BERKACA PADA SEJARAH LEBAK UNTUK MEMBANGUN DAERAH

cover lebakJudul Buku: Lebak 181 Tahun Bara Menjadi Daya

Editor: Firman Venayaksa dan Fitron Nur Ikhsan

Penerbit: Humas dan Komunikasi Kabupaten Lebak

Tebal Buku: 230 halaman

Tahun Terbit: Desember 2009

ISBN: 978-979-15451-4-3 lanjutkan membaca »

KIAMAT ALA HOLLYWOOD

kiamat 2012Oleh: Rama Rachmat

Film 2012 yang menceritakan tentang hari kiamat menyedot perhatian masyarakat dunia. Film 2012 yang diangkat dari ramalan suku Maya dengan segala efek khususnya sukses menghadirkan kengerian kala bumi hancur pada tanggal 21 Desember 1012. lanjutkan membaca »

BUKU TERBARU GOL A GONG: AKU ANAK MATAHARI

cover Aku Anak Matahari

cover Aku Anak Matahari

Aku menulis ini dengan cinta
Seseorang datang kepadaku memberi inspirasi
Diolahnya batang pohon menjadi perahu
Disuruhnya aku mengarungi samudra
Dimana peperangan berkecamuk
Disuruhnya aku memilih
: pecundang atau pemenang

Kini medan perang ada di mana-mana
Seseorang yang memberiku inspirasi telah pergi
Warisannya bukan senjata dan topi perang
Tapi kekerasan hati dan pikiran
***

Puisi Gola Gong di atas mengawali buku dengan ukuran besar dan hard cover serta berwarna, ini diterbitkan Penerbit Semesta, inprint Salamadani, Bandung (November 2008). Sangat cocok untuk para pasangan muda yang sedang membangun pondasi komunikasi dengan anak-anak masa depannya. Juga panduan bagi para orang tua yang memiliki anak cacat, bagimana caranya mempersiapkan si anak beradaptasi menghadapi hidup yang keras ibarat medan perang. Bagi kamu yang juga sedan berperang melawan rasa rendah diri, insya Allah, banyak pengalaman Gola Gong di buku ini, yang bisa kamu ambil manfaatnya. Bagi yang ingin mendapatkan tanda tangan asli Gola Gong, datang saja ke Indonesia Book Fair, Istora Senayan, di panggung utama, 13 November 2008, pukul 15.00 WIB!(*)

RUMAH KITA DI BANTEN

Rumah Idaman Keluarga

Rumah Idaman Keluarga

http://lydiarachman.multiply.com/reviews/item/2

Aku taburkan rumput di halaman belakang
di antara pohon lengkeng dan mangga
sudah tumbuhkah bunganya?
Aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak
di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung
karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh
melihat angkasa dan bintang-bintang
dari atap rumah kita

Aku akan ceritakan kelak
pada anak-anak tentang matahari, bulan, laut,
gunung, pelangi, sawah, bau embun, dan tanah.
Aku ajari anak-anak mengerti hijau rumput
Warna bunga dan suara.

*** lanjutkan membaca »

THE JOURNEY

Perjalanan Gol A Gong

Perjalanan Gol A Gong

Oleh Daniel Mahendra

Aku tahu, penyakitku ini adalah panen yang harus aku petik akibat masa mudaku yang teledor. Aku terlalu bersemangat hidup dan tidak memikirkan kondisi tubuhku. Aku terlalu memforsir tubuhku pada usia muda.(Gola Gong, The Journey, hlm 12)

Ketika mendapat kabar akan terbit buku Gola Gong terbaru, The Journey, aku sudah memastikan bahwa aku mesti mendapatkan buku tersebut. Biasanya aku memang kerap “merampok” kalau kebetulan sedang berkunjung ke sebuah penerbit. Ada banyak buku baru yang siap “diculik” dalam sebuah perkunjungan ke berbagai penerbit. Tapi untuk The Journey, kalau tak beruntung, hehe, aku sudah meniatkan untuk membelinya (tetap dengan harga penerbit tentu saja, haha!).

Nah, begitu The Journey turun dari percetakan, aku sudah bersiap-siap memburunya. Siapa nyana, si direktur penerbitan buku The Journey malah datang ke kantor.

“Ini untukmu!” ujarnya sembari menyodorkan The Journey.

“Haih?!!”

Aku merasa The Law of Attraction betul-betul berjalan. Beberapa hari sebelumnya aku sudah memastikan bahwa aku mesti mempunyai (bukan lagi menginginkan) buku itu. Siapa yang mengira, buku itu malah dibawakan untukku sebagai hadiah dari penerbit yang menerbitkan. (makanya, jangan pernah takut untuk punya keinginan!)

Nah, ada apa dengan The Journey? Sebetulnya ini cerita lama. Aku pernah membaca berulang-ulang apa yang diceritakan dalam The Journey di buku Perjalanan Asia-nya Gola Gong. Hanya saja dalam The Journey, Gola Gong membawakannya lewat sudut pandang lain. Ada hal kekinian dalam cara bertutur The Journey.

Apa yang terawi dalam The Journey memang sudah Gola Gong curahkan lewat novel berseri Balada Si Roy. Baik melalui cerita berseri di Majalah Hai tahun 90an, maupun lewat buku terbitan Gramedia Pustaka Utama. Sementara Perjalanan Asia merupakan catatan jurnalistiknya yang diterbitkan Penerbit Puspa Swara saat ia melakukan travelling ke berbagai negara Asia.

Lalu kenapa dengan Gola Gong lewat The Journey? Aku memang mengoleksi semua buku karya Gola Gong. Sejak masih mengunyah bangku SMP hingga saat ini. Bagiku Gola Gong adalah guru dalam menulis, sekaligus guru dalam memandang kehidupan.

Masih kuingat betul saat masih lagi SMP, aku memang bisa ketawa cekikikan memba Lupus-nya Hilman Hariwijaya. Tetapi begitu Balada Si Roy muncul, aku terhenyak. Ceritanya sangat laki-laki sekali. Sementara caranya dalam menjalani hidup sungguh luar biasa.

Aku jadi doyan travelling, mendaki gunung, dan camping. Sesuatu yang telah kulakukan sejak SD. Tetapi Balada Si Roy mengajarkan lebih daripada itu. Tak aneh jika sejak SMA hingga kuliah, aku selalu mengenakan celana jean, sepatu gunung, kaus yang ditutupi kemeja flanel, dan kalung dog tag. Saat itu aku mempunyai puluhan kemeja flanel yang setiap hari kugonta-ganti corak dan warnanya. Aku memang tergila-gila pada Si Roy dan pada Gola Gong itu sendiri.

Lepas dari itu semua, pada Gola Gong-lah aku belajar menulis sejak SMP. Lambat laun aku menemukan corak serta gaya menulis yang kusukai. Jauh sebelum aku mengenal Pramoedaya Ananta Toer secara pribadi, Gola Gong adalah guru menulisku.

Gola Gong tidak hanya mengajarkan cara memandang kehidupan, tapi juga mengajarkan bagaimana hidup sebagai penulis. Maka, ada dua orang penulis di dunia ini yang sampai dengan hari ini aku masih tak habis pikir dengan cara keduanya berproses kreatif.

Pertama, Gola Gong yang berlangan satu, bisa begitu lincah menulis dan produktif. Sebelum Gola Gong menggunakan komputer, jelas ia menggunakan lima jari kanannya di tuts mesin ketik.

Dengan kondisi seperti itu, ia tetap produktif, liar, sementara cerita-ceritanya berduyun-duyun menyapa pembaca, dan tak kurang: memberi arti. Sudah sejak saat itu aku berpikir: penulis satu ini “gila”! Ia bisa membuat malu diriku yang dengan kondisi lengkap, tapi belum menelurkan apa-apa.

Kedua, Pramoedya Ananta Toer. Ketika Pram dibuang ke pedalaman Pulau Buru untuk kerja paksa sebagai tahanan politik, ia tetap bersikeras menulis. Tak ada komputer, tak ada perpustakaan, tak ada referensi, tapi ia tetap ngotot menulis dan menghasilkan karya-karya masterpiece-nya! Hingga saat ini karya-karyanya telah diterjamahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di dunia.

Jelas, kedua penulis itu mampu membuatku malu setengah mati. Mereka tidak memikirkan bagaimana kondisi mereka saat itu. Yang mereka pikirkan, bagaimana dengan kondisi seperti itu tetap bisa terus menulis dan berkarya. Bukankah itu dahsyat, Kawan!

Dengan Gola Gong sendiri aku pernah beberapa kali bertemu. Pertama tahun 93 kalau tak salah ingat. Saat itu ia datang ke kampusku. Mau mengeposkan surat. Begitu melihatnya, aku langsung memburunya dan berkenalan. Saat itu ia masih ngekos di daerah Cipaganti Bandung sebagai wartawan.

Tapi pertemuan paling berkesan tentu saja saat aku mengundang Mas Gong secara khusus untuk hadir di Toko Buku Malka dalam acara Nostalgia Bersama Balada Si Roy tahun 2005. Sejak itu aku akrab bermail dan SMS.

Saat aku membangun Rumah Malka, tak bisa tidak, yang aku bayangkan adalah sosok Mas Gong dan Mbak Tias, istrinya dengan Rumah Dunia-nya.

Sementara Pramoedya, aku sudah masuk ke ranah paling dalam di keluarganya. Berkunjung dan menginap di rumah Pram sudah seperti di rumah sendiri saja layaknya.

Meski secara editing The Journey tidak memuaskan aku, tapi aku senang bisa mendapatkan The Journey. Aku seperti menemukan kembali sis-sisi hidupku dalam memandang hidup.

Lewat Balada Si Roy, segi positif yang kudapat: aku tak takut menghadapi hidup. Perjuangan dan persoalan adalah mutlak dalam hidup. Karena itulah syarat untuk hidup di dunia: berani melewatinya.

Sementara segi negatifnya: aku jadi punya banyak pacar dan tak pernah jelas dalam berhubungan. Hahaha!! (Sorry, Mas Gong!).

Saat ini Mas Gong sedang berjuang melawat sakit. Terjadi pengapuran pada tulang punggungnya. Aku hanya bisa mendoakan kesembuhan padanya, serta ketabahan bagi Mbak Tias Tatanka dan keempat anaknya: Bella, Abi, Odi, dan Kaka.

Ada satu hal paragraf yang cukup membuatku terperanjat dalam The Journey. Pada halaman 19 dan diulangi lagi pada halaman 20 terdapat tiga kalimat yang tertulis:

Aku tahu, penyakitku ini adalah panen yang harus aku petik akibat masa mudaku yang teledor. Aku terlalu bersemangat hidup dan tidak memikirkan kondisi tubuhku. Aku terlalu memforsir tubuhku pada usia muda.

*) Bandung, 3 Mei 2008

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010