HUJAN BAHAGIA DI PESTA ANAK RUMAH DUNIA
langlang | Laporan Utama | July 25th, 2010 | 4 Comments »
Gadis cilik itu bernama Fia. Usianya barulah menginjak 9 tahun dan duduk di kelas 4 sekolah dasar. Seperti teman-teman lainnya, ia gelisah menanti namanya dipanggil. Sambil melihat teman-temannya yang lebih dahulu unjuk kemampuan pada lomba baca puisi, Fia sesekali melirik kembali majalah anak-anak di dekapannya. Sambil hilir mudik tak betah duduk di kursi, Fia kembali melirik larik-larik puisi anak yang ada di dalam salah satu majalah tersebut. Ia berharap ia hafal teksnya, meski nantinya Fia akan membacanya dan bukan menghafal. Hingga tiba saat yang dinanti, Fia harus naik panggung karena namanya sudah disebut oleh sang MC. Tiba-tiba Fia tak langsung menaiki panggung. Ia merasa ragu karena di depannya sekitar 100-an anak peserta lain yang siap menyaksikan aksinya, mungkin, terlihat menyeramkan di bayangannya. Hingga beberapa saat Fia masih tetap ragu. Hal ini membuat panitia merasa perlu mendekati Fia dan membujuknya agar berani naik panggung. Akhirnya, tak lama kemudian dengan senyum kikuk, Fia meminta waktu sebentar untuk menenangkan diri. ”Tunggu sebentar ya, Kak. Fia mau berdo’a dulu,” ujar Fia sambil menarik napas dan mulutnya komat-kamit membaca do’a. Fia mengusap wajah, ”Sudah, Kak. Bismillah!” Fia naik panggung dan langsung disambut tepuk tangan para peserta Pesta Anak Rumah Dunia.
Daftar Buat Adik
Pesta Anak adalah tradisi tahunan Rumah Dunia dalam rangka memeriahkan Hari Anak Nasional yang biasa diperingati setiap tanggal 23 Juli. Tak hanya lomba baca puisi, menggambar, dan mengarang yang memang mengandung unsur budaya literasi sejak dini, Pesta Anak Rumah Dunia ke-9 yang dilaksanakan pada Sabtu (24/7) hingga Minggu (25/7) juga dimeriahkan aneka lomba hiburan lainnya semisal lomba balap makan kerupuk, tusuk balon, permen di tempayan putih, joget jeruk, memasukkan paku ke dalam botol, dan balap sarung (bukan karung).
Ahmad Wayang selaku ketua panitia memaparkan, lomba ini merupakan bentuk kepedulian Rumah Dunia pada anak-anak dengan cara mempestakan mereka. Anak-anak dibiarkan tertawa dan diberi kesempatan unjuk kebolehan mereka.”Kami ingin dari Pesta Anak ini anak-anak lebih bahagia dari hari-hari biasanya,” ujar mantan penjual roti yang dua bulan lalu cerpennya tergabung dalam antologi penulis muda Banten berjudul Gilalova yang diterbitkan Gong Publishing. ”Kami juga memberi kesempatan kepada adik-adik saya di Rumah Dunia dengan memberi kesempatan mengikuti dua jenis lomba. Kami ingin mereka mendapat kesempatan untuk terus bersenang-senang hingga menang. Dan tentunya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada para donatur yang telah mendukung kegiatan ini,” imbuh relawan asal Kibin, Serang, yang baru saja lolos tes pendaftaran mahasiswa baru di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten, setelah sempat tak meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi selama tiga tahun karena persoalan biaya.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Pesta Anak Rumah Dunia ini selalu diminati anak-anak. Bahkan seminggu sebelum pesta digelar anak-anak kampung Ciloang, Kubil, Tegal Duren, Kesuren, dan Kemang, yang memang berada di sekitar Rumah Dunia, langsung berbondong-bondong mendaftarkan diri. Panitia yang sebagian besar merupakan anak-anak generasi awal Rumah Dunia didirikan yang kini sudah menjadi remaja, sibuk menangani adik-adiknya yang antusias mengikuti Pesta Anak ini. Hal ini pula yang ditunjukkan bocah bernama Agwan (10). Ia sengaja datang untuk mendaftarkan adiknya juga. ”Saya pesan buat adik saya ya, Kak.”
Mereka Hebat!
Setelah berhelat selama dua hari, akhirnya satu persatu lomba pun terselesaikan dengan wajah anak-anak yang riang. Para dewan juri sibuk memilih karya terbaik dari peserta. Untuk lomba menggambar, Indra Kesuma, tutor wisata menggambar di Rumah Dunia yang juga guru kesenian di SMA Al-Azhar 3 Kota Serang, memilih tiga juara untuk kategori Taman Kanak-Kanak (TK). Mereka adalah Odri (juara I), Silviyana Dewi (juara II), dan Akilah (juara III). Sementara tiga juara lomba menggambar untuk kategori peserta Sekolah Dasar (SD), Indra memilih karya Ahmad S (juara I), Astin M (juara II), dan Sulis (juara III). ”Karya anak-anak memang rata-rata seragam karena mereka terjebak di tema yakni kembali ke sekolah. Tapi jujur, mereka sudah berani menggoreskan pensil lalu memberi warna untuk mengeluarkan ide-ide kecil mereka pun sudah hebat. Itulah modal bagi masa depan mereka,” ujar Indra.
Untuk lomba puisi, salah satu dewan juri Ahmad Salam H.S yang puisi-puisinya sudah memeriahkan media lokal dan nasional memilih aksi pembacaan puisi Indah (juara I), Irma (juara II), dan Iyah (juara III). ”Meski masih ada yang malu-malu membacakan puisi, saya cukup salut dengan keberanian mereka untuk menguasai diri di panggung. Apalagi ada yang lantang membacakan puisinya,” ujar relawan asal Waringin Kurung ini. “Ini sangat menarik!” imbuhnya dengan sangat antusias.
Sementara itu Langlang Randhawa, relawan yang juga penulis novel Slonong Boy Millionaire (B-First Mizan Group: 2009), akhirnya memilih karangan karya Febiola Martina (juara I), Fia (juara II) yang sempat gagal di lomba baca puisi, dan Hamim (juara III). ”Mayoritas karya adik-adik di Rumah Dunia bisa dibaca mengalir, meski terkadang mereka manabrak-nabrak ejaan yang disempurnakan. Tapi untuk sebuah karya yang langsung ditulis di tempat perlombaan dan waktu terbatas, mereka layak diacungi jempol dan tidak boleh dipandang remeh. Mereka anak-anak kampung yang hebat!” ujar relawan asal Tangerang yang novel keduanya berjudul Merah Putih di Old Trafford (Kaifa Mizan Group) sedang dalam proses cetak dan akan segera terbit akhir bulan Juli ini.
Kami Senang, Kak.
Akhirnya para pemenang aneka lomba Pesta Anak berbahagia menggondol hadiah berupa paket peralatan sekolah; buku, alat tulis, kaos kaki, dan tas sekolah. Kebahagian ini juga dirasakan Fia. Bocah berkulit sawo matang ini memang terjegal di perlombaan baca puisi meski ia sudah berdoa dan berusaha semampunya, namun bersama pemenang lomba hiburan lainnya, Fia mengaku senang bisa menjadi juara kedua pada lomba mengarang. ”Untung kakak-kakak di Rumah Dunia memberi kesempatan dua jenis lomba, sehingga Fia akhirnya bisa menang,” ujar Fia. Hal senada juga diungkapkan bocah bernama Hamim (10). Pasalnya meski hanya menyabet juara tiga pada lomba mengarang, Hamim akhirnya berhasil meraih juara pertama pada lomba joget buah jeruk bersama rekannya, Anan. ”Kami sangat senang, Kak. Terima kasih atas pestanya. Mudah-mudahan tahun depan masih ada lagi,” ujar Hamim.
Sementara itu Erwin yang gagal menyabet juara dalam aneka lomba Pesta Anak ini, awalnya merasa sedih juga. Namun karena melihat teman-temannya bahagia, ia pun ikut terabawa senang. Apalagi Erwin sempat diwawancara Fery Setiawan, relawan Rumah Dunia yang kini menjadi wartawan televisi lokal BRTV selaku media partner Rumah Dunia selama ini. ”Kalah juga enggak apa-apa, yang penting bisa masuk tipi!” ujar Erwin polos. Akhirnya, meski cuaca tiba-tiba panas selama Pesta Anak digelar, diguyur hujan bahagia. Sampai jumpa di Pesta Anak tahun depan. Seluruh pengurus Rumah Dunia mangucapkan banyak terima kasih kepada para relawan yang telah berjibaku, adik-adik yang sudah ikut memeriahkan, serta para donatur yang telah menyumbangkan sebagian hartanya. Semoga semuanya bisa menjadi amal nan barakah. Sampai jumpa di Pesta Anak ke-10 tahun depan. Semoga kita semua diberi panjang umur dan barakah. Salam. Semangat! [LR]












