S A N G B I D U A N

http://2.bp.blogspot.com

http://2.bp.blogspot.com

Oleh: Ahmad Wayang

Kini gadis berambut panjang dan bertubuh ramping itu mulai dilirik orang. lanjutkan membaca »

DIALOG DENGAN TSUNAMI

TsunamiOleh : RG. Kedung Kaban

Teuku baru saja tersadar dari pingsannya. Kedua matanya yang mulai terbuka mengedarkan pandangan ke setiap penjuru. lanjutkan membaca »

PULANG DARI HAJI

Uang Palsu comOleh Gol A Gong

Akbar tersenyum lebar. Dia duduk di kursi singgasana, bersarung poleng, koko, kopiah, yang kesemuanya dia beli di Arab Saudi, negeri muslim dengan kekayaan melimpah ruah. lanjutkan membaca »

RUMAH BESAR

Rumah Dinas_A

Sebenarnya aku malas pulang ke rumah, awalnya ingin berlibur ke Bali bersama teman-teman setelah sibuk shoting film layar lebar yang telah banyak menyita waktu untuk bekerja. lanjutkan membaca »

MATA BIRU KARTINI

PICT5255Oleh Wanja

Siou Yu membuka matanya pelan. Pandangan matanya masih samar-samar. Maklum saja sinar rodopsin[1] baru saja terurai sehingga mata belum bisa menangkap cahaya secara normal. Dari dalam kamar, ia mendengar suara Maminya yang melengking. Ah…sudah hal biasa kalau Maminya paling pantang melihat anak gadis yang suka bangun kesiangan.

Sejak semalam suasana rumah terlihat sibuk sekali. Mami Siou Yu menyiapkan makan malam yang meriah. Begitu bergembira menyambut perayaan Cap Go Mee. Martha,  adik Siou Yu sedang asyik menyusun kue bulan, pisang raja dan jeruk bali ke dalam keranjang sebagai persembahan nanti di pulau Kemaro.  Sekitar dua puluh tongkang [2]sudah sejak semalam nangkring[3] di Benteng Kuto Besak kota Palembang. Tongkang-tongkang inilah yang akan membawa mereka sampai ke Pulau Kemaro.

Kelenteng di pulau Kemaro amatlah unik, bukan hanya karena karakternya
yang “hybrid”, namun terutama karena arahnya yang menghadap ke Qiblat,  mengikuti arah makam Siti Fatimah. Gaya arsitektur campuran Cina –
Palembang – Jawa – Arab – India nampak jelas dari ornamen, patung, warna,
struktur, serta detil bangunannya. Asap dupa mengepul dari batang-batang
hio raksasa yang ditancapkan berjajar di poros kelenteng, mengiringi bubungan asap pembakaran kertas bertuliskan harapan, permohonan, dan doa
syukur masyarakat, yang dibakar pada pagoda segi delapan beratap kubah ala
masjid di ujung Qiblat pulau Kemaro.

Siou Yu lari berjinjit masuk ke kamar mandi.  Langkahnya hati-hati takut terlihat oleh Maminya. Karena Mami sangat sebal melihat anaknya masuk ke kamar mandi hanya mengenakan kain handuk saja-tidak sopan katanya. Siou Yu  tak ingin ketinggalan tongkang. Selesai mandi ia menghubungi Kartini, teman karibnya yang sudah bagai saudara sendiri.

“Aku tunggu di Benteng Kuto Besak ya, di garang[4] tempat naik tongkang, oke?” teriak Siou Yu pada Kartini dari ujung telepon selularnya.

“Oke,” jawab Kartini singkat.

*****

Mobil Siou Yu sampai di pelataran Benteng Kuto Besak. Matanya langsung mencari sosok Kartini. Sosok yang dicarinya tampak sederhana-hanya mengenakan kemeja dan rok dibawah lutut, Kartini mampu membuat banyak mata meliriknya. Bukan hanya kesederhanaannya yang memikat-tapi lebih dari itu, mata biru Kartini membuat kagum banyak mata. Sepasang mata biru yang begitu mencolok diantara ratusan mata coklat sipit khas China.

Kakek Kartini keturunan  Belanda yang menikah dengan neneknya asli Palembang. Meski ayah dan ibu Kartini bermata coklat pekat, tetapi mata biru kakeknya itu kini menurun kepadanya. Ayah Kartini memiliki satu getek[5] yang dipakai sebagai sumber mata pencaharian. Kehidupan keluarga Kartini bisa dibilang sangat sederhana. Jauh dari hingar-bingar kemoderenan.

Kartini dan Siou Yu duduk dipinggir jendela. Tongkang-tongkang berjalan pelan melewati bawah jembatan Ampera. Bunyi gong dan musik-musik menggema sungai Musi. Warga yang tinggal disekitar sungai berebut ikut menyaksikan ramainya tongkang yang dihias warna-warni itu. Teriakan-teriakan anak kecil bertelanjang dada mengoceh seadanya-tanpa beban.

“Ang Pao nyo oiiii, cino kulub,” teriak anak-anak kecil dari pinggiran sungai Musi. mencoba mencerna teriakan-teriakan tadi.

“Cino kulub?” Siou Yu sedikit tersinggung-tampak sedang mencerna teriakan-teriakan tadi.

“Ah biasalah anak-anak, yang mereka  tahu kalau keturunan Cina itu tidak pernah di khitan, makanya digelari Cino kulub, Anak-anak selalu berkata jujur apa adanya,” balas Kartini sambil menyunggingkan senyum termanisnya.

“Hei, apa kamu mau diramal nanti? Kami percaya kalau ramalan di pulau Kemaro sering terbukti. Biasanya peramal akan melihat peji[6]mu. Kalau cocok dengan apa yang diramalkan, dia akan bilang hap,[7]” Ajak Siou Yu.

“Ehm, Islam melarang kami mempercayai ramalan, lagipula  apa yang mau diramal dari seorang Kartini seperti aku ini,” balas kartini sopan.

“Kamu seperti encek[8], tidak suka diramal, hahaha,” Siou Yu tertawa renyah.

Tongkang sudah menepi di jembatan ponton pulau Kemaro. Mamang[9] yang mengendarai tongkang mengikatkan tali kapal ke tongga[10] setelah tongkang merapat. Asap hio dari gaharu besar yang berada di tengah ruangan Kelenteng Hok Tjing Bio dan di halaman menebarkan bau yang khas. Tanpa di komando warga Tionghoa langsung menuju ke altar Thien ( Tuhan yang maha Esa) lalu ke makam buyut Siti Fatimah dan ke altar Dewa Bumi (  Hok Tek Chien Sin ). Mereka membakar kertas Kim Coa, kertas berisi harapan. Aroma hio wangi langsung menusuk hidung.  Hio-hio itu dipasang di altar Thien yang secara harfiah berarti langit. Namun oleh sebagian penganut Konghucu dan Buddha Thien juga disebut sebagai Tuhan Yang Maha Esa.

Kartini duduk menyaksikan upacara sembahyang dari jauh. Ia duduk menyepi di pinggiran sungai. Lalu, Siou Yu datang dengan dua gelas soft drink.

“Jika suatu hari aku tak bisa mengingatmu lagi, apa kamu akan tetap mengingatku?” Mata biru Kartini menatap pekat pada Siou Yu.

“Kalau itu terjadi padaku, aku akan sungguh menyesal. Tapi, kamu adalah teman terbaik yang tak  pantas untuk dilupakan meski rentang waktu memisahkan kita,” Jawab Siou Yu haru.

“Kalau begitu maafkan aku tak sempat memberitahumu karena besok sudah harus berangkat ke Jeddah. Aku sudah diterima kontrak kerja disana tiga tahun. Doakan aku yah?” pinta Kartini.

“Ta-pi apa kamu serius?”

“Aku harus menjadi lebih kuat untuk keluargaku. Aku akan mengirimimu surat sesering mungkin, oke?” Kartini mengajak beradu tos.

Dengan lunglai tangan Siou Yu dipaksakan untuk menerima tangan Kartini.

“Oke.” Balas Siou Yu lesu.

****

Siou Yu menatap kotak surat dirumahnya dengan wajah sumringah. Ini adalah surat pertama dari Kartini setelah satu tahun mereka tak berjumpa. Wajah kerinduan tampak terpancar di sudut-sudut sketsa wajah Siou Yu.

Salam Rindu untukmu Siou Yu,

Hai Siou Yu. Apa kabarmu? Ehem..kuharap kamu sedang bahagia hari ini. Seperti aku sekarang. Alah,  ketakutanmu  tentang manjikanku tidak beralasan. Mereka sangat baik padaku. Kerjaku tidak sesibuk yang kubayangkan dulu, meski nyonya rumah lumayan cerewet hehe…biarin, cerewet bisa bikin dia cepet tua.

Kadang banyak hal lucu yang terjadi disini. Seperti semalam, jam dua pagi kami semua disuruh keluar rumah. Kukira ada kebakaran, tapi ternyata cuma hujan doang. Emang sih, disini jarang banget  terjadi  hujan kayak semalem. Makanya mereka bilang hujan adalah air keberkahan. Kalo di Indonesia hujan udah biasa, malah kadang jadi beban buat kita. Ya gak? Trus gimana kabar Martha dan Mamimu. Jangan bilang-bilang yah kalo terakhir ke rumah aku ngabisin kue bulan Mamimu satu kotak. Salam untuk semua dan selalu doakan aku.

Kartini

Segera tangan Siou Yu mengambil pena dan membalas surat kartini.

Dear Kartini,

Kabarku baik dan pastinya aku bahagia sekali mendengar kabarmu yang berbahagia. Aku merindukanmu. Oh ya, Martha sekarang kuliah di Jepang. Biasa anak pinter, jadinya dapet beasiswa gitu. Sementara aku ikut bisnis sama Papi.  Ternyata jadi anak bos itu banyak gak enaknya, gak bisa mandiri kayak kamu hiks..

Mami ngejodohin aku dengan Frans, tapi aku gak mau. Mami yang maksa, sebel banget jadinya. Kata Mami, kawin dengan Frans masa depanku terjamin. Masa sih, kamu kan kenal Frans orangnya gimana, gak nyambung banget sama aku. Tolongin gimana nih. Mami lagi bikin kue bulan, kamu mau?

Siou Yu

Kartini melipat surat dari Siou Yu. Tangannya sedikit gemetar karena Kerongkongannya belum tersentuh makanan sejak pagi. Nyonya Ahmed majikannya sedang marah besar hari ini. Sejak dua hari lalu Kartini mengadukan soal anak majikannya yang berniat memperkosanya. Kartini dianggap telah mencemarkan nama baik keluarga Ahmed. Waktu itu Abu Sofyan-anak majikannya menyelinap diam-diam ke kamarnya. Lalu memeluknya dari belakang. Samar-samar Abu Sofyan merayunya dalam kegelapan.

Zarqaul Aini,[11]” Kata-kata Abu Sofyan terdengar begitu bernafsu.

Kartini begitu ketakutan. Sekuat tenaga diterjangnya laki-laki itu. Dengan nafas terengah ia bisa melepaskan diri dari jeratan Abu Sofyan. Kartini bersembunyi di dalam kamar mandi, dan tak berani keluar sampai besok paginya.

****

Pandangan mata Kartini terasa gelap. Dahinya berdarah terkena lemparan piring oleh Ny.Ahmed. Diusapnya pelan darah di dahinya itu dengan gugup. Tak terdengar lagi ceracau dan makian majikannya itu. Karena telinganya sudah hampir tuli terkena lemparan gagang sapu dari besi kemarin. Terhuyung-huyung Kartini mencoba untuk bertahan, namun daya tahan tubuhnya berangsur meringsut. Kartini jatuh terkapar di lantai dapur.

Esoknya Kartini tersadar di ruangan gelap. Dan ia tahu betul kalau tempat yang ditidurinya sekarang adalah gudang perlengkapan. Tanpa makanan dan setetes air, Kartini mencoba untuk bertahan dan tidak membuang energinya sia-sia. Untunglah di tempat gelap ini tak ada tikus atau kecoa. Setidaknya itu bisa menyelamatkannya dari rasa takut yang mendera. Terdengar suara langkah kaki mendekat. Kartini tampak gugup-menyeret tubuhnya ke sudut ruangan.

“Kali ini kamu tak bisa lepas dariku, si mata biru yang indah.” Suara Abu Sofyan bagai Srigala yang siap menerkamnya.

“Tidak, tolonglah. Anggap aku sebagai saudaramu. Aku mohon.” Teriak Kartini.

Abu Sofyan seperti kerasukan setan. Tak dihiraukannya lagi tangisan Kartini.

“Kau seperti Dajjal, Allah akan melaknatmu. Ingatlah pada hari akhir, Abu Sofyan. Allah akan melaknatmu,” balas Kartini lagi dengan bahasa Arab yang terbata-bata.

Abu Sofyan mendekat, menerkamnya dengan penuh nafsu. Kartini terkapar dengan darah bercampur keringat yang mengecer di lantai. Kartini mencoba mengais sisa-sisa energi yang ia punya. Tidak susah baginya mencari kertas dan pena. Karena memang ini gudang perlengkapan kantor milik majikannya. Tangannya gemetar memegang ujung mata pena.

Assalamualaikum. Wr.wb

Untuk seseorang mulia yang menemukan suratku ini.

Mohon, sampaikan suratku ini ke KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Arab Saudi. Aku seorang TKW, namaku Kartini. Majikan  mengurungku dan menyiksaku di gudang rumahnya. Aku sekarang tak berdaya lagi, setelah berkali-kali diperkosa oleh Abu Sofyan-anak majikanku. Engkau telah dipilihkan oleh Allah Swt untuk menerima suratku ini. Tolonglah aku. Allah Swt akan membalas kebaikanmu dengan berlipat-lipat keberkahan. Aku hanya mampu bertahan sebentar karena tak ada makanan dan minuman disini. Oksigen yang kudapatkan juga sangat terbatas.  Terima kasih atas kebaikanmu, wahai orang yang mulia.

Wassalamualaikum. Wr.wb.

Sekuat tenaga Kartini membuka pintu jendela gudang dan melemparkan surat itu keluar, hanya setitik harapan dan keyakinan bahwa surat itu bisa ditemukan oleh seseorang di luar gudang.

****

Siou Yu terbangun dari tidurnya dengan cucuran keringat sebesar bola bekel. Ia bermimpi tentang Kartini yang tenggelam di sungai Musi. Tangan Kartini mencoba menggapai-gapainya, Siou Yu hampir bisa menangkap tangan Kartini, tapi tiba-tiba gengaman itu terlepas. Dan Kartini hanyut ditelan ombak.

Siou Yu tampak gemetar. Tanpa mandi ia langsung mengambil ponsel dan kunci mobilnya. Ia takut terjadi apa-apa pada sahabatnya itu. Sudah lama sekali suratnya tak kunjung ada balasan dari Kartini, mungkin ini suatu pertanda buruk. Siou Yu menuju ke Benteng Kuto Besak. Tujuan tempat dalam pikirannya hanya pulau Kemaro. Ia ingin mendoakan keselamatan Kartini disana.

Getek berjalan pelan menerjang ombak. Melewati aliran sungai kehidupan-Venesia dari timur. Begitu kata orang-orang Eropa tentang kota Pempek ini. Getek-getek yang berseliweran ini seperti Gondola-gondola[12] di Venesia. Pasar 16 Ilir tampak sedang ramai. Banyak tongkang mengangkut barang-barang yang baru datang.

Getek sudah merapat ke jembatan ponton. Siou Yu langsung menuju ke altar Thien. Dengan khusyuk ia berdoa, meminta keselamatan untuk Kartini. Tangis Siou Yu pecah disitu. Bayangan wajah Kartini dengan mata birunya yang khas menyelinap di ujung pelupuk matanya. Gadis itu seperti Ibu Kartini, sosok wanita kuat yang tak lekang dimakan usia.

****

Sosok  Kartini ditemukan oleh petugas dua hari setelah surat Kartini sampai ke KBRI di Arab Saudi. Keluarga Ahmed sedang menjalani proses pemeriksaan. Keluarga Siou Yu yang mendengar kabar tentang Kartini langsung membentuk tim pembela yang didatangkan khusus dari Indonesia. Surat kabar tanah air begitu ramainya membicarakan persoalan nasib menyedihkan para TKW yang tak kunjung usai ini.

Siou Yu berjalan pelan melewati sekat-sekat lorong sempit di rumah sakit. Tangannya menggengam erat tangan penuh keriput milik Ayah Kartini. Hatinya berkecamuk-hancur lebur. Ia yakin hati ayah Kartini pasti lebih sakit lagi melihat penderitaan anak kebanggan keluarganya.

Siou Yu mendengar suara jeritan dan lengkingan. Para suster rumah sakit tampak sedang menyuntikan obat penenang pada pasien yang berteriak itu. Dari jauh Siou Yu melihat wajah penuh ketakutan yang mulai lunglai karena pengaruh obat penenang. Siou Yu memerhatikan dari jauh. Lalu ia berlari sekuatnya hampir tersungkur. Mata itu….mata biru yang dikenalnya tampak kuyu dan mulai menutup pelan.

“Kar-tini…,” teriak Siou Yu menggema ke seluruh ruangan.

Tangis Sio Yu meledak. Ia tiba-tiba teringat ucapan terakhir Kartini ketika di Pulau Kemaro.

“Jika suatu hari aku tak bisa mengingatmu lagi, apa kamu akan tetap mengingatku?”

Siou Yu memeluk Kartini erat, serasa tak ingin dilepaskannya pelukan itu. (*)

*) Penulis peserta Kelas Memulis Rumah Dunia angkatan kelima, asal Palembang. Kii berdomisili di Banjarmasin, Kakimantan.


[1] Sinar yang mempengaruhi penangkapan cahaya dari gelap ke terang

[2] Kapal-kapal besar yang bisa mengangkut sekitar 200 orang

[3] Menetap atau berada

[4] Jembatan lebar yang biasanya terbuat dari kayu Ulin

[5] Perahu bermesin yang bisa mengangkut sekitar 10-15 orang

[6] Ruas jari tangan

[7] Ya atau sesuai

[8] Paman

[9] Tukang/ Supir

[10] Kayu penyangga yang biasa digunakan untuk mengikatkan tali kapal

[11] Si Mata Biru

[12] Perahu di Venesia

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010