<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Dunia Gol A Gong Banten Baca Buku Taman Bacaan Perpustakaan &#187; Panggung</title>
	<atom:link href="http://rumahdunia.com/isi/category/panggung/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahdunia.com/isi</link>
	<description>Rumah Dunia,Banten,buku,taman,bacaan,taman bacaan,Gol A Gong,majalah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 13:56:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>RAMPAK BEDUG MERIAHKAN CHANGE WITH READING</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/14/rampak-bedug-meriahkan-change-with-reading/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/14/rampak-bedug-meriahkan-change-with-reading/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 23:55:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Panggung]]></category>
		<category><![CDATA[Banten Bangkit]]></category>
		<category><![CDATA[Kesenian Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Provinsi Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Rampak Beduk]]></category>
		<category><![CDATA[Spirit Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Untirta Serang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=2851</guid>
		<description><![CDATA[SERANG &#8211; Rampak bedug merupakan kesenian traditional dan spirit Banten, yang kini berkembang di wilayah Banten sebagai bentuk kesenian hiburan serta daya tarik pariwisata. Berawal dari tradisi ngadu bedug yang sering dilakukan masyarakat pada malam takbiran Idul Fitri maupun Idul Adha. Dengan seiring zaman kini rampak bedug dikalaborasikan dengan gerak tari dan silat, serta bunyi-bunyi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Rampak-beduk.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2852" title="Rampak beduk" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Rampak-beduk.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a>SERANG &#8211; Rampak bedug merupakan kesenian traditional dan spirit Banten, yang kini berkembang di wilayah Banten sebagai bentuk kesenian hiburan serta daya tarik pariwisata. Berawal dari tradisi ngadu bedug yang sering dilakukan masyarakat pada malam takbiran Idul Fitri maupun Idul Adha. Dengan seiring zaman kini rampak bedug dikalaborasikan dengan gerak tari dan silat, serta bunyi-bunyi perkusi khas Banten lainnya yang membawa keceriaan.<span id="more-2851"></span></p>
<p>Seperti dalam acara pencanangan Cahange With Reading (CwR) yang digelar di Rumah Dunia pada Sabtu (9/1), paguyuban UKM Pandawa dari Kampus Untirta menunjukan kebolehannya memainkan Rampak Bedug di hadapan HM Masduki &#8211; Wagub Banten, Kadisdik Banten, Presiden Rumah dan segenap relawan Rumah Dunia, Direktur Penmas Depdiknas, Forum Indonesia Membaca, para peserta CwR dan pengunjung lainnya.</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Rampak-beduk-1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2853" title="Rampak beduk 1" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Rampak-beduk-1.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Selama kurang lebih lima menit Pandawa beraksi memainkan rampak Bedug. Kekompakan menabuh bedug, gerak tari, hingga pencak silat dipertunjukan dengan kalaborasi yang apik oleh para mahasiwa Untirta itu. Sebagai penata tari dan musik adalah Rohendi S.pd. Tak heran jika para penonton sangat berantusias menyaksikannya, bahkan banyak yang mengabadikan dengan mefoto atau merekam dengan vidio.</p>
<p>UKM Pandawa berdiri sejak tanggal 21 Juli 2005. konsisten dengan tari tradisi dan kontemporer. ”Ini sebagai wujud penghargaan dan mengembangkan tradisi lokal. Pasalnya jaman sekarang, kalangan muda lebih tertarik pada kesenian modern dan meninggalkan kesenian tradisional.” kata Samsul sebagai ketua UKM Pandawa memberikan alasan kepada Wartawan rumahdunia.com di sela persiapan perform.</p>
<p>Delama seminggu rutin latihan, yaitu pada hari rabuh dan jumat. Menurut Samsul, siapa pun asal mahasiwa Untirta boleh bergabung dan tanpa seleksi. ”yang terpenting bagi kita ada minat dan kemauan, nanti kita didik sampai bisa,” jelasnya lagi. Para pengajar didatangkan dari berbagai sanggar di Banten, sala satunya adalah Bapak Rohendi S.pd dari Pandeglang.</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Rampak-beduk-2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2854" title="Rampak beduk 2" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Rampak-beduk-2.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>”Untuk saat ini, sebaiknya pertunjukan kesenian traditional harus sering ditampilkan di muka umum. Lagian kalau setiap event hiburanya musik pop, band, atau dangdutan kayanya udah biasa dan gak menarik lagi. Ya kalau seperti ini kan kelihatannya asik dan beda, malah jarang kan kita melihatnya? Kesenian traditional paling lebih sering ditampilakn diacara formal pemerintahan saja,” kata Ninis, seorang pengunjung asal Tangerang yang sengaja datang untuk melihat Rumah Dunia.</p>
<p><a href="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Rampak-beduk-3.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2855" title="Rampak beduk 3" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2010/01/Rampak-beduk-3.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Memang sudah sepatutnya kita sebagai generasi muda harus lebih menghargai dan mengembangkan budaya lokal yang sudah dibangun oleh nenek moyang kita beberapa abad yang lalu. Budaya lokal adalah identitas jati diri sebuah bangsa, merupakan aset besar yang harus terus terjaga dan dikembangkan hingga dikemudian hari.  (Rama Rahmat)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2010/01/14/rampak-bedug-meriahkan-change-with-reading/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ANTARA GEDUNG KESENIAN  DAN RUANG KESENIAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/19/antara-gedung-kesenian-dan-ruang-kesenian/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/19/antara-gedung-kesenian-dan-ruang-kesenian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 03:17:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Panggung]]></category>
		<category><![CDATA[Gedung Kesenian]]></category>
		<category><![CDATA[London Shakespeare Company]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1408</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Halim HD “Teater Studio Indonesia (TSI) selalu memilih ruang terbuka untuk pentas teater – teater yang membangun ruang. Jadi, teater ini selain mengkritik situasi negerinya, iapun mengkritik kaumnya, kalangan seniman itu sendiri”. (Nandang Aradea, Catatan tentang TSI) *** Di Makassar, suatu wilayah yang dianggap sebagai kota yang pernah memiliki lembaga kesenian dan gedung dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1409" title="Ubrug Terbuka" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Ubrug-Terbuka.jpg" alt="Ubrug Terbuka" width="500" height="332" />Oleh Halim HD</p>
<p><em>“Teater Studio Indonesia (TSI) selalu memilih ruang terbuka untuk pentas teater – teater yang membangun ruang. Jadi, teater ini selain mengkritik situasi negerinya, iapun mengkritik kaumnya, kalangan seniman itu sendiri”. (Nandang Aradea, Catatan tentang TSI)<span id="more-1408"></span></em></p>
<p>***</p>
<p>Di Makassar, suatu wilayah yang dianggap sebagai kota yang pernah memiliki lembaga kesenian dan gedung dan pernah mengalami masa kejayaan pada periode tahun 1970-80an, sedang gegeran. Gegeran itu sejenis ritual kalangan seniman ketika sarana yang menjadi bagian kehidupan mereka, yakni gedung kesenian yang nama kolonialnya demikian memukau, <em>Societeit de Harmonie</em>, tempat mereka, kaum elite penguasa ketika jamannya kaum kolonial menikmati sejenis rasa ketenteraman melalui hiburan sehabis bekerja atau untuk meneguhkan kehadiran sejenis kebudayaan dan gaya hidup baru. Dan gedung itu kini kian merana; selama satu-dua dekade mengalami renovasi demi renovasi namun tak pernah beres. Ironisnya justeru yang menjadi pemborong, kontraktor dan konsultan renovasi itu sendiri adalah kalangan seniman atau bahkan mereka yang menabalkan diri sebagai budayawan. Dan kini kembali gedung itu direnovasi sebagai janji dari gubernur yang terpilih atas kemenangan dirinya.</p>
<p>GEDUNG KORUP</p>
<p>Pembuka tulisan ini, melalui gambaran kecil tentang gedung kesenian di kota Makassar ingin mengajak siapapun di wilayah Serang-Banten, bahwa wilayah kesenian yang namanya “gedung kesenian” bisa menjadi perangkap dan umpan yang paling jitu bagi elite penguasa untuk melakukan korupsi serta melihat peta konflik di antara seniman.</p>
<p>Korupsi, sudah pasti: setiap gedung dengan miliaran rupiah dari pajak dan hasil dari bumi nusantara ini menjadi ritual yang tak pernah luput dari kerakusan elite penguasa. Tak ada gedung yang tak mengalami kebobrokan serta menjamin bahwa apa yang dibangun menjadi sesuatu yang ideal bagi kehidupan kesenian dan warganya. Bagi kalangan elite pnguasa, yang penting adalah bagaimana membangun gedung dengan nilai yang setinggi- tingginya, dan bagaimana secara berjamaah mendapatkan bagian uang proyek, atau tepatnya merampok uang pembangunan  itu.</p>
<p>Biasanya, elite penguasa di dalam melakukan perampokan itu bukan tanpa diketahui oleh seniman atau pekerja kebudayaan. Mereka, kaum elite itu sadar dan tahu benar bagaimana menciptakan faksi-faksi seniman melalui pendekatan dan bagi-bagi proyek untuk mendapatkan dukungan. Dengan dukungan itu elite penguasa mendapatkan legitimasi disamping secara formal pengukuhan dan penguatan dari legislatif yang juga sama rakusnya. Nah, dari sini maka mulailah konflik dibentangkan, dan sering kali kalangan seniman masuk ke dalam lobang yang diciptakan oleh elite penguasa: dipancing untuk terlibat dalam pembicaraan dan dibeberkan proyeknya tapi lalu dtinggalkan. Karena merasa ditinggalkan, lalu seniman marah-marah, ngambeg, dan tak jarang juga melakukan demo. Semuanya menjadi bagian dari ritual politik pembangunan untuk menyatakan bahwa “ada demokrasi”. Sementara itu protes demi protes dan demo demi demo berjalan, namun proyek yang sudah didisain dan direkayasa secara sosial politik itu terus berjalan tanpa melihat kebutuhan mendasar dari dunia kesenian.</p>
<p>Ironisnya, justeru kalangan seniman sendiri sering banget begognya setengah modyaar. Mereka yang diajak hanya mendapatkan amplop tipis dan  sudah senang kalau diajak makan malam atau studi banding ala kadarnya sebagai basa basi dan sebagai bagian pelepas lelah kalangan elite untuk mencari hotel yang ada tukang pijit luar dalam. Lalu proyek berjalan, dan hasilnya, rasanya <em>seeh</em> bisa dipastikan: tak memenuhi kebutuhan syarat gedung, misalnya tingkat akustik yang brengsek serta kualitas bangunan yang jelek, yang hanya nampak mewah <em>magrong-magrong</em> nampak dari luar, seperti pakaian kaum elite yang mewah, wangi, seperti juga rumahnya yang kayak show room dipenuhi oleh benda-benda mewah tanpa fungsi, sekedar menjaga citra agar nampak dilihat memiliki posisi. Dan posisi gedung kesenian ini makin sulit ketika sudah dibangun: pengelolanya hampir-hampir tak memiliki konsep, cara pandang atau visi yang jauh ke depan sebagai sarana bagi warga, ruang publik bagi masyarakat untuk menyatakan diri. Bagi pengelolanya, yang terpenting bagaimana ada acara yang bisa nampak meriah namun kosong makna. Yang penting bagaimana posisi dan fungsi gedung itu bisa disewakan dan menghasilkan uang, namun juga dana pengelolaannya tetap mesti diambil dari anggaran daerah.</p>
<p>Contoh yang paling baik untuk melihat gedung kesenian dikelola dengan baik atau tidak adalah: lihatlah WC dan kamar mandinya serta berbagai sarana lain yang ikut menunjang. Dari situ kita akan melihat bahwa sesungguhnya sebuah gedung hanya dilihat sebagai benda dan gedung kesenian hanya kata benda, dan bukan kata kerja yang visisoner: wilayah bagi kaum muda untuk menyatakan diri sebagai pemilik sah masa depan negerinya.</p>
<p>RUANG SOSIAL</p>
<p><em>Well</em>, saya nampaknya sudah bicara soal gedung yang dianggap jadi itu. Tapi, soal yang paling rumit selalu membawa masa silam yang membuat siapa saja bisa tidak setuju. Dan hal itu berkaitan dengan pengelolaan yang memang memiliki keterikatan dengan kepentingan: tak semua kelompok social di daerah bisa memasuki ruang atau gedung kesenian itu. Karena, demi manajemen, katanya <em>seeh</em>, perlulah rekomendasi dan biaya.</p>
<p>Demi rekomendasi dan biaya, maka proposal demi proposal haruslah dibikin oleh seniman. Di sini berlaku ritual pembungkukan tubuh dan proses penjadian seniman sebagai <em>boothlicker</em>: tak jarang atau bahkan sering seniman yang menyodorkan proposal untuk bisa menggunakan gedung itu pastilah mesti punya komitmen kepada elite penguasa. Jika tidak, maka biaya dan rekomendasi tak akan diberikan. Jadilah, bagi seniman yang tak memiliki harkat menjadi cacing melata di hadapan elite penguasa, dan keseniannya menjadi <em>lip service</em> agar mendapatkan, konon, posisi, dan <em>sokur</em> kalau bisa meraih proyek untuk kampanye lokal pada pilkada.</p>
<p>Jika kita bicara tentang sarana kesenian, nampaknya kita perlu benar memikirkan seperti apa yang dinyatakan oleh Nandang Aradea. Saya pikir, banyak kesenian hebat dan dahsyaat lahir bukan dari lingkungan gedung. <em>Dongeng Dirah</em> yang diciptakan oleh Sardono W. Kusumo, misalnya berasal dari tata ruang pedesaan di Bali, seperti juga <em>Tarian Cak Rina</em>. Karya-karya monumental dari <em>The Black Tent Theatre</em> yang digelar di jalanan menjadi contoh yang menarik, seperti juga <em>San Francisco Mimethrope</em>. <em>Black Mcbeth</em> garapan komunitas aktor Afrika yang tergabung dalam <em>London Shakespeare</em> <em>Company</em> dipentaskan di gereja-gereja tua. <em>Woyzchek</em> garapan Makoto Satoh, salah satu sutradara dari <em>The Black Tent Theatre</em> selalu ditujukan kepada wilayah ruang pertunjukan yang sederhana; dan ketika manggung di festival di D’avignon 1996, Perancis, dia memilih sebuah rumah tua.</p>
<p>Saya juga jadi teringat kepada <em>mBah</em> Roedjito, maestro skenografer Indonesia, yang jika mengajak workshop teman-teman tari dan teater atau senirupa, selalu membawanya ke wilayah ruang terbuka dan meminta kepada rekan-rekan untuk memahami lingkungan secara akrab. Candi kalasan, Prambanan, kali Code di Yogyakarta adalah wilayah yang akrab yang dijadikan semacam wilayah studi untuk memahami ruang dan cahaya serta lingkungan. Bagi <em>mBah Djito</em>, panggilan akrabnya, pertunjukan mestilah menciptakan ruangnya sendiri; bukan ditentukan oleh sarana gedung.</p>
<p>Suatu hari pada tahun 1970-an ketika menyaksikan pertunjukan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, yang menabalkan diri “Teater Total” yang konon diambil konsepnya dari Eropa, <em>Mbah Djito</em> berbisik kepada saya, “<em>Lha wong di Tangerang juga banyak, Lenong kan teater total</em>. <em>Kenapa jauh-jauh ke Eropa?”</em>Saya hanya manggut-manggut, membenarkan apa yang dinyatakan oleh sang maestro yang selalu bersuara lirih.</p>
<p>Dunia seni panggung kita nampaknya perlu benar untuk kembali kepada akar kebutuhannya. Sebab, jika tidak, bukan hanya keseniannya saja yang terasing akibat gedung yang penuh dengan lika-liku birokrasi yang arogan dan ambisius. Tapi juga karena kita sesungguhnya membutuhkan benar penciptaan ruang kesenian. Singkat kata, yang kita butuhkan adalah bagaimana ruang-ruang kesenian diciptakan oleh seniman sebagai ruang social dan proses kea rah pendewasaan diri di dalam memahami masalah di lingkungannya. Jika seniman dan kesenian ter/di-gantung oleh gedung kesenian, maka diri kita akan semakin miskin. Dan kemiskinan itu adalah hal yang paling nista. Dan kenistaan itu justeru oleh diri kita sendiri, yang tak berani menciptakan takdir dirinya. (*)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>*) Halim HD. – Networker Kebudayaan.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/19/antara-gedung-kesenian-dan-ruang-kesenian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PEREMPUAN, TANAH DAN PERADABAN</title>
		<link>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/18/perempuan-tanah-dan-peradaban/</link>
		<comments>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/18/perempuan-tanah-dan-peradaban/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 19:02:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gola Gong</dc:creator>
				<category><![CDATA[Panggung]]></category>
		<category><![CDATA[Halim HD]]></category>
		<category><![CDATA[Nandang Aradea]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan Gerabah]]></category>
		<category><![CDATA[Teater Studio Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahdunia.com/isi/?p=1343</guid>
		<description><![CDATA[- Catatan Pementasan Teater Studio Indonesia Oleh Halim HD - Suara lirih dengan repetisi yang terasa konstan kian meninggi terdengar dari gesekan tangan perempuan setengah baya yang dengan konsentrasi tinggi memutar tanah liat bahan gerabah diantara suara daun yang terpijak dan dari jauh derum kendaraan bermotor meraung. Suasana yang diciptakan oleh proses pembuatan gerabah itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1344" title="Gerabah-Boy Herianto" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Gerabah-Boy-Herianto.jpg" alt="Gerabah-Boy Herianto" width="500" height="323" /></p>
<p style="text-align: left;">- Catatan Pementasan Teater Studio Indonesia Oleh Halim HD -</p>
<p>Suara lirih dengan repetisi yang terasa konstan kian meninggi terdengar dari gesekan tangan perempuan setengah baya yang dengan konsentrasi tinggi memutar tanah liat bahan gerabah diantara suara daun yang terpijak dan dari jauh derum kendaraan bermotor meraung. Suasana yang diciptakan oleh proses pembuatan gerabah itu menyatu ke dalam babak pembukaan “Perempuan Gerabah” (PG) yang diusung oleh Teater Studio Indonesia (TSI), disutradai Nandang Aradea (NA) di lapangan parkir Taman Budaya Surakarta (TBS) pada rangkaian acara Mimbar Teater Indonesia (MTI) pada 25-30 Oktober 2009.<span id="more-1343"></span></p>
<p>RUANG</p>
<p>Pertunjukan PG memilih ruang terbuka dengan membentuk <em>open space theatre </em>melalui disain bambu yang nampak artsitik dan sekaligus akrab. Pemilihan  ruang terbuka menjadi komitmen bagi TSI yang bermarkas di Serang, Banten, sebagaimana dinyatakan oleh NA, bahwa TSI selalu memilih ruang terbuka untuk pentas teater. Pilihan itu menyatakan bahwa teater mestilah membangun ruang. Pilihan ini bukan sekedar pilihan artistik belaka, tapi juga kritik terhadap pola-pola pembangunan gedung dan cara berpikir kalangan seniman dan pekerja teater yang sudah terperangkap ke dalam pola-pola pementasan di dalam gedung. Prinsip NA dan TSI nampaknya sejalan seperti yang juga dinyatakan oleh Kiyoyazu “Genksan” Yamamoto, salah satu pendiri The Black Tent Theatre, Tokyo, yang dalam suatu obrolan pada tahun 1996 menyatakan, bahwa gedung membawa beban sejarah dan teater mestilah menciptakan ruang lain bagi jalan sejarahnya sendiri.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1346" title="Halim Gerabah" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Halim-Gerabah.jpg" alt="Halim Gerabah" width="500" height="333" />TSI dalam garapan PG nampak berusaha untuk melibatkan penonton melalui disain panggung bambu, yang memang rasanya membuat penonton repot bukan karena berjejal dalam suatu ruangan di mana penonton menjadi bagian dari pertunjukan itu sendiri. Belasan atau puluhan penonton nampak kalang kabut ketika pecahan gerabah serta percikan lumpur ke mana-mana, yang nampak hal itu menjadi disain pertunjukan: bahwa peristiwa teater yang mengangkat masalah lingkungannya memiliki konsekuensi moral terhadap pembangunan yang tak pernah secara benar diterapkan, dan akan senantiasa membawa konsekuensi logis kepada manusia di lingkungannya. Manusia menjadi korban dari proses politik pembangunan yang tidak mempertimbangkan nilai-nilai lingkungan dan kapasitas kemanusiaan dalam konteks pelibatan kebutuhannya.</p>
<p>TANAH</p>
<p>Jika kita menyaksikan PG dengan telisik yang lebih jauh dan dalam, terasa metafora yang disampaikan oleh TSI yang tanpa teks literer dan seluruh peristiwa dalam panggung menjadi teks itu sendiri, maka metafora nampak kian menghunjam ke dalam arus bawah pemikiran kita. Kita diingatkan kepada batas-batas tentang kerapuhan manusia, lingkungan dan juga takdir: yang berasal dari tanah akan kembali kepada tanah, sebagaimana keyakinan yang melandasi hidup manusia. Pada bentangan peristiwa yang menampilkan perempuan sebagai sosok yang mencipta dan  mengelola lingkungan yang melawan kerakusan dan keserampangan suatu sistem yang arogan dan ambisius. Di sini terasa kita menyaksikan suatu lintasan sejarah kebudayaan nusantara dalam pandangan ibu pertiwi, dan kaum perempuan pada posisi pemelihara dan pencipta. Dalam konteks pemikiran Jawa, <em>Ibu Bumi Bapak Langit</em>, terasa sekali adanya suatu kontradiksi atau tepatnya pertentangan yang terjadi di dalam sistem kehidupan dan pembangunan kita. Dan teater sebagai media bagi kita menjadi sarana untuk menyatakan bukan hanya opini tapi juga isyarat dan tanda-tanda jaman agar manusia dan kaum elite senantiasa <em>eling lan waspada.</em></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1347" title="Halim Gerbah 2" src="http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/11/Halim-Gerbah-2.jpg" alt="Halim Gerbah 2" width="500" height="333" />Dalam konteks itulah rasanya TSI lumayan mampu menyampaikannya tanpa teks literer yang bersifat linear yang terkadang atau bahkan biasanya memperangkap penyajian teater ke dalam berbagai pernyataan sloganistik. Dan pada penyajian PG produksi TSI yang dimainkan oleh Taufik Pamungkas, Farid Ibnu Wahid, Suryadi Sally Al-Faqir, Arip Fr, Desi Indriyani dan Mak Maryamah – dan mereka pula yang menggarap disain teater bamboo – ini menyajikan seluruh peristiwa masuk ke dalam suatu rentangan <em>chaos</em>, kekacauan yang terbentuk dari rasa amarah dan kekerasan yang dinyatakan dalam bentuk putaran berbagai problematika yang menciptakan konflik, dan berakhir kembali kepada <em>cosmos</em>, keseimbangan yang diciptakan oleh kaum perempuan dalam proses penciptaan dunianya melalui metafora pembuatan gerabah; penciptaan kehidupan dan pemeliharaannya.</p>
<p>Dan gerabah yang nampak artistik dan kuat dalam suatu jalinan peristiwa yang bukan hanya secara visual bisa kita saksikan, tapi juga menciptakan bebunyian yang demikian lirih, seperti menyapa kita dan memasuki relung-relung paling dalam dari diri kita. Melalui persepsi visual dan suara lirih itulah TSI ingin mengajak kita semua memasuki proses transformasi manusia kea rah kehidupan yang beradab. (*)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>*) Halim HD. – Networker Kebudayaan.</p>
<p>Foto #1: Kelompok Teater Studio Indonesia Serang Banten  Mementaskan naskah Perempuan Gerabah Karya sutradara Nandang Aradea  pada Mimbar Teater Indonesia Di Taman Budaya Jawa Tengah (Photo Boy T harjanto)</p>
<p>Foto #2: Sejumlah aktor dari kelompok Teater Payung Hitam Bandung mementaskan karya Puisi Tubuh Yang Hilang  Karya Sutradar Rahman  Sabur pada Mimbar Teater Indonesia Di Taman Budaya Jawa Tengah,JG Photo Boy T Harjanto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahdunia.com/isi/2009/11/18/perempuan-tanah-dan-peradaban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

