<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; Cerpen</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/category/x3-cerpen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 14:19:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>BARAKAH</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/08/06/barakah/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/08/06/barakah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Aug 2010 12:19:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[fokus]]></category>
		<category><![CDATA[Kiai]]></category>
		<category><![CDATA[penting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4205</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Langlang Randhawa*
Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen Langlang Randhawa*</p>
<p>Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung seksi elpiji yang larisnya minta ampun dan minta korban itu. Lupakanlah. Apalagi orang-orang pajak yang belakangan sibuk beriklan besar-besaran agar kamu taat pajak setelah pesta gede-gedean mereka sendiri dipromosikan media secara paksa. Mereka tidak penting. Semua itu hanya candaan. Goyunan saja. Aku. Aku ini yang penting buat kamu. Penting buat masa depan kamu dan keluargamu. Aku ini bermanfaat bagimu. Garansinya dunia akhirat, lho! Dengarkan baik-baik. Gawat kalau kamu tidak menyimak, apalagi tertidur.</p>
<p>”Baiklah. Aku akan simak.”</p>
<p>Nah begitu, dong. Tapi aku ingin kamu serius. Apakah kamu benar-benar?</p>
<p>“Insya Allah aku serius.”</p>
<p>Jangan pakai Insya Allah. Aku ragu dengan Insya Allah yang keluar dari mulutmu. Lha wong Insya Allah yang keluar dari bapakku juga aku masih tak percaya. Dia selalu berkata Insya Allah kalau diajak bersepakat, tapi dia selalu melupakan begitu saja.</p>
<p>”Ya, itu bukan salah Insya Allah-nya. Bapak kamu saja yang pikun!”</p>
<p>Eh, jaga mulutmu itu. Apakah kamu lupa, ayahku itu seorang kiai. Kiai besar. Tahukah kau, di mana? Di Banten! Banten. Semua orang tahu nama itu. Banten! Jangan gegabah kamu kalau bicara. Jika ayahku marah, maka seucap kata sekilat nyata! Wih!</p>
<p>”Iya.. Kiai juga manusia, bos! Dia bisa lupa. Khilaf. Seperti mereka juga.”</p>
<p>Siapa? Perasaan dari tadi di sini tak ada siapa-siapa, selain penjaga itu.</p>
<p>”Sudahlah. Sudah malam. Suaramu lebih berisik dari nyamuk broiler di sini! Kalau bukan karena ilmu barakah yang saya dapat waktu di pesantren, sudah aku sungsang kepalamu sampe isi kepalamu jadi koplak! Sudah! Aku mau tidur saja..”</p>
<p>Ah, jangan begitu kamu. Jangan dulu tidur. Ini sudah sepertiga malam. Segala pinta kita akan diijabah karena malaikat langsung yang turun melakukan checklist para manusia yang terjaga untuk beribadah. Apakah kau tidak pernah mendengar hal itu selama ini?</p>
<p>”Iya. Aku pernah mendengarnya. Tapi kita ini kan tidak sedang beribadah tahajjud atau bermunajat pada Allah. Kita ini hanya mengobrol ngalur ngidul nggak karuan lalu tidur saat bedug subuh menjelegur!”</p>
<p>Ha ha! Menjelegur? Apa itu menjelegur? Bahasamu berantakan. Sangat nampak lisanmu tidak tersentuh pelajaran balaghah, apalagi nahwu dan sharaf.</p>
<p>”Sudahlah.. jangan banyak cingcong! Aku mau tidur.”</p>
<p>Jangan dulu tidur. Apakah kau tidak tahu siapa aku?</p>
<p>”Tahu!”</p>
<p>Tahu dari mana kamu? Bukankah aku baru hari ini berada di sini?</p>
<p>”Bapakmu!”</p>
<p>Maksudmu apa?</p>
<p>”Bapakmu itu yang kiai adalah guru ngaji aku! Dia menitipkan dirimu padaku.”</p>
<p>Lha.. berarti kamu sudah tahu siapa aku?</p>
<p>”Ya iyalah.. kamu anaknya Kiai. Pasti mau ngomong, jika taik ayam kesayangan anak kiai saja harus dihormati dan dielus-elus, apalagi anaknya. Harus dihormati seperti buapak moyangnya juga. Supaya ilmuku manfaat dan masa depanku kelak penuh barakah! Betul?”</p>
<p>Ho-oh! Ya, betul. Itu betul; Insya Allah kamu barakah!</p>
<p>”Preeet!”</p>
<p>Hey, apa maksud bunyi dari mulutmu itu?</p>
<p>”Iseng saja. Sudah, aku mau tidur anak Pak Kiai! Cape, deh!”</p>
<p>Sstt…mudah-mudahan dia sudah tidur. Dasar mulut durhaka!</p>
<p>***</p>
<p>Eh, kau. Sudah bangun ternyata. Santai sekali kau. Bibirmu sudah basah dan perutmu nampak tambah menggembung. Ingin sekali aku pun demikian. Semoga kau paham. Eh, apakah aku boleh tahu, sudah jam berapakah ini? Nampaknya hari sudah siang. Aku harus shalat duha, supaya rizki ayahku melimpah di rumah. Tapi bisakah kau ambilkan sarapan dan minumanku. Insya Allah barakah..</p>
<p>”Iya, nanti diambilkan. Bukankah ayahmu sudah kaya di kampung. Buat apalagi kau mendo’akan ayahmu mendapatkan rizki melimpah?”</p>
<p>Oh, soal itu hanya Ayah saya yang tahu. Saya kurang paham soal itu. Nanti dia akan cerita kalau dia ke sini. Dia lebih ahli. Konon sih buat urusan aku di sini juga.</p>
<p>”Kan kamu anak kiai? Masa’ kamu tidak bisa menjelaskan.”</p>
<p>Iya, sih. Tapi kan kamu tahu, jika sesuatu perkara ditangani oleh bukan ahlinya, maka tunggulah saja kehancurannya. Sudah, ya. Aku mau shalat dulu..</p>
<p>”Shalat apa?”</p>
<p>Kan aku sudah bilang. Shalat duha. Gawat kamu ini! Pasti jarang baca Al-Qur’an sehingga kau cepat pelupa. Cepat pikun! Bacalah Al- Qur’an maka daya ingatmu kuat.</p>
<p>”Tapi kamu kan tidak shalat subuh tadi. Apa kamu tidak malu sama Allah.”</p>
<p>Kenapa harus malu dalam beribadah? Makanya ngajinya diselesaikan.</p>
<p>”Aneh. Kamu ini&#8230; yang wajib ditinggal, yang sunah dikejar.”</p>
<p>Yah, aku hanya ngalap barakah datangnya waktu duha saja. Lagian kalau tidak salah, ada satu ulama madzhab yang memberikan fasilitas qodho solat jika kesiangan. Kamu sih di sini saja. Tidak pernah mengaji. Agama menyediakan banyak fasilitas ibadah yang bisa dinikmati, lho. Agama itu memudahkan, tidak menyulitkan. Percayalah. Aku ini anak kiai.</p>
<p>”Huh! Anak kiai bongkrek! Ibadah kok buat main-main.”</p>
<p>Sudahlah. Ambilkan aku sarapan! Ilmumu belum sampai pada level sekelas aku. Kau hanya akan merasa emosi dan kesal padaku. Tapi percayalah itu hanya godaan. Semoga kau bersabar. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang sabar. Ambil sana. Insya Allah barakah.</p>
<p>“Preettt!”</p>
<p>Meledek lagi kamu? Cobalah… yang ikhlas kalau mau membantu anak kiai. Insya Allah barakah dunia dan akhirat. Sudah, ambil sarapan sana, aku mau shalat dulu.</p>
<p>”Lho nggak wudhu dulu?”</p>
<p>Tayamum di sini saja.</p>
<p>”Lho.. kan ada air di sana.”</p>
<p>Jauh. Kalau saya ke sana, bisa-bisa waktu afdhol shalat duha keburu habis. Sudahlah. Sekali lagi, banyak fasilitas ibadah yang belum kita cicipi. Asal kita yakin dan tau ilmunya saja. Bukan begitu? Ayo cepat, ambilkan aku sarapan.. Insya Allah kamu barakah!</p>
<p>”Preeett!”</p>
<p>Hih! Dasar mulut durhaka!</p>
<p>***</p>
<p>Innalillahi! Lama sekali kamu ini. Ditunggu dari tadi baru nongol! Ambil sarapan saja kayak santri gali sumur. Sini sarapannya. Aku sudah lapar. Kamu merusak segalanya!</p>
<p>”Maaf.. selain di sana ngantri, aku tadi jalannya santai. Aku pikir karena kamu akan shalat duha dulu. Setahuku, shalat duha itu rakaatnya banyak.”</p>
<p>Ah, kamu ini. Dasar santri tanggung. Pasti kamu mondoknya tidak selesai. Baru bisa pakai sarung dan masak jangan dulu pindah. Bahaya. Orang sepertimu membahayakan. Ilmumu melangit tidak, membumi juga nggak. Ibarat pohon, kamu ini bakal jadi tidak jelas pohon apa. Ke atas tak berbuah, ke bawah tak berumbi. Hanya diombang-ambing angin.</p>
<p>“Meski halus, tapi sebenarnya kasar sekali bahasamu! Apa salahku? Sudah diambilkan sarapan, masih saja ngotot. Dasar anak kiai jeblug! Balo, kamu!”</p>
<p>Hei! Hei! Hati-hati kalau bicara. Baca kembali adab lidah dalam kitab-kitab! Ingat, kamu ini sebenarnya sedang diuji kesabaran. Kalau pun aku marah padamu, itu karena aku gagal berkonsentrasi dalam menangkap waktu afdhol shalat duha. Kamu tahu kenapa?</p>
<p>“Nggak. Dan aku sudah malas mendengarnya.”</p>
<p>Astagfirullah, kamu ini! Aku tidak bisa khusyuk shalat duha lantaran aku lapar. Makanya aku tidak dulu shalat, dan menungguimu sejak tadi. Bukankah kamu pernah mendengar orang-orang berkata, lebih baik saat makan memikirkan shalat dari pada shalat malah memikirkan makan. Ini jelas sekali. Ini soal kekhusyukan. Penting sekali soal itu. Astagfirullah, ya kariiiiiimm! Sabar.. sabar, ya Allah. Kamu ini telah membuat aku rugi.</p>
<p>”Kamu yang membuat aku rugi!!”</p>
<p>Apa maksud kamu? Kamu sudah berani membantah anak kiai rupanya. Bisa tidak barakah hidup kamu nanti. Istighfar kamu segera. Baru diuji seperti ini saja sudah kalah.</p>
<p>”Aku rugi karena beberapa hari mubadzir mendengarkan ocehanmu yang kebelinger itu. Pemahaman agamamu semrawut dan nyeleneh. Gara-gara kamu aku jadi kehilangan jatah rokok dan kopi yang biasa aku ambil dari blok sebelah! Kamu ini tidak pantas jadi anak kiai!”</p>
<p>Lha! Kalau aku tidak pantas jadi anak kiai, lantas aku cocoknya jadi anak apa?</p>
<p>”Anak Dajjal!! Puass!!”</p>
<p>Hey, tunggu. Mau ke mana kamu!?</p>
<p>”Pindah blok! Meski aku penjahat, muak aku sama kamu!”</p>
<p>Lalu aku sama siapa di sini?</p>
<p>”Ada penghuni baru. Kayaknya kamu bakal cocok sama dia!”</p>
<p>Siapa dia? Di mana?</p>
<p>”Sebentar lagi juga datang. Kamu pasti kenal sama dia.”</p>
<p>Tapi kamu jangan meninggalkan amanat begitu saja. Kamu sudah diperintah bapakku untuk menemaniku. Kalau terjadi apa-apa denganku bagaimana. Bersabarlah. Maafkan jika aku tadi sedikit kasar. Biasalah anak muda. Oke? Insya Allah barakah jika kau tetap bersabar.</p>
<p>”Makan tuh barakah! Barakah dari mulutmu bobrok!!”</p>
<p>Pikirlah masak-masak sebelum memutuskan sesuatu.</p>
<p>”Ini sudah aku pikirkan. Tugasku sudah habis.”</p>
<p>Apa maksudmu berkata demikian. Ingatlah agama mengajarkan, sampaikanlah pesan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tuturkata yang lembut agar orang bersimpati.</p>
<p>”Baiklah.. wahai anak kiai yang baik, lihatlah itu. Penghuni baru sudah datang. Sambutlah dia dengan bahagia. Insya Allah kalian di sini bakal penuh barakah. Rizki mengalir meski hanya tidur-tiduran saja seharian. Soal makan, minum, dan rokok-mah gratis! Barakah! Itu dia, di belakangmu. Sambutlah teman barumu! Kata penjaga sih, demi membebaskan anaknya di penjara ini, dia menggelapkan dana honor tenaga pengajar madrasah yang diamanahkan padanya! Ngakunya sih, dia khilaf dan sudah memanfaatkan fasilitas agama bernama istighfar, tapi nampaknya enggak mempan, tuh. Lihatlah! Kau pasti mengenalnya. Selamat menikmati. Insya Allah barakah!”</p>
<p>Lho, Bapak!?</p>
<p><em>* Penulis adalah wakil presiden Rumah Dunia. Menulis novel Slonong Boy Millionaire (B-First Mizan Group: 2009) dan Merah Putih di Old Trafford (Kaifa Mizan Group: 2010). </em></p>
<p><em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/08/06/barakah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BABI NGEPET BUKU</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/09/babi-ngepet-buku/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/09/babi-ngepet-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 13:41:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>
		<category><![CDATA[iqro]]></category>
		<category><![CDATA[perpus]]></category>
		<category><![CDATA[plato]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3492</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Langlang Randhawa*
Alkisah, Banten punya taman budaya yang megah. Gedung berlantai lima  yang berdiri di atas tanah bekas gedung kegubernuran Banten itu ramai  dengan diskusi mengalahkan hiruk-pikuk mall-mall. Selain berada di  jantung kota dan mewah, fasilitasnya pun mengalahkan Gedung Putih  Amerika; kenyamanan, keamanan, pelayanan, dan kebersihan sangatlah  terjaga dan tertata. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen Langlang Randhawa*</p>
<p>Alkisah, Banten punya taman budaya yang megah. Gedung berlantai lima  yang berdiri di atas tanah bekas gedung kegubernuran Banten itu ramai  dengan diskusi mengalahkan hiruk-pikuk mall-mall. Selain berada di  jantung kota dan mewah, fasilitasnya pun mengalahkan Gedung Putih  Amerika; kenyamanan, keamanan, pelayanan, dan kebersihan sangatlah  terjaga dan tertata. Ada perpustakaan di setiap sudut-sudut ruangan. Pun  di toilet. Akses internet gratis dan loadingnya secepat kilat  tergesa-gesa. Gedung itu sudah mencerdaskan warga Banten. Anak-anaknya  sehat dan cerdas. Pemudanya kritis dan santun. Pejabatnya bijak dan  berwibawa. Ekonomi rakyatnya sejehtera. Jalanan licin dan infastruktur  tertata rapih. Wisatanya menggeliat pesat. Tak ada lagi cottage yang  memagari pantai. Panorama lepas pandang pantai dan nelayan yang melaut  di samudra biru ternyata kunci sukses wisata bahari Banten. Investor  mengantri. Korupsi, kolusi, dan nepotisme sudah mati. Banten pun  diprediksi selamat dunia akhirat oleh para pengamat kehidupan dan  kematian. Sungguh prestasi yang didamba umat bangsa. Banten pun segera  menjadi kiblat peradaban dunia.</p>
<p>Suksesi ini hasil kerja sampingan. Tidak capek, dan sangat menyenangkan.  Kerja sambilan seorang pemuda tampan dan cerdas. Pemuda yang selalu  bermimpi. Pemuda yang bertahun-tahun bermimpi mendamba gedung kesenian  dan taman budaya. Baginya, setelah ada gedung kesenian dan taman budaya  yang mewah dan Islami, masyarakat akan cerdas sendiri. Cerdas Islami  berarti menuju sejahtera. Dia tidak harus memantau. Tidak repot. Tidak  ribet. Hidup pun bergairah. Penuh semangat. Semuanya aman. Polisi  tinggal santai karena warga tertib lalu-lintas. Hakim dan jaksa  menikmati hidup saja karena tak ada kasus di persidangan. Tak ada  maling, pengemis, anak jalanan. Semuanya sudah sejahtera. Kini pekerjaan  pemuda itu belajar dan belajar. Memimpin Banten adalah side job. Pemuda  itu memang fenomenal. Kiprahnya menggegerkan dunia. Entah dari mana,  buku-buku terbaru dari dalam dan luar negeri sudah ia koleksi dengan  cepat. Sebagian buat pribadi dan lainnya untuk perpustakaan. Maka  jadilah Banten jadi rujukan referensi pelajar, mahasiswa, dan kaum  intelektual dunia. Perpustakaan Leiden, Belanda, terancam tutup! Pemuda  ini benar-benar fantastic dan fenomenal. Sangat menggemparkan jagat raya  sesuai namanya yang dahsyat; Gel Egar! Yah, pemuda itu bernama Gel  Egar. Tapi di sini Anda cukup panggil saja dia Egar. Si Egar!</p>
<p>***</p>
<p>Gel Egar dulunya bernama Gel Isah. Sejak kecil ia selalu gelisah.  Gelisah jika ada sesuatu yang berantakan. Gelisahi apa saja. Gelisah  tentang masa depan anak-anak Banten. Gelisah jalan berantakan. Gelisah  sulit mencari buku. Gelisah masyarakat yang bodoh. Ia juga gelisah jika  teman-temannya hendak datang sementara rumahnya berantakan. Gelisah  membuatnya sibuk sendiri. Gelisah menjadikannya menyelesaikan segala hal  yang tidak beres sendirian. Gelisah membuatnya perfeksionis. Gelisah  pun membuatnya jadi anak laki-laki yang sedikit girly. Hingga remaja, ia  tidak gelisah saat temannya memanggilnya Neng Isah. Ia hanya  menggelisahi orang lain bukan dirinya sendiri. Gelisah pada cita-cita  Banten pun mengakibatkannya datang kepada seorang dukun intelektual  bernama Ki Cendiki Awan.</p>
<p>“Apa yang kau inginkan, Isah?”<br />
“Sesuatu yang bisa membuatku tidak gelisah dan membuat kotaku jaya, Ki.”<br />
“Itu gampang, Isah. Syaratnya cuma satu.”<br />
“Apa itu, Ki Cendik?”<br />
“Sebelum saya jawab, apakah kamu tidak gelisah dengan namamu, Isah?”<br />
“Tidak, Ki. Namaku memang Gel Isah sejak dulu.”<br />
“Baiklah. Syaratnya cuma satu. Kamu harus mengganti nama, Isah.”<br />
“Ganti nama? Tidak apa. Apa itu, Ki?”<br />
“Ganti namamu dengan Gel Egar!”<br />
“Gel Egar? Baiklah. Aku permisi kalau begitu.”<br />
“Tunggu Egar! Bawa benda ini!”<br />
“Apa ini?”<br />
“Itu lilin pintar dan buku cerdas dari Cina, Egar. Ilmu babi ngepet  buku!”<br />
“Babi ngepet buku? Caranya bagaimana?”<br />
“Nyalakan lilin itu tengah malam. Dirikan di atas buku.”<br />
“Lalu aku yang jadi babi? Aku tidak tertarik.”<br />
“Tidak. Kau akan jadi Egar saja. Biarkan babi biru yang bekerja. Babi  ini akan menarik buku-buku yang kau inginkan. Kapan dan di mana pun. Kau  akan jadi terkenal karena cerdas. Cerdaskan dirimu, lalu cerdaskan  orang lain! Maka dengan sendirinya kotamu akan jaya. Kau akan sukses.  Sukses itu, pemerintahannya jalan, pemimpinya jalan-jalan.”<br />
“Menarik. Lalu apa aku harus cari tumbal?”<br />
“Tidak perlu. Babi ini sudah saya gajih. Dia tidak akan minta apa-apa.”<br />
“Baguslah kalau ia sadar posisi dan professional.”<br />
“Tapi ada satu syarat lagi, Egar!”<br />
“Apa itu, Ki?”<br />
“Jika sudah dapat bukunya, baca!”<br />
“Okeleh kalo begitu.”</p>
<p>***</p>
<p>Membaca membuat Egar cerdas. Cerdas membuatnya menjadi macho. Keren dan  kekar. Wajahnya bersih berseri. Jalannya berwibawa penuh senyum  berpesona. Egar Jadi buruan wartawan oleh ketenarannya. Kebanggan kepala  sekolah oleh prestasinya. Impian rektor karena kritis dan vokal. Idola  gadis jelita oleh lenjang dan ranggi tubuhnya. Idaman calon mertua oleh  budi dan dayanya. Tapi Egar tetap tegar. Ia biasa saja. Tidak sombong  dan tidak tergesa-gesa untuk menikah. Egar masih haus belajar. Egar  ingin lebih menggelegar. Ia asyik menarik buku-buku dengan babi bukunya.  Egar kaya dengan buku. Egar aman, karena tak ada satu pun orang yang  curiga. Tak banyak yang merasa kehilangan buku. Hanya beberapa gelintir  saja. Selebihnya orang-orang masa bodoh pada buku. Mereka hanya senang  mengkoleksi. Tidak ada lemari buku di rumah pada masa ini adalah sebuah  aib besar. Seperti aib dan cacat intelektual bagi Egar yang ditanya  wartawan filsafat, lalu tak bisa menjawabnya.</p>
<p>“Egar, Anda sebagai orang cerdas, saya mau konfirmasi sebentar. Bisa?”<br />
“Bisa. Soal apa?”<br />
“Ada beberapa pertanyaan.”<br />
“Apa saja?”<br />
“Di mana adanya Tuhan menurutmu?”<br />
“Lalu?”<br />
“Takdir itu apa, Egar?”<br />
“Yang lain?”<br />
“Soal setan dan nereka. Setan terbuat dari api. Neraka penuh bara.  Bagaimana Anda menyikapi kebijakan Tuhan yang hendak menghukum setan di  neraka. Secara logika, setan tidak akan menderita. Seharusnya api  dihukum di surga yang konon penuh air mengalir dan danau yang mempesona  supaya kobarannya padam. Ada komentar?”<br />
“Tidak ada.”<br />
“Kenapa, Egar?”<br />
“Untuk urusan ini kalianlah yang lebih tahu.”<br />
“Dari mana Anda berkesimpulan demikian?”<br />
“Kerena tugas filsafat bukan hanya bertanya, tapi juga menjawab dengan  benar.”<br />
“Oke. Saya sepakat. Tapi untuk tiga pertanyaan tadi kami tidak bisa.”<br />
“Kalai begitu bubarkan filsafat. Mubadzir otak kalian. Permisi!”<br />
“Okelah kalo begitu.”</p>
<p>***</p>
<p>Banten kian makmur, Egar pun sibuk kembali belajar. Ada pertanyaan yang  selama ini belum terjawab dalam hidupnya. Gara-gara wartawas filsafat.  Meski Egar terlihat cuek, tepi ia tetap saja memikirkannya. Soal takdir  manusia. Soal setan dan neraka. Hingga soal keberadaan Tuhan. Buku-buku  Egar tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Tokoh ulama dan  cendikia terlalu bertele-tele dan gagasanya berloncat-loncatan  memaparkan. Tidak jelas siapa ngomong apa. Egar tidak pernah puas. Meski  demikian, ia sendiri tidak pernah menyerah berusaha bersama si babi  biru. Ia terus membaca buku-buku terbaru hasil gesekan babi biru.  Buku-buku best seller. Mega best seller. Nasional dan internasional best  seller. Jika tidak didapat, maka ia akan mencari buku yang lain. Jika  Indonesia dan negara-negara asia tidak bisa menjawab, maka ia akan lari  ke negeri timur tengah. Gagal di timur tengah, meski tidak yakin, ia  akan lari ke negeri eropa untuk menemukan jawabannya. Egar tetap tidak  bisa mencari jawabannya.</p>
<p>Malam ini Egar sangat gelisah. Hari-harinya menjadi kian sibuk dan  semakin jauh dari Banten. Semakin lama meninggalkan rumah dan ibunya  sendirian. Ia khawatir umurnya akan habis, sementara jawaban itu belum  juga ditemukan. Egar pun kalah. Ia ingin curhat pada si babi biru doyan  buku. Segera ia nyalakan lilin yang sudah pendek. Diletakkannnya lilin  yang sudah menyala di atas buku tebal bergambar cover babi biru.  Seketika gambar babi biru itu meloncat keluar dari buku. Menjelma jadi  babi yang cute imut namun penuh wibawa.</p>
<p>“Pengen buku apa lagi, Tuan Egar?”<br />
“Tidak. Aku hanya minta saran.”<br />
“Saran?”<br />
“Ya. Karena kamu suka baca. Aku pikir kamu lebih cerdas dari manusia.”<br />
“Tidak sepenuhnya betul. Tapi bisa juga.”<br />
“Sudahlah. Aku anggap kamu cerdas. Aku pusing, Biru.”<br />
“Pusing tiga pertanyaan itu?”<br />
“Ya. Kau memang cerdas.”<br />
“Saran saya pulanglah ke Banten.”<br />
“Tidak. Banten sudah jaya. Ia bisa jalan sendiri.”<br />
“Bukan itu maksdukku, Tuan Egar. Temui ibumu.”<br />
“Ibu?”<br />
“Ibumu akan menyelesaikan masalahmu.”<br />
“Tidak. Aku tidak mau membebani dia. Ibu sudah tua. Tidak juga bisa  membaca.”<br />
“Tapi dia cerdas. Cerdas tidak harus rajin membaca. Dia cerdas  mengamati.”<br />
“Sudahlah. Aku minta saran lain.”<br />
“Tidak ada.”<br />
“Kenapa?”<br />
“Hari ini terakhir saya terakhir menemanimu, Tuan Egar.”<br />
“Oh iya. Cepet sekali. Tak terasa kerjasama kita akan berakhir.”<br />
“Begitulah. Jika tidak percaya, silahkan cek di MoU.”<br />
“Tidak usah. Aku percaya.”<br />
Egar diam sejenak. Pusing rupanya dia. Gara-gara wartawan filsafat  sialan.<br />
“Tuan Egar, karena kerja sama kita tanpa cacat. Saya akan kasih bonus.”<br />
“Apa itu, Biru?”<br />
“Sebenernya limit alokasi gesekanmu sudah habis. Tapi saya akan beri  kamu gesekan bonus yang juga berlaku buat menarik apa saja. Termasuk  menarik ibumu ke sini.”<br />
“Benarkah?”<br />
“Ya. Kamu mau.”<br />
“Ya. Aku mau.”<br />
Babi biru doyan buku segera menggesek-gesekkan badannya di tembok. Tak  butuh waktu lama, tiba-tiba Gele Pokh, ibunya Gel Egar menjelma bersama  cahaya putih.<br />
“Ibu!”<br />
“Lha! Egar? Ini di mana?”<br />
“Ini di rumah Egar, Bu. Di kawasan Real Madrid.”<br />
“Lha! Kenapa bisa begini. Bukannya tadi ibu masih di stasiun  Rangkasbitung!?”<br />
“Ibu sedang apa sampe ke Rangkas segala? Egar yang bawa ibu ke sini.”<br />
“Yah!”<br />
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi  refleks.<br />
“Yah! Padahal ibu lagi transaksi jual tikar! Batal, deh. Uangnya hilang.  Cape, deh!”<br />
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi  refleks.<br />
“Buat apa kamu bawa ibu ke sini, Egar?”<br />
“Mau tanya sesuatu. Tentang di mana Tuhan? Apa itu takdir? Kenapa setan  dimasukan ke neraka, padahal ia juga terbuat dari api? Tidak sakit dong  setan.”<br />
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi  refleks.<br />
“Lha kok ditampar lagi?”<br />
“Egar. Gitu aja tidak bisa. Mubadzir otak kamu itu. Buat apa kuliah  jauh-jauh!”<br />
“Emang ibu tau?”<br />
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi  refleks.<br />
“Kak ditampar lagi?”<br />
“Itu jawabannya. Sakitkan?”<br />
“Iya.”<br />
“Sakit itu seperti apa. Itulah Tuhan. Terasa namun tidak nampak.”<br />
“Pernah berfikir kamu akan ditampar ibu seperti ini?”<br />
“Tidak.”<br />
“Itulah takdir.”<br />
“Tangan ibu kulit. Pipimu juga kulit. Tapi sakit kan?”<br />
“Iya. Setan. Api dan api bisa menyakitkan. Seperti kulit dan kulit tadi.  Puas?”<br />
“Okelah kalo begitu.”<br />
Alkisah, Egar dan ibunya pulang kampung ke Banten. Ia terpesona melihat  Banten. Di negerinya banyak orang berdiskusi dan mengaji. Betapa  kagetnya Egar melihat Socrates dan Plato sedang belajar Iqro pada ustadz  Sanusi. Sastrawan-sastrawan sudah menjadi ulama.<br />
“Manteplah kalau begini!”</p>
<p>======<br />
*Warga Tangerang, penulis novel Slonong Boy Millionaire.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/03/09/babi-ngepet-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AYAT PEREMPUAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/25/ayat-perempuan/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/25/ayat-perempuan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 12:48:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Kesusatraan Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sastrawan Banten]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3031</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Toto ST Radik
Sesungguhnya saya tak pernah ingin menceritakan kejadian ini. Saya telah berjanji kepada diri sendiri untuk menyimpannya rapat-rapat dalam ingatan saya, semacam kenangan pribadi. Tapi entah mengapa, ketika pada suatu malam saya bertemu tukang cerita itu, saya tak mampu menahan diri untuk tidak bercerita kepadanya. Padahal sembilan tahun sudah kejadian itu saya simpan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Toto ST Radik</p>
<p>Sesungguhnya saya tak pernah ingin menceritakan kejadian ini. Saya telah berjanji kepada diri sendiri untuk menyimpannya rapat-rapat dalam ingatan saya, semacam kenangan pribadi. Tapi entah mengapa, ketika pada suatu malam saya bertemu tukang cerita itu, saya tak mampu menahan diri untuk tidak bercerita kepadanya. Padahal sembilan tahun sudah kejadian itu saya simpan dalam-dalam. Mungkin karena sikapnya yang begitu baik dan lembut. Sepanjang malam itu dia benar-benar mendengarkan dengan sepenuh hati, tak pernah menyela, tak berkomentar apa pun. Padahal saya sendiri sering merasa cerita saya ngelantur dan melompat-lompat tidak beraturan. Dia, tukang cerita itu, hanya sesekali bertanya. Itu pun jika saya terdiam karena kehilangan kata-kata. Sehingga saya pun terus menceritakan kejadian itu hingga jauh malam. Kira-kira tiga bulan kemudian tukang cerita itu mengirimi saya sebuah majalah. “Saya menulis sebuah cerita berdasarkan ceritamu. Bukalah halaman 25 dan seterusnya,” tulisnya di selembar kertas. Saya pun segera membuka halaman 25 itu dan membacanya.</p>
<p>***</p>
<p>Lelaki itu datang tidak dengan menunggang kuda seperti dalam dongeng-dongeng kerajaan. Dia datang berjalan kaki, menghampiriku, dan duduk di sebelahku. Begitu saja. Sore itu, sebagaimana sore-sore sebelumnya, aku duduk di bangku taman, menikmati sesudut pemandangan di kota kecilku yang kian ramai. Lelaki itu kemudian mengulurkan tangannya kepadaku seraya tersenyum tipis. “Sabda,” katanya memperkenalkan diri. Aku diam saja. Tangannya terus terulur, begitu pula senyum tipisnya. Seperti tak akan pernah berakhir sebelum aku menyambutnya.</p>
<p>Lelaki itu menggenggam tanganku erat. Mantap dan kukuh. Kulitnya cokelat mengilap. Dia Tersenyum tipis sekali lagi. Dan menunggu.</p>
<p>“Mawar,” jawabku ringkas.</p>
<p>“Sabda Mawar. Nama yang indah dan unik,” katanya seraya terus menggenggam.</p>
<p>“Maksudmu?”</p>
<p>“Nama anak kita.”</p>
<p>“Anak kita?”</p>
<p>“Ya. Kita akan segera menikah.”</p>
<p>Aku menarik tanganku. Melengos. Lelaki sinting! batinku. Baru bertemu sudah bicara soal pernikahan. Tapi aku melirik juga dengan hati berdebar. Lelaki itu tersenyum lagi.</p>
<p>“Kita ditakdirkan menikah dan melahirkan seorang anak bernama Sabda Mawar karena aku bernama Sabda dan engkau Mawar.”</p>
<p>“Dari mana kamu tahu kita ditakdirkan menikah? Memangnya kamu malaikat atau nabi?”</p>
<p>Lelaki itu lagi-lagi tersenyum. Kemudian sedikit tergelak. “Pasti kamu menganggapku gila atau konyol, “ katanya. “Tidak. Aku tidak konyol, apalagi gila. Mungkin aku agak berlebihan. Aku hanya merasa yakin. Itu saja. Bukankah kita harus yakin pada keyakinan kita? Jika tidak, lantas buat apa kita melakoni hidup di dunia yang sebentar ini. Jadi kamu juga harus yakin.”</p>
<p>“Yakin pada apa? Pada keyakinanmu?” Aku mulai sengit. Tidak suka pada sikapnya yang menekan.</p>
<p>“Tentu saja pada keyakinanmu,” tukasnya cepat. “Ayo katakan dengan yakin.</p>
<p>Aku ingin tahu.”</p>
<p>Aku tak segera menjawab. Aku benar-benar tidak suka kepadanya, cara bicaranya, sikap yakinnya, juga senyum tipisnya yang enggan hilang itu. “Maaf, aku ingin sendiri di sini.”</p>
<p>“Itulah! Berhari-hari kulihat kamu selalu sendiri di sini setiap senja. Dari sikap dudukmu, aku tahu kamu sedang menunggu seseorang atau sesuatu. Dan aku datang memenuhi do’amu.”</p>
<p>Aku semakin tidak suka kepadanya, justru karena kebenaran kata-katanya. Jadi dia telah mengamatiku berhari-hari, barangkali mengendap-endap di balik rumpun melati atau di balik gerumbul soka? Siapakah sebenarnya lelaki tengik ini? Hm, mungkin cuma lelaki iseng yang mengira aku perempuan…</p>
<p>“Tak baik berprasangka buruk. Aku menghormatimu,” katanya seolah dapat membaca jalan pikiranku. “Sekali lagi, aku datang dari jauh memenuhi do’amu. Aku Sabda engkau Mawar. Kita akan menikah dan menimang seorang anak yang kau idam-idamkan. Sabda Mawar, nama yang indah, bukan?”</p>
<p>“Pergilah. Aku tak suka ocehan gilamu!”</p>
<p>“Kamu mengusirku?”</p>
<p>Aku tak menjawab. Aku telah muak.</p>
<p>“Baiklah.” Lelaki itu bangkit perlahan. “Tapi sebelum aku pergi, katakan apakah kamu yakin aku harus pergi.”</p>
<p>Kutatap lelaki itu dengan keras, pernyataan perseteruanku kepadanya. Lagi-lagi dia tersenyum tipis. Tapi sesaat kemudian cahaya matanya tampak meredup dan murung, seperti matahari senja yang diringkus gulungan awan kelabu.</p>
<p>“Ya,” kataku ringkas.</p>
<p>Lelaki itu menatapku tak percaya. Sinar matanya seakan memintaku untuk merubah keputusan itu. Tapi mataku telah membelalak galak. Lelaki itu kemudian mengangguk lemah dan pergi tanpa sepatah kata pun.</p>
<p>Di gerbang taman, lelaki itu menghentikan langkah dan menoleh ke arahku. Aku cepat berpaling. Aku tak ingin melihat sinar matanya lagi karena khawatir aku menjadi luluh karenanya. Aku tidak tahu apakah lelaki itu tersenyum tipis sekali lagi, sebab manakala aku mengarahkan pandang kepadanya lelaki itu sudah tidak ada. Aneh, seketika saja aku merasa kehilangan. Semacam rasa kangen yang menghentak. Sontak aku berdiri, meninjau ke kejauhan, mengedarkan pandang. Tapi lelaki itu tak tampak lagi. Aku mengejarnya. Tapi lelaki itu benar-benar tiada, seolah hilang ditelan udara.</p>
<p>Berhari-hari aku terus merasa kehilangan. Apakah karena aku merasa iba? Atau sejak mula aku mendustai perasaanku sendiri?</p>
<p>Sabda. Sabda Mawar. Sabda. Nama itu terus terngiang-ngiang di telingaku. Tapi tak ada lagi Sabda. Lelaki itu tak pernah datang lagi. Setiap senja aku pergi ke taman, duduk di bangku taman yang sama, menunggu Sabda. Tapi tak ada lagi Sabda. Lelaki itu tak pernah datang lagi.</p>
<p>Suatu ketika, sekira sepertiga tahun setelah pertemuan itu, aku merasa hamil. Seperti ada mahluk hidup yang bergerak-gerak dalam perutku. Seperti berenang kian kemari. Perutku pun terasa bergetar-getar dan membesar. Sungguh aneh. Benar-benar ganjil. Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah kehamilan hanya mungkin jika aku bersebadan? Padahal aku tak pernah bercinta dengan siapa pun. Aku hanya berbincang dengan seorang lelaki yang mengaku bernama Sabda, itu pun berakhir dengan rasa muak sebelum akhirnya aku mengusir lelaki sinting itu. Aku memang merasa kehilangan dan merindukan kehadirannya. Tapi kerinduan tak akan pernah dapat menyebabkan kehamilan, bukan?</p>
<p>Aku sungguh-sungguh benci terhadap binatang yang mendiami perutku ini. Tapi usahaku merontokkannya berkali-kali tak pernah berhasil. Binatang itu sungguh liat dan likat. Tak mau luruh. Tak mau lepas. Jahanam! Hidupku jadi tambah sengsara karenanya. Dari hari ke hari orang-orang mengolok-olokku tanpa ampun. Beberapa di antaranya bahkan mencoba memperkosaku. Benar-benar jahanam! Aku geram dan marah, sekaligus merasa kasihan terhadap para lelaki munafik itu. Mereka mencibir dan menistakan aku sebagai perempuan penuh dosa, tapi juga menginginkan tubuhku. Dan manakala nafsu itu tak kesampaian, mereka mengumpati aku dengan kata-kata kasar: dasar <em>jobong</em>!<a href="#_ftn1">[1]</a> <em>Wadon sédéng</em>!<a href="#_ftn2">[2]</a> Sudah <em>jemblung</em><a href="#_ftn3">[3]</a> berlagak suci!</p>
<p>Perutku terus membesar. Binatang di dalam perutku semakin kerap berjumpalitan. Menghisap. Meninju. Menendang. Bahkan mencakar-cakar dengan kejam. Pernah suatu malam kurasakan binatang itu seperti hendak menjebol dinding perutku. Aku memekik-mekik kesakitan. Kupukul dia berkali-kali tapi dia malah semakin liar, berputar-putar bagai mata bor hendak melubangi perutku. Aku pun menyerah, membiarkan dia berbuat sesukanya. Aku raba-raba kepalanya. Aku elus-elus pantatnya. Dan binatang itu pun diam. Mendengkur halus. Tiba-tiba aku terkenang Sabda, lelaki aneh itu.</p>
<p>Ya, Sabda. Kini aku ingat dia pernah menemuiku kembali pada suatu malam ketika aku sedang tidur-tiduran di bangku taman, memandang luas langit yang benderang oleh purnama.</p>
<p>“Mawar,” bisiknya.</p>
<p>“Sabda?” Aku bangkit mencari arah suara. Sesosok bayangan mengambang di hadapanku. “Sabda?”</p>
<p>Namun bayangan itu memudar. Menghilang begitu lekas. Sebelum sempat mengitarkan pandang, tiba-tiba kurasakan tangan kukuh mendekapku dari belakang. “Mawar,” bisiknya lagi. Nafasnya hangat dan wangi. Jemarinya lembut menyusuri wajahku. Aku pun terpejam. Mendesah. Seketika melayang. Melesat. Meluncur. Menukik. Memburu. Menderu. “Sabda!” Aku memekik setiba di puncak. Tapi aku hanya mendapati diriku seorang diri di bangku taman yang sepi. Tidak ada Sabda. Tidak ada siapa pun. Semua itu hanya bayanganku sendiri, khayal yang menipu.</p>
<p>Binatang itu lagi-lagi meninju dinding perutku, seakan hendak menyatakan bahwa dia benar-benar ada. Apakah perempuan yang bercinta dengan bayangan bisa hamil? Aku perawan. Tak ada lelaki pernah menyentuhku. <em>Bagaimana akan ada bagiku seorang anak, sedang aku tak bersuami dan aku bukan pula seorang pezina?</em><a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Aku merangkak menuju pohon asam di pojok taman. Ketuban telah pecah. Seluruh tubuhku nyeri. <em>Aduhai, alangkah baiknya aku  mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.</em><a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Binatang itu pun lahir menerobos rahimku. Alangkah terpananya aku melihat bayi laki-laki dengan wajah tampan bercahaya dan rambut hitam tebal bergelombang. Bibir mungilnya yang merah menyunggingkan senyum tipis sesaat setelah dia menangis dengan keras. Seketika aku pun jatuh cinta seperti ketika pertama kali bertemu Sabda. Ya, senyumnya sungguh senyum Sabda. Bayi itu aku dekap sepenuh perasaan, kucium bertubi-tubi, dan kuberikan air susu pertama. “Aduhai, anakku sayang, kuberi nama engkau Sabda Mawar. Nama yang diciptakan bapakmu sebelum engkau tiba, sebelum engkau ada,” bisikku.</p>
<p>Keesokan paginya, orang-orang berdatangan. Berdesakkan mengitariku. Mereka bukan hanya menghamburkan serapah, tapi juga melempari kami dengan kerikil, batu, ranting, pecahan botol, telur busuk, bahkan kotoran anjing dan kotoran mereka sendiri. Beberapa di antaranya kukenali sebagai orang yang hendak memperkosaku.</p>
<p>“Hai, <em>jobong</em>! Saya do’akan kamu masuk neraka!”</p>
<p>“Perempuan sundal!”</p>
<p>“Pergi dari sini, pendosa!</p>
<p>Sebatang kayu menderas ke arah kami. Kudekap anakku. Kulindungi wajahnya dengan telapak tanganku. Batang kayu itu menghantam keningku. Darah menetes!</p>
<p>“Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar!”</p>
<p>Sebongkah batu menghajar pelipisku. Darah mengucur!</p>
<p>“Pezina! Matilah kamu!”</p>
<p>Sepotong besi menghajar batang hidungku. Darah menderas!</p>
<p>“Biar mampus perempuan sesat dan anak haram jadah ini!”</p>
<p>“Najis!”</p>
<p>“<em>Pateni bae</em>!<a href="#_ftn6">[6]</a>”</p>
<p>Lagi, sebongkah batu menghajar belakang kepalaku. Aku terhuyung. Darah membanjiri sekujur tubuhku. “Tuhan, di manakah Engkau?” Aku menjerit. Tanganku menggapai-gapai mencari pegangan. Anakku terlepas dari dekapanku. Aku mencoba meraihnya, tapi aku telah tersungkur membentur tanah. Aku mencoba merangkak menyelamatkan anakku, tapi berpasang kaki telah menendangnya kian-kemari disertai tawa dan tempik sorak. “Tuhan, di manakah Engkau?”</p>
<p>Aku hanya bisa menangis dan meratap ketika kulihat mereka mengikat anakku dengan seutas tali rafia merah di ujung galah dan mengaraknya berkeliling sebelum ditancapkan di tengah taman. Kulihat anakku terkulai layu. Aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati.</p>
<p>Sepasang tangan kekar menyeretku, melemparkanku ke dalam got seraya menghamburkan seribu serapah dan meludahiku berkali-kali. Aku ingin melolong, menyeru anakku. Tapi lidahku telah kelu. Masih kudengar tempik sorak itu dan seruan-seruan kemahabesaran Tuhan ketika gelap begitu sigap menyergap. Kemudian segala lesap. Senyap.</p>
<p>Aku siuman ketika kurasakan panas matahari begitu menyengat. Aku mencoba merangkak naik ke bibir got. “Gustiii….” Aku merintih menahan nyeri. Sekujur tubuhku ngilu. Tulang-tulang berderak-derak seperti mau patah. Tapi aku terus merangkak. “Anakku, anakku!” Aku merangkak dan terus merangkak.</p>
<p>Di kejauhan, kulihat galah itu terpancang menjulang. Hanya galah. Di ujungnya seutas tali rafia merah menari-nari dipermainkan angin. “Sabda Mawar, anakku, di manakah engkau?”</p>
<p>Sejak itu aku mengembara bersama seluruh geram seluruh lebam seluruh pedih seluruh perih mencari dua lelakiku yang hilang. Sembilan tahun sudah.</p>
<p>***</p>
<p>======================</p>
<p><strong><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/toto.jpg"><img class="size-full wp-image-3032 alignleft" title="toto" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/toto.jpg" alt="" width="103" height="130" /></a>Toto ST Radik </strong>lahir di desa Singarajan, Serang, Banten, 30 Juni 1965. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Kumpulan puisi tunggalnya <em>Mencari dan</em> <em>Kehilangan</em> (1996), <em>Indonesia Setengah Tiang</em> (1999), <em>Jus Tomat Rasa Pedas</em> (2003), dan <em>Pangeran [Lelaki yang Tak menginginkan Sorga]</em> (2005). Sedangkan cerpennya terdapat dalam <em>Dongeng Sebelum Tidur</em> (Gramedia Pustaka Utama, 2005), dan lain-lain. Bergiat di Sanggar Sastra Serang (s3) dan Rumah Dunia. Tinggal di Penancangan, Kota Serang. Alamat: Kompleks P&amp;K Blok-A, Jalan Kenanga 99, Penancangan, Serang, Banten  42118, mobile: 0818 415 287, No. Rek 1152328 Bank BNI Cabang Serang.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Bahasa Jawa Banten: Pelacur.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Bahasa Jawa Banten: Perempuan sinting.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Bahasa Jawa Banten: Hamil.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> QS Maryam: 20</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> QS Maryam: 23</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Bahasa Jawa Banten: Bunuh saja</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/25/ayat-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CUCU MIMPI JADI PNS</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/29/cucu-mimpi-jadi-pns/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/29/cucu-mimpi-jadi-pns/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 04:16:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmad Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[CPNS]]></category>
		<category><![CDATA[soal]]></category>
		<category><![CDATA[Test]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2447</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ahmad Wayang
Cucu menggoreskan lipstick berwarna merah pada bibirnya yang tipis dengan sangat hati-hati sekali. Pipinya yang mulus makin mengkilap licin setelah bedak bermerek “Gadis” menyapu pipi indahnya.
Tak seperti biasanya, pagi-pagi sekali Cucu sudah begitu siap dan rapih. Padahal, jika hari-hari biasa Cucu masih malas-malasan tidur di kasur kecilnya. Tapi, pagi ini lain. Cucu sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left"><img class="alignleft size-full wp-image-2446" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/CPNS-Tes-Tertulis.jpg" alt="CPNS Tes Tertulis" width="500" height="289" />Oleh Ahmad Wayang</p>
<p>Cucu menggoreskan lipstick berwarna merah pada bibirnya yang tipis dengan sangat hati-hati sekali. Pipinya yang mulus makin mengkilap licin setelah bedak bermerek “Gadis” menyapu pipi indahnya.<span id="more-2447"></span></p>
<p>Tak seperti biasanya, pagi-pagi sekali Cucu sudah begitu siap dan rapih. Padahal, jika hari-hari biasa Cucu masih malas-malasan tidur di kasur kecilnya. Tapi, pagi ini lain. Cucu sudah berdandan. Baju kemeja putih yang sudah dikenakan Cucu begitu selaras dengan celana panjang hitamnya, yang mencekik lekuk pingulnya. Sepatu slop hitam murahan sudah membungkus kedua telapak kakinya. Dua tiga kali Cucu menyemprotkan parfum merek dalam negeri pada tubuhnya. Sementara tas hitam kesukaanya sudah dari tadi bertengger di ujung kasur yang masih berantakan.</p>
<p>Cucu gelisah saat <em>handphone</em>nya berbunyi. SMS itu ternyata dari Septi. Dandanannya terpaksa dipercepat. Cucu melangkah dengan sedikit terburu-buru. Cucu segera menyambar tas hitamnya sambil keluar dari kamar. Cucu menyampirkan tas ke bahu kirinya. Sementara map berwarana cokelat digepit di tangan kanannya. Di dalam hatinya Cucu berdoa, “Pokoknya saya harus lulus dan jadi PNS.”</p>
<p>Cucu sibuk membalas SMS Septi, agar bisa bersabar menunggu. Sementara tangan kirinya sibuk mengunci pintu kamarnya yang berada di tengah-tengah kamar yang lain, kamar petak yang berbaris dengan rapih dan berbentuk sama.</p>
<p>KLIIK!</p>
<p>Gembok berukuran sedang sudah mengunci pintu kamarnya.</p>
<p>Tanpa disadari Cucu, Pak Duto merayap dari belakang mendekatinya, lalu bersembunyi di balik pohon seri yang cukup tinggi. Tangan Duto jadi memanjang, lalu sedikit mencubit pinggul Cucu yang montok.</p>
<p>“Aaaawww&#8230;.,” Cucu menjerit kaget, tapi manja. “Ih, usil aja,” cemberut Cucu tak dihiraukan oleh Duto.</p>
<p>“Mau kemana kau?  Tumben pagi-pagi begini sudah rapi?” kata Duto yang lebih pantas jadi kakek Cucu.</p>
<p>“Mau tahu aja!” cucu cuek. Makin sibuk saat Septi menelponya. Cucu mengangkat telepon dengan terburu-buru sambil memasang muka bersalah. “Iya Pi, udah mau berangkat <em>nih</em>,” kata cucu tak enak jadinya.</p>
<p>“Buruan ya,” terdengar suara dari seberang. <em>Handphone</em> dimatikan. Cucu melangkah cepat-cepat.</p>
<p>“Kok, bawa-bawa map lamaran segala, kaya mau kerja, aja?” tanya Duto, bapak enam orang anak  ini terus nyerocos.</p>
<p>Cucu tak menanggangapi sapaan yang sudah jelas untuknya itu. Cucu pergi, tak memperdulikan Duto.</p>
<p>Sementara mata Duto tambah melebar melihat gaya berjalan Cucu yang mirip bebek air rawa, dari belakang. Duto menggeleng-gelengkan  kepalanya.</p>
<p>Cucu hilang di tikungan.</p>
<p>Tapi, saat Ramin, penghuni kosan nomor 7 yang paling unjung, melewati Duto, langsung ditegurnya. “Ah Min, kau juga mau kemana?” sergah Duto mencegat Ramin, yang juga hendak mengadu nasib lewat jalan jadi CPNS.</p>
<p>“Aku juga mau jadi CPNS lah. Sama seperti si ayu Cucu itu,” jawab Ramin seadanya juga dengan terburu-buru. “Sory nih Pak To, Aku harus cepat pergi, takut macet,” katanya memberi alasan.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Cucu duduk berbaris bersama ribuan orang dari berbagai pelosok daerah bahkan desa dari segala penjuru arah. Cucu masih tak habis pikir, ternyata banyak benar orang yang ingin jadi CPNS. Itu penomena yang menurutnya sangat luar biasa. Cucu lalu ingat ketika SMA dulu, pernah mengalami hal yang kurang lebih sama. Namun ketakutan yang dirasanya dulu tak sama seperti sekarang. Pasalnya Cucu sudah mendapatkan bocoran jawaban yang didapatnya dari seseorang yang bisa dipercaya. Tentu saja untuk mendapatkan jawaban bocoran itu, Cucu harus ikhlas menggadaikan tubuhnya sebagai pengganti uang pelicin. Tapi tak apa, karena sebentar lagi Cucu akan mendapatkan pekerjaan tetap, yang enak dan santai.</p>
<p>Dalam hatinya, Cucu megucapakan selamat tinggal dengan statusnya sebagai Sarjana pengangguran yang tak jelas. Selama bertahun-tahun lamanya jadi pengangguran, Cucu yakin dengan jadi CPNS dirinya bisa menjadi orang yang kaya raya, tanpa harus lagi menjual tubuhnya yang seksi.</p>
<p>Di lapangan, tak ada yang merasa gampang mengisi soal-soal tes untuk bisa jadi CPNS. Semua gelisah, walau ada beberapa peserta CPNS yang terlihat santai seperti Cucu. Bahkan Cucu merasa ‘ulangan’ itu berjalan begitu mudah dan lancar. Sampai-sampai dengan rasa percaya diri yang tinggi, Cucu mampu mengisi lembar jawaban dengan santai dan enteng.</p>
<p>Tak pernah Cucu melirik mencari contekan. Dengan hati-hati dan sedikit mengeluarkan jurus dan trik yang ia dapatkan sewaktu SMA dulu dimainkanya. Cucu berhasil memindahkan kunci soal jawaban tes dengan mulus. Tanpa diketahui pengawas. Cucu tak tanggung-tanggung, langsung mengisinya. Dengan gerakan tangan yang cepat, Cucu terus menyalin. Cucu mengisinya secepat kilat. Cucu menghapal jawabanya. Semua soal dijawabnya. Cucu menghembuskan nafas lega. Nafas kemenangan.</p>
<p align="center">***</p>
<p>“Gimana? Beres?” tanya Cucu pada Septi, di kantin luar.</p>
<p>Septi memasang wajah tegang. Mimiknya serius. “Jawaban kamu diisi semua? Dengan jawaban yang itu?” Septi menjelaskan pelan, sambil mengernyitkan dahinya.</p>
<p>“Emang kenapa?” tanya Cucu penasaran.</p>
<p>Septi menarik lengan Cucu ke belakang kantin yang sepi. Septi membisikan ke telinga Cucu dengan hati-hati. “Kita sudah ditipu. Jawaban yang kita anggap benar itu ternyata salah semua. Mampus! Kita bakalan <em>nggak</em> lulus,” bisik Septi makin gelisah.</p>
<p>“Terus?” tanya Cucu, <em>shock</em>.</p>
<p>“Ya, kita bakalan <em>nggak</em> lulus,” Septi mengulang dengan mantapnya.</p>
<p>Cucu tak tahu sudah berapa lama ia begong karena <em>shock</em>. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir tipis itu, hingga sampai di tempat kosannya, Cucu terlihat seperti orang yang linglung dalam kamrnya. Cucu masih betah melamun. Ia masih tak percaya dengan kenyataan pahit ini, padahal Cucu sudah membeli pertanyaan itu degan menggadaikan tubuhnya. Cucu terkenang dengan laki-laki brengsek itu. Cucu merasa ditipu. Pemberian servis gratis itu, dirasanya mubazhir.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Tiba-tiba pintu kamar Cucu ada yang mengetuk dengan pelan. Mata Cucu melirik pada jam dinding. Sudah jam 3 malam. Pasti si tua bangka! Batin Cucu masih dongkol, lalu menyeret langkahnya membuka pintu kamar.</p>
<p>“Lagi males nih. Lain kali aja,” kata Cucu dengan mimik masih dongkol.</p>
<p>Si tamu langsung masuk saja, tanpa disuruh. “tolong, malam ini saja,” rayu Duto.</p>
<p>“Males ah,” Cucu mendorong Duto keluar.</p>
<p>“Eh, tunggu dulu. Lihat nih,” Duto dengan bangga mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan.</p>
<p>Seketika wajah cantik Cucu berubah makin bersinar terang. Cucu menghitung uang itu. “Cuma lima ratus ribu? Tambah, dong?” pinta Cucu manja. Sejenak Cucu berpikir. “Ya udah, <em>nggak</em> apa-apa. Ayo,” kata Cucu kemudian, yang langsung menarik lengan Duto masuk ke dalam kamar.</p>
<p align="center">***</p>
<p>“Kamu ingin jadi PNS kan? Temui pak Gogon malam ini juga. Seratus persen kamu bakal dijamin lulus. Tanpa bayar. Soalnya dia sudah tahu seluk-beluk di pemerintahan. Dia orang dalam,” isi SMS Septi berbunyi aneh.</p>
<p>“Maksudnya?” Cucu masih tak mengerti.</p>
<p>“Pak Gogon itu, bisa bantu kamu buat dapetin kursi kerja di pemerintahan. Persyaratnya cuma satu. Bukan uang. Tapi, cukup berat syaratnya,” Septi menggantungkan kalimat pesannya.</p>
<p>Setelah mendapat penjelasan dari Septi lewat telephon, Cucu ahirnya mengerti. Ini taktik orang-orang gede, orang-orang dalam. Cucu sudah membulatkan niatnya. Itu pekerjaan mudah baginya. Walau syaratnya harus sampai tiga hari tiga malam, Cucu akan meladeni. Asalkan ia bisa jadi PNS.</p>
<p>Ia tak peduli dengan dosa atau cap ‘jalang’ jika seandainya perbuatanya diketahui orang.</p>
<p>Pokoknya Cucu ingin menjadi PNS.</p>
<p>Cucu akan memenuhi syarat itu. Jika memang itu adalah jalan satu-satunya menuju pintu masuk menjadi PNS, Cucu akan lakukan. Lagi pula syaratnya bukan sejumblah uang, melainkan hanya menemani makan malam sambil menggadaikan tubuhnya semalaman di hotel.</p>
<p>Cucu bersemangat lagi.</p>
<p>Matanya mulai menyala kemenagan.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Cucu seperti baru saja terbangun dari tidurnya beberapa menit yang lalu. Tapi ia kemudian segera sadar jika sudah lama berada dalam tempat yang berbeda. Sambil tiduran Cucu memandangi langit-langit hotel yang bersih, putih dan rapih. Di salah satu hotel berbintang, di kota ini. Lampu-lampu  yang terang dengan kasur yang empuk, beralaskan selimut tebal yang kini sedang digunakanya. Wangi parfum bunga membuat Cucu serasa berada di surga. Atau barangkali Cucu baru saja pergi ke taman surga bersama seorang lelaki setengah baya, yang baru dikenalnya.</p>
<p>“Pak Gogon, nanti saya jadi PNS kan?” tanya Cucu manja, sambil mengusap kumis Gogon yang tertata rapih.</p>
<p>Gogon mengeliat lincah. Bagai elang, geraknya cepat menerkam mangsanya. Birahi tak bisa lagi dibendungnya. Gogon kembali berlaku manja pada Cucu. “Urusan PNS itu ganpang bagi saya,” laki-laki itu membisikan pada Cucu.</p>
<p>Cucu makin tak sabar ingin jadi PNS. Di otaknya hanya ada kata PNS, yang harus didapatnya dalam waktu semalam. Cucu makin gerah dan tak sabar ingin segera jadi PNS. (*)</p>
<p><strong>Biodata singkat:</strong></p>
<p>Ahmad Wayang adalah relawan dan wartawan rumahdunia.com. Tulisan-tulisanya pernah dimuat di koran lokal Fajar Banten dan Radar Banten.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/29/cucu-mimpi-jadi-pns/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENJEMPUT AJAL</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/07/menjemput-ajal/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/07/menjemput-ajal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 06:17:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Ajal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1963</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen : Hilal Ahmad
Sudah tiga jam lebih lelaki tua itu teronggok di sudut pelataran rumahnya. Kepalanya yang ditumbuhi rambut putih terkulai lemas, seperti ayam potong yang mengakhiri hidup lewat belati tukang jagal. Matahari belum berada tepat di atas kepala, namun hari seperti cepat menjemput malam.
***
Lelaki tua itu menatap kosong. Matanya yang cekung membantunya bersikeras menerawang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong><img class="alignleft size-full wp-image-1962" title="Ajal" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/Ajal.jpg" alt="Ajal" width="400" height="301" />Cerpen : Hilal Ahmad</strong></p>
<p>Sudah tiga jam lebih lelaki tua itu teronggok di sudut pelataran rumahnya. <span id="more-1963"></span>Kepalanya yang ditumbuhi rambut putih terkulai lemas, seperti ayam potong yang mengakhiri hidup lewat belati tukang jagal. Matahari belum berada tepat di atas kepala, namun hari seperti cepat menjemput malam.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Lelaki tua itu menatap kosong. Matanya yang cekung membantunya bersikeras menerawang kejadian puluhan tahun silam, saat ia masih berusia seperti bocah yang tengah bermain di pekarangan rumah. Bibir tipis yang terlihat pucat itu mengulas senyum, mengucapkan sebuah nama. Nama yang begitu melekat dalam memorinya yang semakin menua dimakan usia.</p>
<p>“Kirana,” desis lelaki tua itu. Ia menghembuskan nafas berat. “Seandainya semua berjalan seperti yang kita rencanakan, tentu semuanya tak akan seperti ini,” ujarnya lirih, nyaris tak terdengar, tertelan suara bising bocah-bocah yang asik bermain gundu.</p>
<p>“Eh lihat, kakek itu tersenyum sendiri,” celoteh bocah berkaos biru bergambar jagoan seperti dalam televisi.</p>
<p>“Ah, jangan bohong kamu. Kakek itu kan nggak bisa ngomong,” timpal yang lain. Kali ini bocah lelaki berusia delapan tahun yang tinggal berdampingan dengan rumah lelaki tua itu.</p>
<p>“Aku tidak yakin kalau ia bisu,” sanggah bocah berkaos jagoan lagi.</p>
<p>“Iya. Kalau budek aku mungkin percaya. Tapi kalau bisu,” bocah berkaus merah menggelengkan kepala.</p>
<p>“Ah sudahlah jangan dipikirkan, ayuk kita lanjutkan main gundunya,” bocah keempat yang mengenakan seragam sekolah putih merah menengahi.</p>
<p>“Kok kalian nggak percaya sih,” bocah tetangga lelaki tua itu membela diri.</p>
<p>“Ayok kita buktikan,” tantang bocah berkaus jagoan.</p>
<p>Dengan tiba-tiba, tangan bocah berkaus jagoan mengambil sebongkah batu dan melemparkannya ke arah lelaki tua tadi.</p>
<p>Ia terkesiap. Ingatan akan Kirana kabur begitu saja. Lelaki tua itu mencoba bangkit dari kursi kayu reot yang kerap menemaninya melewati pagi menuju senja. Ia merasakan cairan hangat mengalir dari pelipis wajahnya. Perlahan ia meraba, dan semakin terasa. Cairan yang tak lagi begitu sekental dulu, menganak sungai. Kakek itu terpekur. Dadanya naik turun. Ia begitu ingat, situasi tersebut pernah dialaminya saat ia kelas dua SD. Saat teman-temannya menghadang usai pulang sekolah. Ia dikerubuti lebih dari lima anak, dilempari kalimat menusuk hati dan bongkahan kerikil yang berserakan di halaman sekolah.</p>
<p>Cairan merah dari pelipis itu terus mengalir, membaur dengan cairan bening yang sedari tadi menggenang di sudut matanya. Ia berani bertaruh, telinganya masih cukup tajam mengikuti pembicaran empat bocah yang bermain di pelataran rumahnya. Bahkan setiap kata demi kata masih sangat berbekas di benak lelaki yang dulunya seorang konsultan keuangan di sebuah perusahaan ternama di zamannya.</p>
<p>Ingin rasanya ia berteriak memanggil anak-anaknya. Tapi ia yakin akan sia-sia, karena nama-nama yang begitu dihafal itu tak lagi tinggal bersama dirinya. Sebagai gantinya, mereka mempersembahkan sepasang suami istri tak dikenalnya sedikitpun. Tapi lelaki itu bersyukur masih ada yang mau mengurusinya. Tapi kemana mereka. Matahari hampir masuk ke peraduan namun tak kunjung terlihat.</p>
<p>Cairan itu masih mengalir, berasal dari pelipis dan matanya yang cekung. Namun ia sudah tidak memikirkannya lagi. Lelaki itu mengatupkan mata, seiring dengan rona merah yang menghiasi cakrawala.</p>
<p align="center">***</p>
<p>“Bapak sudah bangun,” suara tegas tertangkap telinga lelaki tua itu. Ia tahu siapa pemiliknya. Gadis kecil buah hatinya yang menjadi kebanggaan karena selalu meraih peringkat teratas dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Namun lelaki itu tak mau berharap tinggi, karena sangat mustahil baginya bersua dengan puteri kecilnya yang sekarang telah memiliki dua putra dan berdomisili di Kanada.</p>
<p>Meskipun nurani lelaki itu begitu kuat ingin membuka mata, namun sisi lain hatinya menolak. Ia enggan bertemu dengan puteri semata wayangnya yang saat berusia dua hari ia beri nama Sangrina Avalokitesvera. Nama indah yang indah dari sebuah tabloid ibukota yang megupas tentang flora dan fauna.</p>
<p>“Ini semua salah kamu Sangrina.” Suara yang ini pun sangat ia hafal. Ia yakin jika pemiliknya adalah lelaki bermata tajam, berdagu lancip, berkulit bersih, dan berbibir tipis, yang menurut rekan kerjanya adalah salinan dari penampilan fisik lelaki tua itu. Adrian Ramawardhana. Putera sulung yang sudah sejak tiga tahun lalu tak pernah lagi mengunjunginya.</p>
<p>“Kok salah aku. Ini kan ide kamu Adrian, yang menaruhnya di desa sunyi seperti lahan tak bertuan itu,” bantah Sangrina.</p>
<p>“Ini jauh lebih mulia dibanding ide kamu yang ingin menaruh Bapak di panti jompo,” suara Adrian meninggi.</p>
<p>Ingin rasanya lelaki tua itu melerai, seperti yang kerap dilakukannya berpuluh tahun lalu, saat keduanya berebut mainan atau apapun yang meyulut pertengkaran. Sejak dulu keduanya memang kerap bertengkar. Mulanya lelaki tua itu mengira perihal tersebut hanya berlaku saat kanak-kanak saja. Tapi ia salah, kebiasaan itu masih terpelihara sampai sekarang.</p>
<p>Lelaki tua itu menyulam nafasnya yang tercerai berai. Saat-saat seperti ini ingin rasanya ia bertemu dengan putera ketiganya, Ranjita Birawa. Puteranya ini lebih banyak berdiam diri, pun saat kedua kakaknya bertengkar sengit memutuskan tempat tinggal dirinya dalam menghabiskan masa tua.</p>
<p>Masih hafal dalam benaknya, putera ketiga yang ia panggil Bira menitikkan air mata saat mencium punggung tangannya. Lelaki tua itu sangat tersentuh, anak yang paling tak dihiraukannya justru sangat berempati dan memendam luapan kasih yang menggunung.</p>
<p>Lelaki tua itu pun masih hafal, perlakuannya pada Birawa yang ia sadari sangat tidak adil. Ia lebih menyayangi Adrian, si sulung yang memiliki wajah rupawan dan Sangrina yang memiliki otak secerdas Einstein. Tapi Bira, ia tak memiliki kelebihan apapun kecuali keinginannya yang kuat untuk masuk pesantren, yang lelaki itu rasa merupakan hal sia-sia. Ingat Bira, lelaki itu ingat pula pada Kirana. Istri pilihan orangtuanya yang begitu mengasihinya meski tak kunjung berbalas. Kerap pula ia menghardik segala yang dilakukan Kirana untuknya. Tapi untungnya Kirana mempersembahkan buah hati yang lucu dan membanggakan yakni Adrian dan Sangrina. Lagi-lagi lelaki tua itu merajut nafas yang tercerai berai.</p>
<p>“Kau bagaimana Bira, apa kau setuju jika Bapak kita kirim saja ke panti jompo,” suara Adrian terdengar lagi.</p>
<p>Hening. Lelaki tua itu tidak mendengar suara, hanya helaan nafas dari beberapa makhluk yang berada di sekelilingnya. Lelaki itu berharap Bira memberikan jawaban yang sangat memuaskan. Aih Kirana, betapa aku sangat merindukanmu.</p>
<p>“Sebenarnya…aku setuju…”</p>
<p>Jantung lelaki itu berdetak lebih kencang seiring makin tak beraturannya garis-garis dalam monitor yang tak jauh diletakkan di ranjang tempat ia berbaring.</p>
<p>Bira yang belum sempat melanjutkan ucapannya tersentak. Sorot matanya yang sedari tadi tak lepas dari monitor penanda kehidupan sang ayah membuatnya spontan memanggil bantuan perawat.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Lelaki tua itu mengerjapkan matanya. Ia berada di ruang dengan nuansa serba putih. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi tak berhasil. Lengannya terasa sakit dan terganjal sebuah benda yang tak lain adalah jarum infus. Badannya terasa remuk redam.</p>
<p>Ia menyapu ruang dari sudut matanya. Seorang perawat berseragam putih berdiri di sampingnya, asik mencatat sambil sesekali mengamati benda di ruang tempatnya tinggal.</p>
<p>Perawat itu tersenyum. Lalu berkata, “Bapak lekas sembuh ya,” lalu pergi meninggalkannya kembali bergumul dengan kesunyian.</p>
<p>Esok harinya, lelaki itu sudah merasa lebih baik. Ia bisa menggerakkan persendian tubuhnya. Ia mencoba menegakkan punggungnya, dengan susah payah akhirnya keinginannya tercapai. Ia bersandar sambil terus mengamati ruang yang menjadi tempat tinggal barunya itu.</p>
<p>“Kirana….”</p>
<p>Belum sempat kalimatnya berlanjut, Adrian masuk ke dalam ruang.</p>
<p>“Bapak sudah bisa pulang hari ini,” ujarnya singkat.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Lelaki itu sudah siap dengan rutinitas hariannya, duduk di pelataran rumah menyaksikan perjalanan sang surya menuju senja. Tak ada pekerjaan yang lebih mengasyikkan baginya selain detik demi detik merasakan pergantian waktu.</p>
<p>Ini merupakan hari pertama setelah ia kembali dari rumah sakit. Menurut dokter yang merawatnya, ia hanya menderita luka ringan karena kehabisan darah yang terus mengucur dari pelipisnya yang terluka.</p>
<p>Lelaki itu sudah tidak lagi mempermasalahkan hal tersebut, ia justru mengamati pekarangan rumahnya yang biasa dijadikan arena bermain bocah-bocah tetangga, tapi kini sepi. Padahal hari itu libur sekolah karena tanggal merah. Hari seperti itu kerap digunakannya untuk bermain bersama Adrian dan Sangrina dengan berbagai kegiatan. Sedangkan Bira dan Kirana mempersiapkan segala sesuatu di dapur.</p>
<p>Ingat Adrian dan Sangrina hatinya seperti disayat-sayat. Kemana mereka sekarang, apakah tengah terjebak pada kesibukan masing-masing. Tapi tidakkah terpikir untuk semenit saja menemaninya, sekadar menghiburnya, seperti yang ia lakukan saat mereka masih kanak-kanak.</p>
<p>Sekelebat, benaknya teringat Bira dan Kirana. Batinnya bergemuruh. Kadua nama itu membuatnya sangat terpukul. Raut wajahnya yang keriput sangat kentara menyiratkan penyesalan. Andai saja waktu dapat diputar ulang, tentu ia tak akan mengusir keduanya dengan kasar hanya karena tuduhan  yang sampai saat ini tak dapat dibuktikan.</p>
<p>Lelaki tua itu melirik pohon belimbing tepat di depan matanya. Cahaya matahari dari ufuk timur masih bermalu-malu bersinar dari balik ranting pohon tersebut, pertanda hari masih belum beranjak siang. Pandangannya beralih pada sekantung obat yang ia sendiri tak tahu berguna sebagai apa. Sebelum duduk di singasananya, ia sempat menitipkan permintaan agar sepasang suami istri yang merawatnya jangan menggang hingga matahari tepat di atas kepala. Dan sebelum ia duduk di kursi itu, disediakan air putih dalam gelas berukuran sedang.</p>
<p>Lelaki itu tersenyum saat matahari menyinari pepohonan dan hampir memakan habis bayangan pohon di pekarangan. Tangan kirinya meraih kantung plastik warna hitam, dan menumpahkan butiran pil di telapak tangan kanannya. Lalu menenggak habis butiran berwarna putih, kuning, dan biru tanpa sisa. Tangan kirinya kembali meraih gelas sedang berisi air putih lalu meneggaknya hingga habis.</p>
<p>Pria itu menantikan detik selanjutnya dengan mata bebrinar, seperti mata bocah yang menang saat main gundu di pekarangan rumahnya. Saat matahari benar-benar berada di atas kepala, senyum di wajah tuanya semakin terlihat, seiring dengan gumpalan busa yang keluar dari sudut bibirnya yang dulu menjadi ampuh menggaet para wanita.</p>
<p>Satu persatu nafas yang ia rajut dengan susah payah mulai melemah, kemudian menghilang. Seiring dengan deru mobil yang masuk ke pekarangan rumah.</p>
<p>Sebelum ia benar-benar menutupkan mata, sosok wanita dan lelaki yang begitu dirindukannya selama tiga tahun ini mendekati singasananya. Namun ia hanya bisa mengucapkan sebuah nama yang sekaligus sebagai kalimat terakhirnya.</p>
<p>“Kirana….”</p>
<p align="center">***</p>
<p>*) Serang, 04112008</p>
<p>*) Penulis adalah wartawan Radar Banten, Ketua FLP Serang</p>
<p>============================================================</p>
<p>–REDAKSI menerima kiriman cerpen yang tidak menyinggung sara. Panjang cerpen 10.000 karakter. Kirimkan via E-mail berikut biodata ke <a href="mailto:cerpen@rumahdunia.com">cerpen@rumahdunia.com</a> . Cerpen yang dimuat akan mendapatkan honorarium sebesar Rp. 50.000.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/07/menjemput-ajal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>S A N G   B I D U A N</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/03/s-a-n-g-b-i-d-u-a-n/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/03/s-a-n-g-b-i-d-u-a-n/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 14:36:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmad Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[Biduan]]></category>
		<category><![CDATA[organ tunggal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1911</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ahmad Wayang
Kini gadis berambut panjang dan bertubuh ramping itu mulai dilirik orang. Juga kakinya yang indah, serta wajah yang memiliki senyum manis dan kata sebagian orang selalu membuat rindu, telah berhasil memikat penggemarnya dengan suaranya yang khas.
Meski terbilang anak bawang, tapi namanya sudah banyak dikenal banyak orang. Nurheti namanya. Sering diundang di berbagai desa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1912" class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><img class="size-full wp-image-1912" title="joget" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/joget.JPG" alt="http://2.bp.blogspot.com" width="320" height="240" /><p class="wp-caption-text">http://2.bp.blogspot.com</p></div>
<p>Oleh: Ahmad Wayang</p>
<p>Kini gadis berambut panjang dan bertubuh ramping itu mulai dilirik orang. <span id="more-1911"></span>Juga kakinya yang indah, serta wajah yang memiliki senyum manis dan kata sebagian orang selalu membuat rindu, telah berhasil memikat penggemarnya dengan suaranya yang khas.</p>
<p>Meski terbilang anak bawang, tapi namanya sudah banyak dikenal banyak orang. Nurheti namanya. Sering diundang di berbagai desa untuk bernyanyi di acara pesta perkawinan atau sunatan.</p>
<p>Aku mengenalnya sebulan yang lalu. Saat Toni, mengajakku pergi ke sebuah tontonan organ tunggal, di pasar Kamis.</p>
<p>“Ada biduan baru yang masih segar, Bos,” kata Toni malam itu. “Namanya Nurheti. Cantik dan montok orangnya. Pokoknya bos bakalan suka!”</p>
<p>Di atas panggung, saat Nurheti sedang menyanyi, aku langsung menyukainya. Aku pun tertarik, dan langsung berjoget dengannya seraya menyawer. Kuberikan semua uang yang kupegang tanpa banyak pikir lagi. Perlahan kucium bau wanginya, yang membuat iman para kaum Adam runtuh dan tergoda ingin memilikinya. Nurheti begitu sempurna di mataku, hingga saat lagu berhenti, aku memandikan Nurheti dengan ratusan uang berwarna unggu.</p>
<p>Di belakang panggung yang remang-remang, berserakan beberapa bekas botol minuman keras di bawah kakiku. Aku mengobrol sejenak. Dengan sedikit rayuan dan bualan kosong, aku berhasil mendapatkan nomor <em>handphone</em>-nya. Malam ini aku tanggap Nurheti menyanyi, berjoget dan bergoyang denganku. Sebetulnya aku belum puas bergoyang denganya. Aku ingin menghabiskan malam ini bersama Nurheti, tapi aku keburu dibopong Toni pulang. Katanya aku mabuk berat.</p>
<p>Setelah menyempatkan memberi uang pada Nurheti secara diam-diam, aku suruh Toni membawaku pulang ke rumahnya. Aku suruh juga Toni mengirimkan Nurheti padaku malam ini. Tapi, malah Toni menganggapku bergurau. Hingga pagi tiba, aku tak bisa cari alasan untuk pulang ke rumah. Popy pasti marah, kalau tahu uangku habis hanya untuk menyawer biduan. Di rumah akan jadi neraka, kalau sampai Popy tahu uangku berpindah pada Nurheti, biduan cantik yang telah memikat hatiku.</p>
<p>“Aku harus bisa mendapatkan Nurheti. Seperti Popy, si artis ibukota yang berhasil aku taklukkan hatinya.” Aku membatin. Aku yakin, dengan beberapa langkah saja aku bisa mendapatkannya. Apalagi aku tahu kalau Nurheti terlahir dari keluarga miskin. Tinggal aku rayu saja dengan uang, pasti dia akan jatuh di pangkuanku. Ya, begitulah aku membayangkan indah. Aku ingin tertawa membayangkan kemenanganku nanti. “Nurheti, tunggulah Abangmu ini.” Aku tak kuat menahan kegembiraan ini.</p>
<p>***</p>
<p>Tengah malam pintu diketuk dari luar. “Assalamu’alaikum&#8230; Bu. Ibu.” Nurheti mengetuk, tapi tak ada jawaban dari dalam rumah. Nurheti mengintip dari lubang bilik rumahnya. Nurheti kembali mengetuk dan memanggil. Barulah, beberapa saat kemudian terdengar jawaban dari dalam rumah. Pintu pun terbuka.</p>
<p>“Mita sama Imah, udah pada tidur?” Nurheti mencium lengan punggung ibunya, lalu memberikan bungkusan plastik berisi lepet dan telor asin.</p>
<p>“Pulangnya, kamu dianter sama siapa, Nur?” tanya Ibu khawatir.</p>
<p>“Ya, bareng sama biduan-biduan yang lain,” Nurheti sedikit cemas. “Memangnya, kenapa Bu?” sambungnya.</p>
<p>“Nggak papa, Ibu cuma khawatir. Takut, kalau kamu pulang sendirian nanti, ada apa-apa di jalan.”</p>
<p>“Ibu jangan khawatir, Nur kan udah gede. Nur bisa jaga diri kok.” Nur mencoba menenangkan kecemasan Ibu. “Oh, ya, malam ini Nur dapat rezeki lebih.” Nurheti memberikan uang pada Ibunya.</p>
<p>“Lima ratus ribu?” kata Ibu tak percaya.</p>
<p>“Bapak pulang?” tanya Nur.</p>
<p>“Belum. Mungkin besok.” Ibu masih sibuk membulak-balik uang.</p>
<p>“Sebagian uangnya ditabung ya, Bu, buat biaya sekolah Mita dan Imah nanti,” pinta Nur. “Oh, iya, minggu depan, Nur diundang nyanyi di kota. Nur boleh ikut ya?” pinta Nur memelas.</p>
<p>“Tapi…” Ibu berfikir.</p>
<p>”Soal Bapak?” potong Nur. “Nanti Nur yang ngomong,” kata Nur mantap. “Sudah saatnya Nur membantu ekonomi keluarga kita. Sudah waktunya kita bangun dari kemiskinan,” hati Nur berkobar-kobar. “Nur nggak mau ngelihat Imah dan Mita putus sekolah. Nur nggak mau terus-terusan hidup dalam kemiskinan.” Matanya sedikit berkaca-kaca.</p>
<p>“Ya sudah, nanti kita bicarakan besok dengan Bapak. Sekarang kamu istirahat <em>gih</em>.” Ibu mengelus rambut Nur sebelum si putri sulung masuk ke kamarnya.</p>
<p>****</p>
<p>Malam itu di pasar induk kota, Ramin sibuk mengangkat sayuran dari bak truk, bersama ketiga kawannya. Setelah itu diangkut ke dalam kios atau gubuk-gubuk pasar. Dengan upah Rp 10.000 sampai Rp 20.000 per orang.</p>
<p>HUUUHH…!! Ramin membuang nafas. Di usapnya keringat yang mulai membanjiri wajah yang mulai menua.</p>
<p>Ramin terdiam kaget, saat mendengar nama anaknya disebut-sebut dua orang pemuda yang sedang mabuk.</p>
<p>“Minggu depan, di alun-alun ada  Nurheti. Biduan cilik yang bohai itu akan nyanyi,” kata pemuda berambut gondrong.</p>
<p>“Katanya, cantik dan seksi, ya?” pemuda bersarung menimpali.</p>
<p>“Beeh, pokoknya artis ibukota <em>mah</em>, kalah sama Nurheti. Aku juga mau jadi pacarnya. Bohai banget pokoknya!”</p>
<p>Ramin beristigfar dalam hati. Benarkah Nurheti yang diceritakan kedua pemuda itu adalah anaknya? Ramin terus bertanya-tanya dalam hati. “Semoga saja, dia bukan Nurheti, anakku,” Ramin berharap dalam hatinya. “Tapi, seandainya dia anakku? Ah, tidak mungkin!” Ramin segera mengusir anggapannya jauh-jauh.</p>
<p>”Min, kenapa?” Didin menepuk pundak Ramin yang sedang bengong.</p>
<p>“Eh, nggak, saya cuma kepikiran anak di rumah.” kata Ramin murung.</p>
<p>Hingga pagi tiba, Ramin terus kepikiran anak gadis sulungnya, Nurheti. Pagi itu juga, setelah membeli satu kilo rambutan, Ramin segera pulang. Ramin tak lupa dengan pesanan Mita, anak bungsunya yang ingin dibelikan rambutan.</p>
<p>****</p>
<p>Di dalam angkot, Ramin duduk di pojok bengong sendiri. Tak berapa lama naik dua orang bocah berseragam sekolah duduk di pojok. Berhadapan dengan Ramin.</p>
<p>“Eh, minggu depan ada biduan Nurheti, ya di Alun-alun kota?” tanya bocah yang kurus.</p>
<p>“Iya, tumben kamu tahu, Dik? Nanti kita nonton bareng, ya,” ajak bocah yang agak gendut. “Tadi malam, kamu diajak nonton nggak mau. Ada Nurhetinya. Aku juga sempet nyawer dia. Wuuh… pokoknya, begini orangnya!” katanya lagi sambil mengacungkan jempol. “Sini aku kasih tahu,” lalu membisikan sesuatu pada temanya.</p>
<p>“Wiihh, sampe meluk segala?” katanya tak percaya. Dan tawa pun pecah di tengah-tengah Ramin.</p>
<p>Ramin kaget mendengar obrolan bocah tadi. Jantung Ramin berdetak kencang. Ramin yakin sekarang, jika biduan yang sedang dibicarakan kedua bocah ini adalah Nurheti, anaknya. Darah Ramin naik ke atas. Hingga turun dari angkot, Ramin belum bisa memadamkan amarahnya yang sedang bergolak.</p>
<p>Sesampainya di rumah, Ramin langsung menanyakan Nurheti pada istrinya.</p>
<p>“Ada, Kang di kamar.” kata Ibu. Dan tak berapa lama wajah Nur nongol dari balik helai gorden yang dijadikan pintu kamarnya.</p>
<p>“Ada apa, Pak?” tanya Nur.</p>
<p>“Ada apa, ada apa&#8230; Kamu semalam ngedangdut, ya? Kamu nggak denger omongan Bapak? Bapak nggak mau kamu jadi biduan!” bentak Ramin tiba-tiba memarahi Nurheti.</p>
<p>“Tapi kenapa, Pak? Nur cuma ingin ngebantu Bapak dan Ibu cari duit. Nur nggak mau ngelihat…” Nur tak sempat meneruskan ucapanya.</p>
<p>“Sekali tidak, tetap tidak! Paham kamu?” bentak Ramin lagi, sembari menunjuk Nur penuh amarah. Di mata Ramin pekerjaan biduan adalah pekerjaan yang hina dan penuh dengan dosa. Ramin tak mau melihat anaknya terjerumus dalam lembah maksiat. Ramin tak mau melihat masa depan anknya hancur.</p>
<p>“Apa Bapak malu, punya anak seorang biduan?” bentak Nur di luar kendali.</p>
<p>Tangan Ramin sudah siap di layangkan ke wajah Nur, tapi keburu di cegah Ibu.</p>
<p>“Sudah, sudah…!” Ibu menengahi pertengkaran. Sedang Nur masuk ke dalam kamar sambil menangis.</p>
<p>****</p>
<p>“Hallo.” terdengar suara dari sebrang.</p>
<p>“Iya, Bang ada apa?” tanya Nur.</p>
<p>“Nanti malam Abang yang jemput kamu, ya?”</p>
<p>“Nggak usah Bang, makasih. Mulai besok Nur nggak bakalan nyanyi lagi. Bapak ngelarang Nur nyanyi. Nur juga sudah ngebatalin janji sama Manis Grup.” Nur menjelaskan.</p>
<p>“Loh, kenapa dibatalin? Kamu itu banyak yang nunggu di sana. Sebentar lagi, kamu pasti jadi penyanyi terkenal, dengan suara emasmu itu. Tinggal beberapa langkah lagi, kamu bakalan sukses!” rayu Jaka. “Kamu harus buktikan sama Bapakmu, kalau kamu bisa jadi orang hebat. Kalau kamu bisa jadi kaya dengan bernyanyi!”</p>
<p>Tak ada jawaban. Nur masih berfikir keras.</p>
<p>“Abang harap kamu bisa terus bernyanyi. Kalau perlu kamu kabur dari rumah untuk beberapa hari. Nanti Abang carikan kontrakan buat kamu. Masalah biaya, jangan kamu pikirkan. Nanti Abang yang tanggung semuanya. Asalkan mimpi kamu terwujud. Kamu itu masih muda, jangan kamu kubur mimpi itu hanya gara-gara larangan Bapakmu. Justru kamu harus buktikan, kalau kamu itu bisa.” Jaka memutuskan sambungan teleponnya.</p>
<p>Jaka berharap, Nurheti akan termakan rayuannya. Tapi sampai pukul lima sore Nurheti tak kunjung menghubungi Jaka.</p>
<p>Tak berapa lama ada pesan masuk di Hp Jaka. “Bang, jemput Nur di terminal. Sekarang.”</p>
<p>Tanpa pikir lagi, Jaka langsung menjemput Nur dengan sedan hitamnya. Nur telah masuk dalam kandang serigala berwajah tampan. Sedan hitam meluncur di jalanan kota.</p>
<p>“Kita  cari makan dulu, ya? Nur juga belum makan kan?” ajak Jaka. Nur hanya bisa menurut mengiyakan ajakan Jaka.</p>
<p>“Tapi kok, jalan sini? Ini kan jalan sepi?” Nur mulai khawatir.</p>
<p>Tanpa Nur sadari, Toni yang dari tadi ada di belakang jok mobil langsung memainkan aksinya sesuai perintah Bos Jaka.</p>
<p>HUUP!!!</p>
<p>“Kena kamu.” Toni membius Nurheti dari belakang. Tiba-tiba kepala Nur jadi pusing dan pandangannya mulai buram, lalu gelap. Sedan hitam itu terus meluncur jauh di tempat yang makin sepi. Hanya ada tawa kemenangan dua orang, di dalam sedan itu. Sedang mimpi seorang biduan masih terlelap, dan entah kapan ia akan bangun.</p>
<p><em>Februari 2009</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ahmad Wayang,</strong> lahir 19 September 1987 di Kepondoan, Serang-Kibin. Pernah mengikuti <em>training</em> menulis (TRALIS) 3 FLP dan kelas menulis Rumah Dunia angkatan VIII, sekaligus menjadi relawan di Rumah Dunia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/03/s-a-n-g-b-i-d-u-a-n/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DIALOG DENGAN TSUNAMI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/18/dialog-dengan-tsunami/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/18/dialog-dengan-tsunami/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 20:18:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[RG Kedung Kaban]]></category>
		<category><![CDATA[Tsunami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1364</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : RG. Kedung Kaban
Teuku baru saja tersadar dari pingsannya. Kedua matanya yang mulai terbuka mengedarkan pandangan ke setiap penjuru. Di setiap sudut tempat ia melihat banyak sekali ranjang ditiduri orang. Di suatu sudut lainnya ia juga melihat puluhan orang yang terbungkus kain, terbujur seperti ikan pindang yang dijejerkan rapi. Sementara telinganya mendengar suara gaduh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1365" title="Tsunami" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Tsunami.jpg" alt="Tsunami" width="500" height="377" />Oleh : RG. Kedung Kaban</p>
<p>Teuku baru saja tersadar dari pingsannya. Kedua matanya yang mulai terbuka mengedarkan pandangan ke setiap penjuru.<span id="more-1364"></span> Di setiap sudut tempat ia melihat banyak sekali ranjang ditiduri orang. Di suatu sudut lainnya ia juga melihat puluhan orang yang terbungkus kain, terbujur seperti ikan pindang yang dijejerkan rapi. Sementara telinganya mendengar suara gaduh di sekitarnya; suara tangis dan ratapan yang tak henti-hentinya. Namun, otaknya belum sempurna bekerja, hinga ia belum sepenuhnya sadar akan apa yang telah terjadi dan berada di mana ia kini. Perlahan ia mulai merasakan nyeri di beberapa bagian tubuhnya. Keningnya mengereyit menahan sakit.</p>
<p>“Di mana aku…?” ucap Teuku lirih.</p>
<p>Seorang pria berseragam putih yang mendengar suara Teuku berjalan mendekati Teuku. “Syukurlah, Anda sudah sadar. Jangan banyak gerak dulu, ya. Luka Anda cukup parah.”</p>
<p>“Di mana aku?” ulang Teuku.</p>
<p>“Anda berada di Rumah Sakit.” Selesai berucap pria itu pergi meninggalkan Teuku dan berjalan menuju ranjang yang lain. Digantikan tiga orang pria berebut mewawancarai Teuku.</p>
<p>“Bisa ceritakan bagaimana, Anda bisa selamat dari bencana ini?” tanya salah seorang dari ketiga pria itu dengan mengangsongkan tape rekorder ke mulut Teuku.</p>
<p>Teuku tak menjawab. Ingatannya kacau. Hanya matanya memandang pria itu lekat-lekat.</p>
<p>“Anda, salah satu orang dari puluhan ribu korban meninggal. Bisa ceritakan bagaimana Anda bisa selamat?” ulang pria itu.</p>
<p>Kedua mata Teuku melotot. Wajahnya menegang. Ingatannya mulai pulih, dan mengantarkan ia pada bayangan kejadian kemarin siang, bagaimana luluhlantaknya kota Serambi Mekah ini dihantam badai tsunami. Kedua adiknya dan ibu-bapaknya yang tengah berada di dalam rumah hanyut bersama banguna rumahnya yang ambruk terbawa air entah ke mana. Sementara ia yang juga tak sempat melarikan diri berhasil menangkap sembilah papan yang hanyut di depanya, sehingga ia tak tenggelam. Namun, ia sempat merasakan bagaimana sakit tubuhnya dibenturkan arus air pada benda-benda keras. Saat itu ia mengira dunia tengah kiamat.</p>
<p>“Bisa ceritakan kejadian yang telah Anda alami?” desak pria itu.</p>
<p>“Kalia tau di mana seluruh keluargaku?” Teuku balik tanya dengan mata yang masih melotot tegang.</p>
<p>Pria itu menggeleng. Teuku mengalihkan pandangannya ke pria yang ke dua. Pria itu pun menggeleng. Kemudian Teuku mengalihkan pandangannya ke pria yang ke tiga.</p>
<p>“Aku tak tau,” jawab pria yang ke tiga itu.</p>
<p>“Ada berapa korban bencana ini?” tanya Teuku lirih.</p>
<p>“Yang ditemukan baru delapan puluh ribu. Tak menutup kemungkinan mencapai seratus ribu jiwa,” kata salah seorang pria.</p>
<p>Kembali batin Teuku tergoncang. Ia tak mengira korban bencana ini sebanyak itu.</p>
<p>Teuku bangun dari rebahnya. “Adik-adikku, bapak-ibu, di mana kalian…!” Teuku berteriak histeris. Ke tiga wartawan yang berkerumun tak lagi mewawancarai. Mereka hanya memandangi tingkah Teuku.</p>
<p>Teuku mencabut jarum infus yang menancap di salah satu tangannya. Setelah itu ia melompat turun dari ranjang dan segera berlari keluar. Beberapa dokter dan perawat sukarelawan berusaha mengejar. Namun Teuku sudah berlari jauh menerobos gelapnya malam seraya berteriak-teriak tak karuan.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Teuku selalu mengamati wajah setiap mayat yang dijumpainya di reruntuhan bangunan atau yang berserakan di jalan-jalan, mengira itu mayat salah satu keluarganya yang hilang. Tapi, dari sekian banyak mayat yang diamatinya itu ia belum menemukan seorang pun mayat keluarganya. Dan masih banyak lagi mayat yang harus ia teliti. Sedangkan rasa letih membuatnya tak mampu melakukannya. Ia rebahkan tubuhnya di jalanan tak perduli dengan mayat-mayat yang berada di sekitarnya. Ia tertidur.</p>
<p>Hari hampir pagi. Wajah kota yang rusak akibat badai tsunami mulai menampakan diri, pemandangan mengerikan bagi siapa saja yang melihatnya. Hampir seluruh bangunan di kota Serambi Mekah ini ambruk, rata dengan tanah. Ratusan mobil terbalik. Dan puluhan ribu mayat manusia dan hewan ternak berserakan di mana-mana. Melukiskan betapa dasyatnya gelombang tsunami itu.</p>
<p>Matahari merangkak naik. Teuku terbangun dari tidurnya oleh jilatan hangat sinar matahari di tubuhnya. Ia langsung ingat nasib keluarganya. Segera ia bangkit dan kembali meneliti wajah-wajah mayat yang ada di sekitarnya. Keringatnya bercucuran membasahi pakaian dan tubuhnya. Sementara hatinya sangat sedih. Banyak mayat di antaranya yang ia kenal.</p>
<p>Selesai meneliti semua mayat di sekitar itu, Teuku kembali berlari menuju sudut kota yang lain untuk mencari mayat keluarganya. Di suatu tempat, ia melihat posko satuan Palang Merah yang bertugas mengevakuasi mayat-mayat. Segera ia mendekati posko tersebut.</p>
<p>“Mana kedua adikku dan bapak-ibuku?” tanya Teuku dengan wajah tegang dan berjalan mondar-mandir.</p>
<p>Sekelompok petugas Palang Merah yang tengah sibuk meletakkan mayat-mayat memperhatikan Teuku. Mereka merasa iba.</p>
<p>“Anda bisa lihat mayat-mayat itu. Mungkin saja di antaranya ada mayat salah seorang keluarga, Anda,” kata salah seorang petugas.</p>
<p>Teuku segera mendekati mayat yang berjejer rapi di lantai. Satu persatu kain yang menutupi wajah mayat-mayat itu ia sibakan. Pada mayat yang ke sekian puluh ia menemukan mayat bapak-ibunya. Tapi, mayat kedua adiknya tidak tertemukan. Teuku menangis dan berteriak-teriak histeris. Beberapa petugas berusaha menenangkannya.</p>
<p>“Lalu di mana kedua adikku? Apakah kedua adikku masih hidup?”</p>
<p>“Empat ratus meter di depan sana ada juga sebuah posko tempat pengevakuasian mayat.” tunjuk seorang petugas, “Anda, bisa ke sana untuk mencari adik-adik Anda.”</p>
<p>Bergegas Teuku menuju posko tersebut. Sesampainya di sana, Teuku langsung menuju mayat anak-anak yang berjejer rapi di aspal pinggir jalan. Ia sibakkan satu persatu kain yang menutupi wajah mayat-mayat itu. Pada ke sekian ratus ia menemukan mayat kedua adiknya yang dipenuhi luka memar di sekujur tubuhnya. Teuku kembali menangis dan berteriak-teriak histeris. Kali ini tak ada seorang pun yang berusaha menenangkannya. Sejak terjadinya musibah tsunami sudah berapa bayak orang yang bertingkah seperti itu.</p>
<p>Setelah lelah menangis dan airmatanya habis, Teuku bangkit berdiri. Dan berjalan lesu. Matanya kuyu, wajahnya murung. Tak ada gairah hidup yang terpancar di wajah kotornya itu. Ia terus saja berjalan tujuan Di dekat reruntuhan sebuah kantor pemerintahan tiba-tiba Teuku berhenti. Matanya yang semula kuyu berubah melotot, wajah murungnya berubah menegang, memancarkan kemarahan. Seluruh tubuhnya bergeletar. Kedua tangannya terkepal.</p>
<p>“Tsunami…! Tunggu pembalasanku!” Teuku berteriak lantang. Kemudian ia berlari sekencang-kencangnya.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Sejak Teuku mengetahui seluruh keluarganya tewas. Teuku bertingkah tak lagi seperti orang waras. Setiap penjuru kota ia datangi untuk mencari di mana tsunami berada. Ia menganggap tsunami seperti halnya manusia. Ia ingin membalas dendam pada tsunami atas kematian seluruh keluarganya, kerabatnya, para tetangganya, teman-temanya dan puluhan ribu penduduk kota. Setiap orang yang berpapasan dengannya di jalan ia tanyakan di mana keberadaan tsunami. Dan setiap orang yang ditanya pasti menggeleng dengan perasaan haru pada kejiwaan Teuku.</p>
<p>Di jalanan Teuku menemukan wanita tua tengah menangis. Di pangkuan wanita tua terbujur mayat cucunya. Ia dekati wanita tua itu. Ia berjongkok di samping wanita tua. Untuk sejenak Teuku menjadi penonton kedukaan wanita tua.</p>
<p>“Siapakah dia?” tanya Teuku.</p>
<p>Wanita tua menolehkan wajahnya. “Cucuku,” jawabnya. Kembali wanita tua itu menangis, meratapi kepergian cucunya.</p>
<p>“Hentikanlah tangismu. Aku akan membalaskan dendam cucumu.”</p>
<p>Wanita tua memandang wajah Teuku lekat. Keningnya berkerut. “Membalas dendam? Membalas dendam pada siapa?”</p>
<p>“Pada tsunami.”</p>
<p>“Gila!”</p>
<p>“Ya, tsunami telah membuatku gila.”</p>
<p>“Pergilah kau ke pantai. Di sana tempat ombak tsunami berasal. Matilah kau di sana!” serapah wanita tua.</p>
<p>Mata Teuku berbinar. “Betulkah di sana tempatnya?”</p>
<p>Wanita tua tak mau lagi menjawab.</p>
<p>Segera Teuku berlari ke arah pantai terdekat di kota itu.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Keadaan pantai porak-poranda. Ratusan pohon kelapa tumbang. Perahu-perahu nelayan hancur. Hancurannya berserakan di pantai.</p>
<p>Teuku baru saja tiba di tempat itu. Napasnya tersengal-sengal. Matanya menatap tajam mengawasi sekitar pantai, mencari-cari tsunami. Tapi ia sendiri memang tak tahu pasti berwujud seperti apakah tsunami itu.</p>
<p>Teuku menemukan potongan kayu balok tergeletak di hadapannya, sisa tiang layar perahu nelayan yang patah. Dipungutnya kayu balok itu. Kemudian, ia berjalan ke setiap penjuru pantai. Namun, sampai hari gelap tsunami yang dicarinya tak tertemukan juga. Pada sebuah batu karang yang tingginnya sekitar satu meter Teuku berdiri di atasnya.</p>
<p>“Tsunami…! Di mana kau…! Keluarlah aku hendak membuat perhitungan denganmu!” teriak Teuku terus menerus seperti itu.</p>
<p>Hari telah gelap. Teuku tertunduk kecapaian. Perlahan ombak laut pasang. Mulut Teuku menyeringai.</p>
<p>“Inikah tanda-tanda tsunami akan datang?” Teuku membatin. Kayu balok yang ada di genggamannya ia pegang lebih erat. Bola matanya bergerak liar mengawasi sekitarnya. Setelah sekian lama menunggu apa yang diharapkanya tak kunjung datang. Ombak pasang hanya menenggelamkan setengah meter batu karang yang didudukinya. Dengan perasaan kecewa ia rebahkan tubuhnya pada batu karang dengan posisi meringkuk. Rasa letih membuatnya tertidur.</p>
<p align="center">***</p>
<p>“Teuku… akulah tsunami.”</p>
<p>Teuku segera bangkit. Kayu balok yang ada di genggamannya diangkat tinggi-tinggi, bersiap-siap memukul. Kepalanya <em>celingukan</em>, bola matanya berputar liar. “Di mana kau?!”</p>
<p>“Aku di dekatmu.”</p>
<p>“Di mana?!”</p>
<p>“Kau takkan dapat melihatku!”</p>
<p>“Cepat kau tunjukan rupamu! Aku hendak membalas dendam atas kematian seluruh keluargaku dan puluhan ribu bahkan mungkin ratusan ribu orang di kotaku!”</p>
<p>“Mengapa kau menyalahkan aku? Aku hanya menjalankan titah,” suara itu terdengar parau.</p>
<p>“Kau hendak berdalih, hah!”</p>
<p>“Sungguh, aku hanya menjalan titah.”</p>
<p>“Siapa yang mentitahmu?!”</p>
<p>“Tuhan.”</p>
<p>“Tuhan? Tuhan siapa?!”</p>
<p>“Tuhanmu, Tuhanku, Tuhan alam raya ini.</p>
<p>“Mustahil! Dia Mahapengasih dan Mahapenyayanng! Tak mungkin ia menimpahkan azab seperti ini!” Teuku tak dapat mempercayainya.</p>
<p>“Ini bukan azab, ini teguran untuk orang-orang yang berdosa.”</p>
<p>“Tapi anak-anak juga menjadi korban, apakah mereka juga berdosa?!”</p>
<p>“Untuk mereka ini ujian yang banyak sekali pahalanya.”</p>
<p>Teuku menunduk. Perlahan airmatanya meleleh membasahi pipi. Ia tak tahu lagi hendak menyalahkan siapa. Karena ia tahu betul Tuhan tak pernah berbuat kesalahan.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Matahari baru saja muncul. Sinarnya menimpa wajah dan seluruh tubuh Teuku yang tertidur masih dengan posisi meringkuk. Teuku terbangun. Kepalanya <em>celingukan</em>, bola matanya berputar liar.</p>
<p>“Tsunami…! Ke mana kau…?! Jangan pergi dulu, masih banyak yang ingin aku tanyakan!”</p>
<p>Pada saat itu puluhan sukarelawan yang telah tiba di pantai saling berbisik. “Kasihan, banyak orang yang sakit mental akibat bencana ini.”</p>
<p align="center">***</p>
<p>*) Mengenang peristiwa Aceh, 26-Des-04</p>
<p>(BK) Serang-Banten, 04-Jan-05</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/18/dialog-dengan-tsunami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PULANG DARI HAJI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/15/pulang-dari-haji/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/15/pulang-dari-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 02:02:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[Ka'bah]]></category>
		<category><![CDATA[Mekkah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1169</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gol A Gong
Akbar tersenyum lebar. Dia duduk di kursi singgasana, bersarung poleng, koko, kopiah, yang kesemuanya dia beli di Arab Saudi, negeri muslim dengan kekayaan melimpah ruah. Tasbeh dengan bulatan-bulatan terbuat dari kacang zaitun menggantung di tangan kirinya. Tangan kanannya untuk yang keseratus kali menerima uluran salam selamat dari tetangga di komplek guru.
“Alhamdulillah, selamat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1170" title="Uang Palsu com" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Uang-Palsu-com1.jpg" alt="Uang Palsu com" width="500" height="350" />Oleh Gol A Gong</p>
<p>Akbar tersenyum lebar. Dia duduk di kursi singgasana, bersarung poleng, koko, kopiah, yang kesemuanya dia beli di Arab Saudi, negeri muslim dengan kekayaan melimpah ruah. <span id="more-1169"></span>Tasbeh dengan bulatan-bulatan terbuat dari kacang zaitun menggantung di tangan kirinya. Tangan kanannya untuk yang keseratus kali menerima uluran salam selamat dari tetangga di komplek guru.</p>
<p>“Alhamdulillah, selamat datang kembali di rumah, Pak Haji…”.</p>
<p>Akbar semakin melebarkan senyumnya. “Silahkan, Pak Wawan, silahkan diambil oleh-olehnya. Itu korma asli dari Mekkah. Sedikit-sedikit, ya. Sajadah dan tasbehnya hanya untuk kepala-kepala sekolah saja. Tidak bisa saya kasih ke semua guru. Bisa tekor saya.”</p>
<p>“Tidak apa-apa, Pak Haji. Kurma saja sudah alhamdulillah,” sebagai guru bawahan, Wawan tahu diri.</p>
<p>“Istri saya sudah membagi-bagi dengan rata. Satu plastik berisi 5 kurma. Rata-rata di komplek  guru ini, anaknya dua ‘kan. Saya lebihkan satu.”</p>
<p>“Kebetulan anak ketiga kami baru lahir seminggu yang lalu…”</p>
<p>“Wah, alhamdulillah! Pasti akan jadi anak yang soleh, Pak Wawan. Lelaki?”</p>
<p>“Lelaki, Pak haji. Saya dan istri mohon ijin, memberi nama pada anak kami….”</p>
<p>“Namanya siapa?”</p>
<p>“Muhammad Akbar Mabruri….”</p>
<p>Akbar tertawa senang. Perutnya yang buncit terguncang-guncang. “Kamu ini! Bilang-bilang dulu, kek! Tapi, tidak apa-apa. Saya doakan, semoga jadi anak yang soleh, sehat, dan berhasil jadi orang terpandang seperti saya!” katanya mendoakan.</p>
<p>“Amien, Pak Haji….”</p>
<p>“Kalau saja saya dikabari saat di Mekkah, pasti saya doakan di depan Ka’bah!”</p>
<p>“Tidak apa-apa, Pak Haji. Belum jodoh…”</p>
<p>“Ya, sudah. Masih banyak yang antri mau salaman itu!”</p>
<p>“Iya, Pak Haji….”</p>
<p>“Sebentar!” Pak Haji mengeluarkan sebuah amplop dari saku kokonya. “Saudara-saudara!” suaranya keras kepada orang-orang yang sedang berkumpul di ruangan tengah rumahnya. “Jangan pada iri, ya! Walaupun Pak wawan ini guru paling muda di sekolah saya, tapi karena dia punya momongan lagi, yang ketiga, saya kasih amplop sama dia! Ini buat beli popok si bayi!”</p>
<p>“Wah, pilih kasih, Pak Haji!” protes Arifin.</p>
<p>Para warga komplek tertawa menangapi.</p>
<p>“Anak saya, yang di te ka, si Usi, ulang tahun, kasih kado, Pak haji!” usul Yasin, juga tertawa.</p>
<p>“Nanti saya kasih kado unta! Tapi tahun depan, kalo saya naik haji lagi!” Akbar juga tertawa.</p>
<p>“Hahaaaahaha…!” semua tertawa.</p>
<p>Warga kompolek guru yang bahagia, semua tertawa.</p>
<p>“Ini, ambil! Alakadarnya, ya,” Akbar menyusupkan amplop putih itu ke saku kemeja batik Wawan.  “Sebentar,  ya,” Akbar mencari-cari seseorang di antara keramaian rumahnya. “Santi!” panggilnya.</p>
<p>Santi yang sedang membagi-bagikan minuman ke para tamu menatap ke ayahnya. “Iya, Pak!”</p>
<p>“Ambilkan air zam-zam di kamar Bapak. Satu saja. Buat Pak Wawan!”</p>
<p>“Baik, Pak!”</p>
<p>“Silahkan, tunggu diluar, ya.”</p>
<p>“Terima kasih, Pak Haji,” Wawan mundur dan memberi kesempatan pada warga komplek guru lainnya untuk menjabat tangan Akbar, kepala sekolah di SMA Negeri ternama di kotanya.</p>
<p>Beberapa warga komplek guru masih antri menyalami Akbar dengan beragam tujuan. Ada yang murni memberi selamat, ada yang ingin kecipratan berkah: siapa tahu suatu saat bisa ke Mekkah, dan ada yang berharap bisa mendapatkan oleh-oleh kurma asli dari Arab atau air zam-zam.</p>
<p>“<em>Sape kien</em><a href="#_ftn1">[1]</a>?” Akbar menarik tangannya, ketika dirasakan permukaan telapak tangan orang yang menyalaminya terasa kasar.</p>
<p>“<em>Kule</em><a href="#_ftn2">[2]</a> Pendi, Pak Haji….”</p>
<p>“Oh, <em>sing ngebecak kuen? Sing umahe ning kampung Pasir</em><a href="#_ftn3">[3]</a>?”</p>
<p>“Nggih, Pak Haji…..”</p>
<p>“<em>Arep jaluk oleh-oleh ape sire</em><a href="#_ftn4">[4]</a>?”</p>
<p>“<em>Ape bae</em><a href="#_ftn5">[5]</a>, Pak haji….”</p>
<p>“<em>Korma bae, gih! Anak sire pire</em><a href="#_ftn6">[6]</a>?”</p>
<p>“<em>Papat</em><a href="#_ftn7">[7]</a>, Pak haji!”</p>
<p>“<em>Weh, akeh amat! </em><em>Keh, sebungkus bae. Ane lime isine. Sire karo rabi, sepotong-sepotong bae, gih</em><a href="#_ftn8">[8]</a>!”</p>
<p>“Iye, Pak Haji! <em>Nuhun saos</em><a href="#_ftn9">[9]</a>!”</p>
<p>Pendi meminggir, memberi kesempatan lain. Di genggaman tangannya ada sebungkus plastik berisi 5 korma.</p>
<p>Warga komplek guru terus mengalir menyambut kedatangan Akbar, yang sudah selamat pulang dari Mekkah. Saat walimatul hajj, Akbar pernah menjanjikan akan menyebut nama para warga di depan Ka’bah, agar kelak bisa berangkat mengikuti langkahnya menunaikain rukun Islam yang kelima.</p>
<p>Malam makin larut.  Yang tersisa kinbi adalah pengurus Dewan Kesejahteraan Mesjid. Mereka duduk bersila di lantai berkarpet, mendengarkan cerita Akbar, yang duduk di kursi ukiran Jepara.</p>
<p>Kedua tangan Akbar bergerak ke sana ke kemari, tasbeh di tangan kirinya berkelebatan di udara, seolah memuncratkan kalimat-kalimat thoyiban milik gusti Allah. Perutnya yang bulat besar berguncang-guncang jika sedang tertawa. “Pas di depan hajar aswad, ada orang dari Afrika. Tinggi, besar, dan hitam. Pokoknya, jeleklah. Mendorong-dorong tubuh saya! Di depan, istri saya hampir terjatuh. Saya berusaha terus menjagai istri saya. Waduh, saya bisa-bisa terjatuh. Bayangkan, bapak-bapak, ibu-ibu, jika saya terjaduh. Ribuan, bahkan jutaan jamaah haji, akan menginjak-injak tubuh saya. Wah, pulang-pulang, saya tinggal nama saja!”</p>
<p>Istrinya duduk di lantai berkarpet, menyenderkan punggungnya ke dinding. Beberapa kali dia menguap dan menggeser-geser tempat duduknya. Kedua bola matanya diam-diam mengitari pandang, memperhatikan wajah-wajah takjub warga komplek guru.</p>
<p>“Tidak ada jalan lain, saya bertahan saja. Saya membiarkan istri saya yang mencium hajar aswad. Saya sendiri terlempar ke samping. Entah ke mana. Yang penting nggak jatuh. Tapi, saya terpisah dengan istri saya. Ketemu-ketemunya diluar. Dia lagi nangis!” Akbar tertawa-tawa menunjuk istrinya.</p>
<p>Istri Akbar, tersenyum kikuk.</p>
<p>“Pak Akbar,” Cecep mengacungkan tangan.</p>
<p>Akbar tidak bereaksi.</p>
<p>“Pak Haji,” bisik Sofyan di telinga kiri Cecep.</p>
<p>“Maaf, Pak Haji,” Cecep tersenyum meralat.</p>
<p>“Ya, kenapa, Pak Cecep?”</p>
<p>“Maket mesjidnya sudah selesai saya buat, Pak Haji. Kapan kita bisa mendiskusikannya?”</p>
<p>“Sebaiknya jangan membicarakan soal mesjid sekarang,” kata Aris. “Pak Haji ‘kan masih banyak yang mau diceritakan. Iya ‘kan, Pak Haji?”</p>
<p>“Ya, ya, ya! Betul kata Pak Aris!” Akbar setuju. “Soal mesjid, kita bicarakan ba’da Jumatan saja. Bagaimana?”</p>
<p>“Setuju!”</p>
<p>“Tapi, tetep ya, saya dapat sepuluh persen dari setiap dana yang masuk ke mesjid. Karena tanpa lobi-lobi saya di pemerintahan, dana itu tidak akan cair!” Akbar membuka matanya lebar-lebar.</p>
<p>“Setuju, Pak Haji! Yang penting bagi kami, mesjid cepat selesai!”</p>
<p>Akbar tersenyum puas. Tangan kirinya terus menghitung bulatan-bulatan tasbeh. Sementara tangan kanannya mengelus-elus perutnya yang buncit. Kedua matanya tertutup perlahan. Punggungnya menyender ke kursi Jepara. Dari mulutnya terdengar suara keras.</p>
<p>“Maaf, Bapaknya kecapean,” istri Akbar melempar senyum.</p>
<p>Orang-orang memaklumi. Satu-persatu mereka beringsut pergi. Di tangan mereka ada bermacam oleh-oleh dari Mekkah; korma, air zam-zam, tasbeh, sajadah, mukena, dan kacang Arab. Mereka sebetulnya tahu, kalau pada suatu malam, Akbar dan istrinya bebelanja di Tanah Abang. Mereka juga memaklumi, ketika dimintai untuk membungkusi sajadah, kopiah, tasbeh, dan mukena. Mereka hanya bisa menghitung-hiutng, bahwa naik haji semakin hari semakin mahal saja harganya. Tidak hanya cukup sekedar ongkos pulang-pergi saja, tapi perlu juga menyediakan dana tambahan unutk walimatul hajj, syukuran, dan oleh-oleh. Jika tidak ada oleh-oleh, siap-siap saja dicap sebagai haji yang kikir.</p>
<p>Tiba-tiba mata Akbar memicing, “Sudah pulang semuanya?”</p>
<p>“Sudah,” jawab istrinya, menoleh ke susut ruangan. Di sana ada dua orang lelaki, duduk gelisah. Tangan mereka tidak henti-hnetinya menyeka wajah dengan sapu-tangan.</p>
<p>“Ibu, kipas anginnya arahkan ke mreeka, dong!”</p>
<p>Istri Akbar tanpa banyak bicara mengarahkan baling-baling kipas angina kea rah mereka. “Permisi, saya tinggal dulu,” dia bangkit dan masuk ke ruangan dalam.</p>
<p>Akbar masih memandangi punggung istrinya hingga hilang di balik gorden yang memisahkan ruangan tamu dengan ruangan tengah. Dia membeli dua rumah di komplek guru ini, sehingga ruangan tamu lumayan luas menampung orang-orang jika ada acara.</p>
<p>“Bagaimana, lancar semuanya?” Akbar tersenyum lebar kepada mereka. Dia tetap duduk di singgasananya, sehingga posisinya tetap lebih tinggi dari mereka. Bagi dia sangat penting menegaskan, bahwa posisinya sangatlah penting.</p>
<p>Kedua orang itu mengangguk. Salah seorang mengeluarkan amplop tebal dari dalam tas hitam. Amplop tebal itu disodorkan ke Akbar. “Ini bagian Pak Haji,” katanya. “Pak Kadis titip pesan, Pak Haji secepatnya membuat laporan, bahwa sekolah Bapak sudah direnovasi.”</p>
<p align="right">*) Rumah Dunia, Kampung Ciloang, Serang, Oktober 2005</p>
<p align="right">*) Pernah dimuat di koran Republika Minggu, juga cerpen ini termuat di kumcer &#8220;Musafir&#8221; (Salamadani, 2008)</p>
<p align="center">
<p align="center">***</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Sape kien = siapa ini</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Kule = saya</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> sing ngebecak kuen? Sing umahe ning kampung Pasir= yang ngebecak itu? Yang rumahnya di kampung Pasir?</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Arep jaluk oleh-oleh ape sire = mau minta oleh-oleh apa?</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Ape bae = apa aja</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Korma bae, gih! Anak sire pire = korma saja, ya. Anak kamu, berapa?</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Papat = empat</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Weh, akeh amat! Keh, sebungkus bae. Ane lime isine. Sire karo rabi, sepotong-sepotong bae, gih = Waduh, banyak amat! Nih, sebungkus saja. Isinya lima. Kamu samas istri setengah-setngah saja.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Nuhun saos = terima kasih</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>–REDAKSI menerima kiriman cerpen yang tidak menyinggung sara. Panjang cerpen 10.000 karakter. Kirimkan via E-mail berikut biodata ke <a href="mailto:cerpen@rumahdunia.com">cerpen@rumahdunia.com</a> . Cerpen yang dimuat akan mendapatkan honorarium sebesar Rp. 50.000.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/15/pulang-dari-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RUMAH BESAR</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/11/rumah-besar-2/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/11/rumah-besar-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 00:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Besar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[ 

Sebenarnya aku malas pulang ke rumah, awalnya ingin berlibur ke Bali bersama teman-teman setelah sibuk shoting film layar lebar yang telah banyak menyita waktu untuk bekerja. Kedatanganku kali ini hanya sekedar menghormati mendiang Nenek. Hari ini adalah tujuh hari setelah wafatnya nenek. Aku baru bisa pulang karena memang baru bisa. Dua bulan terakhir, kesibukanku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong></p>
<p style="text-align: left;"><img class="alignleft size-medium wp-image-869" title="Rumah Dinas_A" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Rumah-Dinas_A1-300x225.jpg" alt="Rumah Dinas_A" width="300" height="225" /></p>
<p>Sebenarnya aku malas pulang ke rumah, awalnya ingin berlibur ke Bali bersama teman-teman setelah sibuk shoting film layar lebar yang telah banyak menyita waktu untuk bekerja. <span id="more-646"></span>Kedatanganku kali ini hanya sekedar menghormati mendiang Nenek. Hari ini adalah tujuh hari setelah wafatnya nenek. Aku baru bisa pulang karena memang baru bisa. Dua bulan terakhir, kesibukanku cukup padat dan tidak sempat pulang ke rumah. Hampir setiap hari waktu termakan oleh kegiatan di lokasi shoting.</p>
<p>Aku baru saja keluar dari dalam mobil taksi yang mengantarku di depan rumah. Mama yang pertama kali melihatku sontak menyambutku dengan pelukan hangatnya, menguapkan rindu yang membeku di dada, <em>I love you mom</em>. Sedangkan saudara-saudara Ibu, mereka para istri saudara tiri Ibu, memandangku dengan tatapan sinis. Salahkah aku? Maaf kalau aku baru saja bisa pulang.</p>
<p>Mama menelponku pada saat aku baru saja merebahkan badan di kamar hotel, di daerah Bandung, tepatnya jam tiga dinihari. Mama mengabarkan kalau Nenek telah meninggal sepuluh menit yang lalu. Aku tersentak kaget. Tapi aku kembali tenang. Toh, selama ini Nenek tidak pernah meberikan perhatian lebih kepadaku, adik-adiku, bahkan Mama dan Papa, apa mungkin karena Mama anak tirinya?</p>
<p>Mama menyuruhku untuk cepat pulang. Tapi tidak! Aku tidak bisa meninggalkan tempat shoting begitu saja. Karena pula, hari ini shoting pertama film layar lebar yang melibatkanku sebagai pemeran pembantu utama yang bergenrekan horor.</p>
<p>“Seminggu ke depan Fahri tidak bisa pulang, Ma?” alasanku semakin menguatkan dari ujung telephone.</p>
<p>“Kenapa? Memangnya tidak bisa ditunda?”</p>
<p>“Tidak Ma! Setelah selesai shoting di Bandung, Fahri akan ada shoting iklan di Jakarta. Maaf Ma, bukan maksud Fahri tidak menuruti perkataan Mama, Tapi Fahri tidak bisa karena pekerjaan. Lagian untuk apa pulang, kalau hanya sebentar. Bikin capek badan. Toh, semasa hidup Nenek tidak pernah menganggapku sebagai Cucu, setidaknya Fahri ingin disamaratakan dengan cucu-cucu nenek lainya.”</p>
<p>“Husst! Berdosa berkata seperti itu!” Terdengar desisan Ibu. “Pamali sama orang tua. Mama tidak pernah mengajarkanmu itu!” Mama terkesan menahan marah.</p>
<p>“Itu karena Mama terlalu lugu dan tidak bisa melawan kesemena-mena perlakuan Nenek.”</p>
<p>“Terserah Fahri mau pulang atau tidak. Minimal saat tujuh hari nanti, Fahri harus pulang! Mama, Papa, dan adik-adik, sangat merindukanmu. Pulanglah untuk kami semua.”</p>
<p>“Insya Allah, Fahri akan pulang. Titip salam untuk mereka.”</p>
<p>Alasan utama aku pulang bukan untuk Nenek, melainkan karena permintaan Mama dan ingin ketemu dengan orang-orang yang benar-benar mencintaiku selama ini.</p>
<p>***</p>
<p>Mereka bilang aku tidak tahu diri. Aku mendengarnya langsung dari dapur. Para istri—menantu—istri saudara-saudara tiri ibu, bergosip membicarakanku.</p>
<p>“Mentang-mentang di Jakarta sudah jadi selebritis, gayanya semakin sok. Padahal kepergiannya ke Jakarta itu kan berkat uang ongkos yang dikasih mendiang Ibu. Toh, pada saat ibu meninggal, Fahri tidak langsung pulang, ia lebih memilih pekerjannya ketimbang Neneknya sendiri,” Kata salah satu di antara mereka dengan dialek jawa medok. Mungkin Istri Om Jamal yang berasal dari Surabaya.</p>
<p>Mana pernah Nenek memberikanku uang! Mana mungkin! Sejak aku kecil, aku tidak pernah dikasih uang jajan atau oleh-oleh ketika Nenek pulang dari pasar. Yang menjadi cucu-cucu kebanggaanya itu kan hanya anak-anak mereka.</p>
<p>“Jangan termakan emosi. Mereka memang begitu,” Rupanya Papa mendengarkanya, jelas Papa duduk bersimpuh di sampingku pada saat tahlillan.</p>
<p>Seusai tahlillan, bungkusan nasi berekat dibagikan kepada para jamaah yang hadir. Setelah Para jamaah pulang ke rumah masing-masing, di rumah besar- sebutan rumah nenek-, sudah kumpul para anggota keluarga. Para anak, para menantu, dan para cucu, sudah berkumpul ditemani Ustadz Amin dan Haji Mukri untuk membicarakan hal penting.</p>
<p>Aku dan kedua adiku absen di pertemuan itu, malah kami asik nonton televisi di rumah. Tidak lama kemudian Papa pulang. Membiarkan Mama sendirian di rumah besar.</p>
<p>“Sebentar lagi pasti ada keramaian,” kata Papa sambil membuka bungkus biskuit yang aku beli pagi tadi di Jakarta. “Mama sebantar lagi pulang, sukur-sukur tidak menangis,” suara Papa datar, namun meyakinkanku juga. Firasatku mungkin sama.</p>
<p>Belum kering bibir Papa berucap. Mama menyembul dari pintu samping. Matanya lembab dan wajahnya memerah melembung seakan menahan emosi. “Mereka egois! Serakah!” Air mata yang dibendung itu jebol juga.</p>
<p>“Sudahlah, Mama berharap ingin mendapatkan warisan?” Papa memberikan air minum kepada Mama.</p>
<p>Setelah Mama meneguk habis seluruh air dalam gelas, dengan tersengal-sengal Mama menanggapi, “Untuk apa? Selama ini kita bisa makan bukan hasil warisan. Dari dulu kita tidak pernah dianggap sebagai anak, terlebih setelah Almarhum Bapak meninggal. Mereka semakin beringas kepadaku.”</p>
<p>Papa memberikan pelukan hangat ketubuh Mama, hanya itulah yang memang diperlukan Mama pada saat ini. Mama hanyalah anak tiri. Sebelum menikah, Kakek adalah duda di tinggal mati istrinya, dan beranak satu, yaitu Mama. Sedangkan Nenek adalah Janda, cerai dengan suaminya yang ke-dua, dan memiliki dua anak laki-laki, Jamal  dan Fuad. Kemudian hasil pernikahan Kakek dan Nenek menghasilkan satu anak laki-laki, yaitu, Hasim.</p>
<p>Mereka merebutkan warisan! Suara ribut perlahan mulai ramai, lebih ramai di saat penghitungan warisan mendiang Kakek, seperti kumpulan para lebah suaranya itu.</p>
<p>“Rumah ini jadi milik saya!” terdengar bentakan hebat dari Rumah besar hingga ke rumah kami. Kata Papa itu suara Om Jamal.</p>
<p>“Tidak! Saya yang mengurus Ibu! Saya yang berhak atas rumah ini! Memangnya kamu masih kurang dengan uang hasil penjualan dua petak sawah itu?” Sang adik cakal kepada kakaknya. Itu suarah Om Fuad.</p>
<p>Aku kenal suara si bungsu ini. “Yang berhak itu saya! Saya yang merenovasi rumah ini. Semua biaya sebagian besar dari kantong saya. Kalian mana perduli dengan rumah yang hampir roboh sebelum diperbaiki!”</p>
<p>“Kamu tahu apa? Kamu hanya anak manja yang selalu dituruti oleh Ibu. Kurang apa kamu disekolahkan sampai sarjana. Tidak dengan saya, hanya lulus sekolah dasar!” si sulung membentak.</p>
<p>Di rumah besar semakin ricuh. Sopan santun tata bahasa tidak ada lagi di sana. Yang terdengar adalah perebutan rumah besar dan empat petak sawah. Hemat pikiranku, kenapa tidak dibagi saja tanah itu. Punya anak empat &#8211; kalau tidak lupa Mama-, kebagian satu-satu petak. Rumah di bagi dua untuk Om Fuad yang belum punya rumah sendiri dan Om Hasim yang memang selama ini tinggal di rumah besar bersama Nenek.</p>
<p>“Semoga mereka tidak mengungkit tanah rumah ini,” Mama terlihat cemas. Apalagi di rumah besar semakin memanas. Ustadz Amin dan Haji Mukri tidak bisa mengendalikan suasana. Kedua tokoh yang sangat dihormati Masyarakat itu sudah lepas tangan karena mereka sudah mengabaikan nasehat bijaknya.</p>
<p>“Bakar saja, sekalian hanguskan rumah itu!” Mama kelepasan berucap.</p>
<p>“Kita sudah memiliki sertifikat resmi dari pemerintah. Sudah jelas dulu almarhum Bapak membagikan secara adil kepada anak-anaknya, berupa tanah. Mereka menjualnya, ya habis uangnya,” Papa terlihat santai menaggapi.</p>
<p>Brang….bereng….bruk…. semakin seru di rumah besar. Bla, bla, bla….</p>
<p>“Pa, Ma. Fahri ingin beli apartement,” Aku menangani ketegangan dengan menyelipkan keinginanku.</p>
<p>“Apartement? Rumah susun itu? Gedung tinggi itu kan? Emangnya kamu punya uang?” Sederet pertanyaan Papa.</p>
<p>“Mending buat nabung. Atau investasi. Itukan lebih baik. Sawahnya Ibu Sumiya akan dijual, kamu beli saja. Lumayan loh investasi tanah, kalau ingin menjual lagi tidak akan rugi,” Usul Mama.</p>
<p>“Tapi kan di apartement lebih aman. Bebas banjir. Tidak ada bisik-bisik tetangga menggosip. Boleh ya….”</p>
<p>“Sejak awal kepergianmu ke Jakarta, Papa sudah memberikan hak kebebasan atas keputusan dan perbuatanmu sendiri, dengan catatan, harus bisa dipertanggungjawabkan.”</p>
<p>“Memangnya cukup uangnya?” Mama terlihat tidak setuju. Nabung, itu selalu pesan utamanya.</p>
<p>“Honor dari film cukup lumayan untuk ansuran kredit. Fahri sudah menandatangani kontrak kerja dengan pihak pemilik produk suplement kesehatan pria. Fahri menjadi model iklan di produk itu. Sekalian tiga kali iklan, katanya sih dibuat iklan berseri, setiap tiga bulan sekali menyambung cerita dalam isi iklan sebelumnya. Di jalan Jendral Sudirman sudah ada poster yang memajang fotoku yang sedang promosi produk itu.”</p>
<p>“Apa? kamu…. Secepat ini karirmu melesat?” Papa seakan tidak percaya dengan pretasi yang aku capai. Yang Papa tahu hanya uang yang aku kirim tiap bulanya, atau sekedar muncul di TV sebagai bintang tamu acara talk show atau model video clip.</p>
<p>“Ya, kalau tidak bisa, Fahri beli rumah saja di Jakarta. Biar Mama dan Papa, serta adik-adik tinggal bersama Fahri di sana. Pendidikan buat adik-adik lebih terjamin di sana,” Usulku mengambil jalan pintas. Sebenarnya aku masih ingin membeli apartement. Dan aku juga ingin memiliki mobil baru sekarang-karang ini.</p>
<p>“Mama ingin tetap di sini. Hanya rumah dan tanah ini satu-satunya milik kita. Sekarang kamu lagi laku dan karir lagi melambung. Kalau besok kembali turun dan surut job, bagaimana? Sebaiknya selagi punya uang…..” Baiklah Mama, Fahri menabung saja.</p>
<p>Brang…bereng…bruk… semakin menjadi di Rumah Besar.</p>
<p>“Kamu yang mengahabiskan banyak tanah Ibu untuk dijual tanpa sepengetahuan kita semua!” Om Fuad seperti mendikte perbuatan Om Jamal yang rajin menjual tanah orang tua.</p>
<p>“Kenapa? Iya… Bahkan aku sudah mendapatkan calon pembeli tanah di pinggir jalan itu!” Om Jamal menanggapi dengan serius.</p>
<p>“Brengsek!” Sepertinya di rumah besar belanjut ke perang fisik. Mama yang mengintip dari pojok jendela merinding.</p>
<p>Suara seok tapak kaki terdengar melintasi rumah. Mereka adalah Om Jamal dan istrinya yang akan pergi ke rumah orangtua si istri. Sempat obrolan mereka yang terlanjur masuk tanpa permisi ketelinga kami.</p>
<p>“Tanah inikan milik Ibu juga, kan? Memangnya Bapak punya apa sih sebelum menikahi Ibu? Rumah sebagus ini, mungkin uang dari Ibu juga! Hasil jual tanah mungkin?” Aduh, perkataan Isrti Om Jamal sok tahu itu serasa membuat dua telinga Ibu terbakar.</p>
<p>Ibu menutup telinganya rapat-rapat. Ingin sekali Ibu melabrak adik tirinya itu. Kalau saja Papa tidak selalu mendinginan hati Mama. Mama pun sudah ikut terbakar dengan pertempuran mereka.</p>
<p>“Sebaiknya kita tidur….” Ajak Papa. Ya, di kamar suasanya menjadi tenang. Tidak ada gontok-gontokan lagi. Semoga aku malam ini tidak memimpikan Nenek yang sedang marah kepadaku. Aku ingin memimpikan Kakek yang selalu memberiku uang jajan jikala hendak berangkat sekolah. Benar-benar aku merindukan mendiang Kakek.</p>
<p>***</p>
<p>Pagi. Siang. Sore. Malam. Pagi lagi. Malam lagi. Sore lagi. Malam lagi. Ributan warisan terus! Perang semakin ramai hingga aparat desa dan masyarakat ikut campur.</p>
<p>“Pa, memang anak tiri tidak bisa dapat warisan ya?”</p>
<p>Papa mengkerutkan kedua alisnya.</p>
<p>“Mama, tidak terlalu berharap.”</p>
<p>Papa menanggapi hanya berdehem.</p>
<p>“Sedikit…”</p>
<p>“Mama, sudahlah, Mama sendirikan sudah tahu hukumanya. Bukankah pada saat mendiang Bapak kita sudah kebagian sesuai dengan hak kita. Kalau memang anak tiri tidak dapat, ya sudah. Memangnya kita seperti mereka itu yang ingin kaya tapi malas bekerja. Kurang apa coba kehidupan kita. Usaha Papa lancar. Anak kita yang pertama, sudah sukses dan mengirimi kita uang yang cukup banyak,” Papa bersemangat memberedeli semua alasan Mama.</p>
<p>“Pikir-pikir, Mama kan anak tiri. Dari dulu Mama diperlakukan seperti Bawang Putih atau Cinderella. Dan memang benar, buktinya Mama mendapatkan imam yang baik, bertanggung jawab, dan saleh. Mama beruntung memiliki suami seperti, Papa. Dan mendapat karunia anak-anak yang baik.”</p>
<p>Aku berdehem. Sepertinya aku membuyarkan suasana romantis itu. Sepertinya Mama tidak malu-malu menunjukan rasa sayangnya dengan memeluk Papa. Bukankah itu lebih baik ketimbang kami sebagai anak setiap hari ditontoni pertengkaran orangtua?</p>
<p>“Ma, Pa, Fahri minta ijin untuk membawa adik-adik jalan-jalan ke Mall,” ijinku.</p>
<p>Papa mengangguk menandakan membolehkan. “Hati-hati di jalan. Jangan pulang sampai larut malam. Besok adik-adik sekolah.”</p>
<p>“Mama dan Papa mau nitip apa?”</p>
<p>“Terserah, apa aja,” Kata Mama.</p>
<p>Untuk menenangkan telinga yang setiap detik terdengar keributan dari rumah besar, aku pun mengajak kedua adikku, Fika dan Astrid untuk pergi jalan-jalan ke mall. Di sana kita sempat main ke timezone, amazone, sampai keistana boneka. Aku senang melihat adik-adiku bahagia dengan jalan-jalan kali ini. Barang-barang yang kami beli pun cukup banyak, hingga bagasi taksi yang kami tumpangi tidak bisa memuat lagi barang belanjaan.</p>
<p>“Fika semalam bermimpi. Kita sekeluarga berlarian dari kobaran api,” Adikku yang berusia sebelas tahun, berkata ketika taksi yang kami tumpangi telah sampai di perempatan komplek, jalan menuju rumah.</p>
<p>“Astrid juga bermimpi. Ada Kakek-kakek tua datang dan meberikan susu, seger banget,” kali ini adikku paling kecil angkat bicara. Umurnya bulan depan genap delapan tahun.</p>
<p>Aku merasa senang membahagiakan mereka. Rasa capek dan letih saat bekerja terasa terobati dengan senyum-senyum mereka. Kalaupun aku besok pergi ke Jakarta lagi dan bergelut kembali akting di depan kamera, aku rela. Yang terpenting aku bisa membahagiakan orang-orang yang aku cintai dan tentunya mencintaiku juga, serta orang-orang yang membutuhkan uluran tanganku.</p>
<p>Sesampainya ketikungan jalan komplek menuju rumah. Segerombolan orang-orang panik dan sibuk lalu lalang membawa ember-ember berisikan air. Dua mobil pemadam kebakaran sudah beraksi di sana. Aku keluar dari dalam mobil taksi.</p>
<p>Astagfirullah. Rumah Besar kebakar.</p>
<p>“Kebakaran….kebakaran….” Teriak masyarakat yang takut dengan api yang semakin buas melahap bagian-bagian rumah. Kekhawatiranku akan keselamatan Mama dan Papa melanda. Aku titipkan kedua adikku dan barang-barang belanjaan kepada seorang teman yang kebetulan mobil taksi berhenti di depan rumahnya.</p>
<p>“Jamal dan Fuad, masih di dalam,” kata pak RT yang menyuruh warganya terus menyiram api dengan air selokan kotor itu. Di depan rumah yang terbakar itu, Om Hasim meronta-ronta mencoba membebaskan diri dari orang-orang yang menahannya agar jangan masuk ke dalam rumah yang separuhnya sudah terbakar dan runtuh.</p>
<p>“Saya harus menyelamatkan surat-surat tanah. Lepaskan saya…!”Om Hasim berontak. Sepeti kesetanan ia. Lepas juga tangan-tangan yang menghalanginya. Di terobosnya daun pintu yang sebagian terbakar.</p>
<p>“Mama….Papa…” Aku berteriak-teriak mencari orangtuku itu. Aku menuju rumah. Di samping rumah ada mobil pemadam kebakaran yang sedang beraksi memadamkan api yang dekat dengan rumah. Inisiatif pemadam kebakaran agar api yang melahap rumah besar tidak menyebar kerumah-rumah tetangga.</p>
<p>Tidak begitu lama aku menemukan mereka. Kedua orangtuaku selamat. Mama pingsan dan dirawat di rumah tetangga. Sedangkan Papa sedang membantu memadamkan kebakaran. Aku, hanya terdiam dan mengingat mimpi-mimpi Fika dan Astrid. Inikah maksud mimpi yang hadir dalam bunga tidur kedua adikku itu?</p>
<p>Lengan baju aku singsingkan. Ember hitam merauk air comberan yang hitam pekat. Aku lemparkan air yang aku ambil dari comberan itu kepada orang yang di depan. Estafet air satu ember ke tangan-tangan berikutnya hingga sampai menyiram api yang semakin menakutkan.</p>
<p>“Kenapa bisa terjadi, Pa?” aku bertanya ketika Papa menjatuhkan ember kedalam comberan.</p>
<p>“Para istri mereka bertengkar di dapur. Tanpa di sengaja ada yang menyenggol kompor yang masih menyala. Dari kompor itulah api besar ini berasal,” kata Ayah yang sudah pergi meninggalkanku.</p>
<p>Jumlah mobil kebakaran yang didatangkan berjumlah  enam unit. Namun si jago merah yang buas itu tidak bisa diberhentikan aksinya. Satu persatu atap runtuh. Api semakin ganas. Saudara-saudara tiri ibu yang terjebak belum juga keluar. Terbakarkah mereka di sana bersama harta warisan yang diperbutkanya?</p>
<p>***</p>
<p>Revisi: Cilegon, april 2007</p>
<p>*Untuk seseorang yang semoga lekas sadar dan tidak lagi merongrong harta warisan keluarga.</p>
<p>===</p>
<p>Rama Safra’I Rachmat tinggal di Cilegon. Mengikuti dunia penulisan setelah bergabung dengan Rumah Dunia dan Forum Lingkar Pena Serang. Beberapa cerpen dan puisinya sudah dimuat di harian lokal Banten. Cerpennya yang berjudul Boneka Gajah yang Bisa Bertelur pernah menjadi juara ke-tiga Ajang Kreasi Kumpulan Cerpen Escaeva yang dibukukan dalam antologi Tembang Bukit Kapur (2007). Kritik dan saran di <a href="mailto:on.writer.man@gmail.com">on.writer.man@gmail.com</a>.</p>
<p>&#8211;REDAKSI menerima kiriman cerpen yang tidak menyinggung sara. Panjang cerpen 10.000 karakter. Kirimkan via E-mail berikut biodata ke <a href="mailto:cerpen@rumahdunia.com">cerpen@rumahdunia.com</a> . Cerpen yang dimuat akan mendapatkan honorarium sebesar Rp. 50.000.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/11/rumah-besar-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MATA BIRU KARTINI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/06/mata-biru-kartini/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/06/mata-biru-kartini/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 20:08:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Kelas Menulis Rumah Dunia Sastra Palembang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=441</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Wanja
 
Siou Yu membuka matanya pelan. Pandangan matanya masih samar-samar. Maklum saja sinar rodopsin[1] baru saja terurai sehingga mata belum bisa menangkap cahaya secara normal. Dari dalam kamar, ia mendengar suara Maminya yang melengking. Ah…sudah hal biasa kalau Maminya paling pantang melihat anak gadis yang suka bangun kesiangan.
Sejak semalam suasana rumah terlihat sibuk sekali. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left"><strong><img class="size-medium wp-image-442 alignleft" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/PICT5255-300x225.jpg" alt="PICT5255" width="300" height="225" />Oleh Wanja</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Siou Yu membuka matanya pelan. Pandangan matanya masih samar-samar. Maklum saja sinar <em>rodopsin</em><a href="#_ftn1"><em><strong>[1]</strong></em></a><em> </em>baru saja terurai sehingga mata belum bisa menangkap cahaya secara normal. Dari dalam kamar, ia mendengar suara Maminya yang melengking. Ah…sudah hal biasa kalau Maminya paling pantang melihat anak gadis yang suka bangun kesiangan.</p>
<p>Sejak semalam suasana rumah terlihat sibuk sekali. Mami Siou Yu menyiapkan makan malam yang meriah. Begitu bergembira menyambut perayaan Cap Go Mee. Martha,  adik Siou Yu sedang asyik menyusun kue bulan, pisang raja dan jeruk bali ke dalam keranjang sebagai persembahan nanti di pulau Kemaro.  Sekitar dua puluh <em>tongkang</em> <a href="#_ftn2">[2]</a>sudah sejak semalam <em>nangkring</em><a href="#_ftn3"><em><strong>[3]</strong></em></a> di Benteng Kuto Besak kota Palembang. Tongkang-tongkang inilah yang akan membawa mereka sampai ke Pulau Kemaro.</p>
<p>Kelenteng di pulau Kemaro amatlah unik, bukan hanya karena karakternya<br />
yang “hybrid”, namun terutama karena arahnya yang menghadap ke Qiblat,  mengikuti arah makam Siti Fatimah. Gaya arsitektur campuran Cina –<br />
Palembang – Jawa – Arab – India nampak jelas dari ornamen, patung, warna,<br />
struktur, serta detil bangunannya. Asap dupa mengepul dari batang-batang<br />
hio raksasa yang ditancapkan berjajar di poros kelenteng, mengiringi bubungan asap pembakaran kertas bertuliskan harapan, permohonan, dan doa<br />
syukur masyarakat, yang dibakar pada pagoda segi delapan beratap kubah ala<br />
masjid di ujung Qiblat pulau Kemaro.</p>
<p>Siou Yu lari berjinjit masuk ke kamar mandi.  Langkahnya hati-hati takut terlihat oleh Maminya. Karena Mami sangat sebal melihat anaknya masuk ke kamar mandi hanya mengenakan kain handuk saja-tidak sopan katanya. Siou Yu  tak ingin ketinggalan tongkang. Selesai mandi ia menghubungi Kartini, teman karibnya yang sudah bagai saudara sendiri.</p>
<p>“Aku tunggu di Benteng Kuto Besak ya, di <em>garang</em><a href="#_ftn4"><em><strong>[4]</strong></em></a> tempat naik tongkang, oke?” teriak Siou Yu pada Kartini dari ujung telepon selularnya.</p>
<p>“Oke,” jawab Kartini singkat.</p>
<p align="center">*****</p>
<p>Mobil Siou Yu sampai di pelataran Benteng Kuto Besak. Matanya langsung mencari sosok Kartini. Sosok yang dicarinya tampak sederhana-hanya mengenakan kemeja dan rok dibawah lutut, Kartini mampu membuat banyak mata meliriknya. Bukan hanya kesederhanaannya yang memikat-tapi lebih dari itu, mata biru Kartini membuat kagum banyak mata. Sepasang mata biru yang begitu mencolok diantara ratusan mata coklat sipit khas China.</p>
<p>Kakek Kartini keturunan  Belanda yang menikah dengan neneknya asli Palembang. Meski ayah dan ibu Kartini bermata coklat pekat, tetapi mata biru kakeknya itu kini menurun kepadanya. Ayah Kartini memiliki satu <em>getek</em><a href="#_ftn5"><em><strong>[5]</strong></em></a> yang dipakai sebagai sumber mata pencaharian. Kehidupan keluarga Kartini bisa dibilang sangat sederhana. Jauh dari hingar-bingar kemoderenan.</p>
<p>Kartini dan Siou Yu duduk dipinggir jendela. Tongkang-tongkang berjalan pelan melewati bawah jembatan Ampera. Bunyi gong dan musik-musik menggema sungai Musi. Warga yang tinggal disekitar sungai berebut ikut menyaksikan ramainya tongkang yang dihias warna-warni itu. Teriakan-teriakan anak kecil bertelanjang dada mengoceh seadanya-tanpa beban.</p>
<p>“Ang Pao nyo oiiii, <em>cino kulub</em>,” teriak anak-anak kecil dari pinggiran sungai Musi. mencoba mencerna teriakan-teriakan tadi.</p>
<p>“Cino kulub?” Siou Yu sedikit tersinggung-tampak sedang mencerna teriakan-teriakan tadi.</p>
<p>“Ah biasalah anak-anak, yang mereka  tahu kalau keturunan Cina itu tidak pernah di khitan, makanya digelari Cino kulub, Anak-anak selalu berkata jujur apa adanya,” balas Kartini sambil menyunggingkan senyum termanisnya.</p>
<p>“Hei, apa kamu mau diramal nanti? Kami percaya kalau ramalan di pulau Kemaro sering terbukti. Biasanya peramal akan melihat <em>peji</em><a href="#_ftn6"><em><strong>[6]</strong></em></a>mu. Kalau cocok dengan apa yang diramalkan, dia akan bilang <em>hap</em>,<a href="#_ftn7">[7]</a>” Ajak Siou Yu.</p>
<p>“Ehm, Islam melarang kami mempercayai ramalan, lagipula  apa yang mau diramal dari seorang Kartini seperti aku ini,” balas kartini sopan.</p>
<p>“Kamu seperti <em>encek</em><a href="#_ftn8"><em><strong>[8]</strong></em></a><em>, </em>tidak suka diramal, hahaha,” Siou Yu tertawa renyah.</p>
<p>Tongkang sudah menepi di jembatan ponton pulau Kemaro. <em>Mamang</em><a href="#_ftn9"><em><strong>[9]</strong></em></a> yang mengendarai tongkang mengikatkan tali kapal ke <em>tongga</em><a href="#_ftn10"><em><strong>[10]</strong></em></a> setelah tongkang merapat. Asap hio dari gaharu besar yang berada di tengah ruangan Kelenteng Hok Tjing Bio dan di halaman menebarkan bau yang khas. Tanpa di komando warga Tionghoa langsung menuju ke altar Thien ( Tuhan yang maha Esa) lalu ke makam buyut Siti Fatimah dan ke altar Dewa Bumi (  Hok Tek Chien Sin ). Mereka membakar kertas Kim Coa, kertas berisi harapan. Aroma hio wangi langsung menusuk hidung.  Hio-hio itu dipasang di altar Thien yang secara harfiah berarti langit. Namun oleh sebagian penganut Konghucu dan Buddha Thien juga disebut sebagai Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p>Kartini duduk menyaksikan upacara sembahyang dari jauh. Ia duduk menyepi di pinggiran sungai. Lalu, Siou Yu datang dengan dua gelas <em>soft drink</em>.</p>
<p>“Jika suatu hari aku tak bisa mengingatmu lagi, apa kamu akan tetap mengingatku?” Mata biru Kartini menatap pekat pada Siou Yu.</p>
<p>“Kalau itu terjadi padaku, aku akan sungguh menyesal. Tapi, kamu adalah teman terbaik yang tak  pantas untuk dilupakan meski rentang waktu memisahkan kita,” Jawab Siou Yu haru.</p>
<p>“Kalau begitu maafkan aku tak sempat memberitahumu karena besok sudah harus berangkat ke Jeddah. Aku sudah diterima kontrak kerja disana tiga tahun. Doakan aku yah?” pinta Kartini.</p>
<p>“Ta-pi apa kamu serius?”</p>
<p>“Aku harus menjadi lebih kuat untuk keluargaku. Aku akan mengirimimu surat sesering mungkin, oke?” Kartini mengajak beradu tos.</p>
<p>Dengan lunglai tangan Siou Yu dipaksakan untuk menerima tangan Kartini.</p>
<p>“Oke.” Balas Siou Yu lesu.</p>
<p align="center">****</p>
<p>Siou Yu menatap kotak surat dirumahnya dengan wajah sumringah. Ini adalah surat pertama dari Kartini setelah satu tahun mereka tak berjumpa. Wajah kerinduan tampak terpancar di sudut-sudut sketsa wajah Siou Yu.</p>
<p><em>Salam Rindu untukmu Siou Yu,</em></p>
<p><em>Hai Siou Yu. Apa kabarmu? Ehem..kuharap kamu sedang bahagia hari ini. Seperti aku sekarang. Alah,  ketakutanmu  tentang manjikanku tidak beralasan. Mereka sangat baik padaku. Kerjaku tidak sesibuk yang kubayangkan dulu, meski nyonya rumah lumayan cerewet hehe…biarin, cerewet bisa bikin dia cepet tua.</em></p>
<p><em>Kadang banyak hal lucu yang terjadi disini. </em><em>Seperti semalam, jam dua pagi kami semua disuruh keluar rumah. Kukira ada kebakaran, tapi ternyata cuma hujan doang. Emang sih, disini jarang banget  terjadi  hujan kayak semalem. Makanya mereka bilang hujan adalah air keberkahan. Kalo di Indonesia hujan udah biasa, malah kadang jadi beban buat kita. Ya gak? Trus gimana kabar Martha dan Mamimu. Jangan bilang-bilang yah kalo terakhir ke rumah aku ngabisin kue bulan Mamimu satu kotak. Salam untuk semua dan selalu doakan aku.</em></p>
<p><em> Kartini</em></p>
<p>Segera tangan Siou Yu mengambil pena dan membalas surat kartini.</p>
<p><em>Dear Kartini,</em></p>
<p><em>Kabarku baik dan pastinya aku bahagia sekali mendengar kabarmu yang berbahagia. Aku merindukanmu. Oh ya, Martha sekarang kuliah di Jepang. Biasa anak pinter, jadinya dapet beasiswa gitu. Sementara aku ikut bisnis sama Papi.  Ternyata jadi anak bos itu banyak gak enaknya, gak bisa mandiri kayak kamu hiks..</em></p>
<p><em>Mami ngejodohin aku dengan Frans, tapi aku gak mau. Mami yang maksa, sebel banget jadinya. Kata Mami, kawin dengan Frans masa depanku terjamin. Masa sih, kamu kan kenal Frans orangnya gimana, gak nyambung banget sama aku. </em><em>Tolongin gimana nih. Mami lagi bikin kue bulan, kamu mau?</em></p>
<p><em> Siou Yu</em></p>
<p>Kartini melipat surat dari Siou Yu. Tangannya sedikit gemetar karena Kerongkongannya belum tersentuh makanan sejak pagi. Nyonya Ahmed majikannya sedang marah besar hari ini. Sejak dua hari lalu Kartini mengadukan soal anak majikannya yang berniat memperkosanya. Kartini dianggap telah mencemarkan nama baik keluarga Ahmed. Waktu itu Abu Sofyan-anak majikannya menyelinap diam-diam ke kamarnya. Lalu memeluknya dari belakang. Samar-samar Abu Sofyan merayunya dalam kegelapan.</p>
<p>“<em>Zarqaul Aini</em>,<a href="#_ftn11">[11]</a>” Kata-kata Abu Sofyan terdengar begitu bernafsu.</p>
<p>Kartini begitu ketakutan. Sekuat tenaga diterjangnya laki-laki itu. Dengan nafas terengah ia bisa melepaskan diri dari jeratan Abu Sofyan. Kartini bersembunyi di dalam kamar mandi, dan tak berani keluar sampai besok paginya.</p>
<p align="center">****</p>
<p>Pandangan mata Kartini terasa gelap. Dahinya berdarah terkena lemparan piring oleh Ny.Ahmed. Diusapnya pelan darah di dahinya itu dengan gugup. Tak terdengar lagi ceracau dan makian majikannya itu. Karena telinganya sudah hampir tuli terkena lemparan gagang sapu dari besi kemarin. Terhuyung-huyung Kartini mencoba untuk bertahan, namun daya tahan tubuhnya berangsur meringsut. Kartini jatuh terkapar di lantai dapur.</p>
<p>Esoknya Kartini tersadar di ruangan gelap. Dan ia tahu betul kalau tempat yang ditidurinya sekarang adalah gudang perlengkapan. Tanpa makanan dan setetes air, Kartini mencoba untuk bertahan dan tidak membuang energinya sia-sia. Untunglah di tempat gelap ini tak ada tikus atau kecoa. Setidaknya itu bisa menyelamatkannya dari rasa takut yang mendera. Terdengar suara langkah kaki mendekat. Kartini tampak gugup-menyeret tubuhnya ke sudut ruangan.</p>
<p>“Kali ini kamu tak bisa lepas dariku, si mata biru yang indah.” Suara Abu Sofyan bagai Srigala yang siap menerkamnya.</p>
<p>“Tidak, tolonglah. Anggap aku sebagai saudaramu. Aku mohon.” Teriak Kartini.</p>
<p>Abu Sofyan seperti kerasukan setan. Tak dihiraukannya lagi tangisan Kartini.</p>
<p>“Kau seperti Dajjal, Allah akan melaknatmu. Ingatlah pada hari akhir, Abu Sofyan. Allah akan melaknatmu,” balas Kartini lagi dengan bahasa Arab yang terbata-bata.</p>
<p>Abu Sofyan mendekat, menerkamnya dengan penuh nafsu. Kartini terkapar dengan darah bercampur keringat yang mengecer di lantai. Kartini mencoba mengais sisa-sisa energi yang ia punya. Tidak susah baginya mencari kertas dan pena. Karena memang ini gudang perlengkapan kantor milik majikannya. Tangannya gemetar memegang ujung mata pena.</p>
<p><em>Assalamualaikum. Wr.wb</em></p>
<p><em>Untuk seseorang mulia yang menemukan suratku ini.</em></p>
<p><em>Mohon, sampaikan suratku ini ke KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Arab Saudi. Aku seorang TKW, namaku Kartini. Majikan  mengurungku dan menyiksaku di gudang rumahnya. Aku sekarang tak berdaya lagi, setelah berkali-kali diperkosa oleh Abu Sofyan-anak majikanku. Engkau telah dipilihkan oleh Allah Swt untuk menerima suratku ini. Tolonglah aku. Allah Swt akan membalas kebaikanmu dengan berlipat-lipat keberkahan. Aku hanya mampu bertahan sebentar karena tak ada makanan dan minuman disini. Oksigen yang kudapatkan juga sangat terbatas.  Terima kasih atas kebaikanmu, wahai orang yang mulia. </em></p>
<p><em>Wassalamualaikum. Wr.wb.</em></p>
<p>Sekuat tenaga Kartini membuka pintu jendela gudang dan melemparkan surat itu keluar, hanya setitik harapan dan keyakinan bahwa surat itu bisa ditemukan oleh seseorang di luar gudang.</p>
<p align="center"><em>****</em></p>
<p>Siou Yu terbangun dari tidurnya dengan cucuran keringat sebesar bola bekel. Ia bermimpi tentang Kartini yang tenggelam di sungai Musi. Tangan Kartini mencoba menggapai-gapainya, Siou Yu hampir bisa menangkap tangan Kartini, tapi tiba-tiba gengaman itu terlepas. Dan Kartini hanyut ditelan ombak.</p>
<p>Siou Yu tampak gemetar. Tanpa mandi ia langsung mengambil ponsel dan kunci mobilnya. Ia takut terjadi apa-apa pada sahabatnya itu. Sudah lama sekali suratnya tak kunjung ada balasan dari Kartini, mungkin ini suatu pertanda buruk. Siou Yu menuju ke Benteng Kuto Besak. Tujuan tempat dalam pikirannya hanya pulau Kemaro. Ia ingin mendoakan keselamatan Kartini disana.</p>
<p><em>Getek</em> berjalan pelan menerjang ombak. Melewati aliran sungai kehidupan-Venesia dari timur. Begitu kata orang-orang Eropa tentang kota Pempek ini. <em>Getek-getek</em> yang berseliweran ini seperti <em>Gondola-gondola</em><a href="#_ftn12"><em><strong>[12]</strong></em></a> di Venesia. Pasar 16 Ilir tampak sedang ramai. Banyak tongkang mengangkut barang-barang yang baru datang.</p>
<p><em>Getek</em> sudah merapat ke jembatan ponton. Siou Yu langsung menuju ke altar Thien. Dengan khusyuk ia berdoa, meminta keselamatan untuk Kartini. Tangis Siou Yu pecah disitu. Bayangan wajah Kartini dengan mata birunya yang khas menyelinap di ujung pelupuk matanya. Gadis itu seperti Ibu Kartini, sosok wanita kuat yang tak lekang dimakan usia.</p>
<p align="center">****</p>
<p>Sosok  Kartini ditemukan oleh petugas dua hari setelah surat Kartini sampai ke KBRI di Arab Saudi. Keluarga Ahmed sedang menjalani proses pemeriksaan. Keluarga Siou Yu yang mendengar kabar tentang Kartini langsung membentuk tim pembela yang didatangkan khusus dari Indonesia. Surat kabar tanah air begitu ramainya membicarakan persoalan nasib menyedihkan para TKW yang tak kunjung usai ini.</p>
<p>Siou Yu berjalan pelan melewati sekat-sekat lorong sempit di rumah sakit. Tangannya menggengam erat tangan penuh keriput milik Ayah Kartini. Hatinya berkecamuk-hancur lebur. Ia yakin hati ayah Kartini pasti lebih sakit lagi melihat penderitaan anak kebanggan keluarganya.</p>
<p>Siou Yu mendengar suara jeritan dan lengkingan. Para suster rumah sakit tampak sedang menyuntikan obat penenang pada pasien yang berteriak itu. Dari jauh Siou Yu melihat wajah penuh ketakutan yang mulai lunglai karena pengaruh obat penenang. Siou Yu memerhatikan dari jauh. Lalu ia berlari sekuatnya hampir tersungkur. Mata itu&#8230;.mata biru yang dikenalnya tampak kuyu dan mulai menutup pelan.</p>
<p>“Kar-tini&#8230;,” teriak Siou Yu menggema ke seluruh ruangan.</p>
<p>Tangis Sio Yu meledak. Ia tiba-tiba teringat ucapan terakhir Kartini ketika di Pulau Kemaro.</p>
<p>“Jika suatu hari aku tak bisa mengingatmu lagi, apa kamu akan tetap mengingatku?”</p>
<p>Siou Yu memeluk Kartini erat, serasa tak ingin dilepaskannya pelukan itu. (*)</p>
<p>*) Penulis peserta Kelas Memulis Rumah Dunia angkatan kelima, asal Palembang. Kii berdomisili di Banjarmasin, Kakimantan.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Sinar yang mempengaruhi penangkapan cahaya dari gelap ke terang</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Kapal-kapal besar yang bisa mengangkut sekitar 200 orang</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Menetap atau berada</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Jembatan lebar yang biasanya terbuat dari kayu Ulin</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Perahu bermesin yang bisa mengangkut sekitar 10-15 orang</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Ruas jari tangan</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Ya atau sesuai</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Paman</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Tukang/ Supir</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Kayu penyangga yang biasa digunakan untuk mengikatkan tali kapal</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Si Mata Biru</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Perahu di Venesia</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/06/mata-biru-kartini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
