PUISI-PUISI BUDHI SETYAWAN

Yang Merawat Senyumku

: anak anakku

pada wajahmu ada sabana yang menjadi tempatku bercermin, menakar jejak kisah dan arah langkah. kudapati riuh wajahku, sendiri, menanyakan bayang. sungai kecil dengan air jernih sejuk mengalirkan gurat silsilah, sering aku bermain main disitu bercanda dengan musim. ketika sepoi kamar, masa silam dan masa depan sering berpapasan, kadang bertukar mimpi dan berbagi pengalaman. aku jadi ingat pagi di kampung, dedaun di kebun yang menjadi taman bagi capung, selalu ada rindu tertampung. di depanmu letih semacam pengecut yang lari terbirit, lalu lenyap tanpa menjerit. usahlah rintih menantang perih dan repih karena kecut rasa telah disapih.

***

Goresan Hujan

ini hujan

begitu gemar membangunkan kenangan

yang telah nyenyak rebah tiduran

di kamar kamar zaman

ini hujan

begitu rajin menyuburkan impian

yang tertanam begitu dalam

di taman taman bayangan

ini hujan

begitu tekun melukiskan kesepian

yang duduk termenung temaram

di kanvas kanvas rintihan

***

Surat Pendek Kepada Ibu

ibukota ini telah mencuriku, ketika aku baru saja meraut metafora bunyi. dan aku lama limbung lena dalam riuh pestanya. sementara dadaku kian geronggang nganga. menjejak senja yang purba. kekeringan adalah mata mata yang lihai mengaduk irama. menyisakan nanar yang ketika. aku ingin kembali padamu, dan menyusu lembut pada doamu.

***

Budhi Setyawan, lahir di Purworejo, Jawa Tengah,  9 Agustus 1969. Beberapa tulisannya dimuat di  Tribun Kaltim, Republika, Jurnal Nasional, Sinar Harapan, Seputar Indonesia, Radar Bandung, Radar Banjarmasin, Radar Tasikmalaya, Majalah GONG, Majalah STORY,  Jurnal The Sandour, Bulletin Littera, Bulletin Cangkir, Buletin Hysteria, Tabloid Apakabar (Hongkong),  kompas.com, dll. Juga menulis puisi dalam bahasa jawa (geguritan) dimuat di majalah Damarjati, Panjebar Semangat,  Jayabaya. Puisinya ada dalam antologi bersama: Kemayaan dan Kenyataan (Fordisastra, 2007), Pedas Lada Pasir Kuarsa (Temu Sastrawan Indonesia II Pangkalpinang, 2009), Kakilangit Kesumba (Purworejo, 2009), Antologi Penyair Nusantara: Musibah Gempa Padang (Kuala Lumpur, 2009). Buku antologi puisi tunggalnya: Kepak Sayap Jiwa (2006), Penyadaran (2006), Sukma Silam (2007). Sekarang aktif di kegiatan bulanan Sastra Reboan di Bulungan, Jakarta Selatan. blog: www.budhisetyawan.wordpress.com email: budhisetya69@yahoo.com

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

PUISI-PUISI Y.THENDRA BP

Buton
dari cerita singkat wa ode wulan ratna

sekali lagi, kubayangkan matahari tropis sore memandang seribu pulau yang

dijaga benteng benteng
sebelum akhirnya angslup ke dalam laut, membawa seribu misteri kesunyian

gunung siontapina
seperti atlantis yang hilang

aku ingin jadi kanak-kanak ria lagi, hilang sejenak segan pada usia,
berlari-lari di negeri yang dilupakan itu

aku tak ingin datang untuk aspal, wa ode
yang telah membuat jalan jalan kotaku jadi malam
negerimu jadi demam

aku ingin datang karna puisi
karna makam sultan dikeramatkan
karna makam rakyat kecil tidak dikeramatkan

***

Kepada Fatris dan 30 September 2009
dari sebuah potret

yang datang pada jam 5 sore itu
begitu tiba-tiba
yang pergi pada jam 5 sore itu
begitu tergesa-gesa

aku sanggup melupakan
yang datang
tapi tak sanggup melupakan
yang pergi

gadis kecil memeluk kucing hitam
di antara reruntuhan bangunan
dan air mata hitam

***

Ngai Oi Ngi

waktu yang singkat
menyusun ingatan yang panjang, mei lan
di belinyu, di belinyu
kita bertemu
ruko-ruko tutup pada jam 4 petang
dikepung bekas lubang-lubang tambang
yang ditinggalkan

aku menggenggam tanganmu lebih dalam
–tangan yang datang dari negeri hutan terbakar–
di benteng bongkap, pha kak liang
pantai penyusuk, atau di bawah bulan
ketika listrik padam
pada jam 9 malam

tetapi sepanjang jalan depati amir
angin mengembalikan tangan kita
jadi milik kita masing-masing
agar bisa menangkap senja
bangunan-bangunan tua
dari masa gemilang timah
hingga kesedihan
orang-orang hakka
dalam pembakaran taiseja

agar bisa merasakan
suara mereka yang hidup dan tak bisa pulang
lalu membangun kampung dalam dirinya
jauh lebih sunyi, jauh lebih sunyi
daripada sihir puisi
igauan pelayaran
yang tak pernah menyentuh lautan

Belinyu-Yogyakarta, Agustus 2009

***

Solilokui

dingin bulan
gigil jalan
dan aku terus melangkah
rumah tutup
kedai larut malam
pengendara motor
melintasi embun
yang jatuh dari bintang tak bernama
betapa lengang jam berdentang
di mata jaga
malam tinggal bayang
lampu-lampu hotel
lampu-lampu reklame
cuma bikin asing pada kepulangan
pada kekasih yang menyimpan ciuman:
lidah lembut dalam telinga

angin kencang berhembus
tapi sedikit suara yang tergambarkan
dan aku terus melangkah
ambang subuh
engkau makin tertinggal jauh
yang tidur dalam sajak:
rabun senja!
dan aku terus melangkah
pada bengkolan ke tujuh
aku memasuki pagi baru

***

Y. Thendra BP, berasal dari nagari Padang Sibusuak, Sumatera Barat. Lahir di Bangkinang 10 Mei 1980.  Puisinya pernah dimuat di Koran Suara Pembaruan, Bali Post, Minggu Pagi, Jawa Pos, Jurnas Bogor, Tabloid Nyata, Padang Ekspres, Singgalang, Cybersastra.net, titikoma.com, Jurnal ruang puisi rumah lebah. dll. Juga tergabung dalam antologi komunal, Filantropi FKY (2001), dian sastro for president#2 (2003), Herbarium (2007), Kampung Dalam Diri (2008), Pedas Lada Pasir Kuarsa (kumpulan puisi TSI II 2009). Dan peraih utama kedua lomba puisi cinta nyata, tabloid Nyata (2008). Tuhan, telpon aku dong (Gambala Media, 2004) adalah kumpulan puisi tunggalnya yang pertama. Pengelola Weblog:  http://langit-puisi.blogspot.com dan berdiskusi sambil minum kopi di Rumah Lebah. Sekarang ia berdomisili di Yogyakarta.

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

PUISI-PUISI BUDI P.HATEES

Sajak Kepada  Luka

terima kasih untuk tidak menangis

saat aku pergi

segala duka hatimu kini kikis

dan hiduplah berseri

aku adalah belati yang gores hatimu

setiap kau kenangkan tanganku

di pundakmu atau kecupan-kecupanku

di keningmu membatu

telah aku tinggalkan puisi yang tak bisu

aku tulis pada kertas-kertas di hatimu

tetapi kita hanya menciptakan selaksa luka

jika tetap kurekatkan hatiku di hati kau punya

waktu tak akan berhasil kita rajuti

jadi mantel bagi gigil hidup sendiri

dan masing-masing sudah mengerti

kita punya hati sukar berbagi

Bandar Lampung, i–2010

***

Cerita Sebutir Embun dan Fajar

engkau bagiku adalah embun, sekali waktu gemerlap air di daun

tapi aku bukanlah matahari yang akan memaksa bening matamu mengatup

kala tiba siang. aku hanya fajar, jiwa yang selalu berdebar oleh getar

gerak tubuhmu di daun yang seakan jatuh senantiasa utuh

engkau bagiku adalah embun, setiap saat memaksaku menjaga butir

beningmu utuh. sepanjang waktu,  lalu hilang bersama fajar

Bandar Lampung, i–2010

***

Tak Aku Ingat Wajahmu

tak aku ingat wajahmu di antara letupan-letupan hujan

butiran-butiran air itu menggiringku pada dinginnya kesendirian

lalu aku membayangkanmu muncul dengan tubuh yang basah

gelombang tubuhmu meliuk juwita

entah kali keberapa, kau datang dan aku tak mengenalimu

di antara kesendirianku. telah terlalu lama sunyi ini menemaniku

bermain-main di halaman rumah, terkadang memanjat pohon jambu klutuk

menahan dingin. adakah kau dengar geligiku gemelutuk menahan kutuk

aku selalu takut akan sesuatu yang datang menjemput

ia mengendarai angin, lesat lewat jendela yang aku kunci luput

hingga pada sosokmu pun aku takut

juga pada kenangan demi kenangan kita yang sejumput

aku sedang tak ingin kemana-mana setelah perjalanan panjang itu

setelah segala masa lalu tak tertinggal utuh

kenapa matamu begitu samar dan segalanya menjadi abu-abu

tak aku ingat lagi wajahmu, juga kenangan kita itu.

Bandar Lampung, i—2010

***

Ketika Ingin Menemuimu

ketika ingin menemuimu, tak kubayangkan

akan sesulit ini mengiris bola matamu dari ingatanku

hingga tak bisa aku kembali ke sudut bumi

di sebuah kota, dimana aku gemar membayangkanmu

dan jatuh cinta

ketika ingin menemuimu, aku siapkan kisah-kisah

sebuah dunia yang telah kubangun di sudut bumi.

hamparan batu cadas, ilalang seluas pandang,

dan matahari yang tak pernah henti mengucurkan cairan

magma.

ketika ingin menemuimu,  aku hasratkan tubuhmu

jelita. serupa pantai yang landai dengan ombak dan angin

yang berderai.  lalu serupa pelancong yang rindu panorama

aku potret wajahmu dan kukenangkan lingkar tanganku

di pinggangmu

setelah menemuimu, tak kubayangkan akan begitu tersiksa

oleh sepi yang menghasratkanku padamu

Bandar Lampung, i–2010

***

Budi P. Hatees kelahiran Sipirok, sebuah kota di Tapanuli Selatan, 3 Juni 1972.  Karya cerpennya justru lebih banyak dibanding puisi yang dihasilkan. Puisi-puisinya pernah terbit di berbagai media cetak  dan terkumpul di sejumlah buku antologi puisi bersama. Kini tinggal di Lampung sebagai seorang pengajar. Telepon 081379230111.

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

***

PUISI-PUISI DIAN HARTATI

Perempuan di Tepi Jendela

[1]

sejak kapan

perempuan jadi perona

membuat warna hati berlainan

kau merangkum seluruh kisah

jadi segenggam rindu

lalu kau bawa pergi

berlari ke laut

menyisir setiap bayang matahari

[2]

sampai hari ini, kau tetap membeku

jadi kawanan gerimis

yang tajam

tak mau diam

berseliweran

bersama angin yang tetap bersetia

bukankah ia lelaki?

ahhh kau, tetap membatu

[3]

“apa yang hendak kau lukis sekarang?”

warna pelangi atau rimbun hijau hatimu

SudutBumi, 2009

buat kawan Risma Dewi

***

Kalender Lunar

mencermati bulan

gerak putar yang tak pernah diduga

tibatiba purnama

kau selalu bercerita

tentang malam dan serigala

manusia dan petaka

sesuatu yang bernama kala

di setiap bentukan bulan

kau memandang langit mahabintang

tibatiba gerhana

SudutBumi, 2009

***

Gynoid

#1#

tubuhku hanya sumbu

yang tiap detik dibakar usia waktu

dapatkah kau berlari

menyelamatkan aku di ujung waktu?

#2#

berkas cahaya putih

terus menyelubungi

mengambil sebagian nafas

sebagian ruh

hingga aku akan benarbenar padam

di hadapanmu

#3#

tubuh luka

SudutBumi, 2009

***

Sebuah Wajah

pu,  aku mencintai sebentuk wajah

yang tergurat dari rupamu

ketika pertemuan hanya menyisakan

batas angan

aku tergeragap

karena kau begitu saja membuatku berdebar

aku masih ingat, pu

sore itu

langit bandung begitu anggun

jalanan begitu teratur

dan aku begitu menikmati wajahmu

di balik etalase

sebuah beranda telah memenjarakan ruang gerak kita

pu, aku ingin mengulangi peristiwa itu

ketika kau mencermati wajahku

dan menuangkannya di sebuah kanvas

sebuah wajah yang diliput kecintaan

kau tahu, pu

aku baru saja memerdekakan sebuah luka

dan kau hadir tanpa kuduga

mencerahkan cakrawala yang hendak kubentangkan

sebuah perayaan tercipta sore itu

kau yang berkawan angin

dan aku yang diliput bahagia

pu, aku mencintai sebentuk rupa

yang kau guratkan di wajahku

SudutBumi, 2007

***

Dian Hartati, lahir di Bandung, 13 Desember 1983. Menyukai jalan-jalan dan menenggelamkan diri pada perjalanan kata-kata. Bergiat di dunia kepenulisan sejak tahun 2002. Desember 2005 mengikuti workshop penulisan cerpen yang diadakan oleh Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga yang bekerja sama dengan Creative Writing Institute (CWI) di Jakarta. Juli 2006 menjadi peserta workshop Bengkel Kerja Budaya: Belajar Menulis Sejarah Sosial Masyarakat yang diadakan oleh Lafadl dan Desantara di Yogyakarta. Mengikuti Workshop Penulisan Kritik, Esai, dan Jurnalisme Sastra yang diadakan oleh Taman Budaya Jawa Tengah, Solo 2008. Tergabung dalam beberapa komunitas, seperti: ASAS, MnemoniC, Babad Bumi, dan lain-lain. Setelah lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia tetap berproses menulis dan sesekali mengelola blog www.sudutbumi.wordpress.com. Tinggal di Bandung dan sering menjuarai berbagai lomba, di antaranya Juara I Lomba Menulis Puisi Bahasa Melayu-Betawi/Indonesia Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jabar 2008.

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

PUISI-PUISI ROZI KEMBARA

BIOGRAFI  MATA

“mata lelaki selalu menyimpan kabut yang menyembunyikan

catatan kusam kekalahan kami”

begitulah, kamu pun mendedah kecemasan yang telah lama

kamu kemas dalam malammalam yang semakin menumpuk

dan setiap kali langit memucat

kamu berdiri di beranda rumah menghancurkan kerinduankerinduan

yang sama sekali belum kamu pahami benar.

“dan mataku, coba tatap mataku. apakah ada jejak kabut

apakah ada catatan kusam kekalahan kalian. bahkan mataku

sendiri telah tawar dari kekalahan maupun kemenangan”

kamu pun akhirnya letih. dan membenahi kembali kecemasan

kecemasan itu. menyimpannya kembali dalam lemari yang

terletak di belantara  dadamu.

tapi matamu masih membangun jembatan ke arah mataku

tapi matamu seperti setangkup pertanyaan yang memberat

di mataku.

“baiklah kalau begitu, biarkan mataku dan matamu membaur

kemudian bersamasama mengupas apa yang memang perlu

untuk dikupas. mataku dan matamu biar hanyut dalam tengadah

tangan sejarah yang gerah”

Tanah Jogjakarta

***

HUJAN TURUN DI KULON PROGO

I

merapatlah biar kehangatan menggubah lagu paling bisu

dan menyematkannya pada kedua belah telinga

di atas kepala, langit menggenggam telapak malam

udara dingin seperti mata pisau yang tersenyum

menatap urat nadi

mimpi kami beberapa jam yang lalu

adalah tangisan bercampur bara yang kalian benamkan

dalam tiap gemuruh ombak dan kalian tiupkan

pada setiap butir pasir hitam

II

telah kami eja api yang tumbuh pada sulur syaraf kalian

telah kami tafsirkan suara gemeretak yang terdengar

setiap kali kabar buruk itu menghampiri butiran pasir

yang telah menjadi penyangga nyawa kalian

tapi kami hanya mampu membongkar dada

dan mengais puingpuing munajat. kemudian menitipkannya

pada bibir pantai: dimana usia kalian matang oleh tiupan anginnya

doa kami mengabadi merasuki hari yang menerus berlari

III

merapatlah, dan dinginpun kehilangan rumah untuk bersemayam

lalu kami menyebut nama kalian berkalikali. hingga  kalian

menjelma petanda luka dalam rukuk dan sujud kami

Tanah Jogjakarta

***

MALAM LEMBANG DIBALUT HUJAN

dingin yang pecah dari pembuluh malam

belum mampu membekukan

remah perbincangan kita

langit menjulurkan hujan

menciptakan ceruk kecil kenangan

dan menambah perih setiap tikung ingatan

yang sejak dahulu perlahan kuhanguskan

dalam tiap kobaran doa.namun berkalikali

kuhanguskan

berkalikali juga ia lahir kembali sebagai

ingatan baru.

(di kantung riwayat sangkuriang melata

pada labirin doa.sedang sumbi kembali menjadi

rusuk yang melekat di iga waktu)

Tanah Bandung

***

Rozi Kembara, lahir 27 Juni 1990 di Tasikmalaya. Selama beberapa waktu pernah terdampar di Rumah Dunia, Serang-Banten. Kini sedang belajar di fakultas bahasa dan seni Universitas Negeri Yogyakarta.

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010