SEMARAK CERIA SEMBILAN TAHUN RUMAH DUNIA

Oleh Langlang Randhawa*

Sembilan tahun sudah Rumah Dunia, lembaga nirlaba sebagai pusat belajar  masyarakat Banten, menggelinding bagai bola salju. Didirikan oleh pasangan penulis Gol A Gong dan Tias Tatanka dan didukung oleh para relawan, Rumah Dunia terus bergerak membesar membawa visi misinya Mencerdaskan dan Membentuk Generasi Baru. Lewat Jurnalistik, sastra, rupa, dan film, Rumah Dunia perlahan menghapus stigma Banten yang identik dengan mistik dan sifat jawara. Hingga kini, bagai jamur di musim hujan, para penulis muda Banten sudah bermunculan di kancah lokal dan nasional. Belakangan Rumah Dunia, mulai merambat pada fase selanjutnya; tidak hanya mencerdaskan otak tetapi juga menyehatkan fisik agar seimbang. Maka dibuatlah lapangan futsal umum di areal tanah Rumah Dunia yang masih dalam tahap usaha pembebasan hingga hari ini.

Sang Pelatih

Ma’rifat (45), seorang ibu-ibu rumah tangga, terpaksa meninggalkan cucian yang belum selesai di rumahnya. Ia teringat suatu pertandingan, dan ia harus hadir untuk memberikan arahan-arahan penting. Langkahnya yang lebar-lebar segera bergegas ke Rumah Dunia. Setibanya, ia langsung ke lapangan futsal berupa sebidang tanah bergelombang — yang saat ini oleh Rumah Dunia masih dalam proses penggalangan dana untuk dibebaskan — sudah dipadati para penonton dan supporter tim futsal yang sedang bertanding tanpa seragam dan sepatu alias nyeker. Sekali putar kepalanya, ia sudah menemukan anak didiknya yang tergabung dalam klub futsal anak asuhannya bernama Trens Soccer. Mereka sedang berkerumun menonton sesekali mendiskusikan strategi permainan dengan sesama teman. Ma’rifat segera mengangkat dan menepuk tangan sambil teriak memanggil pasukannya. Para pemain Trens Soccer segera menoleh dan menghambur mendekat. Ma’rifat nampaknya tidak mau strateginya didengarkan orang lain. “Kalian siap, ya. Sepuluh menit lagi kalian main. Kumpul di sini semua,” ujar Ma’rifat mulai memaparkan strategi, menganalisis kekuatan SD Sumber Agung FC yang akan menjadi lawannya sore itu. Dengan tegas Ma’rifat menunjuk pemain yang akan diturunkan di awal babak, sambil berkali-kali melirik stopwatch di tangannya.

Hingga giliran tanding tiba, Ma’rifat berkali-kali teriak-teriak mengarahkan pemainnya dari tepi lapangan. “Daud, tutup rapat belakang! Febi ayo maju serang lagi! Umpan ke teman! Ayo kerjasama!” Jika dinilainya pemainnya kalah head to head, ia segera menerjunkan pemain cadangan yang nampak sudah tidak sabar. Bongkar pasang pergantian pemain yang dilakukan Ma’rifat tak kalah cepat dengan ritme permainan dan tepuk tangan riuh. Usahahnya tidak sia-sia. Trens Soccer unggul dengan scors 5-2 menumbangkan tim SD Sumber Agung FC yang bertanding tanpa pelatih.

Semangat

Ma’rifat adalah salah satu ibu-ibu warga Ciloang yang antusias melatih dan setia mengikuti jalannya pertandingan Liga Futsal Bocah Kampung yang diikuti 14 tim dari kampung sekitar Rumah Dunia.

Acara ini adalah salah satu rangkaian acara HUT ke-9 Rumah Dunia yang akan dimeriahkan dengan aneka lomba; menggambar, mengarang, dan baca puisi, dan joget jeruk, sebagai acara puncak pada Sabtu (26/3). Anas, selaku ketua panitia memaparkan, meski meriah oleh Futsal Bocah Kampung yang digelar sejak tanggal 14 Maret, ulang tahun Rumah Dunia tahun ini ini memang tidak begitu banyak lomba seperti tahun-tahun sebelumnya, dimana Rumah Dunia biasa menggelar lomba balap karung, pukul balon, memasukkan belut dan paku ke dalam botol, makan kerupuk, dan lain-lain. “Saat ini kas Rumah Dunia terkuras karena tahun ini kami ingin fokus membebaskan tanah. Jadi, kami harus mengirit pengeluaran,” ujar relawan asal Menes, Pandeglang, ini.  Saat ditanya darimana saja penyumbang acara ini, Anas mengungkapkan jika Rumah Dunia mempunyai tradisi patungan atau gotong royong. Termasuk juga masalah keuangan. “Kebanyakan dari para relawan sendiri, meski dari luar juga ada yang memberi.” imbuh lelaki yang mahir membuat sketsa wajah ini.

Kerja Keras

Hingga Jum’at (25/30) sekitar pukul 20:30 Wib, ‘Aen,‘Aini, Dina, dan Tuti, yang tak lain adalah para relawan asal kampung Ciloang yang 10 tahun lalu menjadi peserta kini sudah menginjak remaja dan menjadi panitia HUT Rumah Dunia. Ditemani Ahmad Wayang, mantan penjual roti yang kini menjadi wartawan www.rumahdunia.com yang sibuk membuat tulisan latar panggung buat esok hari, mereka sibuk membungkus hadiah-hadiah yang akan dibagikan pada minggu nanti. Panitia juga merekap sekitar 200 nama anak-anak yang sudah mendaftarkan diri dan siap mengikuti aneka lomba pada puncak perayaan Dasawarsa Rumah Dunia. Meski tidak banyak dana yang diperoleh, namun panitia tetap antusias menggelar lomba ini karena ajang lomba ini secara tidak langsung mendidik anak untuk semangat dalam meraih kemenangan cita-cita dengan bekerja keras dan ditambah strategi mumpuni.

Batu di Jidat

Semangat juga terlihat dari aksi Kiki dan Bahrul, dua pasang bocah yang siap mengikuti lomba joget jeruk. Tidak tanggung-tanggung mereka berlatih berjoget menggunakan batu serpihan bangunan sebagai pengganti buah jeruk yang diletakkan di jidat masing-masing. Mulailah mereka berjoget di sudut Rumah Dunia, meski sesekali mereka mengaduh karena batu itu berkali-kali jatuh dan yang terakhir mengenai kaki Bahrul. Panitia yang memergoki aksi mereka langsung meminta penjelasan. “Kita lagi latihan, Kak,” ujar Kiki. “Iya, Kak. Supaya kita menang!” Bahrul menyambar penuh semangat.  Tak lama kemudian, aneka lomba segera digelar. Dari sekian banyak lomba, menggambar dan joget jeruk adalah lomba yang paling banyak diminati anak-anak yang masih duduk di bangkus SD. Sementara lomba baca puisi dan mengarang lebih banyak diikuti siswa-siswi SMP.

Bagi Hadiah

Pada puncak acara yang juga menjadi penutup anak-anak disuguhi film Alangkah Lucunya Negeri Ini. Mereka nampak sekali serius menonton, meski ada saja yang lari-lari ke sana kemari. Aksi anak-anak pencopet yang sedang dididik agar insyaf dalam film tersebut membuat anak-anak bergelak tawa. Hingga akhirnya, tawa mereka ditutup dengan rona bahagia saat pembagian hadiah siap diumumkan. Dan hasilnya, untuk lomba futsal Trens Soccer meraih juara dua setelah dikalahkan CKC Football Club. Sementara lomba baca puisi dimenangkan Iyah selaku juara pertama, Via juara kedua, dan Indah sang juara ketiga. Nida Amila terpilih sebagai juara pertama lomba menggambar, mengalahkan Syifa Fiqhiyah pada peringkat ke-dua dan Abdul Adim Wahid sebagai juara ketiga. Para calon pengarang masa depan dari Rumah Dunia pun yang memenangkan lomba mengarang adalah Vira Safitri selaku juara pertama, Elisah sebagai juara kedua, dan Toifatul sang juara ketiga. Sementara lomba Joget Jeruk yang mengundang decak tawa dan tarian anak-anak dimenangkan pasangan Imas dan Ida selaku juara pertama, Uja dan Ela sebagai juara kedua, Sementara Syifa dan Nafida didaulat menjadi juara ketiga. Akhirnya anak-anak pulang dengan riang! Salam.

**Penulis wakil presiden Rumah Dunia dan penulis novel Merah Putih di Old Trafford.

ROYALTI “GADIS BUKAN PERAWAN” DAN “MELIHAT TANPA MATA”

Sahabat, ini cerita tentang kampung lagi, Banten. Kampung kami tercinta, yang tidak memiliki estetika. Yang para pemimpinnya tidak merasa, bahwa perpustakaan itu harus dinomorsatukan. Jalan-jalan pada rusak, warga menanaminya dengan pohon pisang. Sekolah-sekolah dasar banyak yang mirip kandang kambing. Pejabatnya berjamaah masuk penjuara. Sementara  para tikus busuk tertawa di pinggir sawah. Inilah cerita tentang kami, yang mencoba menggerakkan warga, agar rajin membaca. Kami berkumpul di Rumah Dunia sejaktahun  2000 menggelorakan itu. lanjutkan membaca »

ROAD SHOW PEMBEBASAN TANAH TAMAN BUDAYA RUMAH DUNIA

Oleh Jang RuDun

Insya Allah, pada 22 Februari, buku “Tiga Ombak” karya Gol A Gong terbit. Buku  ini adalah bundel 3 novelet berjudul Moonlight, Al-Bahri, dan Anak Malam. Tujuan penerbitan buku ini selain mendokumentasikan karya Gol A Gong, juga dalam rangka penggalangan dana untuk pembebasan tanah Taman Budaya Rumah Dunia seluas 1873 m2. Harga permeternya Rp. 200.000,-, total harga sebesar Rp. 370 jutaan. Uang muka sudah dibayarkan sebesar Rp. 74.800.000,- Pembayaran kedua pada awal Agustus 2011 sebesar Rp. 149 jutaan. Pembayaran terakhir pada awal Januari 2012. Jika pada Juli 2011 tidak sanggup memenuhi kewajiban, maka akan ada sanksi pemotongan sebesar 50% dari uang muka, yaitu Rp. 37 jutaan. Ini nanti akan ditanggung dari uang masuk yang berasal dari Rumah Dunia (www.rumahdunia.net). Jadi, kalau kemungkinan buruk terjadi, maka seluruh uang yang masuk dari donator di luar Rumah Dunia, akan dikembalikan. lanjutkan membaca »

KUNJUANGAN MA MATHLAUL ANWAR PUSAT KE RUMAH DUNIA

SERANG—Minggu (30/1/11) pagi, sinar matahari yang jatuh di permukaan Taman Budaya Rumah Dunia atau persisnya di Kampung Ciloang, Kota Serang, Banten, begitu terasa berbeda, cerah dan penuh sesak. Taman Budaya Rumah Dunia yang luasnya hampir 1000 m2 hasil sumbangan dari para facebooker di akun Gol A Gong dan donatur Rumah Dunia, dibanjiri siswa-siswi MA Mathlaul Anwar Pusat (Almapus) Menes, Pandeglang. Kehadiran mereka ke RD merupakan rangkaian kegiatan yang mengusung tema, ‘Menulis dan Menggali sejarah dengan mengunjungi perziarahan di Banten lama’. lanjutkan membaca »

TIGA OMBAK MENYELAMATKAN RUMAH DUNIA?

Oleh Gol A Gong

Juma’at, 21 Januari 2011, sekitar pukul 09.00 WIB, gerimis masih saja turun. Sat jitu saya sedang menulis scenario film layar lebar “Balada Si Roy”. Sudah seminggu saya mengurung ditri di kamar atas, berusaha menulis sebaik mungkin dan tentu komersil, agar ada PH dan produser yang tertarik. Rencana saya, jika film layar lebar “Balada Si Roy” goal, gerakan pembebasan tanah Taman Budaya Rumah Dunia cepat teratasi. lanjutkan membaca »

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010