BABI NGEPET BUKU

Cerpen Langlang Randhawa*

Alkisah, Banten punya taman budaya yang megah. Gedung berlantai lima yang berdiri di atas tanah bekas gedung kegubernuran Banten itu ramai dengan diskusi mengalahkan hiruk-pikuk mall-mall. Selain berada di jantung kota dan mewah, fasilitasnya pun mengalahkan Gedung Putih Amerika; kenyamanan, keamanan, pelayanan, dan kebersihan sangatlah terjaga dan tertata. Ada perpustakaan di setiap sudut-sudut ruangan. Pun di toilet. Akses internet gratis dan loadingnya secepat kilat tergesa-gesa. Gedung itu sudah mencerdaskan warga Banten. Anak-anaknya sehat dan cerdas. Pemudanya kritis dan santun. Pejabatnya bijak dan berwibawa. Ekonomi rakyatnya sejehtera. Jalanan licin dan infastruktur tertata rapih. Wisatanya menggeliat pesat. Tak ada lagi cottage yang memagari pantai. Panorama lepas pandang pantai dan nelayan yang melaut di samudra biru ternyata kunci sukses wisata bahari Banten. Investor mengantri. Korupsi, kolusi, dan nepotisme sudah mati. Banten pun diprediksi selamat dunia akhirat oleh para pengamat kehidupan dan kematian. Sungguh prestasi yang didamba umat bangsa. Banten pun segera menjadi kiblat peradaban dunia.

Suksesi ini hasil kerja sampingan. Tidak capek, dan sangat menyenangkan. Kerja sambilan seorang pemuda tampan dan cerdas. Pemuda yang selalu bermimpi. Pemuda yang bertahun-tahun bermimpi mendamba gedung kesenian dan taman budaya. Baginya, setelah ada gedung kesenian dan taman budaya yang mewah dan Islami, masyarakat akan cerdas sendiri. Cerdas Islami berarti menuju sejahtera. Dia tidak harus memantau. Tidak repot. Tidak ribet. Hidup pun bergairah. Penuh semangat. Semuanya aman. Polisi tinggal santai karena warga tertib lalu-lintas. Hakim dan jaksa menikmati hidup saja karena tak ada kasus di persidangan. Tak ada maling, pengemis, anak jalanan. Semuanya sudah sejahtera. Kini pekerjaan pemuda itu belajar dan belajar. Memimpin Banten adalah side job. Pemuda itu memang fenomenal. Kiprahnya menggegerkan dunia. Entah dari mana, buku-buku terbaru dari dalam dan luar negeri sudah ia koleksi dengan cepat. Sebagian buat pribadi dan lainnya untuk perpustakaan. Maka jadilah Banten jadi rujukan referensi pelajar, mahasiswa, dan kaum intelektual dunia. Perpustakaan Leiden, Belanda, terancam tutup! Pemuda ini benar-benar fantastic dan fenomenal. Sangat menggemparkan jagat raya sesuai namanya yang dahsyat; Gel Egar! Yah, pemuda itu bernama Gel Egar. Tapi di sini Anda cukup panggil saja dia Egar. Si Egar!

***

Gel Egar dulunya bernama Gel Isah. Sejak kecil ia selalu gelisah. Gelisah jika ada sesuatu yang berantakan. Gelisahi apa saja. Gelisah tentang masa depan anak-anak Banten. Gelisah jalan berantakan. Gelisah sulit mencari buku. Gelisah masyarakat yang bodoh. Ia juga gelisah jika teman-temannya hendak datang sementara rumahnya berantakan. Gelisah membuatnya sibuk sendiri. Gelisah menjadikannya menyelesaikan segala hal yang tidak beres sendirian. Gelisah membuatnya perfeksionis. Gelisah pun membuatnya jadi anak laki-laki yang sedikit girly. Hingga remaja, ia tidak gelisah saat temannya memanggilnya Neng Isah. Ia hanya menggelisahi orang lain bukan dirinya sendiri. Gelisah pada cita-cita Banten pun mengakibatkannya datang kepada seorang dukun intelektual bernama Ki Cendiki Awan.

“Apa yang kau inginkan, Isah?”
“Sesuatu yang bisa membuatku tidak gelisah dan membuat kotaku jaya, Ki.”
“Itu gampang, Isah. Syaratnya cuma satu.”
“Apa itu, Ki Cendik?”
“Sebelum saya jawab, apakah kamu tidak gelisah dengan namamu, Isah?”
“Tidak, Ki. Namaku memang Gel Isah sejak dulu.”
“Baiklah. Syaratnya cuma satu. Kamu harus mengganti nama, Isah.”
“Ganti nama? Tidak apa. Apa itu, Ki?”
“Ganti namamu dengan Gel Egar!”
“Gel Egar? Baiklah. Aku permisi kalau begitu.”
“Tunggu Egar! Bawa benda ini!”
“Apa ini?”
“Itu lilin pintar dan buku cerdas dari Cina, Egar. Ilmu babi ngepet buku!”
“Babi ngepet buku? Caranya bagaimana?”
“Nyalakan lilin itu tengah malam. Dirikan di atas buku.”
“Lalu aku yang jadi babi? Aku tidak tertarik.”
“Tidak. Kau akan jadi Egar saja. Biarkan babi biru yang bekerja. Babi ini akan menarik buku-buku yang kau inginkan. Kapan dan di mana pun. Kau akan jadi terkenal karena cerdas. Cerdaskan dirimu, lalu cerdaskan orang lain! Maka dengan sendirinya kotamu akan jaya. Kau akan sukses. Sukses itu, pemerintahannya jalan, pemimpinya jalan-jalan.”
“Menarik. Lalu apa aku harus cari tumbal?”
“Tidak perlu. Babi ini sudah saya gajih. Dia tidak akan minta apa-apa.”
“Baguslah kalau ia sadar posisi dan professional.”
“Tapi ada satu syarat lagi, Egar!”
“Apa itu, Ki?”
“Jika sudah dapat bukunya, baca!”
“Okeleh kalo begitu.”

***

Membaca membuat Egar cerdas. Cerdas membuatnya menjadi macho. Keren dan kekar. Wajahnya bersih berseri. Jalannya berwibawa penuh senyum berpesona. Egar Jadi buruan wartawan oleh ketenarannya. Kebanggan kepala sekolah oleh prestasinya. Impian rektor karena kritis dan vokal. Idola gadis jelita oleh lenjang dan ranggi tubuhnya. Idaman calon mertua oleh budi dan dayanya. Tapi Egar tetap tegar. Ia biasa saja. Tidak sombong dan tidak tergesa-gesa untuk menikah. Egar masih haus belajar. Egar ingin lebih menggelegar. Ia asyik menarik buku-buku dengan babi bukunya. Egar kaya dengan buku. Egar aman, karena tak ada satu pun orang yang curiga. Tak banyak yang merasa kehilangan buku. Hanya beberapa gelintir saja. Selebihnya orang-orang masa bodoh pada buku. Mereka hanya senang mengkoleksi. Tidak ada lemari buku di rumah pada masa ini adalah sebuah aib besar. Seperti aib dan cacat intelektual bagi Egar yang ditanya wartawan filsafat, lalu tak bisa menjawabnya.

“Egar, Anda sebagai orang cerdas, saya mau konfirmasi sebentar. Bisa?”
“Bisa. Soal apa?”
“Ada beberapa pertanyaan.”
“Apa saja?”
“Di mana adanya Tuhan menurutmu?”
“Lalu?”
“Takdir itu apa, Egar?”
“Yang lain?”
“Soal setan dan nereka. Setan terbuat dari api. Neraka penuh bara. Bagaimana Anda menyikapi kebijakan Tuhan yang hendak menghukum setan di neraka. Secara logika, setan tidak akan menderita. Seharusnya api dihukum di surga yang konon penuh air mengalir dan danau yang mempesona supaya kobarannya padam. Ada komentar?”
“Tidak ada.”
“Kenapa, Egar?”
“Untuk urusan ini kalianlah yang lebih tahu.”
“Dari mana Anda berkesimpulan demikian?”
“Kerena tugas filsafat bukan hanya bertanya, tapi juga menjawab dengan benar.”
“Oke. Saya sepakat. Tapi untuk tiga pertanyaan tadi kami tidak bisa.”
“Kalai begitu bubarkan filsafat. Mubadzir otak kalian. Permisi!”
“Okelah kalo begitu.”

***

Banten kian makmur, Egar pun sibuk kembali belajar. Ada pertanyaan yang selama ini belum terjawab dalam hidupnya. Gara-gara wartawas filsafat. Meski Egar terlihat cuek, tepi ia tetap saja memikirkannya. Soal takdir manusia. Soal setan dan neraka. Hingga soal keberadaan Tuhan. Buku-buku Egar tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Tokoh ulama dan cendikia terlalu bertele-tele dan gagasanya berloncat-loncatan memaparkan. Tidak jelas siapa ngomong apa. Egar tidak pernah puas. Meski demikian, ia sendiri tidak pernah menyerah berusaha bersama si babi biru. Ia terus membaca buku-buku terbaru hasil gesekan babi biru. Buku-buku best seller. Mega best seller. Nasional dan internasional best seller. Jika tidak didapat, maka ia akan mencari buku yang lain. Jika Indonesia dan negara-negara asia tidak bisa menjawab, maka ia akan lari ke negeri timur tengah. Gagal di timur tengah, meski tidak yakin, ia akan lari ke negeri eropa untuk menemukan jawabannya. Egar tetap tidak bisa mencari jawabannya.

Malam ini Egar sangat gelisah. Hari-harinya menjadi kian sibuk dan semakin jauh dari Banten. Semakin lama meninggalkan rumah dan ibunya sendirian. Ia khawatir umurnya akan habis, sementara jawaban itu belum juga ditemukan. Egar pun kalah. Ia ingin curhat pada si babi biru doyan buku. Segera ia nyalakan lilin yang sudah pendek. Diletakkannnya lilin yang sudah menyala di atas buku tebal bergambar cover babi biru. Seketika gambar babi biru itu meloncat keluar dari buku. Menjelma jadi babi yang cute imut namun penuh wibawa.

“Pengen buku apa lagi, Tuan Egar?”
“Tidak. Aku hanya minta saran.”
“Saran?”
“Ya. Karena kamu suka baca. Aku pikir kamu lebih cerdas dari manusia.”
“Tidak sepenuhnya betul. Tapi bisa juga.”
“Sudahlah. Aku anggap kamu cerdas. Aku pusing, Biru.”
“Pusing tiga pertanyaan itu?”
“Ya. Kau memang cerdas.”
“Saran saya pulanglah ke Banten.”
“Tidak. Banten sudah jaya. Ia bisa jalan sendiri.”
“Bukan itu maksdukku, Tuan Egar. Temui ibumu.”
“Ibu?”
“Ibumu akan menyelesaikan masalahmu.”
“Tidak. Aku tidak mau membebani dia. Ibu sudah tua. Tidak juga bisa membaca.”
“Tapi dia cerdas. Cerdas tidak harus rajin membaca. Dia cerdas mengamati.”
“Sudahlah. Aku minta saran lain.”
“Tidak ada.”
“Kenapa?”
“Hari ini terakhir saya terakhir menemanimu, Tuan Egar.”
“Oh iya. Cepet sekali. Tak terasa kerjasama kita akan berakhir.”
“Begitulah. Jika tidak percaya, silahkan cek di MoU.”
“Tidak usah. Aku percaya.”
Egar diam sejenak. Pusing rupanya dia. Gara-gara wartawan filsafat sialan.
“Tuan Egar, karena kerja sama kita tanpa cacat. Saya akan kasih bonus.”
“Apa itu, Biru?”
“Sebenernya limit alokasi gesekanmu sudah habis. Tapi saya akan beri kamu gesekan bonus yang juga berlaku buat menarik apa saja. Termasuk menarik ibumu ke sini.”
“Benarkah?”
“Ya. Kamu mau.”
“Ya. Aku mau.”
Babi biru doyan buku segera menggesek-gesekkan badannya di tembok. Tak butuh waktu lama, tiba-tiba Gele Pokh, ibunya Gel Egar menjelma bersama cahaya putih.
“Ibu!”
“Lha! Egar? Ini di mana?”
“Ini di rumah Egar, Bu. Di kawasan Real Madrid.”
“Lha! Kenapa bisa begini. Bukannya tadi ibu masih di stasiun Rangkasbitung!?”
“Ibu sedang apa sampe ke Rangkas segala? Egar yang bawa ibu ke sini.”
“Yah!”
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi refleks.
“Yah! Padahal ibu lagi transaksi jual tikar! Batal, deh. Uangnya hilang. Cape, deh!”
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi refleks.
“Buat apa kamu bawa ibu ke sini, Egar?”
“Mau tanya sesuatu. Tentang di mana Tuhan? Apa itu takdir? Kenapa setan dimasukan ke neraka, padahal ia juga terbuat dari api? Tidak sakit dong setan.”
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi refleks.
“Lha kok ditampar lagi?”
“Egar. Gitu aja tidak bisa. Mubadzir otak kamu itu. Buat apa kuliah jauh-jauh!”
“Emang ibu tau?”
Gelephkh! Egar ditampar. Bu Gele Pokh memang demikian kalau lagi refleks.
“Kak ditampar lagi?”
“Itu jawabannya. Sakitkan?”
“Iya.”
“Sakit itu seperti apa. Itulah Tuhan. Terasa namun tidak nampak.”
“Pernah berfikir kamu akan ditampar ibu seperti ini?”
“Tidak.”
“Itulah takdir.”
“Tangan ibu kulit. Pipimu juga kulit. Tapi sakit kan?”
“Iya. Setan. Api dan api bisa menyakitkan. Seperti kulit dan kulit tadi. Puas?”
“Okelah kalo begitu.”
Alkisah, Egar dan ibunya pulang kampung ke Banten. Ia terpesona melihat Banten. Di negerinya banyak orang berdiskusi dan mengaji. Betapa kagetnya Egar melihat Socrates dan Plato sedang belajar Iqro pada ustadz Sanusi. Sastrawan-sastrawan sudah menjadi ulama.
“Manteplah kalau begini!”

======
*Warga Tangerang, penulis novel Slonong Boy Millionaire.

AYAT PEREMPUAN

Oleh Toto ST Radik

Sesungguhnya saya tak pernah ingin menceritakan kejadian ini. Saya telah berjanji kepada diri sendiri untuk menyimpannya rapat-rapat dalam ingatan saya, semacam kenangan pribadi. Tapi entah mengapa, ketika pada suatu malam saya bertemu tukang cerita itu, saya tak mampu menahan diri untuk tidak bercerita kepadanya. Padahal sembilan tahun sudah kejadian itu saya simpan dalam-dalam. Mungkin karena sikapnya yang begitu baik dan lembut. Sepanjang malam itu dia benar-benar mendengarkan dengan sepenuh hati, tak pernah menyela, tak berkomentar apa pun. Padahal saya sendiri sering merasa cerita saya ngelantur dan melompat-lompat tidak beraturan. Dia, tukang cerita itu, hanya sesekali bertanya. Itu pun jika saya terdiam karena kehilangan kata-kata. Sehingga saya pun terus menceritakan kejadian itu hingga jauh malam. Kira-kira tiga bulan kemudian tukang cerita itu mengirimi saya sebuah majalah. “Saya menulis sebuah cerita berdasarkan ceritamu. Bukalah halaman 25 dan seterusnya,” tulisnya di selembar kertas. Saya pun segera membuka halaman 25 itu dan membacanya.

***

Lelaki itu datang tidak dengan menunggang kuda seperti dalam dongeng-dongeng kerajaan. Dia datang berjalan kaki, menghampiriku, dan duduk di sebelahku. Begitu saja. Sore itu, sebagaimana sore-sore sebelumnya, aku duduk di bangku taman, menikmati sesudut pemandangan di kota kecilku yang kian ramai. Lelaki itu kemudian mengulurkan tangannya kepadaku seraya tersenyum tipis. “Sabda,” katanya memperkenalkan diri. Aku diam saja. Tangannya terus terulur, begitu pula senyum tipisnya. Seperti tak akan pernah berakhir sebelum aku menyambutnya.

Lelaki itu menggenggam tanganku erat. Mantap dan kukuh. Kulitnya cokelat mengilap. Dia Tersenyum tipis sekali lagi. Dan menunggu.

“Mawar,” jawabku ringkas.

“Sabda Mawar. Nama yang indah dan unik,” katanya seraya terus menggenggam.

“Maksudmu?”

“Nama anak kita.”

“Anak kita?”

“Ya. Kita akan segera menikah.”

Aku menarik tanganku. Melengos. Lelaki sinting! batinku. Baru bertemu sudah bicara soal pernikahan. Tapi aku melirik juga dengan hati berdebar. Lelaki itu tersenyum lagi.

“Kita ditakdirkan menikah dan melahirkan seorang anak bernama Sabda Mawar karena aku bernama Sabda dan engkau Mawar.”

“Dari mana kamu tahu kita ditakdirkan menikah? Memangnya kamu malaikat atau nabi?”

Lelaki itu lagi-lagi tersenyum. Kemudian sedikit tergelak. “Pasti kamu menganggapku gila atau konyol, “ katanya. “Tidak. Aku tidak konyol, apalagi gila. Mungkin aku agak berlebihan. Aku hanya merasa yakin. Itu saja. Bukankah kita harus yakin pada keyakinan kita? Jika tidak, lantas buat apa kita melakoni hidup di dunia yang sebentar ini. Jadi kamu juga harus yakin.”

“Yakin pada apa? Pada keyakinanmu?” Aku mulai sengit. Tidak suka pada sikapnya yang menekan.

“Tentu saja pada keyakinanmu,” tukasnya cepat. “Ayo katakan dengan yakin.

Aku ingin tahu.”

Aku tak segera menjawab. Aku benar-benar tidak suka kepadanya, cara bicaranya, sikap yakinnya, juga senyum tipisnya yang enggan hilang itu. “Maaf, aku ingin sendiri di sini.”

“Itulah! Berhari-hari kulihat kamu selalu sendiri di sini setiap senja. Dari sikap dudukmu, aku tahu kamu sedang menunggu seseorang atau sesuatu. Dan aku datang memenuhi do’amu.”

Aku semakin tidak suka kepadanya, justru karena kebenaran kata-katanya. Jadi dia telah mengamatiku berhari-hari, barangkali mengendap-endap di balik rumpun melati atau di balik gerumbul soka? Siapakah sebenarnya lelaki tengik ini? Hm, mungkin cuma lelaki iseng yang mengira aku perempuan…

“Tak baik berprasangka buruk. Aku menghormatimu,” katanya seolah dapat membaca jalan pikiranku. “Sekali lagi, aku datang dari jauh memenuhi do’amu. Aku Sabda engkau Mawar. Kita akan menikah dan menimang seorang anak yang kau idam-idamkan. Sabda Mawar, nama yang indah, bukan?”

“Pergilah. Aku tak suka ocehan gilamu!”

“Kamu mengusirku?”

Aku tak menjawab. Aku telah muak.

“Baiklah.” Lelaki itu bangkit perlahan. “Tapi sebelum aku pergi, katakan apakah kamu yakin aku harus pergi.”

Kutatap lelaki itu dengan keras, pernyataan perseteruanku kepadanya. Lagi-lagi dia tersenyum tipis. Tapi sesaat kemudian cahaya matanya tampak meredup dan murung, seperti matahari senja yang diringkus gulungan awan kelabu.

“Ya,” kataku ringkas.

Lelaki itu menatapku tak percaya. Sinar matanya seakan memintaku untuk merubah keputusan itu. Tapi mataku telah membelalak galak. Lelaki itu kemudian mengangguk lemah dan pergi tanpa sepatah kata pun.

Di gerbang taman, lelaki itu menghentikan langkah dan menoleh ke arahku. Aku cepat berpaling. Aku tak ingin melihat sinar matanya lagi karena khawatir aku menjadi luluh karenanya. Aku tidak tahu apakah lelaki itu tersenyum tipis sekali lagi, sebab manakala aku mengarahkan pandang kepadanya lelaki itu sudah tidak ada. Aneh, seketika saja aku merasa kehilangan. Semacam rasa kangen yang menghentak. Sontak aku berdiri, meninjau ke kejauhan, mengedarkan pandang. Tapi lelaki itu tak tampak lagi. Aku mengejarnya. Tapi lelaki itu benar-benar tiada, seolah hilang ditelan udara.

Berhari-hari aku terus merasa kehilangan. Apakah karena aku merasa iba? Atau sejak mula aku mendustai perasaanku sendiri?

Sabda. Sabda Mawar. Sabda. Nama itu terus terngiang-ngiang di telingaku. Tapi tak ada lagi Sabda. Lelaki itu tak pernah datang lagi. Setiap senja aku pergi ke taman, duduk di bangku taman yang sama, menunggu Sabda. Tapi tak ada lagi Sabda. Lelaki itu tak pernah datang lagi.

Suatu ketika, sekira sepertiga tahun setelah pertemuan itu, aku merasa hamil. Seperti ada mahluk hidup yang bergerak-gerak dalam perutku. Seperti berenang kian kemari. Perutku pun terasa bergetar-getar dan membesar. Sungguh aneh. Benar-benar ganjil. Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah kehamilan hanya mungkin jika aku bersebadan? Padahal aku tak pernah bercinta dengan siapa pun. Aku hanya berbincang dengan seorang lelaki yang mengaku bernama Sabda, itu pun berakhir dengan rasa muak sebelum akhirnya aku mengusir lelaki sinting itu. Aku memang merasa kehilangan dan merindukan kehadirannya. Tapi kerinduan tak akan pernah dapat menyebabkan kehamilan, bukan?

Aku sungguh-sungguh benci terhadap binatang yang mendiami perutku ini. Tapi usahaku merontokkannya berkali-kali tak pernah berhasil. Binatang itu sungguh liat dan likat. Tak mau luruh. Tak mau lepas. Jahanam! Hidupku jadi tambah sengsara karenanya. Dari hari ke hari orang-orang mengolok-olokku tanpa ampun. Beberapa di antaranya bahkan mencoba memperkosaku. Benar-benar jahanam! Aku geram dan marah, sekaligus merasa kasihan terhadap para lelaki munafik itu. Mereka mencibir dan menistakan aku sebagai perempuan penuh dosa, tapi juga menginginkan tubuhku. Dan manakala nafsu itu tak kesampaian, mereka mengumpati aku dengan kata-kata kasar: dasar jobong![1] Wadon sédéng![2] Sudah jemblung[3] berlagak suci!

Perutku terus membesar. Binatang di dalam perutku semakin kerap berjumpalitan. Menghisap. Meninju. Menendang. Bahkan mencakar-cakar dengan kejam. Pernah suatu malam kurasakan binatang itu seperti hendak menjebol dinding perutku. Aku memekik-mekik kesakitan. Kupukul dia berkali-kali tapi dia malah semakin liar, berputar-putar bagai mata bor hendak melubangi perutku. Aku pun menyerah, membiarkan dia berbuat sesukanya. Aku raba-raba kepalanya. Aku elus-elus pantatnya. Dan binatang itu pun diam. Mendengkur halus. Tiba-tiba aku terkenang Sabda, lelaki aneh itu.

Ya, Sabda. Kini aku ingat dia pernah menemuiku kembali pada suatu malam ketika aku sedang tidur-tiduran di bangku taman, memandang luas langit yang benderang oleh purnama.

“Mawar,” bisiknya.

“Sabda?” Aku bangkit mencari arah suara. Sesosok bayangan mengambang di hadapanku. “Sabda?”

Namun bayangan itu memudar. Menghilang begitu lekas. Sebelum sempat mengitarkan pandang, tiba-tiba kurasakan tangan kukuh mendekapku dari belakang. “Mawar,” bisiknya lagi. Nafasnya hangat dan wangi. Jemarinya lembut menyusuri wajahku. Aku pun terpejam. Mendesah. Seketika melayang. Melesat. Meluncur. Menukik. Memburu. Menderu. “Sabda!” Aku memekik setiba di puncak. Tapi aku hanya mendapati diriku seorang diri di bangku taman yang sepi. Tidak ada Sabda. Tidak ada siapa pun. Semua itu hanya bayanganku sendiri, khayal yang menipu.

Binatang itu lagi-lagi meninju dinding perutku, seakan hendak menyatakan bahwa dia benar-benar ada. Apakah perempuan yang bercinta dengan bayangan bisa hamil? Aku perawan. Tak ada lelaki pernah menyentuhku. Bagaimana akan ada bagiku seorang anak, sedang aku tak bersuami dan aku bukan pula seorang pezina?[4]

Aku merangkak menuju pohon asam di pojok taman. Ketuban telah pecah. Seluruh tubuhku nyeri. Aduhai, alangkah baiknya aku  mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.[5]

Binatang itu pun lahir menerobos rahimku. Alangkah terpananya aku melihat bayi laki-laki dengan wajah tampan bercahaya dan rambut hitam tebal bergelombang. Bibir mungilnya yang merah menyunggingkan senyum tipis sesaat setelah dia menangis dengan keras. Seketika aku pun jatuh cinta seperti ketika pertama kali bertemu Sabda. Ya, senyumnya sungguh senyum Sabda. Bayi itu aku dekap sepenuh perasaan, kucium bertubi-tubi, dan kuberikan air susu pertama. “Aduhai, anakku sayang, kuberi nama engkau Sabda Mawar. Nama yang diciptakan bapakmu sebelum engkau tiba, sebelum engkau ada,” bisikku.

Keesokan paginya, orang-orang berdatangan. Berdesakkan mengitariku. Mereka bukan hanya menghamburkan serapah, tapi juga melempari kami dengan kerikil, batu, ranting, pecahan botol, telur busuk, bahkan kotoran anjing dan kotoran mereka sendiri. Beberapa di antaranya kukenali sebagai orang yang hendak memperkosaku.

“Hai, jobong! Saya do’akan kamu masuk neraka!”

“Perempuan sundal!”

“Pergi dari sini, pendosa!

Sebatang kayu menderas ke arah kami. Kudekap anakku. Kulindungi wajahnya dengan telapak tanganku. Batang kayu itu menghantam keningku. Darah menetes!

“Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar!”

Sebongkah batu menghajar pelipisku. Darah mengucur!

“Pezina! Matilah kamu!”

Sepotong besi menghajar batang hidungku. Darah menderas!

“Biar mampus perempuan sesat dan anak haram jadah ini!”

“Najis!”

Pateni bae![6]

Lagi, sebongkah batu menghajar belakang kepalaku. Aku terhuyung. Darah membanjiri sekujur tubuhku. “Tuhan, di manakah Engkau?” Aku menjerit. Tanganku menggapai-gapai mencari pegangan. Anakku terlepas dari dekapanku. Aku mencoba meraihnya, tapi aku telah tersungkur membentur tanah. Aku mencoba merangkak menyelamatkan anakku, tapi berpasang kaki telah menendangnya kian-kemari disertai tawa dan tempik sorak. “Tuhan, di manakah Engkau?”

Aku hanya bisa menangis dan meratap ketika kulihat mereka mengikat anakku dengan seutas tali rafia merah di ujung galah dan mengaraknya berkeliling sebelum ditancapkan di tengah taman. Kulihat anakku terkulai layu. Aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati.

Sepasang tangan kekar menyeretku, melemparkanku ke dalam got seraya menghamburkan seribu serapah dan meludahiku berkali-kali. Aku ingin melolong, menyeru anakku. Tapi lidahku telah kelu. Masih kudengar tempik sorak itu dan seruan-seruan kemahabesaran Tuhan ketika gelap begitu sigap menyergap. Kemudian segala lesap. Senyap.

Aku siuman ketika kurasakan panas matahari begitu menyengat. Aku mencoba merangkak naik ke bibir got. “Gustiii….” Aku merintih menahan nyeri. Sekujur tubuhku ngilu. Tulang-tulang berderak-derak seperti mau patah. Tapi aku terus merangkak. “Anakku, anakku!” Aku merangkak dan terus merangkak.

Di kejauhan, kulihat galah itu terpancang menjulang. Hanya galah. Di ujungnya seutas tali rafia merah menari-nari dipermainkan angin. “Sabda Mawar, anakku, di manakah engkau?”

Sejak itu aku mengembara bersama seluruh geram seluruh lebam seluruh pedih seluruh perih mencari dua lelakiku yang hilang. Sembilan tahun sudah.

***

======================

Toto ST Radik lahir di desa Singarajan, Serang, Banten, 30 Juni 1965. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Kumpulan puisi tunggalnya Mencari dan Kehilangan (1996), Indonesia Setengah Tiang (1999), Jus Tomat Rasa Pedas (2003), dan Pangeran [Lelaki yang Tak menginginkan Sorga] (2005). Sedangkan cerpennya terdapat dalam Dongeng Sebelum Tidur (Gramedia Pustaka Utama, 2005), dan lain-lain. Bergiat di Sanggar Sastra Serang (s3) dan Rumah Dunia. Tinggal di Penancangan, Kota Serang. Alamat: Kompleks P&K Blok-A, Jalan Kenanga 99, Penancangan, Serang, Banten  42118, mobile: 0818 415 287, No. Rek 1152328 Bank BNI Cabang Serang.


[1] Bahasa Jawa Banten: Pelacur.

[2] Bahasa Jawa Banten: Perempuan sinting.

[3] Bahasa Jawa Banten: Hamil.

[4] QS Maryam: 20

[5] QS Maryam: 23

[6] Bahasa Jawa Banten: Bunuh saja

CUCU MIMPI JADI PNS

CPNS Tes TertulisOleh Ahmad Wayang

Cucu menggoreskan lipstick berwarna merah pada bibirnya yang tipis dengan sangat hati-hati sekali. Pipinya yang mulus makin mengkilap licin setelah bedak bermerek “Gadis” menyapu pipi indahnya. lanjutkan membaca »

MENJEMPUT AJAL

AjalCerpen : Hilal Ahmad

Sudah tiga jam lebih lelaki tua itu teronggok di sudut pelataran rumahnya. lanjutkan membaca »

S A N G B I D U A N

http://2.bp.blogspot.com

http://2.bp.blogspot.com

Oleh: Ahmad Wayang

Kini gadis berambut panjang dan bertubuh ramping itu mulai dilirik orang. lanjutkan membaca »

advert

Tags Kata

Gonjlengan

MENGOPTIMALKAN POTENSI TAMAN BACAAN MASYARAKAT

Oleh Gol A Gong
Beberapa kali saya kedatangan tamu yang selalu minta diajari membuat proposal pembuatan taman bacaan masyarakat. Mereka adalah para mahasiswa. Mereka menduga, bahwa saya mendirikan taman bacaan masyarakat bernama Rumah Dunia dengan membuat proposal. Saya katakan kepada mereka, bahwa Rumah Dunia tidak dibangun dengan proposal, tapi dengan kata-kata. Juga Rumah Dunia tidak dibangun [...]

Full Story | February 21st, 2010

Banten Kuliner

MAKANAN TRADISIONAL SERABI GURIH DAN ALAMI

SERABI GURIH DAN ALAMI

Oleh: Rama
Di pinggir jalan Bayangkara Sumampir Cilegon, atau tepatnya di depan Lapangan Bola Sumampir,

Full Story | February 8th, 2010

advert

Wisata Banten

PEMANDIAN CIPANAS SEHAT DAN SEGAR

LEBAK – Selain mimpi jadi kota pelajar, Lebak yang belum lama berusia 181 tahun ini juga rupanya menyimpan banyak keindahan alam. Saya belum lama ini sempat coba-coba menelisik, mengunjungi dan menikmati bahkan tadinya ingin menjamah semua tempat-tempat wisata yang ada di Kabupaten Lebak, baru sebagian saja sih, mengingat beberapa tujuan wisata masih cukup jauh dan [...]

Full Story | December 27th, 2009

advert

Cerpen

BABI NGEPET BUKU

Cerpen Langlang Randhawa*
Alkisah, Banten punya taman budaya yang megah. Gedung berlantai lima yang berdiri di atas tanah bekas gedung kegubernuran Banten itu ramai dengan diskusi mengalahkan hiruk-pikuk mall-mall. Selain berada di jantung kota dan mewah, fasilitasnya pun mengalahkan Gedung Putih Amerika; kenyamanan, keamanan, pelayanan, dan kebersihan sangatlah terjaga dan tertata. [...]

Full Story | March 9th, 2010

Novel

SEGERA “TEMBANG KAMPUNG HALAMAN” KARYA GOL A GONG

Nantikan di bulan Februari 2010, cerita bersambung “Tembang Kampung Halaman”  karya Gol A Gong – dulu Gola Gong. Cerita ini pernah dimuat di majalah HAI  tahun 1990-an dan diterbitkan jadi buku mungil oleh Gramedia. Menceritakan anak-anak kampung dari kampung yang agraris di wilayah pesisir utara, lalu mengalami perubahan sosial.  Mimpi-mimpi dilontarkan setinggi bintang dan ada [...]

Full Story | January 21st, 2010

Puisi

PUISI-PUISI DEA ANUGRAH

KEPADA PISAU

airmatamu mengalir
sampai jauh
pelan pelan menghampir kesunyianku.
***

BLUES BUAT PEREMPUAN R
di kotaku. di kotaku yang jauh ini
selalu kutemukan kilau senyummu
pada lampu lampu jalan, pada bau malam yang khas
juga pada dingin angin pelabuhan.
padahal hidup
hanya menunda kekalahan
seperti payung
yang perlahan lahan sobek
dikoyak moyak angin kencang jelek.
di kotaku.
di kotaku yang jauh ini
aku selalu mengingat senyummu
meski hidup hanya serupa
payung [...]

Full Story | March 9th, 2010