<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; Resensi</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/category/resensi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 13:56:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Kabut Rinai Singgalang: MENDEKATKAN SASTRA LEWAT TELEVISI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2011/04/02/kabut-rinai-singgalang-mendekatkan-sastra-lewat-televisi/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2011/04/02/kabut-rinai-singgalang-mendekatkan-sastra-lewat-televisi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Apr 2011 06:51:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[mendekatkan]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4622</guid>
		<description><![CDATA[Kabut Rinai Singgalang: MENDEKATKAN SASTRA LEWAT TELEVISI Oleh Gol A Gong* Ketika saya membaca “Rinai Kabut Singgalang” (Rahima Intermedia, Januari 2011) karya Muhammad Subhan, langsung teringat sinetron. Ini bahan baku yang bagus untuk membuat sinetron, karena sangat cocok dengan selera pemirsa TV di negeri ini, yang senang dengan kisah mengharu biru. Di dalam dunia sinetron, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/04/Cover-RKS-Edit-BARU-FINAL.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4623" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2011/04/Cover-RKS-Edit-BARU-FINAL.jpg" alt="" width="320" height="233" /></a>Kabut Rinai Singgalang:</p>
<p>MENDEKATKAN SASTRA LEWAT TELEVISI</p>
<p>Oleh Gol A Gong*</p>
<p>Ketika saya membaca “Rinai Kabut Singgalang” (Rahima Intermedia, Januari 2011) karya Muhammad Subhan, langsung teringat sinetron. Ini bahan baku yang bagus untuk membuat sinetron, karena sangat cocok dengan selera pemirsa TV di negeri ini, yang senang dengan kisah mengharu biru. Di dalam dunia sinetron, ada  istilah “soap opera convention”, yaitu tema popular seperti Cinderella syndrome, cinta terlarang, odyphus complex, petualangan, konflik dua keluarga, persahabatan, dan perselingkuhan. Tema-tema keseharian ini sangat digemari pemirsa sinetron di tanah air, karena merasa sangat dekat dengan kehidupan mereka.<span id="more-4622"></span></p>
<p>PROBLEM SASTRA</p>
<p>Lewat RSK, saya terlempar ke masa lalu, saat Buya Hamka menjadi pelopor cerita romantik jenis ini. Saya tahu, banyak para penulis Minangkabau kini enggan menulis hal ini, karena rata-rata sudah (merasa) melampaui itu. Tidak apa-apa. Tapi, Subhan menuliskan hal itu juga tidak apa-apa. Saya setuju  dengan apa yang ditulis Damhuri Muhammad di kata pengantar buku ini, bahwa RSK sebagai bentuk “mempertahankan identitas roman berlatar alam Minangkabau”. Harus tetap diingat, penulis menulis karya (sastra) bukan untuk sesama penulis saja, tapi ada tujuan yang lebih besar, yaitu puluhan juta masyarakat yang belum membaca buku (sastra). Dengan cara memilah-milah pembaca buku (sastra), seperti halnya pemirsa di TV yang dipilah berdasarkan peringkat penghasilan, RSK mencoba meraih pembaca di kelas social-ekonomi mahasiswi, ibu-ibu, dan pembantu. Dengan cara seperti ini, sastra (apapun genrenya) pada suatu saat kelak, tidak lagi berjarak dengan masyarakatnya.</p>
<p>Persoalannya di negeri ini tidak semua berpendidikan tinggi (pintar) dan gemar membaca buku (sastra). Ini memang harus tetap dipikirkan para penulis (sastra). Perihal sastra berjarak dengan masyarakat (pembaca)-nya dibuktikan penelitian Taufiq Ismail sepanjang Juli-Oktober 1997 dengan cara mewawancarai pelajar tamatan SMA di 13 negara. Pertanyaan yang diajukan adalah: berapa  judul buku sastra wajib dibaca selama 3 tahun bersekolah? Rata-rata pelajar di luar Indonesia pembaca sastra, seperti di Thailand Selatan 5 judul, Malaysia dan Singapura 6 judul, Brunei 7 judul, Rusia 12 buku, Kanada 13 buku, Jepang dan Swiss 15, Jerman Barat 22 judul, Perancis dan Belanda 30 judul, Amerika 32 buku, dan Hindia Belanda 25 buku. Sedangkan pelajar Indonesia “nol” membaca sastra sejak 1950 sampai 2011. Taufiq membandingkan, kewajiban membaca buku siswa tamatan AMS (SMA) Hindia Belanda dulu sebanyak 25 buku dalam 3 tahun. Juga ada bimbingan mengarang seminggu sekali, berarti 36 pertemuan setahun. Itu sama saja setiap pelajar Hindia Belanda selama 3 bersekolah harus menulis 108 karangan. “Hasilnya luar biasa. Generasi Bung Karno, Bung Hatta, Agus Salim, Natsir, Syarifudin Prawiranegara,” cerita Taufik Ismail. “Sekarang, para siswa mengarang ketika mau kenaikan kelas saja, sekali setahun mirip sholat Iedul Fitri,” tambahnya prihatin.</p>
<p>Itu tampak nyata di negeri ini dengan hanya diterbitkannya 10 ribu judul buku pertahun dan hanya diserap 1000 judul oleh penduduk Indonesia yang jumlahnya 200 juta lebih itu. Berapa orang di Indonesia yang senang membaca buku? Saya pernah mengalami buku karangan saya (Balada Si Roy) dicetak lebih dari 100 ribu eksemplar (1990), Hilman Hariwijaya dengan “Lupus” lebih dari 1 juta eksemplar (1990), begitu juga di era 2000 dengan “Laskar Pelangi” (Andrea Hirata) dan “Ayat-ayat Cinta” (Habiburrahman el-Shirazy) di atas 1 juta ekemplar (tapi tetap belum menembus 1,5 juta). Bandingkan dengan jumlah penduduk di negeri ini. Jadi, jika sebuah judul buku bisa menembus angka keramat sebesar 2000 eksemplar, penerbit sudah bernafas lega. Padahal, andai 1% saja yang rajin membeli buku (berarti 2 juta eksemplar), penulis di Indonesia akan kaya dan tentu akan leluasa mengeksplorasi karyanya. Akan lahir karya-karya yang beragam dan antara penulis – pembaca – penerbit terjadi komunikasi harmonis.</p>
<p>HIBURAN</p>
<p>Sastra pada dasarnya menghibur, seperti halnya sinetron. Perbedaannya, sinetron di Indonesia hadir setiap hari tanpa memedulikan logika cerita sehingga bikin perut terasa mual, sedangkan sastra berada di ruang-ruang rahasia dan berjarak dengan masyarakat. Persoalannya itu tadi, masyarakat di negeri ini tidak semuanya senang membaca apalagi membeli bukunya. Masyarakat yang intelektualnya tinggi lebih sedikit dibanding yang berpendidikan rendah, sehingga mereka tidak tertarik pergi ke toko buku atau perpustakaan. Mereka merasa cepat pusing jika dihadapkan pada buku-buku sastra dengan penggarapan serius. Paling-paling mereka hanya membaca sebagai hiburan saja.</p>
<p>Sebagai penulis saya termasuk membaca segala macam jenis sastra untuk menambah wawasan. Dalam proses membaca RSK, saya akan memakai pendekatan dari sisi film (TV). Rasa ketertarikan saya dimulai ketika membaca bab 1 (Duka di Kampung Pesisir, hlm 15). Subhan memulai dengan sudut pandang “saya”, yang hendak menceritakan kisah RSK ini. Siapakah “saya”? Kemudian di akhir cerita, pembaca akan tahu bahwa “saya’ adalah tokoh Yusuf, sahabat karib tokoh utama, Rifki. Teknik ini tidak baru. Sudah banyak ditulis. Multatulli dengan “Max Havelaar’, misalnya. Saya juga pernah. Tapi, tetap saja menarik dan alurnya sangat filmis. Jika saya menulis skenarionya untuk sinetron, saya akan menulis dengan pembukaan gambar sebuah adegan tokoh Yusuf yang sedang memandangi tokoh Rahima, calon istri Fikri, yang hingga ajal menjemputnya, tidak bersedia disentuh, karena saking cintanya kepada Fikri yang meninggal akibat kecelakaan pesawat terbang. Teknik flash back yang akan saya pakai dan sudah sangat umum di dunia film (TV ataupun layar lebar).</p>
<p>Kemudian ada beberapa kelemahan intrinsik yang saya temukan. Misalnya, dalam alur cerita Fikri yang hendak dicelakai para pemuda kampung Kajai. Tokoh Yusuf disiksa oleh para pemuda (hlm 93) hingga tak sadarkan diri. Di kuburan Mak Safri (paman Fikri), saat Yusuf menghibur Fikri, tidak disinggung sama sekali persoalan ini (hlm 111). Begitu juga selama sebulan perjalanan waktu, polisi tidak berhasil mengendus ini. Kasus pembunuhan Maf Safri, Subhan selesaikan di bab 12 (Mendapat Orangtua Angkat, hlm 171) lewat surat Yusuf kepada Fikri, bahwa polisi sudah menangkap 2 pembunuh Mak Safri, yang juga menyiksa Fikri. Kalau saya jadi penulis, konflik ini akan saya garap sejak di bab 7 (Tragedi Berdarah, hlm 95). Ah, itu soal selera saya kira dan itu tidak mengganggu alur cerita secara keseluruhan. Tapi tetap saja akan menarik jika disinetronkan, konflik ini akan jadi plot point (suatu pristiwa yang menggerakkan cerita) yang menarik. Seperti halnya film layar lebar “Merantau”, dimana eksplorasi kerarifan lokal pencak silat ranah Minang mencuat di sini. Penonton kita (TV atau layar lebar) masih senang dengan tontonan berbau laga (film action).</p>
<p>Saya juga merasa terhibur ketika membaca RSK sepanjang perjalanan Serang-Palembang-Jambi-Tebo-Bukit Tinggi. Terutama penggambaran setting lokasi ranah Minangnya. Saya merasa sedang dibawa berwisata oleh tokoh Fikri. Saya yakin RSK akan jadi semacam panduan pariwisata bagi para pelancong keluarga. Ini akan sesuai dengan kesepakatan para pengeola TV, bahwa on air look di TV itu harus beauty. RSK tentu akan menyajikan panorama gambar yang sangat indah. Detail-detail alam Minangkabau akan enak di mata penontonnya. Saya yakin, DOP (pengarah gambar) akan tertantang memindahkan setiap kalimat keindahan Minangkabau di RSk ke pita filmnya.</p>
<p>Tentu RSK tidak hanya sekedar menghibur. Tetap saja Subhan dengan cara popular mengemas amanat kepada pembacanya lewat para tokoh rekaannya. Seperti halnya Ahmad Fuadi yang berasal dari Kampung Bayur, Maninjau, lewat novel “Negeri Lima Menara” (Gramedia), yang sudah terjual 170 ribu buku menyampaikan amanat “man jada wa jadaa” (yang bersungguh-sungguh akan berhasil) dan buku keduanya “Ranah Tiga Warna” (sudah 70 ribu buku) dengan “Man shabara zhafira” (yang bersabar akan beruntung). Di RSK, pembaca akan diingatkan, bahwa bersikap sabar seperti tokoh Fikri akan mendapatkan kebahagiaan tidak di dunia, tentu di akhirat. Lewat tokoh Fikri, secara verbal, pembaca yang dibidiknya diingatkan untuk terus berbagi kepada sesama. Ini akan jadi ending yang sangat disukai pengelola TV, yaitu menguras air mata penonton.</p>
<p>MEDIA TELEVISI</p>
<p>Untuk bisa bangkit dari keterpurukan yang memalukan sebagai orang yang tidak membaca sastra, kita harus saling dukung-mendukung. Sesama penulis tidak boleh diskriminatif terhadap karya yang ditulis penulis lainnya, tapi justru harus terus menyediakan bahan bacaan dengan menuliskannya untuk seluruh lapisan masyarakat di negeri ini, yang berlatar belakang beragam. Cara mengenalkan sastranya bisa di mana saja. Di perpustakaan, di komunitas, di toko buku, di sekolah, di kampus, di Koran, bahkan di televisi.</p>
<p>Ya, kita harus belajar dari penyelenggara TV. Selama ini kita &#8212; para penerbit dan penulis – sudah melupakan televisi (dan production house), yang sebetulnya sangat ampuh sebagai media ruang penyampai sastra kepada para penonton. Kita selalu menyalahkan televisi, yang sudah menyebarkan kebodohan lewat (logika) cerita sinetron. Saya yakin, jika pemirsa TV tahu, bahwa sinetron yang ditontonnya berdasarkan sebuah novel, mereka pasti akan membeli novelnya. Lihat saja yang terjadi pada “Laskar Pelangi” dan “Ayat-ayat Cinta”, setelah dilayar-lebarkan, oplahnya terus meningkat. Buku trilogy saya; Pada-Mu Aku Bersimpuh, yang ditayangkan RCTI saat puasa 2001, ketika diterbitkan ulang dengan menggabungkannya menjadi judul “Cinta-Mu Seluas Samudra” memasuki cetakan ke-empat.</p>
<p>Sastra – apapun itu genrenya – memiliki peluang merebut ruang dan waktu emas (prime time) televisi, jika para pelakunya mau melakukan itu dan tidak menganggap tabu televisi. Sastra bisa menjadikan para penonton TV di negeri ini tercerahkan dan lepas dari kungkungan “mimpi di siang bolong”. Sastra bisa menyediakan bahan baku cerita dengan logika cerita yang tertib bagi televisi, jika para pelakunya berbondong-bondong melamar jadi penulis skenario di TV dan para penerbitnya melakukan jejaring dengan TV.</p>
<p>Arswendo Atmowiloto dan Dedi Setiadi pernah melakukan itu di TVRI (80-an). Kemudian diteruskan pada era 90-an di beberapa TV swasta, tapi tidak berkelanjutan. Saya menyebutnya ini adalah “sastra TV” untuk menyaingi “sastra koran” di hari Minggu. yang begitu dinanti warga Indonesia dari kelompok kecerdasan tinggi atau kaum inelektual.</p>
<p>Saya dan beberapa penulis pernah melakukan itu di Indosiar (1995), ketika pakem rumah produksi adalah “menjual mimpi” di ranah sinetron lewat sinetron ala Indie dan Hongkong, saya mencoba berpijak ke bumi. Kemudian saya menjadi salah satu team creative di RCTI (1996 – 2008); mencoba menawarkan gagasan baru dalam bercerita di “sastra TV” (untuk menyaingi sastra Koran tadi), agar para penonton dari kelas CDE (menengah bawah = pembantu dan PRT) mendapat suguhan sinetron yang selain menghibur, juga tetap memaksa kaki mereka menapak di bumi. Bahkan novel saya yang berjudul “Pada-Mu Aku Bersimpuh” (Mizan, 2002) diangkat ke sinetron ramadhan di RCTI dan mendapatkan penghargaan sebagai tayangan sinetron ramadhan dengan cerita terbaik versi MUI pada waktu itu. Beberapa sinetron pernah beredar di TV dimana ceritanya berdasarkan novel; <em>Lupus</em> karya Hilman (Indosiar, 1997), <em>Ali Topan Anak Jalanan</em> karya Teguh Esha (SCTV, 2000), <em>Al-Bahri</em> karya saya (TV7, 2002), dan <em>Siti Nurbaya</em> karya Marah Roesli (TVRI, 1991).</p>
<p>Usaha ini saya rasakan dengan RSK. Target pembaca yang dibidik Subhan adalah para pelajar dan mahasiswi putri yang senang menonton sinetron dan ibu-ibu serta pembantu yang selalu setia di rumah sampai suami dan majikan pulang dari kantor sambil menonton sinetron. Ini ditegaskan Damhuri Muhammad di kata pengantar, bahwa buku ini “sesekali berpola sinetronik”.</p>
<p>Seperti saya tulis di atas, bahwa RKS sangat sesuai dengan tema-tema yang diusung dalam “soap opera convention”, yaitu bercerita tentang cinta seseorang ala “cinderella syndrome”; si miskin lewat tokoh Fikri kepada putri kaya bernama Rahima, walaupun pada akhirnya Fikri meninggal dunia dengan meminta kepada Rahima, agar mau menikah dengan Yusuf, sahabatnya.</p>
<p>WARNA LOKAL</p>
<p>Bagi saya, RKS adalah sebuah karya yang harus disupport, asalkan kita paham target pembacanya. Penerbit harus mampu mengatur strategi pemasaran dan penjualannya, yaitu untuk pembaca wanita mulai mahasiswi, ibu rumah tangga dan pembantu. Penerbit juga gencar melobi PH/TV. Penulis RKS atau penulis lainnya yang menulis buku dengan genre popular tidak perlu merasa minder di depan penulis yang selalu menulis untuk pembaca yang memiliki intelektual tinggi atau dikategorikan sastra serius. Begitu juga penulis jenis karya itu tidak perlu merasa lebih unggul dari yang lainnya, karena ini persoalan pilihan. Yang harus dilakukan para penulis, adalah menulis saja dengan pilihan hatinya tapi memiliki satu tujuan; menghilangkan kebuta-aksaraan membaca buku (sastra) di negeri ini seperti yang dikeluhkan Taufiq Ismail. Dengan cara itu, saya yakin sastra  tidak lagi berjarak dengan masyarakat.</p>
<p>TV adalah ruang yang harus diincar oleh penulis. RKS berpeluang sebagai sastra TV, karena memenuhi kriteria televisi, yaitu penderitaan dari tokoh Fikri yang terus-menerus sehingga akan mengakibatkan pemirsaTV terkuras air matanya, cinta sejati yang tersandung, intrik-intrik dari para tokoh, serta setting lokasi Minangkabau yang indah. Apalagi sekarang pemerintah menghimbau, agar tayangan sinetron harus menampilkan warna lokal. Di beberapa FTV kini mulai rajin diangkat cerita berlatar belakang kebudayaan lokal kita. RKS memiliki warna lokal yang kuat, yaitu kebudayan Minang yang matrilineal (garis ibu) lewat tokoh kakak Rahima, yaitu Ningsih, yang memisahkan Fikri si miskin dengan Rahima. Terutama setting lokal Minangnya yang kuat; pemandangan danau Maninjau, gunung Singgalang, dan local genuine lainnya.</p>
<p>Kita do’akan saja semoga ada TV atau PH yang berminat mengangkat RSK ke sinetron di TV. Insya Allah.(*)</p>
<p>*) Penulis adalah pengarang novel dan penulis scenario sinetron. Pernah bekerja sebagai creative di Indosiar (1995), dan RCTI (1996 – 2008). Kini mnekuni dunia penerbian di Gong Publishing, Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia, Dewan Pembina Forum Lingkar Pena, dan Pendiri Rumah Dunia (<a href="http://www.rumahdunia.net/">www.rumahdunia.net</a>)</p>
<p>*) Makalah ini dipaparkan di acara “Bedah Novel ‘Rinai Kabut Singgalang”, Minggu, 3 April 2011, pukul 08.00 – 16.00 WIB, Graha Serambi Mekah, Padang Panjang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2011/04/02/kabut-rinai-singgalang-mendekatkan-sastra-lewat-televisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CURHAT KUNANG-KUNANG BETINA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/10/18/curhat-kunang-kunang-betina/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/10/18/curhat-kunang-kunang-betina/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Oct 2010 04:18:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Banten]]></category>
		<category><![CDATA[betina]]></category>
		<category><![CDATA[kunang-kunang. pelukan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=4224</guid>
		<description><![CDATA[Judul Buku     : Kunang-Kunang dalam Pelukan Penulis           : Alina E.Rossel dkk Penerbit         : Gong Publishing Cetakan         : Pertama, Oktober 2010 Tebal              : 154 Halaman Ukuran            : 13&#215;20 cm Siapa tidak mengenal kunang-kunang? Makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini memang sangat inspiratif. Kunang-kunang memiliki stereotif angker karena dimitoskan sebagai jelmaan dari kuku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/10/Cover_12.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4225" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/10/Cover_12.jpg" alt="" width="487" height="350" /></a>Judul Buku     : <strong>Kunang-Kunang dalam Pelukan</strong><br />
Penulis           : Alina E.Rossel dkk<br />
Penerbit         : Gong Publishing</p>
<p>Cetakan         : Pertama, Oktober 2010<br />
Tebal              : 154 Halaman</p>
<p>Ukuran            : 13&#215;20 cm</p>
<p>Siapa tidak mengenal kunang-kunang? Makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini memang sangat inspiratif. Kunang-kunang memiliki stereotif angker karena dimitoskan sebagai jelmaan dari kuku orang mati. Padahal sebenarnya kunang-kunang adalah serangga eksotis kelompok kumbang (Coleoptera-Lampyridae). Kunang-kunang dapat bersinar di malam hari. Bukan sembarang sinar, sebab ini adalah sinyal untuk menarik perhatian lawan jenisnya.</p>
<p>Seperti pada beberapa hewan lain, kunang-kunang juga kerap memiliki arti penting dalam beberapa legenda dan kebudayaan. Dalam mitologi bangsa Maya misalnya, kunang-kunang sering dikait-kaitkan dengan bintang, seuatu yang bersinar. Kunang-kunang juga dianggap mewakili utusan dalam kuil-kuil Dewa Maya.</p>
<p>Orang-orang Cina kuno sering memasukkan kunang-kunang dalam sebuah kotak transparan untuk kemudian digunakan sebagai lentera (penerang). Sementara dalam kebudayaan dan cerita rakyat Jepang, kunang-kunang memiliki arti yang sama besarnya dengan bunga Sakura yang sangat terkenal itu.</p>
<p>Intinya, kunang-kunang begitu eksotis dan menjadi sumber inspirasi bagi siapa saja yang memandangnya. Sebagaimana kunang-kunang, perempuan juga makhluk Tuhan yang sangat inspiratif. Perempuan memiliki stereotif lemah. Padahal sebenarnya perempuan dengan segala beban yang ditanggungnya adalah sosok yang sangat tangguh. Perempuan dapat memancarkan sinar yang dapat menginspirasi dan memberi energi kepada orang-orang yang dicintainya.</p>
<p>Sama halnya ketika membaca Sekumpulan Cerpen Inspiratif 18 Perempuan Banten `Kunang-Kunang dalam Pelukan` atau disingkat KKdP, kita seakan mendapatkan pendar-pendar cahaya bintang yang mengirimkan sinyal-sinyal inspiratif atas keberadaan perempuan Banten lewat cerita yang dilahirkannya.</p>
<p>Mereka (18 perempuan Banten) cukup tahu bagaimana memancarkan cahaya cerita yang memukau pembacanya, sehingga curahan hati kedelapan belas perempuan Banten ini mampu menarik perhatian orang banyak.</p>
<p>Cerpen unik `Kunang-Kunang dalam Pelukan` milik Fitri Suciwati Zein ini misalnya cukup menggambarkan perempuan yang mendamba balasan sinyal dari lawan jenisnya persis laiknya kunang-kunang betina. Selain kisah perjuangan karir seorang perempuan yang digambarkan penulisnya, wawasan mengenai kunang-kunang cukup menarik untuk disimak, sebab Fitri mengungkapkannya dalam bahasa yang ringan dan mengandung <em>humor sense</em> melalui tebak-tebakan sunda yang dibuatnya.</p>
<p>Cerpen berjudul `Hunaina: kematian Tiga Generasi` milik Anna Faiza juga memberikan gambaran kebersyukuran wanita yang jelas-jelas menginspirasi kaumnya untuk lebih banyak berbuat dan bersyukur atas kemampuan melahirkan seorang anak. Kita diajak pandai tersenyum dan mensyukuri kehidupan.</p>
<p>Begitupun cerpen pembuka `Sebatas Cakrawala` milik Alina E. Rossel. Dengan tampilan layaknya catatan buku harian, kita diajak membaca perjalanan wanita menemukan cita dan cintanya. Tampilan serupa juga dapat ditemukan pada cerpen `Terlahir Menjadi Pejuang` (Erna Yuliawati) yang mengantarkan kita (pembaca) pada pengembaraan wanita sampai ke negeri sebrang, Riyadh. Begitu pun `Buku Harian Ibu : Kembang Cinta` Karya Ratu Nizma Salma. Kita diajak bernapak tilas ke jaman Agresi Militer Belanda II. Penuh perjuangan dan kental drama cinta.</p>
<p>Berbeda dengan cerpen `Jenny Masuk Koran`, pengarangnya Jenny Ervina dianggap berhasil menonjolkan tokoh utama (dirinya) sehingga menjadikannya terpusat, besar dan berani. Kita menyaksikan semangat warga berbondong-bondong ingin mendengar kabar langsung dari tokoh masyarakat (guru) mengenai warganya yang masuk koran, Jenny seorang gadis kampung yang sukses mencapai cita-cita dan menginspirasi warga lainnya agar lebih maju dan menjadi jenny-jenny berikutnya.</p>
<p>Ada juga `Sepenggal Asa Wati` cerpen milik Ayu Pangestu ini berisi kenyataan hidup tentang dunia pendidikan kita yang carut marut lengkap dengan realita dunia kehidupan pembantu. Membaca cerpen Ayu membangkitkan harapan (asa) kita, meski jauh panggang dari api. Setidaknya kita tersentuh dengan perjalanan kisah gadis lugu bernama Wati yang berhasil mengaduk emosi.</p>
<p>Cerpen lainnya yang juga berpendar cahaya inspiratif dan membawa suatu perubahan dapat kita telisik pada <em>Mimpi di Ujung Kota</em> (Grandis Silvania), <em>Rindu Nyanyian Hujan</em> (Hanun Anindya), <em>Mentari Redup di Sawarna </em>(Ina Inong), dan cerpen-cerpen lainnya. Secara keseluruhan 18 cerpen inspiratif ini telah menunjukan aksi kebangkitan kaum perempuan, dan pastinya curahan hati mereka adalah sinyal ketangguhan kaumnya yang dipendarkan dari sudut pandang perempuan Banten.[<strong><em>Alika Jolie</em></strong><em><strong>; </strong>Penyiar yang hobi membaca berbagai jenis buku.</em>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/10/18/curhat-kunang-kunang-betina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MONYET AJA BISA CARI DUIT</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/20/monyet-aja-bisa-cari-duit-2/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/20/monyet-aja-bisa-cari-duit-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 12:56:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Dompet Dhuafa]]></category>
		<category><![CDATA[Jay]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi buku]]></category>
		<category><![CDATA[wirausaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=3387</guid>
		<description><![CDATA[SERANG &#8211; Saat saya pertama kali ditawari untuk membaca sebuah buku oleh GOl A Gong, saya langsung tertarik dan penasaran dengan buku tersebut. Kenapa? Dari judulnya saja;  ‘Monyet Aja Bisa Cari Dunit’— kita, khususnya bagi yang belum bekerja dan tidak mempunyai penghasilan tetap, sudah merasa dipermalukan dengan judul bukunya. Apalagi sampai membaca isinya. Membaca judulnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Topeng-cover-com.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3388" title="Topeng cover com" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/02/Topeng-cover-com.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a>SERANG &#8211; Saat saya pertama kali ditawari untuk membaca sebuah buku oleh GOl A Gong, saya langsung tertarik dan penasaran dengan buku tersebut. Kenapa? Dari judulnya saja;  ‘Monyet Aja Bisa Cari Dunit’— kita, khususnya bagi yang belum bekerja dan tidak mempunyai penghasilan tetap, sudah merasa dipermalukan dengan judul bukunya. Apalagi sampai membaca isinya.</p>
<p>Membaca judulnya saja, secara jujur, saya merasa tersinggung, dan setelah berpikir sejenak sambil  mengeja lagi judul buku bersampul kuning itu, ternyata ada benarnya juga. “Monyet aja bisa cari duit, masa saya yang manusia, yang punya pikiran, dan kemampuan bekerja, kalah dengan monyet?”  begitulah kiranya yang ada dalam pikiran saya. Anehnya, saya langsung termotivasi dan berpikir dalam lagi. Buku bersampul kuning itu ternyata karya Zainal &#8216;Teroris&#8221; Abidin, atau akrab dipanggil Jay.</p>
<p>Itu awal saya mulai tertarik dengan buku dengan tebal 145 halaman. Gol A Gong tidak hanya sekedar menyuruh saya untuk membaca buku itu, melainkan harus meresensinya—setelah saya tamat membacannya. Saya yang memang tercatat sebagai lulusan SMK 2007 dan pernah menjadi penjual Roti (dari SMP sampai lulus SMK), merasa ‘malu’ dengan monyet. Terlebih saat Kamis lalu, tiga orang lelaki terlihat membawa peralatan topeng monyet lengkap dengan alat musiknya.</p>
<p>Ucil itulah nama grup topeng monyet yang juga diambil dari nama si monyet yang baru berumur sekitar 2 tahunnan. Dengan tarif  Rp. 20.000, grup ucil bersedia menghibur anak-anak sekitar Kampung Ciloang, di Rumah Dunia. Terlebih saat saya mewawancarai Kasta, ketua grup Ucil. Kadang dalam sehari, kata Kasta, Ucil bisa mengantongi uang/untung dari penyawer antara 150 ribu sampai 200 ribu. “Jika ada milik sampe dapet 300 ribuan,” tutur Kasta, yang sudah 2 tahun berpropesi sebagai topeng monyet.</p>
<p>Setelah saya hatam membaca buku itu, isinya sangat bermanfaat sekali bagi kita yang ingin belajar wirausaha kecil-kecilan. Jay benar-benar dengan lugas dan komunikatif mengemas buku terbitan “de britz” (2008) dengan cara ceplas-ceplos dan terasa tidak menggurui. Saya masih ingat kata-kata yang ditulis Jay dalam buku dengan tebal 145 halaman, yang selain bisa bikin pembaca tersenyum dan tertawa sendiri, juga penuh dengan motivasi dan langkah-langkah yang kongkrit untuk menjadi pengusahaa yang sukses.</p>
<p>Jay menulis, “Jika Anda ingin sukses, mulailah berfikir sesuatu yang tidak mungkin di kepala orang lain. Biarkan orang lain menganggap tidak mungkin atas ide Anda. Sampai kemudian Anda mewujudkannya”. Dan masih banyak lagi motivasi-moivasi yang lain ditulis Jay.</p>
<p>Banyak langkah-langkah yang dikupas secara detai oleh Jay, mulai dari mengenai cara berbisnis kecil (menjual minuman mineral) hingga pengembangannya, sampai kemudian bertahap menuju usaha yang sukses. Jika anda ingin belajar tentang cara berbisnis yang baik dan cara mengmbangkan modal kecil menjadi besar, sepertinya buku “Monyet Aja Bisa Cari Duit’ bisa jadi referensi untuk anda yang baru memulai usaha atau belajar dari apa yang ditulis Jay, seorang Mental Suregon Specislis adalm bukunya.  Selamat membaca! (Ahmad Wayang)</p>
<p><em>*) Disampaikan dalam bedah buku “Monyet Aja Bisa Cari Duit” di Rumah Dunia, Sabtu, 20 Februari 2010. Pukul 08.00 WIB.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/02/20/monyet-aja-bisa-cari-duit-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGUPAS SEJARAH DENGAN BAHASA YANG RENYAH</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/04/mengupas-sejarah-dengan-bahasa-yang-renyah/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/04/mengupas-sejarah-dengan-bahasa-yang-renyah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 13:07:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>
		<category><![CDATA[IAIN SMH Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Misionaris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2641</guid>
		<description><![CDATA[Judul Buku     : Misionarisme di Banten Penulis            : Mufti Ali Ph.D Tebal Buku     : 183 Penerbit          : Bantenology Membaca buku sejarah, apalagi dengan tebal menyamai bantal, tak pelak membuat pembaca jenuh. Namun tak ada salahnya menyimak buku karya Mufti Ali, yang mengupas tentang Misionarisme di Banten. Buku setebal 183 halaman terbitan Bantenology [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2642" title="Kristen buku" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Kristen-buku.jpg" alt="Kristen buku" width="499" height="375" />Judul Buku     : Misionarisme di Banten</p>
<p>Penulis            : Mufti Ali Ph.D</p>
<p>Tebal Buku     : 183</p>
<p>Penerbit          : Bantenology</p>
<p>Membaca buku sejarah, apalagi dengan tebal menyamai bantal, tak pelak membuat pembaca jenuh. Namun tak ada salahnya menyimak buku karya Mufti Ali, yang mengupas tentang Misionarisme di Banten.</p>
<p>Buku setebal 183 halaman terbitan Bantenology ini mengupas tuntas proses awal mula Kristenisasi yang lebih lanjut dalam buku ini disebut dengan penginjilan atau misionaris. Tahun penginjilan yang dipaparkan dalam buku ini hanya dalam rentang 1854 sampai 1945. dijelaskan penulis, dimulai pada 1854 karena merupakan point if departure dari misionarisme institusional Belanda, karena untuk pertama kalinya ‘sekolah agama Kristen’ dibangun di Jengkol, Cikuya (Tigaraksa, Tangeranf) oleh dua orang Belanda. Kedua orang itu dijelaskan lebih lanjut bernama Reesink, seorang landlord (tuan tanah) di Cikuya dan Adolf Muhlnikel, seorang mandor yang beberapa tahun kemudian berhasil mengkristenkan beberapa penduduk di Jengkol.</p>
<p>Dijelaskan juga, Kristenisasi pun dilakukan kepada pribumi oleh pribumi, yang dianggap cara paling tepat. Anggapan bahwa orang Timur, agama, hubungan hidup masyarakat, kebangsaan, adapt, norma merupakan suatu kesatuan yang utuh dan kokoh. Berbekal anggapan inilah, penginjilan dilakukan oleh penduduk pribumi dan disampaikan dengan bentuk dan metode secara pribumi pula.</p>
<p>Tidak seperti buku sejarah lain, apalagi buku mata pelajaran sejarah yang dipelajari sekolah, buku terbitan tahun 2009 ini dikemas dengan bahasa yang komunikatif dan renyah. Sehingga mudah dicerna. Pembaca diajak berpetualang dengan alur dan kronologis yang sistematis. Tapi tidak menybebakan efek samping menguap lalu mengantuk.</p>
<p>Kata misionaris yang dipakai pada judul buku, mencoba menggambarkan penyebaran agama Kristen di bumi Banten, yang waktu itu masih menyatu dengan Jawa Barat. Banten yang dikenal sebagai bumi para wali, rupanya tak pelak menjadi incaran Kristenisasi. Terlebih lagi didukung proses kolonialisasi Belanda yang bercokol cukup lama. Kebijakan Belanda dalam memerintah Banten pun berpengaruh besar terhadap kristenisasi, karena kerap menomorduakan Islam sebagai agama yang mayoritas.</p>
<p>Kristenisasi pun dalam buku ini dijelaskan, dengan istilah ‘upaya’ karena proyek kristenisasi ini dianggap lebih banyak menemui kegagalan daripada berhasil karena resistensi dan penolakan dari warga Banten muslim. Sepanjang sejarah Banten, penolakan dilakukan beragam seperti penjatuhan hukuman mati oleh Sultan Banten terhadap salah seorang kerabatnya yang masuk Kristen pada 1704, pengisolasian suatu komunitas Kristen, peracunan misionaris Belanda, dan vandalisme terhadap kuburan dan makam misionaris.</p>
<p>Meskipun memaparkan tentang misionarisme yang selama ini berkonotasi negatif, yang secara lugas bermakna penyebaran agama Kristenisasi dengan beragam cara, namun penulis terlihat netral dalam memaparkan Kristenisasi. Penulis lebih menitikberatkan pada fakta dan realita, bertujuan membuka mata pembaca mengenali dan memahami awal mula pengembangangn Kristen di Banten.</p>
<p>Pembaca dilibatkan dalam memverifikasi (kebenaran) narasi sejarah dengan melihat catatan kaki yang berisi sumber bacaan dan informasi referensial argument yang didiskusikan. Pernyataan-pernyataan yang dianggap sangat penting dan ‘sensitif’ diungkap secar verbatim atau kata demi kata.</p>
<p>Secara garis besar, buku yang membagi titik permasalahan dalam 6 bagian ini, memfokuskan pada 5 permasalahan pokok yang dikupas. Seperti mengetahui siapa saja tokoh misionarisme di Banten, seberapa banyak masyarakat asli Banten yang memilih menjadi Kristen, lembaga misionaris apa saja yang beroperasi di Banten, apakah Alkitab diterjemahkan ke dalama bahasa setempat yakni Jawa atau Sunda (Banten), dan sejak kapan gereja didirikan di Banten.</p>
<p>Bagi pembaca sejarah pemula, buku ini tidak terlalu berat untuk diikuti. Begitupun bagi yang penasaran mengenai tata letak Kota Serang pada jaman penjajahan Belanda, seperti keberadaan gereja yang berada di lokasi pusat Kota Serang, kawasan Alun-alun dan Kegubernuran. Diceritakan, pada 1846, didirikanlah ‘gereja negara’ di dekat Alun-alun Kota Serang. Pembangunan gereja ini bukan tanpa alasan, sebab lebih dari 200 penduduk Eropa terutama Belanda, saat itu tinggal di ibukota. Sebagian besar penganut Protestan, yang memiliki hak mendapatkan pelayanan rohaniah dari pemerintah colonial. Operasional ‘gereja negara’ tersebut, dipaparkan dikelola langsung pemerintah dengan menggaji dan mendatangkan pastur dari negara Eropa.</p>
<p>Di luar itu, buku sayang untuk dilewatkan ini, masih kurang greget dalam tampilan sampul muka dan bentuk dan lebar buku. Sehingga terkesan angker, layaknya buku srius yang hanya cocok dikonsumsi kalangan tertentu. Tapi buku ini bukan diktat perkuliahan. Kalaupun dikelompokkan sebagai diktat dan menjadi referensi wajib buku perkuliahan, setidaknya akan menjadi diktat yang renyah dan tetap asyik untuk dibaca.</p>
<p>Namun demikian, buku ini belum tersebar luas. Hanya di toko buku tertentu dan di markas Bantenology yang berada di gedung rektorat lantai 3 IAIN SMH Banten.(*)</p>
<p>*) Penulis adalah Reporter Radar Banten, alumni Kelas Menulis Rumah Dunia, yang saat ini menjabat sebagai Ketua FLP Serang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/04/mengupas-sejarah-dengan-bahasa-yang-renyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DONGENG KANAK-KANAK DAN KEKUATAN CINTA</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/02/dongeng-kanak-kanak-dan-kekuatan-sebuah-cinta/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/02/dongeng-kanak-kanak-dan-kekuatan-sebuah-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 00:58:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Dee]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Perahu kertas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2563</guid>
		<description><![CDATA[Judul Buku : Perahu Kertas Penulis : Dewi “Dee” Lestari Penerbit : Bentang Pustaka, 2009 Tebal : 444 halaman Tidak ada yang lebih dahsyat dibanding memori masa kecil dan kekuatan sebuah cinta. Demikian kisah yang bisa ditemukan di buku terbaru Dewi Lestari berjudul Perahu Kertas. Buku setebal 444 halaman ini mengajak kita tertawa, menangis, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-2565" title="perahu kertass com" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/perahu-kertass-com.jpg" alt="perahu kertass com" width="401" height="401" />Judul Buku : Perahu Kertas</p>
<p>Penulis : Dewi “Dee” Lestari</p>
<p>Penerbit : Bentang Pustaka, 2009</p>
<p>Tebal : 444 halaman</p>
<p>Tidak ada yang lebih dahsyat dibanding memori masa kecil dan kekuatan sebuah cinta. <span id="more-2563"></span>Demikian kisah yang bisa ditemukan di buku terbaru Dewi Lestari berjudul Perahu Kertas. Buku setebal 444 halaman ini mengajak kita tertawa, menangis, dan menikmati romantisme kisah cinta yang indah namun tak picisan.</p>
<p>Saat kecil, Kugy (tokoh utama wanita) sangat terobsesi dengan dongeng Dewa Neptunus. Ia menganggap dirinya sebagai agen Dewa Neptunus yang diutus ke bumi untuk melaporkan setiap kejadian melalui perahu kertas yang dihanyutkan di sungai atau selokan. Melalui perahu ini pula, Kugy menyampaikan keluhan dan keinginannya. Pun obsesinya sebagai penulis dongeng, yang kemudian dipupus sementara karena dianggap tidak relevan dan tidak prospektif.</p>
<p>Kugy yang unik dan eksntrik itu kemudian sadar bahwa penulis dongeng bukanlah profesi yang meyakinkan dan mudah diterima lingkungan. Tak ingin lepas dari dunia menulis, Kugy lantas meneruskan studinya di Fakultas Sastra, perguruan tinggi Bandung. Di kampus inilah Kugy bertemu Keenan, yang menurutnya juga agen Dewa Neptunus.</p>
<p>ROMANTISME CINTA</p>
<p>Kugy dan Keenan dipertemukan lewat pasangan Eko dan Noni. Eko adalah sepupu Keenan, sementara Noni adalah sahabat Kugy sejak kecil. Terkecuali Noni, mereka semua hijrah dari Jakarta, lalu berkuliah di universitas yang sama di Bandung.Mereka berempat akhirnya bersahabat karib.</p>
<p>Keenan, adalah seorang remaja pria yang baru lulus SMA, yang selama enam tahun tinggal di Amsterdam bersama neneknya. Keenan memiliki bakat melukis yang sangat kuat, dan ia tidak punya cita-cita lain selain menjadi pelukis, tapi perjanjiannya dengan ayahnya memaksa ia meninggalkan Amsterdam dan kembali ke Indonesia untuk kuliah. Keenan diterima berkuliah di Bandung, di Fakultas Ekonomi.</p>
<p>Lambat laun, Kugy dan Keenan, yang memang sudah saling mengagumi, mulai mengalami transformasi. Diam-diam, tanpa pernah berkesempatan untuk mengungkapkan, mereka saling jatuh cinta. Namun kondisi saat itu serba tidak memungkinkan. Kugy sudah punya kekasih, cowok mentereng bernama Joshua, alias Ojos (panggilan yang dengan semena-mena diciptakan oleh Kugy). Sementara Keenan saat itu dicomblangkan oleh Noni dan Eko dengan seorang kurator muda bernama Wanda.</p>
<p>Lika-liku cinta membuat keduanya mengalami banyak hambatan.  Kugy lantas menenggelamkan dirinya dalam kesibukan baru, yakni menjadi guru relawan di sekolah darurat bernama Sakola Alit. Di sanalah ia bertemu dengan Pilik, muridnya yang paling nakal. Pilik dan kawan-kawan berhasil ia taklukkan dengan cara menuliskan dongeng tentang kisah petualangan mereka sendiri, yang diberinya judul: Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Kugy menulis kisah tentang murid-muridnya itu hampir setiap hari dalam sebuah buku tulis, yang kelak ia berikan pada Keenan. Kelak, kisah ini menginspirasi lukisan-lukisan Keenan.</p>
<p>Singkat cerita, Keenan pergi ke Ubud, tinggal di rumah sahabat ibunya, Pak Wayan. Pak Wayan diketahui sebagai mantan kekasih ibu Keenan. Di sana Keenan bertemu Luhde, seorang wanita yang juga terobsesi dongeng seperti Kugy. Sedangkan Kugy, terlibat cinta dengan Remi, atasan Kugy di perusahaan advertising.</p>
<p>Diwarnai pergelutan idealisme, persahabatan, tawa, tangis, dan cinta, “Perahu Kertas” tak lain adalah kisah perjalanan hati yang kembali pulang menemukan rumahnya.</p>
<p>BUKU YANG MENGANDUNG CANDU</p>
<p>Dibandingkan novel Dewi Lestari atau Dee sebelumnya seperti Supernova, Perahu Kertas jauh lebih ringan. Tapi lebih berbobot dibandingkan chicklit. Gaya bertutur yang santai dengan gaya penceritaan memakai bahasa populer, khas gaya tutur anak muda perkotaan, terutama nampak dalam dialog-dialog di dalamnya, membuat pembaca terhanyut hingga halaman terakhir. Pembaca pun diajak tidak beranjak untuk terus menekuni kata demi kata, demi mendapatkan lanjutan kisah Keenan dan Kugy.</p>
<p>Jika disimpulkan, ada tiga hal yang ingin disampaikan Dee, tentang Cinta, Impian dan Kejujuran. Buku ini tidak melulu membicarakan cinta Keenan dan Kugy yang saling mengangumi satu sama lain. Namun juga bercerita tentang bagaimana mewujudkan sebuah impian. Kugy, yang ngebet jadi juru dongeng dan Keenan yang menjadi pelukis.</p>
<p>Saat jalan menuju perwujudan impian tak mulus, mereka tetap gigih. Kugy harus melewati hidup dengan realistis menjadi seorang copy writer, sementara Keenan malah harus berbalik arah cukup drastis, bekerja mengurusi perusahaan trading milik ayahnya. Namun, mereka selalu yakin dengan mimpinya. Tak ada yang lebih indah selain keduanya saling mendukung. Dan, begitulah Dee meramu ceritanya dengan apik di dalamnya. Seolah berkata “Jangan Takut Bermimpi”</p>
<p>Di akhir cerita, Dee meraciknya menjadi cerita yang mengharu biru. Keduanya (Kugy dan Keenan) sempat berpisah sekian lama. Kugy, sudah punya kekasih bernama Remi, bos di kantornya. Sementara, Keenan juga sudah punya kekasih gadis Bali, Luhde namanya. Cerita begitu rumit. Namun, akhirnya Remi sadar bahwa hati Kugy hanya untuk Keenan, sementara Luhde juga sama, walau rasa cinta itu ada, hati Keenan hanya untuk Kugy. Ini kejujuran pertama. Kejujuran kedua, ketika Kugy dan Keenan jujur membuka hati, melepas ego masing-masing, jujur keduanya saling mencintai.</p>
<p>Kisah yang dipenuhi gelak tawa, kekonyolan, ke-egoan, persahabatan dan tangis ini sungguh begitu manusiawi. Dan, siapapun pasti tersentuh ketika membacanya. Wajar, Dee memang tak main-main menggarap novel ini, butuh sekira 11 tahun mewujudkannya, dan yang pasti ia menulis dengan hati. Hasilnya tentu akan sampai ke hati pula. (*)</p>
<p>*Hilal Ahmad, Ketua Forum Lingkar Pena Serang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/02/dongeng-kanak-kanak-dan-kekuatan-sebuah-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BERKACA PADA SEJARAH LEBAK UNTUK MEMBANGUN DAERAH</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/17/berkaca-pada-sejarah-lebak-untuk-membangun-daerah/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/17/berkaca-pada-sejarah-lebak-untuk-membangun-daerah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 22:09:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Firman Venayaksa]]></category>
		<category><![CDATA[Lebak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2145</guid>
		<description><![CDATA[Judul Buku: Lebak 181 Tahun Bara Menjadi Daya Editor: Firman Venayaksa dan Fitron Nur Ikhsan Penerbit: Humas dan Komunikasi Kabupaten Lebak Tebal Buku: 230 halaman Tahun Terbit: Desember 2009 ISBN: 978-979-15451-4-3 Membaca buku yang berjudul Lebak 181 Tahun Bara Menjadi Daya, mengingatkan kita pada sebuah paham di Jepang. Paham Gige Kaiping, paham tersebut berpijak pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-2146  alignleft" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/cover-lebak.jpg" alt="cover lebak" width="500" height="350" />Judul Buku: Lebak 181 Tahun Bara Menjadi Daya</p>
<p>Editor: Firman Venayaksa dan Fitron Nur Ikhsan</p>
<p>Penerbit: Humas dan Komunikasi Kabupaten Lebak</p>
<p>Tebal Buku: 230 halaman</p>
<p>Tahun Terbit: Desember 2009</p>
<p>ISBN: 978-979-15451-4-3<span id="more-2145"></span></p>
<p>Membaca buku yang berjudul <em>Lebak 181 Tahun Bara Menjadi Daya,</em> mengingatkan kita pada sebuah paham di Jepang. Paham Gige Kaiping, paham tersebut berpijak pada sejarah masa lalu untuk melakukan perubahan-perubahan atas nama ketertinggalan yang dialami bangsa Jepang, ketika Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh sekutu.  Dalam keadaan porak-poranda dan tanah terkena radiasi aktif yang disebabkan oleh sisa ledakan; gedung hancur,  tanah tak bisa ditanami, dan yang lebih mengenaskan, banyaknya penduduk Jepang yang tercerai-berai  dan terbunuh. Jepang seperti negara mati, tak ada kehidupan,  seusai ledakan yang mencekam.</p>
<p>Kemudian dengan kejadian yang cukup dahsyat itu, yang memukul mundur para tentara Jepang di Indonesia. Akhirnya mereka melakukan satu pemikiran, dalam hal ini, paham Gige Kaiping. Seperti apakah bentuk pemikiran itu? yaitu, untuk mencintai sejarah bangsa Jepang yang  diharu -biru agar dapat bangkit dari keterpurukan pasca perang. Tidak mungkin Jepang akan membangun pertanian dalam waktu singkat, disebabkan tanah sudah tercemar radiasi aktif, maka, munculah ide dan gagasan Jepang bangkit bersama dengan keunggulan teknologi. Pertanyaan yang muncul kala itu, bukan berapa penduduk Jepang yang meninggal, juga bukan berapa tentara Jepang yang terbunuh, melainkan berapa sisa guru yang masih hidup. Dengan paham Gige Kaiping inilah Jepang kini kembali bersinar dan menjadi sebuh negara yang cukup diperhitungkan di Asia.</p>
<p>Secara tendensius, ketika kita membaca buku <em>Lebak 181 Tahun Bara Menjadi Daya, </em>semangat nasionalisme itu terlihat jelas. Semangat perjuangan itu tergambar jelas; membangun pendidikan, membangun perekonomian, mensejahterakan rakyat, dan membangun keadilan dan kemandirian bagi seluruh rakyat Lebak dengan mengacu pada otonomi daerah. Lihat saja sambutan dari Bupati Lebak di awal halaman buku ini; <em>Manusia yang bermartabat tidak akan puas dengan kehidupan karena belas kasihan orang lain,</em> <em>dan tidak ingin bergantung pada bantuan orang lain. Oleh karena itu, satu paradigma yang takkan pernah berubah sepanjang sejarah manusia kebutuhan manusia akan lapangan pekerjaan. Keterbatasan lapangan kerja, kemiskinan, ketimpangan dan keterbelakangan, adalah empat masalah yang ingin dipecahkan dengan pembangunan. Keempat hal tersebut, selain merupakan lawan dari keadaan sejahtera, juga merupakan penghalang bagi upaya untuk meningkatakan kesejahteraan. Akan tetapi juga mencerminkan ketidakadilan, dan dengan demikian, bertentangan dengan nilai kemanusiaan.</em></p>
<p><em> </em>Upaya untuk menyeimbangkan  kesejahteraan sesuai dengan upaya yang diharapkan Bupati Lebak, bukan sesuatu yang gampang, melainkan upaya yang keras bagi seluruh elemen dan lapisan masyarakat Lebak. Tanpa kesepahaman dan tujuan pembangunan yang sama, tentu buku ini hanya akan jadi penghias lemari di kantor-kantor instansi.</p>
<p>Buku yang diterbitkan dalam rangka hari ulang tahun yang ke 181 Kabupaten Lebak ini, cukup menarik untuk dibaca. Mengetahui secara detail bagaimana ekonomi,  pembangunan,  pendidikan dan harapan masyarakat Lebak. Buku yang di dibagi menjadi beberapa bagian, bagian I,  Menyulut Bara Menjadi Daya. Dalam bagian I ini, dituliskan sejumlah artikel-artikel pendek yang mencoba memompa semangat masyarakat Lebak dengan <em>ghiroh</em> ketertinggalan dan keterpurukan,  menjadi cambuk untuk mensejajarkan sekaligus memperkenalkan Wilayah Lebak. Bagian II, Ketajaman Mata Pena Dari Kelembutan Matahati, dalam bagian II ini, dituliskan artikel-artikel dari para tokoh; pendidikan, pelaku kesenian dan kebudayaan, Orsos, Ormas Islam dan mahasiswa Banten. Untuk juga memberikan sumbang -saran pembangunan dan sekaligus <em>(critic building), </em>bagi Lebak ke depan. Beberapa di antaranya sudah tidak asing lagi bagi kita; Hasan Alyadrus, Bonnie Tryana, Muchtar Mandala, Gola Gong, Prof. Dr. Yoyo Mulyana, M. Ed, dan Prof. Dr. Sholeh Hidayat, M.Pd. Dan tentunya penulis-penulis yang lain sesuai pakar dan bidangnya. Bagian III, Pribadi Tangguh Pantang Mengeluh, pada bagian ini diceritakan tentang perjuangan orang-orang yang mengais rizki, membangun kemandirian, dan mengobarkan semangat perjuangan di Lebak. Dimulai dari jasa tukang semir di stasiun. Pemilik toko seluler yang dulunya tukang <em>cleaning service,</em> kemudian saat ini mengeruk keuntungan Rp. 30-50 juta perhari. Bahkan kalau musim lebaran sampai 150 juta, hingga pengabdian seorang guru di Cicakal Girang, sebuah tempat terpencil di Lebak yang sangat memprihatinkan, dalam rangka menyebarkan islam sejak 17 tahun silam sampai saat ini belum diangkat menjadi PNS. Tetapi tetap tabah berjuang digarda terdepan dalam ruang pendidikan. (hal. 2004-2013).</p>
<p>Tentu sesuai isi dan harapan masyarakat Lebak pada umumnya, buku ini diharapkan “membakar” semangat juang kebersamaan guna membangun Lebak yang berkeadilan. Kita menyadari betul, ketertinggalan bangsa ini karena kita mengenyampingkan dunia pendidikan. Setelah dunia pendidikan dikesampingkan, maka akar kebudyaan yang adiluhung tersisih, menjadi jauh dari harapan. Artikel-artikel yang terangkum pada buku <em>Lebak 181 Tahun Bara Menjadi Daya,</em> kita dapat menemukan benang merah, bahwa Lebak akan mampu bersaing manakala pendidikan di nomor satukan. Seraya mengutip pernyataan Abdus Subhan Jayani, MBA dengan tulisannya yang berjudul “Lebak dan Pendidikan,” <em>….. kewajiban mendidik anak bangsa bukanlah  kewajiban parsial (fardu kipayah) yang boleh diwakilkan pada orang lain dalam pelaksanannya. Tetapi kewajiban mendidik anak bangsa adalah kewajiban individual (fardu ‘ain) yang harus dilakaukan secara perorangan kepada maupun setiap warga Negara Indonesia. (hal. 144).</em></p>
<p>Baru kemudian ekonomi kerakyatan dibangun dengan berlandaskan kepentingan rakyat Lebak dan bukan atas kepentingan golongan. Sesuai dengan yang dikatakan editor pada halaman Sekapur Sirih yang memaknai Bara menjadi Daya sebagai salah satu bentuk cara pandang yang berbeda. Dengan pengibaratan dua orang yang terpenjara, terkurung begitu lama. Lalu kemudian memandang dunia luar dari lubang kecil selebar telapak tangan. Setiap pagi dan sore tahanan pertama selalu melihat keluar lalu menggerutu; “Menjijikan, bau got di luar sana, berantakan sekali di belakang gedung ini. Sial! Di dalam sumpek sekali.” Sementara tahanan kedua setiap pagi memandang langit dan matahari yang mulai terbit dari lubang yang sama, dia memuji “Indah sekali di luar sana, dunia luas begitu berharga untuk menyemai kebaikan, jika aku bebas nanti tak akan kusia-siakan kesempatan itu.” seperti itulah bara yang ditempa menjadi daya. Sesuatu yang ditentukan oleh cara pandang, meskipun dari lubang yang sama namun boleh jadi menghasilkan objek yang berbeda.</p>
<p>Pada akhirnya, kita sadari bersama tidak ada suatu daerahpun yang dimiskinkan oleh sang pencipta-Nya, kecuali oleh manusianya sendiri. Asset dan potensi Lebak sudah tak bisa diragukan lagi, tinggal niat baik dan pengembangannya saja. Mampukah Mulyadi Jayabaya memberikan iklim dan kondisi perekonomian yang kondusip. Sebab, tidak mungkin Lebak akan jaya, apabila ketidakadilan masih merajalela. Karena kabupaten ini pun sudah cukup lama di kenal di tingkat dunia. Agar kita tidak melupakan sejarah Lebak, penting kiranya kita kembali membaca buku Multatuli. Dan menularkan ruh semangat juangnya demi menegakkan kebenaran. Dan jika ruh Multatuli itu ada, <em>insyaalah</em> Lebak menjadi kabupaten terdepan di Propinsi Banten dan manca negara. ****</p>
<p>Penulis, <strong>Rahmat Heldy HS,</strong> adalah Penyair. Buku puisinya yang sudah terbit <em>Kampung Ular (Lumbung Banten, 2009).</em> Antologi puisi <em>Candu Rindu (Kubah Budaya, 2009)</em> dan cerpennya masuk dalam antologi <em>Gadis Kota Jerash (Lingkar Pena Publishing House; 2009)</em>. Bersama Habiburrahman El Shirazy. Juga guru sastra di SMP-SMA Al Irsyad Waringinkurung-Serang.</p>
<p><em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/12/17/berkaca-pada-sejarah-lebak-untuk-membangun-daerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KIAMAT ALA HOLLYWOOD</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/30/kiamat-ala-hollywood/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/30/kiamat-ala-hollywood/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 13:44:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[2012]]></category>
		<category><![CDATA[Kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Suku Maya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/2009/11/30/kiamat-ala-hollywood/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Rama Rachmat Film 2012 yang menceritakan tentang hari kiamat menyedot perhatian masyarakat dunia. Film 2012 yang diangkat dari ramalan suku Maya dengan segala efek khususnya sukses menghadirkan kengerian kala bumi hancur pada tanggal 21 Desember 1012. Adegan lembah dan gunung meletus hingga membumbungkan asap maha raksasa, hujan batu api, daratan amblas ke dalam perut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1818" title="kiamat 2012" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/kiamat-20121.jpg" alt="kiamat 2012" width="500" height="403" />Oleh: Rama Rachmat</p>
<p>Film 2012 yang menceritakan tentang hari kiamat menyedot perhatian masyarakat dunia. Film 2012 yang diangkat dari ramalan suku Maya dengan segala efek khususnya sukses menghadirkan kengerian kala bumi hancur pada tanggal 21 Desember 1012.<span id="more-1819"></span></p>
<p>Adegan lembah dan gunung meletus hingga membumbungkan asap maha raksasa, hujan batu api, daratan amblas ke dalam perut bumi, gempa mencapai 9SR, tsunami setinggi ribuan meter, gedung-gedung pencakar langit amblas, jalan raya dan jembetan terbelah, hingga robohnya bangunan ibadah digambarkan dengan sempurna. Film garapan sutradara Roland Emmerich dengan biaya produksi mencapai USD200 juta langsung memikat perhatian publik.</p>
<p>Ini tentu permasalahan yang menarik, karena film yang diperankan John Cussack, Amanda Peet, Danny Glover, Thandie Newton,Oliver Platt, Chiwetel Ejiofor, Woody Harrelson, berhasil menarik masyarakat untuk menonton dan membuat antrian panjang di bioskop. Tentu saja dampak dari fenomena film produksi Sony Pictures ini dikhawatiran merusak akidah keimanan dengan meyakini kiamat akan berakhir pada tahun 2012. Lantas benarkah kiamat itu akan terjadi pada tahun 2012 seperti digambarkan dalam film 2012?</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1821" title="2012 film" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/2012-film.jpg" alt="2012 film" width="500" height="313" />RAMALAN KIAMAT KALENDER SUKU MAYA</p>
<p>Sutradara Roland Emmerich sukses menempatkan film 2012 ke puncak Box Office. Jika membicarakan mengenai film 2012 garapan sutradara asal Jerman ini tentulah terasa hambar jika tak menilik ke suku Maya, dimana suber asal inspirasi film 2012 diproduksi.</p>
<p>Bangsa Maya Kuno hidup pada 2000 SM sampai 250 M, dan mengalami masa keemasan 250 M sampai 900 M di sepanjang pantai utara Semenanjung Yucatan Meksiko, yang kini dikenal sebagai Mek­siko Selatan, Guatemala dan Be­lize. Bangsa Maya bagaikan bangsa yang diturunkan dari langit, mengalami zaman yang cemerlang, kemudian lenyap secara misterius.</p>
<p><strong>Kalender suci bangsa Maya atau Tzolkin</strong><strong> </strong>adalah pintu memasuki pemikiran suatu peradaban sangat maju di dunia Barat sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Bangsa Maya Kuno terobsesi pada waktu. Menurut Lawrence E Joseph dalam <em>Apocalypse 2012</em> (2007), mereka menciptakan sedikitnya 20 kalender, disesuaikan dengan berbagai siklus, mulai dari kehamilan hingga panen, bulan hingga Venus. Penghitungan orbitnya sangat akurat dengan selisih hanya satu hari setiap 1.000 tahun. Siklus setiap 2000 tahun ada kejadian bencana besar.</p>
<p>Bangsa Maya menyatakan pada tahun 2012, tepatnya tanggal 21 Desember 2012, merupakan “End of Times”. Maksud dari “End of Times” itu sendiri masih diperdebatkan oleh para ilmuwan, dan arkeolog.</p>
<p><strong>SEKEDAR FILM FIKSI ILMIAH</strong></p>
<p>Kita harus bisa menyikapinya dengan bijak dan logika yang sehat. Film 2012 berdurasi 158 menit hanyalah film fiksi ilmiah biasa produksi hollywood atau sekedar film action, tidak lebih film pendahulunya seperti “The Day After Tomorrow” dan “Deep Impact”. <strong> </strong></p>
<p>Film 1012 menyita banyak perhatian dikarenakan mengambil tema tentang akhir zaman dan merujuk pada alur cerita dengan berkiblat pada ramalan suku maya. Ditambah lagi dengan ramainya media yang membahas mengenai kiamat akhir-akhir ini. Jika meyakini kiamat itu merujuk pada sebuah ramalan, jelas itu adalah kekeliruan yang besar, karena kita sebagai manusia yang memiliki kepercayaan tentunya lebih berpedoman pada kitab suci, seperti Al-quran.</p>
<p>Dalam suatu adegan penyelamatan dalam film 2012 terkesan seperti kisah nabi Nuh. Mengetahui akan terjadi kiamat, maka untuk penyelamatkan ras manusia dibangunlah sebuah kapal besar yang disebut “Bahtera Besi” di Cina. Menjadi kisah yang menarik manakala kapal raksasa itu terombang-ambing ditengah arus samudra yang bergejolak hebat.</p>
<p>Akhir dari alur cerita film yang ditulis Harald Kloser dan Roland Emmerich ini pun terlihat ada kejanggal dengan adanya manusia yang masih bernyawa. Jika akhir zaman tiba mestinya tidak ada satu pun makhluk hidup yang bisa selamat.</p>
<p><strong>Tanda-tanda Pengantar Kiamat</strong></p>
<p><strong>Kembali ke Al-Qura’an sebagai refrensi mengetahui tentang kiamat merupakan hal yang tepat. Dimana kiamat termasuk rukun iman yang kelima yang patut diyakini.</strong></p>
<p><strong>Tidak satu pun dari tiap makhluk mengetahui kapan kiamat datang, baik para nabi maupun malaikat. Terjadinya kiamat adalah hal yang gaib. Kiamat yang sebenarnya tentu saja lebih dahsyat, lebih besar, dan lebih mengerikan. Kedatanganya yang tiba-tiba dan diawali tanda-tanda sebagai pengantar. Firman Allah: “Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang?” (Muhammad: 18) </strong><strong> </strong></p>
<p><strong>Demikian juga alam semesta, memiliki tanda-tanda akhir masanya seperti kehancuran dan kerusakan. Saa’ah asalnya adalah sebagian malam atau siang. Saa’ah segala sesuatu berarti waktunya hilang dan habis. Dari makna ini, maka saa’ah atau kiamat mengandung dua macam, yaitu : Saa’ah khusus bagi setiap makhluk, seperti tanaman binatang dan manusia ketika mati; dan bagi sebuah umat jika datang ajalnya. Itu semua dikatakan telah datang saatnya. Saa’ah umum bagi dunia secara keseluruhan ketika ditiup sangkakala, maka hancurlah segala yang di langit dan di bumi.</strong></p>
<p><strong>Tanda-tanda kiamat ada dua: tanda-tanda kiamat besar dan tanda-tanda kiamat kecil. Tanda kiamat kecil adalah tanda yang datang sebelum kiamat dengan waktu yang relatif lama, dan kejadiannya biasa, seperti dicabutnya ilmu, dominannya kebodohan, minum khamar, berlomba-lomba dalam membangun, dan lain-lain. Terkadang sebagiannya muncul menyertai tanda kiamat besar atau bahkan sesudahnya.</strong></p>
<p><strong>Tanda kiamat besar adalah perkara yang besar yang muncul mendekati kiamat yang kemunculannya tidak biasa terjadi, seperti muncul Dajjal, Nabi Isa a.s., Ya’juj dan Ma’juj, terbit matahari dari Barat, dan lain-lain.</strong><strong> </strong></p>
<p><strong>Para</strong><strong> ulama berpendapat tentang permulaan yang muncul dari tanda kiamat besar. Ibnu Hajar berkata, “Yang kuat dari sejumlah berita tanda-tanda kiamat, bahwa keluarnya Dajjal adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar, dengan terjadinya perubahan secara menyeluruh di muka bumi. Dan diakhiri dengan wafatnya Isa a.s. Sedangkan terbitnya matahari dari Barat adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar yang mengakibatkan perubahan kondisi langit. Dan berakhir dengan terjadinya kiamat.” Ibnu Hajar melanjutkan, ”Hikmah dari kejadian ini bahwa ketika terbit matahari dari barat, maka tertutuplah pintu taubat.” (Fathul Bari). </strong></p>
<p>Kita selaku umat memiliki pedomanan yang kuat seperti Al-qur’an sebagai pegangan sumber segala ilmu pengetahuan yang benar. Jika berpatokan dari sebuah ramalan dan film fiksi hasil rekaan manusia adalah kekeliruan besar berakibat pada kekufuran, karena tak ada pegangan yang bisa dibuktikan. Sebagai manusia beragama tentunya tidak boleh percaya pada ramalan ini sebab hanya Tuhan yang tahu dan yang berhak memutuskan kapan kiamat akan datang merupakan rahasia Illahi.</p>
<p>Bila anda ingin menonton film 1012 nikmati sajalah sebagai hiburan semata. Jangan memiliki pandangan untuk meyakininya. Tidak usah kawatir dengan isu kapan datangnya hari kiamat, jika waktunya tiba kita tak bisa berbuat banyak dan tak bisa lepas dari kedahsyatanya yang luar biasa.</p>
<p>Jadikan semua ini sebagai gambaran kengerian hari akhir, selanjutnya kita wajib mengaca diri atas khilaf yang telah kita perbuat, meningkatkan ibadah, keimanan, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai kesiapan menghadapi kiamat. Hingga waktunya tiba dan kapan pun kematian menghadap, kita sudah memiliki bekal untuk kehidupan selanjutnya. Apapun yang akan terjadi pada tahun 2012 biarlah itu menjadi rahasia Sang Pencipta.</p>
<p>***</p>
<p>Cilegon, 19 November 2009</p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/30/kiamat-ala-hollywood/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BUKU TERBARU GOL A GONG: AKU ANAK MATAHARI</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/11/buku-terbaru-gol-a-gong-aku-anak-matahari/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/11/buku-terbaru-gol-a-gong-aku-anak-matahari/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 12:37:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Aku Anak Matahari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=891</guid>
		<description><![CDATA[Aku menulis ini dengan cinta Seseorang datang kepadaku memberi inspirasi Diolahnya batang pohon menjadi perahu Disuruhnya aku mengarungi samudra Dimana peperangan berkecamuk Disuruhnya aku memilih : pecundang atau pemenang Kini medan perang ada di mana-mana Seseorang yang memberiku inspirasi telah pergi Warisannya bukan senjata dan topi perang Tapi kekerasan hati dan pikiran *** Puisi Gola [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_892" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-full wp-image-892" title="Anak Matahari-GG" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Anak-Matahari-GG.jpg" alt="cover Aku Anak Matahari" width="150" height="106" /><p class="wp-caption-text">cover Aku Anak Matahari</p></div>
<p>Aku menulis ini dengan cinta<br />
Seseorang datang kepadaku memberi inspirasi<br />
Diolahnya batang pohon menjadi perahu<br />
Disuruhnya aku mengarungi samudra<br />
Dimana peperangan berkecamuk<br />
Disuruhnya aku memilih<br />
: pecundang atau pemenang</p>
<p>Kini medan perang ada di mana-mana<br />
Seseorang yang memberiku inspirasi telah pergi<br />
Warisannya bukan senjata dan topi perang<br />
Tapi kekerasan hati dan pikiran<br />
***</p>
<p>Puisi Gola Gong di atas mengawali buku dengan ukuran besar dan hard cover serta berwarna, ini diterbitkan Penerbit Semesta, inprint Salamadani, Bandung (November 2008). Sangat cocok untuk para pasangan muda yang sedang membangun pondasi komunikasi dengan anak-anak masa depannya. Juga panduan bagi para orang tua yang memiliki anak cacat, bagimana caranya mempersiapkan si anak beradaptasi menghadapi hidup yang keras ibarat medan perang. Bagi kamu yang juga sedan berperang melawan rasa rendah diri, insya Allah, banyak pengalaman Gola Gong di buku ini, yang bisa kamu ambil manfaatnya. Bagi yang ingin mendapatkan tanda tangan asli Gola Gong, datang saja ke Indonesia Book Fair, Istora Senayan, di panggung utama, 13 November 2008, pukul 15.00 WIB!(*)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/11/buku-terbaru-gol-a-gong-aku-anak-matahari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RUMAH KITA DI BANTEN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/08/rumah-kita-di-banten-2/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/08/rumah-kita-di-banten-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 07:56:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>langlang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Bayi]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Hamil]]></category>
		<category><![CDATA[Ini Rumah Kita Sayang]]></category>
		<category><![CDATA[Morning Sickness]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=655</guid>
		<description><![CDATA[http://lydiarachman.multiply.com/reviews/item/2 Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? Aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintang-bintang dari atap rumah kita Aku akan ceritakan kelak pada anak-anak tentang matahari, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_613" class="wp-caption alignleft" style="width: 183px"><img class="size-medium wp-image-613" title="Rumah Kita com" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Rumah-Kita-com-173x300.jpg" alt="Rumah Idaman Keluarga" width="173" height="300" /><p class="wp-caption-text">Rumah Idaman Keluarga</p></div>
<p>http://lydiarachman.multiply.com/reviews/item/2</p>
<p>Aku taburkan rumput di halaman belakang<br />
di antara pohon lengkeng dan mangga<br />
sudah tumbuhkah bunganya?<br />
Aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak<br />
di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung<br />
karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh<br />
melihat angkasa dan bintang-bintang<br />
dari atap rumah kita</p>
<p>Aku akan ceritakan kelak<br />
pada anak-anak tentang matahari, bulan, laut,<br />
gunung, pelangi, sawah, bau embun, dan tanah.<br />
Aku ajari anak-anak mengerti hijau rumput<br />
Warna bunga dan suara.</p>
<p>***<span id="more-655"></span></p>
<p>Buku ini bercerita tentang Gola Gong &amp; Tyas Tatanka, mulai cerita sebelum menikah, “manisnya setelah pernikahan&#8221;, masa hamil &amp; ngidam dan cerita detik-detik menjalang melahirkan. Uniknya di buku ini dalam satu cerita yang sama ada dua sudut pandang yang berbeda, sudut pandang pria dan sudut pandang wanita. Cerita versi Gola Gong dan versi Tyas Tatanka.</p>
<p>Buku ini dibagi menjadi 4bab, Merenda Masa Depan, Jalan Setapak, Mata Air Kebahagiaan, dan Anugerah Terindah.</p>
<p>Bab “Merenda Masa Depan”; kita dihadapkan pada suasana hati sebelum menikah, idealisme seorang laki-laki, rasa hati menjelang pernikahan dan rasa ikhlas Tyas untuk berhenti bekerja.</p>
<p>&#8220;Padanyalah saya bersandar kemudian, menyerahkan kodrat saya sebagai istri. Memintanya untuk menjadi imam dan pengawas kadar iman saya. Bukankah kelak saat hari akhir tiba para suami akan ditanya perihal istrinya?&#8221; (page 40)</p>
<p>Bab “Jalan Setapak” menceritakan tentang mimpi dan obsesi pasangan ini untuk membuat Rumah Dunia, walaupun saat itu Gola Gong sempat opname, tapi mereka tetap bersemangat.</p>
<p>Bab “Mata Air Kebahagiaan” menceritakan tentang morning sickness, rasa sensitif khas ibu-ibu hamil, dan ngidam permen cak-cak, permen warna-warni yang bentuknya spt telur cicak.  Merasakan tendangan pertama sang bayi dan kesibukan mencari nama yang nyentrik. Nama “Dini Hari Menjelang” untuk anak perempuan dan “Fajar Senantiasa Bersinar” untuk anak laki-laki ini versinya Gola Gong. Sedangkan “Nabila Nurkhalishah” dan “Gabriel Firmansyah” ini pilihannya Tyas Tatanka.<br />
Bab “Anugerah Terindah” menceritakan proses persalinan dengan detail. Aaaah&#8230; beneran, bikin hati mengharu-biru, membayang proses kontraksi yang 2 hari.</p>
<p>Intinya buku ini menceritakan keinginan Gola Gong &amp; Tyas Tatanka untuk membangun &#8220;Rumah Kita-Rumah Dunia&#8221; tentang pola parenting dan kecintaannya terhadap Banten. (*)</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<p><!--Session data--></p>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/08/rumah-kita-di-banten-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>THE JOURNEY</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/06/the-journey/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/06/the-journey/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 19:57:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rumahdunia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[backpacer petualangan Asia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Daniel Mahendra Aku tahu, penyakitku ini adalah panen yang harus aku petik akibat masa mudaku yang teledor. Aku terlalu bersemangat hidup dan tidak memikirkan kondisi tubuhku. Aku terlalu memforsir tubuhku pada usia muda.(Gola Gong, The Journey, hlm 12) Ketika mendapat kabar akan terbit buku Gola Gong terbaru, The Journey, aku sudah memastikan bahwa aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_438" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-438" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Cover-Journey.jpg" alt="Perjalanan Gol A Gong" width="200" height="291" /><p class="wp-caption-text">Perjalanan Gol A Gong</p></div>
<p>Oleh Daniel Mahendra</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Aku tahu, penyakitku ini adalah panen yang harus aku petik akibat masa mudaku yang teledor. Aku terlalu bersemangat hidup dan tidak memikirkan kondisi tubuhku. Aku terlalu memforsir tubuhku pada usia muda.(Gola Gong, The Journey, hlm 12)</em></p>
<p>Ketika mendapat kabar akan terbit buku Gola Gong terbaru, <em>The Journey</em>, aku sudah memastikan bahwa aku mesti mendapatkan buku tersebut. Biasanya aku memang kerap “merampok” kalau kebetulan sedang berkunjung ke sebuah penerbit. Ada banyak buku baru yang siap “diculik” dalam sebuah perkunjungan ke berbagai penerbit. Tapi untuk <em>The Journey</em>, kalau tak beruntung, hehe, aku sudah meniatkan untuk membelinya (tetap dengan harga penerbit tentu saja, haha!).</p>
<p>Nah, begitu <em>The Journey</em> turun dari percetakan, aku sudah bersiap-siap memburunya. Siapa nyana, si direktur penerbitan buku <em>The Journey</em> malah datang ke kantor.</p>
<p>“Ini untukmu!” ujarnya sembari menyodorkan <em>The Journey</em>.</p>
<p>“Haih?!!”</p>
<p>Aku merasa <em>The Law of Attraction</em> betul-betul berjalan. Beberapa hari sebelumnya aku sudah memastikan bahwa aku mesti mempunyai (bukan lagi menginginkan) buku itu. Siapa yang mengira, buku itu malah dibawakan untukku sebagai hadiah dari penerbit yang menerbitkan. (makanya, jangan pernah takut untuk punya keinginan!)</p>
<p>Nah, ada apa dengan <em>The Journey</em>? Sebetulnya ini cerita lama. Aku pernah membaca berulang-ulang apa yang diceritakan dalam <em>The Journey</em> di buku <em>Perjalanan Asia</em>-nya Gola Gong. Hanya saja dalam <em>The Journey</em>, Gola Gong membawakannya lewat sudut pandang lain. Ada hal kekinian dalam cara bertutur <em>The Journey</em>.</p>
<p>Apa yang terawi dalam <em>The Journey</em> memang sudah Gola Gong curahkan lewat novel berseri <em>Balada Si Roy</em>. Baik melalui cerita berseri di Majalah Hai tahun 90an, maupun lewat buku terbitan Gramedia Pustaka Utama. Sementara <em>Perjalanan Asia</em> merupakan catatan jurnalistiknya yang diterbitkan Penerbit Puspa Swara saat ia melakukan <em>travelling</em> ke berbagai negara Asia.</p>
<p>Lalu kenapa dengan Gola Gong lewat <em>The Journey</em>? Aku memang mengoleksi semua buku karya Gola Gong. Sejak masih mengunyah bangku SMP hingga saat ini. Bagiku Gola Gong adalah guru dalam menulis, sekaligus guru dalam memandang kehidupan.</p>
<p>Masih kuingat betul saat masih lagi SMP, aku memang bisa ketawa cekikikan memba <em>Lupus</em>-nya Hilman Hariwijaya. Tetapi begitu <em>Balada Si Roy </em>muncul, aku terhenyak. Ceritanya sangat laki-laki sekali. Sementara caranya dalam menjalani hidup sungguh luar biasa.</p>
<p>Aku jadi doyan <em>travelling</em>, mendaki gunung, dan <em>camping.</em> Sesuatu yang telah kulakukan sejak SD. Tetapi <em>Balada Si Roy </em>mengajarkan lebih daripada itu. Tak aneh jika sejak SMA hingga kuliah, aku selalu mengenakan celana jean, sepatu gunung, kaus yang ditutupi kemeja flanel, dan kalung <em>dog tag</em>. Saat itu aku mempunyai puluhan kemeja flanel yang setiap hari kugonta-ganti corak dan warnanya. Aku memang tergila-gila pada <em>Si Roy</em> dan pada Gola Gong itu sendiri.</p>
<p>Lepas dari itu semua, pada Gola Gong-lah aku belajar menulis sejak SMP. Lambat laun aku menemukan corak serta gaya menulis yang kusukai. Jauh sebelum aku mengenal Pramoedaya Ananta Toer secara pribadi, Gola Gong adalah guru menulisku.</p>
<p>Gola Gong tidak hanya mengajarkan cara memandang kehidupan, tapi juga mengajarkan bagaimana hidup sebagai penulis. Maka, ada dua orang penulis di dunia ini yang sampai dengan hari ini aku masih tak habis pikir dengan cara keduanya berproses kreatif.</p>
<p>Pertama, Gola Gong yang berlangan satu, bisa begitu lincah menulis dan produktif. Sebelum Gola Gong menggunakan komputer, jelas ia menggunakan lima jari kanannya di tuts mesin ketik.</p>
<p>Dengan kondisi seperti itu, ia tetap produktif, liar, sementara cerita-ceritanya berduyun-duyun menyapa pembaca, dan tak kurang: memberi arti. Sudah sejak saat itu aku berpikir: penulis satu ini “gila”! Ia bisa membuat malu diriku yang dengan kondisi lengkap, tapi belum menelurkan apa-apa.</p>
<p>Kedua, Pramoedya Ananta Toer. Ketika Pram dibuang ke pedalaman Pulau Buru untuk kerja paksa sebagai tahanan politik, ia tetap bersikeras menulis. Tak ada komputer, tak ada perpustakaan, tak ada referensi, tapi ia tetap ngotot menulis dan menghasilkan karya-karya <em>masterpiece</em>-nya! Hingga saat ini karya-karyanya telah diterjamahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di dunia.</p>
<p>Jelas, kedua penulis itu mampu membuatku malu setengah mati. Mereka tidak memikirkan bagaimana kondisi mereka saat itu. Yang mereka pikirkan, bagaimana dengan kondisi seperti itu tetap bisa terus menulis dan berkarya. Bukankah itu dahsyat, Kawan!</p>
<p>Dengan Gola Gong sendiri aku pernah beberapa kali bertemu. Pertama tahun 93 kalau tak salah ingat. Saat itu ia datang ke kampusku. Mau mengeposkan surat. Begitu melihatnya, aku langsung memburunya dan berkenalan. Saat itu ia masih ngekos di daerah Cipaganti Bandung sebagai wartawan.</p>
<p>Tapi pertemuan paling berkesan tentu saja saat aku mengundang Mas Gong secara khusus untuk hadir di Toko Buku Malka dalam acara <em>Nostalgia Bersama Balada Si Roy</em> tahun 2005. Sejak itu aku akrab bermail dan SMS.</p>
<p>Saat aku membangun Rumah Malka, tak bisa tidak, yang aku bayangkan adalah sosok Mas Gong dan Mbak Tias, istrinya dengan Rumah Dunia-nya.</p>
<p>Sementara Pramoedya, aku sudah masuk ke ranah paling dalam di keluarganya. Berkunjung dan menginap di rumah Pram sudah seperti di rumah sendiri saja layaknya.</p>
<p>Meski secara editing <em>The Journey</em> tidak memuaskan aku, tapi aku senang bisa mendapatkan <em>The Journey</em>. Aku seperti menemukan kembali sis-sisi hidupku dalam memandang hidup.</p>
<p>Lewat <em>Balada Si Roy</em>, segi positif yang kudapat: aku tak takut menghadapi hidup. Perjuangan dan persoalan adalah mutlak dalam hidup. Karena itulah syarat untuk hidup di dunia: berani melewatinya.</p>
<p>Sementara segi negatifnya: aku jadi punya banyak pacar dan tak pernah jelas dalam berhubungan. Hahaha!! (<em>Sorry</em>, Mas Gong!).</p>
<p>Saat ini Mas Gong sedang berjuang melawat sakit. Terjadi pengapuran pada tulang punggungnya. Aku hanya bisa mendoakan kesembuhan padanya, serta ketabahan bagi Mbak Tias Tatanka dan keempat anaknya: Bella, Abi, Odi, dan Kaka.</p>
<p>Ada satu hal paragraf yang cukup membuatku terperanjat dalam <em>The Journey</em>. Pada halaman 19 dan diulangi lagi pada halaman 20 terdapat tiga kalimat yang tertulis:</p>
<p>Aku tahu, penyakitku ini adalah panen yang harus aku petik akibat masa mudaku yang teledor. Aku terlalu bersemangat hidup dan tidak memikirkan kondisi tubuhku. Aku terlalu memforsir tubuhku pada usia muda.</p>
<p>*) Bandung, 3 Mei 2008</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/06/the-journey/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

