<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; Puisi</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/category/x5-puisi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 14:19:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/18/puisi-puisi-a-ganjar-sudibyo/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/18/puisi-puisi-a-ganjar-sudibyo/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 06:56:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[basah]]></category>
		<category><![CDATA[becak]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[tanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4113</guid>
		<description><![CDATA[TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK 
I.
 “ora et labora”
di pertigaan jalan menuju rumah
beberapa tukang becak menyemadikan nasib
: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha
- memejam di tempat duduk
masingmasing-
II.
“nrimo ing pandum”
kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan
begitu saja kepada puingan matahari dan purnama
mereka mengabadikannya sebagai penanda becak
yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa
lapar dan haus adalah
foto-doa
III.
“kerja adalah ibadah”
di sisi adzan,
kretek [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK </strong></p>
<p><strong>I.</strong></p>
<p><em> </em><em>“ora et labora”</em></p>
<p>di pertigaan jalan menuju rumah</p>
<p>beberapa tukang becak menyemadikan nasib</p>
<p>: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha</p>
<p>- memejam di tempat duduk</p>
<p>masingmasing-</p>
<p><strong>II.</strong></p>
<p><em>“nrimo ing pandum”</em></p>
<p>kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan</p>
<p>begitu saja kepada puingan matahari dan purnama</p>
<p>mereka mengabadikannya sebagai penanda becak</p>
<p>yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa</p>
<p>lapar dan haus adalah</p>
<p>foto-doa</p>
<p><strong>III.</strong></p>
<p><em>“kerja adalah ibadah”</em></p>
<p>di sisi adzan,</p>
<p>kretek yang masih tersimpan di saku, ingin</p>
<p>menyatakan bahwa ia telah membilangkan</p>
<p>bibirbibir kering</p>
<p>pepatah basah</p>
<p>kepada penantian yang bersuarasuara</p>
<p>sepanjang hari</p>
<p>- ia bernubuat pada mereka:</p>
<p>tunggulah dengan ibadah-sabar, penumpang akan kalian dapat -</p>
<p>2010</p>
<p>***</p>
<p><strong>EMPAT PERTANYAAN DAN JAWABAN MENGENAI AIRMATA KAMI</strong></p>
<p><strong>//pertanyaan-pertanyaan// </strong></p>
<p><strong>: 1.</strong></p>
<p>“ke mana arah airmata-jalan pergi menuju tanah rantau?”</p>
<p><strong>: 2.</strong></p>
<p>“siapa yang melahirkan airmata ayah dan ibu-kandung kami?”</p>
<p><strong>: 3.</strong></p>
<p>“bagaimana kami dapat mengeringkan laut airmata kami yang keruh?”</p>
<p><strong>: 4.</strong></p>
<p>“apakah Tuhan tak akan pernah menyesal menciptakan airmata?”</p>
<p><strong>//jawaban-jawaban// </strong></p>
<p><strong>: 1.</strong></p>
<p>sejujurnya, kami masih saja lupa rute di peta</p>
<p>sebab peta telah luntur oleh warna tinta airmata kami</p>
<p>dan dengan segenap cara kami yang tak dapat dibahasakan</p>
<p>jarak mengajarkan kepada kami bahwa menyisakan mimpi</p>
<p>tentang tanah perantauan itu tidak baik. oleh karena mimpi</p>
<p>adalah petunjuk pengganti peta paling mujarab, sehingga</p>
<p>nantinya kami bisa bertemu airmata lain yang tak asing</p>
<p>dari jalanan di tanah rantau.</p>
<p><strong>: 2.</strong></p>
<p>hampir setiap malam hampir setiap anak mendengarkan</p>
<p>lelagu dari gendongan para ibu di desa kami. sedang para ayah</p>
<p>sering kali merapikan nafkah dekat perapian dengan asap kretek</p>
<p>yang ingin berhenti keluar supaya disimpan saja di celengan berbentuk</p>
<p>ayam jantan di samping jendela kamar tempat matahari membenamkan</p>
<p>genangan air dari mata-pengharapan semalam.</p>
<p>- hampir setiap pagi ayah dan ibu-kandung kami berdiskusi</p>
<p>mengenai lagu kokok ayam yang tak akan pernah menceritakan</p>
<p>dari mana muasal segala tangis mereka karena setiap pagi adalah leluhur</p>
<p>airmata itu sendiri -</p>
<p><strong>: 3.</strong></p>
<p>bisa saja berabad-abad lamanya airmata yang menimbun, jelma</p>
<p>menjadi lautan seperti di tanah gaza atau bencana. dan kami tak</p>
<p>pernah tahu kapan awan akan menampung jadi mendung, sebab</p>
<p>kami telah lama percaya bahwa segalanya mampu mengering</p>
<p>segalanya mampu membatu segalanya mampu menjadi hujan.</p>
<p>dan barangkali,</p>
<p>kekeruhan yang terjadi di laut kami bukan karena kesamaan nasib kami</p>
<p>tetapi karena perbedaan cara bagaimana kami kembali merupa</p>
<p>iring-iringan awan kelabu.</p>
<p><strong>: 4.</strong></p>
<p>ya, tak akan pernah. sebab ingatan kami tak dapat mengelupas</p>
<p>tentang sejarah adam-hawa yang terusir dari tanah manusia pertama.</p>
<p>2010</p>
<p>***</p>
<p><strong>LALU ENGKAU DUDUK DI TEPIAN KOLAM SEKETIKA ITU</strong></p>
<p>~LALU seperti apakah engkau menerjemahkan</p>
<p>ikan ikan yang melaju ke permukaan kolam</p>
<p>sementara daun daun teratai yang layu</p>
<p>menamakan dirinya seribu petang</p>
<p>tanpa bayang rembulan</p>
<p>~ENGKAU mengenal riwayat muasal ikan ikan</p>
<p>dari ratusan telur yang tetas di tepian air tenang</p>
<p>di mana engkau juga menyuarakan kelahiran</p>
<p>bagi burung burung pelikan liar, keluar</p>
<p>dari sangkar tubuhmu yang ilalang</p>
<p>~DUDUK merenungi air matamu yang jatuh</p>
<p>dimakan ikan ikan lapar adalah perumpamaan,</p>
<p>tanda bahwasanya di pesakitan yang kini</p>
<p>engkau telah jelma ibu baru bagi</p>
<p>sejarah kanak kanakmu yang masih</p>
<p>merengek rengek minta susu</p>
<p>~DI TEPIAN tanpa waktu engkau telah berpikir</p>
<p>akan tubuhmu yang bukan lagi sarang bagi pelikan</p>
<p>melainkan sebentuk rancangan sebagai petuah</p>
<p>bagaimana memakaikan pakaian pada ikan ikan</p>
<p>yang telanjang, atau bagaimana</p>
<p>mengartikan ketelanjangan waktumu sendiri</p>
<p>~KOLAM barangkali bukanlah tempat untuk beradu</p>
<p>antara engkau dan bekas rahimmu,</p>
<p>karena setiap kepala tundukmu mendiamkan seribu petang telah</p>
<p>mengatasnamakan matamu yang adalah insang bagi ikan ikan</p>
<p>sedang air matamu ialah pelikan pelikan yang tiada</p>
<p>memaknai kelaparannya, lalu mati</p>
<p>~SEKETIKA ITU ikan ikan yang melaju ke permukaan</p>
<p>telah sempurna memiliki sayap sayap supaya mereka dapat</p>
<p>terbang segera menuju tubuhmu untuk engkau inkarnasikan</p>
<p>bukan sebagai ikan ikan petang di kolam tanpa bayang rembulan</p>
<p>dan hikayat zaman mata &#8211; air mata tanpa waktu, namun</p>
<p>sebagai kanak kanak burung burung pelikan</p>
<p>yang lapar.</p>
<p>2010</p>
<p>***</p>
<p><strong>A. Ganjar Sudibyo</strong> lahir di Semarang, 10 September 1989. Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang ini aktif mengelola blog puisi pribadinya (penyairpadipecandukata.blogspot.com) dan <em>note facebook, </em>selain bergiat di pergerakan komunitas sosial penanganan anak-anak jalanan dan kaum miskin kota SATOE ATAP di Semarang. Puisinya pernah memenangi sayembara puisi antologi Penghujung Tahun 2009, juga finalis lomba cipta puisi Indosat 2010, serta peringkat V lomba penulisan karya sastra puisi tingkat universitas (PEKSIMIDA) se-Jawa Tengah 2010 dan mengikuti PEKSIMINAS 2010. Beberapa puisinya tersebar di berbagai situs sastra. Sekarang tinggal di Semarang. Alamat email, fb  : <a href="mailto:rumahkatakata@gmail.com">rumahkatakata@gmail.com</a>, Ganz Pecandukata.</p>
<p>***</p>
<p>REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke <a href="mailto:puisi@rumahdunia.com">puisi@rumahdunia.com</a>. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.</p>
<p>***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/18/puisi-puisi-a-ganjar-sudibyo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PUISI-PUISI HUSEN ARIFIN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/06/20/puisi-puisi-husen-arifin/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/06/20/puisi-puisi-husen-arifin/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 03:14:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[gerimis]]></category>
		<category><![CDATA[malam]]></category>
		<category><![CDATA[matahari]]></category>
		<category><![CDATA[pucuk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4020</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Hujan Menulis Usiaku
 
 
ketika hujan menulis usiaku
mengecup mimpiku dan memberi lentera
aku tak melihat apa-apa
kecuali bunga merekahkan bau cinta
di antara rintik-rintik yang tak terbaca
 
aku adalah nama yang terlahir dari ribuan cerita
seperti doa yang diucapkan setiap malam oleh pujangga
sebuah cita-cita di koridor kehidupanku pernah menghilang
hingga aku terjungkal dan bimbang mengasah masa depan
semua yang kusampaikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ketika Hujan Menulis Usiaku</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>ketika hujan menulis usiaku</p>
<p>mengecup mimpiku dan memberi lentera</p>
<p>aku tak melihat apa-apa</p>
<p>kecuali bunga merekahkan bau cinta</p>
<p>di antara rintik-rintik yang tak terbaca</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>aku adalah nama yang terlahir dari ribuan cerita</p>
<p>seperti doa yang diucapkan setiap malam oleh pujangga</p>
<p>sebuah cita-cita di koridor kehidupanku pernah menghilang</p>
<p>hingga aku terjungkal dan bimbang mengasah masa depan</p>
<p>semua yang kusampaikan kepada Tuhan hanya berpucuk di ubun-ubun</p>
<p>sementara kerisauan menoleh ke bayangan milikku</p>
<p>seolah menutup sekat bahagia di sekeliling rumah</p>
<p>memberi garis hitam di ruang-ruang, membonsai dinding keruh</p>
<p>tapi separuh hidup ini telah mengurai usiaku lebih indah</p>
<p>meski aku takkan tahu arah segala sesuatu di balik senandung lagu</p>
<p>bahkan aku menjalani hidup sederhana</p>
<p>tentang keutuhanku menunggu takdir</p>
<p>dan badai sesekali menyelubung ke sudut jendela</p>
<p><em>Malang</em><em>, 2010 </em></p>
<p>***</p>
<p><strong>Di Altar Suraumu </strong></p>
<p>di altar suraumu</p>
<p>garis usiaku nampak berbaris</p>
<p>memanjang jadi urutan</p>
<p>menunggu kematian</p>
<p>yang tertuliskan di arsymu</p>
<p>aku minta pulang</p>
<p>dengan cara yang jarang</p>
<p>dibuatkan alif-alif keberkahan</p>
<p>dan jadikan aku malaikatmu</p>
<p>yang mencatat jarak hidup di dunia</p>
<p>untuk sampai ke surga</p>
<p><em>Malang</em><em>, 2010 </em></p>
<p>***</p>
<p><strong>Perjalanan yang Indah </strong></p>
<p>kami dekap azan subuh sambil meminum sebotol kopi</p>
<p>dan memerahkan kayu-kayu yang hampir rubuh</p>
<p>kami seduh doa-doa dengan sendok kecil,</p>
<p>selimut kami hanya serpihan daun-daun</p>
<p>kami kuatkan dalam seribu lantun zikir</p>
<p>kami juga berteduh kepada embun-embun</p>
<p>dari ceracau beburung di pepohonan</p>
<p>kami buka mimpi kami dengan nafas yang bergemuruhan</p>
<p>seputih angsa-angsa yang berbaris di taman</p>
<p>kami kekalkan usia kami dengan cinta</p>
<p>bila luka mengikis kami</p>
<p>maka airmata kami membuncah bukan karena kami lemah</p>
<p>tapi kami lelah merendam duka sampai rebah ke altar rumah</p>
<p>dan kami lukis arus hidup kami yang panjang seperti sajadah</p>
<p>lalu kami duduk di samping sungai</p>
<p>melihat ikan-ikan meneruskan perjalanannya yang indah</p>
<p>malang, 2009</p>
<p>***</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kota Seribu Matahari </strong></p>
<p>dari kota keroncong kupahat kolong-kolong langit</p>
<p>menjadi tembang keraton yang mengagungkan keluhuran</p>
<p>di nuansa gemerlapan aku tegaskan</p>
<p>kepada ibu kedamaian tentang musik kehidupan</p>
<p>adalah denting kecapi dan tetabuhan</p>
<p>mendawai bersama gamelan</p>
<p>sebagai pewakil kesunanan budaya</p>
<p>petik-petiklah irama dalam keramaian</p>
<p>dan perempuan bertalu menyanyikan sinden kenangan</p>
<p>sampai malam sanggul rembulan</p>
<p>ke pucuk kesungguhan berdiam di singgasana</p>
<p>dan di tengah-tengah pesonanya pepujaan</p>
<p>para penari senandungkan kata-kata imaji</p>
<p>para pemimpi kota seribu matahari</p>
<p>agar tetamu tetangga sendiri mafhum kekekalan malam ini</p>
<p>malang, 2009</p>
<p>***</p>
<p><strong>Kisah Hujan</strong></p>
<p>yang mengisahkan maut dan kabut adalah hujan</p>
<p>di antara rintik-rintiknya nafasmu dipetik sekejap saja</p>
<p>sedalam-dalamnya tanpa henti</p>
<p>ketika gerimis semakin tipis kau dicium tanpa jeda</p>
<p>lalu dengan jala yang melintang</p>
<p>perahumu dicubitnya berlabuh ke karang</p>
<p>malang, 2009</p>
<p>***</p>
<p><strong><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/06/1.jpg"><img class="size-full wp-image-4021 alignleft" title="1" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/06/1.jpg" alt="" width="104" height="78" /></a>Husen Arifin</strong>, lahir di Sumberkerang, Probolinggo 28 Januari 1989. Aktif menulis sejak di MTs Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura. Mahasiswa Fakultas Ekonomi UIN Maliki Malang, bergiat di Komunitas Sastra Parkir Malang Raya. Puisi-puisinya terangkum dalam antologi puisi Pemenang&amp;Nominator Lomba Cipta Puisi Tingkat Mahasiswa Se-Indonesia “Menolak Lupa” (2010).</p>
<p>***</p>
<p>REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke <a href="mailto:puisi@rumahdunia.com">puisi@rumahdunia.com</a>. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.</p>
<p>***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/06/20/puisi-puisi-husen-arifin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PUISI-PUISI SUMALA DJAJA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/06/12/puisi-puisi-sumala-djaja/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/06/12/puisi-puisi-sumala-djaja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jun 2010 16:48:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kampungku]]></category>
		<category><![CDATA[panas]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4009</guid>
		<description><![CDATA[Kembali Padamu
: sayyidah rabiah el a dawiah, abu nawas
&#8230;&#8230; aku hanya ingin engkau.
biarlah aku tidak dapat 
syurga atau neraka. 
aku hanya ingin memamandangmu.
(rabiah el a dawiah).
 
duhai Tuhan, aku tak layak
ke surgamu namun ku  tak sanggup 
ke nerakamu. terimalah taubatku
dan ampunilah dosa-dosaku. 
sesungguhnya engkau pengampun
dosa-dosa besar. (abu nawas)
aku datang padamu
sebab tak pernah kau menutup pintu.
cintamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kembali Padamu</strong></p>
<p>: sayyidah rabiah el a dawiah, abu nawas</p>
<p>&#8230;&#8230;<em> aku hanya ingin engkau.</em></p>
<p><em>biarlah aku tidak dapat </em></p>
<p><em>syurga atau neraka. </em></p>
<p><em>aku hanya ingin memamandangmu.</em></p>
<p><em>(rabiah el a dawiah).</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>duhai Tuhan, aku tak layak</em></p>
<p><em>ke surgamu namun ku  tak sanggup </em></p>
<p><em>ke nerakamu. terimalah taubatku</em></p>
<p><em>dan ampunilah dosa-dosaku. </em></p>
<p><em>sesungguhnya engkau pengampun</em></p>
<p><em>dosa-dosa besar. (abu nawas)</em></p>
<p>aku datang padamu</p>
<p>sebab tak pernah kau menutup pintu.</p>
<p>cintamu memenuhi ruang hatiku</p>
<p>tentu hari-hari tak akan pernah sekarat.</p>
<p>maafkan atas kedunguanku</p>
<p>mengabaikan cintamu</p>
<p>atau lupa mengenangmu.</p>
<p><em>Kp. Halaman, 10 Pebruari 2010</em></p>
<p>***</p>
<p><strong>Rindu Aku Pulang</strong></p>
<p>: na’ah</p>
<p>segugur daun di padang</p>
<p>hatiku kerontang membaca rindu</p>
<p>terangkai di bisu smsmu.</p>
<p>malam menjadi ganjil</p>
<p>muram hati tak terperi</p>
<p>kau tak kunjung datang</p>
<p>tuturmu.</p>
<p>serupa smsmu yang masuk tiba-tiba</p>
<p>senyummu menyembul</p>
<p>dari lanskap kamar.</p>
<p>aku berkata-kata tanpa kalam;</p>
<p>sabarlah, sayang.</p>
<p>malam-malam yang lain pasti datang</p>
<p>seperti engkau yang tak pernah silam.</p>
<p><em>Kp. Halaman, 02-2010</em></p>
<p>***</p>
<p><strong>Senandung Kesia-siaan</strong></p>
<p>kiranya tak ada sesuatu  mampu</p>
<p>bersembunyi darimu</p>
<p>tentu saja kau telah membaca madah ini</p>
<p>jauh-jauh sebelum aku menggubahnya</p>
<p>menjadi lagu atau sebuah risalah.</p>
<p>namun biarkanlah aku mencari</p>
<p>dan merangkai untaian isi hati</p>
<p>meski darinya makna tak pernah aku temukan.</p>
<p><em>Kp. Halaman, 14-02-2010</em></p>
<p>***</p>
<p><strong>Cahaya di Atas Cahaya;</strong></p>
<p>El-Ghazali</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Selengking dawai biola</p>
<p>dan denting piano yang memiuh telinga</p>
<p>Ingin senantiasa aku dalam dekapanmu</p>
<p>Tiada satu pun sepertimu</p>
<p>Tiada pula seindah dirimu</p>
<p>Kemana pun aku melangkah</p>
<p>Di situlah engkau</p>
<p>Engkau tersembunyi pada semua yang nampak</p>
<p>dan hadir dalam hati.</p>
<p>Dengan kasih sayang yang kau berikan</p>
<p>aku berusaha mengenalmu</p>
<p>Tak akan pernah kurasakan panas cinta</p>
<p>jikalau aku tak pernah menyentuhnya</p>
<p>Leburlah aku dengan api cintamu</p>
<p>Jika aku berjalan dengan cahaya</p>
<p>Itu adalah cahaya yang kau titipkan</p>
<p>Karena engkau hakikat cahaya</p>
<p>Kaulah cahaya di atas cahaya</p>
<p><em>Kampung  Halaman, 14 Okt-17 Nov 2009</em></p>
<p>***</p>
<p><strong>Sumala Djaya </strong>lahir 25 Maret 1985, adalah anak petani yang menjalani keseharian untuk membaca dan menulis. Tulisannya berupa puisi dan cerpen tercecer di Fajar Banten dan Banten Muda Magazine. Tinggal di Kragilan-Serang. E-mail: <a href="mailto:malla_dj@yahoo.com">malla_dj@yahoo.com</a>.</p>
<p>***</p>
<p>REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke <a href="mailto:puisi@rumahdunia.com">puisi@rumahdunia.com</a>. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.</p>
<p>***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/06/12/puisi-puisi-sumala-djaja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PUISI-PUISI BAHAUDIN AMYASI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/08/puisi-puisi-bahaudin-amyasi/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/08/puisi-puisi-bahaudin-amyasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 May 2010 03:34:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[kau]]></category>
		<category><![CDATA[kawah]]></category>
		<category><![CDATA[kering]]></category>
		<category><![CDATA[nisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3956</guid>
		<description><![CDATA[ 
 
I’TIKAF KABUT
 
seperti i’tikaf kabut yang hening di helai malam
parau mimpi kita kian bersemayam
pada tiap jengkal kekalutan yang menghunjam
sampai nanti, di sini
kita masih setia melukis lembayung di ujung temaram
tak perlu kita ceritakan pada mereka
tentang selaksa lara yang membias hingga batas cakrawala
lantaran keyakinan yang kita kibarkan
akan menawarkan pahitnya sebuah pengorbanan
tak perlu kita kabarkan pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>I’TIKAF KABUT</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>seperti i’tikaf kabut yang hening di helai malam<br />
parau mimpi kita kian bersemayam<br />
pada tiap jengkal kekalutan yang menghunjam<br />
sampai nanti, di sini<br />
kita masih setia melukis lembayung di ujung temaram</p>
<p>tak perlu kita ceritakan pada mereka<br />
tentang selaksa lara yang membias hingga batas cakrawala<br />
lantaran keyakinan yang kita kibarkan<br />
akan menawarkan pahitnya sebuah pengorbanan</p>
<p>tak perlu kita kabarkan pada mereka<br />
tentang pedihnya sebuah kehilangan<br />
hingga pendar kesunyian telah kita luruhkan<br />
pada desau leletih ombak di lautan<br />
yakinlah, tegak jiwa kita mengempaskan badai kegalauan</p>
<p>seperti i’tikaf kabut yang mengembun di pucuk pagi<br />
hingga nanti, di wisma singgih ini<br />
kita masih berjingkrak menggapai matahari<br />
kelak, pada kuburan keterasingan kita<br />
i’tikaf kabut menjelma epitaf yang tak kuasa kita eja</p>
<p><em>Prigen, 13 April 2008 </em></p>
<p>***</p>
<p><strong>SAJAK SEBATANG CEMARA KERING </strong></p>
<p><em>Buat karibku Hosriyanto Hobir</em></p>
<p>sebelum dirimu menjelma sebatang cemara kering, kulihat di jantungmu mengalir gemericik air sungai, mengibarkan pijar-pijar musim pada bebutir kerikil yang bertebaran di padang dingin. kau pun menunggangi kuda perang yang memercikkan bola api dari pukulan kuku kakinya, demi menziarahi sunyi ngarai yang demikian curam.</p>
<p>sebagaimana sujud kemarau yang rebah di jernih retinamu, kelopak-kelopak itu masih berjatuhan dari tangkainya yang lapuk, meski hanya semilir yang berdesir, merangkai sebaris epitaf pada sepotong batu nisan yang dipahat indah dengan lelentik jemari rembulan.</p>
<p>maka alangkah curam lelembah kawah hatimu; desau leletih angin menunggu diammu membatu bercadas magma, jentik reriak hujan menunggu sukmamu bergemuruh sirna.</p>
<p>“aku hanya sebatang cemara kering”, sembari tertawa pada angin, kau pun pamit dengan bahasa Tuhan.</p>
<p><em>Madura, 2005 </em></p>
<p>***</p>
<h2>UNTUKMU, AKU DATANG MALAM INI</h2>
<p>untukmu, aku datang malam ini. dan seperti biasanya, kucintai malam yang tergerai dari rambutmu yang menderaikan gerimis kerinduan.</p>
<p>maka lihatlah, udara yang menjejali jiwaku menjadi beku. gelap telah jelmakan kita serupa bayang-bayang, menangkap gairah dalam setiap desah rindu yang basah, dan tentu gelisah.</p>
<p>kini, tubuhku telah berganti hujan dengan titik-titik rindu yang mengalirkan keheningan. maka mengertilah, ketika hujan yang memenuhi matamu mulai terhenti, kita pun akan kembali semedi, dalam pertemuan yang azali&#8230;.</p>
<h2><em>Surabaya, 14 Februari 2010 | 00:30 dini hari</em></h2>
<h2>***</h2>
<h2>NUBUAT RINDU</h2>
<h2>inilah syahadat rinduku<br />
untukmu, sebiru langit yang kulukis bersama pelangi<br />
sepotong kata-kata yang tak pernah selesai kunikmati<br />
menanti mimpi, bungaku mekar dalam samadi<br />
di teluk imaji, tanpa tepi</p>
<p>hingga sepetak keangkuhan yang kugubah<br />
memenjarakanmu dalam resah, gundah kian basah<br />
lalu kau lumuri selaksa rasa tanpa bahasa<br />
di ujung kata-kata, rindu ini menjelama sebaris epitaf<br />
yang tak pernah lelah kueja</p>
<p>akankah kau tinggalkan munajat batu nisan<br />
pada segumpal sukma di altar keazalian<br />
yang mencumbuimu dalam makrifat keheningan</p>
<p>maka kubasuh luka dengan air mata doa-doa<br />
lantaran hanya kemarau rindu yang tersisa<br />
dalam i’tikaf resah, sujudku gelisah<br />
nubuat rindu, menjelma sajak-sajak pasrah</p>
<p><em>Surabaya-Pamekasam, 31 Januari 2010</em></h2>
<h2>***</h2>
<p><strong>Bahauddin Amyasi, l</strong>ahir di sebuah kampung kecil Brambang, Kalianget Sumenep, 22 tahun yang lalu. Cerpennya “Menanti Gerimis” pernah memenangkan juara III Lomba Menulis Cerpen se-Jawa Timur 2003 yang diadakan oleh Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan. Sampai saat ini, ia menjadi pengasuh rubrik “Ultra” (Ulasan Sastra) Majalah KOPI PP. Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Madura.<strong> </strong></p>
<p>***</p>
<p>REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke <a href="mailto:puisi@rumahdunia.com">puisi@rumahdunia.com</a>. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.</p>
<p>***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/05/08/puisi-puisi-bahaudin-amyasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi-Puisi Restu Ashari Putra</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/27/puisi-puisi-restu-ashari-putra/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/27/puisi-puisi-restu-ashari-putra/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 16:43:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3892</guid>
		<description><![CDATA[ 
metropolansia
telah habis sekian jalan itu
dari pinggiran sejarah pinggiran kota
depok-jakarta
malam ditancapkannya kapakkapak pemotong kayu
membangun kesesakkan di antara rumahrumah burung
dan segumpal awan kecil
masih adakah tuantuan tanah
yang mengambil budak di antara belantara rawa
mall dan plaza
jembatan, lampu merah, pagar baja bagai hiasan
bagi seorang bayi yang baru saja lahir dari rahim ibu
rahim yang gagap mencatat bahasa
kota ini menjadi kawanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong>metropolansia</strong></p>
<p>telah habis sekian jalan itu</p>
<p>dari pinggiran sejarah pinggiran kota</p>
<p>depok-jakarta</p>
<p>malam ditancapkannya kapakkapak pemotong kayu</p>
<p>membangun kesesakkan di antara rumahrumah burung</p>
<p>dan segumpal awan kecil</p>
<p>masih adakah tuantuan tanah</p>
<p>yang mengambil budak di antara belantara rawa</p>
<p>mall dan plaza</p>
<p>jembatan, lampu merah, pagar baja bagai hiasan</p>
<p>bagi seorang bayi yang baru saja lahir dari rahim ibu</p>
<p>rahim yang gagap mencatat bahasa</p>
<p>kota ini menjadi kawanan puisi bagi segerombolan</p>
<p>pujangga yang terpaksa mencatat bandarbandar obat</p>
<p>dan rumahrumah pijat</p>
<p>kejahatan lorong becek yang gelap dan wajah gedung</p>
<p>yang angkuh adalah sajak baru dari masa kecil ketenteraman</p>
<p>alam dan sejarah</p>
<p>pun di antara parkiran mobil depan restoran itu masih ada</p>
<p>seorang anak menulis surat kepada sang ayah tercinta,</p>
<p><em>“bapak, aku tak bisa belajar puisi di kota ini!”</em></p>
<p><em>Depok, 2009</em></p>
<p><strong> </strong>***</p>
<p><strong>tujuhpuluhlima malam sukmidjah</strong></p>
<p><em> :nenek yang terbaring renta.</em></p>
<p>di kejauhan, aku tak mendengar lagi lengking terompet dan sorak petasan.</p>
<p>sesekali, hanya derap kaki yang asing melihat kau pergi meninggalkan rupa tahun.</p>
<p>sembunyi di balik <em>goalpara</em>, di balik aroma kebun teh yang wanginya bersujud</p>
<p>di mata perempuan tua.</p>
<p><em>sukmidjah</em>, kau telah menjadi kamar kesunyianku yang harumnya dua puluh empat</p>
<p>tahun masa silam, di bawah reranting cengkeh dan tanah <em>cikaret</em> yang renta.</p>
<p>kita adalah samasama pejalan, bukan? hanya saja kau lebih dulu menuturkan dongengan</p>
<p>dan aku menarik selimut hingga mata seterang bulan.</p>
<p><em>sukmidjah</em>, sebaiknya kau jangan lelap terlebih dulu. sebab aku masih ingin</p>
<p>menulis tubuh gigilmu dengan basah air mata, dengan jam hingga detak dua belas malam.</p>
<p>aku ingin mendengar ceritamu lagi tentang lelaki muda bertubuh panjang. dengan seruling tua menggiring tikus hama ke hulu sungai dari sawahsawah petani di bukit landai.</p>
<p>lidahmu tak berucap katakata. sesekali hanya derit pintu dan ringkik ranjang.</p>
<p>pecahan api melesat ke atas malam. tepatnya tujuhpuluhlima malam.</p>
<p>kau adalah kesunyian <em>goalpara</em>.</p>
<p><em>Sukabumi, Desember 2009- Januari 2010</em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>Cikaret: sebuah kampung di daerah Sukabumi</em></p>
<p><em>Goalpara:  jalan menuju perkebunan teh Goalpara di kecamatan Sukaraja-Sukabumi</em></p>
<p>***</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>neng,  sesekali bukanlah tumbuhan yang menjalar</strong></p>
<p>sesekali aku bukanlah tumbuhan yang menjalar dan tumpukan batang yang berair</p>
<p>walau aku serupa kau: tangan yang mengaduk pasir dan tubuh oyag terterpa angin</p>
<p>makhluk apakah kau yang serupa aku memandangi hamparan batang kangkung</p>
<p>di depan rumah itu. cekikik budak. bebisik <em>mak.</em> dan layangan jatuh di pinggiran petak</p>
<p>lalu aku mendekatimu. waktu hanya lirih air mata dalam bibirmu yang serupa</p>
<p>kupu-kupu, coklat pucat terkadang ungu. <em>neng</em>, kabari aku di mana kau tanam takdirmu.</p>
<p>sesaat sore seperti lebih kejam dari kesedihan apa pun. sebab <em>neng</em> tak bisa lagi menatap<em> mak </em> memanen batang kangkung, batang duka, batang air mata.</p>
<p><em>mak</em> sudah tak punya lagi air mata. dan <em>neng</em> hanyalah mata yang memandang</p>
<p>gedung kotakota. semacam bulir pasir berputar berpusar mengitari lorong kesunyian.</p>
<p>tertiup angin. senyap. tanah <em>pasir biru </em>seperti tanah kau dan aku. tanah <em>neng </em>yang tak</p>
<p>berdiam lagi di depan rumah itu: mengaduk pasir dan tubuh oyag terterpa angin.</p>
<p>aduhai <em>neng</em>, di mana lagi kita beratap, bertanam sajak.</p>
<p><em>Cibiru Hilir,  2009</em></p>
<p>***</p>
<p><strong>ZALZILA</strong></p>
<p><em>jerit seorang wanita</em></p>
<p><em>adalah darah yang</em></p>
<p><em>mengucur dari langit</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>lalu pada air matanya ia sampaikan salam ketidakberdayaan menadah hujan dan gemuruh.</p>
<p>nasib telah merobek baju tidurnya. hingga kini ia telanjang dengan mata terpejam</p>
<p>sepanjang malam.</p>
<p>tatkala kebencian jatuh di pelupuk matanya. dan air hujan basah menggenangi segenap</p>
<p>mimpinya. di malam itu, kesedihan telah menjadi karang di lautan: abadi dan kekal.</p>
<p>sampai tuhan mencabut kembali segala kehendaknya, kau akan tetap sendirian berjalan</p>
<p>di pinggiran sejarah cahaya: di bawah temaram lampu kota , di antara dua gedung tua.</p>
<p>dengan hujan dan gaun tersingkap, dengan memar dan air liur berbisa.</p>
<p>2009</p>
<p>***</p>
<p><strong>Restu Ashari Putra</strong>. Lahir di Jakarta, 31 Desember 1985. Bergiat di Komunitas Rumput<strong> </strong>dan<strong> </strong>Majelis Sastra Bandung<strong>. </strong>Merampungkan studinya di Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung . Karyanya berupa puisi, cerpen dan artikel tersebar di beberapa media seperti <em>Pikiran Rakyat, Seputar Indonesia, Radar Bandung, Majalah Sabili, Tribun Jabar, </em><a href="http://www.kompas.com/" target="_blank">kompas.com</a><em>. Komunikasi bisa melalui blog; <a href="http://www.katarestu.wordpress.com/">www.katarestu.wordpress.com</a> .</em></p>
<p>***</p>
<p>REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke <a href="mailto:puisi@rumahdunia.com">puisi@rumahdunia.com</a>. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/27/puisi-puisi-restu-ashari-putra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PUISI-PUISI BUDHI SETYAWAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/18/puisi-puisi-budhi-setyawan/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/18/puisi-puisi-budhi-setyawan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Apr 2010 12:19:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[jawa tengah]]></category>
		<category><![CDATA[perih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3841</guid>
		<description><![CDATA[ 
 
Yang Merawat Senyumku 
: anak anakku
pada wajahmu ada sabana yang menjadi tempatku bercermin, menakar jejak kisah dan arah langkah. kudapati riuh wajahku, sendiri, menanyakan bayang. sungai kecil dengan air jernih sejuk mengalirkan gurat silsilah, sering aku bermain main disitu bercanda dengan musim. ketika sepoi kamar, masa silam dan masa depan sering berpapasan, kadang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Yang Merawat Senyumku </strong></p>
<p><em>: anak anakku</em></p>
<p>pada wajahmu ada sabana yang menjadi tempatku bercermin, menakar jejak kisah dan arah langkah. kudapati riuh wajahku, sendiri, menanyakan bayang. sungai kecil dengan air jernih sejuk mengalirkan gurat silsilah, sering aku bermain main disitu bercanda dengan musim. ketika sepoi kamar, masa silam dan masa depan sering berpapasan, kadang bertukar mimpi dan berbagi pengalaman. aku jadi ingat pagi di kampung, dedaun di kebun yang menjadi taman bagi capung, selalu ada rindu tertampung. di depanmu letih semacam pengecut yang lari terbirit, lalu lenyap tanpa menjerit. usahlah rintih menantang perih dan repih karena kecut rasa telah disapih.</p>
<p>***</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Goresan Hujan</strong></p>
<p>ini hujan</p>
<p>begitu gemar membangunkan kenangan</p>
<p>yang telah nyenyak rebah tiduran</p>
<p>di kamar kamar zaman</p>
<p>ini hujan</p>
<p>begitu rajin menyuburkan impian</p>
<p>yang tertanam begitu dalam</p>
<p>di taman taman bayangan</p>
<p>ini hujan</p>
<p>begitu tekun melukiskan kesepian</p>
<p>yang duduk termenung temaram</p>
<p>di kanvas kanvas rintihan</p>
<p>***</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Surat Pendek Kepada Ibu</strong></p>
<p>ibukota ini telah mencuriku, ketika aku baru saja meraut metafora bunyi. dan aku lama limbung lena dalam riuh pestanya. sementara dadaku kian geronggang nganga. menjejak senja yang purba. kekeringan adalah mata mata yang lihai mengaduk irama. menyisakan nanar yang ketika. aku ingin kembali padamu, dan menyusu lembut pada doamu.</p>
<p>***</p>
<p><strong>Budhi Setyawan</strong>, lahir di Purworejo, Jawa Tengah,  9 Agustus 1969. Beberapa tulisannya dimuat di  Tribun Kaltim, Republika, Jurnal Nasional, Sinar Harapan, Seputar Indonesia, Radar Bandung, Radar Banjarmasin, Radar Tasikmalaya, Majalah <em>GONG</em>, Majalah STORY,  Jurnal <em>The Sandour</em>, Bulletin <em>Littera</em>, Bulletin <em>Cangkir</em>, Buletin <em>Hysteria</em>, Tabloid <em>Apakabar </em>(Hongkong),  kompas.com, dll. Juga menulis puisi dalam bahasa jawa (geguritan) dimuat di majalah Damarjati, Panjebar Semangat,  Jayabaya. Puisinya ada dalam antologi bersama: <em>Kemayaan dan Kenyataan</em> (Fordisastra, 2007), <em>Pedas Lada Pasir Kuarsa </em>(Temu Sastrawan Indonesia II Pangkalpinang, 2009), <em>Kakilangit Kesumba</em> (Purworejo, 2009), <em>Antologi Penyair Nusantara: Musibah Gempa Padang</em> (Kuala Lumpur, 2009). Buku antologi puisi tunggalnya: <em>Kepak Sayap Jiwa </em>(2006)<em>, Penyadaran </em>(2006)<em>, Sukma Silam </em>(2007). Sekarang aktif di kegiatan bulanan Sastra <em>Reboan</em> di Bulungan, Jakarta Selatan. blog: <a href="http://www.budhisetyawan.wordpress.com/">www.budhisetyawan.wordpress.com</a> email: <a href="mailto:budhisetya69@yahoo.com">budhisetya69@yahoo.com</a></p>
<p>***</p>
<p>REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke <a href="mailto:puisi@rumahdunia.com">puisi@rumahdunia.com</a>. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/18/puisi-puisi-budhi-setyawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PUISI-PUISI Y.THENDRA BP</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/12/puisi-puisi-y-thendra-bp/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/12/puisi-puisi-y-thendra-bp/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 02:47:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Listrik]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3780</guid>
		<description><![CDATA[Buton
dari cerita singkat wa ode wulan ratna
sekali lagi, kubayangkan matahari tropis sore memandang seribu pulau yang
dijaga benteng benteng
sebelum akhirnya angslup ke dalam laut, membawa seribu misteri kesunyian
gunung siontapina
seperti atlantis yang hilang
aku ingin jadi kanak-kanak ria lagi, hilang sejenak segan pada usia,
berlari-lari di negeri yang dilupakan itu
aku tak ingin datang untuk aspal, wa ode
yang telah membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Buton<br />
</strong><em>dari cerita singkat wa ode wulan ratna</em></p>
<p>sekali lagi, kubayangkan matahari tropis sore memandang seribu pulau yang</p>
<p>dijaga benteng benteng<br />
sebelum akhirnya angslup ke dalam laut, membawa seribu misteri kesunyian</p>
<p>gunung siontapina<br />
seperti atlantis yang hilang</p>
<p>aku ingin jadi kanak-kanak ria lagi, hilang sejenak segan pada usia,<br />
berlari-lari di negeri yang dilupakan itu</p>
<p>aku tak ingin datang untuk aspal, wa ode<br />
yang telah membuat jalan jalan kotaku jadi malam<br />
negerimu jadi demam</p>
<p>aku ingin datang karna puisi<br />
karna makam sultan dikeramatkan<br />
karna makam rakyat kecil tidak dikeramatkan</p>
<p>***</p>
<p><strong>Kepada Fatris dan 30 September 2009<br />
</strong><em>dari sebuah potret</em></p>
<p>yang datang pada jam 5 sore itu<br />
begitu tiba-tiba<br />
yang pergi pada jam 5 sore itu<br />
begitu tergesa-gesa</p>
<p>aku sanggup melupakan<br />
yang datang<br />
tapi tak sanggup melupakan<br />
yang pergi</p>
<p>gadis kecil memeluk kucing hitam<br />
di antara reruntuhan bangunan<br />
dan air mata hitam</p>
<p>***</p>
<p><strong>Ngai Oi Ngi<br />
</strong><br />
waktu yang singkat<br />
menyusun ingatan yang panjang, mei lan<br />
di belinyu, di belinyu<br />
kita bertemu<br />
ruko-ruko tutup pada jam 4 petang<br />
dikepung bekas lubang-lubang tambang<br />
yang ditinggalkan</p>
<p>aku menggenggam tanganmu lebih dalam<br />
&#8211;tangan yang datang dari negeri hutan terbakar&#8211;<br />
di benteng bongkap, pha kak liang<br />
pantai penyusuk, atau di bawah bulan<br />
ketika listrik padam<br />
pada jam 9 malam</p>
<p>tetapi sepanjang jalan depati amir<br />
angin mengembalikan tangan kita<br />
jadi milik kita masing-masing<br />
agar bisa menangkap senja<br />
bangunan-bangunan tua<br />
dari masa gemilang timah<br />
hingga kesedihan<br />
orang-orang hakka<br />
dalam pembakaran taiseja</p>
<p>agar bisa merasakan<br />
suara mereka yang hidup dan tak bisa pulang<br />
lalu membangun kampung dalam dirinya<br />
jauh lebih sunyi, jauh lebih sunyi<br />
daripada sihir puisi<br />
igauan pelayaran<br />
yang tak pernah menyentuh lautan</p>
<p>Belinyu-Yogyakarta, Agustus 2009</p>
<p>***</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Solilokui</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>dingin bulan<br />
gigil jalan<br />
dan aku terus melangkah<br />
rumah tutup<br />
kedai larut malam<br />
pengendara motor<br />
melintasi embun<br />
yang jatuh dari bintang tak bernama<br />
betapa lengang jam berdentang<br />
di mata jaga<br />
malam tinggal bayang<br />
lampu-lampu hotel<br />
lampu-lampu reklame<br />
cuma bikin asing pada kepulangan<br />
pada kekasih yang menyimpan ciuman:<br />
lidah lembut dalam telinga</p>
<p>angin kencang berhembus<br />
tapi sedikit suara yang tergambarkan<br />
dan aku terus melangkah<br />
ambang subuh<br />
engkau makin tertinggal jauh<br />
yang tidur dalam sajak:<br />
rabun senja!<br />
dan aku terus melangkah<br />
pada bengkolan ke tujuh<br />
aku memasuki pagi baru</p>
<p>***</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/1.jpg"><img class="size-medium wp-image-3781 alignleft" title="1" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><strong>Y. Thendra BP</strong>, berasal dari nagari Padang Sibusuak, Sumatera Barat. Lahir di Bangkinang 10 Mei 1980.  Puisinya pernah dimuat di Koran Suara Pembaruan, Bali Post, Minggu Pagi, Jawa Pos, Jurnas Bogor, Tabloid Nyata, Padang Ekspres, Singgalang, Cybersastra.net, titikoma.com, Jurnal ruang puisi rumah lebah. dll. Juga tergabung dalam antologi komunal, Filantropi FKY (2001), dian sastro for president#2 (2003), Herbarium (2007), Kampung Dalam Diri (2008), Pedas Lada Pasir Kuarsa (kumpulan puisi TSI II 2009). Dan peraih utama kedua lomba puisi cinta nyata, tabloid Nyata (2008). Tuhan, telpon aku dong (Gambala Media, 2004) adalah kumpulan puisi tunggalnya yang pertama. Pengelola Weblog:  http://langit-puisi.blogspot.com dan berdiskusi sambil minum kopi di Rumah Lebah. Sekarang ia berdomisili di Yogyakarta.</p>
<p>***</p>
<p>REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/12/puisi-puisi-y-thendra-bp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PUISI-PUISI BUDI P.HATEES</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/05/puisi-puisi-budi-p-hatees/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/05/puisi-puisi-budi-p-hatees/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 07:53:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[angin]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[pinggang]]></category>
		<category><![CDATA[potret]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3723</guid>
		<description><![CDATA[Sajak Kepada  Luka
terima kasih untuk tidak menangis
saat aku pergi
segala duka hatimu kini kikis
dan hiduplah berseri
aku adalah belati yang gores hatimu
setiap kau kenangkan tanganku
di pundakmu atau kecupan-kecupanku
di keningmu membatu
telah aku tinggalkan puisi yang tak bisu
aku tulis pada kertas-kertas di hatimu
tetapi kita hanya menciptakan selaksa luka
jika tetap kurekatkan hatiku di hati kau punya
waktu tak akan berhasil kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sajak Kepada  Luka</strong></p>
<p>terima kasih untuk tidak menangis</p>
<p>saat aku pergi</p>
<p>segala duka hatimu kini kikis</p>
<p>dan hiduplah berseri</p>
<p>aku adalah belati yang gores hatimu</p>
<p>setiap kau kenangkan tanganku</p>
<p>di pundakmu atau kecupan-kecupanku</p>
<p>di keningmu membatu</p>
<p>telah aku tinggalkan puisi yang tak bisu</p>
<p>aku tulis pada kertas-kertas di hatimu</p>
<p>tetapi kita hanya menciptakan selaksa luka</p>
<p>jika tetap kurekatkan hatiku di hati kau punya</p>
<p>waktu tak akan berhasil kita rajuti</p>
<p>jadi mantel bagi gigil hidup sendiri</p>
<p>dan masing-masing sudah mengerti</p>
<p>kita punya hati sukar berbagi</p>
<p>Bandar Lampung, i&#8211;2010</p>
<p>***</p>
<p><strong>Cerita Sebutir Embun dan Fajar</strong></p>
<p>engkau bagiku adalah embun, sekali waktu gemerlap air di daun</p>
<p>tapi aku bukanlah matahari yang akan memaksa bening matamu mengatup</p>
<p>kala tiba siang. aku hanya fajar, jiwa yang selalu berdebar oleh getar</p>
<p>gerak tubuhmu di daun yang seakan jatuh senantiasa utuh</p>
<p>engkau bagiku adalah embun, setiap saat memaksaku menjaga butir</p>
<p>beningmu utuh. sepanjang waktu,  lalu hilang bersama fajar</p>
<p>Bandar Lampung, i&#8211;2010</p>
<p>***</p>
<p><strong>Tak Aku Ingat Wajahmu</strong></p>
<p>tak aku ingat wajahmu di antara letupan-letupan hujan</p>
<p>butiran-butiran air itu menggiringku pada dinginnya kesendirian</p>
<p>lalu aku membayangkanmu muncul dengan tubuh yang basah</p>
<p>gelombang tubuhmu meliuk juwita</p>
<p>entah kali keberapa, kau datang dan aku tak mengenalimu</p>
<p>di antara kesendirianku. telah terlalu lama sunyi ini menemaniku</p>
<p>bermain-main di halaman rumah, terkadang memanjat pohon jambu klutuk</p>
<p>menahan dingin. adakah kau dengar geligiku gemelutuk menahan kutuk</p>
<p>aku selalu takut akan sesuatu yang datang menjemput</p>
<p>ia mengendarai angin, lesat lewat jendela yang aku kunci luput</p>
<p>hingga pada sosokmu pun aku takut</p>
<p>juga pada kenangan demi kenangan kita yang sejumput</p>
<p>aku sedang tak ingin kemana-mana setelah perjalanan panjang itu</p>
<p>setelah segala masa lalu tak tertinggal utuh</p>
<p>kenapa matamu begitu samar dan segalanya menjadi abu-abu</p>
<p>tak aku ingat lagi wajahmu, juga kenangan kita itu.</p>
<p>Bandar Lampung, i—2010</p>
<p>***</p>
<p><strong>Ketika Ingin Menemuimu</strong></p>
<p>ketika ingin menemuimu, tak kubayangkan</p>
<p>akan sesulit ini mengiris bola matamu dari ingatanku</p>
<p>hingga tak bisa aku kembali ke sudut bumi</p>
<p>di sebuah kota, dimana aku gemar membayangkanmu</p>
<p>dan jatuh cinta</p>
<p>ketika ingin menemuimu, aku siapkan kisah-kisah</p>
<p>sebuah dunia yang telah kubangun di sudut bumi.</p>
<p>hamparan batu cadas, ilalang seluas pandang,</p>
<p>dan matahari yang tak pernah henti mengucurkan cairan</p>
<p>magma.</p>
<p>ketika ingin menemuimu,  aku hasratkan tubuhmu</p>
<p>jelita. serupa pantai yang landai dengan ombak dan angin</p>
<p>yang berderai.  lalu serupa pelancong yang rindu panorama</p>
<p>aku potret wajahmu dan kukenangkan lingkar tanganku</p>
<p>di pinggangmu</p>
<p>setelah menemuimu, tak kubayangkan akan begitu tersiksa</p>
<p>oleh sepi yang menghasratkanku padamu</p>
<p>Bandar Lampung, i&#8211;2010</p>
<p>***</p>
<p><strong>Budi P. Hatees</strong> kelahiran Sipirok, sebuah kota di Tapanuli Selatan, 3 Juni 1972.  Karya cerpennya justru lebih banyak dibanding puisi yang dihasilkan. Puisi-puisinya pernah terbit di berbagai media cetak  dan terkumpul di sejumlah buku antologi puisi bersama. Kini tinggal di Lampung sebagai seorang pengajar. Telepon 081379230111.</p>
<p>***</p>
<p>REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.</p>
<p>***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/05/puisi-puisi-budi-p-hatees/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PUISI-PUISI DIAN HARTATI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/27/puisi-puisi-dian-hartati/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/27/puisi-puisi-dian-hartati/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 12:25:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[angin]]></category>
		<category><![CDATA[gerimis]]></category>
		<category><![CDATA[jendela]]></category>
		<category><![CDATA[setia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3630</guid>
		<description><![CDATA[Perempuan di Tepi Jendela
 
 
[1]
 
sejak kapan
perempuan jadi perona 
membuat warna hati berlainan
kau merangkum seluruh kisah
jadi segenggam rindu
lalu kau bawa pergi
berlari ke laut
menyisir setiap bayang matahari
[2]
sampai hari ini, kau tetap membeku
jadi kawanan gerimis
yang tajam
tak mau diam
berseliweran
bersama angin yang tetap bersetia
bukankah ia lelaki?
ahhh kau, tetap membatu
[3]
“apa yang hendak kau lukis sekarang?”
warna pelangi atau rimbun hijau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Perempuan di Tepi Jendela</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>[1]</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>sejak kapan</em></p>
<p><em>perempuan jadi perona </em></p>
<p><em>membuat warna hati berlainan</em></p>
<p>kau merangkum seluruh kisah</p>
<p>jadi segenggam rindu</p>
<p>lalu kau bawa pergi</p>
<p>berlari ke laut</p>
<p>menyisir setiap bayang matahari</p>
<p>[2]</p>
<p>sampai hari ini, kau tetap membeku</p>
<p>jadi kawanan gerimis</p>
<p>yang tajam</p>
<p>tak mau diam</p>
<p>berseliweran</p>
<p>bersama angin yang tetap bersetia</p>
<p>bukankah ia lelaki?</p>
<p>ahhh kau, tetap membatu</p>
<p>[3]</p>
<p>“apa yang hendak kau lukis sekarang?”</p>
<p>warna pelangi atau rimbun hijau hatimu</p>
<p>SudutBumi, 2009</p>
<p><em>buat kawan</em> Risma Dewi</p>
<p>***</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kalender Lunar</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>mencermati bulan</p>
<p>gerak putar yang tak pernah diduga</p>
<p>tibatiba purnama</p>
<p>kau selalu bercerita</p>
<p>tentang malam dan serigala</p>
<p>manusia dan petaka</p>
<p>sesuatu yang bernama kala</p>
<p>di setiap bentukan bulan</p>
<p>kau memandang langit mahabintang</p>
<p>tibatiba gerhana</p>
<p>SudutBumi, 2009</p>
<p>***</p>
<p><strong>Gynoid</strong></p>
<p>#1#</p>
<p>tubuhku hanya sumbu</p>
<p>yang tiap detik dibakar usia waktu</p>
<p>dapatkah kau berlari</p>
<p>menyelamatkan aku di ujung waktu?</p>
<p>#2#</p>
<p>berkas cahaya putih</p>
<p>terus menyelubungi</p>
<p>mengambil sebagian nafas</p>
<p>sebagian ruh</p>
<p>hingga aku akan benarbenar padam</p>
<p>di hadapanmu</p>
<p>#3#</p>
<p>tubuh luka</p>
<p>SudutBumi, 2009</p>
<p>***</p>
<p><strong>Sebuah Wajah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>pu,  aku mencintai sebentuk wajah</p>
<p>yang tergurat dari rupamu</p>
<p>ketika pertemuan hanya menyisakan</p>
<p>batas angan</p>
<p>aku tergeragap</p>
<p>karena kau begitu saja membuatku berdebar</p>
<p>aku masih ingat, pu</p>
<p>sore itu</p>
<p>langit bandung begitu anggun</p>
<p>jalanan begitu teratur</p>
<p>dan aku begitu menikmati wajahmu</p>
<p>di balik etalase</p>
<p>sebuah beranda telah memenjarakan ruang gerak kita</p>
<p>pu, aku ingin mengulangi peristiwa itu</p>
<p>ketika kau mencermati wajahku</p>
<p>dan menuangkannya di sebuah kanvas</p>
<p>sebuah wajah yang diliput kecintaan</p>
<p>kau tahu, pu</p>
<p>aku baru saja memerdekakan sebuah luka</p>
<p>dan kau hadir tanpa kuduga</p>
<p>mencerahkan cakrawala yang hendak kubentangkan</p>
<p>sebuah perayaan tercipta sore itu</p>
<p>kau yang berkawan angin</p>
<p>dan aku yang diliput bahagia</p>
<p>pu, aku mencintai sebentuk rupa</p>
<p>yang kau guratkan di wajahku</p>
<p>SudutBumi, 2007</p>
<p>***</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Dian Hartati</strong>,<strong> </strong>lahir di Bandung, 13 Desember 1983. Menyukai jalan-jalan dan menenggelamkan diri pada perjalanan kata-kata. Bergiat di dunia kepenulisan sejak tahun 2002. Desember 2005 mengikuti workshop penulisan cerpen yang diadakan oleh Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga yang bekerja sama dengan Creative Writing Institute (CWI) di Jakarta. Juli 2006 menjadi peserta workshop Bengkel Kerja Budaya: Belajar Menulis Sejarah Sosial Masyarakat yang diadakan oleh Lafadl dan Desantara di Yogyakarta. Mengikuti Workshop Penulisan Kritik, Esai, dan Jurnalisme Sastra yang diadakan oleh Taman Budaya Jawa Tengah, Solo 2008. Tergabung dalam beberapa komunitas, seperti: <strong>ASAS, MnemoniC,</strong> <strong>Babad Bumi, </strong>dan lain-lain. Setelah lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia tetap berproses menulis dan sesekali mengelola blog <strong><em><a href="http://www.sudutbumi.wordpress.com/">www.sudutbumi.wordpress.com</a></em></strong>. Tinggal di Bandung dan sering menjuarai berbagai lomba, di antaranya Juara I Lomba Menulis Puisi Bahasa Melayu-Betawi/Indonesia Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jabar 2008.<em> </em></p>
<p>***</p>
<p>REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/27/puisi-puisi-dian-hartati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PUISI-PUISI ROZI KEMBARA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/21/puisi-puisi-rozi-kembara/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/21/puisi-puisi-rozi-kembara/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Mar 2010 10:23:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[hujan]]></category>
		<category><![CDATA[lelaki]]></category>
		<category><![CDATA[mata]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3602</guid>
		<description><![CDATA[BIOGRAFI  MATA
“mata lelaki selalu menyimpan kabut yang menyembunyikan
catatan kusam kekalahan kami”
 
begitulah, kamu pun mendedah kecemasan yang telah lama
kamu kemas dalam malammalam yang semakin menumpuk
dan setiap kali langit memucat
kamu berdiri di beranda rumah menghancurkan kerinduankerinduan
yang sama sekali belum kamu pahami benar.
“dan mataku, coba tatap mataku. apakah ada jejak kabut
apakah ada catatan kusam kekalahan kalian. bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BIOGRAFI  MATA</strong></p>
<p><em>“mata lelaki selalu menyimpan kabut yang menyembunyikan</em></p>
<p><em>catatan kusam kekalahan kami”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>begitulah, kamu pun mendedah kecemasan yang telah lama</p>
<p>kamu kemas dalam malammalam yang semakin menumpuk</p>
<p>dan setiap kali langit memucat</p>
<p>kamu berdiri di beranda rumah menghancurkan kerinduankerinduan</p>
<p>yang sama sekali belum kamu pahami benar.</p>
<p><em>“dan mataku, coba tatap mataku. apakah ada jejak kabut</em></p>
<p><em>apakah ada catatan kusam kekalahan kalian. bahkan mataku</em></p>
<p><em>sendiri telah tawar dari kekalahan maupun kemenangan”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>kamu pun akhirnya letih. dan membenahi kembali kecemasan</p>
<p>kecemasan itu. menyimpannya kembali dalam lemari yang</p>
<p>terletak di belantara  dadamu.</p>
<p>tapi matamu masih membangun jembatan ke arah mataku</p>
<p>tapi matamu seperti setangkup pertanyaan yang memberat</p>
<p>di mataku.</p>
<p><em>“baiklah kalau begitu, biarkan mataku dan matamu membaur</em></p>
<p><em>kemudian bersamasama mengupas apa yang memang perlu</em></p>
<p><em>untuk dikupas. mataku dan matamu biar hanyut dalam tengadah</em></p>
<p><em>tangan sejarah yang gerah”</em></p>
<p><em>Tanah Jogjakarta </em></p>
<p>***</p>
<p><strong>HUJAN TURUN DI KULON PROGO</strong></p>
<p>I</p>
<p>merapatlah biar kehangatan menggubah lagu paling bisu</p>
<p>dan menyematkannya pada kedua belah telinga</p>
<p>di atas kepala, langit menggenggam telapak malam</p>
<p>udara dingin seperti mata pisau yang tersenyum</p>
<p>menatap urat nadi</p>
<p>mimpi kami beberapa jam yang lalu</p>
<p>adalah tangisan bercampur bara yang kalian benamkan</p>
<p>dalam tiap gemuruh ombak dan kalian tiupkan</p>
<p>pada setiap butir pasir hitam</p>
<p>II</p>
<p>telah kami eja api yang tumbuh pada sulur syaraf kalian</p>
<p>telah kami tafsirkan suara gemeretak yang terdengar</p>
<p>setiap kali kabar buruk itu menghampiri butiran pasir</p>
<p>yang telah menjadi penyangga nyawa kalian</p>
<p>tapi kami hanya mampu membongkar dada</p>
<p>dan mengais puingpuing munajat. kemudian menitipkannya</p>
<p>pada bibir pantai: dimana usia kalian matang oleh tiupan anginnya</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>doa kami mengabadi merasuki hari yang menerus berlari </em></p>
<p>III</p>
<p>merapatlah, dan dinginpun kehilangan rumah untuk bersemayam</p>
<p>lalu kami menyebut nama kalian berkalikali. hingga  kalian</p>
<p>menjelma petanda luka dalam rukuk dan sujud kami</p>
<p><em>Tanah Jogjakarta</em></p>
<p>***</p>
<p><strong>MALAM LEMBANG DIBALUT HUJAN</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>dingin yang pecah dari pembuluh malam</p>
<p>belum mampu membekukan</p>
<p>remah perbincangan kita</p>
<p>langit menjulurkan hujan</p>
<p>menciptakan ceruk kecil kenangan</p>
<p>dan menambah perih setiap tikung ingatan</p>
<p>yang sejak dahulu perlahan kuhanguskan</p>
<p>dalam tiap kobaran doa.namun berkalikali</p>
<p>kuhanguskan</p>
<p>berkalikali juga ia lahir kembali sebagai</p>
<p>ingatan baru.</p>
<p>(di kantung riwayat sangkuriang melata</p>
<p>pada labirin doa.sedang sumbi kembali menjadi</p>
<p>rusuk yang melekat di iga waktu)</p>
<p><em>Tanah Bandung</em></p>
<p>***</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/03/ro.jpg"><img class="size-full wp-image-3603 alignleft" title="ro" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/03/ro.jpg" alt="" width="135" height="120" /></a></strong></p>
<p><strong>Rozi Kembara</strong>, lahir 27 Juni 1990 di Tasikmalaya. Selama beberapa waktu pernah terdampar di Rumah Dunia, Serang-Banten. Kini sedang belajar di fakultas bahasa dan seni Universitas Negeri Yogyakarta.</p>
<p>***</p>
<p>REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.</p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/21/puisi-puisi-rozi-kembara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
