BACA PUISI WONG CILIK#3 RUMAH DUNIA: KARENA HATI DAN DUA ISTRI MEREKA BERPUISI

Pagi sekitar pukul 08.00 WIB, Kadi (39) sudah duduk gelisah di sudut Rumah Dunia. Di tangannya ada sebuah kertas berisi larik-larik puisi hasil karyanya sendiri. Ia terus saja menghayati puisi itu, karena beberapa menit lagi ia akan membacakannya di hadapan 24 peserta dan puluhan penonton Lomba Wong Cilik Baca Puisi#3 yang diadakan Rumah Dunia pada Minggu (14/2).

Laki-laki dengan pendapatan perhari rata-rata sebesar 50 ribu rupiah itu, rela menghentikan barang sejenak roda-roda odong-odong yang selama ini menjadi penopang dalam menjalani kehidupannya. Hari itu dia ingin sekali menumpahkan unek-uneknya dan berharap bisa menggondol hadiah berupa uang dari panitia untuk keluarganya tercinta. ”Jika saya menang nanti, uangnya akan saya pakai sebagai tambahan nafkah bagi dua istri dan anak-anak saya dari mereka,” ujarnya polos.

Tak berbeda dengan Kadi yang begitu semangat mengikuti lomba, begitu pun dengan Fayudi (31). Wajah istrinya yang hendak melahirkan dan bayang-bayang jumlah angka-angka rupiah yang akan dikeluarkan saat persalinan nanti, membuatnya nekat menanggalkan kotak asongan di rumah dan bergegas ke Rumah Dunia. Bahkan saking tergesanya, ia tidak sempat membuat puisi karyanya sendiri. Beruntung panitia menyediakan lembar-lembar puisi yang sengaja disiapkan bagi mereka yang tak bisa atau tak sempat menulis puisi sendiri. Fayudi pun tersenyum lega dan ia segera menyingkir dari kerumunan, berlatih menyiapkan diri sebelum panitia memanggil namanya untuk naik ke panggung.

Meski begitu, masih ada yang melebihi ketergesa-gesaan Fayudi. Adalah Satam Miharja (66), yang harus menghentikan pekerjaannya sebagai kuli bangunan saat itu juga, dan segera bergegas ke rumah Dunia dengan mengenakan pakaian kerjanya yang kotor dan topi petani, sesaat setelah rekannya mengabarkan bahwa ada lomba baca puisi bagi warga seperti dirinya di Rumah Dunia. Nampaknya hadiah untuk tiga juara umum dan tiga juara harapan dengan jumlah total sebanyak Rp. 1.300.000,- yang disediakan panitia dari berbagai donatur Rumah Dunia itu menarik perhatian mereka. Jumlah yang cukup berarti bagi mereka, meski harus dipecah menjadi milik enam orang, sesuai dengan tingkat juara yang diraih masing-masing.

Hari itu, tak hanya hanya kalangan suami yang hadir. Para istri dan remaja pun tak mau ketinggalan. Tentunya dengan latar belakang dan profesi yang berbeda; tukang ojek, tukang odong-odong, tukang becak, kuli bangunan, penjaga toko, ibu rumah tangga.

Motivasi mereka pun berbeda dalam mengikuti acara ini. Ada yang memang murni untuk menambah penghasilan, sekedar berpartisipasi memeriahkan, menyemangati generasi muda, dan lain sebagainya. Namun ada juga peserta yang memang datang dengan hati karena sangat mencintai puisi. Seperti halnya yang diungkapkan Ade Mufti, yang sehari-hari bekerja sebagai penjaga toko. Ia mengaku, dirinya sudah mencintai puisi sejak ia bisa membaca. Ia mengatakan bahwa ia ingin belajar puisi dan berekspresi di Rumah Dunia. ”Mungkin puisilah yang mengantarkan saya ke lomba ini dan mempertemukan saya dengan Rumah Dunia,” ujarnya puitis.

Mengenai uang hadiah, hampir semua peserta mengaku, jika mereka menang nanti, maka uang yang diraih akan dipersembahkan bagi keluarga tercinta dalam bentuk; membeli sepeda buat anak, membeli susu, membayar biaya sekolah, menambah modal usaha, dan bahkan untuk persiapan perayaan muludan atau memperingati hari kelahiran nabi yang biasa dimeriahkan di kawasan Serang dan sekitarnya.

BOCAH CILIK DAN WONG CILIK

Ada rehat sejenak dalam perlombaan ini. Waktu istirahat ini diisi dengan pementasan-pementasan pembacaan puisi oleh Sahroji, Ojek dan ketua Rt di Waringin Kurung, yang pernah menyabet juara pada Wong Cilik Baca Puisi#1 (2008), dan juga Tamim, tukang becak yang pernah menjadi juara pada Wong Cilik Baca Puisi#2 (2009). Penampilan pun ditutup aksi Ahmad Achsan (6 th) bocah cilik penderita Cerebral Palsy, yang hari itu berkunjung ke Rumah Dunia bersama ibunya. Dengan segala keterbatasannya, Achsan membacakan puisi berjudul AKU karya Chairil Anwar.

Suasana hening seketika. Para hadirin terperangah saat menyimak Achsan membacakan puisi dengan cara menghafal. Achan mengaku, ia paling suka pada puisi-puisi karya Chairil Anwar dan Toto ST Radik, penyair Banten. “Aku suka puisi Chairil Anwar!” ujarnya.

KEJUJURAN

Masih ada banyak lagi para peserta yang bersemangat dalam acara itu. Mereka adalah para pejuang-pejuang keluarga yang kerap kali terhempas kondisi ekonomi yang selalu tidak mengenakkan. Meski demikian tak menyurutkan mereka untuk selalu menghasilkan pundi-pundi lebih banyak karena memang kebutuhan pun semakin menumpuk dari hari ke hari. Jika masalah-masalah itu diibaratkan air yang dimasukkan ke dalam teko, maka kenyataan-kenyataan pahit itu pun berhamburan dari kata-kata yang keluar dari hati meluncur deras lewat mulut mereka.

Kata-kata yang dalam bahasa Rahmat Heldy, HS., selaku salah satu dewan juri, disebut sebagai kata-kata kejujuran dari hati yang tertindas. Hampir semua dari mereka, membuat puisi-puisinya sendiri dan menceritakan kepedihan hidupnya, semangatnya yang menggelora, kekecewaannya pada pemerintah, dan cintanya yang besar pada keluarga. Judulnya pun cukup menarik untuk ukuran mereka yang selalu dicap jauh dari ritual keberaksaraan. Mereka tak bisa dianggap remeh dalam pemilihan kata. Sebut saja tiga judul puisi ini; Baud-baud Kehiduan karya Bambang yang bekerja sebagai ojek. Sajak Fakir karya Amah si ibu rumah tangga, dan Kang Tukang karya Yahya yang berkerja sebagai kuli bangunan. Semuanya membicarakan semangat bertahan hidup walau berbilur kepedihan dan pengkhianatan dari sang pemangku kebijakan. Mereka memang meratapi nasibnya sendiri, tapi mereka menyelipkan kecewa pada negara. Mereka adalah wong cilik, tapi mereka pun mempunyai harapan dan cita-cita besar. Tak hanya permainan kata, gaya pembacaan dan ekspresi mereka pun tidak semuanya kaku. Mereka berteriak, merintih, bersimpuh, dan segala simbol-simbol gerak yang biasa disandangkan pada wong cilik. Mengenai cara mereka membaca, Rahmat Heldy cukup takjub. Pasalnya, hingga saat ini ia sendiri masih banyak menemukan pembacaan puisi yang mendayu-dayu dan lemah persis pada era klasik di kalangan pelajar. Tapi pada mereka, wong cilik, nyaris tidak dijumpai. “Meski ada beberapa yang masih mendayu ala klasik, tetapi hampir semua peserta melakukan ekpresi dan gaya membaca puisi yang sudah kekinian. Ekspresi sudah sesuai kalimat yang dibaca. Mereka tidak bisa dipandang remeh, dibandingkan para pelajar di sekolah-sekolah,” ujar penulis buku antologi puisi Kampung Ular ini.

SEMANGAT DAN SYUKUR

Akhirnya, puisi berjudul Suamiku yang isinya menyiratkan do’a dan kebanggan seorang istri pada sang suami yang tak lelah membanting tulang demi keluarga, meloloskan Amaliah, ibu rumah tangga, terpilih menjadi juara pertama oleh dewan Juri.

Amaliah pun berhak atas uang sebesar 500 ribu rupiah. Nominal hadiah bagi juara ke-dua sebanyak 300 ribu diraih Satam Miharja yang bekerja sebagai kuli bangunan, sedangkan Waryana yang bekerja sebagai tukang becak mendapatkan uang hadiah sebesar 200 ribu rupiah. Sementara untuk ketiga juara harapan diraih oleh Heri Sumar Santi yang merupakan ibu rumah tangga, Amah yang juga ibu rumah tangga, serta Suhemi penjual mainan anak-anak. Mereka masing-masing menggondol uang sebesar 100 ribu rupiah. Baik juara umum dan juara harapan, semuanya mendapatkan paket berisi buku dari Rumah Dunia.

Meski Kadi, Fayudi, dan rekan-rekan seperjuangan lainnya tak bisa mendapatkan hadiah, mereka mengaku tetap bahagia. Tumpah sudah perasaannya hari itu. Berhamburanlah hasratnya. Gaya berpuisi yang sesekali mengundang gelak tawa dan haru, serta wajah-wajah dan tawa gembira para juara adalah saat-saat indah bagi mereka.

Lomba wong cilik ini adalah wahana hiburan dan berekspresi bagi mereka yang selalu tersingkir dan jarang mendapatkan kesempatan seperti hari itu. Selain itu ada silaturahim yang mereka dapati di sini. Juga rasa kebersamaan. Masih ada yang lebih susah dibandingkan diri sendiri ternyata. Sehingga meski tetap menjadi wong cilik, namun terpatrilah kembali rasa syukur tak terhingga pada sang pencipta serta do’a-do’a demi cita-cita yang tetap besar dan mulia.

Kadi, ia boleh merasa sedikit kecewa kerena dua istrinya tidak mendapat tambahan nafkah materi, tetapi hatinya merasa puas karena segala unek-uneknya tumpah ruah di Rumah Dunia. Sampai jumpa di Wong Cilik Baca Puisi jilid empat pada 2011 nanti. Insya Allah. Salam hangat penuh semangat dari wong cilik. Mari teriak! Hidup wong cilik!!! [Langlang]

DARI CIPANAS MENUJU LEBAK MEMBACA

Relevansi menjadikan Rangkasbitung sebagai Kota pelajar, sejumlah warga Cipanas menggagas tempat belajar warga dalam mengembangkan sumber daya manusia. Melalui gerakan membaca, dari sebuah kampung bernama Cipanas akan di buka Rumah Kosala, Komunitas Sastra Lebak.

Dibentuk atas pertemuan dikediaman H Agus Sutisna bersama Heri Hendrayana alias Gol A Gong dan Saroh Jarmin, gagasan Lebak membaca dapat dimulai dari Kecamatan Cipanas, Selasa (9/2) malam. Menurut pencetus ide kreatif Gol A Gong, filosofi air panas yang meluber ke daratan tanah Lebak dapat berawal dari pemandian Cipanas, dan semangat gerakan membaca juga diawali dari orang-orang Cipanas, baru kemudian menuju gerakan Lebak Membaca.

“Orang-orang Cipanas akan seperti air panas yang meluber ke jalan-jalan Lebak di Banten selatan. Mereka siap mengalirkan kehangatan bagi warganya,” ucap pendiri Rumah Dunia, Gol A Gong, yang langsung diiyakan penasehat KOSALA lainnya, Agus Sutisna, di jalan Rangkasbitung-Bogor KM 36, Kampung Lurah Desa Sipayung, Cipanas.

Menurut ketua komunitas Saroh Jarmin, SPd, Kosala adalah bagian dari angan-angan warga Cipanas, karenanya bersama rekan-rekan Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas (IKMC), Kosala akan berusaha mewujudkan kota pelajar melalui budaya literasi.

“Konsep belajar, adalah membaca dan berhitung. Dengan berdirinya KOSALA, Dari Cipanas Menuju Lebak Membaca ini akan menjadi tempat seperti surga bagi mereka yang ingin berekspresi di dunia literasi,” ucap Saroh yang baru terpilih sebagai ketua Kosala dan sudah menentukan komposisi Kosala hasil urung rembuk dengan yang lainnya.

Dengan ketua Saroh Jarmin, sekretaris Ahmad Arif, bendahara Pipit Fiharsih, dan voluntir Sholeh, Yayan, Akhelbri, Toni, Ade Is, Iyoh, Neneng, dan Harir Balda, Kosala siap menggelar program awal yakni kelas Menulis per Maret-Agustus, dengan kelas sore setiap hari Selasa, dan kelas pagi di Rabu dan Kamis. Pengajarnya Gol A Gong.

Kegiatan lainnya, lanjut Saroh adalah kegiatan yang membawa pesan bahwa dengan membaca kita bisa mengubah dunia, yaitu Pojok Leuit, sebuah ruang untuk menyimpan sumber makanan bergizi bagi para agent of change, yakni buku-buku. “bukunya untuk permulaan disupport Rumah Dunia,” kata Saroh. Sanggar Dongeng diberikan bagi anak-anak Cipanas setiap Minggu, dan diskusi yang rutin digelar bulanan dengan tema yang disesuaikan dengan kekinian, dan hangat diperbincangkan menghadirkan tokoh-tokoh dari Cipanas, Banten, dan Indonesia.

Untuk mengenalkan Kosala Library, IKMC yang menaunginya akan membuat gebtrakan dengan merancang CIPANAS IQRA pada Sabtu, 27 February 2010. “Selain launching ‘Kosala’, kegiatan utamanya adalah wakaf buku,” Ahmad Arif, Ketua IKMC menjelaskan. Seperti biasa akan dimeriah degnan pertunjukan seni marawis dari La Tansa dan Nurul Madaany, pembacaan puisi, orasi budaya H. Agus Sutisna, dan musik KPJ, (*)

*) Tulisan ini oleh Ali Sobri – Dimuat di koran Radar Banten, Kamis 11 Februari 2010

CIPANAS KAMPUNG WISATA DAN SANTRI

CIPANAS, LEBAK – Untuk yang ketiga kali wartawan www.rumahdunia.com  menginjakkan kaki di Cipanas, Lebak, sekitar 38 km ke arah Jasinga Bogor. Hari kunjungan pertama dan kedua adalah Kamis (14/1) dan Kamis (21/1), sedangkan yang ketiga Selasa (26/1). Di kampung ini banyak kisah seperti sejarah air panas, riwayat kampung, keramahan warga, pendidikan pondok pesantren modern, dan menikmati suasana alam yang masih alami, arung jeram di Ciberang, dan yang terakhir sudah pasti yang membuat aku bertekuk lutut kali ketiga adalah pemandian air panas Cipanas.

KAMPUNG DOLLAR

Sudah hukum alam jika suatu kampung dinamai sesuai dengan peristiwa sejarahnya. Seperti kampung Ciwaru di Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, menurut warganya dahulu banyak pohon waru, sedangkan Kampung Tegal Duren alias Tegal Reren yang berarti tempat peristirahatan para jawara.

Seperti halnya kedua kampung itu, sejarahpun berlaku pada kampung Cipanas. “Dahulu kampung ini bernama kampung Dana, Desa Luhur Jaya,” kata Memet Rahmat pengelola pemandian air panas Tirta Lebak Buana. Karena terdapat sumber air panas maka saat H. Kardan menjabat sebagai lurah, kampung itu diberinama “Cipanas”. Hal itupun dibenarkan oleh H. Acep Soheh (65) sesepuh kampung Cipanas. Menurut Acep, tempat ini tak lepas dari peran ayahnya, H. Kardan dan dibantu rekannya, H. Ukik Sanukri.

Ternyata Cipanas selain memiliki kelebihan air panas, tanahnya juga subur. Hal itu dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam. Hasil alam yang sangat membumi saat itu adalah cengkeh. Bahkan saking banyaknya cengkeh dari kampung Cipanas, pada tahun 1975 berdiri pabrik minyak cengkeh. Dari hasil itulah banyak warganya yang berangkat haji ke tanah suci Mekkah. Maka amat wajar jika mendapatkan julukan Kampung  Haji Cengkeh. Harga jual cengkeh sama dengan harga satu gram emas. “Bahkan ada tetangga kampung yang mengatakan Cipanas merupakan ‘Kampung Dollar’, karena penduduknya kaya-kaya,” ujar H. Dudi, yang pergi haji dari hasil cengkeh.

Namun masa-masa emas itu hilang, ketika pengelola Badan Penyalur Petani Cengkeh (BPPC) dipegang Tommy Soeharto. Akhirnya, petani Cipanas banyak yang mengeluh soal harga jual. “Dari harga Rp 20.000,-/kg turun s/d Rp 4.000,-/kg,” kata Iyar Sumiarsa (55) RW Kampung Cipanas.

PENDIDIKAN

Anugerah air panas dan hasil bumi membuat warga Cipanas tempo dulu mengenal pendidikan sekolah, itu terbukti adanya bangunan Sekolah Rakyat (SR). Namun, karena tempat itu dijadikan markas Kolonial Belanda, akhirnya gedung itu dibakar warga setempat. Kendati begitu, warga Cipanas pernah meraih kejayaan pada kurun waktu 1970-1980-an dimana harga cengkeh saat itu sedang melambung tinggi. Alhasil tak sedikit anak-anak mudanya yang menimba ilmu dari bangku sekolah dan bilik Pesantren.

Semangat belajar warga Cipanas terus membara. Mereka melanjutkan ke Sekolah Tingkat Pertama dan Sekolah Menengah Atas. “Walaupun SMP dan SMA-nya harus ke Jasinga dan Rangkasbitung,” beber Iyar Sumiarsa.  “Bahkan pada tahun 1971 sekitar 20 orang anak sudah melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Bogor, Jakarta, dan Serang,” tambahnya. Hal itu dibenarkan Ketua Rukun Warga Cipanas, Iyar Sumiarsa, “Sekitar 75% sudah melanjutkan ke Perguruan Tinggi, bahkan banyak lulusan kuliah dari luar daerah.”

Kendati masa emas itu sudah terlewat, namun eksistensi warga yang dulu penghasil cengkeh ini, terus meningkatkan taraf hidup lewat bidang pendidikan semakin mengalir deras, apalagi Pemda Lebak bercita-cita ingin menjadikan Rangkas sebagai kota pelajar dan Lebak Kota Pendidikan. Otomatis citra Lebak yang tertinggal dalam bidang pendidikan dan ekonomi dengan kabupaten lain yang ada di Banten cepat atau lambat pasti akan berubah.

“Cipanas sendiri bermimpi menjadi Kampung Santeri,” kata Camat Cipanas, H. Sukandi Mangkualam, S. Sos saat ditemui wartawan www.rumahdunia.com di pemandian air panas Tirta Lebak Buana. Tambahnya, “Di Cipanas sudah ada sekolah-sekolah diantaranya: SDN 1 Cipanas, SDN 3Cipanas, SMPN 1 Cipanas, SMP Lebak Gedong, SMAN 1 Cipanas, SMK 1 Cipanas, Pondok Pesantren modern seperti La Tansa, Nurul Madaany, Al Farhan, Futuhyahman, dan sekitar 82 Pondok Pesantren Salafi.

PEKERJAAN

Boleh saja Cipanas jadi “kota santri” dan banyak yang kuliah di kota lain di luars Rangkas. Tapi tidak serta merta bisa mendapatkan pekerjaan sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

Kampung yang berjumlah 150 kepala keluarga ini termasuk kampung yang berkembang secara fisik dan non fisik. Namun sebagian dari mereka ada juga yang jadi guru, bidan, pedagang, sopir, Salesman, dan tak sedikit juga yang pengangguran. Semestinya kampung Cipanas maju bukan hanya dari Sumber Daya Alamnya saja tapi Sumber Daya Manusianya pun harus mapan. Kata Iyar Sumiarsa, “Pada intinya mereka tak mau bekerja keras dulu. Mereka ingin langsung sukses”.

Hal senada pun diutarakan H. Dudi, pemilik rumah makan dan penginapan “Simpang Tiga”. Dia berharap agar kampung Cipanas banyak didatangi penanam modal. “Sehingga bisa menyerap tenaga dari kerja dari sini,” harapnya.

Tak mau ketinggalan H. Acep Soheh selaku sesepuh kampung berujar, Cipanas yang termasuk kaya akan sumber daya alam objek wisata semoga maju dalam segala hal. “Terutama Sumber daya manusia,” katanya.

KHASIAT

Air panas adalah anugerah bagi warga Cipanas. Lokasi yang masih dikelilingi gunung-gunung yang hijau dan lebat, merupakan pemandangan yang eksotik di kala menjelang fajar dan sore hari. Apalagi di kampung ini terdapat objek wisata alam, seperti pemandian air panas, Arung Jeram, dan air terjun Lebak Gedong.

Salah satu objek wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan adalah tempat pemandian air panas Tirta Lebak Buana. Konon, khasiatnya banyak menyembuhkan berbagai penyakit seperti gatal-gatal, jerawat, stroke, rheumatik, asam urat, urat saraf, dan lain-lain. “Rasanya agak enakan,”kata Acih (49) asal Bogor, yang menderita rheumatik. Lain hal lagi Depi, guru Olah Raga MI Mahaberang ini berkunjungan ke Tirta Lebak Buana untuk mengajarkan murid-muridnya renang.

Nah, kalau Anda punya penykit seperti di atas, jangan ragu, datang saja ke Cipanas! (Harir Baldan)

LEBAK MEMBARA DI RUMAH DUNIA

Udin Angkot membacakan puisi sebelum diskusi dimulai

Berbicara Lebak di Banten adalah berbicara sejarah Indonesia dan juga dunia. Sejarah mencatat bahwa ada kisah-kisah heroik dan fenomenal di Lebak. Termasyhur adalah sosok Multatuli dan roman cinta Saija dan Adinda yang juga melegenda tak hanya di Indonesia melainkan juga di luar negeri. Perdebatan isi buku fiksi yang ditulis Multatuli; Max Havelaar, pun tak kalah sengit hingga hari ini. Ibarat arena pertinjuan, di sudut merah, Multatuli dianggap pahlawan oleh sebagian masyarakat cerdik pandai karena telah menuliskan bahwa telah terjadi penindasan pribumi yang dilakukan Adipati Kertanegara pada masa penjajahan Belanda. Sementara di sudut biru, tetap saja Multatuli adalah penjajah yang telah menyengsarakan masyarakat Indonesia. Lebih sempit adalah masyarakat Lebak.

Selain hal itu, adalah sebuah fakta kebanggaan sejarah, manakala presiden RI pertama, Soekarno, pernah menginjakkan kakinya di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Belum lagi persoalan Jawara yang tentunya tetap menjadi ciri khas Banten juga tercatat dalam sejarah Lebak masa lalu. Lebak kian membara, kian juga mempesona.

Lalu sekitar tahun 1996, ban-ban kendaraan motor di Lebak masih harus dililit dengan rantai. Hal itu menampakkan bara semangat bekerja masyarakat Lebak tetap membara meski jalanan saat itu masihlah bertanah dan siap menggelincirkan pengguna jalan jika musim hujan tiba. Anak-anak kampung lebih tertarik menjadi kuli cangkul di sawah dengan bayaran Rp. 1500 perhari dari pada melanjutkan sekolah. Sementara segelintir mahasiswa harus bergelantungan di atas gerbong kereta api untuk menjemput cita-citanya sebagai satu-satunya akses yang paling murah dan tercepat demi cita-cita. Bagaimanakah kabar Lebak saat ini?

Para pembicara dalam Lebak Membara

BEDAH BUKU

Rumah Dunia mencoba menghadirkan semangat sejarah itu kembali dengan cara membedah sebuah buku berjudul Bara menjadi Daya dalam diskusi bertajuk Lebak Membara pada Sabtu (16/1) di Plaza Rumah Dunia. Buku yang di-editori oleh Firman Venayaksa dan Fitron Nur Ikhsan ini sejatinya adalah kado ulang tahun bagi pemerintah Kabupaten Lebak yang ke-181. Di dalamnya terdapat kumpulan tulisan warga Lebak, dan warga luar Lebak tetapi peduli pada Lebak, dari berbagai lapisan masyarakat mulai mahasiwa, aktivis, guru, ulama, dan juga pejabat, yang membicarakan dengan sudut pandangnya masing-masing.

Sebagaimana yang dikatakan oleh sang Editor Fitron, buku ini mencoba menyuguhkan kejujuran masyarakat Lebak. Jujur dalam menyingkap keburukan dan jujur dalam mengakui kemajuan Lebak saat ini. “Kami selaku editor merasa berat ketika diamanahi menggawangi buku ini. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana caranya persoalan data pembangunan bisa disulap menjadi buku yang enak dibaca,” ujar Fitron. “Meski demikian, kami berusaha agar buku ini hadir dengan objektiv sebagai wujud masyarakat Lebak yang merasa memiliki bukan sekedar menikmati,” imbuh alumni IAIN Banten ini.

Hadir dalam kesempatan itu pemuda Lebak Aminudin Hidayat, ketua Kubah Budaya Agus Iryana, penyair Banten Rahmat Heldy, HS., dan salah satu editor Fitron Nur Ikhsan. Selain itu juga, sebagai “Bintang Tamu” Rumah Dunia menghadirkan Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah selaku pengambil kebijakan pemerintah Kabupaten Lebak.

Sebagai pembicara paling muda, Agus Iryana diberi kesempatan lebih dulu menyampaikan curhat dan gagasannya terhadap Lebak yang juga merupakan kota kelahirannya. Bagi Agus, Lebak saat ini sudah mulai berbenah dan bersolek. Jalan-jalan sebagian licin oleh aspal, meski belum mereta hingga ke peloksok. Agus juga mengomentari persoalan sikap terbukanya pemerintah Lebak terhadap para Investor. “Saya hanya berharap kepada pemkab Lebak, saat pemerintah melakukan investasi pembangunan infrastruktur maka ada dua hal perlu diperhatikan,” ujar alumni Diksatrasia Untitra ini. “Pertama kondisi masyarakat dan kondisi lingkungan. Masyarakat harus cerdas dulu dan lingkungan pun mendukung. Jangan sampai penduduk sekitar hanya jadi penonton. Pendidikan itu yang lebih penting,” imbuh Agus.

Senada dengan apa yang dikatakan Agus, Rahmat Heldy yang saat ini merupakan guru di Kecamatan Waringin Kurung, Serang, memfokuskan pemaparannya juga pada wilayah pendidikan di Lebak. Hasil dari analisisnya dari sekian banyak tulisan yang ada di buku itu, Rehel, begitu ia akrab disapa, menyimpulan kegelisahan para penulis akan masalah pendidikan. “Jika saya cermati maka, 75% ketertinggalan Lebak ada pada masalah pendidikan,” ujarnya. “Hal ini sebenarnya ironis, mengingat Lembaga Peningkatan Mutu Pendidikan (LPMP) Banten berada di Lebak,” imbuhnya mantap.

Peserta antusias mengikuti lomba

Lebih tajam hal itu dipaparkan lebih detail oleh pemuda lebak Aminudin Hidayat yang sukses sebagai penguasaha di Jakarta. “Kita harus bergembira karena Lebak sudah memperhatikan infrastruktur, dan kalau bicara infrastruktur maka dibutuhkan orang yang bisa merawatnya. Untuk bisa merawat, maka dibutuhkan SDM unggul. Maka pendidikan menjadi sangat penting dalam hal ini,” ujar Amin yang mengaku pernah menjadi kondektor bus di Jakarta ini.

KOTA PENDIDIKAN

Mengutip perkataan ‘Umar ibn Khattab, hidup itu harus terencana. Jika hidup tak punya rencana, maka kita harus malu kepada Allah Swt. Selanjutnya jika kita sudah berencana kemudian gagal, maka kita bangga kepada Allah Swt. Pemerintah yang mempunyai visi ke depan. Pemerintah yang mempunyai  rencana-rencana yang tak dipikirkan rakyat, itulah yang sedang dilakukan oleh pemkab Lebak. Berencana dan dilaksanakan. Hal itulah diungkapkan oleh Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah. Diakui Amir, kesejahteraan di Lebak memang belum merata. Meski demikian, pemerintah Lebak terus melakukan inovasi dan terobosan-terobosan guna Lebak yang lebih sejahtera. “Saat ini Pemkab Lebak sudah melakukan investasi kondusif berbasis pedesaan dengan cara memberdayakan SDM dan membangun infrastruktur masyarakat di pedesaan,” ujarnya. “Hal ini adalah pandangan ke depan Pemkab Lebak, jika masyarakat desa maju, maka kota pun akan ikut maju,” imbuhnya.

Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah memberikan cindera mata pada peserta

Terkait dengan masalah pendidikan yang disorot para pembicara lainnya, Amir Hamzah menjelaskan bahwa Lebak saat ini ingin menjadikan Lebak sebagai Kota Pendidikan dengan Rangkasbitung sebagai Kota Pelajar. “Jika kita cermat memperhatikan pendidikan di Lebak, terutama dalam pendidikan pesantren, sebenarnya Lebak sudah banyak dikunjungi sebagai daerah tujuan pendidikan oleh masyarakat luar,” jelasnya lagi. Amir menambahkan, hal ini diindikasikan menjamurnya pesantren-pesantren dan kampus modern di Lebak; La Tansa Mashiro, Manahijus Sa’adat, Al-Mizan, dan lain-lain.

Sementara itu, menyikapi wacana banyak warga Lebak yang sukses tetapi enggan pulang dan membangun Lebak, Amir tidak sepenuhnya sepakat. Ia mengatakan, ada manusia yang kapasitasnya hanya mampu memimpin di daerah ada juga yang harus berada di pusat. “Yang tidak bolah itu melupakan Lebak. Masak iya, orang sekredibel Pak Taufiqurrahman Ruqi harus jadi Camat,” ujarnya sambil diiring tawa peserta yang mayorita dari kalangan aktivis. [Langlang]

CHANGE WITH READING MENUJU BANTEN MEMBACA

Setelah pada Kamis, 31 Desember 2009, Rumah Dunia yang identik dengan taman bacaan masyarakat di Banten, menutup kegiatan selama 2009 dengan diskusi “Komunitas Sastra di Banten” dalam acara rutin “Detik Akhir, Detik Awal”, maka seminggu kemudian pada Sabtu 9 Januari 2010, Rumah Dunia memulai kegiatan sepanjang 2010 dengan pencanangan “Change with Reading” (CwR) oleh HM Masduki, Wakil Gubernur Banten. Kegiatannya berupa lomba menggambar untuk SD dan poster tingkat SMP, serta lomba pidato untuk SMA dan perguruan tinggi se-Banten. Juga pertunjukan seni marawis dari Ponpes Nurul Fallah dan rampak bedug UKM Pandawa Untirta Serang.

LOMBA GAMBAR

“Mulai sekarang tidak ada waktu santai lagi,” kata Langlang Randhawa, Secretary General Rumah Dunia, yang ditemui di sela-sela pencanangan CwR. “Agenda Januari saja padat. Sabtu 16 Januari  diskusi ‘Lebak Membara’, mendatangkan nara sumber Amir Hamzah, wakil bupati Lebak. Sabtu 23 Januari festifal qasidah se-Banten,” tambah Langlang yang kebagian jadi Ketua Pelaksana CwR.

Pencanangan CwR dibuka oleh Nursalim, Kepala Bidang Pendidikan Non Formal Dinas Pendidikan Kota Serang, pukul 10.00 WIB dalam keadaan langit mendung. “Banten harus kembali jaya dengan kegiatan ini, karena buta aksara sudah berhasil kita berantas. Sekarang fasenya ‘Banten Membaca’, membaca seluruh isi alam semesta,’ kata Nursalim dalam sambutannya. “Kita sudah harus mengisi rumah dengan buku!”

Peserta menggambar tingkat SD sejumlah 40-an anak dan lomba poster tingkat SMP dengan tema CwR digelar. Hujan pun turun. Mereka yang tadinya menyebar di tenda Taman Rumah Dunia seluas 969 m2 hadiah dari facebooker, mengungsi ke panggung. Tapi, untung hujan hanya sekejap. Lomba pun diteruskan. Tawa ceria anak-anak saat menggoreskan warna mengangkasa. “Yang penting anak-anak gembira,” kata Indra Kesuma, Ketua Juri menggambar. “Kalau hati mereka senang, insya Allah, minat membaca mereka terhadap buku akna meningkat.” Pemenangnya mendapatkan piala, sertifikat, uang Rp. 100.000,- dan paket buku. Juara I lomba lukis disabet Adelia Rahma Putri (SDN 20 Serang), kedua M. Anas (SDIT Ibadurahman), dan ketiga Kholifah (SDN Cipocok Jaya). Lomba poster digondol Kania Asri Liany (SMPN 4 Kota Serang, kedua M Sabihis (SMPN 3 Serang), terakhir Asep D (SMPN 3 Kota Serang).

Nursalim, Kabid PNF Kota Serang memberi sambutan

DUTA

Sedangkan di panggung Rumah Dunia diadakan lomba pidato “Duta CwR” tingkat SMA dan mahasiswa. Diikuti 20 SMA dan perguruan tinggi se-Banten. Duta-duta tingkat SMA dari SMAN 1 Ciruas, MAN 2 Serang, SMAN 2 Kota Serang, SMA El- Daar Qolam, SMA Al- Irsyad, SMAN 3 Rangkas, MAN Cilegon, SMAN 1 Serang, SMAN 5 Kota Serang dan SMAN 1 Pandeglang. Sedangkan tingkat mahasiswa,  yaitu STIE Bina Bangsa Serang, STIT Al-Khaeriyah Cilegon, UNMA Pandeglang, Untirta Serang dan IAIB Serang. Masing-masing peserta diwajibkan mengirimkan karya tulis berupa essay tentang CwR. “Kami kaget menerima tulisan mereka. Awalnya tidak percaya. Mereka sudah hebat menulis!” aku Firman Venayaksa, Presiden Rumah Dunia sekaligus juri.

Pemilihan duta CwR ini awalnya panitia mengirimkan surat permohonan kepada sekolah-sekolah dan PT untuk mengirimkan Duta pada acara CWR, berdasar rekomendasi dari Dinas Pendidikan Provinsi Banten. Duta yang dikirim harus  mengumpulkan karya tulis bertema “Mengubah Hidup dengan Membaca”. Berdasar karya tulis inilah akan dipilih siapa yang terbaik. Untuk membuktikan orisinalitas gagasan, para duta itu di audisi dan diwawancarai . “Kami meniru ‘Indonesian Idol’!” kata Gol A Gong, pendiri Rumah Dunia. “Supaya ‘gaya’ dan mudah diterima anak muda sekarang. Duta baca itu harus ‘gaul’! Jangan lagi istilah kutu buku itu identik dengan kaca mata dan wajah jutek!” Tambah Gong, mestinya para duta baca itu wajahnya ganteng seperti “Rangga dan Cinta” di film “Ada Apa dengan Cinta”.

Pada acara tersebut para peserta diuji dengan cara mempresentasikan tulisannya di depan peserta yang hadir. Dari kedua kategori tersebut nanti akan dipilih duta CwR SMA dan perguruan tinggi. Kedua Duta yang terpilih itu adalah orang yang terbaik dari segi tulisan dan lisan serta sikap. Mereka  nanti menjadi kordinator di kampus dan di sekolahnya, agar bisa mengajak teman-temannya supaya gemar membaca. Ketiga juri; Toto, Firman, dan Ibnu Adam Aviciena memilih dua orang duta yaitu, Sayuti Zakaria dari kampus STIT Al-Khaeriyah Cilegon dan Nastity dari pelajar SMA 1 Pandeglang. Mereka mendapatkan hadiah uang Rp. 200.000,- piala, sertifikat, dan paket buku. Kepada duta-duta yang tidak menang, mereka diberi sertifikat.

“Saya merasa senang sekali terpilih menjadi duta CwR ini. Tadinya saya mengira bukan saya yang akan mendapat kesempatan baik ini,” kata Sayuti Zakaria. Masih diakuinya, tulisan yang dipresentasikan olehnya itu isinya berdasarkan pengalaman pribadi yang terjadi di lapangan dan juga mengutip dari buku yang berjudul “Rahasia Sukses Orang Besar” karangan Dr. Aed Al- Qorni. Sayuti akan membetuk kelompok diskusi bersama teman-temannya di kampus dimana dia belajar. Kelompok diskusi itu bertujuan menyebarkan semangat betapa pentingnya membaca kepada para teman yang lain.  Kini Sayuti menjadi peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan ke-15.

Ubahlah dirimu dengan membaca!Hal serupa dijelaskan oleh Nursalim dalam  sambutannya, “Kita juga harus gemar membaca! Kita sebagai umat Islam harus merasa malu jika tidak gemar membaca,” tegasnya. Nursalim juga menghimbau kepada orang yang hadir khususnya kepada Rumah Dunia, supaya kegiatan ini terus berlangsung. “ Insya Allah akan menjadi dontur terhadap kegiatan ini,” tambahnya lagi. CwR diharapkan menjadi gerakan menuju Banten Membaca.

MOTIVASI

Usai lomba pidato, predikat duta CwR tidak berhenti dari sekedar menerima hadiah dan tepuk tangan. Rumah Dunia berencana menjadikan mereka sebagai Duta CwR. Tugas mereka memotivasi teman dan masyarakat di sekitar agar aktif membaca, dan secara terus-menerus  menyebarkan spirit bahwa dengan membaca bisa mengubah hidup kita menuju ke arah yang lebih baik.

Menurut Toto ST Radik, Ketua Juri CwR, “Wewenang seluruh Duta CwR adalah mengadakan acara dengan tujuan membuka wawasan teman dan masyarakat sekitar, misalnya dengan memulai dari kegiatan membaca dan berdiskusi. Duta CwR diperkenankan melakukan koordinasi dengan kami sebagai pencetus CwR, dengan sepengetahuan Kepala Sekolah dan guru pendamping.” Kelak, para duta ini yang menggerakkan taman bacaan masyarakat di kampungnya. Dan buta aksara di Banten tidak ada lagi.

Hal ini dilakukan berkelanjutan, agar  155.305 warga di Banten yang buta aksara dientaskan. Menurut Kompas edisi Senin (11/1), hingga akhir tahun 2009, jumlah warga usia 13 tahun ke atas yang masih buta aksara di Provinsi Banten tercatat 155.305 orang. Pada tahun 2010 pemerintah daerah setempat menargetkan penurunan jumlah warga buta aksara ini minimal 40.000 orang.

Sayuti dan Nastity, para duta CwRSaat menjadi pembicara di sesi diskusi CwR, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten Eko Endang Koswara di Serang, Provinsi Banten mengatakan, “”Penyebab buta aksara ini antara lain karena faktor keterjangkauan akses, rendahnya minat belajar, dan juga faktor ekonomi.”

DUKUNG

Sekitar pukul 14.00 WIB, HM Masduki, Wagub Banten tiba beserta istrinya. Ruang tunggu VIP pun penuh. Selain HM Masduki, juga ada Ahmad Mukhlis Yusuf (direktur Antara), Endang Eko Koswara, Hafidzi (Kadisdik Kota Serang), Amriti (Perpusda Kota Serang, Nenny (Sekrtetaris Umum Yayasan Kesetiakawan dan Kepedulian Sosial Jakarta), Ella Yulaelawati, M.A., Ph.D, Wien Muldian (Forum Indonesia Membaca), dan Sudiyati (Kepala Perpusda Banten).

Pertunjukan seni marawis dai SMPIT Darul Fallah dan rampak beduk UKM Pandawa Untirta Serang unjuk kabisa. Para peserta CwR, tamu dan undangan merasa terhibur. “Luar biasa, ya!” kata Wina dari TBM Zakiyah Bandung, peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan ke-15, yang sedang technikal meeting. Wina jauh-jauh dari Bandung, karma tertarik dengan kemasan Rumah Dunia dalam upayanya meningkatkan minat baca masyarakat.

Pameran komunitas literasiKemudian HM Masduki memberi sambutan, bahwa pencanangan gerakan membaca ini untuk meningkatkan kualitas hidup. “Persoalan gerakan membaca ini bukan hnya urusan pemerintah, tapi kita semua. Rumah Dunia harus kita dukung.” Usai itu, HM Masduki mencanangkan CwR dengan pemecahan kendi berisi kartu-kartu bertuliskan huruf alphabet.

Diskusi CwR saat hujanDISKUSI

Acara puncaknya adalah diskusi. Tapi sebelum diskusi ada penyerahan sumbangan. Alhamdulillah, saat CwR, Rumah Dunia kebanjiran hadiah. Pemprov Banten menyumbang voucher mebuler dan buku, Perpusda Banten se-dus besar buku, Aneka Swalayan 20 dus minuman mineral gelas, Universitas Serang Raya memberi beasiswa kepada Roy Goozly, relawan Rumah Dunia dan Untirta Serang juga memberi beasiswa kepada Muhzen Den. SUHUD Media Promo tak mau ketinggalan, urusan cetak-mencetak; standing banner, liflet, dan backdrop ditanggungnya.Yang kolosal sumbangan dari Yayasan Kepedulian dan Kesetiakawanan Sosial Jakarta berupa 2 komputer dan mejanya, 1 wireless, 100 kursi plastik, 50 meja gambar, dan printer. Bahkan Nenny Sri Utami (Sekretaris Umum YKDK) menambahkan, “Nanti menyusul tenda, buku, dan alat-alat kesenian marawis!”

Saat diskusi CwR dengan narasumber Endang Eko Koswara, Wien Muldian, Ella, hujan mengguyur. Tapi peserta tetap bertahan. Eko memberi informasi, bahwa upaya penuntasan buta aksara bagi ratusan ribu warga di Banten itu tidak mampu dilakukan sendirian oleh dinas pendidikan tanpa melibatkan sektor lain. ”Tanpa ada pendekatan budaya, misalnya, tidak mungkin bisa menuntaskan buta aksara di Baduy,” katanya. Demikian pula untuk menuntaskan buta aksara di kalangan anak jalanan, dinas pendidikan membutuhkan kerja sama dengan satuan polisi pamong praja dan dinas sosial.

Tias and his gank di stand CwRKepala Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Banten Sudiyati mengatakan, pihaknya berupaya mendekatkan akses masyarakat kepada buku dengan membangun taman bacaan, perpustakaan desa, juga mengirim mobil perpustakaan keliling. ”Saat ini di Banten ada sekitar 200 taman bacaan dan 143 perpustakaan desa. Tahun ini ada rencana penambahan 44 perpustakaan desa,” kata Sudiyati.

Menurut Gol A Gong, pihaknya selama ini juga ikut berusaha menurunkan angka buta aksara, yakni dengan mengajari baca tulis bagi anak sekolah dasar—termasuk pemulung—yang belum bisa membaca. Terkait gerakan CwR, Gong mengatakan bahwa kegiatan itu dimaksudkan untuk menggelorakan ke seluruh warga Banten, bahwa dengan membaca bisa mengubah kualitas hidup warga. Hal laionnya, Banen akan kembali jaya seperti pada abad ke-16.

Sedangkan  menurut Ella Yulaelawati, M.A., Ph.D, anak-anak yang  lebih memiliki minat baca akan mempunyai kinerja akademis yang lebih baik.  Laporan studi  PISA (2006) menunjukkan remaja dari berbagai kalangan termasuk dari latar belakang ekonomi yang paling kurang mampu dapat lebih cemerlang dari teman-teman sebaya mereka yang lebih kaya jika mereka secara teratur membaca buku-buku, surat kabar dan komik di luar sekolah.

Menurut laporan studi “Membaca untuk Perubahan” (2007) ditemukan secara signifikan  bahwa mendorong membaca untuk kesenangan bisa menjadi salah satu cara yang paling efektif untuk mewujudkan perubahan sosial. Remaja usia lima belas tahun  dengan status  pekerjaan orangtua yang rendah terbukti  mencapai nilai rata-rata membaca (540) bila sangat terlibat dalam kegiatan membaca. Skor ini sangat  signifikan lebih tinggi dari pencapaian remaja yang orangtuanya memiliki status pekerjaan tinggi, tetapi yang kurang terlibat dalam membaca.

Semua siswa yang sangat terlibat dalam membaca membaca terbukti secara signifikan dapat mencapai nilai di atas skor rata-rata  internasional, terlepas dari apa pun latar belakang keluarga mereka. Hal ini membuktikan bahwa, walaupun latar belakang sosio-ekonomi sangat berperan, bukan berarti dapat menjadi  faktor dominan dalam memprediksi keterlibatan  membaca bahan bacaan yang beragam.  Tetapi penelitian juga menemukan bahwa ketersediaan bahan bacaan di rumah sangat berperan dalam mengembangkan kemampuan membaca anak. Anak-anak yang memiliki akses ke sejumlah besar buku cenderung  untuk lebih tertarik membaca secara meluas. Sementara keterkaitan latar belakang  sosio-ekonomi dengan profil membaca lemah, keterkaitan akses ke banyak buku di rumah berperan lebih tinggi. (Jang RuDun/Laporan Lanang Sejagat, harir Baldan, Kompas dot com)

advert

Tags Kata

Gonjlengan

MENGOPTIMALKAN POTENSI TAMAN BACAAN MASYARAKAT

Oleh Gol A Gong
Beberapa kali saya kedatangan tamu yang selalu minta diajari membuat proposal pembuatan taman bacaan masyarakat. Mereka adalah para mahasiswa. Mereka menduga, bahwa saya mendirikan taman bacaan masyarakat bernama Rumah Dunia dengan membuat proposal. Saya katakan kepada mereka, bahwa Rumah Dunia tidak dibangun dengan proposal, tapi dengan kata-kata. Juga Rumah Dunia tidak dibangun [...]

Full Story | February 21st, 2010

Banten Kuliner

MAKANAN TRADISIONAL SERABI GURIH DAN ALAMI

SERABI GURIH DAN ALAMI

Oleh: Rama
Di pinggir jalan Bayangkara Sumampir Cilegon, atau tepatnya di depan Lapangan Bola Sumampir,

Full Story | February 8th, 2010

advert

Wisata Banten

PEMANDIAN CIPANAS SEHAT DAN SEGAR

LEBAK – Selain mimpi jadi kota pelajar, Lebak yang belum lama berusia 181 tahun ini juga rupanya menyimpan banyak keindahan alam. Saya belum lama ini sempat coba-coba menelisik, mengunjungi dan menikmati bahkan tadinya ingin menjamah semua tempat-tempat wisata yang ada di Kabupaten Lebak, baru sebagian saja sih, mengingat beberapa tujuan wisata masih cukup jauh dan [...]

Full Story | December 27th, 2009

advert

Cerpen

BABI NGEPET BUKU

Cerpen Langlang Randhawa*
Alkisah, Banten punya taman budaya yang megah. Gedung berlantai lima yang berdiri di atas tanah bekas gedung kegubernuran Banten itu ramai dengan diskusi mengalahkan hiruk-pikuk mall-mall. Selain berada di jantung kota dan mewah, fasilitasnya pun mengalahkan Gedung Putih Amerika; kenyamanan, keamanan, pelayanan, dan kebersihan sangatlah terjaga dan tertata. [...]

Full Story | March 9th, 2010

Novel

SEGERA “TEMBANG KAMPUNG HALAMAN” KARYA GOL A GONG

Nantikan di bulan Februari 2010, cerita bersambung “Tembang Kampung Halaman”  karya Gol A Gong – dulu Gola Gong. Cerita ini pernah dimuat di majalah HAI  tahun 1990-an dan diterbitkan jadi buku mungil oleh Gramedia. Menceritakan anak-anak kampung dari kampung yang agraris di wilayah pesisir utara, lalu mengalami perubahan sosial.  Mimpi-mimpi dilontarkan setinggi bintang dan ada [...]

Full Story | January 21st, 2010

Puisi

PUISI-PUISI DEA ANUGRAH

KEPADA PISAU

airmatamu mengalir
sampai jauh
pelan pelan menghampir kesunyianku.
***

BLUES BUAT PEREMPUAN R
di kotaku. di kotaku yang jauh ini
selalu kutemukan kilau senyummu
pada lampu lampu jalan, pada bau malam yang khas
juga pada dingin angin pelabuhan.
padahal hidup
hanya menunda kekalahan
seperti payung
yang perlahan lahan sobek
dikoyak moyak angin kencang jelek.
di kotaku.
di kotaku yang jauh ini
aku selalu mengingat senyummu
meski hidup hanya serupa
payung [...]

Full Story | March 9th, 2010