<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; Essay</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/category/x4-essay/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 14:19:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>DIALOG LIMA BELAS JUTA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/30/dialog-lima-belas-juta/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/30/dialog-lima-belas-juta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 08:54:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>
		<category><![CDATA[baca]]></category>
		<category><![CDATA[cepat]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[modal]]></category>
		<category><![CDATA[nganggur]]></category>
		<category><![CDATA[syukur]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4189</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Didaytea.
“Lima belas juta rupiah?” Pekik temanku dengan mata yang terbelalak sebesar-besarnya sampai terlihat hampir meninggalkan tempatnya, ketika aku bilang bahwa itu adalah nilai semua ratusan buku yang berbaris dan bertebaran di sekeliling kamarku. Aku beli semua buku itu selama bekerja hampir tujuh tahun. “Sayang banget , uang sebanyak itu kamu habiskan hanya untuk membeli [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Didaytea.</p>
<div id="attachment_4190" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/12.jpg"><img class="size-medium wp-image-4190" title="Sign dollar and the books on scales. 3D image." src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/12-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Foto: Dok.Net</p></div>
<p>“Lima belas juta rupiah?” Pekik temanku dengan mata yang terbelalak sebesar-besarnya sampai terlihat hampir meninggalkan tempatnya, ketika aku bilang bahwa itu adalah nilai semua ratusan buku yang berbaris dan bertebaran di sekeliling kamarku. Aku beli semua buku itu selama bekerja hampir tujuh tahun. “Sayang banget , uang sebanyak itu kamu habiskan hanya untuk membeli buku- buku ini, buku kan tidak bisa dijual, dan kalau pun dijual nilainya ya seperti barang loakan!” Itu adalah komentar paling “lucu” menurutku sepanjang aku bekerja di sebuah kota industri. Dan mungkin, itu adalah pendapat sebagian besar orang yang memahami bahwa lebih baik membeli rumah, kendaraan, tanah, bahkan makanan daripada membeli buku.  MEMBACA LEBIH CEPAT=BERPIKIR LEBIH CEPAT Alhamdulillah, sebelum mendapatkan ijazah kelulusan dari sebuah SMK di Bandung, aku sudah resmi menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan petrokikia di Cilegon. Tidak sehari pun waku dalam hidupku yang berstatus pengangguran setelah lulus dari sekolah. Hari Sabtu aku diwisuda, Seninnya aku sudah bekerja. Impianku waktu itu, aku ingin membeli semua buku yang aku inginkan sewaktu aku masih bersekolah. Karena waktu itu aku hanya mampu meminjam ke perpustakaan daerah Jawa Barat. Kurang sreg rasanya jika hanya meminjam, aku ingin bisa memiliki buku-buku tersebut.</p>
<p>Incaran utamaku adalah Quantum Learning. Buku yang pernah kupinjam dari seorang adik kelas. Buku ini yang paling berkesan untukku karena memberi paradigma baru ke dalam diriku tentang proses pembelajaran. Lebih spesifik lagi, yang paling menarik minatku adalah Bab tentang Membaca Cepat. Itu Skill utama yang sampai sekarang aku miliki, yang dihasilkan dari membaca buku tersebut. Dan mimpi itu pun menjadi kenyataan.  Ketika mudik pertama, hal yang pertama lakukan adalah langsung meluncur ke Palasari,dan membeli buku itu. Dan makin jatuh cintalah aku kepada buku-buku dengan tema yang berkaitan dengan proses pembelajaran, atau “belajar bagaimana belajar”. Sejak itulah, aku rajin berburu buku-buku dengan tema sejenis Accelerated Learning, Otak Sejuta Giga Bite, Super Brain Power, Berpikir Ala Einstein, Revolusi Cara Belajar, The Sharper Mind, Imagine That, Master Your Memory, Use Both Side Of Your Brain, Use Your Brain, Beyond Teaching and Learning, dan buku-buku lainnya. Semua buku itu penuh dengan metode-metode untukmeningkatkan kecerdasan, untuk memudahkan proses belajar kita, dan segudang “how-to” lainnya. Tapi mungkin karena diriku kurang cerdas dan kurang pemahaman, yang benar- benar “menempel” sebagai sebuah kemampuan di dalam diriku hanya kemampuan membaca cepat.  Sebelum aku mempelajari buku-buku tersebut, kecepatan membacaku (dengan berusaha membaca secepat mungkin) maksimal hanya 200-300 kata per menit. Tapi setelahnya, kecepatanku meningkat tajam sampai hampir 1400 kata per menit! Alhamdulillah, kecepatan membacaku bisa menutupi kelemahanku di dalam memahami pelajaran di sekolah dan kampus. Dengan membaca lebih cepat, otomatis aku pun bisa berpikir lebih cepat. Sehingga di dalam jangka waktu yang sama, aku mempunyai waktu lebih lama untuk bisa lebih memahami pelajaran. Yang paling terasa ketika ujian datang. Kecuali Kalkulus, Fisika, dan statistik, mata kuliah yang tidak memerlukan kecepatan membaca (dan memang aku mentok di dua mata kuliah itu), aku selalu dapat menyelesaikan soal- soal ujian jauh lebih cepat dari siswa/mahasiswa lain. Wajar saja kan, dengan kecepatan rata- rata orang biasa 200-300 kata per menit, aku melaju kencang dengan 1300 kata per menit. Dengan “meluangkan waktu” untuk memeriksa, memastikan dan mencocokkan jawaban dua kali saja, aku dipastikan bisa selesai dalam waktu sepertiga kali lebih cepat dibanding orang lain.</p>
<p>Kemampuanku membaca cepat juga ternyata berpengaruh kepada kemampuan berbahasaku juga. Hobiku menonton film menjadi “penyumbang” terbesar kemampuan bahasa Inggrisku. Dulu, ketika masih membaca dengan “biasa” aku malas untuk mendengar percakapan para tokoh di film- film itu. Lebih baik fokus ke cerita dan menikmati serunya filem, cukup dilengkapi dengan teks bahasa Indonesia. Jika aku set teksnya ke Bahasa Inggris, pasti memerlukan waktu untuk membaca, menerjemahkah ke Bahasa Indonesia dan menghubungkan teks dengan cerita dalam filem tersebut. Ketika aku bisa membaca lebih cepat, ide cemerlang pun muncul. Proses “Membaca-Menerjemahkan-Menghubungkan” kini bisa berlangsung lebih cepat, karena aku bisa membaca teks jauh lebih cepat, menerjemahkan (berpikir) lebih cepat, dan menghubungkan teks dengan cerita di film tersebut jauh lebih cepat dan lebih cepat. Setelah itu proses menonton film pun menjadi sangat menyenangkan buatku, karena bisa mendapat hiburan sekaligus menambah kemampuan berbahasa Inggrisku.  Alhamdulillah, walaupun tidak sampai sekelas penerjemah “asli”, dan Tata Bahasa Inggris “resmi” tidak pernah aku kuasai, tapi aku bisa berkomunikasi dengan cukup lancar di bahasa yang sebagian besar siswa dan mahasiswa takuti ketika seklah dan kuliah dulu. Dan aku sempat dipercaya untuk menerjemahkan beberapa tulisan Gola Gong di blognya, walaupun sangat jauh dari dibilang bagus dan baik. Dan puncaknya, adalah momen di mana seorang temanku datang ke rumahku dan berlangsunglah “dialog lima belas juta”, seperti di awal paragraf tulisan ini.  BALIK MODAL PLUS UNTUNG BESAR Beberapa waktu setelah “dialog lima belas juta” itu berlangsung, aku mendapat panggilan untuk bekerja di luar negeri. Entah kenapa, ketika itu aku sangat yakin dan percaya untuk bisa diterima. Karena ketika itu aku sedang mengalami periode “puncak kesulitan finansial” di dalam hidupku. Hanya itu harapanku untuk bisa survive.  Sebelum test berlangsung, aku melakukan persiapan habis- habisan demi menghadapi test tersebut. Aku pergi ke warnet setiap hari untuk mengunduh materi- materi yang berhubungan dengan perusahaan yang memanggilku untuk test tulis di Jakarta. Ketika hari yang sangat mendebarkan di dalam hidupku itu tiba, aku pun meluncur ke TKP, eh, sebuah hotel di Jakarta.</p>
<p>Sepanjang perjalanan, terus kuyakinkan diriku untuk yakn dan percaya diri bahwa aku bisa menembus persaingan yang sangat ketat, karena bakal ada puluhan orang yang menjadi sainganku. Dan ternyata benar, beberapa sainganku bahkan adalah kakak kelasku yang tujuh angkatan di atasku! Ada juga yang sudah menjadi supervisor di perusahaannya. Wah, harapanku semakin kecil nih. Dan satu hal lagi, aku paling muda diantara delapan puluh tiga peserta test yang datang hari itu. Dan Alhamdulillah, Subhanaloh, Allaahu Akbar! Ketika soal test dibagikan, sama sekali tidak ada test tentang hal-hal yang aku unduh dari internet, sama sekali tidak ada pertanyaan mengenai produkk perusahaan tersebut. Yang ada hanya soal- soal yang sangat dasar tentang kimia. Dan subyek lainnya, ini yang paling utama menurut perwakilan dari perusahaan tersebut adalah “The Learning Ability”, test kemampuan belajar. Soal- soal yang lebih menyerupai Test IQ dibanding test masuk perusahaan, hanya ini diujikan dalam bahasa Inggris. Soal- soal yang memang bakal menjadi “makanan empuk” untuk kecepatan membaca dan kecepatan berpikirku. Dan benar saja, dari satu jam yang diberikan oleh penguji, aku bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu dua puluh menit! Alhamdulillah.  Setelah melalui proses wawancara dan test medis, akhirnya aku pun ditawari kontrak kerja melalui email. Ketika aku membuka file kontrak kerja dan jumlah yang tertera di kontrak itu seketika mulutku ternganga selebar-lebarnya, dan membuat jantungku berdegup kencang bukan main, dan aku pun langsung bersimpuh sujud syukur kepada Yang Maha Kaya. Bagaimana tidak, ketika hitungan “juta” pun sudah terasa sangat besar, karena aku baru bekerja enam setengah tahun,masa kerja yang jauh lebih singkat dari para sainganku itu, aku ditawari kontrak kerja dengan jumlah lebih dari lima belas kali dari jumlah yang biasa kuterima. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung menandatangani kontrak itu dan mengirimnya ke bagian rekrutment perusahaan tersebut.  Seminggu sebelum aku terbang menuju negeri impian, aku bertemu dengan temanku di “dialog lima belas juta” itu, dan berbicara dengan yakin: “Mas, lima belas juta uangku yang kuhabiskan untuk membeli buku, dan mas bilang sia- sia, ternyata sekarang sudah balik modal, plus untungnya dikali beberapa puluh kali!” (*)</p>
<p>Didaytea!</p>
<p>Yang Sedang Sangat Beryukur Tak Henti-henti Di tengah musim panas yang sangat sejuk. 2</p>
<p>60720101045</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/30/dialog-lima-belas-juta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KEBEBASAN DAN KREATIVITAS</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/23/kebebasan-dan-kreativitas/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/23/kebebasan-dan-kreativitas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 00:50:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>
		<category><![CDATA[Ekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[Kreativitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4129</guid>
		<description><![CDATA[KEBEBASAN DAN KREATIVITAS
Oleh Sulaiman Djaya*
Jika kebebasan dan kemerdekaan dipahami sebagai proses dan praktik yang konkret, maka kebebasan dan kemerdekaan pada akhirnya lebih merupakan apa yang dapat dan sanggup dilakukan seseorang, yang dengan apa yang dilakukannya itu seseorang mengafirmasi diri sendiri sebagai individu dan pribadi, juga dengan tindakannya itu pula seseorang bisa berbagi dengan orang lain, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4130" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/RD-COM-Rampak.jpg"><img class="size-full wp-image-4130" title="RD COM-Rampak" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/07/RD-COM-Rampak.jpg" alt="" width="500" height="334" /></a><p class="wp-caption-text">Rampak beduk satu bentuk kreativitas</p></div>
<p>KEBEBASAN DAN KREATIVITAS</p>
<p>Oleh Sulaiman Djaya*</p>
<p>Jika kebebasan dan kemerdekaan dipahami sebagai proses dan praktik yang konkret, maka kebebasan dan kemerdekaan pada akhirnya lebih merupakan apa yang dapat dan sanggup dilakukan seseorang, yang dengan apa yang dilakukannya itu seseorang mengafirmasi diri sendiri sebagai individu dan pribadi, juga dengan tindakannya itu pula seseorang bisa berbagi dengan orang lain, meski apa yang dibaginya tersebut merupakan pendapat-pendapat dan pemahaman-pemahaman yang sifatnya subjektif yang berasal dari kerja kognitif dan intelektual.<span id="more-4129"></span></p>
<p>Di sini, kebebasan dan kemerdekaan dilihat sebagai kehendak subjek itu sendiri untuk menciptakan dan memperjuangkannya. Kemerdekaan dan kebebasan seperti itulah yang juga bisa disebut sebagai kemandirian dan kreativitas. Dengan kemandirian dan kehendak kreatif tersebut seseorang akan menemukan kebebasannya ketika ia melakukan atau pun memperjuangkan apa yang dipercayainya dalam hidup, asalkan apa yang diperjuangkan dan dipercayainya itu tidak menyebabkan kekerasan dan merugikan orang lain.</p>
<p>Masih dalam garis yang sama, kemerdekaan seseorang bukanlah tentang terbebasnya seseorang dari ancaman atau pun dari ketakutan yang datang dari dalam dirinya dan yang datang dari luar dirinya, tetapi lebih merupakan ikhtiar seorang pribadi untuk melakukan apa yang dapat ia lakukan untuk menyumbang bagi hidup itu sendiri. Kemerdekaan seseorang adalah ketika ia menjalani proses dalam usaha terus-menerus untuk melakukan dan memperjuangkan tindakan-tindakan terbaik yang dapat diusahakannya.</p>
<p>Dengan pemahaman-pemahaman seperti itu pulalah seseorang dapat berbuat dan berbagi dengan orang lain melalui menulis, berbagi pemahaman dan pandangan yang dapat memberikan sumbangan pada cita-cita emansipasi dan pembangunan manusia.</p>
<p>Lebih lanjut, jika saja mau, seseorang dapat mencebur dalam “keadaan” dan berjuang dalam “situasi” seperti yang dilakukan Mother Theresa dan Romo Mangunwijaya, di mana seseorang memandang dan menyikapi hidup bukan pada bagaimana menguasai segala hal, tetapi lebih pada bagaimana ia dapat memberikan sesuatu bagi dirinya dan bagi hidup itu sendiri. Di sini, kebebasan dan kemerdekaan seseorang terletak pada setiap kemungkinan dan situasi yang dapat dilakukannya sesuai dengan kemampuan dan profesinya, yang dengan kemampuan dan profesinya itu ia hanya perlu bersikap setia dan mencintai saja apa yang dilakukannya.</p>
<p>Kebebasan dan kemerdekaan seperti yang dipahami di atas tersebut dapat diistilahkan pula sebagai kebebasan dan kemerdekaan kreatif untuk mencipta dan berkarya, di mana kebebasan dan kemerdekaan lebih dipahami sebagai ruang dan situasi yang dapat memungkinkan seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan yang berguna dalam bekerja, berkarya, dan mencipta. Bahkan dalam kadar dan situasi tertentu, kebebasan dan kemerdekaan acapkali dapat diraih dan didapatkan dalam situasi-situasi yang sulit dan terbatas sekalipun. Hellen Keller, Anne Frank, dan Pramudya Ananta Toer, sebagai contohnya, menulis dan berkarya dalam situasi-situasi yang tidak normal dan dalam keterpenjaraan tubuhnya, tetapi kedua orang itu dapat mendayagunakan kebebasan kreatif kognitif dan intelektual mereka untuk bekerja dan berkarya.</p>
<p>Di sisi lain, di jaman yang seringkali dinamai oleh para analis kontemporer sebagai masyarakat konsumtif saat ini, kebebasan dan kemerdekaan dalam tindakan lebih dijalani hanya sebagai sejumlah praktek dan perilaku mengkonsumsi. Kenyataan itu terjadi ketika masyarakat yang tidak memiliki daya kritis dan malas akan lebih mudah menerima dan mengiyakan saja apa yang didesakkan oleh iklan-iklan dan reklame-reklame penjualan yang massif dan tak terbendung, menyebar hingga ke sudut-sudut pedesaan sekalipun.</p>
<p>Sedikit banyaknya fenomena tersebut justru terjadi di negara-negara berkembang di mana kebanyakan masyarakatnya bukanlah masyarakat kritis dan kreatif, tetapi lebih merupakan masyarakat pasif dan konsumtif yang mudah diideologisasi oleh berbagai iklan dan reklame penjualan melalui segala bentuk media massa.</p>
<p>Salah-satu jalan untuk mengantisipasi terbentuknya budaya pasif dan tidak kritis tersebut adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan yang akan mampu melahirkan generasi-generasi kreatif dan pencipta, sehingga mampu juga menciptakan masyarakat yang produktif dan mandiri. Pendidikan meniscayakan hasil kemajuan intelektual dan kecakapan teknokrasi pada saat bersamaan.</p>
<p>Dalam garis wawasan ini, pendidikan yang berkualitas menjadi faktor penting, karena seperti yang dipaparkan Amartya Sen (1999), kualitas pendidikan adalah fondasi pertama untuk melahirkan para pelaku kreatif dan pembangunan “modal manusia” itu sendiri. Sedangkan pada tingkatan di luar institusi pendidikan, pemerintah dan negara sudah sepatutnya menyokong dan mendukung industri-industri dan usaha-usaha masyarakat mandiri, tidak terkecuali juga kreativitas dan kerja-kerja dalam kesenian dan kebudayaan.</p>
<p>Dengan demikian, di sisi lain, kesenian atau pun kebudayaan pada umumnya dapat dipandang sebagai sejumlah ikhtiar untuk praksis kebebasan dan kemerdekaan yang diperjuangkan dan diciptakan oleh seorang seniman dan kreator itu sendiri, yang sekaligus juga dengan karya-karya yang diciptakan dan dihasilkannya dapat pula dinikmati atau pun dimanfaatkan oleh publik luas, yang dengan itu pula seorang penulis atau seniman menyumbang pada cita-cita emansipasi dan pembangunan masyarakatnya.</p>
<p>*<em>Eseis dan Penyair</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/07/23/kebebasan-dan-kreativitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SATU DUNIA TIDAK CUKUP!</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/05/satu-dunia-tidak-cukup/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/05/satu-dunia-tidak-cukup/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 16:22:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>
		<category><![CDATA[Diday Tea]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3732</guid>
		<description><![CDATA[SATU DUNIA TIDAK CUKUP!
Oleh Diday Tea
Beberapa minggu lalu, di sebuah forum kepenulisan, ada yang menulis artikel yang berjudul “Ternyata Bahasa Inggris Itu Penting”. Hal pertama yang terbersit di pikiranku adalah: “Cappeee dehh…! Selama ini ke mana saja Kang?” Ternyata selama ini, dia sangat sibuk di “dunianya”, sampai- sampai tidak mau tahu, dan tidak mau keluar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/cerpen-c.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3731" title="cerpen c" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/04/cerpen-c.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a>SATU DUNIA TIDAK CUKUP!</p>
<p>Oleh Diday Tea</p>
<p>Beberapa minggu lalu, di sebuah forum kepenulisan, ada yang menulis artikel yang berjudul “Ternyata Bahasa Inggris Itu Penting”. Hal pertama yang terbersit di pikiranku adalah: “Cappeee dehh…! Selama ini ke mana saja Kang?” Ternyata selama ini, dia sangat sibuk di “dunianya”, sampai- sampai tidak mau tahu, dan tidak mau keluar barang sebentar untuk melihat apa yang sdang terjadi dan berkembang di dunia lain.</p>
<p>Masih banyak orang yang masih memiliki pola pikir seperti “Katak dalam Tempurung”. Mereka merasa sudah cukup dengan keadaan keilmuan dan tingkat pengetahuan yang sama dengan beberapa tahun yang lalu, atau malah puluhan tahun yang lalu.</p>
<p>Mereka pikir, mereka dapat menyelesaikan masalah kehidupan di masa kini dengan cara yang sama di masa lalu. Mereka tidak mau mempelajari hal- hal yang baru, yang sebenarnya bisa menunjang mereka untuk menjadi lebih baik. Mereka tidak punya keinginan untuk lebih berkembang dan memaksimalkan potensi luar biasa yang Allah hamparkan di setiap inci dan detik kehidupannya.</p>
<p>Mereka hanya punya satu dunia.</p>
<p>Dunia berkembang luar biasa cepat. Laju informasi berlari dengan kecepatan yang bahkan kita tidak pernah bisa bayangkan sebelumnya. Dalam hitungan detik, bahkan lebih cepat, jutaan informasi bisa berpindah dari satu belahan bumi ke belahan lainnya. Kita sudah berada di era new Renaissance kata Gordon Dryden dan Jeannette Vos dalam buku mutakhirnya, Unlimited. Dunia di mana internet akan menjadi pusat dari segala pengetahuan.</p>
<p>Kecenderungan orang-orang di dunia ini akan berkutat pada bidang yang dia sukai, bidang tempat dia bekerja, bidang yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Orang-orang lulusan Kimia Murni, akan sibuk dengan dunia reaksi kimia dan sintesa produk. Orang-orang yang bekerja di bidang properti, akan sibuk dengan dunianya. Orang sastra, akan selalu sibuk dengan dunia literasinya. Orang-orang pesantren akan sibuk dengan dunia pesantennya. Orang teknologi informasi, akan selalu sibuk dengan dunianya.</p>
<p>Hal- hal tersebut tidak salah, tetapi sangatlah tidak cukup.</p>
<p>Konservatif=Tertinggal</p>
<p>Jika konsep anda masih seperti itu, siapkanlah diri anda untuk dilibas oleh sang waktu. Bersiaplah untuk menghadapi rasa frustasi ketika anda tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang “biasanya seperti itu”. Bersiaplah tenggelam dalam persaingan yang luar biasa ketat di dunia kerja.</p>
<p>Masa kini, dan pasti masa depan, adalah masa di mana orang akan selalu dituntut untuk mempunyai multi tasking ability, kemampuan untuk menguasai dan melakukan banyak hal.</p>
<p>Kita akan selalu dituntut untuk berlari lebih cepat dari lajunya waktu. Pengetahuan kita selalu tidak akan pernah cukup untuk bisa menjalani masalah baru yang akan selalu muncul di kehidupan kita.</p>
<p>Di setiap tahapan baru dalam kehidupan, kita akan selalu dituntut untuk menambah kemampuan kita. Anak yang ngekos, dituntut untuk memiliki skill manajemen uang yang bagus, agar jatah uang kiriman dari orangta cukup sampai akhir bulan. Seseorang yang akan menikah dituntut untuk mempunyai pengetahuan tentang pernikahan, manajemen konflik, metode berhubungan seksual. Ketika memiliki anak, lagi, kita akan dituntut untuk memiliki kemampuan mengurus anak. Kemampuan memenej waktu, agar suami dan istri bisa istirahat dengan optimal. Yang kebanyakan terjadi adalah kelabakan, kaget, dan learning by doing, tapi without knowing. Bisa tapi terpaksa dan tergesa-gesa, sehingga tetap bermasalah. Dan banyak lagi contoh yang lainnya.</p>
<p>Hal pertama yang tentunya harus ada adalah keinginan dan kemauan untuk selalu belajar.</p>
<p>Kita sekarang berada di era new Renaissance kata Gordon Dryden dan Jeannette Vos dalam buku mutakhirnya, Unlimited. Dunia di mana internet akan menjadi pusat dari segala pengetahuan. Kita sekarang berada di era Web 3.0, kata Thomas L Friedman di bukunya “The World is Flat”. Era di mana sudah tidak ada batas lagi di antara individu- individu di planet bumi.</p>
<p>Multi tasking ability</p>
<p>Apapun pekerjaan anda sekarang, apapun posisi anda sekarang, anda tetap harus mempunyai multi tasking ability.</p>
<p>Anda penulis? Anda harus bisa berbahasa Inggris, agar anda bisa mempunyai “bahan bakar” yang lebih banyak dan wawasan yang lebih luas untuk menunjang tulisan-tulisan anda.</p>
<p>Anda ustadz? Atau penceramah? Anda juga harus pandai menulis, anda juga harus lihai dalam ilmu komunikasi. Jangan sampai orang- orang akan terbengong-bengong membaca tulisan anda, atau mendengar ceramah anda, dan harus berpikir sangat keras hanya untuk sekedar mengerti apa sebenarnya yang ingin anda sampaikan. Jangan sampai orang menganggap anda membosankan. Anda juga harus tahu ilmu psikologi, ilmu presentasi. Anda harus “terjun” ke dunia maya, agar lebih banyak orang untuk berbagi dengan anda. Anda harus tahu manajemen waktu.</p>
<p>Anda karyawan di sebuah perusahaan? Sama! Bahasa Inggris, Internet, skill komputer, Bahasa Inggris, Manajemen Waktu, kemampuan berkomunikasi dengan baik, pasti akan menjadi nilai tambah yang sangat penting di mata atasan anda.</p>
<p>Anda pengusaha? Siap- siap saja untuk tenggelam oleh para kompetitor baru jika anda tidak mengupdate diri anda, jika anda tidak selalu mencari informasi terbaru.</p>
<p>Bahkan seorang ibu rumah tangga pun, harus selalu mengupgrade pengetahuannya, bukan hanya mengupdate status di Facebook saja. Siap- siap saja untuk frustasi meghadapi suami dan anak- anak jika anda tidak bersiap dengan ilmu yang mumpuni.</p>
<p>Bagaimana dengan seorang Pria? Suami ? Ayah?</p>
<p>Dialah yang harus menjadi pusat perubahan di keluarganya. Dia yang harus selalu menjadi katalis untuk perubahan dalam keluarganya. Dia harus selalu mendukung, bekerja sama dan memberi kemudahan untuk istri dan anak- anaknya dalam mencari ilmu.</p>
<p>Sekarang kita berada di era Globalization 3.0, era di mana setiap individu di dunia ini bisa bersaing dan berkolaborasi tanpa batas.</p>
<p>Selamat berjuang untuk terus belajar di era tanpa batas ini, dan semoga bisa menjadi jalan untuk kita untuk sukses dunia akhirat.</p>
<p>Tiada detik yang tersia!</p>
<p>Tiada sukses tanpa disiplin!</p>
<p>***</p>
<p>*) Diday tea&lt;br&gt;</p>
<p>*) Ambasador Rumah Dunia di Arab Saudi&lt;br&gt;<br />
Sabtu yang dingin di tengah gurun, 6 Maret 2010.&lt;br&gt;<br />
*) Klik www.didaytea.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/04/05/satu-dunia-tidak-cukup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KELOMPOK PANDEGLANG</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/14/kelompok-pandeglang/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/14/kelompok-pandeglang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 23:13:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>
		<category><![CDATA[Kelompok intelektual Pandeglang]]></category>
		<category><![CDATA[teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/2010/03/14/kelompok-pandeglang/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Machsus  Thamrin*
Ada yang hilang dari genggaman tangan, dan meluncur lewat sela-sela jari (Taufik Ismail)
AKSI  tembak-tembakan ala koboi yang  diperagakan polisi di Pamulang Selasa lalu dan di Aceh Besar beberapa hari terakhir, mengusik  hati saya.Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, mengatakan  latihan yang dilakukan kelompok yang diduga teroris itu tak dilakukan oleh mantan gerakan Aceh Merdeka. Irwandi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Machsus  Thamrin*</p>
<p><em>Ada yang hilang dari genggaman tangan, dan meluncur lewat sela-sela jari (Taufik Ismail)</em></p>
<p>AKSI  tembak-tembakan ala koboi yang  diperagakan polisi di Pamulang Selasa lalu dan di Aceh Besar beberapa hari terakhir, mengusik  hati saya.Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, mengatakan  latihan yang dilakukan kelompok yang diduga teroris itu tak dilakukan oleh mantan gerakan Aceh Merdeka. Irwandi menuding, latihan itu dilakukan teroris, yang merupakan poros baru kelompok teroris Banten-Jawa  Barat dan Jawa Tengah. Lebih spesifiknya mereka yang dari Banten itu berasal dari Pandeglang. Di Harian Kompas Rabu kemarin, Herman RN, salah seorang mahasiswa pasca sarjana Universitas Syah kuala Bandaaceh menulis, anggota Jamaah Islamiyah yang berada di Aceh berasal dari Pandeglang. Saat ini mereka masih melakukan latihan di Pegunungan Jantho Aceh.</p>
<p>Selain kasus suap dan korupsi berjamaah, kelompok teroris,belakangan nama kelompok Pandeglang juga dikaitkan dengan kelompok pencuri kendaraan bermotor di berbagai kota.</p>
<p>Lantas apa yang terjadi di Pandeglang hingga cerita-cerita  buruk ini yang kemudian muncul? Salah apa Pandeglang, sehingga stigma buruk ini ditimpakan kepadanya? Kemana perginya tradisi religius dan semangat pantang menyerah orang –orang Pandeglang? Kemana perginya tradisi intelektual yang dipelopori Prof Bachtiar Rifai, Prof Herman Haeruman, Muchtar Mandala dan Kang Eki Sjahrudin?</p>
<p>Saya menghibur diri, dengan mengatakan masih banyak yang memiliki semangat dan tradisi itu.  Saya beruntung menjadi saksi pada pengukuhan seorang saudara dan sahabat saya Dr Ibnu Hamad, dalam sebuah forum yang amat terhormat, menjadi seorang gurubesar di Universitas Indonesia, salah sebuah universitas yang membanggakan bagi<br />
bangsa ini akhir Februari 2010 lalu. Momen itu jadi penghibur, ditengah kegalauan saya beberapa hari terakhir ini.</p>
<p>Lama mengenalnya. Dengan demikian, saya tahu persis, betapa kehormatan itu tak diperolehnya dengan mudah. Sebagai orang yang lahir di kabupaten yang sama, Pandeglang, saya tahu persis betapa Ibnu harus merebut dan mewujudkan cita-citanya dengan segala perjuangan. Berbagai keterbatasannya, mulai dari lingkungan , ekonomi, fasilitas belajar di sekolah  hingga komitmen pemerintah daerah mendorong putra-putra terbaiknya untuk bisa sekolah di perguruan tinggi terbaik di negeri ini, menjadi sebuah contraint bagi berkembangnya bibit-bibit unggul seperti Ibnu ini.</p>
<p>Waktu itu, tak banyak lulusan SMA di kota kami yang mampu melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Keterbatasan ekonomi, fasitas, membuat kami tak mempu bersaing dengan rekan-rekan kami yang berasal dari kota-kota lain.</p>
<p>Namun saya menyaksikan beberapa diantara rekan kami, seperti ini Ibnu  ini mampu keluar dari jebakan keterbatasan struktural. Ia tak pernah mempedulikan apakah pemerintah kabupaten mengalokasikan dana yang cukup bagi sekolah-sekolah menengah agar mengejar ketertinggalannya.</p>
<p>Yang dia lakukan adalah berangkat ke Depok dan berjuang disana. Ibnu tak sendirian, ada beberapa diantaranya punya potensi dan kemauan yang keras sepertinya, dan menuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi dan mereka kita menjadi “landmark”  angkatan kami. Sebut saja  Dr Mukhlis Yusuf, yang kini Dirut LKBN Antara dan  Presiden Asosiasi Kantor Berita Asia Pasific (Oana), atau U Saefuddin Nur, Head of Syariah Banking CIMB Niaga yang sebelumnya sukses memimpin Bank Muamalat sebagi direktur. Rekan kami yang lain  Agus M Tauchid (Kepala Dinas<br />
Distanak Banten) dan Agus Mulyadi Randil  (Kepala Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Banten) memilih mengabdikan diri sebagai birokrat di kampung halaman.</p>
<p>Saat mendengar pidato itu, pikiran saya menerawang. Saya bayangkan, kalau saja uang Rp 1,5 miliar yang digunakan untuk menyuap anggota DPRD itu digunakan untuk bea siswa anak-anak berbakat, betapa banyak  anak-anak yang punya potensi bisa menyelesaikan sekolahnya. Katakannya untuk mencetak seorang sarjana diperlukan dana Rp 30 juta per orang, untuk membayar SPP dan biaya hidup. Maka selama 4 tahun ada 50  orang anak-anak muda berbakat, yang bisa diluluskan dan punya komitmen yang kuat untuk membangun daerahnya, dan pasti akan punya rasa malu, untuk korupsi jika dia bekerja, karena selama dia belajar dibiayai penuh oleh rakyatnya. Dan kalau setiap tahun pemerintah daerah mengalokasikan jumlah yang sama, berarti selama masa kepemimpinan seorang bupati atau kepala daerah ini, bisa melahirkan 250 anak berbakat menjadi sarjana, yang suatu waktu kelak akan menjadi bupati, anggota DPRD atau profesor seperti Ibnu Hamad.</p>
<p>Berkeliling ke pelosok Pandeglang dalam dua tahun terakhir ini, saya jadi memahami betapa banyaknya faktor pendorong yang menjadikan anak-anak muda itu bertekad keluar Pandeglang. Tak perlu terlalu jauh, di sepanjang jalur pariwisata utama poros Labuan-Tanjung Lesung-Sumur saja, infrastruktur jalan kian parah. Ditengah fragmentasi dan alih fungsi  lahan yang terjadi begitu masih saat ini, sektor pertanian menjadi kian tak menarik banyak anak muda belakangan ini.</p>
<p>Berharap mengabdikan diri menjadi pegawai negeri. Ini juga tak mudah, hanya mereka yang beruntung bisa kuliah yang saat ini bisa jadi PNS.Itupun harus menyiapkan dana puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk  menyuap agar bisa jadi PNS.</p>
<p>Terlalu utopis jika saya berharap, makin banyak anak-anak muda Pandeglang yang mampu keluar dari berbagai jeratan dan keterbatasan struktural, seperti yang dilakukan Ibnu, atau banyak juga anak-anak muda Pandeglang yang tergabung dalam kelompok aktivis Pandeglang  yang  muncul, dan tetap memilihara semangat berjuangnya  macam Yogi, Tb Nuruljaman, Heru Fahrudin  dan Uday Syuhada .</p>
<p>Maka dengan sedih hati saya katakan, mereka yang tersesat menjadi teroris atau menjadi kelompok pencuri kendaraan bermotor yang terkenal dengan nama kelompok Pandeglang, adalah mereka yang frustrasi, akan semua keterbatasan dan kemiskinan  yang membelenggunya. Sementara mereka tahu persis, janji manis calon wakil rakyat yang kini duduk manis, dan calon pemimpin daerah yang kini bersiap membujuk mereka, yang berjanji memperbaiki kehidupan rakyat Pandeglang, hanya manis saat kampanye.Begitu terpilih nanti, mereka itu  bakal sibuk melakukan pengumpulan<br />
sumberdaya ekonomi, dan memperkuat jaringan kekuasaan untuk bersiap melanggengkan kekuasaan menuju pemilihan berikutnya. (*)</p>
<p>*Penulis adalah pekerja televisi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/14/kelompok-pandeglang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CHANGE WITH READING, MENGUBAH HIDUPKU</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/04/chage-with-reading-mengubah-hidupku/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/04/chage-with-reading-mengubah-hidupku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 13:02:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>
		<category><![CDATA[Change With Reading]]></category>
		<category><![CDATA[Minder]]></category>
		<category><![CDATA[Penjual]]></category>
		<category><![CDATA[relawan]]></category>
		<category><![CDATA[Roti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2638</guid>
		<description><![CDATA[
CHANGE WITH READING, MENGUBAH HIDUPKU
Di Rumah Dunia, tanggal 09 Januari 2010 nanti, bekerjasama dengan Banten Raya Post, akan ada pencanangan “Change With Reading” (CwR).Kegiatan CwR atau “Ubahlah Dirimu dengan Membaca”, yang akan diselenggarakan secara kolosal.
Sekitar 20 SMA dan Pergurun Tinggi di Banten mengirimkan orang-orang terbaiknya. Tujuannya, selain untuk mengubah pola pikir juga meningkatkan kualitas hidup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="size-full wp-image-2639  alignleft" title="Wayang" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Wayang.jpg" alt="Wayang" width="437" height="387" /></p>
<p style="text-align: left;">CHANGE WITH READING, MENGUBAH HIDUPKU</p>
<p style="text-align: left;">Di Rumah Dunia, tanggal 09 Januari 2010 nanti, bekerjasama dengan Banten Raya Post, akan ada pencanangan “Change With Reading” (CwR).<span id="more-2638"></span>Kegiatan CwR atau “Ubahlah Dirimu dengan Membaca”, yang akan diselenggarakan secara kolosal.</p>
<p style="text-align: left;">Sekitar 20 SMA dan Pergurun Tinggi di Banten mengirimkan orang-orang terbaiknya. Tujuannya, selain untuk mengubah pola pikir juga meningkatkan kualitas hidup dengan membaca.</p>
<p>PENJUAL ROTI</p>
<p>Gol A Gong, novelis sekaligus pendiri Rumah Dunia pernah berkata kepada saya, jika saya adalah pelaku CwR. Maka dari itu saya diminta menjadi salah satu pembicara dalam acara CwR nanti. Saya kira itu cuma candaan Gol A Gong. Tapi ternyata saya salah. Jujur, sebenarnya saya masih ragu dan bingung, apa benar saya sudah ada dalam lingkaran CwR? Apa iya? Saya rasa Gol A Gong telah salah menilai saya. Kenapa? Karena saya bukanlah siapa-siapa. Saya terlahir di kampung kecil bernama Kepondoan (saya yakin tidak banyak orang yang tahu dengan kampung ini) dan hidup dalam keluarga yang ‘memaksa’ saya agar jadi buruh pabrik saja, ketimbang terus sekolah.</p>
<p>Saya kecil nyaris tak pernah membaca buku. Baru mengenal buku itu sejak SMP, itu pun dikurangi dengan minat baca yang masih bolong-bolong. Lanjut sampai SMK di Kragilan, minat baca makin turun karena fasilitas buku (baca: perpustakaan) tak ada di sana. Dan lingkungan di sekitar saya, lagi-lagi ‘memaksa’ mendidik saya untuk mau tidak mau harus membudayakan nge-gosip, begadang dan nongkrong di pinggir jalan sambil ngomong ngalor-ngidul, ketimbang menomorsatukan baca. Apa benar, saya sudah mengubah hidup saya dengan membaca? Terlebih selama hampir delapan tahun, saya berjualan roti dan nasi bungkus di pabrik Nikomas sambil sekolah.</p>
<p>PENULIS</p>
<p>Sampai saat menulis esai ini pun saya masih ragu, perihal saya dan CwR itu. Tapi kemudian saya pikirkan perkataan Gol A Gong di atas. Saya merenung sambil tiduran. Lalu otak saya memutar film dimana saat saya pertama kali mengenal Rumah Dunia. Ya, saya dikenalkan Rumah Dunia oleh Gading Tirta (saudara saya), yang tulisan-ulisannya rajin nongol di Banten Raya Post. Entah virus jenis apa yang dijejalkan Gading Tirta ke dalam otak saya, sehingga saya jadi jatuh cinta pada Rumah Dunia dan ingin mengenal lebih jauh tentang Rumah Dunia, yang dengan program-program kegiatan di dalamnya, salah satunya belajar membuat cerpen. Saya makin tertarik ingin menyelam dalam dunia pembuatan cerpen. Gading Tirta terus menularkan ‘virus’ motivasinya. Dia mengajarkan, membimbing saya dan menuntun saya masuk dalam dunia yang penuh warna. Makin ke dalam saya menceburkan diri, makin senang dan enjoy rasanya.</p>
<p>Menggeluti dunia cerpen—dari mulai nol—seakan dunia yang berbeda, namun terasa indah penuh warna. Hingga suatu hari saya berikrar pada diri saya sendiri, jika saya ingin jadi seorang penulis, bukan buruh pabrik. Seperti apa yang diharapkan orang tua, bahwa saya jadi seorang buruh pabrik saja. Hingga 2006 saya mengikuti “Kelas Menulis Rumah Dunia” angkatan ke delapan dengan guru pembimbing Gol A Gong, . Saya makin menyelam, perlahan saya mulai mengerti tentang pembuatan cerpen. Saya dituntut harus banyak baca, karena jika ingin menjadi seorang penulis, syaratnya sangat gampang sekali, yaitu; baca, baca, baca, baca dan kemudian menulis.</p>
<p>Waktu, tanpa saya sadari terus berjalan. Perlahan saya makin mengerti dengan dunia cerpen atau tulis menulis. Mimpi saya jadi seorang penulis makin besar, tapi masih terbentur dengan keraguan keluarga yang masih mengiginkan saya jadi buruh pabrik. Hingga suatu malam saya bertanya pada Gading Tirta, “Pekerjaan apa di dunia ini yang enak dan gajinya besar?” Jawaban teman saya itu: penulis. Saya masih bingung dengan jawaban itu. Apa iya penulis itu pekerjaannya enak dan gajinya besar? Jawaban itu terus menghantui saya, dan makin saya memikirkannya, makin yakin jika memang benar penulis adalah pekerjaan yang enak dan bergaji besar. Gol A Gong saja mampu membeli mobil dan mendirikan Rumah Dunia.</p>
<p>RELAWAN</p>
<p>Sejak saya bergabung dngan Rumah Dunia, dan sekarang menjadi relawan di sana sejak Oktober 2009, bisa dibilang kehidupan saya berubah sembilan puluh persen. Sejak tinggal di Rumah Dunia, saya makin akrab dengan buku, juga lingkungan yang mengajak saya selalu harus banyak membaca, membaca, membaca dan membaca hingga selalu ada motivasi untuk saya, terus memupuk mimpi menjadi seorang penulis. Di Rumah Dunia, saya ditunjukkan jalan jadi penulis dan dilatih jadi wartawan. Itu semua secara perlahan menumbuhkan rasa percaya diri saya, yang tadinya sekedar penjual roti di pabrik Nikomas.</p>
<p>Saya yang berasal dari kampung, lulusan sekolah setingkat SLTA, dan penjual roti pula, berawal dari mimpi dan kesungguhan tekad yang besar ingin mengubah (minimal) pola pikir serta hidup saya. Maka dari itu, saya harus hijrah. Bukankah dalam QS Ar Ra’d, ayat 11 Allah telah berfirman: “<em>Saya tidak akan mengubah suatu kaum, sebelum kaum itu yang mengubahnya.” </em>Maka, jadilah saya hijrah dari kampung ke kota, yaitu di rumah Dunia. Alhamdulillah, berkat kesabaran dan kerja keras saya dalam berkomitmen ingin memperdalam dunia tulis menulis, beberapa karya saya berupa puisi dan cerpen menghiasi koran Radar Banten.</p>
<p>Saya rasa, Gol A Gong melihat semangat dan tekad saya yang tinggi dalam menggapai mimpi saya jadi seorang penulis. Hingga saya dianggapnya sebagai pelaku CwR. Atau mungkin yang lebih tepatnya, saya contoh kecil dari orang-orang yang ingin mengubah hidupnya dengan membaca. Banyak di antara kita yang sudah benar-benar gemar membaca dan sudah bisa mengubah hidupnya jadi lebih baik.</p>
<p>Saya menghimbau di momentum tanun baru yang akan tiba ini, semoga kita bisa sama-sama mengaplikasikan gerakan ‘Change With Reading’ menjadi mimpi kita di tahun depan, agar Banten kembali jaya seperti pada abad 17. Percayalah, dengan membaca, mengubah hiup kita. Saya sudah membuktikannya. (Ahmad Wayang)</p>
<p>*) Penulis adalah relawan sekaligus wartawan www.rumahdunia.com. Email: soby_rin@yahoo.co.id.</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/04/chage-with-reading-mengubah-hidupku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>GOSIP ITU ASIK, TAPI HARAM</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/02/gosip-itu-asik-tapi-haram/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/02/gosip-itu-asik-tapi-haram/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 05:16:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>
		<category><![CDATA[Gosip]]></category>
		<category><![CDATA[Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Infotainment]]></category>
		<category><![CDATA[Luna Maya]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2599</guid>
		<description><![CDATA[GOSIP ITU ASIK, TAPI HARAM
Oleh: Rama Rachmat
Siapa yang tak suka gosip? Meski hanya sekedar bisik-bisik antara dua orang atau oknum dalam sebuah perkumpulan ibu-ibu arisan atau bahkan dalam majelis pengajian. Masalah yang diungkap jelas saja urusan orang. Baik buruknya berita dalam gosip jelas saja lebih seru dan asik jika ada penambahan argumen yang bisa memanaskan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2600" title="detik 4" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/detik-41.jpg" alt="detik 4" width="375" height="500" />GOSIP ITU ASIK, TAPI HARAM</p>
<p>Oleh: Rama Rachmat</p>
<p>Siapa yang tak suka gosip? Meski hanya sekedar bisik-bisik antara dua orang atau oknum dalam sebuah perkumpulan ibu-ibu arisan atau bahkan dalam majelis pengajian. <span id="more-2599"></span>Masalah yang diungkap jelas saja urusan orang. Baik buruknya berita dalam gosip jelas saja lebih seru dan asik jika ada penambahan argumen yang bisa memanaskan berita tersebut.</p>
<p>LARIS</p>
<p>Dalam media, baik cetak maupun elektronik terbukti bahwa gosip merupakan topik yang menarik dan laris manis di pasaran. Terbukti dalam stasiun televisi saja, setiap hari menayangkan 2-3 program acara gosip yang dikemas dalam Infotaiment. Mulai disiarkan dari pagi hingga malam. Sehingga publik yang menonton pun tak pernah habis mendapatkan bahan gosip disetiap pertemuan dengan rekannya. Ditambah lagi media cetak; baik koran, tablid, maupun majalah. Tak mau ketinggalan pencinta dunia maya pun dapat bebas mengakses website yang menawarkan berita-berita gosip terup-date.</p>
<p>Keberadaan infotaiment memang sangat erat hubungannya dengan gosip. Pencari berita masalah artis ini pun kini menjadi sorotan berbagai pihak, terutama dalam kalangan ormas islam, sebut saja Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang mengeluarkan fatwa haram terhadap tayangan infotainment ghibah atau gossip berdasarkan hasil Musyawarah Alim Ulama NU di Surabaya, pada bulan Juli 2006 lalu.</p>
<p>Kini PBNU kembali mempermasalahkan Infotaiment yang mereka nilai itu adalah haram sejak terjadinya perseteruan antara artis cantik Luna Maya dengan pihak Infotaiment. Berawal dari Luna Maya yang mencaci tnfotaiment di Twitter. Pihak Infotaiment pun melaporkan ke polisi dan menuntut Luna Maya untuk meminta maaf.</p>
<p>Penulis bingung dengan sikap PBNU. Bukankah sejak pertengahan tahun 2006 menyatakan bahwa Infotaiment gosip itu diharamkan? Lantas kenapa hingga saat ini tidak ada sikap kongkrit dalam langkah selanjutnya. Hanya bisa bicara tanpa bisa bertindak. Padahal selama perkembangan Infotaiment semakin menjamur di media. Sudah jelas-jelas penggiat Infotaiment tidak menawarkan acara yang bermutu dan mendidik, permasalahan yang diangkat justru lebih banyak borok dan mengobok-obok sekandal pribadi selebritis yang tak patut dipublikasikan dan dikonsumsi oleh pihak yang tak berkepentingan.</p>
<p>Memang PBNU tidak memiliki hak untuk menutup semua kegiatan Infotaiment meski mengeluarkan fatwa haram. Karena pihak yang berwenang adalah Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebangai pengawas dan memberi peringatakan kepada pekerja Infotaiment yang telah melanggar kode etik. Serta harus ada garis besar batasan-batasan tertentu yang jelas mengatur baik atau tidaknya. Sehingga dalam proses kerja Infotaiment dan hasil tayangannya tak merugikan siapapun.</p>
<p>KESADARAN</p>
<p>Solusi yang bisa penulis tawarkan dengan kesadaran dua sisi, yakni pihak Infotaiment dan masyarakat. Reformasi pemberitaan dalam kontek program yang ditawarkan pihak infotaiment harusnya yang positif dan mendidik. Alangkah baiknya jika topik permasalahan yang diangkat adalah suatu proses perjuangan artis dalam meraih cita-citanya, keindahan keluarga harmonis, keberhasilan artis dalam segi apapun. Dengan konten yang ditawarkan tidak menyalahi kode etik, sesuai fakta yang ada, dan asal tidak merugikan siapapun, bagi penulis itu sah-sah saja. Mungkin ini adalah tantangan bagi tim kreatif Infotaiment untuk merancang dan mendapatkan inovasi baru dalam penyampaian berita yang baik dan kerja dengan hallal.</p>
<p>Selanjutnya kesadaran Masyarakat sebagai konsumen yang harus bisa melek informasi yang didapat dan bisa mengolah informasi dengan logika yang baik. Tidak langsung mempercayai pemberitaan infotaiment yang menjurus terhadap pemojokan masalah pribadi selebritis yang terkena masalah. Jika masyarakat sadar bahwa infotaiment itu kurang baik dan tidak lagi mau menontonnya, secara otomatis Infotaiment pun akan mati sendiri.</p>
<p>Dalam Al-Quran pun telah di jelaskan, bahwa gosip diibaratkan sebagai seorang yang tega memakan daging bangkai saudaranya sendiri dalam mencari rezeki. Inilah yang harus menjadi kesadaran semua pihak, perlu kematangan dan kecerdasan berpikir dan berprilaku dalam menyikapi sesuatu. (*)</p>
<p>*) Wartawan <a href="http://www.rumahdunia.com/">www.rumahdunia.com</a> dan pengurus FLP Cilegon</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/02/gosip-itu-asik-tapi-haram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TANTANGAN BAGI PARA JURNALIS</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/26/tantangan-bagi-para-jurnalis/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/26/tantangan-bagi-para-jurnalis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 08:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>
		<category><![CDATA[Bondan Winarno]]></category>
		<category><![CDATA[Bre X]]></category>
		<category><![CDATA[Investigasi]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[Maknyus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2380</guid>
		<description><![CDATA[TANTANGAN BAGI PARA JURNALIS
Oleh Gading Tirta
Kepada siapa media massa mesti berpihak? Apakah independen yang sering didengungkan media massa sebagai pengejawantahan ketidakberpihakan media massa kepada siapa pun berarti tidak berpihak kepada apa pun dan siapa pun?
Sesungguhnya tidak ada media massa yang benar-benar independen dalam artian tidak memihak apa pun atau siapa pun. Media massa mesti berpihak. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2411" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/to.jpg" alt="to" width="500" height="375" />TANTANGAN BAGI PARA JURNALIS</p>
<p>Oleh Gading Tirta</p>
<p>Kepada siapa media massa mesti berpihak? Apakah independen yang sering didengungkan media massa sebagai pengejawantahan ketidakberpihakan media massa kepada siapa pun berarti tidak berpihak kepada apa pun dan siapa pun?<span id="more-2380"></span></p>
<p>Sesungguhnya tidak ada media massa yang benar-benar independen dalam artian tidak memihak apa pun atau siapa pun. Media massa mesti berpihak. Pertanyaannya adalah kepada siapa media massa mesti berpihak? Menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel yang memperkenalkan sembilan elemen jurnalisme, media mesti berpihak pada masyarakat (baca: rakyat). “Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga negara.”</p>
<p>Berhubungan dengan keberpihakan media massa kepada masyarakat inilah media massa melalui para jurnalisnya mesti mengungkap tuntas apa sebenarnya yang terjadi pada kasus Bank Century. Apa yang melatarbelakangi? Apakah Sri Mulyani dan Budhiono terkait? Benarkah ada dana dari Century yang mengalir untuk kampanye Partai Demokrat? Dan seterusnya.</p>
<p><strong>Tantangan </strong></p>
<p>Mesti kita akui dan beri penghargaan kepada media massa yang selama ini sudah menayangkan banyak informasi termasuk menjelaskan perkara bagaimana Century bisa menjadi bank yang banyak “kejanggalan” di dalamnya (menurut temuan BPK). Namun, hendaknya media massa tidak puas sampai di situ. Masyarakat masih terlalu kabur dalam kasus Bank Century. Mozaik-mozaik masih banyak yang belum terkumpul. Pihak yang benar dan salah belum terlihat jelas.</p>
<p>Media massa hendaknya tidak gentar memberitakan atau malah mengungkap habis “rahasia” di balik Bank Century ini. Semua masyarakat mendukung usaha ke arah pembongkaran kasus yang diduga akan menjerat para orang <em>gede</em>. Momen kaburnya penglihatan kita akan kasus Bank Century ini justru mesti menjadi tantangan bagi para jurnalis atau wartawan untuk meningkatkan liputan dari <em>straight news (</em><em>hard news</em>)<em> </em>atau <em>feature</em> menjadi liputan mendalam, <em>indepth reporting</em>, bahkan investigasi.</p>
<p><strong>Liputan investigasi</strong></p>
<p>Liputan investigasi (untuk sementara ini) adalah liputan paling bergengsi dan puncak dalam karir seorang jurnalis. Bukan saja mesti membutuhkan waktu yang relatif lama, tapi juga mesti teliti, sabar, dan ulet. Terus melakukan verifikasi, wawancara dengan banyak orang, menggali data, sampai mendapatkan titik terang.</p>
<p>Seorang jurnalis investigasi mesti memiliki kemampuan di atas rata-rata jurnalis selain keberanian. Ia mesti pandai dalam masalah hukum seperti hakim, mesti lebih bisa menjaga rahasia ketimbang inteligen, mesti lebih lihai dari pencuri (dalam menggali dokumen rahasia), mesti lebih bisa mengendus pelanggaran dan kejahatan yang terjadi ketimbang polisi. Modal-modal inilah yang mesti dimiliki jurnalis yang akan terjun ke “rimba kasus” Bank Century.</p>
<p>Tantangan lain, jurnalis investigasi biasanya akan berurusan dengan pihak-pihak yang merasa terlibat dan terpojokkan dengan adanya kasus Bank Century, yang biasa menggunakan pasal karet pencemaran nama baik untuk menjerat jurnalis. Meski begitu, penulis yakin akan banyak masyarakat—bisa melalui turun ke jalan atau melalui <em>facebook</em>—yang akan mendukung jurnalis investigasi bila ia dapat membongkar Century seperti halnya dukungan masyarakat kepada KPK. Jadi, jangan takut.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sejarah emas</strong></p>
<p>Keuntungan yang akan didapat jurnalis investigasi jika bisa membongkar fakta mendalam dalam kisruh Century adalah ia akan mencatat sejarah jurnalisme Indonesia dengan tinta emas. Sejarah jurnalisme Amerika Serikat bisa menjadi pelajaran bagaimana kebusukan pemerintah bisa dibeberkan oleh dua orang jurnalis handal yang kemudian bisa mewakili rasa keadilan masyarakat Amerika. Dua reporter <em>Washington Post</em>, Bob Woodward dan Carl Bernstein bekerja keras saat menguak kasus skandal Watergate yang ternyata melibatkan Presiden Amerika Richard Nixon.</p>
<p>Atau seperti seorang jurnalis handal Bondan Winarno yang menguak kasus penipuan oleh Michael de Guzman, Manajer Eksplorasi PT Bre X Corp, seputar emas di Busang, Kalimantan Timur.</p>
<p>Sebelum terkenal sebagai pembawa acara wisata kuliner dengan slogan khas “<em>maknyus</em>”, Bondan telah meletakkan dasar bagaimana menguak penipuan Michael de Guzman dengan deskripsi yang menarik dan data yang sangat kaya. Dalam laporan investigasinya—yang kemudian dibukukan dengan judul; Bre X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi—Bondan mengungkapkan penipuan yang dilakukan Michael de Guzman yang dianggap banyak orang bunuh diri karena lompat dari helikopter. Padahal itu hanya usaha untuk mengelabui.</p>
<p>Bondan telah mengungkap kasus penipuan besar, walaupun setelah laporan itu terbit, Bondan dituntut dengan tuduhan pencemaran nama baik.</p>
<p>Majalah Tempo termasuk media massa yang beberapa kali mengungkapkan kasus-kasus lewat laporan investigasi. Laporan teranyar dan mendapatkan penghargaan adalah laporan tentang PLN dan bisnis gelap aborsi di Jakarta.</p>
<p>Apa yang ditunggu dan diharapkan masyarakat tentang kisruh Bank Century hanyalah duduk permasalahan yang terjadi di negeri ini dan mengetahui apa sesunggunya yang terjadi. Jika ada yang bersalah maka siapa yang bersalah, siapa yang mesti dihukum, apakah ada hubungan yang positif antara Bank Century dengan pejabat-pejabat dan seterusnya.</p>
<p>Kalau ada jurnalis atau media massa yang berhasil mengungkap kasus Bank Century, maka tentu masyarakat akan sangat senang karena rasa keadilan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Keadilan yang selama ini dirusak oleh korupsi. Dengan demikian juga pers telah melakukan tugasnya sebagai pemantau kekuasaan.</p>
<p>Di tengah serba ketidakpastian dan mengendurnya kepercayaan masyarakat terhadap penegak hukum dan pemerintah, hanya pers yang bisa dijadikan sandaran oleh masyarakat.</p>
<p>Kita berharap ada jurnalis yang bisa mengungkapkan misteri di balik kasus yang mendapat sorotan dari berbagai pihak ini. Dengan begitu, masyarakat bisa tercerahkan. Dan harapan Indonesai menjadi lebih baik semoga akan cepat terwujud. Semoga.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/26/tantangan-bagi-para-jurnalis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KETIKA CARREFOUR HADIR  DI KOTAKU</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/06/ketika-carrefour-hadir-di-kotaku/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/06/ketika-carrefour-hadir-di-kotaku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 00:11:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>
		<category><![CDATA[Carrefour]]></category>
		<category><![CDATA[Infrastruktur]]></category>
		<category><![CDATA[Konsumtif]]></category>
		<category><![CDATA[Marxist]]></category>
		<category><![CDATA[Sulaiman Djaya]]></category>
		<category><![CDATA[Suprastruktur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1947</guid>
		<description><![CDATA[KETIKA CARREFOUR HADIR DI KOTAKU
Oleh Sulaiman Djaya*
Ketika kita mendengar nama Carrefour, serentak yang hadir dalam benak dan bayangan kita adalah sebuah tempat yang menyediakan apa saja yang kita butuhkan, bahkan yang tidak kita butuhkan, di mana ia menjanjikan kenyamanan dan rekreasi pada saat bersamaan.
GAYA HIDUP
Di Carrefour kita tak cuma membeli atau berbelanja, di sana kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1948" title="sulaiman djaya" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/sulaiman-djaya.jpg" alt="sulaiman djaya" width="400" height="300" />KETIKA CARREFOUR HADIR DI KOTAKU</p>
<p>Oleh Sulaiman Djaya*</p>
<p>Ketika kita mendengar nama <em>Carrefour</em>, serentak yang hadir dalam benak dan bayangan kita adalah sebuah tempat yang menyediakan apa saja yang kita butuhkan, bahkan yang tidak kita butuhkan, di mana ia menjanjikan kenyamanan dan rekreasi pada saat bersamaan.<span id="more-1947"></span></p>
<p>GAYA HIDUP</p>
<p>Di <em>Carrefour</em> kita tak cuma membeli atau berbelanja, di sana kita juga bisa “mencuci mata” alias berjalan-jalan sembari melihat-lihat apa saja, dari mulai poster-poster reklame dan selebriti yang menggiurkan, hingga aneka jajanan yang tersedia dari sudut ke sudut lainnya. Belum lagi kata itu seringkali diidentikkan dengan ciri “kekotaan” dan “kemewahan sosial” ketika ia hadir dan berada.</p>
<p>Tetapi ternyata tidak hanya sekedar apa yang telah saya sebutkan, <em>Carrefour</em> pada akhirnya akan berdampak pada gaya hidup dan perilaku sosial masyarakat konsumennya, yang bila kita melihatnya dengan kerangka analitik dan teoritik marxist, setiap aktivitas ekonomi <em>(infrastruktur)</em> akan turut menentukan pola dan perilaku sosial dan budaya masyarakatnya <em>(suprastruktur)</em>. Artinya, kehadiran <em>Carrefour</em> akan menciptakan jadwal aktivitas rutin baru untuk selalu membeli bagi yang memiliki kocek tebal, yang mirip ritual wajib keagamaan. Sementara mereka yang pas-pasan dan papa mungkin hanya bisa gigit jari sembari meratapi nasibnya.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1949" title="Sulaiman Carrefour" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/Sulaiman-Carrefour.jpg" alt="Sulaiman Carrefour" width="500" height="375" />Di era yang disebut sebagai era <em>“masyarakat konsumtif”</em>, sebagaimana para penulis dan sosiolog mutakhir menjulukinya semisal <em>Jean Baudrillard</em> dan <em>George Ritzer</em>, kita hidup di mana iklan begitu berkuasa dan menjadi firman-firman baru yang imperatifnya begitu halus dan merayu, menggoda dan menggiurkan, yang anehnya kita tak merasa diperintah oleh iklan-iklan tersebut.</p>
<p>Iklan-iklan itulah yang berfungsi sebagai <em>“mesin pemompa hasrat”</em> masyarakat konsumtif agar selalu membeli dan mengkonsumsi, yang menciptakan dan merekayasa kebutuhan, hingga setiap orang membeli bukan karena adanya kebutuhan pada benda-benda yang mereka beli, tetapi seringkali hanya sekedar mengikuti “trend” dan “gaya hidup” yang telah diciptakan dan direkayasa oleh sekian banyak reklame dan iklan yang bisa kita jumpai di mana saja, di sudut-sudut jalan, di tivi-tivi, di radio, dan di koran-koran.</p>
<p>Begitulah, ketika saya menyengajakan diri untuk mengamati secara dekat dan langsung respons masyarakat Kota Serang setelah dibukanya <em>Carrefour</em>, ternyata di sana saya tak hanya melihat masyarakat biasa umumnya berjalan beriringan bersama keluarga mereka atau yang tanpa keluarga dan para remaja yang saling berpasang-pasangan, saya juga melihat banyaknya ibu-ibu dan bapak-bapak PNS, yang rupa-rupanya mereka telah meninggalkan <em>“kursi dan meja”</em> kantor mereka meski jam kerja belum selesai, karena ketika saya mampir di <em>Carrefour</em> hari itu waktu di jam tangan saya masih menunjukkan pukul 14.05 ketika saya berjalan-jalan <em>Carrefour</em> di hari Rabu itu.</p>
<p>Melihat kenyataan itu, saya jadi berprasangka bahwa kehadiran <em>Carrefour</em> mungkin saja sebenarnya telah dinanti di kota kecil ini, karena bisa jadi mereka yang memiliki kocek tebal berbelanja ke kota lain sebelum <em>Carrefour</em> dan <em>Ramayana</em> hadir di Serang, seperti ke Cilegon atau ke Tangerang, bahkan ke Jakarta dan Bandung. Dengan kata lain, citra-citra tentang berbelanja yang murah dan nyaman telah sangat terbentuk dalam benak kebanyakan masyarakat, bahkan ketika tempat berbelanja itu sendiri belum ada atau belum hadir di hadapan mereka. Citra-citra itu dimassifkan dan diciptakan oleh sekian iklan dan reklame yang merambah segala media dan perangkat, mulai dari media cetak, elektronik, hingga papan-papan dan baligo-baligo reklame yang kita jumpai di tiap sudut kota dan tempat.</p>
<p>MASYARAKAT KONSUMEN</p>
<p>Melihat fenomena itu, saya ingin kembali kepada pendapat para analis dan penulis-pemikir mutakhir, di mana menurut mereka kapitalisme telah menciptakan dan mendefinisikan aspek sosial dan aspek kognitif-nya sendiri dengan diskursus dan pencitraan yang cepat dan massif, yang seringkali lebih efektif dan lebih diterima ketimbang ajaran-ajaran dan doktrin-doktrin agama untuk konteks saat ini, bahkan agama pun tak luput dari praktek-praktek “komodifikasi”, tengok saja dakwah-dakwah instant di tivi-tivi atau transaksi doa-doa dan pesan-pesan religius via <em>Short Message Service</em> alias SMS.</p>
<p>Dengan kata lain, kehadiran <em>Carrefour</em> di sebuah kota kecil akan berdampak pada perubahan sosial dan kognitif masyarakat yang ada di sekelilingnya dan yang menjadi para pembeli alias konsumennya, sebuah dampak yang bisa juga disebut sebagai terbentuknya masyarakat konsumer atawa <em>consumer society</em> yang lebih massif dan cepat dari sebelumnya, di mana mendapatkan kecepatan dan efisiensinya ketika berhadapan dengan masyarakat yang pasif dan mudah menerima apa saja yang diujarkan oleh sekian reklame dan iklan, masyarakat yang dalam bahasa Habermas disebut sebagai masyarakat yang tidak memiliki daya kritis kognitif, yang akan cenderung mudah terhasut dan terdefinisi oleh kekuatan dan imperatif yang datang dari luar diri mereka.</p>
<p>Bahwa kehadiran <em>Carrefour</em> di sebuah kota kecil akan juga berdampak pada perkembangan dan kemajuan sebuah kota dari sudut jasa dan membuka lapangan pekerjaan kita juga tak mungkin mengingkarinya. Tetapi di sisi lain, kehadiran <em>Carrefour</em> juga akan berdampak pada konsekuensi tersingkirnya aktor-aktor kecil ekonomi semisal para pedagang kaki lima dan emperan, juga tak bisa dinafikan.</p>
<p>Karena itu, dibutuhkan kecermatan dan kecerdasan para perancang kota dan penentu kebijakan dalam memetakan sentra-sentra ekonomi dan budaya sebuah kota bila sebuah kota ingin tetap stabil sekaligus mampu mencapai cita-cita politik dan ekonomi yang adil, meski tidak maksimal. Upaya tersebut sudah merupakan keniscayaan bila sebuah kota, apalagi sebuah kota yang relatif baru dan masih kecil, tidak ingin kehilangan potensi dan keseimbangan yang telah dimiliki sebelumnya (2009).</p>
<p>*) <em>Eseis dan Penyair</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/06/ketika-carrefour-hadir-di-kotaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CATATAN KECIL UNTUK PAK HAJI DAN BU HAJJAH</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/28/catatan-kecil-untuk-pak-haji-dan-bu-hajjah/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/28/catatan-kecil-untuk-pak-haji-dan-bu-hajjah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 22:03:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>
		<category><![CDATA[Mabrur]]></category>
		<category><![CDATA[Naik Haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1760</guid>
		<description><![CDATA[CATATAN KECIL UNTUK PAK HAJI DAN BU HAJJAH
Oleh Lawang Bagja
Dahulu di kampung saya ada sebuah budaya, yaitu setiap calon jamaah haji yang akan berangkat ia terlebih dahulu diazankan dan dibacakan talbiyah. Talbiyah sendiri sunnahnya diucapkan ketika seorang dalam keadaan ihram. Ada kewajiban yang harus dipatuhi ketika berihram seperti memakai pakaian putih, tanpa jahitan, tanpa wewangian, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1761" title="Haji makna" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Haji-makna.jpg" alt="Haji makna" width="368" height="276" />CATATAN KECIL UNTUK PAK HAJI DAN BU HAJJAH</p>
<p>Oleh Lawang Bagja</p>
<p>Dahulu di kampung saya ada sebuah budaya, yaitu setiap calon jamaah haji yang akan berangkat ia terlebih dahulu diazankan dan dibacakan talbiyah. <span id="more-1760"></span>Talbiyah sendiri sunnahnya diucapkan ketika seorang dalam keadaan ihram. Ada kewajiban yang harus dipatuhi ketika berihram seperti memakai pakaian putih, tanpa jahitan, tanpa wewangian, dilarang memotong rambut atau kuku, dan lain sebagainya. Di kampung calon jamaah haji biasanya dibacakan talbiyah lewat pengeras suara.</p>
<p>PARIPURNA</p>
<p>Tentu kebiasaan ini hanya ada di wilayah yang jauh dari tanah suci. Tidak untuk orang-orang disekitar hijaz. Menunaikan ibadah haji dipandang sebagai tingkat paripurnanya nilai keislaman seorang muslim. Ia dipandang sudah terbebas dari hal-hal yang menghambat karena ibadah haji disyariakan bagi yang ‘mampu’. Hartanya berasal dari yang halal dan baik juga keluarga serta sanak famili yang ditinggalkan sudah disediakan bekal yang cukup.</p>
<p>Dibeberapa negara muslim terutama di wilayah Afrika dan Syam juga mempunyai kebiasaan tersendiri bagi seseorang yang akan menunaikan ibadah haji. Ada yang diarak keliling kampung dengan menggunakan baju ihram dengan berkendaraan keledai, mungkin seperti sado. Mereka pun sama memandang, bahwa ibadah haji sebuah pencapaian tertinggi hingga harus diarak guna menuai doa dari setiap warga yang ditemui. Sang calon mendatangi para tetangganya, bukan para tetangga mendatangi sang calon ‘pengantin’ haji. Ini agak berbeda dengan kondisi di tanah air. Beberapa ulama yang pernah saya dengar berpendapat, bahwa bagi seseorang yang akan menunaikan ibadah haji tidak serta merta ia asal cukup ongkos dan biaya selama perjalanan saja tetapi juga sang calon ‘pengantin’ haji mempunyai kewajiban sosial yang harus dipenuhi.</p>
<p>Bagi yang ingin berangkat pertama kali maka keluarganya harus dipastikan cukup bekalnya. Bagi yang berangkat untuk kedua, ketiga hingga berikutnya maka ia harus mencukupi kebutuhan 40 tetangga samping kanan, 40 tetangga samping kiri serta 40 tetangga depan dan belakang. Begitu ketatnya ulama memfatwakan seperti itu bukan karena tanpa alasan.</p>
<p>Ketika ibadah haji dipandang sebagai ibadah paripurna dan seseorang yang layak menjadi pengantin karena dianggap mampu dalam artian lebih maka menjadikan sebuah ‘cacat’ jika ketika ia berangkat menunaikan ibadah haji untuk kesekian kalinya namun masih ada tetangga yang berdekatan dengan rumahnya ternyata sedang mengalami kesusahan. Entah ia sedang sakit, kelaparan, atau dibelit hutang hingga tidak mampu untuk membeli makanan. Maka dihadapan Allah lebih mulia bagi sang calon pengantin membantu tetangganya yang kesusahan daripada ia berangkat menunaikan ibadah haji.</p>
<p>ASPEK SOSIAL</p>
<p>Ibadah haji bukan plesiran! Sepertinya umumnya ibadah yang ada dalam Islam tidak pernah terlepas hanya ‘hamblum minallah’ semata tetapi juga selalu ada aspek sosial. Seperti puasa, tidak sah puasa Ramadhan seseorang jika tidak menunaikan zakat fitrah. Solat diperintahkan di masjid bagi mereka yang merasa dirinya lelaki. Zakat adalah ibadah yang menyertai solat. Setiap perintah menunaikan solat selalu diikuti untuk menunaikan zakat. Semua mempunyai aspek sosial, hubungan terhadap sesama manusia. Sudah barang tentu dengan ibadah haji sebagai tingkat paripurna.</p>
<p>Dalam berbagai kisah banyak disampaikan bahwa seseorang yang batal menunaikan ibadah haji karena menolong tetangganya, sanak familinya atau kerabatnya di hadapan Allah ia tercatat sebagai seseorang yang telah ‘dihaji’kan. Hal yang memang sulit diterima nalar biasa namun Allah, Sang Pemilik Hakikat tentu Maha Berkehendak dan Mampu untuk itu semua. Menakar peristiwa ghaib hanya dengan keimanan bukan dengan logika. Ibadah haji bukan sebuah jurnal perjalanan biasa. Ibadah haji sebuah jurnal perjalanan anak manusia untuk menemukan kembali hakikat kehidupannya di alam semesta.</p>
<p>TAAT</p>
<p>Dalam teori ilmu pengetahuan modern menyatakan, bahwa segala sesuatu di alam raya ini tak lebih dari ‘permainan’ energi vibrasi yang berlangsung secara terus menerus. Vibrasi sendiri bisa dipahami sebagai berputarnya sebuah zat/benda. Benda yang berputar tentu menghasilkan medan magnet. Dan itulah yang terjadi pada alam semesta. Bumi berputar pada porosnya. Bulan,matahari, venus, mars, bahkan hingga elektron yang terkecil sekalipun semua berputar. Medan magnet yang dihasilkan sebagai bentuk kesetimbangan agar semua tetap pada lintasannya sesuai hukum yang telah ditetapkan SANG PENCIPTA.</p>
<p>Putaran semesta menjadi sebuah bentuk harmoni ketaatan yang ALLAH simpelkan pada miniatur prosesi thawaf di seputar ka’bah. Itulah sebabnya ada yang mengatakan bahwa ka’bah diibaratkan sebagai porosnya semesta. Kalimat talbiyah labbaik allahumma Labbaik, (Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah!) sebuah isyarat pengakuan untuk tunduk terhadap hukum semesta yang telah digariskan.</p>
<p>Seseorang yang telah menunaikan ibadah haji hendaknya pula menjadi ‘magnet’ yang menarik manusia sekelilingnya pada ketaatan. Menuju baitullah adalah merupakan awal untuk selanjutnya sepulang dari baitullah ia mengalami ‘kelimpahan energi’ karena terasah dalam putaran porosnya semesta. Tidaklah seseorang menjadi haji mabrur jika sepulang dari menunaikan ibadah haji tidak mempunyai daya untuk ‘menarik’ hamba Allah kembali pada ketaatan. Besi yang usang saja jika digosok-gosokkan pada magnet maka ia mempunyai sifat magnet.</p>
<p>Jiwa seseorang yang berhaji hendaknya pula seperti itu. Jika tidak, menjadi sebuah pertanyaan besar tentunya. Tidak pula ibadah haji diganti dengan ‘jannah’ bertitelkan permadani dan taman-taman hijau yang dijanjikan jika kepulangannya dari baitullah menjadi penambah problem ummat. Ia hanya berlabelkan ‘haji dunia’ dan pernah ‘jalan-jalan’ melihat kedua kota suci, Madinah dan Makkah saja.</p>
<p>Semoga para jamaah haji yang 3 juta orang menjadi hamba-hamba Allah yang taat. Kepulangannya menjadi rahmat bagi sekelilingnya. Ia adalah magnet ketakwaan bagi kita yang lemah dan belum mampu dan masih ada dalam daftar antrian tunggu ditahun mendatang, insya Allah amien..</p>
<p>Labbaik Allahuma Labbaik..Aku menunggu panggilan-Mu ya Rabb, dalam kelemahan dan ketidakberdayaanku..(*)</p>
<p>*) Lawang Bagja, ambassador Rumah dunia dan dan buruhmigren, Tepian Teluk Persia</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/28/catatan-kecil-untuk-pak-haji-dan-bu-hajjah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DICARI PEMUDA ABNORMAL, KUTU BUKU, DAN MAU MEMBANGUN PERPUSTAKAAN DI LEBAK</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/10/dicari-pemuda-abnormal-kutu-buku-dan-mau-membangun-perpustakaan-di-lebak/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/10/dicari-pemuda-abnormal-kutu-buku-dan-mau-membangun-perpustakaan-di-lebak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 13:04:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>
		<category><![CDATA[Kutu buku]]></category>
		<category><![CDATA[Perpustakaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=794</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong
Pernahkah kita bertanya pada buku, yang teronggok berdebu di rak perpustakaan rumah kita? Apa yang sudah kita perbuat dengan kekuatan makna katanya? Memuja sekaligus mengingkarinya! Andai buku bisa bicara! Mereka pasti akan protes,  karena masih ada 500.000 warga Banten dari 9,6 juta jiwa masih buta aksara! Sementara di Lebak 6.813 warganya belum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_800" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-800" title="GG-FV" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/GG-FV1-300x225.jpg" alt="Firman (ki) dan saya (ka) mengelola Rumah Dunia" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Firman (ki) dan saya (ka) mengelola Rumah Dunia</p></div>
<p>Oleh Gol A Gong</p>
<p>Pernahkah kita bertanya pada buku, yang teronggok berdebu di rak perpustakaan rumah kita? Apa yang sudah kita perbuat dengan kekuatan makna katanya?<span id="more-794"></span> Memuja sekaligus mengingkarinya! Andai buku bisa bicara! Mereka pasti akan protes,  karena masih ada 500.000 warga Banten dari 9,6 juta jiwa masih buta aksara! Sementara di Lebak 6.813 warganya belum bisa membaca dan menulis! Kita di sini yang memiliki keberuntungan bisa jadi warga dunia sudah melakukan apa untuk mengubah Lebak menjadi lebih baik dari sekarang?</p>
<p>AWAL MULA</p>
<p>Saya mengenal Lebak ketika masih di kelas 3 SMPN 2 Serang (1979). Seorang teman wanita saya tiba-tiba digunjingkan. Dia secara mendadak begitu popular. Apa pasal? Ternyata dia memerankan tokoh “Adinda” di film “Saija dan Adinda” produksi perusahaan dari Belanda, yang menggambarkan tentang situasi-kondisi politik di Banten, khususnya Lebak pada masa kolonial (abad 19). Saat itu saya jadi tertarik membaca buku “Max Havelaar” karya Multatulli. Pengarang Belanda itu sudah tidak asing bagi saya, karena saat SD, saya seringkali melukis wajahnya bersama wajah-wajah pahlawan Indonesia; RA Kartini, Jendral Soedirman, pangeran Diponegoro, dan Soekarno. Sayang, hingga detik ini saya belum berhasil melihat film yang dibintangi teman saya itu.</p>
<p>Kemudian setelah di bangku SMA (1980-an), saya sering berkereta dari stasiun kereta Serang ke  Rangkasbitung. Saya menikmati pemandangan sepanjang Serang, Walantaka, Cikeusal hingga Rangkasbitung. Saya terkesan dengan hamparan padinya yang bagai permadani. Berarti penamaan “Serang” yang berarti “sawah” sangat cocok. Begitu kereta api memasuki kota Rangkasbitung, saya sangat takjub dengan jembatan keretanya, yang melintas di atas sungai Ciujung. Saya juga terkagum-kagum, betapa sibuknya warga Rangkasbitung di stasiun kereta, yang berangkat ke Jakarta dan pulang dari Jakarta. Sedangkan stasiun kereta Serang sangat sepi hingga sekarang. Kemudian saya berjalan kaki dan selalu mengunjungi bekas rumah dinas Multatulli, yang waktu itu jadi kantor Dinas Kesehatan. Tujuan selanjutnya berwisata ke Baduy. Selalu dua tempat itu, yang menjadi daerah tujuan wisata saya jika di Lebak. Tidak ada lagi tempat yang menarik untuk saya datangi selain itu. Sayang disayang, saya dengar rumah Multatulli sudah rata dengan tanah dan kampung Baduy sering kebakaran. Malah saya dengar dari “bisik-bisik tetangga”, ada sebagian warga Rangkas tidak berminat melestarikan semua yang berbau Multatulli dan mencoba “menghabisi” wilayah Kanekes dengan cara menggunduli hutannya. Padahal 2 tempat itu bisa jadi asset daerah, yang mendatangkan PAD.</p>
<p>Persinggungan saya dengan Rangkas yang sangat mencengangkan adalah saat kuliah di Bandung (1982 – 85). Saya memiliki beberapa teman wanita asal Lebak. Mereka tinggal berkelompok di asrama, tempat kos, mengontrak satu kamar, dan sangat sensitive. Jika tersinggung, sifat kebantenannya yang identik dengan kekerasaan mencuat. Seringkali saya mendengar warga Rangkasbitung dan Banten umumnya berkelahi dengan pemuda setempat hanya gara-gara urusan perempuan. Kosa kata “pelet’ dan “debus” mencuat, walaupun sebetulnya ada juga pemuda dari Lebak yang santun dan soleh; <em>nge-kos</em> di mushola sebagai “james” alias “jaga mesjid”.  Pernah suatu hari, saya mengantar teman wanita itu menaiki angkutan kota. Teman saya itu cantik, tapi jika berbicara tercium aroma “kampung”nya yang khas, karena saat berbicara bahasa Sunda Bantennya kasar. Tentu saja para pemuda di angkutan kota itu kaget begitu mendengar bahasa  Sunda kasar keluar dari mulut wanita cantik seperti teman saya. Ketika para pemuda Bandung menggunjingkannya, teman saya itu langsung menggampar wajah salah seorang dari mereka. “Eh, dia yeuh! Nyaho teu aing ti Banten!” hardik teman saya itu.</p>
<p>Saat jadi wartawan di Gramedia Group (1988 – 1990),  hampir setiap hari saya menggunakan jasa kereta api Serang – Palmerah Selatan. Di stasiun Rangkasbitung, banyak warga Lebak yang bekerja di Jakarta dan sorenya pulang dengan kereta ke Rangkasbitung. Di sepanjang perjalanan, saya melihat warga Lebak bekerja keras mengais rezeki. Saya membayangkan, apa yang ditulis Multatulli, bahwa orang Lebak itu miskin, benar adanya.</p>
<p>Pernah di suatu malam pada tahun 1990, saya menonton pembacaan puisi WS Rendra di TIM, Jakarta. Rendra membacakan sajak-sajak Rangkasbitungnya. Tiba-tiba saja beberapa orang yang mengatasnamakan mahasiswa asal Lebak memrotes Rendra. Pertunjukkan terhenti sejenak. Kemudian teman saya sesama wartawan yang ikut menonton menyindir saya, “Kampungmu, tuh! Belum melek literasi! Orang baca sajak, kok, diprotes!” Saya membenarkan dalam hati. Kenapa harus memrotes Rendra? Kenapa tidak memrotes  gubernur Jawa Barat saja, yang saat itu kurang mempercepat laju pembangunan di Lebak? Berdasarkan data BPS Lebak, Jumlah panti di Kabupaten Lebak pada tahun 2004 berjumlah 70 panti, pada tahun 2005 berjumlah 73 panti, pada tahun 2006 berjumlah 93 panti, pada tahun 2007 berjumlah 116 panti dan pada tahun 2008 berjumlah 129 panti.  Itu menandakan, bahwa semakin banyak panti, berarti semakin banyak orang terlantar.</p>
<p>Saya berkunjung lagi ke Lebak pada 1993. Saat itu saya membuat penerbitan khusus “Banten Pos”;  tabloid pelajar dan mahasiswa Banten. Saya mengajak para pelajar di Lebak untuk terlibat jadi wartawan. Saya memprovokasi mereka, yang rata-rata pemalu, untuk ikut dalam gerakan perubahan menuju Banten yang melek aksara. Mulai saat itu saya bersama Toto ST Radik dan (alm) Rys Revolta mengusung perubahan Banten lewat pena; sekarang saatnya otak, bukan otot! Beberapa pelajar dari SMAN 3 Rangkasbitung datang ke Serang mengikuti pelatihan jurnalitik yang kami selenggarakan. Kesan saya waktu itu, para pelajar Lebak tertinggal dalan hal wawasan dari pelajar Serang. Beberapa teman saya yang wartawan di Jakarta menertawaan saya, “Nggak mungkin penamu bisa mengubah golok!” Apa iya?</p>
<p>PEMUDA</p>
<p>Kadang saya merasa heran, kenapa orang Banten atau warga Lebak tidak memiliki spirit pembaharu? Jika pun ada warga lebak yang memiliki spirit itu, memilih tinggal di luar Lebak, tepatnya Jakarta, Bandung, atau Serang. Kalau sudah tua, mereka pulang kampung dan pensiun, bernostalgia mengingat masa-masa indah di SMA dulu.  Di dalam masa sulit seperti sekarang ini, saya melihat  para pemudanya lebih suka menenteng map berisi proposal dan mengais rezeki lewat proyek-proyek APBD. Padahal di luar sana bertebaran para pemuda yang memiliki jiwa pembaharu. Ingat apa kata Bung Karno, “Berilah aku 100 orang tua, maka aku akan memindahkan gunung Semeru. Tapi beri aku 10 pemuda yang pintar, cerdas, dan berani, maka aku akan gegerkan dunia!”</p>
<p>Jadi, yang dibutuhkan oleh Lebak adalah anak-anak muda yang menurut UU Kepemudaan berkisar 16 – 30 tahun yang bersemangat, pantang menyerah, tidak kenal lelah. Mereka menyebar di setiap sudut Lebak, memperbaiki mutu masyarakatnya dari aspek soial, budaya, dan pendidikan. Meminjam Imam B. Prasojo, Ph.D, Direktur Yayasan Nurani Dunia di kata pengantar buku “Mengubah Dunia” (Insist Press-Nurani Dunia, 2006), bahwa untuk mengatasi kekusutan di negeri ini dibutuhkan banyak “orang abnormal”, maka sangat tepatlah jika hal itu dianalogikan di Banten yang memiliki struktur budaya “primordial”.</p>
<p>Lebak sangat membutuhkan para pionir yang memiliki jiwa “patriot”, mempunyai “social entrepreneur” (wirausahawan sosial). Para pemuda itu harus memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah-masalah kemasyarakatan pada skala luas. Mereka mesti pemuda yang bukan anak pejabat dengan segala previlege-nya dan pemuda bukan politisi. Mereka bisa saja guru, mahsaiswa, wartawan, seniman, yang memiliki gagasan-gagasan kuat untuk memperbaiki taraf kehidupan masyarakat di Lebak, dan mereka dengan bersemangat melakukannya di seiap sudut Lebak, tanpa mengharapkan pamrih. Pemuda-pemuda pionir itu harus transformatif. Itu memang pemuda jenis langka, yang memiliki gagasan baru dalam menghadapi masalah besar, yang tak kenal lelah dalam mewujudkan visinya membangun Lebak menuju jaya. Mereka adalah para pemuda yang sungguh-sungguh mengenal kata “tidak” sebagai jawaban, yang tidak akan menyerah hingga berhasil menyebarluaskan gagasannya sejauh mereka mampu. Jika di Lebak ada jenis pemuda “abnormal” seperti itu, tanpa diminta pun, harusnya didukung penuh oleh kebijakan politik pemerintah dan pengusaha kaya setempat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>BUTA AKSARA</p>
<p>Masalahnya, adakah jenis pemuda “gila” seperti Imam B. Prasojo maksud di Lebak? Di Koran lokal diberitakan,  sebanyak 6.813 jiwa penduduk Kabupaten Lebak, Banten, masih menyandang status buta huruf karena tidak mengenyam pendidikan di sekolah akibat hidupnya yang miskin.  Bupati Lebak, H Mulyadi Jayabaya memang mengupayakan pada 2009  penyadang buta aksara di Lebak dituntaskan. Menurut Kasi Pendidikan Non Formal Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, Abdul Malik menargetkan tahun 2009 ini buta huruf akan dituntaskan melalui program Keaksaraan Fungsional (KF) yang didanai APBD kabupaten dan APBN serta Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Penuntasan buta huruf melalui dana APBD Kabupaten ditargetkan sebanyak 2.210 orang, dari dana APBN sebanyak 2.589 orang dan melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) mencapai 2.014 orang. Pelaksanaan keaksaraan fungsional, kata Abdul Malik,  melibatkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas). Pembelajaran buta huruf ditargetkan berlangsung selama enam bulan.  Saat ini jumlah penyandang buta huruf tertinggi tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Cimarga sebanyak 628 orang, Cijaku 515 orang dan Leuwidamar mencapai 435 orang. Saya hanya berdo’a saja, semoga itu tidak dijadikan proyek semata dalam rangka menghabiskna anggaran, apalagi kegiatannya fiktif. Kita semua sudah tahu, banyak dana-dana yang disalurkan ke LSM, PKBM, ormas atau taman baca masyarakat (TBM), ternyata dana habis, ya, oraganisasi-organisasi itu pun bubar jalan.</p>
<p>Realitasnya, walaupun Pemkab Lebak berupaya mentuntaskan buta aksara, sarana penunjang seperti sekolah belum memadai. Sebagai perbandingan, di Cilegon sekarang ada 155 SMP negeri, tapi SMA ngeri hanya 11 sekolah. Di Lebak pada tahun 2008 SLTP 152 dan  SLTA 39 unit. Tapi untuk perguruan tinggi Cilegon lebih unggul. Di Lebak baru ada beberapa saja; STKIP dan Perguruan Muhammadiyah.</p>
<p>Ukuran-ukuran maju-tidaknya sebuah wilayah dilihat dari kualitas pendidikannya. Apakah kualitas pembelajarannya sudah mengacu ke input, transformasi dan output? Input adalah peserta didik yang telah dinilai kemampuannya dan siap menjalani proses pembelajaran. Transformasi adalah segala unsur yang terkait dengan proses pembelajaran yaitu; guru, media dan bahan belajar, metode pengajaran, sarana penunjang dan system administrasi. Sedangkan output adalah capaian yang dihasilkan dari proses pembelajaran. Bagaimana di Lebak? Sudahkah dipahami ukuran-ukuran itu? Sudah seberapa mumpuni antara kuantitas murid dan kualitas guru Lebak? Juga mahasiswa-dosen di perguruan tinggi? Guru dan dosen yang berkualitas di Lebak, tentu akan berbanding lurus dengan kualitas lulusannya.</p>
<p>PERPUSTAKAAN</p>
<p>Lantas, harus memulai dengan cara apa, agar Lebak bisa lebih cepat maju dari sekarang. Jayabaya dalam 2 periode kepemimpinannya memacu pembagunan phisik. Saya merasakannya jika ke Rangkas melalui jalan alternative Petir – Warunggunung. Tapi, bagaimana pembangunan non-phisik? Seperti halnya Banten yang sudah menggelinding 9 tahun belum juga mampu membangun gedung perpustakaan megah sebagai symbol peradaban mnusia, begitu juga di Lebak.</p>
<p>Firman Venayaksa, Presiden Rumah Dunia – komunitas yang peduli pada dunia menulis dan membaca, menulis surat terbuka di <a href="http://www.rumahdunia.net/">www.rumahdunia.net</a>,  yang meragukan kualitas intelektual warga Lebak, karena minimnya perpustakaan. Menurut Firman, di Lebak hanya ada tiga perpustakaan umum yang buka. Yaitu perpustakaan “Saija Adinda”, Perpustakaan UPTD di Komplek Pendidikan, dan perpustakaan Sekda di depan kantor bupati. Ketiga perpustakaan sepi pengunjung yang duduk dan sekadar membaca. Koleksi bukunya juga sudah sangat lapuk, seperti tak terjamah. Ironisnya hanya ada 1 buku Max Havelaar di perpustakaan “Saija Adinda” saja. Lebih ironis lagi, tidak ada satu pun komputer! Di perpustakaan UPTD ada mesin tik yang cukup besar, namun bukan untuk dipakai karena memang sudah rusak, tapi hanya sebagai pajangan. Jauh berbeda dengan di Rumah Dunia; ada 5 komputer dan hot spot area!</p>
<p>Jadi, jika Lebak ingin maju, kualitas intelektual warga Lebak harus ditingkatkan, tidak hanya semua warga Lebak sekedar memasuki fase bisa membaca dan menulis saja. Ukuran-ukuran input, transformasi dan output yang saya singgung tadi harus segera diupayakan terlaksana. Sederhana saja, kata pepatah ‘dekat tukang minyak, maka kita akan bau minyak”. Nah, jika di Lebak banyak guru dan dosen yang pintar dan bergelar akademis mumpuni, maka akan lahir murid dan mahasiswa yang tidak jauh bebeda kualitasnya dengan guru dan dosennya. Di Rumah Dunia hampir setiap Sabtu, sepanjang tahun, selalu ada diskusi poleksosbudhankam. Narasumbernya orang-orang berkompeten di bidanya, ada yang berdomisili di Banten atau Jakarta. Isi kepala mereka ditransformasikan kepada anak-anak muda yang hadir  di Rumah Dunia. Maka semboyan atau visi Rumah Dunia, yaitu “Mencerdaskan dan membentuk generasi baru” 25 tahun  mendatang akan terwujud.</p>
<p>Saran saya kepada Jayabaya dan Amir hamzah sebagai wakil bupati, mulailah menggelorakan kampanye “Lebak Membaca”. Berposelah kalian sedang membaca buku. Dirikan perpustakaan atau taman-taman baca di setiap kecamatan dengan dukungan dana dari APBD. Idealisme memang butuh ongkos. Cari para pemuda “gila’ untuk mengurusinya. Jangan pernah ragu-ragu. Ini memang pekerjaan marathon dan tidak langsung jadi. Ini adalah ibarat para petani yang menabur benih, kemudina memanennya suatu saat nanti. Anda berdua bisa mencontoh apa yang sudah saya, Tias Tatanka, Toto ST Radik, Firman Venayaksa, dan relawan lainnya lakukan di Rumah Dunia. Kami terus saja menggelorakan “Banten Membaca” secara terbuka, terus-menerus sepanjang 7 tahun dan cenderung provokatif. Saya tidak peduli, apakah “gerakan kebudayaan” ini akan diikuti atau tidak  oleh orang Lebak atau Banten pada umumnya.  Saya hanya percaya, bahwa untuk mengubah Banten  secara luas atau Lebak khususnya harus dimulai dari rumah sendiri dan tidak bisa dalam waku semalam. Dongeng Sangkuriang mencontohkan itu kepada kita; bahwa segala sesuatu yang serba instant itu tidak baik. Jadi, car berpikir kita harus direformasi; mulai beralih dari kebiasaan berhitung ke berpikir, dari golok ke pena, dari belanja ke membaca.</p>
<p>Waktu terus bergulir. Lebak bersolek terus bersolek. Kata Imam al-Ghazali, waktu akan jadi masa lalu dan jaraknya sangat jauh, bahkan mustahil kita bisa mencapainya. Kita tidak mungkin kembali lagi ke masa lalu. Begitulah Lebak, yang berusaha menggali sejarahnya sendiri lewat Multatulli. Orang Belanda yang pernah jadi asisten residen itu dibenci sekaligus dirindu. Setiap orang menyebut Multatulli, selalu pro dan kontra. Kii saatnya kita menentukan hari ini melakukan apa untuk Lebak esok hari, karena hari kemaren sudah jadi masa lalu dan kita tidak akan mungkin kembali. (*)</p>
<p>*) Gol A Gong adalah relawan Rumah Dunia, pusat belajar jurnalistik, sastra, teater, menggambar, dan film untuk pelajar dan mahasiswa. Tulisan-tulisannya bisa diklik di <a href="http://www.rumahdunia.com/">www.rumahdunia.com</a> dan <a href="http://www.rumahdunia.net/">www.rumahdunia.net</a>. Sehari-hari bekerja sebagai advisor di Banten TV.</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/10/dicari-pemuda-abnormal-kutu-buku-dan-mau-membangun-perpustakaan-di-lebak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
