rumahdunia | Warta Banten | August 11th, 2011 | No Comments »
CIPANAS—Akibat musim kemarau, sejumlah warga Kecamatan Cipanas mengalami kesulitan air bersih. Air sumur atau jet pump yang biasa dijadikan sumber andalan, namun semenjak musim panas ini warga terpaksa memanfaatkan air sungai yang terdapat di sekitar tempat tinggal mereka. Hal itu terlihat di Sungai Cimangeunteng, Kampung Sukamaju, Desa Talagahiang, Kecamatan Cipanas, Selasa (9/8). Tidak sedikit warga menggunakan air sungai untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus. Padahal kondisi air sungai tampak keruh dan kotor, karena dipenuhi oleh sampah rumah tangga.
Hj. Bay Jubaedah, warga Kampung Sukamaju, Desa Talagahiang, mengatakan, krisis air bersih yang melanda kampungnya sudah berlangsung sejak sepuluh hari lalu. Akibatnya, ia harus membeli air bersih untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya, terutama pada bulan Ramadhan ini. “Sejak sumur di rumah kering, saya tidak lagi bisa memasak air. Untuk keperluan air minum saya membeli air aqua yang harganya mencapai tiga belas ribu rupiah. Sedangkan air satu galon hanya mencukupi untuk dua hari,” kata Bay.
Hal senada dikatakan Oon, ibu beranak 2 ini mengatakan, semenjak sumur jet pump-nya kering. Segala aktivitas dan kebutuhan sehari-harinya terpaksa harus memanfaatkan aliran sungai Cimangeunteng yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Ia mengakui bahwa menggunakan air sungai yang kotor rawan penyakit. “Ya mesti gimana lagi, sumurnya kering, jet pump juga tersendat-sendat. Tapi kalau untuk kebutuhan air minum saya sering minta ke saudara saya yang tinggal di dekat rumah,” kata Oon.
Kepala Desa Talagahiang Dede Kurnia Halim mengakui, banyak warganya yang kekurangan air bersih lantaran musim kemarau. Akibatnya mereka memanfaatkan air yang seadanya. “Berharap pemerintah bisa memfasilitasi masalah kesulitan air bersih di Desa kami, dengan membangun sarana air bersih. Oleh karena, air merupakan kebutuhan primer untuk keperluan sehari-hari,” ujar Dede. (HB)
rumahdunia | Warta Banten | August 11th, 2011 | No Comments »
CIPANAS—PGRI Cabang Cipanas menyatakan sikap netral dalam ajang pemilukada bakal calon gubernur dan wakil gubernur yang digelar pada 22 Oktober mendatang. Hal itu diungkapkan oleh Ketua PGRI Cabang Cipanas Abdul Waseh Hasas, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (8/8).
Waseh merasa yakin seluruh anggota PGRI Cabang Cipanas akan bersikap netral dan tidak memihak pada salah satu bakal calon gubernur dan wakil gubernur. “Kalau ada salah seorang dari anggota kami, yang terjun ke politik praktis menjadi anggota tim sukses salah satu bakal calon, maka saya akan laporkan hal itu ke dewan kehormatan kabupaten,” tegas Waseh. lanjutkan membaca »
rumahdunia | Warta Banten | August 9th, 2011 | No Comments »
SERANG–Bulan puasa adalah bulan penuh berkah bagi ummat muslim yang menjalankan ibadah puasa. Setiap kegiatan yang berbau kebaikan dianggap ibadah. Fenomena yang terjadi dikalangan masyarakat ketika menjelang buka puasa, biasanya melakukan ngabuburit atau nyenyore kata orang Serang. Nyenyore ini sudah menjadi kegiatan tradisi di masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, Rumah Dunia memanfaatkan kegiatan nyenyore sebagai kegiatan yang positif dan cerdas, dengan cara mengajak masyarakat Banten berkumpul sambil berdiskusi tentang dunia kepenulisan. lanjutkan membaca »
rumahdunia | Warta Banten | August 8th, 2011 | No Comments »
CIPANAS—Sejumlah warga yang tinggal di bantaran Sungai Cimangeunteng, Kampung Sukamaju, Desa Talagahiang, meminta kepada Pemerintah Daerah Lebak agar memasang kawat bronjong atau pondasi turab di pesisir sungai tersebut. Hal itu, perlu dilakukan mengingat jarak tempat tinggal warga dengan sungai sangat dekat. Pantauan di lokasi, Sabtu (6/8), belasan rumah warga Kampung Sukamaju yang tinggal di bantaran sungai Cimangeunteng jaraknya sekitar 1 meter. Bahkan, ada beberapa tebing yang sudah tampak longsor. Kondisi itu sangat memungkinkan terjadinya longsor bila musim hujan datang dan di saat sungai tengah pasang. lanjutkan membaca »
rumahdunia | Warta Banten | August 8th, 2011 | No Comments »
CIPANAS—SDN 2 Haurgajrug terletak di kampung Nanggerang, Desa Haurgajrug, Kecamatan Cipanas. Di sekolah itu, baru ada 7 ruang; 5 ruang untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa, 1 kantor guru, dan 1 ruang perpustakaan. Lima ruang kelas yang ada, 2 diantaranya kondisinya mengkhawatirkan. Dua ruang itu yakni ruang kelas 1 dan 3. Pantauan di lokasi, Jumat (5/8), kedua ruangan itu, kayu langit rumahnya sudah banyak yang lapuk atau kropos. Itu dibuktikan dengan plaponnya sudah ada yang jebol. lanjutkan membaca »