TAMAN BUDAYA DAN INDUSTRI KREATIF
langlang | Essay | October 19th, 2010 | No Comments »
TAMAN BUDAYA DAN INDUSTRI KREATIF
Minggu (22/8) malam, beberapa seniman dari lintas komunitas di Banten, antara lain Teater Studio Indonesia (Nandang Aradea), Rumah Dunia (Gola Gong), Toto St Radik (Budayawan), Indra Kusuma (Perupa Banten), Sulaeman Djaya (Kumah Budaya), hadir juga Abah Dadi (Pejabat Disbudpar Provinsi Banten yang juga aktor) dan beberapa seniman lainnya. Pertemuan ini merupakan lanjutan dari pertemuan sebelumnya yang juga melibatkan banyak seniman. Tema utama diskusi tersebut adalah persoalan pembangunan Taman Budaya Banten (TBB). Mereka “gundah” atas berbagai isu tentang pembangunan yang akan dilakukan oleh pemerintah provinsi Banten.
Nandang Aradea, sutradara yang komunitasnya baru saja pentas di Polandia mengatakan bahwa TBB , yang akan didirikan nantinya jangan hanya menjadi miniatur kesenian Banten, namun juga menjadi tempat yang menarik bagi masyarakat luas. Dia juga menyarankan agar Pemerintah Banten tidak mencontoh taman budaya yang sudah ada di beberapa daerah di Indonesia. Agar tidak mubadzir, Nandang menekankan pentingnya taman budaya Banten menjadi tempat seluas-luasnya bagi para seniman, tidak hanya tempat pentas saja. “Harus ada studio film, harus ada tempat pementasan, ada cafe, dll.” Seide dengan Nandang Aradea, Toto St Radik dan Gola Gong, sepakat agar draft atau desain yang menurut Dadi RSN telah ada, dirombak kembali dan memulainya agar uang masyarakat yang digunakan itu tidak sia-sia.
Industri Kreatif
Dari rekaman obrolan para seniman tersebut, saya memaknainya sebagai gerakan industri kreatif. Kesenian adalah bagian Industri Kreatif yang bisa mendorong lajunya perekonomian masyarakat. Selain sebagai tempat untuk mengapresiasi segala macam pagelaran seni, Taman Budaya juga akan merangsang munculnya beragam komunitas kreatif. Akan lahir komunitas film, komunitas rupa, komunitas kartun, fesyen, komunitas musik dan lain sebagainya. Dan mereka bisa memamerkan karyanya di taman budaya ini. Dengan pertunjukan dan pagelaran akan menarik para pengunjung sehingga akan tercipta sebuah ekonomi yang berbasis kreativitas, atau banyak ahli ekonomi menyebutnya dengan ekonomi kreatif. Saya memabayangkan kelak, Banten bisa menggelar Festival Budaya Internasional yang bisa menarik wisatawan manca negara maupun wisatawan dalan negari. Di dalamnya bisa menampilkan beragam kesenian Banten dan ratusan karya kreatif anak-anak Banten, dari mulai film, teater, musik, fesyen dan lain sebagainya yang bisa dinikmati oleh masyarakat.
Peluang
Posisi strategis Banten merupakan peluang bagi kita untuk bisa menjadi magnet dalam industri kreatif. Kondisi Jakarta yang sudah macet, sumpek memungkinkan Banten menjadi peralihan dari berbagai kegiatan seni di Indonesia. Seperti yang diimpikan para seniman Banten, dalam obrolan tempo hari, Taman Budaya itu kelak bisa menjadi pusat kesenian di Indonesia. Al-Faris, salah satu penggiat seni dari Kubah Budaya menyebutnya dengan culture center. Hal itu tidak berlebihan, dengan keberagaman karya seni dan sumber daya alam yang tak kalah dengan daerah lainnya, tidaklah sulit bagi Banten untuk menjadi wilayah yang menjadi pusat wisata dan pusat budaya di Indonesia. Pada Kamis (26/8), puluhan seniman hadir dalam audiensi bersama Gubernur Banten untuk membahas realisasi pembangunan Taman Budaya Banten (Radar Banten, Edisi Jum’at 27 Agustus). Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah melalui Dinas Perairan dan Pemukiman ternyata sudah menyiapkan dana 17 Miliar untuk pembangunan TBB. Tentu saja informasi yang menggembirakan, sebuah niat yang penuh harapan. Namun ada beberapa hal perlu dipikirkan lebih lanjut, pertama adalah mengenai arsitektur TBB itu sendiri. Pemerintah Provinsi Banten harus mau melibatkan stakeholder, seniman, para ahli arsitektur yang betul-betul memahami dan menguasai dalam hal penataan TBB ini. Seperti saran Nandang Aradea dalam sebuah obrolan, tidak ada salahnya draft desain yang telah ada itu dirombak kembali dengan mendengarkan banyak masukan dari komunitas seniman di Banten. Jangan sampai pembangunan TBB ini adalah upaya untuk mencari proyek dari beberapa kelompok untuk meraup keuntungan. Kedua adalah sumber daya manusia (SDM). Sejak dini harus dipikirkan tentang pengelolaan TBB ini. Bangunan itu tidak akan ada artinya jika tidak dikelola oleh tangan yang kreatif dan minat yang tinggi dalam pembangunan budaya dan kreativitas di Banten. Pemerintah harus berani keluar dari mainstream, menunjuk orang-orang yang betul -betul ahli agar TBB ini fungsional dan harapan seniman agar TBB ini menjadi pusat budaya terwujud. Jika tidak, TBB akan menjadi sarang “penyamun” yang mengganggu masyarakat dan seniman itu sendiri.
Aji Setiakarya
Direktur Sultan Film, Pecinta Seni, dan Relawan Rumah Dunia.
?






