Kabut Rinai Singgalang: MENDEKATKAN SASTRA LEWAT TELEVISI

Kabut Rinai Singgalang:

MENDEKATKAN SASTRA LEWAT TELEVISI

Oleh Gol A Gong*

Ketika saya membaca “Rinai Kabut Singgalang” (Rahima Intermedia, Januari 2011) karya Muhammad Subhan, langsung teringat sinetron. Ini bahan baku yang bagus untuk membuat sinetron, karena sangat cocok dengan selera pemirsa TV di negeri ini, yang senang dengan kisah mengharu biru. Di dalam dunia sinetron, ada  istilah “soap opera convention”, yaitu tema popular seperti Cinderella syndrome, cinta terlarang, odyphus complex, petualangan, konflik dua keluarga, persahabatan, dan perselingkuhan. Tema-tema keseharian ini sangat digemari pemirsa sinetron di tanah air, karena merasa sangat dekat dengan kehidupan mereka. lanjutkan membaca »

CURHAT KUNANG-KUNANG BETINA

Judul Buku     : Kunang-Kunang dalam Pelukan
Penulis           : Alina E.Rossel dkk
Penerbit         : Gong Publishing

Cetakan         : Pertama, Oktober 2010
Tebal              : 154 Halaman

Ukuran            : 13×20 cm

Siapa tidak mengenal kunang-kunang? Makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini memang sangat inspiratif. Kunang-kunang memiliki stereotif angker karena dimitoskan sebagai jelmaan dari kuku orang mati. Padahal sebenarnya kunang-kunang adalah serangga eksotis kelompok kumbang (Coleoptera-Lampyridae). Kunang-kunang dapat bersinar di malam hari. Bukan sembarang sinar, sebab ini adalah sinyal untuk menarik perhatian lawan jenisnya.

Seperti pada beberapa hewan lain, kunang-kunang juga kerap memiliki arti penting dalam beberapa legenda dan kebudayaan. Dalam mitologi bangsa Maya misalnya, kunang-kunang sering dikait-kaitkan dengan bintang, seuatu yang bersinar. Kunang-kunang juga dianggap mewakili utusan dalam kuil-kuil Dewa Maya.

Orang-orang Cina kuno sering memasukkan kunang-kunang dalam sebuah kotak transparan untuk kemudian digunakan sebagai lentera (penerang). Sementara dalam kebudayaan dan cerita rakyat Jepang, kunang-kunang memiliki arti yang sama besarnya dengan bunga Sakura yang sangat terkenal itu.

Intinya, kunang-kunang begitu eksotis dan menjadi sumber inspirasi bagi siapa saja yang memandangnya. Sebagaimana kunang-kunang, perempuan juga makhluk Tuhan yang sangat inspiratif. Perempuan memiliki stereotif lemah. Padahal sebenarnya perempuan dengan segala beban yang ditanggungnya adalah sosok yang sangat tangguh. Perempuan dapat memancarkan sinar yang dapat menginspirasi dan memberi energi kepada orang-orang yang dicintainya.

Sama halnya ketika membaca Sekumpulan Cerpen Inspiratif 18 Perempuan Banten `Kunang-Kunang dalam Pelukan` atau disingkat KKdP, kita seakan mendapatkan pendar-pendar cahaya bintang yang mengirimkan sinyal-sinyal inspiratif atas keberadaan perempuan Banten lewat cerita yang dilahirkannya.

Mereka (18 perempuan Banten) cukup tahu bagaimana memancarkan cahaya cerita yang memukau pembacanya, sehingga curahan hati kedelapan belas perempuan Banten ini mampu menarik perhatian orang banyak.

Cerpen unik `Kunang-Kunang dalam Pelukan` milik Fitri Suciwati Zein ini misalnya cukup menggambarkan perempuan yang mendamba balasan sinyal dari lawan jenisnya persis laiknya kunang-kunang betina. Selain kisah perjuangan karir seorang perempuan yang digambarkan penulisnya, wawasan mengenai kunang-kunang cukup menarik untuk disimak, sebab Fitri mengungkapkannya dalam bahasa yang ringan dan mengandung humor sense melalui tebak-tebakan sunda yang dibuatnya.

Cerpen berjudul `Hunaina: kematian Tiga Generasi` milik Anna Faiza juga memberikan gambaran kebersyukuran wanita yang jelas-jelas menginspirasi kaumnya untuk lebih banyak berbuat dan bersyukur atas kemampuan melahirkan seorang anak. Kita diajak pandai tersenyum dan mensyukuri kehidupan.

Begitupun cerpen pembuka `Sebatas Cakrawala` milik Alina E. Rossel. Dengan tampilan layaknya catatan buku harian, kita diajak membaca perjalanan wanita menemukan cita dan cintanya. Tampilan serupa juga dapat ditemukan pada cerpen `Terlahir Menjadi Pejuang` (Erna Yuliawati) yang mengantarkan kita (pembaca) pada pengembaraan wanita sampai ke negeri sebrang, Riyadh. Begitu pun `Buku Harian Ibu : Kembang Cinta` Karya Ratu Nizma Salma. Kita diajak bernapak tilas ke jaman Agresi Militer Belanda II. Penuh perjuangan dan kental drama cinta.

Berbeda dengan cerpen `Jenny Masuk Koran`, pengarangnya Jenny Ervina dianggap berhasil menonjolkan tokoh utama (dirinya) sehingga menjadikannya terpusat, besar dan berani. Kita menyaksikan semangat warga berbondong-bondong ingin mendengar kabar langsung dari tokoh masyarakat (guru) mengenai warganya yang masuk koran, Jenny seorang gadis kampung yang sukses mencapai cita-cita dan menginspirasi warga lainnya agar lebih maju dan menjadi jenny-jenny berikutnya.

Ada juga `Sepenggal Asa Wati` cerpen milik Ayu Pangestu ini berisi kenyataan hidup tentang dunia pendidikan kita yang carut marut lengkap dengan realita dunia kehidupan pembantu. Membaca cerpen Ayu membangkitkan harapan (asa) kita, meski jauh panggang dari api. Setidaknya kita tersentuh dengan perjalanan kisah gadis lugu bernama Wati yang berhasil mengaduk emosi.

Cerpen lainnya yang juga berpendar cahaya inspiratif dan membawa suatu perubahan dapat kita telisik pada Mimpi di Ujung Kota (Grandis Silvania), Rindu Nyanyian Hujan (Hanun Anindya), Mentari Redup di Sawarna (Ina Inong), dan cerpen-cerpen lainnya. Secara keseluruhan 18 cerpen inspiratif ini telah menunjukan aksi kebangkitan kaum perempuan, dan pastinya curahan hati mereka adalah sinyal ketangguhan kaumnya yang dipendarkan dari sudut pandang perempuan Banten.[Alika Jolie; Penyiar yang hobi membaca berbagai jenis buku.]

MONYET AJA BISA CARI DUIT

SERANG – Saat saya pertama kali ditawari untuk membaca sebuah buku oleh GOl A Gong, saya langsung tertarik dan penasaran dengan buku tersebut. Kenapa? Dari judulnya saja;  ‘Monyet Aja Bisa Cari Dunit’— kita, khususnya bagi yang belum bekerja dan tidak mempunyai penghasilan tetap, sudah merasa dipermalukan dengan judul bukunya. Apalagi sampai membaca isinya.

Membaca judulnya saja, secara jujur, saya merasa tersinggung, dan setelah berpikir sejenak sambil  mengeja lagi judul buku bersampul kuning itu, ternyata ada benarnya juga. “Monyet aja bisa cari duit, masa saya yang manusia, yang punya pikiran, dan kemampuan bekerja, kalah dengan monyet?”  begitulah kiranya yang ada dalam pikiran saya. Anehnya, saya langsung termotivasi dan berpikir dalam lagi. Buku bersampul kuning itu ternyata karya Zainal ‘Teroris” Abidin, atau akrab dipanggil Jay.

Itu awal saya mulai tertarik dengan buku dengan tebal 145 halaman. Gol A Gong tidak hanya sekedar menyuruh saya untuk membaca buku itu, melainkan harus meresensinya—setelah saya tamat membacannya. Saya yang memang tercatat sebagai lulusan SMK 2007 dan pernah menjadi penjual Roti (dari SMP sampai lulus SMK), merasa ‘malu’ dengan monyet. Terlebih saat Kamis lalu, tiga orang lelaki terlihat membawa peralatan topeng monyet lengkap dengan alat musiknya.

Ucil itulah nama grup topeng monyet yang juga diambil dari nama si monyet yang baru berumur sekitar 2 tahunnan. Dengan tarif  Rp. 20.000, grup ucil bersedia menghibur anak-anak sekitar Kampung Ciloang, di Rumah Dunia. Terlebih saat saya mewawancarai Kasta, ketua grup Ucil. Kadang dalam sehari, kata Kasta, Ucil bisa mengantongi uang/untung dari penyawer antara 150 ribu sampai 200 ribu. “Jika ada milik sampe dapet 300 ribuan,” tutur Kasta, yang sudah 2 tahun berpropesi sebagai topeng monyet.

Setelah saya hatam membaca buku itu, isinya sangat bermanfaat sekali bagi kita yang ingin belajar wirausaha kecil-kecilan. Jay benar-benar dengan lugas dan komunikatif mengemas buku terbitan “de britz” (2008) dengan cara ceplas-ceplos dan terasa tidak menggurui. Saya masih ingat kata-kata yang ditulis Jay dalam buku dengan tebal 145 halaman, yang selain bisa bikin pembaca tersenyum dan tertawa sendiri, juga penuh dengan motivasi dan langkah-langkah yang kongkrit untuk menjadi pengusahaa yang sukses.

Jay menulis, “Jika Anda ingin sukses, mulailah berfikir sesuatu yang tidak mungkin di kepala orang lain. Biarkan orang lain menganggap tidak mungkin atas ide Anda. Sampai kemudian Anda mewujudkannya”. Dan masih banyak lagi motivasi-moivasi yang lain ditulis Jay.

Banyak langkah-langkah yang dikupas secara detai oleh Jay, mulai dari mengenai cara berbisnis kecil (menjual minuman mineral) hingga pengembangannya, sampai kemudian bertahap menuju usaha yang sukses. Jika anda ingin belajar tentang cara berbisnis yang baik dan cara mengmbangkan modal kecil menjadi besar, sepertinya buku “Monyet Aja Bisa Cari Duit’ bisa jadi referensi untuk anda yang baru memulai usaha atau belajar dari apa yang ditulis Jay, seorang Mental Suregon Specislis adalm bukunya.  Selamat membaca! (Ahmad Wayang)

*) Disampaikan dalam bedah buku “Monyet Aja Bisa Cari Duit” di Rumah Dunia, Sabtu, 20 Februari 2010. Pukul 08.00 WIB.

MENGUPAS SEJARAH DENGAN BAHASA YANG RENYAH

Kristen bukuJudul Buku     : Misionarisme di Banten

Penulis            : Mufti Ali Ph.D

Tebal Buku     : 183

Penerbit          : Bantenology

Membaca buku sejarah, apalagi dengan tebal menyamai bantal, tak pelak membuat pembaca jenuh. Namun tak ada salahnya menyimak buku karya Mufti Ali, yang mengupas tentang Misionarisme di Banten.

Buku setebal 183 halaman terbitan Bantenology ini mengupas tuntas proses awal mula Kristenisasi yang lebih lanjut dalam buku ini disebut dengan penginjilan atau misionaris. Tahun penginjilan yang dipaparkan dalam buku ini hanya dalam rentang 1854 sampai 1945. dijelaskan penulis, dimulai pada 1854 karena merupakan point if departure dari misionarisme institusional Belanda, karena untuk pertama kalinya ‘sekolah agama Kristen’ dibangun di Jengkol, Cikuya (Tigaraksa, Tangeranf) oleh dua orang Belanda. Kedua orang itu dijelaskan lebih lanjut bernama Reesink, seorang landlord (tuan tanah) di Cikuya dan Adolf Muhlnikel, seorang mandor yang beberapa tahun kemudian berhasil mengkristenkan beberapa penduduk di Jengkol.

Dijelaskan juga, Kristenisasi pun dilakukan kepada pribumi oleh pribumi, yang dianggap cara paling tepat. Anggapan bahwa orang Timur, agama, hubungan hidup masyarakat, kebangsaan, adapt, norma merupakan suatu kesatuan yang utuh dan kokoh. Berbekal anggapan inilah, penginjilan dilakukan oleh penduduk pribumi dan disampaikan dengan bentuk dan metode secara pribumi pula.

Tidak seperti buku sejarah lain, apalagi buku mata pelajaran sejarah yang dipelajari sekolah, buku terbitan tahun 2009 ini dikemas dengan bahasa yang komunikatif dan renyah. Sehingga mudah dicerna. Pembaca diajak berpetualang dengan alur dan kronologis yang sistematis. Tapi tidak menybebakan efek samping menguap lalu mengantuk.

Kata misionaris yang dipakai pada judul buku, mencoba menggambarkan penyebaran agama Kristen di bumi Banten, yang waktu itu masih menyatu dengan Jawa Barat. Banten yang dikenal sebagai bumi para wali, rupanya tak pelak menjadi incaran Kristenisasi. Terlebih lagi didukung proses kolonialisasi Belanda yang bercokol cukup lama. Kebijakan Belanda dalam memerintah Banten pun berpengaruh besar terhadap kristenisasi, karena kerap menomorduakan Islam sebagai agama yang mayoritas.

Kristenisasi pun dalam buku ini dijelaskan, dengan istilah ‘upaya’ karena proyek kristenisasi ini dianggap lebih banyak menemui kegagalan daripada berhasil karena resistensi dan penolakan dari warga Banten muslim. Sepanjang sejarah Banten, penolakan dilakukan beragam seperti penjatuhan hukuman mati oleh Sultan Banten terhadap salah seorang kerabatnya yang masuk Kristen pada 1704, pengisolasian suatu komunitas Kristen, peracunan misionaris Belanda, dan vandalisme terhadap kuburan dan makam misionaris.

Meskipun memaparkan tentang misionarisme yang selama ini berkonotasi negatif, yang secara lugas bermakna penyebaran agama Kristenisasi dengan beragam cara, namun penulis terlihat netral dalam memaparkan Kristenisasi. Penulis lebih menitikberatkan pada fakta dan realita, bertujuan membuka mata pembaca mengenali dan memahami awal mula pengembangangn Kristen di Banten.

Pembaca dilibatkan dalam memverifikasi (kebenaran) narasi sejarah dengan melihat catatan kaki yang berisi sumber bacaan dan informasi referensial argument yang didiskusikan. Pernyataan-pernyataan yang dianggap sangat penting dan ‘sensitif’ diungkap secar verbatim atau kata demi kata.

Secara garis besar, buku yang membagi titik permasalahan dalam 6 bagian ini, memfokuskan pada 5 permasalahan pokok yang dikupas. Seperti mengetahui siapa saja tokoh misionarisme di Banten, seberapa banyak masyarakat asli Banten yang memilih menjadi Kristen, lembaga misionaris apa saja yang beroperasi di Banten, apakah Alkitab diterjemahkan ke dalama bahasa setempat yakni Jawa atau Sunda (Banten), dan sejak kapan gereja didirikan di Banten.

Bagi pembaca sejarah pemula, buku ini tidak terlalu berat untuk diikuti. Begitupun bagi yang penasaran mengenai tata letak Kota Serang pada jaman penjajahan Belanda, seperti keberadaan gereja yang berada di lokasi pusat Kota Serang, kawasan Alun-alun dan Kegubernuran. Diceritakan, pada 1846, didirikanlah ‘gereja negara’ di dekat Alun-alun Kota Serang. Pembangunan gereja ini bukan tanpa alasan, sebab lebih dari 200 penduduk Eropa terutama Belanda, saat itu tinggal di ibukota. Sebagian besar penganut Protestan, yang memiliki hak mendapatkan pelayanan rohaniah dari pemerintah colonial. Operasional ‘gereja negara’ tersebut, dipaparkan dikelola langsung pemerintah dengan menggaji dan mendatangkan pastur dari negara Eropa.

Di luar itu, buku sayang untuk dilewatkan ini, masih kurang greget dalam tampilan sampul muka dan bentuk dan lebar buku. Sehingga terkesan angker, layaknya buku srius yang hanya cocok dikonsumsi kalangan tertentu. Tapi buku ini bukan diktat perkuliahan. Kalaupun dikelompokkan sebagai diktat dan menjadi referensi wajib buku perkuliahan, setidaknya akan menjadi diktat yang renyah dan tetap asyik untuk dibaca.

Namun demikian, buku ini belum tersebar luas. Hanya di toko buku tertentu dan di markas Bantenology yang berada di gedung rektorat lantai 3 IAIN SMH Banten.(*)

*) Penulis adalah Reporter Radar Banten, alumni Kelas Menulis Rumah Dunia, yang saat ini menjabat sebagai Ketua FLP Serang.

DONGENG KANAK-KANAK DAN KEKUATAN CINTA

perahu kertass comJudul Buku : Perahu Kertas

Penulis : Dewi “Dee” Lestari

Penerbit : Bentang Pustaka, 2009

Tebal : 444 halaman

Tidak ada yang lebih dahsyat dibanding memori masa kecil dan kekuatan sebuah cinta. lanjutkan membaca »

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010