AL ISLAM SUKSES SETELAH NYARIS TUTUP

SERANG – Ada paribahasa yang mengatakan, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Segala prilaku, sifat, dan karakter seseorang tak berbeda jauh dari orangtuanya. Memang betul fenomena itu kerap terjadi antara orangtua dan anaknya. Jika orangtuanya ulama, anaknya pun tak jarang jadi ulama.  Hal inilah yang dicita-citakan mantan jawara besar almarhum H. TB. Asmani Nidin.

Dengan dibantu dua rekannya yang juga sudah almarhum, yaitu H. Ahmad, Saudagar Pasar Rau Serang, dan Kiyai H. Yasin, Asmani bertaubat pada tahun 1970. Sifat relijiusnya ditampakkan dengan memberangkatkan putra-putrinya ke pesantren-pesantren yang tersebar di Banten, di antaranya Pondok Pesantren Nurul Huda Baros, Daar El Qolam Gintung Balaraja dan lainnya. Untuk memuluskan impian itu mendiang Asmani menikahkan putrinya, Yani Murlayani, yang merupakan angkatan 1992 dari Pondok Pesantren Daar El Qolam Gintung Balaraja dengan Ustadz Enting Ali Abdul Karim alumni Pondok Pesantren Gontor, Surabaya, Jawa Timur, pada tahun 1993. Ia berharap dari anak dan menantunya akan menjadi pasangan yang klop dalam menebarkan dakwah Islam.

Al Islam terus berkembang

NYARIS PUNAH

Sepasang suami-istri inilah yang mengawali berdirnya lembaga pendidikan non formal Tarbiyatun Nasyiin tahun 1993. Di awal berdirinya, Tarbiyatun Nasyiin masih sebatas mengajarkan Al Quran dengan metode Iqro dan dasar-dasar ilmu agama Islam. Keterbatasan Tarbiyatin Nasyiin bukan hanya dalam metode pembelajaran saja, tapi minimnya sarana dan fasilitas juga sangat mempengaruhi. “Waktu itu tempat belajarnya masih di rumah mertua saya,” kata Enting. Kendati begitu mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Itu terbukti dengan jumlah santrinya yang tercatat 160 orang dalam setahun. Namun sayang di lembaga pendidikan Tarbiyatun Nasyi’in mengalami masa suram sejak ditinggalkan pendirinya  pada tahun 1995, untuk tugas mengajar di Pondok Pesantren Daar El-Ilmi Cikulur Serang Banten. Meski sempat mengalami masa kelam, tak membuat semangat Ustadz Enting menyerah. Sepulang dari tugas mengajar, dia menyusun strategi kembali untuk membangun Pondok Pesantren yang hampir sirna ini. Ustadz Enting dibantu dua rekannya Ustadz Ulin Nuha, salah teman dari Demak, Ustadz H. Agus Karnadi dari Pontang Tirtayasa, Serang, Banten, dan dua tokoh masyarakat Tegal Duren, TB. H. Mahdi Khutbi dan Ibnu Nurmadaniyah. “Pada 29 Juni 1999 resmi dibuka kembali program pendidikan dan pengajaran Pesantren yang diberinama Pesantren Modern Al Islam,” tutur ayah Riska Auliani Rohana ini.

Pesantren yang jaraknya ke kota Serang hanya 7 Km ini, pun terdapat Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Pada tahun  angkatan pertama Madrasah Tsanawiyah memiliki 8 santri dan tahun kedua sebanyak 16 santri. Alhasil, kondisi ini berdampak pada keuangan Pesantren yang saat itu sedang menambah bangunan. Tak pelak  pembangunan fisik yang sedang berjalan pun terhambat. Namun berkat dukungan serta loyalitas dari pengurus dan dewan guru serta wali santri, Pesantren Modern Al Islam berangsur-angsur semakin berkembang. “Pernah dapat bantuan dari swadaya masyarakat Tegal Duren berupa tiga rumah yang kini dijadikan kantor, ruang kelas, mes santri dan bantuan dari Kabupaten Serang,” ujar lelaki berusia empat puluh tahun ini.

Aktivitas belajar di Al Islam

FASILITAS

Kini pondok Pesantren yang beralamat di jalan Bhayangkara II no. 04 Kampung Tegal Duren, Cipocok Jaya, Serang, Banten ini, memiliki 9 ruang kelas, 5 kelas Tsanawiyah, 4 kelas Aliyah, dan 5 fasilitas komputer yang sudah dilengkapi hotspot. Alhasil, kini sebanyak 368 santrinya bisa mengakses internet. Selain itu komunikasi dalam bahasa asing merupakan pengetahuan luas dan bagian dari materi pembelajaran kepada para santrinya seperti Bahasa Arab, Inggris, dan Jepang. Namun sayang, jarak Pondok Pesantren ke kantor Kecamatan dan Kelurahan Cipocok Jaya yang terbilang dekat hanya sekitar 1 kilometer, masih terbilang minim sarana atau fasilistas lainnya.

Menyikapi bantuan dari Pemerintah setempat, menurut Tb. H. Hariri. D, Lurah Cipocok Jaya, Pondok Pesantren Al Islam merupakan bagian dari tanggung jawabnya. “Sudah suatu kewajiban bagi saya untuk mendukung dan membantu pengembangan Pondok Pesantren Al Islam, karena ini bagian dari potensi wilayah di Cipocok Jaya, paling tidak perhatiannya,” tegas Hariri ketika bertamu ke Ponpes Al Islam, Selasa (2/1/10). Masih dikatakannya, Kelurahan Cipocok Jaya siap mendorong dan memfasilitasi dengan mengikutsertakan santriwan-santriwati Al Islam keberbagai ajang kegiatan pelajar baik itu tingkat Kabupaten, Kota, Provinsi, dan Nasional. “Keberadaan Ponpes Al Islam sudah jadi satu mitra. Saya menghargai komitmen Ustadz Enting meskipun bukan putra asli Tegal Duren,” tutupnya

Dari jumlah 386 santri itu Ponpes Al Islam menyediakan 32 tenaga pendidik untuk berbagai mata pelajaran dan tingkatan. Santriwan-santriwati yang asli dari Tegal Duren sendiri hanya sebanyak 16 santri. Sedangkan selebihnya dari Serang, Pandeglang, Tangerang, Bandung, Tasikmalaya, Garut, Bandar Lampung, dan Padang. Namun, pertambahan santri ini terbentur oleh minimnya sarana dan fasilitas yang ada di Pesantren Al Islam yang lama kelamaan tidak bisa menampung santri. “Pengembangan ke depan pasti ada. Bahkan kami merencanakan pembangunan Laboratorium Bahasa, IPA, Pertanian, penambahan ruang Asrama, Aula, dan Jalur Hijau,” ujar Enting yang bernama lengkap Enting Ali Abdul Karim Lc.

Sebagai Lembaga Pendidikan Pesantren yang mencetak generasi-generasi pemimpin umat, Ponpes Al Islam menjaga betul arti pada kedisiplinan. Salah satu kedisiplinan itu tercermin pada peraturan yang melarang santriwan-santriwatinya keluar dari lingkungan Pesantren. “Santri dilarang keluar terkecuali keperiluan penting seperti orangtua sakit, meninggal atau keperluan penting lainnya. Disamping itu, busana santriwan-santriwati mesti menutup aurat dan mesti ditemani baik itu dari pihak Pesantren atau wali santri,” pungkas Enting. Masih dikatakannya, untuk memberi sedikit kelulasaan, Ponpes Al Islam memberikan jatah libur bergilir setiap 2 bulan sekali selain hari Jum’at. “Soalnya hari jum’at adalah hari libur biasa di pesantren,” imbuhnya.

Santri wajib berbusana rapi

JADWAL

Jadwal kegiatan belajar santriwan-santriwati Ponpes Al Islam sama dengan sekolah umum lainnya yaitu dimulai hari Senin. Namun, hari liburnya saja yang berbeda yaitu Jum’at. Setiap ba’da subuh santriwan-santriwati sudah memulai aktifitasnya, khusus kelas 2 dan 3 Aliyah, membaca koran dengan diterjemahkan kedalam tiga bahasa asing yang diajarkan di Ponpes Al Islam. Koran yang biasa dikonsumsi santri dua kelas tersebut adalah Radar Banten dan Fajar Banten. “Kami pilih salah satu berita headline-nya saja,” ujar Enting. Sebelum kegiatan belajar dimulai para santri digiring menikmati sarapan pagi yang sudah disediakan. Pukul 07.00 pagi kegiatan belajar sekolah digelar, diselingi istirahat setengah jam pada pukul 09.30 dan 12.00 untuk sholat Dzuhur sampai dengan pukul 14.00 siang. Selesai sholat Ashar masing-masing kelas Tsanawiyah dan Aliyah mengisi jadwal ekstra kurikuler seperti pencak silat, marawis, jurnalistik, tilawatil Quran, pramuka danTahfid Quran. Ba’da maghrib para santri menikmati hidangan makan malam. Setelah sholat Isya dilanjutkan materi baca dan tulis Al Quran hingga pukul 20.00 dan diteruskan lagi belajar mandiri terbimbing. Kendati bebas, belajar mandiri terbimbing ini tetap dalam pengawasan guru sampai batas pukul 10 malam.

Pondok Pesantren Al Islam selain membekali ilmu agama kepada para santriwan-santriwatinya, juga menyediakan pelatihan atau disebut lifeskill seperti bengkel motor, menjahit, dan kursus komputer. “Selain untuk santri, untuk saat ini, pesantren juga khusus untuk warga Tegal Duren saja. Mudah-mudahan ke depan warga sekitar Tegal Duren pun bisa menikmati,” ujar Enting. Pelatihan ini mendapat bantuan dari Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) Serang dan Lembaga Pelatihan Bengkel Motor Anita, Serang. Kegiatan yang sudah dihelat sejak tahun 2005 ini, ada 2 orang yang sukses. Diantaranya adalah Khoirul Amri pemilik bengkel motor di Balaraja dan Supatra, mekanik di bengkel motor Sawah Luhur.

Enting (kiri) sedang berbincang dengan Lurah Cipocok

PRESTASI

Meski dalam keterbatasan, santriwan-santriwatinya Al Islam tetap mampu meraih prestasi. Tak tanggung-tanggung tingkat nasional berhasil diraih oleh Deden siswa Aliyah dengan menyabet juara ke-2 untuk Tahfid Al Quran pada tahun 2006. Disusul lagi juara 1 Tahfid Al Quran tingkat Kabupaten Serang, juara 1 tafsir Bahasa Inggris se-Kabupaten Serang, juara 1 tafsir Bahasa Arab, Juara jambore pramuka tingkat Kabupaten Serang, dan juara II tafsir Bahasa Inggris se-Provinsi Banten. Selain itu lulusan dari Pondok Pesantren Al Islam banyak yang melanjutkan keperguruan tinggi seperti IAIN, Untirta, UIN Syarif Hidayatullah, Akbid Faletehan Kramat Watu, dan Akbid di daerah Jakarta. Pada tahun 2007 dua santri lulusan Pondok Pesantren Al Islam melanjutkan kuliah di University Madinah, Mekkah. Intinya, meski segalanya terbatas, tetaplah semangat dan terus berkarya, berdikari, berkreasi dalam rangka menegakkan pendidikan Islam di Banten khusnya, umumnya di Indonesia.

RUMAH KREATIF RAMAIKAN CHANGE WITH READING

SERANG – Apa yang kamu biasa hadiahkan untuk cewek atau temanmu di saat ulang tahun? Bunga, coklat, atau mungkin baju? Jika itu semua sudah terasa biasa, kamu bisa coba yang lain. Kalau perlu aneh, unik dan kreatif. Tapi apakah itu?

Nah, ngomongin soal kreatif kamu bisa berkunjung ke sebuah komunitas yang bernama Sanggar Rumah Kreatif yang berada di Jalan Raya Banten-Lopang, Serang. Di sana kalian akan banyak menemukan barang unik hasil dari oleh anak-anak kreatif. Ada celengan, pin atu bros, bingkai poto, kotak tisyu, tempat pensil, rumah Baduy, asbak dan lain-lainnya. Mereka menamakan diri dengan kreatif karena untuk membuat seni kriya mereka cukup menyediakan cat timbul, lem fox, selebihnya mengandalkan dari barang bekas; kardus, botol, kaca dan juga dari alam semisal pasir laut, daun pete, biji pete, biji sagu, alang-alang dan lain-lain. Nah, jika kamu berkunjung ke Rumah Kreatif, kamu bukan hanya dapat kado istimewa tapi juga dapat ilmu kreatifnya.

PROSES KREATIF

Awalnya Sanggar Rumah Kreatif dibuka hanya untuk siswa-siswi SMPN 3 Kota Serang, tepatnya pada tahun 2004-2005 dengan lokasi bertempat di sekolah tersebut.  Tapi karena di luar banyak anak-anak yang nongkrong, akhirnya kami buka untuk umum. “Di Kota Serang kan banyak anak-anak yang putus sekolah dan nganggur. Nah, dari pada waktunya tidak dimanfaatkan lebih baik ngumpul biar ada karya,” tutur Ahyadi (27) guru seni SMPN 3 Kota Serang. Lantas, bagaimanalkah awal proses kreatifnya?

Masih menurut Ahyadi, ide kreatif itu didapat ketika dirinya jalan-jalan ke pantai. Waktu itu dia diminta kado ulang tahun oleh teman SMP-nya. “Waktu itu saya tidak punya uang untuk membelikan kado. Karena rumah saya dekat pantai, lalu saya bereksperimen dengan membuat hiasan pasir laut,” kenangnya. Nah, dari sanalah teman-teman sekolahnya banyak memesan barang-barang hiasan itu pada Ahyadi. Seiring waktu berjalan kreatifitasnya ini ternyata mendatangkan rupiah. Alhasil biaya sekolahnya pun  terbantu dari keahliannya membuat kerajinan tangan.

PRESTASI

Rumah Kreatif Ahyadi tidak hanya diikuti siswa-siswinya saja, melainkan sudah dibuka untuk umum. Terhitung sampai tahun 2009 lalu, Rumah Kreatif yang didirikannya sudah memiliki 26 anggota yang terdiri dari pelajar SMPN 3 Kota Serang, SMA, anak-anak putus sekolah, dan umum. Fadly (17), salah satu peserta yang berasal dari Lopang mengatakan, dia sangat tertarik ketika diajak oleh temannya untuk bergabung dengan Sanggar Rumah Kreatif. “Senang sekali saya bisa bergabung dengan Rumah Kreatif karena di sini saya bisa banyak belajar membuat seni kriya,” ujar Fadly yang mengaku lulusan SD ini.

Fadly juga menambahkan, di Rumah Kreatif dirinya berharap semoga ia juga sukses dan suatu saat ingin buka usaha sendiri. “Mudah-mudahan kelak saya bisa mandiri,” imbuhnya.

Selain seni kriya, Rumah Kreatif juga mengajarkan les tari, les musik, seni lukis dan menggambar. Kendati anggotanya masih didominasi anak-anak pelajar tapi bicara prestasi tak perlu diragukan lagi. Contohnya Asep Bidin yang berhasil menyabet dua gelar sekaligus juara 1 se-Kota Serang lomba kriya dan seni lukis. Selain itu ada juga menjadi juara 1 lomba seni kriya se-Provinsi, juara 1 lomba lukis se-Provinsi dan yang prestasi terbaik diraih oleh Andri Yunas kelas 3 SMPN 3 Kota Serang dengan meraih gelar ke-4 tingkat nasional di Jogjakarta tahun 2009.

Untuk pemasarannya sendiri, selain buka stand di  Basecamp, Rumah Kreatif mendistribusikan hasil karya-karyanya di hotel, rumah makan di sepanjang Anyer, buka stand pameran dan terkadang gelar di Alun-alun Kota Serang. Perkembangan jaman yang semakin modern, membuat jarak tak berarti lagi. Hal itupun berpengaruh terhadap para peminat yang ingin memesan bisa menghubungi website-nya di www.aditiga.blogspot.com atau (087871466153: Adhie).

CHANGE WITH READING

Sebagai bentuk partisipasi remaja Banten dalam mendukung gerakan literasi, pada pencanangan Change With Reading yang dihelat Rumah Dunia pada Sabtu (9/1) kemarin, Rumah Kreatif pun turut meramaikan pameran komunitas literasi. Pada acara yang dihadiri oleh Wakil Gubernur Banten, HM. Masduki, Kadindik Banten Eko Endang Koswara, Kadisdik Kota Serang Hafidzi,MA dan perwakilan dari Yayasan kesetiakawanan Jakarta, Ahyadi berharap semoga di acara ini bisa mendorong semangat anak-anak muda lebih berkreatif lagi. “Selain membaca juga mesti kreatif, karena kalau kreatif tidak pernah bangkrut,” ujar warga asli Anyer ini. Terkait dengan pencangan Change With Reading ini, Ahyadi berharap semoga di tahun 2010 dan seterusnya warga Banten lebih kreatif dan buta aksaranya semakin berkurang. Karena sebagaimana kita tahu, semakin masyarakat buta aksara, maka pintu-pintu kreatif sulit ditemukan. [Harir Baldan]

GO TO SCHOOL MUTIARA BUNDA

Mutiara BundaGO TO SCHOOL MUTIARA BUNDA

Oleh Rama Rahmat

Mengunjungi Sekolah Mutiara Bunda Cilegon (SMBC) merupakan satu rangkaian acara worckhsop yang diadakan SMBC dan  Balai Pelayanan Pendidikan Khusus Dindik Provinsi Banten (24/11). Kunjungan ini dimaksudkan untuk mengenal dan meninjau langsung bagaimana proses belajar Anak Berkelakuan Khusus (ABK) dalam proses belajar di SMBC yang menerapkan program sekolah inklusif. lanjutkan membaca »

BERMAIN BELAJAR DI JERAPAH KECIL

JERAPAH KECILDunia anak-anak adalah dunia bermain. Bermain itulah metode belajar mereka untuk mengenali lingkungan sekitarnya bahkan dunia. Asalkan permainannya diarahkan kepada kegiatan yang positif dan kreatif, maka aktifitas bermain anak akan menjadi wahana pembelajaran yang dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuannya. Terkait dengan itu,Taman Bermain (TB) Jerapah Kecil yang beralamat di Komp. Griya Serdang Indah, Blok J4 No. 7 Harjatani, Serang ini menerapkan metode bermain dan belajar.

Dijelaskan Yeyet Jumyetsih, staf pengajar dan admistrasi TB Jerapah Kecil, nama Jerapah Kecil sendiri dipilih karena nama Jerapah selain unik juga memiliki makna filosofis Jerapah yang beleher panjang memiliki pandangan yang luas. “Nama itu diambil agar anak-anak juga memiliki pengetahuan akan dunia binatang,” tuturnya.

Ditambahkan Yeyet, sebagai sarana penunjang lainnya TB Jerapah Kecil juga menyediakan berbagai fasilitas bermain, baik out door maupun indoor, seperti papan luncur, ayunan dan permainan lainnya. Selain itu, TB Jerapah Kecil juga menyediakan mainan educatif yang dapat merangsang kreatifitas anak, seperti puzzel, bongkar pasang balok dan permainan sejenisnya.

Sedangkan untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan mental yang baik terhadap anak, TB Jerapah Kecil setiap satu bula sekali mengadakan program kunjungan educationt yang diberinama Special Day, seperti berkunjung ke Masjid Agung Banten sebagai tempat bersejarah dan tempat-tempat lainnya yang dapat dijadikan sarana menggali pengetahuan, seperti kantor pemadam kebakaran dan tempat wisata seperti Taman Mini.

“Hal ini bertujuan agar anak dapat mengenal langsung obyek sejarah dan memberikan pelajaran yang tidak semata bersifat teks. Bahkan untuk menumbuhkan mental bersosialisasi yang baik, TB Jerapah Kecil juga kerap mengundang pihak luar untuk mengisi acara di TB Jerapah Kecil, seperti pendongeng misalnya,” tukas Yeyet.[RG]

PADUKAN KURIKULUM BERBASIS ALAM

BALARAJA – Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Itqon didirikan pada 1 Muharram 1428 Hijriyah, tepat pada 20 Januari 2007 di bawah yayasan El Rashied. Yayasan ini konsen pada bidang pengembangan sumber daya manusia berupa lembaga pendidikan, bimbingan, pelatihan, kursus, dan konsultasi pendidikan.

KURIKULUM

Tak banyak Sekolah yang memadukan kurikulum DIKNAS dan kurikulum khas (unggulan) berbasis alam seperti halnya SDIT Al Itqon, Balaraja, Tangerang ini. Selain itu al-Itqon punya kurikulum unggulan: Syirah Nabawiyah, Tahsin dan Tahfiz Al Qur’an, Outbond training, Bahasa Inggris dan Bahasa Arab, Multimedia, Traditional Games, Tadabur Alam dan berkebun, serta Life skill.

“Selain menciptakan lingkungan belajar yang islami, SDIT Al Itqon juga berupaya mengembangkan budaya belajar untuk belajar (learning how to learn) serta belajar sepanjang hayat (long life education),” papar Qomaruzzaman M.Ed, selaku ketua SDIT Al Itqon. ”Semoga tumbuh jiwa kemandirian dan kegemaran beribadah pada diri-diri anak didik sehingga bisa menjadi teladan bagi keluarga dan lingkungannya sebagai generasi Qur’ani,” imbuhnya.

Untuk kesadaran nilai-nilai ke-Islaman, anak-anak dilatih dengan kegiatan sosial: bulan amal, Pundi Amal Anak Soleh (PAAS) dengan menderma setiap Jum’at, kunjungan ke panti asuhan dan perkampungan kumuh, dan kebersihan diri dan sekolah.

PROSES BELAJAR

Pembelajaran dipagi hari dimulai dengan morning activities: pembukaan kelas, observasi kebun (menyiram tanaman), shalat Dhuha berjamaah, bimbingan baca Al Qur’an (tahsin dan tahfiz) dan praktik ibadah.

Untuk kelas 1, 2, dan 3 mereka lebih ditekankan perihal pertumbuhan motorik (bermain) dan perilaku akhlak Islami, amalan ibadah keseharian, tajwid, tahsin, hapalan juz amma dan surat Yasin.

Sedangkan kelas 3 sampai kelas 6 lebih pada dunia pengenalan komputer (multimedia), hapalan surat-surat pilihan Al Qur’an, teknologi tepat guna, serta diwajibkan berbahasa Arab dan Inggris pada hari dan tempat tertentu. Hari Sabtu yang merupakan X day (hari ekstrakulikuler), sebagai hari libur pembelajaran formal dalam kelas, diisi dengan kegiatan kesenian angklung. Sementara Selasa anak-anak libur belajar di kelas, dan diganti outbound dan life skill.

Hal yang unik dari proses pembelajaran SDIT ini adalah, penggunaan pengantar musik klasik atau sufi yang mengalun menyertai proses belajar. Hal ini di yakini agar sensor otak kanan berfungsi dengan baik. Selain itu, laporan hasil prestasi belajar siswa diberikan kepada wali murid dalam dua bentuk, yaitu buku hasil prestasi belajar (buku lapor) dan visual, gambaran kegiatan siswa selama proses pembelajaran dan aktivitas lainnya dalam bentuk VCD.

Dengan tenaga pengajar berjumlah 10 orang, SDIT Al Itqon mempunyai jadwal kegiatan temporal yang bersifat mingguan: Outbound, keterampilan tepat guna dan kesenian, pemutaran film islami. Ada pulan yang bersifat bulanan: up grading khusus tim fasilitator dan observasi lapangan (fildtrip) sesuai dengan tema besar pelajaran dalam satu semester, yang digelar tiga bulan sekali. Sementara untuk persemester, diadakan seminar wali murid. Sedangkan Balaraja Festival Expo digelar setahun sekali, dalam rangka milad pertama Al Itqon setiap 1 Muharram, dengan kegiatan Market Day, pameran kreasi siswa, open house, olimpiade al Qur’an dan sains, panggung seni kanak-kanak dan seminar pendidikan.

Terakhir adalah Al Itqon Super Camp (kemah bersama) yang merupakan kegiatan setiap akhir semester ganjil dan diadakan diluar lingkungan sekolah. [KH]

advert

Tags Kata

Gonjlengan

MENGOPTIMALKAN POTENSI TAMAN BACAAN MASYARAKAT

Oleh Gol A Gong
Beberapa kali saya kedatangan tamu yang selalu minta diajari membuat proposal pembuatan taman bacaan masyarakat. Mereka adalah para mahasiswa. Mereka menduga, bahwa saya mendirikan taman bacaan masyarakat bernama Rumah Dunia dengan membuat proposal. Saya katakan kepada mereka, bahwa Rumah Dunia tidak dibangun dengan proposal, tapi dengan kata-kata. Juga Rumah Dunia tidak dibangun [...]

Full Story | February 21st, 2010

Banten Kuliner

MAKANAN TRADISIONAL SERABI GURIH DAN ALAMI

SERABI GURIH DAN ALAMI

Oleh: Rama
Di pinggir jalan Bayangkara Sumampir Cilegon, atau tepatnya di depan Lapangan Bola Sumampir,

Full Story | February 8th, 2010

advert

Wisata Banten

PEMANDIAN CIPANAS SEHAT DAN SEGAR

LEBAK – Selain mimpi jadi kota pelajar, Lebak yang belum lama berusia 181 tahun ini juga rupanya menyimpan banyak keindahan alam. Saya belum lama ini sempat coba-coba menelisik, mengunjungi dan menikmati bahkan tadinya ingin menjamah semua tempat-tempat wisata yang ada di Kabupaten Lebak, baru sebagian saja sih, mengingat beberapa tujuan wisata masih cukup jauh dan [...]

Full Story | December 27th, 2009

advert

Cerpen

BABI NGEPET BUKU

Cerpen Langlang Randhawa*
Alkisah, Banten punya taman budaya yang megah. Gedung berlantai lima yang berdiri di atas tanah bekas gedung kegubernuran Banten itu ramai dengan diskusi mengalahkan hiruk-pikuk mall-mall. Selain berada di jantung kota dan mewah, fasilitasnya pun mengalahkan Gedung Putih Amerika; kenyamanan, keamanan, pelayanan, dan kebersihan sangatlah terjaga dan tertata. [...]

Full Story | March 9th, 2010

Novel

SEGERA “TEMBANG KAMPUNG HALAMAN” KARYA GOL A GONG

Nantikan di bulan Februari 2010, cerita bersambung “Tembang Kampung Halaman”  karya Gol A Gong – dulu Gola Gong. Cerita ini pernah dimuat di majalah HAI  tahun 1990-an dan diterbitkan jadi buku mungil oleh Gramedia. Menceritakan anak-anak kampung dari kampung yang agraris di wilayah pesisir utara, lalu mengalami perubahan sosial.  Mimpi-mimpi dilontarkan setinggi bintang dan ada [...]

Full Story | January 21st, 2010

Puisi

PUISI-PUISI DEA ANUGRAH

KEPADA PISAU

airmatamu mengalir
sampai jauh
pelan pelan menghampir kesunyianku.
***

BLUES BUAT PEREMPUAN R
di kotaku. di kotaku yang jauh ini
selalu kutemukan kilau senyummu
pada lampu lampu jalan, pada bau malam yang khas
juga pada dingin angin pelabuhan.
padahal hidup
hanya menunda kekalahan
seperti payung
yang perlahan lahan sobek
dikoyak moyak angin kencang jelek.
di kotaku.
di kotaku yang jauh ini
aku selalu mengingat senyummu
meski hidup hanya serupa
payung [...]

Full Story | March 9th, 2010