TAMAN BUDAYA DAN INDUSTRI KREATIF

TAMAN BUDAYA DAN INDUSTRI KREATIF

Oleh Aji Setiakarya

Minggu (22/8) malam,  beberapa seniman dari lintas komunitas di Banten,  antara lain Teater Studio Indonesia (Nandang Aradea), Rumah Dunia (Gola Gong),  Toto St Radik (Budayawan),  Indra Kusuma (Perupa Banten), Sulaeman Djaya (Kumah Budaya), hadir juga Abah Dadi (Pejabat Disbudpar Provinsi Banten yang juga aktor) dan beberapa seniman lainnya. Pertemuan ini merupakan lanjutan dari pertemuan sebelumnya yang juga melibatkan banyak seniman.  Tema utama diskusi tersebut adalah persoalan pembangunan Taman Budaya Banten (TBB).  Mereka “gundah” atas berbagai isu tentang  pembangunan yang akan dilakukan oleh pemerintah provinsi  Banten.

Nandang  Aradea,  sutradara yang komunitasnya baru saja  pentas di  Polandia mengatakan bahwa TBB , yang akan didirikan nantinya  jangan hanya menjadi miniatur  kesenian Banten, namun juga menjadi tempat yang menarik bagi masyarakat luas.  Dia juga menyarankan agar Pemerintah Banten  tidak  mencontoh  taman budaya yang sudah ada di  beberapa daerah di Indonesia.  Agar  tidak mubadzir, Nandang menekankan pentingnya taman budaya Banten menjadi tempat seluas-luasnya  bagi para  seniman, tidak hanya tempat pentas saja. “Harus ada studio film, harus ada  tempat pementasan, ada cafe, dll.” Seide dengan Nandang Aradea,  Toto St Radik dan Gola Gong,   sepakat  agar   draft  atau desain yang menurut  Dadi RSN telah ada, dirombak kembali dan memulainya  agar uang masyarakat yang digunakan itu tidak sia-sia.

Industri Kreatif

Dari rekaman obrolan para seniman tersebut, saya memaknainya sebagai  gerakan industri kreatif.  Kesenian adalah bagian  Industri Kreatif yang bisa mendorong lajunya perekonomian masyarakat.  Selain sebagai tempat untuk mengapresiasi segala macam pagelaran seni, Taman Budaya juga akan merangsang munculnya beragam komunitas kreatif. Akan lahir komunitas film, komunitas rupa, komunitas kartun, fesyen, komunitas musik dan lain sebagainya. Dan mereka bisa  memamerkan karyanya di taman budaya ini. Dengan pertunjukan dan pagelaran akan menarik para pengunjung sehingga akan  tercipta sebuah ekonomi yang  berbasis kreativitas, atau banyak ahli ekonomi menyebutnya dengan ekonomi kreatif.  Saya memabayangkan kelak, Banten bisa menggelar  Festival Budaya Internasional yang bisa menarik wisatawan manca negara maupun wisatawan dalan negari. Di dalamnya bisa menampilkan beragam kesenian Banten dan ratusan karya kreatif anak-anak Banten, dari mulai film, teater, musik, fesyen dan lain sebagainya yang bisa dinikmati oleh masyarakat.

Peluang

Posisi  strategis Banten merupakan peluang bagi  kita untuk bisa menjadi magnet dalam industri kreatif.  Kondisi Jakarta yang sudah macet, sumpek memungkinkan Banten menjadi peralihan dari  berbagai kegiatan seni di Indonesia.  Seperti  yang diimpikan para seniman Banten, dalam  obrolan tempo hari, Taman Budaya itu kelak bisa menjadi pusat kesenian di Indonesia. Al-Faris, salah satu penggiat seni dari Kubah Budaya  menyebutnya dengan culture center. Hal itu tidak berlebihan, dengan keberagaman karya seni dan sumber daya alam yang tak kalah  dengan daerah lainnya, tidaklah sulit bagi Banten untuk  menjadi wilayah  yang menjadi pusat wisata dan pusat budaya di Indonesia. Pada Kamis (26/8), puluhan seniman  hadir dalam audiensi bersama Gubernur Banten untuk membahas realisasi pembangunan Taman Budaya Banten (Radar Banten, Edisi Jum’at 27 Agustus). Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah melalui Dinas Perairan dan Pemukiman ternyata sudah  menyiapkan dana 17 Miliar untuk pembangunan TBB. Tentu saja informasi yang menggembirakan, sebuah  niat yang penuh harapan. Namun ada beberapa hal perlu dipikirkan lebih lanjut, pertama adalah mengenai arsitektur TBB itu sendiri. Pemerintah Provinsi Banten harus mau melibatkan stakeholder, seniman, para ahli arsitektur yang betul-betul memahami dan menguasai dalam hal penataan TBB ini. Seperti saran Nandang Aradea dalam sebuah obrolan, tidak ada salahnya draft desain yang telah ada itu dirombak kembali dengan mendengarkan banyak masukan dari komunitas seniman di Banten. Jangan sampai pembangunan TBB ini adalah upaya untuk mencari proyek dari beberapa kelompok untuk meraup keuntungan.  Kedua adalah sumber daya manusia (SDM). Sejak dini harus dipikirkan tentang pengelolaan TBB ini. Bangunan itu tidak akan ada artinya jika tidak dikelola oleh tangan yang kreatif dan minat yang tinggi dalam pembangunan budaya dan kreativitas di Banten. Pemerintah harus berani keluar dari mainstream, menunjuk orang-orang yang betul -betul ahli agar TBB ini fungsional dan harapan seniman agar TBB ini menjadi pusat budaya terwujud. Jika tidak, TBB akan  menjadi  sarang “penyamun” yang mengganggu masyarakat dan seniman  itu sendiri.

Aji  Setiakarya

Direktur Sultan Film,  Pecinta Seni, dan Relawan Rumah Dunia.

?

DIALOG LIMA BELAS JUTA

Oleh: Didaytea.

Foto: Dok.Net

“Lima belas juta rupiah?” Pekik temanku dengan mata yang terbelalak sebesar-besarnya sampai terlihat hampir meninggalkan tempatnya, ketika aku bilang bahwa itu adalah nilai semua ratusan buku yang berbaris dan bertebaran di sekeliling kamarku. Aku beli semua buku itu selama bekerja hampir tujuh tahun. “Sayang banget , uang sebanyak itu kamu habiskan hanya untuk membeli buku- buku ini, buku kan tidak bisa dijual, dan kalau pun dijual nilainya ya seperti barang loakan!” Itu adalah komentar paling “lucu” menurutku sepanjang aku bekerja di sebuah kota industri. Dan mungkin, itu adalah pendapat sebagian besar orang yang memahami bahwa lebih baik membeli rumah, kendaraan, tanah, bahkan makanan daripada membeli buku. MEMBACA LEBIH CEPAT=BERPIKIR LEBIH CEPAT Alhamdulillah, sebelum mendapatkan ijazah kelulusan dari sebuah SMK di Bandung, aku sudah resmi menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan petrokikia di Cilegon. Tidak sehari pun waku dalam hidupku yang berstatus pengangguran setelah lulus dari sekolah. Hari Sabtu aku diwisuda, Seninnya aku sudah bekerja. Impianku waktu itu, aku ingin membeli semua buku yang aku inginkan sewaktu aku masih bersekolah. Karena waktu itu aku hanya mampu meminjam ke perpustakaan daerah Jawa Barat. Kurang sreg rasanya jika hanya meminjam, aku ingin bisa memiliki buku-buku tersebut.

Incaran utamaku adalah Quantum Learning. Buku yang pernah kupinjam dari seorang adik kelas. Buku ini yang paling berkesan untukku karena memberi paradigma baru ke dalam diriku tentang proses pembelajaran. Lebih spesifik lagi, yang paling menarik minatku adalah Bab tentang Membaca Cepat. Itu Skill utama yang sampai sekarang aku miliki, yang dihasilkan dari membaca buku tersebut. Dan mimpi itu pun menjadi kenyataan. Ketika mudik pertama, hal yang pertama lakukan adalah langsung meluncur ke Palasari,dan membeli buku itu. Dan makin jatuh cintalah aku kepada buku-buku dengan tema yang berkaitan dengan proses pembelajaran, atau “belajar bagaimana belajar”. Sejak itulah, aku rajin berburu buku-buku dengan tema sejenis Accelerated Learning, Otak Sejuta Giga Bite, Super Brain Power, Berpikir Ala Einstein, Revolusi Cara Belajar, The Sharper Mind, Imagine That, Master Your Memory, Use Both Side Of Your Brain, Use Your Brain, Beyond Teaching and Learning, dan buku-buku lainnya. Semua buku itu penuh dengan metode-metode untukmeningkatkan kecerdasan, untuk memudahkan proses belajar kita, dan segudang “how-to” lainnya. Tapi mungkin karena diriku kurang cerdas dan kurang pemahaman, yang benar- benar “menempel” sebagai sebuah kemampuan di dalam diriku hanya kemampuan membaca cepat. Sebelum aku mempelajari buku-buku tersebut, kecepatan membacaku (dengan berusaha membaca secepat mungkin) maksimal hanya 200-300 kata per menit. Tapi setelahnya, kecepatanku meningkat tajam sampai hampir 1400 kata per menit! Alhamdulillah, kecepatan membacaku bisa menutupi kelemahanku di dalam memahami pelajaran di sekolah dan kampus. Dengan membaca lebih cepat, otomatis aku pun bisa berpikir lebih cepat. Sehingga di dalam jangka waktu yang sama, aku mempunyai waktu lebih lama untuk bisa lebih memahami pelajaran. Yang paling terasa ketika ujian datang. Kecuali Kalkulus, Fisika, dan statistik, mata kuliah yang tidak memerlukan kecepatan membaca (dan memang aku mentok di dua mata kuliah itu), aku selalu dapat menyelesaikan soal- soal ujian jauh lebih cepat dari siswa/mahasiswa lain. Wajar saja kan, dengan kecepatan rata- rata orang biasa 200-300 kata per menit, aku melaju kencang dengan 1300 kata per menit. Dengan “meluangkan waktu” untuk memeriksa, memastikan dan mencocokkan jawaban dua kali saja, aku dipastikan bisa selesai dalam waktu sepertiga kali lebih cepat dibanding orang lain.

Kemampuanku membaca cepat juga ternyata berpengaruh kepada kemampuan berbahasaku juga. Hobiku menonton film menjadi “penyumbang” terbesar kemampuan bahasa Inggrisku. Dulu, ketika masih membaca dengan “biasa” aku malas untuk mendengar percakapan para tokoh di film- film itu. Lebih baik fokus ke cerita dan menikmati serunya filem, cukup dilengkapi dengan teks bahasa Indonesia. Jika aku set teksnya ke Bahasa Inggris, pasti memerlukan waktu untuk membaca, menerjemahkah ke Bahasa Indonesia dan menghubungkan teks dengan cerita dalam filem tersebut. Ketika aku bisa membaca lebih cepat, ide cemerlang pun muncul. Proses “Membaca-Menerjemahkan-Menghubungkan” kini bisa berlangsung lebih cepat, karena aku bisa membaca teks jauh lebih cepat, menerjemahkan (berpikir) lebih cepat, dan menghubungkan teks dengan cerita di film tersebut jauh lebih cepat dan lebih cepat. Setelah itu proses menonton film pun menjadi sangat menyenangkan buatku, karena bisa mendapat hiburan sekaligus menambah kemampuan berbahasa Inggrisku. Alhamdulillah, walaupun tidak sampai sekelas penerjemah “asli”, dan Tata Bahasa Inggris “resmi” tidak pernah aku kuasai, tapi aku bisa berkomunikasi dengan cukup lancar di bahasa yang sebagian besar siswa dan mahasiswa takuti ketika seklah dan kuliah dulu. Dan aku sempat dipercaya untuk menerjemahkan beberapa tulisan Gola Gong di blognya, walaupun sangat jauh dari dibilang bagus dan baik. Dan puncaknya, adalah momen di mana seorang temanku datang ke rumahku dan berlangsunglah “dialog lima belas juta”, seperti di awal paragraf tulisan ini. BALIK MODAL PLUS UNTUNG BESAR Beberapa waktu setelah “dialog lima belas juta” itu berlangsung, aku mendapat panggilan untuk bekerja di luar negeri. Entah kenapa, ketika itu aku sangat yakin dan percaya untuk bisa diterima. Karena ketika itu aku sedang mengalami periode “puncak kesulitan finansial” di dalam hidupku. Hanya itu harapanku untuk bisa survive. Sebelum test berlangsung, aku melakukan persiapan habis- habisan demi menghadapi test tersebut. Aku pergi ke warnet setiap hari untuk mengunduh materi- materi yang berhubungan dengan perusahaan yang memanggilku untuk test tulis di Jakarta. Ketika hari yang sangat mendebarkan di dalam hidupku itu tiba, aku pun meluncur ke TKP, eh, sebuah hotel di Jakarta.

Sepanjang perjalanan, terus kuyakinkan diriku untuk yakn dan percaya diri bahwa aku bisa menembus persaingan yang sangat ketat, karena bakal ada puluhan orang yang menjadi sainganku. Dan ternyata benar, beberapa sainganku bahkan adalah kakak kelasku yang tujuh angkatan di atasku! Ada juga yang sudah menjadi supervisor di perusahaannya. Wah, harapanku semakin kecil nih. Dan satu hal lagi, aku paling muda diantara delapan puluh tiga peserta test yang datang hari itu. Dan Alhamdulillah, Subhanaloh, Allaahu Akbar! Ketika soal test dibagikan, sama sekali tidak ada test tentang hal-hal yang aku unduh dari internet, sama sekali tidak ada pertanyaan mengenai produkk perusahaan tersebut. Yang ada hanya soal- soal yang sangat dasar tentang kimia. Dan subyek lainnya, ini yang paling utama menurut perwakilan dari perusahaan tersebut adalah “The Learning Ability”, test kemampuan belajar. Soal- soal yang lebih menyerupai Test IQ dibanding test masuk perusahaan, hanya ini diujikan dalam bahasa Inggris. Soal- soal yang memang bakal menjadi “makanan empuk” untuk kecepatan membaca dan kecepatan berpikirku. Dan benar saja, dari satu jam yang diberikan oleh penguji, aku bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu dua puluh menit! Alhamdulillah. Setelah melalui proses wawancara dan test medis, akhirnya aku pun ditawari kontrak kerja melalui email. Ketika aku membuka file kontrak kerja dan jumlah yang tertera di kontrak itu seketika mulutku ternganga selebar-lebarnya, dan membuat jantungku berdegup kencang bukan main, dan aku pun langsung bersimpuh sujud syukur kepada Yang Maha Kaya. Bagaimana tidak, ketika hitungan “juta” pun sudah terasa sangat besar, karena aku baru bekerja enam setengah tahun,masa kerja yang jauh lebih singkat dari para sainganku itu, aku ditawari kontrak kerja dengan jumlah lebih dari lima belas kali dari jumlah yang biasa kuterima. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung menandatangani kontrak itu dan mengirimnya ke bagian rekrutment perusahaan tersebut. Seminggu sebelum aku terbang menuju negeri impian, aku bertemu dengan temanku di “dialog lima belas juta” itu, dan berbicara dengan yakin: “Mas, lima belas juta uangku yang kuhabiskan untuk membeli buku, dan mas bilang sia- sia, ternyata sekarang sudah balik modal, plus untungnya dikali beberapa puluh kali!” (*)

Didaytea!

Yang Sedang Sangat Beryukur Tak Henti-henti Di tengah musim panas yang sangat sejuk. 2

60720101045

KEBEBASAN DAN KREATIVITAS

Rampak beduk satu bentuk kreativitas

KEBEBASAN DAN KREATIVITAS

Oleh Sulaiman Djaya*

Jika kebebasan dan kemerdekaan dipahami sebagai proses dan praktik yang konkret, maka kebebasan dan kemerdekaan pada akhirnya lebih merupakan apa yang dapat dan sanggup dilakukan seseorang, yang dengan apa yang dilakukannya itu seseorang mengafirmasi diri sendiri sebagai individu dan pribadi, juga dengan tindakannya itu pula seseorang bisa berbagi dengan orang lain, meski apa yang dibaginya tersebut merupakan pendapat-pendapat dan pemahaman-pemahaman yang sifatnya subjektif yang berasal dari kerja kognitif dan intelektual. lanjutkan membaca »

SATU DUNIA TIDAK CUKUP!

SATU DUNIA TIDAK CUKUP!

Oleh Diday Tea

Beberapa minggu lalu, di sebuah forum kepenulisan, ada yang menulis artikel yang berjudul “Ternyata Bahasa Inggris Itu Penting”. Hal pertama yang terbersit di pikiranku adalah: “Cappeee dehh…! Selama ini ke mana saja Kang?” Ternyata selama ini, dia sangat sibuk di “dunianya”, sampai- sampai tidak mau tahu, dan tidak mau keluar barang sebentar untuk melihat apa yang sdang terjadi dan berkembang di dunia lain.

Masih banyak orang yang masih memiliki pola pikir seperti “Katak dalam Tempurung”. Mereka merasa sudah cukup dengan keadaan keilmuan dan tingkat pengetahuan yang sama dengan beberapa tahun yang lalu, atau malah puluhan tahun yang lalu.

Mereka pikir, mereka dapat menyelesaikan masalah kehidupan di masa kini dengan cara yang sama di masa lalu. Mereka tidak mau mempelajari hal- hal yang baru, yang sebenarnya bisa menunjang mereka untuk menjadi lebih baik. Mereka tidak punya keinginan untuk lebih berkembang dan memaksimalkan potensi luar biasa yang Allah hamparkan di setiap inci dan detik kehidupannya.

Mereka hanya punya satu dunia.

Dunia berkembang luar biasa cepat. Laju informasi berlari dengan kecepatan yang bahkan kita tidak pernah bisa bayangkan sebelumnya. Dalam hitungan detik, bahkan lebih cepat, jutaan informasi bisa berpindah dari satu belahan bumi ke belahan lainnya. Kita sudah berada di era new Renaissance kata Gordon Dryden dan Jeannette Vos dalam buku mutakhirnya, Unlimited. Dunia di mana internet akan menjadi pusat dari segala pengetahuan.

Kecenderungan orang-orang di dunia ini akan berkutat pada bidang yang dia sukai, bidang tempat dia bekerja, bidang yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Orang-orang lulusan Kimia Murni, akan sibuk dengan dunia reaksi kimia dan sintesa produk. Orang-orang yang bekerja di bidang properti, akan sibuk dengan dunianya. Orang sastra, akan selalu sibuk dengan dunia literasinya. Orang-orang pesantren akan sibuk dengan dunia pesantennya. Orang teknologi informasi, akan selalu sibuk dengan dunianya.

Hal- hal tersebut tidak salah, tetapi sangatlah tidak cukup.

Konservatif=Tertinggal

Jika konsep anda masih seperti itu, siapkanlah diri anda untuk dilibas oleh sang waktu. Bersiaplah untuk menghadapi rasa frustasi ketika anda tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang “biasanya seperti itu”. Bersiaplah tenggelam dalam persaingan yang luar biasa ketat di dunia kerja.

Masa kini, dan pasti masa depan, adalah masa di mana orang akan selalu dituntut untuk mempunyai multi tasking ability, kemampuan untuk menguasai dan melakukan banyak hal.

Kita akan selalu dituntut untuk berlari lebih cepat dari lajunya waktu. Pengetahuan kita selalu tidak akan pernah cukup untuk bisa menjalani masalah baru yang akan selalu muncul di kehidupan kita.

Di setiap tahapan baru dalam kehidupan, kita akan selalu dituntut untuk menambah kemampuan kita. Anak yang ngekos, dituntut untuk memiliki skill manajemen uang yang bagus, agar jatah uang kiriman dari orangta cukup sampai akhir bulan. Seseorang yang akan menikah dituntut untuk mempunyai pengetahuan tentang pernikahan, manajemen konflik, metode berhubungan seksual. Ketika memiliki anak, lagi, kita akan dituntut untuk memiliki kemampuan mengurus anak. Kemampuan memenej waktu, agar suami dan istri bisa istirahat dengan optimal. Yang kebanyakan terjadi adalah kelabakan, kaget, dan learning by doing, tapi without knowing. Bisa tapi terpaksa dan tergesa-gesa, sehingga tetap bermasalah. Dan banyak lagi contoh yang lainnya.

Hal pertama yang tentunya harus ada adalah keinginan dan kemauan untuk selalu belajar.

Kita sekarang berada di era new Renaissance kata Gordon Dryden dan Jeannette Vos dalam buku mutakhirnya, Unlimited. Dunia di mana internet akan menjadi pusat dari segala pengetahuan. Kita sekarang berada di era Web 3.0, kata Thomas L Friedman di bukunya “The World is Flat”. Era di mana sudah tidak ada batas lagi di antara individu- individu di planet bumi.

Multi tasking ability

Apapun pekerjaan anda sekarang, apapun posisi anda sekarang, anda tetap harus mempunyai multi tasking ability.

Anda penulis? Anda harus bisa berbahasa Inggris, agar anda bisa mempunyai “bahan bakar” yang lebih banyak dan wawasan yang lebih luas untuk menunjang tulisan-tulisan anda.

Anda ustadz? Atau penceramah? Anda juga harus pandai menulis, anda juga harus lihai dalam ilmu komunikasi. Jangan sampai orang- orang akan terbengong-bengong membaca tulisan anda, atau mendengar ceramah anda, dan harus berpikir sangat keras hanya untuk sekedar mengerti apa sebenarnya yang ingin anda sampaikan. Jangan sampai orang menganggap anda membosankan. Anda juga harus tahu ilmu psikologi, ilmu presentasi. Anda harus “terjun” ke dunia maya, agar lebih banyak orang untuk berbagi dengan anda. Anda harus tahu manajemen waktu.

Anda karyawan di sebuah perusahaan? Sama! Bahasa Inggris, Internet, skill komputer, Bahasa Inggris, Manajemen Waktu, kemampuan berkomunikasi dengan baik, pasti akan menjadi nilai tambah yang sangat penting di mata atasan anda.

Anda pengusaha? Siap- siap saja untuk tenggelam oleh para kompetitor baru jika anda tidak mengupdate diri anda, jika anda tidak selalu mencari informasi terbaru.

Bahkan seorang ibu rumah tangga pun, harus selalu mengupgrade pengetahuannya, bukan hanya mengupdate status di Facebook saja. Siap- siap saja untuk frustasi meghadapi suami dan anak- anak jika anda tidak bersiap dengan ilmu yang mumpuni.

Bagaimana dengan seorang Pria? Suami ? Ayah?

Dialah yang harus menjadi pusat perubahan di keluarganya. Dia yang harus selalu menjadi katalis untuk perubahan dalam keluarganya. Dia harus selalu mendukung, bekerja sama dan memberi kemudahan untuk istri dan anak- anaknya dalam mencari ilmu.

Sekarang kita berada di era Globalization 3.0, era di mana setiap individu di dunia ini bisa bersaing dan berkolaborasi tanpa batas.

Selamat berjuang untuk terus belajar di era tanpa batas ini, dan semoga bisa menjadi jalan untuk kita untuk sukses dunia akhirat.

Tiada detik yang tersia!

Tiada sukses tanpa disiplin!

***

*) Diday tea<br>

*) Ambasador Rumah Dunia di Arab Saudi<br>
Sabtu yang dingin di tengah gurun, 6 Maret 2010.<br>
*) Klik www.didaytea.com

KELOMPOK PANDEGLANG

Oleh Machsus  Thamrin*

Ada yang hilang dari genggaman tangan, dan meluncur lewat sela-sela jari (Taufik Ismail)

AKSI  tembak-tembakan ala koboi yang  diperagakan polisi di Pamulang Selasa lalu dan di Aceh Besar beberapa hari terakhir, mengusik  hati saya.Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, mengatakan  latihan yang dilakukan kelompok yang diduga teroris itu tak dilakukan oleh mantan gerakan Aceh Merdeka. Irwandi menuding, latihan itu dilakukan teroris, yang merupakan poros baru kelompok teroris Banten-Jawa  Barat dan Jawa Tengah. Lebih spesifiknya mereka yang dari Banten itu berasal dari Pandeglang. Di Harian Kompas Rabu kemarin, Herman RN, salah seorang mahasiswa pasca sarjana Universitas Syah kuala Bandaaceh menulis, anggota Jamaah Islamiyah yang berada di Aceh berasal dari Pandeglang. Saat ini mereka masih melakukan latihan di Pegunungan Jantho Aceh.

Selain kasus suap dan korupsi berjamaah, kelompok teroris,belakangan nama kelompok Pandeglang juga dikaitkan dengan kelompok pencuri kendaraan bermotor di berbagai kota.

Lantas apa yang terjadi di Pandeglang hingga cerita-cerita  buruk ini yang kemudian muncul? Salah apa Pandeglang, sehingga stigma buruk ini ditimpakan kepadanya? Kemana perginya tradisi religius dan semangat pantang menyerah orang –orang Pandeglang? Kemana perginya tradisi intelektual yang dipelopori Prof Bachtiar Rifai, Prof Herman Haeruman, Muchtar Mandala dan Kang Eki Sjahrudin?

Saya menghibur diri, dengan mengatakan masih banyak yang memiliki semangat dan tradisi itu.  Saya beruntung menjadi saksi pada pengukuhan seorang saudara dan sahabat saya Dr Ibnu Hamad, dalam sebuah forum yang amat terhormat, menjadi seorang gurubesar di Universitas Indonesia, salah sebuah universitas yang membanggakan bagi
bangsa ini akhir Februari 2010 lalu. Momen itu jadi penghibur, ditengah kegalauan saya beberapa hari terakhir ini.

Lama mengenalnya. Dengan demikian, saya tahu persis, betapa kehormatan itu tak diperolehnya dengan mudah. Sebagai orang yang lahir di kabupaten yang sama, Pandeglang, saya tahu persis betapa Ibnu harus merebut dan mewujudkan cita-citanya dengan segala perjuangan. Berbagai keterbatasannya, mulai dari lingkungan , ekonomi, fasilitas belajar di sekolah  hingga komitmen pemerintah daerah mendorong putra-putra terbaiknya untuk bisa sekolah di perguruan tinggi terbaik di negeri ini, menjadi sebuah contraint bagi berkembangnya bibit-bibit unggul seperti Ibnu ini.

Waktu itu, tak banyak lulusan SMA di kota kami yang mampu melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Keterbatasan ekonomi, fasitas, membuat kami tak mempu bersaing dengan rekan-rekan kami yang berasal dari kota-kota lain.

Namun saya menyaksikan beberapa diantara rekan kami, seperti ini Ibnu  ini mampu keluar dari jebakan keterbatasan struktural. Ia tak pernah mempedulikan apakah pemerintah kabupaten mengalokasikan dana yang cukup bagi sekolah-sekolah menengah agar mengejar ketertinggalannya.

Yang dia lakukan adalah berangkat ke Depok dan berjuang disana. Ibnu tak sendirian, ada beberapa diantaranya punya potensi dan kemauan yang keras sepertinya, dan menuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi dan mereka kita menjadi “landmark”  angkatan kami. Sebut saja  Dr Mukhlis Yusuf, yang kini Dirut LKBN Antara dan  Presiden Asosiasi Kantor Berita Asia Pasific (Oana), atau U Saefuddin Nur, Head of Syariah Banking CIMB Niaga yang sebelumnya sukses memimpin Bank Muamalat sebagi direktur. Rekan kami yang lain  Agus M Tauchid (Kepala Dinas
Distanak Banten) dan Agus Mulyadi Randil  (Kepala Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Banten) memilih mengabdikan diri sebagai birokrat di kampung halaman.

Saat mendengar pidato itu, pikiran saya menerawang. Saya bayangkan, kalau saja uang Rp 1,5 miliar yang digunakan untuk menyuap anggota DPRD itu digunakan untuk bea siswa anak-anak berbakat, betapa banyak  anak-anak yang punya potensi bisa menyelesaikan sekolahnya. Katakannya untuk mencetak seorang sarjana diperlukan dana Rp 30 juta per orang, untuk membayar SPP dan biaya hidup. Maka selama 4 tahun ada 50  orang anak-anak muda berbakat, yang bisa diluluskan dan punya komitmen yang kuat untuk membangun daerahnya, dan pasti akan punya rasa malu, untuk korupsi jika dia bekerja, karena selama dia belajar dibiayai penuh oleh rakyatnya. Dan kalau setiap tahun pemerintah daerah mengalokasikan jumlah yang sama, berarti selama masa kepemimpinan seorang bupati atau kepala daerah ini, bisa melahirkan 250 anak berbakat menjadi sarjana, yang suatu waktu kelak akan menjadi bupati, anggota DPRD atau profesor seperti Ibnu Hamad.

Berkeliling ke pelosok Pandeglang dalam dua tahun terakhir ini, saya jadi memahami betapa banyaknya faktor pendorong yang menjadikan anak-anak muda itu bertekad keluar Pandeglang. Tak perlu terlalu jauh, di sepanjang jalur pariwisata utama poros Labuan-Tanjung Lesung-Sumur saja, infrastruktur jalan kian parah. Ditengah fragmentasi dan alih fungsi  lahan yang terjadi begitu masih saat ini, sektor pertanian menjadi kian tak menarik banyak anak muda belakangan ini.

Berharap mengabdikan diri menjadi pegawai negeri. Ini juga tak mudah, hanya mereka yang beruntung bisa kuliah yang saat ini bisa jadi PNS.Itupun harus menyiapkan dana puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk  menyuap agar bisa jadi PNS.

Terlalu utopis jika saya berharap, makin banyak anak-anak muda Pandeglang yang mampu keluar dari berbagai jeratan dan keterbatasan struktural, seperti yang dilakukan Ibnu, atau banyak juga anak-anak muda Pandeglang yang tergabung dalam kelompok aktivis Pandeglang  yang  muncul, dan tetap memilihara semangat berjuangnya  macam Yogi, Tb Nuruljaman, Heru Fahrudin  dan Uday Syuhada .

Maka dengan sedih hati saya katakan, mereka yang tersesat menjadi teroris atau menjadi kelompok pencuri kendaraan bermotor yang terkenal dengan nama kelompok Pandeglang, adalah mereka yang frustrasi, akan semua keterbatasan dan kemiskinan  yang membelenggunya. Sementara mereka tahu persis, janji manis calon wakil rakyat yang kini duduk manis, dan calon pemimpin daerah yang kini bersiap membujuk mereka, yang berjanji memperbaiki kehidupan rakyat Pandeglang, hanya manis saat kampanye.Begitu terpilih nanti, mereka itu  bakal sibuk melakukan pengumpulan
sumberdaya ekonomi, dan memperkuat jaringan kekuasaan untuk bersiap melanggengkan kekuasaan menuju pemilihan berikutnya. (*)

*Penulis adalah pekerja televisi

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010