PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO
langlang | Puisi | July 18th, 2010 | 5 Comments »
TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK
I.
“ora et labora”
di pertigaan jalan menuju rumah
beberapa tukang becak menyemadikan nasib
: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha
- memejam di tempat duduk
masingmasing-
II.
“nrimo ing pandum”
kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan
begitu saja kepada puingan matahari dan purnama
mereka mengabadikannya sebagai penanda becak
yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa
lapar dan haus adalah
foto-doa
III.
“kerja adalah ibadah”
di sisi adzan,
kretek yang masih tersimpan di saku, ingin
menyatakan bahwa ia telah membilangkan
bibirbibir kering
pepatah basah
kepada penantian yang bersuarasuara
sepanjang hari
- ia bernubuat pada mereka:
tunggulah dengan ibadah-sabar, penumpang akan kalian dapat -
2010
***
EMPAT PERTANYAAN DAN JAWABAN MENGENAI AIRMATA KAMI
//pertanyaan-pertanyaan//
: 1.
“ke mana arah airmata-jalan pergi menuju tanah rantau?”
: 2.
“siapa yang melahirkan airmata ayah dan ibu-kandung kami?”
: 3.
“bagaimana kami dapat mengeringkan laut airmata kami yang keruh?”
: 4.
“apakah Tuhan tak akan pernah menyesal menciptakan airmata?”
//jawaban-jawaban//
: 1.
sejujurnya, kami masih saja lupa rute di peta
sebab peta telah luntur oleh warna tinta airmata kami
dan dengan segenap cara kami yang tak dapat dibahasakan
jarak mengajarkan kepada kami bahwa menyisakan mimpi
tentang tanah perantauan itu tidak baik. oleh karena mimpi
adalah petunjuk pengganti peta paling mujarab, sehingga
nantinya kami bisa bertemu airmata lain yang tak asing
dari jalanan di tanah rantau.
: 2.
hampir setiap malam hampir setiap anak mendengarkan
lelagu dari gendongan para ibu di desa kami. sedang para ayah
sering kali merapikan nafkah dekat perapian dengan asap kretek
yang ingin berhenti keluar supaya disimpan saja di celengan berbentuk
ayam jantan di samping jendela kamar tempat matahari membenamkan
genangan air dari mata-pengharapan semalam.
- hampir setiap pagi ayah dan ibu-kandung kami berdiskusi
mengenai lagu kokok ayam yang tak akan pernah menceritakan
dari mana muasal segala tangis mereka karena setiap pagi adalah leluhur
airmata itu sendiri -
: 3.
bisa saja berabad-abad lamanya airmata yang menimbun, jelma
menjadi lautan seperti di tanah gaza atau bencana. dan kami tak
pernah tahu kapan awan akan menampung jadi mendung, sebab
kami telah lama percaya bahwa segalanya mampu mengering
segalanya mampu membatu segalanya mampu menjadi hujan.
dan barangkali,
kekeruhan yang terjadi di laut kami bukan karena kesamaan nasib kami
tetapi karena perbedaan cara bagaimana kami kembali merupa
iring-iringan awan kelabu.
: 4.
ya, tak akan pernah. sebab ingatan kami tak dapat mengelupas
tentang sejarah adam-hawa yang terusir dari tanah manusia pertama.
2010
***
LALU ENGKAU DUDUK DI TEPIAN KOLAM SEKETIKA ITU
~LALU seperti apakah engkau menerjemahkan
ikan ikan yang melaju ke permukaan kolam
sementara daun daun teratai yang layu
menamakan dirinya seribu petang
tanpa bayang rembulan
~ENGKAU mengenal riwayat muasal ikan ikan
dari ratusan telur yang tetas di tepian air tenang
di mana engkau juga menyuarakan kelahiran
bagi burung burung pelikan liar, keluar
dari sangkar tubuhmu yang ilalang
~DUDUK merenungi air matamu yang jatuh
dimakan ikan ikan lapar adalah perumpamaan,
tanda bahwasanya di pesakitan yang kini
engkau telah jelma ibu baru bagi
sejarah kanak kanakmu yang masih
merengek rengek minta susu
~DI TEPIAN tanpa waktu engkau telah berpikir
akan tubuhmu yang bukan lagi sarang bagi pelikan
melainkan sebentuk rancangan sebagai petuah
bagaimana memakaikan pakaian pada ikan ikan
yang telanjang, atau bagaimana
mengartikan ketelanjangan waktumu sendiri
~KOLAM barangkali bukanlah tempat untuk beradu
antara engkau dan bekas rahimmu,
karena setiap kepala tundukmu mendiamkan seribu petang telah
mengatasnamakan matamu yang adalah insang bagi ikan ikan
sedang air matamu ialah pelikan pelikan yang tiada
memaknai kelaparannya, lalu mati
~SEKETIKA ITU ikan ikan yang melaju ke permukaan
telah sempurna memiliki sayap sayap supaya mereka dapat
terbang segera menuju tubuhmu untuk engkau inkarnasikan
bukan sebagai ikan ikan petang di kolam tanpa bayang rembulan
dan hikayat zaman mata – air mata tanpa waktu, namun
sebagai kanak kanak burung burung pelikan
yang lapar.
2010
***
A. Ganjar Sudibyo lahir di Semarang, 10 September 1989. Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang ini aktif mengelola blog puisi pribadinya (penyairpadipecandukata.blogspot.com) dan note facebook, selain bergiat di pergerakan komunitas sosial penanganan anak-anak jalanan dan kaum miskin kota SATOE ATAP di Semarang. Puisinya pernah memenangi sayembara puisi antologi Penghujung Tahun 2009, juga finalis lomba cipta puisi Indosat 2010, serta peringkat V lomba penulisan karya sastra puisi tingkat universitas (PEKSIMIDA) se-Jawa Tengah 2010 dan mengikuti PEKSIMINAS 2010. Beberapa puisinya tersebar di berbagai situs sastra. Sekarang tinggal di Semarang. Alamat email, fb : rumahkatakata@gmail.com, Ganz Pecandukata.
***
REDAKSI menerima kiriman puisi 5-6 judul disertai biodata, alamat, foto diri, dan nomor rekening bank dalam satu file attachment ke puisi@rumahdunia.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.
***



