PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK

I.

“ora et labora”

di pertigaan jalan menuju rumah

beberapa tukang becak menyemadikan nasib

: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha

- memejam di tempat duduk

masingmasing-

II.

“nrimo ing pandum”

kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan

begitu saja kepada puingan matahari dan purnama

mereka mengabadikannya sebagai penanda becak

yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa

lapar dan haus adalah

foto-doa

III.

“kerja adalah ibadah”

di sisi adzan,

kretek yang masih tersimpan di saku, ingin

menyatakan bahwa ia telah membilangkan

bibirbibir kering

pepatah basah

kepada penantian yang bersuarasuara

sepanjang hari

- ia bernubuat pada mereka:

tunggulah dengan ibadah-sabar, penumpang akan kalian dapat -

2010

***

EMPAT PERTANYAAN DAN JAWABAN MENGENAI AIRMATA KAMI

//pertanyaan-pertanyaan//

: 1.

“ke mana arah airmata-jalan pergi menuju tanah rantau?”

: 2.

“siapa yang melahirkan airmata ayah dan ibu-kandung kami?”

: 3.

“bagaimana kami dapat mengeringkan laut airmata kami yang keruh?”

: 4.

“apakah Tuhan tak akan pernah menyesal menciptakan airmata?”

//jawaban-jawaban//

: 1.

sejujurnya, kami masih saja lupa rute di peta

sebab peta telah luntur oleh warna tinta airmata kami

dan dengan segenap cara kami yang tak dapat dibahasakan

jarak mengajarkan kepada kami bahwa menyisakan mimpi

tentang tanah perantauan itu tidak baik. oleh karena mimpi

adalah petunjuk pengganti peta paling mujarab, sehingga

nantinya kami bisa bertemu airmata lain yang tak asing

dari jalanan di tanah rantau.

: 2.

hampir setiap malam hampir setiap anak mendengarkan

lelagu dari gendongan para ibu di desa kami. sedang para ayah

sering kali merapikan nafkah dekat perapian dengan asap kretek

yang ingin berhenti keluar supaya disimpan saja di celengan berbentuk

ayam jantan di samping jendela kamar tempat matahari membenamkan

genangan air dari mata-pengharapan semalam.

- hampir setiap pagi ayah dan ibu-kandung kami berdiskusi

mengenai lagu kokok ayam yang tak akan pernah menceritakan

dari mana muasal segala tangis mereka karena setiap pagi adalah leluhur

airmata itu sendiri -

: 3.

bisa saja berabad-abad lamanya airmata yang menimbun, jelma

menjadi lautan seperti di tanah gaza atau bencana. dan kami tak

pernah tahu kapan awan akan menampung jadi mendung, sebab

kami telah lama percaya bahwa segalanya mampu mengering

segalanya mampu membatu segalanya mampu menjadi hujan.

dan barangkali,

kekeruhan yang terjadi di laut kami bukan karena kesamaan nasib kami

tetapi karena perbedaan cara bagaimana kami kembali merupa

iring-iringan awan kelabu.

: 4.

ya, tak akan pernah. sebab ingatan kami tak dapat mengelupas

tentang sejarah adam-hawa yang terusir dari tanah manusia pertama.

2010

***

LALU ENGKAU DUDUK DI TEPIAN KOLAM SEKETIKA ITU

~LALU seperti apakah engkau menerjemahkan

ikan ikan yang melaju ke permukaan kolam

sementara daun daun teratai yang layu

menamakan dirinya seribu petang

tanpa bayang rembulan

~ENGKAU mengenal riwayat muasal ikan ikan

dari ratusan telur yang tetas di tepian air tenang

di mana engkau juga menyuarakan kelahiran

bagi burung burung pelikan liar, keluar

dari sangkar tubuhmu yang ilalang

~DUDUK merenungi air matamu yang jatuh

dimakan ikan ikan lapar adalah perumpamaan,

tanda bahwasanya di pesakitan yang kini

engkau telah jelma ibu baru bagi

sejarah kanak kanakmu yang masih

merengek rengek minta susu

~DI TEPIAN tanpa waktu engkau telah berpikir

akan tubuhmu yang bukan lagi sarang bagi pelikan

melainkan sebentuk rancangan sebagai petuah

bagaimana memakaikan pakaian pada ikan ikan

yang telanjang, atau bagaimana

mengartikan ketelanjangan waktumu sendiri

~KOLAM barangkali bukanlah tempat untuk beradu

antara engkau dan bekas rahimmu,

karena setiap kepala tundukmu mendiamkan seribu petang telah

mengatasnamakan matamu yang adalah insang bagi ikan ikan

sedang air matamu ialah pelikan pelikan yang tiada

memaknai kelaparannya, lalu mati

~SEKETIKA ITU ikan ikan yang melaju ke permukaan

telah sempurna memiliki sayap sayap supaya mereka dapat

terbang segera menuju tubuhmu untuk engkau inkarnasikan

bukan sebagai ikan ikan petang di kolam tanpa bayang rembulan

dan hikayat zaman mata – air mata tanpa waktu, namun

sebagai kanak kanak burung burung pelikan

yang lapar.

2010

***

A. Ganjar Sudibyo lahir di Semarang, 10 September 1989. Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang ini aktif mengelola blog puisi pribadinya (penyairpadipecandukata.blogspot.com) dan note facebook, selain bergiat di pergerakan komunitas sosial penanganan anak-anak jalanan dan kaum miskin kota SATOE ATAP di Semarang. Puisinya pernah memenangi sayembara puisi antologi Penghujung Tahun 2009, juga finalis lomba cipta puisi Indosat 2010, serta peringkat V lomba penulisan karya sastra puisi tingkat universitas (PEKSIMIDA) se-Jawa Tengah 2010 dan mengikuti PEKSIMINAS 2010. Beberapa puisinya tersebar di berbagai situs sastra. Sekarang tinggal di Semarang. Alamat email, fb  : rumahkatakata@gmail.com, Ganz Pecandukata.

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

***

PUISI-PUISI HUSEN ARIFIN

Ketika Hujan Menulis Usiaku

ketika hujan menulis usiaku

mengecup mimpiku dan memberi lentera

aku tak melihat apa-apa

kecuali bunga merekahkan bau cinta

di antara rintik-rintik yang tak terbaca

aku adalah nama yang terlahir dari ribuan cerita

seperti doa yang diucapkan setiap malam oleh pujangga

sebuah cita-cita di koridor kehidupanku pernah menghilang

hingga aku terjungkal dan bimbang mengasah masa depan

semua yang kusampaikan kepada Tuhan hanya berpucuk di ubun-ubun

sementara kerisauan menoleh ke bayangan milikku

seolah menutup sekat bahagia di sekeliling rumah

memberi garis hitam di ruang-ruang, membonsai dinding keruh

tapi separuh hidup ini telah mengurai usiaku lebih indah

meski aku takkan tahu arah segala sesuatu di balik senandung lagu

bahkan aku menjalani hidup sederhana

tentang keutuhanku menunggu takdir

dan badai sesekali menyelubung ke sudut jendela

Malang, 2010

***

Di Altar Suraumu

di altar suraumu

garis usiaku nampak berbaris

memanjang jadi urutan

menunggu kematian

yang tertuliskan di arsymu

aku minta pulang

dengan cara yang jarang

dibuatkan alif-alif keberkahan

dan jadikan aku malaikatmu

yang mencatat jarak hidup di dunia

untuk sampai ke surga

Malang, 2010

***

Perjalanan yang Indah

kami dekap azan subuh sambil meminum sebotol kopi

dan memerahkan kayu-kayu yang hampir rubuh

kami seduh doa-doa dengan sendok kecil,

selimut kami hanya serpihan daun-daun

kami kuatkan dalam seribu lantun zikir

kami juga berteduh kepada embun-embun

dari ceracau beburung di pepohonan

kami buka mimpi kami dengan nafas yang bergemuruhan

seputih angsa-angsa yang berbaris di taman

kami kekalkan usia kami dengan cinta

bila luka mengikis kami

maka airmata kami membuncah bukan karena kami lemah

tapi kami lelah merendam duka sampai rebah ke altar rumah

dan kami lukis arus hidup kami yang panjang seperti sajadah

lalu kami duduk di samping sungai

melihat ikan-ikan meneruskan perjalanannya yang indah

malang, 2009

***

Kota Seribu Matahari

dari kota keroncong kupahat kolong-kolong langit

menjadi tembang keraton yang mengagungkan keluhuran

di nuansa gemerlapan aku tegaskan

kepada ibu kedamaian tentang musik kehidupan

adalah denting kecapi dan tetabuhan

mendawai bersama gamelan

sebagai pewakil kesunanan budaya

petik-petiklah irama dalam keramaian

dan perempuan bertalu menyanyikan sinden kenangan

sampai malam sanggul rembulan

ke pucuk kesungguhan berdiam di singgasana

dan di tengah-tengah pesonanya pepujaan

para penari senandungkan kata-kata imaji

para pemimpi kota seribu matahari

agar tetamu tetangga sendiri mafhum kekekalan malam ini

malang, 2009

***

Kisah Hujan

yang mengisahkan maut dan kabut adalah hujan

di antara rintik-rintiknya nafasmu dipetik sekejap saja

sedalam-dalamnya tanpa henti

ketika gerimis semakin tipis kau dicium tanpa jeda

lalu dengan jala yang melintang

perahumu dicubitnya berlabuh ke karang

malang, 2009

***

Husen Arifin, lahir di Sumberkerang, Probolinggo 28 Januari 1989. Aktif menulis sejak di MTs Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura. Mahasiswa Fakultas Ekonomi UIN Maliki Malang, bergiat di Komunitas Sastra Parkir Malang Raya. Puisi-puisinya terangkum dalam antologi puisi Pemenang&Nominator Lomba Cipta Puisi Tingkat Mahasiswa Se-Indonesia “Menolak Lupa” (2010).

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

***

PUISI-PUISI SUMALA DJAJA

Kembali Padamu

: sayyidah rabiah el a dawiah, abu nawas

…… aku hanya ingin engkau.

biarlah aku tidak dapat

syurga atau neraka.

aku hanya ingin memamandangmu.

(rabiah el a dawiah).

duhai Tuhan, aku tak layak

ke surgamu namun ku  tak sanggup

ke nerakamu. terimalah taubatku

dan ampunilah dosa-dosaku.

sesungguhnya engkau pengampun

dosa-dosa besar. (abu nawas)

aku datang padamu

sebab tak pernah kau menutup pintu.

cintamu memenuhi ruang hatiku

tentu hari-hari tak akan pernah sekarat.

maafkan atas kedunguanku

mengabaikan cintamu

atau lupa mengenangmu.

Kp. Halaman, 10 Pebruari 2010

***

Rindu Aku Pulang

: na’ah

segugur daun di padang

hatiku kerontang membaca rindu

terangkai di bisu smsmu.

malam menjadi ganjil

muram hati tak terperi

kau tak kunjung datang

tuturmu.

serupa smsmu yang masuk tiba-tiba

senyummu menyembul

dari lanskap kamar.

aku berkata-kata tanpa kalam;

sabarlah, sayang.

malam-malam yang lain pasti datang

seperti engkau yang tak pernah silam.

Kp. Halaman, 02-2010

***

Senandung Kesia-siaan

kiranya tak ada sesuatu  mampu

bersembunyi darimu

tentu saja kau telah membaca madah ini

jauh-jauh sebelum aku menggubahnya

menjadi lagu atau sebuah risalah.

namun biarkanlah aku mencari

dan merangkai untaian isi hati

meski darinya makna tak pernah aku temukan.

Kp. Halaman, 14-02-2010

***

Cahaya di Atas Cahaya;

El-Ghazali

Selengking dawai biola

dan denting piano yang memiuh telinga

Ingin senantiasa aku dalam dekapanmu

Tiada satu pun sepertimu

Tiada pula seindah dirimu

Kemana pun aku melangkah

Di situlah engkau

Engkau tersembunyi pada semua yang nampak

dan hadir dalam hati.

Dengan kasih sayang yang kau berikan

aku berusaha mengenalmu

Tak akan pernah kurasakan panas cinta

jikalau aku tak pernah menyentuhnya

Leburlah aku dengan api cintamu

Jika aku berjalan dengan cahaya

Itu adalah cahaya yang kau titipkan

Karena engkau hakikat cahaya

Kaulah cahaya di atas cahaya

Kampung  Halaman, 14 Okt-17 Nov 2009

***

Sumala Djaya lahir 25 Maret 1985, adalah anak petani yang menjalani keseharian untuk membaca dan menulis. Tulisannya berupa puisi dan cerpen tercecer di Fajar Banten dan Banten Muda Magazine. Tinggal di Kragilan-Serang. E-mail: malla_dj@yahoo.com.

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

***

PUISI-PUISI BAHAUDIN AMYASI

I’TIKAF KABUT

seperti i’tikaf kabut yang hening di helai malam
parau mimpi kita kian bersemayam
pada tiap jengkal kekalutan yang menghunjam
sampai nanti, di sini
kita masih setia melukis lembayung di ujung temaram

tak perlu kita ceritakan pada mereka
tentang selaksa lara yang membias hingga batas cakrawala
lantaran keyakinan yang kita kibarkan
akan menawarkan pahitnya sebuah pengorbanan

tak perlu kita kabarkan pada mereka
tentang pedihnya sebuah kehilangan
hingga pendar kesunyian telah kita luruhkan
pada desau leletih ombak di lautan
yakinlah, tegak jiwa kita mengempaskan badai kegalauan

seperti i’tikaf kabut yang mengembun di pucuk pagi
hingga nanti, di wisma singgih ini
kita masih berjingkrak menggapai matahari
kelak, pada kuburan keterasingan kita
i’tikaf kabut menjelma epitaf yang tak kuasa kita eja

Prigen, 13 April 2008

***

SAJAK SEBATANG CEMARA KERING

Buat karibku Hosriyanto Hobir

sebelum dirimu menjelma sebatang cemara kering, kulihat di jantungmu mengalir gemericik air sungai, mengibarkan pijar-pijar musim pada bebutir kerikil yang bertebaran di padang dingin. kau pun menunggangi kuda perang yang memercikkan bola api dari pukulan kuku kakinya, demi menziarahi sunyi ngarai yang demikian curam.

sebagaimana sujud kemarau yang rebah di jernih retinamu, kelopak-kelopak itu masih berjatuhan dari tangkainya yang lapuk, meski hanya semilir yang berdesir, merangkai sebaris epitaf pada sepotong batu nisan yang dipahat indah dengan lelentik jemari rembulan.

maka alangkah curam lelembah kawah hatimu; desau leletih angin menunggu diammu membatu bercadas magma, jentik reriak hujan menunggu sukmamu bergemuruh sirna.

“aku hanya sebatang cemara kering”, sembari tertawa pada angin, kau pun pamit dengan bahasa Tuhan.

Madura, 2005

***

UNTUKMU, AKU DATANG MALAM INI

untukmu, aku datang malam ini. dan seperti biasanya, kucintai malam yang tergerai dari rambutmu yang menderaikan gerimis kerinduan.

maka lihatlah, udara yang menjejali jiwaku menjadi beku. gelap telah jelmakan kita serupa bayang-bayang, menangkap gairah dalam setiap desah rindu yang basah, dan tentu gelisah.

kini, tubuhku telah berganti hujan dengan titik-titik rindu yang mengalirkan keheningan. maka mengertilah, ketika hujan yang memenuhi matamu mulai terhenti, kita pun akan kembali semedi, dalam pertemuan yang azali….

Surabaya, 14 Februari 2010 | 00:30 dini hari

***

NUBUAT RINDU

inilah syahadat rinduku
untukmu, sebiru langit yang kulukis bersama pelangi
sepotong kata-kata yang tak pernah selesai kunikmati
menanti mimpi, bungaku mekar dalam samadi
di teluk imaji, tanpa tepi

hingga sepetak keangkuhan yang kugubah
memenjarakanmu dalam resah, gundah kian basah
lalu kau lumuri selaksa rasa tanpa bahasa
di ujung kata-kata, rindu ini menjelama sebaris epitaf
yang tak pernah lelah kueja

akankah kau tinggalkan munajat batu nisan
pada segumpal sukma di altar keazalian
yang mencumbuimu dalam makrifat keheningan

maka kubasuh luka dengan air mata doa-doa
lantaran hanya kemarau rindu yang tersisa
dalam i’tikaf resah, sujudku gelisah
nubuat rindu, menjelma sajak-sajak pasrah

Surabaya-Pamekasam, 31 Januari 2010

***

Bahauddin Amyasi, lahir di sebuah kampung kecil Brambang, Kalianget Sumenep, 22 tahun yang lalu. Cerpennya “Menanti Gerimis” pernah memenangkan juara III Lomba Menulis Cerpen se-Jawa Timur 2003 yang diadakan oleh Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan. Sampai saat ini, ia menjadi pengasuh rubrik “Ultra” (Ulasan Sastra) Majalah KOPI PP. Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Madura.

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

***

Puisi-Puisi Restu Ashari Putra

metropolansia

telah habis sekian jalan itu

dari pinggiran sejarah pinggiran kota

depok-jakarta

malam ditancapkannya kapakkapak pemotong kayu

membangun kesesakkan di antara rumahrumah burung

dan segumpal awan kecil

masih adakah tuantuan tanah

yang mengambil budak di antara belantara rawa

mall dan plaza

jembatan, lampu merah, pagar baja bagai hiasan

bagi seorang bayi yang baru saja lahir dari rahim ibu

rahim yang gagap mencatat bahasa

kota ini menjadi kawanan puisi bagi segerombolan

pujangga yang terpaksa mencatat bandarbandar obat

dan rumahrumah pijat

kejahatan lorong becek yang gelap dan wajah gedung

yang angkuh adalah sajak baru dari masa kecil ketenteraman

alam dan sejarah

pun di antara parkiran mobil depan restoran itu masih ada

seorang anak menulis surat kepada sang ayah tercinta,

“bapak, aku tak bisa belajar puisi di kota ini!”

Depok, 2009

***

tujuhpuluhlima malam sukmidjah

:nenek yang terbaring renta.

di kejauhan, aku tak mendengar lagi lengking terompet dan sorak petasan.

sesekali, hanya derap kaki yang asing melihat kau pergi meninggalkan rupa tahun.

sembunyi di balik goalpara, di balik aroma kebun teh yang wanginya bersujud

di mata perempuan tua.

sukmidjah, kau telah menjadi kamar kesunyianku yang harumnya dua puluh empat

tahun masa silam, di bawah reranting cengkeh dan tanah cikaret yang renta.

kita adalah samasama pejalan, bukan? hanya saja kau lebih dulu menuturkan dongengan

dan aku menarik selimut hingga mata seterang bulan.

sukmidjah, sebaiknya kau jangan lelap terlebih dulu. sebab aku masih ingin

menulis tubuh gigilmu dengan basah air mata, dengan jam hingga detak dua belas malam.

aku ingin mendengar ceritamu lagi tentang lelaki muda bertubuh panjang. dengan seruling tua menggiring tikus hama ke hulu sungai dari sawahsawah petani di bukit landai.

lidahmu tak berucap katakata. sesekali hanya derit pintu dan ringkik ranjang.

pecahan api melesat ke atas malam. tepatnya tujuhpuluhlima malam.

kau adalah kesunyian goalpara.

Sukabumi, Desember 2009- Januari 2010

Cikaret: sebuah kampung di daerah Sukabumi

Goalpara:  jalan menuju perkebunan teh Goalpara di kecamatan Sukaraja-Sukabumi

***

neng,  sesekali bukanlah tumbuhan yang menjalar

sesekali aku bukanlah tumbuhan yang menjalar dan tumpukan batang yang berair

walau aku serupa kau: tangan yang mengaduk pasir dan tubuh oyag terterpa angin

makhluk apakah kau yang serupa aku memandangi hamparan batang kangkung

di depan rumah itu. cekikik budak. bebisik mak. dan layangan jatuh di pinggiran petak

lalu aku mendekatimu. waktu hanya lirih air mata dalam bibirmu yang serupa

kupu-kupu, coklat pucat terkadang ungu. neng, kabari aku di mana kau tanam takdirmu.

sesaat sore seperti lebih kejam dari kesedihan apa pun. sebab neng tak bisa lagi menatap mak memanen batang kangkung, batang duka, batang air mata.

mak sudah tak punya lagi air mata. dan neng hanyalah mata yang memandang

gedung kotakota. semacam bulir pasir berputar berpusar mengitari lorong kesunyian.

tertiup angin. senyap. tanah pasir biru seperti tanah kau dan aku. tanah neng yang tak

berdiam lagi di depan rumah itu: mengaduk pasir dan tubuh oyag terterpa angin.

aduhai neng, di mana lagi kita beratap, bertanam sajak.

Cibiru Hilir,  2009

***

ZALZILA

jerit seorang wanita

adalah darah yang

mengucur dari langit

lalu pada air matanya ia sampaikan salam ketidakberdayaan menadah hujan dan gemuruh.

nasib telah merobek baju tidurnya. hingga kini ia telanjang dengan mata terpejam

sepanjang malam.

tatkala kebencian jatuh di pelupuk matanya. dan air hujan basah menggenangi segenap

mimpinya. di malam itu, kesedihan telah menjadi karang di lautan: abadi dan kekal.

sampai tuhan mencabut kembali segala kehendaknya, kau akan tetap sendirian berjalan

di pinggiran sejarah cahaya: di bawah temaram lampu kota , di antara dua gedung tua.

dengan hujan dan gaun tersingkap, dengan memar dan air liur berbisa.

2009

***

Restu Ashari Putra. Lahir di Jakarta, 31 Desember 1985. Bergiat di Komunitas Rumput dan Majelis Sastra Bandung. Merampungkan studinya di Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung . Karyanya berupa puisi, cerpen dan artikel tersebar di beberapa media seperti Pikiran Rakyat, Seputar Indonesia, Radar Bandung, Majalah Sabili, Tribun Jabar, kompas.com. Komunikasi bisa melalui blog; www.katarestu.wordpress.com .

***

REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.

advert

Tags Kata

Gonjlengan

BE A WRITER: DARI YANG REGULER HINGGA EXCLUSIVE”

Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat.

Full Story | May 20th, 2010

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa*
Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong
MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak mengganggu [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK
I.
“ora et labora”
di pertigaan jalan menuju rumah
beberapa tukang becak menyemadikan nasib
: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha
- memejam di tempat duduk
masingmasing-
II.
“nrimo ing pandum”
kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan
begitu saja kepada puingan matahari dan purnama
mereka mengabadikannya sebagai penanda becak
yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa
lapar dan haus adalah
foto-doa
III.
“kerja adalah ibadah”
di sisi adzan,
kretek [...]

Full Story | July 18th, 2010