasi setahun sebesar 4,5 juta yang diminta oleh pemilik rumah. Sangat ironis, padahal keberadaannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat setempat. Lalu di mana peran pemerintah daerahnya? Bagaimana sekarang kondisi TBM Kosala Library?<br />
Sejak Idul Fitri 1432 H, TBM Kosala Library yang beralamat di Kampung Cipanas, Desa Cipanas, Kecamatan Cipanas, resmi tidak memiliki sekretariat. Secara otomatis kegiatan rutin TBM pun terhenti.  Ketua TBM Kosala Library, Ahmad Arif mengatakan, seusai Lebaran semua buku dan barang lainnya dititipkan ke tempat tinggal orangtuanya di Kampung Hamberang, Desa Luhur Jaya, Kecamatan Cipanas. “Sesuai perjanjian setelah Lebaran, maka semua barang-barangnya kami angkut ke rumah orangtua saya. Untuk kegiatan terpaksa tidak berjalan karena belum ada sekretariatnya,” kata Arif.<br />
Upaya ingin kembali memiliki sekretariat akhirnya kesampaian, setelah pengelola diusulkan untuk menempati rumah dinas perhutanan dan perkebunan (Dishutbun) di jalan raya Rangkasbitung-Bogor kilometer 33, persisnya di Kampung Gajrug, Desa Bintangresmi, Kecamatan Cipanas. Izin menempati rumah dinas Dishutbun langsung atas rekomendasi Camat Cipanas Sukandi Mangkualam, setelah sebelumnya Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah menghubunginya melalui telepon seluler.<br />
Namun, bekas rumah dinas Dishutbun itu tidak bisa langsung ditempati karena kondisinya sangat memprihatinkan. Pantauan di lapangan, Selasa (20/9), tembok rumah sudah terlihat rapuh. Begitu pun plapon sudah tampak jebol dan daun jendela tanpa kaca. Belum lagi, bekas rumah Dishutbun itu belum ada aliran listrik dan sarana air bersih, sehingga pengelola TBM Kosala Library harus memperbaiki dan mengadakan pemasangan listrik dan air bersih. <span id="more-4864"></span><br />
“Uang kas yang kami punya cuma satu juta. Sedangkan kerusakannya cukup parah. Tuh lihat, bagian atap dan jendelanya tidak ada kacanya. Ditambah, di sini belum ada aliran listrik  dan air bersih,” kata Arif.<br />
Ia menyatakan, pada Senin (19/7), pengelola TBM Kosala Library diminta datang menemui kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak Ade Nurhikmat. Mereka berharap undangan itu dapat memberikan solusi tapi nyatanya lagi-lagi hasilnya nihil. “Kami nunggu sampai tiga jam di kantor Dindik, tapi tidak ke temu dengan pak kadis. Akhirnya cuma diwakili oleh sekdisnya (Juanda). Kata pak juanda, di Dindik Lebak tidak ada dana bantuan buat TBM. Mendengar begitu, kami pulang dan mendatangai kantor Setda Lebak untuk memberikan proposal ke bagian Kesra. Alhamdulillah proposal sudah diberikan tapi masih nunggu,” kata Arif.<br />
Kepala Dindik Provinsi Banten Ajak Muslim dihubungi via telepon genggamnya mengaku tidak mengetahui secara rinci. Ia menyarankan agar menghubungi bagian pendidikan informal dan nonformal (PNFI). “Saya tidak tahu soal dana dekonsentrasi untuk TBM Rintisan. Coba tanya ke Kabid PNFI pak Junaedi,” katanya.<br />
Kabid PNFI Dindik Provinsi Banten Junaedi dihubungi via telepon seluler mengatakan, belum bisa memberikan keterangan terkait dana dekonsentrasi TBM rintisan karena sedang berkabung. “Maaf ya pak, saya belum masuk kantor. Saya lagi berkabung. Keluarga saya ada yang meninggal dunia,” katanya.<br />
Senada dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak Ade Nurhikmat. Ia mengatakan tidak ada dana dekonsentrasi untuk TBM rintisan di Kabupaten Lebak. “Tidak ada dana itu. Tapi coba teman-teman IKMC kirimkan proposal, nanti kami ajukan ke Pemda Lebak bagian Kesra,” katanya.<br />
Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Indonesia Gol A Gong mengatakan, pemerintah pusat melalui Kemendiknas menganggarkan dana dekonsentrasi untuk TBM rintisan di seluruh Indonesia. Kata Gong, dana dekonsentrasi merupakan dana yang diambil dari APBN yang ditempatkan di daerah. “Pada 2011 ada sekitar 400-an TBM di 33 provinsi untuk mendapatkan dana dekonsentrasi. Di Banten ada 10 titik yang mendapat dana dekon itu. Tiap TBM anggarannya sekira 25 juta,” kata Gong.<br />
Gong yang sedang memberikan pelatihan pengelolaan TBM di Palangkaraya, Kalimanta Barat, mengatakan dana dekonsentrasi di setiap provinsi ada sepuluh titik. “Di Kalimantan Barat juga sama dapat dana dekon untuk sepuluh titik. Informasi yang saya dapat dana tersebut baru delapan TBM yang menggunakannya. Berarti masih sisa 2 TBM lagi,” katanya.<br />
Kabag Sarana dan Prasarana Kemdiknas RI Ngasmawi dihubungi via telepon genggamnya membenarkan bahwa pemerintah pusat menganggarkan dana bantuan untuk TBM rintisan melalui pemerintah daerah masing-masing. Dana itu di sebut dana dekonsentrasi yang diambil dari APBN ditempatkan di setiap provinsi. “Ya benar, ada dana dekonsentrasi besarannya setiap TBM 20 juta. Setiap daerah (provinsi) jatahnya 10 titik,” kata Ngasmawi.<br />
Sekadar informasi, sekretariat untuk TBM Kosala Library dan IKMC sebelumnya disewa dari hasil pelatihan menulis “Be A Writer” di Ponpes La Tansa, Kampung Buluheun, Desa Banjaririgasi, Kecamatan Cipanas, sebesar Rp 4 juta, yang diadakan oleh Gol A Gong. Kemudian, rumah itu diserahkan untuk kegiatan TBM Kosala Library dan IKMC. Untuk biaya oprasionalnya, Gol A Gong berkerja sama dengan media harian lokal Banten Raya Post. Mahasiswa diminta mencari pelanggan koran sebanyak mungkin, dengan imbalan berita dari Cipanas dipublikasikan di media tersebut. Mulanya seminggu tiga kali yaitu setiap Senin, Rabu, dan Jumat berita dari Cipanas terbit di Baraya Post. Seiring waktu dan jumlah pelanggan koran pun bertambah. Atas kebijaksanaan redaksi pemuatan berita dari Cipanas dan sekitarnya hadir setiap hari.<br />
TBM Kosala Library dikelola oleh mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas (IKMC) ini, kegiatannya mengadopsi dari TBM Rumah Dunia, Kota Serang, Banten, di antaranya, membaca, mewarnai, menggambar, mendongeng, dan kelas menulis yang diperuntukkan usia remaja dan dewasa, yang digelar setiap minggu sekali persisnya setiap hari Rabu dan Kamis. Sementara untuk aktivitas mahasiswa ada diskusi yang melibatkan dengan tokoh masyarakat sekitar. Nama kegiatan itu disebut diskusi IKMC. Waktu pelaksanaannya setiap hari Selasa.<br />
TBM Kosala Library sudah 2 tahun berjalan karena peluncurannya diresmikan oleh Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah pada 27 November 2009 silam. Pada saat itu, Wabup memberikan sumbangan sebesar Rp 3 juta untuk membantu biaya oprasional. Hadir saat itu, Gol A Gong Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia (FTBM) Indonesia, Camat Cipanas Sukandi Mangkualam, unsur Dindik Lebak, UPTD Pendidikan Cipanas, anggota dewan almarhum Bela Adhikarya (Beben), tokoh masyarkat, dan alim-ulama setempat. Pada saat sambutan Gol A Gong mengatakan, launching TBM Kosala Library adalah gempa literasi pertama di Indonesia yang merupakan program kerja Forum TBM Indonesia.<br />
“Ini gempa literasi. Gempa yang tidak menghancurkan. Semoga air panas yang ada di Cipanas dapat menggelorakan minat baca masyarakat sekitar. Dari Cipanas menuju Indonesia membaca,” begitu tagline yang diungkapkan Gol A Gong pada saat launching.<br />
Penutupan TBM Kosala Library ini mendapat simpati dari warga sekitar. Salah satunya Yuyum. Ia menyayangkan dengan penutupan TBM Kosala Library. Kata Yuyum keberadaan TBM Kosala Library sangat membantu masyarakat dalam mengakses buku-buku bacaan yang baru karena gratis. “Pas saya tahu, katanya mau tutup. Saya kaget. Sayang sekali perpustakaannya harus tutup. Padahal anak-anak sekitar termasuk cucu saya sering datang dan baca di situ (TBM-red). Kepenginya mah tidak jauh dari sekitar sini, biar anak-anak bisa baca lagi,” harapnya. (HB)</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2011/09/20/tbm-kosala-library-ditutup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HARGA SEMBAKO BELUM STABIL</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2011/09/05/harga-sembako-belum-stabil/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2011/09/05/harga-sembako-belum-stabil/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2011 14:15:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[belum]]></category>
		<category><![CDATA[sembako]]></category>
		<category><![CDATA[stabil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4857</guid>
		<description><![CDATA[CIPANAS&#8211;Sampai H+5 ini atau seusai Idul Fitri 1432 H, harga kebutuhan pokok di Pasar Tradisional Gajrug, Desa Bintangresmi, Kecamatan Cipanas, masih stagnan alias belum menggembirakan bagi para konsumen. Sembako seperti beras masih bertahan di angka Rp 9 ribu per kilogram untuk kualitas bagus dan beras harga sedang Rp 7800 per kilogram. Begitupun harga  gula pasir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/09/Sembako.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4858" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/09/Sembako.jpg" alt="" width="250" height="188" /></a>CIPANAS&#8211;Sampai H+5 ini atau seusai Idul Fitri 1432 H, harga kebutuhan pokok di Pasar Tradisional Gajrug, Desa Bintangresmi, Kecamatan Cipanas, masih stagnan alias belum menggembirakan bagi para konsumen. Sembako seperti beras masih bertahan di angka Rp 9 ribu per kilogram untuk kualitas bagus dan beras harga sedang Rp 7800 per kilogram. Begitupun harga  gula pasir Rp 11 ribu, minyak sayur curah per liter Rp 10 ribu, ayam potong Rp 30 ribu, ayam merah Rp 38 ribu, daging sapi dan kerbau masih bertahan di nominal Rp 70 ribu.</p>
<p>Sementara itu, harga sayuran seperti tomat per kilogram Rp 4 ribu, cabe rawit Rp 6 ribu per kilogram, cabe kriting Rp 12 ribu per kilogramnya, kentang Rp 8 ribu per kilogram, bawah merah per kilogram Rp 10.</p>
<p>H Muhyi, pedagang daging kerbau mengatakan, belum stabilnya harga daging karena kebutuhan warga terhadap daging masih cukup tinggi dan pasokan daging terbatas. “Setelah lebaran ini banyak warga yang sedang hajat nikahan atau khitanan sehingga peminatnya masih tinggi,” ujarnya, Senin (5/9)</p>
<p>Senada dikatakan Rudi. Menurutnya, harga beras makin tinggi karena para petani belum bisa menanam padi di musim kemarau. “Selain itu, pasokan dari pusat atau agen juga lagi terbatas. Wajar kalau harganya belum turun sepenuhnya,” kata Rudi. (HB).</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2011/09/05/harga-sembako-belum-stabil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SAMPAH DI PASAR GAJRUG MENUMPUK</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2011/09/05/sampah-di-pasar-gajrug-menumpuk/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2011/09/05/sampah-di-pasar-gajrug-menumpuk/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2011 14:12:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[melonjak]]></category>
		<category><![CDATA[sampah]]></category>
		<category><![CDATA[tinggi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4852</guid>
		<description><![CDATA[CIPANAS&#8211;Akibat tak kunjung diangkut, sampah di Pasar Tradisional Gajrug, Desa Bintangresmi, Kecamatan Cipanas menumpuk. Pantauan di lapangan, Senin (5/9), tumpukan sampah teronggok dipinggir jalan raya Gajrug-Muncang, tepatnya di depan pasar Gajrug. Hal ini diperparah dengan banyaknya pedagang yang menempati trotoar sebagai tempat jualannya, sehingga jika musim hujan dating, dipastikan drainase sisa sampah akan menyumbat saluran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/09/Sampah.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4854" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/09/Sampah.jpg" alt="" width="250" height="188" /></a>CIPANAS&#8211;Akibat tak kunjung diangkut, sampah di Pasar Tradisional Gajrug, Desa Bintangresmi, Kecamatan Cipanas menumpuk. Pantauan di lapangan, Senin (5/9), tumpukan sampah teronggok dipinggir jalan raya Gajrug-Muncang, tepatnya di depan pasar Gajrug. Hal ini diperparah dengan banyaknya pedagang yang menempati trotoar sebagai tempat jualannya, sehingga jika musim hujan dating, dipastikan drainase sisa sampah akan menyumbat saluran air.</p>
<p>Nanang, pedagang di pasar tersebut memperkirakan tumpukan sampah itu sudah ada sejak sebelum Idul Fitri 1432 H, dan hingga H+5 ini tak kunjung diangkut oleh petugas pasar setempat. “Ya jelas sangat tidak nyaman. Ini kan mengganggu kesehatan dan juga bisa berpengaruh kepada masyarakat yang akan belanja karena baunya menyengat,” ujar Nanang.<span id="more-4852"></span></p>
<p>Serupa dikatakan Asep. Menurut pedagang ayam potong ini, biasanya 2 atau 3 hari sekali petugas kebersihan Pasar Gajrug mengangkut sampah yang kemudian membawanya ke daerah Jurukalam di Kecamatan Curugbitung. “Kami berharap pemerintah memberikan bantuan dengan menyediakan tempat sampah dan mobil pengangkut sampah, sehingga sampah tidak terlalu lama didiamkan,” pinta Asep. (HB)</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2011/09/05/sampah-di-pasar-gajrug-menumpuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AL MARJAN SANTUNI KAUM DHUAFA DAN ANAK YATIM</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/29/al-marjan-santuni-kaum-dhuafa-dan-anak-yatim/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/29/al-marjan-santuni-kaum-dhuafa-dan-anak-yatim/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2011 08:06:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[duafa]]></category>
		<category><![CDATA[kaum]]></category>
		<category><![CDATA[santuni]]></category>
		<category><![CDATA[Yatim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4848</guid>
		<description><![CDATA[CIPANAS&#8211;Bulan Ramadan adalah bulan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, yakni dengan memperbanyak amal ibadah. Momen tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh Yayasan Mulabaru Ponpes Al Marjan untuk saling berbagi kebahagiaan dengan sesama muslim. Tepatnya Jum’at (26/8) sore, di halaman Ponpes yang beralamat di Kampung Malangnengah, Desa Sukasari, Kecamatan Cipanas, dipenuhi oleh ratusan kaum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/08/C-1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4849" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/08/C-1.jpg" alt="" width="250" height="188" /></a>CIPANAS&#8211;Bulan Ramadan adalah bulan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, yakni dengan memperbanyak amal ibadah. Momen tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh Yayasan Mulabaru Ponpes Al Marjan untuk saling berbagi kebahagiaan dengan sesama muslim.</p>
<p>Tepatnya Jum’at (26/8) sore, di halaman Ponpes yang beralamat di Kampung Malangnengah, Desa Sukasari, Kecamatan Cipanas, dipenuhi oleh ratusan kaum dhuafa dan anak yatim berasal dari Kampung sekitar.<span id="more-4848"></span> Pada kesempatan itu, hadir Pengasuh Ponpes Al Marjan KH Tadjudin Azwari, Pimpinan Ponpes Al Marjan Didih M Sudih, Mudir’am Ponpes Al Marjan Ustad Syaepudin Asy Syadzily, ulama dan tokoh masyarakat lainnya.</p>
<p>Syaepudin Asy Syadzily, mewakili pimpinan ponpes mengatakan, pemberian santunan kepada kaum dhuafa dan anak yatim ini sebagai bentuk kepedulian dan berbagi kebahagiaan dengan sesama muslim. “Ini sudah menjadi agenda rutin Ponpes Al Marjan Mulabaru tiap tahun,” kata Syaepudin.</p>
<p>Aep menjelaskan, jumlah mustahik atau penerima zakat keseluruhannya sebanyak 160 orang, terdiri dari wanita jompo dan anak yatim. Pola pembagiannya, lanjut Aep, tidak disama ratakan. Wanita jompo mendapatkan satu bingkisan sedangkan anak yatim mendapat 2 amplop. “Karena statusnya anak yatim, maka kita kasih bingkisannya dua,” ujar Aep.</p>
<p>Program baksos yang didukung oleh Bazda Kabupaten Lebak ini juga memberikan bingkisan berupa baju kokoh dan sarung kepada 30 orang kuli bangunan Masjid Nurul Muhibin di Kampung Cigeulis. “Pada hari Kamis (25/8), kami juga mengadakan acara buka bersama dengan siswa MTS Al Marjan,” terang Aep.</p>
<p>Pemberian santunan ini mendapat tanggapan dari salah seorang mustahik bernama Endah, warga Kampung Cigeulis. Endah yang datang bersama anak semata wayangnya mengaku sangat berterima kasih kepada Yayasan Ponpes Al Marjan. Ia mendoakan kegiatan seperti ini tetap diadakan setiap tahunnya. “Alhamdulillah, meski tidak besar tapi bisa membantu untuk kebutuhan sehari seperti beli sembako. Karena sekarang selama mendekati Lebaran ini semua barang kebutuhan rumah harganya pada naik,” ujarnya. (HB)</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/29/al-marjan-santuni-kaum-dhuafa-dan-anak-yatim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WARGA KELUHKAN KUALITAS AIR CIMANGEUNTENG</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/19/warga-keluhkan-kualitas-air-cimangeunteng/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/19/warga-keluhkan-kualitas-air-cimangeunteng/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Aug 2011 23:52:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[kelhuhkan]]></category>
		<category><![CDATA[warga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4844</guid>
		<description><![CDATA[CIPANAS &#8211; Sejumlah warga di 4 Desa yakni Sipayung, Luhur Jaya, Sukamaju, dan Bintangresmi, Kecamatan Cipanas, mengeluhkan kualitas air sungai Cimangeunteng yang bermuara di sepanjang ke empat desa tersebut. Mereka menengarai aktivitas penambangan emas dan batu di Gunung Gede, Kabupaten Bogor, menjadi penyebabnya. Asep, salah seorang warga Kampung Lurah, Desa Sipayung, mengatakan, setiap kali sungai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/08/Cimangeunten.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4846" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/08/Cimangeunten.jpg" alt="" width="250" height="188" /></a>CIPANAS &#8211; Sejumlah warga di 4 Desa yakni Sipayung, Luhur Jaya, Sukamaju, dan Bintangresmi, Kecamatan Cipanas, mengeluhkan kualitas air sungai Cimangeunteng yang bermuara di sepanjang ke empat desa tersebut. Mereka menengarai aktivitas penambangan emas dan batu di Gunung Gede, Kabupaten Bogor, menjadi penyebabnya.<span id="more-4844"></span></p>
<p>Asep, salah seorang warga Kampung Lurah, Desa Sipayung, mengatakan, setiap kali sungai sedang pasang, ikan emas miliknya yang dikrangkeng (dikurung ditengah sungai) mati. Hal itu diduga karena air sungai Cimangeunteng sudah terkontaminasi zat beracun seperti air raksa atau kuik. “Tiap banjir datang ikan saya selalu ada yang mati,” kata Asep.</p>
<p>Serupa dikatakan Nazmudin. Menurut warga Kampung Taleus, Desa Luhur Jaya ini, sejak air sungai Ciamangeunteng diduga terkena racun limbah. Warga kerap kesulitan mendapatkan air bersih dan tidak berani mengkonsumsi air sungai Cimangeunteng. “Pernah waktu itu di coba rasanya agak ketar, kurang enak, kurang menyehatkan badan dan airnya gatal,” katanya.</p>
<p>Oleh karena itu, ketua KNPI Cipanas ini meminta pemerintah daerah agar menindak pelaku penambang tersebut, apapun statusnya. Sebab, kata Nazmudin, dampak aktivitas penambang tersebut sudah membuat masyarakat menjadi kesulitan. (HB)</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/19/warga-keluhkan-kualitas-air-cimangeunteng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HARGA SEMBAKO MASIH STABIL</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/19/harga-sembako/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/19/harga-sembako/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Aug 2011 23:49:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[harga]]></category>
		<category><![CDATA[sembako]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4840</guid>
		<description><![CDATA[CIPANAS &#8211; Kendati bulan puasa sudah memasuki hari ke-15, namun harga kebutuhan sembako di Pasar Tradisional Gajrug, Kecamatan Cipanas, relatif stabil. Pantauan di lokasi, Senin (15/8), harga sembako tersebut seperti, daging kerbau dan sapi per kilogram Rp 65 ribu, telur ayam per kilogram Rp 17 ribu, minyak sayur curah per liter Rp 8.500, gula putih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/08/sembako.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-4841" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/08/sembako.gif" alt="" width="200" height="137" /></a>CIPANAS &#8211; Kendati bulan puasa sudah memasuki hari ke-15, namun harga kebutuhan sembako di Pasar Tradisional Gajrug, Kecamatan Cipanas, relatif stabil. Pantauan di lokasi, Senin (15/8), harga sembako tersebut seperti, daging kerbau dan sapi per kilogram Rp 65 ribu, telur ayam per kilogram Rp 17 ribu, minyak sayur curah per liter Rp 8.500, gula putih Rp 5 ribu perkilogram, gula merah perkilogram Rp 4 tibu, minyak kemasan merek Sanco perliter Rp 13 ribu, dan minyak sayur kemasan bimoli perliter Rp 14 ribu.</p>
<p>H Dadi, penjual daging kerbau, mengatakan, harga daging kerbau sejak awal puasa belum menunjukkan  kenaikan yang signifikan. Kendati demikian, tak mempengaruhi terhadap omset perharinya. “Hanya waktu mungga (awal-red) puasa harga daging kerbau naik dari Rp 60 ribu perkilogram menjadi Rp 70 ribu. Itu pun cuma bertahan dua hari saja. Setelah itu kembali lagi ke semula yaitu  Rp 65 ribu,” katanya.<span id="more-4840"></span></p>
<p>Meski demikian, ia memprediksi harga daging kerbau dan sembako lainnya akan kembali melonjak bila sudah memasuki atau menjelang lebaran tiba. “Harga daging dipastikan akan naik lagi, kalau sudah dekat hari lebaran dan itu sudah biasa terjadi,” katanya.</p>
<p>Sementara itu, harga sayuran pun tak beranjak. Contohnya, harga cabe merah perkilogram Rp 15 ribu, wortel dan kol Rp 5 ribu perkilogram, bawang merah perkilogram Rp 10 ribu, dan kentang Rp 9 ribu perkilogram. Tetapi, harga bumbu seperti merica dan kemiri masih tinggi. Harga kedua komoditi tersebut sampai saat ini Rp 80 ribu, semula Rp 65 ribu, dan Rp 30 ribu perkilogram, dan sebelumnya Rp 26 ribu. “Walaupun naik sejak bulan Juli, kemiri dan merica pembelinya masih relatif,” kata H Sarah. (HB)</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/19/harga-sembako/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PAPAN NAMA PROYEK PUSKESMAS CIPANAS DIPASANG</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/13/papan-nama-proyek-puskesmas-cipanas-dipasang/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/13/papan-nama-proyek-puskesmas-cipanas-dipasang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 09:31:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[nama]]></category>
		<category><![CDATA[papan]]></category>
		<category><![CDATA[proyek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4837</guid>
		<description><![CDATA[CIPANAS&#8212;Rehabilitasi UPTD Puskesmas Cipanas di jalan raya Gajrug-Muncang, kilometer 0.5, atau Kampung Pasir Manggu, Desa Haurgajrug, Kecamatan Cipanas, sudah dipasang papan nama proyek. Pantauan di lokasi, Juma’at (12/8), papan nama proyek sudah terpasang di bagian dinding depan Puskesmas yang sedang direhab. Beberapa pekerja pun tengah melakukan aktivitasnya. Dalam papan nama tersebut tercantum No 22/Kep-PPK/SPKP/VI/2011. Tanggal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/08/PICT3002.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4838" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/08/PICT3002.jpg" alt="" width="250" height="188" /></a>CIPANAS&#8212;Rehabilitasi UPTD Puskesmas Cipanas di jalan raya Gajrug-Muncang, kilometer 0.5, atau Kampung Pasir Manggu, Desa Haurgajrug, Kecamatan Cipanas, sudah dipasang papan nama proyek. Pantauan di lokasi, Juma’at (12/8), papan nama proyek sudah terpasang di bagian dinding depan Puskesmas yang sedang direhab. Beberapa pekerja pun tengah melakukan aktivitasnya.</p>
<p>Dalam papan nama tersebut tercantum No 22/Kep-PPK/SPKP/VI/2011. Tanggal pelaksanaan di mulai dari 28 Juni 2011, dengan waktu pelaksanaan 120 hari kalender. Lokasinya di Kecamatan Cipanas, dengan jenis kegiatan rehabilitasi puskesmas perawatan. Sedangkan pekerjaan rehabilitasi di Puskesmas DTP Cipanas, dengan biaya anggaran Rp 249 juta, yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) Kabupaten Lebak. Sebagai pelaksana kegiatan PT Anggraeni Laksana Jaya.</p>
<p>Pemasangan papan nama proyek tersebut diduga lantaran ada teguran dari Dinkes Lebak kepada pihak rekanan pelaksana rehabilitasi gedung Puskesmas Cipanas, Kamis (11/8). Rabu (10/8), sejumlah warga mempertanyakan kegiatan rehabilitasi tersebut, karena tanpa papan nama proyek, sehingga terkesan tidak transparan.</p>
<p>Kepala UPTD Puskesmas Cipanas Suripto mengatakan, papan nama proyek dipasang oleh pihak rekanan pelaksana kegiatan atau pemborong yakni, PT Anggraeni Laksana Jaya. “Pemasangan papan nama proyek dilakukan Kamis sore,” kata Suripto. (HB)</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/13/papan-nama-proyek-puskesmas-cipanas-dipasang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

