BACA PUISI WONG CILIK#3 RUMAH DUNIA: KARENA HATI DAN DUA ISTRI MEREKA BERPUISI
langlang | Laporan Utama | February 15th, 2010 | 2 Comments »
Pagi sekitar pukul 08.00 WIB, Kadi (39) sudah duduk gelisah di sudut Rumah Dunia. Di tangannya ada sebuah kertas berisi larik-larik puisi hasil karyanya sendiri. Ia terus saja menghayati puisi itu, karena beberapa menit lagi ia akan membacakannya di hadapan 24 peserta dan puluhan penonton Lomba Wong Cilik Baca Puisi#3 yang diadakan Rumah Dunia pada Minggu (14/2).
Laki-laki dengan pendapatan perhari rata-rata sebesar 50 ribu rupiah itu, rela menghentikan barang sejenak roda-roda odong-odong yang selama ini menjadi penopang dalam menjalani kehidupannya. Hari itu dia ingin sekali menumpahkan unek-uneknya dan berharap bisa menggondol hadiah berupa uang dari panitia untuk keluarganya tercinta. ”Jika saya menang nanti, uangnya akan saya pakai sebagai tambahan nafkah bagi dua istri dan anak-anak saya dari mereka,” ujarnya polos.
Tak berbeda dengan Kadi yang begitu semangat mengikuti lomba, begitu pun dengan Fayudi (31). Wajah istrinya yang hendak melahirkan dan bayang-bayang jumlah angka-angka rupiah yang akan dikeluarkan saat persalinan nanti, membuatnya nekat menanggalkan kotak asongan di rumah dan bergegas ke Rumah Dunia. Bahkan saking tergesanya, ia tidak sempat membuat puisi karyanya sendiri. Beruntung panitia menyediakan lembar-lembar puisi yang sengaja disiapkan bagi mereka yang tak bisa atau tak sempat menulis puisi sendiri. Fayudi pun tersenyum lega dan ia segera menyingkir dari kerumunan, berlatih menyiapkan diri sebelum panitia memanggil namanya untuk naik ke panggung.
Meski begitu, masih ada yang melebihi ketergesa-gesaan Fayudi. Adalah Satam Miharja (66), yang harus menghentikan pekerjaannya sebagai kuli bangunan saat itu juga, dan segera bergegas ke rumah Dunia dengan mengenakan pakaian kerjanya yang kotor dan topi petani, sesaat setelah rekannya mengabarkan bahwa ada lomba baca puisi bagi warga seperti dirinya di Rumah Dunia. Nampaknya hadiah untuk tiga juara umum dan tiga juara harapan dengan jumlah total sebanyak Rp. 1.300.000,- yang disediakan panitia dari berbagai donatur Rumah Dunia itu menarik perhatian mereka. Jumlah yang cukup berarti bagi mereka, meski harus dipecah menjadi milik enam orang, sesuai dengan tingkat juara yang diraih masing-masing.
Hari itu, tak hanya hanya kalangan suami yang hadir. Para istri dan remaja pun tak mau ketinggalan. Tentunya dengan latar belakang dan profesi yang berbeda; tukang ojek, tukang odong-odong, tukang becak, kuli bangunan, penjaga toko, ibu rumah tangga.
Motivasi mereka pun berbeda dalam mengikuti acara ini. Ada yang memang murni untuk menambah penghasilan, sekedar berpartisipasi memeriahkan, menyemangati generasi muda, dan lain sebagainya. Namun ada juga peserta yang memang datang dengan hati karena sangat mencintai puisi. Seperti halnya yang diungkapkan Ade Mufti, yang sehari-hari bekerja sebagai penjaga toko. Ia mengaku, dirinya sudah mencintai puisi sejak ia bisa membaca. Ia mengatakan bahwa ia ingin belajar puisi dan berekspresi di Rumah Dunia. ”Mungkin puisilah yang mengantarkan saya ke lomba ini dan mempertemukan saya dengan Rumah Dunia,” ujarnya puitis.
Mengenai uang hadiah, hampir semua peserta mengaku, jika mereka menang nanti, maka uang yang diraih akan dipersembahkan bagi keluarga tercinta dalam bentuk; membeli sepeda buat anak, membeli susu, membayar biaya sekolah, menambah modal usaha, dan bahkan untuk persiapan perayaan muludan atau memperingati hari kelahiran nabi yang biasa dimeriahkan di kawasan Serang dan sekitarnya.
BOCAH CILIK DAN WONG CILIK
Ada rehat sejenak dalam perlombaan ini. Waktu istirahat ini diisi dengan pementasan-pementasan pembacaan puisi oleh Sahroji, Ojek dan ketua Rt di Waringin Kurung, yang pernah menyabet juara pada Wong Cilik Baca Puisi#1 (2008), dan juga Tamim, tukang becak yang pernah menjadi juara pada Wong Cilik Baca Puisi#2 (2009). Penampilan pun ditutup aksi Ahmad Achsan (6 th) bocah cilik penderita Cerebral Palsy, yang hari itu berkunjung ke Rumah Dunia bersama ibunya. Dengan segala keterbatasannya, Achsan membacakan puisi berjudul AKU karya Chairil Anwar.
Suasana hening seketika. Para hadirin terperangah saat menyimak Achsan membacakan puisi dengan cara menghafal. Achan mengaku, ia paling suka pada puisi-puisi karya Chairil Anwar dan Toto ST Radik, penyair Banten. “Aku suka puisi Chairil Anwar!” ujarnya.
KEJUJURAN
Masih ada banyak lagi para peserta yang bersemangat dalam acara itu. Mereka adalah para pejuang-pejuang keluarga yang kerap kali terhempas kondisi ekonomi yang selalu tidak mengenakkan. Meski demikian tak menyurutkan mereka untuk selalu menghasilkan pundi-pundi lebih banyak karena memang kebutuhan pun semakin menumpuk dari hari ke hari. Jika masalah-masalah itu diibaratkan air yang dimasukkan ke dalam teko, maka kenyataan-kenyataan pahit itu pun berhamburan dari kata-kata yang keluar dari hati meluncur deras lewat mulut mereka.
Kata-kata yang dalam bahasa Rahmat Heldy, HS., selaku salah satu dewan juri, disebut sebagai kata-kata kejujuran dari hati yang tertindas. Hampir semua dari mereka, membuat puisi-puisinya sendiri dan menceritakan kepedihan hidupnya, semangatnya yang menggelora, kekecewaannya pada pemerintah, dan cintanya yang besar pada keluarga. Judulnya pun cukup menarik untuk ukuran mereka yang selalu dicap jauh dari ritual keberaksaraan. Mereka tak bisa dianggap remeh dalam pemilihan kata. Sebut saja tiga judul puisi ini; Baud-baud Kehiduan karya Bambang yang bekerja sebagai ojek. Sajak Fakir karya Amah si ibu rumah tangga, dan Kang Tukang karya Yahya yang berkerja sebagai kuli bangunan. Semuanya membicarakan semangat bertahan hidup walau berbilur kepedihan dan pengkhianatan dari sang pemangku kebijakan. Mereka memang meratapi nasibnya sendiri, tapi mereka menyelipkan kecewa pada negara. Mereka adalah wong cilik, tapi mereka pun mempunyai harapan dan cita-cita besar. Tak hanya permainan kata, gaya pembacaan dan ekspresi mereka pun tidak semuanya kaku. Mereka berteriak, merintih, bersimpuh, dan segala simbol-simbol gerak yang biasa disandangkan pada wong cilik. Mengenai cara mereka membaca, Rahmat Heldy cukup takjub. Pasalnya, hingga saat ini ia sendiri masih banyak menemukan pembacaan puisi yang mendayu-dayu dan lemah persis pada era klasik di kalangan pelajar. Tapi pada mereka, wong cilik, nyaris tidak dijumpai. “Meski ada beberapa yang masih mendayu ala klasik, tetapi hampir semua peserta melakukan ekpresi dan gaya membaca puisi yang sudah kekinian. Ekspresi sudah sesuai kalimat yang dibaca. Mereka tidak bisa dipandang remeh, dibandingkan para pelajar di sekolah-sekolah,” ujar penulis buku antologi puisi Kampung Ular ini.
SEMANGAT DAN SYUKUR
Akhirnya, puisi berjudul Suamiku yang isinya menyiratkan do’a dan kebanggan seorang istri pada sang suami yang tak lelah membanting tulang demi keluarga, meloloskan Amaliah, ibu rumah tangga, terpilih menjadi juara pertama oleh dewan Juri.
Amaliah pun berhak atas uang sebesar 500 ribu rupiah. Nominal hadiah bagi juara ke-dua sebanyak 300 ribu diraih Satam Miharja yang bekerja sebagai kuli bangunan, sedangkan Waryana yang bekerja sebagai tukang becak mendapatkan uang hadiah sebesar 200 ribu rupiah. Sementara untuk ketiga juara harapan diraih oleh Heri Sumar Santi yang merupakan ibu rumah tangga, Amah yang juga ibu rumah tangga, serta Suhemi penjual mainan anak-anak. Mereka masing-masing menggondol uang sebesar 100 ribu rupiah. Baik juara umum dan juara harapan, semuanya mendapatkan paket berisi buku dari Rumah Dunia.
Meski Kadi, Fayudi, dan rekan-rekan seperjuangan lainnya tak bisa mendapatkan hadiah, mereka mengaku tetap bahagia. Tumpah sudah perasaannya hari itu. Berhamburanlah hasratnya. Gaya berpuisi yang sesekali mengundang gelak tawa dan haru, serta wajah-wajah dan tawa gembira para juara adalah saat-saat indah bagi mereka.
Lomba wong cilik ini adalah wahana hiburan dan berekspresi bagi mereka yang selalu tersingkir dan jarang mendapatkan kesempatan seperti hari itu. Selain itu ada silaturahim yang mereka dapati di sini. Juga rasa kebersamaan. Masih ada yang lebih susah dibandingkan diri sendiri ternyata. Sehingga meski tetap menjadi wong cilik, namun terpatrilah kembali rasa syukur tak terhingga pada sang pencipta serta do’a-do’a demi cita-cita yang tetap besar dan mulia.
Kadi, ia boleh merasa sedikit kecewa kerena dua istrinya tidak mendapat tambahan nafkah materi, tetapi hatinya merasa puas karena segala unek-uneknya tumpah ruah di Rumah Dunia. Sampai jumpa di Wong Cilik Baca Puisi jilid empat pada 2011 nanti. Insya Allah. Salam hangat penuh semangat dari wong cilik. Mari teriak! Hidup wong cilik!!! [Langlang]
























