<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; Warta Banten</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/category/z2-warta-banten/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 13:56:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>WISATA BADUY: LINDUNGI ALAM DAN AMALKAN BUDAYA LELUHUR</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2012/05/22/wisata-baduy-lindungi-alam-dan-amalkan-budaya-leluhur/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2012/05/22/wisata-baduy-lindungi-alam-dan-amalkan-budaya-leluhur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 May 2012 13:56:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[Baduy]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4906</guid>
		<description><![CDATA[RANGKASBITUNG &#8211; Kabupaten Lebak memiliki beragam objek wisata. Wisata pantai tersebar di Lebak Selatan seperti Pantai Sawarna, Bagedur, Binuangen, dan Taraje. Sementara wisata pemandian air panas dan Arung Jeram Ciberang terletak di Kecamatan Cipanas dan Lebak Gedong. Untuk wisata ziarah bisa datang di pemakaman Wong Sagati di Kecamatan Sajira. Sedangkan wisata sejarah seperti rumah tua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="JUSTIFY"><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2012/05/baduy1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4908" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2012/05/baduy1.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a>RANGKASBITUNG &#8211; Kabupaten Lebak memiliki beragam objek wisata. Wisata pantai tersebar di Lebak Selatan seperti Pantai Sawarna, Bagedur, Binuangen, dan Taraje. Sementara wisata pemandian air panas dan Arung Jeram Ciberang terletak di Kecamatan Cipanas dan Lebak Gedong. Untuk wisata ziarah bisa datang di pemakaman Wong Sagati di Kecamatan Sajira. <span id="more-4906"></span>Sedangkan wisata sejarah seperti rumah tua Multatuli di Kota Rangkasbitung, meski saat ini kondisinya tidak terawat. Situs Cibedug dan Kosala bisa dijempuai di Kecamatan Citeroek dan Lebak Gedong. Begitu pun wisata Curug atau air terjun, salah satunya Curug Cimayang yang terletak di Kecamatan Bojongmanik. Namun di antara objek wisata tersebut ada yang tak kalah menarik yaitu wisata Budaya Baduy. Wisata Budaya Baduy terletak di pedalaman Lebak, persisnya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar. Untuk sampai ke sana diperkirakan membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam, karena jarak tempuhnya sekira 125 kilometer dari Jakarta.</p>
<p align="JUSTIFY">Jika menggunakan jasa transportasi kereta api dari Jakarta turun di Stasiun Kota Rangkasbitung. Rute selanjutnya menuju Terminal Aweh menggunakan jasa angkutan umum. Masih menggunakan jasa angkutan umum jenis elf turis menuju ke Ciboleger, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar. Sedangkan dengan angkutan umum dari Jakarta menuju Terminal Mandala, Rangkasbitung. Kemudian lanjut ke Terminal Aweh menggunakan angkut umum. Dari Terminal Aweh bisa menggunakan angkutan umum jenis elf untuk sampai di perbatasan Ciboleger, Desa Kanekes.</p>
<p align="JUSTIFY">Wisata Baduy sangat potensial dan tak aneh jika objek wisata ini kerap dikunjungi turis wisatawan baik lokal ataupun mancanegara. Setiap tahun terus menunjukkan angka penambahan pengunjung. Berdasarkan data dari Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Lebak, pada tahun 2011 tercatat 6.469 pengunjung yang menyambangi Baduy.</p>
<p align="JUSTIFY">“Dari 6.469 pengunjung itu sekira 120-an wisatawan mancanegara. Itu mengindikasikan daya tarik wisata Baduy masih diminati masyarakat,” ujar Kabid Pariwisata Disporabudpar Lebak Jujum Riyadi ditemui di kantornya, Senin (21/5).</p>
<p align="JUSTIFY">Karena itu, lanjut Jujum, Pemerintah Daerah Lebak melalui Disporabudpar akan terus meningkatkan jumlah wisatawan untuk menggali Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor wisata adat Baduy. “Tahun kemarin, PAD dari Baduy Rp 5 juta. Tahun 2012 targetnya menjadi Rp 6 juta,” katanya.<br />
Ia mengatakan, pemerintah daerah telah mengoptimalkan promosi-promosi budaya adat Baduy melalui pameran pembangunan baik ditingkat Lebak atau Provinsi Banten serta media poster dan website Disporabudpar Lebak. “Supaya kunjungan wisatawan di sektor Baduy meningkat dan imbasnya PAD pun turut meningkat,” ucapnya.</p>
<p align="JUSTIFY">Jujum mengatakan, selama ini kunjungan wisatawan di pedalaman Baduy belum meningkat terutama wisatawan dari luar negeri. Kebanyakan, lanjut Jujum, wisatawan budaya melakukan penelitian kehidupan tatanan sosial warga Baduy sehingga didominasi oleh mahasiswa dari perguruan tinggi.</p>
<p align="JUSTIFY">“Kendala sarana dan prasarana infrastruktur jalan menuju kawasan Baduy. Kurang lebih sekira 22 kilometer dari Kota Rangkasbitung. Saya yakin, kalau sarana dan prasarananya bagus pasti akan mendongkrak kunjungan wisatawan baik dalam maupun luar negeri,” ujarnya.</p>
<p align="JUSTIFY">Kata Jujum, PAD dari sektor pariwisata tahun 2012 sebesar Rp 112.500.000. Sedangkan PAD tahun 2011 sebesar Rp 100 juta. Untuk itu pihaknya mengenakan retribusi sebesar Rp 2.500 per orang untuk pemasukan PAD.</p>
<p align="JUSTIFY">“PAD tahun 2011 dari sektor wisata Budaya Baduy Rp 5 juta, tahun ini naik Rp 6 juta karena itu untuk pemasukan PAD, sebab tahun-tahun sebelumnya warga Baduy menolak dengan penarikan retribusi tersebut,” ujarnya.</p>
<p align="JUSTIFY">Kepala Disporabudpar Lebak Saifullah Saleh mengatakan, wisata Baduy memiliki nilai tersendiri karena hingga kini masih mempertahankan budaya leluhur mereka. Mereka menolak hidup modernisasi seperti televisi, radio, naik kendaraan, jalan beraspal, rumah bertembok, dan pakai sepatu. Karena itu, lanjut Saifullah, masyarakat Baduy yang tinggal di kawasan pegunungan Kendeng tidak bisa dilalui berbagai jenis kendaraan. “Sebenarnya pemerintah ingin membantu seperti aliran jaringan listrik, tapi tidak bisa karena itu bertentangan dengan adat budaya mereka. Karena itu yang menjadi kendala bagi pemerintah daerah,” ujarnya.</p>
<p align="JUSTIFY">Senda dikatakan H. Kasmin, tokoh masyarakat Baduy yang kini menjadi anggota DPRD Provinsi Banten. Kata Kasmin, warga Baduy sangat menjunjung tinggi nilai-nilai dan adat istiadat leluhurnya. Bahkan, kata Kasmin, ada pribahasa orang Baduy, “Panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh dipotong”. “Artinya yang benar katakan dengan sebenarnya, yang salah katakan salah. Pepatah tua itu sampai sekarang masih tetap dipertahankan. Meskipun sekarang ini ada sekelompok warga Baduy yang sudah memiliki alat elektronik seperti Hp, tetapi itu sebagian kecilnya,” kata Kasmin.</p>
<p align="JUSTIFY">Mustofa, salah seorang <em>b</em><em>ackpacker</em> asal Pontianak mengaku terpesona terhadap wisata budaya Baduy. “Suku adat Baduy merupakan salah satu potensi wisata alam di Indonesia yang potensial. Warga Baduy sangat menjaga ketentraman budaya leluhurnya yang masih tetap dilestarikan. Maka tidak salah bila saya atau turis baik dari domestik atau luar negeri ingin belajar tata cara hidup kerukunan di sini,” ujar Mustofa. (harir/zen)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2012/05/22/wisata-baduy-lindungi-alam-dan-amalkan-budaya-leluhur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGGIATKAN LITERASI DARI LUAR NEGERI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2012/05/01/menggiatkan-literasi-dari-luar-negeri/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2012/05/01/menggiatkan-literasi-dari-luar-negeri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 May 2012 14:26:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etalase]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[giat]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi]]></category>
		<category><![CDATA[luar]]></category>
		<category><![CDATA[negeri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4900</guid>
		<description><![CDATA[Tidak ada yang berbeda pada sepasang remaja yang dikenalkan oleh temanku itu. Mereka terlihat seperti orang Indonesia pada umumnya yang berkulit sawo matang. Perbedaan yang sangat nyata baru kurasakan ketika beberapa saat kemudian bertengkar memperebutkan sesuatu. Gagap Berbahasa Indonesia Bahasa yang mereka gunakan bukan bahasa Indonesia, bahasa Sunda, atau bahasa daerah lainnya, tapi bahasa Inggris. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small"><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2012/05/2-Duber-Deddy1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4902" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2012/05/2-Duber-Deddy1.jpg" alt="" width="828" height="613" /></a>Tidak ada yang berbeda pada sepasang remaja yang dikenalkan oleh temanku itu. Mereka terlihat seperti orang Indonesia pada umumnya yang berkulit sawo matang. Perbedaan yang sangat nyata baru kurasakan ketika beberapa saat kemudian bertengkar memperebutkan sesuatu.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small"><strong>Gagap Berbahasa Indonesia</strong></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Bahasa yang mereka gunakan bukan bahasa Indonesia, bahasa Sunda, atau bahasa daerah lainnya, tapi bahasa Inggris. Dan bahasa Inggris yang tertumpah dari kedua mulut dua anak remaja tanggung itu bukan sekedar bahasa Inggris, tapi bahasa Inggris dengan aksen British yang sangat kental. Saya hanya bisa melongo dan mencoba menyimak sebentar pertengkaran mereka yang lumayan seru, walau pun pada akhirnya saya menyerah, ketika mereka sudah bicara terlalu cepat. Ayah mereka pun hanya bisa tersenyum simpul melihat saya yang berusaha keras memicingkan telinga untuk sekedar menangkap kata- kata yang berhamburan dari kedua anaknya.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Timbul pertanyaan pada diri saya, apakah jika suatu saat mereka kembali ke tanah air, mereka bisa berkomunikasi dengan baik dengan bahasa Ibunya?</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Berbicara bahasa Ibunya pun mereka sudah kepayahan, apalagi merambah jauh ke dalam dunia literasi yang memerlukan kemampuan berbahasa yang bukan sekedar seadanya dan “asal bisa nyambung”.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Mungkin saja orangtuanya memang mempunyai rencana jangka panjang agar anaknya kelak memang akan bekerja dan hidup di luar negeri seperti mereka. Dan sangat mungkin juga mereka memang berniat untuk berdiaspora di negeri orang, pergi tak kembali.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small"><strong>Jangan Melupakan Jati Diri</strong></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Biar bagaimana pun, dan selama apa pun, para ekspatriat Indonesia yang bekerja di luar negeri ini tetap adalah orang Indonesia, walau pun sudah tidak menjadi Warga Negara Indonesia lagi. Suatu saat, mereka akan ingat bahwa mereka lahir di Indonesia, atau hanya sekedar memiliki orang tua Indonesia, dan pernah menginjakkan kaki di Indonesia.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Mereka bisa sangat bangga ketika bisa mengajari anak- anaknya untuk mementaskan kesenian daerah, atau memakaikan pakaian adat di International Day sekolah anak- anaknya.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Mereka sangat bangga karena memiliki keragaman budaya yang luar biasa yang membuat warga negara lain terkagum- kagum dan terpesona.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Mereka sangat bangga ketika para karya para fotografer professional memajang  keindahan alam Indonesia yang luar biasa di sebuah galeri seni paling terkenal di Qatar.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Perasaan bangga yang luar biasa juga ketika kalimat “ from Indonesia” terdengar setelah salah seorang warga negara Indonesia memenangi sebuah penghargaan fotografi paling bergengsi di Qatar.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Akan ada perasaan rindu untuk pulang. Akan ada perasaan ingin membantu memperbaiki kondisi Indonesia ke arah yang lebih baik ketika membaca berita- berita buruk tentang tanah airnya di media online dan televisi.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small"><strong>Memulai Perubahan dari Luar Negeri</strong></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Tahun 2007, di tempat saya bekerja, orang Indonesia tidak lebih dari 25 orang. Tapi sekarang, sudah lebih dari seratus orang. Sejak itu pula, dimulailah “eksodus” kecil-kecilan tenaga kerja professional dari Indonesia. Walau pun tidak sebanyak orang India dan Filipina,<br />
tapi sejak saat itu keberadaan tenaga kerja professional asal Indonesia mulai diperhitungkan.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Berdasarkan data dari KBRI Doha, di Qatar ada 35.000 tenaga kerja Indonesia yang 6000 di antaranya adalah tenaga kerja profesional, yang menjabat level teknisi sampai level manajerial di perusahaan-perusahaan yang tersebar di Qatar.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Ini adalah potensi yang luar biasa besar.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Setelah KBRI Doha memfasilitasi kegiatan “Gempa Literasi Asia” bersama Gol A Gong dan Tias Tatanka, tiba-tiba muncul secercah harpan. Apalagi ketika pada Senin, 23 April 2012, Gong dan Tias menginisiasi Perayaan Hari Buku se-Dunia, di Aspire Park, Doha, dimana sekitar 100-an professional Indonesia mendeklarasikan 3 hal; harus mengusasai bahasa asing, jangan melupakan bahasa nasional dan daerah, serta menghapus stigma negeri pembantu, timbul gagasan besar di dalam pikiran saya.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Saya merasa bahwa ini adalah saatnya menggaungkan “Gerakan Literasi Dunia Menuju Indonesia Membaca”, yang digawangi oleh orang – orang Indonesia yang bekerja dan tersebar di seluruh dunia.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Dengan kekuatan finansial dan tidak ada lagi istilah “jatah buku berebut dengan jatah beras”, seharusnya para orang tua yang bekerja di luar negeri bisa mengenalkan dunia literasi kepada anak- anaknya.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Menyediakan perpustakaan pribadi yang berisi buku- buku karya penulis Indonesia, dari zaman Angkatan 45 sampai zaman Raditya Dika seharusnya tidak sulit. Agar anak- anak mereka tahu dan mengenal bangsanya lewat karya sastra, dan mungkin kelak akan memberi pengaruh besar untuk kemajuan bangsa Indonesia dengan perannya masing- masing.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Dengan kekuatan finansial ini juga, mereka seharusnya bisa berperan lebih besar dengan membuat taman bacaan gratis di lingkungan kampung halaman mereka.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Siapa yang tahu kalau ternyata perubahan Indonesia yang lebih baik malah dimulai dari gerakan- gerakan literasi dari orang- orang Indonesia yang tinggal di luar negeri.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">Tidak hanya menambah devisa negara dengan mentransfer puluhan juta rupiah setiap bulan, tapi kita juga bisa menggiatkan dunia literasi di luar negeri untuk merubah bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik. (*)</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">*) Diday Tea, salah seorang tenaga kerja professional Indonesia di Qatar, dan ambassador Rumah Dunia.<br />
</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif"><span style="font-size: small">26 April 2012</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2012/05/01/menggiatkan-literasi-dari-luar-negeri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Duta Satria Pecundangi Garuda</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2012/03/19/duta-satria-pecundangi-garuda/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2012/03/19/duta-satria-pecundangi-garuda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Mar 2012 08:25:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[duta]]></category>
		<category><![CDATA[pecundangi]]></category>
		<category><![CDATA[satria]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4887</guid>
		<description><![CDATA[Rangkasbitung &#8211; Tim basket Duta Satria berhasil mengalahkan tim basket Garuda dengan skor 39-26. Pertandingan final yang digelar di lapangan basket Alun-alun Kota Rangkasbitung, Minggu (18/3) sore, itu adalah turnamen Basket Open Competition (BOC) 2012. Jalannya pertandingan, kendati digelar di Rangkasbitung, namun tak membuat nyali para pemain basket Duta Satria ciut. Memang, di kuarter pertama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2012/03/basketball-pic-2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4888" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2012/03/basketball-pic-2.jpg" alt="" width="269" height="300" /></a>Rangkasbitung &#8211; </strong>Tim basket Duta Satria berhasil mengalahkan tim basket Garuda dengan skor 39-26. Pertandingan final yang digelar di lapangan basket Alun-alun Kota Rangkasbitung, Minggu (18/3) sore, itu adalah turnamen Basket Open Competition (BOC) 2012.</p>
<p>Jalannya pertandingan, kendati digelar di Rangkasbitung, namun tak membuat nyali para pemain basket Duta Satria ciut. Memang, di kuarter pertama dan kedua tim basket kebanggan masyarakat Rangkasbitung itu sempat memimpin hingga skor 11-16 untuk tim basket Garuda. Namun, di sisa kuarter tim basket asal Kota Serang membalikkan keadaaan dan mengubah skor yang kemudian berujung kemenangan untuk Duta Satria. <span id="more-4887"></span></p>
<p>Pelatih Duta Satria, Aan seusai laga mengatakan, kemenangan timnya tak lepas buah dari kerja keras seluruh pemain yang menerapkan counter attack yang cepat. “Dikuarter pertama dan kedua kami sempat kehilangan banyak poin, sehingga tim lawan berhasil merebut di dua kuarter tersebut. Namun, saya terus memotivasi para pemain meskipun lawan didukung penuh masyarakat Rangkasbitung,” kata Aan.</p>
<p>Sementara itu Bontang, pelatih tim basket Garuda mengatakan, kegagalan timnya meriah juara karena para pemainnya kurang sabar dalam penyelesaian akhir, sehingga banyak poin yang terbuang sia-sia. Selain itu, pemain lawan secara pengalaman di atas para pemain basket Garuda.<br />
“Walaupun kami hanya jadi finalis, namun kami cukup puas. Apalagi lawan yang kita hadapi adalah lawan yang memiliki jam terbang lebih banyak ketimbang tim kami. Semoga kegagalan ini tidak membuat putus asa para pemain kami, karena target kami adalah ingin memiliki tim basket di Kota Rangkasbitung yang mumpuni,” ujarnya.</p>
<p>Ketua panitia acara Hilda mengatakan, BOC 2012 merupakan turnamen kali pertama yang diselenggarakan Nida Production. Turnamen basket yang diikuti sebanyak 38 tim bola basket se-Banten ini bertujuan untuk memberikan motivasi dan kontribusi bagi para peminat olahraga basket, serta sebagai langkah untuk mengembangkan potensi dan prestasi, khususnya untuk para atlet di Lebak, dan umumnya Banten. “Diharpakan muncul atlet-atlet muda berbakat di Kabupaten Lebak dan sekitarnya,” kata Hilda.</p>
<p>Diungkapkan Hilda, ada tiga kategori yang dipertandingkan, yakni tingkat pelajar SMP, SMA dan open atau club. Untuk kategori SMP, tim basket SMPN 4 Rangkasbitung berhasil keluar sebagai juara pertama. Sementara finaslis diraih tim basket SMPN 2 Sajira. Untuk kategori SMA, tim basket putra SMKN 1 Rangkasbitung berhasil menjadi yang terbaik setelah mengandaskan tim basket putra SMA Darussaadah, Cimarga. Sedangkan untuk kategori putri SMA, karena lawan yang dihadapi tingkat SMP, sehingga SMKN 1 Rangkasbitung tak menemui kesulitan ketika melawan tim basket putri SMPN 2 Sajira. Sementara untuk tingkat club, tim basket Duta Satria asal Kota Serang berhasil mengandaskan tim basket tuan rumah Garuda dengan skor 39-26. “Bagi para pemenang akan mendapatkan tropi, sertifikat, dan uang pembinaan sesuai tingkatnya,” pungkas Hilda. (harir/zen)</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2012/03/19/duta-satria-pecundangi-garuda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HARGA SEMBAKO BELUM STABIL</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2011/09/05/harga-sembako-belum-stabil/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2011/09/05/harga-sembako-belum-stabil/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2011 14:15:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[belum]]></category>
		<category><![CDATA[sembako]]></category>
		<category><![CDATA[stabil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4857</guid>
		<description><![CDATA[CIPANAS&#8211;Sampai H+5 ini atau seusai Idul Fitri 1432 H, harga kebutuhan pokok di Pasar Tradisional Gajrug, Desa Bintangresmi, Kecamatan Cipanas, masih stagnan alias belum menggembirakan bagi para konsumen. Sembako seperti beras masih bertahan di angka Rp 9 ribu per kilogram untuk kualitas bagus dan beras harga sedang Rp 7800 per kilogram. Begitupun harga  gula pasir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/09/Sembako.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4858" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/09/Sembako.jpg" alt="" width="250" height="188" /></a>CIPANAS&#8211;Sampai H+5 ini atau seusai Idul Fitri 1432 H, harga kebutuhan pokok di Pasar Tradisional Gajrug, Desa Bintangresmi, Kecamatan Cipanas, masih stagnan alias belum menggembirakan bagi para konsumen. Sembako seperti beras masih bertahan di angka Rp 9 ribu per kilogram untuk kualitas bagus dan beras harga sedang Rp 7800 per kilogram. Begitupun harga  gula pasir Rp 11 ribu, minyak sayur curah per liter Rp 10 ribu, ayam potong Rp 30 ribu, ayam merah Rp 38 ribu, daging sapi dan kerbau masih bertahan di nominal Rp 70 ribu.</p>
<p>Sementara itu, harga sayuran seperti tomat per kilogram Rp 4 ribu, cabe rawit Rp 6 ribu per kilogram, cabe kriting Rp 12 ribu per kilogramnya, kentang Rp 8 ribu per kilogram, bawah merah per kilogram Rp 10.</p>
<p>H Muhyi, pedagang daging kerbau mengatakan, belum stabilnya harga daging karena kebutuhan warga terhadap daging masih cukup tinggi dan pasokan daging terbatas. “Setelah lebaran ini banyak warga yang sedang hajat nikahan atau khitanan sehingga peminatnya masih tinggi,” ujarnya, Senin (5/9)</p>
<p>Senada dikatakan Rudi. Menurutnya, harga beras makin tinggi karena para petani belum bisa menanam padi di musim kemarau. “Selain itu, pasokan dari pusat atau agen juga lagi terbatas. Wajar kalau harganya belum turun sepenuhnya,” kata Rudi. (HB).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2011/09/05/harga-sembako-belum-stabil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SAMPAH DI PASAR GAJRUG MENUMPUK</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2011/09/05/sampah-di-pasar-gajrug-menumpuk/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2011/09/05/sampah-di-pasar-gajrug-menumpuk/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2011 14:12:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[melonjak]]></category>
		<category><![CDATA[sampah]]></category>
		<category><![CDATA[tinggi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4852</guid>
		<description><![CDATA[CIPANAS&#8211;Akibat tak kunjung diangkut, sampah di Pasar Tradisional Gajrug, Desa Bintangresmi, Kecamatan Cipanas menumpuk. Pantauan di lapangan, Senin (5/9), tumpukan sampah teronggok dipinggir jalan raya Gajrug-Muncang, tepatnya di depan pasar Gajrug. Hal ini diperparah dengan banyaknya pedagang yang menempati trotoar sebagai tempat jualannya, sehingga jika musim hujan dating, dipastikan drainase sisa sampah akan menyumbat saluran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/09/Sampah.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4854" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/09/Sampah.jpg" alt="" width="250" height="188" /></a>CIPANAS&#8211;Akibat tak kunjung diangkut, sampah di Pasar Tradisional Gajrug, Desa Bintangresmi, Kecamatan Cipanas menumpuk. Pantauan di lapangan, Senin (5/9), tumpukan sampah teronggok dipinggir jalan raya Gajrug-Muncang, tepatnya di depan pasar Gajrug. Hal ini diperparah dengan banyaknya pedagang yang menempati trotoar sebagai tempat jualannya, sehingga jika musim hujan dating, dipastikan drainase sisa sampah akan menyumbat saluran air.</p>
<p>Nanang, pedagang di pasar tersebut memperkirakan tumpukan sampah itu sudah ada sejak sebelum Idul Fitri 1432 H, dan hingga H+5 ini tak kunjung diangkut oleh petugas pasar setempat. “Ya jelas sangat tidak nyaman. Ini kan mengganggu kesehatan dan juga bisa berpengaruh kepada masyarakat yang akan belanja karena baunya menyengat,” ujar Nanang.<span id="more-4852"></span></p>
<p>Serupa dikatakan Asep. Menurut pedagang ayam potong ini, biasanya 2 atau 3 hari sekali petugas kebersihan Pasar Gajrug mengangkut sampah yang kemudian membawanya ke daerah Jurukalam di Kecamatan Curugbitung. “Kami berharap pemerintah memberikan bantuan dengan menyediakan tempat sampah dan mobil pengangkut sampah, sehingga sampah tidak terlalu lama didiamkan,” pinta Asep. (HB)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2011/09/05/sampah-di-pasar-gajrug-menumpuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AL MARJAN SANTUNI KAUM DHUAFA DAN ANAK YATIM</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/29/al-marjan-santuni-kaum-dhuafa-dan-anak-yatim/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/29/al-marjan-santuni-kaum-dhuafa-dan-anak-yatim/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2011 08:06:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[duafa]]></category>
		<category><![CDATA[kaum]]></category>
		<category><![CDATA[santuni]]></category>
		<category><![CDATA[Yatim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4848</guid>
		<description><![CDATA[CIPANAS&#8211;Bulan Ramadan adalah bulan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, yakni dengan memperbanyak amal ibadah. Momen tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh Yayasan Mulabaru Ponpes Al Marjan untuk saling berbagi kebahagiaan dengan sesama muslim. Tepatnya Jum’at (26/8) sore, di halaman Ponpes yang beralamat di Kampung Malangnengah, Desa Sukasari, Kecamatan Cipanas, dipenuhi oleh ratusan kaum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/08/C-1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4849" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/08/C-1.jpg" alt="" width="250" height="188" /></a>CIPANAS&#8211;Bulan Ramadan adalah bulan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, yakni dengan memperbanyak amal ibadah. Momen tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh Yayasan Mulabaru Ponpes Al Marjan untuk saling berbagi kebahagiaan dengan sesama muslim.</p>
<p>Tepatnya Jum’at (26/8) sore, di halaman Ponpes yang beralamat di Kampung Malangnengah, Desa Sukasari, Kecamatan Cipanas, dipenuhi oleh ratusan kaum dhuafa dan anak yatim berasal dari Kampung sekitar.<span id="more-4848"></span> Pada kesempatan itu, hadir Pengasuh Ponpes Al Marjan KH Tadjudin Azwari, Pimpinan Ponpes Al Marjan Didih M Sudih, Mudir’am Ponpes Al Marjan Ustad Syaepudin Asy Syadzily, ulama dan tokoh masyarakat lainnya.</p>
<p>Syaepudin Asy Syadzily, mewakili pimpinan ponpes mengatakan, pemberian santunan kepada kaum dhuafa dan anak yatim ini sebagai bentuk kepedulian dan berbagi kebahagiaan dengan sesama muslim. “Ini sudah menjadi agenda rutin Ponpes Al Marjan Mulabaru tiap tahun,” kata Syaepudin.</p>
<p>Aep menjelaskan, jumlah mustahik atau penerima zakat keseluruhannya sebanyak 160 orang, terdiri dari wanita jompo dan anak yatim. Pola pembagiannya, lanjut Aep, tidak disama ratakan. Wanita jompo mendapatkan satu bingkisan sedangkan anak yatim mendapat 2 amplop. “Karena statusnya anak yatim, maka kita kasih bingkisannya dua,” ujar Aep.</p>
<p>Program baksos yang didukung oleh Bazda Kabupaten Lebak ini juga memberikan bingkisan berupa baju kokoh dan sarung kepada 30 orang kuli bangunan Masjid Nurul Muhibin di Kampung Cigeulis. “Pada hari Kamis (25/8), kami juga mengadakan acara buka bersama dengan siswa MTS Al Marjan,” terang Aep.</p>
<p>Pemberian santunan ini mendapat tanggapan dari salah seorang mustahik bernama Endah, warga Kampung Cigeulis. Endah yang datang bersama anak semata wayangnya mengaku sangat berterima kasih kepada Yayasan Ponpes Al Marjan. Ia mendoakan kegiatan seperti ini tetap diadakan setiap tahunnya. “Alhamdulillah, meski tidak besar tapi bisa membantu untuk kebutuhan sehari seperti beli sembako. Karena sekarang selama mendekati Lebaran ini semua barang kebutuhan rumah harganya pada naik,” ujarnya. (HB)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/29/al-marjan-santuni-kaum-dhuafa-dan-anak-yatim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WARGA KELUHKAN KUALITAS AIR CIMANGEUNTENG</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/19/warga-keluhkan-kualitas-air-cimangeunteng/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/19/warga-keluhkan-kualitas-air-cimangeunteng/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Aug 2011 23:52:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[kelhuhkan]]></category>
		<category><![CDATA[warga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4844</guid>
		<description><![CDATA[CIPANAS &#8211; Sejumlah warga di 4 Desa yakni Sipayung, Luhur Jaya, Sukamaju, dan Bintangresmi, Kecamatan Cipanas, mengeluhkan kualitas air sungai Cimangeunteng yang bermuara di sepanjang ke empat desa tersebut. Mereka menengarai aktivitas penambangan emas dan batu di Gunung Gede, Kabupaten Bogor, menjadi penyebabnya. Asep, salah seorang warga Kampung Lurah, Desa Sipayung, mengatakan, setiap kali sungai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/08/Cimangeunten.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4846" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/08/Cimangeunten.jpg" alt="" width="250" height="188" /></a>CIPANAS &#8211; Sejumlah warga di 4 Desa yakni Sipayung, Luhur Jaya, Sukamaju, dan Bintangresmi, Kecamatan Cipanas, mengeluhkan kualitas air sungai Cimangeunteng yang bermuara di sepanjang ke empat desa tersebut. Mereka menengarai aktivitas penambangan emas dan batu di Gunung Gede, Kabupaten Bogor, menjadi penyebabnya.<span id="more-4844"></span></p>
<p>Asep, salah seorang warga Kampung Lurah, Desa Sipayung, mengatakan, setiap kali sungai sedang pasang, ikan emas miliknya yang dikrangkeng (dikurung ditengah sungai) mati. Hal itu diduga karena air sungai Cimangeunteng sudah terkontaminasi zat beracun seperti air raksa atau kuik. “Tiap banjir datang ikan saya selalu ada yang mati,” kata Asep.</p>
<p>Serupa dikatakan Nazmudin. Menurut warga Kampung Taleus, Desa Luhur Jaya ini, sejak air sungai Ciamangeunteng diduga terkena racun limbah. Warga kerap kesulitan mendapatkan air bersih dan tidak berani mengkonsumsi air sungai Cimangeunteng. “Pernah waktu itu di coba rasanya agak ketar, kurang enak, kurang menyehatkan badan dan airnya gatal,” katanya.</p>
<p>Oleh karena itu, ketua KNPI Cipanas ini meminta pemerintah daerah agar menindak pelaku penambang tersebut, apapun statusnya. Sebab, kata Nazmudin, dampak aktivitas penambang tersebut sudah membuat masyarakat menjadi kesulitan. (HB)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/19/warga-keluhkan-kualitas-air-cimangeunteng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HARGA SEMBAKO MASIH STABIL</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/19/harga-sembako/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/19/harga-sembako/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Aug 2011 23:49:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[harga]]></category>
		<category><![CDATA[sembako]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4840</guid>
		<description><![CDATA[CIPANAS &#8211; Kendati bulan puasa sudah memasuki hari ke-15, namun harga kebutuhan sembako di Pasar Tradisional Gajrug, Kecamatan Cipanas, relatif stabil. Pantauan di lokasi, Senin (15/8), harga sembako tersebut seperti, daging kerbau dan sapi per kilogram Rp 65 ribu, telur ayam per kilogram Rp 17 ribu, minyak sayur curah per liter Rp 8.500, gula putih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/08/sembako.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-4841" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/08/sembako.gif" alt="" width="200" height="137" /></a>CIPANAS &#8211; Kendati bulan puasa sudah memasuki hari ke-15, namun harga kebutuhan sembako di Pasar Tradisional Gajrug, Kecamatan Cipanas, relatif stabil. Pantauan di lokasi, Senin (15/8), harga sembako tersebut seperti, daging kerbau dan sapi per kilogram Rp 65 ribu, telur ayam per kilogram Rp 17 ribu, minyak sayur curah per liter Rp 8.500, gula putih Rp 5 ribu perkilogram, gula merah perkilogram Rp 4 tibu, minyak kemasan merek Sanco perliter Rp 13 ribu, dan minyak sayur kemasan bimoli perliter Rp 14 ribu.</p>
<p>H Dadi, penjual daging kerbau, mengatakan, harga daging kerbau sejak awal puasa belum menunjukkan  kenaikan yang signifikan. Kendati demikian, tak mempengaruhi terhadap omset perharinya. “Hanya waktu mungga (awal-red) puasa harga daging kerbau naik dari Rp 60 ribu perkilogram menjadi Rp 70 ribu. Itu pun cuma bertahan dua hari saja. Setelah itu kembali lagi ke semula yaitu  Rp 65 ribu,” katanya.<span id="more-4840"></span></p>
<p>Meski demikian, ia memprediksi harga daging kerbau dan sembako lainnya akan kembali melonjak bila sudah memasuki atau menjelang lebaran tiba. “Harga daging dipastikan akan naik lagi, kalau sudah dekat hari lebaran dan itu sudah biasa terjadi,” katanya.</p>
<p>Sementara itu, harga sayuran pun tak beranjak. Contohnya, harga cabe merah perkilogram Rp 15 ribu, wortel dan kol Rp 5 ribu perkilogram, bawang merah perkilogram Rp 10 ribu, dan kentang Rp 9 ribu perkilogram. Tetapi, harga bumbu seperti merica dan kemiri masih tinggi. Harga kedua komoditi tersebut sampai saat ini Rp 80 ribu, semula Rp 65 ribu, dan Rp 30 ribu perkilogram, dan sebelumnya Rp 26 ribu. “Walaupun naik sejak bulan Juli, kemiri dan merica pembelinya masih relatif,” kata H Sarah. (HB)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/19/harga-sembako/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PAPAN NAMA PROYEK PUSKESMAS CIPANAS DIPASANG</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/13/papan-nama-proyek-puskesmas-cipanas-dipasang/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/13/papan-nama-proyek-puskesmas-cipanas-dipasang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 09:31:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[nama]]></category>
		<category><![CDATA[papan]]></category>
		<category><![CDATA[proyek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4837</guid>
		<description><![CDATA[CIPANAS&#8212;Rehabilitasi UPTD Puskesmas Cipanas di jalan raya Gajrug-Muncang, kilometer 0.5, atau Kampung Pasir Manggu, Desa Haurgajrug, Kecamatan Cipanas, sudah dipasang papan nama proyek. Pantauan di lokasi, Juma’at (12/8), papan nama proyek sudah terpasang di bagian dinding depan Puskesmas yang sedang direhab. Beberapa pekerja pun tengah melakukan aktivitasnya. Dalam papan nama tersebut tercantum No 22/Kep-PPK/SPKP/VI/2011. Tanggal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/08/PICT3002.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4838" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/08/PICT3002.jpg" alt="" width="250" height="188" /></a>CIPANAS&#8212;Rehabilitasi UPTD Puskesmas Cipanas di jalan raya Gajrug-Muncang, kilometer 0.5, atau Kampung Pasir Manggu, Desa Haurgajrug, Kecamatan Cipanas, sudah dipasang papan nama proyek. Pantauan di lokasi, Juma’at (12/8), papan nama proyek sudah terpasang di bagian dinding depan Puskesmas yang sedang direhab. Beberapa pekerja pun tengah melakukan aktivitasnya.</p>
<p>Dalam papan nama tersebut tercantum No 22/Kep-PPK/SPKP/VI/2011. Tanggal pelaksanaan di mulai dari 28 Juni 2011, dengan waktu pelaksanaan 120 hari kalender. Lokasinya di Kecamatan Cipanas, dengan jenis kegiatan rehabilitasi puskesmas perawatan. Sedangkan pekerjaan rehabilitasi di Puskesmas DTP Cipanas, dengan biaya anggaran Rp 249 juta, yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) Kabupaten Lebak. Sebagai pelaksana kegiatan PT Anggraeni Laksana Jaya.</p>
<p>Pemasangan papan nama proyek tersebut diduga lantaran ada teguran dari Dinkes Lebak kepada pihak rekanan pelaksana rehabilitasi gedung Puskesmas Cipanas, Kamis (11/8). Rabu (10/8), sejumlah warga mempertanyakan kegiatan rehabilitasi tersebut, karena tanpa papan nama proyek, sehingga terkesan tidak transparan.</p>
<p>Kepala UPTD Puskesmas Cipanas Suripto mengatakan, papan nama proyek dipasang oleh pihak rekanan pelaksana kegiatan atau pemborong yakni, PT Anggraeni Laksana Jaya. “Pemasangan papan nama proyek dilakukan Kamis sore,” kata Suripto. (HB)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/13/papan-nama-proyek-puskesmas-cipanas-dipasang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>OKNUM MEMBUAT RESAH</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/13/oknum-membuat-resah/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/13/oknum-membuat-resah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 09:26:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[buat]]></category>
		<category><![CDATA[oknum]]></category>
		<category><![CDATA[resah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4833</guid>
		<description><![CDATA[CIPANAS&#8212;Kepala Desa Talagahiang Dede Kurnia Halim mengaku kerap didatangi oknum wartawan dan LSM yang meminta sejumlah uang. Hal itu membuat ia resah, karena oknum wartawan dan LSM tersebut acap kali mencari kesalahan atau alasan bahwa program pembangunan yang telah dilakukan tidak jelas. “Kemarin saja, empat orang oknum wartawan dan LSM datang ke rumah saya. Tujuan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/08/Kepala-Desa-Talagahiang-Dede-Kurnia-Halim.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4835" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/08/Kepala-Desa-Talagahiang-Dede-Kurnia-Halim.jpg" alt="" width="141" height="188" /></a>CIPANAS&#8212;Kepala Desa Talagahiang Dede Kurnia Halim mengaku kerap didatangi oknum wartawan dan LSM yang meminta sejumlah uang. Hal itu membuat ia resah, karena oknum wartawan dan LSM tersebut acap kali mencari kesalahan atau alasan bahwa program pembangunan yang telah dilakukan tidak jelas. “Kemarin saja, empat orang oknum wartawan dan LSM datang ke rumah saya. Tujuan mereka tidak jelas karena orientasinya ke uang, bukan untuk konfirmasi suatu pemberitaan,” kata Dede, ditemui di kediamannya, Jum’at (12/8).</p>
<p>Pria berstatus mahasiswa di STISIP Banten ini mengatakan, peristiwa didatangi sejumlah oknum wartawan dan LSM itu bukan kali pertama. Kepada lembaga atau instansi pemerintahan yang ada di Kecamatan Cipanas pun kerap mendatangi. Oleh karena itu, ia berharap kepada Pemerintah Daerah Lebak (Pemkab) dan Aparat Kepolisian untuk menertibkan oknum wartawan yang melanggar kode etik jurnalistik, dan juga oknum LSM yang sudah berubah fungsi menjadi pelanggar hukum. “Wartawan dan LSM ‘kan tugasnya kontrol social, bukan sebagai penyidik. Harusnya peran mereka bisa membantu masyarakat, bukan malah mencari kesalahan atau menakut-nakuti narasumber. Kalau memang menemukan kasus dugaan korupsi, silakan laporkan ke aparat hukum,” ujarnya. (HB)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2011/08/13/oknum-membuat-resah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

