MONYET AJA BISA CARI DUIT

SERANG – Saat saya pertama kali ditawari untuk membaca sebuah buku oleh GOl A Gong, saya langsung tertarik dan penasaran dengan buku tersebut. Kenapa? Dari judulnya saja;  ‘Monyet Aja Bisa Cari Dunit’— kita, khususnya bagi yang belum bekerja dan tidak mempunyai penghasilan tetap, sudah merasa dipermalukan dengan judul bukunya. Apalagi sampai membaca isinya.

Membaca judulnya saja, secara jujur, saya merasa tersinggung, dan setelah berpikir sejenak sambil  mengeja lagi judul buku bersampul kuning itu, ternyata ada benarnya juga. “Monyet aja bisa cari duit, masa saya yang manusia, yang punya pikiran, dan kemampuan bekerja, kalah dengan monyet?”  begitulah kiranya yang ada dalam pikiran saya. Anehnya, saya langsung termotivasi dan berpikir dalam lagi. Buku bersampul kuning itu ternyata karya Zainal ‘Teroris” Abidin, atau akrab dipanggil Jay.

Itu awal saya mulai tertarik dengan buku dengan tebal 145 halaman. Gol A Gong tidak hanya sekedar menyuruh saya untuk membaca buku itu, melainkan harus meresensinya—setelah saya tamat membacannya. Saya yang memang tercatat sebagai lulusan SMK 2007 dan pernah menjadi penjual Roti (dari SMP sampai lulus SMK), merasa ‘malu’ dengan monyet. Terlebih saat Kamis lalu, tiga orang lelaki terlihat membawa peralatan topeng monyet lengkap dengan alat musiknya.

Ucil itulah nama grup topeng monyet yang juga diambil dari nama si monyet yang baru berumur sekitar 2 tahunnan. Dengan tarif  Rp. 20.000, grup ucil bersedia menghibur anak-anak sekitar Kampung Ciloang, di Rumah Dunia. Terlebih saat saya mewawancarai Kasta, ketua grup Ucil. Kadang dalam sehari, kata Kasta, Ucil bisa mengantongi uang/untung dari penyawer antara 150 ribu sampai 200 ribu. “Jika ada milik sampe dapet 300 ribuan,” tutur Kasta, yang sudah 2 tahun berpropesi sebagai topeng monyet.

Setelah saya hatam membaca buku itu, isinya sangat bermanfaat sekali bagi kita yang ingin belajar wirausaha kecil-kecilan. Jay benar-benar dengan lugas dan komunikatif mengemas buku terbitan “de britz” (2008) dengan cara ceplas-ceplos dan terasa tidak menggurui. Saya masih ingat kata-kata yang ditulis Jay dalam buku dengan tebal 145 halaman, yang selain bisa bikin pembaca tersenyum dan tertawa sendiri, juga penuh dengan motivasi dan langkah-langkah yang kongkrit untuk menjadi pengusahaa yang sukses.

Jay menulis, “Jika Anda ingin sukses, mulailah berfikir sesuatu yang tidak mungkin di kepala orang lain. Biarkan orang lain menganggap tidak mungkin atas ide Anda. Sampai kemudian Anda mewujudkannya”. Dan masih banyak lagi motivasi-moivasi yang lain ditulis Jay.

Banyak langkah-langkah yang dikupas secara detai oleh Jay, mulai dari mengenai cara berbisnis kecil (menjual minuman mineral) hingga pengembangannya, sampai kemudian bertahap menuju usaha yang sukses. Jika anda ingin belajar tentang cara berbisnis yang baik dan cara mengmbangkan modal kecil menjadi besar, sepertinya buku “Monyet Aja Bisa Cari Duit’ bisa jadi referensi untuk anda yang baru memulai usaha atau belajar dari apa yang ditulis Jay, seorang Mental Suregon Specislis adalm bukunya.  Selamat membaca! (Ahmad Wayang)

*) Disampaikan dalam bedah buku “Monyet Aja Bisa Cari Duit” di Rumah Dunia, Sabtu, 20 Februari 2010. Pukul 08.00 WIB.

MENGUPAS SEJARAH DENGAN BAHASA YANG RENYAH

Kristen bukuJudul Buku     : Misionarisme di Banten

Penulis            : Mufti Ali Ph.D

Tebal Buku     : 183

Penerbit          : Bantenology

Membaca buku sejarah, apalagi dengan tebal menyamai bantal, tak pelak membuat pembaca jenuh. Namun tak ada salahnya menyimak buku karya Mufti Ali, yang mengupas tentang Misionarisme di Banten.

Buku setebal 183 halaman terbitan Bantenology ini mengupas tuntas proses awal mula Kristenisasi yang lebih lanjut dalam buku ini disebut dengan penginjilan atau misionaris. Tahun penginjilan yang dipaparkan dalam buku ini hanya dalam rentang 1854 sampai 1945. dijelaskan penulis, dimulai pada 1854 karena merupakan point if departure dari misionarisme institusional Belanda, karena untuk pertama kalinya ‘sekolah agama Kristen’ dibangun di Jengkol, Cikuya (Tigaraksa, Tangeranf) oleh dua orang Belanda. Kedua orang itu dijelaskan lebih lanjut bernama Reesink, seorang landlord (tuan tanah) di Cikuya dan Adolf Muhlnikel, seorang mandor yang beberapa tahun kemudian berhasil mengkristenkan beberapa penduduk di Jengkol.

Dijelaskan juga, Kristenisasi pun dilakukan kepada pribumi oleh pribumi, yang dianggap cara paling tepat. Anggapan bahwa orang Timur, agama, hubungan hidup masyarakat, kebangsaan, adapt, norma merupakan suatu kesatuan yang utuh dan kokoh. Berbekal anggapan inilah, penginjilan dilakukan oleh penduduk pribumi dan disampaikan dengan bentuk dan metode secara pribumi pula.

Tidak seperti buku sejarah lain, apalagi buku mata pelajaran sejarah yang dipelajari sekolah, buku terbitan tahun 2009 ini dikemas dengan bahasa yang komunikatif dan renyah. Sehingga mudah dicerna. Pembaca diajak berpetualang dengan alur dan kronologis yang sistematis. Tapi tidak menybebakan efek samping menguap lalu mengantuk.

Kata misionaris yang dipakai pada judul buku, mencoba menggambarkan penyebaran agama Kristen di bumi Banten, yang waktu itu masih menyatu dengan Jawa Barat. Banten yang dikenal sebagai bumi para wali, rupanya tak pelak menjadi incaran Kristenisasi. Terlebih lagi didukung proses kolonialisasi Belanda yang bercokol cukup lama. Kebijakan Belanda dalam memerintah Banten pun berpengaruh besar terhadap kristenisasi, karena kerap menomorduakan Islam sebagai agama yang mayoritas.

Kristenisasi pun dalam buku ini dijelaskan, dengan istilah ‘upaya’ karena proyek kristenisasi ini dianggap lebih banyak menemui kegagalan daripada berhasil karena resistensi dan penolakan dari warga Banten muslim. Sepanjang sejarah Banten, penolakan dilakukan beragam seperti penjatuhan hukuman mati oleh Sultan Banten terhadap salah seorang kerabatnya yang masuk Kristen pada 1704, pengisolasian suatu komunitas Kristen, peracunan misionaris Belanda, dan vandalisme terhadap kuburan dan makam misionaris.

Meskipun memaparkan tentang misionarisme yang selama ini berkonotasi negatif, yang secara lugas bermakna penyebaran agama Kristenisasi dengan beragam cara, namun penulis terlihat netral dalam memaparkan Kristenisasi. Penulis lebih menitikberatkan pada fakta dan realita, bertujuan membuka mata pembaca mengenali dan memahami awal mula pengembangangn Kristen di Banten.

Pembaca dilibatkan dalam memverifikasi (kebenaran) narasi sejarah dengan melihat catatan kaki yang berisi sumber bacaan dan informasi referensial argument yang didiskusikan. Pernyataan-pernyataan yang dianggap sangat penting dan ‘sensitif’ diungkap secar verbatim atau kata demi kata.

Secara garis besar, buku yang membagi titik permasalahan dalam 6 bagian ini, memfokuskan pada 5 permasalahan pokok yang dikupas. Seperti mengetahui siapa saja tokoh misionarisme di Banten, seberapa banyak masyarakat asli Banten yang memilih menjadi Kristen, lembaga misionaris apa saja yang beroperasi di Banten, apakah Alkitab diterjemahkan ke dalama bahasa setempat yakni Jawa atau Sunda (Banten), dan sejak kapan gereja didirikan di Banten.

Bagi pembaca sejarah pemula, buku ini tidak terlalu berat untuk diikuti. Begitupun bagi yang penasaran mengenai tata letak Kota Serang pada jaman penjajahan Belanda, seperti keberadaan gereja yang berada di lokasi pusat Kota Serang, kawasan Alun-alun dan Kegubernuran. Diceritakan, pada 1846, didirikanlah ‘gereja negara’ di dekat Alun-alun Kota Serang. Pembangunan gereja ini bukan tanpa alasan, sebab lebih dari 200 penduduk Eropa terutama Belanda, saat itu tinggal di ibukota. Sebagian besar penganut Protestan, yang memiliki hak mendapatkan pelayanan rohaniah dari pemerintah colonial. Operasional ‘gereja negara’ tersebut, dipaparkan dikelola langsung pemerintah dengan menggaji dan mendatangkan pastur dari negara Eropa.

Di luar itu, buku sayang untuk dilewatkan ini, masih kurang greget dalam tampilan sampul muka dan bentuk dan lebar buku. Sehingga terkesan angker, layaknya buku srius yang hanya cocok dikonsumsi kalangan tertentu. Tapi buku ini bukan diktat perkuliahan. Kalaupun dikelompokkan sebagai diktat dan menjadi referensi wajib buku perkuliahan, setidaknya akan menjadi diktat yang renyah dan tetap asyik untuk dibaca.

Namun demikian, buku ini belum tersebar luas. Hanya di toko buku tertentu dan di markas Bantenology yang berada di gedung rektorat lantai 3 IAIN SMH Banten.(*)

*) Penulis adalah Reporter Radar Banten, alumni Kelas Menulis Rumah Dunia, yang saat ini menjabat sebagai Ketua FLP Serang.

DONGENG KANAK-KANAK DAN KEKUATAN CINTA

perahu kertass comJudul Buku : Perahu Kertas

Penulis : Dewi “Dee” Lestari

Penerbit : Bentang Pustaka, 2009

Tebal : 444 halaman

Tidak ada yang lebih dahsyat dibanding memori masa kecil dan kekuatan sebuah cinta. lanjutkan membaca »

BERKACA PADA SEJARAH LEBAK UNTUK MEMBANGUN DAERAH

cover lebakJudul Buku: Lebak 181 Tahun Bara Menjadi Daya

Editor: Firman Venayaksa dan Fitron Nur Ikhsan

Penerbit: Humas dan Komunikasi Kabupaten Lebak

Tebal Buku: 230 halaman

Tahun Terbit: Desember 2009

ISBN: 978-979-15451-4-3 lanjutkan membaca »

KIAMAT ALA HOLLYWOOD

kiamat 2012Oleh: Rama Rachmat

Film 2012 yang menceritakan tentang hari kiamat menyedot perhatian masyarakat dunia. Film 2012 yang diangkat dari ramalan suku Maya dengan segala efek khususnya sukses menghadirkan kengerian kala bumi hancur pada tanggal 21 Desember 1012. lanjutkan membaca »

advert

Tags Kata

Gonjlengan

BE A WRITER: DARI YANG REGULER HINGGA EXCLUSIVE”

Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat.

Full Story | May 20th, 2010

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa*
Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong
MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak mengganggu [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK
I.
“ora et labora”
di pertigaan jalan menuju rumah
beberapa tukang becak menyemadikan nasib
: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha
- memejam di tempat duduk
masingmasing-
II.
“nrimo ing pandum”
kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan
begitu saja kepada puingan matahari dan purnama
mereka mengabadikannya sebagai penanda becak
yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa
lapar dan haus adalah
foto-doa
III.
“kerja adalah ibadah”
di sisi adzan,
kretek [...]

Full Story | July 18th, 2010