BARAKAH
langlang | Cerpen | August 6th, 2010 | No Comments »
Cerpen Langlang Randhawa*
Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung seksi elpiji yang larisnya minta ampun dan minta korban itu. Lupakanlah. Apalagi orang-orang pajak yang belakangan sibuk beriklan besar-besaran agar kamu taat pajak setelah pesta gede-gedean mereka sendiri dipromosikan media secara paksa. Mereka tidak penting. Semua itu hanya candaan. Goyunan saja. Aku. Aku ini yang penting buat kamu. Penting buat masa depan kamu dan keluargamu. Aku ini bermanfaat bagimu. Garansinya dunia akhirat, lho! Dengarkan baik-baik. Gawat kalau kamu tidak menyimak, apalagi tertidur.
”Baiklah. Aku akan simak.”
Nah begitu, dong. Tapi aku ingin kamu serius. Apakah kamu benar-benar?
“Insya Allah aku serius.”
Jangan pakai Insya Allah. Aku ragu dengan Insya Allah yang keluar dari mulutmu. Lha wong Insya Allah yang keluar dari bapakku juga aku masih tak percaya. Dia selalu berkata Insya Allah kalau diajak bersepakat, tapi dia selalu melupakan begitu saja.
”Ya, itu bukan salah Insya Allah-nya. Bapak kamu saja yang pikun!”
Eh, jaga mulutmu itu. Apakah kamu lupa, ayahku itu seorang kiai. Kiai besar. Tahukah kau, di mana? Di Banten! Banten. Semua orang tahu nama itu. Banten! Jangan gegabah kamu kalau bicara. Jika ayahku marah, maka seucap kata sekilat nyata! Wih!
”Iya.. Kiai juga manusia, bos! Dia bisa lupa. Khilaf. Seperti mereka juga.”
Siapa? Perasaan dari tadi di sini tak ada siapa-siapa, selain penjaga itu.
”Sudahlah. Sudah malam. Suaramu lebih berisik dari nyamuk broiler di sini! Kalau bukan karena ilmu barakah yang saya dapat waktu di pesantren, sudah aku sungsang kepalamu sampe isi kepalamu jadi koplak! Sudah! Aku mau tidur saja..”
Ah, jangan begitu kamu. Jangan dulu tidur. Ini sudah sepertiga malam. Segala pinta kita akan diijabah karena malaikat langsung yang turun melakukan checklist para manusia yang terjaga untuk beribadah. Apakah kau tidak pernah mendengar hal itu selama ini?
”Iya. Aku pernah mendengarnya. Tapi kita ini kan tidak sedang beribadah tahajjud atau bermunajat pada Allah. Kita ini hanya mengobrol ngalur ngidul nggak karuan lalu tidur saat bedug subuh menjelegur!”
Ha ha! Menjelegur? Apa itu menjelegur? Bahasamu berantakan. Sangat nampak lisanmu tidak tersentuh pelajaran balaghah, apalagi nahwu dan sharaf.
”Sudahlah.. jangan banyak cingcong! Aku mau tidur.”
Jangan dulu tidur. Apakah kau tidak tahu siapa aku?
”Tahu!”
Tahu dari mana kamu? Bukankah aku baru hari ini berada di sini?
”Bapakmu!”
Maksudmu apa?
”Bapakmu itu yang kiai adalah guru ngaji aku! Dia menitipkan dirimu padaku.”
Lha.. berarti kamu sudah tahu siapa aku?
”Ya iyalah.. kamu anaknya Kiai. Pasti mau ngomong, jika taik ayam kesayangan anak kiai saja harus dihormati dan dielus-elus, apalagi anaknya. Harus dihormati seperti buapak moyangnya juga. Supaya ilmuku manfaat dan masa depanku kelak penuh barakah! Betul?”
Ho-oh! Ya, betul. Itu betul; Insya Allah kamu barakah!
”Preeet!”
Hey, apa maksud bunyi dari mulutmu itu?
”Iseng saja. Sudah, aku mau tidur anak Pak Kiai! Cape, deh!”
Sstt…mudah-mudahan dia sudah tidur. Dasar mulut durhaka!
***
Eh, kau. Sudah bangun ternyata. Santai sekali kau. Bibirmu sudah basah dan perutmu nampak tambah menggembung. Ingin sekali aku pun demikian. Semoga kau paham. Eh, apakah aku boleh tahu, sudah jam berapakah ini? Nampaknya hari sudah siang. Aku harus shalat duha, supaya rizki ayahku melimpah di rumah. Tapi bisakah kau ambilkan sarapan dan minumanku. Insya Allah barakah..
”Iya, nanti diambilkan. Bukankah ayahmu sudah kaya di kampung. Buat apalagi kau mendo’akan ayahmu mendapatkan rizki melimpah?”
Oh, soal itu hanya Ayah saya yang tahu. Saya kurang paham soal itu. Nanti dia akan cerita kalau dia ke sini. Dia lebih ahli. Konon sih buat urusan aku di sini juga.
”Kan kamu anak kiai? Masa’ kamu tidak bisa menjelaskan.”
Iya, sih. Tapi kan kamu tahu, jika sesuatu perkara ditangani oleh bukan ahlinya, maka tunggulah saja kehancurannya. Sudah, ya. Aku mau shalat dulu..
”Shalat apa?”
Kan aku sudah bilang. Shalat duha. Gawat kamu ini! Pasti jarang baca Al-Qur’an sehingga kau cepat pelupa. Cepat pikun! Bacalah Al- Qur’an maka daya ingatmu kuat.
”Tapi kamu kan tidak shalat subuh tadi. Apa kamu tidak malu sama Allah.”
Kenapa harus malu dalam beribadah? Makanya ngajinya diselesaikan.
”Aneh. Kamu ini… yang wajib ditinggal, yang sunah dikejar.”
Yah, aku hanya ngalap barakah datangnya waktu duha saja. Lagian kalau tidak salah, ada satu ulama madzhab yang memberikan fasilitas qodho solat jika kesiangan. Kamu sih di sini saja. Tidak pernah mengaji. Agama menyediakan banyak fasilitas ibadah yang bisa dinikmati, lho. Agama itu memudahkan, tidak menyulitkan. Percayalah. Aku ini anak kiai.
”Huh! Anak kiai bongkrek! Ibadah kok buat main-main.”
Sudahlah. Ambilkan aku sarapan! Ilmumu belum sampai pada level sekelas aku. Kau hanya akan merasa emosi dan kesal padaku. Tapi percayalah itu hanya godaan. Semoga kau bersabar. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang sabar. Ambil sana. Insya Allah barakah.
“Preettt!”
Meledek lagi kamu? Cobalah… yang ikhlas kalau mau membantu anak kiai. Insya Allah barakah dunia dan akhirat. Sudah, ambil sarapan sana, aku mau shalat dulu.
”Lho nggak wudhu dulu?”
Tayamum di sini saja.
”Lho.. kan ada air di sana.”
Jauh. Kalau saya ke sana, bisa-bisa waktu afdhol shalat duha keburu habis. Sudahlah. Sekali lagi, banyak fasilitas ibadah yang belum kita cicipi. Asal kita yakin dan tau ilmunya saja. Bukan begitu? Ayo cepat, ambilkan aku sarapan.. Insya Allah kamu barakah!
”Preeett!”
Hih! Dasar mulut durhaka!
***
Innalillahi! Lama sekali kamu ini. Ditunggu dari tadi baru nongol! Ambil sarapan saja kayak santri gali sumur. Sini sarapannya. Aku sudah lapar. Kamu merusak segalanya!
”Maaf.. selain di sana ngantri, aku tadi jalannya santai. Aku pikir karena kamu akan shalat duha dulu. Setahuku, shalat duha itu rakaatnya banyak.”
Ah, kamu ini. Dasar santri tanggung. Pasti kamu mondoknya tidak selesai. Baru bisa pakai sarung dan masak jangan dulu pindah. Bahaya. Orang sepertimu membahayakan. Ilmumu melangit tidak, membumi juga nggak. Ibarat pohon, kamu ini bakal jadi tidak jelas pohon apa. Ke atas tak berbuah, ke bawah tak berumbi. Hanya diombang-ambing angin.
“Meski halus, tapi sebenarnya kasar sekali bahasamu! Apa salahku? Sudah diambilkan sarapan, masih saja ngotot. Dasar anak kiai jeblug! Balo, kamu!”
Hei! Hei! Hati-hati kalau bicara. Baca kembali adab lidah dalam kitab-kitab! Ingat, kamu ini sebenarnya sedang diuji kesabaran. Kalau pun aku marah padamu, itu karena aku gagal berkonsentrasi dalam menangkap waktu afdhol shalat duha. Kamu tahu kenapa?
“Nggak. Dan aku sudah malas mendengarnya.”
Astagfirullah, kamu ini! Aku tidak bisa khusyuk shalat duha lantaran aku lapar. Makanya aku tidak dulu shalat, dan menungguimu sejak tadi. Bukankah kamu pernah mendengar orang-orang berkata, lebih baik saat makan memikirkan shalat dari pada shalat malah memikirkan makan. Ini jelas sekali. Ini soal kekhusyukan. Penting sekali soal itu. Astagfirullah, ya kariiiiiimm! Sabar.. sabar, ya Allah. Kamu ini telah membuat aku rugi.
”Kamu yang membuat aku rugi!!”
Apa maksud kamu? Kamu sudah berani membantah anak kiai rupanya. Bisa tidak barakah hidup kamu nanti. Istighfar kamu segera. Baru diuji seperti ini saja sudah kalah.
”Aku rugi karena beberapa hari mubadzir mendengarkan ocehanmu yang kebelinger itu. Pemahaman agamamu semrawut dan nyeleneh. Gara-gara kamu aku jadi kehilangan jatah rokok dan kopi yang biasa aku ambil dari blok sebelah! Kamu ini tidak pantas jadi anak kiai!”
Lha! Kalau aku tidak pantas jadi anak kiai, lantas aku cocoknya jadi anak apa?
”Anak Dajjal!! Puass!!”
Hey, tunggu. Mau ke mana kamu!?
”Pindah blok! Meski aku penjahat, muak aku sama kamu!”
Lalu aku sama siapa di sini?
”Ada penghuni baru. Kayaknya kamu bakal cocok sama dia!”
Siapa dia? Di mana?
”Sebentar lagi juga datang. Kamu pasti kenal sama dia.”
Tapi kamu jangan meninggalkan amanat begitu saja. Kamu sudah diperintah bapakku untuk menemaniku. Kalau terjadi apa-apa denganku bagaimana. Bersabarlah. Maafkan jika aku tadi sedikit kasar. Biasalah anak muda. Oke? Insya Allah barakah jika kau tetap bersabar.
”Makan tuh barakah! Barakah dari mulutmu bobrok!!”
Pikirlah masak-masak sebelum memutuskan sesuatu.
”Ini sudah aku pikirkan. Tugasku sudah habis.”
Apa maksudmu berkata demikian. Ingatlah agama mengajarkan, sampaikanlah pesan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tuturkata yang lembut agar orang bersimpati.
”Baiklah.. wahai anak kiai yang baik, lihatlah itu. Penghuni baru sudah datang. Sambutlah dia dengan bahagia. Insya Allah kalian di sini bakal penuh barakah. Rizki mengalir meski hanya tidur-tiduran saja seharian. Soal makan, minum, dan rokok-mah gratis! Barakah! Itu dia, di belakangmu. Sambutlah teman barumu! Kata penjaga sih, demi membebaskan anaknya di penjara ini, dia menggelapkan dana honor tenaga pengajar madrasah yang diamanahkan padanya! Ngakunya sih, dia khilaf dan sudah memanfaatkan fasilitas agama bernama istighfar, tapi nampaknya enggak mempan, tuh. Lihatlah! Kau pasti mengenalnya. Selamat menikmati. Insya Allah barakah!”
Lho, Bapak!?
* Penulis adalah wakil presiden Rumah Dunia. Menulis novel Slonong Boy Millionaire (B-First Mizan Group: 2009) dan Merah Putih di Old Trafford (Kaifa Mizan Group: 2010).

Oleh Ahmad Wayang
Cerpen : Hilal Ahmad

