Gola Gong | Laporan Utama | January 4th, 2011 | No Comments »
Ini masih cerita tentang kampungku bernama Banten. Janganlah berpikir mengubag Indonesia dul, bahkan Banten yang juga amburadil. Tapi, ubahlah lingkunganmu. Maka saya, Tias Tatanka dan teman-teman di lingkungan kampung Ciloang mendirikan komunitas Rumah Dunia. Jatuh-bangun kami menghidupi Rumah Dunia sejak 2000 hingga 2011. Para donatur trus berdatangan. Mulai dari garasi, berpindah ke lahan seluas 500 m2, 100 m2, kini kami mengincar tanah seluas 1800 m2. lanjutkan membaca »
Gola Gong | Laporan Utama | December 27th, 2010 | No Comments »
Minggu, 26 Desember 2010, di saat relawan Rumah Dunia sedang menata kursi-kursi di Taman Budaya Rumah Dunia untuk acara nonton bareng final leg pertama piala AFF Suzuki antara Timnas Indonesia melawan Malaysia pukul 18.30 WIB, datanglah seorang wanita dan lelaki muda. Saya dan Tias merasa surprise. Mereka adalah Bu Prie, pemilik tanah persis di sebelah Taman Budaya Rumah Dunia dan Misru, anak angkat almarhum suami Bu Prie, yang sudah meninggal 2009 lalu. lanjutkan membaca »
Gola Gong | Laporan Utama | December 11th, 2010 | No Comments »

Taman Budaya Rumah Dunia sebagai ruang publik
Oleh Gading Tirta - Networker Kebudayaan Halim HD mengatakan, pemegang kekuasaan dan pemilik modal sering kali merampas ruang publik masyarakat. Padahal, dari ruang publik itulah interaksi sosial lahir, sehingga memunculkan aneka kreativitas. “Ubrug, kesenian di Serang, juga lahir dari ruang publik,” kata Halim saat workshop mengenai teater dalam acara Ode Kampung #4 yang berlangsung di Rumah Dunia, komplek Hegar Alam Nomor 40 Ciloang, Serang, Kamis (9/12). lanjutkan membaca »
Gola Gong | Laporan Utama | November 15th, 2010 | No Comments »
Oleh Gol A Gong
Saya keluar dari mobil persis di Taman Budaya Rumah Dunia. Ini pukul 14.00 PM, Minggu, 14 November 2010. Badan lelah sekali. Ini marathon. Sabtu, 13 November 2010, saya menghadiri bedah buku “Banten Bangkit #4: habis Gelap Terbitkah Terang?” karya Gandung Ismanto di auditorium Untirta, Serang. Barusan, saya baru pulang dari Rangkasbitung, menjadi pembicara bedah buku “Banten Bangkit #3: Membangun Peradaban Baru” di depan mahasiswa STKIP Setiabudhi, Rangkasbitung. lanjutkan membaca »
langlang | Laporan Utama | October 19th, 2010 | No Comments »
Rumah Dunia yang memang lahir dengan semangat mengubah dan membentuk generasi baru di Banten lewat budaya literasi alhamdulillah hingga hari ini tetap ada. Kami percaya bahwa niat baik selalu menemukan jalan terbaik. Hingga tahun ini, meski ada atau pun tidak ada dana kami akan tetap berusaha berkegiatan dengan mengandalkan anugrah kreatifitas yang diberikan Allah Swt, karena dengan berkegiatanlah Rumah Dunia akan tetap bergerak menuju cita-cita yang didambakan. Tentunya kami sadar bahwa tidak mungkin rumah dunia bisa bergerak sendiri tanpa bantuan rekan-rekan di swasta atau pun instansi pemerintah. Semuanya yang didapat oleh Rumah Dunia adalah kerja keras seluruh warga Banten, besar kecil, tua muda, kaya miskin, semuanya berperan dalam memajukan Rumah Dunia khususnya umumnya Banten tercinta.
Selanjutnya, pada 2010 ini Rumah Dunia diamanahi menerima dana bantuan sosial Rintisan Balai Belajar Bersama (RB3) dari Direktorat Jendral Pendidikan Non Formal dan Informal Kementrian Pendidikan Nasional yang mempercayakan dana block grant sebesar Rp.200 juta kepada Rumah Dunia. Sekedar info, Rintisan Balai Belajar Bersama (RB3) ini merupakan kegiatan yang sifatnyta revitalisasi lembaga yang selama ini menggelar program-program pembangunan masyarakat yang memberdayakan. Baik itu secara terpadu dan lintas sektor untuk kepentingan dan melayani kebutuhan belajar segenap lapisan masyarakat. Ada pun tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu dan taraf hidup.
Bertempat di taman budaya Rumah Dunia, gedung penunjang fasilitas Rintisan Balai Belajar Bersama (RB3) yang berkonsep pedesaan karena menggunakan alang-alang sebagai atapnya, diresmikan Kabid PNFI Dinas Pendidikan Kota Serang Nursalim pada Sabtu (16/10). Dalam sambutannya, Nursalim berharap Rumah Dunia menjadi model taman bacaan dan pusat kegiatan belajar masyarakat yang harus juga dicontoh oleh yang lain. “Program ini untuk masyarakat. Semua bisa mengakses gedung ini,” katanya. Salim menambahkan kenapa program RB3 ini diberikan pada Rumah Dunia, karena Rumah Dunia salah satu TBM yang masih konsen dan bisa dipercaya dalam membina Masyarakat. “Untuk itu saya harap Rumah Dunia semoga bisa kembali mendapatkan bantuan dana dari Dinas Pendidikan pusat, sebagai pengembangan dari programa ini meningat ini kan baru rintisan,” kata Nursalim. Pada kesempatan itu juga turut hadir Ibu Ida selaku perwakilan dari Dinas Pendidikan Nasional. Acara yang dimeriahkan dengan aksi marawis pesantren At-Thobroniyah, Rampak Bedug Ciwasiat, dan pembacaan puisi pemenang lomba baca puisi wong cilik Amaliah cukuplah semarak meski digelar pada saat matahari tengah memanas. Setelah ritual potong pita dan panandatanganan sketsa lukisan gedung balai belajar bersama oleh Nursalim, para tamu undangan pun diperkenankan memasuki gedung berkapasitas 50 orang tersebut. Selain itu, di areal balai tersebut juga sudah diisi dengan kafe baca sebagai wujud program aksara kewirasuahaan, serta panggung utama yang akan dipakai untuk diskusi-diskusi sebagai salah satu program pengembangan karakter dan budaya.
Sekali lagi ini adalah sebuah amanah yang cukup berat. Meski demikian dengan niat baik kami terus melakukan perbaikan-perbaikan di sana-sini terutama sekali dalam hal administrasi laporan dan lain-lain karena selama ini Rumah Dunia hidup dari sedekah dan zakat orang-orang seluruh Indonesia. Terima kasih kepada pemerintah Banten dan pemerintah pusat atas niat baik kalian. Semoga kita semua amanah dalam menjalankannya![JangRuDun]